Anda di halaman 1dari 44

Usulan Penelitian Skripsi

PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI PROBIOTIK


DAN ZINK TERHADAP DURASI DAN FREKUENSI
DIARE PADA PASIEN ANAK DI RUMAH SAKIT
ISLAM FATIMAH CILACAP

Diajukan oleh :
Oktafiani wulandari
15.02.00052

Kepada :

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI (S1)


STIKES PAGUWARMAS MAOS
CILACAP
2019
HALAMAN PENGESAHAN
USULAN SKRIPSI

1. Judul Usulan Skripsi : Pengaruh Pemberian Kombinasi Probiotik


Dan Zink Terhadap Durasi dan Frekuensi
Diare Pada Pasien Anak Di Rumah Sakit
Islam Fatimah Cilacap
2. Nama Penyusul : Oktafiani wulandari
3. NIM Penyusul : 15.02.00052
4. Alamat rumah : Jalan Kapten Soenyono No. 5 RT 02/ RW
16 Kecamatan Majenang
5. Nomor hp : 081351573657
6. Alamat email : oktafianiwulandari1997@gmail.com
7. Nama Pembimbing Utama : Definingsih Yuliastuti, M. Farm., Apt
8. Nama Pembimbing Pendamping : Wahyunita Yuliasari M., Farm., Apt

Cilacap,

Pengusul

Oktafiani wulandari
15.02.00052

Menyetujui :

Pembimbing Pendamping : Pembimbing Utama :

Wahyunita Yuliasari, M.Farm., Apt Definingsih Yuliastuti, M.Farm., Apt


NIK. 93140889 NIK.96150789

ii
PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Oktafiani wulandari
NIM : 15.02.00052
Program Studi : S-1 Farmasi
Judul Penelitian : Pengaruh Pemberian KombinasiProbiotik dan Zink
Terhadap Durasi dan Frekuensi Diare Pada Pasien Anak
Di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap
menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa penelitian ini adalah hasil karya
sendiri dan sepanjang pengetahuan saya tidak bersifat materi yang dipublikasikan
atau ditulis oleh orang lain atau digunakan untu menyelesaikan studi di perguruan
tinggi lain kecuali Pada bagian-bagian lain tertentu yang saya ambil sebagai
acuan. Apabila terbukti pernyataan ini tidak benar, Sepenuhnya menjadi tanggung
jawab saya.

Maos, 30 November 2018

Oktafiani wulandari
15.02.00052

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan, atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyelesaian
skripsi ini dapat diselesaikan dengan bantuan berbagai pihak, dengan demikian
perlu penulis ucapkan terimakasih kepada :
1. Definingsih Yuliastuti, M.Farm., Apt selaku pembimbing utama dan
Wahyunita Yuliasari, M.Farm., Apt selaku pembimbing pendamping.
2. Wahyunita Yuliasari, M.Farm., Apt selaku Ketua STIKES Paguwarmas Maos-
Cilacap beserta jajarannya.
3. Kedua orang tua atas jasa-jasa, kesabarannya dan doanya.
4. Teman-teman 12 srikandi yang selalu mendukung dan membantu dalam
menyelesaikan skripsi ini.
Semoga skripsi ini berguna dalam pengembangan ilmu maupun
pemanfaatan untuk masyarakat.

Maos, 30 November 2018

Oktafiani wulandari

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................. Error! Bookmark not defined.

HALAMAN PENGESAHAN USULAN SKRIPSI................................................ ii

PERNYATAAN..................................................................................................... iii

KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv

DAFTAR ISI ........................................................................................................... v

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ vii

INTISARI............................................................................................................. viii

ABSTRACT .............................................................................................................. x

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 2

A. Latar Belakang ............................................................................................. 2

B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 6

C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA........................... Error! Bookmark not defined.

A. Rumah Sakit ................................................ Error! Bookmark not defined.

B. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)..... Error! Bookmark not defined.

C. Interaksi Obat .............................................. Error! Bookmark not defined.

D. Rancangan Penelitian Potong Lintang (cross sectional).. Error! Bookmark

not defined.

BAB III. METODE PENELITIAN........................ Error! Bookmark not defined.

A. Desain Penelitian ......................................... Error! Bookmark not defined.

v
vi

B. Sampel ......................................................... Error! Bookmark not defined.

C. Prosedur Penelitian...................................... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ............................................ Error! Bookmark not defined.


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Jalannya Penelitian ..............................................Error! Bookmark not defined.

vii
DAFTAR TABEL

viii
INTISARI

Penyakit Diare masuk dalam 10 besar penyakit terbanyak berdasarkan data


Kesehatan Puskesmas Kabupaten Cilacap Tahun 2015. Salah satu tatalaksana
diare menurut WHO adalah pemberian zink. Zink berperan memlihara intregritas
mukosa usus dan memperbaiki sistem imunitas. Probiotik dapat membantu proses
absorpsi dalam penyerapan air yang berpengaruh pada perbaikan konsistensi
feses.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menilai efektivitas dan
pengaruh pemberian kombinasi probiotik dan zink maupun pemberian tunggal
probiotik atau zink terhadap durasi dan frekuensi BAB pada pasien diare anak di
Unit Rawat Inap Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap. Penelitian ini menggunakan
desain Cross Sectional. Subjek yang diamati terbagi menjadi 4 kelompok yaitu :
kelompok I pasien yang mendapatkan terapi probiotik, kelompok II pasien yang
mendapatkan terapi zink, kelompok III pasien yang mendapatkan terapi
kombinasi probiotik dan zink, kelompok IV adalah pasien yang tidak mendapat
terapi keduanya. Variabel pengamatan utama adalah frekuensi dan durasi diare.

Kata kunci : Diare, Zink, Probiotik, Cross Sectional

ix
ABSTRACT

Diarrhea is included in the top 10 most diseases based on Health Center


data in Cilacap Regency in 2015. One of the treatments for diarrhea according to
WHO is giving zinc. Zink plays a role in maintaining intestinal mucosal integrity
and improving the immune system. Probiotics can help the absorption process in
water absorption which has an effect on improving stool consistency.
The purpose of this study was to determine and assess the effectiveness and
effect of giving a combination of probiotics and zinc as well as a single
administration of probiotics or zinc administration to the duration and frequency
of bowel movements in diarrhea patients of children in the Inpatient Unit of
Fatimah Islamic Hospital in Cilacap. This study uses Cross Sectional design. The
subjects observed were divided into 4 groups, namely: group I patients who
received probiotic therapy, group II patients who received zinc therapy, group III
patients who received combination therapy of probiotics and zinc, group IV were
patients who did not receive both therapies. The main observation variables are
the frequency and duration of diarrhea.

Keywords :Diarrhea, Zinc, Probiotik, Cross Sectional

x
2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Setiadi, dkk (2014) diare adalah buang air besar dengan

konsistensi tinja yang lembek biasanya disertai dengan peningkatan

frekuensi dan berat feses lebih dari 200 gram perhari. Dinyatakan akut

apabila berlangsung kurang dari 14 hari, dan dinyatakan persisten bila

lama diare antara 14-28 hari dan kronik bila lebih dari 4 minggu.

Menurut Hartati dan Nurazila (2018) dilaporkan terdapat 1,7

milyar kasus diare pada anak-anak setiap tahunya, dan pada anak usia

dibawah 5 tahun (balita). Dalam satu tahun sekitar 525.000 anak usia

balita meninggal karena penyakit diare (World Health Organization

(WHO), 2013). Penyakit diare ini masih menjadi masalah kesehatan

masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia diperkirakan data

kasus diare yang masuk dalam fasilitas kesehatan Indonesia sebanyak

6.897.463 dan diare yang ditangani 2.544.084 setiap tahunya, prosentase

diare yang dapat ditangani sebanyak 36,9 % (Profil Kesehatan Indonesia,

2016).

Penemuan kasus diare di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015

angka kejadian diare yang ditemukan dan ditangani memperoleh

prosentase sebesar 67,7% (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2015).

Menurut data Profil Kesehatan Cilacap (2015) diare dan gastroenteritis


3

non spesifik masuk dalam 10 besar penyakit terbanyak di wilayah

puskesmas Kabupaten Cilacap sebanyak 12.389 kasus.

Faktor yang mendorong kejadian diare antara lain faktor infeksi

yang menyerang saluran pencernaan seperti (infeksi kuman E.coli,

Salmonella, Vibrio cholerae, dan serangan bakteri lain yang dapat

menyerang saat tubuh lemah seperti pseudomonas, infeksi basil (disentri),

infeksi enterovirus dan adenovirus, infeksi parasit oleh cacing (askaris),

infeksi jamur (candidiasis), infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil,

broncitis, radang tenggorokan dan keracunan makanan. Faktor

malabsorpsi (gangguan penyerapan) terbagi menjadi 2 yaitu malabsorpsi

karbohidrat dan malabsopsi lemak. Untuk malabsorpsi karbohidrat pada

bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula yang

menyebabkan diare, gejalanya seperti diare berat, tinja berbau sangat

asam, sakit di daerah perut apabila anak sering terkena diare ini

pertumbuhanya dapat terganggu. Untuk malabsorpsi lemak. Triglyserida

dengan bantuan kelenjar lipase mengubah lemak menjadi micelles yang

siap diabsorpsi usus, jika lipase tidak ada maka akan terjadi kerusakan

mukosa usus, diare ini dapat terjadi karena penyerapan lemak tidak

sempurna, gejalanya tinja mengandung lemak. Faktor makanan yang

mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu

banyak lemak, mentah (sayuran), dan makanan yang dimasak kurang

matang. Faktor psikologi rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada

anak, dapat menyebabkan diare kronis (Widjaja, 2002).


4

Penatalaksanaan diare menurut Kapti dan Nurona (2017) antara

lain dengan rehidrasi, nutrisi dan zat besi. Rehidrasi digunakan sebagai

pengganti cairan dan elektrolit yang didasarkan kehilangan cairan selama

diare. Ditetapkanya jumlah cairan yang diberikan tergantung dari tingkat

dehidrasi yang di alami pasien diare. Pemberian makanan sebagai nutrisi

tidak boleh dihentikan selama diare, untuk menghindari dampak negatif

dari diare, makanan ini diberikan setelah rehidrasi 24 jam pertama segera

secara oral, makanan yang diberikan pertama yaitu makanan yang mudah

di cerna dan porsi kecil namun sering dan menghindari makanan asam dan

pedas. Pada bayi yang masih konsumsi air susu ibu (ASI) harus

diteruskan. Khusus untuk diare karena malabsorpsi harus menghindari

makanan penyebab alergi. Pemberian suplementasi zink digunakan untuk

pertumbuhan dan perkembangan anak, zink ini akan hialang dalam jumlah

besar pada saat terjadi diare penggantian zink ini penting untuk membantu

anak cepat dan sehat kembali pada bulan berikutnya. Suplementasi zink

yang diberikan selama periode diare akan mengurangi durasi dan

keparahan diare dan menurunkan kejadian diare dalam 2-3 bulan

berikutnya, dengan alasan tersebut seluruh pasien dengan diare harus

segera diberikan zink setelah diare muncul.

Menurut Yonata dan Farid (2016) selain itu, beberapa randomized

controlled trials (RCT) dan meta analisis menyatakan bahwa probiotik

efektif untuk pencegahan primer maupun sekunder serata dapat digunakan

sebagai pengobatan diare dengan mekanisme meningkatkan kolonisasi


5

bakteri probiotik di dalam lumen saluran cerna, sehingga seluruh epitel

mukosa usus ditempati oleh bakteri probiotik melalui reseptor dalam sel

epitel usus, sehingga tidak ada tempat untuk bakteri patogen pada sel

epitel usus dan mencegah kolonisasi bakteri patogen.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk dapat melihat

dampak suplementasi zink dan probiotik terhadap kejadian diare anak

seperti penelitian oleh Shamir di Israel yang mengkombinasikan zink dan

probiotik dan placebo pada diet bayi umur 6-12 bulan terbukti secara

segnifikan mengurangi derajat berat dan lama diare akut pada kelompok

perlakuan (Rahmayani, dkk., 2014).

Angka kejadian diare yang masih tinggi di Kabupaten cilacap dan

kebutuhan pelayanan pasien berdasarkan pada bukti yang kuat untuk

tatalaksana diare kombinasi probiotik dan zink ataupun pemberian tunggal

probiotik, zink serta masih sangat minim dilakukanya penelitian tentang

penggunaan zink, probiotik maupun kombinasi keduanya, maka perlu

dilakukanya penelitian untuk mengetahui apakah penambahan probiotik

pada tatalaksana diare dengan menggunakan zink akan memberikan efek

yang lebih baik terhadap penurunan frekuensi dan durasi diare pada pasien

anak.
6

B. Rumusan Masalah

1. Apakah terdapat pengaruh pemberian kombinasi zink dan probiotik

pada pasien anak di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap ?

2. Apakah ada perbedaan hasil pengobatan antara pemberian kombinasi

zink dan probiotik, dan pemberian tunggal zink maupun probiotik

terhadap durasi dan frekuensi diare pada pasien anak ?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi peranan zink pada pasien diare anak

2. Mengidentifikasi peranan probiotik pada pasien diare anak

3. Mengevaluasi pengaruh pemberian kombinasi probiotik dan zink

terhadap durasi dan frekuensi pada pasien diare anak

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian yang dilakukan antara lain:

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah tentang

pengaruh pemberian kombinasi probiotik dan zink.

2. Sebagai bahan masukan dalam upaya penatalaksanaan pengobatan

diare pada pasien anak di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap tahun

2018.

3. Memberikan informasi tentang perbedaan durasi dan frekuensi diare

pada pasien anak yang di berikan terapi kombinasi probiotik dan zink

maupun pemberian tuanggal probiotik atau zink.


7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Diare didefinisikan buang air besar (defeksi) dengan tinja

berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja

lebih banyak dari biasnya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. definisi

lain menggunakan frekuensi lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 24 jam

(sehari), buang air besar encer seperti ini dapat atau tanpa adanya lendir

dan darah (Fahrial, 2014).

Menurut Widjaja (2014) diare adalah buang air encer lebih dari 4

kali sehari, baik disertai darah ataupun tidak.

Definisi lain mendefinisikan diare sebagai pengeluaran feses yang

lunak dan cair. Urgensi adalah sensasi ingin defeksi yang tidak dapat

ditunda. Ini dapat mengindikasi adanya iritasi rektum tetapi juga dapat

terjadi ketika volume feses terlalu cair dan jumlahnya terlalu banyak.

Sehingga menyebabkan rektrum terlalu penuh sebagai tempat

penimbunan. Frekuensi hanya menggambarkan jumlah feses yang

dikeluarkan dan dapat atau tidak berhubungan dengan urgensi atau diare

(Grace dan Neli, 2006).

B. Klasifikasi Diare

Klasifikasi diare menurut Kapti dan Nurona (2017) terbagi menjadi

3 klasifikasi diare yaitu :

3
1. Diare diklasifikasikan berdasarkan volume tinja menjadi 2

yaitu volume tinja banyak dan tinja sedikit. Diklasifikasikan

volume banyak jika

terdapat lebih dari 1 liter tinja cair per hari. Volume sedikit

adalah pengeluaran tinja cair per hari kurang dari 1 liter.

2. Diare diklasifikasikan berdasarkan durasinya menjadi 2 yaitu

diare kronis dan diare akut. Diare akut adalah diare yang

berlangsung kurang dari 2 minggu yang biasanya disebabkan

karena adanya infeksi bakteri, parasit atau invasi virus serta

dapat disebabkan selain infeksi seperti keadaan keracunan

makanan dan pengobatan. Diare akut biasanya dapat sembuh

dengan sendirinya. Diare kronis biasanya terjadi lebih dari 2

minggu dan dikenal dengan diare presisten. Diare kronis

biasnya sembuh lebih dari 4 minggu. Diare jenis ini dapat

disebabkan ole penyakit, obat-obatan, kelainan genetik atau

penyakit berbahhaya yang lain.

3. Diare diklasifikasikan berdasarkan patomekanisme dibagi

menjadi 3 yaitu diare sekretorik, osmotik, dan gangguan

motilitas. Diare sekretorik adalah keadaan dimana jumlah

cairan yang berlebih di lumen usus yang dapat mengakibatkan

penurunan kemampuan usus untuk reabsorpsi. Diare ini dapat

disebabkan karena agen infeksius atau oleh zat yang dapat

membawa cairan ke usus. Agen infeksius tersebut seperti

4
Vibrio cholerae, E. coli, Camylobacter jejuni, Salmonella,

Shigella, dan Clostridium difficle. Agen tersebut dapat

menyekresi toksin yang menyebabkan vili usus gagal

mengabsorpsi natrium yang akan menstimulasi sekresi cairan

dan elektrolit. Keadaan tersebut menyebabkan sekresi air dan

elektrolit dalam rongga usus meningkat lalu merangsang usus

untuk mengeluarkannya dan terjadilah yang dinamakan diare

sekreotorik. Seorang dengan kondisi diare sekretorik akan

memiliki volume feses lebih dari 1 liter bperhari dengan pH

yang normal dan tidak terdapat perbedaan volume feses

meskipun dengan puasa. Diare osmotik terjadi ketika adanya

gangguan kemampuan usus untuk mereabsorbsi cairan.

Mukosa lumen usus halus dapat dilewati oleh air dan elektrolit

untuk mempertahankan tekanan osmotik antara isi usus dengan

cairan ekstraseluler. Diare ini dapat disebabkan karena kondisi

malabsorpsi makanan pada usus. Keadaan tersebut menciptkan

gradien osmotik negatif yang menyebabkan masuknya cairan

yang berlebihan ke usus dan meningkatkan olume tinja.

Penyebab diare osmotik ini adalah adanya penurunan enzimatik

(contoh : intoleransi laktosa), kelainan genetik yang menurun

atau hilangnya kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi

tertentu, seperti contoh gula (sorbitol, mannitol atau laktosa),

obat pencahar dan pemberian antibiotik, dan malabsorpsi lemak

5
tertentu. Diare osmotik biaasanya memiliki volume feses

kurang dari 1 liter perhari, fesesnya bersifat keasaman (kalium

dan natrium). Diare karena gangguan motilitas usus dapat

meningkat atau menurun dan keduanya dapat menyebabkan

diare. Peningkatan motilitas usus dapatr disebabkan karena

agen infeksius karena keadaan inflamasi. Peningkatan motilitas

usus menyebabkan transpot kotoran dalam usus menjadi lebih

cepat sehingga kesempatan untuk reabsorpsi di usus besar

menurun. Penurunan motilitas ini juga dapat menyebabkan

kondisi konstipasi kronis penyebab diare. Penyebab faktor

diare kronis antara lain infeksi, pengaruh makanan, pengaruh

obat, imunodefisiensi, dan keadaan tertentu lainya.

Mikroorganisme dapat masuk melalui makanan dan minuman

yang terkontaminasi kuman. Penyebab yang paling umum

adalah Rotavirus yang sering menyebabkan diare antar usia 6-

24 bulan. Diare karena Rotavirus ini biasanya ringan, namun

dimungkinkan untuk terjadi dehidrasi berat bahkan kematian.

C. Epidemiologi

Menurut Fatkhiyah (2016) epidemiologi penyakit diare adalah

sebagai berikut :

a. Penyebaran kuman yang menyebabkan diare

6
Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecel

oral antara lain dapat melalui makanan dan minuman yang

tercemar tinja atau kontak langsung dengan tinja penderita.

b. Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare

Faktor penjamu yang yang dapat menyebabkan diare

seperti tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang

gizi, imunodefensiasi atau imunosupresan.

c. Faktor lingkungan dan perilaku

Penyakit diare merupakan penyakit berbasis lingkungan,

yang paling penting biasanya sarana air bersih dan tempat

pembuangan tinja, sehingga apabila ada lingkungan yang

tercemar atau tidak sehat seperti hygenie sanitasi pengolahan

makanan, maka dapat menimbulkan kejadian diare.

D. Patofisiologi

Menurut Dwienda, dkk (2014) Diare dapat disebabkan oleh satu

atau lebih patofisiologi/patomekanisme dibawah ini :

a. Diare sekretorik diare tipe ini disebabkan karena meningkatnya

sekresi air dan elektrolit dan penurunan absorbsi usus. Secara

klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak. Diare

tipe ini akan berlangsung meskipun dilakukan puasa makan

atau minum.

b. Diare osmotik diare tipe ini disebabkan karena meningkatnya

tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan

7
oleh obat-obat kimia yang hiperosmotik, malabsorpsi umum

dan defek dalam absorpsi mukosa usus misal pada difisiensi

disakarida, glukosa atau galaktosa.

c. Malabsorpsi asam empedu dan lemak diare tipe ini dikarenakan

gangguan produksi atau pembentukan micelle empedu dan

penyakit saluran billier dan hati.

d. Defek sistem pertukaran anion/tranport elektrolit aktif di

enterosit. Diare tipe ini biasanya disebabkan adanya hambatan

mekanisme transport aktif NA+K+AT pase di enterosit dan

absorpsi Na+ dan air yang abnormal.

e. Motilitas dan waktu transit usus yang abnormal diare tipe ini

disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus

sehingga menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus.

Dapat disebabkan karena diabetes militus, pasca vagotomi,

hipertiroid.

f. Gangguan permeabilitas usus diare tipe ini disebabkan

permeabilitas usus yang abnormal karena adanya kelainan

morfologi membran epitel spesifik pada usus halus.

g. Diare inflamasi, inflamasin ini terjadi pada usus halus dan

kolon dikarenakan kerusakan tight juncion, kehilangan sel

epitel, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik

dapat mengakibatkan penumpukan pada lumen berupa sel

darah merah maupun sel darah putih.

8
h. Diare infeksi, infeksi ini biasanya oleh bakteri yang dapat

dibagi menjadi invasif (merusak mukosa) dan non-invasif.

Bakteri non invasif menyebabkan diare karena toksin yang

disekresikan oleh bakteri tersebut.

E. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik bergantung pada lokasi anatomi dan agen

penyebab, infeksi di usus halus biasanya tidak invansi, sementara infeksi

di kolon bersifat inansif. Diare dikarenakan kelainan usus halus biasanya

banyak, cair,sering berhubungan dengan malabsorpsi dan sering

ditemukan adanya dehidrasi, sedangkan manifestasi sistemik bervariasi

bergantung pada penyebabnya (Selivia, 2017).

Menurut Sukanandar, dkk (2013) manifestasi diare antara lain :

a. Diare dikelompokan menjadi akut dan kronis. Umunya episode

diare akut hilang dalam waktu 72 jam dari onset. Diare kronis

melibatkan serangan yang lebih sering selama 2-3 periode yang

lebih panjang.

b. Penderita diare akut umumnya mengeluhkan onset yang tak

terduga dari buang air besar yang encer, gas-gas dalam perut, rasa

tidak enak, dan nyeri peurt. Karakteristik penyakit usus halus

adalah terjadinya internittent periumbilical atau nyeri pada kuadran

kanan bawah disertai kram dan bunyi pada perut. Pada diare kronis

ditemukan adanya penyakit sebelumnya, penurunan berat badan

dan nafsu makan.

9
c. Diare dapat disebabkan oleh bebrapa senyawa termasuk antibiotik

dan obat lain, selain itu penyalahgunaan pencahar untuk

menurunkan berat badan juga dapat menyebabkan diare.

d. Pada diare pemeriksaan fisik abdomen dapat mendeteksi

hiperperistaltik dengan borborygymi (bunyi pada lambung).

Pemeriksaan rektal dapat mendeteksi massa atau kemungkinan

fecal impaction, penyebab utama diare pada usia lanjut.

e. Pemeriksaan turgor kulit dan tingkat keberadaan saliva oral

berguna dalam memperkirakan status cairan tubuh. Jika terdapat

hipotensi, takikardia, denyut lemah, diduga terjadi dehidrasi.

Adanya demam mengindikasikan adanya infeksi.

f. Untuk diare yang tidak dapat dijelaskan terutama pada situasi

kronis dapat dilakukan pemeriksaan parasit dan ova pada feses,

darah, mukus dan lemak. Selain itu juga dapat diperiksa

osmolaritas feses, ph, dan elektrolit.

Diagnosis ditegakkan melalui amnesis menurut Setiani, dkk (2014)

mengenai hal antara lain sebagai berikut :

a. Tanyakan gejala dan tanda yang sesuai dengan kemungkinan

penyebab antara (non inflamasi atau inflamasi).

b. Adanya kontak dengan sumber yang berpotensi tercemar patogen

penyebab diare.

10
c. Riwayat perjalanan, aktivitas seperti berenang, kontak dengan

orang yang sakit serupa, tempat tinggal, juga pola kehidupan

seksual.

d. Adanya riwayat pengobatan dan diketahui penyakit lain seperti

infeksi HIV.

Pemeriksaan fisik secara general tidak mengarah ke diagnosis

secara spesifik namun lebih untuk menilai status hidrasi pasien.

Termasuk pemeriksaan ada tidaknya tanda bahaya seperti nyeri perut

hebat terutama pada pasien usia lanjut atau dengan kondisi imun

menurun (Setiati S, dkk., 2014). Pemeriksaan penunjang meliputi

Darah : darah perifer lengkap, ureum, kreatinin, elektrolit, (Na+, K+,

Cl-). Analisis Gas Darah (bila dicurigai ada gangguan keseimbangan

asam basa), pemeriksaan toksin (C. Difficile), antigen (E. Hystolitica).

Pemeriksaan Feses : analisis feses (rutin : leukosit di feses.

Pemeriksaan parasit : amoeba, hifa, Pemeriksaan kultur).

F. Penatalaksanaan

Langkah pertama yang dilakukan pada saat diare yaitu dengan

mengistirahatkan usus dan memberi rehidrasi secara parenteral.

Melanjutkan pemberian makanan dan ASI dengan frekuensi lebih

sering, menggunakan antibiotik hanya untuk diare berdarah (disentri),

kolera, diare berlendir atau infeksi non intestinal. Prioritas tatalaksana

pengobatan pada diare anak adalah mengganti cairan tubuh. Cairan

tubuh hilang secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan elektrolit

11
sampai kematian. Pemberian cairan didasarkan pada derajat dehidrasi

yang terjadi dan diberikan secara pelan, sering dan bertahap. Jumlah

cairan yang diberikan tergantung tingkat dari dehidrasi pada pasien.

Makanan dan ASI diberikan dengan frekuensi lebih sering. Setelah

diare berhenti frekuensi makan ditambahkan satu kali sehari selama

seminggu, tujuanya untuk mencegah terjadinya kekurangan nutrisi dan

mencapai berat badan normal (Permatasari, 2012).

G. Probiotik

Probiotik didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang bila

diberikan dalam jumlah adekuat dapat memberikan dampak positif

bagi kesehatan pejamu, probiotik berperan sebagai strain non

patogenik dari organisme yang dimasukan ke dalam diet untuk

memodifikasi mikroba usus, menyebabkan perubahan struktural

(ekologi usus) dan fungsional (ekologi usus) yang menguntungkan

dalam usus (Mulyani, dkk., 2016).

Probiotik merupakan suplemen makanan berupa bakteri hidup

yang non patogen, tidak toksik, tahan terhadap asam lambung dan

dapat berkoloni pada usus besar (kolon). Jenis bakteri probiotik yang

paling dikenal adalah golongan bakteri asam laktat dan Bifidobacteria.

Probiotik yang telah diproduksi secara komersial adalah camputan

Lactobacilus dan Bifidobacteria, walaupun kadang kadang khamir

seperti saccharomyces juga digunakan. Bakteri ini dapat memecah

12
karbohidrat yang tidak tercena oleh saluran pencernaan manusia dan

langsung berinteraksi dengan metabolisme inang (Dea, 2018).

Kapti dan Nutona (2017) mengatakan mekanisme probiotik

yang berhubungan dengan diare adalah :

a. Probiotik akan menciptakan lingkungan yang tidak

kondusif bagi patogen dengan memproduksi antimikroba

yang berkompetisi dengan patogen untuk mengikuti nutrisi

penting.

b. Prebiotik memiliki efek langsung pada pertahanan jaringan

epitel, termasuk meningkatkan musin/sekresi oleh sel-sel

goblet (sehingga membatasi pergerakan bakteri di lapisan

mukosa) ; menambah produksi peptida antimikroba serta

meningkatkan stabilitas, sehingga mengurangi

permeabilitas epitel terhadap patogen intraluminal dan

racun.

c. Probiotik mempengaruhi kekebalan mukosa dengan

meningkatkan kadar IgA, kondisi ini akan membatasi

kolonisasi epitel oleh bakteri.

d. Probiotik memiliki potensi untuk memiliki efek

antimikroba langsung. Bahkan, beberapa strain/spesies di

probiotik memiliki potensi untuk langsung membunuh atau

menghambat pertumbuhan bakteri patogen melalui

produksi faktor antimikroba, seperti baktreosin, protease,

13
ditujukan terhadap racun bakteri, atau memiliki ekslusif

dari patogen.

Menurut Lestari dan Siti (2018) jenis jenis probitik yang

berdasarkan sumbernya dan genusnya antara lain :

a. Lactobacillus

1. L. acidophillus

2. L. brevis

3. L. casei

4. L. carvatus

5. L. fermentum

6. L. gasseri

7. L. jonhsonii

8. L. reuteri

9. L. rhamnosus

10. L. salivarius

b. Bifidobacterium

1. B. adolescentis

2. B. animalis

3. B. bifidum

4. B. breve

5. B. infantis

6. B. longnum

7. B. thermophilum

14
c. Enterococcus

1. E. faecalis

2. E. faecium

d. Streptococcus

1. S. Thermophilus

e. Lactococcus

1. L. lactis subsp. cremoris

2. L. lactis subsp. lactis

f. Propionibacterium

1. P. freudenreichii

2. P. freudenreichii subsp. shermanii

3. P. jensenii

g. Ragi

1. Kluyveromyces lactis

2. Sacharomyces boulardii

3. Saccharomyces cerevisiae

h. Lain-lain

1. Lauconostoc mesenteroides

2. Pediococcus acidilactici

H. Zink

Zink merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam

tubuh. Zink dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide

Synthase). Dimana eksresi enzim ini akan meningkat selama proses

15
diare dan dapat mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zink diberikan

10 hari berturut-turut walaupun diare sudah berhenti pada anak. Dapat

diberikan dengan cara dikunyah atau dilarutkan dalam 1 sendok air

matang atau ASI (Selvia, 2017)

Umur <6bulan : diberi 10 mg (1/2 tablet) perhari

Umur >6bulan : diberi 20 mg (1 tablet) perhari

Zink sebagai salah satu mineral esensial mempunyai fungsi yang

penting didalam tubuh manusia, diantaranya adalah sebagai kofaktor

lebih dari 100 metaloenzim untuk sintesis DNA, integritas seluller,

berperan dalam metabolisme tulang dan hati, berguna untuk proses

transkripsi dan regulasi ekspresi gen, untuk poliferasi dan diferensiasi

jaringan misalnya pada saluran pencernaan (Latif, 2015).

Dalam tatalaksana diare zink diberikan selama 10 hari berturut-

turut yang mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare,

mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta

menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya

(Dwienda, dkk., 2014).

Kelebihan zink menyebabkan penurunan absorbsi tembaga,

mempengaruhi metabolisme kolestrol sehingga mempercepat

timbulnya ateroskelrosis. Pada binatang uji coba kelebihan seng

menyebabkan degenerasi otot jantung, muntah diare, kelelahan,

anemia, keracunan dan menurunkan kekebalan tubuh (penurunan

limfosit dan fagositosis). Pada penderita diabetes efek antioksidan

16
suplementasi zink mengurangi oksidasi lemak. Kekurangan zink pada

beberapa penelitian kekurangan zink berakibat gangguan pertumbuhan

dan perkembangan, penekanan sistem imun tubuh sehingga tubuh

lebih rentan terhadap penyakit seperti diare, malaria dan radang paru,

penekanan sistem imun karena kekurangan zink adalah berkurangnya

fungsi limfosit dan reaksi hipersensivitas kulit, dan juga menurunya

fagositosis dan produksi sitokin, kekurangan zink ini juga nebgabggu

proses poliferasi asam nukleat sehingga pertumbuhan dan

perkembangan terhambat dan dapat menyebabkan gangguan

imunodefisiensi (Permatasari, 2012).

I. Rumah Sakit

1. Definisi

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat

darurat. Pelayanan yang paripurna dapat tercapai apabila di dalam

setiap melakukan pelayanan di Rumah Sakit, diharapkan mampu

memenuhi Standar Pelayana Minimal (SPM). Standar Pelayanan

Minimal adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar

yang merupakan perusahaan wajib daerah yang berhak diperoleh oleh

setiap warga secara minimal yang diberikan oleh badan layanan umum

kepada masyarakat (Permenkes, 2016).

17
2. Profil Rumah Sakit Islam Fatimah

Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap adalah satu-satunya rumah

sakit swasta di Kabupaten Cilacap yang terdaftar sebagai Rumah Sakit

Tipe C. Berdiri diatas lahan seluas 23.729 M2, Rumah Sakit Islam

Fatimah Cilacap memiliki 10 (sepuluh) Ruang Rawat Inap, yang

terbagi dalam berbagai kelas yaitu : VVIP, VIP, I, II, III, ICU dan

Kamar Bayi, 17 pelayanan di Klinik Rawat Jalan dan 16 Instalasi

Penunjang baik rawat inap maupun rawat jalan. Dengan jumlah

tempat tidur 179, Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap siap untuk

melayani pasien-pasien umum dan kerjasama (instansi dan asuransi

termasuk BPJS Kesehatan).

Rumah Sakit yang berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda No. 20 Cilacap ini

terus berbenah diri dalam segala aspek pelayanan baik manajemen

Rumah Sakit , sarana prasarana, peralatan maupun SDM-nya. Rumah

Sakit Islam Fatimah Cilacap yang mempunyai falsafah melayani

dengan profesional dan ikhlas ini mempunyai tujuan sebagai berikut :

a) Mewujudkan Rumah Sakit yang sehat, bersih, indah, dan

nyaman.

b) Menjadi pusat pelayanan kesehatan bermutu, melalui upaya

promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif sesuai dengan

peraturan perundangan yang berlaku.

c) Mewujudkan manajemen profesional melalui Pendidikan dan

Pelatihan Sumber Daya Manusia yang berkesinambungan.

18
d) Menerapkan standar keselamatan pasien, keselamatan kerja dan

kepuasan pelanggan.

e) Menyelenggarakan pelayanan rujukan.

3. Visi dan Misi Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap

Visi dari Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap yaitu : Menjadi

Rumah Sakit Tipe C yang Mandiri dan Islam pada tahun 2020.

Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap memiliki Misi dalam

penyelenggaranya sebagai berikut :

a) Mengadakan sumber daya manusia spesialis dasar dan tenaga

profesi lain yang mandiri sesuai standar rumah sakit tipe C.

b) Mengembangkan kompetensi sumberdaya manusia

meliputi personal competences, professional competences dan

social competences (keterampilan, keilmuan sikap dan perilaku

yang baik) disemua lini pelayanan yang sehat dan Islam.

c) Mengembangkan gedung rumah sakit yang menarik, nyaman

dan berfungsi secara optimal sesuai standar.

d) Menyediakan peralatan medis yang terstandarisasi sesuai

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.

e) Mengembangkan perangkat manajemen yang inovatif dan

responsif yang mampu menjawab tantangan Masyarakat

Ekonomi Asean (MEA).

f) Memberikan pelayanan yang berkualitas di atas standar rata-

rata pelayanan dan dikemas dengan sikap yang Islami dan

19
Profesional dengan mengutamakan keselamatan pasien dan

keselamatan kerja.

g) Berperan aktif dalam pelaksanaan program SDG’s melalui

kegiatan Pelayanan PONEK, DOTS dan HIV/AIDS di

Kabupaten Cilacap dan implementasi konsep CSR untuk

membantu tercapainya Universal Coverage BPJS.

J. Rancangan Penelitian Potong Lintang (Cross Sectional)

Rancangan potong lintang (cross sectional) adalah suatu penelitian

dimana variabel independen/faktor penyebab/faktor resiko dan variabel

dependen/faktor akibat/faktor efek dikumpulkan pada saat yang

bersamaan.

Penelitian yang dilakukan dengan mengambil waktu tertentu yang

relative pendek dan pada tempat tertentu. Dilakukan pada objek yang

tarafnya berbeda-beda dengan cara pengambilan data variabel yang bebas

dan variabel yang tergantung dilakukan dengan sekali waktu pada saat

yang bersamaan (Sujarweni VW, 2012).

Menurut Notoatmojo (2010) rancangan penelitian Cross Sectional

adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara faktor-

faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi, atau

pengumpulan data sekaligus dalam waktu yang bersamaan (point time

approach), artinya tiap subjek penelitian hanya di observasi sekali saja dan

pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada

saat pemeriksaan.

20
Teknik Sampling Aksidental adalah pengambilan sempel

berdasarkan yang kebetulan ditemukan pada saat itu juga, yakni siapa saja

yang kebetulan ada sebagai pasien sesuai kriteria peneliti pada saat periode

penelitian yang dilakukan (Syahdrajat, 2015).

21
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan masuk dalam jenis penelitian deskriptif

dengan rancangan Cross Sectional. Pengumpulan data dilakukan secara

langsung pada pasien anak dengan diagnosis diare akut maupun diare

kronis yang dirawat inap di Rumah Sakit Islam Fatimah. Pemilihan subjek

dilakukan dengan teknik aksidental yaitu pengambilan sampel langsung

pada pasien yang sesuai dengan kriteria yang ditemui pada saat periode

penelitian.

B. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi (Sugiyono, 2010). Sampel yang di gunakan adalah Pasien

penyakit Diare pada anak di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap yang

memiliki Rekam Medik lengkap berupa jenis kelamin pasien, usia,

frekuensi diare sebelum diterapi, durasi diare sebelum diterapi, status gizi,

derajat dehidrasi dengan hasil wawancara dengan keluarga pasien maupun

dari perawat yang merawat pasien tersebut selama berada di Rumah Sakit.

Rumus perhitungan jumlah sampel sebagai berikut (Sujarweni, 2012) :

n= Z2 1-α/2 p(1-p)N

d2(N-1)+ Z21-α/2 p(1-p)

Keterangan :

n = Jumlah sampel minimal yang diperlukan

11
N = Besar populasi (90)

Z21-α/2 = Nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan

tingkat kemaknaan (untuk 0,05 adalah 1,96)

P = Proporsi (0.5)

d = Limit dari eror atau presisi absolut (95% atau 0.05)

12
4

C. Prosedur Penelitian

Pasien dengan diagnosis diare akut


maupun kronis

Memiliki data RM lengkap

Pengelompokan pemberian obat Zink,


Probiotik, atau kombinasi keduanya

Tahap Pengolahan Data sesuai


spesifikasi diare

Analisis Data

1. Tahapan diagnosis

Tahapan ini mencakup pemilihan pasien sesuai dengan kriteria

tema penelitian yang di angkat yaitu penyakit diare (diare kronis dan

diare akut).

2. Data Penunjang

Data sekunder seperti Rekam Medik sangat di perlukan karena dari

data RM dapat dilihat perkembangan dari awal kedatangan pasien

sampai dengan terapi di Rumah Sakit jadi dapat dilihat perkembangan

dari penyakit tersebut.

3. Tahapan Pengelompokan Terapi


5

Pengelompokan terapi kelompok pasien digunakan untuk melihat

efek terapi yang diberikan apakan memberikan hasil yang maksimum

dan dapat juga bermanfaat sebagai acuan pengobatan yang telah

dilakukan.

4. Tahap Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan bagian dari suatu rangkaian kegiatan

yang dilakukan setelah pengumpulan data. Langkah-langkah yang

terdapat dalam pengolahan data meliputi editing, coding, proccesing,

cleaning, dan tabulating (Sukamto, 2017).

5. Tahapan Analisis Data

Tahap analisis data yang merubah data menjadi suatu informasi

yang diperlukan, penggunaan analisis statistik untuk membuktikan suatu

hipotesis dan interprestasi atas berbagai informasi dalam upaya

menjawab berbagai permasalahan (Supardi dan Surahman, 2014).

6. Tahapan Laporan Hasil Penelitian

Laporan suatu kegiatan penelitian memuat berbagai aspek yang

dapat memeberi gambaran kepada orang lain atau pembaca tentang

seluruh kegiatan,langkah, metode, teknik maupun hasil dari penelitian

tersebut (Notoatmodjo, 2014).


6

DAFTAR PUSTAKA

Amin, LZ. 2015. Tatalaksana Diare Akut. Continuing Medical Education


(IDI).CKD-230 Vol. 42 No.7 hlm 507-508.
Dea, Feliatra. 2018. Probiotik. Kencana. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Lima Langkah
Tuntaskan Diare.
Dwienda RO, Lita M, Eka MS, Rina Y. 2014. Asuhan Kebidanan Neonatus,
Bayi/Balita dan Anak Prasekolah untuk Para Bidan. Hal. 92-94.
Deepublish. Yogyakarta.
Fatkhiyah. 2016. Gambaran Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja
Puskesmas Wedung II. Skripsi. Semarang.
Grace PA dan Neli RB. 2006. At a Glance Ilmu Bedah Edisi Ketiga. Hal.
45. Erlangga. Jakarta.
Hartantyo, Ken S dan Noor W. 2011. Pengaruh Probiotik pada Diare Akut :
penelitian dengan 3 preparat probiotik. Sari Pediatri, Vol.13, No. 2.
Hartati S, Nurazila. 2018. Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare Pada
Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari Pekanbaru. Jurnal
Endurance 3(2). (400-407)
Huda N, Dyah AP, Irma R. 2017. Pengaruh Pemberian Kombinasi Probiotik
dan Zink terhadap Frekuensi dan Durasi pada Pasien Anak di Rumah
Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jurnal Farmasi Klinik
Indonesia. Vol. 6 No.1 hlm 11-21 ISSN: 2252-6218.
Kapti RE dan Azizah N. 2017. Perawatan Anak Sakit Di Rumah Sakit. Hal
6-7. UB Press. Malang.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Profil Kesehatan
Kabupaten Cilacap.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Situasi Diare di
Indonesia.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Profil Kesehatan Jawa
Tengah.
Latif, HA. 2015.Terapi Suplementasi Zink dan Probiotik pada Pasien Diare.
Jurnal Agromed Unila. Vol. 2 No. 4
Lestari LA dan Siti H. 2018. Peran Probiotik Di Bidang Gizi & Kesehatan.
Hal. 19-20. UGM Press. Yogyakarta.
Nursa’in, Siti H. 2017. Gambaran penggunaan oralit dan zink pada kasus
diare. Jurnal Farmasetis.Vol. 6 No. 1 Hal : 25-28. ISSN : 2252-9721.
Mulyani S, Dyah AP, Nurcholid U. 2016. Efektifitas Pemberian Probiotik
Terhadap Durasi Diare Anak Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Bantul Yogyakarta. Pharmaciana. Vol. 6 No. 1 hlm 71-78.
Permatasari DV. 2012. Perbedaan Durasi Penyembuhan Diare Dehidrasi
Ringan-Sedang Balita Yang Diberikan Asi dan Seng. Skripsi.
Semarang.
Permenkes. 2016. Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit. Hal. 3.
Jakarta.
7

Rahmayani, Hasri S, Achirul B, Syarif H. 2014. Efek Pemberian Kombinasi


Zink dan Probiotik Terhadap Lama dan Frekuensi Diare pada
Penderita Diare Akut. MKS. Th. 46 No. 3.
Riskesdas. 2013. Laporan Riset Kesehatan Dasar. Jakarta.
Syahdrajat, Tantur. 2015. Panduan Menulis Tugas Akhir Kedokteran dan
Kesehatan. Hal. 93. Jakarta. Prenadamedia group.
Selvia Ayu S. 2017. Karakteristik Penderita Diare Pada Balita yang
DiRawat Inap Di RSUD Daya Kota Makassar Periode Januari-
Desember 2016. Skripsi. Makassar
Setiati S, Idrus A, Aru W. Sudoyo, Marcellus SK, Bambang S, Ari Fahrial
S. 2014. Ilmu Penyakit Dalam Jilid.Edisi VI.Jakarta: Pusat Penerbitan
Ilmu Penyakit Dalam.
Sugiyono. 2016. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Hal. 80-81, 85. Bandung : CV Alfabeta.
Suharyono. 2008. Diare Akut Klinik dan Laboratorik. Rineka Cipta. Jakarta.
Sujarweni VW. 2012. SPSS Untuk Para Medis. Hal. 2-3. Gava Media.
Yogyakarta.
Sukanandar EY, Retnosari A, Joseph IS, I Ketut A, A. Adji Prayitno Setiadi,
Kusnandar. 2014. ISO Farmakoterapi Buku 1. PT. ISFI Penerbitan.
Jakarta.
Supardi, Sudibyo, Surahman. 2014. Metodologi Penelitian Untuk
Mahasiswa Farmasi, Trans Info Media, Jakarta.
Notoatmojo S. 2014. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta.
Jakarta.
Tjay Tan Hoan, dan Kirana Rahardja. 2014. Obat-obat Penting.
Pt.Gramedia. Jakarta.
Widjaja M.C. 2002. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita. Hal.3-5.
Kawan Pustaka. Jakarta
Winanti Intan W. 2016. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare
Pada Anak SDN Brujul di Kecamatan Jaten Kabupaten Karangnyar
Tahun 2015. Skripsi. Semarang.
Yonata A, Agus Fathul Muin F. 2016. Penggunaan Probiotik sebagai Terapi
Diare. Majority. Volume 5 no.2.
8
12