Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sambungan kayu adalah sambungan yang mengikat dua atau lebih papan kayu secara bersamaan
dengan menggunakan alat sambung mekanik, seperti paku, baut, konektor, atau menggunakan alat
sambung berupa perekat struktural. Kekuatan sambungan tergantung pada kekuatan komponen
penyusunnya yaitu kayu yang disambung dan alat sambungnya.

Pemilihan baut dan mur sebagai alat pengikat dalam industri transportasi, misalnya pacta
kapallaut, mobil ataupun pesawat terbang, harus dilakukan secara cermat dan seksama untuk
mendapatkan mutu atau kekuatan baut yang sesuai dengan konstruksi yang akan disambung. Pemilihan
ini tentunya hams dilandasi dengan pengujian dan penelitian agar didapatkan basil yang optimal. Akan
tetapi teknik penyambungan dengan baut walaupun telah melalui pengujian dan penelitian, penurunan
kekuatan tetap saja terjadi pacta bagian yangdisambung temtama pada daerah lubang dan bagian ulir dari
baut, hal ini disebabkan karena ulir baut mempakan bentuk takikan yang dapat memperlemah konstruksi.
Selain itu dalam pembuatan baut, cacat mikro jarang terdeteksi walaupun telah menggunakan alat uji.

Baja struktur adalah suatu jenis baja yang berdasarkan pertimbangan kekuatan dan sifatnya,
cocok sebagai pemikul beban. Baja struktur banyak yang dipakai untuk kolom dan balok pada bangunan
bertingkat, sistem penyangga atap, hanggar, jembatan, menara, antena, penahan tanah, pondasi tiang
pancang, serta berbagai konstruksi sipil lainnya.

I.2 Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam eksperimen yaitu untuk mengetahui :

1. Bagaimana pengaruh pemberian gaya normal pada sambungan kayu meranti dengan alat
penyambung
2. paku dan baut serta berapa besar beban ultimate yang dapat dipikul pada masing – masing tipe
alat sambung tersebut. 2. Bagaimana jika kedua alat sambung dikombinasi, antara baut dan paku.
Apakah mengalami perkuatan atau perlemahan jika dibandingkan dengan sambungan kayu
dengan penyambung paku dan penyambung baut.
3. Berapa kisaran nilai faktor keamanan untuk menaikkan kekuatan sambungan kombinasi jika
ternyata mengalami perlemahan dibandingkan terhadap kayu tanpa sambungan, dengan
sambungan paku dan dengan sambungan baut serta mendapatkan efektifitas masing – masing
sambungan.
4. Bagaimana bentuk grafik hubungan beban dan deformasi dari keempat sampel penelitian.

I.3 Tujuan

Tujuan dari tugas akhir ini adalah :


1. Untuk mengamati perubahan yang terjadi pada alat sambung setelah mendapat beban normal
tekan sejajar serat ultimate.
2. Untuk mengetahui pengaruh pemberian gaya normal tekan sejajar serat terhadap keempat
sampel terutama untuk kombinasi paku dan baut apakah mengalami perlemahan atau
perkuatan sampai pada beban ultimate.
3. Mencari kisaran nilai factor keamanan untuk kekuatan sambungan kombinasi dibandingkan
dengan kekuatan tiga sampel pengujian yang lain.
4. Mengetahui nilai efektifitas sambungan dengan paku, sambungan dengan baut dan
sambungan dengan kombinasi alat sambung.
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SAMBUNGAN
Sambungan adalah………

2.1 SAMBUNGAN BAUT


Baut adalah alat sambung dengan batang bulat dan berulir, salah satu ujungnya dibentuk kepala
baut ( umumnya bentuk kepala segi enam ) dan ujung lainnya dipasang mur/pengunci. Dalam pemakaian
di lapangan, baut dapat digunakan untuk membuat konstruksi sambungan tetap, sambungan bergerak,
maupun sambungan sementara yang dapat dibongkar/dilepas kembali. Bentuk uliran batang baut untuk
baja bangunan pada umumnya ulir segi tiga (ulir tajam) sesuai fungsinya yaitu sebagai baut pengikat.
Sedangkan bentuk ulir segi empat (ulir tumpul) umumnya untuk baut-baut penggerak \ atau pemindah
tenaga misalnya dongkrak atau alat-alat permesinan yang lain, Baut untuk konstruksi baja bangunan
dibedakan 2 jenis :

• Baut Hitam

Yaitu baut dari baja lunak ( St-34 ) banyak dipakai untuk konstruksi ringan / sedang misalnya bangunan
gedung, diameter lubang dan diameter batang baut memiliki \ kelonggaran 1 mm.

• Baut Pass

Yaitu baut dari baja mutu tinggi ( St-42 ) dipakai untuk konstruksi berat atau beban bertukar seperti
jembatan jalan raya, diameter lubang dan diameter batang baut relatif pass yaitu kelonggaran 0,1 mm.

o Macam-macam ukuran diameter baut untuk konstruksi baja antara lain

Ǿ7/16” ( d = 11,11 mm )

Ǿ1/2” ( d = 12,70 mm )

Ǿ5/8” ( d = 15,87 mm )

Ǿ3/4” ( d = 19,05 mm )

Ǿ7/8” ( d = 22,22 mm )

Ǿ1” ( d = 25,40 mm )
Ǿ11/8” ( d = 28,57 mm )

Ǿ11/4” ( d = 31,75 mm )

Bentuk baut untuk baja bangunan yang umum dipakai adalah dengan bentuk kepala/mur segi enam
sebagai berikut :

Gambar : 2.1

Keterangan : Ring pada pemasangan baut-mur berfungsi agar bila mur dikencangkan dengan keras tidak
mudah dol/londot.

Keuntungan sambungan menggunakan baut antara lain :

1) Lebih mudah dalam pemasangan/penyetelan konstruksi di lapangan.

2) Konstruksi sambungan dapat dibongkar-pasang.

3) Dapat dipakai untuk menyambung dengan jumlah tebal baja > 4d (tidak seperti paku keling dibatasi
maksimum 4d ).

4) Dengan menggunakan jenis Baut Pass maka dapat digunakan untuk konstruksi berat /jembatan.
Berbagai jenis baut yang umum terdapat di pasaran adalah sebagai berikut :

1. Carriage bolts

atau juga disebut plow bolts banyak digunakan pada kayu. Bagian kepala carriage bolts berbentuk
kubah dan pada bagian leher baut berbentuk empat persegi. Pada saat baut dikencangkan, konstruksi leher
baut yang berbentuk empat persegi tersebut akan menekan masuk ke dalam kayu sehingga menghasilkan
ikatan yang sangat kuat. Carriage bolts dibuat dari berbagai bahan logam dan terdapat berbagai ukuran
yang memungkinkan penggunaannya dalam berbagai pekerjaan.

2. Flange bolts

Gambar : 2.2

merupakan jenis baut yang pada bagian bawah kepala bautnya terdapat bubungan (flens). Flens
yang terdapat pada bagian bawah kepala baut didesain untuk memberikan kekuatan baut seperti halnya
bila menggunakan washer. Dengan kelebihannya tersebut maka penggunaan flange bolts akan
memudahkan mempercepat selesainya pekerjaan.

3. Hex bolts
Gambar : 2.3

merupakan baut yang sangat umum digunakan pada pekerjaan konstruksi maupun perbaikan. Ciri
umum dari hex bolts adalah bagian kepala baut berbentuk segi enam (hexagonal). Hex bolts dibuat dari
berbagai jenis bahan, dan setiap bahan memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda. Cara terbaik
yang dapat dilakukan dalam memilih hex bolts yang akan digunakan adalah dengan memilih bahan hex
bolts disesuaikan dengan persyaratan-persyaratan teknis dari konstruksi yang akan dikerjakan. Beberapa
bahan yang digunakan untuk hex bolts diantaranya : stainless steel, carbon steel, dan alloy steel yang
disepuh cadmium atau zinc untuk mencegah karat.

4. Lag bolts

merupakan baut dengan ujung baut berbentuk lancip, menyerupai konstruksi sekrup. Lag bolts
kebanyakan digunakan pada pekerjaan konstruksi lapangan.

5. Shoulder bolts

merupakan baut yang pada umumnya digunakan sebagai sumbu putar. Konstruksi shoulder bolts
memungkinkan digunakan pada sambungan maupun aplikasi yang
dapat bergerak, bergeser, bahkan berputar. Shoulder bolts dapat digunakan pada berbagai komponen yang
terbuat dari logam, kayu, dan bahan-bahan lainnya. Dikarenakan sering digunakan sebagai sumbu
tumpuan, maka shoulder bolts dibuat dari bahan logam yang memiliki ketahanan terhadap gesekan.

B. Mur

Mur biasanya terbuat dari baja lunak, meskipun untuk keperluan khusus dapat juga digunakan
beberapa logam atau paduan logam lain.Jenis mur yang umum digunakan adalah :

1. Mur segi enam (hexagonal plain nut) Digunakan pada semua industri,

2. Mur segi empat (square nut) Digunakan pada industri berat dan pada pembuatan bodi kereta ataupun
pesawat.
3. Mur dengan mahkota atau dengan slot pengunci (castellated nut & slotted nut), merupakan jenis mur
yang dilengkapi dengan mekanisme penguncian. Tujuannya adalah mengunci posisi mur agar tidak
berubah sehingga mur tetap kencang.

4. Mur pengunci (lock nut), merupakan mur yang ukurannya lebih tipis dibandingkan mur pada
umumnya. Mur pengunci biasanya dipasangkan di bawah mur utama, berfungsi sebagai pengunci posisi
mur utama

Bentuk mur adalah sebagai berikut

Gambar : 2.4

2.2 SAMBUNGAN PAKU


Paku adalah suatu alat sambung yang bebahan besi, macam macam paku :

1. PAKU KELING

Paku keling adalah suatu alat sambung konstruksi baja yang terbuat dari batang baja
berpenampang bulat Paku keling biasanya digunakan untuk sambungan bangunan baja jembatan
dll. Bagian utama paku keling adalah :
1.Kepala
2.Badan
3.Ekor
4.Kepala lepas
Bahan paku keling

Yang biasa digunakan antara lain adalah baja, brass, aluminium, dan tembaga tergantung jenis
sambungan/ beban yang diterima oleh sambungan.
Penggunaan umum bidang mesin : ductile (low carbor), steel, wrought iron.
Penggunaan khusus : weight, corrosion, or material constraints apply copper (+alloys) aluminium
(+alloys), monel, dll

 PENGGUNAAN PAKU KELING


Pemakaian paku keling ini digunakan untuk :
 Sambungan kuat dan rapat, pada konstruksi boiler ( boiler, tangki dan pipa-pipa tekanan tinggi ).
 Sambungan kuat, pada konstruksi baja (bangunan, jembatan dan crane ).
 Sambungan rapat, pada tabung dan tangki ( tabung pendek, cerobong, pipa-pipa tekanan).
 Sambungan pengikat, untuk penutup chasis ( misalnya ; pesawat terbang, kapal).
 KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN
a.Keuntungan
Sambungan paku keling ini dibandingkan dengan sambungan las mempunyai keuntungan yaitu :
 Bahwa tidak ada perubahan struktur dari logam disambung. Oleh karena itu banyak dipakai pada
pembebanan-pembebanan dinamis.
 Sambungan keling lebih sederhana dan murah untuk dibuat.
 Pemeriksaannya lebih mudah
 Sambungan keling dapat dibuka dengan memotong kepala dari paku keling tersebut
b.Kelemahan
Hanya satu kelemahan bahwa ada pekerjaan mula berupa pengeboran lubang paku kelingnya di
samping kemungkinan terjadi karat di sekeliling lubang tadi selama paku keling dipasang.
Adapun pemasangan paku keling bisa dilakukan dengan tenaga manusia, tenaga mesin dan bisa
dengan peledak (dinamit) khususnya untuk jenis-jenis yang besar.
Paku keling dalam ukuran yang kecil dapat digunakan untuk menyambung dua komponen yang
tidak membutuhkan kekuatan yang besar, misalnya peralatan rumah tangga, furnitur, alat-alat
elektronika, dll

2. Paku biasa

Paku ini biasanya banyak digunakan untuk penyambungan kayu.


 Kelebihan paku biasa adalah :
a. Harga terjangkau
b. Mudah digunakan
c. Mudah didapat
 Kekurangan paku biasa adalah:
a. Mudah bengkok
b. Mudah berkarat

Gambar : 2.5

Paku kayu dan triplek ada bermacam-macam ukuran panjang


yaitu12cm,10cm,7cm,5cm,4cm,3cm,21/2cm dan 2cm.Paku beton memiliki ukuran yang sama dengan
paku kayu bedanya jika paku kayu terbuat dari besi yang mudah bengkok sedangkan paku beton terbuat
dari baja yang tidak bisa bengkok tapi bisa patah jika tidak kuat menembus bahan yang akan dipaku dan
biasanya digunaka untuk memaku beton,tembok atau kayu yang sangat keras. Paku asbes dan seng
berukuran panjan 7cm dan 5cm.Paku asbes dan seng disebut juga paku payung karena memiliki ciri khas
kepalanya lebar seperti payung yang berguna supaya tidak mudah lepas dari bahan yang dipaku sedangkn
paku GRC berukuran sekitar 21/2cm dan memiliki ciri khas kepalanya agak lebar pipih dan tipis yang
berguna supaya tidak mudah lepas dan bahan yang dipaku tidak mudah retak.
Nama
Ukuran Kegunaan Harga perkilogram
Barang

Paku Digunakan untuk memaku kayu balok ukuran


12cm Rp.18.000
Kayu 6X12

Paku Digunakan untuk memaku kayu balok ukuran


10cm Rp.18.000
Kayu 5X10

Paku
7cm Digunakan untuk memaku kayu kaso ukuran 5X7 Rp.18.000
Kayu

Digunakan untuk memaku kayu papan ukuran


Paku
5cm 3X20,papan ukuran 3X30 dan kayu reng ukuran Rp.18.000
Kayu
3X4

Digunakan untuk memaku kayu papan ukuran


Paku
4cm 2X20 papan cor dan kayu reng ukuran 2X3 Rp.20.000
Kayu
maupun reng bamboo

Paku
3cm Digunakan untuk memaku triplek berukuran tebal Rp.20.000
Kayu

Paku Digunakan untuk memaku triplek berukuran


21/2cm Rp.24.000
Kayu sedang

Paku
2cm Digunakan untuk memaku triplek berukuran tipis Rp.24.000
Kayu

Paku
7cm Digunakan untuk memaku asbes gelombang Rp.30.000
Payung

Paku Digunakan untuk memaku seng gelombang dan


5cm Rp.30.000
Payung seng talang maupun karpet talang

Paku 21/2cm Digunakan untuk memaku papan semen dan Rp.18.000/bungkus isi
GRC eternity 4 ons

3. Paku payung
paku yg kepalanya pipih bundar seperti payung dipakai untuk melekatkan hiasan dinding, atap seng dan
lain sebagainya.
Berikut bentuk paku paying:

Gambar : 2.6
4. Paku beton
Paku yang dipakai untuk dinding, beton, dan sejenis tembok lain nya.
Berikut bentuk paku beton:

Gambar : 2.7

2.3 SAMBUNGAN PASAK


Pada struktur rangka batang seperti rangka batang kuda-kuda, rangka kanopi, rangka jembatan
dan sebagainya, perencanaan sambungan pada titik buhul atau titik kumpul menjadi hal yang harus
diperhatikan.
Titik kumpul merupakan titik pertemuan antara batang-batang struktur rangka. Pada tumpuan,
titik kumpul juga berfungsi sebagai penerus beban-beban dari struktur rangkan ke tumpuan.
Pertemuan antar batang-batang ini, disamping dapat diwujudkan dalam bentuk pertemuan langsung
antar batang dengan menggunakan alat penyambung atau alat pengencang, dapat juga melalui transisi
pelat penyambung atau pelat buhul dengan tetap menggunakan alat penyambung.
Alat penyambung yang digunakan tergantung pada jenis dan material struktur rangka batang yang
digunakan. Struktur rangka batang dari baja umumnya digunakan alat penyambung berupa paku
keling, baut, las dan klem. Sedangkan pada batang kayu dan bambu digunakan alat penyambung
paku, baut, tali, pasak, dan klem. Pemakaian alat penyambung tentunya disesuaikan dengan
kebutuhan dan fungsi dari struktur rangka yang akan dibanun. Masing-masing alat penyambung
mempunya spesifikasi dan kelebihan serta kekurangan masing-masing. Yang terpenting adalah pada
saat memilih dan melakukan perhitungan perencanaan harus benar-benar disesuai dengan kriteria-
kriteria yang telah ditentukan.
Pada struktur rangka batang berbahan kayu, dari sisi efisiensi sambungan, penggunaan alat
sambung pasak ternyata mempunya nilai efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan paku dan baut.
Pasak 60%, paku 50% dan baut 30%. Bahkan beberapa mebel-mebel juga banyak menggunakan alat
sambung berupa pasak ini.
Pasak sudah lama dikenal alat sambung pada konstruksi kayu. Alat sambung pasak berupa kayu
atau bambu yang dibentuk sesuai dengan ukuran lubang pada ujung-ujung batang kayu yang akan
disambung. Lubang pada kayu biasanya berupa tampang persegi atau lingkaran. Umumnya berbentuk
lingkaran, karena kemudahan dalam pembuatan lubang dengan menggunakan bor (tangan atau
mesin). Kekuatan pasak sangat bergantung pada kekuatan bahan pasaknya dalam menahan gaya geser
dan lentur akibat gaya-gaya yang berkerja pada masing-maing batang yang disambung.
Umumnya pasak terbuat dari kayu yang ulet atau bambu yang mempunyai ketahanan geser dan
lentur yang cukup tinggi. Disamping itu karena kesesuaian karakteristik bahan dengan material kayu
yang disambung menyebabkan sambungan akan lebih optimal apabila terjadi perubahan suhu dan
kelembaban. Bahkan pada saat kelembaban meningkat, sifat fisik dan mekanik pasak juga ikut
meningkat. Penggunaan pasak berbahan kayu mempunyai manfaat yaitu konsumsi energi yang
rendah dan aman terhadap kondensasi dibanding berbahan logam
Karena ketersediaan kayu dan keras mulai terbatas, maka saat ini mulai dikembangkan pabrikasi
pembuatan pasak-pasak praktis dari bahan bambu. Pabrikasi pasak bambu ini dibuat dengan membuat
pasak bambu laminasi yakni pembuatan pasak tidak langsung dari batang bambu yang dibentuk
bulat/persegi, melainkan batang bambu yang sudah dibuat vinir (lembaran tipis tebal kurang lebih 3
mm). Bambu yang digunakan umumnya bambu betung dan sembilang. Vinir-vinir tersebut kemudian
dilekatkan dengan ketebalan sesuai diameter/tebal pasak yang akan dibuat. Pelekatan
menggunakan perekat jenis polyurethane (PU) dengan berat labur 280 g/m2 menggunakan kempa
dingin.
Setelah pengeringan selama 24 jam, lapisan vinir tersebut disusun dengan sejajar arah serat
dengan susunan zigzag seperti pada pemasangan batu bata sebanyak 4 lapis untuk pasak 10 mm dan 6
lapis untuk pasak 15 mm. Setelah masa pengeringan ± 1 minggu, papan laminasi dipotong-potong
sejajar serat dengan lebar ± 15 - 18 mm yang selanjutnya dilakukan pembubutan sesuai diameter yang
diinginkan.
Hasil pengujian yang telah dilakukan, untuk pasak bambu diameter 10 mm diperoleh kuat geser
sebesar 307,048 kg/cm2 dan kuat lentur sebesar 117,67 kg/cm2. Sehingga layak untuk dijadikan
sebagai pasak pada sambungan konstruksi kayu/bamboo. Berikut adalah bentuk pasak yang sering
digunakan:

2.4 SAMBUNGAN LEM


Ditinjau dari jenisnya, bahan perekat terdapat dua jenis, yaitu bahan perekat (lem) yang
berbasis air; dan bahan perekat (lem) yang berbasis hardener. Pada pekerjaan laminating atau
laminasi, bahan-bahan perekat di atas bisa diterapkan sangat kondisional sekali. Artinya, bahwa
bahan-bahan perekat tersebut bergantung pada beberapa hal, yaitu bahan/kayu apa yang akan
dilaminasi; di mana akan digunakan; dan seberapa besar kekuatan yang harus dipikul oleh kayu.
Sebagai contoh pekerjaan laminasi untuk pembuatan bahan dasar Gitar dari kayu Aghatis yang
akan dieksport ke Eropa/Amerika. Maka hal ini tidak akan berhasil jika menggunakan bahan
perekat (lem) berbasis air. Mengapa demikian? Berdasarkan teori perekatan bahwa perekatan
ternyata memainkan peranan yang penting di dalam teknologi, mulai dari merekat mainan anak-
anak, alat-alat rumah tangga, mebel, dan konstruksi kayu hingga alat-alat transportasi supersonik.
Pembagian bahan perekat dibagi menjadi beberapa bagian secara utama terdiri dari bahan perekat
alami dan bahan perekat sintetis. Bahan perekat alami berasal dari hewani, tumbuhan, dan
mineral.
 Beberapa bahan perekat yang berasal dari hewani adalah Albumen, Casein, Shellac, Lilin
lebah dan Kak (Animal Glue).
 Beberapa bahan perekat yang berasal dari tumbuhan adalah Damar Alam, Arabic Gum,
Protein, Starch, Dextrin, dan Karet Alam.
 Beberapa bahan perekat yang berasal dari mineral adalah Silicate, Magnesia, Litharge,
Bitemen, dan Asphalt.

Bahan pereket sintetis berasal dari Elastomer, Thermoplastic, dan Thermosetting.


 Beberapa bahan perekat yang berasal dari Elastomer adalah Poly Chloropene, Poly Urethane,
Silicon Rubber, Polisoprene, Poly Sulphide, dan Butyl Rubber.
 Beberapa bahan perekat yang berasal dari Thermoplastic adalah Ethyl Cellulose, Poly Vinyl
Acetate, Poly Vinyl Aalcohol, Poly Vinyl Chloride, Poly Acrylate, dan Hotmelt.
 Beberapa bahan perekat yang berasal dari Thermosetting adalah Urea Formaldehyde, Epoxy
Polyamide, dan Phenol Formaldehyde.

A. Animal Glue

Gambar : 2.8
Secara umum jenis lem mini dikenal lem Kak. Bahan ini dibuat dari collagen (suatu
protein kulit binatang, tulang-tulang dan daging penyambung tulang). Keistimewaan dari
bahan ini adalah dapat larut dalam air panas, dan pada waktu pendinginan terjadi pembekuan
seperti agar-agar (jelly), sehingga lem ini dapat menghasilkan daya rekat pertama yang cukup
kuat. Pada pengeringan selanjutnya terjadilah daya rekat yang kuat. Lem Kak ini terdapat
dipasaran dalam bentuk granulate (butir-butir), potongan-potongan dan lempengan.

B. Casein

Gambar : 2.9

Casein adalah zat protein yang terdapat dalam susu hewan (sapi) sebagai hasil samping dari
perusahaan keju. Larutan casein dalam bentuk pasta banyak digunakan pada penempelan label kertas ke
botol gelas. Keistimewaan dari lem casein ini ialah hasil penempelannya bersifat tahan terhadap
kelembaban dan juga tehan terhadap air, sehingga jika botol terendam didalam air kertas lem tidak akan
lepas artinya lem casein ini tahan terhadap air.

C. Starch dan Dextrin


Gambar : 3.1

Starch atau kanji adalah hasil dari tumbuhan, contoh yang kita jumpai ialah terbuat dari tepung
tapioka. Bahan ini sudah dikenal sejak dahulu sebagai bahan lem, ialah dengan cara memasaknya dengan
air. Dextrin adalah hasil modifokasi secara kimia dari kanji. Kedua bahan ini digunakan pada pembuatan
kantong kertas, kotak-kotak karton, dan lain-lain.

D. Poly Vinyl Acetate

Gambar : 3.2

Poly vinyl acetate atau disingkat PVAc adalah suatu resin (polymer) dari hasil polimerisasi di
mana sebagai bahan monomernya adalah vinyl acetate. Hasil dari polimerisasi ini berbentuk disperse atau
emulsi di dalam air, berwarna putih dan pasta. Poly vinyl acetate dipakai secara meluas di bidang lem
sejak tahun 1940 sebagai pengganti dari lem Kak (animal glue) di industri perkayuan. PVAc sangat sesuai
digunakan pada mesin-mesin pembungkus yang berkecepatan tinggi. Juga, PVAc digunakan pada mesin-
mesin penjilid buku, kantong kertas, pembuatan sampul, dan lain-lain. Secara kimia poly vinil acetate
mempunyai gugus-gugus atom yang aktif sehingga ia dapat mengikat bahan-bahan lain dengan cara
hydrogen bonding maupun adsorpsi secara kimia.

E. Urea Formaldehide

Gambar : 3.3

Kemajuan yang dicapai dalam hal perekatan perkayuan ialah ditemukannya bahan perekat sintetis
pada tahun pertengahan 1930. Perekat sintatis ini ialah Phenol Formaldehyde dan Urea Formaldehyde.
Disebabkan lebih murah, maka Urea Formaldehyde lebih banyak dipakai dibanding yang lainnya. Urea
Formaldehyde banyak dipakai pada pembuatan plywood. Pada pemakaiannya kadang-kadang dicampur
dengan tepung terigu untuk menjadikan hasil perekatan fleksibel. Resin dicampur dengan hardener di
dalam air kemudian ditambahkan tepung terigu sebagai pengisi dan kemudian zat katalis. Adukan ini
disebarkan ke permukaan lapisan kayu dengan rol spreader. Lapisan-lapisan kayu tipis (vinir) yang telah
dispread dengan lem urea ini kemudian disusun lapis tiga (triplek) dan dipres dengan dipanaskan dengan
steam selama 4 sampai 7 menit, dengan temperature atau suhu dari steam antara 125 derajat hingga 140
derajat Celcius.
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dalam menggunakan Alat sambung bangunan tentu kita memilih yang lebih kuat, murah dan
tahan lama. Alat sambung bangunan perlu pemantauan dari pemilik bangunan supaya bangunan lebih
tahan lama. Dan macam macam alat sambung yaitu alat sambung baut, paku, pasak, lem.

3.2 SARAN

Kita seorang ilmu teknik sipil khususnya Pendidikan Teknik Bangunan janga pernah kita
bangun suatu kontruksi bangunan dengan tanpa suatu ilmu karena itu dapat merusakkan dan
merugikan kita sendiri nantik nya.maka kita membvangun suatu bangunan itu dengan ilmu dan skil
kita sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

www.google.com