Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Menular seksual (PMS) merupakan penyakit yang cara penularannya
melalui hubungan kelamin. Penyakit menular seksual adalah berbagai infeksi yang dapat
menular dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan seksual. Penyakit menular
seksual sering dikenal masyarakat luas dengan sebutan penyakit kelamin dan gejala yang
timbul kebanyakan di sekitar alat kelamin (Ida Ayu,2009).
Menurut penelitian lebih lanjut dijumpai bahwa semakin bertambah penyakit yang
timbul akibat hubungan seksual. Dari sudut epidemiologi ternyata penyakit menular
seksual berkembang sangat cepat berkaitan dengan pertambahan dan terjadinya migrasi
penduduk, bertambahnya kemakmuran, serta terjadi perubahan perilaku seksual yang
semakin bebas tanpa batas. Terdapat berbagai jenis penyakit menular seksual. Namun,
yang paling umum dan paling penting untuk diperhatikan adalah penyakit gonore,
klamidia, herpes kelamin, sifilis, hepatitis B, dan HIV/AIDS (Ida Ayu,2009).
Di era modern ini, penyakit menular seksual masih tetap merupakan masalah
kesehatan masyarakat, baik ditinjau dari segi kesehatan, politik maupun sosial ekonomi.
Dalam dekade terakhir ini, telah terjadi peningkatan kejadian penyakit menular seksual
dibanyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Pada tahun 1995, WHO memperkirakan
lebih dari 330 juta penderita penyakit menular seksual berobat setiap tahunnya dan setiap
hari terjadi sekitar 1 juta infeksi penyakit menular seksual. Kelompok remaja dan dewasa
muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk
tertular penyakit menular seksual (Suharjo,2008).
Selisih yang terlihat pada angka-angka penyakit untuk penyakit menular seksual
memperlihatkan perbedaan yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Angka insidensi
sifilis dan gonorrhea pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Di Indonesia,
penyakit ini telah mulai menjalar dengan perkembangan penularan yang cukup cepat.
Perubahan perilaku seksual menyebabkan timbulnya berbagai masalah yang berkaitan
dengan penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak dikehendaki. Masalah
terakhir ini mempunyai dampak yang lebih luas baik biologis, psikologis, sosial,
spiritual, dan etika (Ida Ayu,2009).
Penyakit menular seksual dapat menimbulkan infeksi akut (mendadak) yang
memerlukan penaganan yang tepat karena dapat menjalar ke alat genitalia bagian dalam

1
(atas) dan menimbulkan penyakit radang panggul. Pengobatan yang kurang memuaskan
menyebabkan penyakit menjadi menahun (kronis) yang mengakibatkan rusaknya fungsi
alat genitalia. Hampir seluruh penyakit menular seksual dapat disembuhkan kecuali
beberapa penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus seperti herpes,
HIV/AIDS, hepatitis B, dan kutil kelamin. Namun, beberapa penyakit menular seksual
yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi resisten terhadap berbagai anti-biotika
generasi lama. Penyakit menular seksual yang tidak diobati secara dini dapat berlanjut
pada berbagai kondisi yang cukup serius (Ida Ayu,2009).
Mengingat besarnya permasalahan penyakit menular seksual dan bahaya
komplikasi yang ditimbulkannya, maka pengetahuan mengenai penyakit ini dan upaya-
upaya pencegahannya penting untuk diketahui oleh masyarakat. Peran sebagai seorang
perawat dalam mengatasi Penyakit Menular Seksual (PMS) diatas ialah memberikan
asuhan keperawatan dengan intervensi yang sesuai terhadap respon yang terjadi pada
pasien yang memgalami penyakit menular seksual serta melakukan kolaborasi dengan
dokter ataupun tenaga medis lain dalam memberikan perawatan yang tepat.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan
melakukan peran sebagai perawat dalam pencegahan dan penanganan masalah
Penyakit Menular Seksual (PMS)
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi Penyakit Menular Seksual (PMS)
2. Mengetahui etiologi Penyakit Menular Seksual (PMS)
3. Mengetahui cara penularan Penyakit Menular Seksual (PMS)
4. Mengetahui manifestasi klinis Penyakit Menular Seksual (PMS)
5. Mengetahui upaya pengendalian dan pencegahan Penyakit Menular Seksual
(PMS)
6. Mengetahui jenis-jenis Penyakit Menular Seksual (PMS)
7. Mengetahui penyakit HIV/AIDS
8. Mengetahui asuhan keperawatan HIV/AIDS

2
1.3 Manfaat
Dapat mengetahui dan menjelaskan apa yang dimaksud Penyakit Menular Seksual
(PMS), cara menanganinya dan asuhan keperawatannya. Serta dapat menerapkannya di
lingkungan rumah sakit maupun masyarakat sebagai upaya pensegahan penyakit.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisiologi Alat Kelamin Pria


2.1.1 Alat Kelamin Internal
Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan
kelenjar asesoris.
a. Testis
Testis adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia. Testis
berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis dibungkus oleh skrotum, kantong
kulit di bawah perut. Pada manusia, testis terletak di luar tubuh, dihubungkan
dengan tubulus spermatikus dan terletak di dalam skrotum. Ini sesuai dengan
fakta bahwa prosesspermatogenesis pada mamalia akan lebih efisien dengan
suhu lebih rendah darisuhu tubuh (< 37°C).
Pada tubulus spermatikus terdapat otot kremaster yang apabila
berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ke tubuh. Bila suhu testis akan
diturunkan, otot kremaster akan berelaksasi dan testis akan menjauhi tubuh.
Fenomena ini dikenal dengan refleks kremaster.
Selama masa pubertas, testis berkembang untuk memulai
spermatogenesis. Ukuran testis bergantung pada produksi sperma (banyaknya
spermatogenesis), cairan intersisial, dan produksi cairan dari sel Sertoli.
Pada umumnya, kedua testis tidak sama besar. Dapat saja salah satu
terletak lebih rendah dari yang lainnya. Hal ini diakibatkan perbedaan struktur
anatomis pembuluh darah pada testis kiri dan kanan. Testis berperan
pada sistem reproduksi dan sistem endokrin. Fungsi testis:
memproduksi sperma (spermatozoa), memproduksi hormon seks pria
seperti testosteron.
Kerja testis di bawah pengawasan hormon gonadotropik dari kelenjar
pituitari bagian anterior luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating
hormone (FSH). Testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika
albuginea. Di dalam testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus
seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau
tengah berkembang.

4
Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk diejakulasikan), akan
bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen, dan epididimis. Bila
mendapat rangsangan seksual, spermatozoa dan cairannya (semua disebut air
mani) akan dikeluarkan ke luar tubuh melalui vas deferen dan akhirnya, penis.
Di antara tubulus seminiferus terdapat sel khusus yang disebut sel intersisial
Leydig. Sel Leydig memproduksi hormon testosteron. Pengangkatan testis
disebut orchidektomi atau kastrasi.
b. Saluran reproduksi
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari
epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.
1) Epididimis (tempat pematangan sperma)
Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar
dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri.
Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai
sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens
2) Vas deferens (saluran sperma dari testis ke kantong sperma)
Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus
yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas deferens
tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar
prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari
epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).
3) Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung
semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar
masuk ke dalam uretra.
4) Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis.
Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen
dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.
c. Kelenjar kelamin
Kumpulan kelenjar aksesoris terdiri dari vesikula seminalis, prostate, dan
kelenjar bulbouretralis. Sebelum ejakulasi, kelenjar tersebut mensekresikan
mucus bening yang menetralkan setiap urine asam yang masih tersisa dalam
uretra.

5
Sel-sel sperma dapat bergerak dan mungkin aktif mengadakan
metabolisme setelah mengadakan kontak dengan plasma semen. Plasma semen
mempunyai dua fungsi utama yaitu: berfungsi sebagai media pelarut dan
sebagai pengaktif bagi sperma yang mula-mula tidak dapat bergerak serta
melengkapi sel-sel dengan substrat yang kaya akan elektrolit (natrium dan
kalium klorida), nitrogen, asam sitrat, fruktosa, asam askorbat, inositol,
fosfatase sera ergonin, dan sedikit vitamin-vitamin serta enzim-enzim. Kelenjar
aksesoris terdiri dari:
1) Vesikula seminalis (tempat penampungan sperma)
Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan
kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding
vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber
makanan bagi sperma.
Vesikula seminalis menyumbangkan sekitar 60 % total volume semen.
Cairan tersebut mengandung mukus, gula fruktosa (yang menyediakan
sebagian besar energi yang digunakan oleh sperma), enzim pengkoagulasi,
asam askorbat, dan prostaglandin.
2) Kelenjar prostat (penghasil cairan basa untuk melindungi sperma)
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian
bawah kantung kemih. Kelenjar prostat adalah kelenjar pensekresi terbesar.
Cairan prostat bersifat encer dan seperti susu, mengandung enzim
antikoagulan, sitrat (nutrient bagi sperma), sedikit asam, kolesterol, garam
dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.
3) Kelenjar bulbouretra / cowper (penghasil lendir untuk melumasi saluran
sperma)
Kelenjar bulbouretralis adalah sepasang kelenjar kecil yang terletak
disepanjang uretra, dibawah prostat. Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra)
merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar
Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

2.1.2 Alat kelamin luar


a. Penis
Penis (dari bahasa Latin yang artinya “ekor”, akar katanya sama
dengan phallus, yang berarti sama) adalah alat kelamin jantan. Penis

6
merupakan organ eksternal, karena berada di luar ruang tubuh. Pada manusia,
penis terdiri atas tiga bangunan silinder berisi jaringan spons. Dua rongga yang
terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi
berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang
membungkus uretra. Ujung penis disebut dengan glan penis. Uretra pada penis
dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung
pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu rangsangan,
rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan
mengembang (ereksi).
Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan sisa
metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi. Penis
sejati dimiliki oleh mamalia. Reptilia tidak memiliki penis sejati karena hanya
berupa tonjolan kecil serta tidak tampak dari luar, sehingga disebut
sebagai hemipenis (setengah penis).

Gambar 2.1 Struktur penis


b. Skrotum
Skrotum adalah kantung (terdiri dari kulit dan otot) yang membungkus testis
atau buah zakar. Skrotum terletak di antara penis dan anus serta di
depan perineum. Pada wanita, bagian ini serupa dengan labia mayora. Skrotum
berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum
kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot
polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga
dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot
yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster.
Pada skrotum manusia dan beberapa mamalia bisa terdapat rambut pubis. Rambut
pubis mulai tumbuh sejak masa pubertas.

7
Fungsi utama skrotum adalah untuk memberikan kepada testis suatu
lingkungan yang memiliki suhu 1-8oC lebih dingin dibandingkan temperature
rongga tubuh. Fungsi ini dapat terlaksana disebabkan adanya pengaturan oleh
sistem otot rangkap yang menarik testis mendekati dinding tubuh untuk memanasi
testis atau membiarkan testis menjauhi dinding tubuh agar lebih dingin.
Pada manusia, suhu testis sekitar 34°C.
Pengaturan suhu dilakukan dengan mengeratkan atau melonggarkan skrotum,
sehingga testis dapat bergerak mendekat atau menjauhi tubuh. Testis akan
diangkat mendekati tubuh pada suhu dingin dan bergerak menjauh pada suhu
panas.

Gambar 2.2 Anatomi reproduksi pria


1. Hormon Pada Pria
Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu testoteron,
LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), estrogen dan
hormon pertumbuhan.
a. Testoteron
Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus
seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk
membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk
spermatosit sekunder.
b. LH (Luteinizing Hormone)
LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi sel-
sel Leydig untuk mensekresi testoteron.

8
c. FSH (Follicle Stimulating Hormone)
FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi
menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid
menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi.
d. Estrogen
Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel
sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat
testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada
tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma.
e. Hormon Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme testis.
Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada
spermatogenesis.

2.2 Definisi Penyakit Menular Seksual


Penyakit Menular seksual (PMS) merupakan penyakit yang cara penularannya
melalui hubungan kelamin. Penyakit menular seksual adalah berbagai infeksi yang
dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan seksual. Penyakit
menular seksual sering dikenal masyarakat luas dengan sebutan penyakit kelamin dan
gejala yang timbul kebanyakan di sekitar alat kelamin (Ida Ayu,2009).
Penyakit Menular Seksual adalah infeksi apapun yang terutama didapat melalui
kontak seksual. PMS adalah istilah umum dan organisme penyebabnya, yang tinggal
dalam darah atau cairan tubuh meliputi virus, mikoplasma, bakteri, jamur, spirokaeta
dan parasit-parasit kesil. Sebagian organisme yang terlibat hanya ditemukan di saluran
genital (reproduksi) saja tetapi yang lainnya juga ditemukan di dalam organ tubuh
lain. Terdapat berbagai jenis penyakit menular seksual. Namun, yang paling umum
dan paling penting untuk diperhatikan adalah penyakit gonore, klamidia, herpes
kelamin, sifilis, hepatitis B, dan HIV/AIDS (Benson,2009).
Penyakit menular seksual merupakan suatu penyakit yang menyebar terutama
melalui kontak atau hubungan seksual, dimana salah satu pasangan menularkan suatu
organisme baik itu virus atau bakteri sebagai penyebab penyakit kepada pasangannya.
Penyakit menular seksual menyebabkan infeksi saluran reproduksi yang harus
dianggap serius. Bila tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan
menyebabkan penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan bahkan kematian.

9
2.3 Etiologi Penyakit Menular Seksual (PMS)
Akhir-akhir ini semakin banyak peningkatan dan kejadian PMS (Penyakit
Menular Seksual) di tengah masyarakat dan penyebabnya bervariasi antara lain:
a. Bakteri
Bakteri adalah jasad renik bersel tunggal yang dapat menyebabkan banyak
penyakit kelamin diantaranya gonore, sifilis, dan chlamidia. Jenis bakteri yang
menyebabkan penyakit tersebut antara lain Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia
trachomatis, Mycoplasma hominis, Treponema pallidum, Donovania
granulomatis.
b. Virus
Virus adalah penyakit yang merusak tubuh dengan cara menyerang sistem imun
tubuh yang menyebabkan banyak penyakit antara lain Herpes genitalis, Hepatitis
fulminan akut dan kronis, dan AIDS. Virus-virus yang menyebabkan penyakit
menular seksual adalah Herpes simplex virus, Hepatitis B virus, Human papiloma
virus.
c. Protozoa
Parasit ialah protozoa (hewan bersel tunggal) yang merugikan dan berkembang di
dalam tubuh yang dapat menyebabkan penyakit diantaranya vaginitis (pada
wanita)yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.

Penyebab Jenis Penyakit


1. Bakteri
a) Neisseria gonorrhoeae Penyakit Gonorea, Uretritis
b) Chlamydia trachomatis Klamidia
c) Mycoplasma hominia Uretritis
d) Treponema pallidum Siphillis
e) Donovania granulomatis Granuloma ingunale
2. Virus
a) Herpes simplex virus Herpes Genitalis
b) Hepatitis B virus Hepatitis fulminan akut dan
kronis
c) Human papiloma virus Kandiloma akuminatum

10
d) Human T Lymphotropic AIDS
3. Protozoa
a) Trichomonas vaginalis Trikomoniasis

Tabel 2.1. Penyakit Menular Seksual

2.4 Cara penularan Penyakit Menular Seksual


Sesuai dengan namanya, cara penularan penyakit menular seksual terutama
melalui kontak seksual yang tidak aman. Kontak seksual tidak hanya hubungan seksual
melalui alat kelamin. Kontak seksual juga meliputi kontak oral-genital (mulut-alat
kelamin). Selain perilaku yang beresiko, adanya faktor sosial dan faktor biologi tertentu
juga dapat mempengaruhi penyebaran penyakit menular seksual. Faktor sosial antara lain
pengetahuan yang rendah tentang perilaku seks yang aman, kesulitan memperoleh atau
tidak menyukai kondom, pandangan sosial budaya dan agama, terlambat memperoleh
pengobatan karena berbagai alasan, pemakaian antibiotika yang tidak rasional, serta
kegagalan mengajak mitra seks untuk berobat.
Beberapa faktor biologi yang meningkatkan penyebaran Penyakit Menular
Seksual (PMS) antara lain faktor umur, faktor kelamin, dan pengaruh khitan. Penularan
Penyakit Menular seksual (PMS) melalui beberapa cara antara lain:
1) Hubungan seksual
Hubungan seksual yang tidak aman merupakan jalur utama penularan
2) Penggunaan jarum suntik yang digunakan pada banyak orang dan berulang-ulang,
misalnya HIV dan hepatitis B
3) Personal hygiene yang buruk
4) Kontak fisik selama hubungan seksual, misalnya luka-luka pada alat kelamin seperti
herpes dan sifilis
5) Melalui darah atau produk darah, misalnya HIV, sifilis dan hepatitis B dapat diberikan
melalui transfusi darah
6) Menyusui dapat menularkan HIV kepada bayi (pada wanita)
7) Tindakan medis dan benda tajam
8) Ditularkan melalui kehamilan dari ibu ke bayinya seperti HIV dan sifilis.

11
Perilaku yang beresiko tertular PMS (Penyakit Menular Seksual) antara lain:
1) Sering berganti-ganti pasangan
2) Memiliki pasangan seksual lebih dari satu
3) Memiliki pasangan seksual yang tidak tetap
4) Pernah terkena penyakit menular seksual sebelumnya
5) Menusuk/ melukai kulit misalnya tattoo
6) Alkohol dan obat-obatan lainnya.

2.5 Manifestasi Klinis


Tidak semua penyakit menular seksual memiliki gejala. Kadang-kadang penyakit
menular seksual tidak menunjukkan gejala sama sekali (asymtomatic), sehingga kita
tidak tahu kalau sudah terinfeksi.beberapa penyakit menular seksual baru menunjukkan
tanda-tanda dan gejala berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun
kemudian setelah terinfeksi. Orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak menunjukkan
gejala walaupun setelah bertahun-tahun terinfeksi. Tidak seorang pun dapat menentukan
apakan seseorang terinfeksi HIV atau tidak berdasarkan penampilannya, karena orang
tersebut mungkin tampak sehat dan tetap aktif bahkan sering kali penderita sendiri tidak
sadar bahwa dia mengidap virus tersebut. Hanya tes laboratorium yang dapat
menentukan seseorang terinfeksi HIV atau tidak.
Gejala-gejala (symtomatic) Penyakit Menular Seksual (PMS) yang mungkin
muncul, antara lain sebagai berikut (Suharjo,2008):
1. Keluar cairan keputihan yang tidak normal dari penis.
2. Pada pria, rasa panas seperti terbakar atau sakit selama atau setelah kencing. Biasanya
disebabkan oleh penyakit menular seksual
3. Luka terbuka dan/atau luka basah disekitar alat kelamin atau mulut. Luka tersebut
dapat terasa sakit atau tidak
4. Tonjolan kecil-kecil (papules) di sekitar alat kelamin
5. Kemerahan disekitar alat kelamin
6. Pada pria, rasa sakit atau kemerahan pada kantung zakar
7. Adanya bercak darah setelah berhubungan seksual.

2.6 Upaya Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS)


Menurut WHO (2006), pencegahan penyakit menular seksual terdiri dari dua
bagian, yaitu pencegahan primer dan pencegahan sekunder. Pencegahan primer terdiri

12
dari penerapan perilaku seksual yang aman dan penggunaan kondom. Sedangkan
pencegahan sekunder dilakukan dengan menyediakan pengobatan dan perawatan pada
pasien yang sudah terinfeksi oleh penyakit menular seksual. Pencegahan sekunder bisa
dicapai melalui promosi perilaku pencarian pengobatan untuk infeksi menular seksual,
pengobatan yang cepat dan tepat pada pasien serta pemberian dukungan dan konseling
tentang penyakit menular seksual.
Menurut Depkes RI (2006), langkah terbaik untuk mencegah penyakit menular
seksual adalah menghindari kontak langsung dengan cara berikut :
a. Menunda kegiatan seks bagi remaja (abstinensia).
b. Menghindari bergonta-ganti pasangan seksual.
c. Memakai kondom dengan benar dan konsisten.
Selain pencegahan diatas, pencegahan penyakit menular seksual juga dapat
dilakukan dengan mencegah masuknya transfusi darah yang belum diperiksa
kebersihannya dari mikroorganisme penyebab penyakit menular seksual, berhati-hati
dalam menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan darah segar, mencegah
pemakaian alat-alat yang tembus kulit (jarum suntik, alat tindik) yang tidak steril, dan
menjaga kebersihan alat reproduksi sehingga meminimalisir penularan (Dinkes
Surabaya, 2009).

2.7 Jenis-jenis Penyakit Menular Seksual (PMS)


2.7.1 Sifilis
Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh spiroketa,
Treponema pallidum (Salvaggio, 2008). Penyakit ini dapat bersifat kongenital atau
didapat, masing-masing dibagi menjadi tahap awal (durasi <2 tahun dari infeksi)
dan lanjut (durasi >2 tahun). Penularannya melalui kontak seksual, kadang-kadang
melalui kontak intim nonseksual, jarang melalui trauma inokulasi, atau melalui
tranfusi darah dan juga melalui penularan vertikal in utero (Mandal, 2008).
a. Sifilis primer
Terjadi setelah kontak langsung dengan chancre atau lesi lain pada orang
yang terinfeksi. Lesi tersebut akan berkembang pada lokasi masuknya
Treponema pallidum ke dalam tubuh : penis, labia, perineum, anus, atau rektum
yang akan tampak setelah periode inkubasi yang berkisar dari 10 hari sampai 3
bulan setelah pajanan. Chancre sifilitik pada awalnya bermanifestasi sebagai
papul merah yang keras. Papul ini mengalami erosi menjadi ulkus yang tidak

13
nyeri dengan batas yang tegas dan halus, biasanya menetap selama 1-2 bulan.
Ulkus yang tidak nyeri sering tidak terdeteksi. Lesi tunggal pada sifilis primer
dapat mengandung treponema infeksius dan sangat menular. Kelenjar getah
bening yang regional yang terinfeksi biasanya membesar dan tidak nyeri
(Salvaggio, 2008; Heffner, 2005).
b. Sifilis sekunder
Merupakan indikasi penyakit diseminata, dan biasanya timbul 6-12 minggu
setelah infeksi. Spiroketa yang terdapat dalam darah berkumpul di dermis
seluruh tubuh dan menyebabkan bercak papul kemerahan yang menyebar luas di
batang tubuh dan ekstremitas. Karena penyakit bersifat sistemik, maka sering
dijumpai demam, mialgia, limfadenopati, sakit flu, dan sakit kepala. Sifilis
sekunder juga berhubungan dengan deposisi kompleks imun di persendian,
ginjal, dan mata yang menyebabkan artritis, glomerulonefritis, sindrom nefrotik,
dan uveitis. Sifilis sekunder yang tidak diobati menghilang dalam 4-12 minggu,
sehingga pasien bebas dari gejala. Beberapa bulan hingga tahun berikutnya
sampai timbul gejala-gejala sifilis tersier dikenal sebagai periode laten
(Salvaggio, 2008; Heffner, 2005).
c. Sifilis tersier
Sifilis tersier dapat terjadi 1-10 tahun setelah infeksi awal, biasanay tampak
beberapa tahun setelah stadium diseminata. Sifilis tersier dapat melibatkan
berbagai organ, termasuk sistem kardiovaskular dan sistem saraf. Secara
keseluruhan, sekitar seperempat pasien yang tidak diobati mengalami komplikasi
sifilis lanjut (tersier) yang dapat dikenali, seperempat pasien mengalami lesi
asimtomatik yang dapat ditunjukkan saat autopsi, dan setengah pasien tidak
memiliki lesi anatomis akibat sifilis saat autopsi. Sekitar setengah dari pasien
dengan sifilis tersier simtomatik akan meninggal sebagai akibat langsung dari
penyakit, biasanya karena komplikasi kardiovaskular (Salvaggio, 2008; Heffner,
2005).
Pada stadium awal, Treponema pallidum masuk ke dalam kulit melalui
mikrolesi atau selaput lendir yang mengalami lesi di area genitalia, biasanya
melalui senggama. Bakteri tersebut kemudian akan berkembang biak, sehingga
jaringan bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit
dan sel- sel plasma, terutama di perivaskular, pembuluh-pembuluh darah kecil
berproliferasi di kelilingi oleh Treponema pallidum dan sel-sel radang.

14
Treponema tersebut terletak di antara endotelium kapiler dan jaringan
perivaskular di sekitarnya. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan
perubahan hipertrofik endotelium yang menimbulkan obliterasi lumen
(enarteritis obliterans). Kehilangan pendarahan akan menyebabkan erosi,
pada pemeriksaan klinis tampak sebagai sifilis primer. Pada sifilis primer, kuman
telah mencapai getah bening regional, sehingga terjadilah perjalanan hematogen
dan menyebar ke tubuh.
Pada stadium lanjut, stadium laten dapat berlangsung bertahun-tahun,
dimana Treponema pallidum didapatkan dalam keadaan dorman. Pada sifilis
tersier akan timbul kelainan pada kulit atau lesi granuloma besar yang disebut
gumma, bersifat patognomonik. Gumma menggambarkan suatu respons imun
terhadap infeksi Troponema pallidum, tetapi tidak seperti lesi kutaneus pada
sifilis primer dan sekunder, lesi ini tidak mengandung Treponema hidup. Selain
timbul kelainan pada kulit, gumma dapat terjadi di dalam tulang, namun jarang
pada organ lainnya. Lesi ini dapat ikut berperan pada perjalanan patologik sifilis
tersier, karena lesi dapat mengalami ulserasi dan akhirnya membentuk parut
(Salvaggio, 2008).

Gambar 2.3 Sifilis pada alat kelamin pria

2.7.2 Gonorrhea
Gonorrhea merupakan infeksi mukosa pada epitel kolumnar yang ditularkan
melalui hubungan seksual dan disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.
Sebagian besar kasus gonore menggambarkan perluasan infeksi secara retrogad
dari uretra bagian posterior ke prostat, vesikulus seminalis dan epididimid
(Mitchell, 2009). Gonorrhea sering di kenal dengan kencing nanah, karena penis
akan mengeluarkan nanah berwarna putih kuning atau putih kehijauan. Gonorrhea
bisa menyebar melalui aliran darah kebagian tubuh lainnya, teutama kulit dan
persendian. Penyakit ini sangat mudah ditularkan dengan angka infeksi 50% pada

15
wanita dan 20% pada pria setelah sekali terpajan vagina tanpa pelindung. Angka
serangan paling tinggi pada orang berusia 15-24 tahun yang tinggal di kota,
termasuk dalam kelompok sosioekonomi rendah, tidak menikah atau homoseksual,
atau memiliki riwayat PMS terdahulu (Mandal, 2008). Penyebabnya karena virus
Neisseria gonorrhoea, yang masuk ke aliran darah dan meyebar keseluruh tubuh
yang bisa ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini juga dapat menular
dari ibu ke bayinya saat melahirkan. Manifestasi klinis yang muncul pada pria:
a. Pada awal biasanya timbul pada dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi
b. Gejala berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam
kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis
c. Penderita pria biasanya mengeluhkan sakit pada waktu kencing . dari mulut
saluran kencing keluar nanah hanya pada pagi hari, sedikit dan encer serta rasa
sakit berkurang. Bila penyakit ini tidak diobati dapat timbul komplikasi berupa
peradangan pada alat kelamin.
d. Penderita sering berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang
semakin memburuk ketika penyakit ini menyebar ke uretra bagian atas.
e. Lubang penis tampak merah dan membengkak.
Neisseria gonorrhoea, yang masuk ke aliran darah dan meyebar keseluruh
tubuh yang bisa ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini juga dapat
menular dari ibu ke bayinya saat melahirkan. Bakteri secara langsung menginfeksi
uretra, endoserviks, saluran anus, konjungtiva dan farings. Infeksi dapat meluas
dan melibatkan prostate, vas deferens, vesikula seminalis, epididimis dan testis
pada pria dan kelenjar skene, bartholini, endometrium, tuba fallopi dan ovarium
pada wanita.
Meskipun telah banyak peningkatan dalam pengetahuan tentang patogenesis
dari mikroorganisme, mekanisme molekular yang tepat tentang invasi gonokokkus
ke dalam sel host tetap belum diketahui. Ada beberapa faktor virulen yang terlibat
dalam mekanisme perlekatan, inflamasi dan invasi mukosa. Pili memainkan
peranan penting dalam patogenesis gonore. Pili meningkatkan adhesi ke sel host,
yang mungkin merupakan alasan mengapa gonokokkus yang tidak memiliki pili
kurang mampu menginfeksi manusia. Antibodi antipili memblok adhesi epithelial
dan meningkatkan kemampuan dari sel fagosit. Juga diketahui bahwa ekspresi
reseptor transferin mempunyai peranan penting dan ekspresi full-length lipo-
oligosaccharide (LOS) tampaknya perlu untuk infeksi maksimal.

16
Gambar 2.4 Penyakit kencing nanah/gonore pria

2.7.3 Klamidia
Klamidia merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri
Chlamydia trachomatis, paling sering terjadi pada pria berusia 20-24 tahun. Infeksi
ditularkan melalui hubungan seks vaginal, anal, atau oral tanpa pelindung dengan
pasangan yang terinfeksi. Perilaku berganti-ganti pasangan dapat meningkatkan
risiko. Orang yang terinfeksi seringkali asimtomatik namun tetap infeksius. Masa
inkubasi selama 1-3 minggu pada pasien yang menunjukkan gejala (Mandal,
2008).

Gambar 2.5 Penyakit Klamidia

Klamidia kerap ditemukan berkaitan dengan IMS lainnya. Genus Chlamydia


memiliki dua spesies (Heffner, 2005), yaitu
a. Chlamydia psittaci tidak menyebabkan IMS dan tidak berkaitan dengan
perawatan obstetri ginekologi (Obgin). Infeksi menyebabkan penyakit yang
menyerupai flu ringan, diderita setelah terpajan kotoran burung yang
mengandung parasit.

17
b. C. Trachomatis merupakan spesies IMS yang selanjutnya dan menyebabkan
penyakit berikut:
1. Penyakit radang panggul (PRP)
2. Uretritis nongonokukus (dan pascagonokokus)
3. Konjungtivitis kronik
4. Klamidia blenore
5. Limfagranuloma venerum
Manifestasi Klinis
a. 75 % wanita dan 25 % pria yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala.
b. Gejala berupa keputihan abnormal (Cairan vagina encer berwarna putih
kekuningan)
c. Nyeri saat kencing
d. Pada wanita dapat disertai nyeri perut bagian bawah atau nyeri saat
berhubungan seksual.
e. Pria dapat mengalami pembengkakan dan nyeri pada testis.
f. Perdarahan setelah hubungan seksual
Klamidia merupakan parasit obligat intraselular. Klamidia digolongkan
sebagai bakteri karena mengandung DNA dan RNA. Seperti protein gram negatif,
mereka memiliki protein membran luar danlipopolisakarida (LPS). Ada 18 serotipe
dari klamidia trakomatis yang teridentifikasi. Serotipe D - K merupakan penyebab
infeksi menular seksual dan infeksi neonatal. klamidia berbeda dari bakteria yamg
lain. Endositosis membuat terjadinya formasi inklusi intraselular yang terikat
membran. Kemampuan dari klamidia untuk merubah dari fase istirahat ke fase
replikasi bentuk infeksius dalam sel penjamu meningkatkan kesulitan dalam
mengeliminasi mikroba ini. Bagaimanapun banyak yang belum dapat dimengerti
mengenai mekanisme spesifik kejadian dalam membran, perlekatan, dan
endositosis, multiplikasi dari organisme dalam sel, tansformasi dari metabolik
inaktif badan retikulat (RB) ke metabolik aktif replikatif badan elementer (EB),
dan ekspresi dari antigen Klamidia yang berbeda selama siklus sel.

18
Gambar 2.6 Siklus pertumbuhan C. trachomatis

2.7.4 HIV/AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu kumpulan
gejala penyakit kerusakan sistem kekebalan tubuh; bukan penyakit bawaan
tetapi didapat dari hasil penularan. Penyakit ini disebabkan oleh Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Penyakit ini menular melalui berbagai cara,
antara lain melalui cairan tubuh seperti darah, cairan genitalia, dan ASI. Virus
juga terdapat dalam saliva, air mata, dan urin (sangat rendah). HIV tidak
dilaporkan terdapat dalam air mata dan keringat. Masa inkubasinya selama 6
bulan-5 tahun. Seseorang dengan HIV dapat bertahan sampai dengan 5 tahun.
Jika tidak diobati, maka penyakit ini akan bermanifestasi sebagai AIDS
(Widoyono, 2011).

Gambar 2.7 Penampakan fisik penderita HIV/AIDS

19
2.7.5 Kondiloma Akuminata
Kondiloma akuminata merupakan proliferasi epitelial jinak yang
disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), khususnya tipe 6 dan 11.
Penyakit ini mengenai permukaan mukokutaneus genitalia laki-laki maupun
perempuan; hubungan seksual merupakan cara penularan yang paling sering
terjadi (Mitchell, 2009). Infeksi ini paling sering timbul setelah usia pubertas
yaitu remaja, orang dewasa, dan orang dengan banyak pasangan seksual
(multiple partners) memiliki risiko tertinggi mengalami infeksi (Michael,
2008); apabila terjadi pada anak-anak prapubertas kemungkinan terjadi karena
pelecehan seksual. Lesinya bersifat jinak dan dapat timbul kembali karena
terjadinya infeksi HPV yang persisten (Mitchell, 2009).
Kondiloma akuminata merupakan proliferase epitelial jinak yang
disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), khususnya tipe 6 dan 11. Lesi
bersifat jinak, lesi tersebut dapat timbul kembali karena terjadinya infeksi HPV
yang persisten. Kondiloma akuminata atau yang umum dikenal sebagai kutil
genitalis paling sering tumbuh di permukaan tubuh yang hangat dan lembab.
Pada pria, area yang sering terkena adalah ujung dan batang penis dan di
bawah prepusium jika tidak disunat. Pada wanita, kutil timbul di vulva,
dinding vagina, leher rahim (serviks) dan kulit di sekeliling vagina. Kutil
genitalis juga bisa terjadi di daerah sekeliling anus dan rektum, terutama pada
pria homoseksual dan wanita yang melakukan hubungan seksual secara
genitoanal. Kutil biasanya muncul dalam waktu 1-6 bulan setelah terinfeksi,
dimulai sebagai pembengkakan kecil yang lembut, lembab, berwarna merah
atau pink. Mereka tumbuh dengan cepat dan bisa memiliki tangkai. Pada suatu
daerah seringkali tumbuh beberapa kutil dan permukaannya yang kasar
memberikan gambaran seperti bunga kol. Pada wanita hamil, pada gangguan
sistem kekebalan (penderita AIDS atau pengobatan dengan obat yang menekan
sistem kekebalan) dan pada orang yang kulitnya meradang, pertumbuhan kutil
ini sangat cepat.
Baik pada pasien laki-laki maupun perempuan yang mengalami
kandiloma akuminata, datang dengan lesi kulit anorektal dan atau genital,
biasanya pasien mencari perawatan bila lesi berdarah, menjadi nyeri atau
iritatif, atau secara kosmetis menjadi masalah.

20
Kandiloma akuminata adalah kandiloma genital eksternal yang
disebabkan oleh infeksi HPV (human papillomavirus). Sebanyak 80 strain
HPV telah diidentifikasi, dan 30 diantaranya menyebabkan infeksi genital.
Insidensi Kandiloma akuminata berkisar 0,5-1% pada orang dewasa muda
yang aktif secara seksual di Amerika Serikat. Kasus baru yang dilaporkan
mencapai 1 juta setiap tahun. Remaja, orang dewasa muda dan orang dengan
banyak pasangan seksual (multiple partners) memiliki resiko lebih tertinggi
mengalami infeksi. Tidak ada bukti bahwa kondom mencegah penyebaran
HPV, dan HPV dapat menyebar melalui berbagai aktivitas seksual di luar
senggama. Risiko neoplasia intraepitel servikal pada perempuan yang
terinfeksi dengan HPV meningkat. Pajanan asap rokok aktif dan pasif sangat
kuat dihubungkan dengan ekspresi HPV.
Kandiloma akuminata dapat disebabkan kontak dengan penderita yang
terinfeksi HPV. Sampai saat ini dikenal lebih dari 100 macam jenis HPV, yang
sering menyebabkan kondiloma akuminata yaitu tipe 6 dan 11. HPV ini masuk
melalui mikro lesi pada kulit, biasanya pada daerah kelamin dan melakukan
penetrasi pada kulit sehingga menyebabkan abrasi permukaan epitel. Human
Papilloma Virus adalah epiteliotropik; yang sifatnya mempunyai afinitas tinggi
pada sel-sel epitel. HPV yang masuk ke lapisan basal sel epidermis dapat
mengambil alih DNA dan mengalami replikasi yang tidak terkendali. Fase
laten virus dimulai dengan tidak adanya tanda dan gejala yang dapat
berlangsung sebulan bahkan setahun. Setelah fase laten, produksi virus DNA,
kapsid dan partikel dimulai. Lamanya inkubasi sejak pertama kali terpapar
virus sekitar 3 minggu sampai 8 bulan atau dapat lebih lama. HPV yang masuk
ke sel basal epidermis ini dapat menyebabkan nodul kemerahan di sekitar
genitalia. Penumpukan nodul merah ini membentuk gambaran seperti bunga
kol. Nodul ini bisa pecah dan terbuka sehingga terpajan mikroorganisme dan
bisa terjad penularan karena pelepasan virus bersama epitel.HPV yang masuk
ke epitel dapat menyebabkan respon radang yang merangsang pelepasan
mediator inflamasi yaitu histamin yang dapat menstimulasi saraf perifer.

21
Gambar 2.8 Kondilomata akuminata pada penis

2.7.6 Virus Hepatitis


Hepatitis adalah penyakit hati akut yang dapat disebabkan oleh beberapa
virus yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual.
a. Virus Hepatitis A (HAV) menyebabkan infeksi hati jangka pendek atau
terbatas tapi juga bisa sangat serius meskipun tidak menyebabkan infeksi
kronis. Infeksi virus Hepatitis A dapat menular melalui aktivitas seksual,
juga kontak mulut dan anus. Vaksinasi dapat mencegah HAV infection.
b. Virus Hepatitis B (HBV) menyebabkan penyakit hati serius yang dapat
mengakibatkan kerusakan hati permanen (sirosis), kanker, gagal hati, dan
kematian. HBV menyebar melalui hubungan heteroseksual maupun
homoseksual serta melalui kontak dengan cairan tubuh seperti darah.
Berbagi jarum suntik yang terkontaminasi virus, tato, dan tindik juga
dapat menularkan virus hepatitis B. Wanita hamil dengan HBV dapat
menularkan virus ke bayinya saat melahirkan. Infeksi HBV dapat dicegah
melalui vaksinasi.
c. Virus hepatitis C (HCV) dapat langsung menyebabkan penyakit hati, tapi
infeksi lebih sering terjadi secara diam-diam dan kemudian menjadi
sirosis hati, kanker, gagal hati, dan kematian. HCV ini paling sering
ditularkan melalui penggunaan jarum suntik atau kontak dengan darah
yang terinfeksi. Jenis PMS ini dapat menyebar melalui kontak seksual,
dari ibu ke janin selama kehamilan dan persalinan. Belum ada vaksin
untuk Hepatitis C, dan pengobatan HCV tidak selalu efektif.

22
Gambar 2.9 Salah satu manifestasi pada penderita hepatitis

2.7.7 Chancroid
Chancroid adalah suatu penyakit menular seksual yang disebabkan
oleh Haemophilus ducreyi, ditandai dengan ulkus genital nekrotikans. Infeksi
HIV dikaitkan dengan angka infeksi chancroid yang tinggi. Laki-laki lebih
sering mengalami chancroid daripada perempuan (Michael, 2008).
Gejala yang timbul pada Chancroid yaitu pengembangan borok
menyakitkan pada alat kelamin (penis), chancroid juga dapat menyebabkan
kelenjar getah bening di daerah pangkal paha membengkak, ulkus chancroid
Nyeri biasanya berkembang 3-10 hari setelah terinfeksi, nyeri saat buang air
kecil, nyeri saat menggerakan perut, baik pria maupun wanita bisa mengalami
demam dan kelelahan umum dengan penyakit.
Penyakit ini diawali dengan benjolan-benjolan kecil yang muncul
disekitar genetalia atau anus, 4-5 hari setelah kontak dengan penderita.
Benjolan itu akhirnya akan terbuka dan mengeluarkan cairan yang berbau
tidak sedap (Rosari, 2006). Chancroid adalah sejenis bakteri yang menyerang
kulit kelamin dan menyebabkan luka kecil bernanah. Jika luka ini pecah,
bakteri akan menjalar kearah pubik dan kelamin.

Gambar 2.10 Chancroid

23
2.7.8 Limfogranuloma Venereum (LGV)
Limfogranuloma Venereum adalah penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh chlamydia trachomatis serotipe L-1, L-2, dan L-3, terutama
menyerang sistem getah bening di daerah genetalia eksterna, rektrum dan anus
(Morocco, 2008).
Limfomagranuloma Venerum (LGC) pada awalnya berupa papul, vesikel,
atau erosi yang tidak nyeri di labia, fourchette, atau serviks pada perempuan
atau di korona, glans, atau prepusium atau intrauretra pada laki-laki. Lesi primer
tersebut dapat disertai gejala sistemik seperti demam, nyeri kepala, mual, dan
mialga atau atralgia serta biasanya sembuh dalam beberapa hari. Stadium dua
atau sindrom inguinal, paling sering terjadi pada laki-laki dan diawali dengan
terbentuknya kelenjar getah bening yang keras, terasa nyeri, dan imobile di area
drainase lesi primer kelenjar yang membesar menjadi panjang dan membentuk
suatu alur (sign of the groove) di sepanjang ligamentum poupart. Kulit diatasnya
menjadi kehitaman dan pecah-pecah, sinus yang mendrainase yang terbentuk
dapat berlangsung selama beberapa bulan. Sindrom genitoanorektal terjadi
sebagai stadium ketiga, paling sering pada perempuan dan laki-laki
homoseksual. Pasien mengalami pembesaran kelenjar getah bening perirektal
dan intestinal, sekret anal, proktokolitis, diare berdarah, nyeri abdomen, dan
abses perirektal.
Perjalanan penyakit LGV secara umum dibagi menjadi 2 stadium:
1. Stadium dini terdiri atas:
a. Lesi primer genital
a) Setelah masa inkubasi antara 3-12 hari atau lebih lama
b) Akan terjadi lesi primer di genital yang bersifat tidak khas, tidak sakit
dan cepat menghilang (Sembuh) tanpa pembentukan jaringan parut.
Masa inkubasinya dapat bersifat lebih lama apabila lesi primer genital
tidak muncul, sebagai manifestasi adalah sindrom inguinal.
c) Lesi primer dapat berbentuk erosi atau ulkus dangkal, papula-papula
kelompok vesikel kecil mirip lesi herpes
d) Lesi primer pada pria dapat pula disertai limfangitis pada bagian dorsal
penis dan membentuk nodul dan abses kecil.

24
b. Sindrom inguinal
Biasanya terjadi beberapa hari sampai beberapa minggu setelah lesi
primer menghilang. Masa inkubasi untuk gejala ini berkisar 10-30 hari
tapi mungkin lebih lambat 4-6 bulan setelah infeksi. Gejala sistemik yang
sering menyertai sindrom ini seperti: demam, menggigil, nausea,
anoreksia, dan sakit kepala. Gejala konstitusi ini kemungkinan
berhubungan dengan penyebaran sistemik Chlamydia.
2. Stadium lanjut dapat berupa:
a. Sindrom anorektal
Pada laki-laki mukosa rektal dapat diinokulasi oleh chlamydia selama
hubungan seks secara anal atau melalui penyebaran limfatik dan uretra
posterior. Gejala awal dan infeksi rektal adalah pruritis anal. Mukosa
menjadi hiperemis dan mudah berdarah karena trauma, sering terdapat
ulserasisuperfisial, multiple dan diskrit.manifestasi akut sindrom ini
adalah proktokolitis, dari hiperplasia intestinal dan jaringan limfe
penrektal. Manifestasi kronis atau lanjut adalah abses perirektal,
ischiorektal, fistula rektovaginal, fistub anal dan striktura rektal atau
stenosis.
b. Elefantiasis genital
Infeksi primer mengenai kelenjar limfe dan skrotum, penis atau vulva
yang mungkin menyebabkan limfangitis kronis dan progresif, edema
kronis dan akhirnya terjadi pembentukan fibrosklerosis jaringan subkutan.
Hal ini akan menyebabkan terjandinya indurasi dan pembesaran bagian
yang terkena dan akhirnya terjadi ulserasi. Pada awalnya ulserasi hanya
superfisial namun kemudian menjadi lebih invasif dan destruktif.
Limfomagranuloma Venerum (LGC) adalah penyakit menular seksual
yang disebabkan oleh Clamydia trachomatis serotipe L1, L2, L3. Sering
ditemukan di Asia Tenggara, Afrika, Amerika Tengah serta selatan.
Limfomagranuloma Venerum (LGC) jarang terjadi di Amerika Aerikat, kecuali
pada laki-laki homoseksual. Limfomagranuloma Venerum (LGC) disebabkan
oleh Chlamydia trachomatis serotipe L-1,L-2, dan L-3. Bersifat sistemik dan
mengenai sistem saluran pembuluh limfe dan kelenjar limfe, terutama pada
daerah genital, inguinal, anus dan rektum, dengan perjalanan klinis, akut, sub
akut, atau kronis tergantung pada keadaan imunitas penderita.

25
Chlamydia trachormatis tidak dapat menembus membran atau kulit yang
utuh. Tetapi masuk melalui aberasi atau lesi kecil di kulit, kemudian
mengadakan penyebaran secara limfogen untuk bermultiplikasi ke dalam
fagositosis mononuklear pada kelenjar limfe regional kemudian akan
menimbulkan peradangan di sepanjang saluran limfe (limfangitis dan
perilimfangitis). Seterusnya mencapai kelenjar limfe terdekat sehingga terjadi
peradangan kelenjar linfe dan jaringan disekitarnya . Jadi LGV adalah penyakit
yang terutama mengenai jaringan limfatik. Proses inflamasi dapat berlangsung
beberapa minggu atau beberapa bulan. Pada laki-laki penis merupakan tempat
pertama kali masuknya (lesi prmer) Chlamydia trachomatis kemudia menyebar
ke kelenjar limfe inguinal. LGV akut lebih sering pada laki-laki karena pada
perempuan biasanya asimtomatik dan baru didiagnosis setelah berkembang
menjadi proktolitis akut. Organisme tersebut dapat menyebar secara sistemik
melalui aliran darah dan dapat memasuki sistem saraf pusat.

2.7.9 Granuloma Inguinale


Granuloma inguinale adalah suatu penyakit menular seksual granulomatosa
kronik yang disebabkan oleh organisme Calymmatobacterium granulomatis.
Periode inkubasi mulai dari 8 hari sampai 3 bulan. Pada pasien yang mengalami
granuloma inguinale, pertama-tama timbul papul “merah seperti daging sapi” yang
mudah berdarah, dan lembap di korona penis. Papul berkembang menjadi nodul
dan mengalami ulserasi. Penyebaran terjadi di sepanjang lipatan kulit sampai area
ingunal dan perianal, dengan koalesensi lesi dan peninggian bagian tepi (Morocco,
2008).
Pada pasien yang mengalami granuloma inguinale, gejala biasanya mulai
timbul dalam waktu 1-12 minggu setelah terinfeksi. Gejala awalnya berupa papul
atau bintil-bintil merah seperti daging sapi yang mudah berdarah namun tidak
nyeri. Papul tersebut secara perlahan akan tumbuh menjadi nodul bulan dan
menonjol, serta mengalami ulserasi, biasanya ditemukan pada :
a. Penis, skrotum, dan selangkangan pada pria.
b. Vulva, vagina, dan kulit di sekitarnya pada wanita.
c. Wajah
d. Anus dan pantat pada orang-orang yang melakukan hubungan seksual melalui
anus.

26
Luka terbuka dapat menyebar ke bagian lain. Luka ini dapat sembuh secara
perlahan dan menyebabkan jaringan parut. Namun jika tidak diobati, bisa
menyebar ke seluruh tubuh, yaitu ke tulang, persendian atau hati dan menyebabkan
penurunan berat badan, demam serta anemia (Morocco, 2008).
Penyebaran penyakit granuloma inguinale terjadi terutama melalui hubungan
seksual lewat vagina atau dubur. Kontak seksual tersebut berhubungan dengan
paparan bakteri Calymmobacterium granulomatis dari luka terbuka pada daerah
genital. Tetapi sangat jarang terjadi melalui seks oral. Granuloma inguinalis lebih
banyak terjadi pada pria. Kemungkinan pria terserang penyakit ini lebih dari dua
kali dibanding perempuan, dengan sebagian besar infeksi terjadi pada orang
berusia 20-40 tahun.
Granuloma inguinale ditandai dengan inklusi intraseluler dalam makrofag
yang disebut sebagai tubuh Donovan. Granuloma inguinal biasanya mempengaruhi
kulit dan selaput lendir di daerah kelamin, yang akan menghasilkan lesi nodular
yang berkembang menjadi bisul. Bisul semakin berkembang dan merusak secara
lokal.
Lesi awal berupa nodul subkutan, soliter atau multipel, mengalami erosif
membentuk lesi granulomatosa, bersih, batas tegas, dan biasanya tidak nyeri. Lesi
mudah berdarah, membesar secara perlahan dan banyak jaringan granulasi merah
seperti daging.
Pada stadium aktif penyakit, sering ditemukan fibrosis bersamaan dengan
perluasan lesi primer, dan fimosis atau limfedema pada jaringan distal. Dapat
mengenai daerah inguinal dengan gambaran menyerupai bubo akibat infeksi
genital lain (pseudobubo). Meskipun granuloma inguinale paling sering
melibatkan kulit dan jaringan subkutan vulva dan inguinalis, tetapi dapat pula
terjadi di daerah serviks, uterus, orolabial dan ovarium. Dengan ciri khas berupa
sekret dan berbau busuk. Dalam kasus yang jarang, granuloma inguinale dapat
bermanifestasi sebagai lesi servikalis kronis. Lesi ini biasanya membentuk ulserasi
atau kemerahan atau membentuk jaringan granulasi. Lesi ini menghasilkan eksudat
inflamasi kronis dengan gambaran histologis khas berupa limfosit, giant cell dan
histiosit. Gambarannya dapat serupa dengan karsinoma serviks dan harus dapat
dibedakan dari kejadian neoplasma yang lain. Penyakit ini sering disertai IMS lain,
misalnya sifilis (Romauli, 2009).

27
2.7.10 Uretritis
Uretritis adalah suatu sindrom klinis berupa peradangan uretra dengan gejala
rasa gatal pada penis dan disuria. Penyakit ini merupakan sindrom PMS tersering
pada pria. Organisme yang paling sering menyebabkan uretritis adalah Neisseria
gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis, Ureplasma urealyticumi, atau virus herpes
simpleks. Sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi, namun iritan kimiawi,
benda asing dan sebagian kasus peradangan bisa menunjukkan gejala serupa.
(Davey, 2006).
Gejala urethritis atau infeksi saluran kemih pada pria nyeri atau sensasi
seperti terbakar saat buang air kecil (disuria) ,iritasi atau rasa sakit pada ujung
penis, keluarnya cairan putih dari ujung penis, adanya darah dalam urin atau
sperma, sering buang air kecil atau mendesak, gatal, nyeri, atau bengkak di penis
atau pada daerah selangkangan, nyeri saat berhubungan seksual atau saat ejakulasi,
demam (gejala ini jarang terjadi).
Patofisiologi uretritis secara singkat yaitu Uretra mengalami inflamasi yang
disebabkanoleh invasi agen baik virus maupun bakteri sehingga menimbulkan
keluarnya cairan eksudat yang purulent pada saat berkemih. Mukosa pada saluran
uretra memerah dan bengkak sehingga jumlah urin berkurang dan timbul rasa nyeri
saat miksi.
Klasifikasi uretritis dibagi menjadi dua yaitu, uretritis non-genokokal:
uretritis yang bukan disebabkan oleh gonokokus, penyebab umum infeksi penyakit
menular seksual (Nursalam, 2008).
1) Klamida trachomatis dan ureoplasma urealitikum menyebabkan urettritis
nongonokokus
2) Berbagai organism panyakit menular seksual yang menyebabkan uretritis akut
meliputi herves simpleks, human papiloma virus, atau trikomonas vaginalis.
Masa inkubasi 1-5 minggu
3) Uretritis gonokokus disebabkan oleh N. Gonorhea dan penyakit menular
seksual, biasanya lebih verulen dan destruktif. Masa inkubasi 2-5 hari.

28
2.8 Penyakit Menular Seksual HIV/AIDS
2.8.1 Etiologi HIV/AIDS
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang
disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali
diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983
dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo
di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas
kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama virus dirubah menjadi
HIV.
Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA.
Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat
berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini
terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV
yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan
seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan
keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV
selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan
selama hidup penderita tersebut.
Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti
(core) dan bagian selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris
tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid). Enzim reverce
transcriptase dan beberapa jenis protein. Bagian selubung terdiri atas lipid
dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120). Gp 120 berhubungan dengan reseptor
Lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan
panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh
lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan
dengan berbagai desinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit
dan sebagainya, tetapi relatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet.
Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah
mati diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag
dan sel glia jaringan otak (Siregar, 2008).

29
2.8.2 Manifestasi Klinis HIV/AIDS
Menurut Nasronudin (2007), Manifestasi klinis infeksi HIV merupakan
gejala dan tanda pada tubuh host akibat intervensi HIV. Manifestasi ini dapat
merupakan gejala dan tanda infeksi virus akut, keadaan asimtomatis
berkepanjangan, hingga manifestasi AIDS berat. Manifestasi gejala dan tanda
dari HIV dapat dibagi menjadi 4 tahap :
a. Tahap pertama
Merupakan tahap infeksi akut, pada tahap ini muncul gejala tetapi
tidak spesifik. Tahap ini muncul 6 minggu pertama setelah paparan HIV
dapat berupa demam, rasa letih, nyeri otot dan sendi, nyeri telan, dan
pembesaran kelenjar getah bening. Dapat juga disertai meningitis aseptik
yang ditandai demam, nyeri kepala hebat, kejang-kejang dan kelumpuhan
saraf otak.
b. Tahap Kedua
Merupakan tahap asimtomatis, pada tahap ini gejala dan keluhan
hilang. Tahap ini berlangsung 6 minggu hingga beberapa bulan bahkan
tahun setelah infeksi. Pada saat ini sedang terjadi internalisasi HIV ke
intraseluler. Pada tahap ini aktivitas penderita masih normal.
c. Tahap Ketiga
Merupakan tahap simtomatis, pada tahap ini gejala dan keluhan
lebih spesifik dengan gradasi sedang sampai berat. Berat badan menurun
tetapi tidak sampai 10%, pada selaput mulut terjadi sariawan berulang,
terjadi peradangan pada sudut mulut, dapat juga ditemukan infeksi bakteri
pada saluran napas bagian atas namun oenderita dapat melakukan aktivitas
meskipun terganggu. Penderita lebih banyak berada di tempat tidur
meskipun kurang dari 12 jam per hari dalam bulan terakhir.
d. Tahap Keempat
Merupakan tahap yang lebih lanjut atau tahap AIDS. Pada tahap ini
terjadi penurunan berat badan lebih dari 10%, diare yang lebih dari 1
bulan, panas yang tidak diketahui sebabnya lebih dari 1 bulan, kandidiasis
oral, oral hairy leukoplakia, tuberkulosis paru, dan pneumonia bakteri.
Penderita berbaring di tempat tidur lebih dari 12 jam sehari selama
sebulan terakhir. Penderita diserbu berbagai macam infeksi sekunder,
misalnya pneumonia pneumokistik karinii, tokosoplasmosis otak, diare

30
akibat kriptosporidiosis, penyakit virus sistomegalo, infeksi virus herpes,
kandidiasis pada esofagus, trakea, bronkus atau paru serta infeksi jamur
lain misalnya histoplasmosis, koksidiodomikosis. Dapat jiga ditemukan
malignansi, termasuk keganasan kelenjar getah bening dan sarkoma
kaposi. Hiperaktivitas komplemen menginduksi sekresi histamin.
Histamin menimbulkan keluhan gatal pada kulit dengan diiringi
mikroorganisme di kulit memicu terjadinya dermatitis HIV.

2.8.3 Patofisiologi HIV/AIDS


HIV menempel pada limfosit sel induk melalui gp120, sehingga akan
terjadi fusi membran HIV dengan sel induk. Inti HIV kemudian masuk ke
dalam sitoplasma sel induk. Di dalam sel induk, HIV akan membentuk DNA
HIV dari RNA HIV melalui enzim polimerase. Enzim integrasi kemudian akan
memembantu DNA HIV untuk berintegrasi dengan DNA sel induk
(Widoyono, 2011).
DNA virus yang dianggap oleh tubuh sebagai DNA sel induk akan
membentuk RNA dengan fasilitas sel induk, sedangakan mRNA dalam
sitoplasma akan diubah oleh enzim protease menjadi partikel HIV. Partikel itu
selanjutnya mengambil selubung dari bahan sel induk untuk dilepas sebagai
virus HIV lainnya. Mekanisme penekanan pada sistem imun (imunosupresi)
ini akan menyebabkan pengurangan dan terganggunya jumlah dan fungsi sel
limfosit T (Widoyono, 2011).

2.8.4 Cara penularan HIV/AIDS


Menurut Widoyono (2011), penyakit ini dapat menular melalui
berbagai cara, antara lain melalui cairan tubuh seperti darah, cairan genitalia,
dan ASI. Virus juga terdapat dalam saliva, air mata, dan urin (sangat rendah).
HIV tidak dilaporkan terdapat dalam air mata dan keringat. Selain melalui
cairan tubuh, HIV juga ditularkan melalui :
a. Ibu hamil
Penularan HIV dari ibu bisa terjadi pada saat kehamilan (in utero), selama
proses persalinan melalui transfusi fetomaternal, kontak antara kulit atau
membran mukosa bayi dengan darah, atau sekresi maternal saat
melahirkan. Semakin lama proses melahirkan, maka akan semakin besar

31
risiko penularan. Oleh karena itu, lama persalinan bisa dipersingkat
dengan operasi sectio caesaria. Transmisi lain terjadi selama periode post
partum melalui ASI. Risiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang positif
sekitar 10% (Nursalam, 2007).
b. Transfusi darah
Penularan HIV sangat cepat karena virus langsung masuk ke pembuluh
darah dan menyebar ke seluruh tubuh (Nursalam, 2007). Risiko penularan
sebesar 90% dengan prevalensi 3-5% (Widoyono, 2011).
c. Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril
Alat pemeriksaan kandungan seperti spekulum, tenakulum, dan alat-alat
lain yang menyentuh darah, cairan vagina atau air mani yang terinfeksi
HIV, dan langsung digunakan untuk orang lain yang tidak terinfeksi bisa
menularkan HIV (Nursalam, 2007).
d. Alat-alat untuk menoreh kulit
Alat tajam dan runcing seperti jarum, pisau, silet, menyunat seseorang,
membuat tato, memotong rambut, dan sebagainya dapat menularkan HIV
karena alat tersebut mungkin dipakai tanpa disterilkan terlebih dahulu
(Nursalam, 2007)..
e. Menggunakan jarum suntik secara bergantian
Jarum suntik yang digunakan di fasilitas kesehatan, maupun yang
digunakan oleh para pengguna narkoba (Injecting Drug User-IDU) sangat
berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, para pemakai IDU
secara bersama-sama juga menggunakan tempat pemyampur, pengaduk,
dan gelas pengoplos obat, sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan
HIV (Nursalam, 2007).
f. Hubungan seksual
Merupakan model penularan yang tersering di dunia. Dengan semakin
meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan kondom, maka
penularan melalui jalur ini cenderung menurun dan digantikan oleh
penularan melalui penasun (pengguna jarum suntik). Kemungkinan
tertular adalah 1 dalam 200 kali hubungan intim, dengan prevalensi 70-
80% (Widoyono, 2011).

32
HIV tidak menular melalui peralatan makan, pakaian, handuk, sapu
tangan, toilet yang dipakai secara bersama-sama,berjabat tangan, hidup
serumah dengan penderita HIV/AIDS, gigitan nyamuk, dan hubungan sosial
yang lain.

2.8.5 Pengobatan dan Pencegahan HIV/AIDS


Menurut Widoyono (2011), pengobatan pada penderita HIV/AIDS
meliputi :
a. Pengobatan suportif
b. Penanggulangan infeksi oportunistik , Infeksi oportunistik adalah penyakit
yang jarang terjadi pada orang sehat, tetapi menyebabkan infeksi pada
individu yang sistem kekebalannya terganggu, termasuk infeksi HIV.
Organisme-organisme penyakit ini sering hadir dalam tubuh tetapi
umumnya dikendalikan oleh sistem kekebalan tubuh yang sehat. Ketika
seseorang terinfeksi HIV mengembangkan infeksi oportunistik,
tahapannya masuk ke diagnosis AIDS.
Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak
spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi
oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-
intracellulare dan virus sitomegalo. Virus sitomegalo dapat menyebabkan
gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas,
dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus), yang
dapat menyebabkan kebutaan. Infeksi yang disebabkan oleh
jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis, kini adalah infeksi
oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis
dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia
Tenggara.
c. Pemberian obat antivirus
d. Penanggulangan dampak psikososial
Menurut Widoyono (2011), pencegahan penyakit HIV/AIDS antara lain :
a. Menghindari hubungan seksual dengan penderita AIDS atau tersangka
penderita AIDS.
b. Mencegah hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti atau
dengan orang yang mempunyai banyak pasangan.

33
c. Menghindari hubungan seksual dengan pecandu narkotika obat suntik.
d. Melarang orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok berisiko tinggi
untuk melakukan donor darah.
e. Memberikan transfusi darah hanya untuk pasien yang benar-benar
memerlukan.
f. Memastikas sterilitas alat suntik.

Menurut Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral Departemen Kesehatan


tahun 2007, pengobatan dengan terapi anti-retroviral therapy (ART) dapat
dimulai pada penderita dengan syarat :
a. Dengan atau ada fasilitas pemeriksaan CD4.
1. Stadium IV, tanpa melihat jumlah CD4.
2. Stadium III, dengan jumlah CD4 <350/mm3.
3. Stadium I atau II, denagn jumlah CD4 <200/mm3.
b. Tanpa pemeriksaan CD4.
1. Stadium IV, tanpa melihat jumlah limfosit total.
2. Stadium III, tanpa melihat jumlah limfosit total.
c. Stadium II, dengan jumlah limfosit total <1200/mm3.

2.8.6 Komplikasi HIV/AIDS


AIDS bersifat melemahkan sistem kekebalan tubuh penderita, tidak
geran jika penderita AIDS mudah terinfeksi berbagai penyakit dan kanker
sehingga menimbulkan komplikasi. Misalnya :
1) Tb. Umum dikenal dengan tuberculosis, adalah penyakit umum yang
diderita penderita Aids dan dapat mematikan. hampir semua
penderita HIV/AIDS, juga menderita Tb.
2) Salmonela. Menular melalui makanan dan air. Gejalanya ialah diare
parah, demam, menggigil, sakit perut dan muntah.
3) Cytomegalovirus (CMV). Adalah jenis virus herpes yang menular
melalui cairan tubuh, seperti air liur, darah, ASI, semen dan urin. Virus ini
dapat menyebabkan kerusakan pada mata, sistem pencernaan, paru-paru
dan organ tubuh lainnya.

34
4) Candiasis. Menyebabkan peradangan dan bercak putih pada mulut
(lidah), tenggorokan dan vagina. Bintik putih ini menyebabkan nyeri.
Akan lebih parah jika mengenai anak-anak.
5) Cryptococcal meningitis. Peradangan yang disebabkan oleh infeksi
jamur pada membran dan cairan sekitar otak dan tulang belakang.
Biasanya ada pada tanah, dapat pula menyebar melalui burung atau
kelelawar.
6) Toxoplasma. Umumnya disebarkan melalui kotoran kucing dan dapat
menyebar ke hewan lainnya. Virus ini dapat menyebabkan kematian.
7) Cryptosporidiosis. Disebabkan oleh parasit yang hidup pada usus hewan
yang dapat menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi.
Parasit ini dapat hidup pada usus manusia dan dapat
mengakibatkan diare parah.
8) Kaposi’s sarcoma. Adalah tumor pada dinding pembuluh darah.
Gejalanya adalah kemerahan pada kulit dan mulut. Penyakit jenis ini
sangat jarang mengenai mereka yang bukan penderita HIV.
9) Lymphomas. Kanker ini terjadi pada sel darah putih, umumnya bermula
pada kelenjar getah bening. Gejala awalnya adalah bengkak dan nyeri
pada kelenjar getah bening (leher, ketiak dan pangkal paha).

2.8.7 Prognosis
Paparan HIV tidak selalu mengakibatkan penularan, beberapa orang yang
terpapar HIV selama bertahun-tahun bisa tidak terinfeksi. Di sisi lain seseorang
yang terinfeksi bisa tidak menampakkan gejala selama bertahun-tahun. Tanpa
pengobatan, infeksi HIV memiliki resiko sekitar 1-2 % untuk menjadi AIDS
pada beberapa tahun pertama. Risiko ini meningkat 5 % setiap tahunnya.Resiko
terkena AIDS dalam 10-11 tahun setelah terinfeksi HIV mencapai 50%.
Sebelum ditemukan obat-obat terbaru, pada akhirnya semua kasus akan menjadi
AIDS.
Pengobatan AIDS telah berhasil menurunkan angka infeksi oportunistik
dan meningkatkan angka harapan hidup penderita. Kombinasi beberapa jenis
obat berhasil menurunkan jumlah virus dalam darah sampai tidak dapat
terdeteksi. Akan tetapi, belum ada penderita yang terbukti sembuh.Teknik
penghitungan jumlah virus HIV (plasma RNA) dalam darah seperti

35
(polymeration chain reaction) dan branched deoxribonucleid acid (bDNA) test
membantu untuk memonitor efek pengobatan dan membantu penilaian
prognosis penderita.
Hampir semua penderita akan meninggal dalam waktu 2 tahun setelah
terjangkit AIDS. Dengan perkembangan obat-obat anti virus terbaru dan
metode-metode pengobatan dan pencegahan infeksi oportunistik yang terus
diperbarui, penderita bisa memepertahankan kemampuan fisik dan mentalnya
sampai bertahun-tahun setelah terkena AIDS. Sehingga pada saat ini bisa
dikatakan bahwa AIDS sudah bisa ditangani walaupun belum bisa
disembuhkan.

2.8.8 Web of Caution (WOC)


(terlampir)

36
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS PMS

Tn. A usia 27 tahun tinggi badannya 172 cm, dirawat di ruang Tropik Rumah Sakit
Universitas Airlangga karena mengalami diare dan tubuhnya tampak lemas. Keluhan
tersebut sudah dirasakan sejak 1 bulan yang lalu, diare tak terkontrol. Klien mengatakan
bahwa dia diare cair 3-5 kali sehari. Sejak 15 hari yang lalu ia merasa cemas karena serta
sariawan mulut tak kunjung sembuhdan merasakan nyeri, diarenya makin tak terkontrol
dan BB menurun 7 kg dalam satu bulan meskipun telah berobat dan tidak nafsu makan,
jadi BB sekarang menjadi 59 kg dan sudah 4 hari tidak nafsu makan. selain itu klien
mengatakan sering berkeringat dingin pada malam hari dan kadang merasakan demam.
Sejak 12 tahun yang lalu, klien mengkonsumsi narkoba dengan cara suntik, dan juga
punya riwayat melakukan sex bebas 2 tahun yang lalu. Sebelumnya tidak ada penyakit
yang menyertai, hanya batuk dan pilek saja. Kedua orang tua sudah meninggal, tidak ada
anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama atau PMS. Tidak ada penyakit
bawaan dalam keluarga klien. Hasil foto thorax ditemukan pleural efusi kanan, hasil
laboratorium sebagai berikut : Hb 11 gr/dL, leukosit 20.000/Ul, trombosit 160.000/UL,
LED 30 mm, Na 8 mmol/L, K 2,8 mmol/L, Cl 11o mmol/L, protein 3,5, CD4 300/mm3 .
Hasil pemeriksaan ditemukan TD 120/80 mmHg, N 120x/mnt, P 28x/menit, S 390C,
konjungtiva anemis, sklera ikterik, paru-paru : ronchi +/+ dan wheezing +/-.

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas
a. Nama : Tn A
b. Tanggal lahir : 7 Juli 1987
c. Jenis kelamin : Laki-laki
d. Tanggal MRS : 3 September 2014
e. Alamat : Surabaya
f. Diagnose medis : AIDS
3.1.2 Keluhan utama : BAB lebih dari 5x sehari
3.1.3 Riwayat penyakit sekarang :Klien mengatakan bahwa sudah mengalami
diare sejak 1 bulan yang lalu serta sariawan mulut tak kunjung sembuh meskipun
telah berobat. Sejak 4 hari sebelum MRS klien tidak nafsu makan dan badannya

37
terasa lemas sering berkeringat dingin pada malam hari dan kadang merasakan
demam
3.1.4 Riwayat penyakit keluarga :-
3.1.5 Riwayat penyakit dahulu : 12 tahun yang lalu klien mengkonsumsi
narkoba dengan cara suntik
3.1.6 Pengkajian psikososial
a. Aktivitas/ Istirahat : mudah lelah
b. Integritas Ego : cemas, takut
c. Seksualitas : sex bebas 2 tahun yang lalu
3.1.7 Pemeriksaan persistem :
a. B1 (Breath) : Batuk, takipnea (28x/menit), ronchi +/+ dan wheezing +/-
b. B2 (Blood) : denyut takikardia (N= 120x/menit),
c. B3 (Brain) : konjungtiva anemis, sklera ikterik
d. B4 (Bladder) : berkeringat dingin pada malam hari
e. B5 (Bowel) : tidak ada nafsu makan, adanya sariawan dan nyeri, penurunan
BB 7 kg dalam sebulan, Feses encer, diare yang sering 3-5 kali sehari.
f. B6 (Bone) :-
3.1.8 Pemeriksaan fisik umum
a. Keadaan umum : lemah
b. TTV : TD 120/80 mmHg, nadi 120x/mnt, RR 28x/mnt, Suhu 37,5o C
c. Kesadaran : compos mentis
3.1.9 Pemeriksaan Laboratorium
a. Hb 11 gr/dL
b. Leukosit 20.000/Ul
c. Trombosit 160.000/UL
d. LED 30 mm
e. Na 8 mmol/L
f. K 2,8 mmol/L
g. Cl 11o mmol/L
h. Protein 3,5
i. CD4 300/mm3

38
3.2 Analisa Data
No Data Etiologi Masalah Keperawatan
1 DS: Sistem imun dalam tubuh Kekurangan volume cairan
Klien mengatakan me↓
mengalami diare sejak1 ↓
bulan yang lalu, diare Infeksi kuman patogen
tak terkontrol tanpa ↓
merasakan sakit perut Masuk saluran cerna
penyebab tidak ↓
diketahui. Pengeluaran toksin, iritasi
DO: saluran cerna
a. Na 8 mmol/L ↓
b. K 2,8 mmol/L Dinding usus terangsang
c. Cl 11o mmol/L ↓
Peristaltik usus me↑

Gangguan absorbsi

Diare kronis

Cairan output me↑

Kekurangan volume cairan
2 DS: Sistem imun dalam tubuh Risiko infeksi
Klien mengatakan men↓
diarenya makin tak ↓
terkontrol dan BB Risiko infeksi
menurun 7 kg dalam
satu bulan meskipun
telah berobat, dan juga
mengalami batuk dan
pilek bahkan demam
pada malam hari, klien

39
pernah mengkonsumsi
narkoba dengan cara
suntik.
DO:
a. Hb 11 gr/dL
b. Leukosit 20.000/Ul
c. Trombosit
160.000/UL
d. CD4 300/mm3
3 DO: Infeksi jamur Ketidakseimbangan nutrisi:
Klien mengatakan BB ↓ kurang dari kebutuhan tubuh
menurun 7 kg dalam Peradangan mulut
satu bulan dan sudah 4 ↓
hari tidak nafsu makan Sulit menelan
DS: ↓
a. Tinggi badan 172 Intake kurang
cm ↓
b. BB 59 kg Ketidak seimbangan nutrisi
c. Takikardia
(N=120x/menit)
4 DO: Adanya virus HIV Nyeri
Klien mengatakan ↓
merasakan sakit perut Sistem imun dalam tubuh
penyebab tidak me↓
diketahui. ↓
DS: Sariawan
Eksprei wajah yang ↓
lemas dan tegang saat nyeri
menahan nyeri

40
3.3 Diagnosa
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit.
b. Infeksi berhubungan dengan imunodefisiensi
c. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan intestinal ditandai dengan penurunan berat badan, penurunan nafsu makan.
d. Nyeri kronik berhubungan dengan inflamasi/ kerusakan jaringan

3.4 Intervensi
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit.
Tujuan :
Setelah tindakan keperawatan yang dilakukan selama 2 x 24 jam kebutuhan cairan dan
elektrolit terpenuhi.
Kriteria Hasil :
a. Turgor kulit normal
b. TTV dalam batas normal
c. Mukosa mulut lembab
d. Output cairan dalam keadaan normal
No Intervensi Rasional
Mandiri
1 Pantau tanda-tanda vital, termasuk Indikator dari volume cairan sirkulasi
CVP bila terpasang. Catat
hipertensi, termasuk perubahan
postural.
2 Kaji turgor kulit, membran Indikator tidak langsung dari status cairan
mukosa dan rasa haus.
3 Ukur haluaran urine dan berat Peningkatan berat jenis urine/ penuruna
jenis urine. Ukur/kaji jumlah haluaran urine menunjukkan perubahan
kehilangan diarea. Catat perfusi ginjal/ volume sirkulasi. Catatan:
kehilangan tak kasat mata. pemantauan keseimbangan cairan sulit karena
kehilangan melalui gastrointestinal yang
berlebihan atau tak kasat mata.
4 Timbang berat badan sesuai Meskipun kehilangan berat badan dapat
indikasi menunjukkan penggunaan otot, fluktuasi tiba-

41
tiba menunjukkan status hidrasi. Kehilangan
cairan berkenan dengan diare dapat dengan
cepat menyyebabkan krisis dan mengancam
hidup.
5 Pantau pemasukan oral dan Mempertahankan keseimbangan cairan,
memasukkan cairan sedikitnya mengurangi rasa haus, dan melembabkan
2500 ml/hari membran mukosa.
6 Buat cairan mudah diberikan pada Meningkatkan pemasukan. Cairan tertentu
pasien, gunakan cairan yang mungkin terlalu menimbulkan nyeri untuk
mudah ditoleransi oleh pasien dan dikonsumsi (misalnya jeruk asam) karena lesi
yang menggantikan elektrolit pada mulut.
yang dibutuhkan, misalnya
gatorade, air daging.
7 Hilangkan makanan yang Mungkin dapat mengurangi diare.
berpotensial menyebabkan diare.
Yakni yang pedas/ makanan
berkadar lemak tinggi, kacang,
kubis, susu. Mengatur kecepatan/
konsentrasi makanan yang
diberikan per selang jika
diberikan.
Kolaborasi
8 Berikan cairan/ elektrolit melalui Mungkin diperlukan untuk mendukung/
selang pemberi makanan/ IV. memperbesar volume sirkulasi, terutama jika
pemasukan oral tak adekuat, mual/ muntah
terus menerus.
9 Pantau hasil pemeriksaan
laboratorium sesuai indikasi,
misalnya
Hb/Ht Bermanfaat dalam memperkirakan kebutuhan
cairan

42
Elektrolit serum/ Urine Mewaspadakan kemungkinan adanya
gangguan elektrolit dan menentukan
kebutuhan elektrolit tersebut
BUN/Kr Mengevaluasi perfusi/ fungsi ginjal
10 Berikan obat-obatan sesuai
indikasi:
Antiemetik, misalnya Mengurangi insiden muntah untuk
proklorperazin maleat mengurangikehilangan cairan/ elektrolit lebih
(Compazine), trimetobenzamid lanjut.
(Tigan), metoklopramid (Reglan)
Antidiarea, misalnya difenoksilat Menurunkan jumlah dan keenceran feses,
(Lomotil), loperamid imodium, munurunkan jumlah kejang usus dan
paregorik, atau antispasmodik, peristaltik, catatan: antibiotik mungkin
misalnya mepenzolamat bromida digunakan untuk mengobati diare jika
(Canti) disebabkan oleh infeksi
Antipiretik, misalnya Membantu mengurangi demam dan respons
asetaminofen (Tylenol) hiper metabolisme, menurunkan kehilangan
cairan tak kasat mata.
11 Pertahankan selimut hipotermia Mungkin diperlukan bila tindakan lain gagal
bila digunakan. mengurangi demam yang berlebih

b. Infeksi berhubungan dengan imunodefisiensi.


Tujuan:
Setelah tindakan keperawatan yang dilakukan selama 2 x 24 jam risiko infeksi pada
klien dapat dicegah atau diperkecil
Kriteria Hasil:
a. Mencapai masa penyembuhan luka.
b. Bebas dari pengeluaran/sekresi purulen dari kondisi infeksi
No Intervensi Rasional
Mandiri
1 Cuci tangan sebelum dan sesudah Mengurangi resiko kontaminasi silang
seluruh kontak perawatan
dilakukan. Instruksikan pasien/

43
orang terdekat untuk mencuci
tangan sesuai indikasi
2 Berikan lingkungan yang bersih Mengurangi patogen pada sistem imun dan
dan berventilasi baik. Periksa kemungkinan pasien mengalami infeksi
pengunjung/ staf terhadap tanda nosokomial
infeksi dan pertahankan
kewaspadaan sesuai indikasi
3 Diskusikan tingkat dan rasional Meningkatkan kerjasama dengan cara hidup
isolasi pencegahan dan dan berusaha mengurangirasa terisolasi
mempertahankan kesehatan
pribadi
4 Pantau tanda-tanda vital termasuk Memberikan informasi data dasar, awitan/
suhu. peningkatan suhu secar berulang-ulang dari
demam yang terjadi untuk menunjukkan
bahwa tubuh bereaksi pada proses infeksi
yang baru dimana obat tidak lagi dapat secara
efektif mengontrol infeksi yang tidak dapat
disembuhkan.
5 Kaji frekuensi/ kedalaman Kongesti/ distres pernapasan dapat
pernapasan, perhatikan batuk mengidentifikasi perkembangan PCP,
nspasmodik kering pada inspirasi penyakit yang paling umum terjadi. Meskipun
dalam, perubahan karakteristik demikian, TB mengalami peningkatan dan
sputum, dan adanya mengi/ronki. infeksi jamur lainnya, viral, dan bakteri dapat
Lakukan isolasi pernapasanbila terjadi yang membahayakan sistem
etiologi batuk produksif tidak pernapasan.
diketahui.
6 Selidiki keluhan sakit kepala, Ketidaknormalan neurologis umumdan
kaku leher, perubahan mungkin dihubungkan dengan HIV ataupun
penglihatan. Catat perubahan infeksi sekunder. Gejala-gejala mungkin
mental dan tingkah laku. Pantau bervariasi dan perubahan yang kecil pada
kekakuan nukal/ aktivitas kejang. alam perasaan/ sensorium (perubahan
kepribadian atau depresi) sampai halusinasi,
kehilangan daya ingat, demensia hebat,

44
kejang, dan kehilangan penglihatan. Infeksi
SSP (ensefalitis paling umum) mungkin
disebabkan oleh protozoa dan organisme
helmintes, atau jamur.
7 Periksa kulit/ membran mukosa Kandidiasis oral, KS, herpes, CMV, dan
oral terhadap bercakputih/ lesi. Cryptococcus adalah penyakit yang umum
terjadi dan memberi efek pada membran kulit.
8 Bersihkan kuku setiap hari. Mengurangi risiko transmisi bakteri patogen
Dikikir lebih baik daripada melalui kulit.
dipotong dan hindari memotong
kutikula.
9 Periksa adanya luka /lokasi alat Identifikasi perawatan awal dari infeksi
invansif. Perhatikan tanda-tanda sekunder dapat mencegah terjadinya sepsis.
inflamasi/ infeksi lokal
Kolaborasi
10 Pantau studi laboratorium,
misalnya
JDL/ diferensial Pemindahan diferensial dan perubahan pada
jumlah SDP mengidentifikasi proses infeksi
Periksa kultur/ sensitivitas lesi, Mengidentifikasi penyebab demam
darah, urine, dan sputum
11 Berikan antibiotik anti jamur/ Menghambat proses infeksi
agen antimikrobia

c. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


gangguan intestinal ditandai dengan penurunan berat badan, penurunan nafsu makan.
Tujuan :
Setelah tindakan keperawatan yang dilakukan selama 2 x 24 jam nutrisi adekuat dan
masukan cairan terpelihara.
Kriteria hasil :
a. Kemampuan pemasukan nutrisi adekuat.
b. Menunjukan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan.
c. Menyiapkan pola diet dengan masukan kalori adekuat.

45
d. Mual muntah berkurang.
e. Selera makan meningkat.

No Intervensi Rasional
Mandiri
1 Kaji kemampuan untuk Lesi mulut, tenggorokan, dan esofagus
mengunyah, merasakn, dan dapat menyebabkan disfagi, penurunan
menelan. kemampuan pasien untuk mengolah makan
dan mengurangi keinginan untuk makan.
2 Auskultasi bising usus. Hipermotilitas saluran intestinal umum
terjadi dan dihubungkan dengan muntah
dan diare, yang dapat mempengaruhi
pilihan diet/ cara makan.
3 Timbang berat badan sesuai Indikator kebutuhan nutrisi/ pemasukan
kebutuhan yang adekuat
4 Berikan perawatan mulut yang Mengurangi ketidaknyamanan yang
terus menrus, awasi tindakan berhubungan dengan mual/ muntah, lesi
pencegahan sekresi. Hindari obat oral. Pengeringan mukosa. Mulut yang
kumur yang mengandung bersih akan meningkatan napsu makan.
alkohol
5 Berikan fase istirahat sebelum Meningkatkan ketersediaan energi untuk
makan. Hindari prosedur yang aktivitas makan
melelahkan saat mendekati
waktu makan.
6 Catat pemasukan kalori. Mengidentifikasi kebutuhan terhadap
suplemen atau alternatif metode pemberian
makanan.
Kolaborasi
7 Tinjau ulang pemeriksaan Mengidentifikasi status nutrisi, fungsi
laboratorium, misalnya BUN, organ, dan mengidentifikasi stastus
glukosa, fungsi hepar, elektrolit, pengganti.
protein, dan albumin.

46
8 Konsultasikan dengan tim Menyediakan diet berdasarkan kebutuhan
pendukung ahli diet/ gizi. individu dengan rute yang tepat.

d. Nyeri kronik berhubungan dengan inflamasi/ kerusakan jaringan


Tujuan :
Setelah tindakan keperawatan yang dilakukan selama 2 x 24 jam nyeri sudah tidak
dirasakn dan berkurang.
Kriteria Hasil :
a. Keluhan nyeri hilang/ terkontrolnya rasa sakit
b. Menunjukkan posisi/ ekspresi wajah rileks
c. Dapat tidur/ beristirahat adekuat
No Intervensi Rasional
Mandiri
1 Kaji keluhan nyeri, lokasi, Mengidentifikasi kebutuhan untuk intervensi
intensitas, frekuensi, dan waktu. dan tanda-tanda perkembangan/ resolusi serta
komplikasi.
2 Dorong mengungkapkan perasaan Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut.
.
3 Berikan aktivitas hiburan, Memfokuskan kembali pikiran, mungkin
misalnya membaca, menonton dapat meningkatkan kemampuan untuk
televisi. menanggulangi.
4 Lakukan tindakan paliatif, Meningkatkan relaksasi.
misalnya pengubahan posisi,
masase, rentang gerak sendi yang
sakit.
5 Instruksikan pasien Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat.
untukmelakukan bimbingan
imajinasi dan relaksasi progresif.
Kolaborasi
6 Berikan analgesik/ antipiretik, Memberikan penurunan nyeri/ tidak nyaman,
anlgesik narkotik. mengurangi demam

47
3.5 Evaluasi
a. Kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi.
b. Risiko infeksi pada klien dapat dicegah atau diperkecil.
c. Nutrisi adekuat dan masukan cairan terpelihara.
d. Nafsu makan klien kembali normal.
e. Keluhan nyeri hilang/ terkontrolnya rasa sakit

48
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Penyakit Menular Seksual adalah infeksi apapun yang terutama didapat melalui
kontak seksual. PMS adalah istilah umum dan organisme penyebabnya, yang tinggal
dalam darah atau cairan tubuh meliputi virus, mikoplasma, bakteri, jamur, spirokaeta dan
parasit-parasit kesil. Sebagian organisme yang terlibat hanya ditemukan di saluran
genital (reproduksi) saja tetapi yang lainnya juga ditemukan di dalam organ tubuh lain.
Terdapat berbagai jenis penyakit menular seksual. Namun, yang paling umum dan paling
penting untuk diperhatikan adalah penyakit gonore, klamidia, herpes kelamin, sifilis,
hepatitis B, dan HIV/AIDS. Gejala yang dialami dapat asymtomatic maupun
symtomatic.

4.2 Saran
Sebagai seorang perawat sebaiknya kita mengetahui asuhan keperawatan pada
klien dengan Penyakit Menular Seksual (PMS) secara jelas agar dapat menunjang
keahlian perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan, mampu menegakkan
diagnosis dan intervensi secara cepat dan tepat, sehingga dapat memperpendek masa
patologis penyakit pada tubuh klien. Selain itu dalam rangka mencegah penyebarluasan
penyakit seksual maka perlu meningkatkan upaya promotif dengan cara melakukan
penyuluhan tentang penyakit menular seksual sehingga masyarakat lebih bisa waspada
dan perlu juga untuk melakukan pengendalian terhadap semakin banyaknya kegiatan
seks bebas. Peran seorang perawat dan tenaga medis lainnya sangat penting dalam
melakukan penanggulangan penyakit menular seksual yang sangat berbahaya dengan
memberikan pendidikan kesehata (Health Education) kepada masyarakat terkait bahaya
dan upaya pencegahan penyakit menular seksual.

49
DAFTAR PUSTAKA

Adam,dr.H.A.M. 2012. Bahan Ajar Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada Sistem Urogenitalia.
Makassar: FK Universitas Hasanuddin
Ayu C M,Ida,Bagus G M,Ida.2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita Edisi 2.
Jakarta: EGC
Benson,Ralph C,Pernoll,Martin L.2009. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi Edisi 9. Jakarta:
EGC
Cahyono,Suharjo B.2008. Gaya Hidup dan Penyakit Modern.Yogyakarta: kanisius
Cotran,Robbins. 2009.Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Edisi 7.Jakarta: EGC
Gonore pada wanita. http://gonore.org/gonore-pada-wanita/. Diakses pada tanggal 9
September 2014 pukul 18.40 WIB
Heffner, Linda J. & Danny J. Schust. 2005. At a Glance SISTEM REPRODUKSI Edisi
Kedua. Jakarta: Erlangga Medical Series
Mandal, Wilkins, Dunbar, Mayon-White. 2008. Lecture Notes Penyakit Infeksi, Edisi 6.
Jakarta : Erlangga
Mitchell, Kumar, Abbas, Fausto. 2009. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Robbins &
Cotran, Ed. Jakarta : EGC
Michael, Greenberg L, Anthony Morocco, Christy Salvaggio. 2008. Teks- Atlas Kedokteran
Kedaruratan Greenberg, Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Penyakit Gonorrhea. http://penyakitgonorrhea.com/. Diakses pada tanggal 9 September 2014
pukul 20.00 WIB
Romauli,S.dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi untuk Mahasiswa Kebidanan. Jogjakarta : PT.
Nuha Medika.
Sastrawinata,Sulaiman.2005. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi Edisi 2.
Jakarta:EGC
Tambayong,Jan.2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Timmreck,Thomas C.2005. Epidemiologi: Suatu pengantar Edisi 2. Jakarta: EGC
Wibowo, Jessika. 2012. Mengenal Penyebab Gonorrhea.
http://www.penyakitmenularseksual.com/mengenal-penyebab-gonorrhea.html. Diakses
pada tanggal 9 September 2014 pukul 20.35 WIB
Wibowo, Jessika. 2012. Penyebab Gonorrhea. http://www.penyakitkelamin.net/penyebab-
gonorrhea/. Diakses pada tanggal 9 September 2014 pukul 19.15 WIB

50