Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

BLEFARITIS MARGINALIS

Disusun Oleh :

Mahdiyah Aturi Sari 1261050153

Dian Apriyetty 1361050085

Hardi Hutabarat 1361050161

Martha Digna Olivia 1361050198

Cathleen Kenya 1361050253

Pembimbing :

DR. MED. Dr. Jannes Frits Tan., Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


PERIODE 10 DESEMBER 2018 – 19 JANUARI 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan pertolongan-Nya, penulis dapat menyelesaikan Referat berjudul
“Blefaritis Marginalis” dengan tepat waktu. Referat ini disusun guna memenuhi
tugas kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata di RSU UKI.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada


DR.MED.dr. Jannes Frits Tan, Sp.M yang telah membimbing penulis dalam
mengerjakan referat ini, serta kepada rekan-rekan dokter yang telah membimbing
penulis selama di kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata di RSU UKI. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan di kepaniteraan ini,
serta kepada semua pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan kepada
penulis.

Dengan penuh kesadaran, meskipun penulis sudah berupaya semaksimal


mungkin untuk menyelesaikan referat ini, namun masih terdapat beberapa
kesalahan maupun kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca. Akhir kata, penulis berharap semoga referat
ini dapat berguna dan memberikan manfaat bagi pembaca.

Jakarta, 15 Desember 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………….................... 2

DAFTAR ISI……..…………………………………………................. 3

BAB I PENDAHULUAN………………………..................…………. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................... 5

2.1. Anatomi Palpebra.................………………...........…………. 5

2.2. Blefaritis

2.2.1 Definisi.......................................................................... 7

2.2.2 Klasifikasi...................................................................... 8

2.2.3 Epidemiologi................................................................. 10

2.2.4 Etiologi dan Faktor Risiko............................................ 11

2.2.5 Patofisiologi.................................................................. 13

2.2.6 Manifestasi Klinis dan Diagnosis................................. 17

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang................................................ 19

2.2.8 Diagnosis Banding........................................................ 21

2.2.9 Tatalaksana.............................................................. 21

2.2.10 Komplikasi.................................................................. 23

2.2.11 Prognosis..................................................................... 24

BAB III KESIMPULAN……………….…………...…………............ 25

DAFTAR PUSTAKA………………………………………................. 28

3
BAB I

PENDAHULUAN

Blefaritis adalah suatu peradangan subakut atau menahun tepi kelopak


mata.1 Blefaritis diklasifikasikan menjadi blefaritis anterior dan posterior. Blefaritis
anterior merupakan inflamasi kulit kelopak mata dan folikel bulu mata disertai
dengan debris skuamosa atau kolaret, biasanya berkaitan dengan infeksi
Staphylococcal dan dermatitis seboroik. Blefaritis posterior adalah inflamasi
kelenjar Meibom dan biasanya disebabkan oleh disfungsi kelenjar Meibom.2
Pada umumnya, beberapa mekanisme patogenesis terlibat dalam kelompok
kondisi yang kita sebut blefaritis. Sebagai contoh, disfungsi kelenjar Meibom
merupakan bagian dari kondisi yang dapat menyebabkan blefaritis, namun bisa
menjadi hasil dari sejumlah faktor terkait yang menimbulkan efek subklinis dan
klinis yang berbeda. Blefaritis dapat timbul berhubungan dengan berbagai kondisi,
termasuk dry eye disease, dermatitis seboroik, akne rosasea, dan atopi.3
Walaupun blefaritis adalah salah satu gangguan okuler yang paling banyak
ditemukan, data epidemiologi berupa insidensi dan prevalensi masih kurang. Salah
satu studi pusat tunggal pada 90 pasien dengan blefaritis kronik tercatat rata-rata
usia pasien adalah 50 tahun. Pasien dengan blefaritis staphylococcal ditemukan
pada relatif usia muda (42 tahun) dan paling sering ditemukan pada wanita (80%).
Sebuah penelitian U.S pada orang dewasa (n= 5000) terungkap bahwa gejala khas
blefaritis cukup sering ditemukan, lebih sering gejala ditemukan pada usia individu
lebih muda dibanding dengan usia individu yang lebih tua. Prevalensi diagnosis
klinis disfungsi kelenjar Meibomian sangatlah bervariasi dipublikasikan di literatur
dunia, paling sering ditemukan diantara populasi Asia dibanding populasi
kaukasian.4

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Anatomi Palpebra

Palpebra adalah termasuk komponen eksternal mata yang berupa


lipatan jaringan yang mudah bergerak dan berperan melindungi bola mata
dari depan. Fungsi palpebra antara lain untuk melindungi dari segala
trauma, mencegah penguapan air mata, menjaga kelembaban mata, dan
sebagai estetika. Kulit palpebra sangat tipis sehingga mudah membengkak
pada keadaan-keadaan tertentu. Pada tepi palpebra terdapat bulu mata (silia)
yang berguna untuk proteksi mata terhadap sinar, di samping juga terhadap
trauma-trauma minor. Di dalam palpebra terdapat tarsus, yaitu jaringan ikat
padat bersama dengan jaringan elastik. 5

Lapisan otot palpebra tersusun atas muskulus orbikularis okuli,


muskulus levator palpebra, dan muskulus tarsalis superior dan inferior.
Muskulus orbikularis okuli berfungsi untuk menutup kelopak mata
(berkedip), diinervasi oleh saraf fasial (nervus facialis) dan parasimpatis.
Muskulus levator palpebra berfungsi untuk membuka mata, diinervasi oleh
saraf okulomotor. Muskulus tarsalis superior (Mulleri) dan inferior yang
berfungsi untuk memperlebar celah mata, mendapat inervasi dari serabut
saraf pascaganglioner simpatis yang mempunyai badan sel di ganglion
servikal superior. 5

Bagian belakang palpebra ditutupi oleh konjungtiva, Konjungtiva


yang melapisi permukaan belakang kelopak ini disebut sebagai konjungtiva
palpebra dan merupakan lanjutan konjungtiva bulbi, yaitu konjungtiva yang
melapisi sklera bagian depan. Pada kelopak juga terdapat septum orbita.
Kelopak mata berperan sebagai pelindung dengan adanya refleks menutup
kelopak akibat rangsangan di kornea, adanya cahaya yang menyilaukan,

5
maupun akibat adanya obyek yang bergerak ke arah mata. Ia juga berperan
pada saat tidur, karena saat tidur kontraksi m. orbikularis okuli berkontraksi
sehingga kelopak mata menutup dan mencegah kornea mengalami
kekeringan. Saat terjaga juga terjadi kedipan spontan untuk menjaga kornea
tetap licin dan meratakan air mata. Perlu diketahui bahwa pada saat kelopak
menutup secara volunter, masih terdapat cahaya yang masuk mata sebesar
kira-kira 1%.5

Gambar 2.1 Anatomi Palpebra6


Sumber: Kels BD, Grzybowski A, Grant-Kels JM. Human Ocular
Anatomy. Clinics in Dermatology 2015;33:140-6.

Pada palpebra terdapat empat macam kelenjar, yaitu kelenjar


Meibom, Zeis, Moll, dan aksesoria. Kelenjar Meibom (glandula tarsalis)
terdapat di dalam tarsus, bermuara dalam tepi kelopak. Pada palpebra atas
terdapat 25 buah kelenjar dan pada palpebra bawah terdapat 20 kelenjar.
Kelenjar Meibom menghasilkan sebum (minyak) yang merupakan lapisan
terluar air mata. Kelenjar Zeis berhubungan dengan folikel rambut dan juga
6
menghasilkan sebum. Kelenjar Moll merupakan kelenjar keringat. Kelenjar
lakrimal tambahan (aksesoria) terdiri atas kelenjar Krause dan kelenjar
Wolfring yang keduanya terdapat di bawah konjungtiva palpebra. Mereka
menghasilkan komponen air yang merupakan lapisan tengah air mata. 5

Vaskularisasi palpebra berasal terutama dari a.oftalmik,


a.zigomatik, dan a.angularis. Drainase limfatiknya adalah ke kelenjar limfe
preaurikular, parotid, dan submaksilaris.5

2.2.Blefaritis
2.2.1. Definisi

Istilah blefaritis meliputi kondisi yang dihasilkan dari


patologi yang terkait dengan unit pilosebasea palpebra anterior dan
kelenjar Meibom palpebra posterior. Klasifikasi blefaritis paling
sederhana dan digunakan pada klinis, yaitu anterior dan posterior.
Paling sering blefaritis anterior disebabkan oleh karena produk
bakteri mengalami pertumbuhan berlebihan dan/atau aktivitas
kelenjar sebasea. Sedangkan blefaritis posterior hampir selalu
dikaitkan dengan disfungsi kelenjar Meibom. Disfungsi kelenjar
Meibom adalah yang paling sering menyebabkan penguapan mata
kering. 3

Blefaritis didefinisikan sebagai kondisi yang dapat


mempengaruhi fungsi normal bulu mata dan kelenjar Meibom
melalui produk bakteri, inflamasi, perubahan sekresi kelenjar
Meibom, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Blefaritis dapat
timbul berhubungan dengan berbagai kondisi, termasuk penyakit
mata kering, dermatitis seboroik, akne rosasea, dan atopi. Penyakit
mata kering adalah kondisi dimana film air mata tidak cukup
melindungi permukaan okular dikarenakan produksi air mata tidak
cukup dan/atau penguapan air mata yang berlebihan.3

7
Blefaritis adalah suatu peradangan subakut atau menahun
tepi kelopak mata. Blefaritis kronis (blefaritis marginal kronis)
adalah penyebab yang sangat umum dari ketidaknyamanan okular
dan iritasi. Korelasi yang buruk antara gejala dan tanda-tanda,
etiologi pasti, dan mekanisme proses penyakit menjadikan
tatalaksana menjadi sulit.1

2.2.2. Klasifikasi
Secara anatomis, blefaritis dapat dibagi menjadi blefaritis
anterior dan posterior. Blefaritis anterior adalah peradangan pada
bulu mata dan folikel, sedangkan blefaritis posterior melibatkan
kelenjar Meibom. Blefaritis anterior biasanya menular dan dapat
disebabkan oleh bakteri (Staphylococcal), virus (Moluskum
kontagiosum), dan parasit (Phthiriasis) atau seboroik. Blefaritis
posterior umumnya disebabkan karena metabolik.7
Blefaritis dapat dibagi menjadi anterior dan posterior,
meskipun ada tumpang tindih dan kedua jenis sering terjadi
bersamaan (mixed blepharitis). Blefaritis anterior mengenai daerah
sekitarnya dasar bulu mata dan mungkin sebuah bentuk dari
blefaritis stafilokokus atau seboroik. Sebuah faktor etiologi pada
blefaritis staphylococcal mungkin merupakan respon diperantarai
sel abnormal terhadap komponen dinding sel S. aureus, yang
mungkin juga bertanggung jawab untuk mata merah dan infiltrat
kornea perifer terlihat pada beberapa pasien; itu lebih umum dan
lebih ditandai pada pasien dengan dermatitis atopik. Blefaritis
seboroik sangat terkait dengan dermatitis seboroik umum yang khas
melibatkan kulit kepala, lipatan nasolabial, kulit belakang telinga
dan tulang dada.1

8
Terdapat 2 bentuk blefaritis yaitu blefaritis seboroik
(blefaritis skuamosa) dan blefaritis ulseratif (blefaritis stafilokokal).
Blefaritis seboroik merupakan peradangan kelenjar kulit didaerah
bulu mata, sering pada orang yang kulitnya berminyak,
penyebabnya biasanya kelainan metabolik atau jamur. Ada
hubungannya dengan penyakit kulit karena jamur, contohnya
ketombe pada kepala. Blefaritis seboroik dapat merupakan bagian
dermatitis seboroik. Secara klinis ditemukan sisik halus, putih,
penebalan kelopak mata disertai madarosis (hilangnya bulu mata),
dibawah sisik kulit hiperemi, tidak berulserasi. Berbeda dengan
blefaritis ulserativa yang diduga penyebab utamanya adalah
stafilokokus. Secara klinis terdapat keropeng kekuningan merekat
bulu mata menjadi satu. Bila keropeng dibuang akan terjadi ulkus
kecil mudah berdarah. Ulkus ini kalau sembuh dapat menyebabkan
sikatriks. Bila tidak diobati dengan baik ulkus bisa meluas merusak
akar rambut sehingga bulu mata rontok. Ia juga bisa menyebabkan
konjungtivitis menahun. Selain itu dapat menyebabkan trikiasis
karena terbentuk sikatriks pada palpebra. 1
Blefaritis posterior disebabkan oleh disfungsi kelenjar
Meibom dan perubahan sekresi kelenjar Meibom. Lipase bakteri
dapat mengakibatkan pembentukan asam lemak bebas. Hal ini
meningkatkan titik leleh Meibom, mencegah ekspresi dari kelenjar,
yang berkontribusi terhadap iritasi permukaan mata dan
memungkinkan pertumbuhan S. aureus. Kehilangan fosfolipid film
air mata yang bertindak sebagai surfaktan mengakibatkan
peningkatan penguapan air mata dan osmolaritas, dan film air mata
tidak stabil. Blefaritis posterior umumnya dianggap sebagai kondisi
peradangan persisten dan kronis dari blefaritis anterior.1
Blefaritis marginalis adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan koeksistensi blefaritis anterior dan posterior.
Karena sering ada tumpang tindih yang signifikan antara blefaritis
9
anterior dan posterior, banyak etiologi blefaritis yang tidak spesifik
untuk satu jenis blefaritis. Tungau Demodex adalah parasit
intrakutan yang menghambat folikel rambut dan kelenjar sebasea.
Infestasi Demodex telah dikaitkan dengan kedua blefaritis baik
anterior maupun posterior. Phthirus pubis adalah infeksi parasit lain
pada kelopak mata yang dapat menyebabkan blefaritis (walaupun
jarang terjadi).2

2.2.3. Epidemiologi
Secara khusus, sangatlah sedikit data prevalensi dan
insidensi yang tersedia dalam literatur mengenai blefaritis.
Walaupun dalam praktik klinis, blefaritis adalah salah satu
gangguan okular paling sering ditemui. Sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Hom dan rekan kerja berupa ekspresi kelenjar
Meibom pada 398 pasien yang dipilih secara acak tampak normal
untuk pemeriksaan visus rutin. Hasilnya terdapat 155 pasien dinilai
memiliki disfungsi kelenjar Meibom. Dalam penelitian ini,
prevalensi meningkat seiring dengan usia tetapi tidak berkorelasi
dengan faktor lain.3
Pada tahun 2003, sebuah penelitian yang dilakukan oleh
Venturino dan koleganya mengumpulkan dan menganalisis data dari
1.148 pasien yang melakukan pemeriksaan mata karena alami
ketidaknyamanan atau iritasi mata. Mereka menemukan bahwa
blefaritis posterior (24%) adalah kondisi yang paling sering
terdiagnosis diantara pasien yang diteliti, diikuti dengan penyakit
mata kering (21%), dan blefaritis anterior (12%). Mereka lebih
lanjut mencatat bahwa secara keseluruhan penatalaksanaan yang
digunakan adalah tidak spesifik untuk diagnosis dan memberikan
hasil yang buruk.3

10
Walaupun blefaritis adalah salah satu gangguan okuler yang
paling banyak ditemukan, data epidemiologi berupa insidensi dan
prevalensi masih kurang. Salah satu studi pusat tunggal pada 90
pasien dengan blefaritis kronik tercatat rata-rata usia pasien adalah
50 tahun. Pasien dengan blefaritis staphylococcal ditemukan pada
relatif usia muda (42 tahun) dan paling sering ditemukan pada
wanita (80%). Sebuah penelitian U.S pada orang dewasa (n= 5000)
terungkap bahwa gejala khas blefaritis cukup sering ditemukan,
lebih sering gejala ditemukan pada usia individu lebih muda
dibanding dengan usia individu yang lebih tua. Prevalensi diagnosis
klinis disfungsi kelenjar Meibom sangatlah bervariasi
dipublikasikan di literatur dunia, paling sering ditemukan diantara
populasi Asia dibanding populasi kaukasian.4

2.2.4. Etiologi dan Faktor Resiko


Penyebab blefaritis tidak diketahui jelas dan multifaktorial.
Bakteri memainkan peran penting dalam patogenesis blefaritis.
Flora normal konjungtiva pada pasien dengan blefaritis telah
dilaporkan memiliki jumlah bakteri yang lebih banyak daripada
individu normal. Lipase bakteri mengubah sekresi dari kelenjar
meibom, meningkatkan konsentrasi kolesterol dan mendukung
pertumbuhan dan proliferasi bakteri. Residu beracun dari bakteri,
invasi jaringan secara langsung, dan kerusakan yang dimediasi
imunitas memainkan peran penting dalam perkembangan penyakit.7
Selain itu, salah satu etiologi blefaritis adalah Demodex
folliculorum. Demodex folliculorum adalah tungau parasit kecil
yang hidup di folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar meibom.
Biasanya terlihat di daerah wajah, leher, aksila dan kemaluan.
Pertama kali dilihat oleh Henle e Berguer pada tahun 1841 dan
dijelaskan secara rinci oleh Simon pada tahun 1842, terkait dengan

11
blefaritis kronis. Hal ini masih kontroversial dan beberapa penulis
percaya D. folliculorum tidak berbahaya.7
Berdasarkan penelitian Thygeson (1946) didapatkan hal-hal
yang menjadi penyebab dan faktor terjadinya blefaritis adalah 9
(1) bakteri, termasuk staphylococci, streptococci dan diplobacilli;
(2) alergi terhadap berbagai zat;
(3) jamur;
(4) kesalahan pembiasan;
(5) seborrhea;
(6) parasit hewan;
(7) kekurangan vitamin;
(8) gangguan endokrin, dan
(9) predisposisi keturunan.

Faktor Risiko4
1. Mata Kering
Mata kering telah dilaporkan pada 50% pasien dengan
Blefaritis staphylococcal. Disisi lain dari 66 pasien dengan mata
kering, 75% mengalami staphylococcal konjungtivitis atau
blefaritis. Hal itu memungkinkan dikarenakan menurun nya
lokal lysozyme dan immunoglobulin yang berhubungan dengan
menurunnya air mata.
Dua puluh lima persen dari 40% total pasien blefaritis
seboroik dan MGD (Meibomian gland dysfunction) dan 37%-
52% pasien dengan ocular rosacea juga mengalami defisiensi air
mata. Hal ini terjadi dari peningkatan evaporasi air mata yang
disebabkan defisiensi komponen lipid pada air mata.

12
2. Kondisi Kulit
Kondisi kulit berhubungan dengan blefaritis seboroik dan
MGD yang mempunyai etiologi dan faktor predisposisi yang
sama. Dalam satu studi, 95% pasien dengan blefaritis seboroik
juga mengalami dermatitis seboroik.
3. Demodicosis
Demodex folliculorum ditemukan pada 30% pasien kronik
blefaritis.
4. Rosacea
Rosacea adalah penyakit kronis yang ditandai dengan
adanya telangiektasis, eritema, papula, pustula, dan kelenjar
sebaceous hipertrofik di area wajah kemerahan. Rosacea
biasanya dimulai sekitar 30 hingga 40 tahun dan tanda-tanda dan
gejala sering terjadi dan terjadi pada awal proses penyakit.
Semua tersangka harus segera dirujuk ke dokter kulit untuk
memastikan diagnosis dan membantu mengidentifikasi pemicu.

2.2.5. Patofisiologi
Blefaritis biasanya disfungsi sekunder akibat perubahan
struktural pada kelenjar meibom. Ada 30 hingga 40 kelenjar di tarsus
atas dan 20 hingga 25 pada tarsus bawah. Mereka membentuk
lobulus yang berpusat di sekitar tubulus utama di tarsus atas dan
bawah. Lipid yang diproduksi di kelenjar ini diekspresikan melalui
bukaan meibom yang terletak di antara kulit epitel dan garis abu-abu
di dalam tarsus dan akan membentuk lapisan lipid dari air mata.
Lapisan lipid mencegah penguapan air mata, mencegah kontaminasi
dan membantu membentuk permukaan optik pada kornea dan
bertindak sebagai penghalang terhadap setiap partikulat. McCulley
et al. melaporkan bahwa di antara pasien dengan disfungsi kelenjar
meibom, jumlah produksi air mata sering menurun.7

13
Kelopak mata melindungi permukaan mata dan kelenjar
pada kelopak mata, terutama kelenjar meibom, yang berfungsi
penting dalam sekresi air mata. Infeksi pada kelopak mata
(blefaritis) dapat menyebabkan obstruksi dan mencegah kelenjar ini
mensekresikan lipid yang berkontribusi membentuk air mata.
Termasuk dalam air mata adalah lapisan atas terpenting dari lipid
yang secara luas berasal dari kelenjar meibom yang membatasi
penguapan air sehingga membantu mencegah perkembangan mata
yang kering.8
Lipase dari kedua host dan bakteri dapat melepaskan asam
lemak bebas, kolesterol, dan lipid lainnya yang terakumulasi dalam
saluran yang berkontribusi terhadap penyumbatan saluran dan
berkumpulnya neutrofil dan komponen inflamasi lainnya ke
kelenjar.8
Lipase bakteri mengubah sekresi kelenjar meibom,
meningkatkan konsentrasi kolesterol dan mendukung pertumbuhan
dan proliferasi bakteri. Residu beracun dari bakteri, invasi jaringan
langsung, dan kerusakan dimediasi kekebalan memainkan peran
penting dalam perkembangan penyakit.8
Blefaritis dengan mata kering menjadi dua hal yang saling
berhubungan. Istilah baru yang diperkenalkan adalah dry eye
blepharitis syndrome (DEBS). Fakta bahwa ada beberapa gejala
tumpang tindih dan patologi yang saling terkait dalam sindrom mata
kering. 8
Hal ini sekarang dapat menghubungkan mata kering dan
blefaritis bersama dengan satu sumber patologi umum. Yang
menjadi jelas adalah bahwa mata kering dan blepharitis menjadi satu
kesatuan, yaitu dry eye blepharitis syndrome (DEBS), yang
mencerminkan pada kenyataannya satu proses penyakit, bukan dua
hal yang berbeda.8

14
Pada kelopak mata terdapat bakteri flora normal, terutama
Staphylococcus aureus dan Staphylococcal epidermidis, flora
normal ini menjadi overcolonized dan mengalami perubahan
patogenisitas selama masa hidup pasien. Thygeson pada tahun 1946
mengakui bahwa "kolonisasi Staphylococcus abnormal" dikaitkan
dengan blefaritis. Biofilm merupakan hal yang mendasari terjadi nya
overcolonized dan perubahan patogenisitas dari flora normal.8
Penyakit pada kelopak mata melibatkan enam langkah yang
berkaitan dengan perubahan bakteri :8
1. Bakteri survival
2. Pembentukan biofilm
3. Over-Colonization
4. Quorum-sensing gene activation
5. Produksi faktor virulensi
6. Peradangan.
Biofilm terbukti menjadi struktur pertahanan yang sangat
baik dengan memungkinkan bakteri untuk menghindari kekeringan,
menghindari respon pertahanan tuan rumah pada atau di dalam
sistem kehidupan lain, menghasilkan faktor virulensi, membebaskan
dan memusatkan nutrisi, dan berkomunikasi dengan spesies bakteri
lainnya, sehingga meningkatkan strategi bertahan hidup di seluruh
spesies.8
Telah diketahui dengan baik bahwa kelopak mata adalah
rumah bagi bakteri flora normal yang terdiri dari S. aureus, S.
epidermidis, dan pada tingkat yang lebih rendah Corynebacterium
spp. dan Propionobacterium spp. Juga diketahui bahwa kedua
spesies Staphylococcus adalah pembentuk biofilm yang produktif,
terutama S. epidermidis.8

15
Gambar 2.1 Enam langkah terjadi nya DEBS.8

Terjadi nya over-colonization dalam biofilm dan


meningkatkan populasi bakteri inilah yang mengaktifkan gen
quorum-sensing. Hastings menunjukkan bahwa populasi bakteri
dapat merasakan ketika kepadatan mereka mencapai kuorum
tertentu, dan begitu jumlah atau kepadatan tercapai, gen yang
dorman diaktifkan. Hal tersebut akan meningkatkan faktor virulensi
yang berasal dari gen yang baru diaktifkan. Hal itu akan
menyebabkan inflamasi pada permukaan kelopak dan akhirnya
mengenai struktur lainnya seperti folikel bulu mata, kelenjar
meibom dan jaringan ikat.8
Tindakan penyapuan yang konstan dari kelopak mata di
sepanjang kornea, konjungtiva, dan batas kelopak mata (yaitu,
berkedip) dan pembilasan air mata memainkan peran mekanis dalam

16
mencegah akumulasi biofilm yang signifikan pada konjungtiva
palpebra atau bulbar. Tentu saja, protein antibakteri dari air mata,
laktoferin, dan lisozim, memainkan peran penting. Sel goblet,
bagaimanapun, mungkin memainkan bagian yang lebih signifikan
dalam pencegahan mekanik akumulasi biofilm serta secara fisik
melindungi epitelium.8

2.2.6. Manifestasi Klinis dan Diagnosis


Gejala okular umum yang dapat menyertai blefaritis adalah
kelopak mata yang sakit, mata yang terasa pegal, gatal, terbakar,
atau berpasir, mata merah, mata kering atau berair, meningkatkan
frekuensi berkedip, terasa sensasi benda asing, fotofobia, kontak
intoleransi lensa, dan kelopak mata saling menempel (khususnya di
pagi hari).12
Blefaritis marginal anterior dan posterior berhubungan
dengan infeksi staphylococci, dan subklasifikasi lebih lanjut dari
kedua kondisi utama ini didasarkan pada pengelompokan tanda yang
dapat diamati.10
1. Riwayat2
Pertanyaan tentang unsur-unsur berikut dari riwayat pasien
dapat membantu informasi:
 Gejala dan tanda (kemerahan, iritasi, rasa terbakar,
berair, gatal, kehilangan bulu mata, bulu mata
menempel, pandangan mata kabur, tidak dapat
menggunakan kontak lensa, fotofobia, peningkatan
frekuensi berkedip).
 Waktu dalam sehari ketika gejala memburuk (gejala
memburuk pada pagi hari merupakan tipikal gejala pada
blefaritis, yang dimana gejala dapat bertambah buruk
sehari setelahnya merupakan tipikal gejala dari defisit
aqueous mata kering)
17
 Lamanya gejala
 Pada satu atau kedua mata
 Faktor yang dapat memperburuk keadaan (merokok,
alergi, angin, pemakaian kontak lensa, kelembapan yang
rendah, retinoid, diet, mengkonsumsi alcohol,
pemakaian makeup pada mata)
 Tanda dan gejala yang berhubungan dengan penyakit
sistemik (rosasea, alergi)
 Sebelum dan sesudah penyakit sistemik dan pengobatan
tipikal (antihistamine, obat dengan efek antikolinergik,
atau obat yang digunakan sebelumnya seperti
isotretinoin yang mampu menimbulkan efek oada
permukaan okular)
 Paparan baru pada individual yang terinfeksi
(pedikulosis palpebrarum)

2. Pemeriksaan2
Pemeriksaan pada ata dan adneksa meliputi pengukuran
ketajaman visual, pemeriksaan luar. Pemeriksaan luar harus
dilakukan pada kondisi lampu yang cukup dengan perhatian
khusus dalam hal-hal berikut :
 Kulit
Perubahan konsistensi kulit dengan rosasea seperti
rhinophyma, eritema, telangiectasia, papul, pustul, dan
hipertropik glandula sebaseus di area malar
 Kelopak mata
a. Posisi abnormal pada kelopak mata (ektropion
dan entropion, penutupan kelopak mata
(lagoftalmus), respon mengedip
b. Hilang, kerusakan, dan bentuk kelopak mata
yang salah
18
c. Vaskularisasi atau hiperemis pada kelopak mata
marginal
d. Kelainan pada bawah kelopak mata
e. Ulserasi

Tabel 2.1 Deskripsi tanda klinis pada kategori blefaritis2

Kelopak Mata Anterior Kelopak Mata Posterior


Tanda
Staphylococcus Seboroik Glandula Meibom
Kehilangan bulu
mata Sering Jarang terjadi -
Arah kelopak mata Dapat terjadi
yang salah Sering Jarang terjadi denganpenyakit lama
Kelaian kelopak Berminyak atau Minyak berlebih,
mata Kusut, bersisik keras licin berbusa
Ulserasi kelopak Dengan eksaserbasi
mata berat - -
Jaringan parut Dapat terjadi
kelopak mata Dapat terjadi - denganpenyakit lama
Sesekali sampai sering,
Chalazion Jarang terjadi Jarang terjadi kadang multipel
Hordeolum Dapat terjadi - -
Injeksi ringan sampai Injeksi ringan sampai
berat, Phlyctenules berat, reaksi papil dari
Conjungtiva dapat terjadi Injeksi ringan konjungtiva tarsal
Defisiensi air mata Sering Sering Sering
Erosi epitel punctate Erosi epitel Erosi epitel punctate
Cornea inferior punctate inferior inferior
Penyakit kulit Atopi jarang terjadi Dermatitis seboroik Rosasea

2.2.7. Pemeriksaan Penunjang


Tidak ada pemeriksaan diagnostik yang spesifik untuk
blefaritis. Meskipun begitu, kultur kelopak mata dapat membantu
dalam identifikasi pasien dengan blefaritis anterior rekuren dengan
inflamasi derajat berat ataupun pasien yang tidak berespon dengan
terapi. Evaluasi secara mikroskopik pada bulu mata dapat
mengungkapkan adanya tungau Demodex, yang biasanya terjadi
19
pada beberapa kasus blefarokonjungtivitis. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara meletakkan bulu mata diatas kaca pemeriksaan, dengan
menambahkan fluorescein dan menutupnya. Infestasi demodex
diasosiasikan dengan ketombedan biasa ditemukan pada pasien
disfungsi kelenjar meibom, inflamasi konjungtiva, dan rosasea
okuler. Dapat juga ditemukan pada pasien dengan tanda kornea,
seperti infiltrate marginal, phlytenule, vaskularisasi superfisial,
opasitas superfisial, dan jaringan parut nodular. Walaupun kejadian
ditemukannya Demodex sudah cukup sering, namun perannya
sebagai agen etiologi kasus blefarokonjungtivitis belum sepenuhnya
dipahami.4
Kemungkinan terjadinya karsinoma perlu dipertimbangkan
pada pasien dengan blefaritis kronik yang tidak berespon terhadap
terapi, terutama jika hanya satu mata yang terlibat. Pemeriksaan
biosi kelopak mata dapat dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan karsinoma, resistensi obat, atau kalazia rekuren
unifokal yang tidak berespon terhadap terapi. Tanda lainnya adalah
hilangnya batas normal kelopak mata dan anatomi konjungtiva dan
madarosis siliaris. Jaringan segar mungkin dibutuhkan untuk
mendeteksi lipid menggunakan pewarna khusus minyak merah O.4
Pemeriksaan dermatologis mungkin diperlukan, kulit wajah
atau kulit kepala yang terkelupas harus dinilai untuk menyingkirkan
dermatitis seboroik. Pemeriksaan untuk rosacea mungkin
diperlukan; bengkak atau kemerahan pada hidung atau pipi.11
Ketika curiga staphylococcal blefaritis, kultur bakteri
menggunakan sampel kulit dapat dilakukan untuk mengonfirmasi
diagnosis.11

20
2.2.8. Diagnosis Banding
Blefaritis sering kurang terdiagnosis dalam praktik klinis.
Pasien sering hadir dengan berbagai tanda dan gejala yang membuat
diagnosis bermasalah (Tabel 1). Perbedaannya termasuk karsinoma
sel basal kelopak mata, rosacea okular, kalazion, herpes (simplex
atau zoster), sindrom mata kering dan trakoma.11

Tabel 2.2 Diagnosis Banding Blefaritis11

Sumber : International Journal of Ophthalmic Practice, 2015

2.2.9. Tatalaksana
Pada umumnya pengobatan blefaritis didasarkan pada
kebersihan kelopak mata, antibiotik sistemik atau antibiotik topikal,
dan pada beberapa kasus membutuhkan agen antiinflamasi topikal
seperti kortikosteroid atau siklosporin A.12
1. Menjaga Keberihan Kelopak Mata
Pengobatan rutin berupa membersihkan kelopak mata adalah
hal utama dalam pengeobatan Blefaritis. Kompres hangat
direkomendasikan untuk tatalaksana Blefaritis dengan tujuan
mencairkan lipid pada kelenjar Meibom sehingga membantu
sekresi kelenjar Meibom. Cara kompres hangat yang
21
direkomendasikan yaitu kompres dipanaskan hingga 45OC
selama kurang lebih 4 menit, kemudian kompres diganti setelah
2 menit untuk mempertahankan suhu. Kompres hangat dapat
dilakukan 2 kali dalam sehari. Menjaga kebersihan kelopak mata
secara mekanis juga merupakan langkah awal dalam tatalaksana
Blefaritis, yaitu dengan menggosokkan tea tree oil atau minyak
pohon teh setiap minggu dan menggosokkan tea tree shampoo
atau sampo pohon teh setiap hari. 2,12
2. Terapi Farmakologi
a. Antibiotik
Antibiotik topikal sering digunakan untuk terapi
lokal. Agen topikal yang sering digunakan adalah Bacitracin
dan Salep Eritromisin, namun karena penggunaan yang luas
sehingga terjadi resistensi terhadap Eritromisin. Agen
topikal ini pada umumnya digunakan Agen topikal lain yang
dapat digunakan adalah asam fusidat, metronidazol dan
fluoroquinolones. Preparat ini diaplikasikan pada kelopak
mata 1 sampai 4 kali dalam sehari selama 2 minggu, lalu
digunakan lebih jarang dalam beberapa minggu ketika reaksi
inflamasi sudah teratasi. Antibiotika sistemik jarang
diperlukan kecuali bila tidak respon terhadap terapi
antibiotik yang adekuat atau terjadi infeksi sekunder pada
glandula Meibom. 12
b. Steroid
Penggunaan steroid topikal dapat bermanfaat untuk
mengendalikan eksaserbasi akut dan digunakan pada kasus
peradangan berat dan komplikasi seperti phlyctenules,
injeksi konjungtiva berat, dll. Namun, penggunaan steroid
jangka panjang dihindari karena berisiko tinggi
meningkatkan Tekanan Intra Okular (TIO). Studi Hosseini
dkk menunjukkan penggunaan kombinasi Azitromisin dan
22
Deksametason lebih efektif dibandingkan terapi dengan
Azitromisin saja atau dengan Dexametason saja.
Penggunaan steroid untuk Blefaritis harus dibatasi hanya
untuk penggunaan jangka pendek, dan penggunaan steroid
potensi rendah. 2,12
c. Penghambat Calcineurin
Penghambat Calcuneurin adalah agen
immunomodulator yang digunakan untuk mengurangi
peradangan pada Blefaritis tanpa efek samping seperti
steroid. Contoh Penghambat Calcineurin adalah
Cyclosporin. 2
d. Terapi intervensi
Berbagai terapi intervensi sedang dalam
pengembangan. Maskin dkk mengembangkan pembukaan
dan dilatasi kelenjar Meibom menggunakan stainless steel
kecil. Penelitian awal melaporkan bahwa 25 pasien yang
menjalani prosedur ini mengalami perbaikan gejala setelah 4
minggu. 2

2.2.10. Komplikasi dan Prognosis Blefaritis


Komplikasi

1. Konjungtivitis Kronis

Konjungtivitis kronis adalah penyakit yang sering menyertai


Blefaritis. Terjadinya Blefarokonjungtivitis adalah akibat
pelepasan toksin dari Stafilokokus. Karakteristik
Blefarokonjungtivitis akibat stafilokokus adalah hipertrofi papil
ringan, dengan terdapatnya eksudat mukopurulen yang
didominasi oleh neutrofil. 13

2. Hordeolum internal dan Hordeolum eksternal

23
Banyak kasus Hordeolum yang berulang disebabkan oleh
Blefaritis Kronis yang disebabkan oleh Stafilokokus. Terkadang
Blefaritis terjadi dengan gejala yang ringan sehingga tidak
tampak gejala yang mencolok. Perawatan rutin kelopak mata
dapat dilakukan ntuk memutuskan rantai terjadinya Hordeolum
akibat Blefaritits. 13

3. Trikiasis

Pasien dengan Blefaritis sering mengalami kelainan pada


folikel rambut sehingga menyebabkan Trikiasis. Folikel rambut
yang terkena dapat dihancurkkan dengan elektrolisis atau
diatermi. 13

4. Keratitis Epitel13

5. Keratitis Phlytenular13

Prognosis
Blefaritis merupakan penyakit yang tidak mengancam
kesehatan atau fungsi seseorang. Secara keseluruhan, prognosis
penyakit Blefaritis adalah baik. Blefaritis Kronis terjadi berulang
dan dapat menjadi resisten terhadap pengobatan. Meskipun
eksaserbasi penyakit ini membuat pasien merasa tidak nyaman,
pasien mampu memiliki hidup yang normal dan sehat tanpa
ketakutan kehilangan penglihatan yang permanen.11

24
BAB III

KESIMPULAN

Blefaritis didefinisikan sebagai kondisi yang dapat mempengaruhi fungsi


normal bulu mata dan kelenjar Meibom melalui produk bakteri, inflamasi,
perubahan sekresi kelenjar Meibom, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut.3
Blefaritis adalah suatu peradangan subakut atau menahun tepi kelopak mata.
Blefaritis kronis (blefaritis marginal kronis) adalah penyebab yang sangat umum
dari ketidaknyamanan okular dan iritasi. Korelasi yang buruk antara gejala dan
tanda-tanda, etiologi pasti, dan mekanisme proses penyakit menjadikan tatalaksana
menjadi sulit.1

Secara anatomis, blefaritis dapat dibagi menjadi blefaritis anterior dan


posterior. Blefaritis anterior adalah peradangan pada bulu mata dan folikel,
sedangkan blefaritis posterior melibatkan kelenjar Meibom. Blefaritis anterior
biasanya menular dan dapat disebabkan oleh bakteri (Staphylococcal), virus
(Moluskum kontagiosum), dan parasit (Phthiriasis) atau seboroik. Blefaritis
posterior umumnya disebabkan karena metabolik.7

Walaupun blefaritis adalah salah satu gangguan okuler yang paling banyak
ditemukan, data epidemiologi berupa insidensi dan prevalensi masih kurang. Salah
satu studi pusat tunggal pada 90 pasien dengan blefaritis kronik tercatat rata-rata
usia pasien adalah 50 tahun. Pasien dengan blefaritis staphylococcal ditemukan
pada relatif usia muda (42 tahun) dan paling sering ditemukan pada wanita (80%).4

Penyebab blepharitis tidak diketahui jelas dan multifaktorial. Bakteri


memainkan peran penting dalam patogenesis blepharitis. Residu beracun dari
bakteri, invasi jaringan secara langsung, dan kerusakan yang dimediasi imunitas
memainkan peran penting dalam perkembangan penyakit.7 Selain itu, salah satu
etiologi blefaritis adalah dermodex folliculorum yang merupakan tungau parasit
kecil yang hidup di folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar meibom. Biasanya
25
terlihat di daerah wajah, leher, aksila dan kemaluan.7 Faktor resiko terjadinya
Blefaritis antara lain matra kering, kondisi kulit, Demodicosis dan Rosacea.4

Untuk menegakkan diagnosis Blefaritis dapat dilakukan anamnesis,


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis dapat ditanyakan
onset dan kondisi spesifik pasien, riwayat medis menyeluruh dan gejala yang
dialami pasien. Pada pemeriksaan fisik dapat dilakukan pemeriksaan mata luar
meliputi bentuk kelopak mata, konsistensi, gambaran bulu mata, pememeriksaan
air mata pada abnormalitas lapisan lipid serta evaluasi pada palpebra dan
konjungtiva.9,10 Pada Blefaritis, tidak ada pemeriksaan diagnostik yang spesifik
untuk blefaritis. Meskipun begitu, kultur kelopak mata dapat membantu dalam
identifikasi pasien dengan blefaritis anterior rekuren dengan inflamasi derajat berat
ataupun pasien yang tidak berespon dengan terapi.4,10

Pada umumnya pengobatan blefaritis didasarkan pada kebersihan kelopak


mata, antibiotik sistemik atau antibiotik topikal, dan pada beberapa kasus
membutuhkan agen antiinflamasi topikal seperti kortikosteroid atau Siklosporin
A.12 Menjaga kebersihan kelopak mata dapat dilakukan dengan kompres hangat dan
2,12
menggosok bulu mata dengan tea tree oil atau tea tree shampoo. Terapi
Antibiotika topikal sering digunakan untuk terapi lokal pada Blefaritis. Agen
topikal yang sering digunakan adalah Bacitacin dan Salep Eritromisin. Antibiotika
sistemik jarang diperlukan kecuali bila tidak respon terhadap terapi antibiotik yang
adekuat atau terjadi infeksi sekunder pada glandula Meibom. 12

Blefaritis yang terjadi pada pasien dapat menimbulkan komplikasi pada


pasien. Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien antara lain : konjungtivitis kronis
yang terjadi akibat pelepasan toksin Stafilokokus, Hordeolum yang terjadi akibat
blefaritis yang berulang, Trikiasis, Keratitis Epitel dan Keratitis Phlytenular. 12

26
Blefaritis merupakan penyakit yang tidak mengancam kesehatan atau fungsi
seseorang. Secara keseluruhan, prognosis penyakit Blefaritis adalah baik. Blefaritis
Kronis terjadi berulang dan dapat menjadi resisten terhadap pengobatan. Meskipun
eksaserbasi penyakit ini membuat pasien merasa tidak nyaman, pasien mampu
memiliki hidup yang normal dan sehat tanpa ketakutan kehilangan penglihatan
yang permanen.11

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Suhardjo, Nugroho A, Winarti T, Setyowati R. Kelainan Palpebra,


Konjungtiva, Kornea, Sklera, dan Sistem Lakrimal. Buku Ilmu Kesehatan
Mata. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas
Kedokteran UGM Yogyakarta. 2017:30-2.
2. Duncan K, Jeng BH. Medical Management Of Blepharitis. Current Opinion
Ophthalmology.2015;26:289-94.
3. Lemp MA, Nichols, KK. Blepharitis in The United States 2009: A Survey-
based Perspective on Prevalence and Treatment. The Ocular Surface.2009;7:
1–14.
4. American Academy Of Ophthalmology. Blepharitis Preferred Practice Pattern.
Blepharitis Preferred Practice Pattern.2018:56-93.
5. Hartono, Nugroho A, Mahayana IT. Anatomi Mata dan Fisiologi Penglihatan.
Buku Ilmu Kesehatan Mata. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Departemen Ilmu
Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.2017:17.
6. Kels BD, Grzybowski A, Grant-Kels JM. Human Ocular Anatomy. Clinics in
Dermatology 2015;33:140-6.
7. Bernardes TF, Bonfioli AA. Blepharitis. Seminars in Ophthalmology. 2010;
25: 79-83.
8. Rynerson JM, Perry HD. DEBS – a unification theory for dry eye and
blepharitis. Clinical Ophthalmology. 2016;10: 2455–67
9. Thygeson P. Etiology and treatment of blepharitis. Arch Ophthalmol.
1946;36:445–77.
10. Key James E, MD. A Comparative Study Of Eyelid Cleaning Regimens In
Chronic Blepharitis. The CLAO Journal.1996; 22(3): 209-12
11. Din N. Blepharitis A Review of Diagnosis and Management. International
Journal of Ophthalmic Practice. 2015:3(4):150-5.

28
12. Jackson WB. Blepharitis: current strategies for diagnosis and management.
Can J Ophthalmol. 2008;43:170-9.
13. Thygeson P. Complications of staphylococcic blepharitis. American Journal Of
Ophthalmology. 1969; 64: 446-9.

29