Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Aqidah adalah pokok-pokok keimanan yang telah ditetapkan oleh Allah, dan kita sebagai
manusia wajib meyakininya sehingga kita layak disebut sebagai orang yang beriman (mu’min).
Namun bukan berarti bahwa keimanan itu ditanamkan dalam diri seseorang secara dogmatis,
sebab proses keimanan harus disertai dalil-dalil aqli. Akan tetapi, karena akal manusia terbatas
maka tidak semua hal yang harus diimani dapat diindra dan dijangkau oleh akal manusia
Para ulama sepakat bahwa dalil-dalil aqli yang haq dapat menghasilkan keyakinan dan keimanan
yang kokoh. Sedangkan dalil-dalil naqli yang dapat memberikan keimanan yang diharapkan
hanyalah dalil-dalil yang qath’i.

Secara etimologi akidah berasal dari kata al ‘Aqdu yang berarti pengikatan atau mengikat
sesuatu. Akidah adalah apa saja yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan : “DIa akidahnya
benar” berarti akidahnya terbebas dari segala keraguan.

Adapun secara terminology maka yang dimaksud ilmu akidah adalah : “Ilmu tentang
hukum-hukum syariat dalam bidang keyakinan yang diambil dari dalil-dalil mutlak dan menolak
semua syubhat (kerancuan) dan semua dalil-dalil kilafiyah yang cacat.”

Lebih khusus lagi bahwa pengertian akidah adalah sebagai berikut. :


“yaitu beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, dan
kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk”. Hal ini disebut juga dengan
rukun iman.
Dr. Nashir Abdul Karim al Aql dalam “Mabahits fi akidah ahlus sunnah wal
jama’ah” memberikan definisi akidah islam sebagai berikut :“Keimanan yang mantap kepada
Allah, juga kepada apa-apa yang wajib bagi diriNya dalam uluhiyahNya, rububiyahNya, rasul-
rasulNya, kepada hari akhir, kepada taqdir baik dan buruk, dan beriman kepada seluruh nash-
nash yang shahih berupa pokok-pokok agama (ushuluddin), semua perkara ghaib dan kabar-
kabarnya, serta apa yang telah disepakati oleh para salafus shalih. Dan berserah diri kepada Allah
ta’ala dalam masalah hukum, printah, taqdir dan syariat, serta tunduk kepada Rasulullah dengan
taat kepadanya, berhukum dan mengikuti petunjuknya.”(hal : 9) Wallahu a’lam
[dinukil dari buku “Mizanul Muslim” terbitan Cordova Mediatama, hal 80].

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa makna Aqidah bagi manusia?
2. Bagaimana menanamkan iman yang kamil (sempurna)?
3. Bagaimana proses mantapnya iman?

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Makna Aqidah Bagi Manusia

Akidah adalah ikatan dan perjanjian yang kokoh. Pengertian akidah secara istilah menurut
beberapa tokoh :

1. Hassan al-Banna : merupakan beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya dalam
hati, Mendatangkan ketentraman jiwa, dan mejadi keyakinan tanpa keraguan

2. Abu bakar al-Jazairi : Merupakan sejumlah kebenaran yang dapat diterima dengan mudah
oleh manusia dengan akal, wahyu, dan fitrah.

3. Yusuf al-Qardhawi : akidah islam bersifat syumuliyah atau sempurna, karena tidak pernah
membagi manusia diantara dua tuhan ( baik dan jahat ) dan berdasar kepada akal dan hati.

Dari pendapat tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa akidah yang benar dapat dipahami
oleh akal sehat dan diterima dengan hati karena sesuai dengan fitrah manusia.

2.2 Tanamkan Iman yang Kamil

Alquran mengemukakan kata iman menggunakan kata yang bervariasi, diantaranya


indifinite imanan sebanyak 7 kali. Kata imanan banyaknya sebanding dengan kata kufr dalam
Alquran. Dengan ini, membuktikan keseimbangan kata ini merupakan keajaiban Alquran.
Selanjutnya, kata difinite al Iman disebutkan sebanyak 17 kali beserta kata al kufr yang
sebanding dengannya.

Banyak ayat dalam Alquran yang mengatakan perbedaan iman al Kamil (sempurna) dengan
iman naqis (cacat), salah satunya terdapat dalam surat Al-Hujurat (49 : 14) yang berbunyi :

‫س اولَهٗ َْل يَ ِلتا ُك ام ِم ان‬


ُ ‫ّٰللاَ َو َر‬ ِ ‫ت ااْلَع َارابُ ٰا َمنَّا ۗ قُ ال لَّ ام تُؤا ِمنُ اوا َو ٰلـ ِك ان قُ اولُ ْۤ اوا ا َ اسلَ امنَا َولَ َّما يَدا ُخ ِل ا‬
‫اْل اي َمانُ فِ اي قُلُ اوبِ ُك ام ۚ َوا اِن ت ُ ِط ايعُوا ه‬ ِ َ‫قَال‬
“‫ّٰللاَ َغفُ او ٌر َّر ِح اي ٌم‬ ‫ش ايئًــا ۗ ا َِّن ه‬ َ ‫ا َ اع َما ِل ُك ام‬

“Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka),
Kamu belum beriman, tetapi katakanlah Kami telah tunduk (Islam), karena iman belum masuk
ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi
sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”

Dalam surat tersebut menceritakan bahwa orang orang Arab Badui seringkali mengucapkan
kata-kata “Aku beriman” berulang kali. Mereka menganggap telah beriman secara al-Kamil
(sempurna). Padahal, walaupun sering diucapkan secara berulang kali itu bukanlah termasuk

2
iman al-Kamil, malahan cenderung munafik apabila tidak dikerjakan secara nyata, sebagaimana
yang telah dikisahkan oleh Allah SWT dalam surat Ali Imran (3 : 167) :

ُ‫ّٰللا ا َ ِو ادافَعُ اوا ۚ قَالُ اوا لَ او نَ اعلَ ُم قِت ًَاْل َّْل ت َّ َب اع ٰن ُك ام ۗ ُه ام ِل ال ُك اف ِر يَ او َمئِ ٍذ اَ اق َرب‬ َ ‫َو ِليَ اعلَ َم الَّ ِذيانَ نَافَقُ اوا ۚ َوقِ اي َل لَ ُه ام تَعَالَ اوا قَاتِلُ اوا فِ اي‬
ِ ‫سبِ اي ِل ه‬
‫اس فِ اي قُلُ اوبِ ِه ام ۗ َو ه‬
“ َ‫ّٰللاُ ا َ اعلَ ُم بِ َما َي اكت ُ ُم اون‬ َ ‫ان ۚ يَقُ اولُ اونَ بِا َ اف َوا ِه ِه ام َّما لَي‬ ِ ‫ِم ان ُه ام ِل ا‬
ِ ‫ْل اي َم‬
“dan untuk menguji orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan, Marilah
berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu). Mereka berkata, Sekiranya kami
mengetahui (bagaimana cara) berperang, tentulah kami mengikuti kamu. Mereka pada hari itu
lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang
tidak sesuai dengan isi hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”

Seorang mukmin sejati adalah orang yang beriman kepada Allah dan menyaksikan
kebenaran rasulnya dalam segala apa yang disampaikannya, kemudian mereka langsung
tersentuh tanpa ragu untuk mengikutinya. Ciri-ciri orang mukmin ini juga telah disampaikan oleh
Allah dalam surat Al-Hujurat (49:15) :
ٰٓ ٰ ُ ‫ّٰللا ۗ ا‬ ‫انَّ َما اال ُمؤا ِمنُ اونَ الَّ ِذيانَ ٰا َمنُ اوا بِ ه‬
“ َ‫ص ِدقُ اون‬
‫ولئِكَ ُه ُم ال ه‬ َ ‫س او ِل ٖه ث ُ َّم لَ ام يَ ارت َاب اُوا َو َجا َهد اُوا بِا َ ام َوا ِل ِه ام َوا َ انفُ ِس ِه ام فِ اي‬
ِ ‫سبِ اي ِل ه‬ ُ ‫اّٰللِ َو َر‬

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan
jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

2.3 Proses Mantapnya Iman

Orang-orang mukmin yang mantap imannya hanyalah mereka yang membuktikan


pengakuan iman mereka dengan perkataan dan perbuatan. Iman yang kamil (sempurna) itu
terhujam mantap di dalam hati (qalb). Iman yang ada dalam qalb dapat berubah-ubah bertambah
ataupun berkurang tergantung amal perbuatannya.

Sekarang bagaiman proses iman itu sendiri dalam hati tersebut firman Allah dalam QS Al-
Anfal (8:2) :

َ‫ت َعلَ اي ِه ام ٰا ٰيتُهٗ زَ ادَتا ُه ام اِ اي َمانًا َّو َع ٰلى َربِ ِه ام يَت ََو َّكلُ اون‬
‫ت قُلُ اوبُ ُه ام َواِذَا ت ُ ِليَ ا‬ ‫اِنَّ َما اال ُمؤا ِمنُ اونَ الَّ ِذيانَ اِذَا ذ ُ ِك َر ه‬
‫ّٰللاُ َو ِجلَ ا‬

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah
gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat)
imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,”

Keimanan seseorang bertambah ketika merasa dekat AllaH SWT. Dalam kasus Perang
Uhud,setelah ada berita bahwa pasukan musuh akan menyerang orang beriman menjawab
“cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung.”

Tahapan pertama dari proses masuknya iman yaitu adanya gejolak hati. Ini terjadi baik
karena takut akibat membayangkan siksa Allah atau mengingat rahmat dan kasih sayang-Nya.

3
Tahapan kedua yaitu berdzikir. Dzikir pada mulanya berarti mengucapkan dengan lidah.
Walaupun makna ini kemudian berkembang menjadi “mengingat”. Dari sini pula menjadi
teringat dengan janji pahala dan siksa. Tahapan ketiga terjadi pemantapan iman dalam diri
seorang.

Hal tersebut dapat di pahami dari pernyataan nabi Ibrahim AS dalam QS Al-Baqarah (2:260)
:
َّ ‫ط َمئِ َّن قَ ال ِب اي ۗ قَا َل فَ ُخذا ا َ اربَعَةً ِمنَ ال‬
‫طي ِار‬ ‫اف تُحا ي ِ اال َم او ٰتى ۗ قَا َل ا َ َولَ ام تُؤا ِم ان ۗ قَا َل بَ ٰلى َو ٰلـ ِك ان ِليَ ا‬ ِ ‫َواِذا قَا َل اِب ٰار ٖه ُم َر‬
َ ‫ب اَ ِرنِ اي َكي‬
َ َ‫ع ُه َّن يَأاتِ اينَك‬
‫س اعيًا ۗ َوا اعلَ ام ا َ َّن ه‬
‫ّٰللاَ َع ِزي ٌاز َح ِك اي ٌم‬ ُ ‫ص اره َُّن اِلَياكَ ث ُ َّم اجا عَ ال َع ٰلى ُك ِل َجبَ ٍل ِم ان ُه َّن ُج از ًءا ث ُ َّم ادا‬
ُ َ‫ف‬

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana


Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman, Belum percayakah engkau? Dia (Ibrahim)
menjawab, Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap). Dia (Allah) berfirman, Kalau
begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-
masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu
dengan segera. Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

4
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam keseluruhan bangunan Islam, aqidah dapat diibaratkan sebagai fondasi. Di mana
seluruh komponen ajaran Islam tegak di atasnya. Aqidah merupakan beberapa prinsip keyakinan.
Dengan keyakinan itulah seseorang termotivasi untuk menunaikan kewajiban-kewajiban
agamanya. Karena sifatnya keyakinan maka materi aqidah sepenuhnya adalah informasi yang
disampaikan oleh Allah Swt. melalui wahyu kepada nabi-Nya, Muhammad Saw.

3.2 Saran

Semoga apa yang telah kami sajikan tadi dapat diambil intisarinya yang kemudian
diamalkan juga semoga berguna bagi kehidupan kita di masa yang akan datang.

5
DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/presentation/358485834/Substansi-Akidah-Islam.2Januari.