Anda di halaman 1dari 10

PERTEMUAN XI ALAT UKUR SEDERHANA

A. MENGIDENTIFIKASI ALAT UKUR SEDERHANA

B. KEGUNAAN ALAT UKUR SUDUT SEDERHANA DALAM


PENGUKURAN TANAH
1. Kinometer

Adalah alat yang digunakan untuk mengukur sudut lereng pada lapangan yang miring.
Sudut miring yang didapat dari hasil pengukuran ini, untuk keperluan mendapatkan jarak
datar. Adapun keperluan lainnya adalah untuk menentukan beda tinggi, tetapi kurang teliti.
Untuk mendapatkan jarak datar dapat dihitung dengan rumus:

Jarak datar = jarak miring x cos sudut miring

Untuk menghitung beda tinggi adalah :

Beda tinggi = jarak miring x sin sudut miring

2. Kompas

Kompas adalah alat yang digunakan untuk mengukur sudut jurusan dan sudut azimuth.
Sudut jurusan adalah sudut yang diukur dari arah utara sebenarnya (astronomis), searah
dengan putaran jarum jam pada jurusan yang dimaksud. Sudut azimuth adalah sudut yang
diukur dari arah utara magnetis, searah dengan arah putaran jarum jam.
3. Pentaprisma
Alat ini digunakan untuk membuat sudut siku-siku di lapangan, terbuat dari bahan logam
dan kaca. Bentuknya berpenampang bulat atau segi lima. Susunannya terdiri dari prisma
bagian atas untuk bayangan Jalon kanan, bagian bawah untuk bayangan Jalon kiri, dan
bagian tengah merupakan kaca tembus pandang sebagai jendela pembidik. Bayangan yang
terlihat pada prisma ini lebih terang dan lebih luas.

4. Cermin Sudut

Alat ini gunanya untuk membuat sudut siku-siku di lapangan, terbuat dari logam atau kayu,
berbentuk kotak dan membentuk sudut 45𝑜 . Di dalam ada kotak lunbang sebagai jendela
pembidik. Dasar pemikiran yang dipakai pada alat ini adalah teori pemantulan sinar yang
jatuh pada cermin yang berada di dalam kotak. Sinar yang datang dari Jalon menuju
bidang cermin, dipantulkan sedemikian rupa sehingga sudut yang dibentuk oleh sinar
datang dan garis normal adalah sama besar dengan sudut pantul sinar tersebut terhadap
garis normal. Sudut yang terjadi dari pemantulan sinar -sinar tersebut adalah 90𝑜 (siku-
siku).

C. MENGUNAKAN ALAT UKUR SEDERHANA UNTUK PENGUKURAN


TANAH
1. Menggunakan Klinometer

a. Tempatkan yalon di titik Po dan titik 1, ukurkan kedudukan Jalon agar letaknya
tegak vertikal dengan unting-unting.
b. Pasang alat klinometer pada jalan Po, ukur tinggi klinometer dari permukaan tanah,
misalnya 150 cm.
c. Bidikan melalui lubang pembidik pada klinometer ke arah Jalon 1 , dan sesuaikan
ketinggian bidikan pada Jalon 1 (150 cm).
d. Aturlah posisi nivo tabung agar terletak horizontal.
e. Bacalah skala derajat/sudut vertikal (sudut miring ) pada klinometer.
f. Ukurlah jarak miring Po-1, dengan pta ukur (d).
g. Untuk menghitung jarak daftar (S).
h. Untuk menghitung beda tinggi Po-1 adalah:
Beda tinggi Po-1 = jarak miring (d)x sinus sudut miring.

i. Demikian juga untuk pekerjaan selanjutnya .

2. Menggunakan Kompas

a. Tempatkan tripod (statif)di titik Po dan pasanglah kompas pada statif.


b. Pasanglah Jalon pada batas-batas daerah yang diukur.
c. Setel kompas dan aturlah visir segaris dengan jarum magnet.
d. Bila jarum magnet dan visir sudah terletak pada satu garis dan mengarah ke utara,
aturlah skala sudut pembacaan 0𝑂 , 0’ arah utara.
e. Arahkan kompas ke titik 𝑃1 , bacalah sudut kompas dan ukuran jarak 𝑃0 - 𝑃1 dengan
pita ukur (𝑑1 ).
f. Arahkan kompas kearah 𝑃2 , bidiklah sudut pada kompas dan ukuran jarak 𝑃0 - 𝑃2
dengan pita ukur (𝑑2 ).
g. Untuk menghitung sudut datar 𝐵1 (sudut antara 1 dan 2 ) adalah sudut 2 – sudut 1.
h. Untuk menghitung luas segi tiga 𝑃0 , 𝑃1 , 𝑃2 adalah :
sin 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑟 𝐵1 𝑋 𝑑1 𝑥 𝑑2
L segitiga 𝑃0 , 𝑃1 , 𝑃2 = 2

i. Demikian seterusnya pengukuran dilakukan dengan cara sama sampai dengan titik
terakhir, sehingga merupakan rangkaian segi tiga – segi tiga.
j. Menghitung luas daerah yang diukur adalah dengan cara menjumlahkan luas segi
tiga.

3. Menggunakan Pentaprisma

a. Tempatkan Jalon dititik A, B, dan C dengan posisi tegak vertikal.


b. Peganglah prisma dan pasanglah unting-unting pada prisma.
c. Berjalan searah garis AB dengan memegang prisma dan posisinya menghadap Jalon
C.
d. Masukkan bayangan yalon B pada prisma bagian atas dan masukkan bayangan
yalon A pada prisma bagian bawah.
e. Bila bayangan Jalon A dan B sudah masuk kea lam prisma, bidiklah Jalon C
melalui jendela ke kanan dan ke kiri.
f. Bila bayangan jalan A dan B serta bidikan Jalon C sudah menyambung tegak pada
prisma, maka titik di mana unting-unting berada (C’) merupakan titik proyeksi dari
Jalon C, sehingga CC’ tegak lurus AB.

4. Menggunakan Cermin Sudut

a. Siapkan cermin sudut dan pasanglah unting -unting.


b. Tempatkan Jalon di titik A, B dan C dengan posisi tegak vertikal.
c. Berjalanlah searah garis AB dengan membawa cermin sudut.
d. Masukan bayangan yalon A dan B ke dalam cermin sudut.
e. Bila bayangan Jalon A dan B sudah masuk ke dalamd cermin sudut, kemudian
bidikan ke arah Jalon C.
f. Bila bayangan Jalon AB dan bidikan Jalon C di dalam cermin sudah menyambung
tegak, maka titik dimana unting-unting berada (C’) merupakan titik proyeksi Jalon,
sehingga Jalon CC’ tegak lurus Jalon AB.

D. MENGUKUR PETA SITUASI DENGAN CARA POLAR


1. Intruksi

a. Laksanakan pekerjaan sesuai dengan langkah kerja.


b. Putarlah kompas searah dengan jarum jam.
c. Buatlah laporan hasil pengukuran.

2. Alat yang dibutuhkan

a. Kompas
b. Statief (tripod)
c. Pita ukur
d. Jalon dan patok
e. Buku catatan dan tabel logaritma
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan

a. Pada saat pengukuran, jauhkan/ hindarkan benda logam disekitar kompas.


b. Pakailah pakaian kerja, topi, dan sepatu lapangan.
c. Jangan bercanda pada saat bekerja.
d. Kembalikan semua alat dalam keadaan lengkap dan bersih.

4. Cara Menggunakan

a. Tentukan titik batas daerah yang akan diukur dan sketlah pada buku catatan.
b. Tempatkan Jalon di titik batas daerah yang akan diukur (𝑃1 ,𝑃2 , 𝑃3 , ,𝑃4 , ,𝑃5 , ,𝑃6 ).
c. Pasanglah kompas statief di titik 𝑃0 sehingga dapat melihat ke semua batas
pengukuran.
d. Pasanglah kompas statief 𝑃0 dan aturlah posisi jarum magnet dan visir serta skala
sudut kearah utara (0’, 0’)
e. Bidiklah visir pada kompas ke titik 𝑃1 , baca sudut pada kompas, ukurlah jarak 𝑃0 -
𝑃1 dengan pita ukur dan catatlah pada buku catatan.
f. Putar dan arahkan visir kompas ke titik 𝑃2 , bacalah sudut, ukuran jarak 𝑃0 - 𝑃2 dan
catatalah pada buku catatan, demikian seterusnya sampai titik terakhir dengan cara
yang sama , sehingga didapat sudut dan jarak.
g. Hitunglah sudut datar B, yang merupakan sudut yang dicari untuk perhitungan luas
daerah.
h. Gambarkan hasil pengukuran.

E. MENGUKUR PETA SITUASI DENGAN KOORDINAT SIKU-SIKU


1. Intruksi

a. Pasanglah prisma dengan tangan kanan dengan posisi vertikal.


b. Pasanglah unting-unting sebagai petunjuk titik yang akan dicari/ditentukan.
c. Bayangan Jalon pada prisma harus menyambung dan lurus.
d. Buatalah sket pengukuran secara detail sebelum diukur
e. Buatlah laporan pekerjaan.
2 . Alat yang Dibutuhkan

a. Jalon dan patok.


b. Prisma.
c. Pita ukur.
d. Buku catatan.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan

a. Prisma harus tetap dipegang, tidak boleh diletakan sembarangan.


b. Pada pengukuran jarak, pita ukur ditarik sedatar mungkin.
c. Pakailah pakaian pekerja, sepatu, dan topi lapangan.
d. Kembalikan semua peralatan dengan baik, bersih dan lengkap.

4. Cara Menggunakan

a. Tentukan titik batas daerah yang akan diukur dan sket daerah tersebut pada buku
catatan.
b. Tempatkan Jalon di titik batas 𝑃1 ,𝑃2 , 𝑃3 , ,𝑃4 , ,𝑃5 , ,𝑃6 .
c. Tentukan titik pembagi PQ dengan Jalon sebagai pedoman penentuan lurus garis
kerja.
d. Pegang prisma dan proyeksikan semua titik mulai dari titik 𝑃1 ,𝑃2 , 𝑃3 , ,𝑃4 , ,𝑃5 , ,𝑃6 .
Terhadap garis ukur PQ.
e. Demikian seterusnya pekerjaan dilakasanakan dengan cara yang sama, sehingga
titik batas daerah diproyeksikan kea rah garis ukur PQ.
f. Ukurlah semua jarak 𝑃1 ,𝑃2 , 𝑃3 , dan seterusnya terhadap garis ukur yang
merupakan jarak absis (X), ukurlah jarak titik proyeksi yang satu terhadap yang lain
pada garis ukur yang merupakan jarak ordinat (Y) dan semua data harus dicatat
pada buku catatan.
g. Untuk perhitungan luas daerah yang telah diukur adalah dengan menjumlahkan luas
dari bangunan-bangunan trapezium dan segi tiga.
h. Pengukuran selesai dan gambarkan hasil pengukuran dengan skala tertentu.
F. MENGUKUR PETA SITUASI DENGAN CARA RANGKAIAN
SEGITIA
1. Intruksi

a. Laksanakan pekerjaan sesudai dengan langkah kerja.


b. Menarik pita ukur harus dalam keadaan kencang, lurus dan datar.
c. Buatlah laporan hasil pengukuran.

2 . Alat yang Dibutuhkan

a. Jalon dan patok.


b. Pita ukur.
c. Buku catatan.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan

a. Pakailah selalui pakaian kerja, topi dan sepatu lapangan.


b. Dalam bekerja tidak boleh bersenda gurau/bercanda.
c. Dalam menarik pita ukur harus diperhatikan tidak boleh terlipat/kusut.
d. Jagalah alat jangan sampai hilang/rusak.
e. Kembalikan semua alat dalam keadaan lengkap dan bersih.

4. Cara Menggunakan

a. Tentukan batas daerah yang akan diukur dan sket daerah tersebut dengan lengkap
pada buku catatan.
b. Tempatkan Jalon di titik 𝑃1 ,𝑃2 , 𝑃3 , ,𝑃4 , ,𝑃5 , dan 𝑃6 .
c. Ukurlah harak dengan pita ukur Jalon 𝑃1 - 𝑃2 (𝑆1 ), Jalon 𝑃2 - 𝑃6 (𝑆2 ), Jalon 𝑃1 - 𝑃6
(𝑆3 ), 𝑃2 - 𝑃5 (𝑆4 ), 𝑃5 - 𝑃6 (𝑆5 ), dan seterusnya, sehingga membentuk rangkaian segi
tiga.
d. Semua sisi jarak segi tiga pada daerah tersebut 𝑆1, 𝑆2 , 𝑆3 , 𝑆4 , 𝑆5 ,dan 𝑆6 harus
diukur dan dicatat pada buku catatan.
e. Menghitung luas daerah yang diukur adalah dengan menjumlahkan masing-masing
luas segi tiga dengan menggunakan rumus :
𝑆 (𝑆−𝑆1 )(𝑆−𝑆2 )(𝑆−𝑆3 )
Misalnya L segi tiga I (𝑃1 𝑃2 𝑃6 ) =
2
Catatan : S = 1⁄2 (𝑆1+𝑆2 + 𝑆3 )

Atau S = 1⁄2 keliling segi tiga tersebut.

𝑆 (𝑆−𝑆2 )(𝑆−𝑆4 )(𝑆−𝑆5 )


Misalnya L segitia II (𝑃1 𝑃2 𝑃6 ) =
2

Catatan : S = 1⁄2 (𝑆2 +𝑆4 + 𝑆5 )


f. Demikian seterusnya sampai segi tiga terakhir, sehingga daerah tersebut dapat
dihitung luasnya dan dapat Digambar.