Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

“HERNIA”

A. KONSEP MEDIS
1. PENGERTIAN
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (Sjamsuhidajat,
2008).Hernia adalah penonjolan serat atau ruas organ atau jaringan melalui
lubang yang abnormal
Hernia Inguinalis adalah Sutu penonjolan kandungan ruangan tubuh
melalui dinding yang dalam keadaannormal tertutup. ( Richard E, 2006 ) Hernia
Inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inginalis di atas kantong
skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat
kongenital. ( Cecily L. Betz, 2008)
Post adalah awalan yang menyatakan setelah atau di belakang. (Dorlan,
2012). Operasi merupakan pembedahan, setiap tindakan yang dikerjakan
oleh ahli bedah, khususnya tindakan yang memakai alat-alat. (Ramali dan
Pamoentjak, 2010)
Dextra merupakan istilah yang menyatakan sesuatu yang berada
disebelah kanan dari dua struktur yang serupa atau yang berada disebelah
kanan tubuh.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa post operasi hernia
scrotalis dextra adalah hernia inguinalis lateralis dimana penonjolan serat atau
ruas organ atau jaringan yang melalui defek atau bagian lemah dari dinding
rongga yang bersangkutan mencapai scrotum bagian kanan dan telah dilakukan
tindakan pembedahan oleh ahli bedah.

2. KLASIFIKASI
Menurut Sachdeva menklasifikasikan hernia sebagai berikut ;
a. Hernia Reponiblis
Hernia yang dapat masuk kembali ketika penderita tidur terlentang atau dapat
dimasukkan oleh penderita atau ahli bedah.
b. Hernia Ireponiblis

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 1


Apabila isinya tidak dapat dikembalikan ke dalam abdomen dan tidak tampak
adanya komplikasi.
c. Hernia Obstruksi
Merupakan hernia ireponiblis yang berisi usus dimana lumennya mengalami
onstruksi dari luar atau adanya gangguan suplai darah dari usus.
d. Hernia Strangulasi
Hernia akan mengalami strangulasi bila suplai darah terhadap isinya sangat
terganggu yang dapat mengakibatkan gangren.
Adapun tindakan yang digunakan untuk mengatasi hernia ada 2 macam yaitu;
1) Tindakan konservatif
Yaitu tindakan dengan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga
atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia.
2) Tindakan definitive
Tindakan definitive untuk mengatasi hernia berupa operasi yang
dilakukan dibawah anestesi umum atau spinal. Dengan melakukan insisi
pada garis linear di atas kanalis inguinalis yaitu 1 inci diatas dan sejajar
terhadap 2/3 medial ligamentum inguinalis. Adapun prinsip dasar operasi
hernia terdiri dari Herniotomi dan Herniorapi.
a) Herniotomi
Merupakan operasi pemotongan untuk memperbaiki hernia.s
b) Herniorapi
Herniorapi yaitu dengan melakukan perbaikan pada dinding
posterior tanpa menggunakan bahan asesoris. Apabila dalam
melakukan perbaikan dinding posterior menggunakan bahan asesoris
maka disebut dengan Hernioplasti.

3. ETIOLOGI
Hernia scrotalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab
yang didapat (akuistik), hernia dapat dijumpai pada setiap usia, prosentase lebih
banyak terjadi pada pria, berbagai faktor penyebab berperan pada pembukaan pintu
masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh
kantung dan isi hernia, disamping itu disebabkan pula oleh faktor yang dapat
mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 2


Faktor yang dapat dipandang berperan kausal adalah adanya peninggian
tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia, jika
kantung hernia inguinalis lateralis mencapai scrotum disebut hernia scrotalis.
(Sjamsuhidajat , Jong, 2008)
Penyebab lain yang memungkinkan terjadinya hernia adalah:
1. Hernia inguinalis indirect, terjadi pada suatu kantong kongenital sisa dan
prosesus vaginalis.
2. Kerja otot yang terlalu kuat.
3. Mengangkat beban yang berat.
4. Batuk kronik.
5. Mengejan sewaktu miksi dan defekasi.
6. Peregangan otot abdomen karena meningkatkan tekanan intra abdomen
(TIA) seperti: obesitas dan kehamilan.
Indikasi pelaksanaan operasi adalah pada semua jenis hernia, hal ini
dikarenakan penggunaan tindakan konservatif hanya terbatas pada hernia umbilikalis
pada anak sebelum usia dua tahun dan pada hernia ventralis. Tindakan operasi
dilakukan pada hernia yang telah mengalami stadium lanjut yaitu;
1. Mengisi kantong scrotum
2. Dapat menimbulkan nyeri epigastrik karena turunnya mesentrium.
3. Kanalis inguinalis luas pada hernia tipe ireponibilis.
Pada hernia reponibilis dan ireponibilis dilakukan tindakan bedah karena ditakutkan
terjadinya komplikasi, sedangkan bila telah terjadi strangulasi tindakan bedah harus
dilakukan secepat mungkin sebelum terjadinya nekrosis usus.

4. PATOFISIOLOGI
Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus pada bulan ke-8
kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut, akan menarik perineum
ke daerah scrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan
prosesus vaginalis peritonei, pada bayi yang baru lahir umumnya prosesus ini telah
mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut,
namun dalam beberapa hal seringkali kanalis ini tidak menutup karena testis kiri
turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka, bila
kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka dalam keadaan normal,
kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 3


Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul
hernia inguinalis lateralis congenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup
namun karena merupakan lokus minoris persistence, maka pada keadaan yang
menyebabkan tekanan intra abdominal meningkat, kanalis tersebut dapat terbuka
kembali dan timbul hernia inguinalis lateral akuisita. Keadaan yang dapat
menyebabkan peningkatan tekanan intra abdominal adalah kehamilan, batuk
kronis, pekerjaan mengangkat beban berat, mengejan pada saat defekasi, miksi
misalnya pada hipertropi prostate.
Apabila isi hernia keluar melalui rongga peritoneum melalui anulus
inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior
kemudian hernia masuk ke dalam hernia kanalis inguinalis dan jika cukup panjang,
menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus, dan bila berlanjut tonjolan akan
sampai ke scrotum yang disebut juga hernia scrotalis.
Tindakan bedah pada hernia dilakukan dengan anestesi general atau spinal
sehingga akan mempengaruhi sistem saraf pusat (SSP) yang berpengaruh pada
tingkat kesadran, depresi pada SSP juga mengakibatkan reflek batuk menghilang.
Selain itu pengaruh anestesi juga mengakibatkan produksi sekret trakeobronkial
meningkat sehingga jalan nafas terganggu, serta mengakibatkan peristaltik usus
menurun yang berakibat pada mual dan muntah, sehingga beresiko terjadi aspirasi
yang akan menyumbat jalan nafas.
Prosedur bedah akan mengakibatkan hilang cairan, hal ini karena kehilangan
darah dan kehilangan cairan yang tidak terasa melalui paru-paru dan kulit. Insisi
bedah mengakibatkan pertahanan primer tubuh tidak adekuat (kulit rusak, trauma
jaringan, penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh), luka bedah sendiri juga
merupakan jalan masuk bagi organisme patogen sehingga sewaktu-waktu dapat
terjadi infeksi.
Rasa nyeri timbul hampir pada semua jenis operasi, karena terjadi torehan,
tarikan, manipulasi jaringan dan organ. Dapat juga terjadi karena kompresi /
stimulasi ujung syaraf oleh bahan kimia yang dilepas pada saat operasiatau karena
ischemi jaringan akibat gangguan suplai darah ke salah satu bagian, seperti karena
tekanan, spasmus otot atau hematoma.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 4


5. MANIFESTASI KLINIK
Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha,
benjolan tersebut bisa mengecil dan menghilang pada saat istirahat dan bila
menangis, mengejan, mengangkat beban berat atau dalam posisi berdiri dapat
timbul kembali, bila terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri, keadaan umum
biasanya baik pada inspeksi ditemukan asimetri pada kedua sisi lipat paha, scrotum
atau pada labia dalam posisi berdiri dan berbaring pasien diminta mengejan dan
menutup mulut dalam keadaan berdiri palpasi dilakukan dalam keadaan ada
benjolan hernia, diraba konsistensinya dan coba didorong apakah benjolan dapat di
reposisi dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak-anak, kadang cincin
hernia dapat diraba berupa annulus inguinalis yang melebar. Menangis
terus,muntah, Distensi Abdoman, Feses berdarah, Nyeri , Benjolan yang hilang
timbul di paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau megedan dan
menghilang setelah berbaring, Gelisah, kadang-kadang perut kembung, Konstipasi,
tidak ada flatus.
Pemeriksaan melalui scrotum, jari telunjuk dimasukkan ke atas lateral dari
tuberkulum pubikum, ikuti fasikulus spermatikus sampai ke anulus inguinalis
internus pada keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk, bila masa tersebut
menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis lateralis, sedangkan bila
menyentuh sisi jari maka itu adalah hernia inguinalis medialis.
Pada umumnya terapi operatif merupakan terapi satu-satunya yang rasional.
Beberapa masalah yang sering terjadi pada fase post operasi antara lain; kesadaran
menurun, sumbatan saluran nafas, hipoventilasi, hipotensi , aritmi cardiak, shock,
nyeri, distensi kandung kencing, cemas, aspirasi isi lambung.
Tindakan operatif dilakukan dengan melakukan insisi pada tubuh sehingga
tubuh memerlukan waktu untuk penyembuhan luka. Luka bedah karena dilakukan
dengan disertai teknik asepsis pada umumnya penyembuhannya lancar dan cepat.
Ada empat fase penyembuhan luka; fase I penyembuhan luka, lekosit
mencerna bakteri dan jaringan rusak. Fibrin tertumpuk pada gumpalan yang
mengisi luka dan pembuluh darah tumbuh pada luka dari benang fibrin sebagai
kerangka. Luka kekuatannya rendah tapi luka yang dijahit akan menahan jahitan
dengan baik. Pasien akan terlihat dan merasa sakit pada fase ini yang berlangsung
selama 3 (tiga) hari.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 5


Fase II berlangsung 3 – 14 hari setelah pembedahan. Lekosit mulai
menghilang, semua lapisan epitel mulai beregenerasi selengkapnya dalam 1 (satu)
minggu. Jaringan baru memiliki sangat banyak jaringan vaskuler, jaringan ikat
berwarna kemerah-merahan karena banyak pembuluh darah dan mudah terjadi
perdarahan, pasien akan terlihat lebih baik. Tumpukan kolagen serabut protein
putih akan menunjang luka dengan baik dalam 6 – 7 hari. Jadi jahitan diangkat
pada waktu ini, tergantung pada tempat dan luasnya bedah.
Pada fase III kolagen terus bertumpuk. Hal ini akan menekan pembuluh
darah baru dan arus darah menurun. Luka sekarang terlihat seperti berwarna merah
jambu yang luas. Pada fase ini yang kira-kira berlangsung dari minggu ke dua
sampai minggu ke enam post operasi, pasien harus menjaga agar tidak
menggunakan otot yang terkena.
Fase terakhir, fase ke IV berlangsung beberapa bulan post operasi. Pasien
akan mengeluh gatal diseputar luka. Kolagen terus menimbun pada waktu ini, luka
menciut dan menjadi tegang. Bila luka dekat persendian akan terjadi kontraktur.

6. KOMPLIKASI
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia.
Antara lain obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang
akhirnya dapat menimbulkan abses local, fistel atau peritonitis.
Sedangkan komplikasi operasi hernia dapat berupa cidera vena femoralis,
nervus ilioinguinalis, nervus iliofemoralis, duktus deferens, atau buli-buli bila
masuk pada hernia geser. Nervus ilioinguinalis harus dipertahankan sejak
dipisahkan karena jika tidak, maka dapat timbul nyeri pada jaringan parut setelah
jahitan dibuka.
Komplikasi dini setelah operasi dapat pula terjadi, seperti hematoma,
infeksi luka, bendungan vena, fistel urine atau feses, dan residif. Komplikasi lama
merupakan atrofi testis karena lesi arteri spermatika atau bendungan pleksus
pampiniformis, dan yang paling penting, terjadinya residif (kekambuhan). Insiden
dari residif begantung pada umur pasien, letak hernia, teknik yang digunakan
dalam pembedahan dan cara melakukannya.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 6


PATHWAYS KEPERAWATAN
Faktor bawaan sejak lahir Aktivitas mengejan saat BAK atau BAB, batuk
(anomaly congenital) kronis, mengangkat benda berat, obesitas

HERNIA INGUINALIS

medialis lateralis

TIA kronik Funikulus Spermatikus

Otot dinding Mencapai


Trigonum hasselbach melemah scrotum

Penonjolan ke belakang kanalis Hernia


inguinalis dan terpisah dari Scrotalis Herniorapi /
vesikulus spermatikus Herniotomi
Defisit of
knowledge
Turun ke jaringan lain
Luka insisi Efek anestesi Perubahan
status
kesehatan
Pertahanan Perdarahan Kompresi Gg. Peristaltic Batuk tidak
primer tidak saraf usus efektif
adekuat
ansietas

Resti Gg. Nyeri Mual, Sekresi


Keseimbangan muntah, trakeobronkial
Resti infeksi
volume cairan anoreksia
Gg. Rasa
nyaman
Aliran darah ke nyeri Bersihan jalan
jar. terhambat Resiko nafas tak efektif
perubahan
nutrisi

Hematoma Kerusakan
mobilitas fisik

Perubahan
perfusi
jaringan
Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 7
B. FOKUS KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Status Respiratori
Kebebasan saluran nafas, kedalaman bernafas, kecepatan, sifatnya. Bunyi
nafas : ada dan sifatnya.
b. Status Sirkulatori
Nadi, tekanan darah, suhu, warna kulit, pengisian kapiler.
c. Status Neurologis
Tingkat kesadaran, penurunan tingkat kesadaran merupakan gejala shock
dan harus segera dilaporkan kepada ahli bedah dan disertai gejala lain
yang jelas.
d. Balutan
e. Keadaan balutan, terdapat drain, terdapat selang yang harus
disambung dengan system drainase.
f. Kenyamanan
Terdapat nyeri, mual, muntah, sikap tidur yang nyaman dan
memperlancar ventilasi.
g. Keamanan
Terdapat pengaman pada tempat tidur, alergi atau sensitive terhadap
obat, makanan, plester, larutan. Munculnya proses infeksi ; demam.

2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dan intervensi
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
sekresi trakeobronkial sekunder terhadap efek anestesi; batuk tidak efektif
sekunder terhadap depresi SSP atau nyeri dan splinting otot.
Kriteria Hasil :
1) Jalan napas pasien bersih, ditandai dengan bunyi napas normal
pada auskultasi.
2) RR : 12 – 20 X / menit dengan kedalaman dan pola normal.
Intervensi :
1) Pertahankan jalan nafas pasien dengan meletakkan pasien pada
posisi yang sesuai.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 8


Rasional : Mencegah obstruksi jalan nafas. Elevasi kepala dan posisi
miring akan mencegah terjadinya aspirasi dari muntah,
posisi yang benar akan mendorong ventilasi pada lobus
paru bagian bawah dan menurunkan tekanan pada
diafragma.
2) Observasi frekwensi, kedalaman pernafasan dan pemakaian otot
bantu pernafasan.
Rasional : Dliakukan untuk memastikan efektivitas pernafasan sehingga
upaya memperbaikinya dapat segera dilakukan.
3) Observasi pengembalian fungsi otot, terutama otot-otot
pernafasan .
Rasional : Setelah pemberian obat – obat relaksasi otot selama masa
intraoperatif, pengembalian fungsi otot pertama kali
terjadi pada diafragma, otot interkostal, yang akan diikuti
dengan relaksasi kelompok otot–otot utama seperti leher,
bahu, dan otot–otot abdominal, selanjutnya diikuti oleh otot
– otot berukuran sedang seperti lidah, faring, otot – otot
ekstensi dan fleksi dan diakhiri oleh mata, mulut wajah dan
jari – jari tangan.
4) Lakukan penghisapan lendir jika diperlukan
Rasional : Obstruksi jalan nafas dapat terjadi karena adanya darah atau
mukus dalam tenggorokan atau trakea.
5) Kolaborasi pemberian tambahan oksigen sesuai kebutuhan.
Rasional : dilakukan untuk meningkatkan pengambilan oksigen yang
akan diikat oleh Hb.

b. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan kompresi syaraf,


prosedur bedah.
Kriteria hasil:
1) Melaporkan nyeri hilang dan terkontrol.
2) mengungkapkan metode yang memberi penghilangan.
3) mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik.
Intervensi:

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 9


1) Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi lamanya serangan, faktor
pencetus atau yang memperberat
Rasional : Membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan
dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapy.
2) Pertahankan tirah baring selama fase akut letakkan pasien pada
posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam
keadaan fleksi atau posisi terlentang dengan atau tanpa meninggikan
kepala 10-30 derajat.
Rasional : Tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan
pasien untuk menurunkan spasme otot menurunkan
penekanan pada bagian tubuh tertentu.
3) Batasi aktivitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan
Rasional : Menurunkan gaya gravitasi dan gerak yang dapat
menghilangkan spasme otot dan menurunkan edema dan
tekanan.
4) Instruksikan pada pasien untuk melakukan teknik relaksasi atau
visualisasi
Rasional : Memfokuskan perhatian klien membantu menurunkan
tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan.
5) Kolaborasi dalam pemberian therapy
Rasional : Intervensi cepat dan mempercepat proses penyembuhan.

c. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran darah


pembentukan hematoma.
Kriteria hasil:
Melaporkan atau mendemonstrasikan situasi normal.

intervensi:
1) Lakukan penilaian terhadap fungsi neurologist secara periodik
Rasional : Penurunan atau perubahan mungkin mencerminkan
resolusi edema, inflamasi sekunder.
2) Pertahankan pasien dalam posisi terlentang sempurna selama
beberapa jam

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 10


Rasional : Penekanan pada daerah operasi dapat menurunkan resiko
hematoma.
3) Pantau tanda-tanda vital, catat kehangatan, pengisian kapiler
Rasional : Perubahan kecepatan nadi mencerminkan hipovolemi
akibat kehilangan darah, pembatasan pemasukan oral,
mual, muntah.
4) Kolaborasi dalam pemberian cairan atau darah sesuai indikasi
Rasional : Terapi cairan pengganti tergantung pada derajat
hipovolemi.
d. Koping individu tidak efektif (ansietas) sehubungan dengan krisis
situasional, perubahan status kesehatan
Kriteria hasil:
1) Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang.
2) Mengkaji situasi terbaru dengan akurat mendemonstrasikan
ketrampilan pemecahan masalah.
Intervensi:
1) Kaji tingkat ansietas klien, tentukan bagaimana pasien
menangani masalahnya sebelumnya dan sekarang
Rasional : Mengidentifikasi keterampilan untuk mengatasi
keadaannya sekarang.
2) berikan informasi yang akurat
Rasional : Memungkinkan pasien untuk membuat keputusan yang
didasarkan pada pengetahuannya.
3) berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan masalah
yang dihadapinya
Rasional : Kebanyakan pasien mengalami permasalahan yang perlu
diungkapkan dan diberi respon.
4) Catat perilaku dari orang terdekat atau keluarga yang
meningkatkan peran sakit pasien
Rasional : Orang terdekat mungkin secara tidak sadar memungkinkan
pasien untuk mempertahankan ketergantungannya.
e. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan nyeri, spasme otot.
Kriteria hasil:

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 11


Mengungkapkan pemahaman tentang situasi atau faktor resiko dan aturan
pengobatan individual.

Intervensi:
a. Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi dengan situasi
yang spesifik
Rasional : Tergantung pada bagian tubuh yang terkena, jenis prosedur
yang kurang hati-hati akan meningkatkan kerusakan.
b. Catat respon emosi atau perilaku pada saat immobilisasi, berikan
aktivitas yang disesuaikan dengan pasien
Rasional : Immobilitas yang dipaksakan dapat memperbesar
kegelisahan, peka terhadap rangsang.
c. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif
Rasional : Keterbatasan aktivitas tergantung pada kondisi dan
berkembang sesuai dengan toleransi.
d. Ikuti aktivitas atau prosedur dengan periode istirahat
Rasional : Meningkatkan penyembuhan dan membentuk kekuatan
otot.
e. Berikan atau Bantu pasien untuk melakukan latihan rentang
gerak aktif, pasif
Rasional : Memperkuat otot abdomen dan fleksor tulang belakang,
memperbaiki mekanika tubuh.

f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak


adekuat ; prosedur infasif, insisi bedah.
Kriteria Hasil :
Meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat, bebas dari eritema dan
tidak demam.
Intervensi :
1) Tekankan teknik mencuci tangan yang baik
Rasional : Menurunkan resiko penyebaran bakteri.
2) Pertahankan teknik aseptik pada penggantian balutan dan
prosedur infasif.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 12


Rasional : Menurunkan resiko masuknya bakteri.
3) Monitor tanda-tanda vital, insist dan balutan, catat karakteristik
luka, adanya eritema.
Rasional : Memberikan deteksi dini terjadinya proses infeksi.
4) Ganti balutan sesuai indikasi.
Rasional: Balutan kotor memberikan media bagi pertumbuhan bakteri.
5) Kolaborasi pemberian antibiotik.
Rasional : Untuk menurunkan jumlah organisme (pada infeksi yang telah
ada sebelumnya), untuk menurunkan penyebaran dan
pertumbuhannya.

g. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan


pembatasan pemasukan cairan secara oral (prosedur medis/adanya rasa
mual); kehilangan darah selama pembedahan.
Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan keseimbangan cairan yang adekuat, tanda – tanda vital
stabil, turgor normal, mukosa lembab, pengeluaran urine sesuai.
Intervensi :
1) Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran
Rasional : Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam
mengidentifikasi pengeluaran cairan/kebutuhan
penggantian dan pilihan-pilihan yang mempengaruhi
intervensi.

2) Periksa pembalut terhadap terjadinya perdarahan, kaji luka untuk


terjadinya pembengkakan.
Rasional : Perdarahan yang berlebihan dapat mengacu kepada
hipovolemia.
3) Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer.
Rasional : Kulit yang dingin dan lembab, denyut yang lemah
mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan
dibutuhkan untuk penggantian cairan tambahan.
4) Kolaborasi pemberian cairan sesuai petunjuk, tingkatkan
kecepatan IV jika diperlukan.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 13


Rasional : Menggantikan kehilangna cairan.
5) Pantau hasil laboratorium, misalnya Hb, Ht.
Rasional : Indikator hidrasi/volume sirkulasi.

h. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan


dengan muntah, mual, gangguan peristaltik usus
Kriteria hasil:
1) Meningkatkan masukan oral.
2) Menjelaskan faktor penyebab apabila diketahui.
Intervensi:
1) Tentukan kebutuhan kalori harian yang adekuat, kolaborasi
dengan ahli gizi.
Rasional : Mencukupi kalori sesuai kebutuhan, memudahkan
menentukan intervensi yang sesuai dan mempercepat
proses penyembuhan.
2) Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat, negosiasikan dengan
klien tujuan masukan untuk setiap kali makan dan makan makanan kecil
Rasional : Pasien dapat mengontrol masukan nutrisi yang adekuat
sesuai kebutuhan, yang digunakan sebagai cadangan energi
yang untuk beraktivitas.
3) Timbang berat badan dan pantau hasil laboratorium
Rasional : Dapat digunakan untuk memudahkan melakukan intervensi
yang akurat dan sesuai dengan kondisi klien.
4) Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan mulut secara teratur
pantau pasien dalam melakukan personal hygiene.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan memberi kenyamanan
dalam mengkonsumsi makanan sehingga kebutuhan kalori
terpenuhi.
5) Atur rencana perawatan untuk mengurangi atau menghilangkan
ketidaknyamanan yang dapat menyebabkan mual, muntah, dan
mengurangi nafsu makan
Rasional : Menentukan intervensi yang sesuai meningkatkan masukan
oral.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 14


i. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak
mengenal sumber informasi.
Kriteria hasil:
Menuturkan pemahaman kondisi, efek prosedur dan pengobatan, memulai
perubahan gaya hidup.
Intervensi:
1) Kaji ulang pemahaman pasien tentang diagnosis, prosedur bedah,
rutinitas praoperasi dan regimen pasca operasi.
Rasional : Beberapa orang merasakan informasi yang lengkap sangat
membantu; sedang yang lain lebih menyukai penjelasan
yang singkat dan sederhana.
2) Tinjau ulang dan minta orang terdekat untuk menunjukan
perawatan luka atau balutan jika diindikasikan.
Rasional : Meningkatkan kompetensi perawatan diri dan
meningkatkan kemandirian.
3) Tinjau ulang penghindaran faktor-faktor resiko, misalnya
pemajanan pada lingkungan.
Rasional : Mengurangi potensial infeksi yang diperoleh.
4) Sebelum pasien dipulangkan, ajarkan tindakan pencegahan
terhadap aktivitas, istirahat maksimal, diit yang haurs dijalani.
Rasional : Informasi yang cukup memberikan pemahaman yang
adekuat bagi pasien untuk mendukung proses pengobatan.

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 15


PENYIMPANGAN KDM

Jamur, bakteri, protozoa


Resti terhadap
penyebaran
Masuk alveoli infeksi

Peningkatan
suhu tubuh Kongestif ( 4-12 jam )
Eksudat dan seruos masuk
alveoli

Hepatisasi merah (48 jam) Penumpukan


Paru-paru tampak merah dan cairan dalam
bergranula karena SDM dan alveoli
leukosit DMN mengisi alveoli

Hepatisasi kelabu (3-8 hari) Resolusi 7-11


Paru-paru tampak kelabu karena hari
leukosit dan fibrin mengalami
konsolidasi didalam alveoli

PMN Konsolidasi
jaringan paru Gangguan
pertukaran gas

Berkeringat Metabolisme
meningkat Compliance paru
menurun

Resti Resti nutrisi


kekurangan Sputum kental
kurang dari
volume cairan kebutuhan tubuh

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 16


Mual, muntah
Gangguan bersihan
jalan nafas

Nelvi Tiku Datu, S.Kep Page 17