Anda di halaman 1dari 2

1.

Perbuatan Pemkab A yang termasuk perbuatan hukum privat dan perbuatan hukum publik
adalah :
-Perbuatan hukum publik bersegi satu atau tidak memerlukan persetujuan pihak lain yaitu:
a) Mengeluarkan keputusan izin reklamasi yang diberikan oleh Bupati (Mr. M) kepada
PT. Y.
b) Sertifikasi tanah hasil reklamasi oleh Pemkab A
-Perbuatan hukum publik bersegi dua atau memerlukan persetujuan pihak lain yaitu:
a) Pemkab A memerintahkan PT X dan bekerja sama dengan investor PT. Y untuk
membangun pelabuhan laut.
b) Perjanjian kerjasama antara Pemkab A dengan PT. Z untuk menggunakan tanah HPL
atas nama Pemkab seluas 10Ha untuk pembangunan dan penyelenggaraan pelayanan
jasa kepelabuhanan.

-Perbuatan hukum privat atau pejabat administrasi negara menjalankan tugas dalam
keadaan tertentu menggunakan hukum privat yaitu:

a) Izin reklamasi yang diterima oleh PT. Y oleh Bupati (Mr. M).
b) PT. X yang ditunjuk Pemkab A untuk menggandeng investor.
2. Berdasarkan PP No. 64 Tahun 2015 (Pasal 74: Ayat 2) yang berbunyi “Pemberian konsesi
kepada Badan Usaha Pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
mekanisme pelelangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atau melalui
penugasan/penunjukan”. Dan dalam PerMenHub 15 Tahun 2015 (Pasal 27: Ayat 3) yang
berbunyi “Pemberian konsesi atau bentuk kerjasama lainnya kepada Badan Usaha Pelabuhan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan mekanisme pelelangan atau
melalui penugasan/penunjukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa PT. Z dapat ditunjuk untuk mendapatkan HGB diatas
tanah HPL yang dikuasai Pemkab A.
3. Problematik antara peraturan di bidang barang milik daerah dengan peraturan di bidang
konsesi pelabuhan dalam konteks teori hirarki adalah pada PP Nomor 64 Tahun 2015 tidak
dijabarkan siapa pemberi konsesi pada BUP (Badan Usaha Pelabuhan) dan dalam PP Nomor
27 tahun 2014 menjabarkan peruntukan khusus tentang kepelabuhanan. Seharusnya kedua
pasal ini saling bersinambungan karena bidang konsesi pelabuhan masuk kedalam ranah
bidang barang milik daerah, walaupun terdapat PP yang mengatur khusus tentang pengaturan
kepelabuhanan.
4. Langkah Bupati Mr.H untuk mendapatkan konsesi pengelolaan pelabuhan laut adalah dengan
menuntut biaya penyewaan tanah terhadap PT. Z atas pengelolaan tanah Pemkab untuk
pelabuhan laut. Bupati Mr. H juga dapat mengatur biaya pendapatan daerah dari pajak HGB
diatas HPL atas PT. Z serta dapat menjadikan tanah Pemkab menjadi modal investasi
terhadap PT. Z atas pembangunan pelabuhan laut.
5. Sebagai penasihat hukum yang pertama PT. Z gugat adalah Mr. H (Bupati baru) atas
perbuatan Wanprestasi karena membuat rugi PT. Z dengan tidak menerbitkan ijin HGB. Dan
gugatan kedua dilayangkan kepada Mr. M (Bupati lama) atas Perbuatan Melawan Hukum
dengan meminta 70% saham PT. Z kepada Mr. H. Gugatan akan dilayangkan di Pengadilan
Negeri tempat tanah disengketakan (kewenangan absolut). Serta memohon kepada majelis
Hakim untuk memutuskan bahwa Bupati Mr. H telah melakukan perbuatan Wanprestasi dan
Bupati Mr. M telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum, serta meminta ganti rugi kepada
Pemkab A atas kerugian PT. Z karena tidak diterbitkannya ijin HGB. Dan menuntut Pemkab
A untuk segera menerbitkan ijin HBG diatas tanah HPL tersebut.