Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN NEKROPSI KUCING

Selasa, 11 Desember 2018

Disusun Oleh :
Kelompok K
PPDH Angkatan IV Tahun 2017/2018

Dosen Tentor :
Drh Vetnizah Juniantito, PhD APVet

Dosen Penanggung Jawab :


Prof Drh Ekowati Handharyani, MS PhD APVet

DIVISI PATOLOGI
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
LAPORAN TEMUAN NEKROPSI

Nomor Protokol P/269/18

Anamnesa

Kadaver adalah seekor kucing jantan berwarna hitam putih yang tidak
dikastrasi. Berdasarkan keterangan pada pembungkus kadaver, kucing tersebut
bernama Tompel dan mati pada tanggal 28 Juli 2018 pukul 16.17 WIB. The
Humane Society of the United States (1996) mengatakan bahwa gigi kucing
permanen yang lengkap dapat ditemukan mulai usia 5-7 bulan dan gigi berwarna
putih bersih menunjukkan bahwa kucing berumur sekitar 1 tahun. Berdasarkan hal
tersebut, kucing yang dilakukan nekropsi memiliki usia sekitar 1 tahun.

Temuan Patologis

Hasil pemeriksaan luar kucing ditemukan adanya darah yang keluar dari
hidung dan mulut. Selain itu, terlihat feses encer berwarna kuning keluar dari
anus. Gingiva dan mukosa buccalis berwarna pucat. Membrana nictitans pada
kedua mata menutup sebagian. Subkutis lembab dengan lapisan lemak yang tebal.
Terdapat genangan cairan berwarna merah di rongga abdomen sebanyak 6 mL
tanpa adanya bekuan darah. Genangan cairan berwarna merah juga terdapat di
rongga thoraks sebanyak 17 mL tanpa adanya bekuan darah.
Limfonodus mandibularis, retropharyngealis dan axillaris kanan mengalami
pembesaran. Semua lobus paru-paru berwarna merah gelap dengan konsistensi
yang memadat, tidak ada krepitasi dan hampir seluruh bagian tenggelam saat
dilakukan uji apung. Saat hati diinsisi, darah keluar dari sisi sayatan. Limpa
membesar dengan tepian tumpul, saat disayat dan diusap dengan pisau tidak ada
jaringan yang menempel pada pisau. Medulla renalis kiri dan kanan berwarna
merah. Seluruh bagian usus berwarna kemerahan, Peyer patches terlihat lebih
jelas dan terdapat eksudat catarrhal di sepanjang lumen usus.

Lesio

Rongga thoraks : Hidrothoraks


Rongga abdomen : Ascites
Limfonodus : Limfodenitis mandibularis dextra
Limfodenitis retropharyngealis dextra
Limfodenitis axillaris dextra
Paru-paru : Diffuse pneumonia
Kongesti paru-paru
Hati : Kongesti hati
Limpa : Kongesti limpa
Ginjal : Kongesti ginjal kanan dan kiri
Usus : Diffuse enteritis catarrhalis
Pembahasan

Kucing Tompel diduga mati karena menderita feline infectious peritonitis


(FIP). Menurut Andrew (2000), ciri-ciri patologi anatomi kucing yang menderita
FIP antara lain adalah ditemukannya cairan dalam rongga thoraks dan abdomen
serta kongesti dan hiperemi paru-paru. Pada kucing Tompel, ditemukan cairan
berwarna merah pada rongga thoraks dan abdomen namun tidak ditemukan
gumpalan darah. Hal ini menandakan bahwa cairan tersebut bukan akibat
pendarahan melainkan akibat imbibisi hemoglobin. Menurut Hartman et al.
(2003), terjadi pengembangan kapsula, kongesti, fibrosis, endapan protein dan
infiltrasi sel radang pada limpa kucing yang menderita FIP.
Dalam waktu 2 minggu setelah infeksi, virus akan menyebar hingga ke
sebagian besar usus dan dapat menyebar ke organ lainnya (Arimbi 2010).
Akibatnya, terjadi peradangan pada sebagian besar usus (diffuse enteritis) serta
organ-organ yang terinfeksi. Diffuse enteritis menyebabkan gangguan penyerapan
nutrien sehingga terjadi kelemahan dan menurunnya imunitas kucing. Jika hewan
yang terinfeksi tidak memproduksi antibodi secara maksimal, akan terjadi
penimbunan cairan terutama di rongga dada dan abdomen (Arimbi 2010).
Atria mortis pada kucing tersebut disebabkan karena pneumonia. Adanya sel
radang dalam alveol menyebabkan gangguan pertukaran udara sehingga kucing
mengalami sesak napas. Hal ini menyebabkan kondisi hipoksia pada kucing dan
berujung pada kematian.

Simpulan

Kematian kucing diduga disebabkan feline infectious peritonitis dengan atria


mortis pneumonia. Differensial diagnosa dari penyebab kematian tersebut adalah
feline lower respiratory disease.

Daftar Pustaka

Andrew SE. 2000. Feline infectious peritonitis. Vet Clin North Am Small Anim
Prac. 30(5): 987–1000.
Arimbi. 2010. Studi kasus: suspect feline infectious peritonitis (FIP) pada kucing
ras di Surabaya. Veterinaria Medica. 3(2): 109–114.
Hartman K, Binder C, Hirschberger J. 2003. Comparison of different test to
diagnose feline infectious peritonitis. Journal of Veterinary Medicine. 17(6):
781–790.
The Human Society of United States. 1996. How to determine a cat’s or dog’s age.
Pada http://www.ruralareavet.org/PDF/Physical_Exam-How_to_Determine_
Age.pdf . Diakses pada: 11 Desember 2018