Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA KLINIK I
“Pemeriksaan Urobilinogen Urin”

OLEH :

FANY ROSDIANTI
P00341017064
TINGKAT II B

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2018
I. JUDUL PRAKTIKUM : Pemeriksaan Urobilinogen Urin
II. HARI/TANGGAL : Selasa, 06 November 2018
III. TUJUAN PRAKTIKUM : Agar mahasiswa dapat mengetahui proses
pemeriksaan urobilinogen pada urin dengan baik dan benar.
IV. PRINSIP KERJA :
Tes ini didasarkan pada reaksi Ehrlich termodifikasi antara p-
diethylaminobenzaldehyde dan urobilinogen media yang sangat asam untuk
menghasilkan warna merah muda

V. DASAR TEORI :

Urin merupakan keluaran akhir yang dihasilkan ginjal sebagai akibat


kelebihan urine dari penyaringan unsur-unsur plasma (Frandson, 1992). Urine
atau urin merupakan cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal kemudian
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urine diperlukan
untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan
untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urine disaring di dalam ginjal, dibawa
melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui
uretra (Ningsih, 2012). Proses pembentukan urin di dalam ginjal melalui tiga
tahapan yaitu filtrasi (penyaringan), reabsorpsi (penyerapan kembali), dan
augmentasi (penambahan) (Budiyanto, 2013).

Pada filtrasi terjadi proses sebagai berikut. Filtrasi darah terjadi di glomerulus,
yaitu kapiler darah yang bergelung-gelung di dalam kapsul Bowman. Pada
glomerulus terdapat sel-sel endotelium sehingga memudahkan proses
penyaringan. Selain itu, di glomerulus juga terjadi pengikatan sel-sel darah,
keping darah, dan sebagian besar protein plasma agar tidak ikut dikeluarkan.
Hasil proses infiltrasi ini berupa urine primer (filtrate glomerulus) yang
komposisinya mirip dengan darah, tetapi tidak mengandung protein. Di dalam

1
urine primer dapat ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, ion-ion, dan
garam-garam lainnya (Budiyanto, 2013).

Proses reabsorpsi terjadi di dalam pembuluh (tubulus) proksimal. Proses ini


terjadi setelah urine primer hasil proses infiltrasi mengalir dalam pembuluh
(tubulus) proksimal. Bahan-bahan yang diserap dalam proses reabsorpsi ini
adalah bahan-bahan yang masih berguna, antara lain glukosa, asam amino, dan
sejumlah besar ion-ion anorganik. Selain itu, air yang terdapat dalam urine primer
juga mengalami reabsorpsi melalui proses osmosis, sedangkan reabsorpsi bahan-
bahan lainnya berlangsung secara transpor aktif. Proses penyerapan air juga
terjadi di dalam tubulus distal. Kemudian, bahan-bahan yang telah diserap
kembali oleh tubulus proksimal dikembalikan ke dalam darah melalui pembuluh
kapiler yang ada di sekeliling tubulus. Proses reabsorpsi ini juga terjadi di
lengkung Henle, khususnya ion natrium. Hasil proses reabsorpsi adalah urine
sekunder yang memiliki komposisi zat-zat penyusun yang sangat berbeda dengan
urine primer. Dalam urine sekunder tidak ditemukan zat-zat yang masih
dibutuhkan tubuh dan kadar urine meningkat dibandingkan di dalam urine primer
(Budiyanto, 2013).

Pada augmentasi, terjadi proses sebagai berikut. Urine sekunder selanjutnya


masuk ke tubulus kontortus distal dan saluran pengumpul. Di dalam saluran ini
terjadi proses penambahan zat-zat sisa yang tidak bermanfaat bagi tubuh.
Kemudian, urine yang sesungguhnya masuk ke kandung kemih (vesika urinaria)
melalui ureter. Selanjutnya, urine tersebut akan dikeluarkan dari tubuh melalui
uretra. Urine mengandung urea, asam urine, amonia, dan sisa-sisa pembongkaran
protein. Selain itu, mengandung zat-zat yang berlebihan dalam darah, seperti
vitamin C, obat-obatan, dan hormon serta garam-garam (Budiyanto, 2013).

Secara umum urin berwarna kuning. Urin yang didiamkan agak lama akan
berwarna kuning keruh. Urin berbau khas yaitu berbau ammonia. Ph urin

2
berkisar antara 4,8 – 7,5 dan akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak
protein serta urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran.
Berat jenis urin yakni 1,002 – 1,035 g/ml (Uliyah, 2008). Komposisi urin terdiri
dari 95% air dan mengandung zat terlarut. Di dalam urin terkandung bermacam –
macam zat, antara lain (1) zat sisa pembongkaran protein seperti urea, asam
ureat, dan amoniak, (2) zat warna empedu yang memberikan warna kuning pada
urin, (3) garam, terutama NaCl, dan (4) zat – zat yang berlebihan dikomsumsi,
misalnya vitamin C, dan obat – obatan serta juga kelebihan zat yang yang
diproduksi sendiri oleh tubuh misalnya hormon (Ethel, 2003).

Urin yang normal tidak mengandung protein dan glukosa. Jika urin
mengandung protein, berarti telah terjadi kerusakan ginjal pada bagian
glomerulus. Jika urin mengandung gula, berarti tubulus ginjal tidak menyerap
kembali gula dengan sempurna. Hal ini dapat diakibatkan oleh kerusakan tubulus
ginjal. Dapat pula karena kadar gula dalam darah terlalu tinggi atau melebihi
batas normal sehingga tubulus ginjal tidak dapat menyerap kembali semua gula
yang ada pada filtrat glomerulus. Kadar gula yang tinggi diakibatkan oleh proses
pengubahan gula menjadi glikogen terlambat, kerena produksi hormon insulin
terhambat. Orang yang demikian menderita penyakit kencing manis (diabetes
melitus). Zat warna makanan juga dikeluarkan melalui ginjal dan sering memberi
warna pada urin. Bahan pengawet atau pewarna membuat ginjal bekerja keras
sehingga dapat merusak ginjal. Adanya insektisida pada makanan karena
pencemaran atau terlalu banyak mengkonsumsi obat – obatan juga dapat merusak
ginjal (Scanlon, 2000).

Menurut Wulangi (1990), menyatakan bahwa analisa urin itu penting, karena
banyak penyakit dan gangguan metabolisme dapat diketahui dari perubahan yang
terjadi didalam urin. Zat yang dapat dikeluarkan dalam keadaan normal yang
tidak terdapat adalah glukosa, aseton, albumin, darah dan nanah (Wulangi,

3
1990). Pemeriksaan urin merupakan pemeriksaan yang dipakai untuk mengetahui
adanya kelainan di dalam saluran kemih yaitu dari ginjal dengan salurannya,
kelainan yang terjadi di luar ginjal, untuk mendeteksi adanya metabolit obat
seperti zat narkoba dan mendeteksi adanya kehamilan (Medika, 2012).

Bahan urin yang biasa di periksa di laboratorium dibedakan berdasarkan


pengumpulannya yaitu : urin sewaktu, urin pagi, urin puasa, urin postprandial
(urin setelah makan) dan urin 24 jam (untuk dihitung volumenya). Tiap-tiap jenis
sampel urin mempunyai kelebihan masing-masing untuk pemeriksaan yang
berbeda misalnya urin pagi sangat baik untuk memeriksa sedimen (endapan) urin
dan urin postprandial baik untuk pemeriksaan glukosa urin. Jadi sebaiknya
sebelum kita melakukan pemeriksaan urin sebaiknya meminta keterangan dari
petugas laboratorium tentang bahan urin yang mana yang diperlukan untuk
pemeriksaan (Djojodibroto, 2001).

Pemeriksaan urin terbagi menjadi dua jenis yaitu pemeriksaan kimiawi dan
pemeriksaan sedimen. Sebagaimana namanya dalam pemeriksaan kimia yang
diperiksa adalah pH urin / keasaman, berat jenis, nitrit, protein, glukosa, bilirubin,
urobilinogen,dll. Jenis zat kimia yang diperiksa merupakan penanda keadaan dari
organ2 tubuh yang hendak didiagnosa. Seperti penyakit “kuning” yang
disebabkan oleh bilirubin darah yang tinggi biasanya menghasilkan urin yang
mengandung kadar bilirubin diatas normal. Begitu pula zat kimia lainnya yang
dihubungkan dengan keadaan organ tubuh yang berbeda (Djojodibroto, 2001).

Dalam pemeriksaan sedimen yang diperiksa adalah zat sisa metabolisme yang
berupa kristal, granula termasuk juga bakteri. Dengan pemeriksaan sedimen maka
keberadaan suatu benda normal ataupun tidak normal yang terdapat dalam urin
kita akan dapat menunjukkan keadaan organ tubuh. Dalam urin yang ditemukan
jumlah eritrosit jauh diatas angka normal bisa menunjukkan terjadinya perdarahan
di saluran kemih bagian bawah. Begitu juga dengan ditemukannya kristal-kristal
abnormal dapat diprediksi jika seseorang beresiko terkena batu ginjal, karena

4
kristal-kristal dalam urin merupakan pemicu utama terjadinya endapan kristal
dalam saluran kemih terutama ginjal yang jika dibiarkan berlanjut akan
membentuk batu ginjal (Djojodibroto, 2001).

Pemeriksaan Urobilinogen merupakan pemeriksaan khusus pada pemeriksaan


urin dan nilai secara semikuantitatif. Pemeriksaan urobilinogen harus
menggunakan sampel urin yang segar karena jika uobilinogen yang terlalu lama
terkena udara dan terkena sinar matahari maka akan dioksidasi menjadi urobilin.

Maka dari itu juga pemeriksaan ini juga didampingi dengan pemeriksaan
urobilin. Selain memakai urin segar pengambilan sampel yang baik untuk urin
segar atau sewaktu lebih bagus diambil pada sore hari untuk pemeriksaan
urobilinogen.

Urobilinogen adalah larut dalam air dan transparan produk yang merupakan
produk dengan pengurangan bilirubin yang dilakukan oleh interestinal bakteri.
Urobilinogen dibentuk oleh pemecahan hemoglobin. Dalam keadaan normal
urobilinogen yang ada dalam urine adalah 2,5 mg. Meningkatnya kadar
urobilinogn dalam urine adalah indicator hepatitis dan gangguan sel hati lain
seperti kanker hepar atau anemia hemolitik . Sedangkan penurunan kadar
urobilinogen disebabkan adanya sumbatan pada empedu, kanker pada pancreas,
penyakit radang hebat atau hepar berat. Positif palsu dapat disebabkan oleh
pengaruh otak contoh sulfonamide, fenofizin, sedangkan negative palsu dapat
disebabkan obat-obatn antibiotik ammonium klorida dan asalm asetat, vit c yang
melebihi, konsentrasi ion nitrit dalam urine rendah.

Urobilinogen dan beberapa macam zat lain yang mungkin terdapat dalam urin
bereaksi dengan reagen Ehrlich menyusun zat warna yang merah.

Pada pemeriksaan manual Pemeriksaan urobilinogen sendiri menggunakan


reaksi dengan reagen Ehelich yang kemudian akan merubah sampel urin jika
positif urobinogen maka akan berubah menjadi merah. Perlu diingat juga bahwa

5
pemeriksaan ini tidak boleh adanya billirubin layaknya pemeriksaan urobilin.
Maka alahkan baiknya billirubin diabuang terlebih dahulu dengan menmbahkan
calciumhidroxsida kemudian kocok dan saringlah. Setelah disarih pakailah filtrat
untuk pemeriksaan urobilinogen.

Syarat sampel untuk pemeriksaan urobilinogen adalah urine segar , karena


urobilinogen dioksidasi oleh hawa udara juka terkena sinar matahari menjadi
urobilin yang tidak dapat bereaksi dengan reagen ehrlich. Bilirubin dapat
mengganggu pemeriksaan ini karena akan membentuk warna dulu dengan reagen
ehrlich, jika ada harus dibuang dengan cara mengkocok urine dengan calcium
hidroxida padat kemudian disaring. Pemeriksaan urobilinogen baik dilakukan
sore hari karena pada sore hari ekskresi urobilinogen yang sangat tinggi.

6
VI. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Urine analyzer
2. Pot sampel
3. Tabung reaksi
4. Rak tabung
5. Corong

B. Bahan
1. Urin sewaktu
2. Strip urin
3. Tissue

VII. PROSEDUR KERJA


A. Prosedur Kerja Urine
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Masukkan urine kedalam tabung reaksi
3. Setelah itu celupkan strip urine hingga semua parameternya harus basah
4. Setelah itu strip urine di tiriskan di atas tissue
5. Selanjutnya strip urine di masukkan pada alat urin analyzer dan tunggu
hingga hasil keluar
6. Hasil yang keluar berupa print out secara otomatis.
B. Prosedur Kerja Alat
a) menyalakan alat uritest-50
1. Hubungkan kabel power dan adaptor ke aliran listrik
2. Pasang holder (tempat strip) ke alat urite-50. lalu masukkan holder
sampai ke dalam alat
3. Pasang kertas printer ke alat urites-50 (lepaskan kait printer, pasang
kertas printer yang berkarbon di bawah, kemudian pasang kembali
kaitnya)
4. Pekan tombol on/off yang berada di belakang alat
5. Tunggu sampai proses instalasi selesai, kurang lebih dari 2-3 menit
6. Muncul background untuk pengecekan urine

7
b) Cara Kalibrasi Alat Urites-50
1. Pekan tombol strip, pilih ke parameter 11g tekan ok
2. Siapkan strip kalibrator
3. Sekan tombol star dan taruh strip kalibrator di holder, dengan posisi
warna putih di bagian atas
4. Tunggu sampai proses selesai, kurang lebih 60 detik
5. Hasil harus sesuai dengan nilai yang terdapat di dalam kotak kalibrator

c) Melakukan Pembaccan Sampel


1. Tekan tombol strip, pilih ke parameter 13g,11g, atau 10g ( pilihlah
sesuai dengan strip yang akan di gunakan, jika anatar strip dan pilihan
menu parameter tidak cocok maka akan muncul eror setelah sesuai
dengan ok
2. Ambil strip sampel, masukkan ke urine sampai strip tercelup semua
selama kurang lebih 2-3 detik ( urine di tampung di dalam tabung
dengan volume kira-kira ¾ tabung)
3. Tiriskan di atas tissue dengan posisi tidur untuk menghindari
kontaminasi selam kurang lebih 2-5 detik
4. Tekan tombol star dan taruh strip sampel di holder
5. Tunggu sampai proses selesai ( hasil keluar)

d) Mematikan Alat Urites-50


Langsung tekan tombol on/off yang berada di belakang alat

8
VIII. HASIL PENGAMATAN
I. Hasil Praktikum
a. Hasil kalibrasi

Ket. URO Normal


b. Hasil Pemeriksaan
No. Gambar Keterangan
1. pemeriksaan I URO +1

9
2. Pemeriksaan II URO +1

3. Pemeriksaan III URO +1

10
IX. PEMBAHASAN
Pemeriksaan Urobilinogen merupakan pemeriksaan khusus pada pemeriksaan
urin dan nilai secara semikuantitatif. Pemeriksaan urobilinogen harus menggunakan
sampel urin yang segar karena jika urobilinogen yang terlalu lama terkena udara dan
terkena sinar matahari maka akan dioksidasi menjadi urobilin.
Urobilinogen adalah larut dalam air dan transparan produk yang merupakan
produk dengan pengurangan bilirubin yang dilakukan oleh interestinal bakteri.
Urobilinogen dibentuk oleh pemecahan hemoglobin.
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan analisis pendahuluan sampel urin
secara kimia menggunakan reagent strip. Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini
adalah untuk mengevaluasi fungsi ginjal dengan cara urinalisis dan
menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh.

Sampel urine segar dimasukkan didalam tabung reaksi. Kemudian urinalisis


dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna, kekeruhan dan bau.
Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut dan
berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin.Kemudian dicelupkan strip
reagen sepenuhnya ke dalam urin selama dua detik. lalu dihilangkan kelebihan urine
dengan menyentuhkan strip di tepi wadah spesimen atau dengan meletakkan strip di
atas secarik kertas tisu. Perubahan warna diinterpretasikan dengan
membandingkannya dengan skala warna rujukan, yang biasanya ditempel pada
botol/wadah reagen strip. Perhatikan waktu reaksi untuk setiap item. Hasil
pembacaan mungkin tidak akurat jika membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, atau
jika pencahayaan kurang
.
Pemakaian reagen strip haruslah dilakukan secara hati-hati. Oleh karena itu
harus diperhatikan cara kerja dan batas waktu pembacaan seperti yang tertera dalam
leaflet. Setiap habis mengambil 1 batang reagen strip, botol/wadah harus segera
ditutup kembali dengan rapat, agar terlindung dari kelembaban, sinar, dan uap kimia.
Setiap strip harus diamati sebelum digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada
perubahan warna.
Untuk uji reagen strip seharusnya digunakan urin segar. Walaupun alat ini
otomatis,akan tetapi masih terdapat beberapa kerugiannya.Contohnya saja pada
pembacaan berat jenis,angka yang tertera tidaklah pasti,tetapi hanya kira-kira saja
kurang atau lebih dari angka yang tertera. Maka pembacaan dipstick dengan Urine
Analyzerlebih dianjurkan untuk memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara
visual.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel urine
ini yaitu, memberitahu pasien bahwa sebelum mulai menampung urine, pasien perlu

11
membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus
memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung specimen. Kadang-kadang
diperlukan kateterisasi untuk memperoleh spesimen yang tidak tercemar
Meskipun urine yang diambil secara acak (random) atau urine sewaktu cukup
bagus untuk pemeriksaan, namun urine pertama pagi hari adalah yang paling bagus.
Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga
unsure-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan.
Gunakan wadah yang bersih untuk menampung spesimen urin. Hindari sinar
matahari langsung pada waktu menangani spesimen urin. Jangan gunakan urin yang
mengandung antiseptik.
Lakukan pemeriksaan dalam waktu satu jam setelah buang air kecil.
Penundaan pemeriksaan terhadap spesimen urine harus dihindari karena dapat
mengurangi validitas hasil. Analisis harus dilakukan selambat-lambatnya 4 jam
setelah pengambilan spesimen.
Didalam urin normal harusnya tidak di temukan urobilin. Urobilin dalam urin
bisa muncul di karenakan oxidasi dari urobilinogen dari situlah jodium sebagai
larutan lugol ditambahkan untuk menjalankan oxidasi tersebut.
Faktor yang Dapat Mempengaruhi HasilPemeriksaan:
1. Reaksi positif palsu
a. Pengaruh obat : fenazopiridin (Pyridium), sulfonamide, fenotiazin,
asetazolamid (Diamox), kaskara, metenamin mandelat (Mandelamine),
prokain, natrium bikarbonat, pemakaian pengawet formaldehid.
b. Makanan kaya karbohidrat dapat meninggikan kadar urobilinogen, oleh
karena itu pemeriksaan urobilinogen dianjurkan dilakukan 4 jam setelah
makan.
c. Urine yang bersifat basa kuat dapat meningkatkan kadar urobilinogen; urine
yang dibiarkan setengah jam atau lebih lama akan menjadi basa.
2. Reaksi negatif palsu
a. Pemberian antibiotika oral atau obat lain (ammonium klorida, vitamin C)
yang mempengaruhi flora usus yang menyebabkan urobilinogen tidak atau
kurang terbentuk dalam usus, sehingga ekskresi dalam urine juga berkurang.
b. Paparan sinar matahari langsung dapat mengoksidasi urobilinogen menjadi
urobilin.
c. Urine yang bersifat asam kuat.

12
Setelah melakukan analisa menggunakan alat urine analyzer sampel yang
diperiksa oleh kelompok 4 mendapatkan hasil kadar urobilinogen sebagai berikut:

1. Pemeriksaan I : +1 (positif 1)33µmo l/L


2. Pemeriksaan II : +1 (positif 1) 66µmo l/L
3. Pemeriksaan III : +1 (positif 1) 33µmo l/L

Setelah melakukan pemeriksaan sebanyak 3 kali percobaan pada sampel urin


yang sama, maka sampel digunakan pada praktimun ini dinyatakan positif 1
mengandung urobilinogen

13
X. KESIMPULAN

Setelah melakukan pemeriksaan urobilinogen dengan menggunakan alat urine


analyzer dengan spesimen urin sewaktu, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ;
1. Pemeriksaan Urobilinogen merupakan pemeriksaan khusus pada pemeriksaan
urin dan nilai secara semikuantitatif
2. Setelah melakukan pemeriksaan sebanyak 3 kali di dapatkan hasil dari sampel
urin sewaktu yang diperiksa kelompok 1 mengandung positif 1 (+1)
urobilinogen
3. Pemeriksaan urobilinogen harus menggunakan sampel urin yang segar karena
jika uobilinogen yang terlalu lama terkena udara dan terkena sinar matahari
maka akan dioksidasi menjadi urobilin dan beresiko salah terhadap hasil
pemeriksaan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Shiffter, Zeith. 2013. Laporan praktikum analisis urine. Online. Tersedia:


http://laporanakhirpraktikum.blogspot.com/2013/06/das.html
[Diakses pada tanggal 10 November 2018

Rahmawati, Dwi. 2016. Contoh laporan praktikum urine pemeriksaan urobilinogen.


Online. Tersedia: http://dwirahma340.blogspot.com/2016/12/blog-post.html
[Diakses pada tanggal 10 November 2018]

ATLM. 2017. Pemeriksaan Urobilinogen Cara Wallace dan Diamond. Online.


Tersedia : http://www.atlm-edu.id/2017/02/pemeriksaan-urobilinogen-cara-
wallace.html
[Diakses pada tanggal 10 November 2018]

http://laporanakhirpraktikum.blogspot.com/2013/06/das.html

15
Kendari,10 November 2018

INSTRUKTUR PRAKTIKAN

BINTANG, SKM.,M.M FANY ROSDIANTI

16