Anda di halaman 1dari 9

Gotthard Base Tunnel

SWISS

Aji Santiko | 21010113120008 | Kelas B


Pendahuluan
Suatu negara sudah pasti memiliki berbagai persoalan yang mungkin berbeda satu sama lain, namun
meski itu dimana pun, setiap kesatuan masyarakat berbudaya pasti berharap untuk bisa
menyelesaikan masalah itu. Dalam hal ini lah terdapat perbedaaan dalam suatu kenegaraan, baik itu
secara fisik maupun non fisik. Perbedaaan fisik berupa apa yang dapat dilihat atau dihitung
sedangkan non fisik lebih ke kualitas hidup dalam kepentingan bersama. Dari sana dapat dikatakan
mana yang negara maju dan mana yang negara berkembang.

Latar Belakang
Berbicara mengenai masalah yang umum di sebuah negara, sebut saja kemacetan lalu lintas. Baik di
negara berkembang maupun negara maju, masalah ini tidak luput begitu saja. Misal di Indonesia,
kemacetan terjadi karena pertambahan penduduk, semakin maraknya penggunaan transportasi
pribadi, kurang baiknya pengelolaan sarana trasnportasi masal, dan lain-lain. Kemacetan ini juga
terjadi di Swiss, tapi dengan kondisi yang berbeda. Masalah kemacetan di Swiss hanya terjadi di luar
kota, sedangkan di dalam kota MRT(Mass Rapid Transportation) terlaksana dengan baik. Adapun
kemacetan di luar kota tersebut disebabkan oleh kondisi geografis negara Swiss yang terletak di
muka bumi yang terjal, salah satunya di St. Gothard Pass yang melewati pegunungan Alpen. Dengan
kondisi tersebut sangat dimungkinkan terjadi antrian panjang saat melewati jalur pada daerah itu.

St Gothard Pass diketinggian 2108 m di Alpen, Swiss

Jalur jalan St Gothard Pass, terletak pada ketinggian 2108m (6915 feet), posisinya di tengah-tengah
wilayah negera Swiss atau Switzerland. Jalur tersebut penting karena menghubungkan negara

PAGE 1
Jerman di utara dan negara Italia di selatan. Itulah alasannya mengapa jalur tersebut tetap perlu
dilewati oleh pemakai jalan, kecuali tentunya mau melingkar ke tempat lain dulu yang lebih jauh.

Untuk mengatasinya, mereka mencoba mengalihkannya pada terowongan jalan raya yang
menembus gunung dan direalisasi pada tahun 1980 setelah disetujui pada 1969. Jalan baru di bawah
St. Gotthard Pass dengan panjang 16 km membutuhkan waktu pengerjaan bertahun-tahun, tentunya
ini berbeda dengan jalan tol Cipularang yang membelah pegunungan antara Jakarta dengan Bandung
yang dipaksakan kurang dari 1 tahun. Ini bukan berarti Indonesia lebih hebat atau gimana, karena
waktu pelaksanaannya yang berbeda sehingga kemuktahiran teknologi juga berbeda. Terlepas dari
itu, latar belakang kedua pembangunan ini juga berbeda. Di Swiss konstruksi terowongan tersebut
direncanakan dan dibangun secara matang untuk solusi permasalahan yang memang perlu
penyelesaiannya.

Bandingkan dengan motivasi dibangunnya jalan tol Cipularang, yang dimulai segera dibangun
karena Presiden Megawati waktu itu, ingin menunjukkan kepada para peserta KTT Asia-Afrika 2005,
yang acaranya berlangsung di dua kota, yaitu di Jakarta dan di Bandung. Adanya perjalanan para
peserta dari Jakarta ke Bandung itulah maka ketika dapat melewati jalan tol tersebut akan dapat
diperoleh perbandingan yang signifikan antara kondisi Indonesia ketika KTT Asia Afrika pertama
(1955) dan yang kedua ini (2005). Artinya akan terlihat ada kemajuan yang signifikan, dulu dan
sekarang di Indonesia.

Setelah adanya jalan raya baru di Swiss tersebut jalan yang melintasi atas St. Gothard itu menjadi
lebih sepi, namun seiring berjalannya waktu arus lalu lintas di terowongan itu pun semakin padat
terutama oleh adanya truk pengangkut peti kemas yang kebanyakan berupa truk trailer. Bahkan
truck itu menjadi pemicu utama kemacetan di jalur itu.

Kemacetan di jalan menuju St. Gotthard Road Tunnel

PAGE 2
Dengan adanya persoalan kemacetan yang baru, ada usulan untuk membuat terowongan jalan raya
yang lain seperti yang sudah sebelumnya, namun ini artinya moda transportasi hanya akan berfokus
ke moda transportasi jalan raya padahal ada moda transportasi lain seperti kereta api.

Ternyata usulan itu kurang disetujui oleh pihak pemerintah, dengan alasan bahwa moda jalan raya
akan dapat menunjang peningkatan populasi penduduk Swiss. Perlu diketahui jumlah penumpang
di moda transportasi jalan raya tidak sebanding dengan jumlah perpindahan penduduknya, hal ini
terjadi mengingat mobil sebagai sarana transportasi atau perpindahan tempat juga mulai
berkembang sebagai sarana rekreasi. Atas hal itu, pemikiran bahwa sarana transportasi ditujukan
untuk memaksimalkan perpindahan penduduk dengan meminimalkan dampak terhadap
lingkungan. Sehingga untuk mengatasi ini yang cocok adalah Mass Rapid Transportation (MRT).
Kapasitas MRT yang paling efisien adalah yang memakai kereta api dan bukan bus. Jadi alternatif
satu-satunya untuk mengatasi kemacetan lalu-lintas di Swiss adalah mengalihkannya ke moda
transportasi kereta api.

Dibandingkan hal tersebut, solusi kemacetan di Jakarta berupa jalur khusus untuk Busway.
Walaupun cuma demikian, setidaknya masih bisa dinikmati oleh warga Jakarta, karena memang
permasalahan kemacetan di Indonesia adalah kependudukannya. Hal ini berbeda di Swiss yang lebih
bermasalah pada truk-truk trailer pengangkut bahan – bahan pokok dan perdangangan antar negara,
jadi jika volumenya dapat dikurangi karena adanya moda transportasi KA maka tentunya truk-truk
trailer besar tersebut tidak diperlukan lagi. Faktor kemacetan hilang, sehingga jalan menjadi lancar.

Hanya saja permasalahan selanjutnya adalah tidak bisanya kereta api untuk naik gunung seperti pada
jalur yang sebelumnya tidak seperti truk. Sementara adanya jalur kereta api yaitu Gotthardbahn yang
hanya mampu mengangkut maksimum kapasitas sampai 2000 ton, itu saja memakai dua atau tiga
loko untuk melewati jalur sempit pegunungan dengan terowongan yang berbentuk spiral yang naik
jalur sampai ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut.

Terowongan Gotthard sudah ada sejak 1882 dan untuk digunakan sampai sekarang tentunya sudah
sampai pada kapasitas maksimalnya. Untuk itu diperlukan jalur kereta api baru yang menerobos St.
Gotthard Pass.

Kontruksi Gotthard Base Tunnel


Menanggapi keperluan jalur baru, Swiss pun benar-benar mencoba membangun jalur kereta api baru
dengan kedalaman 600 m di bawah jalur yang sudah ada yaitu dengan melalui terowongan-
terowongan yang berbentuk spiral. Jalur yang baru adalah melalui terowongan panjang yang lurus,
yang disebut sebagai Gotthard Base Tunnel. Pada perencanaan ini meskipun diambil panjang
terpendek untuk menembus gunung, terowongan mencapai 57 km panjangnya.

Dengan munculnya konstruksi sebesar ini, penduduk Swiss sadar untuk menjujung tinggi akan
kepentingan bersama, sehingga proyek ini tetap terlaksana. Tentunya bila ini terjadi di Indonesia
akan banyak wacana susulan dari proyek ini, yang berujung-ujung penundaan, kajian ulang, bahkan
mungkin pembatalan, karena akan ada berbagai komentar miring tentang proyek yang mencapai
senilai 90 triliun rupiah.

PAGE 3
Tapi bagi rakyat Swiss, yang negaranya relatif lebih kecil dari Indonesia, tetapi budaya masyarakatnya
berbeda jauh. Pemimpin Swiss percaya bisa mengatasi masalah kemacetan tersebut, meskipun susah
karena belum pernah ada sebelumnya terowongan seperti itu, tetapi karena didukung oleh voting
rakyat pada tahun 1994, maka mereka berani memutuskan membangun terowongan KA tersebut.
Mereka yakin bahwa terowongan tersebut dapat mengatasi kemacetan yang timbul. Bayangkan saja,
jika ada terowongan tersebut maka dengan konfigurasi lokomotif standar saja maka kapasitas
angkutnya bisa naik sampai 4000 ton, jadi seakan-akan kereta api itu dapat lewat tanpa ada
penghalang gunungnya. Keuntungan lainnya maka kawasan pegunungan di atasnya akan bebas
polusi dan tidak terjadi kerusakan lingkungan.

Jalur KA baru melewati Gotthard Base Tunnel

Jalur warna merah adalah jalur rel kereta api yang ada, jalur warna kuning adalah lokasi terowongan.
Jalur kuning yang kiri adalah terowongan lama Gotthard, panjang 15 km dibangun tahun 1881,
sedangkan jalur kuning yang kanan adalah terowongan baru Gotthard Base Tunnel yang baru saja

PAGE 4
selesai ditembus bulan ini, Oktober 2010, dan diperkirakan nantinya akan selesai lengkap di tahun
2015 (informasi baru katanya mundur sampai tahun 2017). Jadi kalau dihitung sejak tahun 1994 maka
pembangunan terowongan tersebut telah melewati angka 15 tahun.

Terowongannya sendiri, tidak sekedar terowongan atau lubang yang menembus gunung.
Terowongannya dirancang sedemikian rupa sehingga jika ada apa-apa maka dapat dilakukan
evakuasi juga. Selain itu, karena sangat panjang (57 km) maka untuk menghindari terjadinya delay
karena saling menunggu kereta api, maka dibuat jalur ganda, agar lubang terowongan tidak terlalu
besar maka dibuat sekaligus dua terowongan ganda. Sama seperti terowongan Gotthard yang lama.

Adapun potongan memanjang dari jalur kereta api baru yang melewati Gotthard Base Tunnel dapat
dilihat pada gambar berikut :

Potongan memanjang jalur KA Swiss

Dari gambar di atas, jalur tersebut melewati 3 buah terowongan dimana yang terpanjang tentunya
Gotthard Base Tunnel. Dengan adanya jalur itu menjadikannya seakan-akan tidak ada gunung lagi
menhadang. Itu pula yang menyebabkan loko standar mampu mengangkut dua kali lipat kapasitas
yang dulu harus dipikul oleh doble atau triple loko. Solusi yang hebat, efektif dan spektakular karena
belum ada sebelumnya.

Pelaksanaan
Untuk pelaksanaannya sendiri digunakan dua cara, ada yang masih memakai cara lama yaitu dinamit
karena batuannya sangat keras, tetapi untuk yang tanahnya standar digunakan alat khusus, Tunnel
Boring Machines (TBM) yang biasa digunakan juga dalam pembuatan MRT di kota-kota berbudaya
tinggi. Mesin tersebut dibuat oleh Herrenknecht AG, Schwanau, Jerman.

PAGE 5
Tunnel Boring Machines dari Herrenknecht AG, Jerman

Conveyor pembuang batu terowongan

PAGE 6
Sistem conveyor khusus perlu dibuat sehingga galian batu atau tanah terowongan dapat dibawa
keluar dengan cepat. Informasi yang ada, tanah galian yang dibawa keluar lebih besar dibanding
volume gedung pencakar langit Empire State Building.

Kondisi awal, terowongan dengan perkuatan pertama

Penulangan tunnel pada bagian lobang besar

PAGE 7
Pengerjaannya melibatkan sekitar 2.500 pekerja. Dieter Meyer, seorang warga Jerman, mengaku
kagum atas terobosan ambisius ini. Swiss adalah sebuah negara kecil yang berpenduduk kurang dari
8 juta orang. Konsep konstruksi Gotthard Base Tunnel disusun pertama kali pada tahun 1947 oleh
insinyur Eduard Gruner. Salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan Swiss pada
negara-negara tetangganya, khususnya di sektor kereta api berkecepatan tinggi lintas Eropa.
Terowongan ini diyakini akan membalikkan kondisi itu.

Perjalanan darat dari Kota Zurich, Swiss, menuju Milan, Italia, bakal semakin singkat dengan kereta
api supercepat yang melintasi Gotthard Tunnel, terowongan terpanjang di dunia yang sudah selesai
dibangun Pemerintah Swiss. Zurich–Milan yang biasa ditempuh 4–6 jam dengan kereta api bisa
dipersingkat, hanya menjadi 1,5 jam, setelah terowongan Gotthard yang dibangun Pemerintah Swiss
resmi beroperasi pada 2017. Pemerintah berharap, Gotthard mampu menjadi jalur lintas 300 kereta
api dalam sehari.

PAGE 8