Anda di halaman 1dari 20

PSIKOSOSIAL DALAM BUDAYA KEPERAWATAN

TEORI CULTURAL CARE LEININGER

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 2 :

1. Idawati

2. Siska Aprianti

3. Ayu Lestari

4. Winda

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES ST FATIMAH MAMUJU

TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai
macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa
keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan
akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai
menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen serta teman-
teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moril maupun
materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Sangat disadari bahwa dengan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki penulis,
walaupun telah dikerahkan segala kemampuan untuk lebih teliti, tetapi masih
dirasakan banyak kekurangan, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati
penulis mengharapkan saran yang membangun agar karya ilmiah ini bermanfaat
bagi yang membutuhkan.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan
apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta
orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil
hikmah dari judul ini (TEORI CULTURE CARE LEININGER) sebagai tambahan dalam
menambah referensi yang telah ada.

Mamuju, 14 Oktober 2018


Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang................................................................................................
1.2 Rumusan masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defisini culture care........................................................................................
2.2 asumsi dasar teori cuture care
2.3 konsep teori culture care
2.4 paradigma keperawatan

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Medeline Leininger adalah pendiri dan pelopor keperawatan transkultural dan
teori perawatan manusia. Dia lahir di Sutton, Nebraska, dan memulai karir
perawat profesional setelah lulus pendidikan dasar keperawatan dari St. Anthony
School of Nursing di Denver, Colorado tahun 1948. Bsc dari Benedectine Collage
Atchison tahun 1950. Setelah lulus, dia bekerja sebagai instruktur, staf
keperawatan, dan kepala perawat di unit medikal bedah, serta sebagai Direktur
unit psikiatri di Rumah Sakit St. Joseph, Omaha, Nebraska. Pada saat bersamaan,
dia mendalami ilmu keperawatan, administrasi keperawatan, mengajar dan
kurikulum keperawatan, test dan pengukuran di Universitas Creighton, Omaha.
Tahun 1954, memperoleh gelar Master keperawatan psikiatri dari
Universitas Catholic, Woshington DC. Dia dipekerjakan di sekolah kesehatan
Universitas Cincinnati, Ohio, disinilah dia menjadi master klinik, spesialis
keperawatan psikiatri anak yang pertama di dunia. Dia juga mengajukan dan
memimpin program keperawatan psikiatri di Universitas Cincinnati dan Pusat
Keperawatan Psikiatri Terapeutik di Universitas Hospital. Pada saat bersamaan,
dia menulis salah satu dasar keperawatan Psikiatri, yang berjudul Basic Psychiatri
Concepts in Nursing, yang dipublikasikan tahun 1960 dalam 11 bahasa dan
digunakan diseluruh dunia.
Pertengahan tahun 1950-an, saat di child guidance home, Cincinnati,
Leininger menemukan kekurangfahaman akan faktor budaya yang mempengaruhi
perilaku anak – anak. Mereka berasal dari bermacam – macam latar belakang
budaya, dia mengamati dan merisaukan perbedaan perawatan dan
penanganan. Leininger mengalami cultural shock pada saat itu. Hal ini
membuatnya membuat keputusan untuk mengambil doktoral berfokus pada
budaya, sosial, psikologi antropologi di Universitas Woshington, Seattle. Disana
dia mempelajari berbagai budaya, dia menemukan sisi menarik dari antropologi
dan keyakinan dan dia berpendapat semua perawat seharusnya tertarik akan hal
ini. Dia berfokus pada orang – orang Gadsup di timur Highlands, New Guinea,
dimana dia tinggal bersama orang pribumi selama 2 tahun dan mempelajari
etnografikal dan etnonursing di dua desa. Selain menemukan ciri – ciri unik dari
budaya, dia juga mengobservasi perbedaan antara budaya barat dan non-barat
berkaitan dengan perawatan kesehatan. Berdasarkan studi dan penelitian yang
dia lakukan bersama orang Gadsup, dia mengembangkan teori perawatan budaya
dan metode etnonursing. Teorinya membantu para mahasiswa perawat untuk
memahami perbedaan budaya manusia, sehat dan sakit.
Selama tahun 1950 – 1960, Leininger mengidentifikasi beberapa ilmu
pengetahuan dan penelitian teoritikal terkait dengan perawat dan antropologi,
formulasi konsep transkultural nursing, teori, prinsip, dan praktis. Tahun 1970
Leininger menerbitkan buku Nursing and Anthropology: Two World to Blend,
buku kedua dan tahun 1978 dengan judul Transcultural Nursing: Concepts,
Theory, and Practice. Kursus pertama mengenai transcultural nursing diadakan
tahun 1966 di Universitas Colorado, dimana Leininger sebagai Profesor Nursing
dan Antropologi, serta sebagai Diektur program sarjana keperawatan (Ph.D) di
USA. Pada tahun 1969, dia ditetapkan sebagai Dekan dan Profesor Keperawatan
dan Dosen Antropologi di Universitas Woshington, Seattle. Disana Dia mendirikan
Akademi Keperawatan untuk pertama kalinya dalam perbandingan sistem
keperawatan dan untuk menunjang program master dan doktoral dalam
trancultural nursing. Dibawah kepemimpinannya, kantor pusat penelitian
didirikan tahun 1968 dan 1969. Dia mengadakan beberapa kursus keperawatan
transkultural dan panduan perawat dalam program doktoral keperawatan
transkultural. Di tahun yang sama, Dia juga mendirikan Komite Keperawatan dan
Antropologi.
Leininger mendirikan National Transcultural Nursing Society (1974), dan di
tahun 1978 dia mendirikan National Research Care Conference untuk membantu
para perawat fokus mempelajari fenomena perawatan manusia. Jurnal
Transcultural Nursing (1989) dan sebagai editor sampai 1995. Oleh karena itu
Leininger menerima banyak penghargaan untuk transcultural nursing.
Teori Leininger berasal dari bidang antropologi dan keperawatan. Dia
mendefinisikan transcultural nursing sebagai area mayor dari keperawatan yang
berfokus pada studi perbandingan dan analisis bermacam – macam budaya dan
subkultur di seluruh dunia dengan mempertimbangkan nilai , ucapan, dan
keyakinan sehat – sakit, dan pola kebiasaan. Tujuan teori ini adalah menemukan
bermacam – macam cara dalam merawat klien dan universal dalam hubungan
worldview (sudut pandang dunia), struktur sosial, dimensi lain, kemudian
menemukan jalan yang sesuai untuk orang yang berbeda dengan tujuan
memelihara kesehatan, atau menghadapi kematian dengan pendekatan budaya
Leininger mengembangkan teorinya (care culture diversity and universality),
yang berbasis keyakinan seseorang terhadap budaya yang berbeda, sebagai
informasi dan panduan perawat profesional dalam memberikan asuhan. Budaya
adalah pola dan nilai kehidupan seseorang yang mempengaruhi keputusan dan
tindakan, oleh karena itu teori ini mengarahkan perawat untuk menemukan dan
mendokumentasikan klien di seluruh dunia dan menggunakan sudut pandang
pribumi, pengetahuan, dan praktik dengan pendekatan etik, sebagai dasar
profesional untuk mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan
kebutuhan.

1.2 Rumusan Masalah


Jelaskan defisini culture care ?
Jelaskan asumsi dasar teori cuture care ?
Jelaskan konsep teori culture care ?
Jelaskan paradigma keperawatan ?
1.3 Tujuan
Mengetahui defisini culture care
Mengetahui asumsi dasar teori cuture care
Mengetahui perawatan kolaboratif kehamilan trimester 3
Mengetahui konsep teori culture care
1.4 Manfaat
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Defisini culture care


a. Care mengacu kepeada suatu fenomena abstrak dan konkrit yang berhubungan
dengan pemberian bantuan, dukungan, atau memungkinkan pemberian
pengalaman maupun perilaku kepada orang lain sesuai dengan kebutuhannya dan
bertujuan untuk memperbaiki kondisi maupun cara hidup manusia.
b. ”Caring”, mengacu kepada suatu tindakan dan aktivitas yang ditujukan secara
langsung dalam pemberian bantuan, dukungan, atau memungkinkan individu lain
dan kelompok didalam memenuhi kebutuhannya untuk memperbaiki kondisi
kehidupan manusia atau dalam menghadapi kematian.
c. Kebudayaan merupakan suatu pembelajaran, pembagian dan transmisis nilai,
keyakinan, norma-norma, dan gaya hidup dalam suatu kelompok tertentu yang
memberikan arahan kepada cara berfikir mereka, pengambilan keputusan, dan
tindakkan dalam pola hidup.
d. Perawatan kultural mengacu kepada pembelajaran subjektif dan objektif dan
transmisi nilai, keyakinan, pola hidup yang membantu, mendukung, memfasilitasi
atau memungkinkan ndividu lain maupun kelompok untuk mempertahankan
kesjahteraan mereka, kesehatan, serta untuk memperbaiki kondisi kehidupan
manusia atau untuk memampukan manusia dalam menghadapi penyakit,
rintangan dan juga kematian.
e. Cultural care diversity (perbedaan perawatan kultural) mengacu kepada
variabel-variabel, perbedaan-perbedaan, pola, nilai, gaya hidup, ataupun simbol
perawatan di dalam maupun diantara suatu perkumpulan yang dihubungkan
terhadap pemberian bantuan, dukungan atau memampukan manusia dalam
melakukan suatu perawatan.
f. Cultural care universality (Kesatuan perawatan kultural) mengacu kepada suatu
pengertian umum yang memiliki kesamaan ataupun pemahaman ang paling
dominan, pola-pola, nilai-nilai, gaya hidup atau simbol-simbol yang
dimanifestasikan diantara banyak kebudayaan serta mereflesikan pemberian
bantuan, dukungan, fasilitas atau memperoleh suatu cara yang memungkinkan
untuk menolong orang lain (Terminlogy universality) tidak digunakan pada suatu
cara yang absolut atau suatu temuan statistik yang signifikan.
g. Keperawatan mengacu kepada suatu pembelajaran humanistik dan profesi
keilmuan serta disiplin yang difokuskan pada aktivitas dan fenomena perawatan
manusia yang bertujuan untuk membantu, memberikan dukungan, menfasilitasi,
atau memampukan individu maupun kelompok untuk memperoleh kesehatan
mereka dalam suatu cara yang menguntungkan yang berdasarkan pada
kebudayaan atau untuk menolong orang-orang agar mampu menghadapi
rintangan dan kematian.
h. Pandangan dunia mengacu kepada cara pandang manusia dalam memelihara
dunia atau alam semesta untuk menampilkan suatu gambaran atau nilai yang
ditegakkan tentang hidup mereka atau lingkungan di sekitarnya.
i. Dimensi struktur sosial dan budaya mengacu pada suatu pola dinamis dan
gambaran hubungan struktural serta faktor-faktor organisasi dari suatu bentuk
kebudayaan yang meliputi keagamaan, kebudayaan, politik, ekonomi, pendidikan,
teknologi , nilai budaya dan faktor-faktor etnohistory serta bagaimana faktor-
faktor ini dihubungkan dan berfungsi untuk mempengaruhi perilaku manusia
dalam lingkungan yang berbeda.
j. Lingkungan mengacu pada totalitas dari suatu keadaan, situasi, atau
pengalaman-pengalaman yang memberikan arti bagi perilaku manusia,
interpretasi, dan interaksi sosial dalam lingkungan fisik, ekologi, sosial politik, dan
atau susunan kebudayaan.
k. ”Etnohistory ” mengacu kepada keseluruhan fakta-fakta pada waktu yang
lampau, kejadian-kejadian, dan pengalaman individu, kelompok, kebudayaan
serta suatu institusi yang difokuskan kepada manusia/masyarakat yang
menggambarkan, menjelaskan dan menginterpretasikan cara hidup manusia
dalam suatu bentuk kebudayaan tertentu dalam jangka waktu yang panjang
maupun pendek.
l. Sistem perawatan pada masyarakat tradisional mengacu kepada pembelajaran
kultural dan transmisi dalam masyarakat tradisional (awam) dengan
menggunakan pengetahuan dan keterampilan tradisonal untuk memberikan
bantuan, dukungan atau memfasilitasi tindakan untuk individu lain, kelompok
maupun suatu institusi dengan kebutuhan yang lebih jelas untuk memperbaiki
cara hidup manusia atau kondisi kesehatan ataupun untuk menghadapi rintangan
dan situasi kematian.
m. Sistem perawatan profesional mengacu kepada pemikiran formal,
pembelajaran, transmisi perawatan profesional, kesehatan, penyakit,
kesejahteraan dan dihubungkan dalam pengetahuan dan keterampilan praktek
yang berlaku dalam institusi profesional biasanya personil multi disiplin untuk
melayani konsumen.
n. Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan yang didefinisikan secara
kultural memiliki nilai dan praktek serta merefleksikan kemampuan individu
maupun kelompok untuk menampilkan kegiatan budaya mereka sehari-hari,
keuntungan dan pola hidup
o. Mempertahankan perawatan kultural mengacu kepada semua bantuan,
dukungan, fasilitas atau pengambilan keputusan dan tindakan profesional yang
memungkinkan yang dapat menolong orang lain dalam suatu kebudayaan
tertentu dan mempertahankan nilai perawatan sehingga mereka dapat
memperthanakan kesejahteraannya, pulih dari penyakit atau menghadapi
rintangan mapun kematian.
p. Negosiasi atau akomodasi perawatan kultural mengacu pada semua bantuan,
dukungan, fasilitas, atau pembuatan keputusan dan tindakan kreatifitas
profesional yang memungkinkan yang menolong masyarakat sesuai dengan
adaptasi kebudayaan mereka atau untuk bernegosiasi dengan fihak lain untuk
mencapai hasil kesehatan yang menguntungkan dan memuaskan melalui petugas
perawatan yang profesional
q. Restrukturisasi perawatan transkultural mengacu pada seluruh bantuan,
dukungan, fasilitas atau keputusan dan tindakan profesional yang dapat
menolong klien untuk mengubah atau memodifikasi cara hidup mereka agar lebih
baik dan memperoleh pola perawatan yang lebih menguntungkan dengan
menghargai keyakinan dan nilai yang dimiliki klien sesuai dengan budayanya.
r. Perawatan kultural yang konggruen mengacu kepada kemampuan kognitif
untuk membantu, mendukung, menfasilitasi atau membuat suatu keputusan dan
tindakan yang dapat memperbaiki kondisi individu, atau kelompok dengan nilai
budaya, keyakinan dan cara hidup yang berbeda, yang bertujuan untuk
memperoleh kesejahteraan dan kesehatan.
2.2 Asumsi dasar teori cuture care
Asumsi mayor untuk mendukung teory cultural care : diversity and universality
yang dikemakan ole Leininger :
a. “Care” adalah esensi keperawatan serta focus yang mempersatukan perbedaan
sentral dan dominant dalam suatu pelayanan.
b. Perawatan (Caring) yang didasarkan pada kebudayaan adalah sutau aspek
esensial unuk memperoleh kesejahteraan, kesehatan, pertumbuhan dan
ketahanan, serta kemampuan untuk enghadapi rinangan maupun kematian.
c. Perawatan yang berdasarkan budaya adalah bagian yang paling komprehensif
dan holistic untuk mengetahui, menjelaskan, menginterprestasikan dan
memprediksikan fenomena asuhan keperawatan serta memberikan panduan
dalam pengambilan keputusan dan tindakan perawatan.
d. Keperawatan traskultural adalah disiplin ilmu perawatan humanistic dan
profesi yang memiliki tujuan utama untuk melayani individu, dan kelompok.
e. “Caring” yang berdasarkan kebudayaan adalah suatu aspek esensial untuk
mengobati dan menyembuhkan dimana pengobatan tidak akan mungkin
dilakukan tanpa perawatan, sebaliknya perawatan dapat tetap eksis tanpa
pengobatan.
f. Konsep keperawatan cultural, arti, ekspresi, pola-pola, proses dan struktur dari
bentuk perawatan transkultural yang beragam dengan perbedaan dan persamaan
yang ada.
g. Setiap kebudayaan manusia memiliki pengetahuan dan praktek perawatan
tradisional serta praktik professional yang bersifat budaya dan individual.
h. Praktek perawatan keyakinan dan nilai budaya dipengaruhi oleh dan cenderung
tertanam dalam pandangan dunia, bahasa, filosofi, agama, kekeluargaan, sosial,
politik, pendidikan, ekonomi, teknologi, etnohistory, dan lingkungan kebudayaan.
i. Keuntungan, kesehatan dan kepuasan terhadap budaya perawatan
mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan individu, keluarga, kelompok,
komunitas di dalam lingkungannya.
j. Kebudayaan dan keperawatan yang konggruen dapat terwujud apabila pola-
pola, ekspresi dan nilai-nilai perawatan digunakan secara tepat, aman dan
bermakna.
k. Perbedaan dan persamaan perawatan cultural tetap berada diantara
masyarakat tradisioal dan professional pada setiap kebudayaan manusia.
l. Konflik cultural, beban praktek kebudayaan, stress kultural merefleksikan
kurangnya pengetahuan perawatan kultural untuk memberikan perawatan, rasa
aman, tangung jawab yang koggruen dengan kebudayaan.
m. Metode penelitian kualitatif ethnonursing memberikan intepretasi dan
temuan yang penting mengenai pemberian asuhan keperawatan dengan
kebudayaan komplek yang berbeda.
2.3 Konsep teori culture care

Teori Leininger dikembangkan dari antropologi dan keperawatan, namun


diformulasikan menjadi keperawatan transkultural dengan perspektif asuhan
pada manusia. Leinenger mengembangkan metode penelitian enthnonursing dan
menegaskan pentingnya mempelajari seseorang dari pengetahuan dan
pengalaman lokal mereka, kemudian menghadapkan mereka dengan perilaku dan
kepercayaan yang ada di luar diri mereka (Alligood, 2006). Sunrise model
dikembangkan untuk memberikan gambar konseptual yang holistik dan
komprehensif dari faktor-faktor utama yang berperan penting dalam teori
keragaman asuhan budaya & kebersamaan asuhan budaya (Parker, 2001).

Dalam model sunrisenya menampilkan visualisasi hubungan antara berbagai


konsep yang signifikan ide pelayanan dan keperawatan. Memberikan asuhan
merupakan jantung dari keperawatan dan merupakan karakteristik dasar dari
keperawatan. Terdapat 7 komponen yang ada pada "Sunrise Model" dan dapat
menjadikan inspirasi dalam penelitian khususnya yang berkaitan dengan asuhan
transkultural yaitu :

a. Faktor teknologi (tecnological factors)


Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat
penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu
mengkaji lebih dalam tentang persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau
mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien
memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan
pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang
amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang
sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di
atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat
adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien
terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang
berdampak positif terhadap kesehatan.
c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama
lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan
hubungan klien dengan kepala keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan
oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma
budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas
pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang
digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi
sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan
membersihkan diri.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala
sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan
keperawatan lintas budaya. Yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan
jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara
pembayaran untuk klien yang dirawat.
F. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber
material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.
Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan
klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor
atau patungan antar anggota keluarga.
g. Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi
pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti
ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi
terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang
perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis
pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri
tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
Empat prinsip atau ajaran utama dari teori keperawatan transkultural adalah
sebagai berikut (Alligood, 2006):

1. Ekspresi, arti, pola dan perilaku asuhan budaya bermacam-macam namun


masih ada nilai-nilai yang bersifat umum dan universal.
2. Pandangan dunia terdiri dari berbagai faktor struktur sosial seperti agama,
ekonomi, nilai budaya, sejarah bangsa, konteks lingkungan, bahasa, asuhan umum
dan professional yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap pola asuhan
budaya untuk memprediksi kesehatan, kesejahteraan manusia, penyakit,
penyembuhan dan cara orang dalam menghadapi kecacatan maupun kematian.
3. Nilai generik dan nilai professional dalam konteks lingkungan yang berbeda
akan berpengaruh besar terhadap pencapaian derajad kesehatan dan kesakitan
4. Dari penjelasan ketiga prinsip diatas, maka diperlukan cara untuk
memberikan asuhan yang sesuai dengan budaya, aman dan bermanfaat. Ada 3
model keputusan dan intervensi yang didasarkan pada budaya yaitu: (1)
preservasi asuhan budaya atau mempertahankan, (2) akomodasi asuhan budaya
atau negosiasi, dan (3) Restrukturisasi asuhan budaya atau merubah pola. Model
keputusan dan intervensi yang didasarkan pada budaya dianggap sebagai kunci
keberhasilan dari asuhan yang aman, bermanfaat dan sesuai dengan budaya.

2.4 Paradigma keperawatan


Paradigma Keperawatan
1. Manusia
Manusia adalah individu atau kelompok yamg memiliki nilai-nilai dan norma-
norma yang diyakini dan berguna untuk menentukan pilihan serta melakukan
tindakan. Menurut Leininger, manusia memiliki kecenderungan untuk
mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun ia berada.

2. Kesehatan
Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan yang didefinisikan secara
kultural memiliki nilai dan praktek serta merefleksikan kemampuan individu
maupun kelompok untuk menampilkan kegiatan budaya mereka sehari-hari,
keuntungan dan pola hidup.

3. Lingkungan
Lingkungan mengacu pada totalitas dari suatu keadaan, situasi, atau pengalaman-
pengalaman yang memberikan arti bagi perilaku manusia, interpretasi, dan
interaksi sosial dalam lingkungan fisik, ekologi, sosial politik, dan atau susunan
kebudayaan.

4. Keperawatan
Keperawatan mengacu kepada suatu pembelajaran humanistik dan profesi
keilmuan serta disiplin yang difokuskan pada aktivitas dan fenomena perawatan
manusia yang bertujuan untuk membantu, memberikan dukungan, menfasilitasi,
atau memampukan individu maupun kelompok untuk memperoleh kesehatan
mereka dalam cara yang menguntungkan yang berdasarkan pada kebudayaan
atau untuk menolong orang-orang agar mampu menghadapi rintangan dan
kematian.
BAB III

Penutup
A. Kesimpulan
1. Teori ini dapat digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan dengan
mempertimbangkan aspek budaya, nilai –nilai, norma dan agama.
2. Teori ini dapat digunakan untuk melengkapi teori konseptual yang lain dalam
praktik asuhan keperawatan.

B. Saran
1. Penerapan teori Leinienger diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang
ilmu antropologi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik.
2. Pelaksanaan teori Leinienger memerlukan penggabungan dari teori
keperawatan yang lain yang terkait, seperti teori adaptasi, self care dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA

Nurul Qumairah, Makalah Culture Care Leininger . Bangkalan . 2017

http://nurulqamariyah20.blogspot.com/2017/12/makalah-culture-care-
leininger.html

Anda mungkin juga menyukai