Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Gempa bumi pada tahun 2006 yang terjadi di Yogyakarta mengindikasikan


keberadaan Sesar Opak. Sesar Opak adalah sesar yang terletak di sekitar sebelah
barat Sungai Opak. Posisi Sesar Opak terletak pada koordinat 423091,6 UTM BT
dan 9115631,1 UTM LS (Nurwidyanto, dkk, 2010). Kajian seismik yang dilakukan
oleh tim peneliti Teknik Geodesi UGM dan ITB bekerjasama dengan Nagoya
University menyimpulkan bahwa sesar penyebab gempa Yogyakarta tahun 2006
merupakan sesar sinistral (left-lateral) dengan sudut stike sekitar 48° dan sudut
kemiringan (dip angle) sekitar 89°. Berdasarkan survei GPS yang telah dilakukan,
sesar yang menyebabkan gempa Yogyakarta tahun 2006 terletak sekitar 5 s.d 10 km
di sebelah timur lokasi Sesar Opak, di mana biasanya digambarkan di sepanjang
Sungai Opak (Abidin, dkk, 2009).

Aktifnya Sesar Opak dengan potensi kegempaan relatif tinggi perlu dilakukan
pemantauan daerah tersebut secara kontinyu. Pemantauan dilakukan dengan
pengadaan stasiun pengamatan yang tersebar di sekitar lokasi Sesar Opak. Pengadaan
stasiun pengamatan di sekitar Sesar Opak telah dilakukan oleh Laboratorium
Geodesi Jurusan Teknik Geodesi FT UGM tahun 2013. Pengadaan stasiun GNSS
pemantauan Sesar Opak yang terbentuk untuk pemantauan geodinamik terdiri atas
stasiun Teknik Geodesi, Segoroyoso, dan Opak. Selanjutnya stasiun Teknik Geodesi
disebut jaring makro TGD. Stasiun Segoroyoso disebut jaring mikro SGY dan
stasiun Opak disebut jaring mikro OPK. Jaring makro TGD menyebar di kabupaten
Sleman, Gunung Kidul, Kulonprogo dan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang
melingkupi Sesar Opak. Sedangkan jaring mikro SGY terletak di daerah Sesar
Segmen Segoroyoso yang lokasinya relatif lebih dekat dengan Sesar Opak.

Analisis pergeseran yang terjadi pada studi geodinamik menuntut penentuan


koordinat dengan ketelitian tinggi. Penentuan posisi teliti pada jaring GNSS makro

1
2

TGD maupun mikro SGY yang terdapat pada Sesar Opak dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Menurut Abidin (2002), ketelitian yang didapat dari suatu survei GPS secara
umum bergantung pada empat faktor yaitu ketelitian data yang digunakan, geometri
pengamatan, strategi pengamatan yang digunakan, dan strategi pengolahan data yang
digunakan. Dari hal tersebut, perlunya sinergi antara pemilihan perangkat lunak dan
strategi pengolah data yang tepat. Survei pemetaan yang menuntut ketelitian tinggi
mengutamakan penggunaan perangkat lunak ilmiah. Salah satu perangkat lunak
ilmiah adalah GAMIT (GPS Analysis Package Developed at MIT). Perbedaan yang
dapat dilihat dari pemilihan perangkat lunak terdapat pada mekanisme penanganan
koreksi terhadap efek dari kesalahan dan bias (Abidin, 2002).

Pengolahan data GPS dengan perangkat lunak ilmiah perlu memperhatikan


strategi pengolah data, khususnya perataan jaring untuk menentukan koordinat akhir
dari titik kerangka yang terdapat dalam jaringan. Salah satu faktor penting dalam
proses perataan jaring adalah pendefinisian terhadap titik ikat. Pemilihan titik ikat
didasarkan pada konektivias titik terhadap jaringan, konfigurasi titik ikat dan tingkat
ketelitian titik ikat yang digunakan (Abidin, 2002). Pada penelitian ini, evaluasi hasil
pengamatan GNSS ditinjau dari strategi pengolahan data dalam hal penggunaan titik
ikat dalam perhitungan koordinatnya. Titik ikat berdasarkan cakupan areanya terdiri
atas titik ikat global, regional dan lokal. Kajian dalam penelitian ini dilakukan pada
jaring makro TGD dan mikro SGY. Evaluasi dilakukan pada koordinat dan ketelitian
pada jaring makro TGD mapun mikro SGY pada pengolahan menggunakan titik ikat
global dan lokal. Dalam hal ini yang dimaksud titik ikat global adalah stasiun
pengamatan International GNSS Services (IGS). Titik ikat lokal adalah stasiun
pengamatan Sesar Opak pada jaring makro TGD. Titik ikat lokal ini diolah terlebih
dahulu dengan pengolahan GAMIT dan GLOBK. Selanjutnya pengolahan
menggunakan titik ikat global disebut dengan pengolahan global, sedangkan
pengolahan menggunakan titik ikat lokal disebut pengolahan lokal. Evaluasi hasil
koordinat dan ketelitian hasil pengolahan dianalisis perbedaannya dengan uji
stastistik. Selanjutnya, hasil evaluasi tersebut dapat digunakan sebagai referensi
penggunaan titik ikat untuk penentuan posisi stasiun pengamatan pada studi
geodinamika Sesar Opak.
3

I.2. Identifikasi Masalah

Pada studi geodinamika Sesar Opak diperlukan koordinat dengan ketelitian


tinggi. Pada penentuan koordinat tersebut diperlukan sinergi antara pemilihan
perangkat lunak dan strategi pengolahan data. Dalam penelitian ini strategi
pengolahan data GNSS menggunakan titik ikat global dan titik ikat lokal. Berkaitan
dengan hasil pengamatan GNSS jaring makro TGD dan mikro SGY pada Sesar
Opak, perlu dikaji ketelitian koordinat yang dihasilkan dengan penggunaan titik ikat
yang berbeda.

I.3. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian ini adalah :

1. Berapa nilai koordinat dan ketelitian stasiun pengamatan pada jaring makro
TGD dan mikro SGY yang dihitung dengan titik ikat global?
2. Berapa nilai koordinat dan ketelitian stasiun pengamatan pada jaring mikro
SGY yang dihitung dengan titik ikat lokal?

3. Apakah terdapat perbedaan signifikan antara ketelitian yang dihasilkan pada


jaring makro TGD dengan titik ikat global maupun jaring mikro SGY yang
dihitung dengan menggunakan titik ikat berbeda?

I.4. Cakupan Penelitian

Cakupan penelitian ini adalah :

1. Data yang digunakan adalah data pengamatan GNSS pada jaring makro TGD
dan mikro SGY tahun 2014 (Laboratorium Geodesi Jurusan Teknik Geodesi
FT UGM).
2. Jaring makro TGD merupakan jaring yang didefinisikan dengan stasiun TGD
yang terletak di wilayah Yogyakarta.
3. Jaring mikro SGY merupakan jaring yang didefinisikan dengan stasiun SGY
yang terletak di sekitar Sesar Segmen Segoroyoso.
4. Pengolahan data pengamatan GNSS menggunakan perangkat lunak ilmiah
GAMIT/GLOBK 10.5.
4

5. Evaluasi ketelitian koordinat dilakukan pada hasil pengolahan dengan titik


ikat global dan titik ikat lokal.
6. Analisis hasil menggunakan uji stastistik signifikansi perbedaan simpangan
baku koordinat.

I.5. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai koordinat dan ketelitian
stasiun pengamatan pada jaring GNSS mikro SGY maupun makro TGD dengan
perbedaan penggunaan titik ikat lokal dan global pada pengolahannya.

I.6. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari kajian ini adalah dapat diketahuinya nilai
koordinat dan ketelitian stasiun pengamatan pada pengolahan jaring GNSS mikro
SGY maupun makro TGD. Dengan demikian dapat ditentukan strategi pengolahan
data GNSS pemantauan Sesar Opak dalam penggunaan titik ikat yang menghasilkan
ketelitian koordinat yang tinggi untuk studi geodinamika.

I.7. Tinjauan Pustaka

Widjajanti dan Parseno (2013) melakukan penelitian tentang strategi dalam


penentuan jaring kontrol GPS untuk studi geodinamika di Patahan Opak. Penelitian
tersebut melakukan kajian optimasi pada jaring makro pemantauan Patahan Opak
yang selanjutnya stasiun pengamatannya diberi nama TGD. Penelitian tersebut
membandingkan kriteria optimum dari fungsi tujuan akurasi pada desain yang
direncanakan. Analisis dilakukan pada sumbu panjang dan sumbu pendek elips
kesalahan. Dengan terpenuhinya syarat-syarat optimasi, maka dapat dikatakan bahwa
ketelitian koordinat titik pengamatan TGD dengan kondisi jaringan yang terbentuk
telah optimum.
Dedi dan Djawahir (2013) dalam penelitiannya mengenai jaring kontrol untuk
mengidentifikasi pola deformasi Segmen Segoroyoso. Dalam penelitian tersebut
diperoleh bahwa enam (6) titik kontrol untuk monitoring Sesar Opak Segmen
Segoroyoso telah terpasang dan telah didefinisikan koordinatnya pada kala 2013.
Hasil pengolahan data pengamatan GNSS menggunakan perangkat lunak komersial
5

menunjukkan hasil yang sesuai dengan hasil hitungan optimasi jaring yang telah
dilakukan sebelumnya. Elips kesalahan pada jaring TGD fixed terdistribusi merata
dan elips kesalahan titik SGY6 relatif lebih besar dibanding titik lain. Dalam
penelitian tersebut disarankan perlu pengikatan pada koordinat TGD2 ke jaring
kontrol nasional maupun internasional agar ke depan koordinat pada jaring
monitoring Sesar Opak Segmen Segoroyoso ini dapat digabungkan dengan jaring
titik kontrol lain.
Safrina (2014) melakukan penelitan tentang penentuan posisi pada stasiun
pengamatan GNSS di kawasan Sesar Opak. Pada penelitian tersebut data yang
digunakan merupakan data stasiun pengamatan Opak (OPK) tahun 2013 yang
diikatkan pada titik ikat global dan stasiun aktif BPN. Titik ikat global dan stasiun
aktif BPN yang digunakan sebagai titik ikat masing-masing berjumlah 12 titik.
Dalam penelitian tersebut penggunaan 12 titik ikat global meningkatkan ketelitian
hasil pengolahan koordinat pada stasiun pengamatan rata-rata 1,5 mm, dibandingkan
penggunaan tujuh titik ikat global pada penelitian sebelumnya. Hasil penelitian
tersebut adalah penggunaan titik ikat global menghasilkan simpangan baku yang
lebih tinggi dibandingkan penggunaan titik ikat stasiun aktif BPN. Selisih rata-rata
ketelitian pada komponen X sebesar 0,629 m, komponen Y sebesar 1,006 m dan
pada komponen Z sebesar 0,5 m.

Panuntun (2012) melakukan penelitian pada penentuan posisi Anjungan


Minyak Lepas Pantai. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan enam titik
ikat regional dan tujuh titik ikat global. Tujuannya untuk mengetahui posisi anjungan
minyak lepas pantai dengan teliti. Hasil dari penelitian ini adalah penggunaan titik
ikat global mempunyai ketelitian lebih tinggi dibandingkan dengan titik ikat regional.
Ketelitian tertinggi menggunakan titik ikat global mencapai 2,46 mm pada posisi X,
8,54 mm pada posisi Y dan 1,53 mm pada posisi Z. Sedangkan ketelitian tertinggi
dengan menggunakan titik ikat regional adalah 55,49 mm pada posisi X, 123,64 mm
pada posisi Y, dan 39,29 mm pada posisi Z.

Widjajanti (2008) melakukan penelitian terhadap pengaruh dari konfigurasi


stasiun referensi terhadap pengolahan GPS baseline panjang. Penelitian ini dilakukan
dengan perancangan beberapa konfigurasi jaringan dalam pengolahan GPS baseline
6

panjang dengan menguji adanya pengaruh jumlah stasiun referensi dan jarak antar
stasiun. Stasiun yang digunakan adalah stasiun global (IGS) dan stasiun regional
dengan diolah menggunakan perangkat lunak GAMIT. Hasil dari penelitian ini
adalah stasiun referensi meningkatkan kualitas data yang dihasilkan. Pemilihan
terhadap stasiun referensi global harus diperhatikan karena jarak yang terlalu panjang
dapat menyebabkan konfigurasi jaring yang tidak bagus. Akurasi tertinggi dihasilkan
pada posisi X, Y, dan Z adalah masing-masing kurang dari 2 m.

Lestari (2006) melakukan penelitian mengenai stabilitas pada situs Candi


Borobudur dengan pengamatan dan pembuatan jaring GPS. Pada penelitian tersebut
menggunakan total 12 titik pengamatan GPS. Titik tersebut terdiri dari empat titik
pengamatan outer ring yaitu BORA, BORB, BORC, dan BORD dan delapan titik
yang terdapat di sekitar Candi Borobudur yang digunakan dalam analisis deformasi.
Pada penelitian tersebut pengolahan data dilakukan pada titik BORA, BORB, BORC,
dan BORD yang diikatkan terlebih dahulu dengan pengolahan global. Pada
pengolahan global, titik ikat yang digunakan yaitu enam titik ikat IGS yang terdiri
dari BAKO, COCO, DARW, KARR, JABI, NTUS dan ditambah dua titik ikat
regional Indonesia yaitu KOEP dan PARE pada pengolahan data pengamatan 2002.
Sedangkan pengolahan data pengamatan 2003, titik ikat global merupakan enam titik
IGS ditambah dengan empat titik ikat regional Indonesia yaitu KOEP, AMPE,
LMBR, dan BIMA. Titik pengamatan outer ring yang telah dilakukan pada
pengolahan tersebut, dijadikan titik ikat pada delapan titik ikat pengamatan lain
sebagai pengolahan lokal. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai
deformasi kurang dari 4 mm per tahun untuk posisi horizontal pada semua titik
dengan tingkat kepercayaan 95%. Nilai deformasi untuk posisi vertikal pada lorong
stupa tingkat kurang dari 7 mm per tahun dengan tingkat kepercayaan 95%. Nilai
deformasi tersebut tidak signifikan, namun nilai deformasi yang signifikan dapat
ditemukan di sudut lorong stupa tingkat.

Adhicita (2007) melakukan penelitian penggunaan metode relax dan baseline


pengolahan data GPS dengan perangkat lunak GAMIT. Penelitian ini melakukan
pengolahan data pada proyek pengamatan situs Candi Borobudur 2003 dengan
membedakan pengolahan dengan menggunakan opsi choice of experiment pada
7

GAMIT yaitu relax dan baseline. Pengolahan data membagi mejadi project global
dan lokal. Pada project global titik-titik yang terletak di halaman taman candi
Borobudur diolah menggunakan titik kontrol regional dan global, sedangkan pada
project lokal titik-titik di teras candi yang sudah diolah tadi dijadikan titik kontrol
guna menentukan titik-titik yang terdapat di atas dan sekitar stupa candi. Hasil
penelitian tersebut adalah penggunaan opsi choice of experiment relax, pada kontrol
table GAMIT sesuai digunakan pada pekerjaan melibatkan baseline relatif panjang.
Sedangkan pada choice of experiment baseline sesuai digunakan pada pekerjaan
yang melibatkan baseline yang relatif pendek.

Penelitian ini menggunakan data jaring GNSS pengamatan Sesar Opak tahun
2014 yang terdiri dari jaring makro TGD dan mikro SGY. Pengolahan dilakukan
dengan referensi titik ikat global dan lokal. Titik ikat lokal merupakan jaring makro
TGD yang sebelumnya telah diolah dengan titik ikat global. Pengolahan pada
peneltian ini menggunakan perangkat lunak ilmiah GAMIT/GLOBK dengan choice
of experiment relax dan baseline.

I.8. Landasan Teori

1.8.1. Sesar

Sesar (fault) merupakan bentuk rekahan yang terdapat pada lapisan batuan
bumi yang menimbulkan suatu blok batuan bergerak relatif terhadap blok yang lain.
Slip merupakan jarak batuan yang telah berpindah di sisi lain dari sebuah sesar.
Gerakan sepanjang sesar mungkin bertahap, atau batuan dapat bergerak secara tiba-
tiba, yang menghasilkan gempa bumi. Beberapa sesar yang terdiri atas berbagai
patahan yang berdekatan disebut zona sesar. Batuan dapat bergeser ratusan meter
atau bahkan kilometer di sepanjang zona sesar. Batuan bergerak berulangkali di
sepanjang patahan dan zona patahan disebabkan oleh pergerakan tektonik.
Pergerakan tektonik pada umumnya melakukan desakan di tempat yang sama dalam
waktu yang lama. Selain itu, disebabkan oleh patahan yang telah terbentuk pertama
kali. Hal tersebut memudahkan sebuah pergerakan dapat terjadi lagi (Thompson dan
Thurk, 1997).
8

Pergeseran pada sesar bisa terjadi sepanjang garis lurus yang disebut sesar
translasi atau terjadi putaran yang dinamakan sesar rotasi. Pergeseran-pergeseran ini
mempunyai dimensi berkisar antara beberapa sentimeter sampai ratusan kilometer.
Patahan menyebabkan lapisan kulit bumi retak atau patah. Bagian muka bumi yang
mengalami patahan seperti horst dan graben. Horst adalah tanah naik, hal tersebut
terjadi saat ada pengangkatan. Graben adalah tanah turun, terjadi saat blok batuan
mengalami penurunan. Ilustrasi horst dan graben dapat dilihat pada Gambar I.1.

Gambar I.1. Terjadinya horst dan graben (Thompson dan Thurk, 1997).

1.8.2. Sesar Opak

Sesar Opak adalah sesar yang terletak di sepanjang Sungai Opak di mana
posisinya terletak di sekitar sebelah barat Sungai Opak. Berdasarkan hasil survei
GPS pada tahun 1998, 2006, dan 2008 mendapatkan keterangan bahwa besarnya
deformasi koseismik gempa Yogyakarta 2006 berkisar antara 10 s.d 15 cm atau lebih
kecil, dilihat dari komponen horizontal maupun vertikal. Deformasi setelah seismik
arah horizontal adalah sekitar 0,3 s.d 9,1 cm. Pemodelan dislokasi yang dilakukan
Okada didasarkan pada vektor pergeseran deformasi koseismik serta kedalaman
gempa-gempa susulan. Proses estimasi pada pemodelan tersebut dihasilkan bahwa
sesar penyebab gempa Yogyakarta 2006 adalah sesar sinistral (left-lateral) dengan
sudut strike sekitar 48° dan sudut kemiringan (dip angle) sekitar 89° (Abidin, dkk,
2007). Sesar penyebab gempa Yogyakarta 2006 yang diestimasi dari hasil survei
GPS ini, terletak sekitar 5 s.d 10 km di sebelah timur lokasi Sesar Opak. Sesar Opak
9

digambarkan terdapat pada sesar geser kiri yang meliuk sesuai dengan data yang
diperolehnya seperti terlihat pada Gambar I.2.

Gambar I.2. Perkiraan lokasi sesar yang menyebabkan gempa Yogyakarta tahun
2006 (Abidin, dkk., 2009)

1.8.3. Global Navigation Satellite System (GNSS)

GNSS adalah metode pengoperasian dan kesesuaian pada gabungan beberapa


sistem navigasi satelit yang disediakan dalam rangka kepentingan pengukuran di
seluruh dunia. Satelit-satelit yang ada, melakukan transmisi sinyal radio dengan
frekuensi tinggi pada receiver. Frekuensi tinggi tersebut membawa data posisi dan
waktu yang diambil menggunakan receiver yang memungkinkan pengguna
mengetahui posisi lokasi di atas permukaan bumi.

Teknologi GNSS telah jauh berkembang dengan adanya satelit yang bergabung
dengan sistem GNSS seperti GPS, GLONASS, dan GALILEO (Abidin, 2007).
Satelit GPS dimiliki oleh Amerika serikat, GLONASS milik Eropa, dan GALILEO
milik Rusia. GNSS memiliki keuntungan dibandingkan dengan GPS, karena pada
sistem GNSS satelit yang ditangkap oleh receiver tidak hanya satelit GPS tetapi juga
melibatkan satelit lain. Adanya data pengamatan dari satelit lain, penentuan posisi
menjadi semakin baik. Selanjutnya dijelaskan lebih detil tentang teknologi GPS.
10

1.8.4. Global Positioning System (GPS)

GPS (Global Positioning System) merupakan sistem navigasi dan penentuan


posisi menggunakan satelit. GPS dapat digunakan banyak orang sekaligus dalam
berbagai cuaca, serta didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi
yang teliti, dan informasi waktu secara kontinyu di seluruh dunia. Sistem GPS terdiri
atas tiga segmen utama yaitu segmen angkasa, segmen kontrol dan segmen pemakai
(Abidin, 1995).

1.8.4.1. Segmen angkasa. Satelit GPS pada prinsipnya memiliki konstelasi 24


satelit. Konstelasi satelit tersebut menempati enam orbit yang berbentuk mendekati
lingkaran. Setiap orbit ditempati oleh empat satelit dengan interval antaranya tidak
sama. Orbit satelit GPS memiliki sudut inklinasi sebesar 55° terhadap bidang ekuator
dengan ketinggian rata-rata di permukaan bumi sekitar 20.200 km. Setiap satelit GPS
secara kontinyu memancarkan sinyal-sinyal pada dua frekuensi L-band yang
dinamakan L1 dan L2. Pengamatan terhadap sinyal satelit dengan jumlah waktu
cukup dapat diproses untuk mendapatkan informasi posisi, kecepatan, dan waktu.

1.8.4.2. Segmen kontrol. Satelit-satelit GPS dipantau oleh sistem kontrol yang
terdiri atas beberapa stasiun monitor dan kontrol yang tersebar di seluruh dunia.
Segmen kontrol satelit GPS dilakukan untuk mengecek kelaikgunaan satelit GPS
tersebut. Selain itu juga berfungsi sebagai penentuan orbit dari seluruh satelit GPS
yang merupakan informasi utama untuk penentuan posisi dengan satelit. Stasiun
monitor terdapat di beberapa tempat diantaranya, Diego Garcia (Samudra Hindia),
Kwajalein (Samudra Pasifik bagian utara), Pulau Ascension (Samudra Atlantik
bagian selatan), Hawai, dan Colorado Springs.

1.8.4.3. Segmen pengguna. Segmen ini terdiri atas berbagai pihak yang
memanfaatkan penggunaan satelit GPS untuk berbagai keperluan. Segmen pengguna
dapat memanfaatkan fasilitas tersebut, dengan menggunakan alat penerima sinyal
receiver GPS. Receiver GPS diperlukan untuk menerima dan memproses sinyal dari
satelit GPS yang digunakan dalam penentuan posisi, kecepatan, maupun waktu.
11

1.8.5. Pengamatan Dasar GPS

Pengamatan dasar pada GPS dalam penentuan jarak ke satelit terdapat tiga
macam yaitu pseudorange, carrier phase dan integrasi doppler (Sunantyo, 2000).

1.8.5.1. Metode pseudorange. Prinsip pengamatan pseudorange adalah


pengurangan antara waktu pemancar sinyal dalam suatu skala waktu (t) dan waktu
kedatangan sinyal dalam suatu skala waktu (T) yang dipancarkan oleh satelit.
Pengukuran jarak pseudorange ini didasarkan pada pengiriman sinyal dari satelit ke
receiver, sinyal tersebut berisi informasi mengenai waktu sementara pemancaran
gelombang, posisi satelit, nomor satelit dan beberapa informasi lainnya yang
diperlukan. Metode ini berdasarkan pengukuran waktu rambat sinyal-sinyal yang
dipancarkan dari minimal empat satelit GPS ke stasiun pengamatan pada saat
bersamaan. Hasil pengamatan ini terkait dengan pengamatan dengan parameter lain
dengan hubungan-hubungannya dapat diformulasikan sebagai persamaan (I.1)
(Abidin, 1995) :

Pi = ρ + dρ + dtrop – dioni + (dt – dT) + MPi + Pi .............................................(I.1)

Dalam hal ini,

Pi : pseudorange pada frekuensi fi (m), (i = 1,2)

ρ : jarak geometris antara satelit pengamat (x,y,z) dengan satelit (m)

c : kecepatan cahaya dalam vakum (m/dt)

dρ : kesalahan jarak karena efek ephemeris

dtrop : bias karena efek refraksi troposfer (m)

dioni : bias karena efek refraksi ionosfer (m)

dt, dT : kesalahan dan offset antara jam receiver dan jam satelit (m)

MPi : efek dari multipath pada hasil pengamatan Pi

Pi : noise pada hasil pengamatan Pi

1.8.5.2. Merode carrier phase. Prinsip carrier phase diperoleh dengan


melakukan pengurangan antara sinyal pembawa yang dibangkitkan oleh receiver saat
penerimaan sinyal berlangsung dengan sinyal pembawa yang dibangkitkan oleh
12

pemancar sinyal satelit. Fase pembawa yang tidak penuh dapat diukur ketika sinyal
diterima, jumlah integer gelombang penuh yang tidak diketahui disebut ambiguitas
fase.

Metode carrier phase mempunyai prinsip perbedaan fase antara vektor posisi
satelit ke titik pengamat yang merupakan fungsi perbedaan fase sinyal yang
dipancarkan oleh satelit hingga diterima oleh receiver (Sunantyo, 2000). Penentuan
jarak dengan carrier phase lebih teliti dibandingkan pseudorange. Jika jarak antara
satelit telah diketahui, kemudian menggunakan suatu algoritma dapat dihitung posisi
receiver. Data jarak jika dihitung dengan carrier phase dapat diformulasikan pada
persamaan (I.2) (Abidin, 1995):

Li= ρ + dρ + dtrop – dioni + (dt – Dt) + MCi - λi.Ni + ....................................(I.2)

Dalam hal ini,

Li : jarak fase (carrier range) pada frekuensi fi (m), (i = 1,2)

ρ : jarak geometris antara pengamat (x,y,z) dengan satelit (m)

dρ : kesalahan jarak karena efek ephemeris

dtrop : bias karena efek refraksi troposfer (m)

dioni : bias karena efek refraksi ionosfer (m)

λi. : panjang gelombang dari sinyal (m)

dt, dT : kesalahan dan offset antara jam receiver dan jam satelit (m)

MCi : efek dari multipath pada hasil pengamatan Li

Ni : ambigiutas fase dari pengamatan fase sinyal-sinyal Li

rCi : gangguan noise hasil pengamatan Ci

1.8.5.3. Metode integrasi doppler. Prinsip dasar pengamatan dengan integrasi


doppler adalah melakukan pengamatan terhadap perubahan frekuensi yang
diakibatkan oleh gerak satelit-satelit GPS terhadap receiver. Berdasarkan prinsip ini
maka rumusan matematis menggunakan prinsip integrasi doppler terdapat pada
persamaan (I.3) (Sunantyo, 2000):
13

fr = fs (1-(dj/dt)/c)………………………………………………………………...(I.3)

Dalam hal ini,

fr : frekuensi yang diterima receiver

fs : frekuensi sinyal dari satelit

dj/dt : laju perubahan jarak terhadap perubahan waktu

c : cepat rambat gelombang elektromagnetik dalam vakum

1.8.6. Penentuan Posisi GPS

Penentuan posisi menggunakan GPS memiliki konsep dasar reseksi atau


pengikatan ke belakang dengan jarak. Jarak tersebut didapat dari pengukuran secara
simultan beberapa satelit GPS yang koordinatnya sudah diketahui. Posisi titik dapat
ditentukan menggunakan satu receiver GPS dengan metode penentuan posisi absolut,
maupun relatif dengan minimal dua buah receiver yang salah satunya telah diketahui
koordinatnya. Posisi yang diberikan GPS adalah posisi dengan dimensi (X,Y,Z
atau,,һ) dalam datum WGS48. Pengamatan ke satelit GPS membutuhkan
minimal empat satelit pengamatan. Tiga pengamatan untuk menentukan parameter
posisi (X,Y,Z atau,,һ) dan satu pengamatan untuk mendapat parameter waktu
(t) (Abidin, 2002).

I.8.6.1. Penentuan posisi metode absolut. Penentuan posisi absolut atau yang
disebut juga dengan point positioning dilakukan dengan menggunakan satu receiver
saja. Metode penentuan posisi absolut umumnya menggunakan data pseudorange.
Penentuan posisi absolut pada suatu kala dengan menggunakan data pseudorange
memerlukan beberapa parameter yang harus ditentukan ataupun diestimasi yaitu
parameter koordinat (X,Y,Z atau,,һ) dan parameter kesalahan waktu yang
disebabkan oleh tidak sinkronnya jam osilator satelit dan jam pada receiver GPS.
Oleh karena itu, penentuan posisi secara absolut dengan data pseudorange diperlukan
minimal pengamatan jarak ke empat buah satelit (Abidin, 1995).

Ketelitian yang dihasilkan dalam penentuan metode absolut tidak begitu tinggi,
dalam praktiknya bahkan sampai fraksi meter. Dalam aplikasinya, metode penentuan
14

absolut terbatas dalam penggunaannya. Pada umumnya penggunaan metode ini


digunakan dalam keperluan navigasi.

I.8.6.2. Penentuan posisi metode relatif. Penentuan posisi relatif adalah


penentuan vektor jarak antara dua stasiun pengamatan yang dikenal dengan jarak
basis (baseline). Penentuan posisi relatif melibatkan pengamatan simultan dari
beberapa satelit dengan minimal dua receiver GPS. Penentuan suatu titik ditentukan
secara relatif terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya. Data ukuran
pengamatan yang digunakan dalam penentuan posisi secara relatif dapat berupa
pseudorange maupun carrier phase.

Metode penentuan posisi relatif dilakukan dengan mengurangkan data


pengamatan dua receiver GPS pada saat bersamaan. Beberapa jenis kesalahan dan
bias dari data pengamatan dapat direduksi atau dihilangkan. Kesalahan yang dapat
direduksi adalah kesalahan bias ionosfer, troposfer, dan ephemeris. Kesalahan yang
dapat dihilangkan adalah kesalahan jam receiver dan jam satelit. Sedangkan
kesalahan multipath yang bersifat lokal tidak dapat direduksi maupun dihilangkan.
Reduksi dan penghilangan berbagai kesalahan dan bias ini meningkatkan ketelitian
data, sehingga meningkatkan ketelitian posisi yang diperoleh. Efektifitas proses
pengurangan ini tergantung pada jarak antara stasiun monitor dengan stasiun
pengamatan yang ditentukan posisinya. Semakin pendek jarak tersebut maka
semakin efektif, dan berlaku juga sebaliknya (Abidin, 1995).

1.8.7. Kesalahan dan Bias Pengamatan GPS

Kesalahan dan bias harus diperhitungkan secara baik dan benar agar
mendapatkan ketelitian informasi yang tinggi. Kesalahan dan bias tersebut
diantaranya adalah (Abidin, 1995) :

1. Kesalahan orbit satelit. Kesalahan yang disebabkan oleh posisi yang


dilaporkan oleh ephemeris satelit. Posisi satelit yang dilaporkan ini tidak
sama dengan posisi satelit pada keadaan sebenarnya. Kesalahan orbit ini
mempengaruhi ketelitian dan koordinat titik-titik yang ditentukan.
Kesalahan orbit satelit pada dasarnya disebabkan oleh tiga faktor yaitu tidak
telitinya perhitungan orbit satelit oleh stasiun kontrol satelit, kesalahan
15

prediksi orbit untuk periode waktu setelah uploading ke satelit dan


penerapan kesalahan orbit yang disengaja.
2. Bias ionosfer. Ionosfer merupakan lapisan atas atmosfer yang memiliki
jumlah elektron dan ion bebas yang dapat mempengaruhi perambatan
gelombang radio. Ion-ion bebas dalam lapisan ionosfer mempengaruhi
sinyal yang terdapat pada GPS. Efek ionosfer mempengaruhi kecepatan,
arah, polarisasi, dan kekuatan dari sinyal GPS yang melaluinya. Efek dari
ionosfer yang paling besar terdapat pada kecepatan sinyal, dalam hal ini
mempengaruhi ukuran jarak dari pengamat ke satelit.
3. Bias troposfer. Lapisan troposfer merupakan lapisan atmosfer bersifat netral
yang berbatasan dengan permukaan bumi, di mana temperatur di sekitarnya
menurun. Sinyal GPS mengalami gangguan ketika melalui troposfer yang
menyebabkan perubahan pada kecepatan dan arah dari sinyal GPS. Efek
utama dari troposfer adalah terhadap kecepatan, dengan kata lain terhadap
hasil ukuran jarak. Pada pengolahan dengan menggunakan GAMIT, efek
troposfer dapat direduksi dengan menggunakan pemodelan troposfer yaitu
atmdisp_ce dan atmdisp_cm. File pemodelan tersebut dapat diunduh melalui
ftp://garner.ucsd.edu/pub/GAMIT/tables.
4. Efek multipath. Multipath merupakan suatu fenomena di mana sinyal GPS
tiba di antena melalui dua atau lebih lintasan yang berbeda. Satu sinyal
merupakan sinyal langsung dari satelit ke antena, sedangkan sinyal lain
merupakan sinyal-sinyal yang dipantulkan oleh benda-benda di sekitar
antena sebelum akhirnya tiba di antena. Benda yang dapat memantulkan
sinyal GPS antara lain jalan raya, sungai, kolam, danau, kendaraan dan
gedung. Efek multipath mempengaruhi ukuran pseudorange dan carrier
phase. Efek multipath tergantung pada jenis dan posisi reflektor, posisi
relatif satelit, jarak reflektor ke antena, panjang gelombang ke antena dan
juga kekuatan sinyal.
5. Ambiguitas fase. Ambiguitas fase adalah jumlah gelombang penuh yang
tidak dapat diukur oleh receiver. Setiap pengamatan dengan satelit tertentu
mempunyai nilai ambiguitas fase yang berbeda-beda. Setiap pengamatan
fase dari satelit berbeda mempunyai ambiguitas fase tersendiri. Secara
16

umum terdapat tiga aspek dalam penentuan resolusi ambigutas fase yaitu
eliminasi kesalahan dan bias dari data pengamatan, letak geometri satelit,
dan teknik resolusi ambiguitas itu sendiri.
6. Cycle slips. Cycle slips merupakan penerimaan yang tidak terus menerus
pada jumlah gelombang penuh dari fase gelombang pembawa yang diamati
oleh receiver oleh suatu sebab. Cycle slips dapat disebabkan oleh beberapa
hal antara lain menghidupkan dan mematikan receiver dengan sengaja
secara tiba-tiba, terhalangnya sinyal GPS diterima, dan terdapat kerusakan
pada receiver.

I.8.8. International GNSS Service (IGS)

IGS merupakan organisasi internasional yang bergerak dalam bidang stasiun


GNSS. IGS mengumpulkan sumber dan data permanen dari stasiun GNSS dan juga
melakukan pemeliharaan terhadap sistem tersebut. IGS sebelumnya International
GPS Service didirikan oleh International Association of Geodesy (IAG) pada tahun
1993, dan secara formal beroperasi mulai tahun 1994. Setiap negara berkontribusi
dalam IGS dengan membangun stasiun-stasiun IGS.

IGS merupakan kolaborasi kontribusi organisasi sukarela lebih dari 200 stasiun
di lebih dari 80 negara. IGS global melacak lebih dari 300 jaringan tetap, stasiun
GPS yang beroperasi secara terus menerus memberikan berbagai data set untuk
analisis IGS pusat, untuk merumuskan produk yang tepat seperti ephemeris satelit
dan clock solutions (Kouba, 2009). Data IGS secara global disediakan melalui situs
http://igscb.jpl.nasa.gov yang dapat diunduh secara gratis. Dengan menggunakan
produk IGS yang tepat dengan menggabungkan data GPS fase pembawanya dan data
pengamatan stasiun IGS yang paling dekat, penggunaan dalam pengukuran geodetik
dapat mencapai posisi relatif yang tepat sesuai dengan ITRF global saat ini (Kouba,
2009).

1.8.9. International Terrestrial Reference Frame ( ITRF)

ITRF merupakan suatu kerangka koordinat global yang merupakan realisasi


dari ITRS. ITRF direpresentasikan dalam suatu koordinat dan kecepatan yang
didapatkan dari sejumlah titik yang tersebar yang berada di seluruh permukaan bumi.
17

Stasiun ITRF tersebut diamati dengan menggunakan metode-metode GPS, Lunar


Laser Ranging (LLR), Very Long Baseline Interferometry (VLBI), Solar Laser
Ranging (SLR), dan DORIS. Jaring koordinat ITRF dipublikasikan oleh IERS setiap
tahunnya. ITRF yang dipublikasikan setiap tahun tersebut diberi nama ITRF-yy.
Dalam hal ini, yy menunjukkan tahun terakhir data yang digunakan untuk
menentukan kerangka tersebut. Sebagai contoh, ITRF94 menunjukkan kerangka
koordinat dan kecepatan yang dihitung pada tahun 1995 dengan menggunakan semua
data IERS sampai akhir tahun 1994 (SNI, 19-6724-2002).

1.8.10. Perangkat Lunak TEQC

TEQC merupakan perangkat lunak yang dikeluarkan oleh UNAVCO yang


digunakan untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam pre-processing data
GNSS (Estey, L. dan Stuart, W., 2014):

1. Translation, membaca file GNSS data pengamatan asli dan digunakan untuk
konversi ke dalam data format lain.
2. Editing, digunakan dalam editing pada data pengamatan seperti melakukan
pemotongan dan koreksi dari file rinex hasil konversi.
3. Quality check, memeriksa kualitas data GPS dan/atau GLONASS data rinex
pengamatan file dengan atau tanpa file navigasi dengan ephemeris.

Tiga fungsi tersebut yaitu, translation, editing, dan quality check dapat digunakan
secara terpisah, berpasangan ataupun bersama. Perangkat lunak TEQC dapat juga
digunakan untuk (Estey, L. dan Stuart, W, 2014):

1. Translate (mengubah) format biner asli tertentu (misalnya, Trimble .*dat)


kedalam format data rinex dengan file observation dan/atau tanpa file
navigation.
2. Memeriksa file rinex atau spesifikasi file untuk memenuhi versi rinex.
3. Memodifikasi (editing) setiap field header rinex kedalam file rinex dan
output nya.
4. Quality check pada data obsevasi file rinex, tanpa melibatkan data file
navigasi (disebut qc-lite, dengan TEQC tidak memiliki informasi posisi
satelit) .
18

5. Quality check pada data observasi file rinex, dengan melibatkan data file
navigasi (disebut qc-full, dengan TEQC memiliki informasi posisi satelit) .
6. Melakukan pemotongan (menentukan rentang waktu yang digunakan) atau
menggabungkan dua atau lebih file rinex.
7. Membuat file rinex baru dengan sampling interval lebih lama, misalnya dari
1 detik sampai dengan 30 detik.

Pada pengecekan kualitas data dengan TEQC beberapa parameter hasil


pengecekan data pengamatan memenuhi kriteria apabila (Lestari, 2006):

1. Pengaruh ionospheric delay pada perekaman data satelit di elevation mask


tidak banyak.
2. Efek multipath MP1 dan MP2 kurang dari 0,5 m.
3. Pengaruh Ionosphere Delay Observable (IOD) slips dan Ionosphere Delay
Observable+multipath (IOD+MP) slips kurang dari 100.
4. Data yang dibuang dari data keseluruhan relatif kecil.

1.8.11. Perangkat Lunak GAMIT/GLOBK

I.8.11.1. Perangkat lunak GAMIT. GPS Analysis Package Developed at MIT


(GAMIT) adalah paket analisis GPS secara komprehensif, yang dibuat dan
dikembangkan oleh Departement of Earth, Atmospheric and Planetary Science,
Massachussets Institute of Technology, USA. GAMIT merupakan perangkat lunak
ilmiah pengolahan data pengamatan GPS yang digunakan mengestimasi koodinat
dan kecepatan, orbit satelit dan parameter orientasi bumi. Perangkat lunak ilmiah ini
digunakan untuk mengestimasi posisi relatif tiga dimensi dari stasiun pengamatan
dan orbit satelit.

Proses pengolahan GAMIT memerlukan delapan macam input, yaitu (Herring,


dkk., 2010) :

1. Raw data merupakan data yang diperoleh dari hasil pengamatan GPS.
2. L-file, merupakan koordinat dari semua stasiun pengamatan dan titik
referensi yang digunakan. Koodinat yang digunakan merupakan koodinat
kartesi tiga dimensi.
3. File station.info, merupakan file stasiun-stasiun yang digunakan, informasi
19

lokasi stasiun, tinggi antena, model antena, model receiver, serta firmware
yang digunakan oleh receiver, waktu pengamatan, start dan waktu akhir
perekaman data, tahun pengamatan, keterangan doy (day of year).
4. File session.info, merupakan sesi dari data yang diolah. Informasi yang
terdapat di dalamnya antara lain (tahun, doy, sesi pengamatan, sampling
interval, banyak kala, dan nomor satelit). File session.info dapat dibuat
dengan perintah makexp
5. File navigasi, dapat berupa RINEX (Receiver INdependent EXchange
format), navigation messages maupun satelit ephemeris yang telah
disediakan IGS.
6. File sestbl. File ini berisi control table yang menjelaskan karakteristik
proses yang dieksekusi oleh GAMIT.
7. File sittbl. File ini memberikan constraint setiap stasiun pengamatan yang
digunakan dalam pemrosesan data.
8. File GPS satelit ephemeris yang didapat dari IGS dalam format *sp3.

Hasil akhir yang didapat dalam proses pengolahan data pengamatan GPS
menggunakan perangkat lunak GAMIT antara lain:

1. Autcln.summary, file ini terdiri atas autcln.prefit.sum dan autcln.post.sum.


File autcln.summary berisi data statistik hasil editing dengan autcln.
2. q-file, file ini memberikan informasi hasil pengolahan data pengamatan GPS
pada GAMIT. Informasi tersebut disajikan dalam dua versi biasses-free
solution dan biasses-fixed solution. Informasi mengenai nilai fract dan nilai
postfit nrms terdapat pada q-file.
3. h-file, file ini berisi hasil pengolahan dengan loosely constraint solutions.

File yang ada berupa parameter-parameter serta matriks varian kovarian yang
digunakan untuk input dalam pengolahan menggunakan GLOBK.

I.8.11.2. Perangkat lunak GLOBK. Global Kalman filter VLBI and GPS
analysis program (GLOBK) adalah perangkat lunak yang dapat mengkombinasikan
hasil pemrosesan data survei terestris maupun data survei ekstra terestris. Data input
GLOBK merupakan matriks varian kovarian dari koordinat stasiun, parameter orbit,
20

parameter rotasi bumi, dan koordinat hasil pengamatan. Terdapat tiga aplikasi umum
yang digunakan dalam GLOBK, (Lestari, 2006):

1. Memperoleh perkiraan stasiun koordinat rata-rata dari kombinasi sesi


individu untuk lebih dari satu pengamatan multi-day.
2. Melakukan kombinasi perkiraan rata-rata data pengamatan stasiun koordinat
yang diperoleh dari beberapa tahun pengamatan untuk memperkirakan
kecepatan stasiun pengamatan.
3. Mengkombinaskan sesi pengamatan yang dilakukan dengan koordinat
stasiun yang dianggap stokastik. Hasil dari proses ini adalah koordinat
repetabilities yang digunakan untuk evaluasi tingkat presisi dari pengukuran
harian maupun tahunan.

File yang digunakan pada pengolahan dengan GLOBK yaitu file koordinat
pendekatan (*.apr), earthquake file (eq_file) dan command block file (com_file), sort
file (srt_file), apriori rotasi bumi (in_pmu). Proses harian (daily processing dengan
GLRED) dan terakhir dilakukan proses global (global processing dengan GLOBK).

Proses pada GLOBK melakukan kombinasi lebih dari satu solusi, sekaligus
melakukan pengikatan terhadap sebuah frame koordinat. Hasil yang didapat dari
proses tersebut dapat berupa koordinat kartesi tiga dimensi, data panjang baseline,
ketelitian data pengamatan dan titik ikat pengamatan.

I.8.12. Perataan Jaring pada GAMIT/GLOBK

I.8.12.1. Perataan jaring pada GAMIT. Perangkat lunak GAMIT menggunakan


hitungan kuadrat terkecil parameter berbobot dengan teknik double difference dari
pengamatan data fase untuk melakukan estimasi posisi dan orbit dari titik
pengamatan. Pengolahan pada GAMIT berdasarkan pada koordinat observasi
pengamatan, koordinat stasiun titik ikat dan parameter orbit (King dan Bock, 2002).

Perataan jaring GPS menggunakan perangkat lunak GAMIT adalah loosely


constrained network dengan menggunakan free-network quasi-observation berbobot
(King dan Bock, 2002). Pendekatan yang dilakukan menggunakan perataan baseline
dengan melibatkan matriks varian kovarian sebagai persamaan hitungan kuadrat
21

terkecil parameter. Persamaan (I.4) berikut ini model matematis yang belum
mengalami iterasi.

La = F(Xa) ..............................................................................................................(I.4)
Apabila terdapat dua receiver yang berada pada titik pengamatan A dan B.
Titik pengamatan A mempunyai vektor koordinat XA, YA, ZA sedangkan titik
pengamatan B mempunyai vektor koordinat XB, YB, ZB, kemudian receiver tersebut
melakukan pengamatan terhadap dua satelit yaitu m dan n.

Persamaan double difference pada titik pengamatan A dan B terdapat pada


persamaan (I.5) dan (I.6).

 Am  X m
t   X A 2  Y m t   YA 2  Z m t   Z A 2 ...................................................(I.5)

 Bn  X n
t   X B 2  Y n t   YB 2  Z n t   Z B 2 ..................................................(I.6)

Koordinat stasiun A dianggap memiliki suatu nilai pendekatan yaitu X A0 , YA0 , Z A0  


sehingga diperoleh nilai XA, YA, dan ZA seperti pada persamaan (I.7), (I.8), dan (I.9).

XA = X0A + dXA .......................................................................................................(I.7)

YA = Y0A + dYA ......................................................................................................(I.8)

ZA = Z0A + dZA........................................................................................................(I.9)

Kemudian persamaan (I.5) dan (I.6) dilinierisasi sehingga menjadi persamaan (I.10)
dan (I.11).

 Am t    Am  cx m t .dX A  cy m t .dY A  cz m t .dZ A ..............................................(I.10)


 Bn t    Bn  cx n t .dX B  cy n t .dYB  cz n t .dZ B .….........................................(I.11)

Dengan melakukan substitusi persamaan tersebut ke dalam persamaan matriks


residu, menghasilkan penyelesaian double difference menjadi persamaan (I.12).

LABmn (t )  rCABmn (t )   ABmn (t )  cxmn (t ).dX A  cy mn (t )dYA  cz mn (t ).dZA  .N ABmn ...................(I.12)
22

Selanjutnya penerapan metode parameter berbobot pada persamaan (I.4)


sehingga menjadi persamaan (I.13).

L’a = Xa........................................................................................................(I.13)

Persamaan matriks bobot terdapat pada persamaan (I.14) dan matriks residu
pada persamaan (I.15).

P 0 
 1 
P  ............................................................................................................(I.14)
0 P2 
 

V = A X + L .........................................................................................................(I.15)

Sedangkan matriks A, X dan L dapat dilihat pada persamaan (I.16), (I.17), dan (I.18).

 
A  cx AB t  cy AB t  cz AB t     ..............................................(I.16)
mn mn mn

 


L  L AB
mn
t    AB mn t  ............................................................................(I.17)

dX A 
dY 
X  A  ......................................................................................................(I.18)
dZ A 
 
N AB 

Hasil persamaan observasi (I.15) yang dilinierisasi menjadi persamaan (I.19).

X0  Xb 
L'  Y0  Yb  ......................................................................................................(I.19)
 Z 0  Z b 

Dalam hal ini,


L : matriks observasi
A : matriks desain
X : matriks parameter
ρ : jarak geometri antara satelit dengan titik pengamatan
23

N : ambiguitas fase
m,n : satelit yang teramat
A, B : titik pengamatan
(X0,Y0,Z0): koordinat pendekatan titik
Setelah melakukan perataan jaringan dengan menggunakan GAMIT, proses
selanjutnya yaitu pendefinisian kerangka referensi dari loosely constrained network,
kemudian melakukan pengolahan lanjutan menggunakan GLOBK.

I.8.12.2. Perataan jaring pada GLOBK. Proses hitungan pada GLOBK


merupakan proses Kalman filter dengan kombinasi dari solusi-solusi hasil
pengolahan data pengamatan. Terdapat tiga program utama dalam perangkat lunak
GLOBK, yaitu GLOBK, GLRED, dan GLORG. GLOBK merupakan proses Kalman
Filtering yang digunakan untuk mengkombinasikan data pengolahan harian GAMIT
dan estimasi posisi rata-rata titik pengamatan. GLORG melakukan pengikatan
terhadap titik-titik pengamatan titik-titik referensi yang diberikan. GLRED
melakukan perhitungan posisi masing-masing hari. Ketelitian posisi yang diperoleh
dengan membandingkan per waktu tertentu (Herring, dkk., 2010).

I.8.13. Evaluasi Hasil Pengolahan GAMIT/GLOBK

I.8.13.1. Evaluasi hasil pengolahan GAMIT. Evaluasi hasil pengolahan


GAMIT dapat dilakukan dengan memperhatikan dua parameter evaluasi pada file
output q-file yaitu :

1. Posfit nrms (normalized root mean square). Nilai posfit nrms didapat dari
persamaan (I.20).

Nilai postfit nrms = √ .....................................................................(I.20)


̂
Dengan nilai x = …...............................................................................(I.21)
Dalam hal ini,
̂ : varian aposteori untuk unit bobot
: varian apriori untuk unit bobot
N : jumlah ukuran
u : ukuran minimum
24

Postfit nrms merupakan perbandingan nilai varian aposteriori dan varian


apriori untuk bobot. Standar nilai nrms berkisar antara ± 0,25, jika nilai
nrms kurang dari 0,25 menandakan tidak terdapat kesalahan serius pada
pemodelan (Herring, dkk., 2010).

2. Fract merupakan perbandingan pada nilai adjust dan nilai formal. Nilai fract
didapat dari persamaan (I.22).

fract = ..........................................................................................(I.22)

Dalam hal ini;

fract : nilai pembagian antara nilai adjust dan formal (m)


adjust : nilai perataan masing-masing kordinat pendekatan (m)
formal : ketidakpastian pada pemberian bobot hitungan

Nilai fract digunakan menganalisis kejanggalan yang terdapat pada nilai adjust
dan pilihan melakukan iterasi untuk mendapatkan nilai adjust yang bebas dari efek
non-linear.
I.8.13.2. Evaluasi hasil pengolahan GLOBK. Evaluasi hasil pengolahan
GLOBK dengan melihat pada log file dan plot time series. Log file menunjukkan
konsistensi data harian secara internal. Log file berisi nilai stastistik termasuk
simpangan baku yang digunakan untuk analisis terhadap nilai koordinat hasil olahan.
Selain itu, evaluasi juga bisa dilakukan dengan melihat nilai stastistik chi-squared
increament per degree of freedom (x2/f). Nilai x2/f memiliki limit maksimal yaitu 30
(Lestari, 2006).

I.8.14. Uji Statistik

Uji statistik dilakukan dalam rangka membuat suatu keputusan berdasarkan


asumsi-asumsi yang ada. Asumsi tersebut dapat benar (diterima) ataupun salah
(ditolak). Uji statistik digunakan dalam hal membandingkan suatu hitungan dengan
suatu hasil hitungan peratan sebelumnya, hasil dari hitungan (perataan), ataupun nilai
teoritis suatu populasi. Hal tersebut digunakan untuk menjawab sebuah estimasi
konsisten terhadap nilai asumsi dan/atau pengambaran nilai dari populasi tersebut
atau tidak (Widjajanti, N., 2011).
25

Pada penelitian ini, evaluasi ketelitian koordinat stasiun pengamatan pada


jaring mikro SGY dan makro TGD dilakukan dengan membandingkan nilai varian
kovarian koordinat pada masing-masing hasil hitungan. Dalam hal ini, kriteria
pengujian yang digunakan sesuai dengan persamaan (I.23) (Ghilani, C.D., 2010).

F= .............................................................................................................(I.23)

Hipotesis yang ada, sebagai berikut :


H0 : σ21 = σ22
H : σ21 ≠ σ22
Hipotesis nol ditolak jika memenuhi persamaan (I.24) dan (I.25):

F> ...........................................................................................................(I.24)

F> .........................................................................................................(I.25)

Dalam hal ini,

: varian hasil hitungan pengolahan pertama


: varian hasil hitungan pengolahan kedua
: derajat kepercayaan
V1 : nilai degree of freedom1
V2 : nilai degree of freedom 2
Hasil yang didapatkan apabila terjadi penerimaan Ho maka ketelitian hasil
kedua pengolahan tidak berbeda signifikan. Jika Ho ditolak maka ketelitian hasil
kedua pengolahan berbeda signifikan.

I.9. Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah ketelitian koordinat stasiun pengamatan pada


jaring makro TGD dan mikro SGY yang diolah dengan perangkat lunak ilmiah
mencapai fraksi milimeter. Jaring pengamatan mikro SGY yang diolah dengan titik
ikat lokal diduga memiliki ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan dengan
pengolahan dengan titik ikat global (IGS). Jaring pengamatan makro TGD yang
diolah bersama dengan jaring pengamatan mikro SGY dengan titik ikat global (IGS)
diduga memiliki ketelitian lebih tinggi dibandingkan dengan pengolahan tanpa
melibatkan jaring pengamatan mikro SGY.