Anda di halaman 1dari 118

PT SEMEN INDONESIA (Persero) TBK

(1 AGUSTUS 2016 S/D 31 AGUSTUS 2016)

KERJA PRAKTEK

STUDI PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR MAIN SUBSTATION


150 KV DAN MOTOR MEDIUM VOLTAGE DI PABRIK TUBAN
AREA 1-2 PT SEMEN INDONESIA (PERSERO) TBK

MAULANA ICHSAN NASUTION NRP 2213100076 (1)


AULIA RAHMAN NRP 2213100096 (2)
AYYUB DHIMASTARA AJI NRP 2213100164 (3)

DOSEN PEMBIMBING
Dr. Dimas Anton Asfani S.T., M.T.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2016
PT SEMEN INDONESIA (Persero) TBK
(1 AGUSTUS 2016 S/D 31 AGUSTUS 2016)

KERJA PRAKTEK

STUDI PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR MAIN SUBSTATION


150 KV DAN MOTOR MEDIUM VOLTAGE DI PABRIK TUBAN
AREA 1-2 PT SEMEN INDONESIA (PERSERO) TBK

MAULANA ICHSAN NASUTION NRP 2213100076


AULIA RAHMAN NRP 2213100096
AYYUB DHIMASTARA AJI NRP 2213100164

DOSEN PEMBIMBING
Dr. Dimas Anton Asfani, S.T., M.T.

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2016
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

STUDI PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR MAIN


SUBSTATION 150 KV DAN MOTOR MEDIUM VOLTAGE
DI PABRIK TUBAN AREA 1-2 PT SEMEN INDONESIA
(PERSERO) TBK

KERJA PRAKTEK

Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan Kurikulum


Fakultas Teknologi Industri Program Sarjana
Pada
Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga
Jurusan Teknik Elektro
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Dimas Anton Asfani, ST., MT.


NIP. 1981 09 05 2005 01 1002

Mengetahui,
Ketua Jurusan

Dr. Eng. Ardyono Priyadi, ST., M.Eng.


NIP. 1973 09 27 1998 03 1004

SURABAYA
2016

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember iii
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
iv Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN)

DI PT. SEMEN INDONESIA (Persero) TBK


Seksi Pemeliharaan Listrik dan Instrumentasi Packer dan
Pelabuhan

(Periode : 1 Agustus 2016 s.d. 31 Agustus 2016)

Disusun Oleh :

1. Maulana Ichsan Nasution (2213100076)


2. Aulia Rahman (2213100096)
3. Ayyub Dhimastara Aji (2213100164)

Tuban, 23 November 2016

PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Mengetahui, Menyetujui,

Ka. Biro Pusat Pembelajaran Pembimbing Lapangan

AMIN BUDI HARTANTO, ST SHOLIHIN, ST

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember v
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
vi Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas


rahmat dan karunia-Nya laporan kerja praktek di Seksi
Pemeliharaan Listrik dan Instrument Packer dan Pelabuhan
Pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Area Tuban ini dapat
terselesaikan.
Kerja Praktek merupakan salah satu mata kuliah yang harus
ditempuh dalam persyaratan akademik program studi S1 di
Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember
(ITS) Surabaya. Dengan pelaksanaan kerja praktek ini mahasiswa
diharapkan dapat mempelajari aplikasi dan relevansi
pembelajaran teoritis pada perkuliahan secara praktek serta
mengenal dunia kerja.
Penulis menyadari bahwa laporan dan kerja praktek ini tidak
dapat terselesaikan tanpa bantuan dari banyak pihak. Oleh
karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT Tuhan yang Maha Agung dan Maha Luhur, atas
berkah, anugerah, rahmat serta karunia-Nya sehingga
kerja praktek ini beserta laporannya dapat terselesaikan
dengan baik.
2. Kedua orang tua, serta segenap keluarga yang
senantiasa memberikan kasih sayang, perhatian, dan
dukungan baik moral maupun material.
3. Bapak Dr. Eng. Ardyono Priyadi, S.T., M.Eng. selaku
Ketua Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya.
4. Bapak Dr. Dimas Anton Asfani, S.T., M.T. selaku Dosen
Pembimbing Kerja Praktek.
5. Bapak Ir. Sjamsul Anam, M.T., selaku koordinator mata
kuliah Kerja Praktek di Jurusan Teknik Elektro ITS
Surabaya.
6. Bapak Solihin, S.T. dan Bapak Bandi sebagai pembimbing
lapangan kerja praktek penulis di Pabrik PT Semen

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember vii
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Indonesia (Persero) Tbk yang memberikan arahan dan


pengetahuan utama kepada penulis.
7. Para staf dan karyawan Seksi Pemeliharaan Listrik dan
Instrument Packer dan Pelabuhan Pabrik PT Semen
Indonesia (Persero) Tbk yang senantiasa menemani
selama kegiatan kerja praktek penulis.
8. Bapak Najib, Bapak Kukuh, Bapak Saiful, dan Bapak Udin
sebagai staf dan karyawan pada seksi lain yang turut
memberikan sumbangsih pengetahuan kepada penulis.
9. Teman-teman dari Politeknik Negeri Madiun yang
ditempatkan pada satu seksi yang sama berkat
kerjasama dan bantuan yang diberikan.
10. Teman-teman kerja praktek lainnya dari berbagai
universitas dan lembaga pendidikan lain.
Akhir kata, penulis memohon maaf apabila selama
pelaksanaan kerja praktek terdapat perkataan atau perbuatan
penulis yang kurang berkenan. Penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan laporan kerja praktek ini masih terdapat banyak
kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
para pembaca. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak di masa sekarang maupun di masa yang akan
datang.
Surabaya, 23 November 2016

Penulis

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
viii Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................i

HALAMAN PENGESAHAN .............................................iii

KATA PENGANTAR ....................................................vii

DAFTAR ISI ..............................................................ix

DAFTAR GAMBAR ......................................................xi

DAFTAR TABEL ........................................................xiii

BAB I. PENDAHULUAN ................................................1

1.1 Latar Belakang ...............................................1


1.2 Tujuan dan Manfaat .........................................2
1.3 Metodologi Pengumpulan Data ............................5
1.4 Metodologi Penyusunan Laporan ..........................6
1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan ..........................7
1.6 Nama Unit Kerja .............................................7

BAB II. PROFIL PT SEMEN INDONESIA (PERSERO) TBK .........9

2.1 Sejarah ........................................................9


2.2 Visi dan Misi ...................................................18
2.3 Lokasi Perusahaan ...........................................18
2.4 Struktur Organisasi Perusahaan ...........................20
2.5 Sistem Manajemen ...........................................26
2.6 Produk .........................................................28
2.7 Anak Perusahaan .............................................34

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember ix
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

BAB III. TEORI PENUNJANG ......................................... 41

3.1 Latar Belakang ............................................... 41


3.2 Pemeliharaan Peralatan Listrik Tegangan Tinggi ...... 42
3.3 Motor Induksi 3 Fasa......................................... 44
3.4 Transformator ................................................ 48

BAB IV. PEMBAHASAN ................................................ 63

4.1 Struktur Organisasi Unit Kerja ............................. 63


4.2 Tugas Pokok Unit Kerja ..................................... 65
4.3 Penjelasan Tugas Unit Kerja ............................... 65
4.4 Kegiatan Kerja Praktek ..................................... 66
4.5 Kegiatan Kerja Praktek ..................................... 66
4.6 Jadwal Kerja Praktek ....................................... 67
4.7 Uraian Kerja Praktek ........................................ 67

BAB V. PENUTUP ...................................................... 93

5.1 Kesimpulan.................................................... 93
5.2 Saran ........................................................... 94

DAFTAR PUSTAKA ..................................................... 95

LAMPIRAN ............................................................... 97

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
x Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kepemilikan Saham pada tahun 2006 dan 2010 ..17
Gambar 2.2 Transformasi PT. Semen Indonesia (Persero), Tbk
............................................................................17
Gambar 2.3 Pabrik Tuban PT Semen Gresik ......................19
Gambar 2.4 Pabrik PT Semen Padang .............................19
Gambar 2.5 Pabrik PT Semen Tonasa..............................20
Gambar 2.6 Pabrik Thang Long Cement Company ..............20
Gambar 2.7 Struktur Organisasi Perseroan Terbatas (PT) .....24
Gambar 2.8 Struktur Organisasi PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk ...........................................25
Gambar 2.9 Semen OPC Tipe I ......................................29
Gambar 2.10 Semen OPC Tipe II ...................................29
Gambar 2.11 Semen OPC Tipe III ...................................30
Gambar 2.12 Semen OPC Tipe V ...................................30
Gambar 2.13 Semen PPC ............................................31
Gambar 2.14 Semen PCC ............................................31
Gambar 2.15 Semen SMC ............................................31
Gambar 2.16 Semen Oil Well Cement, Class G-HSR ............32
Gambar 2.17 Semen SBC.............................................32
Gambar 2.18 Semen THANG LONG PCB40 ........................33
Gambar 2.19 Semen Super White Cement .......................34
Gambar 2.20 Logo PT Semen Gresik yang kini menjadi PT
Semen Indonesia .....................................35
Gambar 2.21 Logo PT Semen Padang ..............................35

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember xi
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 2.22 Logo PT Semen Tonasa .............................. 36


Gambar 2.23 Logo PT Semen Thang Long ........................ 36
Gambar 2.24 Logo PT UTSG ......................................... 37
Gambar 2.25 Logo PT IKSG .......................................... 37
Gambar 2.26 Logo PT KIG ........................................... 37
Gambar 2.27 Logo PT Swadaya Graha ............................. 38
Gambar 2.28 Logo PT Varia Usaha ................................. 38
Gambar 2.29 Logo PT Eternit Gresik .............................. 39
Gambar 2.30 Logo PT SGG Energi Prima .......................... 39
Gambar 2.31 Logo PTSGG Prima Beton ........................... 40
Gambar 2.32 Logo PT Krakatau Semen Indonesia ............... 40
Gambar 2.33 Logo PT Sinergi Informatika Semen Indonesia .. 38
Gambar 3.1 Grafik Jenis Kerusakan berdasarkan Banyak
Kejadiannya ............................................. 45
Gambar 3.2 Contoh Pengujian Surge Test ........................ 48
Gambar 3.3 Prosentase saturasi air dalam minyak.............. 54
Gambar 3.4 Skema Pengujian dengan Gas Chromatograph .... 59
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Seksi Pemeliharaan Listrik dan
Instrumentasi Packer dan Pelabuhan ............... 64
Gambar 4.2 Single Line Diagram Main Substation 1-2 .......... 69
Gambar 4.3 Tranformator Line I Main Substation 150 kV ...... 69
Gambar 4.4 Spesifikasi Transformator Line I..................... 70
Gambar 4.5 Hasil Oil Test Breakdown Voltage (BDV) Trafo
Line I ..................................................... 72
Gambar 4.6 Transformator Line II Main Substation 150 kV .... 75
Gambar 4.7 Spesifikasi Transformator Line II .................... 75

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
xii Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 4.8 Hasil Oil Test Breakdown Voltage (BDV) Trafo


Line II.....................................................77
Gambar 4.9 Tranformator Line III Main Substation 150 kV.....82
Gambar 4.10 Spesifikasi Transformator Line III .................82
Gambar 4.11 Hasil Oil Test Breakdown Voltage (BDV) Trafo
Line III ..................................................84
Gambar 4.12 Ilustrasi Inspeksi Motor ..............................89
Gambar 4.13 Proses Rewinding dan Servis Pemeliharaan
Motor ...................................................91

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember xiii
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
xiv Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 1991 ..........11


Tabel 2.2 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 1995 ..........12
Tabel 2.3 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 1997 ..........13
Tabel 2.4 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 1998 ..........14
Tabel 2.5 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 2000 ..........14
Tabel 2.6 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 2006 ..........15
Tabel 2.7 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 2011 ..........16
Tabel 3.1 Standar IEC 156-60422 / 2005 ..........................52
Tabel 3.2 Standar ASTM D-971 ......................................53
Tabel 3.3 Standar ASTM D-1533 ....................................53
Tabel 3.4 Standar hasil pengujian angka keasaman ............55
Tabel 3.5 Nilai perbandingan IFT dengan NN ....................55
Tabel 3.6 Interpretasi berdasarkan Gas Diproduksi .............60
Tabel 3.7 Standar Pengujian Analisis Minyak Transformator ..61
Tabel 4.1 Pembagian Kerja Seksi Pemeliharaan Listrik dan
Instrumentasi Packer dan Pelabuhan...............................63
Tabel 4.2 Kegiatan Kerja Praktek ..................................66
Tabel 4.3 Jadwal Kegiatan Kerja Praktek.........................67
Tabel 4.4 Inspeksi Visual .............................................70
Tabel 4.5 Inspeksi Visual Harian Seksi Pemeliharaan 1-2 ......71
Tabel 4.6 Liquid Screen Test ........................................71
Tabel 4.7 Dissolved Gas Analysis ...................................72
Tabel 4.8 Water Content ............................................73
Tabel 4.9 Furanic Compound........................................73

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember xv
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Tabel 4.10 Metals in Oil.............................................. 73


Tabel 4.11 Liquid Dissipation Factor .............................. 74
Tabel 4.12 Liquid Dissipation Factor .............................. 74
Tabel 4.13 Corrosive Sulfur ......................................... 74
Tabel 4.14 Inspeksi Visual ........................................... 76
Tabel 4.15 Inspeksi Visual Harian Seksi Pemeliharaan 1-2 .... 76
Tabel 4.16 Liquid Screen Test ...................................... 76
Tabel 4.17 Dissolved Gas Analysis.................................. 78
Tabel 4.18 Water Content ........................................... 79
Tabel 4.19 Furanic Compound ...................................... 79
Tabel 4.20 Metals in Oil.............................................. 80
Tabel 4.21 Liquid Dissipation Factor .............................. 80
Tabel 4.22 Liquid Dissipation Factor .............................. 80
Tabel 4.23 Corrosive Sulfur ......................................... 81
Tabel 4.24 Inspeksi Visual ........................................... 83
Tabel 4.25 Inspeksi Visual Harian Seksi Pemeliharaan 1-2 .... 83
Tabel 4.26 Liquid Screen Test ...................................... 83
Tabel 4.27 Dissolved Gas Analysis.................................. 84
Tabel 4.28 Water Content ........................................... 85
Tabel 4.29 Furanic Compound ...................................... 85
Tabel 4.30 Metals in Oil.............................................. 86
Tabel 4.31 Liquid Dissipation Factor .............................. 86
Tabel 4.32 Liquid Dissipation Factor .............................. 86
Tabel 4.33 Corrosive Sulfur ......................................... 86
Tabel 4.34 Hasil Inspeksi Motor .................................... 89
Tabel 4.35 Standar Parameter Motor.............................. 89

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
xvi Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tujuan pendidikan nasional bangsa Indonesia adalah
menciptakan manusia yang cerdas serta berbudi pekerti luhur.
Pendidikan diperoleh mulai kecil hingga dewasa melalui bangku
sekolah hingga perguruan tinggi. Pendidikan di bangku sekolah
memberikan pengajaran secara teoritis tentang ilmu
pengetahuan dan teknologi sampai akhirnya terfokus pada
bidang tertentu saat berada di bangku kuliah. Namun, teori
tanpa implementasi dan aplikasi secara langsung tidaklah
berarti, karena pada akhirnya ilmu pengetahuan dan teknologi
diharapkan dapat menjadi solusi terhadap permasalahan
kehidupan sehari-hari. Pendidikan dan pengajaran akan
sempurna jika teori diberikan secara lengkap dan menyeluruh,
serta praktek dan aplikasinya dilakukan secara tepat, baik
dalam keseharian maupun dalam dunia kerja.
Berdasarkan pada hal tersebut, pengajaran dan pendidikan
di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
khususnya di Jurusan Teknik Elektro menerapkan pengajaran
berbasis laboratorium (Laboratory Based Education) dengan
harapan mahasiswa dapat turut aktif dalam mempelajari bidang
ilmu secara praktis, tidak hanya teoritis. Namun, usaha tersebut
masih dirasa kurang, karena praktek yang sebenarnya adalah
praktek dalam skala yang lebih besar, yakni dalam dunia
industri. Diperlukan praktek yang lebih dari sekedar sifat
pembelajaran, namun juga melihat dan mengidentifikasi
aplikasi masalah secara langsung di lapangan. Kerja praktek
dirasa merupakan salah satu solusi atas permasalahan tersebut.
Dengan syarat kelulusan yang ditetapkan, maka mata kuliah
kerja praktek telah menjadi salah satu pendorong utama bagi
mahasiswa untuk mengenal kondisi di lapangan kerja dan utnuk

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 1
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

melihat keselarasan antara ilmu pengetahuan yang diperoleh di


perkuliahan dengan aplikasi praktis di dunia kerja, khususnya
dunia industri. Selain itu, mahasiswa dituntut untuk belajar dan
mempraktekkan secara langsung pekerjaan yang ada di lapangan
agar dapat mengembangkan diri dengan memperluas
wawasannya. Selain itu, mahasiswa juga dituntut memiliki
keterampilan dan kemampuan untuk menerapkan ilmu yang
dimilikinya selama berada di perkuliahan, agar ilmu
pengetahuan yang telah didapatkan dapat berkembang dengan
mengetahui masalah yang akan dihadapi di lapangan nantinya.
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk merupakan salah satu
Badan Usaha Milik Negara yang telah berdiri sejak lama dan
memberikan kontribusi besar terhadap dunia industri melalu
produk bahan baku semen dalam lingkup tanah air bahkan
dunia. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk memiliki plant pabrik
dengan sistem yang besar, dengan teknologi produksi yang
canggih dan otomatis di segala aspek sistem kerja, termasuk
sistem kelistrikannya. Hal tersebut menarik untuk dipelajari
serta menambah ilmu pengetahuan praktis terutama dalam hal
kelistrikan industri.

1.2 Tujuan dan Manfaat


Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan di atas,
tujuan yang ingin dicapai dengan dalam pelaksanaan kerja
praktek ini adalah sebagai berikut:
1.2.1 Tujuan Umum
1. Menciptakan hubungan antara dunia industri dan
perguruan tinggi, dimana output perguruan tinggi
merupakan sumber daya manusia dalam dunia industri.
2. Sebagai perwujudan peran serta dunia industri dalam
memberikan kontribusinya pada sistem pendidikan
nasional.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
2 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

3. Membuka wawasan mahasiswa agar dapat mengetahui


dan memahami aplikasi ilmunya di dunia industri.
4. Sebagai sarana pembelajaran sosialisasi dalam
lingkungan dunia kerja.
5. Mahasiswa dapat memahami dan mengetahui sistem
kerja di dunia industri sekaligus mampu mengadakan
pendekatan masalah yang ada.
6. Menumbuhkan dan menciptakan pola berpikir
konstruktif yang lebih berwawasan bagi mahasiswa.

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Untuk memenuhi beban satuan kredit semester (SKS)
yang harus ditempuh sebagai persyaratan akademis di
jurusan Teknik Elektro ITS.
2. Mengetahui sistem kelistrikan di PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk Pabrik Tuban dan komponen utama serta
pendukung sistem tersebut.
3. Mengetahui pemeliharaan peralatan listrik seperti
motor dan transformator serta peralatan lain di PT
Semen Indonesia (Persero) Tbk Pabrik Tuban.
4. Menambah pengetahuan dan pengalaman lapangan
dalam kerja praktek khususnya yang berhubungan
dengan praktek keteknikan seperti Desain &
Perancangan Mesin/Pabrik, Manajemen Produksi,
Fabrikasi, Permesinan, Perakitan, Perbaikan,
Pengawasan/Inspeksi dan Perawatan (Maintenance)
suatu mesin.

1.2.3 Manfaat
Manfaat pelaksanaan kerja praktek di PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk Pabrik Tuban – Jawa Timur adalah sebagai
berikut:

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 3
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

1. Instansi Perusahaan
a. Mendapatkan saran serta masukan ilmiah dan
teoritis terkait kelistrikan PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk dan menjalin hubungan baik dengan
pihak luar khususnya perguruan tinggi.
b. Dapat menjalin hubungan baik dengan lembaga
pendidikan khususnya Jurusan Teknik Elektro ITS
Surabaya, sehingga semakin dikenal oleh lembaga
pendidikan sebagai pemasok tenaga kerja dan
masyarakat sebagai konsumen.
2. Perguruan Tinggi
a. Mendapatkan masukan terkait ilmu praktis yang
dibutuhkan dalam dunia industri sehingga terdapat
keterkaitan dan kebermanfaatan ilmu pengetahuan
yang didapatkan di bangku kuliah dengan kebutuhan
kerja dunia industri.
b. Terjalinnya hubungan baik antara Jurusan Teknik
Elektro ITS Surabaya dengan PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk, sehingga memungkinkan kerjasama
ketenagakerjaan dan kerjasama lainnya di kemudian
hari.
c. Mendapat umpan balik untuk meningkatkan kualitas
pendidikan sehingga selalu sesuai dengan
perkembangan dunia industri.
3. Mahasiswa
a. Mengetahui kondisi nyata suatu perusahaan baik dari
segi manajemen yang diterapkan, kondisi fisik,
teknologi yang digunakan, kinerja para karyawan
serta proses produksi di industri.
b. Mendapatkan ilmu pengetahuan praktis tentang
kelistrikan industri dan mempersiapkan diri
menghadapi dunia kerja.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
4 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

c. Mengetahui dan dapat mengikuti perkembangan


ilmu dan teknologi sesuai dengan tuntunan
perkembangan industri.
d. Dapat membina hubungan baik dengan industri
sehingga memungkinkan untuk dapat bekerja di
industri tempat pelaksanaan kerja praktek tersebut
setelah menyelesaikan masa studi perkuliahan.

1.3 Metodologi Pengumpulan Data


Data terkait dibutuhkan untuk menunjang analisa studi
dalam kegiatan kerja praktek ini. Metodologi pengumpulan data
yang baik akan menghasilkan kelurahan serta pengolahan data
yang baik pula. Berikut adalah metodologi penumpulan data
yang kami gunakan:
1. Observasi
Kegiatan ini merupakan kegiatan pengumpulan data
kualitatif mengenai sistem kerja peralatan produksi dan
kelistrikan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk baik
secara langsung di lapangan maupun melalui interview
kepada karyawan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.
2. Diskusi
Kegiatan ini berupa pembahasan materi dan data yang
telah didapatkan, solusi terhadap beberapa
permasalahan yang ditemui di lapangan serta penggalian
informasi yang dibutuhkan selama kerja praktek.
3. Kajian Pustaka
Metode ini merupakan metode yang penting untuk
dilaksanakan. Sumber yang digunakan bisa berasal dari
artikel ilmiah, buku serta sumber tertulis lain. Sumber
yang utama dalam menunjang kegiatan kerja praktek ini
adalah dokumen-dokumen kelistrikan PT Semen
Indonesia (Persero) Tbk, baik berupa data tertulis,
gambar, grafik, bagan dan data tertulis lain.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 5
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

4. Pengukuran data
Untuk memberikan data yang akurat, dilakukan
pengukuran langsung di lapangan. Data hasil pengukuran
digunakan sebagai pembanding data yang didapatkan
dari hasil pemantauan secara real time menggunakan
software monitoring yang digunakan. Pengukuran
dilakukan di salah satu titik di PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk. Pengukuran dilakukan menggunakan alat
ukur dengan didampingi oleh pembimbing dari PT Semen
Indonesia (Persero) Tbk.

1.4 Metodologi Penyusunan Laporan


Laporan kerja praktek ini terdiri 3 bagian utama yakni
bagian awal, bagian isi dan bagian akhir dengan rincian sebagai
berikut:
1.4.1 Bagian Awal :
1. Halaman Judul
2. Halaman Pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi

1.4.2 Bagian Isi :


BAB I Pendahuluan
Berisi tentang Latar Belakang, Tujuan dan
Manfaat, Metodologi Pengumpulan Data,
Metodologi Penyusunan Laporan, Waktu
dan Tempat Pelaksanaan Kerja Praktek,
Nama Unit Kerja Tempat Pelaksanaan
Kerja Praktek.
BAB II Profil PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.
Berisi tentang Sejarah, Visi dan Misi,
Lokasi, Struktur Organisasi PT Semen

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
6 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Indonesia, Sistem Manajemen PT Semen


Indonesia, Produk, Anak Perusahaan.
BAB III Tinjauan Pustaka/ Landasan Teori
Berisi tentang tinjauan pustaka mengenai
Studi Kelistrikan di Industri.
BAB IV Pembahasan
Berisi Struktur Organisasi Unit Kerja,
Tugas Pokok Unit Kerja, Penjelasan
Singkat Tugas Unit Kerja, Tugas Khusus,
Kegiatan Kerja Praktek, Jadwal Kerja
Praktek, Uraian Kerja Praktek.
BAB V Penutup
Berisi Kesimpulan dan Saran-saran.

1.4.3 Bagian Akhir :


1. Daftar Pustaka
2. Lampiran

1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kerja Praktek


Kerja praktek ini dilaksanakan di PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk Pabrik Plant Tuban yang berlokasi di Desa
Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur
pada tanggal 1 Agustus 2016 sampai dengan 31 Agustus 2016.

1.6 Nama Unit Kerja Tempat Pelaksanaan Kerja Praktek


Unit kerja tempat pelaksanaan kerja praktek ini adalah di
Seksi Pemeliharaan Listrik dan Instrumentasi Packer dan
Pelabuhan (Section of Packer and Port Electrical and
Instrumentation Maintenance) PT Semen Indonesia (Persero)
Tbk Pabrik Plant Tuban.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 7
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
8 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

BAB II
PROFIL PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

2.1 Sejarah
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk adalah pabrik semen yang
terbesar di Indonesia. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dulunya
bernama PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Didirikanya PT Semen
Gresik (Persero) Tbk diawali dari ditemukanya deposit batu
kapur dan tanah liat oleh seorang sarjana Belanda yang bernama
Ir. Van Es di Gresik sebagai bahan baku semen pada tahun 1935.
Wakil Presiden saat itu, Dr.(HC) Drs. H. Mohammad Hatta,
menghimbau kepada pemerintah untuk mendirikan pabrik semen
di Gresik pada tahun 1950. Selanjutnya dilakukan penelitian
ulang dengan dibantu oleh Dr. F. Leufer dan Dr. A. Kreaf dari
Jerman, menyimpulkan bahwa deposit tersebut mampu untuk
persediaan selama 60 tahun untuk pabrik dengan kapasitas
250.000 ton/tahun.
PT Semen Gresik (Persero) Tbk adalah perusahaan yang
bergerak pada bidang industri semen Portland. Didirikan
pertama kali dengan nama NV Pabrik Semen Gresik pada tanggal
25 Maret 1953 dengan Akta Notaris Raden Mr Soewandi No.41.
Pabrik ini diresmikan oleh presiden RI pertama Ir. Soekarno pada
tanggal 7 Agustus 1957 dengan kapasitas terpasang 250.000 ton
semen per tahun. Proyek ini diserahkan pada Bank Industri
Negara (BIN) dibantu Bank Exim (USA). Proyek dilaksanakan oleh
beberapa perusahaan, untuk penentuan lokasi dan pembuatan
pola pabrik dilaksanakan oleh White Engineering dan Mc.
Donald Engineering. Sedangkan desainnya dilakukan oleh GA
Anderson, gambar perencanaan oleh HK Ferghuson Company
dengan kontraktor Morison Knuben International Co. Inc. dari
Amerika Serikat. Pabrik mengadakan uji coba operasi pada awal
Maret 1957.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 9
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Pada tangal 17 April 1961, NV Pabrik Semen Gresik dijadikan


Perusahaan Negara (PN) berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
132 Tahun 1961. Perluasan pertama dilakukan pada tahun 1961
dengan membangun unit produksi berkapasitas 125.00 ton per
tahun. Sehingga kapasitasnya menjadi 375.000 ton per tahun.
Kemudian pada tahun 1969 berubah dari Perusahaan Negara
(PN) Semen Gresik menjadi PT Semen Gresik (Persero) Tbk
berdasarkan akta Notaris J.N. Siregar, S.H. No.81 tanggal 24
Oktober 1969. Perluasan kembali dilakukan pada tahun 1972
yang menaikkan kapasitas produksi menjadi 500.000 ton per
tahun. Perluasan ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada
tanggal 10 Juli 1972.
Perluasan ketiga kalinya dilakukan pada tahun 1979 dengan
mendirikan pabrik dengan proses kering yang berkapasitas
1.000.000 ton per tahun sehingga total kapasitas pabrik Semen
Gresik menjadi 1.500.000 ton per tahun. Pabrik Semen Gresik
dengan proses kering diresminkan pada tanggal 2 Agustus 1979
oleh Menteri Perindustrian AR. Suhud. Pada tahun 1988, Pabrik
Semen Gresik mengganti bahan bakar dari minyak menjadi batu
bara.
Pada tahun 1991, PT Semen Gresik (Persero) Tbk melempar
sahamnya ke masyarakat umum (go public), dan tercatat di
Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya tepatnya pada
tanggal 8 Juli 1991 serta merupakan BUMN pertama yang go
publik dengan melakukan penawaran umum atas 40.000.000
(empat puluh juta) saham biasa atas nama dengan nilai nominal
Rp. 1.000,00 (seribu Rupiah) setiap saham dengan harga
penawaran Rp. 7.000,00 (tujuh ribu Rupiah) setiap saham.
Komposisi saham saat itu adalah sebagai berikut.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
10 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Jumlah Nominal (%)


Keterangan
Saham (Rp. 000) Kepemilikan
Modal Dasar 500.000.000 500.000.000 -
Modal Ditempatkan & Disetor
148.288.000 148.288.000 -
Penuh
Negara Republik Indonesia 108.288.000 108.288.000 73.1
Masyarakat 40.000.000 40.000.000 26.9
Jumlah Modal Yang Disetor 148.288.000 148.288.000 100
Saham Dalam Portepel 351.712.000 351.712.000 -
Tabel 2.1 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 1991
Dana hasil Penawaran Umum, seluruhnya dipergunakan untuk
membiayai sebagian kebutuhan dana pembangunan pabrik
semen baru di Tuban, Jawa Timur, dengan kapasitas 2,3 juta
ton semen per tahun, dan digunakan untuk Proyek Optimalisasi
Pabrik II Gresik untuk meningkatkan kapasitas dari 1 juta ton
semen per tahun menjadi 1,3 juta ton semen per tahun serta
meningkatkan efisiensi pemakaian tenaga listrik dan bahan
bakar. Pada tahun 1994, pabrik unit 1 di Tuban dengan kapasitas
2,3 juta ton per tahun diresmikan oleh presiden Soeharto pada
tanggal 24 September 1994.
Pada tahun 1995 perusahaan melakukan Penawaran Umum
Terbatas I kepada para pemegang saham sejumlah 444.864.000
(empat ratus empat puluh empat juta delapan ratus enam puluh
empat ribu) dengan nilai nominal Rp. 1.000,00 (seribu rupiah)
setiap saham.
Para pemegang saham Perseroan berhak untuk membeli
saham baru dalam rangka Penawaran Umum Terbatas I tersebut
dengan ketentuan setiap 1 (satu) saham yang dimiliki, berhak
membeli 3 (tiga) saham baru dengan harga Rp. 3.275,00 (tiga
ribu dua ratus tujuh puluh lima Rupiah) setiap saham.
Penggunaan dana hasil Penawaran Umum Terbatas I adalah
sebagai berikut:

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 11
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

1. Sekitar 74% dipergunakan untuk membiayai pengalihan 100%


saham milik Negara Republik Indonesia di PT Semen Padang
dan PT Semen Tonasa, dengan total nilai transaksi sebesar
Rp. 1.063.929.600.000,00.
2. Sekitar 5% dipergunakan untuk menambah penyertaan modal
Perseroan di PT Semen Padang yang digunakan PT Semen
Padang untuk membayar sebagian hutang modal kerjanya.
3. Sekitar 21% dipergunakan untuk membiayai proyek perluasan
yang dilakukan oleh Perseroan (Tuban II dan Tuban III) dan PT
Semen Padang (Indarung V).
Setelah dilaksanakannya seluruh Hak Memesan Efek terlebih
dahulu yang ditawarkan dalam Penawaran Umum Terbatas I
tersebut, maka susunan pemodalan Perseroan secara performa
sebagai berikut.
Keterangan Jumlah Saham Nominal (Rp.000)

Modal Dasar 741.440.000 741.440.000

Modal Ditempatkan & Disetor Penuh 593.152.000 593.152.000

Saham Dalam Portepel 148.288.000 148.288.000


Tabel 2.2 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 1995
Tanggal 15 September 1995, Semen Gresik mengadakan
konsolidasi dengan Semen Padang dan Semen Tonasa dengan
kepemilikan saham 99,99% yang kemudian dikenal dengan nama
Semen Gresik Group (SGG).
Pada 10 September 1996 diresmikan Pabrik Tonasa IV dengan
kapasitas 2,3 juta ton semen per tahun.
Pada Tahun 1997, Struktur Pemodalan dan Susunan
Kepemilikan Saham setelah Penawaran Umum Terbatas I,
berdasarkan pada Official Meeting Report (BAR) No.118/1997
adalah sebagai berikut.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
12 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Jumlah Nominal %
Keterangan
Saham (Rp. 000) Kepemilikan
Modal Dasar 741.440.000 741.440.000 -
Modal Ditempatkan & Disetor
593.152.000 593.152.000 -
Penuh
Negara Republik Indonesia 385.582.600 385.582.600 65
Masyarakat 207.569.400 207.569.400 35
Jumlah Modal Yang Disetor 593.152.000 593.152.000 100
Saham Dalam Portepel 148.288.000 148.288.000 -
Tabel 2.3 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 1997
Perluasan terus berlanjut dan dimulai pada awal tahun 1995,
proyek pabrik Semen Tuban II dengan kapasitas 2,3 juta ton per
tahun diselesaikan pada tahun 1997. Pabrik Semen Tuban II ini
diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 April 1997 di
Cilacap. Dengan diresmikannya Pabrik Tuban II ini, maka
kapasitas terpasang Semen Gresik menjadi 6,4 juta ton per
tahun. Ketika proyek Pabrik Semen Tuban II dalam tahap
penyelesaian, sejak awal 1996 dilaksanakan proyek
pembangunan pabrik Semen Tuban III. Pabrik Tuban III dengan
kapasitas 2,3 juta ton semen per tahun akhirnya diresmikan
pada 20 Maret 1998.
Pada tanggal 17 September 1998, Negara RI melepas
kepemilikan sahamnya di Perseroan sebesar 14 % melalui
penawaran terbuka dan dimenangkan oleh Cemex S.A. de C.V,
sebuah perusahaan semen global yang berpusat di Meksiko.
Sehingga susunan Pemegang Saham per tanggal 4 November
1998 berdasarkan surat Perseroan No
5511/HK.02.00/21010/11.98 tanggal 12 Nopember 1998 tentang
Laporan Kepemilikan Efek yang mencapai 5.00% atau lebih dari
Saham yang ditempatkan dan Disetor Penuh adalah sebagai
berikut.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 13
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Nominal
Keterangan Jumlah Saham % Kepemilikan
(Rp. 000)
Modal Dasar 2.000.000.000 2.000.000.000 -
Modal Ditempatkan
593.152.000 593.152.000 -
& Disetor Penuh
Negara Republik
302.540.600 302.540.600 51.01
Indonesia
Cemex Asian
83.042.000 83.042.000 14.01
Investment
Norbak Inc. 33.969.100 33.969.100 5.73
Masyarakat 173.600.300 173.600.300 29.26
Jumlah Modal Yang
593.152.000 593.152.000 100
Disetor
Saham Dalam
1.406.848.000 1.406.848.000 -
Portepel
Tabel 2.4 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 1998
Pada tanggal 31 Desember 2000, Struktur Pemodalan dan
Susunan Pemegang Saham Perseroan berdasarkan Daftar
Pemegang Saham Perseroan yang dikeluarkan oleh Biro
Administrasi Efek Perseroan adalah sebagai berikut.
Nominal %
Keterangan Jumlah Saham
(Rp. 000) Kepemilikan
Modal Dasar 2.000.000.000 2.000.000.000 -
Modal Ditempatkan & Disetor
593.152.000 593.152.000 -
Penuh
Negara Republik Indonesia 302.540.600 302.540.600 51.01
Cemex Asian Investment 151.440.000 151.440.000 25.53
Masyarakat 139.171.400 139.171.400 23.46
Jumlah Modal Yang Disetor 593.152.000 593.152.000 100
Saham Dalam Portepel 1.406.848.000 1.406.848.000 -
Tabel 2.5 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 2000
Pada tanggal 27 Juli 2006 terjadi transaksi penjualan saham
Cemex Asia Holdings Ltd. kepada Blue Valley Holdings PTE Ltd.
sehingga komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Negara
RI 51,0%, Blue Valley Holdings PTE Ltd. 24,9%, dan masyarakat

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
14 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

24,0%. Berikut Struktur Pemodalan dan Susunan Pemegang


Saham Perseroan berdasarkan Daftar Pemegang Saham
Perseroan yang dikeluarkan oleh Biro Administrasi Efek
Perseroan pada tanggal 31 Desember 2006 adalah sebagai
berikut.
Total Nominal (Rp. %
Keterangan
Saham 000) Kepemilikan
Negara Republik Indonesia 302.540.600 302.540.600 51.01
Blue Valley Holdings PTE Ltd. 147.694.848 147.694.848 24.9
Deutsche Bank AG, London
19.131.631 19.131.631 3.22
201930.40.02
Public 123.784.921 123.784.921 20.86
Total 593.152.000 593.152.000 100
Tabel 2.6 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 2006
Pada akhir Maret 2010, Blue Valley Holdings PTE Ltd,
menjual seluruh sahamnya melalui private placement, sehingga
komposisi pemegang saham Perseroan berubah menjadi
Pemerintah 51,0% dan publik 48,9%.
Jumlah
Nama Alamat %
Saham

Pemerintah RI,
DirJend Pembinaan BUMN, Dept
cq. Menteri 3,025,406,000 51.01
Keuangan RI, Jkt
Keuangan RI

JPMCB-
EUROPACIFIC
C/O DEUTSCHE BANK AG 186,799,500 3.15
GROWTH FUND -
2157804056
SSB 4545 S/A
LAZARD
EMERGING
C/O DEUTSCHE BANK AG 133,367,500 2.25
MARKETS EQUITY
PORTFOLIO –
2144610244

PT JAMSOSTEK
C/O BANK CIMB NIAGA TBK, PT 103,646,500 1.75
(PERSERO) – JHT

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 15
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

JPMCB-NEW
WORLD FUND, INC C/O DEUTSCHE BANK AG 89,607,500 1.51
-2157804145
PT Jamsostek
(Persero) - Non C/O BANK CIMB NIAGA TBK, PT 84,152,500 1.42
JHT
JPMCB-EMERGING
MARKETS
C/O DEUTSCHE BANK AG 77,054,500 1.3
GROWTH FUND
INC -2157804055

THE BANK OF
C/O HONGKONG AND SHANGHAI
NEW YORK 60,083,750 1.01
BANK
MELLON DR

THE NORTHERN C/O BUT. STANDARD CHARTERED


48,687,778 0.82
TRUST S/A AVFC BANK

BBH BOSTON S/A


VANGRD EMG C/O CITIBANK, N. A 47,775,820 0.81
MKTS STK INFD

TOTAL 3,856,581,348 65.03


5,108 Pemegang Saham Lainnya 2,074,938,652 34.97
GRAND TOTAL 5,931,500,000 100
Tabel 2.7 Komposisi Kepemilikan Saham Tahun 2011
Tanggal 18 Desember 2012 adalah momentum bersejarah
ketika Perseroan melakukan penandatanganan transaksi final
akuisisi 70 persen saham Thang Long Cement, perusahaan semen
terkemuka Vietnam yang memiliki kapasitas produksi 2,3 juta
ton/tahun. Akuisisi Thang Long Cement Company ini sekaligus
menjadikan Perseroan sebagai BUMN pertama yang
berstatus multi national corporation. Sekaligus mengukuhkan
posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terbesar di Asia
Tenggara dengan kapasitas sampai tahun 2012 sebesar 28,5 juta
ton per tahun.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
16 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 2.1 Kepemilikan Saham pada tahun 2006 dan 2010

Gambar 2.2 Transformasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk


Pada tanggal 20 Desember 2012, melalui Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan, resmi
mengganti nama dari PT Semen Gresik (Persero) Tbk menjadi PT
Semen Indonesia (Persero) Tbk. Penggantian nama tersebut,
sekaligus merupakan langkah awal dari upaya merealisasikan
terbentuknya Strategic Holding Group yang ditargetkan dan

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 17
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

diyakini mampu mensinergikan seluruh kegiatan operasional dan


memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk menjamin
dicapainya kinerja operasional maupun keuangan yang optimal.
Saat ini kapasitas terpasang Semen Indonesia sebesar 29 juta ton
semen per tahun, dan menguasai sekitar 42% pangsa pasar
semen domestik. Semen Indonesia memiliki anak perusahaan PT
Semen Padang, PT Semen Tonasa dan Thang Long Cement.

2.2 Visi dan Misi


Visi dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk adalah
“Menjadi Perusahaan Persemenan Internasional Yang
Terkemuka Di Asia Tenggara”.
Misi yang diusung untuk mewujudkan visi di atas adalah:
1. Mengembangkan usaha persemenan dan industri
terkait yang berorientasikan kepuasan konsumen.
2. Mewujudkan perusahaan berstandar internasional
dengan keunggulan daya saing dan sinergi untuk
meningkatkan nilai tambah secara
berkesinambungan.
3. Mewujudkan tanggung jawab sosial serta ramah
lingkungan.
4. Memberikan nilai terbaik kepada para pemangku
kepentingan (stakeholders).
5. Membangun kompetensi melalui pengembangan
sumber daya manusia.

2.3 Lokasi
Dalam pendirian suatu pabrik, salah satu faktor yang sangat
penting adalah pemilihan lokasi pabrik karena pemilihan lokasi
yang tepat dapat menaikkan daya guna dan akan menghemat
biaya produksi suatu pabrik. Lokasi pabrik yang strategis
tersebar di seluruh Indonesia seperti di Sumatera, Jawa, dan
Sulawesi serta yang berada di Vietnam menjadikan Semen

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
18 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Indonesia mampu memasok kebutuhan semen di seluruh tanah


air yang didukung ribuan distributor, sub distributor, dan toko-
toko.
Lokasi Pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk terbagi
berdasarkan anak perusahaan pembuat semen berkedudukan
antara lain:
1. Semen Gresik memiliki pabrik yang berada di Desa
Sidosermo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.
Sedangkan pabrik Tuban berada di Desa Sumberarum,
Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban.

Gambar 2.3 Pabrik Tuban PT Semen Gresik


2. Semen Padang memiliki 4 pabrik semen berlokasi di
Indarung, Sumatera Barat.

Gambar 2.4 Pabrik PT Semen Padang

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 19
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

3. Semen Tonasa memiliki 4 pabrik semen, berlokasi di


Pangkep, Sulawesi Selatan.

Gambar 2.5 Pabrik PT Semen Tonasa


4. Thang Long Cement Company memiliki pabrik yang
berlokasi di Quang Ninh, Vietnam sebagai ekspansi PT
Semen Indonesia.

Gambar 2.6 Pabrik Thang Long Cement Company

2.4 Struktur Organisasi Perusahaan


PT Semen Indonesia (Persero) Tbk memiliki struktur
organisasi yang selalu mengalami penyempurnaan untuk
menciptakan sistem kerja yang efektif dan efisien.
Perkembangan tersebut mengikuti kebijaksanaan pemerintah
dan situasi nasional serta disesuaikan dengan kebutuhan pabrik

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
20 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

yang menyangkut keadaan sosial, ekonomi dan politik. Dari segi


eksternal sistem organisasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk,
terbagi menjadi 2 yaitu : Perusahaan Induk PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk dan Anak Perusahaan sebagai penunjang. Anak
perusahaan dan lembaga penunjang merupakan perwujudan
kerjasama antara PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dan
perusahaan lain yang berbentuk suatu badan hukum. Dilihat dari
segi internal, struktur organisasi PT Semen Indonesia (Persero)
Tbk dibagi dua, yaitu : Struktur organisasi untuk Gresik Office
dan Struktur organisasi untuk Plant Site Tuban. Struktur
organisasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk menurut RUPS
(Rapat Umum Pemegang Saham) 2016 PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk adalah sebagai berikut:
a. Direktur Utama
b. Direktur Produksi dan Litbang Direktur Produksi
c. Direktur Pemasaran dan Supply Chain
d. Direktur Keuangan
e. Direktur Pengembangan Usaha & Strategi Bisnis
f. Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Hukum
g. Direktur Enjiniring dan Proyek
Khusus untuk Direktorat Produksi berkedudukan di Gresik,
sedangkan Departemen Operasi dan Pemeliharaan sampai staf
yang ada di bawahnya berkedudukan di Tuban. Sistem
manajemen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk diatur secara
terpusat di Gresik, sedangkan kegiatan produksi dilakukan di
Tuban. Tugas, wewenang dan tanggung jawab Dewan Direksi
yang ada di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yakni:

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 21
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Direktur Utama : Memimpin dan


bertanggung jawab secara mutlak
terhadap seluruh operasional pabrik,
termasuk di dalamnya adalah
penandatanganan Memorandum Of
Understanding. Direktur utama
membawahi langsung Departemen Sumber
Daya Manusia, Departemen Sistem
Rizkan Chandra
Informasi, dan Satuan Pengawas Intern.

Direktur Produksi dan Litbang : Bertugas


mengawasi kegiatan proses produksi dan
menghasilkan inovasi atau penemuan baru
untuk peningkatan efisiensi pabrik.
Bertanggung jawab pada pelaksanaan
kegiatan produksi mulai dari pengadaan
bahan baku sampai dihasilkan produk
semen, serta bertanggung jawab atas
segala peralatan yang digunakan atau
Johan Samudra kondisi sekitar pabrik dalam menunjang
peningkatan mutu produk. Direktur
membawahi kompartemen, Departemen
Operasi dan Pemeliharaan di bidang
Produksi dan membawahi Departemen
Rancang Bangun, Departemen Teknik serta
Departemen Litbang dan Jaminan Mutu di
bidang Litbang.

Direktur Pemasaran dan Supply Chain:


Bertugas untuk meningkatkan permintaan
serta bertanggung jawab dalam masalah
penjualan dan perencanaan transportasi
dan berhak mengambil kebijakan tertentu
Aunur Rosyidi

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
22 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

tanpa dicampuri pihak lain dalam sistem


pemasarannya. Direktur Pemasaran
membawahi Departemen Pembelian dan
Pergudangan, Departemen Penjualan,
Departemen Logistik dan Kompartemen
Pemasaran.

Direktur Keuangan: Bertugas dan


bertanggung jawab dalam keseluruhan
keuangan pabrik, baik pengurusan hutang
maupun piutang. Direktur keuangan
membawahi Sekertaris Perusahaan,
Departemen Keuangan dan Administrasi,
Departemen Pengembangan Perusahaan
Darmawan (Wakil Manajemen), Departemen
Junaedi
Hubungan Masyarakat dan Investor serta
Departemen Umum.

Direktur Pengembangan Usaha & Strategi


Bisnis: Bertugas dan bertanggung jawab
terhadap pengembangan dari setiap unit-
unit usaha perusahaan serta melakukan
kajian strategis terkait pengembangan
Budi Siswoyo bisnis kedepannya.

Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan


Hukum: Merencanakan, mengarahkan,
mengkordinasi, dan mengawasi Sumber
Daya Manusia di PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk
Ahyanuzzaman

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 23
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Direktur Enjiniring dan Proyek: Bertugas


mengawasi dan mengkoordinasi teknis
enjiniring beserta keseluruhan prosesnya
serta dalam pengadaan dan penambahan
elemen pabrik dan proyek.

Gatot Kustyadji

Gambar 2.7 Struktur Organisasi Perseroan Terbatas (PT)

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
24 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 2.8 Struktur Organisasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 25
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

2.5 Sistem Manajemen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk


PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dalam bentuk Perseroan
Terbatas memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
 Kemungkinan untuk mendapatkan modal lebih
mudah
 Kelangsungan hidup perusahaan lebih terjamin
 Para pemegang saham memiliki tanggung jawab
terbatas
 Pelaksanaan dan kepemilikan perusahaan terpisah
Mengenai kepegawaian, mengingat 51% sahamnya masih milik
pemerintah maka PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang
berlokasi di Tuban ini mempunyai kebijakan yang hampir sama
dengan kebijaksanaan pemerintah pada pegawai negeri
umumnya. Persamaan tersebut meliputi fasilitas pegawai dan
peraturan perusahaan lainnya. Fasilitas-fasilitas tersebut antara
lain:
 Pemberian gaji sesuai status kepegawaian dan
jabatan
 Tunjangan umum
 Perumahan dinas
 Program penyiapan rumah milik pribadi (diberikan
kepada pegawai mulai setingkat kepala regu)
 Bantuan sewa rumah bagi yang menempati rumah
dinas
 Pengobatan dan perawatan kesehatan
 Jaminan sosial tenaga kerja
 Koperasi
 Bantuan biaya pendidikan, perkawinan, dan pindah
rumah
 Sekolah untuk anak
 Rekreasi di tempat peristirahatan milik perusahaan
 Sarana olahraga, kesenian, kerohanian

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
26 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

 Program pensiun, dan kesejahteraan hari tua


 Kursus pembinaan mental
Untuk menegakkan disiplin pegawainya PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk memberikan ketentuan-ketentuan antara lain:
a. Pemotongan gaji intensif (pemberian gaji
berdasarkan kehadiran) sebesar 15% bagi pegawai
yang terlambat masuk kerja dengan atau tanpa
alasan.
b. Pemotongan gaji intensif sebesar 15% bagi pegawai
yang lupa masuk kerja.
c. Pemberlakuan PP No. 10.
Keterangan di atas merupakan bagian dari peraturan-
peraturan yang ditetapkan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
kepada pegawainya demi menjaga kedisiplinan pegawai dan
citra perusahaan di mata masyarakat. Alasan lain
diberlakukannya peraturan yang sangat ketat adalah jumlah
pegawai PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang cukup banyak.
Dalam pembagian jam kerja karyawan, PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk terbagi menjadi dua, yaitu : karyawan shift dan
karyawan non shift. Pengangkatan karyawan di PT Semen
Indonesia (Persero) Tbk tingkat dan jabatannya disesuaikan
dengan pendidikan yang dimiliki. Sebagian besar karyawan yang
dipekerjakan sebagai pelaksana berijazah STM dan sederajatnya
yang jam kerjanya dikenakan jadwal shift. Sedangkan karyawan
yang non shift mempunyai jabatan di atas kepala regu dengan
jam kerja 5 hari kerja dalam seminggu.
Adapun pembagian jam kerjanya sebagai berikut:
1. Karyawan non shift
Dengan jam kerja : 07.30 – 16.30
2. Karyawan shift
Dengan pembagian jam kerja sebagai berikut:
Pagi : 07.30 – 15.30

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 27
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Siang : 15.30 – 23.30


Malam : 23.30 – 07.30
Sistem Manajemen Semen Indonesia meliputi:
1. Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000.
2. Sistem Manajemen Lingkungan (SML) ISO 14001 :
2004.
3. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3).
4. Sistem Manajemen Laboratorium ISO / IEC 17025 :
2005.
5. API Monogram Sertifikan No. 1 OA – 0044 dari
American Petrolieum Institut New York.
6. OHSAS (Occupational Health and Safety Assessment
Series) 18001 : 2007.
Semua sistem manajemen diatas diimplementasikan dengan
mempersyaratkan Management Continous Improvement dan
penerapan Sub Sistem Manajemen yang meliputi:
 Gugus Kendali Mutu (GKM)
 5R
 Sistem Saran (SS)
 Total Productive Maintenance (TPM)
Semuan ini ditunjang dengan penerapan Good Corporate
Governance (GCG) dan Manajemen Resiko yang dilaksanakan
secara konsisten dan konsekuen.

2.6 Produk
Perseroan memproduksi berbagai jenis semen. Semen utama
yang diproduksi adalah semen Portland Tipe II-V (Non-OPC). Di
samping itu, juga memproduksi berbagai tipe khusus dan semen
campur (mixed cement), untuk penggunaan yang terbatas.
Berikut ini penjelasan mengenai jenis semen yang diproduksi
serta penggunaannya. Semen produksi perseroan memiliki
kualitas yang tinggi dan telah memenuhi standar SNI, ini wujud

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
28 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

komitmen perusahaan sebagai produsen semen berkualitas di


Indonesia dan produsen semen terbesar di Asia Tenggara.
2.6.1 ORDINARY PORTLAND CEMENT TIPE I
Semen hidrolis yang dipergunakan secara luas untuk
konstruksi umum, seperti konstruksi bangunan yang tidak
memerlukan persyaratan khusus, antara lain bangunan
perumahan, gedung-gedung bertingkat, jembatan, landasan
pacu dan jalan raya.

Gambar 2.9 Semen OPC Tipe 1


2.6.2 ORDINARY PORTLAND CEMENT TIPE II
Semen Portland Tipe II adalah semen yang mempunyai
ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang. Misalnya
untuk bangunan di pinggir laut, tanah rawa, dermaga, saluran
irigasi, beton massa dan bendungan.

Gambar 2.10 Semen OPC Tipe II


2.6.3 ORDINARY PORTLAND CEMENT TIPE III
Semen jenis ini merupakan semen yang dikembangkan untuk
memenuhi kebutuhan bangunan yang memerlukan kekuatan
tekan awal yang tinggi setelah proses pengecoran dilakukan dan

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 29
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

memerlukan penyelesaian secepat mungkin. Misalnya digunakan


untuk pembuatan jalan raya, bangunan tingkat tinggi dan
bandar udara.

Gambar 2.11 Semen OPC Tipe III


2.6.4 ORDINARY PORTLAND CEMENT TIPE V
Semen Portland Tipe V dipakai untuk konstruksi bangunan-
bangunan pada tanah/air yang mengandung sulfat tinggi dan
sangat cocok untuk instalasi pengolahan limbah pabrik,
konstruksi dalam air, jembatan, terowongan, pelabuhan, dan
pembangkit tenaga nuklir.

Gambar 2.12 Semen OPC Tipe V


2.6.5 PORTLAND POZZOLAND CEMENT (PPC)
Semen hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak,
gypsum, dan bahan pozzolan. Digunakan untuk bangunan umum
dan bangunan yang memerlukan ketahanan sulfat dan panas
hidrasi sedang. Misalnya : jembatan, jalan raya, perumahan,
dermaga, beton massa, bendungan, bangunan irigasi, dan
fondasi pelat penuh.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
30 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 2.13 Semen PPC


2.6.6 PORTLAND COMPOSITE CEMENT (PCC)
Bahan pengikat hidrolis hasil penggilingan bersama-sama
terak, gypsum, dan satu atau lebih bahan anorganic. Kegunaan
semen jenis ini untuk konstruksi beton umum, pasangan batu
bata, plesteran, selokan, pembuatan elemen bangunan khusus
seperti beton pracetak, beton pratekan, dan paving block.

Gambar 2.14 Semen PCC


2.6.7 SUPER MASONARY CEMENT (SMC)
Semen yang dapat digunakan untuk konstruksi perumahan
dan irigasi yang struktur betonnya maksimal K225. Dapat juga
digunakan untuk bahan baku pembuatan genteng beton hollow
brick, paving block, dan tegel.

Gambar 2.15 Semen SMC

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 31
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

2.6.8 OIL WELL CEMENT, CLASS G-HSR (HIGH SULFATE


RESISTANCE)
Semen khusus yang digunakan untuk pembuatan sumur
minyak bumi dan gas alam dengan kontruksi sumur minyak di
bawah permukaan laut dan bumi. OWC yang telah diproduksi
adalah Class G, High Sulfat Resistance (HSR) disebut juga
sebagai “Basic OWC". Aditif dapat ditambahkan untuk
pemakaian pada berbagai kedalaman dan temperatur tertentu.

Gambar 2.16 Semen Oil Well Cement, Class G-HSR


2.6.9 SPECIAL BLENDED CEMENT (SBC)
Semen khusus yang diciptakan untuk pembangunan mega
proyek jembatan Surabaya Madura (Suramadu) dan cocok
digunakan untuk bangunan di lingkungan air laut. Dikemas
dalam bentuk curah.

Gambar 2.17 Semen SBC


2.6.10 SEMEN THANG LONG PCB40
Portland cement blender (PCB40) sesuai dengan TCVN
6260:19979. Semen Thang Long PCB40 dapat meningkatkan daya
kerja concrete, meningkatkan daya tahan terhadap penyerapan

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
32 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

air, erosi lingkungan dan bertahan lama, dan sangat cocok untuk
iklim di Vietnam.

Gambar 2.18 Semen THANG LONG PCB40


Selain sifat-sifat yang unggul tersebut, semen Thang Long
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
 Sangat Halus.
 Berwarna abu-abu sesuai selera pelanggan.
 Setting Time: Initial Time:sekitar 120-170
menit. Final Time: setelah 3 – 4 jam. Cocok untuk
pekerjaan konstruksi.
 Mutu yang stabil. Cement Strength selalu melampaui
standar untuk menghemat jumlah pemakaian semen.
 Daya tahan tinggi terhadap sulfat untuk konstruksi
bawah tanah dan bawa air. Emisi panas yang rendah
saat setting Time, bermanfaat untuk konstruksi yang
luas yang menggunakan bata ringan (concrete
blocks).
2.6.11 SUPER WHITE CEMENT
Super White Cement adalah semen putih berkualitas tinggi
yang dapat diaplikasikan untuk keperluan dekorasi baik interior
maupun eksterior, serta melapisi nat sambungan keramik,
profile, dan lainnya. Selain lebih putih, produk semen putih
Semen Gresik memiliki banyak keunggulan seperti lebih hemat,
lebih rekat dan lebih kuat.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 33
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 2.19 Semen Super White Cement

2.7 Anak Perusahaan


Anak perusahaan memainkan peranan yang sangat penting
sebagai strategic partner, maupun sebagai pendukung
community development. Anak perusahaan diharapkan mampu
mendukung bisnis inti Semen Indonesia selaku holding company
dan memberikan kontribusi sebesar-besarnya untuk mencapai
keunggulan kompetitif dan perkembangan perusahaan secara
terus menerus. Keberadaan anak usaha diharapkan dapat
memberi sinergi yang bermanfaat untuk mendukung pencapaian
tujuan perusahaan.
2.7.1 Anak perusahaan penghasil semen (cement making)
2.7.1.1 PT Semen Gresik
PT Semen Gresik yang kini berubah nama menjadi PT Semen
Indonesia memiliki 2 lokasi unit pabrik diantaranya pabrik Gresik
di Desa Sidosermo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik
sebagai unit finishing dan analisa (laboratorium), sedangkan
pabrik Tuban berada di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek,
Kabupaten Tuban sebagai unit operasi utama. Mengoperasikan
empat pabrik dengan kapasitas desain 14,4 juta ton semen per
tahun. Semen Gresik juga mempunyai dua pelabuhan, yaitu:
Pelabuhan Khusus Semen Gresik di Tuban dan Gresik. Semen
Gresik mengoperasikan 11 gudang penyangga yang tersebar di
seluruh Jawa dan Bali serta mengoperasikan lima pengantongan
semen di Ciwandan, Banyuwangi, Sorong, Balikpapan dan
Dumai.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
34 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 2.20 Logo PT Semen Gresik yang kini menjadi PT Semen


Indonesia
2.7.1.2 PT Semen Padang
PT Semen Padang memiliki empat pabrik semen, kapasitas
desain 7,3 juta ton semen per tahun, berlokasi di Indarung,
Sumatera Barat. Semen Padang juga mempunyai delapan
pengantongan semen, yaitu di Teluk Bayur, Belawan, Batam,
Tanjung Priok, Ciwandan, Malahayati, Lhokseumawe dan Dumai
serta mempunyai 14 gudang penyangga dan satu pelabuhan.

Gambar 2.21 Logo PT Semen Padang


2.7.1.3 PT Semen Tonasa
Memiliki tiga pabrik semen, kapasitas desain 7,8 juta ton
semen per tahun, berlokasi di Pangkep, Sulawesi Selatan. Semen
Tonasa juga mempunyai 9 pengantongan semen dan dilengkapi
dengan dermaga, yaitu: Biringkassi, Makassar, Samarinda,
Banjarmasin, Pontianak, Bitung, Palu, Ambon dan Celukan
Bawang Bali. Semen Tonasa mempunyai 5 gudang penyangga.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 35
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 2.22 Logo PT Semen Tonasa


2.7.1.4 Thang Long Cement Company
Thang Long Cement Company memiliki satu pabrik, kapasitas
desain 2,3 juta ton semen per tahun, berlokasi di provinsi Quang
Ninh dengan pelabuhan milik sendiri (Thang Long Jetty) untuk
kapasitas muat kapal sampai 30.000 DWT. Sedangkan untuk
kapasitas muat kapal yang lebih besar menggunakan pelabuhan
laut Cai Lan yang berjarak sekitar 3 km dari pelabuhan milik
sendiri. Di samping itu, TLCC memiliki pabrik penggilingan yang
terletak di pinggiran kota Ho Chi Minh. TLCC juga mempunyai 3
pengantongan semen.

Gambar 2.23 Logo PT Semen Thang Long


2.7.2 Anak perusahaan bukan penghasil semen (non
cement making)
2.7.2.1 PT UTSG (United Tractor Semen Gresik)
Bergerak pada beberapa bidang usaha antara lain:
 Pertambangan bahan galian dan bahan mentah (batu
kapur dan tanah liat)
 Pemasaran berbagai macam bahan galian
 Usaha yang berkaitan dengan pemanfaatan peratan
pertambangan
 Konsultasi pertambangan

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
36 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 2.24 Logo PT UTSG


2.7.2.2 PT IKSG (Industri Kemasan Semen Gresik)
Didirikan pada bulan Juni 1992, yang berlokasi di Tuban,
Jawa Timur dan bergerak dalam biang pembuatan kemasan atau
industri kemasan, perdagangan dan jasa. Dalam menjalankan
kegiatan operasinya, IKSG memiliki mesin kemasan 5 (lima) unit
dengan kapasitas terpasang 123.000.000 lembar kantong
pertahun. Tingkat utilitasi peralatan pada tahun 2001 mencapai
94.30% dari kapasitas terpasang. Hasil produksi IKSG terutama
dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan lain
seperti PT Semen Tonasa, PT Semen Kupang (Persero) dan
lainnya.

Gambar 2.25 Logo PT IKSG


2.7.2.3 PT KIG (Kawasan Industri Gresik)
Berlokasi di Gresik, Jawa Timur, dan bergerak di bidang
pembangunan dan pengelolaan kawasan industri serta jasa
konsultasi di bidang kawasan industri. Dalam ushaanya, KIG
menyediakan tanah, bangunan pabrik siap pakai (BPSP), serta
gudang yang tersedia untuk dijual atau disewakan yang tersebar
di beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa
Barat, termasuk di dalamnya bangunan yang digunakan untuk
mendukung pemasaran Perseroan.

Gambar 2.26 Logo PT KIG

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 37
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

2.7.2.4 PT Swadaya Graha

Gambar 2.27 Logo PT Swadaya Graha


Berlokasi di Gresik, Jawa Timur dan bergerak dalam bidang
fabrikasi baja, kontraktor sipil, kontraktor mekanikal &
elektrikal, persewaan alat-alat berat & konstruksi, bengkel &
manufaktur, developer, jasa pemeliharaan, serta biro
engineering.
2.7.2.5 PT Varia Usaha

Gambar 2.28 Logo PT Varia Usaha


Berlokasi di Gresik, Jawa Timur ini.memiliki beberapa anak
perusahaan, antara lain: PT Swadaya Graha, PT Swabina Gatra,
PT Varia Usaha Beton, PT Waru Abadi, PT Varia Usaha Bahari, PT
Varia Usaha Dharma Segara, PT Varia Usaha Lintas Segara, PT
Varia Usaha Barito. VU dan anak-anak perusahaannya bergerak
dalam bidang jasa pengangkutan umum, perdagangan umum
(termasuk ekspor impor antar pulau dalam negeri, keagenan,
distributor, usaha perdagangan lainnya), perindustrian dan
pembangunan, sewa menyewa dan beli sewa, pertambangan
(meliputi kegiatan: penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi,
pemurnian, pengangkutan dan penjualan hasil pertambangan),
serta kegiatan lain yang sesuai dengan bidang-bidang di atas.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
38 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

2.7.2.6 PT Eternit Gresik

Gambar 2.29 Logo PT Eternit Gresik


Berlokasi di Gresik, Jawa Timur dan bergerak dalam bidang
produksi asbes, bahan bangunan, dan cetakan. PT Eternit Gresik
didirikan pada tahun 1971 dan sejak saat itu menjadi
perusahaan terkemuka di antara produsen fiber semen lain di
Indonesia serta perusahaan pertama yang memproduksi fiber
semen 100% bebas asbes di Indonesia dan satu-satunya
perusahaan yang memproduksi seluruh produknya tanpa
mengandung asbes.
2.7.2.7 PT SGG Energi Prima

Gambar 2.30 Logo PT SGG Energi Prima


PT SGG Energi Prima adalah perusahaan pertambangan
batubara yang merupakan anak perusahaan dari PT Semen
Gresik (Persero) Tbk.
2.7.2.8 PT SGG Prima Beton
PT SGG Prima Beton (SGGPB) adalah pabrik semen siap pakai
(ready mix) yang didirikan pada 25 Mei 2012. Saham SGG Prima
Beton dimiliki oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sebesar
99,9%, sedangkan sisanya dimiliki oleh Koperasi Warga Semen
Gresik (KWSG). Huruf SGG dalam nama PT SGG Prima Beton kini
tak lagi merupakan singkatan, meski pada awalnya merupakan
singkatan Semen Gresik Group.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 39
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 2.31 Logo PTSGG Prima Beton


2.7.2.9 PT Krakatau Semen Indonesia
PT Krakatau Semen Indonesia (KSI) merupakan perusahaan
kerjasama antara dua perusahaan milik negara terbesar di
Indonesia, Krakatau Steel (KRAS) dan Semen Indonesia (SMGR).
Perjanjian usaha patungan ditandatangani pada tanggal 20
Desember 2013. PT KSI berfokus pada terak yang dihasilkan dari
sisa pembakaran penyulingan baja yang mempunyai karakteristik
semen.

Gambar 2.32 Logo PT Krakatau Semen Indonesia


2.7.2.10 PT Sinergi Informatika Semen Indonesia
PT Sinergi Informatika Semen Indonesia (SISI) didirikan pada
9 Juni 2014, merupakan anak usaha PT Semen Indonesia yang
bergerak di bidang teknologi dan informasi. PT SISI sebagai
penyedia jasa outsourcing ICT, memposisikan sebagai one stop
solution provider, dimana seluruh kebutuhan layanan ICT
meliputi operational support, business solution delivery, hingga
tata kelola ICT, dapat disediakan oleh PT SISI sebagai paket-
paket layanan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Gambar 2.33 Logo PT Sinergi Informatika Semen Indonesia

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
40 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

BAB III
TEORI PENUNJANG

3.1 Latar Belakang


PT Semen Indonesia (Persero) Tbk adalah pabrik semen yang
terbesar di Indonesia. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dulunya
bernama PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Sebagai salah satu
industri semen terbesar yang ada di Indonesia, kontinuitas
produksi dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sangat
dipengaruhi oleh komponen-komponen penunjang produksinya
yang sebagian besar merupakan peralatan listrik. Penurunan
performa dari peralatan listrik yang ada di PT Semen Indonesia
(Persero) Tbk dapat mempengaruhi dari kualitas maupun
kuantitas produk yang akan dihasilkan.
Penurunan dari peralatan listrik adalah kondisi yang normal,
dan proses ini dimulai saat peralatan tersebut terpasang. Jika
penurunan tersebut tidak di periksa, hal itu dapat menyebabkan
kegagalan dan ketidakfungsian pada peralatan listrik. Selain itu,
perubahan beban atau perubahan sirkuit dapat dilakukan tanpa
koordinasi pada desain keseluruhan, hal itu dapat
mengakibatkan ketidaktepatan dalam pemilihan peralatan, atau
pengaturan perangkat proteksi, atau kesalahan pemasangan
perangkat pemutus yang terpasang di sirkuit. Tujuan dari
pemeliharaan preventif elektrik dan program pengujian
seharusnya untuk mengenali faktor tersebut dan menyediakan
cara untuk memperbaiki hal tersebut.
Sebuah program yang terorganisir dengan baik dan
terimplementasikan dapat meminimalkan kecelakaan,
mereduksi shutdown yang tidak terencana dan memperpanjang
waktu antara kegagalan dari peralatan listrik. Keuntungan dari
pemeliharaan preventif elektrik dapat di kategorikan menjadi
dua, yaitu keuntungan langsung dan keuntungan tidak langsung.
 Keuntungan langsung :
o Mereduksi biaya dari perbaikan peralatan
o Mereduksi waktu off dari suatu peralatan
o Meningkatkan keselamatan pekerja dan peralatan
 Keuntungan tidak langsung :
o Meningkatkan moral dari pekerja

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 41
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

o Meningkatkan kinerja pekerja


o Meningkatkan produktivitas

3.2 Pemeliharaan Peralatan Listrik Tegangan Tinggi


3.2.1 Pengertian dan Tujuan
Pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah
serangkaian tindakan atau proses kegiatan untuk
mempertahankan kondisi dan meyakinkan bahwa peralatan
dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga dapat dicegah
terjadinya gangguan yang menyebabkan kerusakan. Tujuan
pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah untuk
menjamin kontinyunitas penyaluran tenaga listrik dan menjamin
keandalan, antara lain :
o Untuk meningkatkan reliability, availability dan
effiency.
o Untuk memperpanjang umur peralatan.
o Mengurangi resiko terjadinya kegagalan atau kerusakan
peralatan.
o Meningkatkan safety peralatan.
o Mengurangi lama waktu padam akibat sering gangguan.
Faktor yang paling dominan dalam pemeliharaan peralatan
listrik tegangan tinggi adalah pada sistem isolasi. Isolasi disini
meliputi isolasi keras (padat) dan isolasi minyak (cair). Suatu
peralatan akan sangat mahal bila isolasinya sangat bagus, dari
demikian isolasi merupakan bagian yang terpenting dan sangat
menentukan umur dari peralatan. Untuk itu kita harus
memperhatikan/memelihara sistem isolasi sebaik mungkin, baik
terhadap isolasinya maupun penyebab kerusakan isolasi. Dalam
pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi kita membedakan
antara pemeriksaan/monitoring (melihat, mencatat, meraba
serta mendengar) dalam keadaan operasi dan memelihara
(kalibrasi/pengujian, koreksi/resetting, serta
memperbaiki/membersihkan) dalam keadaan padam.
Pemeriksaan atau monitoring dapat dilaksanakan oleh operator
atau petugas patrol setiap hari dengan sistem checklist atau
catatan saja. Sedangkan pemeliharaan harus dilaksanakan oleh
regu pemeliharaan.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
42 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

3.2.2 Jenis-Jenis Pemeliharaan


Jenis–jenis pemeliharaan peralatan adalah sebagai berikut :
A. Predictive Maintenance (Conditional Maintenance)
Predictive Maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan
dengan cara memprediksi kondisi suatu peralatan listrik, apakah
dan kapan kemungkinannya peralatan listrik tersebut menuju
kegagalan. Dengan memprediksi kondisi tersebut dapat
diketahui gejala kerusakan secara dini. Cara yang biasa dipakai
adalah memonitor kondisi secara on line baik pada saat
peralatan beroperasi atau tidak beroperasi. Untuk ini diperlukan
peralatan dan personil khusus untuk analisa. Pemeliharaan ini
disebut juga pemeliharaan berdasarkan kondisi (Condition Base
Maintenance).
B. Preventive Maintenance (Time Base Maintenance)
Preventive Maintenance adalah kegiatan pemeliharaan yang
dilaksanakan untuk mencegah terjadinya kerusakan peralatan
secara tiba-tiba dan untuk mempertahankan unjuk kerja
peralatan yang optimum sesuai umur teknisnya. Kegiatan ini
dilaksanakan secara berkala dengan berpedoman kepada
Instruction Manual dari pabrik, standar-standar yang ada (IEC,
CIGRE,dll), dan pengalaman operasi di lapangan. Pemeliharaan
ini disebut juga dengan pemeliharaan berdasarkan waktu (Time
Base Maintenance).
C. Corrective Maintenance
Corrective Maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan
dengan berencana pada waktu-waktu tertentu ketika peralatan
listrik mengalami kelainan atau unjuk kerja rendah pada saat
menjalankan fungsinya dengan tujuan untuk mengembalikan
pada kondisi semula disertai perbaikan dan penyempurnaan
instalasi. Pemeliharaan ini disebut juga Curative Maintenance,
yang bisa berupa troubleshooting atau penggantian part/bagian
yang rusak atau kurang berfungsi yang dilaksanakan dengan
terencana.
D. Breakdown Maintenance
Breakdown Maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan
setelah terjadi kerusakan mendadak yang waktunya tidak
tertentu dan sifatnya darurat. Pelaksanaan pemeliharaan
peralatan dapat dibagi 2 macam :

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 43
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

1. Pemeliharaan yang berupa monitoring dan dilakukan


oleh petugas operator atau petugas patrol.
2. Pemeliharaan yang berupa pembersihan dan pengukuran
yang dilakukan oleh petugas pemeliharaan.

3.3 Motor Induksi 3 Fasa


Motor listrik merupakan sebuah perangkat elektromagnetis
yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Energi
mekanik ini digunakan untuk misalnya, memutar impeller
pompa, fan atau blower, menggerakan kompresor, mengangkat
bahan, dll. Motor induksi digunakan juga di rumah (mixer, bor
listrik, fan angin) dan di industri. Motor induksi kadangkala
disebut “kuda kerja” nya industri sebab diperkirakan bahwa
motor-motor menggunakan sekitar 70% beban listrik total di
industri.
Motor induksi tiga fasa merupakan motor elektrik yang paling
banyak digunakan dalam dunia industri. Salah satu kelemahan
motor induksi yaitu memiliki beberapa karakteristik parameter
yang tidak linier, terutama resistansi rotor yang memiliki nilai
yang bervariasi untuk kondisi operasi yang berbeda, sehingga
tidak dapat mempertahankan kecepatannya secara konstan bila
terjadi perubahan beban. Oleh karena itu untuk mendapatkan
kecepatan yang konstan dan peformansi sistem yang lebih baik
terhadap perubahan beban dibutuhkan suatu pengontrol.
3.3.1 Pemeliharaan Motor Induksi 3 Fasa
Tindakan pencegahan diperlukan khususnya untuk motor
skala besar untuk mencegah kerusakan, karena peralatan ini
mahal dan susah untuk diganti. Untuk mendapatkan efisiensi
dan keandalan maksimum, motor dan generator harus
dioperasikan dan dirawat secara benar untuk mencegah
kerusakan. Kerusakan ini biasanya diakibatkan oleh kesalahan
personil maintenance. Kegagalan pada mesin umumnya terjadi
pada belitan stator, belitan rotor dan exciter, biasanya
diakibatkan oleh beberapa faktor berikut:

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
44 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 3.1 Grafik Jenis Kerusakan berdasarkan Banyak Kejadiannya


Pemeliharaan Motor Induksi 3 Fasa terbagi berdasarkan
periode pemeliharaannya antara lain sebagai berikut:
1. Pemeliharaan yang Bersifat Rutin
Pemeriksaan yang bersifat rutin ialah pemeliharaan yang
dilakukan secara berulang dengan periode waktu harian,
mingguan dan bulanan dengan kondisi sedang
beroperasi, yaitu meliputi:
a. Pemeriksaan temperatur belitan stator, bearing, air
pendingin, dan sebagainya dilakukan setiap hari.
b. Pemeriksaan kebocoran pendingin minyak (khusus
generator dengan pendingin hidrogen) dalam sekali
sebulan.
c. Pemeriksaan vibrasi sekali sebulan.
d. Pemeriksaan fuse rotating rectifier (Brushless
Excitation) atau pemeriksaan sikat arang (Static
Excitation / DC Dinamic Excitation).
2. Pemeliharaan yang Bersifat Rutin
Pemeriksaan yang bersifat periodik ialah pemeriksaan
yang dilakukan berdasarkan lama operasi, yang
diklasifikasikan:
a. Pemeriksaan sederhana, setiap 8.000 jam.
b. Pemeriksaan sedang, setiap 16.000 jam.
c. Pemeriksaan serius, setiap 32.000 jam.
d. Pemeriksaan periodik kegiatan yang dilakukan
meliputi pembongkaran (disassembly),

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 45
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

pemeriksaan (inspection) dan pengujian


(testing).
3.3.2 Pengujian Motor Induksi 3 Fasa
Berdasarkan Baker Instrument Company: The Measure of
Quality, agar Program Predictive Maintenance mesin listrik
tercapai secara efektif, Baker Instrument Company membuat
rekomendasi mengenai urutan spesifik tes mesin listrik.
Pengukuran atau tes dapat mementukan diagnosa perbaikan
atau repair.
Rekomendasivurutanvtestgsebagaihberikut:
1. ResistancefTest
Tahanan coil dites atau diukur terutama untuk
mengetahui kesamaan atau keseimbangan di antara
ketiga fasanya, perbedaan pengukuran dengan
pengukuran sebelumnya, dan perbedaan dengan yang
tertera di nameplatenya. Jika ditemukan masalah, maka
motor harus diinspeksi untuk menemukan sebab
permasalahan tersebut.
Contoh permasalahan:
a. Hard Shorts atau hubung pendek dengan inti.
b. Hard Shorts atau hubung pendek antar coil dalam
phase.
c. Hard Shorts atau hubung pendek antar coil antar
phase.
d. Ukuran kawat atau coil tidak sama atau salah.
e. Connnection atau sambungan terminal longgar atau
berkarat.
Jika pengukuran dapat diterima maka pengujian HiPot
atau Surge baru diperlukan. Coil Resistance Test
termasuk dalam Predictive Maintenance karena
menggunakan data dari hasil maintenance sebelumnya.
2. Mega-ohm (Megger) Test
Megohm test atau tes tahanan dilakukan menggunakan
tegangan berdasarkan tegangan kerja motor dan standar
pabrikan atau pemakai sebagai panduan.
Membandingkan hasil pengukuran dengan standar akan
menggambarkan kondisi coil.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
46 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Jika terukur tahanan atau resistansi rendah maka harus


diadakan pemeriksaan lebih teliti karena kemungkinan
terjadi ground-wall pada isolasi.
Ground-wall:
a. Lapisan isolasi atau enamel kawat terbakar atau
rusak.
b. Coil motor mungkin penuh kotoran, debu karbon,
ada air/lembab atau kontaminan.
c. Koneksi pada coil-coil -nya mungkin jelek.
d. Isolasi yang digunakan untuk terminal connection ke
juction-box mungkin salah rating-nya.
3. High Potential (Hi-Pot)iTest
HiPot (High Potential, high voltage atau tegangan
tinggi) adalah tes simpel yang diterapkan pada dua
konduktor yang terisolasi. Tegangan yang sangat tinggi
diberikan ke konduktor tersebut kemudian mengukur
arus yang mengalir di antara kedua titik.
HiPot test dilakukan menggunakan tegangan uji yang
nilainya lebih tinggi dari Megohm-test, tetapi, sekali lagi
bergantung dari tegangan operasi motor dan sesuai
dengan standar tertentu atau panduan perusahaan.
HiPot test digunakan untuk mencari kebocoran arus
tinggi, atau bocor tidak tetap/sesekali, atau nilainya
naik-turun. Rusak atau bocor arus yang tinggi
merupakan indikasi kerusakan isolasi ground-wall. High
Potential Test termasuk dalam Time Based Maintenance
karena berdasarkan rekomendasi, standar, atau panduan
pabrik.
4. Surge Test
Surge Test dilakukan untuk setiap fasa, juga memilih
tegangan uji berdasarkan tegangan operasi motor dan
standar atau panduan perusahaan pemakai.
Tes percobaan pembandingan surja ini digunakan secara
simultan pada gulungan ke gulungan, kumparan ke
kumparan, dan isolasi kumparan ke ground. Memberikan
tegangan surja antar belitan dari sebuah kumparan,
antar phase, dari belitan ke ground. Dapat digunakan
untuk mendeteksi hubungan singkat pada belitan saat

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 47
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

dilakukan pengujian. Surge Test termasuk dalam Time


Based Maintenance karena berdasarkan standar pabrik
dan dilakukan secara berkala.

Gambar 3.2 Contoh Pengujian Surge Test

3.4 Transformator
Transformator atau biasa disebut trafo merupakan suatu alat
listrik yang termasuk ke dalam klasifikasi mesin listrik statis
yang berfungsi menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan
tinggi ke tegangan rendah dan sebaliknya. Dapat juga diartikan
mengubah tegangan arus bolak–balik dari suatu tingkat ke
tingkat yang lain melalui gandengan magnet dan berdasarkan
prinsip induksi elektromagnetik. Transformator terdiri atas
sebuah inti, yang terbuat dari besi berlaminasi dan dua buah
kumparan primer serta sekunder.
3.4.1 Permasalahan yang sering terjadi pada Transformator
1. Overtemperature
Overtemprature atau suhu yang berlebihan dari trafo ini
disebabkan oleh beberapa hal yaitu arus lebih, tegangan
lebih, pendinginan yang kurang memadai, level cairan
pendingin rendah, lumpur dalam transformator cair,
suhu lingkungan yang tinggi, atau terjadi hubung singkat
pada inti.
2. Winding insulation failure
Winding insulation failure atau kegagalan pada isolasi
belitan ini disebabkan oleh hubungan arus pendek,
petir, pembebanan berlebihan atau arus lebih, atau

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
48 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

transformator yang mengandung uap air dan


kontaminan.
3. Bushing failure
Bushing failure atau kegagalan pada bushing ini
disebabkan oleh flashover akibat akumulasi kotoran dan
/ atau sambaran petir.
4. Internal arcing
Internal arcing atau loncatan bunga api di internal trafo
ini disebabkan oleh ketinggian cairan trafo kurang,
sambungan longgar, atau kegagalan dielektrik trafo.
5. Perubahan warna cairan transformator
Perubahan warna cairan transformator ini disebabkan
oleh karbonisasi cairan karena switching, kegagalan inti,
atau kontaminasi.
3.4.2 Penyebab Gangguan Transformator
3.4.2.1 Tegangan Lebih Akibat Petir
Gangguan ini akibat sambaran petir yang mengenai kawat
fasa, sehingga menimbulkan gelombang berjalan yang merambat
melalui kawat phasa tersebut dan menimbulkan gangguan pada
trafo. Hal ini disebabkan Lightning Arraster yang tidak berkerja
dengan baik atau mengalami kerusakan, seharusnya Petir yang
menyambar akan dialirkan oleh Lightning Arrester ke tanah dan
mencegahnya untuk melewati peralatan lain terutama trafo
sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada lilitan trafo.
3.4.2.2 Beban Tidak Seimbang
Beban Tidak Seimbang merupakan gangguan akibat
pembebanan pada masing-masing fasa trafo tidak seimbang. Hal
ini akan menyebabkan trafo menjadi panas dan kawat tidak
sanggup menahan beban, akibat tidak meratanya beban pada
tiap fasanya.
3.4.2.3 Loss Contact
Gangguan ini terjadi pada bushing trafo yang disebabkan
terdapat kelonggaran pada kawat fasa dengan terminal bushing.
Hal ini mengakibatkan tidak stabilnya aliran listrik yang diterima
oleh trafo distribusi dan menimbulkan panas yang dapat
menyebabkan kerusakan belitan trafo.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 49
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

3.4.2.4 Isolator Bocor


Kebocoran pada isolator ini dapat berupa flashover atau
Bushing yang kotor, dimana untuk flashover dapat terjadi
apabila muncul tegangan lebih pada jaringan distribusi seperti
pada saat terjadi sambaran petir. Pada sistem 20 kV, ketahanan
impuls isolator adalah 160 kV. Flashover menyebabkan loncatan
busur api antara konduktor dengan bodi trafo sehingga
mengakibatkan hubungan singkat fasa ke tanah. Untuk bushing
yang kotor, kotoran pada permukaan bushing dapat
menyebabkan terbentuknya lapisan penghantar di
permukaannya. Kotoran ini dapat mengakibatkan jalannya arus
melalui permukaan bushing sehingga mencapai badan trafo.
Umumnya kotoran ini akan menjadi penghantar apabila kotoran
tersebut terkena hujan/embun sehingga menyebabkan pada
kondisi yang basah.
3.4.2.5 Kegagalan Isolasi Minyak
Kegagalan isolasi minyak trafo dapat terjadi akibat
penurunan kualitas minyak isolasi sehingga kekuatan
dielektrisnya menurun.
3.4.3 Pemeliharaan Transformator
3.4.3.1 Pengamatan Nameplate
Sebelum pekerjaan pemeliharaan trafo dilaksanakan,
prosedur pelaksanaan pekerjaan yang utama adalah mendata
spesifikasi teknis dari trafo tersebut dengan mengamati
nameplate.
3.4.3.2 Pemeriksaan Visual
Pemeriksaan secara visual ini meliputi:
1. Kondisi Tangki dari kebocoran atau akibat dari
benturan
2. Kondisi baut-pengikat di bushing
3. Kondisi bushing primer dan sekunder
4. Kondisi katup tekanan udara
5. Kondisi pengukur suhu
6. Kondisi Tap Changer
3.4.3.3 Pengukuran Nilai Tahanan Isolasi
Setelah pemeriksaan secara visual dilakukan, maka
selanjutnya adalah mengukur nilai tahanan isolasi trafo dengan

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
50 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

megaohm meter di badan primer-sekunder. Sehingga dapat


dipastikan dibagian mana kerusakan terjadi.
3.4.4 Isolasi Trafo
3.4.4.1 Minyak Transformator
Minyak transformator adalah cairan yang dihasilkan dari
proses pemurnian minyak mentah. Selain itu minyak ini juga
berasal dari bahan organik, misalnya minyak piranol dan silicon,
beberapa jenis minyak transformator yang sering dijumpai di
lapangan adalah minyak transformator jenis Diala A, Diala B dan
Mectrans. Minyak transformator mempunyai unsur atau senyawa
hidrokarbon. Senyawa yang terkandung dalam minyak
transformator ini adalah senyawa hidrokarbon parafinik,
senyawa hidrokarbon naftenik dan senyawa hidrokarbon aro-
matik. Selain ketiga senyawa di atas, minyak transformator
masih mengandung senyawa yang disebut aditif, meskipun
sangat kecil. Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa yang
hanya mengandung unsur karbon dan hydrogen (C dan H).
Senyawa hidrokarbon ini merupakan bagian terbesar dari
minyak transformator. Senyawa hidrokarbon alifatik adalah
senyawa hidrokarbon dengan struktur rantai karbon terbuka.
Senyawa yang termasuk hidrokarbon alifatik, yaitu:
1). Alkana (CnH2n+2),
2). Alkena (CnH2n),
3). Alkuna (CnH2n-2)
Senyawa hidrokarbon alisiklik menyatakan adanya rantai
lingkar (siklik), yang memiliki struktur rantai karbon tertutup
atau struktur berbentuk cincin. Senyawa hidrokarbon aromatik
merupakan senyawa yang memiliki rantai karbon tertutup, dan
mengandung dua atau lebih ikatan rangkap yang letaknya
berselang–seling. Beberapa senyawa aromatik berfungsi sebagai
penghambat oksidasi (inhibitor) dan penjaga kestabilan. Jika
jumlahnya terlalu banyak akan bersifat merugikan yang
berkurangnya kekurangan dielektrik dan berkurangnya sifat
pelarutan minyak terhadap isolasi padat di dalamnya.
3.4.4.2 Pengujian Kualitas Isolasi Trafo.
Peralatan trafo tenaga merupakan bagian penting dalam
jaringan tenaga listrik. Peralatan ini perlu untuk dijaga
kondisinya agar dapat beroperasi optimal. Salah satu bagian

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 51
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

penting yang dapat menggambarkan kondisi trafo secara


keseluruhan adalah peralatan isolasi. Peralatan isolasi trafo
terdiri dari isolasi cair (minyak) dan isolasi padat (kertas).
Berikut beberapa pengujian yang dilakukan untuk
mengetahui kualitas isolasi Trafo :
A. Tegangan Tembus Minyak (Breakdown Voltage)
Tegangan tembus (Breakdown Voltage) adalah tegangan
tembus minyak transformator perlu diukur karena menyangkut
kesanggupan minyak menahan electric stress, tanpa kerusakan.
Tegangan tembus dapat diukur dengan cara memasukan 2 buah
elektroda bola (setengah bola) ke dalam minyak yang akan
diukur. Kalau didapat tegangan tembus yang rendah, maka
dapat dikatakan minyak transformator telah terkontaminasi.
Metode pengujian yang dilakukan antara lain IEC 156-60422
dengan standar nilai hasil pengujian untuk metode tersebut
adalah:
Jenis Baik Cukup Buruk
Parameter
Trafo (kV) (kV) (kV)
Tegangan O,A > 60 50 – 60 < 50
Tembus B > 50 40 – 50 < 40
(kV/2.5mm) C > 40 30 - 40 < 30
Tabel 3.1 Standar IEC 156-60422 / 2005
Semakin tinggi nilai hasil pengujian tegangan tembus minyak,
maka kekuatan isolasi minyak juga akan semakin tinggi.
Tegangan tembus minyak mengalami penurunan seiring dengan
bertambahnya partikel-partikel hasil oksidasi dan kandungan air
dalam minyak. Dalam membuat analisa kondisi isolasi, selain
hasil pengujian kekuatan dielektrik harus diperhatikan juga
kandungan air dan oksigen. Kombinasi antara dua zat ini dengan
energi panas akan mengakibatkan kerusakan pada isolasi kertas
sebelum nilai kekuatan dielektrik di bawah standar.
B. Tegangan Antar Permukaan (Interfacial Tension / IFT)
Nilai merupakan pengukuran tegangan antar permukaan
minyak dengan air. Nilai IFT adalah besarnya daya yang
dibutuhkan untuk menarik sebuah cincin kecil ke atas sejauh 1
cm melalui permukaan antara air dan minyak (ASTM D-971).
Minyak yang bagus (baru) mempunyai nilai IFT antara 40 – 50
dyne/cm. Nilai IFT dipengaruhi oleh banyaknya partikel-partikel

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
52 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

kecil hasil oksidasi minyak dan kertas. Oksidasi akan


menghasilkan air dalam minyak, meningkatkan nilai keasaman
minyak dan pada kondisi tertentu akan menyebabkan
pengendapan (sludge). Standar hasil pengujian IFT menggunakan
metode ASTM D-971 adalah sebagai berikut :
IFT Acceptable Questionable Unaccapetable
ASTM D-971 ≥ 32.0 28.0 – 31.9 < 27.90
Tabel 3.2 Standar ASTM D-971
Minyak harus di reklamasi ketika nilai IFT mencapai 25
dyne/cm. Pada kondisi ini, minyak sudah banyak mengandung
kontaminasi hasil oksidasi dan akan terjadi pengendapan.
C. Kandungan air dalam minyak (Water Content)
Salah satu hal yang membahayakan trafo adalah kandungan
air. Kandungan air dan oksigen yang tinggi akan mengakibatkan
korosi, menghasilkan asam, endapan dan cepat menurunkan usia
trafo. Dari hasil penelitian EPRI diperolah bahwa setiap
peningkatan kandungan air 2 kali lipat pada temperatur yang
sama akan menurunkan usia isolasi menjadi 0.5 kali. Kandungan
air dalam trafo dapat berasal dari udara saat trafo dibuka untuk
keperluan inspeksi, dan apabila terjadi kebocoran maka uap air
akan masuk ke dalam trafo karena perbedaan tekanan parsial
uap air. Standar hasil pengujian kandungan air dalam minyak
menggunakan metode ASTM D-1533 adalah sebagai berikut :
Kandungan Air PPM %M/dw
ASTM D-1533 < 30 <2
Tabel 3.3 Standar ASTM D-1533
Nilai diatas tidak sepenuhnya menjamin kondisi isolasi trafo.
Karena kandungan air dalam minyak akan sangat berbahaya
apabila mencapai 30% saturasi air dan minyak harus direklamasi.
Untuk itu pada waktu pengambilan sampel minyak untuk
pengujian kandungan air harus dicatat temperatur minyak trafo.
Temperatur ini sangat diperlukan pada waktu melakukan
analisa. Prosentase saturasi air dalam minyak dapat dilihat pada
gambar berikut:

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 53
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 3.3 Prosentase saturasi air dalam minyak


D. Angka Kenetralan (Neutralization Number / NN)
Angka Kenetralan (neutralization number); Angka kenetralan
dinyatakan dalam mg KOH yang dibutuhkan pada titrasi 1 gram
minyak. Angka kenetralan merupakan angka yang menunjukkan
penyusun asam dan dapat mendeteksi adanya kontaminasi
dalam minyak, kecenderungan perubahan kimia atau
cacat/indikasi perubahan kimia tambahan. Selain itu angka
kenetralan merupakan petunjuk umum untuk menentukan
apakah minyak yang sedang dipakai harus diganti atau diolah
kembali dengan melakukan penyaringan Proses oksidasi pada
kertas dan minyak akan menghasilkan asam. Kandungan asam
dalam minyak mempercepat penurunan kondisi minyak dan
kertas, yaitu :
 asam akan membentuk lebih banyak asam dari minyak
dan kertas
 bereaksi dengan kertas menghasilkan air
 asam bersifat korosif terhadap logam dan akan
membentuk lebih banyak partikel-partikel logam pada
belitan dan bagian bawah tangki minyak.
Standar hasil pengujian angka kenetralan minyak dengan
metode pengujian ASTM D-974. adalah sebagai berikut :

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
54 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Acidity Acceptable Questionable


ASTM D-971 ≤ 0.05 > 0.05
Tabel 3.4 Standar hasil pengujian angka keasaman
Berdasarkan hasil pengujian IFT dengan NN, dapat dibuat analisa
lebih lanjut dengan membandingkan nilai keduanya :
Kondisi
IFT NN IFT/NN
Minyak
30,0 – 0,00 –
Bagus 300 – 1500
45,0 0,10
27,1 – 0,05 –
Proporsional A 271 – 600
29,9 0,10
24,0 – 0,11 –
Marginal 160 – 318
27,0 0,15
18,0 – 0,16 –
Jelek 45 – 159
23,9 0,40
14,0 – 0,41 –
Sangat Jelek 22 – 44
17,9 0,65
Sangat sangat 9,00 – 0,66 –
6 - 21
jelek 13,9 1,50

Rusak >1,51
Tabel 3.5 Nilai perbandingan IFT dengan NN
E. Warna
Pengujian mengenai warna akan membandingkan warna
aktual minyak transformator kepada spektrum warna tetap.
Diekspresikan secara numerik dari 0 sampai 5, dengan angka
warna yang tinggi mengindikasikan kontaminasi akibat karbon
atau kerusakan baik dari material isolasi ataupun minyak itu
sendiri serta material terlarut lainnya. Karbon dapat terbentuk
pada saat terjadi partial discharge maupun arcing. Partikel-
partikel dapat berupa furan maupun hasil oksidasi.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 55
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Pengujian warna dilakukan juga untuk mendeteksi kecepatan


penurunan atau kontaminasi yang serius. Nilai standar
berdasarkan metode pengujian ASTM D-1500 adalah ≤3.5.
F. Specific Gravity
Specific Gravity (relative density/kepadatan relative) dari
minyak transformator adalah rasio bobot volume yang sama dari
minyak dan air. Dengan kata lain, specific gravity secara
sederhana merupakan perbandingan/rasio dari massa jenis dari
fluida dengan massa jenis dari air. Spesific gravity yang besar
mengindikasikan kemampuan minyak untuk menghambat atau
menghentikan air. Dalam iklim yang sangat dingin, specific
gravity dapat digunakan untuk menentukan apakah es, yang
dihasilkan dari pembekuan air pada peralatan dengan isi
minyak, akan mengapung pada minyak. Kondisi ini mungkin
dapat menyebabkan perpanjangan flashover dari konduktor
diatas level minyak isolasi.
G. Pemeriksaan Visual
Sampel dari minyak transformator dapat diperksa secara
visual dengan melewatkan seberkas cahaya melalui minyak
tersebut untuk menentukan transparansi serta mengidentifikasi
partikel asing. Transparansi yang buruk, kegelapan, atau
observasi dari partikel mengindikasikan kontaminasi seperti
moisture, sludge, atau partikel dan material asing lain.
H. Analisis Furan
Analisis Furan menunjukkan kondisi dari isolasi kertas dengan
sampel minyak transformator. Semakin lama, selulosa dari
material pengisolasi akan mengalami degradasi atau penurunan
kualitas. Senyawa aromatik terproduksi ketika degradasi
tersebut yang dinamakan dengan furan. Pengujian dilakukan
untuk kelima jenis furan, yaitu:
 5H2F (5-hydroxymethyl – 2-furaldehyde): oksidasi;
 2FOL (2-furfurol): moisture tinggi;
 2FAL (2-furaldehyde): overheating, kegagalan lama;
 2ACF (2-acetylfuran): langka, petir; dan
 5M2F (5-methyl – 2-furaldehyde): lokal, overheat
yang parah.
Hasil furan digunakan untuk menentukan rata-rata derajat
polimerisasi yang diharapkan pada kertas isolasi dalam

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
56 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

peralatan. Perhitungan derajat polimerisasi digunakan untuk


memperkirakan presentase dari umur isolasi padat yang tersisa
di dalam transformator. Jumlah dari 2FAL (2-furaldehyde)
dalam minyak biasanya menjadi indikator yang paling menonjol
dari dekomposisi kertas isolasi, yang digambarkan dengan cara
berikut:
1. Isolasi padat di transformator terdiri dari kertas Kraft.
2. Kertas Kraft terbuat dari serat selulosa.
3. Selulosa adalah senyawa polimer yang terbentuk dari
molekul-molekul glukosa.
I. Metals-in-Oil
Jumlah dari logam pada minyak transformator dapat
digunakan sebagai indeks dari kondisi perbedaan komponen
suatu transformator. Kegagalan yang melibatkan energi yang
besar mengakibatkan kerusakan tidak hanya pada isolasi tetapi
pada belitan serta komponen lain. Sehigga, tidaklah heran untuk
menemukan partikel dari logam seperti tembaga, seng, timah,
perak, dsb.
Kuantitas dari metal tersebut dapat menyajikan indikasi dari
komponen spesifik. Tingkatnya dihitung dengan menggunakan
berbagai tipe spektroskop di dalam laboratorium. Belitan
transformator terbuat dari tembaga atau alumunium sedangkan
inti trafo terbuat dari besi. Logam seperti timah, seng, dan
perak dapat ditemukan dalam komponen seperti bushing,
dinding tangki, dan semacamnya.
J. Liquid Power Factor
Faktor disipasi atau faktor daya cairan adalah pengukuran
dari rugi-rugi dielektrik di dalam isolasi cair suatu transformator
ketika diberikan tegangan atau medan listrik AC. Faktor disipasi
dan faktor daya cairan tidak persis sama, tetapi bervariasi
kurang dari satu bagian dalam seribu sampai dengan nilai sekitar
5% untuk faktor daya cairan. Pada dasarnya nilai tersebut
dipertukarkan untuk nilai-nilai yang ditemui dalam
pengoperasian peralatan listrik. Pengujian faktor daya banyak
digunakan sebagai acceptance (penerimaan) dan preventive
maintenance test untuk isolasi minyak transformator.
Faktor daya cairan adalah sifat elektrik dari minyak, dan
berhubungan baik dengan fungsi minyak ataupun kemurniannya.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 57
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Minyak dengan pengolahan tinggi, bebas dari kontaminasi,


memiliki faktor daya cairan yang sangat rendah. Kelembaban,
oksidasi, deterioration (kemunduran), ataupun kontaminasi
kesemuanya bertindak untuk meningkatkan faktor daya cairan.
Untuk minyak jenis baru, spesifikasi khusus untuk nilai faktor
daya cairan adalah ≤ 0.05% saat diukur pada suhu 25°C dan
0.30% saat diukur pada suhu 100°C. Biasanya, nilai pola
kenaikan untuk suhu 25°C dan 100°C dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kondisi tertentu yang menjadi perhatian.
K. Inhibitor Content
Cairan mineral minyak dielektrik mengandung tambahan
inhibitor (penghambat) pengoksidasi yang merupakan bahan
kimia aditif yang bertindak sebagai pengawet. Tujuannya adalah
untuk mencegah oksigen dari bereaksi dengan minyak, sehingga
memperlambat laju penuaan dari minyak isolasi (serta isolasi
padat). Jenis inhibitor yang paling banyak digunakan pada
minyak transformator adalah 2,6-ditertiarybutyl para-cresol
(DBPC) dan 2,6-ditertiary-butyl phenol (DBP). DBPC juga dikenal
sebagai butylated hydroxytoluene (BHT).
Laju dari level oxidation inhibitor pada minyak isolasi
menjadi berkurang bergantung dari beberapa faktor.
Temperatur dari minyak, jumlah dari kadar oksigen, kontaminan
terlarut dalam minyak, dan agen katalis pada minyak. Beberapa
produsen transformator tidak memberikan minyak inhibited
pada transformatornya.
Ketika kadar penghambat telah habis, laju oksidasi dan
kemunduran dari minyak bertambah cepat. Produk hasil seperti
asam dan endapan akan mulai terbentuk dan menyerang isolasi
kertas pada sistem transformator, yang dapat menyebabkan
hilangnya umur operasi. Material oxidation inhibitor dapat diisi
ulang kembali (re-inhibited), minyak isolasi dapat diganti atau
diperbaiki, tetapi isolasi kertas tidak dapat digantikan,
diperbarui, atau dipulihkan kembali. Keuntungan dari menjaga
nilai oxidation inhibitor pada level optimal (0.3%) dapat
membantu memperpanjang umur minyak isolasi selama
bertahun-tahun

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
58 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

L. Corrosive Sulfur
Pengujian ini mendeteksi kehadiran dari jumlah objek
elemental dan termal senyawa sulfur-bearing dalam minyak
transformator. Ketika ada, unsur tersebut dapat menyebabkan
korosi dari logam transformator seperti tembaga dan perak.
Metode pengujian menggunakan standar ASTM D1275 untuk
corrosive sulfur pada cairan isolasi elektrik.
F. Dissolved Gas Analysis (DGA)
Salah satu metode untuk mengetahui ketidaknormalan pada
trafo adalah dengan mengetahui dampak dari ketidaknormalan
trafo itu sendiri. Untuk mengetahui dampak ketidaknormalan
pada trafo digunakan metoda DGA (Dissolved Gas Analysis).
Pada saat terjadi ketidaknormalan pada trafo, minyak isolasi
sebagai rantai hidrokarbon akan terurai akibat besarnya energi
ketidaknormalan dan akan membentuk gas-gas hidrokarbon yang
larut dalam minyak isolasi itu sendiri. Pada dasarnya DGA adalah
proses untuk menghitung kadar/nilai dari gas-gas hidrokarbon
yang terbentuk akibat ketidaknormalan. Dari komposisi
kadar/nilai gas-gas itulah dapat diprediksi dampak-dampak
ketidaknormalan apa yang ada di dalam trafo, apakah overheat,
arcing atau corona. Analisa ini dilakukan dengan peralatan yang
bernama Gas Chromatograph.
Hasil dari tes dibedakan dalam 5 kategori, yaitu:
a. Level gas acetylene: arcing
b. Level kelembaban: moisture
c. Carbon monoxide dan carbon dioxide: kerusakan selulosa
d. Level gas hidrogen : korona
e. Level hidrokarbon : panas

Gambar 3.4 Skema Pengujian dengan Gas Chromatograph

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 59
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Tabel 3.6 Interpretasi berdasarkan Gas Diproduksi

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
60 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Tabel 3.7 Nilai Standar Pengujian Analisis Minyak


Transformator

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 61
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
62 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Struktur Organisasi Unit Kerja


No Nopeg Nama Jabatan
1 7809002 Sholihin, ST Kepala Seksi
Group of Troubleshooting 1
2 7797035 Budi Prayitno Kepala Regu
3 9009037 Solvian Roh. Hanafi Pelaksana
Group of Troubleshooting 2
4 6994104 Hendri Jauhari Kepala Regu
5 8911031 Hamid Jamaluddin Pelaksana
Group of Troubleshooting 3
6 7394064 Moch. Syakir Kepala Regu
7 9010013 Hendra Yanu M. Pelaksana
Group of Troubleshooting 4
8 6318 Arif Zakaria Fitra Koordinator
9 8910005 Marhadi Parwono Pelaksana
Group of Packer Instrument Tuban 1, 2 Preventive
10 7796185 Muzamil Kepala Regu
Group of Packer Electrical Tuban 1, 2 Preventive
11 7797168 Bandi Kepala Regu
Group of Packer Instrument Tuban 3, 4 Preventive
12 8508060 Bayu Pratama Putra Kepala Regu
Group of Packer Electrical Tuban 3, 4 Preventive
13 7796086 Ma'arif Kepala Regu
Group of Packer & Port PLC Preventive
14 7295058 Agus Suprayanto S Kepala Regu

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 63
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Group of Weighting & Port Insturment Preventive


15 7596019 Agus Arifin K Kepala Regu
16 1351 Suhadak Kepala Regu
Group of Port Electrical Preventive
17 7696074 Yuswiyanto Kepala Regu
18 1517 Ach. Basuki Kepala Regu
19 7797172 Imam Saiful Kepala Regu
Tabel 4.1 Pembagian Kerja Seksi Pemeliharaan Listrik dan
Instrumentasi Packer dan Pelabuhan
Group of
Troubleshooting 1

Group of
Troubleshooting 2

Group of
Troubleshooting 3
Section Head

Troubleshooting Group of
Section Troubleshooting 4

Group of Packer Instrument


Tuban 1, 2 Preventive

Preventive Group of Packer Electrical Tuban

Section 1, 2 Preventive

Group of Packer Instrument


Tuban 3, 4 Preventive

Group of Packer Electrical Tuban


3, 4 Preventive

Group of Packer & Port PLC


Preventive

Group of Port Electrical


Preventive

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Seksi Pemeliharaan Listrik dan


Instrumentasi Packer dan Pelabuhan

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
64 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

4.2. Tugas Pokok Unit Kerja


Unit kerja yaitu Seksi Pemeliharaan Listrik dan Instrumentasi
Packer dan Pelabuhan. Tugas pokok dari seksi ini adalah
melakukan pemeliharaan terhadap kelistrikan dan instrumen-
instrumen yang ada di bagian proses pengepakan semen ke
kantung semen serta instrumen yang ada di pelabuhan. Selain
itu, unit kerja ini juga melakukan pemeriksaan untuk
mengetahui kondisil jaringan kelistrikan dan instrumen serta
melakukan langkah-langkah untuk mencegah kerusakan
instrumen-instrumen tersebut.

4.3. Penjelasan Singkat Tugas Unit Kerja


1. Maintenance
Melakukan pemeliharaan setiap sistem kelistrikan
beserta instrumen yang ada di bagian proses
pengepakan semen dan pelabuhan. Maintenance
meliputi motor, drive, conveyor belt, circuit breaker,
relay, lift, dsb.
2. Monitoring
Memantau kondisi dari tiap kelistrikaninstrumen di
bagian Packer dan pelabuhan. Tugas ini dilakukan setiap
hari untuk mengetahui kondisi perharinya.
3. Preventive
Melakukan dan menentukan langkah-langkah untuk
mencegah kerusakan pada sistem beserta instrumen
yang kondisinya kurang baik dan optimal.
4. Repair & Service
Melakukan reparasi dan servis instrumen yang rusak.
Tugas ini dilakukan di bengkel setelah perangkat
ataupun instrumen pengganti telah dipasang untuk
mengganti komponen yang rusak tersebut.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 65
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

4.4. Judul Tugas


STUDI PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR MAIN SUBSTATION 150
KV DAN MOTOR MEDIUM VOLTAGE DI PABRIK TUBAN AREA 1-2 PT
SEMEN INDONESIA (PERSERO) TBK

4.5. Kegiatan Kerja Praktek


No Tanggal Uraian Kegiatan
Pengarahan dan Pengenalan Perusahaan serta
1 1/8/2016 Pembekalan K3
Pengenalan Seksi dan Pembimbing PLIPP
2 2/8/2016 Pengenalan Area Pelabuhan (Port)
3 3/8/2016 Observasi ke Packer Plant Tuban 2
Pengantar peralatan MCC,PLC,dan Motor di seksi
4 4/8/2016
PLIPP
Observasi keseluruhan area plant pebrik PT Semen
5 5/8/2016
Indonesia (Persero) Tbk, Tuban
Observasi ke Main Substasion 1-2 dan pengumpulan
6 8/8/2016
data pemerliharaan
Kunjungan ke bengkel listrik dan instrument
7 9/8/2016
melihat proses reparasi motor dan rewinding
Studi referensi pustaka di perpustakaan PT Semen
8 10/8/2016
Indonesia (Persero) Tbk Tuban
9 11/8/2016 Kunjungan ke packer plant Tuban 4
Observasi ke Main Substasion 3-4 dan electrical
10 16/8/2016
room #18
11 18/8/2016 Observasi ke seksi RKC 3-4 dan electrical room #25
Observasi trafo di Main Substasion 3-4 dan
12 19/8/2016
pengumpulan data pemeliharaan
Simulasi kerja inverter motor serta pemeliharaan
13 23/8/2016
motor
Kunjungan ke area Finish Mill 1-2 Substasion #6
14 24/8/2016
dan electrical room #14
Inspeksi panel drive di Pelabuhan (Coal Handling
15 26/8/2016
System) electrical room #2
Pengumpulan data pemeliharaan (DGA) di seksi
16 29/8/2016
RKC 1-2
Tabel 4.2 Kegiatan Kerja Praktek

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
66 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

4.6. Jadwal Kerja Praktek


Minggu
No. Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7
1 Pengenalan Perusahaan dan Lapangan
2 Observasi Lapangan
3 Pengumpulan Data
4 Penyusunan Laporan
Tabel 4.3 Jadwal Kegiatan Kerja Praktek
4.6.1 Pengenalan Perusahaan dan Lapangan
Pembimbing mengenalkan kepada anggota kerja praktek
tentang perusahaan dan lapangan tempat kerja praktek. Hal-hal
yang dikenalkan antara lain adalah latar belakang, sejarah, unit
kerja tempat kerja praktek, tugas pokok unit kerja, dsb.
4.6.2 Observasi Lapangan
Dilakukan observasi terhadap tempat kerja praktek,
khususnya pada bagian packer dan pelabuhan. Observasi
dilakukan untuk mengetahui apa saja yang tugas pokok dari unit
kerja semua bagian.
4.6.3 Pengumpulan Data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data pemeliharaan.
Data yang dikumpulkan antara lain single-line diagram, data
transformator, data motor, dan data pemeliharaan lain.
4.6.4 Penyusunan Laporan
Penyusunan laporan dari hasil observasi dan pengumpulan
data yang telah dilakukan sebelumnya kemudian dilakukan
analisis serta rekomendasi kedepannya.

4.7.Uraian Kerja Praktek


4.7.1 Penjelasan Pemeliharaan
Maintenance atau pemeliharaan peralatan merupakan
langkah yang paling efektif dan efisien untuk meningkatkan hasil
produksi. Program maintenance yang terencana dan terjadwal
dengan baik, dapat menjaga umur pakai suatu mesin. Motor

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 67
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

serta Transformator merupakan salah satu alat yang memiliki


peran penting dalam sebuah industri. Hampir semua peralatan
dan mesin menggunakan motor sebagai kuda industry dan
transformator sebagai perantara dengan jaringan listrik utama.
Pabrik yang dituntut untuk bekerja penuh 24 jam tidak
memungkinkan peralatan tersebut untuk dimatikan dan
dilakukan inspeksi.
Pada dasarnya, kerusakan yang terjadi pada suatu elemen
didalam transformator akan menghasilkan zat tertentu yang
akan mengubah susunan minyak isolasi dan mengurangi usia
transformator itu sendiri. Setiap kerusakan yang terjadi dalam
transformator menghasilkan zat yang berbeda sehingga dapat
dianalisa kerusakan yang terjadi pada transformator tersebut.
Keuntungan utama dari cara ini yaitu dapat mengetahui problem
yang terjadi pada suatu mesin tanpa membongkar mesin
tersebut. Pengamatan yang dilakukan melalui Transformator Oil
Analysis dengan pembagian batas level
 Acceptable (dapat diterima).
 Questionable (dipertanyakan).
 Unacceptable (tidak dapat diterima).
Sedangkan pada motor, pengamatan melalui parameter
seperti nilai tegangan, arus, putaran, temperatur, kondisi
bearing, ataupun vibrasi dari motor yang dilakukan
pemeliharaan. Dengan mengetahui kondisi dari motor melalui
parameter tersebut diatas, dapat ditentukan jenis pemeliharaan
serta perbaikan yang akan diberikan kepada motor serta analisis
kerja dari motor tersebut.
4.7.2 Data dan Analisis Transformator
Transformator yang diamati menjadi tugas pada topik
pemeliharaan berada pada Main Substation 150 kV Pabrik Tuban
Area 1-2 PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yaitu Transformator
TX-01 (Line I), Transformator TX-02 (Line II), dan Transformator
TX-03 (Line III) dengan single line diagram sebagai berikut.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
68 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 4.2 Single Line Diagram Main Substation 1-2


Metode yang digunakan adalah Oil Analysis oleh pihak ketiga
yaitu TxM Services Sdn. Bhd. melalui PT Duta Sarana Engineering
serta Transformer Fitness Pty. Ltd..
4.7.2.1 Transformator Line I Main Substation 150 kV

Gambar 4.3 Tranformator Line I Main Substation 150 kV


Transformator Line I mensuplai pabrik untuk area Raw Mill,
Kiln, dan Coal Mill (RKC) Tuban 1 dengan spesifikasi sebagai
berikut.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 69
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 4.4 Spesifikasi Transformator Line I


Sesuai dengan pengujian pada tanggal 12 Mei 2011, untuk
Transformator Line I Main Substation 150 kV, didapatkan hasil
sebagai berikut.
A. Inspeksi Visual
Silica
Level Oil Temp °C Winding Temp °C Paint Leaks
Gel
Normal 50 45 Fair Bad None
Tabel 4.4 Inspeksi Visual
Dari data inspeksi visual terlihat,
 Suhu transformator ketika operasi keadaan normal.
 Warna bodi pudar.
 Kondisi silica gel jelek (pudar) dikarenakan operasi terus
menerus dan pernapasan transformator berjalan.
 tidak terjadi kebocoran minyak.
Kemudian terdapat inspeksi visual harian tanggal 18 Juli 2016
oleh Seksi Pemeliharaan Listrik 1-2 ditunjukan pada tabel
dibawah.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
70 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Oil Level SF6


Silica Gel Oil Temp °C Winding Temp °C
(%) (Psi)
OK 50 50 55/35 95.5
Tabel 4.5 Inspeksi Visual Harian oleh Seksi Pemeliharaan 1-2
Dari data terlihat bahwa kondisi silica gel masih baik,
kenaikan suhu diakibatkan operasi transformator yang berlanjut
setiap waktu, level minyak menunjukkan level pada
tranformator dan OLTC, sedangkan tekanan SF6 normal.
B. Liquid Screen Test
ASTM D971 ASTM
ASTM D974 IEC 156 ASTM ASTM
Interfacial D4052
Acidity Dielectric BDV D1500 D1524
Tension Spesific
(mgKOH/gm) (kV) Colour Visual
(mN/m) Gravity
0.034 29.7 95 2.5 0.8749 Clear
Tabel 4.6 Liquid Screen Test
Dari data tes liquid screen dapat dilihat,
 Acidity (keasaman) dalam batas acceptable.
 Interfacial tension (tegangan antar permukaan) berada
pada questionable, ini mengindikasikan minyak
terkontaminasi oleh produk hasil oksidasi atau
ketidakmurnian.
 Breakdown voltage (tegangan tembus) minyak berada
pada level acceptable.
 Colour (warna), specific gravity, dan visual untuk minyak
acceptable.
Kemudian dilakukan pengujian untuk parameter tegangan
tembus (BDV) pada tanggal 8 Oktober 2015 yang didapatkan
senilai 58 kV, ini menunjukkan nilai acceptable.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 71
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Gambar 4.5 Hasil Oil Test Breakdown Voltage (BDV) Trafo Line I
C. Dissolved Gas Analysis
Dissolved Gas Analysis (ASTM D3612 and ASTM D3612-B), Expressed in ppm
Carbon Carbon
Date Hydrogen Oxygen Nitrogen Methane
Monoxide Dioxide
3 33538 44637 9 10 522
Total
12/5/2011 Ethane Ethylene Acetylene Total Gas
Combustible
Not
54 2 78 78775
Detected
Carbon Carbon
Date Hydrogen Oxygen Nitrogen Methane
Monoxide Dioxide
9 2677 33947 144 154 2382
Total
24/8/2016 Ethane Ethylene Acetylene Total Gas
Combustible
256 8 <1 571 3.98 (%Gas)
Tabel 4.7 Dissolved Gas Analysis
Dari data dissolved gas analysis (DGA) atau analisis gas
terlarut dapat dilihat,
 Pada uji pertama, semua parameter profil gas
menunjukkan operasi dan penuaan normal pada trafo.
 Pada uji kedua, terdapat gas etana yang tinggi disebabkan
oleh thermal fault dengan suhu medium, serta rasio
karbon dioksida/karbon monoksida menunjukkan penuaan
normal pada trafo.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
72 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

 Sehingga perlu dilakukan sampel tes DGA dalam 3-6 bulan


kedepan untuk mengetahui karakteristik serta
pengambilan keputusan pemeliharaan transformator yang
tepat.
D. Water Content
Water Content (ASTM D1533), Expressed in ppm
Temp °C PPM %M/dw Grade
40 7 0.38 A
Tabel 4.8 Water Content
Dari data kandungan air dalam minyak dapat dilihat,
 Kandungan air dalam minyak berada pada batas
acceptable yaitu 7 ppm.
 Pada isolasi padat, kandungan air pada estimasi
0.38%M/dw dan dikategorikan dalam grade A.
 Pada trafo jenis ini disarankan untuk menjaga kandungan
air dibawah 20 ppm.
E. Furan Analysis
Furan Analysis (ASTM D5837), Expressed in ppb
5H2F 2FOL 2FAL 2ACF 5M2F Total
Not Not Not Not Not Not
Detected Detected Detected Detected Detected Detected
Tabel 4.9 Furanic Compound
Dari data analisis furan terlihat bahwa isolasi kertas dalam
kondisi baik dengan tidak ada senyawa furanik yang terdeteksi.
F. Metals-in-Oil
Metals-in-Oil (ASTM D3635), Expressed in ppm
Alumunium Iron Copper
0.08 0.30 0.05
Tabel 4.10 Metals in Oil
Dari data analisis logam dalam minyak memperlihatkan
jumlah logam terlalut yang dideteksi dibawah 2 ppm, sehingga
berada pada level acceptable.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 73
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

G. Liquid Power Factor


Liquid Power Factor (ASTM D924)
25°C 100°C
0.100 3.430
Tabel 4.11 Liquid Dissipation Factor
Dari data faktor daya cairan minyak baik pada suhu 25°C
maupun 100°C merupakan questionable, ini mengindikasikan
minyak terkontaminasi oleh produk hasil oksidasi atau
ketidakmurnian.
H. Inhibitor Content
Inhibitor Content, DBPC (ASTM D2668)
% by Weight
Not Detected
Tabel 4.12 Liquid Dissipation Factor
Dari data konten inhibitor (zat penghambat) tidak terdeteksi,
sehingga unacceptable. Ini menyebabkan minyak isolasi akan
teroksidasi lebih cepat dan menurunkan kualitas isolasi kertas.
I. Corrosive Sulfur
Corrosive Sulfur (ASTM 1275B)
Status Class Appearance
Non-Corrosive 2D Silvery
Tabel 4.13 Corrosive Sulfur
Dari analisis sulphur korosif dites pada copper strip yang
menghasilkan perubahan warna menjadi keperakan, sehingga
pada status non-korosif 2D.
 Rekomendasi
o Pengetesan kembali diperlukan dalam 6 bulan untuk
memonitor kondisi minyak, dilakukan regenerasi minyak
jika diperlukan untuk menghilangkan kontaminan.
o Menambahkan inhibitor 2,6-DBPC hingga batas 0.3%
untuk meminimalisir oksidasi minyak. Sehingga

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
74 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

penurunan kualitas minyak akan melambat dan


melindungi dan melestarikan material isolasi trafo.
o Menambahkan passivator sebagai lapisan permukaan
tembaga untuk menangkal serangan dari sulfur korosif.
Hal ini dapat dilakukan ketika purifikasi atau regenerasi
minya transformator.
4.7.2.2 Transformator Line II Main Substation 150 kV

Gambar 4.6 Transformator Line II Main Substation 150 kV


Transformator Line II mensuplai pabrik untuk area Finish Mill
(FM) Tuban 1-2 dengan spesifikasi sebagai berikut.

Gambar 4.7 Spesifikasi Transformator Line II

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 75
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Sesuai dengan pengujian analisis minyak untuk Transformator


Line II Main Substation 150 kV, didapatkan hasil sebagai berikut.
A. Inspeksi Visual
Date Oil Temp °C Winding Temp °C Silica Gel Leaks
Yes : Main
12/5/2011 45 40 Bad
Tank Cover
9/3/2015 55 60
Tabel 4.14 Inspeksi Visual
Dari data inspeksi visual terlihat,
 Suhu transformator ketika operasi keadaan normal dan
meningkat seiring berjalannya waktu operasi.
 Kondisi silica gel jelek (pudar) dikarenakan operasi terus
menerus dan pernapasan transformator berjalan.
 Terjadi kebocoran minyak pada pengujian pertama, ini
disebabkan oleh korosi atau kesalahan fabrikasi.
Kemudian terdapat inspeksi visual harian tanggal 18 Juli 2016
oleh Seksi Pemeliharaan Listrik 1-2 ditunjukan pada tabel
dibawah.
Oil Level SF6
Silica Gel Oil Temp °C Winding Temp °C
(%) (Psi)
OK 50 64 45/75 93
Tabel 4.15 Inspeksi Visual Harian oleh Seksi Pemeliharaan 1-2
Dari data terlihat bahwa kondisi silica gel masih baik,
kenaikan suhu diakibatkan operasi transformator yang berlanjut
setiap waktu, level minyak menunjukkan level pada
tranformator dan OLTC, sedangkan tekanan SF6 normal.
B. Liquid Screen Test
ASTM ASTM
ASTM D974 ASTM D971 IEC 156 ASTM
D4052 D1524
Date Acidity Interfacial Dielectric D1500
Spesific
(mgKOH/gm) Tension (mN/m) BDV (kV) Colour Visual
Gravity
12/5/2011 0.037 28.7 96 2.5 0.8746 Clear
9/3/2015 0.053 27.7 84 2.5 0.8814 Clear
Tabel 4.16 Liquid Screen Test

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
76 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Dari data tes liquid screen dapat dilihat,


 Acidity (keasaman) dalam batas acceptable pada uji
pertama sedangkan pada pengujian kedua termasuk
questionable karena melebihi batas 0.05 mgKOH/g. Ini
berarti oksidasi pada minyak berlangsung karena penuaan
dan kerusakan isolasi pada trafo.
 Interfacial tension (tegangan antar permukaan) berada
pada uji pertama questionable dan uji kedua
unacceptable, ini mengindikasikan minyak terkontaminasi
oleh produk hasil oksidasi atau ketidakmurnian.
 Breakdown voltage (tegangan tembus) minyak berada
pada level acceptable.
 Colour (warna), specific gravity, dan visual untuk minyak
acceptable.
Kemudian dilakukan pengujian untuk parameter tegangan
tembus (BDV) pada tanggal 12 Oktober 2015 yang didapatkan
senilai 60 kV, ini menunjukkan nilai acceptable.

Gambar 4.8 Hasil Oil Test Breakdown Voltage (BDV) Trafo Line II
C. Dissolved Gas Analysis
Dissolved Gas Analysis (ASTM D3612 and ASTM D3612-B), Expressed in ppm
Carbon Carbon
Date Hydrogen Oxygen Nitrogen Methane
Monoxide Dioxide
1 30866 44636 33 35 1129
12/5/2011 Total
Ethane Ethylene Acetylene Total Gas
Combustible

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 77
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Not
157 5 231 76862
Detected
Carbon Carbon
Date Hydrogen Oxygen Nitrogen Methane
Monoxide Dioxide
9 14014 67862 116 236 1896
Total
9/3/2015 Ethane Ethylene Acetylene Total Gas
Combustible
Not
362 12 735 84507
Detected
Carbon Carbon
Date Hydrogen Oxygen Nitrogen Methane
Monoxide Dioxide
56 4651 35825 161 135 2225
Total
24/8/2016 Ethane Ethylene Acetylene Total Gas
Combustible
310 7 <1 669 4.34 (%Gas)
Tabel 4.17 Dissolved Gas Analysis
Dari data dissolved gas analysis (DGA) atau analisis gas
terlarut dapat dilihat,
 Pada uji pertama terlihat konsentrasi etana yang tinggi
disebabkan oleh slightly overheating pada suhu 150°C
hingga 300°C pada inti disebabkan konsentrasi fluks.
 Pada uji kedua, trafo mengalami oil overheating yang
ditunjukkan oleh gas metana dan etana mendominasi
campuran combustible gas. Konsentrasi yang tinggi dari
gas etilena mengindikasikan overheating sekitar 150°C
hingga 300°C. Kondisi ini dapat disebabkan karena
pembentukan endapan di sekitar inti serta kontaminasi
minyak dari proses oksidasi. Panas pada inti tidak dapat
didisipasikan sepenuhnya sehingga menyebabkan
overheating.
 Pada uji ketiga, gas hidrogen timbul akibat partial
discharge. Terdapat pula gas metana dan etana yang
tinggi disebabkan oleh thermal fault dengan suhu
medium, serta rasio karbon dioksida/karbon monoksida
menunjukkan penuaan normal pada trafo.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
78 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

 Sehingga perlu dilakukan sampel tes DGA dalam 3-6 bulan


kedepan untuk mengetahui karakteristik serta
pengambilan keputusan pemeliharaan transformator yang
tepat.
D. Water Content
Water Content (ASTM D1533), Expressed in ppm
Date
Temp °C PPM %M/dw Grade
12/5/2011 39 4 0.22 A
9/3/2015 30 7 0.74 A
Tabel 4.18 Water Content
Dari data kandungan air dalam minyak dapat dilihat,
 Kandungan air dalam minyak berada pada batas
acceptable.
 Pada isolasi padat, kandungan air pada estimasi dan
dikategorikan dalam grade A.
 Pada trafo jenis ini disarankan untuk menjaga kandungan
air dibawah 20 ppm.
E. Furan Analysis
Furan Analysis (ASTM D5837), Expressed in ppb
Date
5H2F 2FOL 2FAL 2ACF 5M2F Total
Not Not Not Not Not Not
12/5/2011
Detected Detected Detected Detected Detected Detected
Not Not Not Not Not
9/3/2015 12
Detected Detected Detected Detected Detected
Tabel 4.19 Furanic Compound
Pada data analisis furan pengujian pertama terlihat bahwa
isolasi kertas dalam kondisi baik dengan tidak ada senyawa
furanik yang terdeteksi, sedangkan pada pengujian kedua
terlihat senyala 2FAL sebesar 12 ppb yang terdeteksi dan
mengindikasikan penuaan normal dari isolasi padat.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 79
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

F. Metals-in-Oil
Metals-in-Oil (ASTM D3635), Expressed in ppm
Date
Alumunium Iron Copper
12/5/2011 0.05 0.25 0.08
9/3/2015 Not Detected Not Detected 0.02
Tabel 4.20 Metals in Oil
Dari data analisis logam dalam minyak memperlihatkan
jumlah logam terlalut yang dideteksi dibawah 2 ppm, sehingga
berada pada level acceptable.
G. Liquid Power Factor
Liquid Power Factor (ASTM D924)
Date
25°C 100°C
12/5/2011 0.100 3.720
9/3/2015 0.060 4.360
Tabel 4.21 Liquid Dissipation Factor
Dari data faktor daya cairan minyak pada pengujian pertama
baik pada suhu 25°C maupun 100°C merupakan questionable, ini
mengindikasikan minyak terkontaminasi oleh produk hasil
oksidasi atau ketidakmurnian. Sedangkan pada pengujian kedua
pada suhu 25°C menunjukkan acceptable tetapi pada 100°C
merupakan unacceptable yang disebabkan karena moisture,
produk oksidasi, ataupun kontaminasi.
H. Inhibitor Content
Inhibitor Content, DBPC (ASTM D2668)
Date
% by Weight
12/5/2011 Not Detected
9/3/2015 Not Detected
Tabel 4.22 Liquid Dissipation Factor
Dari data konten inhibitor (zat penghambat) tidak terdeteksi,
sehingga unacceptable. Ini menyebabkan minyak isolasi akan
teroksidasi lebih cepat dan menurunkan kualitas isolasi kertas.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
80 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

I. Corrosive Sulfur
Corrosive Sulfur (ASTM 1275B)
Date
Status Class Appearance
12/5/2011 Non-Corrosive 2C Lavender Blue
9/3/2015 Non-Corrosive 3A Magenta
Tabel 4.23 Corrosive Sulfur
Dari analisis sulphur korosif dites pada copper strip yang
menghasilkan perubahan warna pada pegngujian pertama
menjadi biru lavender pada status non-korosif 2C dan pada
pengujian kedua menjadi magenta pada status non-korosif 3A.
 Rekomendasi
o Pengetesan kembali diperlukan dalam 6 bulan untuk
memonitor kondisi minyak, dilakukan regenerasi minyak
jika diperlukan untuk menghilangkan kontaminan.
o Menambahkan inhibitor 2,6-DBPC hingga batas 0.3%
untuk meminimalisir oksidasi minyak. Sehingga
penurunan kualitas minyak akan melambat dan
melindungi dan melestarikan material isolasi trafo.
o Menambahkan passivator sebagai lapisan permukaan
tembaga untuk menangkal serangan dari sulfur korosif.
Hal ini dapat dilakukan ketika purifikasi atau regenerasi
minya transformator.
o Diperlukan pengetesan DGA dalam 3-6 bulan untuk
memonitor generasi dan profil gas. Hal ini diperlukan
untuk inspeksi dan diagnosis kegagalan pada
transformator.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 81
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

4.7.2.3 Transformator Line III Main Substation 150 kV

Gambar 4.9 Tranformator Line III Main Substation 150 kV


Transformator Line III mensuplai pabrik untuk area Raw Mill,
Kiln, dan Coal Mill (RKC) Tuban 2 dengan spesifikasi sebagai
berikut.

Gambar 4.10 Spesifikasi Transformator Line III


Sesuai dengan pengujian pada tanggal 12 Mei 2011, untuk
Transformator Line III Main Substation 150 kV, didapatkan hasil
sebagai berikut.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
82 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

A. Inspeksi Visual
Silica
Level Oil Temp °C Winding Temp °C Paint Leaks
Gel
Yes : Main
Normal 51 49 Fair Bad
Tank Cover
Tabel 4.24 Inspeksi Visual
Dari data inspeksi visual terlihat,
 Suhu transformator ketika operasi keadaan normal.
 Warna bodi pudar.
 Kondisi silica gel jelek (pudar) dikarenakan operasi terus
menerus dan pernapasan transformator berjalan.
 Terjadi kebocoran minyak, ini disebabkan oleh korosi atau
kesalahan fabrikasi.
Kemudian terdapat inspeksi visual harian tanggal 18 Juli 2016
oleh Seksi Pemeliharaan Listrik 1-2 ditunjukan pada tabel
dibawah.
Oil Level SF6
Silica Gel Oil Temp °C Winding Temp °C
(%) (Psi)
Pudar 53 50 60 -
Tabel 4.25 Inspeksi Visual Harian oleh Seksi Pemeliharaan 1-2
Dari data terlihat bahwa kenaikan suhu diakibatkan operasi
transformator yang berlanjut setiap waktu, level minyak
menunjukkan level pada tranformator, sedangkan tekanan SF6
tidak terekam.
B. Liquid Screen Test
ASTM D971 ASTM
ASTM D974 IEC 156 ASTM ASTM
Interfacial D4052
Acidity Dielectric BDV D1500 D1524
Tension Spesific
(mgKOH/gm) (kV) Colour Visual
(mN/m) Gravity
0.008 43.2 83 0.5 0.8748 Clear
Tabel 4.26 Liquid Screen Test
Dari data tes liquid screen dapat dilihat,
 Acidity (keasaman) dan interfacial tension (tegangan
antar permukaan) berada pada level acceptable.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 83
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

 Breakdown voltage (tegangan tembus) minyak berada


pada level acceptable.
 Colour (warna), specific gravity, dan visual untuk minyak
acceptable.
Kemudian dilakukan pengujian untuk parameter tegangan
tembus (BDV) pada tanggal 12 Oktober 2015 yang didapatkan
senilai 57 kV, ini menunjukkan nilai acceptable.

Gambar 4.11 Hasil Oil Test Breakdown Voltage (BDV) Trafo Line III
C. Dissolved Gas Analysis
Dissolved Gas Analysis (ASTM D3612 and ASTM D3612-B), Expressed in ppm
Carbon Carbon
Date Hydrogen Oxygen Nitrogen Methane
Monoxide Dioxide
4 28164 45420 4 228 19377
Total
12/5/2011 Ethane Ethylene Acetylene Total Gas
Combustible
Not
2 21 259 75780
Detected
Carbon Carbon
Date Hydrogen Oxygen Nitrogen Methane
Monoxide Dioxide
34 12761 41707 11 512 7273
Total
24/8/2016 Ethane Ethylene Acetylene Total Gas
Combustible
2 50 <1 609 6.24 (%Gas)
Tabel 4.27 Dissolved Gas Analysis
Dari data dissolved gas analysis (DGA) atau analisis gas
terlarut dapat dilihat,

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
84 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

 Pada uji pertama, semua parameter profil gas


menunjukkan operasi dan penuaan normal pada trafo.
 Pada uji kedua, terdapat konsentrasi gas metana dan
etana yang tinggi disebabkan oleh thermal fault dengan
menghasilkan etilena. Selain itu, rasio antara karbon
dioksida/karbon monoksida menunjukkan penuaan
abnormal dengan kegagalan akibat kertas isolasi ataupun
kerusakan minyak isolasi.
 Sehingga perlu dilakukan sampel tes DGA dalam 3-6 bulan
kedepan untuk mengetahui karakteristik serta
pengambilan keputusan pemeliharaan transformator yang
tepat.
D. Water Content
Water Content (ASTM D1533), Expressed in ppm
Temp °C PPM %M/dw Grade
39 6 0.33 A
Tabel 4.28 Water Content
Dari data kandungan air dalam minyak dapat dilihat,
 Kandungan air dalam minyak berada pada batas
acceptable yaitu 6 ppm.
 Pada isolasi padat, kandungan air pada estimasi
0.33%M/dw dan dikategorikan dalam grade A.
 Pada trafo jenis ini disarankan untuk menjaga kandungan
air dibawah 20 ppm.
E. Furan Analysis
Furan Analysis (ASTM D5837), Expressed in ppb
5H2F 2FOL 2FAL 2ACF 5M2F Total
Not Not Not Not Not Not
Detected Detected Detected Detected Detected Detected
Tabel 4.29 Furanic Compound
Dari data analisis furan terlihat bahwa isolasi kertas dalam
kondisi baik dengan tidak ada senyawa furanik yang terdeteksi.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 85
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

F. Metals-in-Oil
Metals-in-Oil (ASTM D3635), Expressed in ppm
Alumunium Iron Copper
0.05 0.23 0.01
Tabel 4.30 Metals in Oil
Dari data analisis logam dalam minyak memperlihatkan
jumlah logam terlalut yang dideteksi dibawah 2 ppm, sehingga
berada pada level acceptable.
G. Liquid Power Factor
Liquid Power Factor (ASTM D924)
25°C 100°C
0.000 0.760
Tabel 4.31 Liquid Dissipation Factor
Dari data faktor daya cairan minyak baik pada suhu 25°C
maupun 100°C berada pada batas acceptable.
H. Inhibitor Content
Inhibitor Content, DBPC (ASTM D2668)
% by Weight
0.19
Tabel 4.32 Liquid Dissipation Factor
Dari data konten inhibitor (zat penghambat) terdeteksi 0.19%
berat, sehingga questionable. Kekurangan oil inhibitor akan
menyebabkan minyak isolasi akan teroksidasi lebih cepat dan
menurunkan kualitas isolasi kertas.
I. Corrosive Sulfur
Corrosive Sulfur (ASTM 1275B)
Status Class Appearance
Corrosive 4A Transparent Black
Tabel 4.33 Corrosive Sulfur
Dari analisis sulphur korosif dites pada copper strip yang
menghasilkan perubahan warna menjadi hitam transparan, abu
kelam atau coklat dengan hijau merak mengindikasikan bahwa

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
86 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

sulphur di dalam minyak mempunyai sifat korosif, status


korosif 4A. Dengan ini ada kemungkinan bahwa copper sulfide,
Cu2S terbentuk.
 Rekomendasi
o Pengetesan kembali diperlukan dalam 6 bulan untuk
memonitor kondisi minyak, dilakukan regenerasi minyak
jika diperlukan untuk menghilangkan kontaminan.
o Menambahkan inhibitor 2,6-DBPC hingga batas 0.3%
untuk meminimalisir oksidasi minyak. Sehingga
penurunan kualitas minyak akan melambat dan
melindungi dan melestarikan material isolasi trafo.
o Menambahkan passivator sebagai lapisan permukaan
tembaga untuk menangkal serangan dari sulfur korosif.
Hal ini dapat dilakukan ketika purifikasi atau regenerasi
minya transformator.

4.7.3 Data dan Analisis Motor


Pada bagian ini, yang akan dibahas, adalah motor medium
voltage atau tegangan menengah sebesar 6 kV (6000 V) pada
Pabrik Tuban Area 1-2 berikut juga pada bagian Finish Mill 1-2.
Data yang disajikan merupakan parameter temperature atau
suhu, kondisi bearing (gSE), serta nilai vibrasi dari motor dengan
inspeksi harian pada masing-masing seksi yang bersangkutan
sebagai berikut.
Temperature Motor Bearing (gSE) Vibrasi
Equipment
DE Body NDE DE NDE DE NDE
322BC8M01
322BC1M01
342FN6M01 47 39 35 1.2 1.4 1.1 0.9
342RM1M01 50 48 43 13.6 3.4 2.8 1.9
342RM1M02
342FN4M01 46 37 33 0.2 0.0 1.2 0.8

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 87
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

342FN5M01 44 41 36 0.2 0.2 1.3 0.0


442FN1M01 44 44 47 3.2 3.4 3.2 3.5
442FN2M01 44 46 37 7.9 6.3 1.9 2.9
442KL1M01 48 50 46 1.6 0.6 0.0 1.5
442KL1M02 48 49 45 2.4 3.5 0.9 2.8
442FNFM01 43 41 37 1.8 1.6 1.7 1.7
442FNGM01 41 43 39 1.5 1.8 1.0 2.8
442FNQM01
442FNRM01 46 35 43 1.0 0.0 0.0 1.1
442FNSM01 40 51 38 0.5 0.8 1.1 1.0
472RM1M01 47 48 39 1.3 0.3 1.5 0.9
472RM1M02
472FN1M01 57 56 44 0.7 1.5 1.2 1.1
*Berdasarkan Laporan Inspeksi Motor 6kV, Inverter & Motor DC
Tuban 2 oleh Seksi Pemeliharaan Listrik RKC 1-2, 8 Juni 2016

*RPM
541MM1M01 46 595 48 1.2 0.2 1.5 0
541CR1M01 36 990 57 2.4 2.3 1.2 1
541CR1M02 35 990 47 1.3 1.2 1.7 1.9
541FN7M01 35 990 47 3.3 0.9 2.8 1.2
*Berdasarkan Laporan Inspeksi Motor Medium Voltage Grup 541 oleh
Seksi Pemeliharaan Listrik FM 1-2, 10 Agustus 2016

542MM1M01 65 595 47 3.1 1.7 2 0.9


561FN7M01 49 990 37 2.7 0.2 3.8 3.4
Bottom Silo
561FN1M01 52 990 40 1.1 0.6 3.2 4.5
561RF2M01 46 990 54 0 0.2 2 1.3
*Berdasarkan Laporan Inspeksi Motor Medium Voltage Grup 542 &
561 oleh Seksi Pemeliharaan Listrik FM 1-2, 12 Agustus 2016

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
88 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

543MM1M01 47 595 38 1.8 0.2 1.8 0.8


543CR1M01 46 990 38 4.9 1.2 0.8 1.5
543CR1M02 43 990 32 2.4 1.8 1 0.7
*Berdasarkan Laporan Inspeksi Motor Medium Voltage Grup 543 oleh
Seksi Pemeliharaan Listrik FM 1-2, 23 Juni 2016

544MM1M01 48 595 44 0.3 0.3 0 0


544CR1M01 50 990 41 1.1 0.2 0.8 1.2
544CR1M02 48 990 43 0.8 0.3 0 0
544CR1M04 41 1450 36 0.5 0.8 1.5 3.7
544FN7M01 50 990 45 1.1 0.6 2.2 3
*Berdasarkan Laporan Inspeksi Motor Medium Voltage Grup 544 oleh
Seksi Pemeliharaan Listrik FM 1-2, 25 Juli 2016
Tabel 4.34 Hasil Inspeksi Motor

Gambar 4.12 Ilustrasi Inspeksi Motor


Dengan menggunakan standar yang diberlakukan pada
Pemeliharaan Listrik di Pabrik Tuban Area 1-2 PT Semen
Indonesia (Persero) Tbk sebagai berikut.
Nilai Standar Parameter Pemeliharaan Motor
No Item Nilai Kategori
70 - 80 Alarm
1 Temperature
80 - 100 Danger
3-4 Alarm
2 gSE
>4 Danger

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 89
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

3-4 Alarm
3 Vibrasi
>4 Danger
Tabel 4.35 Standar Parameter Motor
Sehingga dengan begitu dapat diperhatikan untuk parameter
yang ditandai dengan warna kuning dan merah, harus dilakukan
perhatian pemeliharaan sebagai berikut.
 Temperatur
Motor yang memiliki suhu operasi yang tinggi dapat
disebabkan oleh banyak faktor, seperti kegagalan,
parameter, ataupun lingkungan. Cara menanggulanginya
adalah sebagai berikut.
o Mengubah konstruksi motor, seperti bahan penyusun
komponen rotor, stator, dan bodi serta menambah kipas
pendingin (fan cooler).
o Memberikan lapisan proteksi motor sesuai standar NEMA.
o Kasus khusus seperti pemeliharaan motor tertentu.
 Bearing
Bearing dari motor berfungsi sebagai support lokasi rotor,
memberikan celah udara yang konsisten serta mentransfer
beban dari shaft menuju motor. Sehingga perlu diperhatikan
dalam pemeliharaannya adalah sebagai berikut.
o Sesuai dengan kebutuhan seperti beban yang ditanggung,
kecepatan, kopel, serta pengaturan lain. Selain itu
dengan kondisi lingkungan seperti kelembaban, suhu, dan
juga parameter seperti vibrasi, noise, dan umur bearing.
o Memberikan lubrikasi atau grease pada bearing sehingga
menjaga performansi motor tersebut. Apabila sudah tidak
dapat dilakukan lagi, perlu dilakukan penggantian bearing
pada servis motor.
 Vibrasi
Vibrasi pada motor dapat menimbulkan permasalahan
tertentu pada pengoperasian motor baik yang disebabkan

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
90 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

oleh motor (primary) ataupun peralatan lain (auxillary).


Sehingga hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
o Penyebab dari munculnya vibrasi tersebut apakah akibat:
 imbalance (persebaran beban yang tidak rata
karena kesalahan fabrikasi atau pemeliharaan),
 misalignment/shaft runout (tidak lurus sumbu linier
batang utama motor karena pemasangan,
pemanasan, pergeseran, atau pemeliharaan yang
kurang tepat),
 wear (komponen motor yang sudah worn out atau
usang karena operasi), atau
 looseness (longgar atau kendur pada bagian motor
seperti bearing atau mount)
o Sehingga diperlukan pemeliharaan seperti pengecekan
parameter dan komponen tersebut diatas, serta diuji
menggunakan standar yang berlaku. Selain itu yang paling
penting pada vibrasi, terkadang terlihat pada pondasi
atau mounting yang kurang baik.
Selain kondisi diatas, pemeliharaan motor juga meliputi
rewinding atau menyusun belitan baik dari stator dan/atau rotor
kembali untuk mengembalikan performa dari motor
dibandingkan dengan penggantian motor apabila dilihat dari sisi
ekonomis.

Gambar 4.13 Proses Rewinding dan Servis Pemeliharaan Motor

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 91
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
92 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Studi pemeliharaan peralatan listrik terutama pada
transformator main substation dan motor medium voltage ini
berfungsi untuk mengetahui kondisi dari peralatan tersebut dari
parameter-parameter pengujian yang dilakukan serta
merupakan upaya pemeliharaan dari peralatan tersebut agar
terhindar dari kerusakan. Berdasarkan hasil studi pemeliharaan
yang kami lakukan dengan data-data pengujian yang ada,
kondisi dari transformator yang ada di main substation pabrik
Tuban 1 dan 2 masih dalam kondisi operasi normal dari
parameter hasil uji yang nilainya masih dalam batas wajar atau
acceptable, hanya terdapat parameter yang perlu dilakukan
tindakan seperti pada rekomendasi serta pencegahan. Dengan
catatan, perlu dilakukan pengujian ulang untuk memverifikasi
hasil tersebut sebagai evaluasi kedepannya.
Untuk kondisi motor medium voltage yang ada pada pabrik
Tuban 1 dan 2 berdasarkan data inspeksi yang kami peroleh
terdapat 4 buah motor yang berada dalam kondisi berbahaya
danger dari parameter vibrasi dan kondisi bearingnya yaitu pada
motor 342RM1M01, 442FN2M01, 561FN1M01, 543CR1M01. Selain
itu, terdapat sekitar 7 buah motor dalam keadaan waspada atau
alarm yaitu pada motor 442FN1M01, 442KL1M02, 541FN7M01,
542MM1M01, 561FN7M01, 544CR1M04, dan 544FN7M01. Serta
sisanya masih dapat dikategorikan dalam keadaan normal dan
dapat beroperasi dengan baik. Dengan demikian itu, perlu
dilakukan pemeliharaan pada motor-motor tersebut diatas
seperti yang telah dijelaskan pada bagian akhir pembahasan,
seperti penambahan pelumas atau grease untuk bearing dan
lebih baiknya dilakukan penggantian ataupun servis, serta
pengecekan parameter untuk vibrasi seperti mounting, dll.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 93
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

5.2 Saran
Selama melakukan kerja praktek di lapangan dan melakukan
penyusunan laporan, kami tidak memiliki kendala. Tetapi
adapun saran yang kami berikan sebagai berikut:
 Dalam melaksanakan kerja lapangan diharapkan seluruh
pekerja mematuhi Standar Keselamatan Kerja. Oleh
karena itu diharapkan untuk yang bekerja di area
Produksi Semen yang beresiko tinggi agar menggunakan
perlengkapan safety yang lengkap demi keselamatan
diri dan orang lain.
 Dalam melakukan upaya preventive yang lebih baik
disarankan untuk melakukan pengecekan berkala
terhadap kondisi peralatan-peralatan listrik sehingga
apabila terdapat kerusakan ringan bisa segera diatasi
sebelum kerusakannya menjadi parah dan mengganggu
keberlangsungan operasional pabrik Tuban PT. SEMEN
INDONESIA (Persero), Tbk.
 Diperlukan pengujian-pengujian selain yang telah
dilakukan pada pabrik Tuban untuk menambah data
serta parameter pemeliharaan. Selain itu, perekapan
data dan keberlangsungan pemeliharaan perlu dijaga.
 Kami berharap untuk ke depannya terjalin hubungan
yang baik secara terus menerus antara PT. SEMEN
INDONESIA (Persero), Tbk. Tuban Plant dengan pihak
akademik ITS Surabaya dalam bentuk bimbingan
lapangan dan kerja sama di bidang pemeliharaan dan
instrumentasi.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
94 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

DAFTAR PUSTAKA

Diktat Kuliah Pemeliharaan Perlatan Listrik. Teknik Elektro ITS

Gill, Paul. 1998. Electrical Power Equipment Maintenance and


Testing, Second Edition. Marcel Dekker, Inc.

Stone, G.C., Culbert, I., Boulter, E.A., Dhirani, H. 2014.


Electrical Insulation for Rotating Machines: Design, Evaluation,
Aging, Testing, and Repair, Second Edition. John Wiley & Sons,
Inc. and IEEE.

Kiameh, Phillip. 2003. Electrical Equipment Handbook:


Troubleshooting and Maintenance. McGraw-Hill Companies, Inc.

Myers, S.D., Kelly, J.J., Parrish, R.H., Raab, E.L. 1981. A Guide
to Transformer Maintenance. S.D. Myers Inc.

IEEE, IEC, ANSI, ASTM, et al. Standards being used.

Several articles about Motor and Transformer Maintenance.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 95
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
96 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Panggilan Kerja Praktek dari PT Semen


Indonesia (Persero) Tbk.

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 97
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Lampiran 2. Surat Pengantar ke Pembimbing Lapangan Kerja


Praktek

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
98 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Lampiran 3. Daftar Hadir Kerja Praktek

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 99
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
100 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember 101
Laporan Praktek Kerja Industri tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2016
Di PT SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknologi Industri
102 Institut Teknologi Sepuluh Nopember