Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare merupakan salah satu penyakit dengan insiden tinggi di dunia definisi
diare sendiri adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan
dapat berupa air saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (tiga kali atau
lebih) dalam satu hari (Depkes RI 2011).

Sedangkan menurut (Setiadi, Idrus alwi dkk Edisi VI, 2014) Diare adalah
buang air besar dengan konsistensi tinja yang lembek biasanya disertai dengan
peningkatan frekuensi dan apabila diukur berat feses lebih dari 200g perhari.
Dinyatakan akut bila berlangsung kurang dari 14 hari, dinyatakan persisten bila
terjadi antara 14-28 hari dan kronik bila lebih dari 4 minggu.

Dilaporkan terdapat 1,7 milyar kasus setiap tahunya, penyakit ini sering
menyebabkan kematian pada anak usia dibawah lima tahun (balita). Dalam satu
tahun sekitar 760.000 anak usia balita meninggal karena penyakit ini (World
Health Organization (WHO), 2013). Didapatkan 99% dari seluruh kematian pada
anak balita terjadi di negara berkembang, sekitar ¾ dari kematian anak terjadi di
dua wilayah WHO yaitu Afrika dan Asia Tenggara. Sebanyak ¾ kematian anak
umumnya disebabkan penyakit yang dapat dicegah seperti kondisi neonatal,
pneumonia, diare, malaria, dan measles (WHO, 2013). Diare masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia
diperkirakan diare di fasilitas kesehatan Indonesia yaitu 6.897.463 dan diare yang
ditangani 2.544.084 setiap tahunya, maka prosentase diare dapat ditangani yaitu
36,9 % (Profil Kesehatan Indonesia, 2016). Jadi dengan kata lain prosentase yang
tidak dapat ditangani lebih besar, dari data tersebut di simpulkan bahwa banyak
kasus gagal ditangani dan menyebabkan kematian. Kematian terutama disebabkan
karena penderita mengalami dehidrasi berat. 70-80% penderita adalah mereka
yang berusia balita.
Dari penemuan kasus diare di provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015 angka
kejadian diare yang ditemukan dan ditangani masih cukup tinggi sebesar 67,7%
(Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2015). Sedangkan pada data kesehatan
Kabupaten Cilacap pada tahun 2015 penyakit diare dan gastroenteritis non
spesifik masuk kedalam 10 besar penyakit terbanyak di wilayah puskesmas
Kabupaten Cilacap sejumlah 12.389 kasus. (Profil Kesehatan Cilacap, 2015).

Penanganan yang tepat pada diare, akan menurunkan derajat keparahan


penyakit. Diare dapat diatasi dengan menjaga kebersihan dan mengelola makanan
yang sehat dan bersih untuk mencegah dan menangani diare secara cepat dan tepat
agar angka morbiditas dan mortalitas diare menurun (Soebagyo & Santoso, 2010).

Faktor–faktor yang mempengaruhi kejadian diare antara lain usia, asupan


diet, status gizi dan keadaan mukosa usus. Usia kurang dari 2 bulan, asupan diet,
pemberian ASI atau gizi yang buruk dapat mempengaruhi frekuensi dan durasi
diare. Terapi baku pada diare akut sesuai pedoman WHO adalah pemberian cairan
rehidrasi (oral atau parenteral), pemberian zink selama 10-14 hari serta
meneruskan pemberian dietetik (Shintia dkk, 2011). Zink juga meningkatkan
sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah resiko terulangnya diare selama
2-3 bulan setelah anak sembuh dari diare (Hajar, 2017).

Penatalaksanaan diare akut menurut WHO terdiri dari rehidrasi (cairan oralit
osmolaritas rendah), diet, zink, antibiotik selektif (sesuai indikasi), dan edukasi
kepada orang tua pasien. Selain itu, beberapa randomized controlled tialis (RCT)
dan meta analisis menyatakan bahwa probiotik efektif untuk pencegahan primer
maupun sekunder serta untuk mengobati diare (Yonata, 2016).

Organisasi pangan dunia FAO (Food and Agriculture Organization),


probiotik adalah suatu mikroorganisme hidup yang bermanfaat bagi kesehtan
inang (baik itu hewan maupun manusia). Prinsip kerja probiotik yaitu dengan
memanfaatkan kemampuan organisme tersebut dalam menguraikan rantai panjang
karbohidrat, protein dan lemak. Kemampuan ini diperoleh karena adanya enzim
enzim khusus yang dimiliki oleh mikroorganisme untuk memecahkan ikatan.
Pemecahan molekul kompleks menjadi molekul sederhana mempermudah
penyerapan oleh saluran pencernaan manusia. Disisi lain, mikroorganisme
pemecah ini mendapat keuntungan berupa energi yang diperoleh dari hasil
perombakan molekul kompleks (Endang, 2011).

Bakteri probiotik dapat membantu proses absorpsi nutrisi dan menjaga


gangguan dalam penyerapan air yang akan berpengaruh pada perbaikan kosistensi
feses. Mekanisme yang sama pada zink yaitu dapat memperbaiki atau
meningkatkan absorbsi air dan elektrolit dengan cara mengurangi kadar air dalam
lumen usus yang menghasilkan perbaikan pada kosistensi feses. Perbaikan
kosistensi feses dapat mengurangi frekuensi buang air besar (BAB) yang timbul
sehingga hal tersebut dapat pula mempersingkat lama diare pada anak. Hal ini
sesuai dengan penelitian Manopo (2010), yang menyatakan bahwa suplementasi
zink dan probiotik pada diare akut efektif mengurangi keluaran tinja ( Yonata
Ade, 2016). Berdasarkan prevalensi kasus diare diatas peneliti ingin mengetahui
pengaruh kombinasi pemberian probiotik dan zink terhadap penurunan durasi dan
frekuensi diare pada pasien anak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan beberapa
masalah diantaranya :
1. Apa yang dimaksud penyakit diare dan klasifikasinya
2. Mengevaluasi perbedaan lama diare pada penderita diare akut yang
diterapi dengan kombinasi zink dan probiotik dengan yang diterapi
dengan probiotik atau zink saja.
C. Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi peranan zink pada pasien diare anak
2. Mengevaluasi pengaruh pemberian zink pada penderita diare anak
3. Mengevaluasi pengaruh pemberian probiotik pada penderita diare anak
4. Mengevaluasi penggunaan probiotik dan zink pada pasien diare anak
D. Manfaat Penelitian
1. Aspek Teoritis
Memberikan bukti ilmiah tentang terapi penggunaan kombinasi probiotik
dan zink dapat memperpendek frekuensi dan durasi diare dibandingkan
dengan terapi zink atau probiotik saja
2. Aspek Aplikatif
Menerapkan penggunaan kombinasi probiotik dan zink pada pasien diare
anak disuatu instalasi