Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTEK NERS STASE GADAR RUANG HEMODIALISA

A. Pendahuluan
Bagian terbesar pasien yang menjalani hemodialisa didiagnosa dengan
AKI dan CKD.
1. AKI
Berdasarkan KDIGO (Kidney Disease: Improving Global Outcomes)
definisi acute kidney injury bila didapatkan salah satu dari kriteria :
a. Serum kreatinin meningkat ≥ 26μmol/L dalam 48 jam
b. Serum kreatinin meningkat ≥ 1.5 kali dari nilai referens pasien, yang diketahui
telah terjadi selama 1 minggu, atau dianggap telah terjadi selama 1 minggu.
c. urine output < 0.5ml/kg/jam selama >6 jam berturut-turut.
Nilai refferens pasien harus merupakan nilai kreatinin terendah pasien dalam 3
bulan terakhir.
Bila nilai serum kreatinin refferens dalam 3 bulan terakhir tidak tersedia, dan
dicurigai terjadi AKI, maka
1. ulang serum kreatinin dalam 24 jam
2. nilai serum kreatinin refferens dapat diperkirakan dari nilai serum kreatinin
terendah, bila pasien sembuh dari AKI.

RIFLE Classification System for Acute Kidney Injury


Stage Kriteria GFR Kriteria Urine Probability
Output
Risk SCr meningkat 1.5 x atau UO <0.5ml/kg/jam
GFR menurun > 25% selama 6 jam
Tingkat Sensitifitas
Injury SCr meningkat 2 x atau UO <0.5ml/kg/jam
tinggi
GFR menurun > 50 % selama 12 jam
(risk>injury>failure)
Failure SCr meningkat 3 x atau
GFR menurun > 75 %
Atau SCr ≥4mg/dL;
meningkat akut ≥ 0.5mg/dL
Loss Persistent acute renal failure; kehilangan fungsi
ginjal komplet selama lebih 4 minggu High specificity
ESRD Kehilangan fungsi ginjal komplet lebih 3 bulan

Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) staging


classification* of acute kidney injury (AKI)
Stage Kriteria Serum creatinine (SCr) Kriteria Urine output
1 meningkat ≥ 26 μmol/L dalam 48jam atau <0.5 mL/kg/jam selama > 6
meningkat ≥1.5 sampai 1.9 X nilai reference SCr jam berturut-turut

2 meningkat ≥ 2 to 2.9 X nilai reference SCr <0.5 mL/kg/ jam selama >
12 jam
3 meningkat ≥3 X nilai reference SCr atau <0.3 mL/kg/jam atau >24
meningkat 354 μmol/L atau dimulai renal jam atau anuria selama 12
replacement therapy (RRT) pada stage jam
berapapun.

Keuntungan dan Kerugian beragam terapi RRT bagi AKI


Modality Use in Solute Volume Anti-
haemodynamically clearance control coagulation
unstable patients
Peritoneal Yes Moderate Moderate No
dialysis
Intermittent No High Moderate Possible
haemodialysis without
Hybrid Possible High Good Possible
techniques without
CVVH Yes Moderate/High Good Possible
without
CVVHD Yes Moderate/High Good Possible
without
CVVHDF Yes High Good Possible
without
CVVH: continuous veno-venous haemofiltration, HD: haemodialysis, HDF:
haemodiafiltration.

2. CKD
Berdasarkan The Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (K/DOQI)
of the NationalKidney Foundation (NKF) mendefinisikan Chronic Kidney
Disease sebagai kerusakan ginjal atau penurunan GFR kurang dari
60mL/menit/1.73m2 selama 3 bulan atau lebih.
Pada tahun 2002 ,K/DOQI mempublikasikan stage CKD, seperti berikut
ini
Stage 1 : kerusakan ginjal dengan GFR normal atau meningkat (lebih dari
90mL/menit/1.73m2)
Stage 2 : penurunan GFR ringan (60-89 mL/menit/1.73m2)
Stage 3 : penurunan GFR moderate (30-59 mL/menit/1.73m2)
Stage 4 : penurunan GFR berat (15-29 mL/menit/1.73m2)
Stage 5 : penurunan GFR kurang 15 mL/menit/1.73m2
Pada update sistem klasifikasi CKD, the NKF merekomendasikan level
GFR dan albuminuria agar digunakan bersama-sama daripada terpisah, untuk
meningkatkan akurasi prognostik pada pengkajian CKD. Perujukan pada spesialis
ginjal direkomendasikan pada level GFR kurang dari 15mL/menit atau
albuminuria lebih dari 300mg/24jam.

Formula Cockcroft-Gault untuk estimasi kreatinin klirens


CrCl (pria) = ([140-umur] x BB(kg) ) / (serum kreatinin x 72)
CrCl (wanita) = CrCl (pria) x 0,85
B. Hemodialisis
Hemodialisis adalah suatu proses memisahkan sisa metabolisme yang
tertimbun dalam darah dan mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit juga
asam basa melalui sirkulasi ekstrakorporeal dengan menggunakan ginjal buatan.
Beberapa aspek yang mempunyai hubungan erat dengan masalah keperawatan
antara lain : Ginjal buatan, Dialisat, Pengolahan Air, Akses Darah, Antikoagulan,
tekhnik Hemodialisa, Perawatan Pasien Hemodialisa, Kompliokasi akut
hemodialisa dan pengelolaannya, peranan perawat yang bekerja di luar HD (ruang
perawatan biasa)
1. Ginjal Buatan
Suatu alat yang digunakan untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh,
bila fungsi kedua ginjal sudah tidak memadai lagi, mengatur keseimbangan cairan
dan elektrolit, mengeluarkan racun-racun atau toksin yang merupakan komplikasi
dari Gagal Ginjal. Sedangkan fungsi hormonal/ endokrin tidak dapat diambil alih
oleh ginjal buatan. Dengan demikian ginjal buatan hanya berfungsi sekitar 70-80
% saja dari ginjal alami yang normal.
Macam-macam ginjal buatan :
a. Paraller-Plate Diyalizer
Ginjal pertama kali ditemukan dan sudah tidak dipakai lagi, karena darah
dalam ginjal ini sangat banyak sekitar 1000 cc, disamping cara menyiapkannya
sangat sulit dan membutuhkan waktu yang lama.
b. Coil Dialyzer
Ginjal buatan yang sudah lama dan sekarang sudah jarang dipakai karena
volume darah dalam ginjal buatan ini banyak sekitar 300 cc, sehingga bila terjadi
kebocoran pada ginjal buatan darah yang terbuang banyak. Ginjal ini juga
memerlukan mesin khusus, cara menyiapkannya juga memerlukan waktu yang
lama.
c. Hollow Fibre Dialyzer
Ginjal buatan yang sangat banyak saat ini karena volume darah dalam
ginjal buatan sangat sedikit sekitar 60-80 cc, disamping cara menyiapkannya
mudah dan cepat.
2. Dialisat
Adalah cairan yang terdiri dari air, elektrolit dan zat-zat lain supaya
mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan darah.
Fungsi Dialisat pada dialisit:
a. Untuk mengeluarkan dan menampung cairan dan sisa metabolisme
b. Untuk mencegah kehilangan zat-zat vital dari tubuh selama dialisa

Tabel perbandingan darah dan dialisat :


Komponen elektrolit Darah Dialisat
Natrium/sodium 136mEq/L 134mEq/L
Kalium/potassium 4,6mEq/L 2,6mEq/L
Kalsium 4,5mEq/L 2,5mEq/L
Chloride 106mEq/L 106mEq/L
Magnesium 1,6mEq/L 1,5mEq/L

Ada 3 cara penyediaan cairan dialisat :


a. Batch Recirculating
Cairan dialisat pekat dicampur air yang sudah diolah dengan
perbandingan 1 : 34 hingga 120 L dimasukan dalam tangki air kemudian
mengalirkannya ke ginjal buatan dengan kecepatan 500 – 600 cc/menit.
b. Batch Recirculating/single pas
Hampir sama dengan cara batch recirculating hanya sebagian langsung
buang.

c. Proportioning Single pas


Air yang sudah diolah dan dialisat pekat dicampus secara konstan oleh
porpropotioning dari mesin cuci darah dengan perbandingan air : dialisat = 34 : 1
cairan yang sudah dicampur tersebut dialirkan keginjal buatan secara langsung
dan langsung dibuang, sedangkan kecepatan aliran 400 – 600 cc/menit.
3. Pengolahan air/ Water Treatment
Tujuan :
a. Mencegah infeksi nosokongial (sepsis)
b. Mencegah intoksikasi (trace element).
Air untuk mencampur dialisat pekat tidak perlu steril tetapi seharusnya
tidak mengandung zat/elektrolit, mikroorganisme dan benda-benda asing lainnya.
Pada kenyataannya kandungan air biasanya cukup bervariasi, hal ini dipengaruhi
oleh letak geografis jenis sumber air, musim, sistim instalasi dan penjernihan air.
4. Akses Darah
Hemodialisme akan efektif jika dialisme dilakukan sekitar 2-6 jam/minggu
pada pasien baru, sedangkan pada pasien yang sudah stabil dan menjalani kronik
hemodialisa sekitar 6 – 18 jam /minggu.
Untuk mendapatkan aliran darah yang besar ( sekitar 200 -300 cc/menit)
selama 2-5 jam sangatlah sulit. Biasannya pada pasien akut kita lakukan pada
vena vemoralis, sehingga dapat diperoleh aliran darah yang besar.
Pada pasien dengan program HD berkala yaitu 2 -3 kali/minggu harus
disiapkan penyambungan pembuluha darah arteri dan vena.
Ada 2 macam cara :
a. Pintas (shunt) eksternal
Kanula khusus yang mengalirkan darah arteri langsung ke vena yang
berdekatan. Kanula arteri dan vena dihubungan dengan konektor sehingga pada
saat dialisa konektor dibuka lalu kanula arteri dihubungkan ke slang yang
mengalirkan darah ke ginjal buatan dan kanula vena untuk memasukkan darah
kembali ketubuh penderita. Komplikasi yang sering terjadi, seperti pembekuan
darah infeksi, oleh karena itu pemakaian pintas ini biasanya dibatasi lama
pamakaiannya, paling lama 6 bulan. Hal ini jarang dilakukan lagi.
b. Fistula Arteriovenisa Interna
Fistula Arteriovenisa Interna pertama kali dibuat oleh Brescia dan Cimino
pada tahun 1966 yaitu menghubungan arteri dan vena yang berdekatan dengan
cara operatif, biasanya dilakukan pada daerah tangan. Aliran dan tekanan darah
dalam vena akan meningkat sehingga menyebabkan pelebaran lumen vena dan
arterialisasi vena secara perlahan-lahan. Dengan demikian memudahkan
penusukan pembuluh darah sesuai dengan yang diharapkan.
c. Antikoagulan
Selama hemodialisa berlangsung diperlukan antikoagulan agar tidak
terjadi pembekuan darah, yang biasanya digunakan heparin.
Pemakaian heparin ini dikenal dengan heparinisasi, macam heparinisasi :
1) Heparinisasi sistemik
Digunakan pada hemodialisa kronik yang stabil. Bolus heparin 1000 –
5000 unit tiap jam. Pada jam terakhir tidak diberikan lagi.
2) Heparinisasi regional
(sedang haid) bolus heparin tetap diberikAN sebanyak 1000 – 5000 unit,
selanjutnya diinfuskan sebelum ginjal buatan dan protamine sulfat, sesudah ginjal
buatan, sebelum darah masuk kedalam tubuh penderita. Jadi heparin diberikan
pada sirkulasi ekstrakorporeal saja.
3) Heparinisasi minimal
Diberikan hanya 500 unit saja pada awal tusukan karena penderita
cenderung berdarah selanjutnya tidak diberikan lagi.
5. Tekhnik hemodialisa
Sebelum berbicara tentang tekhnik hemodialisa terlebih dahulu
menjelaskan beberapa istilah :
a. Sirkulasi ekstrakorporeal
b. Sirkulasi diluar tubuh selama terjadi hemodialisa.
c. Sirkulasi sistemik
d. Sirkulasi dalam tubuh
e. Selaput semipermiabel
f. Selaput yang sangat tipis mempunyai pori-pori halus, hanya dapa dilihat dengan
mikroskop.
g. Blood pump (Roller Pump)
h. Pompa mesin hemodialisa yang gunanya mengalirkan darah dari sirkulasi sistemik
ke sirkulasi ekstrakorporea dan kembali lagi ke sirkulasi sistemik selama proses
hemodialisa.
i. Blood Lines, selang darah yang mengalirkan darah dari tubuh penderita ke
dyalizer disebut arteria blood lines/inlet, sedangkan selang yang mengalirkan
darah dari dyalizer ke tubuh penderita disebut venous blood line/outlet.
6. Persiapan mesin dan perangkat HD
a. Pipa pembuangan sudah masuk dalam saluran pembuangan
b. Sambungkan kabel mesin dengan stop kontak
c. Hidupkan mesin ke rinse selama 15-30 menit
d. Pindahkan ke posisi dialyze lalu sambungkan slang dialisat ke jaringan tempat
dialisat yang telah disiiapkan.
e. Tunggu sampai lampu hijau
f. Tes conductivity dan temperatur
g. Gantungkan saline normal sebanyak 4 flatboth yang telah diberikan heparin
sebanyak 25-30 unit dalam masing-masing flatboth
h. Siapkan ginjal buatan sesuai dengan kebutuhan pasien
i. Siapkan blood lines dan AV fiskula sebanyak2
j. Ginjal buatan dan blood lines diisi saline normal (priming)
k. Sambungkan dialisatelines pada ginjal buatan
l. Sambil mempersiapkan pasien slang inlet dan outlet disambungkan lalu jalankan
blood pump (sirkulasi tertutup).
7. Persiapan Penderita :
Indikasi hemodialisa
a. Segera/ indikasi mutlak : over hidrasi atau edema paru, hiperkalemi, aliguri berat
atau anuria, asidosis, hipertensi maligma.
b. Dini/ profilaksis : gejala uremia (mual muntah) perubahan mental, penyakit tulang,
gangguan pertumbuhan dan seks, perubahan kualitas hidup.
Bila penderita baru yang datang di ruang HD, sebelum kita melakukan HD
terlebih dahulu periksa kembali hasil-hasil pemeriksaan yang penting (Hb,
hematokrit, ureum, kreatinin, dan HbsAg), hal ini perlu untuk menentukan tindak
lanjut sperlu untuk menentukan tindak lanjut suatu HD.
Langkah-langkah HD
a. Timbang dan catat BB
b. Ukur dan catat tekanan darah (dapat digunakan untuk menginterpretasikan
kelebihan cairan)
c. Tentukan akses darah yang akan ditusuk.
d. Bersihkan daerah yang akan ditusuk dengan betadine 10% lalu alcohol 70%
kemudian ditutup pakai duk steril.
e. Sediakan alat-alat yang steril didalam bak spuit kecil :spuit 2,5cc sebanyak 1,
spuit 1 cc 1 buah, mangkok kecil berisi saline 0,9% dan kasa steril.
f. Sediakan obat-obatan yang perlu yaitu lidonestdan heparin.
g. Pakai masker dan sarung tangan steril.
h. Lakukan anestesi local didaerah akses darah yang akan ditusuk.
i. Tusuk dengan AV fistula lalu berikan heparin sebanyak 2000unit pada inlet
sedangkan outlet sebanyak 1000 unit.
j. Siap sambungkan ke sirkulasi tertutup yang telah disediakan.
k. Aliran darah permulaan sampai 7 menit 75 ml/menitkemudian dinaikkan perlahan
sampai 200 ml/menit.
l. Tentukan TMP sesuai dengan kenaikkan berat badan.
m. Segera ukur kemabali tekanan darah, nadi, pernapasan, akses darah yang
digunakan dicatat dalam status yang telah tersedia.
8. Perawatan pasien Hemodialisa
Terbagi 3 yaitu ;
a. Perawatan sebelum hemodialisa
o Mempersiapkan perangkat HD
o Mempersiapkan mesin HD
o Mempersiapkan cara pemberian heparin
o Mempersiapkan pasien baru dengan memperhatikan factor BioPsikososial, agar
penderita dapat bekerja sama dalam hal program HD
o Mempersiapkan akses darah
o Menimbang berat bada, mengukur tekanan darah, nadi, pernapasan
o Menentukan berat badan kering
o Mengambil pemeriksaan rutin dan sewaktu

b. Perawatan Selama Hemodialisa


Selama HD berjalan ada 2 hal pokok yang diobservasi yaitu penderita dan
mesin HD
1) Observasi terhadap pasien HD
o Tekanan darah, nadi diukur setiap 1 jam lalu dalam status
o Dosis pemberian heparin dicatat setiap 1 jam dalam status
o Cairan yang masuk perparenteral maupun peroral dicatat jumlahnya dalam status
o Akses darah dihentikan
2) Observasi terhadap mesin HD
o Kecepan aliran darah /Qb, kecepatan aliran dialisat/Qd dicatat setiap 1 jam
o Tekanan negatif, tekanan positif, dicatat setiap jam
o Suhu dialisa, conductivity diperhatikan bila perlu diukur
o Jumlah cairan dialisa, jumlah air diperhatikan setiap jam
o Ginjal buatan, slang darah, slang dialisat dikontrol setiap 1 jam.
c. Perawatan sesudah Hemodialisa
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan yaitu cara menghentikan HD
pada pasien dan mesin HD
1) Cara mengakhiri HD pada pasien
o Ukur tekanan darah nadi sebelum slang inlet dicabut
o Ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium
o Kecilkan aliran darah menjadi 75 ml/menit
o Cabut AV fistula intel/ lalu bilas slang inlet memakai saline normal sebanyak 50-
100 cc, lalu memakai udara hingga semua darah dalam sirkulasi ekstrakorporeal
kembali ke sirkulasi sistemik
o Tekan pada bekas tusukan inlet dan outlet selama 5-10 menit, hingga darah
berhenti dari luka tusukan
o Tekanan darah, nadi, pernapasan ukur kembali lalu catat
o Timbang berat badan lalu dicatat
o Kirimkan darah ke laboratorium
2) Cara mengakhiri mesin HD
o Kembalikan tekanan negative, tekanan positif, ke posisi nol
o Sesudah darah kembali ke sirkulasi sistemik cabut selang dialisat lalu kembalikan
ke Hansen connector
o Kembalikan tubing dialisat pekat pada konektornya
o Mesin ke posisi rinse, lalu berikan cairan desifektan (hipoclhoride pekat) sebanyak
250 cc, atau cairan formalin 3% sebanyak 250 cc
o Formalin dibiarkan selama 1-2 x 24 jam, baru mesin dirinsekan kembali.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a. Biodata
1) Nama :
2) Umur : Biasanya terjadi pada usia lebih dari 50
tahun
3) Jenis Kelamin :
4) Pekerjaan :
5) Agama :
6) Alamat :
7) Pendidikan :

b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Pada pasien GGK yang akan dilakukan hemodialisa biasanya mengeluh mual,
muntah, anorexia, akibat peningkatan ureum darah dan edema akibat retensi
natrium dan cairan.
2. Riwayat kesehatan yang lalu
Perlu ditanya penyakit-penyakit yang pernah diderita klien sebagai penyebab
terjadinya GGK, seperti DM, glomerulonefritis kronis, pielonefritis. Selain itu
perlu ditanyakan riwayat penggunakan analgesik yang lama atau menerus.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Perlu ditanyakan apakah orang tua atau kelauarga lain ada yang menderita GGK
erat kaitannya dengan penyakitketurunannya seperti GGK akibat DM.

c. Data Biologis
1. Makan/ minum
Biasanya terjadi penurunan nafsu makan sehubungan dengan keluhan mual
muntah akibat peningkatan ureum dalam darah.
2. Eliminasi
Biasanya terjadi ganggutian pengeluaran urine seperti oliguri, anuria, disuria, dan
sebagainya akibat kegagalan ginjal melakukan fungsi filtrasi, reabsorsi dan
sekresi.
3. Aktivitas
Pasien mengalami kelemahan otot, kehilangan tonus dan penurunan gerak sebagai
akibat dari penimbunan ureum dan zat-zat toksik lainnya dalam jaringan.
4. Istrahat/ tidur
Pasien biasanya mengalami gangguan pola istrahat tidur akibat keluhan-keluhan
sehubungan dengan peningkatan ureum dan zat-zat toksik seperti mual, muntah,
sakit kepala, kram otot dan sebagainya.
d. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : lemah dan penurunan tingkat kesadaran akibat terjadinya uremia
Vital sign : biasanya terjadi hipertensi akibat retensi cairan dan natrium dari
aktivitas sistim
rennin
BB : Biasanya meningkat akibat oedema
1. Inspeksi
- Tingkat kesadaran pasien biasanya menurun
- Biasanya timbul pruritus akibat penimbunan zat-zat toksik pada kulit
- Oedema pada tangki, acites, sebagai akibat retensi caira dan natrium
2. Auskultasi
Perlu dilakukan untuk mengetahui edema pulmonary akibat penumpukan cairan
dirongga pleura dan kemungkinan gangguan jantung (perikarditis) akibat iritasi
pada lapisa pericardial oleh toksik uremik serta pada tingkat yang lebih tinggi
dapat terjadi gagal jantung kongestif.
3. Palpasi
Untuk memastikan oedema pada tungkai dan acietas.
4. Perkusi
Untuk memastikan hasil auskultasi apakah terjadi oedema pulmonar yang apabila
terjadi oedema pulmonary maka akan terdengar redup pada perkusi.
e.Data psikologis
Pasien biasanya mengalami kecemasan akibat perubahan body image, perubahan
peran baik dikeluarga maupun dimasyarakat. Pasien juga biasanya merasa sudah
tidak berharga lagi karena perubahan peran dan ketergantungan pada orang lain.

f. Data sosial
Pasien biasanya mengalami penurunan aktivitas sosial akibat penurunan kondisi
kesehatan dan larangan untuk melakukan aktivitas yang berat.

g. Data Penunjang
1. Rontgen foto dan USG yang akan memperlihatkan ginjal yang kecil dan atropik
2. Laboratorium :
- BUN dan kreatinin, terjadi peningkatan ureum dan kreatinin dalam darah.
- Elektrolit dalam darah : terjadi peningkatan kadar kalium dan penurunan kalium.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
DX I : Kelebihan volume cairan berhubungan darah penurunan haluaran urin, diet
berlebihan dan retensi urine.
Intervensi Keperawatan :
- Kaji status pasien
a. Timbang berat badan harian
b. Keseimbangan masukan dan haluaran
c. Turgor kulit dan adanya oedema
d. Tekanan darah, denyut nadi dan irama nadi
- Batasi masukan cairan
- Bantu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan cairan
Rasionalisasi :
- Pengkajian meruapakan dasar dan data dasar berkelanjutan untuk memantau
perubahan dan mengevaluasi intervensi
- Pembatasan cairan akan menentukan berat tubuh ideal, haluaran urin dan respon
terhadap terapi
- Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi
- Pemahaman meningkatkan kerja sama pasien dan keluarga dalam pembatasan
cairan.
Kriteria Evaluasi
- Menunjukkan perubahan berat badan yang lambat
- Mempertahankan pembatasan diet dan cairaan
- Menunjukkan turgor kulit normal tampa oedema
- Melaporkan adanya kemudahan dalam bernapas atau tidak terjadi napas pendek.

DX II : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membram mukosa
mulut.
Tujuan : Untuk mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat.
Intervensi Keperawatan :
- Kaji faktor berperan dalam merubah masukan nutrisi
a. Anoreksia, mual muntah
b. Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien
c. Depresi
d. Kurang memahami pembatasan diet
e. Stomatis
- Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas diet
- Tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis, tinggi, telur,
produk susu, daging.
Rasionalisasi :
- Menyediakan informasi mengenai faktor lain yang dapat diubah atau
dihilangkan untuk meningkatkan masukan diet.
- Mendorong peningkatan masukan diet.
- Protein lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen yang
diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan.
Kriteria Evaluasi :
- Memilih makanan yang menimbulkan nafsu makan dalam batasi diet.
- Menunjukkan tidak adanya penambahan atau penurunan berat badan yang cepat
- Menunjukkan turgor kulit yang normal tampa oedema, kadar albumin plasma
dapat diterima.
DX III : Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan
Tujuan : Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan
yang bersangkutan.
Intervensi Keperawatan :
Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami berbagai
perubahan akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya.
Rasionalisasi :
Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat
penyakitnya.
Kriteria Evaluasi :
- Menyatakan rencana untuk melanjutkan kehidupan normalnya sedapat mungkin.
- Menggunakan informasi dan instruksi tertulis.