Anda di halaman 1dari 4

Tatalaksana

Tatalaksana suportif dan tatalaksana gejala adalah tatalaksana utama untuk bronkitis akut. Peran
antibiotik terbatas. Sejak 2005, The National Committee for Quality Assurance merekomendasikan
untuk menghindari peresepan antibiotik pada bronkitis akut sebagai sebuah efektifitas data dan
informasi pada pelayanan kesehatan. Semua panduan utama dari bronkitis termasuk dari American
College of Chesct Physcians merekomendasikan menentang penggunaan antibiotik untuk bronkitis
akut kecuali pasien sudah terkena pertusis. The American Academy of Pediatrics merekomendasikan
antibiotik tidak digunakan untuk penyakit saluran nafas yang diakibatkan oleh virus termasuk
sinusitis, faringitis dan bronkitis. Walaupun sudah direkomendasikan, antibiotik masih sering
diresepkan untuk bronkitis akut.

Pengobatan

Obat yang dijual bebas sering direkomendasikan sebagai pengobatan pertama pada batuk yang
masih bersifat akut. Bagaimanapun a cockrane review tentang obat yang dijual bebas untuk batuk
pada komunitas yang sudah dipilih menunjukkan hasil yang baik.; percobaan yang telah ada
menunjukkan kualitas yang rendah dan hasil laporan yang masih diperbedatkan.

Percobaan kontrol secara acak yang membandingkan dengan obat plasebo menunjukkan tidak ada
keuntungan dari penggunaan ibuptofen dalam menurunkan keparahan atau lama batuk pada
bpasien bronkitis akut. Percobaan kontrol secara acak lainnya membandingkan ibuprofen,
acetaminophen dan terapi inhalasi menunjukkan bahwa infeksi saluran nafas bawah pada usia
kurang dari 16 tahun mempunyai reaksi yang baik dalam pengurangan gejala dengan menggunakan
ibuprofen daripada acetaminophen walaupun golongan ibuprofen masih mencari lagi pengobatan
yang lebih baru atau gejala yang tidak sembuh.

Antihistamin sering dikombinasikan dengan dekongestan pada pengobatan batuk akut. Dua
percobaan terhadap penggunaan antihistamin saja tidak menunjukkan ada keuntungan
dibandingkan dengan obat plasebo dalam meredakan gejala batuk. Kombinasi dekongestan/
antihistamin lebih memiliki efek samping dengan ditunjukkan tidak adanya perbaikan dari gejala
batuk. Pada tahun 2008, The U.S. Food and Drug Administration memperingatkan untuk tidak
menggunakan obat batuk yang dijual bebas yang mengandung antihistamin dan antitusif pada anak
kecil karena beresiko tinggi membahayakan anak dan pengobatan ini tidak lagi dapat digunakan
untuk anak berusia kurang dari 4 tahun. Penelitian mengenai keamanan obat ini terus dilakukan
untuk anak berusia lebih dari 11 tahun.

Antitusif

Antitusif bekerja dengan cara mengurangi refleks batuk dan dapat dibagi menjadi opioid yang
bekerja sentral dan bekerja perifer. Kodein adalah obat yang bekerja secara sentral, opioid
merupakan opioid lemah yang menekan batuk. Dua penelitian menujukkan tidak ada manfaat
kodein dalam mengurangi gejala batuk/ The American College of Chest Phsysicians tidak
merekomendasikan penggunaannya untuk pengobatan infeksi saluran nafas atas.

Dekstrometorphan adalah obat golongan nonopiod, turunan sintetik dari morfin yang bekerja
sentral untuk mengurangi batuk. Telah dilakukan tiga penelitian dengan menggunakan kontrol
plasebo yang menunjukkan dekstromethorpan 30mg dapat mengurangi batuk sebanyak 19-36%
dibandingkan plasebo, sama dengan 8 hingga 10 kali batuk lebih sedikit dalam 30 menit .

Benzonate adalah antitusif yang bekerja perifer dianggap menekan batuk dengan cara anastesi pada
resptor regang pernafasan. Suatu penelitian membedakan benzonate, guaifenesin dan plasebo
menunjukkan perbaikan yang signifikan dengan pemebrian kombinasi benzonate dan guaifenesin
tapi tidak dengan penggunaan terpisah.

Ekspektoran

Guaifenesin umumnya digunakan sebagai ekspektoran. Dianggap menstimulasi sekresi saluran


pernafasan yang akan meningkatkan volume cairan saluran nafas dan mengencerkan dahak. Obat ini
juga memiliki efek antitusif.

Review oleh Cochrane mengenai tiga penelitian guaifenesin vs plasebo menunjukkan manfaat. Pada
suatu penelitian dilaporkan guaifenesin mengurangi frekuensi dan intensitas batuk hingga 75%
dalam 72 jam dibandingkan 31% pada kelompok permberian plasebo. Penelitian kedua
menunjukkan pengurangan frekuensi batuk (100% kelompok guaifenesin dibandingkan 94%
kelompok plasebo, p=95) dan mengurangi keparahan batuk (100% kelompok guaifenesin
dibandingkan 91% kelompok plasebo, p=2) dalam 36 jam, dan menurunkan ketebalan sputum ( 96%
pada kelompok guaifenesin dibandingkan 54% kelompok plasebo, p=0,001). Penelitian ketiga
menggunakan formula guaifenesin lepas lambat memperbaiki keparahan gejala pada hari ke empat
tanpa perbedaan dengan hari ke tujuh.

Beta 2 Agonis

Banyak pasien dengan bronkitis akut memiliki hiperaktivitas bronkial yang berujung pada gangguan
aliran udarapada mekanisme yang mirip seperti asma. Pada tahun 2015, review oleh Cochrane tidak
menganjurkan penggunaan beta 2 agonis pada batuk akut. Dua penelitian yang melibatkan anak-
anak menunjukkan tidak ada manfaat pemberian albuterol dalam mengurangi skor batuk harian,
proporsi batuk harian, durasi median batuk, namun kedua penelitian mengeksklusi 2 anak dengan
mengi pada saat penelitian atau memiliki gejala obstruksi pernafasan. Penelitian pada orang dewasa
menujukkan hasil beragam. Namun hasil penelitian menganjurkan penggunaan beta 2 agonis harus
dihindari 2 jika tidak ada penyakit yang mendasari sebelumnya atau temuan mengi atau obstruksi
jalan nafas. Namun demikian, beta 2 agonis mungkin bermanfaat pada orang dewasa khususnya
pada orang dengan mengi saat penelitian yang tidak memiliki diagnosis asma ataupun Penyakit Paru
Obstruktif Kronik (PPOK) sebelumnya. Karena ada keterbatasan bukti, penggunaan oobat ini harus
menimbang efek samping seperti tremor, pusing dan perasaan berdebar.

Herbal dan preparat lain

Pengobatan alternatif umumnya digunakan untuk tatalaksana bronkitis akut. Pelargonium sidoides
telah dilaporkan memiliki efek, namun kualitas bukti masih rendah dan penelitian semuanya
dilakukan di Ukraina dan Rusia. Terdapat keterbatasan data yang merekomendasikan yang
menentang penggunaan obat herbal Cina untuk pengobatan bronkitis akut dan juga ada
pertimbangan keamanan.
Review oleh Cochrane tentang madu untuk batuk akut pada anak-anak melibatkan dua penelitian
yang membandingkan madu dengan dekstrometorphan, Diphenydramine (Benadryl), dan dengan
tidak ada pemberian. Madu menunjukkan hasil yang lebih baik daripada tanpa diberi pengobatan
dalam mengurangi frekuensi dan keparahan batuk, dengan berkurangnya batuk meningkatkan
kualitas tidur. Peringatan pemberian antitusif pada anak kecil telah diberikan, madu adalah alternatif
yang layak untuk mengurangi batuk akut pada anak usia lebih dari 1 tahun.

Antibiotik

Setidaknya 90% episode bronkitis akut disebabkan oleh virus, namun antibiotik masih sering
diresepkan. Peresepan antibiotik yang tidak perlu menyebabkan efek samping dan berkontribusi
dalam meningkatkan harga pengobatan dan resistensi antibiotik. Penelitian terbaru mengenai tren
pemberian antibiotik dari tahun 1996-2010 menujukkan bahwa antibiotik diresepkan pada 71%
kunjungan dengan bronkitis akut dan angka pemberian terus meningkat tiap tahunnya. Walaupun
klinisi sering merespkan antibiotik pada sputum kuning atau hijau, indikasi ini bukan menentukan
infeksi bakteri. Perokok sering diresepkan antibiotik, pada beberapa populasi perokok diberikan
antibiotik >90% kasus tanpa perbedaaan hasil yang bermakna.

Review oleh Cochrane menyarankan tidak ada manfaat pemberian antibiotik pada bronkitis akut
begiti juga pada individu yang sehat. Walaupun antibiotik mengurangi durasi batuk hingga 0.46 hari,
mengurangi durasi sakit hingga 0.64 hari dan mengurangi keterbatasan aktivitas hingga 0.49 hari,
tidak ada perbedaan perbaikan klinis saat follow up. Efek samping yang paling sering dilaporkan
adalah mual, diare, sakit kepala, kulit kemerahan dan vaginitis. Perbaikan gejala yang minimal pada
penggunaan antibitik termasuk pada kondisi yang sembuh sendiri, meningkatkan efek samping dan
resistensi antibiotik sehingga bijaksana untuk membatasi penggunaan antibitotik pada populasi
umum, penelitian lanjutan pada orang lanjut usia dan orang dengan penyakit komorbiditas multipel
dibutuhkan. Jika ditegakkan pertusis atau dicurigai karena batuk yang persisten disertai batuk
paroxysmal/ batuk menggonggong dan muntah setelah batuk atau pajanan terhadap pertusis
sebelumnya, pemberian makrolide direkomendasikan.

Startegi untuk Mengurangi Penggunaan Antibiotik yang Tidak Rasional

Peresepan yang ditunda, dimana pasien yang diresepkan antibiotik saat berobat namun tidak
disarankan untuk menggunakan hingga gejala berlanjut diluar jangka waktu yang telah ditentukan,
mengurangi kebutuhan antibiotik secara signifikan. Review oleh Cochrane menujukkan tidak ada
perbedaan klinis antara pasien bronkitis akut yang diobati segera dengan antibiotik dibandingkan
pasien yang ditunda atau tanpa pemberian antibiotik. Selain itu, pasien melaporkan perbedaan
kepuasan jika diberikan segera dibandingkan pemberian ditunda (92% dibandingkan 87%).

Pasien yang memiliki harapan bahwa dia akan menerima antibiotik cenderung menerima antibiotik
setidaknya sekali, walaupun klinisi berpendapat pemberian itu tidak perlu. Fakta menunjukkan
penentu terkuat peresepan antibiotik adalah presepsi klinisi terhadap keinginan pasien untuk
diberikan antibiotik. Bagaimanapun, pasien ingin gejala membaik tanpa peresepan antibiotik jika
klinisi memberikan pertimbangannnya, menujukkan kepedulian pada pasien, mendiskusikan
kemungkinan perjalanan penyakit dan menjelaskan rencana pengobatan. Menganggap bahwa
infeksi dapat sembuh dan mengedukasi tentang kemungkinan perjalanan penyakit 2-3 minggu
sangat bermanfaat.
Tabel 2.

Startegi untuk Mengurangi Penggunaan Antibiotik yang Tidak Rasional

- Menggunakan strategi peresepan tertunda, seperti meminta pasien menelpon untuk


mengambil antibiotik atau menunda peresepan antibiotik selama waktu tertentu.
- Menganggap pertimbangan pasien dengan sikap kepedulian
- Menerangkan kemungkingan perjalanan penyakit dan durasi batuk 2-3 minggu
- Menjelaskan bahwa antibiotik tidak mengurangi durasi penyakit secara signifikan dan
berhubungan dengan efek samping serta resistensi antibiotik
- Mendiskusikan rencana pengobatan, termasuk penggunaan pengobatan nonantibiotik untuk
mengontrol gejala
- Menjelaskan infeksi disebabkan oleh virus