Anda di halaman 1dari 6

UNIVERSITAS MUHAMADIYAH MALANG

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI ILMU FARMASI
------------------------------------------------------
TUGAS AKHIR SEMESTER
MATA KULIAH : MANAJEMEN FARMASI
SEMESTER : LIMA TAHUN 2018/2019
DOSEN : Dra. MURSYIDAH , Apt MKes
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI :

1. Jelaskan Manajemen Pengelolaan obat di Puskesmas


2. Jelaskan manajemen pengelolaaan obat dengan kebijakan satu pintu di Rumah sakit
3. Manfaat apa yang didapat dengan adanya manajemen obat dg kebijakan satu pintu
di RS
4. Jelaskan tentang proses pengelolaan obat yang ada di sarana Pedagang besar Farmasi
5. Hitunglah kebutuhan obat pada tahun 2019 dengan memakai data konsumsi obat
dibawah ini dengan kondisi bahwa obat baru akan diterima pada bulan Juni dan
usulan disampaikan pada awal bulan Januari 2019 .tidak ada kekosongan obat
selama tahun 2018.
Data obat tahun 2018 di Puskesmas Celaket Malang
No Nama Obat Satuan Stok penerimaan Sisa stok 30
awal Des 2018
1 Antalgin Tablet 1000 12.000 2.000
2 Amoxicylin Capsul 200 2.500 300
3 Paracetamol Tablet 500 15.000 1.000
4 Chloramfenicol Kapsul 100 3.000 200
5 Ibuprofen Tablet 100 800 100
6 Erythromicyn 500 mg Kapsul 50 500 100
7 Chloramphenicol 250 Kapsul 500 12.000 300
8 Larutan NaCL Botol 40 400 20
9 Larutan Ringer Laktat Botol 40 360 40
10 Diazepam 2 mg Tablet 100 500 100

Dikirmkan via email maksimal hari minggu tgl 12 januari 2018 jam 24.00 via email .tks
Nama : Taufik Haldi

NIM : 201510410311154

Kelas : D

1. Pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut aspek


perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan penghapusan obat yang
dikelola secara optimal untuk menjamin tercapainya ketepatan jumlah dan jenis perbekalan
farmasi. Pada pengelolaan obat di Puskesmas tingkat ketersediaan obat masih belum sesuai
dengan kebutuhan pelayanan kesehatan karena masih sering terjadi kekurangan dan
kekosongan obat disisi lain terjadi pula kelebihan obat.. Tujuan pengelolaan obat adalah
tersedianya obat setiap saat dibutuhkan baik mengenai jenis, jumlah maupun kualitas secara
efesien, dengan demikian manajemen obat dapat dipakai sebagai proses penggerakan dan
pemberdayaan semua sumber daya yang dimiliki/potensial yang untuk dimanfaatkan dalam
rangka mewujudkan ketersediaan obat setiap saat dibutuhkan untuk operasional efektif dan
efesien.
Kegiatan pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi:
1. Perencanaan
Menurut Permenkes Nomor 30 tahun 2014 Perencanaan yakni kegiatan seleksi obat
dalam menentukan jumlah dan jenis obat dalam memenuhi kebutuhan sediaan farmasi
di puskesmas dengan pemilihan yang tepat agar tercapainya tepat jumlah, tepat jenis,
serta efisien. Perencanaan obat dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan
peningkatan efisisensi penggunaan obat, peningkatan penggunaan obat secara rasional,
dan perkiraan jenis dan jumlah obat yang dibutuhkan.
2. Permintaan
Permintaan merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan obat yang sudah
direncanakan dengan mengajukan permintaan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, sesuai peraturan dan kebijakan pemerintah setempat.
3. Penerimaan
Penerimaan obat adalah kegiatan menerima obat dari Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota
sesuai dengan permintaan yang sudah diajukan oleh puskesmas (Permenkes, 2014).
Pada kegiatan penerimaan obat harus menjamin jumlah, mutu, waktu penyerahan,
spesifikasi, kesesuaian jenis dan harga yang tertera pada pesanan.
4. Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengaturan obat agar terhindar dari kerusakan fisik
maupun kimia, agar aman dan mutunya terjamin. Penyimpanan obat harus
mempertimbangkan berbagai hal yaitu bentuk dan jenis sediaan, mudah atau tidaknya
meledak/terbakar, stabilitas, dan narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari
khusus (Permenkes, 2014).
Tujuan dari penyimpanan obat menurut Warman (2004) yakni :
a. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab
b. Memudahkan pencarian dan pengawasan sediaan
c. Memelihara mutu sediaan farmasi
d. Menjaga ketersediaan
5. Pendistribusian
Pendistribusian adalah kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat secara teratur dan
merata untuk memenuhi kebutuhan sub unit farmasi puskesmas dengan jenis, mutu,
jumlah dan waktu yang tepat. Sistem distribusi yang baik harus : menjamin
kesinambungan penyaluran/penyerahan, mempertahankan mutu, meminimalkan
kehilangan, kerusakan, dan kadaluarasa, menjaga tetelitian pencatatan, menggunakan
metode distribusi yang efisien, dengan memperhatikan peraturan perundangan dan
ketentuan lain yang berlaku, menggunakan sistem informasi manajemen.
6. Pengendalian
Menurut Kemenkes (2011) pengendalian merupakan kegiatan untuk tercapainya sasaran
yang diinginkan sesuai dengan program yang sudah ditetapkan agar tidak terjadi
kelebihan dan kekurangan/kekosongan obat di puskesmas. Pengendalian persediaan
adalah upaya untuk mempertahankan persediaan pada waktu tertentu dengan
mengendalikan arus barang yang masuk melalui peraturan sistem pesanan/pengadaan
(schedule inventory dan perpetual inventory), penyimpanan dan pengeluaran untuk
memastikan persediaan efektif dan efisiensi atau tidak terjadi kelebihan dan
kekurangan/kekosongan, kerusakan, kedaluarsa dan kehilangan serta pengembalian
pesanan sediaan farmasi (Wirawan, 2015).
7. Pencatatan, pelaporan dan pengarsipan
Pencatatan, pelaporan, pengarsipan merupakan rangkaian kegiatan penatalaksanaan
obat secara tertib, yang diterima, disimpan, didistribusikan, dan digunakan di
puskesmas. Adapun tujuan dari pencatatan, pelaporan, pengarsipan yaitu bukti
pengelolaan telah dilakukan, sumber data untuk pembuatan laporan, sumber data unutk
melakukan pengaturan dan pengendalian.
2. Pelayanan farmasi satu pintu adalah suatu sistem dimana dalam pelayanan kefarmasian itu
sendiri menggunakan satu kebijakan, satu standar operasional (SOP), satu pengawasan
operasional dan satu sistem informasi. Sistem pelayanan farmasi saatu pintu dalam arti
instalasi farmasi sebagai pengelola tunggal perbekalan farmasi RS karena:
1. Farmasi RS bertanggung jawab atas semua barang farmasi yang beredar di RS, baik
rawat jalan maupun rawat inap.
2. Farmasi RS bertanggung jawab atas pengadaan dan penyajian informasi obat siap pakai
bagi semua pihak di RS, baik petugas kesehatan maupun pasien.
3. Farmasi RS bertanggung jawab atas semua pekerjaan pelayanan kefarmasian di RS.
Tujuan pelayanan Kefarmasian satu pintu
1. Optimalisasi cakupan pelayanan obat gawat darurat, resep rawat jalan umum, rawat
jalan Askes, rawat inap umum/Askes, obat operasi dan pelayanan obat masyarakat miskin.
2. Meminimalisasi pemberian obat yg tidak tepat waktu, dan meminimalisasi medication
error.
3. Pasien safety
4. Peningkatan pelayanan asuhan kefarmasian.
5. Optimalisasi pendapatan farmasi sehingga pendapatan RS meningkat & kesejahteraan
pegawai RS bertambah.
6. Sebagai salah satu sarana memperbaiki citra RS.
3. - Proses pengawasan dan pengendalian lebih mudah.
- Standardisasi jenis sed farmasi & alkes.
- Mutu sed farmasi & alkes terjamin
- Penurunan risiko kesalahan sed farmasi & alkes.
- Akses data akurat
- Peningkatan mutu pelayanan.
- Peningkatan pendapatan rs dan kesejahteraan pegawai.
4. Cara distribusi obat yang baik adalah cara distribusi atau penyaluran obat dan atau bahan
obat yang bertujuan memastikan mutu sepanjang jalur distribusi atau penyaluran sesuai
persyaratan dan tujuan penggunaannya.
Secara umum distribusi obat dapat diartikan sebagai proses pemindahan barang dari suatu
tempat ke tempat lain seperti:
- Pemindahan dari supplier ke gudang pabrik (GP)
- Pemindahan dari GP ke unit produksi atau pemakai
- Pemindahan produk dari unit produksi ke GP
- Pemindahan dari GP ke gudang cabang pabrik( GCP)
- Pemindahan GP/GCP ke gudang distributor (GD)
- Pemindahan GD ke gudang cabang distributor (GCD)
- Pemindahan GD/GCD ke pengencer
- Pemindahan dari pengencer ke konsumen

Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) adalah bagian dari fungsi pemastian kualitas (quality
assurance), untuk memastikan produk, agar secara konsisten disimpan, dikirim, dan
ditangani sesuai kondisi yang dipersyaratkan oleh spesifikasi produk. GDP sangat penting
artinya, sebab untuk menunjang standar Good Manufacturing Practices (GMP) atau Cara
Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang ditujukan untuk menjamin kualitas setiap produk
obat yang dihasilkan oleh industri farmasi. Sehingga, diperlukan pula sistem distribusi yang
handal yang sesuai dengan persyaratan GDP dan atau CDOB, agar stabilitas dan efektifitas
obat tetap terjamin hingga sampai kepada pasien.

5. 1. Antalgin
A = Stok awal = 1000 tablet
B = Penerimaan selama 1 tahun = 12.000 tablet
C = Sisa stok = 2.000 tablet
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 12.000 tablet
= 6.000 tablet
E = Safety stok = 10% x 12.000 tablet = 1.200 tablet
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 1.000 + 12.000 + 6.000 + 1.200 – 2.000
= 18.200 tablet
2. Amoxicylin
A = Stok awal = 200 kapsul
B = Penerimaan selama 1 tahun = 2.500 kapsul
C = Sisa stok = 300 kapsul
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 2.500 kapsul
= 1250 kapsul
E = Safety stok = 10% x 2.500 kapsul = 250 kapsul
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 200 + 2.500 + 1.250 + 250 – 300
= 3.900 kapsul
3. Paracetamol
A = Stok awal = 500 tablet
B = Penerimaan selama 1 tahun = 15.000 tablet
C = Sisa stok = 1.000 tablet
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 15.000 tablet
= 7.500 tablet
E = Safety stok = 10% x 15.000 tablet = 1.500 tablet
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 500 + 15.000 + 7.500 + 1.500 – 1.000
= 23.500 tablet
4. Chloramfenicol
A = Stok awal = 100 kapsul
B = Penerimaan selama 1 tahun = 3.000 kapsul
C = Sisa stok = 200 kapsul
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 3.000 kapsul
= 1500 kapsul
E = Safety stok = 10% x 3.000 kapsul = 300 kapsul
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 100 + 3.000 + 1.500 + 300 – 200
= 4.600 kapsul
5. Ibuprofen
A = Stok awal = 100 tablet
B = Penerimaan selama 1 tahun = 800 tablet
C = Sisa stok = 100 tablet
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 800 tablet
= 400 tablet
E = Safety stok = 10% x 800 tablet = 80 tablet
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 100 + 800 + 400 + 80 – 100
= 1280 tablet
6. Erythtomicyn 500mg
A = Stok awal = 50 kapsul
B = Penerimaan selama 1 tahun = 500 kapsul
C = Sisa stok = 100 kapsul
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 500 kapsul
= 250 kapsul
E = Safety stok = 10% x 500 kapsul = 50 kapsul
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 50 + 500 + 250 + 50 – 100
= 850 kapsul
7. Chloramfenicol 250mg
A = Stok awal = 500 kapsul
B = Penerimaan selama 1 tahun = 12.000 kapsul
C = Sisa stok = 300 kapsul
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 12.000 kapsul
= 6000 kapsul
E = Safety stok = 10% x 12.000 kapsul = 1200 kapsul
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 500 + 12.000 + 6.000 + 1200 – 300
= 19.400 kapsul
8. Larutan NaCl
A = Stok awal = 40 botol
B = Penerimaan selama 1 tahun =400 botol
C = Sisa stok = 20 botol
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 400 botol
= 200 botol
E = Safety stok = 10% x 400 botol = 40 botol
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 40 + 400 + 200 + 40 – 20
= 660 botol
9. Larutan Ringer Laktat
A = Stok awal = 40 botol
B = Penerimaan selama 1 tahun =360 botol
C = Sisa stok = 40 botol
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 360 botol
= 180 botol
E = Safety stok = 10% x 360 botol = 36 botol
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 40 + 360 + 180 + 36 – 40
= 576 botol
5. Diazepam 2mg
A = Stok awal = 100 tablet
B = Penerimaan selama 1 tahun = 500 tablet
C = Sisa stok = 100 tablet
D = Waktu tunggu (Januari – Juni) = ½ tahun
= ½ x 500 tablet
= 250 tablet
E = Safety stok = 10% x 500 tablet = 50 tablet
Kebutuhan Obat = A+B+D+E – ( C )
= 100 + 500 + 250 + 50 – 100
= 800 tablet