Anda di halaman 1dari 10

MODUL PERKULIAHAN

ETIK UMB

ETIKET PERGAULAN

Program Tatap
Fakultas Kode MK Disusun Oleh
Studi Muka
Fasilkom Sistem 09 90004 Hani Yuniani, M.Ikom
Informasi

Abstract Kompetensi

Pergaulan diperluka dalam rangka Setelah mengikuti perkuliahan ini


memprluas ejaring yang nantinya mahasiswa diharapkan mampu
dapat mengantarkan kesuksesan menjelaskanpengertian bergaul dan
hidup. Dalam berintraksi dengan etiket pergaulan, menjelaskan
orang lain, diperlukan tata
cara/etiket manfaat pergaulan dan hambatan
pergaulan menerapkan etiket dalam
pergaulan.
Pembahasan
I. Etiket

Pengertian etiket dan etika sering dicampuradukkan, padahal kedua istilah tersebut

terdapat arti yang berbeda, walaupun ada persamaannya. Istilah etika sebagaimana

dijelaskan sebelumnya adalah berkaitan dengan moral (mores), sedangkan kata etiket

adalah berkaitan dengan nilai sopan santun, tata krama dalam pergaulan formal.

Persamaannya adalah mengenai perilaku manusia secara normatif yang etis. Artinya

memberikan pedoman atau norma-norma tertentu yaitu bagaimana seharusnya seseorang

itu melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan. Istilah etiket berasal dari

Etiquette (Perancis) yang berarti dari awal suatu kartu undangan yang biasanya

dipergunakan semasa raja-raja di Perancis mengadakan pertemuan resmi, pesta dan

resepsi untuk kalangan para elite kerajaan atau bangsawan. Dalam pertemuan tersebut

telah ditentukan atau disepakati berbagai peraturan atau tata krama yang harus dipatuhi,

seperti cara berpakaian (tata busana), cara duduk, cara bersalaman, cara berbicara, dan

cara bertamu dengan si kap serta perilaku yang penuh sopan santun dalam pergaulan

formal atau resmi. Definisi etiket, menurut para pakar ada beberapa pengertian, yaitu

merupakan kumpulan tata cara dan sikap baik dalam pergaulan antar manusia yang

beradab. Pendapat lain mengatakan bahwa etiket adalah tata aturan sopan santun yang

disetujui oleh masyarakat tertentu dan menjadi norma serta panutan dalam bertingkah laku

sebagai anggota masyarakat yang baik dan menyenangkan.

Menurut K. Bertens (2004), yaitu selain ada persamaannya, dan juga ada empat perbedaan

antara

etika dan etiket, yaitu secara umumnya sebagai berikut:

1. Etika adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan

niat baik atau buruk sebagai akibatnya.


Etiket adalah menetapkan cara, untuk melakukan perbuatan benar sesuai dengan yang

diharapkan.

2. Etika adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang

sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya. Etiket adalah formalitas (lahiriah), tampak dari

sikap luarnya penuh dengan sopan santun dan kebaikan.

3. Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik

mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi. Etiket bersifat relatif, yaitu yang

dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan daerah tertentu, tetapi belum tentu di tempat

daerah lainnya.

4. Etika berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir. Etiket

hanya berlaku, jika ada orang lain yang hadir, dan jika tidak ada orang lain,maka etiket itu

tidak berlaku.

II. Perilaku Yang sebaiknya dihindari di Tempat Bekerja

Selain pembahasan etiket secara umum , ada beberapa perilaku “menyebalkan” yang

sebaiknya idak dilakukan di kantor atau tempat bekerja. Perhatikan ilstrasi berikut ini :

Sebuah tim kerja menghadapi hari terakhir sebelum deadline. Mereka sedang duduk di

ruangan rapat untuk progress review meeting. Satu persatu staff menyajikan hasil tugasnya.

Akhirnya, sampai pada giliran salah satu staf, tetapi tidak ada presentasi apapun karena

staff itu tidak datang. Maka, pimpinan memutuskan, bahwa tugas yang mustinya dilakukan

oleh staff yang tidak datang itu diambil alih oleh staff lain dan dibantu oleh staf-staf yang

lain… ”Ini harus dilakukan sekarang. Saya tunggu hasil kerja Anda, nanti malam….! Besok

musti sudah selesai…! Tidak ada alasan apapun yang menunda schdule kita.”

“Nyebelin?” Ya. Susah mencari bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk
menggantikan bahasa gaul ini. Mohon maaf sebesar-besarnya. Kata ini dipilih maksudnya

untuk menggambarkan sebuah hal yang mengganggu, meskipun tidak terlalu yang

memunculkan banyak kerepotan.

Para leader, membaca sekilas cerita kecil itu, apa yang Anda rasakan? Saya kira

Anda merasakan apa yang disebut : “sebel”. Kejadian ini menyebalkan. Mengganggu moral

kerja team. Akan menjadi potensi konflik yang menghancurkan moral team kerja. Konflik

yang mengarah pada kehancuran team kerja bisa disebabkan karena “perilaku-perilaku

nyebelin” dari salah seorang anggota team kerja. Bagi rekan kerja yang ketiban ‘pulung’

mendapat job ekstra, tentunya menggerutu yang ada akhiirnya mmbuat keengganan

mengerjakan job limpahan itu.

Perilaku apa yang “nyebelin”? Pada intinya adalah perilaku-perilaku yang bertolak

belakang dari idealnya sebuah suasana kerja yang diharapkan oleh team kerja. Perlu Anda

ketahui bahwa perilaku nyebelin ini adalah penyakit yang paling mudah menular! Kinerja

kelompok yang mustinya bagus, rusak gara-gara munculnya perilaku-perilaku menyebalkan

itu.

Dari pengamatan dalam dunia kerja, diketemukan bahwa perilaku nyebelin banyak dipakai

sebagai alasan oleh staf-staf yang ‘tidak kompeten’. Mengapa demikian? Perilaku-perilaku

nyebelin ini menjadi semacam kompensasi dari ketidakmampuan staf.Staff menunjukkan

perilaku nyebelin ini untuk menutupi ketidakmampuannya! Kesadaran akan perilaku nyebelin

ini mendorong anggota team kerja yang lain untuk menghindari perilaku ini.

1.Perilaku absen karena sakit

Ini adalah perilaku yang paling banyak digunakan oleh siapapun di dunia kerja. Tidak heran

jika perilaku ini menduduki peringkat alasan nomor satu. Tidak pernah diketemukan
seorangpun di dunia kerja yang tidak pernah menggunakan kesempatan ‘sakit’. Maka,

banyak perusahaan terpaksa menerapkan peraturan ‘harus menyertakan surat periksa

dokter’. Tetapi menjadi masalah lanjutan karena surat dokter itu, gampang dibeli dengan

harga sangat murah. Sakit juga dinilai lumrah, karena siapapun orangnya pasti suatu saat

akan sakit. Sehingga banyak staff akan menggunakan kelumrahan ini untuk berpura-pura

sakit. Tidak peduli sakit pada saat genting: deadline! Pokoknya sakit.

2. Perilaku tidak menghargai waktu

Kadang kala, para Leader mengira bahwa bonus bisa membuat staff bergairah dalam kerja.

Ternyata, banyak para Leader yang keliru dalam hal ini. Ia lupa bahwa, staff tidak selalu

terdorong oleh iming-iming bonus.

Bonus sangat tidak menarik bagi staff yang tidak perform dan ternyata tidak

kompeten dalam pekerjaannya. Lagipula bonus tidak menarik juga bagi staff yang cheat:

“nyambi” kerja di tempat lain sehingga ‘terpaksa’ menomorduakan tugas di tempat Anda!

Contoh perilaku nyebelin yang paling gampang diketemukan: sering datang

terlambat, keluar makan siang lebih dari waktu yang wajar atau yang ditentukan, lebih sering

terlambat menyerahkan hasil tugasnya, lebih senang memakai computer di kantor untuk

chatting atau browsing.

Perilaku nyebelin ini menjadi masalah besar. Mustinya para Leader turun tangan secara

langsung untuk memperhatikan pola-pola perilaku yang dimunculkannya. Barangkali Anda

perlu mengirimkan staff itu ke pelatihan atau kursus, atau memang harus diganti, sebelum

merusak kinerja team yang lebih besar.

“Anda musti teliti dengan pesan tersirat dari perilaku itu” Kata Barry L. Brown, seorang
konsultan HRD terkemuka di Florida “Jika staff tampak tidak peduli dengan pekerjaannya,

Anda mungkin telah merekrut orang yang salah, dan Anda perlu menghentikan statusnya

sebagai karyawan dan menggantikan dia ke posisi lain.”

3. Perilaku sinis dan tidak kooperatif

Perilaku nyebelin juga sering ditunjukkan dengan sikap-sikap sinis atau tidak kooperatif.

Misalnya, Anda melihat staff duduk seenaknya ketika Anda datang ke meja dia dan ia tidak

segera memperbaiki sikapnya. Perilaku nyebelin ini menunjukkan rendahnya rasa hormat

staff kepada pimpinan dan sekaligus tidak hormat kepada organisasi. Yang lebih nyebelin

adalah, perilaku mengeluarkan kata-kata sinis. Ia membela diri dengan sinis.

Ia arogan dan merasa tidak ada seorangpun yang boleh menilai kinerjanya dan karena itu

tidak ada yang punya kuasa untuk memecatnya!

Perilaku nyebelin yang ini hanya bisa diatasi dengan cara : tegur dengan keras tiga kali dan

bila tetap tidak berubah, bebaskan dia dari tugas, kemudian pindahkan ke bagian lain, dan

bila tetap tidak berubah, pecat! Selesaikan sebelum menular ke staff lain.

4. Bau badan: bukti perilaku tidak menghargai diri sendiri dan orang lain

Perilaku nyebelin ini mungkin yang paling nyebelin dan susah diatasi. Problem ini sangat

individual dan cukup sering terjadi. Ada saja diketemukan staff yang benar-benar tidak

peduli dengan kesehatan dirinya. Dia tampil jorok di tempat kerja, bau badan yang

menyengat, tidak gosok gigi, matanya merah seakan tidak tidur berhari-hari, kaos kaki bau,

atau rambut acak-acakan. Contoh lagi, perilakunya yang tidak peduli pada kebersihan meja

kerja dan ruangannya. Gelas kopi dibiarkan berhari-hari…kertas-kertas bekas bertumpuk,

potongan makanan sisa, mmmhhh… bukankah ini perilaku yang nyebelin bukan?
Bagaimana Anda akan tegur karyawan yang, maaf, bau badan berlebihan? Mungkin, Anda

bisa bilang: “Kamu kok bau banget sih?” Hahaha, jelas itu bukan saran saya. Tetapi, agar

staff tidak tersinggung, Anda musti mencari kalimat teguran lain yang tidak mencela.

Susah untuk membantu Anda dalam hal ini. Pilihan kata-kata sangat tergantung pada

dimensi emosional Anda, yang saya tidak ketahui. Cara lain untuk tidak perlu konfrontasi

langsung adalah minta tolong orang lain yang lebih senior untuk menegurnya. Tetapi,

masalah perilaku seperti ini sebaiknya diselesaikan antar pribadi, bukan konfrontasi di meja

rapat.

5. Demam Handphone

Menelpon atau SMS pada saat kerja cukup sering mengganggu. Apalagi pada saat meeting.

Coba para Leader perhatikan, pada saat meeting, berapa kali harus jeda hanya untuk

menunggu salah satu anggota menerima telpon? Atau berapa kali Anda perhatikan, staff

lebih sibuk mengetik sms daripada memperhatikan anggota lain sedang mengemukakan

pendapatnya?

Memang handphone sudah menjadi bagian yang bermanfaat untuk setiap individu. Tetapi

sekaligus membuat penyakit demam handphone yang bisa kronis. Berapa kali dalam sehari

Anda menengok HP Anda? Seakan-akan hidup segera kiamat bila dalam satu jam di

kerjaan Anda tidak menengok apakah ada SMS, apakah ada miss call?

Perilaku nyebelin ini bisa dikurangi dengan asertif. Matikan HP jika sedang meeting penting.

Apresiasi orang lain yang sedang bicara dengan tidak menduakan perhatian untuk HP

Anda.
6.Demam internet

Team kerja sangat mudah terpengaruh oleh satu demi satu perilaku nyebelin yang

ditunjukkan oleh staff lain. Misalnya, perilaku demam internet, YM dan FB adalah dua hal

kronis penyebab rendahnya kinerja team. Memang internet menjadi icon kemajuan tehnologi

informasi yang memudahkan organisasi mendapatkan informasi dari seluruh penjuru dunia.

Tetapi ini sekaligus berpotensi merusak kinerja team.

Coba Anda perhatikan, perilaku-perilaku baru yang muncul karena tehnologi ini. YM bukan

hanya untuk koordinasi pesan yang berhubungan dengan pekerjaan, tetapi juga sekaligus

sarana paling murah untuk kangen-kangenan. FaceBook juga membuat staff Anda tergila-

gila dan menghabiskan berjam-jam waktu untuk merespon wall dan komentar. Jam demi

jam terbuang. Team kerja pelan-pelan kehilangan sense of urgency-nya di kantor. Tidak

heran jika di perusahaan-perusahaan besar tidak memperbolehkan sofware ini diinstall di

network internal.

Para Leader, sebaiknya mulai waspada dengan potensi rusaknya kinerja team yang

diakibatkan perilaku nyebelin ini.

7. Perilaku abai (acuh tak acuh).

Perilaku nyebelin yang lain adalah, staff tidak care dengan data-data. Contohnya, para

Leader sekali waktu perlu menanyakan kepada staff stockiest secara langsung, berapa

stock produk kita bulan ini? Dan staff menjawab, “Saya periksa dulu pak..” Anda menunggu

beberapa saat, dan kemudian staff kembali kepada Anda, mengatakan “Maaf pak, data itu

tidak saya temukan. Mungkin dibawa si anu atau si ana…”

Well…, mungkin langsung keluar sepasang tanduk panjang di kepala Anda. Bagaimana
mungkin staff stockiest tidak tahu data itu atau dipegang oleh siapa? Sangat memalukan

bukan? Ini jelas menunjukkan perilaku nyebelin dan membuktikan bahwa staff itu tidak

kompeten.

Jika staff itu memang dalam job desk sebagai stockiest dan ia tidak care dengan data, maka

para Leader sebaiknya mempertimbangkan bahwa staff itu tidak layak bertugas ditempat itu.

Tetapi bisa jadi, staff sedang overload dengan tugas lain, atau sedang fokus pada hal lain

yang menjadi tugasnya juga, tetapi para Leader tidak boleh mentolerir perilaku abai

semacam ini. Musti ada keseimbangan antara peran utama dengan tugas lain.

8.Polusisuara

Bukan bermaksud menyarankan Anda agar situasi kerja mirip seperti rumah sakit, yang

hening dan senyap. Tetapi, maksudnya adalah, Anda pasti pernah menemui suara-suara

staff Anda yang begitu keras menggelegar. Ia bersuara begitu keras tanpa pedulikan

suasana sekitar. Apakah perilaku “nyebelin” ini mengganggu? Tentu saja. Siapapun yang

sedang bekerja pasti merasa terganggu. Soalnya, suara-suara keras itu lebih sering non-

sense. Tidak ada artinya bagi pekerjaan. Bahkan lebih sering cheap talking. Biasanya,

pemilik suara keras yang tidak peduli lingkungan kerja seperti itu, menunjukkan

ketidakmampuan dia. Staff model ini, berusaha mencuri perhatian dari orang lain dengan

cara itu. Jelas perilaku ini mengganggu kinerja tim.Bagaimana mengatasinya?

Silahkan Anda temukan sendiri. Karena disinilah letak seni kepemimpinan.Bila

perilaku-perilaku “nyebelin” itu terus menerus muncul, leader mustinya memindahkan staff

itu ke bagian lain atau di ekspor saja ke perusahaan lain. Perilaku-perilaku nyebelin yang

berulang-ulang muncul membuktikan bahwa staff itu tidak mampu. Meskipun sebenarnya ia

mampu ‘menciptakan alasan’ untuk menghindar.


Apabila kita ingin sukses berintraksi dan disegani di kantor, hendaknya prinsip-

prinsip beretika ini senantiasa kita ingat. Semakin kita beretika dan beretikt di kantor, kinerja,

profesinalisme dan performa kita semakin baik. Menciptakan hubungan yang harmonis serta

suasana kerja yang kondusif akan meningkatkan produktivitas kerja para karyawan.

Pegawai merasa nyaman, maka hubungan antara relasi tercipta dengan baik sehingga

menciptakan citra positif perusahaan pada komunitas bisnis.

Daftar Pustaka
Kees bartens, 1999. Sejarah filsafat yunani, Kanisius, Yokyakarta

Pratiwi, dkk, Etika dan Sikap Profesionalisme Sarjana, Jakarta, Graha Ilmu.
Uno, Mien R, 2005, Etiket, Gramedia Pustaka Umum, Jakarta
www.youtube.com/watch?v=4-8AlriF908, diunduh pada 18 Mei 2015 pukul 20.00 WIB