Anda di halaman 1dari 21

PSIKOMOTOR

DERMATOTERAPI

DISUSUN OLEH :
Karel Respati 2011730144

DOKTER PEMBIMBING:
Dr. Chadijah Rifai, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2018
DERMATOTERAPI

Pendahuluan

Penyakit kulit dapat diobati dengan bermacam-macam cara, antara lain:

a. Topikal

b. Sistemik

c. Intralesi

Jika cara pengobatan diatas belum memadai, maka masih dapat dipergunakan cara-cara lain,
yaitu:

1. Radioterapi

2. Sinar Ultraviolet

3. Pengobatan Laser

4. Krioterapi

5. Bedah Listrik

6. Bedah Skalpel

Dengan adanya kemajuan-kemajuan yang pesat dalam bidang farmasi, maka


pengobatan penyakit kulit juga ikut berkembang pesat. Yang menarik perhatian adalah
kemajuan dalam bidang pengobatan topikal yang berupa perubahan dari cara pengobatan
nonspesifik dan empirik menjadi pengobatan spesifik dengan dasar yang rasional.

Maksud uraian ini ialah memperkenalkan bentuk dan cara pengobatan topikal yang
disesuaikan dengan keadaan penyakit kulit.

Pengobatan Topikal
Kegunaan dan khasiat pengobatan topikal didapat dari pengaruh fisik dan kimiawi
obat-obat yang diaplikasi di atas kulit yang sakit. Pengaruh fisik antara lain ialah
mengeringkan, membasahi (hidrasi), melembutkan, lubrikasi, mendinginkan, memanaskan,
dan melindungi (proteksi) dari pengaruh buruk dari luar. Semua hal itu bermaksud untuk
mengadakan homeostasis, yaitu mengembalikan kulit yang sakit dan jaringan di sekitarnya ke

1
keadaan fisiologik stabil secepat-cepatnya. Disamping itu untuk menghilangkan gejala-gejala
yang mengganggu, misalnya rasa gatal dan panas.
Cara pengobatan pada jaman dulu terutama ditujukan kepada efek fisik terhadap kulit
yang sakit.
Dalam jangka waktu 20 tahun terakhir ini telah dikembangkan preparat-preparat
topikal yang mempunyai khasiat kimiawi yang spesifik terhadap organisme di kulit atau
terhadap kulit itu sendiri. Secara ideal maka pemberian obat topikal harus berkhasiat fisis
maupun kimiawi. Kalau obat topikal digunakan secara rasional, maka hasilnya juga optimal,
sebaliknya kalau digunakan secara salah obat topikal menjadi tidak efektif dapat
menyebabkan penyakit iatrogenik. Prinsip obat topikal secara umum terdiri atas 2 bagian:
a. Bahan Dasar (vehikulum)
b. Bahan Aktif

II.1. Bahan Dasar (vehikulum)


Memilih bahan dasar (vehikulum) obat topikal merupakan langkah awal dan
terpenting yang harus diambil pada pengobatan penyakit kulit. Pada umumnya sebagai
pegangan ialah pada keadaan dermatosis yang membasah dipakai bahan dasar yang
cair/basah, misalnya kompres; dan pada keadaan kering dipakai bahan dasar padat/kering,
misalnya salap. Secara sederhana bahan dasar dibagi menjadi :
1. Cairan
2. Bedak
3. Salap
Disamping itu ada 2 campuran atau lebih bahan dasar, yaitu:
4. Bedak kocok (lotion), yaitu campuran cairan dan bedak
5. Krim, yaitu campuran cairan dan salap
6. Pasta, yaitu campuran salap dan bedak
7. Linimen (pasta pendingin), yaitu campuran cairan, bedak, dan salap

1. CAIRAN
Cairan terdiri atas:
a. Solusio artinya larutan dalam air
b. Tingtura artinya larutan dalam alkohol
Solusio dibagi dalam:
1. Kompres

2
2. Rendam (bath), misalnya rendam kaki, rendam tangan
3. Mandi (full bath)
Prinsip pengobatan cairan ialah membersihkan kulit yang sakit dari debris (pus, krusta
dan sebagainya) dan sisa-sisa obat topikal yang pernah dipakai. Di samping itu terjadi
perlunakan dan pecahnya vesikel, bula, dan pustula. Hasil akhir pengobatan ialah keadaan
yang membasah menjadi kering, permukaan menjadi bersih sehingga mikroorganisme tidak
dapat tumbuh dan mulai terjadi proses epitelisasi. Pengobatan cairan berguna juga untuk
menghilangkan gejala, misalnya rasa gatal, rasa terbakar, parestesi oleh bermacam-macam
dermatosis.
Harus diingat bahwa pengobatan dengan cairan dapat menyebabkan kulit menjadi
terlalu kering. Jadi pengobatan cairan harus dipantau secara teliti, kalau keadaan sudah mulai
kering
pemakaiannya dikurangi dan kalau perlu dihentikan untuk diganti dengan bentuk pengobatan
lainnya. Cara kompres lebih disukai daripada cara rendam dan mandi, karena pada kompres
terdapat pendinginan dengan adanya penguapan, sedangkan pada rendam dan mandi terjadi
proses maserasi.
Bahan aktif yang dipakai dalam kompres ialah biasanya bersifat astringen dan
antimikrobal. Astringen mengurangi eksudat akibat presipitasi protein.
Dikenal 2 macam cara kompres, yaitu:
A. Kompres Terbuka
DASAR
Penguapan cairan kompres disusul oleh absorbsi eksudat atau pus.
INDIKASI
- Dermatosis Madidans
- Infeksi kulit dengan eritema yang mencolok, misalnya erisipelas
- Ulkus kotor yang mengandung pus dan kusta
EFEK PADA KULIT
- Kulit yang semula eksudatif menjadi kering
- Permukaan kulit menjadi kering
- Vasokonstriksi
- Eritema berkurang

3
CARA
Digunakan kain kasa yang bersifat absorben dan non-iritasi serta tidak terlalu tebal (3-
lapis). Balutan jangan terlalu ketat, tidak perlu steril, dan jangan menggunakan kapas karena
lekat dan menghambat penguapan.
Kasa dicelup ke dalam cairan kompres, diperas, lalu dibalutkan dan didiamkan,
biasanya sehari dua kali selama 3 jam. Hendaknya jangan sampai terjadi maserasi. Bila
kering dibasahkan
lagi. Daerah yang dikompres luasnya 1/3 bagian tubuh agar tidak terjadi pendinginan.

B. Kompres Tertutup
SINONIM
Kompres Impermeabel
DASAR
Vasodilatasi, bukan untuk penguapan

INDIKASI
Kelainan yang dalam, misalnya limfogranuloma venerium
CARA
Digunakan pembalut tebal dan ditutup dengan bahan impermeabel, misalnya selofan atau
plastik.
2. BEDAK
Bedak yang dioleskan di atas kulit membuat lapisan tipis di kulit yang tidak melekat
erat sehingga penetrasinya sedikit sekali.
Efek bedak ialah:
- Mendinginkan
- Antiinflamasi ringan karena ada sedikit efek vasokonstriksi
- Antipruritus lemah
- Mengurangi pergeseran pada kulit yang berlipat (intertrigo)
- Proteksi mekanis
Yang diharapkan dari bedak terutama ialah efek fisis. Bahan dasarnya ialah talkum
venetum. Biasanya bedak dicampur dengan seng oksida, sebab zat ini bersifat mengabsorbsi
air dan sebum, astringen, antiseptik lemah dan antipruritus lemah.

4
INDIKASI
1. Dermatosis yang kering dan superfisial
2. Mempertahankan vesikel/bula agar tidak pecah, misalnya pada varisela dan herpes zoster.
KONTRAINDIKASI
Dermatitis yang basah, terutama bila disertai dengan infeksi sekunder

3. SALAP
Salap ialah bahan berlemak atau seperti lemak, yang pada suhu kamar berkonsistensi
seperti mentega. Bahan dasar biasanya vaselin, tapi dapat pula lanolin atau minyak.
INDIKASI
1. Dermatosis yang kering dan kronik
2. Dermatosis yang dalam dan kronik, karena daya penetrasi salap paling kuat jika
dibandingkan dengan bahan dasar lainnya
3. Dermatosis yang bersisik dan berkrusta
KONTRAINDIKASI : dermatitis madidans. Jika kelainan kulit terdapat pada bagian badan
yang berambut, penggunaan salap tidak dianjurkan dan salap jangan dipakai di seluruh tubuh.

4. BEDAK KOCOK
Bedak kocok terdiri atas campuran air dan bedak, yang biasanya ditambah dengan
gliserin sebagai bahan perekat. Supaya bedak tidak terlalu kental dan tidak cepat menjadi
kering, maka jumlah zat padat maksimal 40% dan jumlah gliserin 10-15%. Hal ini berarti bila
beberapa zat aktif padat ditambahkan, maka persentase tersebut jangan dilampaui.
INDIKASI
1. Dermatosis yang kering, superfisial dan agak luas, yang diinginkan adalah sedikit
penetrasi.
2. Pada keadaan subakut
KONTRAINDIKASI
1. Dermatitis Madidans
2. Daerah badan yang berambut

5. KRIM
Krim adalah campuran W (water, air), O (oil, minyak) dan emulgator.
Krim ada dua jenis:
- Krim W/O: air merupakan fase dalam dan minyak fase luar

5
- Krim O/W: minyak merupakan fase dalam dan air fase luar
Selain itu dipakai emulgator, dan biasanya ditambah bahan pengawet, misalnya
paraben dan juga dicampur dengan parfum. Berbagai bahan aktif dapat dimasukkan di dalam
krim.
INDIKASI
1. Indikasi kosmetik
2. Dermatosis yang subakut dan luas, yang dikehendaki ialah penetrasi yang lebih besar
daripada bedak kocok.
3. Krim boleh digunakan di daerah yang berambut
KONTRAINDIKASI
Dermatitis madidans

6. PASTA
Pasta ialah campuran homogen bedak dan vaselin. Pasta bersifat protektif dan
mengeringkan.
INDIKASI
Dermatosis yang agak basah.
KONTRAINDIKASI
Dermatosis yang eksudatif dan daerah yang berambut. Untuk daerah genital eksterna dan
lipatan-lipatan badan pasta tidak dianjurkan karena terlalu melekat.

7. LINIMEN
Linimen atau pasta pendingin ialah campuran cairan, bedan, dan salap
INDIKASI
Dermatosis yang subakut

KONTRAINDIKASI
Dermatosis madidans

GEL
Ada vehikulum lain yang tidak termasuk dalam “Bagan Vehikulum”. Gel ialah
sediaan hidrokoloid atau hidrofilik berupa suspensi yang dibuat dari senyawa organik. Zat
untuk membuat gel diantaranya ialah karbomer, metilselulosa, dan tragakan. Bila zat-zat

6
tersebut dicampur dengan air dengan perbandingan tertentu akan terbentuk gel. Karbomer
akan membuat gel menjadi sangat jernih dan halus.
Gel segera mencair, jika berkontak dengan kulit dan membentuk satu lapisan.
Absorpsi per kutan lebih baik daripada krim.

II.2 Bahan Aktif


Memilih obat topikal selain faktor vehikulum, juga faktor bahan aktif yang
dimasukkan ke dalam vehikulum yang mempunyai khasiat tertentu yang sesuai untuk
pengobatan topikal. Khasiat bahan aktif topikal dipengaruhi oleh keadaan fisiko-kimia
permukaan kulit, di samping komposisi formulasi zat yang dipakai.
Di dalam resep harus ada bahan aktif dan vehikulum. Bahan aktif dapat berinteraksi
satu sama lain. Yang penting ialah, apakah bahan yang kita campurkan itu dapat
tercampurkan atau tidak, sebab ada obat/zat yang sifatnya O.T.T.(obat tidak tercampurkan).
Asam salisilat, misalnya dapat dicampur dengan asam lainnya, contohnya asam
benzoat atau dengan ter, resorsinol tidak tercampurkan dengan yodium, garam, besi atau
bahan yang bersifat oksidator.
Penetrasi bahan aktif melalui kulit dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk
konsentrasi obat, kelarutannya dalam vehikulum, besar partikel, viskositas, dan efek
vehikulum terhadap kulit.
Bahan aktif yang digunakan diantaranya ialah:

1. Aluminium asetat
Contohnya ialah larutan Burowi yang mengandung aluminium asetat 5%. Efeknya
adalah astringen dan antiseptik ringan. Jika hendak digunakan sebagai kompres diencerkan
1:10

2. Asam asetat
Dipakai sebagai larutan 5% untuk kompres, bersifat antiseptik untuk infeksi
Pseudomonas.

3. Asam benzoat
Mempunyai sifat antiseptik terutama fungisidal. Digunakan dalam salap Whitfield
dengan konsentrasi 5%. Menurut British Pharmaceutical Codex susunannya demikian:

7
R/ Acidi benzoici 5
Acidi salicylici 3
Petrolati 28
Olei cocos 64

Modifikasi salap tersebut ialah A.A.V. II yang di bagian kami digunakan untuk
penyakit jamur superfisial. Salap tersebut berisi asam salisilat 6% dan asam benzoat 12%.
Sedangkan salap lain ialah A.A.V.I berisi asam salisilat 3% dan asam benzoat 6%, jadi
konsentrasi bahan aktif hanya separuhnya.

4. Asam borat
Konsentrasinya 3%, tidak dianjurkan untuk dipakai sebagai bedak, kompres atau
dalam salap berhubung efek antiseptiknya sangat sedikit dan dapat bersifat toksik, terutama
pada kelainan yang luas dan erosif terlebih-lebih pada bayi.

5. Asam salisilat
Merupakan zat keratolitik yang tertua yang dikenal dalam pengobatan topikal.
Efeknya adalah mengurangi proliferasi epitel dan menormalisasi keratinisasi yang terganggu.
Pada konsentrasi rendah (1-2%) mempunyai efek keratoplastik, yaitu menunjang
pembentukan keratin yang baru. Pada konsentrasi tinggi (3-20%) bersifat keratolitik dan
dipakai untuk keadaan dermatosis yang hiperkeratotik. Pada konsentrasi sangat tinggi (40%)
dipakai untuk kelainan-kelainan yang dalam, misalnya kalus dan veruka plantaris. Asam
salisil dalam konsentrasi 1%o dipakai sebagai kompres, bersifat antiseptik. Penggunaannya,
misalnya untuk dermatitis eksudatif. Asam salisil 3%-5% juga bersifat mempertinggi
absorbsi per kutan zat-zat aktif.

6. Asam undesilenat
Bersifat antimikotik dengan konsentrasi 5% dalam salap atau krim. Dicampur dengan
garam seng (Zn undecylenic) 20%.

7. Asam vit.A (tretinoin, asam retinoat)


Efek
- memperbaiki keratinisasi menjadi normal, jika terjadi gangguan

8
- meningkatkan sintesis D.N.A dalam epitelium germinatif
- meningkatkan laju mitosis
- menebalkan stratum granulosum
- menormalkan parakeratosis
Indikasi
- penyakit dengan sumbatan folikular
- penyakit dengan hiperkeratosis
- pada proses menua kulit akibat sinar matahari

8. Benzokain
Bersifat anestesi. Konsentrasinya ½-5%, tidak larut dalam air, lebih larut dalam
minyak (1:35), dan lebih larut lagi dalam alkohol. Dapat digunakan dalam vehikulum yang
lain. Sering menyebabkan sensitisasi.

9. Benzil benzoat
Cairan berkhasiat sebagai skabisid dan pedikulosid. Digunakan sebagai emulsi denga
konsentrasi 20% atau 25%.

10. Camphora
Konsentrasinya 1-2%. Bersifat antipruritus berdasarkan penguapan zar tersebut
sehingga terjadi pendinginan. Dapat dimasukkan ke dalam bedak atau bedak kocok yang
mengandung alkohol agar dapat dipakai dalam salap dan krim.

11. Kortikosteroid topikal


Pada tahun 1952 SULZBERGER dan WITTEN memperkenalkan hidrokortison dan
hidrokortison asetat sebagai obat topikal pertama dari golongan kortikosteroid (K.S.). Hal ini
merupakan kemajuan yang sangat besar dalam pengobatan penyakit kulit topikal karena KS
mempunyai khasiat yang sangat luas, yaitu: anti inflamasi, anti alergi, anti pruritus, anti
mitotik, dan vasokonstriksi. Pada penyelidikan ternyata bahwa kortison dan Adreno-Cortico
Trophic Hormone (A.C.T.H.) tidak efektif sebagai obat topikal.
Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1960 diperkenalkan KS yang lebih poten
daripada hidrokortison, yaitu KS yang bersenyawa halogen yang dikenal sebagai fluorinated
corticosteroid. Penambahan 1 atom F pada posisi 6 dan 9 dan satu rantai samping pada posisi
16 dan 17, menghasilkan bentuk yang mempunyai potensi tinggi. Zat-zat ini pada konsentrasi

9
0,025% sampai 0,1% memberikan pengaruh anti inflamasi yang kuat, yang termasuk
golongan ini ialah: antara lain: betametason, betametason valerat, betametason benzoat,
fluosinolon asetonid, dan triamsinolon asetonid.

Penggolongan
Kortikosteroid topikal dibagi menjadi 7 golongan besar, diantaranya berdasarkan
anti-inlamasi dan antimitotik. Golongan I yang paling kuat daya anti-inflamasi dan anti
mitotiknya (superpoten). Sebaliknya golongan VII yang terlemah (potensi lemah)

Tabel 49-1. PENGGOLONGAN KORTIKOSTEROID TOPIKAL BERDASARKAN


POTENSI KLINIS

KLASIFIKASI NAMA DAGANG NAMA GENERIK


Golongan I : (super poten) Diprolene ointment 0,05% betamethason
Diprolene AF cream dipropionate
Psorcon ointment 0,05% diflorasone diacetate
Temovate ointment 0,05% clobetasol
Temovate cream propionate
Ultravate ointment 0,05% halobetasol
Ultravate cream propionate

Golongan II : (potensi Cyclocort ointment 0,1% amcinonide


tinggi) Diprosone ointment 0,05% betamethasone
Elocon ointment dipropionate
Florone ointment 0,01% mometasone fuorate
Halog ointment 0,05% diflorasone diacetate
Halog cream 0,01% halcinonide
Halog solution 0,05% fluocinonide
Lidex ointment 0,05% diflorasone diacetate
Lidex cream 0,05% betamethasone
Lidex gel dipropionate
Lidex solution 0,25% desoximetasone
Maxiflor ointment 0,05% desoximetasone

10
Maxivate ointment
Maxivate cream
Topicort ointment
Topicort cream
Topicort gel

Golongan III : (potensi Aristocort A ointment 0,1% triamcinolone


tinggi) Cultivate ointment acetonide
Cyclocort cream 0,005% fluticasone
Cyclocort lotion propionate
Diprosone cream 0,1 amcinonide
Flurone cream 0,05% betamethasone
Lidex E cream dipropionate
Maxiflor cream 0,05% diflorosone diacetate
Maxivate lotion 0,05% fluocinonide
Topicort LP cream 0,05% diflorosone diacetate
Valisone ointmen 0,05% betamethasone
dipropionate
0,05% desoximetasone
0,01% betamethasone
valerat

Golongan IV : (potensi Aristocort ointment 0,1% triamcinolone acetonid


medium) Cordran ointment
Elocon cream 0,05% flurandrenolide
Elocon lotion
Kenalog ointment 0,1% mometasone furoate
Kenalog cream 0,1% triamcinolone
Synalar ointment acetonide
Westcort ointment 0,025% fluocinolone
acetonide

11
0,2% hydrocortisone
valerate

Golongan V : (potensi Cordran cream 0,05% flurandrenolide


medium) Cutivate cream 0,05% fluticasone
Dermatop cream propionate
Diprosone lotion 0,1% prednicarbate
Kenalog lotion 0,05% betamethasone
Locoid ointment dipropionate
Locoid cream 0,1% triamcinolone
Synalar cream acetonide
Tridesilon ointment 0,1% hydrocortisone
Valisone cream butyrate
Westcort cream 0,025% fluocinolone
acetonide
0,05% desonide
0,1% betamethasone
valerate
0,2% hydrocortisone
valerate

Golongan VI : (potensi Aclovate ointment 0,05% aclometasone


medium) Aclovate cream 0,1% triamcinolone
Aristocort cream acetonide
DesOwen cream 0,05% desonide
Kenalog cream 0,025% triamcinolone
Kenalog lotion acetonide
Locoid solution 0,1% hydrocortisone
Synalar cream butyrate
Synalar solution 0,01% fluocinolone
Tridesilon cream acetonide

12
Valisone lotion 0,05% desonide
0,1% betamethasone
valerate

Golongan VII : (potensi Obat topikal dengan


lemah) hidrokortison,
deksametason,
glumetalon, prednisolon,
dan metilprednisolon

INDIKASI
Kortikosteroid topikal potensi kuat belum tentu merupakan obat pilihan untuk suatu
penyakit kulit (MARKS, 1985). Harus selalu diingat bahwa K.T. bersifat paliatif dan supresif
terhadap penyakit kulit dan bukan merupakan pengobatan kausal.
Dermatosis yang responsif dengan K.T. ialah: psoriasis, dermatitis atopik, dermatitis
kontak, dermatitis seboroik, neurodermatitis sirkumskripta, dermatitis numularis, dermatitis
stasis, dermatitis venenata, dermatitis intertriginosa, dan dermatitis solaris (fotodermatitis).
Dermatosis yang kurang responsif ialah lupus eritematosus diskoid, psoriasis di
telapak tangan dan kaki, nekrobiosis lipoidika diabetikorum, vitiligo, granuloma anulare,
sarkoidosis, liken planus, pemfigoid, eksantema fikstum.
Dermatosis yang responsif dengan kortikosteroid intralesi ialah keloid, jaringan parut
hipertrofik, alopesia areata, akne berkista, prurigo nodularis, morfea, dermatitis dengan
likenifikasi, liken amiloidosis, dan vitiligo (sebagian responsif).
Di samping K.T. tersebut ada pula kortikosteroid yang disuntikan intralesi, misalnya
triamsinolon asetonid.

Pemilihan Jenis K.T


Dipilih K.T. yang sesuai, aman, efek samping sedikit dan harga murah; di samping itu
ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu jenis penyakit kulit, jenis vehikulum,

13
kondisi penyakit, luas/tidaknya lesi, dalam/dangkalnya lesi, dan lokalisasi lesi. Perlu juga
dipertimbangkan umur penderita.

APLIKASI KLINIS
a. Cara Aplikasi
Pada umumnya dianjurkan pemakaian salap 2-3x/hari sampai penyakit tersebut
sembuh. Perlu dipertimbangkan adanya gejala takifilaksis. Takifilaksis adalah menurunnya
respon kulit terhadap glukokortikoid karena pemberian obat yang berulang-ulang; berupa
toleransi akut yang berarti efek vasokonstriksinya akan menghilang, setelah diistirahatkan
beberapa hari efek vasakonstriksi akan timbul kembali dan akan menghilang lagi bila
pengolesan obat tetap dilanjutkan.
b. Lama Pemakaian Steroid Topikal
Lama pemakaian steroid topikal sebaiknya tidak lebih dari 4-6 minggu untuk steroid
potensi lemah dan tidak lebih dari 2 minggu untuk potensi kuat.
Sebagai ilustrasi dapat diberikan contoh sebagai berikut:
1. Psoriasis
Penyakit psoriasis dengan skuama tebal berupa plakat, memerlukan steroid yang
poten (golongan I) dengan vehikulum salap atau krim.
2. Dermatitis atopik
Pada anak diperlukan steroid topikal yang lemah mengingat umur anak, lokalisasi
penyakit dan kulit pada anak masih halus dan tipis. Dipilih bentuk krim. Pada dewasa
diperlukan K.T. yang poten dalam bentuk salap.
3. Dermatitis kontak alergik
Pemakaian steroid dengan potensi sedang biasanya cukup untuk mengatasi penyakit
ini. Zat penyebab harus dihindari.
4. Dermatitis dishidrotik
Dermatitis ini memerlukan steroid yang poten dalam bentuk salap, sebab kulit di
daerah itu tebal.
5. Dermatitis numular
Lesi biasanya multipel dan memerluka K.T. yang poten
6. Dermatitis seboroik
Dermatitis ini cukup sensitif terhadap K.T. dan memerlukan steroid potensi sedang.
7. Dermatitis intertriginosa

14
Dermatitis ini memerlukan K.T. dengan potensi sedang untuk menghilangkan gejala
gatal dan rasa panas.

EFEK SAMPING
Efek samping terjadi bila:
1. Penggunaan K.T. yang lama dan berlebihan
2. Penggunaan K.T. dengan potensi kuat atau sangat kuat atau penggunaan secara
oklusif.
Harus diingat bahwa makin tinggi potensi K.T., makin cepat terjadinya efek samping.
Gejala efek samping:
1. Atrofi
2. Strie atrofise
3. Telangiektasis
4. Purpura
5. Dermatosis akneformis
6. Hipertrikosis setempat
7. Hipopigmentasi
8. Dermatitis perioral
9. Menghambat penyembuhan ulkus
10. Infeksi mudah terjadi dan meluas
11. Gambaran klinis penyakit infeksi menjadi kabur

Dermatofitosis yang diobati dengan K.T. gambaran klinisnya menjadi tidak khas
karena efek anti-inflamasinya. Pinggir yang eritematosa dan berbatas tegas menjadi kabur
dan meluas dikenal sebagai tinea incognito.

Pencegahan Efek Samping


Efek samping sistemik jarang sekali terjadi, agar aman dosis yang dianjurkan ialah
jangan melebihi 30 gram sehari tanpa oklusi.
Pada bayi kulit masih tipis, hendaknya dipakai K.T. yang lemah. Pada kelainan akut
dipakai pula K.T. yang lemah. Pada kelainan subakut digunakan K.T. sedang. Jika kelaianan
kronis dan tebal dipakai K.T. kuat. Bila telah membaik pengolesan dikurangi, yang semula
dua kali sehari menjadi sekali sehari atau diganti dengan K.T. sedang/lemah untuk mencegah
efek samping.

15
Jika hendak menggunakan cara oklusi jangan melebihi 12 jam sehari dan
pemakaiannya terbatas pada lesi yang resisten.
Pada daerah lipatan (inguinal, ketiak) dan wajah digunakan K.T. lemah/sedang. K.T.
jangan digunakan untuk infeksi bakterialm infeksi mikotik, infeksi virus, dan skabies.
Di sekitar mata hendaknya berhati-hati untuk menghindari timbulnya glaukom dan
katarak.
Terapi intralesi dibatasi 1 mg pada satu tempat, sedangkan dosis maksimum per kali
10 mg.

12. Menthol
Bersifat antipruritik seperti camphora. Pemakaiannya seperti pada camphora,
konsentrasinya ¼ -2%.

13. Podofilin
Damar podofilin digunakan dengan konsentrasi 25% sebagai tingtur untuk kondiloma
akuminatum. Setelah 4-6 jam hendaknya dicuci.

14. Selenium disulfid


Digunakan sebagai sampo 1% untuk dermatitis seboroik pada kepala dan tinea
versikolor. Kemungkinan terjadinya efek toksis rendah.

15. Sulfur
Merupakan unsur yang telah digunakan selama berabad-abad dalam dermatologi.
Bersifat antiseboroik, anti akne, antiskabies, antibakteri positif. Gram dan antijamur. Yang
digunakan adalah sulfur dengan tingkat terhalus, yaitu sulfur presipitatum (belerang endap)
berupa bubuk kuning kehijauan. Biasanya dipakai dalam konsentrasi 4-20%. Dapat
digunakan dalam pasta, krim, salap, dan bedak kocok. Contoh dalam salap adalah salap 2-4
yang mengandung asam salisilat 2% dan sulfur presipitatum 4%. Sedangkan contoh dalam
bedak kocok ialah losio Kummerfeldi dipakai untuk akne. Susunannya ialah sebagai berikut:
R/ Camphorae 3
Sulfuris praecipitati 20
Mucilaginis gummi arabici 10
Solutionis hydratis calcili 134
Aquae rosarum 133

16
16. T e r
Preparat golongan ini didapat sebagai hasil destilasi kering dari batubara, kayu dan
fosil. Yang berasal dari batubara, misalnya liantral dan likuor karbonis detergens. Yang
berasal dari kayu, misalnya oleum kadini dan oleum ruski. Contoh yang berasal dari fosil
ialah iktiol.
Preparat ter yang kami sering gunakan ialah likuor karbonis detergens karena tidak
berwarna hitam seperti yang lain dan tidak begitu berbau. Konsentrasi 2-5%. Efeknya anti
pruritus, antiradang, antieksem, antiakantosis keratoplastik, dapat digunakan untuk psoriasis
dan dermatitis kronis dalam salap. Jika terdapat lesi yang universal, misalnya pada psoriasis,
tidak boleh dioleskan di seluruh lesi karena akan diabsorbsi dan memberi efek toksik
terhadap ginjal. Cara pengolesan digilir, tubuh dibagi 3, hari I : kepala dan ekstremitas atas,
hari II : batang tubuh dan hari III ekstremitas bawah.
Efek sampingnya pada pemakaian ter perlu diperhatikan adanya reaksi fototoksik,
pada ter yang berasal dari batubara dapat juga terjadi folikulitis dan ter akne. Efek karsinogen
ter batubara dapat terjadi pada pemakaian lama. Pada pemakaian dalam waktu yang singkat
efek samping ini tidak pernah terjadi.

17. Tiosulfas natrikus


Kristal mudah larut dalam air. Bersifat antimikotik untuk tinea versikolor dengan
larutan 25%.

18. Urea
Dengan konsentrasi 10% dalam krim mempunyai efek sebagai emolien, dapat dipakai
untuk iktiosis atau xerosis kutis. Pada konsentrasi 40% melarutkan protein.
19. Zat antiseptik
Zat ini bersifat antiseptik dan/atau bakteriostatik. Zat-zat antiseptik lebih disukai
dalam bidang dermatologi daripada zat antibiotik, sebab dengan memakai zat antiseptik
persoalan resistensi terhadap antibiotik dapat dihindarkan.
Golongan antiseptik:
a. Alkohol
b. Fenol
c. Halogen
d. Zat-zat pengoksidasi

17
e. Senyawa logam berat
f. Zat warna

a. Golongan Alkohol
Etanol 70% mempunyai potensi antiseptik yang optimal. Efek sampingnya
menyebabkan kulit menjadi kering.
b. Golongan Fenol
- Fenol : pada konsentrasi tinggi, misalnya fenol likuifaktum yang berkonsentrasi
jenuh mempunyai efek kaustik, sedangkan pada konsentrasi rendah bersifat
bakteriostatik dan antipruritik (1/2-1%)
- Timol : bersifat desinfektan pada konsentrasi 0,5% dalam bentuk tingtur.
- Resorsinor : efeknya ialah antibakterial, antimikotik, keratolitik, antiseboroik,
konsentrasi 2-3%
- Heksaklorofen: senyawa ini mengandung klor. Bersifat bakteriostatik. Larutan
heksaklorofen 3% berkhasiat terhadap kuman positif gram.
c. Golongan Halogen
Yodium. Bersifat bakteriostatik, misalnya pada tingtur yodium dan lugol. Tingtur
yodium berwarna coklat, dapat menyebabkan iritasi, vesikulasi kulit, dan deskuamasi.
Khasiatnya antibakterial dan antimikotik dengan konsentrasi 1%. Dalam klinik yodium
dipakai untuk
desinfeksi kulit pada pembedahan. Segera sesudah itu kulit harus dibersihkan dengan
alkohol 70%.
d. Zat Pengoksidasi
Zat pengoksidasi dipakai sebagai desinfektan pada dermatoterapi topikal.
1. Pemanganas Kalikus
Zat ini mempunyai efek antiseptik lemah dalam larutan encer dalam air. Pada
konsentrasi tinggi bersifat astringen dan kaustik. Dipakai sebagai kompres terbuka (1:10.000)
untuk dermatosis yang akut dan eksudatif. Untuk ulkus yang eksudatif dapat dipakai
konsentrasi 1:5000. Larutan harus dibuat segar karena cepat mengadakan dekomposisi
(warna coklat).
2. Benzoil-Peroksid
Zat ini merupakan zat pengoksidasi kuat pada konsentrasi 2,5-10%. Bersifat
antiseptik, merangsang jaringan granulasi dan bersifat keratoplastik. Efek samping: kadang-
kadang terjadi alergi dan memutihkan pakaian.

18
e. Senyawa Logam Berat
1. Merkuri
Zat ini dulu banyak dipakai dalam dermatologi. Sekarang tidak dipakai lagi karena
sensitisasi garam-garam merkuri.

2. Perak
a. Larutan Perak Nitrat
Perak nitrat berbentuk kristal putih, mudah larut dalam air, warna perak nitrat berubah
menjadi hitam bila terkena sinar matahari, karena itu harus disimpan dalam botol berwarna
gelap.
Larutan perak nitrat kami pakai untuk ulkus yang disertai pus yang disebabkan oleh
kuman gram negatif. Konsentrasinya 0,5% atau 0,25% bersifat antiseptik dan astringen.
Kompres ini mewarnai kulit, tetapi akan hilang sendiri perlahan-lahan. Jika terkena lantai
akan menjadi hitam dan tidak dapat hilang. Dapat pula dipakai dengan konsentrasi 1%o untuk
dermatitis eksudatif yang kurang atau tidak memberi perbaikan dengan kompres lain.

Larutan dengan konsentrasi 20% bersifat kaustik dipakai pada ulkus dengan
hipergranulasi. Caranya ditutul dengan lidi dan kapas sehari sekali. Kulit di sekitarnya tidak
boleh terkena karena akan rusak.
b. Sulfadiazin Perak
Sulfadiazin perak dipakai untuk pengobatan luka bakar. Di bagian kami juga
digunakan untuk nekrolisis epidermal toksik.
Kerjanya sebagai antiseptik berdasarkan gugus sulfa dan gugus peraknya. Sulfa
berkhasiat untuk kuman positif gram, sedangkan perak berkhasiat untuk kuman negatif gram.
Konsentrasi 1% dalam krim.

f. Zat Warna
Zat warna masih sering dipakai dalam pengobatan topikal. Efeknya ialah astringen
dan antiseptik. Misalnya:
Zat warna akridin, umpamanya akridin laktat (rivanol) dipakai untuk kompres dengan
konsentrasi 1%o, juga bersifat deodoran. Metil rosanilin klorida atau gentian violet, dipakai
dalam konsentrasi 0,1%-1% dalam air. Zat ini juga mempunyai efek antimikroba terhadap
Candida albicans, di daerah intertrigo atau anogenital.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Berbagai Bentuk Sediaan Topikal dalam Dermatologi. Yanhendri, Satya Wydya


Yenny. Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas
2. Adhi Djuanda, dkk. 2017. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 7. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Asmara A. Daili SF. Noegrohowati. Zubaedah I. Vehikulum dalam Dermatoterapi
Topikal. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Departemen Ilmu Farmasi
FKUI-RSCM.
4. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine, 7th ed. New York: McGraw-Hill;
2008.
5. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editor. Rook’s textbook of dermatology.
Edisi ke 7. Massachusetts: Blackwell.

20