Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
3. Kepribadian
Kepribadian dapat berupa pendiam, pasif, periang, agresif, ambisius, extrovert, loyal,
pemarah atau ramah. Kepribadian merupakan kombinasi unik dari pola emosional, pikiran,
dan perilaku yang mempengaruhi seseorang berekasi terhadap situasi dan berinteraksi dengan
orang lain. Dua pendekatan yang dapat menggambarkan kepribadian, yaitu.
a. MBTI (Myers-Briggs Type Indicator)
MBTI adalah tes yang bertujuan untuk mengetahui tipe-tipe kepribadian seseorang
dalam lingkungannya. MBTI digunakan untuk mengetahui karakter kepribadian karyawan
perusahaan agar dapat ditempatkan pada bidang-bidang yang membuat potensi karyawan
menjadi optimal. Dari hasil tes tersebut, seseorang akan diklasifikasikan pada empat kategori
berikut.
1) Extrovert vs Introvert
Extrovert adalah orang yang aktif, sosial, dan asertif. Extrovert memerlukan
lingkungan kerja dan pengalaman kerja yang bervariasi dan berorientasi tindakan yang
memungkinkan dirinya untuk bekerja sama dengan orang lain. Sedangkan orang yang
cenderung pada sifat introvert adalah orang yang pendiam dan pemalu, serta berfokus pada
pemahaman dan menyukai lingkungan kerja yang tenang dan terkonsentrasi, yang
memungkinkan dirinya untuk bekerja sendiri
2) Sensing vs Intuition
Orang bertipe sensing adalah orang yang praktis dan menyukai keteraturan, memiliki
kebutuhn tinggi untuk mencapai hasil akhir, tekun dalam pekerjaan yang menuntut detail
rutin, dan cenderung baik dalam pekerjaan yang mebutuhkan keakuratan. Di sisi lain, ornag
yang bertipe intuition mengandalkan proses tak sadar dan melihat gambaran besarnya.
Intuition adalah individu yang suka memecahkan masalah baru, tidak suka melakukan hal
yang sama berulang-ulang, langsung mengambil kesimpulan, dan kurang sabar dalam detail
rutin.
3) Thinking atau Feeling
Tipe thinking akan menggunakan nalar dan logika dalam menangani masalah, kurang
emosional, tidak tertarik pada perasaan orang lain, menyukai analisis dan menyusun berbagai
hal secara logis, dan cenderung berhubungan baik hanya dengan orang yang bertipe sama.
Sedangkan tipe feeling akan mengandalkan nilai dan emosi pribadi, menyadari kehadiran
orang lain dan perasaan di sekitarnya, menyukai keharmonisan, kadang memerlukan pujian,
tidak suka memberitahu hal-hal buruk kepada orang lain, simpatik, dan berhubungan baik
dengan orang banyak.
4) judging vs Perceiving
Tipe judging akan menginginkan kendali dan lebih menyukai dunianya secara teratur
dan terstruktur, merupakan perencana yang baik, tegas, punya tujuan, dan penuh perhitungan.
Tipe perceiving adalah orang yang fleksibel dan spontan, penuh rasa ingin tahu, adaptif,
toleran, dan ingin mencari tahu segala hal tentang tugas itu sebelum memulainya.
b. Model Big Five
Lima sifat kepribadian dalam Model Big Five
1) Extraversion
Extraversion adalah kadar seseorang itu ramah, senang berbicara, tegas, dan nyaman
dalam berhubungan dengan orang lain
2) Agreableness (dapat disetujui)
Agreeableness adalah kadar seseorang itu baik, kooperatif, dan dapat dipercaya
3) Conscientiousness (kecermatan)
Kadar seseorang itu bertanggung jawab, bisa diandalkan, gigih, dan berorientasi
prestasi.
4) emotional stability (stabilitas emosi)
Kadar seseorang itu tenang, antusias, tegang, cemas, dan depresif.
5) Openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman)
Kadar seseorang itu memiliki banyak minat serta imajinatif, tertarik pada hal baru,
peka secara artistik, dan berilmu
c. Wawasan Kepribadian Lain
lima sifat kepribadian lain dapat menjadi ukuran yang ampuh untuk menelaah
perilaku dalam organisasi
1) lokus kendali (locus of control)
Lokus kendali pada kelompok pertama bersifat internal, dimana orang-orang percaya
bahwa dirinya dapat mengendalikan nasibnya senndiri. Lokus kendali pada kelompok kedua
bersifat internal, dimana orang orang bersifat ekstermal percaya bahwa kehidupannya diatur
oleh kekuatan dari luar diri
2) Machiavellianisme
Seseorang yang bersifat machiavellianisme, cenderung pragmatis, menjaga jarak
emosi, dan percaya bahwa hasil akhir bisa membenarkan cara yang dilakukan.
3) harga diri (self-esteem)
Seseorang dengan harga diri yang tinggi meyakini bahwa dirinya memiliki
kemampuan yang diperlukan untuk meraih kesuksesan karier, cenderung mengambil risiko
lebih besar dalam seleksi pekerjaan, dan cenderung memilki pekerjaan yang tidak umum.
Orang dengan harga diri yang rendah rawan terkena oengaruh eksterneal, bergantung pada
penilaian positif dari orang lain, dan cenderung untuk menyesuaikan diri dengan keyakinan
dan perilaku orang orang yang dihargainya.
4) Pemantauan Diri (self-monitoring)
Pemantauan diri adalah sifat kepribadian yang mengukur kemampuan untuk
menyesuaikan perilaku terhadap faktor-faktor situasional eksternal. Individu dengan
pemantauan diri yang tinggi menunjukkan adaptibilitas yang besar ketika menyesuaikan
perilakunya dengan lingkungannya, dapat menunjukkan kontradiksi antara penampilan
pribadi di depan publik dan di depan dirinya sendiri,
Individu dengan pemantauan diri yang rendah tidak bisa menyesuaikan perilakunya,
cenderung menunjukkan watak dan perilaku aslinya dalam setiap situasi, dan memiliki
konsistensi yan tinggi.
5) mengambil risiko (risk taking)
Individu yang lebih berani mengambil risiko hanya membutuhkan sedikit waktu untuk
mengambil keputusan dan menggunakan informasi yang kebih sedikit dalam menjatuhkan
pilihannya
d. Emosi dan Kecerdasan Emosi
emosi merupakan perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau kepada
sesuatu. Enam bentuk emosi universal, contohnya kemarahan, ketakutan, kesedihan,
kebahagiaan, rasa jijik, dan rasa kaget.
Kecerdasan emosi (emotional intelligence) merupakan kemampuan untuk mengenali
dan mengelola isyarat dan informasi emosi. Kecerdasan emosi terdiri dari lima unsur.
Kesadaran diri, terkait kemampuan untuk menyadari apa yang dirasakan
Pengelolaan diri, terkait kemampuan untuk mengelola emosi
Motivasi diri, terkait kemampuan untuk tetap tegar dalam menghadapi kemunduran
dan kegagalan
Empati, terkait kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain
Kemampuan sosial, terkait kemampuan menangani emosi orang lain
4. Persepsi (perception)
Persepsi adalah tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris
guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi persepsi meliputi keadaan atau karakteristik dari orang yang dipersepsi,
situasi sosial tempat persepsi terjadi, dan keadaan atau karakteristik orang yang mempersespi
(perseptor). Selain itu, waktu, lokasi, pencahayaan, temperature, dan warna ketika suatu
objek dilihat dapat mempengaruhi munculnya persepsi.
a. Teori Atribusi (atributin theory)
Atribusi merupakan inti dari proses persepsi manusia. Teori atribusi dikembangkan
untuk mengungkapkan bahwa apabila individu mengamati perilaku, dirinya mencoba
menentukan apakah itu disebabkan faktor internal atau faktor eksternal. Misalnya, persepsi
persepsi seseorang terhadap orang lain akan dipengaruhi oleh penyebab internal karena
sebagai manusia dirinya mempunyai keyakinan, maksud, dan motif di dalamnya. Sedangkan
persepsi yang terbentuk karena faktor eksternal misalnya persepsi seseorang terhadap benda
mati akan berbeda karena benda mati tersebut mempunyai hukum alamnya sendiri. Penentuan
apakah perilaku persepsi disebabkan oleh faktor ksternal atau internal bergantung pada tiga
faktor berikut.
Ciri khas, terkait apakah seorang individu memperlihatkan perilaku berbeda dalam
situasi tertentu
konsensus, apabila setiap orang yang menghadapi satu situasi serupa dengan cara
yang sama
konsistensi, apakah seseorang memberikan reaksi ysng sama dari waktu ke
waktumenjelaskan mengapa penilaian setiap orang berbeda-beda, bergantung pada
apa yang diatribusikan terhadap perilaku tertentu. Teori ini menyiratkan bahwa ketika
mengamati perilaku seseorang, maka dirinya berusaha untuk menentukan apakah hal
ini disebabkan faktor eksternal atau internal.
b. Jalan Pintas yang Digunakan dalam Menilai Orang Lain
Ada beberapa teknik dalam menilai orang yang memungkinkan terbentuknya persepsi
lebih akurat dengan cepat dan memberikan data yang valid untuk membuat suatu perkiraan.
Pemahaman akan jalan pintas ini membantu mewaspadai apabila teknik-teknik ini
menghasilkan distorsi.
kesamaan anggapan (assumed similarity), persepsi pengamat terhadap orang lain
dipengaruhi oleh karakteristik pengamat dibandingkan orang yang diamati
stereotip, yaitu menilai orang lain berdasarkan persepsi sendiri terhadap suatu
kelompok dimana orang yang diamati bernaung dalam kelompok tersebut
efek halo, yaitu menarik kesan umum mengenai seorang idividu berdasarkan
karakteristik tunggal, seperti kecerdasan, penampilan, dan kemampuan bersosialisasi.
5. Pembelajaran
Pembelajaran (learning), yaitu perubahasan permanen dalam perilaku yang terjadi
akibat pengalaman. Pembelajaran disertakan ke dalam diskusi tentang perilaku individu
karena hamper semua perilaku dapat dipelajari. Dua teori pembelajaran mencakup.
a. Operant conditioning
operant conditioning menekankan pembentukan perilaku sebagai dampak dari efek
yang ditimbulkannya. Contoh, jika makan dapat meredakan rasa lapar dan menuju kepada
kenyamanan rasa lapar, maka makan tersebut. akan menjadi perilaku ketika perut merasa
lapar. Burrhus Fredric Skinner berasumsi bahwa perilaku sehari-hari adalah perilaku yang
dipengaruhi oleh penguatan (reinforcement) dan dipelajari
b. Pembelajaran Sosial
teori pembelajaran sosial dikemukakan oleh Albert Bandura. Teori pembelajaran
sosial (social learning theory) merupakan teori pembelajaran yang mengatakan bahwa
perilaku seseorang bukan semata mata reflex otomatis dan stimulus saja, melanikan akibat
reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan manusia itu sendiri.
orang-orang dapat belajar melalui observasi dan pengalaman langsung. Pengaruh orang lain
menjadi inti dalam sudut pandang pembelajaran sosial.
Bandura mengatakan pembelajaran sosial mencakup empat elemen, yaitu
1. Proses atensi
Pembelajaran bersumber dari seorang role model ketika dirinya mengenali dan
memperhatikan keistimewaannya. Orang tersebut dipengaruhi oleh model yang menarik,
selalu hadir, dan dianggap penting.
2. Proses retensi
Pengaruh seorang model bergantung pada ingatan seseorang terhadap aksinya
3. proses reproduksi motoric
Seseorang melihat perilaku baru dengan mengamati seorang model, kemudian hal
yang dilihat akan diterapkan. Proses ini menunjukkan bahwa seseorang dapat melakukan apa
yang dilakukan oleh role figure
4. proses penguatan
Seseorang termotivasu mengikuti perilaku sang role figure jika diberi penghargaan
positif.
KOMENTAR :
___________________________________________________________________________________________
___________________________________________________________________________________________
___________________________________________________________________
Saya menyatakan bahwa dalam tugas ini tidak terdapat plagiarisme. Apabila kemudian terbukti bahwa
pernyataan ini tidak benar saya sanggup menerima sanksi apapun sesuai peraturan yang berlaku di
kampus FE UII dan hukuman Allah SWT
(Annis Fadhiilah) (M. Halim, S.E.) (Trias Setiawati, Dra, M.Si, Dr)
RUBRIK PENILAIAN TUGAS 1: SUMMARY
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
KOMENTAR :
___________________________________________________________________________________________
___________________________________________________________________________________________
___________________________________________________________________
Saya menyatakan bahwa dalam tugas ini tidak terdapat plagiarisme. Apabila kemudian terbukti bahwa
pernyataan ini tidak benar saya sanggup menerima sanksi apapun sesuai peraturan yang berlaku di
kampus FE UII dan hukuman Allah SWT
(Annis Fadhiilah) (M. Halim, S.E.) (Trias Setiawati, Dra, M.Si, Dr)