Anda di halaman 1dari 88

PERANCANGAN RANGKA HYDRAULIC TEST BENCH UNTUK

PENGUJIAN KOMPONEN FLAP ACTUATOR PESAWAT NC-212

Diajukan untuk menempuh Tugas Akhir

Program Studi Teknik Mesin Program Strata Satu

Disusun Oleh :

Fahmi Muhammad

2112162034

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN

JURUSAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

2018
LEMBAR PERSETUJUAN CALON PEMBIMBING
SEMINAR TUGAS AKHIR

Nama Mahasiswa : Fahmi Muhammad

NIM : 2112162034

Judul Tugas Akhir : Perancangan rangka hydraulic testbench untuk


pengujian flap actuator pesawat NC-212

Kelompok Keahlian : Perancangan dan konstruksi mesin

Cimahi, 03 Maret 2018

Pembimbing 1 Pembimbing 2

War’an Rosihan, ST., MT. A.Grace.Pessireron,ST.,M.Pmat.


NID. 0418076802 NID. 412195884

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT berkat rahmat
dan karunianya, sehingga proposal usulan tugas akhir ini dapat diselesaikan tepat
waktu. Mengingat pentingnya proposal sebagai acuan awal dari tugas akhir yang
akan dilaksanakan, maka sudah seharusnya mempertimbangkan aspek-aspek yang
akan dikaji.

Hydraulic Testbench adalah mesin penguji komponen-komponen hidrolik


baik dalam bidang otomotif, industri, dan aviasi yang terdiri dari seperangkat alat-
alat penunjang pengujian seperti hydraulic power source (motor listrik dan
pompa), dan directional valve. Juga komponen pendukung seperti filter, tangki,
non return valve, dan shut off valve.

Disini penulis akan membuat desain hydraulic testbench untuk komponen


hidrolik pesawat NC-212 yaitu actuator flap yang sifatnya mobile.

Besar harapan penulis bahwa seminar tugas akhir ini dapat disetujui oleh
calon pembimbing, dan penguji dan membawa penulis untuk mendalami lebih
banyak ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya pada bidang desain teknik.
Akhir kata semoga seminar ini nantinya menjadi tugas akhir yang juga disetujui
dan bermanfaat dan berguna bagi semua pihak khususnya di lingkungan Jurusan
Teknik Mesin Universitas Jenderal Achmad Yani.

Cimahi, 31 Januari 2018

Fahmi Muhammad

3
ABSTRAK

4
DAFTAR ISI

JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN CALON PEMBIMBING SEMINAR TUGAS AKHIR ....... ii

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 3

ABSTRAK .......................................................................................................................... 4

DAFTAR ISI....................................................................................................................... 5

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................................... 6

DAFTAR BAGAN ............................................................................................................. 7

DAFTAR TABEL............................................................................................................... 8

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 9

1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 9

1.2 Identifikasi Masalah .......................................................................................... 10

1.3 Batasan Masalah ............................................................................................... 10

1.4 Tujuan Penulisan ............................................................................................... 10

BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................... 11

2.1 Hydraulic Testbench dan Komponen Utamanya .............................................. 11

2.2 Aktuator Flap dan Brake Assy Pesawat NC-212 .............................................. 24

2.3 CMM (Component maintenance manual), dan ATP (Acceptance Test


Procedure) Brake Assy dan Aktuator Flap Pesawat NC-212 ....................................... 25

2.3.1 Prosedur Pengujian Aktuator Flap Pesawat NC-212 ................................ 26


2.4 Kebutuhan Desain Testbench.............................Error! Bookmark not defined.

BAB III METODOLOGI PENYELESAIAN ................................................................ 33

3.1 Penjelasan Diagram Alir ....................................Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ........................................................Error! Bookmark not defined.

5
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Hydraulic Testbench Tipe power generator dan tempat UUT (Unit Under
Test) bersatu ...................................................................................................................... 12
Gambar 2 : Motor pump Hidrolik ..................................................................................... 13
Gambar 3 : Simbol Motor pump dalam sistem hidrolik.................................................... 14
Gambar 4 : Simbol tangki (reservoir) tipe closed dan vented .......................................... 14
Gambar 5 : simbol filter hidrolik ...................................................................................... 15
Gambar 6 : Directional valve lever operated (kiri) dan solenoid operated (kanan) .......... 15
Gambar 7 : Simbol Directional valve ............................................................................... 16
Gambar 8 : Directional valve ............................................................................................ 16
Gambar 9 : Simulasi Directional valve ............................................................................. 17
Gambar 10 : Penggerak directional valve ......................................................................... 18
Gambar 11 : Shut off valve dan simbolny......................................................................... 19
Gambar 12 : Check valve .................................................................................................. 19
Gambar 13 : Simbol dan cara kerja check valve ............................................................... 19
Gambar 14 : Relief valve dan simbolnya .......................................................................... 20
Gambar 15 : Relief valve dalam sistem hidrolik ............................................................... 20
Gambar 16 : accumulator dan simbolnya ......................................................................... 21
Gambar 17 : Potongan dari accumulator .......................................................................... 22
Gambar 18 : Pressure gauge dan simbolnya .................................................................... 22
Gambar 19 : Aktuator dan Sistem Flap Pesawat NC-212 ................................................. 25
Gambar 20 : Prosedur pengujian (ATP) ........................................................................... 26

6
DAFTAR BAGAN

Bagan 1 : Bagan Fungsi Testbench .......................................Error! Bookmark not defined.


Bagan 2 : Diagram Alir Proses Pembuatan Hydraulic Testbech ...................................... 33

7
DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Spesifikasi Fluida hidrolik tipe MIL-H-5606 merk Aeroshell 41...................... 23

8
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pesawat NC-212 adalah pesawat kelas ringan yang dalam sistemnya tidak
lepas dari komponen hidrolik, contohnya adalah komponen flap actuator. Industri
aviasi dari segi produksi dan servis, sama-sama mengandalkan double safety,
salah satunya dengan melakukan pengujian ganda. Disini komponen tersebut
pertama-tama melalui ATP (Acceptance Test Procedure) yaitu pengujian
komponen secara terpisah, kemudian tes fungsi sistem yaitu pengujian dengan
komponen telah terpasang ke sistem.

ATP komponen tersebut dilaksanakan dengan alat yang bernama hydraulic


testbench. Saat ini testbench untuk ATP bersifat diam atau fixed, sehingga
pengujian komponen hanya dapat dilakukan jika komponen masuk ke bengkel.
Sedangkan dalam beberapa kasus, ATP juga dapat bersifat emergency, contohnya
pada troubleshooting test fungsi sistem. Komponen tidak bisa dilepas begitu saja
dari pesawat, kalaupun dilepas dan dibawa ke bengkel terlebih dahulu akan terjadi
penambahan waktu dalam produksi. Salah satu solusinya yaitu dibutuhkan
testbench yang dapat di bawa ke dekat pesawat.

Hydraulic testbench terdiri dari dua komponen utama yaitu rangka dan
hydraulic powerpack. Hydraulic powerpack adalah seperangkat komponen
hidrolik yang fungsinya untuk menghasilkan tekanan hidrolik yang dapat diatur
kemudian dijadikan sumber tenaga untuk pengujian.

Dalam tugas akhir ini penulis akan membuat desain sebuah rangka untuk
menopang hydraulic power pack sehingga menjadi hydraulic testbench bersifat
mobile yang mampu menjalankan prosedur ATP terhadap komponen hidrolik
pesawat NC-212 yaitu flap actuator.

9
1.2 Identifikasi Masalah
a. Testbench hidrolik untuk pengujian actuator flap sifatnya diam atau fixed
di bengkel sehingga tidak dapat dibawa ke dekat pesawat.
b. Jika terjadi kegagalan fungsi pada tes sistem dan dilaksanakan
troubleshooting, komponen actuator flap tidak bisa dilepas keseluruhan
untuk dibawa ke bengkel begitu saja karena memakan waktu.
c. Jika dibuat untuk mobile, rangka testbench harus dibuat untuk tahan
menopang hydraulic power pack.
d. Karena sifatnya mobile maka hydraulic testbench ini harus mudah di
dorong.

1.3 Batasan Masalah


a. Pembuatan testbench hydraulic harus bersifat mobile.
b. Rangka testbench harus dibuat untuk tahan menopang hydraulic power
pack.
c. Perhitungan dibatasi pada kekuatan rangka dalam menopang hydraulic
power pack.

1.4 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan laporan ini adalah :

a. Membuat perencanaan desain rangka hydraulic testbench.


b. Membuat perhitungan rangka yang mampu menopang hydraulic power
pack.
c. Membuat simulasi penggunaan hydraulic testbench yang sudah bersifat
mobile.

10
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Hydraulic Testbench dan Komponen Utamanya


Definisi Hydraulic testbench : “A Test rig is a piece of machinery that is
primarily used to test and assess the capability and performance of components
for industrial use. The term test rig is sometimes also referred to as test bay, test
bench, pressure test facility and testing station but they all refer to equipment that
carry out component testing.” (http://www.hydrotechnik.co.uk/catalog/testrigs :
Hydraulic and Hydrostatic Test Rigs : Paragraf satu. 20 September 2017. 22:45).

Dalam hal ini testbench adalah sebuah mesin untuk menguji kemampuan
dan performa sebuah komponen untuk kepentingan industri. Oleh karena itu maka
dapat kita simpulkan bahwa hydraulic testbench adalah sebuah mesin atau
perangkat yang gunanya untuk menguji atau menguji kemampuan sebuah
komponen hidrolik dalam dunia industri.

Pengujian komponen yang dalam hal ini adalah komponen hidrolik


pesawat yaitu flap actuator, adalah dengan cara memberikan tekanan dari
testbench ke komponen yang di tes sesuai ATP dan komponen tersebut atau UUT
(unit under test) diletakkan di meja pengujian, untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada sub-bab 2.2.

11
Gambar 1 : Hydraulic Testbench Tipe power generator dan tempat
UUT (Unit Under Test) bersatu

Hydraulic testbench sendiri mempunyai beberapa komponen utama yakni :

1. Case (rangka)
Untuk menopang seluruh part atau komponen testbench diperlukan rangka
yang sesuai dengan kebutuhan, dalam hydraulic testbench pada umumnya
terdapat dua rangka utama yaitu : rangka power generator sebagai tempat
penyuplai tekanan hidrolik juga panel kontrol, dan rangka tempat UUT (unit
under test) sebagai tempat pengujian dan komponen hidrolik di setting dan
diletakkan. Namun ada juga jenis rangka yang keduanya bersatu (Gambar 2).

12
2. Hydraulic powerpack
Fungsinya untuk menghasilkan tenaga hidrolik yang dapat diatur untuk
menguji komponen.

Gambar 2 : Contoh hydraulic powerpack dari produsen Continental


Hydraulic.

Hydraulic powerpack terdiri dari beberapa komponen hidrolik yaitu.

a. Motor pump
Disimpan di rangka power generator, motor pump adalah gabungan dari motor
dan pompa hidrolik yang digerakkan dengan tenaga listrik.

Gambar 3 : Motor Pump Hidrolik

13
Motor Pump hidrolik sebagai penyuplai tekanan mempunyai simbol dalam sistem
hidrolik sebagai sebagai berikut :

Gambar 4 : Simbol Motor Pump dalam


sistem hidrolik

Simbol M menjunjukkan motor penggerak, sedangkan pompa bersimbol lingkaran


dengan segitiga hitam kecil, ujung segitiga yang menuju garis (saluran) adalah
arah tekanan fluida hidrolik yang diberikan.

b. Tangki (reservoir)
Tangki hidrolik ada 2 macam yaitu vented reservoir dan closed reservoir yang
biasa digunakan dalam tangki hidrolik pesawat terbang. Vented reservoir
adalah tangki yang umum digunakan dalam testbench dengan saluran udara
keluar sehingga tekanan dalam tangki sama dengan tekanan atmosfir. Karena
tangki ini sifatnya terbuka dan tidak boleh ada udara yang masuk kedalam
sistem, maka tangki jenis ini harus diletakkan diatas motor pump sehingga
fuida mengalir ke inlet motor pump dengan cara gravitasi. Sedangkan tipe
kedua adalah closed reservoir dengan sistem tertutup yang untuk menghindari
tangki menjadi vakum, ditambah tekanan udara eksternal. Simbol dari tangki
hidrolik adalah sebagai berikut :

Gambar 5 : Simbol tangki


(reservoir) tipe closed dan vented

14
c. Filter
Filter berfungsi untuk menyaring kotoran yang dapat masuk ke dalam sistem
hidrolik. Karena kotoran dapat menyumbat komponen dan menyebabkan
sistem tidak berfungsi dengan baik bahkan tidak berjalan sama sekali, simbol
dari filter sebagai berikut :

Gambar 6 : simbol
filter hidrolik

d. Katup (valve)
Katup atau valve ada beberapa jenis diantaranya :

a. Directional valve
Directional valve adalah sebuah katup hidrolik yang fungsinya untuk
mengarahkan tekanan dari motor pump ke aktuator dan sebaliknya dari aktuator
ke tangki.

Gambar 7 : Directional valve lever operated (kiri) dan


solenoid operated (kanan)

15
Gambar 8 : Simbol Directional valve

Contoh simulasi directional valve :

Gambar 9 : Directional valve

Disini ada contoh directional valve dengan tipe 4/3 way, didapat 4/3 dari : 4 =
jumlah port yang tersedia (huruf warna biru) dan 3 = jumlah modul (huruf warna
merah).

Jika directional valve lever operated dihubungkan dengan aktuator dan sumber
tekanan (motor pump) :

16
Posisi 1 Posisi 2

Posisi 3

Gambar 10 : Simulasi
Directional valve

Pada posisi 1, valve dalam modul netral sehingga tekanan fluida berhenti
di port 1 kemudian pada posisi 2, ketika modul awal digerakkan ke modul sebelah

17
kiri tekanan fluida masuk dari port 1 ke port 4 yang akhirnya menggerakkan
aktuator memanjang karena fluida memasuki salah satu ruangan (chamber)
aktuator yang dipisahkan dengan piston dengan ruangan lainnya. Kemudian sisa
fluida yang ada di ruangan yang terdorong piston, terbuang ke port 2 dan
menyambung ke port 3 hingga berakhir di tangki.
Begitu pun pada posisi 3 ketika modul digerakkan ke sebelah kanan,
tekanan fluida akan masuk ke port 1 yang menyambung ke port 2 masuk aktuator
hingga memendekkan piston, dan sissa fluida keluar dari port 4 menuju port 3
menuju tangki.
Penggerak directional valve selain lever operated dan solenoid operated (gambar
8) ada pula contoh lain seperti berikut :

Gambar 11 : Penggerak directional valve

18
b. Shut off valve
Shutoff valve adalah katup yang fungsinya menutup jalur tekanan.

Gambar 12 : Shut off valve dan simbolnya

c. NRV (non return valve) atau Check Valve


Adalah katup yang fungsinya untuk penyearah tekanan, jika tekanan berasal dari
arah A (gambar 14) dan mengalir ke arah B, fluida akan mengalir seperti biasa
namun jika ada back pressure atau tekanan balik dari B ke A, tekanan akan
terhalang oleh bola yang terdapat dalamnya.

Gambar 13 : Check valve

A B

Gambar 14 : Simbol dan cara kerja check valve.

19
d. Relief valve
Adalah katup pengaman yang berfungsi untuk membuang kelebihan tekanan ke
dalam tangki dalam sistem, yang dapat terjadi akibat lonjakan tekanan dari motor
pump. Kelebihan tekanan dapat mengakibatkan kebocoran, kerusakan pada
komponen, bahkan ledakan.

Gambar 15 : Relief Valve dan


simbolnya

Cara kerja relief valve :

Gambar 16 : Relief valve dalam sistem hidrolik.

20
Di gambar 16 dapat dilihat sistem hidrolik dengan suplai 2000 Psi dari
motor pump, dan relief valve di set pada tekanan 2150 Psi. Itu berarti jika terjadi
lonjakan dalam suplai pompa lebih dari 2150 Psi, relief valve akan bekerja
membuka saluran dan membuangnya ke tangki hingga tekanan masuk zona aman
≤ 2150 Psi hingga kemudian menutup kembali.

e. Accumulator
Sebuah komponen dalam sistem hidrolik yang fungsinya :
a. Menahan tekanan impak awalan dari motor pump yang jika diteruskan
langsung ke komponen tanpa melewati accumulator akan
menyebabkan kerusakan
b. Terutama dalam sistem pesawat accumulator berfungsi sebagai
penyimpan cadangan tekanan jika terjadi kegagalan sistem.

Gambar 17 : Accumulator dan simbolnya

21
Gambar 18 : Potongan dari accumulator

Di gambar 19 dapat dilihat cara kerja accumulator adalah ketika fluida


memasuki sistem, tekanan kemudian masuk ke accumulator dan diredam dengan
gas yang ada di ruangan (chamber) lainnya akibat gas yang sifatnya kompresibel
dan akhirnya terjadi peredaman teakanan awal dalam sistem.

f. Pressure gauge
Pressure gauge adalah perangkat kontrol yang gunanya menujukkan tekanan
dalam sistem.

Gambar 19 : Pressure gauge dan simbolnya

22
g. Fluida hidrolik
Fluida hidrolik adalah fluida yang bergerak dalam sistem hidrolik, dalam
kasus ini fluida yang memenuhi untuk prosedur pengujian ATP dan CMM dari
komponen aktuator flap dan brake assy pesawat NC-212 adalah fluida hidrolik
jenis MIL-H-5606 merk aeroshell 41. MIL-H adalah singkatan dari Military
Spesification dan H adalah hidrolik. Fluida hidrolik jenis ini dapat beroperasi pada
suhu -54C hingga 135C pada saat sistem bertekanan, untuk lebih lengkapnya
dapat dilihat spesifikasi berikut :

Tabel 1 : Spesifikasi Fluida hidrolik tipe MIL-H-5606 merk Aeroshell 41

23
2.2 Aktuator Flap Pesawat NC-212
Flap merupakan salah satu bagian dari pesawat terbang yang berfungsi
untuk meningkatkan daya angkat pesawat terbang saat kecepatan rendah agar
pesawat terbang tidak stall (kehilangan daya angkat) dan menambah hambatan
pada pesawat terbang. Flap bekerja dengan cara memperluas permukaan sayap
atau memberikan lengkungan pada sayap untuk meningkatkan lift coefficient
(koefisien daya angkat) pada pesawat terbang tersebut.

Flap dapat dilihat pada saat pesawat akan lepas landas (take off) dan
mendarat (landing). Mengapa pada dua kondisi tersebut? karena pada dua kondisi
tersebut, pesawat berkecepatan rendah. Sehingga untuk meningkatkan daya
angkatnya dibutuhkan tambahan daya angkat dengan cara memperluas permukaan
sayap atau memberi bentuk lengkungan pada sisi sayap. Tentunya juga
penggunaan flap menyesuaikan jenis pesawat dan kondisi landasan
(https://plus.google.com/113171408558365721156/posts/aVDBuPNGKZ1
Paragraf 1 dan 2 27 september 2017 20:53).

Pada sistem flap pesawat NC-212 dibutuhkan aktuator sebagai


penggeraknya yang kemudian ditransmisikan ke serangkaian batang (rod) dan
bellcrank.

24
Flap

Gambar 20 : Aktuator dan Sistem Flap Pesawat NC-212


(C-212-400 Maintenance manual hal.27-51-05-401_Cfg.00)

2.3 CMM (Component maintenance manual), dan ATP (Acceptance Test


Procedure) Aktuator Flap Pesawat NC-212
CMM adalah sebuah dokumen formal mendetail tentang sebuah komponen
yang berisi petunjuk untuk melakukan maintenance sebuah komponen dari mulai
pembongkaran, reparasi dan pemasangan kembali hingga pengujian. Bagian dari
CMM mengenai prosedur pengujian komponen lah yang disebut ATP.

25
Gambar 21 : Prosedur pengujian (ATP)

2.4 Prosedur Pengujian Aktuator Flap Pesawat NC-212


Pesawat NC-212 menggunakan flap aktuator dari N.10 tipe 212-43104.5
dan sesuai lampiran (terlampir), prosedur pengujiannya sebagai berikut :

A. Connect one of the actuator port to the pressure side of a hydraulic fluid
source and the other port to the return. Position actuator piston at the
travel end corresponding to the port where the pressure was connected.

26
Then, increase pressure so that piston slowly moves to the opposite travel
stop. During piston travel, differential pressure shall not exceed
1Kg/sq.cm.
B. Once piston has reached its limit stop, disconnect port connected to return
and plug it. Increase pressure until reaching 0,5 and 210 Kg/sq.cm and
keep pressure at each of both value for three minutes. No failure or fluid
leak to the outside are allowable.
C. Discharge pressure and unplug port previously plugged, increase
pressure until reaching 10 and 140 Kg/sq.cm in both pressure values
leakage through open port must not exceed 20 drops per minute.
D. Discharge pressure and repeat test from paraghraps 1 to 3 but this time
connecting ports reversed.

Penjelasan :
A. Kedua port aktuator dihubungkan ke directional valve, port yang satu
diberi tekanan sehingga yang lainnya jadi return port. Pada kedua outlet
directional valve diberi pressure gauge. Kemuidan naikkan tekanan
hingga aktuator bergerak, catat besarnya tekanan pada pressure gauge
ketika aktuator bergerak di outlet pressure dan outlet return, perbedaan
tekanan tidak boleh lebih dari 1Kg/sq.cm.
B. Ketika aktuator berhenti bergerak, cabut sambungan yang menjadi return
port dan tutup saluran tersebut. Kemudian naikkan tekanan hingga 21
Kg/sq.cm selama 3 menit setelah itu turunkan tekanan hingga 0.5
Kg/sq.cm dan tunggu sekali lagi hingga 3 menit selama masa tunggu (210
dan 0,5 Kg/sq.cm tadi) tidak boleh ada kebocoran pada port return
aktuator dan kebocoran pada seluruh sistem.
C. Sama seperti prosedur C hanya saja tekanan yang diberikan adalah 140
Kg/sq.cm dan 10 Kg/sq.cm toleransi kebocoran yang boleh terjadi adalah
20 tetes per menit.
D. Ulangi prosedur B dan C dengan catatan dilakukan sebaliknya hingga
yang tadinya port return menjadi port pressure dan aktuator bergerak ke
arah sebaliknya.

27
2.5 Pusat Gravitasi Benda Tiga Dimensi
Pusat gravitasi G suatu benda tiga dimensi diperoleh dengan membagi
benda itu menjadi elemen-elemen kecil dan menyatakan berat W benda yang
terpaut di G yang ekivalen dengan sistem gaya terdistribusi ΔW yang menyatakan
berat-berat elemen kecil itu. Hal ini telah dilakukan pada gambar 22 dan 23 untuk
dua macam posisi benda. Dalam gambar 22, sumbu y-nya vertikal; pada gambar
23 benda dan sumbunya telah diputar sehingga sumbu z-nya vertikal. Tiga
persamaan yang bebas bisa diperoleh

Gambar 22 : Posisi Benda 1

̅ 𝑾 = ∑𝒙 ∆𝑾
∑𝑴𝒛 ∶ 𝒙

∑𝑴𝒛 ∶ 𝒛̅ 𝑾 = ∑𝒛 ∆𝑾

Yang dapat menentukan koordinat x,y, dan z dari pusat gravitasi G. Ditulis
dengan memakai elemen kecil-tak terhingga persamaan menjadi

𝒙𝑾 = ∫ 𝒙 𝒅𝑾 𝒚̅𝑾 = ∫ 𝒚̅ 𝒅𝑾 𝒛𝑾 = ∫ 𝒛 𝒅𝑾 (1)

28
Jika benda tersebut terbuat dari bahan yang homogen yang berat jenisnya γ, besar
dW dari berat elemen kecil itu dapat dinyatakan dengan volume dV dari elemen
yang bersangkutan, dan besar W dari berat total dapat dinyatakan dengan volume
total V. Kita tulis

𝒅𝑾 = 𝛄𝒅𝑽 𝑾 = 𝛄𝐕

Dengan mensubstitusikan dW dan W dalam persamaan (1) kita dapatkan

𝒙𝑽 = ∫ 𝒙 𝒅𝑽 𝒚̅𝑽 = ∫ 𝒚̅ 𝒅𝑽 𝒛𝑽 = ∫ 𝒛 𝒅𝑽 (2)

Gambar 23 : Posisi Benda 2

̅ 𝑾 = ∑𝒚̅∆𝑾
∑𝑴𝒙 ∶ 𝒚̅

̅ 𝑾 = ∑𝒙∆𝑾
∑𝑴𝒚̅ ∶ 𝒙

Titik koordinat x̅, y̅, z̅ dikenal juga sebagai titik berat C dari volume V
dari benda tersebut. Jika bendanya tidak homogen, persamaan (2) tidak bisa
dipakai untuk menentukan pusat gravitasi benda; namun persamaan itu tetap
mendefinisikan titik berat volumenya.

29
Integral ∫ 𝒙 𝒅𝑽 dikenal sebagai momen pertama volume terhadap bidang
yz. Demikian juga integral ∫ 𝒚̅ 𝒅𝑽 dan ∫ 𝒛 𝒅𝑽 mendefinisikan momen pertama
terhadap bidang zx dan bidang xy berurutan. Terlihat dari persamaan (2) bahwa
jika titik berat volume terletak pada bidang koordinat, maka momen pertama
volume itu terhadap bidang tersebut menjadi nol.

Volume dikatakan simetris terhadap bidang yang diketahui untuk setiap


titik P dari volume itu terhadap titik P’ dari volume sam dari sedemikian sehingga
garis PP’ tegak lurus pada bidang tersebut dan terbagi dua sama besar oleh bidang
itu. Bidang itu dikenal sebagai bidang simetri volume yang bersangkutan. Bila
volume V memiliki bidang simetri, titik-berat volume tersebut harus terletak pada
bidang itu. Bila suatu volume memiliki dua bidang simetri, titik-berat volume
harusterletak pada garis perpotongan dari kedua bidang itu. Akhirnya, bila
volumeitu memiliki tiga bidang simetri yang berpotonganpada suatu titik yang
terdefinisikandengan baik (yaitu titik pada suatu garis bersama), titik potong
ketiga bidang itu harus berimpit dengan titik-berat volume itu. Sifat ini
memungkinkan kita untuk menentukan secara tepat titik-berat volume dari bol,
elipsoid, kubus, kotak, persegi, dan sebagainya.

Titik berat volume yang taksimetris yang hanya memiliki satu atau dua
bidang simetri harus ditentukan melalui integrasi. Titik-berat volume yang
bentuknya biasa dijumpai seperti terlihat pada gambar 24. Perlu diperhatikan
bahwa titik berat benda putar pada umumnya tidak berimpit dengan titik-berat
penampangnya. Jadi titik-berat setengah bola berbeda dengan bidang setengah
lingkaran, dan titik berat kerucut berbeda dengan titik-berat segitiga.

2.5.1 Benda Komposit


Jika benda itu dapat dibagi menjadi bentuk yang biasa dijumpai sperti pada
gambar 24, koordinat X̅¸ Y̅¸ Z̅ dari pusat gravitasi G dapat diperoleh dengan
menyatakan bahwa momen berat total sama dengan jumlah momen berat berbagai
bagian komponennya. Kita dapatkan :

̅ ∑𝑾 = ∑𝒙
𝑿 ̅𝑾 ̅ ∑𝑾 = ∑𝒚̅
𝒀 ̅𝑾 ̅ ∑𝑾 = ∑𝒛̅𝑾
𝒁 (3)

30
Jika benda itu terdiri dari material yang homogen, pusat gravitasinya berimpit
dengan titik-beratvolume dan persamaan berikut ini bisa dipakai

̅ ∑𝑽 = ∑𝒙
𝑿 ̅𝑽 ̅ ∑𝑽 = ∑𝒚̅
𝒀 ̅𝑽 ̅ ∑𝑽 = ∑𝒛̅𝑽
𝒁 (4)

31
2.6 Metode VDI 2221

32
BAB III METODOLOGI PENYELESAIAN

Dalam bab ini akan di jelaskan langkah-langkah yang dilakukan dalam


menyelesaikan desain rangka testbench. Metode perancangan yang digunakan
adalah metode perancangan VDI 2221 (Verien Deutsche Ingenieur/Persatuan
Insinyur Jerman). Perancangan menurut metode VDI 2221 ditunjukan pada
bagan 2.

Mulai

1. Mengidentifikasi masalah

Kebutuhan Desain

Pengecekan terhadap pemenuhan spesifikasi


2. Membuat bagan fungsi dan
pilihan konsep
Penentuan Konsep

3. Pengumpulan data dan


penentuan dimensi
Desain Awal

4. Penghitungan kekuatan rangka


yang menopang komponen
Hasil Perhitungan

5. Perbaikan dimensi rangka dan


simulasi

Desain Akhir

Selesai

Bagan 1 : Diagram Alir Proses Pembuatan Rangka Hydraulic Testbench

33
3.1 Identifikasi Masalah
Adalah identifikasi masalah yang terjadi untuk menjadi acuan pembuatan
tugas akhir. Dalam hal ini penulis akan merancang sebuah testbench yang dapat
menguji komponen aktuator flap pesawat NC 212, dengan kebutuhan desain
berdasarkan pengujian dari ATP (terlampir) terhadap aktuator flap pesawat NC-
212, maka testbench yang sesuai harus memenuhi spesifikasi sebagai berikut :

1. Mobile, desain sederhana namun kuat menopang hydraulic power pack.


2. Hydraulic powerpack mampu menyuplai tekanan hidrolik hingga 210
Kg/sq.cm atau 2986.9 psi (dibulatkan menjadi 3000 psi), dan aliran minimal 6
Liter/menit karena disesuaikan dengan kekuatan motor pump pesawat NC
212.
3. Mempunyai directional valve manual (dengan lever) dengan 2 port outlet
dilengkapi plug ataupun shut off valve yang dapat dibongkar pasang.
4. Jika semua tekanan di konversi menjadi psi, maka dibutuhkan pressure gauge
yang dapat membaca hingga ketepatan 5 psi karena tekanan minimum yang
dibutuhkan adalah 7 psi (0,5 Kg/sq.cm). Dan tekanan maksimum ≥ 3000 psi
(210 Kg/sq.cm).
5. Mempunyai meja atau dudukan untuk meletakan part yang akan diuji.

3.2 Bagan Fungsi dan Varian Konsep Produk


Kebutuhan desain kemudian diuraikan menjadi sebuah diagram yang
mewakili setiap fungsi yang mungkin dilakukan testbench, yang kemudian
menjadi acuan untuk menentukan varian konsep. Varian konsep adalah beberapa
pilihan konsep yang nantinya akan dipilih salah satu dengan parameter yang
disesuaikan dengan kebutuhan atau spesifikasi desain.

34
FUNGSI RANGKA
TESTBENCH
1 2
Menopang Menggelinding

Bagan 2 : Bagan Fungsi Testbench


2.1 2.2
Menggelinding

35
Menggelinding
depan dan berbagai arah
belakang
1.2 1.2 1.3
Menopang Menopang sistem Menopang fungsi
tempat pengujian hidrolik tambahan
1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4
Menopang box Menopang panel Menjadi tempat Sebagai alat
asesoris dan tool indikator pegangan atau pengamatan
pengujian pengujian dan dorongan pengujian
selektor
4.3.1 Penjelasan Bagan Fungsi
Fungsi rangka testbench adalah :

1. Menopang, yaitu rangka berfungsi untuk menopang tempat pengujian (1.1)


sebagai dudukan aktuator flap, sistem hidrolik (1.2) yang terdiri dari motor
hidrolik; pengatur tekanan; penunjuk tekanan; serta fungsi pengaman
tekanan, juga menopang fungsi tambahan (1.3) berupa : box asesoris dan
tool pengujian (1.3.1) untuk menyimpan asesoris pengujian seperti selang
(hose) dan sambungan selang (union), panel indikator pengujian dan
selektor pengarah tekanan (1.3.2) untuk mengarahkan tekanan masuk
lewat port A atau B, menjadi tempat pegangan atau dorongan (1.3.3), dan
menopang alat pengamatan pengujian (1.3.4) berupa papan akrilik tembus
pandang.

2. Menggelinding, yaitu rangka yang bersifat mobile atau dapat dipindah


pindah sehingga memiliki dua jenis roda yaitu roda tetap yang hanya dapat
menggelinding depan dan belakang (2.1), juga roda yang dapat bergerak
ke segala arah sebagai fungsi kemudi (2.2) atau roda swivel.

Intinya secara keseluruhan fungsi dari rangka testbench ini adalah untuk
menopang seluruh sistem hidrolik beserta perangkat perangkat pendukungnya,
juga tempat pengujian komponen aktuator flap dengan fungsinya yang juga dapat
menggelinding sehingga dapat dibawa ke mana-mana dengan dorongan manusia.

36
Selanjutnya penulis membuat konsep dasar secara keseluruhan berupa
sketch, kemudian dibuat varian konsep desain rangka juga pilihan bahan yang
hendak digunakan berdasarkan bagan fungsi yang sebelumnya.

Gambar 25 : Sketch Konsep Produk

37
Secara garis besar cara kerja testbench adalah setelah part yang diuji
diletakkan pada dudukan aktutator flap dan dihubungkan pada port pengujian A
dan B kemudian hydraulic power pack dinyalakan hingga tekanan menunjukkan
tekanan 3000 Psi, kemudian selektor di gerakkan untuk memanjang dan
memendekkan aktuator dan tekanan dapat terbaca pada penunjuk tekanan port A
dan B, setelah selesai komponen pendukung seperti selang (hose) yang digunakan
pada pengujian dapat diletakkan di box asesoris.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa fungsi rangka adalah untuk menopang


hydraulic power pack bersama perangkat pendukung untuk pengujian yang
sifatnya dapat didorong untuk berpindah tempat.

4.3.2 Varian Konsep Produk 1


Pada varian konsep 1 ini, rancangan dibuat tersusun vertikal antara bagian
sumber tekanan hidrolik pada bagian bawah dan meja penguji di bagian atasnya.
Rangka utama menggunakan rangka dari plat L yang disambung menggunakan
las, sedangkan penyangga hydraulic power pack dan meja pengujian
menggunakan pelat aluminium yang dilas pada rangka utama.

Gambar 26 : Rangka Varian Konsep 1

38
4.3.3 Varian Konsep Produk 2
Pada varian konsep produk 2 jika di bandingkan dengan varian konsep
produk 1 adalah rangka utama menggunakan pipa persegi, kemudian pada bagian
penyangga hydraulic power pack dan meja pengujian tidak lagi menggunakan
pelat aluminium tetapi menggunakan rangka dari pipa persegi yang di las pada
rangka utama.

Gambar 27 : Rangka Varian Konsep Produk 2

3.3 Penilaian Varian Konsep Produk


Penilaian dilakukan berdasarkan beberapa faktor antara lain mudah dalam
penghitungan desain, manufaktur, dan perakitannya. Berikut adalah tabel
penilaian konsep. Garis merah untuk varian konsep 1 dan garis kuning untuk
varian konsep 2 :

39
Tabel 2 : Tabel Penilaian Konsep
Tabel Morfologi Bahan wt. konsep
Keterangan kriteria
Sub fungsi 1 2 3 10 scale 1 2 3
Tiang Ringan 6 s s s
Menopang rangka Kuat 7 s + s
1 sistem keseluruhan utama Mudah pasang 5 s + s
baja Tahan lama 6 s s s
Tiang baja L Pipa Persegi Hollow bulat total 1 12 1
Dudukan Ringan 6 s - +
Menopang Aktuator Kuat 7 + + -
3 komponen flap Tahan lama 6 s s -
aktuator flap aluminium
Aluminium Baja Kayu dural total 7 1 -7
Tempat Ringan 6 s - +
Menopang dudukan Kuat 7 + + -
5 tempat pengujian aktuator Mudah bongkar pasang 5 s s s
aktuator flap flap Tahan lama 6 s s -
Aluminium Baja Kayu

Menopang Penopang
6 sistem hidrolik sistem
hidrolik
Aluminium Baja Kayu

Menopang Tempat
7 panel utama panel
pengujian pengujian
Aluminium Baja Kayu total 7 1 -7
Batang Ergonomis 6 - - s
Menjadi Pegangan Kuat 7 s s s
9 tempat pegangan atau
dan dorongan dorongan
Tiang baja L Pipa Persegi Pipa Bulat baja total -6 -6 0
Akses Tahan getaran 8 + - +
Menjadi mengamati Tahan semburan fluida 9 s s s
10 alat pengamatan dan Tahan gores 6 s + -
pengaman Tembus pandang 7 s + s
Acrylic Kaca Plastik pengujian total 8 5 2
Kuat 7 s - s
Menggelinding Roda Tahan lama 6 s - +
11 ke depan fix Menyerap getaran 9 s + -
dan belakang
Karet pejal Ban Tubeless Polyurethane

Menggelinding Roda
12 ke segala arah bebas

Karet pejal Ban Tubeless Polyurethane total 0 -4 -3

Kesimpulan menurut hasil kriteria, konsep yang paling cocok untuk di jadikan
desain adalah garis kuning atau varian konsep 2.

40
3.4 Perangkat Yang Ditopang Rangka Testbench

a. Hydraulic Power Pack


Adalah perangkat yang berfungsi memberikan tekanan hidrolik pada
sistem testbench. Perangkat ini terdiri dari beberapa komponen yang mempunyai
fungsi berbeda-beda diantaranya adalah : Pengatur tekanan, penyaring, penyearah
tekanan, dan pengaman tekanan.

Hydraulic power pack sesuai kebutuhan spesifikasi adalah mampu


menyuplai tekanan hidrolik hingga 210 Kg/sq.cm atau 2986.9 psi (dibulatkan
menjadi 3000 psi), dan aliran minimal 6 Liter/menit. Dipilih Hydraulic power
pack dari Continental Hydraulic tipe Low Profile Unit W10 karena ukurannya
yang tidak terlalu besar.

Gambar 29 : Spesifikasi Hydraulic Power Pack

41
b. Directional Valve

c. Pressure Gauge

42
BAB IV ANALISIS DAN PERHITUNGAN

4.1 Menentukan Lokasi Titik Berat Rangka


Lokasi titik berat jig dicari dengan menempatkan datum (x,y,z) sebagai
referensi awal perhitungan. Dengan mengetahui material yang digunakan pada
setiap komponen, maka massa jenis dikalikan dengan volume untuk mendapatkan
massa setiap komponen. Dalam hal ini menggunakan software Catia V5 R19 kita
dapat mengetahui titik berat testbench ini secara langsung.

Gambar 30 : Lokasi Datum X, Y, Z dan


Titik Berat Testbench

43
4.2 Perhitungan Beban Total Testbench Terhadap Roda
Untuk menghitung jumlah beban yang diterima terhadap masing-masing
roda, telah diketahui beban testbench keseluruhan dan jarak titik berat jig terhadap
tiap roda.

200.307kg

44
B F D

G P H

A E C
Gambar 31 : Jarak Antar Roda dan Jarak Dari
Datum ke Tiap Tiap Roda

Pada gambar 30 didapatkan titik P sebagai lokasi titik berat testbench,


ditopang oleh empat roda yaitu A, B, C dan D. Jarak antar roda terhadap titik
berat yang berbeda-beda mengakibatkan beban yang di tumpu setiap roda
berbeda. Berikut perhitungan beban yang ditumpu tiap roda.

Diketahui :

 Jarak AE = BF = GP = 330mm
Jarak EC = FD = PH = 400mm
Jarak AC = BD = GH = 730mm

 Jarak AG = CH = EP = 385.2mm
Jarak GB = HD = PF = 345mm
Jarak AB = CD = EF = 730.2mm

 Massa keseluruhan (m) : 200.31Kg


 Percepatan gravitasi (a) : 9.8m/s
 𝑊 = 𝑚. 𝑎 = 200.31𝑘𝑔. 9.81𝑚/𝑠 2 = 1965.04𝑁 = 1965𝑁

45
a. Dilihat dari sumbu Y

AC

AE EC

W
A+B C+D
E+F

Gambar 32 : DBB Sumbu Y Roda

Ʃ𝐌(𝑨+𝑩) = 𝟎
𝑨𝑬. (−𝑾) + 𝑨𝑪. (𝑪 + 𝑫) = 𝟎
𝑨𝑬. (−𝑾)
(𝑪 + 𝑫) =
𝑨𝑪
𝟑𝟑𝟎𝒎𝒎. (−𝟏𝟗𝟔𝟓𝑵)
(𝑪 + 𝑫) =
𝟕𝟑𝟎𝒎𝒎
(𝑪 + 𝑫) = 𝟖𝟖𝟖. 𝟐𝟗𝑵 = 𝟗𝟎. 𝟓𝒌𝒈

Ʃ𝐅𝐳 = 𝟎
(𝑨 + 𝑩) − 𝑾 + (𝑪 + 𝑫) = 𝟎

(𝑨 + 𝑩) = 𝑾 − (𝑪 + 𝑫)

(𝑨 + 𝑩) = 𝟏𝟗𝟔𝟓𝑵 − 𝟖𝟖𝟖. 𝟐𝟗𝑵 = 𝟏𝟎𝟕𝟔. 𝟕𝟏𝑵

(𝑨 + 𝑩) = 𝟏𝟎𝟗. 𝟕𝟔𝒌𝒈

46
b. Dilihat dari sumbu X

AB
Gambar 33
Gambar 34 AG GB

A+C W B+D
G+H

Gambar 35 : DBB Sumbu X Roda

Ʃ𝐌(𝑨+𝑪) = 𝟎
𝑨𝑮. (−𝑾) + 𝑨𝑩. (𝑩 + 𝑫) = 𝟎
𝑨𝑮. (−𝑾)
(𝑩 + 𝑫) =
𝑨𝑩
𝟑𝟖𝟓. 𝟐𝒎𝒎. (−𝟏𝟗𝟔𝟓𝑵)
(𝑩 + 𝑫) =
𝟕𝟑𝟎. 𝟐𝒎𝒎
(𝑩 + 𝑫) = 𝟏𝟎𝟑𝟔. 𝟔𝟎𝑵 = 𝟏𝟎𝟓. 𝟔𝟕𝑲𝒈

Ʃ𝐅𝐳 = 𝟎
(𝑨 + 𝑪) − 𝑾 + (𝑩 + 𝑫) = 𝟎

(𝑨 + 𝑪) = 𝑾 − (𝑩 + 𝑫)

(𝑨 + 𝑪) = 𝟏𝟗𝟔𝟓𝑵 − 𝟏𝟎𝟑𝟔. 𝟔𝟎𝑵 = 𝟗𝟐𝟖. 𝟒𝑵

(𝑨 + 𝑪) = 𝟗𝟒. 𝟔𝟒𝑲𝒈

47
𝑩𝑭
 𝑭𝑫 = (𝑩 + 𝑫). 𝑩𝑫
𝟑𝟑𝟎𝒎𝒎
𝑭𝑫 = 𝟏𝟎𝟑𝟔. 𝟔𝟎𝑵 × = 𝟒𝟔𝟖. 𝟔𝑵 = 𝟒𝟕. 𝟕𝟕𝒌𝒈
𝟕𝟑𝟎𝒎𝒎

 𝑭𝑩 = (𝑩 + 𝑫) − (𝑭𝑫)
𝑭𝑩 = 𝟏𝟎𝟑𝟔. 𝟔𝟎𝑵 − 𝟒𝟔𝟖. 𝟔𝑵 = 𝟓𝟔𝟖𝑵 = 𝟓𝟕. 𝟗𝟎𝒌𝒈

𝑨𝑬
 𝑭𝑪 = (𝑨 + 𝑪). 𝑨𝑪
𝟑𝟑𝟎𝒎𝒎
𝑭𝑪 = 𝟗𝟐𝟖. 𝟒𝑵. = 𝟒𝟏𝟗. 𝟔𝟗𝑵 = 𝟒𝟐. 𝟕𝟖𝒌𝒈
𝟕𝟑𝟎𝒎𝒎

 𝑭𝑨 = (𝑨 + 𝑪) − (𝑭𝑪)
𝑭𝑨 = 𝟗𝟐𝟖. 𝟒𝑵 − 𝟒𝟏𝟗. 𝟔𝟗𝑵 = 𝟓𝟎𝟖. 𝟕𝟏𝑵 = 𝟓𝟏. 𝟖𝟔𝒌𝒈

Dari perhitungan di atas, maka didapatkan beban yang bertumpu pada tiap
roda yaitu roda A = 51.86kg, roda B = 57.90kg, roda C = 42.78kg, roda D =
47.77kg.

Spesifikasi roda yang disarankan yaitu Swivel Castor pada roda C dan F
kemudian Fixed Castor pada roda A dan D berdiameter ∅75mm dengan beban
maksimal yang diijinkan 60kg. Maka roda yang dipakai aman untuk digunakan
pada rangka testbench.

4.3 Perhitungan Beban Hydraulic Power Pack Terhadap Rangka Bawah


Hydraulic Power Pack adalah inti dari testbench, yang berfungsi untuk
memberikan dan mengatur tekanan hidrolik. Dalam rangka testbench diletakkan
paling bawah (lampiran 2), untuk lebih jelasnya pada gambar berikut ini :

48
Z

X
Y

Gambar 36 : Dudukan Hydraulic Power Pack di Rangka Testbench,


Letak Titik Berat dan Titik Tumpunya

49
B F D

P
G H

A Y E C

Gambar 37 : Tumpuan Hydraulic Power Pack Pada Dasar Rangka

Pada gambar 37 didapatkan titik P sebagai lokasi titik berat hydraulic


power pack, ditopang oleh empat titik tumpu pada rangka yaitu A, B, C dan D.
Jarak antar roda terhadap titik berat yang berbeda-beda mengakibatkan beban
yang di tumpu setiap roda berbeda. Berikut perhitungan beban yang ditumpu tiap
roda.

Diketahui :

 Jarak AE = BF = GP = 252.4mm
Jarak EC = FD = PH = 154mm
Jarak AC = BD = GH = 406.4mm

 Jarak AG = CH = EP = 217.6mm
Jarak GB = HD = PF = 438.2mm
Jarak AB = CD = EF = 655.8mm

50
 Massa keseluruhan (m) : 123.201Kg
 Percepatan gravitasi (a) : 9.8m/s
 𝑊 = 𝑚. 𝑎 = 123.201𝐾𝑔. 9.81𝑚/𝑠 2 = 1208.60𝑁

c. Dilihat dari sumbu Y

AC

AE EC

W
A+B C+D
E+F

Gambar 38 : DBB Sumbu Y Roda

Ʃ𝐌(𝑨+𝑩) = 𝟎
𝑨𝑬. (−𝑾) + 𝑨𝑪. (𝑪 + 𝑫) = 𝟎
𝑨𝑬. (−𝑾)
(𝑪 + 𝑫) =
𝑨𝑪
𝟐𝟓𝟐. 𝟒𝒎𝒎. (−𝟏𝟐𝟎𝟖. 𝟔𝟎𝑵)
(𝑪 + 𝑫) =
𝟒𝟎𝟔. 𝟒𝒎𝒎
(𝑪 + 𝑫) = 𝟕𝟓𝟎. 𝟔𝟐𝑵 = 𝟕𝟔. 𝟓𝟏𝑲𝒈

Ʃ𝐅𝐳 = 𝟎
(𝑨 + 𝑩) − 𝑾 + (𝑪 + 𝑫) = 𝟎

(𝑨 + 𝑩) = 𝑾 − (𝑪 + 𝑫)

(𝑨 + 𝑩) = 𝟏𝟐𝟎𝟖. 𝟔𝟎𝑵 − 𝟕𝟓𝟎. 𝟔𝟐𝑵 = 𝟒𝟓𝟕. 𝟗𝟖𝑵

(𝑨 + 𝑩) = 𝟒𝟔. 𝟔𝟖𝑲𝒈

51
d. Dilihat dari sumbu X

AB
Gambar 39
Gambar 40 AG GB

A+C W B+D
G+H

Gambar 41 : DBB Sumbu X Roda

Ʃ𝐌(𝑨+𝑪) = 𝟎
𝑨𝑮. (−𝑾) + 𝑨𝑩. (𝑩 + 𝑫) = 𝟎
𝑨𝑮. (−𝑾)
(𝑩 + 𝑫) =
𝑨𝑩
𝟐𝟏𝟕. 𝟔𝒎𝒎. (−𝟏𝟐𝟎𝟖. 𝟔𝟎𝑵)
(𝑩 + 𝑫) =
𝟔𝟓𝟓. 𝟖𝒎𝒎
(𝑩 + 𝑫) = 𝟒𝟎𝟏. 𝟎𝟐𝑵 = 𝟒𝟎. 𝟖𝟖𝑲𝒈

Ʃ𝐅𝐳 = 𝟎
(𝑨 + 𝑪) − 𝑾 + (𝑩 + 𝑫) = 𝟎

(𝑨 + 𝑪) = 𝑾 − (𝑩 + 𝑫)

(𝑨 + 𝑪) = 𝟏𝟐𝟎𝟖. 𝟔𝟎𝑵 − 𝟒𝟎𝟏. 𝟎𝟐𝑵 = 𝟖𝟎𝟕. 𝟓𝟖𝑵

(𝑨 + 𝑪) = 𝟖𝟐. 𝟑𝟐𝑲𝒈

𝑩𝑭
 𝑭𝑫 = (𝑩 + 𝑫). 𝑩𝑫
𝟐𝟓𝟐. 𝟒𝒎𝒎
𝑭𝑫 = 𝟒𝟎𝟏. 𝟎𝟐. = 𝟐𝟒𝟗. 𝟎𝟓𝑵 = 𝟐𝟓. 𝟑𝟖𝑲𝒈
𝟒𝟎𝟔. 𝟒𝒎𝒎

52
 𝑭𝑩 = (𝑩 + 𝑫) − (𝑭𝑫)
𝑭𝑩 = 𝟒𝟎𝟏. 𝟎𝟐𝑵 − 𝟐𝟒𝟗. 𝟎𝟓𝑵 = 𝟏𝟓𝟏. 𝟗𝟕𝑵 = 𝟏𝟓. 𝟓𝟎𝑲𝒈

𝑨𝑬
 𝑭𝑪 = (𝑨 + 𝑪). 𝑨𝑪
𝟐𝟓𝟐. 𝟒𝒎𝒎
𝑭𝑪 = 𝟖𝟎𝟕. 𝟓𝟖𝑵. = 𝟓𝟎𝟏. 𝟓𝟓𝑵 = 𝟓𝟏. 𝟏𝟐𝑲𝒈
𝟒𝟎𝟔. 𝟒𝒎𝒎

 𝑭𝑨 = (𝑨 + 𝑪) − (𝑭𝑪)
𝑭𝑨 = 𝟖𝟎𝟕. 𝟓𝟖𝑵 − 𝟓𝟎𝟏. 𝟓𝟓𝑵 = 𝟑𝟎𝟔. 𝟎𝟑𝑵 = 𝟑𝟏. 𝟐𝟐𝑲𝒈

Dari perhitungan di atas, maka didapatkan beban yang bertumpu pada tiap
titik yaitu roda A = 31.22kg, titik B = 15.50kg, titik C = 51.12kg, titik D =
25.38kg.

4.6.1 Perhitungan Gaya Pada Batang Rangka Bawah

A
C
Batang 1

D
B
Gambar 42 : Lokasi Batang 2 di Rangka Bawah

53
708mm

52.2mm

RAX C D

A 760.2mm B

RAY RBY

Gambar 43 : Gaya Pada Batang 1

Gaya di C = 15.50kg = 152.05N

Gaya di D = 31.22kg = 306.26N

Kesetimbangan gaya luar

𝜮𝑭𝒙 = 𝟎

𝜮𝐅𝐲 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 − 𝟏𝟓𝟐. 𝟎𝟓𝑵 − 𝟑𝟎𝟔. 𝟐𝟔𝑵 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟒𝟓𝟖. 𝟑𝟏𝑵

𝜮𝐌𝐀 = 𝟎

(−𝟏𝟓𝟐. 𝟎𝟓𝑵 × 𝟓𝟐. 𝟐𝒎𝒎) + (−𝟑𝟎𝟔. 𝟐𝟔𝑵 × 𝟕𝟎𝟖𝒎𝒎)

+(𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎. 𝟐𝒎𝒎) = 𝟎


𝟐𝟐𝟒𝟕𝟔𝟗.𝟎𝟗𝑵𝒎𝒎
 𝑅𝐵𝑌 = = 𝟐𝟗𝟓. 𝟔𝟕𝑵
𝟕𝟔𝟎.𝟐𝒎𝒎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟒𝟓𝟖. 𝟑𝟏𝑵

 𝑹𝑨𝒀 = 𝟒𝟓𝟖. 𝟑𝟏𝑵 − 𝟐𝟗𝟓. 𝟔𝟕𝑵 = 𝟏𝟔𝟐. 𝟔𝟒𝑵

54
Periksa : 𝟏𝟔𝟐. 𝟔𝟒𝑵 − 𝟏𝟓𝟐. 𝟎𝟓𝑵 − 𝟑𝟎𝟔. 𝟐𝟔𝑵 + 𝟐𝟗𝟓. 𝟔𝟕𝑵 = 𝟎

𝑴𝑨 = 𝟎

𝑴𝑪 = 𝑪 × 𝟓𝟐. 𝟐𝒎𝒎 = 𝟏𝟓𝟐. 𝟎𝟓𝑵 × 𝟓𝟐. 𝟐𝒎𝒎 = 𝟕𝟗𝟑𝟕. 𝟎𝟏𝑵𝒎𝒎

𝑴𝑫 = 𝑫 × 𝟕𝟎𝟖𝒎𝒎 = 𝟑𝟎𝟔. 𝟐𝟔𝑵 × 𝟕𝟎𝟖𝒎𝒎 = 𝟐𝟏𝟔𝟖𝟑𝟐. 𝟎𝟖𝑵𝒎𝒎


𝑴𝑩 = (𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎. 𝟐𝒎𝒎) − 𝑴𝑪 − 𝑴𝑫 = 𝟎

 𝑴𝒎𝒂𝒙 = 𝑴𝑫 = 𝟐𝟏𝟔𝟖𝟑𝟐. 𝟎𝟖𝑵𝒎𝒎

Rangka yang ingin dipakai berupa besi hollow kotak dengan dimensi 30 mm x 30
mm x 3 mm dengan bahan baja ASTM A1085 seperti pada Gambar

Gambar 44 : Inersia Besi Hollow Kotak

𝐵 = 30𝑚𝑚 𝐻 = 30𝑚𝑚 𝑡 = 3𝑚𝑚 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑏 = 24𝑚𝑚 ℎ = 24𝑚𝑚

Dikarenakan titik berat persegi luar dan rongga persegi adalah sama, maka titik
̅ = 1 × 𝑏 𝑑𝑎𝑛 𝑌
berat 𝑋 ̅ =1×ℎ
2 2

𝑋̅ = 15𝑚𝑚 𝑌̅ = 15𝑚𝑚

55
momen inersia nya adalah :

1 30×303
𝐼𝑛𝑒𝑟𝑠𝑖𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑔𝑖 𝑙𝑢𝑎𝑟 = 𝐼 = × 𝐵𝐻3 = = 67500𝑚𝑚4
12 12
1 24×243
𝐼𝑛𝑒𝑟𝑠𝑖𝑎 𝑅𝑜𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑔𝑖 = 𝐼 = = 𝑏ℎ3 = = 27648𝑚𝑚4
12 12

 Momen inersia keseluruhan : 𝟔𝟕𝟓𝟎𝟎 − 𝟐𝟕𝟔𝟒𝟖 = 𝟑𝟗𝟖𝟓𝟐𝒎𝒎𝟒

Tabel 3 : Sifat Mekanik Baja ASTM A1085

𝐵
 Jarak titik berat (sumbu Y) = = 15mm
2
𝑀 𝑚𝑎𝑘𝑠 × 𝑌
 Tegangan tarik rangka (σ tarik rangka) = =
𝐼
216832.08𝑁𝑚𝑚 ×15𝑚𝑚
= 81.61N/𝑚𝑚2
39852𝑚𝑚4

 σ tarik maksimum bahan : 65𝑘𝑠𝑖 = 448.16𝑁/𝑚𝑚 2


σ yield bahan 482.63𝑁/𝑚𝑚2
 Safety factor = = = 5.91
σ tarik rangka 81.61𝑁/𝑚𝑚2

 Karena σ tarik rangka < σ tarik maksimum bahan, maka rangka hollow persegi
dengan ukuran 30mm × 30mm × 3mm dengan baja ASTM A1085 aman
untuk menopang hydraulic power pack di batang 1.

56
A

D Batang 2

Gambar 45 : Lokasi Batang 2 di Rangka

Gambar 46 : Gaya Pada Batang 2

Gaya di C = 25.38kg = 248.98N

Gaya di D = 51.12kg = 501.49N

57
Kesetimbangan gaya luar

𝜮𝑭𝒙 = 𝟎

𝜮𝐅𝐲 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 − 𝟐𝟒𝟖. 𝟗𝟖𝑵 − 𝟓𝟎𝟏. 𝟒𝟗𝑵 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟕𝟓𝟎. 𝟒𝟕𝑵

𝜮𝐌𝐀 = 𝟎

(−𝟐𝟒𝟖. 𝟗𝟖𝑵 × 𝟓𝟐. 𝟐𝒎𝒎) + (−𝟓𝟎𝟏. 𝟒𝟗𝑵 × 𝟕𝟎𝟖𝒎𝒎)

+(𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎. 𝟐𝒎𝒎) = 𝟎


𝟑𝟔𝟖𝟎𝟓𝟐.𝟔𝟖𝑵𝒎𝒎
 𝑅𝐵𝑌 = = 𝟒𝟖𝟒. 𝟏𝟓𝑵
𝟕𝟔𝟎.𝟐𝒎𝒎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟕𝟓𝟎. 𝟒𝟕𝑵

 𝑹𝑨𝒀 = 𝟕𝟓𝟎. 𝟒𝟕𝑵 − 𝟒𝟖𝟒. 𝟏𝟓𝑵 = 𝟐𝟔𝟔. 𝟑𝟐𝑵

Periksa : 𝟐𝟔𝟔. 𝟑𝟐𝑵 − 𝟐𝟒𝟖. 𝟗𝟖𝑵 − 𝟓𝟎𝟏. 𝟒𝟗𝑵 + 𝟒𝟖𝟒. 𝟏𝟓𝑵 = 𝟎

𝑴𝑨 = 𝟎

𝑴𝑪 = 𝑪 × 𝟓𝟐. 𝟐𝒎𝒎 = 𝟐𝟒𝟖. 𝟗𝟖𝑵 × 𝟓𝟐. 𝟐𝒎𝒎 = 𝟏𝟐𝟗𝟗𝟔. 𝟕𝟔𝑵𝒎𝒎

𝑴𝑫 = 𝑫 × 𝟕𝟎𝟖𝒎𝒎 = 𝟓𝟎𝟏. 𝟒𝟗𝑵 × 𝟕𝟎𝟖𝒎𝒎 = 𝟑𝟓𝟓𝟎𝟓𝟒. 𝟗𝟐𝑵𝒎𝒎


𝑴𝑩 = (𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎. 𝟐𝒎𝒎) − 𝑴𝑪 − 𝑴𝑫 = 𝟎

 𝑴𝒎𝒂𝒙 = 𝑴𝑫 = 𝟑𝟓𝟓𝟎𝟓𝟒. 𝟗𝟐𝑵𝒎𝒎

Rangka yang ingin dipakai berupa besi hollow kotak dengan dimensi 30 mm x 30
mm x 3 mm dengan bahan baja ASTM A1085 seperti pada Gambar

58
Gambar 47 : Inersia Pada Besi Hollow Kotak

𝐵 = 30𝑚𝑚 𝐻 = 30𝑚𝑚 𝑡 = 3𝑚𝑚 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑏 = 24𝑚𝑚 ℎ = 24𝑚𝑚

Dikarenakan titik berat persegi luar dan rongga persegi adalah sama, maka titik
̅ = 1 × 𝑏 𝑑𝑎𝑛 𝑌
berat 𝑋 ̅ =1×ℎ
2 2

𝑋̅ = 15𝑚𝑚 𝑌̅ = 15𝑚𝑚

momen inersia nya adalah :

1 30×303
𝐼𝑛𝑒𝑟𝑠𝑖𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑔𝑖 𝑙𝑢𝑎𝑟 = 𝐼 = × 𝐵𝐻3 = = 67500𝑚𝑚4
12 12
1 24×243
𝐼𝑛𝑒𝑟𝑠𝑖𝑎 𝑅𝑜𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑔𝑖 = 𝐼 = = 𝑏ℎ3 = = 27648𝑚𝑚4
12 12

 Momen inersia keseluruhan : 𝟔𝟕𝟓𝟎𝟎 − 𝟐𝟕𝟔𝟒𝟖 = 𝟑𝟗𝟖𝟓𝟐𝒎𝒎𝟒

59
Tabel 4 : Sifat Mekanik Baja ASTM A1085

𝐵
 Jarak titik berat (sumbu Y) = = 15mm
2
𝑀 𝑚𝑎𝑘𝑠 × 𝑌
 Tegangan tarik rangka (σ tarik rangka) = =
𝐼
355054.92𝑁𝑚𝑚 ×15𝑚𝑚
= 133.64N/𝑚𝑚2
39852𝑚𝑚4

 σ tarik maksimum bahan : 65𝑘𝑠𝑖 = 448.16𝑁/𝑚𝑚 2


σ yield bahan 482.63𝑁/𝑚𝑚2
 Safety factor = = = 3.61
σ tarik rangka 133.64𝑁/𝑚𝑚2

 Karena σ tarik rangka < σ tarik maksimum bahan, maka rangka hollow persegi
dengan ukuran 30mm × 30mm × 3mm dengan baja ASTM A1085 aman
untuk menopang hydraulic power pack di batang 2.

4.4 Perhitungan Beban Box Asesoris Terhadap Rangka Bawah


Box asesoris berfungsi untuk menyimpan asesoris pengujian. Dalam
rangka testbench diletakkan paling bawah (lampiran 2), untuk lebih jelasnya pada
gambar berikut ini :

60
Z

X
Massa : 12.59kg

Y B

61
Gambar 48 : Tumpuan Box Asesoris Pada Dasar
Rangka
342.9mm
C

A 685.8mm B

RAY RBY

Gaya di C adalah sama dengan gaya titik berat maka C = 12.59kg = 123.51N

𝜮𝐌𝐀 = 𝟎

= 𝑅𝐴𝑌 (685.8𝑚𝑚) − 342.9(123.51𝑁)

𝑅𝐴𝑌 = 61.755𝑁

𝜮𝐅𝐘 = 𝟎

= 𝑅𝐴𝑌 − 123.51𝑁 + 𝑅𝐵𝑌

𝑅𝐵𝑌 = 61.755𝑁
A C B

Batang 1

Y Batang 2

62
X
161.8mm
C

A 323.6mm B

RAY RBY
Gaya pada titik C = 61.755N, maka

𝜮𝐌𝐀 = 𝟎

= 𝑅𝐴𝑌 (323.6𝑚𝑚) − 161.8(61.755𝑁)

𝑅𝐴𝑌 = 30.87𝑁

𝜮𝐅𝐘 = 𝟎

= 𝑅𝐴𝑌 − 61.755𝑁 + 𝑅𝐵𝑌

𝑅𝐵𝑌 = 30.87𝑁

Karena gaya yang dikenakan pada batang juga sama, dan dapat diketahui
Momen max pada batang :

30.87𝑁 × 161.8𝑚𝑚 = 4994.77𝑁𝑚𝑚

Rangka yang ingin dipakai berupa besi hollow kotak dengan dimensi 30
mm x 30 mm x 3 mm dengan bahan baja ASTM A1085 yang diketahui :

 Momen inersia keseluruhan : 39852𝑚𝑚4


𝐵
 Jarak titik berat (sumbu Y) = = 15mm
2
𝑀 𝑚𝑎𝑘𝑠 × 𝑌
 Tegangan tarik rangka (σ tarik rangka) = =
𝐼
4994.77𝑁𝑚𝑚 ×15𝑚𝑚
= 1.88N/𝑚𝑚2
39852𝑚𝑚4

63
 σ tarik maksimum bahan : 65𝑘𝑠𝑖 = 448.16𝑁/𝑚𝑚 2
σ yield bahan 482.63𝑁/𝑚𝑚2
 Safety factor = = = 256.71
σ tarik rangka 1.88𝑁/𝑚𝑚2

 Karena σ tarik rangka < σ tarik maksimum bahan, maka rangka hollow
persegi dengan ukuran 30mm × 30mm × 3mm dengan baja ASTM
A1085 aman untuk menopang hydraulic power pack di batang 2.

4.5 Perhitungan Beban Gabungan Hydraulic Power Pack dan Box Asesoris
Terhadap Batang Rangka Bawah

Batang 1

Batang 2

Gambar 49 : Beban Dua Komponen Terhadap Batang 1 dan 2

64
708mm

685.2m
m
52.2m
m
75mm
RAX

C D E F

A 760.2mm B

RAY RBY

Gaya C = 248.98N F = 501.49N

Gaya D = E = 30.87𝑁

𝜮𝑭𝒙 = 𝟎

𝜮𝐅𝐲 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 − 𝟐𝟒𝟖. 𝟗𝟖𝑵 − 𝟑𝟎. 𝟖𝟕𝑵 − 𝟑𝟎. 𝟖𝟕𝑵 − 𝟓𝟎𝟏. 𝟒𝟗𝑵 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟖𝟏𝟐. 𝟐𝟏𝑵

𝜮𝐌𝐀 = 𝟎

(−𝟐𝟒𝟖. 𝟗𝟖𝑵 × 𝟓𝟐. 𝟐𝒎𝒎) + (−𝟑𝟎. 𝟖𝟓𝑵 × 𝟕𝟓𝒎𝒎) + (−𝟑𝟎. 𝟖𝟓𝑵 × 𝟔𝟖𝟓. 𝟐𝒎𝒎)

+(−𝟓𝟎𝟏. 𝟒𝟗𝑵 × 𝟕𝟎𝟖𝒎𝒎) + (𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎. 𝟐𝒎𝒎) = 𝟎


𝟑𝟔𝟖𝟎𝟓𝟐.𝟔𝟖𝑵𝒎𝒎
 𝑅𝐵𝑌 = = 𝟓𝟏𝟓𝑵
𝟕𝟔𝟎.𝟐𝒎𝒎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟖𝟏𝟐. 𝟐𝟏𝑵

 𝑹𝑨𝒀 = 𝟖𝟏𝟐. 𝟐𝟏𝑵 − 𝟓𝟏𝟓𝑵 = 𝟐𝟗𝟕. 𝟖𝟏𝑵

Periksa : 𝟐𝟗𝟕. 𝟖𝟏𝑵 − 𝟐𝟒𝟖. 𝟗𝟖𝑵 − 𝟑𝟎. 𝟖𝟕𝑵 − 𝟑𝟎. 𝟖𝟕𝑵 − 𝟓𝟎𝟏. 𝟒𝟗𝑵 + 𝟓𝟏𝟓𝑵 = 𝟎

65
Sehingga gaya pada batang 1 :

C
A B

421.4mm C

A 760mm B

RAY RBY
Diketahui :

𝑹𝑨𝒀 = 𝟏𝟔𝟐. 𝟔𝟒𝑵

C = 𝟐𝟗𝟕. 𝟖𝟏𝑵

66
Maka, 𝑹𝑩𝒀 = 𝟏𝟑𝟓. 𝟏𝟕𝑵

 𝑀𝑚𝑎𝑥 = 𝐶 × 421.2𝑚𝑚 = 297.81𝑁 × 421.4𝑚𝑚 = 125497.13𝑁𝑚𝑚

Rangka yang ingin dipakai berupa besi hollow kotak dengan dimensi 30
mm x 30 mm x 3 mm dengan bahan baja ASTM A1085 yang diketahui :

 Momen inersia keseluruhan : 39852𝑚𝑚4


𝐵
 Jarak titik berat (sumbu Y) = = 15mm
2
𝑀 𝑚𝑎𝑘𝑠 × 𝑌
 Tegangan tarik rangka (σ tarik rangka) = =
𝐼
125497.13 ×15𝑚𝑚
= 47.23N/𝑚𝑚2
39852𝑚𝑚4
 σ tarik maksimum bahan : 65𝑘𝑠𝑖 = 448.16𝑁/𝑚𝑚 2
σ yield bahan 482.63𝑁/𝑚𝑚2
 Safety factor = = = 10.21
σ tarik rangka 47.23𝑁/𝑚𝑚2

 Karena σ tarik rangka < σ tarik maksimum bahan, maka rangka hollow persegi
dengan ukuran 30mm × 30mm × 3mm dengan baja ASTM A1085 aman
untuk menopang hydraulic power pack di batang 1.

Gaya pada batang 2 :

67
A B

421.4mm C

A 760mm B

RAY RBY
Diketahui :

𝑹𝑨𝒀 = 𝟐𝟗𝟓. 𝟔𝟕𝑵

C = 𝟓𝟏𝟓𝑵

Maka, 𝑹𝑩𝒀 = 𝟐𝟏𝟗. 𝟑𝟑𝑵

 𝑀𝑚𝑎𝑥 = 𝐶 × 421.2𝑚𝑚 = 515𝑁 × 421.4𝑚𝑚 = 217021𝑁𝑚𝑚

Rangka yang ingin dipakai berupa besi hollow kotak dengan dimensi 30
mm x 30 mm x 3 mm dengan bahan baja ASTM A1085 yang diketahui :

 Momen inersia keseluruhan : 39852𝑚𝑚4


𝐵
 Jarak titik berat (sumbu Y) = = 15mm
2
𝑀 𝑚𝑎𝑘𝑠 × 𝑌
 Tegangan tarik rangka (σ tarik rangka) = =
𝐼
217021𝑁 ×15𝑚𝑚
= 81.68N/𝑚𝑚2
39852𝑚𝑚4
 σ tarik maksimum bahan : 65𝑘𝑠𝑖 = 448.16𝑁/𝑚𝑚 2
σ yield bahan 482.63𝑁/𝑚𝑚2
 Safety factor = = = 5.90
σ tarik rangka 81.68𝑁/𝑚𝑚2

68
 Karena σ tarik rangka < σ tarik maksimum bahan, maka rangka hollow persegi
dengan ukuran 30mm × 30mm × 3mm dengan baja ASTM A1085 aman
untuk menopang hydraulic power pack di batang 1.

4.6 Perhitungan Beban Dudukan dan Aktuator Flap Terhadap Rangka


Atas

69
Gambar 50 : Dudukan Aktuator Flap di Rangka
Testbench, Letak Titik Berat dan Titik Tumpunya
F
B D

G P H

A C
E
X

Y
Gambar 51 : Titik Tumpu Pada Rangka Atas

 Jarak AE = BF = GP = 52.3mm
Jarak EC = FD = PH = 37.7mm
Jarak AC = BD = GH = 90mm

 Jarak AG = CH = EP = 45mm
Jarak GB = HD = PF = 45mm
Jarak AB = CD = EF = 90mm

 Massa keseluruhan (m) : 4.067Kg

70
 Percepatan gravitasi (a) : 9.8m/s
 𝑊 = 𝑚. 𝑎 = 4.067𝐾𝑔. 9.81𝑚/𝑠 2 = 39.89𝑁 = 40𝑁

a. Dilihat dari sumbu Y

AC

AE EC

W
A+B C+D
E+F

Gambar 52 : DBB Sumbu Y Roda

Ʃ𝐌(𝑨+𝑩) = 𝟎
𝑨𝑬. (−𝑾) + 𝑨𝑪. (𝑪 + 𝑫) = 𝟎
𝑨𝑬. (−𝑾)
(𝑪 + 𝑫) =
𝑨𝑪
𝟓𝟐. 𝟑𝒎𝒎. (−𝟒𝟎𝑵)
(𝑪 + 𝑫) =
𝟗𝟎𝒎𝒎
(𝑪 + 𝑫) = 𝟐𝟑. 𝟐𝟒𝑵 = 𝟐. 𝟑𝟕𝑲𝒈

Ʃ𝐅𝐳 = 𝟎
(𝑨 + 𝑩) − 𝑾 + (𝑪 + 𝑫) = 𝟎

(𝑨 + 𝑩) = 𝑾 − (𝑪 + 𝑫)

(𝑨 + 𝑩) = 𝟒𝟎𝑵 − 𝟐𝟑. 𝟐𝟒𝑵 = 𝟏𝟔. 𝟕𝟔𝑵

(𝑨 + 𝑩) = 𝟏. 𝟕𝟎𝑲𝒈

71
b. Dilihat dari sumbu X

AB
Gambar 53
Gambar 54 AG GB

A+C W B+D
G+H

Gambar 55 : DBB Sumbu X Roda

Ʃ𝐌(𝑨+𝑪) = 𝟎
𝑨𝑮. (−𝑾) + 𝑨𝑩. (𝑩 + 𝑫) = 𝟎
𝑨𝑮. (−𝑾)
(𝑩 + 𝑫) =
𝑨𝑩
𝟒𝟓𝒎𝒎. (−𝟒𝟎𝑵)
(𝑩 + 𝑫) =
𝟗𝟎𝒎𝒎
(𝑩 + 𝑫) = 𝟐𝟎𝑵 = 𝟐. 𝟎𝟑𝑲𝒈

Ʃ𝐅𝐳 = 𝟎
(𝑨 + 𝑪) − 𝑾 + (𝑩 + 𝑫) = 𝟎

(𝑨 + 𝑪) = 𝑾 − (𝑩 + 𝑫)

(𝑨 + 𝑪) = 𝟒𝟎𝑵 − 𝟐𝟎𝑵 = 𝟐𝟎𝑵


(𝑨 + 𝑪) = 𝟐. 𝟎𝟑𝑲𝒈

72
𝑩𝑭
 𝑭𝑫 = (𝑩 + 𝑫). 𝑩𝑫
𝟓𝟐. 𝟑𝒎
𝑭𝑫 = 𝟐𝟎𝑵 × = 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 = 𝟏. 𝟏𝟖𝒌𝒈
𝟗𝟎𝒎𝒎

 𝑭𝑩 = (𝑩 + 𝑫) − (𝑭𝑫)
𝑭𝑩 = 𝟐𝟎𝑵 − 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 = 𝟖. 𝟑𝟖𝑵 = 𝟎. 𝟖𝟓𝒌𝒈

𝑨𝑬
 𝑭𝑪 = (𝑨 + 𝑪). 𝑨𝑪
𝟓𝟐. 𝟑𝒎𝒎
𝑭𝑪 = 𝟐𝟎𝑵 × = 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑲𝒈 = 𝟏. 𝟏𝟖𝒌𝒈
𝟗𝟎𝒎𝒎

 𝑭𝑨 = (𝑨 + 𝑪) − (𝑭𝑪)
𝑭𝑨 = 𝟐𝟎𝑵 − 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 = 𝟖. 𝟑𝟖𝑵 = 𝟎. 𝟖𝟓𝒌𝒈

Dari perhitungan di atas, maka didapatkan beban yang bertumpu pada tiap
titik yaitu titik A = 0.85 kg, titik B = 0.85kg, titik C = 1.18kg, titik D = 1.18kg.

4.6.1 Perhitungan Gaya Batang 1 Pada Rangka

73
B

410.1mm

320.1mm

RAX C D

A 760.2mm B

RAY RBY
Gambar 56 : Gaya Pada Batang 1

Gaya di C = 0.85kg = 8.38N

Gaya di D = 0.85kg = 8.38N

Kesetimbangan gaya luar

𝜮𝑭𝒙 = 𝟎

𝜮𝑭𝒚̅ = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 − 𝟖. 𝟑𝟖𝑵 − 𝟖. 𝟑𝟖𝑵 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟏𝟔. 𝟕𝟔𝑵

𝜮𝑴𝑨 = 𝟎

(−𝟖. 𝟑𝟖𝑵 × 𝟑𝟐𝟎. 𝟏𝒎𝒎) + (−𝟖. 𝟑𝟖𝑵 × 𝟒𝟏𝟎. 𝟏𝒎𝒎)

+(𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎. 𝟐𝒎𝒎) = 𝟎


𝟔𝟏𝟏𝟗.𝟎𝟕𝑵𝒎𝒎
 𝑅𝐵𝑌 = = 𝟖. 𝟎𝟒𝑵
𝟕𝟔𝟎.𝟐𝒎𝒎

74
𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟏𝟔. 𝟕𝟔𝑵

 𝑹𝑨𝒀 = 𝟏𝟔. 𝟕𝟔𝑵 − 𝟖. 𝟎𝟒𝑵 = 𝟖. 𝟕𝟐𝑵

Periksa : 𝟖. 𝟕𝟐𝑵 − 𝟖. 𝟑𝟖𝑵 − 𝟖. 𝟑𝟖𝑵 + 𝟖. 𝟎𝟒𝑵 = 𝟎

𝑴𝑨 = 𝟎

𝑴𝑪 = 𝑪 × 𝟑𝟐𝟎. 𝟏𝒎𝒎 = 𝟖. 𝟑𝟖𝑵 × 𝟑𝟐𝟎. 𝟏𝒎𝒎 = 𝟐𝟔𝟖𝟐. 𝟒𝟑𝑵𝒎𝒎

𝑴𝑫 = 𝑫 × 𝟒𝟏𝟎. 𝟏𝒎𝒎 = 𝟖. 𝟑𝟖𝑵 × 𝟒𝟏𝟎. 𝟏𝒎𝒎 = 𝟑𝟒𝟑𝟔. 𝟔𝟒𝑵𝒎𝒎

𝑴𝑩 = (𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎. 𝟐𝒎𝒎) − 𝑴𝑪 − 𝑴𝑫 = 𝟎

 𝑴𝒎𝒂𝒙 = 𝑴𝑫 = 𝟑𝟒𝟑𝟔. 𝟔𝟒𝑵𝒎𝒎

Rangka yang ingin dipakai berupa besi hollow kotak dengan dimensi 30
mm x 30 mm x 3 mm dengan bahan baja ASTM A1085 yang diketahui :

 Momen inersia keseluruhan : 39852𝑚𝑚4


𝐵
 Jarak titik berat (sumbu Y) = = 15mm
2
𝑀 𝑚𝑎𝑘𝑠 × 𝑌
 Tegangan tarik rangka (σ tarik rangka) = =
𝐼
3436.64𝑁𝑚𝑚 ×15𝑚𝑚
= 1.29N/𝑚𝑚2
39852𝑚𝑚4
 σ tarik maksimum bahan : 65𝑘𝑠𝑖 = 448.16𝑁/𝑚𝑚 2
σ yield bahan 482.63𝑁/𝑚𝑚2
 Safety factor = = = 374.17
σ tarik rangka 1.29𝑁/𝑚𝑚2

 Karena σ tarik rangka < σ tarik maksimum bahan, maka rangka hollow persegi
dengan ukuran 30mm × 30mm × 3mm dengan baja ASTM A1085 aman
untuk menopang hydraulic power pack di batang 1.

75
4.6.2 Perhitungan Gaya Batang 2 Pada Rangka

410.1mm

320.1mm

RAX C D

A 760.2mm B

RAY RBY
Gambar 57 : Gaya Pada Batang 2
76
Gaya di C = 1.18kg = 11.62N

Gaya di D = 1.18kg = 11.62N

Kesetimbangan gaya luar

𝜮𝑭𝒙 = 𝟎

𝜮𝑭𝒚̅ = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 − 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 − 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟐𝟑. 𝟐𝟒𝑵

𝜮𝑴𝑨 = 𝟎

(−𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 × 𝟑𝟐𝟎. 𝟏𝒎𝒎) + (−𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 × 𝟒𝟏𝟎. 𝟏𝒎𝒎)

+(𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎. 𝟐𝒎𝒎) = 𝟎


𝟖𝟒𝟖𝟒.𝟗𝟐𝑵𝒎𝒎
 𝑅𝐵𝑌 = = 𝟏𝟏. 𝟏𝟔𝑵
𝟕𝟔𝟎.𝟐𝒎𝒎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟐𝟑. 𝟐𝟒𝑵

 𝑹𝑨𝒀 = 𝟐𝟑. 𝟐𝟒𝑵 − 𝟏𝟏. 𝟏𝟔𝑵 = 𝟏𝟐. 𝟎𝟖𝑵

Periksa : 𝟏𝟐. 𝟎𝟖𝑵 − 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 − 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 + 𝟏𝟏. 𝟏𝟔𝑵 = 𝟎

𝑴𝑨 = 𝟎

𝑴𝑪 = 𝑪 × 𝟑𝟐𝟎. 𝟏𝒎𝒎 = 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 × 𝟑𝟐𝟎. 𝟏𝒎𝒎 = 𝟑𝟕𝟏𝟗. 𝟓𝟔𝑵𝒎𝒎

𝑴𝑫 = 𝑫 × 𝟒𝟏𝟎. 𝟏𝒎𝒎 = 𝟏𝟏. 𝟔𝟐𝑵 × 𝟒𝟏𝟎. 𝟏𝒎𝒎 = 𝟒𝟕𝟔𝟓. 𝟑𝟔𝑵𝒎𝒎


𝑴𝑩 = (𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎. 𝟐𝒎𝒎) − 𝑴𝑪 − 𝑴𝑫 = 𝟎

 𝑴𝒎𝒂𝒙 = 𝑴𝑫 = 𝟒𝟕𝟔𝟓. 𝟑𝟔𝑵𝒎𝒎

77
Rangka yang ingin dipakai berupa besi hollow kotak dengan dimensi 30
mm x 30 mm x 3 mm dengan bahan baja ASTM A1085 yang diketahui :

 Momen inersia keseluruhan : 39852𝑚𝑚4


𝐵
 Jarak titik berat (sumbu Y) = = 15mm
2
𝑀 𝑚𝑎𝑘𝑠 × 𝑌
 Tegangan tarik rangka (σ tarik rangka) = =
𝐼
4765𝑁𝑚𝑚 ×15𝑚𝑚
= 1.80N/𝑚𝑚2
39852𝑚𝑚4
 σ tarik maksimum bahan : 65𝑘𝑠𝑖 = 448.16𝑁/𝑚𝑚 2
σ yield bahan 482.63𝑁/𝑚𝑚2
 Safety factor = = = 268.17
σ tarik rangka 1.80𝑁/𝑚𝑚2

 Karena σ tarik rangka < σ tarik maksimum bahan, maka rangka hollow
persegi dengan ukuran 30mm × 30mm × 3mm dengan baja ASTM
A1085 aman untuk menopang hydraulic power pack di batang 2.

4.6.3 Perhitungan Gaya Batang 3 Pada Rangka

A
C D B
B

78
425mm

335mm

RAX C D

A 760mm B

RAY RBY

Gambar 58 : Gaya Pada Batang 3

Gaya di C = 0.89kg = 8.72N

Gaya di D = 1.23kg = 12.08N

Kesetimbangan gaya luar

𝜮𝑭𝒙 = 𝟎

𝜮𝑭𝒚̅ = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 − 𝟖. 𝟕𝟐𝑵 − 𝟏𝟐. 𝟎𝟖𝑵 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟐𝟎. 𝟖𝑵

𝜮𝑴𝑨 = 𝟎

(−𝟖. 𝟕𝟐𝑵 × 𝟑𝟑𝟓𝒎𝒎) + (−𝟏𝟐. 𝟎𝟖𝑵 × 𝟒𝟐𝟓𝒎𝒎)

+(𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎𝒎𝒎) = 𝟎
𝟖𝟎𝟓𝟓.𝟐𝑵𝒎𝒎
 𝑅𝐵𝑌 = = 𝟏𝟎. 𝟔𝟎𝑵
𝟕𝟔𝟎𝒎𝒎

79
𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟐𝟎. 𝟖𝑵

 𝑹𝑨𝒀 = 𝟐𝟎. 𝟖𝑵 − 𝟏𝟎. 𝟔𝟎𝑵 = 𝟏𝟎. 𝟐𝑵

Periksa : 𝟏𝟎. 𝟐𝑵 − 𝟖. 𝟕𝟐𝑵 − 𝟏𝟐. 𝟎𝟖𝑵 + 𝟏𝟎. 𝟔𝟎𝑵 = 𝟎

𝑴𝑨 = 𝟎

𝑴𝑪 = 𝑪 × 𝟑𝟑𝟓𝒎𝒎 = 𝟖. 𝟕𝟐𝑵 × 𝟑𝟑𝟓𝒎𝒎 = 𝟐𝟗𝟐𝟏. 𝟐𝑵𝒎𝒎

𝑴𝑫 = 𝑫 × 𝟒𝟐𝟓𝒎𝒎 = 𝟏𝟐. 𝟎𝟖𝑵 × 𝟒𝟐𝟓𝒎𝒎 = 𝟓𝟏𝟑𝟒𝑵𝒎𝒎


𝑴𝑩 = (𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎𝒎𝒎) − 𝑴𝑪 − 𝑴𝑫 = 𝟎

 𝑴𝒎𝒂𝒙 = 𝑴𝑫 = 𝟓𝟏𝟑𝟒𝑵𝒎𝒎

Rangka yang ingin dipakai berupa besi hollow kotak dengan dimensi 30
mm x 30 mm x 3 mm dengan bahan baja ASTM A1085 yang diketahui :

 Momen inersia keseluruhan : 39852𝑚𝑚4


𝐵
 Jarak titik berat (sumbu Y) = = 15mm
2
𝑀 𝑚𝑎𝑘𝑠 × 𝑌
 Tegangan tarik rangka (σ tarik rangka) = =
𝐼
5134𝑁𝑚𝑚 ×15𝑚𝑚
= 1.93N/𝑚𝑚2
39852𝑚𝑚4
 σ tarik maksimum bahan : 65𝑘𝑠𝑖 = 448.16𝑁/𝑚𝑚 2
σ yield bahan 482.63𝑁/𝑚𝑚2
 Safety factor = = = 250.06
σ tarik rangka 1.93𝑁/𝑚𝑚2

 Karena σ tarik rangka < σ tarik maksimum bahan, maka rangka hollow persegi
dengan ukuran 30mm × 30mm × 3mm dengan baja ASTM A1085 aman
untuk menopang hydraulic power pack di batang 3.

80
4.6.4 Perhitungan Gaya Batang 4 Pada Rangka

A C D B

425mm

335mm

RAX C D

A 760mm B

RAY RBY

81
Gambar 59 : Gaya Pada Batang 4

Gaya di C = 0.82kg = 8.04N

Gaya di D = 1.14kg = 11.16N

Kesetimbangan gaya luar

𝜮𝑭𝒙 = 𝟎

𝜮𝑭𝒚̅ = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 − 𝟖. 𝟎𝟒𝑵 − 𝟏𝟏. 𝟏𝟔𝑵 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟏𝟗. 𝟐𝑵

𝜮𝑴𝑨 = 𝟎

(−𝟖. 𝟎𝟒𝑵 × 𝟑𝟑𝟓𝒎𝒎) + (−𝟏𝟏. 𝟏𝟔𝑵 × 𝟒𝟐𝟓𝒎𝒎)

+(𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎𝒎𝒎) = 𝟎
𝟕𝟒𝟑𝟔.𝟒𝑵𝒎𝒎
 𝑅𝐵𝑌 = = 𝟗. 𝟕𝟖𝑵
𝟕𝟔𝟎𝒎𝒎

𝑹𝑨𝒀 + 𝑹𝑩𝒀 = 𝟏𝟗. 𝟐𝑵

 𝑹𝑨𝒀 = 𝟏𝟗. 𝟐𝑵 − 𝟗. 𝟕𝟖𝑵 = 𝟗. 𝟒𝟐𝑵

Periksa : 𝟗. 𝟒𝟐𝑵 − 𝟖. 𝟎𝟒𝑵 − 𝟏𝟏. 𝟏𝟔𝑵 + 𝟗. 𝟕𝟖𝑵 = 𝟎

𝑴𝑨 = 𝟎

𝑴𝑪 = 𝑪 × 𝟑𝟑𝟓𝒎𝒎 = 𝟖. 𝟎𝟒𝑵 × 𝟑𝟑𝟓𝒎𝒎 = 𝟐𝟔𝟗𝟑. 𝟒𝑵𝒎𝒎

𝑴𝑫 = 𝑫 × 𝟒𝟐𝟓𝒎𝒎 = 𝟏𝟏. 𝟏𝟔𝑵 × 𝟒𝟐𝟓𝒎𝒎 = 𝟒𝟕𝟒𝟑𝑵𝒎𝒎


𝑴𝑩 = (𝑹𝑩𝒀 × 𝟕𝟔𝟎𝒎𝒎) − 𝑴𝑪 − 𝑴𝑫 = 𝟎

 𝑴𝒎𝒂𝒙 = 𝑴𝑫 = 𝟒𝟕𝟒𝟑𝑵𝒎𝒎

Rangka yang ingin dipakai berupa besi hollow kotak dengan dimensi 30
mm x 30 mm x 3 mm dengan bahan baja ASTM A1085 yang diketahui :

82
 Momen inersia keseluruhan : 39852𝑚𝑚4
𝐵
 Jarak titik berat (sumbu Y) = = 15mm
2
𝑀 𝑚𝑎𝑘𝑠 × 𝑌
 Tegangan tarik rangka (σ tarik rangka) = =
𝐼
4743𝑁𝑚𝑚 ×15𝑚𝑚
= 1.78N/𝑚𝑚2
39852𝑚𝑚4
 σ tarik maksimum bahan : 65𝑘𝑠𝑖 = 448.16𝑁/𝑚𝑚 2
σ yield bahan 482.63𝑁/𝑚𝑚2
 Safety factor = = = 271.14
σ tarik rangka 1.78𝑁/𝑚𝑚2

 Karena σ tarik rangka < σ tarik maksimum bahan, maka rangka hollow
persegi dengan ukuran 30mm × 30mm × 3mm dengan baja ASTM
A1085 aman untuk menopang hydraulic power pack di batang 1.

4.7 Perhitungan Beban Rangka Atas Terhadap Rangka Vertikal Bawah

83
B F D

G P
H

A Y E C

 Jarak AE = BF = GP = 399.6 mm
Jarak EC = FD = PH = 330.4mm
Jarak AC = BD = GH = 730mm

 Jarak AG = CH = EP = 480mm
Jarak GB = HD = PF = 250mm
Jarak AB = CD = EF = 730.2mm

 Massa keseluruhan (m) : 44.50kg


 Percepatan gravitasi (a) : 9.8m/s

84
 𝑊 = 𝑚. 𝑎 = 44.50𝑘𝑔. 9.81𝑚/𝑠 2 = 436.55𝑁

c. Dilihat dari sumbu Y

AC

AE EC

W
A+B C+D
E+F

Gambar 60 : DBB Sumbu Y Roda

Ʃ𝐌(𝑨+𝑩) = 𝟎
𝑨𝑬. (−𝑾) + 𝑨𝑪. (𝑪 + 𝑫) = 𝟎
𝑨𝑬. (−𝑾)
(𝑪 + 𝑫) =
𝑨𝑪
𝟑𝟗𝟗. 𝟔𝒎𝒎. (−𝟒𝟑𝟔. 𝟓𝟓𝑵)
(𝑪 + 𝑫) =
𝟕𝟑𝟎𝒎𝒎
(𝑪 + 𝑫) = 𝟐𝟑𝟖. 𝟗𝟕𝑵 = 𝟐𝟒. 𝟑𝟔𝒌𝒈

Ʃ𝐅𝐳 = 𝟎
(𝑨 + 𝑩) − 𝑾 + (𝑪 + 𝑫) = 𝟎

(𝑨 + 𝑩) = 𝑾 − (𝑪 + 𝑫)

(𝑨 + 𝑩) = 𝟒𝟑𝟔. 𝟓𝟓𝑵 − 𝟐𝟑𝟖. 𝟗𝟕𝑵 = 𝟏𝟗𝟕. 𝟓𝟖𝑵

(𝑨 + 𝑩) = 𝟐𝟎. 𝟏𝟒𝑲𝒈

85
d. Dilihat dari sumbu X

AB
Gambar 61
Gambar 62 AG GB

A+C W B+D
G+H

Gambar 63 : DBB Sumbu X Roda

Ʃ𝐌(𝑨+𝑪) = 𝟎
𝑨𝑮. (−𝑾) + 𝑨𝑩. (𝑩 + 𝑫) = 𝟎
𝑨𝑮. (−𝑾)
(𝑩 + 𝑫) =
𝑨𝑩
𝟒𝟖𝟎𝒎𝒎. (−𝟒𝟑𝟔. 𝟓𝟓𝑵)
(𝑩 + 𝑫) =
𝟕𝟑𝟎. 𝟐𝒎𝒎
(𝑩 + 𝑫) = 𝟐𝟖𝟔. 𝟗𝟕𝑵 = 𝟐𝟗. 𝟐𝟓𝒌𝒈

Ʃ𝐅𝐳 = 𝟎
(𝑨 + 𝑪) − 𝑾 + (𝑩 + 𝑫) = 𝟎

(𝑨 + 𝑪) = 𝑾 − (𝑩 + 𝑫)

(𝑨 + 𝑪) = 𝟒𝟑𝟔. 𝟓𝟓𝑵 − 𝟐𝟖𝟔. 𝟗𝟕𝑵 = 𝟏𝟒𝟗. 𝟓𝟖𝑵


(𝑨 + 𝑪) = 𝟏𝟓. 𝟐𝟓𝒌𝒈

86
𝑩𝑭
 𝑭𝑫 = (𝑩 + 𝑫). 𝑩𝑫
𝟑𝟗𝟗. 𝟔𝒎
𝑭𝑫 = 𝟐𝟖𝟔. 𝟗𝟕𝑵 × = 𝟏𝟓𝟕. 𝟎𝟖𝑵 = 𝟏𝟔. 𝟎𝟏𝒌𝒈
𝟕𝟑𝟎𝒎𝒎

 𝑭𝑩 = (𝑩 + 𝑫) − (𝑭𝑫)
𝑭𝑩 = 𝟐𝟖𝟔. 𝟗𝟕𝑵 − 𝟏𝟓𝟕. 𝟎𝟖𝑵 = 𝟏𝟐𝟗. 𝟗𝟎𝑵 = 𝟏𝟑. 𝟐𝟒𝑲𝒈

𝑨𝑬
 𝑭𝑪 = (𝑨 + 𝑪). 𝑨𝑪
𝟑𝟗𝟗. 𝟔𝒎𝒎
𝑭𝑪 = 𝟏𝟒𝟗. 𝟓𝟖𝑵 × = 𝟖𝟏. 𝟖𝟖𝑵 = 𝟖. 𝟑𝟓𝒌𝒈
𝟕𝟑𝟎𝒎𝒎

 𝑭𝑨 = (𝑨 + 𝑪) − (𝑭𝑪)
𝑭𝑨 = 𝟏𝟒𝟗. 𝟓𝟖𝑵 − 𝟖𝟏. 𝟖𝟖𝑵 = 𝟔𝟕. 𝟕𝑵 = 𝟔. 𝟗𝟎𝑲𝒈

Dari perhitungan di atas, maka didapatkan beban yang bertumpu pada tiap
titik yaitu titik A = 6.90 kg, titik B = 13.24kg, titik C = 8.35kg, titik D = 16.01kg.

B = 13.24kg

A = 6.90kg
D = 16.01kg

C = 8.35kg
570mm

87
Karena panjang kolom sama, maka diambil kolom yang menopang beban
terberat yaitu 16,10kg. Kemudian dilakukan perhitungan untuk menghitung
kemungkinan buckling atau tekukan.

Diketahui :

 Panjang batang : 570mm


 Panjang efektif : 𝐿𝑒 = 𝐿 × 𝐾 = 570𝑚𝑚 × 0.5 (𝑗𝑒𝑝𝑖𝑡 − 𝑗𝑒𝑝𝑖𝑡) = 285𝑚𝑚
 Modulus elastisitas : 𝐸 = 190𝐺𝑝𝑎 = 21000 𝑁⁄𝑚𝑚2 (baja ASTM A1085)
 Momen inersia : 39852𝑚𝑚4 (pipa persegi baja ASTM A1085)
 Beban tekuk izin :
𝑃 𝜋 2 ×𝐸×𝐼 3.14×21000𝑁⁄𝑚𝑚2 ×39852𝑚𝑚4
𝑃̅ = 𝑐𝑟 = = = 107852kg
𝑉 𝑆𝑓×𝐿𝑒 2 3×(285𝑚𝑚)2

Beban < beban ijin, maka rangka dinyatakan aman.

88