Anda di halaman 1dari 8

JUDUL LAPORAN

PENENTUAN LOKASI AGROWISATA BERDASAR PETA RBI KURIPAN

A. TUJUAN
1. Untuk mengetahui letak lokasi agrowisata yang sesuai dengan syarat
agrowisata pada peta RBI

B. ALAT DAN BAHAN


Alat :
1. Penggaris
2. Spidol OHP
3. Plastik Transparan

Bahan:
1. Peta RBI

C. DASAR TEORI
“In simple terms, agritourism is the crossroads of tourism and agriculture:
when the public visits farms, ranches or wineries to buy products, enjoy
entertainment, participate in activities, eat a meal or spend the night”
(www.farmstop.com). Dalam istilah sederhana, agritourism didefinisakan sebagai
perpaduan antara pariwisata dan pertanian dimana pengunjung dapat mengunjungi
kebun, peternakan atau kilang anggur untuk membeli produk, menikmati
pertunjukan, mengambil bagian aktivitas, makan suatu makanan atau melewatkan
malam bersama di suatu areal perkebunan atau taman “Agricultural tourism, or
agri-tourism, is one alternative for improving the incomes and potential economic
viability of small farms and rural communities”. Sementara definisi lain
mengatakan, agritourism adalah sebuah alternatif untuk meningkatkan pendapatan
dan kelangsungan hidup, menggali potensi ekonomi petani kecil dan masyarakat
pedesaan.
Kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis) sebagai objek
wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi dan
hubungan usaha di bidang pertanian. Agrowisata merupakan bagian dari objek
wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya
adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha
dibidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya
lokal dalam memanfaatkan lahan, diharapkan bisa meningkatkan pendapatan petani
sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun
teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan kondisi
lingkungan alaminya (http://database.deptan.go.id) Sutjipta (2001) mendefinisikan,
agrowisata adalah sebuah sistem kegiatan yang terpadu dan terkoordinasi untuk
pengembangan pariwisata sekaligus pertanian, dalam kaitannya dengan pelestarian
lingkungan, peningkatan kesajahteraan masyarakat petani.
Antara ecotourism dan agritourism berpegang pada prinsif yang sama. Prinsip
prinsip tersebut, menurut Wood, 2000 (dalam Pitana, 2002) adalah sebagai berikut:
1) Menekankan serendah-rendahnya dampak negatif terhadap alam dan
kebudayaan yang dapat merusak daerah tujuan wisata.
2) Memberikan pembelajaran kepada wisatawan mengenai pentingnya suatu
pelestarian.
3) Menekankan pentingnya bisnis yang bertanggung jawab yang bekerjasama
dengan unsur pemerintah dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
penduduk lokal dan memberikan manfaat pada usaha pelestarian.
4) Mengarahkan keuntungan ekonomi secara langsung untuk tujuan pelestarian,
menejemen sumberdaya alam dan kawasan yang dilindungi.
5) Memberi penekanan pada kebutuhan zone pariwisata regional dan penataan
serta pengelolaan tanam-tanaman untuk tujuan wisata di kawasan-kawasan
yang ditetapkan untuk tujuan wisata tersebut.
6) Memberikan penekanan pada kegunaan studi-studi berbasiskan lingkungan
dan sosial, dan program-program jangka panjang, untuk mengevaluasi dan
menekan serendah-rendahnya dampak pariwisata terhadap lingkungan.
7) Mendorong usaha peningkatan manfaat ekonomi untuk negara, pebisnis, dan
masyarakat lokal, terutama penduduk yang tinggal di wilayah sekitar kawasan
yang dilindungi.
8) Berusaha untuk meyakinkan bahwa perkembangan pariwisata tidak
melampui batas-batas sosial dan lingkungan yang dapat diterima seperti yang
ditetapkan para peneliti yang telah bekerjasama dengan penduduk lokal.
9) Mempercayakan pemanfaatan sumber energi, melindungi tumbuh-tumbuhan
dan binatang liar, dan menyesuaikannya dengan lingkungan alam dan budaya.
Untuk menunjang prinsip prinsip tersebut ada beberapa syarat yang digunakan
untuk mendukung perkembangan suatu objek agrowisata. Syarat – syarat desa
Agrowisata antara lain:
1) Jaringan Jalan yang tersedia cukup menjangkau berbagai wilayah
2) Penggunaan lahan yang heterogen (pertanian, perkebunan, dan peternakan)
3) Adanya permukiman
4) Kemiringan lereng tidak begitu terjal
5) Ketersediaan air bersih
6) Terjalin kedekatan dengan masyarakat dan tidak menyalahi kultur yang ada.
Di beberapa negara, agritourism bertumbuh sangat pesat dan menjadi alternatif
terbaik bagi wisatawan, hal ini disebabkan, agritourism akan membawa seseorang
mendapatkan pengalaman yang benar-benar berbeda dari rutinitas kesehariannya.
Mereka ingin keluar dari kejenuhan, tekanan kemacetan lalulintas, telepon selular,
suasana kantor dan hiruk pikuk keramaian. Orang tua ingin anak-anak mereka dapat
mengetahui dari mana sebenarnya makanan itu berasal atau mengenalkan bahwa
susu itu dari seekor sapi bukan rak supermarket
Perkembangan agrowisata terbagi menjadi tertutup (seperti museum), Terbuka,
dan gabungan keduanya. Selanjutnya agrowisata ruangan terbuka dapat
dikembangkan dalam dua versi/pola, yaitu alami dan buatan, yang dapat dirinci
sebagai berikut:
1) Agrowisata Ruang Terbuka Alami
Objek agrowisata ruangan terbuka alami ini berada pada areal di mana
kegiatan tersebut dilakukan langsung oleh masyarakat petani setempat sesuai
dengan kehidupan keseharian mereka. Masyarakat melakukan kegiatannya
sesuai dengan apa yang biasa mereka lakukan tanpa ada pengaturan dari pihak
lain. Untuk memberikan tambahan kenikmatan kepada wisatawan, atraksi-
atraksi spesifik yang dilakukan oleh masyarakat dapat lebih ditonjolkan,
namun tetap menjaga nilai estetika alaminya. Sementara fasilitas pendukung
untuk kenyamanan wisatawan tetap disediakan sejauh tidak bertentangan
dengan kultur dan estetika asli yang ada, seperti sarana transportasi, tempat
berteduh, sanitasi, dan keamanan dari binatang buas. Contoh agrowisata
terbuka alami adalah kawasan Suku Baduy di Pandeglang dan Suku Naga di
Tasikmalaya, Jawa Barat; Suku Tengger di Jawa Timur; Bali dengan teknologi
subaknya; dan Papua dengan berbagai pola atraksi pengelolaan lahan untuk
budi daya umbi-umbian.
2) Agrowisata Ruang Terbuka Buatan
Kawasan agrowisata ruang terbuka buatan ini dapat didesain pada
kawasankawasan yang spesifik, namun belum dikuasai atau disentuh oleh
masyarakat adat. Tata ruang peruntukan lahan diatur sesuai dengan daya
dukungnya dan komoditas pertanian yang dikembangkan memiliki nilai jual
untuk wisatawan. Demikian pula teknologi yang diterapkan diambil dari
budaya masyarakat lokal yang ada, diramu sedemikian rupa sehingga dapat
menghasilkan produk atraksi. agrowisata yang menarik. Fasilitas pendukung
untuk akomodasi wisatawan dapat disediakan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat modern, namun tidak mengganggu keseimbangan ekosistem yang
ada. Kegiatan wisata ini dapat dikelola oleh suatu badan usaha, sedang
pelaksana atraksi parsialnya tetap dilakukan oleh petani lokal yang memiliki
teknologi yang diterapkan.

D. LANGKAH KERJA
1. Tentukan Peta RBI yang akan di deliniasi
2. Siapkan alat dan bahan
3. Deliniasi peta RBI berdasarkan kontur, jalan, perairan, administrasi, dan
penggunaan lahan
4. Setelah semua katagori deliniasi telah dibuat, maka overlay peta
administrasi dengan peta lainnya (kontur, penggunaan lahan, dan lainnya.
5. Buatlah tabel pada exel. Berdasarkan penggunaan lahan dan urutan prioritas
yang sesuai dengan tema.
6. Tentukan interval kontur dengan cara kontur tertinggi- terendah dibagi 5
7. Setelah semua nilai dimasukkan. Maka hitung nilai total.
8. Buatlah laporan praktikum

E. HASIL
1. Deliniasi Peta RBI Kuripan (Administrasi, Jalan, Perairan, Kontur, dan
Penggunaan lahan
2. Tabel pembobotan syarat lokasi agrowisata

3. PEMBAHASAN
Praktikum ini dilakukan dengan tujuan menentukan lokasi agrowisata yang
sesuai dengan syarat agrowisata. Penentuan lokasi agrowisata ini menggunakan
peta RBI lembar Kuripan yang meliputi administrasi, jalan, perairan, kontur, dan
penggunaan lahan. Kemudian, dari peta RBI ini akan didapat data-data seperti
tingkatan/kelas dan jumlah. Pembuatan kelas/tingkatan jalan dll ini dilakukan
berdasarkan syarat penentuan lokasi agrowisata dimana kelas yang paling sesuai
dengan syarat penentuan lokasi agrowisata diberi nilai bobot paling besar dan yang
tidak sesuai diberi nilai paling kecil.
Dari hasil tabel pembobotan syarat lokasi agrowisata diketahui desa dengan
nilai tertinggi adalah desa Jenggrong, kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang
dengan indeks kesesuaian yaitu “Sesuai”. Sedangkan desa dengan nilai terendah
adalah desa Bantaran, kecamatan Bantaran, Kabupaten Lumajang dengan indeks
kesesuaian yaitu “Tidak Sesuai”.
Tingginya nilai pada desa Jenggrong menunjukkan bahwa desa tersebut
telah memenuhi syarat sebagai desa Agrowisata, ditambah lagi peluang desa
tersebut untuk berkembang dan lebih maju sangat besar. Hal ini bisa dilihat salah
satunya dari sektor perkebunan yang masih sangat luas area memiliki potensi
keindahan alam dan keanekaragaman budaya berkebun yang dapat dikembangkan
sebagai objek agrowisata. Keberadaan areal perkebunan di desa ini yang umumnya
berupa suatu hamparan komoditas yang cukup luas di suatu kawasan pedesaan yang
asri dengan elevasi sedang yang memungkinkan udara ditempat ini masih cukup
sejuk dan segar tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Selain perkebunan, areal ladang/tegalan yang masih cukup luas area nya juga dapat
menjadi daya tarik tanaman pangan dan hortikultural sebagai objek agrowisata.
Daya tarik wisata tersebut akan lebih baik lagi apabila lebih menonjolkan teknik
budidaya, penanganan pasca panen, pengolahan, penyajian dan pemasaran hasil
produksi.
Selain itu aksesibilitas jalan untuk menuju desa ini sangat banyak dan
mudah dijangkau oleh masyarakat yang ingin berkunjung dari segala penjuru
wilayah. Peran akses jalan dalam pengembangan agrowisata memiliki peran yang
vital karena mempengaruhi kenyamanan dan waktu tempuh dalam suatu perjalanan.
Dengan keberadaan sungai yang melimpah di desa ini memungkinkan
terjaganya ketersediaan air bersih yang mencukupi kebutuhan sehari-hari
masyarakatnya. Ditambah lagi pada umumnya sungai di daerah pedesaan yang jauh
dari area perkotaan kualitas airnya masih terjaga dari segala macam limbah. Sumber
air pada sungai memiliki pengaruh besar terhadap ketersediaan fasilitas penunjang
bagi wisatawan, antara lain tempat istirahat, tempat makan/restoran, sarana ibadah,
toilet yang semuanya pasti membutuhkan pasokan air.
Tidak semua desa dapat dikembangkan menjadi desa agrowisata, seperti hal
nya di desa Bantaran, kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo yang memiliki
indeks kesesuaian dengan kategori “tidak sesuai”. Dilihat dari beberapa aspek
seperti aksesibilitas jalannya, potensi penggunaan lahan, dan ketersediaan air,
semuanya sangat kurang. Aksesibilitas jalannya sedikit, begitupula dengan potensi
penggunaan lahannya yang kurang. ketersediaan air sebenarnya dapat dibilang
cukup hanya saja karena aspek – aspek yang lain banyak yang kurang, maka bisa
disimpulkan bahwa desa ini kurang cocok jika dikembangkan menjadi desa
Agrowisata.
Secara umum tujuan agrowisata adalah untuk menambah dan memperluas
pengetahuan dan pengalaman sekaligus berekreasi, bahkan ada juga yang
memanfaatkannya menjalin hubungan usaha dibidang pertanian. Melalui
pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan
lahan, diharapkan bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan
sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi
lokal. Pengembangan agrowisata disesuaikan dengan kapabilitas, tipologi, dan
fungsi ekologis lahan yang akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian sumber
daya lahan dan pendapatan petani serta masyarakat sekitarnya. Kegiatan ini secara
tidak langsung akan meningkatkan persepsi positif petani serta masyarakat
sekitarnya akan arti pentingnya pelestarian sumber daya lahan pertanian.
Keuntungan dari pengembangan agritourism bagi petani local dapat dirinci
sebagai berikut (Lobo dkk, 1999):
1) Agriturism dapat memunculkan peluang bagi petani lokal untuk
meningkatkan pendapatan dan meningkatkan taraf hidup serta kelangsungan
operasi mereka;
2) Menjadi sarana yang baik untuk mendidik orang banyak/masyarakat tentang
pentingnya pertanian dan kontribusinya untuk perekoniman secara luas dan
meningkatkan mutu hidup;
3) Mengurangi arus urbanisasi ke perkotaan karena masyarakat telah mampu
mendapatkan pendapatan yang layak dari usahanya di desa (agritourism)
4) Agritourism dapat menjadi media promosi untuk produk lokal, dan
membantu perkembangan regional dalam memasarkan usaha dan menciptakan
nilai tambah dan “direct-marking” merangsang kegiatan ekonomi dan
memberikan manfaat kepada masyarakat di daerah dimana agrotourism
dikembangkan.
Sedangkan Manfaat Agritourism bagi pengunjung (Rilla, 1999) adalah
sebagai berikut:
1) Menjalin hubungan kekeluargaan dengan petani atau masyarakat lokal.
2) Meningkatkan kesehatan dan kesegaran tubuh
3) Beristirahat dan menghilangkan kejenuhan
4) Mendapatkan petualangan yang mengagumkan
5) Mendapatkan makanan yang benar-benar alami (organic food)
6) Mendapatkan suasana yang benar-benar berbeda
7) Biaya yang murah karena agrowisata relatif lebih murah dari wisata yang
lainnya. Pengembangan agrowisata diharapkan sesuai dengan kapabilitas,
tipologi, dan fungsi ekologis lahan sehingga akan berpengaruh langsung
terhadap kelestarian sumber daya lahan dan pendapatan petani serta
masyarakat sekitarnya.
4. KESIMPULAN
Dengan demikian dapat diketahui bahwa tidak semua desa yang ada dalam
peta RBI Kuripan dapat dikembangkan menjadi desa agrowisata, seperti hal nya di
desa Bantaran, kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo yang memiliki indeks
kesesuaian dengan kategori “tidak sesuai”. Dilihat dari beberapa aspek seperti
aksesibilitas jalannya, potensi penggunaan lahan, dan ketersediaan air, semuanya
sangat kurang. Aksesibilitas jalannya sedikit, begitupula dengan potensi
penggunaan lahannya yang kurang. ketersediaan air sebenarnya dapat dibilang
cukup hanya saja karena aspek – aspek yang lain banyak yang kurang, maka bisa
disimpulkan bahwa desa ini kurang cocok jika dikembangkan menjadi desa
Agrowisata.