Anda di halaman 1dari 15

Tarif PPnBM

Pasal 8 ayat (1) UU PPN dan PPnBM, sebagai dasar penetapan tarif PPnBM paling rendah 10%, paling tinggi
200%. Perbedaan besaran tarif didasarkan pada Pengelompokan Barang Kena Pajak tergolong mewah, disebut
juga dengan Kelompok Barang Kena Pajak tergolong mewah. Untuk ekspor Barang Kena Pajak tergolong
mewah, dikenai pajak dengan tarif 0 %, dengan kata lain tidak dikenakan PPnBM.

Terdapat pertimbangan khusus dalam pengelompokkan Kelompok Barang Kena Pajak tergolong mewah ini,
sebagaima diatur dalam PP 12/2006:
1. Perlu adanya keseimbangan pembebanan pajak, antara konsumen yang berpenghasilan rendah dan
konsumen yang berpenghasilan tinggi.
2. Perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah.
3. Perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional.
4. Perlu untuk mengamankan penerimaan negara.

Pengelompokan tarif didasarkan pada tingkat kemampuan golongan masyarakat yang mempergunakan dan
pada nilai guna bagi masyarakat pada umumnya. Tarif yang tinggi dikenakan terhadap barang yang hanya
dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. Tarif rendah dikenakan terhadap barang yang masuk dalam
kelompok barang mewah yang dikonsumsi oleh masyarakat umum, pengelompokan dilakukan bersama-sama
dengan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi keuangan, demikian Pasal 8 ayat (3)
UU PPN dan PPnBM memberikan penjelasannya.

Ada banyak sekali jenis Barang Kena Pajak tergolong mewah dengan berbagai tingkatan tarif, baik jenis
kendaraan bermotor yang besaran tarifnya dapat dibaca dalam lampiran PMK 64/2014, maupun bukan
kendaraan bermotor. Khusus untuk bukan kendaraan bermotor, rinciannya terdapat dalam lampiran PMK
106/2015, akan saya sarikan untuk anda, pembaca setia blog ini.

1. Tarif 20%
a. Rumah dan town house dari jenis non strata title dengan luas bangunan 350 m2 atau lebih.
b. Apartemen, kondominium, town house dari jenis strata title dan sejenisnya, dengan luas bangunan 150 m2
atau lebih.
2. Tarif 40%
a. Kelompok balon udara dan balon udara yang dapat dikemudikan, pesawat udara lainnya tanpa tenaga
penggerak.
b. Kelompok peluru senjata api dan senjata api lainnya, kecuali untuk keperluan negara: peluru dan bagiannya,
tidak termasuk peluru senapan angin.
3. Tarif 50%
a. Kelompok pesawat udara selain yang tercantum dalam poin 2, kecuali untuk keperluan negara atau angkutan
udara niaga: helikopter, pesawat udara dan kendaraan udara lainnya selain helikopter.
b. Kelompok senjata api dan senjata api lainnya, kecuali untuk keperluan negara: senjata artileri, revolver,
pistol, senjata api (selain senjata artileri, revolver dan pistol) dan peralatan semacam itu yang dioperasikan
dengan penembakan bahan peledak.
4. Tarif 75%
a. Kapal pesiar, kapal ekskursi (kapal yang digunakan untuk kebutuhan bersenang-senang, piknik,
berdarmawisata) dan kendaraan air semacam itu, terutama dirancang untuk pengangkutan orang, kapal feri dari
semua jenis, kecuali untuk kepentingan negara atau angkutan umum.
b. Yacht, kecuali untuk kepentingan negara atau angkutan umum.

Dari uraian jenis barang dengan tarif 20% tersebut diatas, terdapat ketidaksingkronan mengenai luasan
bangunan sebagai angka minimal pengenaan PPnBM, padahal, dibanding yang lain, transaksinya paling jamak
terjadi di masyarakat. Di Pasal 1 ayat (2) huruf c PMK 90/2015 menyebutkan bahwa salah satu barang yang
tergolong sangat mewah adalah rumah beserta tanah dengan harga jualnya lebih dari Rp 5.000.000.000,- atau
luas bangunan lebih dari 400 m2, sedangkan di uraian tarif 20% tersebut untuk rumah dan town house dari
jenis non strata title dengan luas bangunan 350 m2 atau lebih. Dengan demikian, pengenaan PPnBM untuk
jenis hunian ini, mulainya di angka 350 m2, bukan 400 m2, karena PMK 106/2015 lebih khusus mengatur
tentang besaran tarif utuk jenis barangnya. Demikian hemat saya.

Jika membaca uraian barang dengan besaran tarif dalam PMK 106/2015, kemudian membandingkannya
dengan PMK pendahulunya, yaitu PMK 121/2013 sebagaimana diubah dengan PMK 130/2013, ada banyak
sekali jenis barang yang ditiadakan, misalnya kelompok alat rumah tangga berupa barang-barang elektronik,
kelompok alat fotografi dan sinematografi, kelompok peralatan dan perlengkapan olah raga, kelompok barang
yang terbuat dari kulit atau kulit tiruan, kelompok barang yang terbuat dari porselin atau keramik, kelompok
barang yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari batu selain batu jalan atau batu tepi jalan, juga tas
perempuan, tas eksekutif, tas kantor dan rupa tas lainnya, termasuk alas kaki dengan nilai impor atau harga jual
lebih dari Rp 5.000.000,- yang sebelumnya dikenakan tarif 40%, kelompok kaca kristal, kelompok barang
yang seluruh atau sebagiannya terbuat dari logam mulia, kelompok permadani sutra, wol, bulu hewan halus
dan jenis kelompok barang-barang lainnya. Tapi, jika kelompok barang-barang itu tidak lagi dikenakan
PPnBM, masih boleh disebut barang mewah, nggak ya ?.

RELATED POSTS

Hak Asuh Anak Pasca Perceraian

Akibat Hukum Perceraian Terhadap Anak di Bawah Umur

Subjek Reforma Agraria

Pasal 6 PMK 106/2015 adalah kunci dari ketiadaan pengenaan PPnBM atas barang-barang tersebut. Pasal ini
menyebutkan bahwa pada saat peraturan menteri ini mulai berlaku, PMK 121/2013 sebagaimana diubah
dengan PMK 130/2013, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, itu berarti memang hanya barang-barang dalam
poin 1 sampai dengan 4 sajalah yang wajib dibayarkan PPnBMnya. Dengan peniadaan beragam jenis barang-
barang itu, semestinya harga jualnya menjadi lebih murah, utamanya barang-barang yang memang dikonsumsi
oleh banyak orang, misalnya peralatan elektronik untuk rumah tangga. Namun demikian, apalah gunanya
barang mewah menjadi murah, jika tidak menyentuh kelas bawah. Jika harga kebutuhan pokok terus naik,
harga bahan bakar tak terjaga, bahkan tarif parkir bertambah secara berkala, bagaimana rakyat menjadi
sejahtera dan bahagia ?.

Penghitungan PPnBM
Kesederhanaan adalah kunci dalam setiap rumus penghitungan beban pajak yang harus dilakukan mandiri oleh
Wajib Pajak. Kesederhanaan menghasilkan kemudahan dalam penghitungan, berperan dalam menentukan
keberhasilan pencapaian target pemerintah dari sektor ini. Termasuklah PPnBM, rumusnya sederhana saja,
Tarif PPnBM dikalikan harga Dasar Pengenaan Pajak.
Komponen Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah harga jual, penggantian, nilai impor, nilai ekspor atau nilai
lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. Sedangkan besaran tarifnya, dapat
dilihat dalam empat poin diatas.
Contoh penghitungannya sebagai berikut:
Developer A dan Tuan B mengadakan transaksi jual beli rumah dengan harga jual Rp 5.000.000.000,- selain
pajak standar dalam setiap jual beli, Tuan B juga dikenakan pembayaran PPnBM dengan tarif 20%.
• Dasar Pengenaan Pajak = Rp 5.000.000.000,-
• PPnBM = Tarif PPnBM x harga Dasar Pengenaan Pajak
= 20% x 5.000.000.000,-
= Rp 1.000.000.000 ,-

Demikian rumus sederhana penghitungan PPnBM, dengan nominal yang sangat tidak sederhana. Selalu ada
harga untuk setiap kemewahan.

Berita baiknya, sejak pengelolaan pajak diserahkan kepada daerah, nilai Dasar Pengenaan Pajak berpedoman
pada nilai taksiran yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah (DISPENDA) letak Barang Kena Pajak
berada. Nilai taksiran DISPENDA ini masuk dalam kategori nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk
menghitung pajak yang terutang. Setelah berusaha dan berdoa sehingga mampu membeli rumah mewah, tugas
berikutnya adalah berdoa agar supaya nilai taksiran DISPENDA ini menjadi sedikit lebih kecil dari harga
transaksi, walau mustahil rasanya hehehehe

Pemungut PPnBM
Pada siapa kewenangan pemungutan PPnBM diberikan, diatur dalam Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (untuk selanjutnya disebut dengan UU PPh), yang
menyebutkan bahwa Menteri Keuangan dapat menetapkan:
a. Bendahara pemerintah untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang.
b. Badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari Wajib Pajak yang melakukan kegiatan di bidang impor
atau kegiatan usaha di bidang lain.
c. Wajib Pajak badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atas penjualan barang yang tergolong sangat
mewah.
Aturan pelaksana dari pasal tersebut terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) PMK 90/2015, bahwa pemungut PPnBM
adalah Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah. Wajib Pajak
Badan merupakan sekumpulan orang dan/atau modal yang berusaha, bentuknya meliputi perseroan terbatas,
perseroan komanditer dan jenis badan usaha lainnya. Sekumpulan orang yang berusaha ini, disebut dengan
Pengusaha. Pengusaha merupakan Wajib Pajak. Pengusaha sebagai Wajib Pajak yang dikenai aturan PPN,
wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP). Nah Pengusaha Kena
Pajak inilah sebagai pemungut PPnBM.

PPnBM sebagai pajak tidak langsung: dibebankan kepada kita sebagai konsumen akhir, tapi dipungut dan
disetorkan kepada negara oleh Pengusaha Kena Pajak. Pengusaha Kena Pajak menerbitkan Faktur Pajak
sebagai bukti telah dipungutnya PPnBM. Faktur Pajak adalah bukti pemungutan pajak yang dibuat oleh
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau Penyerahan Jasa Kena Pajak.
Awamnya, Faktur dapat dipersamakan sebagai kuitansi.

Per 1 Juli 2015 khusus region Jawa dan Bali, pemerintah mewajibkan semua Pengusaha Kena Pajak untuk
menerbitkan Faktur dengan e-Faktur, pada 1 Juli 2016 barulah e-Faktur diterapkan secara nasional. e-Faktur
mengusung semangat perubahan, memberikan kemudahan, keamanan, kenyamanan dan mengurangi potensi
kekeliruan penerbit Faktur, karena hanya orang pribadi dan Pengusaha Kena Pajak yang telah dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak sajalah yang berhak menerbitkan Faktur, demi memberikan perlindungan
kepada pembeli dari pemungutan pajak yang tidak semestinya.

Penerbit Faktur harus memiliki Sertifikat Elektronik yang memuat tanda tangan elektronik

serta identitas subjek pajak, dengan cara mengajukannya di KPP tempat dikukuhkannya Pengusaha Kena
Pajak, atau secara on line. Dengan Sertifikat Elektronik ini, Pengusaha Kena Pajak dapat mengajukan
permintaan nomor seri Faktur pajak melalui KPP tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan atau secara on
line melalui laman //efaktur.pajak.go.id, tentu saja dengan terlebih dahulu melakukan instalasi Sertifikat
Elektronik ke sistem operasi komputer yang akan digunakan, tahap akhir, lakukan instalasi aplikasi e-Faktur
yang dapat diunduh gratis di laman Direktorat Jenderal Pajak, lakukan registrasi dengan menggunakan kode
aktivasi, password permintaan nomor seri Faktur dan Sertifikat Elektronik, tahapan terakhir adalah penerbitan
e-Faktur. e-Faktur ini harus diserahkan kepada Konsumen pada saat:
a. Menyerahkan Barang/Jasa Kena Pajak.
b. Penerimaan pembayaran, dalam hal pembayaran dilakukan sebelum penyerahan Barang/Jasa Kena Pajak.
c. Penerimaan pembayaran termin, dalam hal penyerahan dilakukan bertahap.
d. Saat lain yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

Faktur maupun e-Faktur haruslah disimpan dengan baik, karena ada ancaman pertanggungjawaban secara
renteng jika kita sebagai pembeli atau penerima Jasa Kena Pajak tidak dapat menunjukkan bukti bahwa
PPnBM telah dibayarkan kepada Pengusaha Kena Pajak pada saat penyerahan Barang Kena Pajak dilakukan.

Saat terutangnya PPnBM


Tidak hanya rumusnya yang sederhana, saat terutangnya juga mudah saja, sesuai dengan Prinsip Akrual yang
diusung oleh PPnBM, yaitu pada saat penyerahan Barang/Jasa Kena Pajak dilakukan. Poinnya pada
penyerahan barang, walaupun pembayaran belum diterima atau belum sepenuhnya diterima oleh Pengusaha
Kena Pajak selaku penjual.

Bagaimana dengan transaksi electronic commerce yang justru sebaliknya: pembayaran dimuka, jauh hari
sebelum penyerahan barang dilakukan ?. Ya tetap tunduk pada ketentuan ini. Dasarnya di Pasal 11 ayat (2) UU
PPN dan PPnBM bahwa, “Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau
sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak atau dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan
Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak Dari Luar Daerah Pabean, saat terutangnya pajak
adalah pada saat pembayaran”. Mudah saja.

PPnBM, satu kali saja


PPnBM hanya dikenakan pada saat penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak, tidaklah
dipungut pada setiap tingkat penyerahan seperti PPN, sehingga selalu ada “tabungan” berupa Pajak Masukan
yang dapat dikreditkan. Pajak Masukan adalah PPN yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena
Pajak karena perolehan Barang/Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean. Karena tidak ada Pajak Masukan
yang sudah dibayarkan sebelumnya, maka PPnBM tidak mengenal mekanisme pengkreditan.
Prinsip pemungutan PPnBM hanya satu kali saja, pada saat penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong
mewah oleh pabrikan, produsen, pengusaha, atau ketika mengimpor Barang Kena Pajak yang tergolong
mewah. Penyerahan pada tingkat berikutnya, tidak lagi dikenai PPnBM, demikian diatur dalam Pasal 5 ayat (2)
UU PPN dan PPnBM yang menyebutkan, “Pajak Penjualan atas Barang Mewah dikenakan hanya satu kali,
pada waktu penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah oleh pengusaha yang menghasilkan atau
pada waktu impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah”. Lain halnya jika Barang Kena Pajak yang telah
dikenakan PPnBMnya pada saat mengimpor, ternyata menjadi bagian atau elemen pembentuk dari Barang
Kena Pajak lainnya, yang mana hasil dari barang tersebut diserahkan/dijual oleh produsen penghasil kepada
pembeli. Dalam konteks ini, terhadap Barang Kena Pajak tersebut, dikenakan PPnBM kembali. Oleh karena
itu, PPnBM dapat ditambahkan kedalam harga Barang Kena Pajak atau dibebankan sebagai biaya sesuai
ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan. Contohnya sebagaimana terdapat dalam Pasal 10 ayat (2) UU
PPN dan PPnBM berikut:
Pengusaha Kena Pajak A mengimpor Barang Kena Pajak dengan Nilai Impor Rp 5.000.000,- Barang Kena
Pajak tersebut, selain dikenakan PPN 10%, misalnya juga dikenakan PPnBM dengan tarif 20%. Dengan
demikian, penghitungan PPN dan PPnBM yang terutang atas impor Barang Kena Pajak tersebut adalah:
• Dasar Pengenaan Pajak = Rp 5.000.000,-
• Pajak PPN = 10% x Rp 5.000.000,-
= Rp 500.000,-
• PPnBM = Tarif PPnBM x harga Dasar Pengenaan Pajak
= 20% x 5.000.000,-
= 1.000.000,-
Kemudian Pengusaha A menggunakan Barang Kena Pajak tersebut sebagai bagian dari suatu Barang Kena
Pajak lain yang atas penyerahannya dikenakan kembali PPN 10% dan PPnBM 35%. Oleh karena PPnBM yang
telah dibayar atas Barang Kena Pajak yang diimpor tersebut tidak dapat dikreditkan, maka PPnBM sebesar Rp
1.000.000,- dapat ditambahkan kedalam harga Barang Kena Pajak yang telah dihasilkan oleh Pengusaha Kena
Pajak A, atau dibebankan sebagai biaya.

Kemudian, Pengusaha Kena Pajak A menjual Barang Kena Pajak yang dihasilkannya kepada Pengusaha Kena
Pajak B, dengan Harga Jual Rp 50.000.000,- Maka penghitungan PPN dan PPnBMnya menjadi:
• Dasar Pengenaan Pajak = Rp 50.000.000,-
• Pajak PPN = 10% x Rp 50.000.000,-
= Rp 5.000.000,-
• PPnBM = Tarif PPnBM x harga Dasar Pengenaan Pajak
= 35% x 50.000.000,-
= Rp 17.500.000,-

Dalam contoh ini, Pengusaha Kena Pajak A dapat mengkreditkan PPN sebesar Rp 500.000,- diatas terhadap
PPN sebesar Rp 5.000.000,- Sedangkan PPnBM sebesar Rp 1.000.000,- sebelumnya, tidak dapat dikreditkan,
baik terhadap PPN Rp 5.000.00,- maupun dengan PPnBM Rp 17.500.000,-

Pengenaan PPnBM atas impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah, tidak memperhatikan siapa yang
mengimpor, serta tidak memperhatikan apakah impor tersebut dilakukan secara terus menerus atau hanya
sekali saja. Konsepnya adalah, setiap penyerahan oleh Pengusaha Kena Pajak atau setiap mengimpor, bayarlah
pajaknya.

Beda urusannya jika Pengusaha Kena Pajak mengekspor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah, ia dapat
meminta kembali PPnBM yang telah dibayar pada waktu perolehan Barang Kena Pajak tersebut, demikian
Pasal 10 ayat (3) UU PPN dan PPnBM mengaturnya. Dalam penjelasannya menyebutkan, Pengusaha Kena
Pajak yang telah membayar PPnBM pada saat perolehan Barang Kena Pajak tergolong mewah, sepanjang
PPnBMnya belum dibebankan sebagai biaya, Pengusaha Kena Pajak berhak meminta kembali PPnBM yang
telah ia bayarkan, dengan catatan, ia tidak mengkonsumsi barang tersebut, melainkan langsung
mengekspornya.
Contoh:
Pengusaha Kena Pajak A membeli mobil dari Agen Tunggal Pemegang Merk seharga Rp 100.000.000,- Ia
membayar PPN sebesar Rp 10.000.000,- dan PPnBM Rp 35.000.000,- Apabila mobil tersebut kemudian
diekspornya, maka Pengusaha Kena Pajak A berhak untuk meminta kembali PPN dan PPnBM yang telah ia
bayarkan pada saat pembelian mobil tersebut.

Meminta kembali apa yang telah dibayarkan karena diekspor atau dengan kata lain tarif 0% atas ekspor Barang
Kena Pajak tergolong mewah ini dapat dilakukan karena Barang Kena Pajak tersebut tidak dikonsumsi di
dalam Daerah Pabean, sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (2) UU PPN dan PPnBM.
Penyerahan Barang Kena Pajak berupa barang berwujud, yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa
barang bergerak atau barang tidak bergerak, dan barang tidak berwujud (Pasal 1 angka 2 UU PPN dan
PPnBM). Menurut Pasal 1 A ayat (1) UU PPN dan PPnBM, kegiatan penyerahan ini, berupa:
a. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian, meliputi jual beli, tukar menukar, jual beli
dengan angsuran, atau perjanjian lain yang mengakibatkan penyerahan hak atas barang;
b. Pengalihan Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian sewa beli dan/atau perjanjian sewa guna usaha
(leasing) dengan hak opsi;
c. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang;
d. Pemakaian sendiri dan/atau pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak;
e. Barang Kena Pajak berupa persedian dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan;
f. penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan Barang Kena
Pajak antar cabang;
g. penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi; dan
h. penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak dalam rangka perjanjian pembiayaan yang
dilakukan berdasarkan prinsip syariah, yang penyerahannya dianggap langsung dari Pengusaha Kena Pajak
kepada pihak yang membutuhkan Barang Kena Pajak.

Dan yang tidak termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak, dalam ayat (2) adalah:
a. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar, sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Dagang;
b. Penyerahan Barang Kena Pajak untuk jaminan utang piutang;
c. Penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf f, dalam hal Pengusaha Kena
Pajak melakukan pemusatan tempat pajak terutang;
d. Pengalihan Barang Kena Pajak dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan dan
pengambilalihan usaha, dengan syarat, pihak yang melakukan pengalihan dan yang menerima pengalihan
adalah Pengusaha Kena Pajak; dan
e. Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih
tersisa pada saat pembubaran perusahaan, dan yang Pajak Masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan c (b. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kegiatan usaha. c. perolehan dan pemeliharaan
kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon, kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan).

Insentif bagi pemegang paspor luar negeri


Kunjungan Warga Negara Asing kesuatu negara, menghasilkan devisa bagi negara tersebut, menambah pundi-
pundi kekayaan negara, utamanya dari sektor pariwisata: wisata belanja, wisata kuliner, wisata religi, wisata
apa saja, yang penting ada orang asingnya. Di Indonesia, sektor pariwisata selalu masuk unggulan tiga besar
penyumbang devisa negara, apesnya ya lima besar, tak pernah keluar dari itu. Kelangenggan ini musti dijaga,
salah satunya dengan memberikan insentif khusus, berupa pengembalian PPN dan PPnBM atau Tax Refund
yang sudah dibayar atas pembelian Barang Kena Pajak di Indonesia, yang kemudian dibawa pulang untuk
dikonsumsi di negaranya, dengan syarat dan ketentuan berlaku. Mengkonsumsi Barang Kena Pajak diluar
Daerah Pabean inilah yang menjadi dasar pengembalian PPN dan PPnBM yang sudah dibayarkan. Merujuk
pada UU PPN dan PPnBM, Warga Negara Asing diistilahkan dengan Orang Pribadi Pemegang Paspor Luar
Negeri.

Pemberian insentif berdasar pada Pasal 16 E UU PPN dan PPnBM dengan peraturan pelaksananya adalah
PMK Nomor 100/PMK.03/2013 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
76/PMK.03/2010 Tentang Tata Cara Pengajuan Dan Penyelesian Permintaan Kembali Pajak Pertambahan
Nilai Barang Bawaan Orang Pribadi Pemegang Paspor Luar Negeri (untuk selanjutnya disebut dengan PMK
100/2013), yang cukup menggelitik peraturan pelaksana hanya mengatur tentang PPN, sama sekali tidak ada
menyebut PPnBM. Syarat dan ketentuannya, sebagai berikut:
a. hanya untuk Orang Pribadi Pemegang Paspor Luar Negeri yang berada di Indonesia tidak lebih dari dua
bulan dan bukan kru pesawat.
b. belanja Barang Kena Pajak di Toko Retail yang sudah ditunjuk dan dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak Toko Retail oleh Direktorat Jenderal Pajak.
c. nominal PPN paling sedikit Rp 500.000,- sampai dengan Rp 5.000.000,- pengembalian tunai dengan mata
uang rupiah, jika lebih, pengembalian dilakukan melalui transfer ke rekening yang bersangkutan dan bebas
memilih mata uang yang diinginkan.
d. pembelian Barang Kena Pajak dilakukan dalam jangka waktu satu bulan sebelum keberangkatan ke luar
Indonesia.
e. pada saat pegajuan pengembalian, harus menunjukkan barang yang dibeli.
f. Faktur Pajak Khusus lengkap memuat data pembeli, jenis barang, harga jual, potongan harga, PPN dan
PPnBM yang dipungut, kode, nomor seri, tanggal pembuatan Faktur serta terdapat nama dan tanda tangan
yang berhak menandatangani Faktur. Kolom NPWP dan alamat pembeli, diisi dengan nomor paspor dan
alamat lengkap di negara asalnya.

Tanggal dalam Faktur menjadi sangat penting, sebagai penentu masih terpenuhinya jangka satu bulan
pembelian Barang Kena Pajak sebelum Orang Pribadi Pemegang Paspor Luar Negeri meninggalkan Indonesia,
jika terlewat, maka PPN dan PPnBM tidak dapat dimintakan kembali. Permohonan pengembalian disampaikan
kepada Direktorat Jenderal Pajak, melalui Kantor Direktorat Jenderal Pajak di bandar udara internasional yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dengan menunjukkan paspor, pas naik pesawat (boarding pass), barang
yang dibeli dan Faktur Pajak Khusus. Bandar udara internasional tersebut adalah Soekarno-Hatta di
Tanggerang, Ngurah Rai di Bali, Adisutjipto di Yogyakarta, Juanda di Surabaya dan Kuala Namu di Medan.

Insentif perpajakan sudah diberikan, tugas kita sebagai rakyat bersama-sama pemerintah adalah menjaga alam
Indonesia, berkreasi, menggali potensi negeri, menciptakan rasa aman, mencipta peluang, memperkaya
khasanah budaya, melanggengkan rindu kembali ke nusantara, kerinduan yang menghasilkan devisa.

Pada akhirnya, Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah instrumen yang diciptakan negara untuk
memberikan porsi lebih besar lagi kepada pencinta barang mewah, yang terus bertumbuh dan berkembang
subur dinegeri ini, untuk lebih berperan serta dalam pengembangan pembangunan negara Indonesia,
mewujudkan cita-cita besar nan mulia para pendiri bangsa: kesejahteraan yang sebesar-besarnya bagi segenap
rakyat Indonesia, melalui pajak, karena #PajakMilikBersama.

Elfira Dwi Yanti, S.H., M.Kn.


Pustaka
Mardiasmo, “Perpajakan, Edisi Revisi”, Yogyakarta, CV. Andi, 2013
Kementrian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak, Kanwil DJP Jakarta Timur, KPP
Pratama Jakarta, Cakung Dua, “Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak”, Mei, 2013

Dasar Hukum
Undang-Undang Dasar tahun 1945
Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah, dengan beberapa kali perubahan, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42
Tahun 2009 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
Peraturan Pemerintah Nomor 145 Tahun 2000 Tentang Kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah
Yang Dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2006 tentang Perubahan Ketujuh Atas Peraturan Pemeritah
Nomor 145 Tahun 2000 Tentang Kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Yang Dikenakan
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 64/PMK.011/2014, tentang Jenis Kendaraan Bermotor Yang Dikenai
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Dan Tata Cara Pemberian Pembebasan Dari Pengenaan Pajak Penjualan
Atas Barang Mewah
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 121/PMK.011/2013, tentang Jenis Barang Kena Pajak Yang Tergolong
Mewah Selain Kendaraan Bermotor Yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, sebagaimana diubah
dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.011/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 121/PMK.011/2013, tentang Jenis Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Selain
Kendaraan Bermotor Yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah terakhir diubah dengan PMK Nomor
106/PMK.010/2015 Tentang Jenis Barang Yang Tergolong Mewah Selain Kendaran Bermotor Yang Dikenai
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 253/PMK.03/2008 tentang Wajib Pajak Badan Tertentu Sebagai
Pemungut Pajak Penghasilan Dari Pembeli Atas Penjualan Barang Yang Tergolong Sangat Mewah,
sebagaimana diubah dengan PMK Nomor: 90/PMK.03/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 253/PMK.03/2008 tentang Wajib Pajak Badan Tertentu Sebagai Pemungut Pajak
Penghasilan Dari Pembeli Atas Penjualan Barang Yang Tergolong Sangat Mewah
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 100/PMK.03/2013 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 76/PMK.03/2010 Tentang Tata Cara Pengajuan Dan Penyelesian Permintaan Kembali Pajak
Pertambahan Nilai Barang Bawaan Orang Pribadi Pemegang Paspor Luar Negeri

Internet
http://www.sjdih.depkeu.go.id

http://www.bppk.kemenkeu.go.id
Jual belijual beli kapalpajakpajak barang mewahPPNBm

1,858

Share

Mudahnya Memahami Syariah

Pemerintah memberlakukan Pajak Penjualan atas Barang Mewah terhadap Barang Kena
Pajak yang tergolong mewah selain kendaraan bermotor.

Regulasi ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 121/PMK.011/2013
yang ditandatangani oleh Menteri Keuangan M. Chatib Basri pada 26 Agustus lalu.

Seperti dikutip dari Sekretariat Kabinet, Selasa (3/9/2013), terdapat sejumlah barang
mewah selain kendaraan bermotor yang dikenaikan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
(PPnBM) itu antara lain:

1. Lemari pendingin-pembeku, dari tipe rumah tangga dengan kapasitas di atas 180
liter dengan nilai impor atau harga jual di atas Rp 10 juta per unit;
2. Pemanas air instan atau pemanas air dengan tempat penyimpanan, bukan listrik,
dengan nilai impor atau harga jual di atas Rp 5 juta;
3. Mesin cuci, termasuk yang dapat digunakan untuk mencuci dan mengeringkan
pakaian dengan nilai impor atau harga jual di atas Rp 5 juta per unit;
4. Perlengkapan memancing dengan nilai impor atau harga jual Rp 2,5 juta atau lebih
per unit;
5. Mesin pengatur suhu udara (AC) dengan kapasitas pendingin di atas 1 PK dengan 2
PK dengan nilai impor atau harga jual di atas Rp 8 juta per unit.
6. Kamera digital dan kamera vidoa, selain yang dipergunakan untuk usaha penyiaran
radio atau televisi dengan nilai impor atau harga jual di atas Rp 10 juta;
7. Kamera fotografi (selain kamera sinematografi) dengan harga jual atau nilai pabean
ditambah bea masuk di atas Rp 10 juta;
8. Tungku, kompor, alat masal dan peralatan rumah tangga tanpa listri dengan nilai
impor atau harga jual di atas Rp 5 juta;
9. Rumah dan town house dengan luas bangunan 350 m2 atau lebih;
10. Apartemen, kondominium dengan luas bangunan 150 m2 atau lebih;
11. Parfum dan cairan pewangi yang siap dijual eceran dengan nilai impor atau harga
jual Rp 20.000 per ml;
12. Pakaian selam dan kacamata pelindung selam.
13. Ada juga karpet dan penutup lantai tekstil lainnya, sudah jadi, dari wool atau sutera,
selain dari jenis yang dipergunakan untuk alas sembahyang; arloji tangan, arloji
saku dan arloji lainnya dengan nilai impor atau harga jual Rp 40 juta/unit;
14. Kopor, tas perempuan, tas eksekutif, tas kantor, tas sekolah dengan nilai impor atau
harga jual di atas Rp 5 juta;
15. Pakaian, aksesori pakaian dan barang lainnya dari kulit berbulu dengan nilai impor
atau harga jual Rp 6 juta atau lebih per stel; dan lain-lain.

Pasal 2 PMK ini menyebutkan, untuk jenis Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah
dalam kategori kelompok alat rumah tangga, kelompok peralatan dan perlengkapan
olahraga; kelompok mesin pengatur suhu udara; kelompok alat perekam atau reproduksi
gambar, pesawat penerima siaran radio; dan kelompok alat fotografi, alat sinematografi,
dan perlengkapannya dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar
10%.

Untuk kelompok alat rumah tangga, pesawat pendingan, pesawat pemanas di luar
ketentuan di atas dalam pasal 3 PMK Nomor 121 ini dikenakan PPnBM 20%.

Adapun untuk kelompok kapal atau kendaraan lainnya, sampan dan kano; kelompok
peralatan dan perlengkapan golf dan ski air; kelompok barang kaca dari kristal yang
digunakan untuk meja, dapur, rias, kantor, dekorasi; dan kelompok barang yang sebagian
atau seluruhnya terbuat dari logam mulia atau dari logam yang dilapisi logam mulia atau
campuran keduanya sesuai Pasal 3 PMK ini dikenakan PPnBM sebesar 30%.

Sedang untuk kelompok barang yang terbuat dari kulit atau kulit tiruan seperti tas
perempuan, ikat pinggang, karpet/permadani; barang lainnya atau sebagian atau
seluruhnya terbuat dari emas atau platina; perahu motor untuk pelesir atau olahraga; dan
lain-lain dikenakan PPnBM sebesar 40%.
Adapun kelompok permadani yang terbuat daru bulu hewan halus, helikopter, pesawat
udara dan kendaraan udara lainnya; dan kelompok peralatan golf sesuai pasal 5 PMK ini
dikenakan PPnBM sebesar 50%

Terakhir, kelompok barang-barang yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari batu mulia
dan/atau mutiara atau campuran dari padanya, termasuk kapal pesiar mewah
dan yachtdikenakan PPnBM sebesar 75%.

“Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi pasal 9 PMK yang
diundangkan pada 26 Agustus 2013 itu. (Ndw)