Anda di halaman 1dari 26

Laporan Kasus

SEORANG LAKI-LAKI USIA TAHUN 57 TAHUN DENGAN


HERNIA INGUINALIS LATERALIS DEXTRA REPONIBEL

Disusun Oleh:
dr. Nelsi Marintan Tampubolon

Pembimbing:
Dr. Resti Kurniawati

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LIMPUNG
2019
BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS

Nama : Tn. P
Umur : 53 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Sudah menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Alamat : Tersono
No. Catatan Medis : 02-49-xx
Tanggal Pemeriksaan : 5 Januari 2019

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Keluar benjolan di lipatan paha kanan

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluhan keluar benjolan pada lipat paha sejak 2 minggu
SMRS tanpa disertai nyeri. Benjolan sudah dirasakan sejak kurang lebih 6
bulan yang lalu dari lipatan paha kanannya, awalnya benjolan tersebut kecil.
Jika pasien berdiri dan mengejan benjolan tersebut keluar, namun saat
berbaring ataupun istirahat dapat masuk lagi. Pasien mengaku sering
mengejan terutama saat BAB. Benjolan tidak pernah nyeri dan tidak
berwarnah kemerahan. Warna urin jernih dan tidak ditemukan darah saat
berkemih. Keluhan demam, muntah, dan mual disangkal. BAB tidak ada
keluhan.
Riwayat Penyakit Dahulu
1. Riwayat DM/Hipertensi/Jantung/Asma : disangkal
2. Riwayat penyakit serupa : disangkal
3. Riwayat operasi : disangkal
4. Riwayat mondok : disangkal
5. Riwayat trauma : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


1. Riwayat DM/Hipertensi/Jantung/Asma : disangkal
2. Riwayat penyakit serupa : disangkal

Riwayat Kebiasaan
1. Riwayat makan : tiga kali sehari, nafsu makan baik.
2. Riwayat merokok : disangkal
3. Riwayat olahraga : jarang

Riwayat Sosial Ekonomi


1. Pasien bekerja sebagai petani
2. BPJS PBI

III. PEMERIKSAAN FISIK


Tanda-tanda Vital
 Keadaan umum : Tampak sakit ringan
 Kesadaran : Compos Mentis
 Tanda Vital
o TD : 110/80 mmHg
o Nadi : 80 x/menit
o Respirasi : 20 x/menit
o Suhu : 36,5°C
Status Generalis
 Kepala : Mesocephal
 Mata : konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
 Mulut : Tonsil TI – TI, Faring hiperemis (-)
 Leher : JVP tidak meningkat, KGB tidak teraba membesar, trakea
terletak ditengah
 Thorak : normochest
 Cor
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba 1 jari linea midclavicularis
sinistra SIC V
Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : BJ I – II murni reguler, murmur (-), Gallop (-)
 Pulmo
Inspeksi : Simetris dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi : Fremitus taktil pada hemithoraks kanan dan kiri
simetris
Perkusi : Sonor pada hemithoraks kanan dan kiri
Auskultasi : SDV (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
 Abdomen
Inspeksi : Dinding perut sejajar dinding dada
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
membesar, Ballotement -/-, nyeri ketok CVA -/-
Perkusi : Timpani diseluruh lapang abdomen
Auskultasi : Bising usus (+) normal
 Genitalia
Inspeksi : sekret (-)
Palpasi : nyeri tekan (-)
 Ekstremitas
Edema (-/-), Sianosis (-/-), CRT <2”, akral hangat
Status Lokalis:
Regio inguinalis D :
- Inspeksi : terdapat benjolan di bawah ligamentum inguinale,
diameter 6 cm x 5 cm x 3 cm, permukaan rata, bentuk lonjong, warna
sesuai warna kulit, tidak kemerahan
- Palpasi :tidak teraba hangat, kenyal, dapat dimasukkan,
transluminasi (-), tidak nyeri, finger test (+) ujung jari, cincin 1 jari
longgar
- Auskultasi : bising usus (+)

IV. ASSESSMENT
Hernia Inguinalis Lateralis (D) Reponible

V. PLAN I
1. MRS Bangsal Bedah
2. Cek lab DL, CT/BT, HbsAg
3. Elektrokardografi
4. Rontgen thorax

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Lab Darah 5 Januari 2019

Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan


DARAH RUTIN
Hemoglobin 13.7 g/dL 13.2-17.3
Hematokrit 39.4 % 40.52
Leukosit 5.7 ribu/µl 3.6– 10.8
Trombosit 195 ribu/µl 150 – 400
Eritrosit 4.43 juta/µl 4.4 – 5.9
Golongan Darah O
HEMOSTASIS
Waktu Pembekuan 5’00” menit 2–6
(CT)
Waktu Pendarahan 1’30” menit 1– 3
(BT)
SEROLOGI HEPATITIS
HbsAg Nonreactive Nonreactive
KIMIA KLINIK
Creatinine 26 mg/dl 10–50
Ureum 0.66 mg/dl 0.6 – 1.1
Glukosa Sewaktu 100 mg/dl 75-140

Pemeriksaan Rontgen Thorax 5 Januari 2019

Kesimpulan :Cor dan pulmo tak tampak kelainan

Pemeriksaan Elektrokardiografi 5 Januari 2019


Kesimpulan: Sinus bradikardi, left axis deviation

VII. PLAN II
1. Infus RL 20 tpm
2. Pro herniorepair liechsteinten

VIII. FOLLOW UP
6 Januari 2019
- Subjektif
Keluar benjolan di lipatan paha kanan.
- Objektif
1. Keadaan umum : Tampak sakit sedang
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Vital sign :
TD : 110/70 mmHg N : 80 x/menit, regular
RR : 20 x/menit T : 36.0oC
SiO2 : 99%
4. Status lokalis
• Inspeksi : terdapat benjolan di bawah ligamentum
inguinale, diameter 6 cm x 5 cm x 3 cm, permukaan rata,
bentuk lonjong, warna sesuai warna kulit, tidak kemerahan
• Palpasi : tidak teraba hangat, kenyal, dapat dimasukkan,
transluminasi (-), tidak nyeri, finger test (+) ujung jari,
cincin 1 jari longgar
• Auskultasi : bising usus (+)

Massa (+) diameter ± 6cm


x 5cm x 3cm, kenyal,
mobile, nyeri (-), hiperemi
(-) ,transluminasi (-)
- Assesment
Hernia inguinalis lateralis (D) reponible
- Planning
1. Pro herniorepair liechsteinten
2. Infus RL 20 tpm
3. Konsultasi TS Anestesi sebelum operasi
7 Januari 2019
- Subjektif
Keluar benjolan di lipatan paha kanan
- Objektif
1. Keadaan umum : Tampak sakit sedang
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Vital sign :
TD : 120/70 mmHg N : 84 x/menit, regular
RR : 22 x/menit T : 36.0oC
SiO2 : 99%
4. Status lokalis
• Inspeksi : terdapat benjolan di bawah ligamentum
inguinale, diameter 6 cm x 5 cm x 3 cm, permukaan rata,
bentuk lonjong, warna sesuai warna kulit, tidak kemerahan
• Palpasi : tidak teraba hangat, kenyal, dapat dimasukkan,
transluminasi (-), tidak nyeri, finger test (+) ujung jari,
cincin 1 jari longgar
• Auskultasi : bising usus (+)
- Assesment
Hernia inguinalis lateralis (D) reponible
- Planning
1. Pro herniorepair liechsteinten
2. Instruksi post operasi
• Boleh makan dan minum
• Infus RL 20 tpm
• Injeksi anbacim 1 gram/12 jam
• Injeksi ketorolac 1 amp/8 jam
• Injeksi ranitidin 1 amp/8 jam
- Laporan operasi
1. Pasien posisi supine dengan regional anastesi
2. Toilet medan operasi dan tutup dengan doek steril
3. Dilakukan insisi ± 7 cm di inguinal dekstra, kemudian perdalam
lapis demi lapis
4. Identifikasi funiculus spermaticus
5. Identifikasi kantong hernia di anteromedial
6. Lakukan duplikasi
7. Herniotomi
8. Ligasi kantong proksimal
9. Dilakukan herniarepair liechsteinten, kemudian jahit mess ke
tuberculum pubicum, ligamentum inguinale dan conjoint tendon
10. Rawat perdarahan
11. Jahit luka operasi lapis demi lapis
12. Operasi selesai
8 Januari 2019
- Subjektif
Nyeri di luka post herniarepair (+), demam (-), mual (-),muntah (-),
BAK normal, BAB normal
- Objektif
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Vital sign :
TD : 110/80 mmHg N : 97 x/menit, regular
RR : 23 x/menit T : 36.6oC
SiO2 : 99%
4. Status lokalis
Tampak luka post herniarepair tertutup verban (+), rembesan darah (-)
- Assesment
Hernia inguinalis lateralis (D) reponible post hernia repair
- Planning
1. Boleh pulang
2. Terapi oral
• Cefixime 2x100 mg
• Na diclofenac 2x50 mg

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui
defek atau bagian yang lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada
hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari
lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri dari cincin,
kantong dan isi hernia.

Gambar 1. Anatomi anterior

Gambar 2. Anatomi posterior


1.2 Klasifikasi
1. Berdasarkan terjadinya:
a. Hernia kongenital:
- Hernia kongenital sempurna: karena adanya defek pada
tempat-tempat tertentu.
- Hernia kongetital tak sempurna: bayi dilahirkan normal
(kelainan belum tampak) tetapi mempunyai defek pada
tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan
setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut
karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intra abdominal.
b. Hernia akuisita

2. Berdasarkan klinis:
a. Hernia reponibilis: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus
keluar jika berdiri atau mengejan dan masuk lagi jika berbaring
atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala
obstruksi usus. Dapat direposisi tanpa operasi.
b. Hernia irreponibilis: organ yang mengalami hernia tidak dapat
kembali ke cavum abdominal kecuali dengan bantuan operasi.
Tidak ada keluhan rasa nyeri atau tanda sumbatan usus. Jika
telah mengalami perlekatan organ disebut hernia akreta.
c. Hernia strangulata: hernia dimana sudah terjadi gangguan
vaskularisasi viscera yang terperangkap dalam kantung hernia
(isi hernia). Pada keadaan sebenarnya gangguan vaskularisasi
telah terjadi pada saat jepitan dimulai, dengan berbagai tingkat
gangguan mulai dari bendungan sampai nekrosis.
d. Hernia inkarserata: isi kantong terperangkap, terjepit oleh
cincin hernia, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut, dan
sudah disertai tanda-tanda ileus mekanis (usus terjepit sehingga
aliran makanan tidak bisa lewat).

3. Berdasarkan arah hernia:


a. Hernia eksterna:
Hernia yang penonjolannya dapat dilihat dari luar karena
menonjolnya ke arah luar, misalnya:
- Hernia inguinalis medialis (15%) dan lateralis (60%)
- Hernia femoralis
- Hernia umbilicalis
- Hernia epigastrika
- Hernia lumbalis
- Hernia obturatoria
- Hernia semilunaris
- Hernia parietalis
- Hernia ischiadica

Gambar 3. Hernia eksterna

b. Hernia interna:
Jika isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya ke cavum
thorax, bursa omentalis, atau masuk ke dalam recessus dalam
cavum abdomen.
Pada cavum abdominalis:
- Hernia epiploica Winslowi
- Hernia bursa omentalis
- Hernia mesenterika
- Hernia retro peritonealis
Pada cavum thorax:
- Hernia diafragmatika traumatika
- Hernia diafragmatika non-traumatika:
 Kongenital: misalnya hernia Bochdalek dan hernia
Morgagni
 Akuisita: misalnya hernia hiatus esophagus

Hernia Regio Inguinalis


Hernia inguinalis adalah hernia yang paling sering kita temui. Menurut
patogenesisnya hernia ini dibagi menjadi dua, yaitu hernia inguinalis lateralis
(HIL) dan hernia inguinalis medialis (HIM). Ada juga yang membagi menjadi
hernia inguinalis direk dan hernia inguinalis indirek. Meskipun terapi terbaik
pada hernia ini adalah sama yaitu herniotomi dan herniorafi, tapi penting untuk
mengetahui perbedaannya karena akan mempengaruhi pada teknik operasinya
nanti.

Hernia inguinalis lateralis timbul karena adanya kelemahan anulus intenus


sehingga organ-organ dalam rongga perut (omentum, usus) masuk ke dalam
kanalis inguinalis dan menimbulkan benjolan di lipat paha sampai skrotum.
Sedangkan hernia ingunalis medialis timbul karena adanya kelemahan dinding
perut karena suatu sebab tertentu. Biasanya terjadi pada segitiga hasselbach.
Secara anatomis intra operatif antara HIL dan HIM dipisahkan oleh vassa
epigastrika inferior. HIL terletak di atas vassa epigastrika inferior sedang HIM
terletak di bawahnya

Kanalis Inguinalis
Kanalis inguinalis dibatasi di kraniomedial oleh annulus internus yang merupakan
bagian terbuka dari fascia transversalis dan apponeurosis m. transverses
abdominis. Di medial bawah, di atas tuberkulum pubikum kanal ini dibatasi
dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari appoeurosisi m.
obliges eksternus. Atapnya adalah apponeurosis m. obliges eksternus dan di
dasarnya terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali sperma pada laki–laki
dan ligamentum rotundum pada perempuan.

1.3 Etiologi
Secara fisiologis, kanalis inguinalis merupakan kanal atau saluran
yang normal. Pada fetus, bulan kedelapan dari kehamilan terjadi descensus
testiculorum. Penurunan testis yang sebelumnya terdapat di rongga
retroperitoneal, dekat ginjal, akan masuk kedalam skrotum sehingga
terjadi penonjolan peritoneum yang dikenal sebagai processus vaginalis
peritonei. Pada umumnya, ketika bayi lahir telah mengalami obliterasi
sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanal tersebut. Biasanya
obliterasi terjadi di annulus inguinalis internus, kemudian hilang atau
hanya berupa tali. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup yang
hasilnya ialah terdapatnya hernia didaerah tersebut.
Setelah dewasa kanal tersebut telah menutup. Namun karena
daerah tersebut ialah titik lemah, maka pada keadaan yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraabdomen kanal itu dapat terbuka kembali dan
timbul hernia inguinalis akuisita. Sementara di usia ini seseorang lebih
produktif dan melakukan banyak aktivitas. Sehingga penyebab hernia pada
orang dewasa ialah sering mengangkat barang berat, juga bisa oleh karena
kegemukan, atau karena pola makan yang tinggi lemak dan rendah serat
sehingga sering mengedan pada saat BAB.
Hernia pada orang tua terjadi karena faktor usia yang
mengakibatkan semakin lemahnya tempat defek. Biasanya pada orang tua
terjadi hernia medialis karena kelemahan trigonum Hesselbach. Namun
dapat juga disebabkan karena penyakit-penyakit seperti batuk kronis atau
hipertrofi prostat.
.
1.4 Diagnosis
1. Anamnesis
Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha yang hilang timbul,
muncul terutama pada waktu melakukan kegiatan yang dapat
meningkatkan tekanan intra-abdomen seperti mengangkat barang atau
batuk, benjolan ini hilang pada waktu berbaring atau dimasukkan dengan
tangan (manual). Terdapat faktor-faktor yang berperan untuk terjadinya
hernia. Dapat terjadi gangguan passage usus (obstruksi) terutama pada
hernia inkarserata. Nyeri pada keadaan strangulasi, sering penderita datang
ke dokter atau ke rumah sakit dengan keadaan ini.

2. Pemeriksaan Fisik
Ditemukan benjolan lunak di lipat paha di bawah ligamentum
inguinale di medial vena femoralis dan lateral tuberkulum pubikum.
Benjolan tersebut berbatas atas tidak jelas, ditemukan bising usus, tidak
ditemukan transluminasi.

Gejala/tanda Obstruksi usus pada Nekrosis/gangren pada


hernia inkarserata hernia strangulata
Nyeri Kolik Menetap
Suhu badan Normal Normal/meninggi
Denyut nadi Normal/meninggi Meninggi/tinggi sekali
Leukosit Normal Leukositosis
Rangsang peritoneum Tidak ada Jelas
Sakit Sedang/berat Berat sekali/toksik
Tabel 1. Hernia inkarserata dengan obstruksi usus dan hernia strangulata
yang menyebabkan nekrosis atau ganggren

Teknik pemeriksaan
Hernia yang melalui annulus inguinalis abdominalis (lateralis/internus) dan
mengikuti jalannya spermatid cord di canalis inguinalis serta dapat melalui
annulus inguinalis subcutan (externus) sampai scrotum.  Mempunyai LMR (Locus
Minoris Resistenti). Secara klinis HIL dan HIM dapat dibedakan dengan tiga
teknik pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test dan Tumb test. Cara
pemeriksaannya sebagai berikut :

Pemeriksaan Finger Test :


1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.
2. Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus
eksternus ke kanal inguinal.
3. Penderita disuruh batuk:
  Bila impuls diujung jari berarti Hernia
Inguinalis Lateralis.
  Bila impuls disamping jari Hernia Inguinnalis
Medialis.

  Gambar 5

Pemeriksaan Ziemen Test :


1. Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan
dulu (biasanya oleh penderita).
2. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan.
3. Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada :
  jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.
  jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis.

Gambar 6

  jari ke 4 : Hernia Femoralis.

Pemeriksaan Thumb Test :


 Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh mengejan
 Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis medialis.
 Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis.

Gambar 7

1.5 Diagnosis Banding


1. Limfadenitis yang disertai tanda radang lokal umum dengan sumber
infeksi di tungkai bawah, perineum, anus, atau kulit tubuh kaudal dari
tingkat umbilikus.
2. Lipoma kadang tidak dapat dibedakan dari benjolan jaringan lemak
preperitoneal pada hernia femoralis.
3. Abses dingin yang berasal dari spondilitis torakolumbalis dapat
menonjol di fosa ovalis.
Untuk membedakannya perlu diketahui bahwa munculnya hernia
erat hubungannya dengan aktivitas seperti mengedan, batuk, dan gerak lain
yang disertai dengan peninggian tekanan intra-abdomen, sedangkan
penyakit lain seperti limfadenitis femoralis tidak berhubungan dengan
aktivitas demikian

1.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
1. Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia.
a.Reposisi
Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada
pasien anak-anak. reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri
memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan
mendorongnya kearah cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap
sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak inkarserasi lebih sering terjadi
pada umur dibawah dua tahun. Reposisi spontan lebih sering dan
sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan
dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih
elastis dibandingkan dengan orang dewasa. Reposisi dilakukan dengan
menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es diatas
hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil anak disiapkan untuk operasi pada
hari berikutnya. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam waktu enam jam
harus dilakukan operasi segera. Pada tindakan reposisi ini posisi penderita
dapat dilakukan denagn posisi seperti pada gambar :
Gambar 8. Reposisi dengan posisi trendelenburg

b. Bantalan penyangga ( sabuk Truss)


Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang
telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harusdipakai
seumur hidup. Namun cara yang berumur lebih dari 4000 tahun ini masih
saja dipakai sampai sekarang. Sebaiknya cara ini tidak dinjurkan karena
mempunyai komplikasi, antara lain merusak kulit dan tonus otot dinding
perut didaerah yang tertekan sedangkan strangulasi tetap mengancam.
Pada anak-anak cara ini dapat menimbulkan atrofitestis karena tekanan
pada funikulus spermatikus yang mengandung pembuluh darah dari testis
Gambar 9. Sabuk Truss

2. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis
yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan.
Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari
herniotomi dan hernioplasti.
a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke
lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu
dipotong.
Indikasi :
1. Hernia Inkarserata / Strangulasi (cito)
2. Hernia Irreponabilis ( urgen, 2 x 24 jam)
3. Hernia Reponabilis  dilakukan atas indikasi sosial : pekerjaan (elektif)
4. Hernia Reponabilis yang mengalami incarserasi (HIL,Femoralis)

Prinsip semua hernia harus dioperasi, karena dapat menyebabkan


inkarserasi / strangulasi. Herniotomy pada dewasa lebih dulu faktor-faktor
penyebab harus dihilangkan dulu, misal BPH harus dioperasi sebelumnya.

Tehnik Operasi
 Incisi inguinal 2 jari medial SIAS sejajar ligamentum inguinale ke
tuberculum pubicum
 Incisi diperdalam sampai sampai nampak aponeurosis MOE : tampak crus
medial dan lateralis yang merupakan anulus eksternus
 Aponeurosis MOE dibuka kecil dengan pisau , dengan bantuan pinset
anatomis dan gunting dibuka lebih lanjut ke kranial sampai anulus internus
dan ke kaudal sampai membuka annulus inguinalis eksternus. Hati2
dengan N.Ilioinguinalis dan N.Iliohypogastrik. M.cremaster disiangi
sampai nampak funiculus spermaticus
 Funiculus dibersihkan dicantol dengan kain kasa dibawa ke medial,
sehingga nampak kantong peritoneum
 Peritoneum dijepit dengan 2 bh pinset kemudian dibuka selanjutnya usus
didorong ke cavum abdomen dengan melebarkan irisan  ke proksimal
sampai leher hernia, kantong sebelah distal dibiarkan
 Leher hernia dijahit dengan kromik dan puntung ditanamkan di bawah
conjoint tendo dan digantungkan
 Selanjutnya dilakukan hernioplasty secara :

Ferguson
Funiculus spermaticus ditaruh disebelah dorsal MOE dan MOI abdominis.
MOI & transversus dijahitkan pada ligamentum inguinale dan meletakkan
funiculus di dorsalnya. kemudian aponeurosis MOE dijahit kembali,
sehingga tidak ada lagi canalis inguinalis.

Bassini
MOI dan transversus abdominis dijahitkan pada ligamentum inguinal,
Funiculus diletakkan disebelah ventral, aponeurosis MOE tidak dijahit,
sehingga canalis inguinalis tetap ada. Kedua musculus berfungsi
memperkuat dinding belakang canalis,sehingga LMR hilang
Gambar 10. Teknik bassini

Halsted
Dilakukan penjahitan MOE, MOI dan m.transversus abdominis, untuk
memperkuat / menghilangkan LMR. Funiculus spermaticus diletakkan di
subcutis
Cara Ferguson dan Bassini dilakukan pada orang dewasa. Cara Halsted
dilakukan pada orang tua, supaya dinding perut lebih kuat. Kemudian luka
ditutup lapis demi lapis.

Tehnik operasi Herniotomi – Herniorafi Lichtenstein


Hernia inguinalis lateralis dan medialis:
1. Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum, spinal
anestesi atau anestesi lokal.
2. Dilakukan insisi oblique 2 cm medial sias sampai tuberkulum
pubikum.
3. Insisi diperdalam sampai tampak aponeurosis MOE (Muskulus
Obligus Abdominis Eksternus).
4. Aponeurosis MOE dibuka secara tajam.
5. Funikulus spermatikus dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan dikait
pita dan kantong hérnia.
6. Isi hernia dimasukan ke dalam cavum abdomen, kantong hernia secara
tajam dan tumpul sampai anulus internus.
7. Kantong hernia diligasi setinggi lemak preperitonium dilanjutkan
dengan herniotomi.
8. Perdarahan dirawat, dilanjutkan dengan hernioplasty dengan mesh.
9. Luka operasi ditutup lapis demi lapis.

Komplikasi
Durante Operasi
 Lesi funiculus spermaticus
 Lesi usus, vu, vasa epigastrica inferior, vasa iliaca ekterna
 Putusnya arteri Femoralis
Post Operasi
 Hematom, Infeksi, Wound dehisiensi
 Atropi testes
 Hydrocele
 Rekurens

b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis
internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif
dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode
hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan
jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan
menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m.
oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon
ke ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau
menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis, m.oblikus
internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Bila
defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian
bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk
menutup defek.

Shouldice
Menurut Abrahamson (1997) prinsip dasar tehnik Shouldice adalah
Bassini multi layer, di klinik khusus hernia Shouldice digunakan kawat
baja no 32 atau 34 untuk menjahit defek dinding posterior kanal
inguinal. Tetapi penggunaan benang monofilamen sintetis non absorbsi
lebih biasa dipakai diluar Toronto. Adapun tahapan hernioplasty
menurut Shouldice:
1.7 Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi
hernia. Isi hernia dapat tertahan di dalam kantong hernia pada hernia
irreponibilis, hal ini terjadi jika hernia terlalu besar atau terdiri dari
omentum, organ ekstraperitoneal, atau hernia akreta. Di sini tidak timbul
gejala klinik kecuali berupa benjolan.
Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga
terjadi hernia strangulata yang menimbulkan obstruksi usus yang
sederhana. Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi
jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga
terjadi oedem organ atau struktur di dalam hernia dan transudasi ke dalam
kantong hernia. Timbulnya oedem menyebabkan jepitan pada cincin
hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringan
terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi
transudat berupa cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri dari usus,
dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal,
fistel, atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan rongga perut.
Hernia inguinalis dapat menjadi inkarserata dan strangulata. Mual,
muntah, dan nyeri abdomen yang berat dapat terjadi pada hernia
strangulata. Hernia strangulata merupakan suatu kondisi yang mengancam
jiwa (gawat darurat) yang membutuhkan pembedahan segera.

1.8 Prognosis
Prognosis biasanya cukup baik bila hernia diterapi dengan baik.
Angka kekambuhan setelah pembedahan kurang dari 3%.
BAB III
ANALISA KASUS
1. Subjektif
Pasien mengeluhan keluar benjolan pada lipat paha sejak 2 minggu SMRS
tanpa disertai nyeri. Benjolan sudah dirasakan sejak kurang lebih 6 bulan yang
lalu dari lipatan paha kanannya, awalnya benjolan tersebut kecil. Jika pasien
berdiri dan mengejan benjolan tersebut keluar, namun saat berbaring ataupun
istirahat dapat masuk lagi. Pasien mengaku sering mengejan terutama saat BAB.
Benjolan tidak pernah nyeri dan tidak berwarnah kemerahan. Keluhan demam,
muntah, dan mual disangkal. BAB tidak ada keluhan.
2. Objektif
Regio inguinalis dekstra :
 Inspeksi : terdapat benjolan di bawah ligamentum inguinale,
diameter 6 cm x 5 cm x 3 cm, permukaan rata, bentuk lonjong,
warna sesuai warna kulit, tidak kemerahan.
 Palpasi :tidak teraba hangat, kenyal, dapat dimasukkan,
transluminasi (-), tidak nyeri, finger test (+) ujung jari, cincin 1 jari
longgar.
 Auskultasi : bising usus (+)
3. Diagnosis
Hernia inguinalis lateralis dekstra reponible
4. Diagnosis Banding
Limfadenitis, lipoma, dan abses dingin
5. Tatalaksana
Terapi bedah herniotomi – herniorafi Lichtenstein
6. Komplikasi
Hernia inkarserata, hernia strangulata, nekrosis.
7. Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Bonam
Quo ad sanactionam : Bonam
DAFTAR PUSTAKA

De Jong W, Sjamsuhidajat R. Buka Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3, Jakarta: EGC 2010.
Hal 156-165.
Mansjoer A, Suprohaita, et al. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3, Jakarta: Media
Aesculapius FKUI 2000. Hal 329-334.
Snell R. Anatomi Klinik. Edisi 6, Jakarta: EGC 2006.