Anda di halaman 1dari 1

PRO

(OPPENING STATEMENT)

Lembaga Negara Independen adalah lembaga yang dalam pelaksanaan fungsinya tidak memposisikan
diri sebagai salah satu dari tiga lembaga kekuasaan sesuai trias politica. Banyak istilah untuk menyebut
jenis lembaga baru ini, antara lain state auxiliary institutions atau state auxiliary organs yang berarti
institusi atau organ negara penunjang, kemudian ada pula yang menyebutnya lembaga negara
sampiran, lembaga negara bantu, ataupun komisi negara. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah
lembaga negara yang bersifat independen dan berkaitan dengan kekuasaan kehakiman tetapi tidak
berada di bawah kekuasaan kehakiman. Hal ini juga di tegaskan terkait status keberadaan sebuah
lembaga negara, seperti apa yang pernah dijelaskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sebuah
putusan yang menyatakan bahwa dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, kelahiran lembaga-
lembaga negara baru dalam berbagai bentuk merupakan sebuah konsekuensi logis dari sebuah negara
demokrasi modern yang ingin secara lebih sempurna menjalankan prinsip check and balances.
Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam penegakan hukum terhadap tindak pidana
korupsi di Indonesia adalah konstitusional. Keberadaan KPK dipertegas dengan sejumlah putusan dari
Mahkamah Kontitusi. Salah satu beban tugas yang diemban oleh KPK terkait kewenangan penyidikan
yang tidak dapat dimonopoli oleh kejaksaan atau kepolisian saja. Sistem ketatanegaraan Indonesia
membagi kekuasaan menjadi eksekutif, legislatif dan yudikatif. Penempataan Kejaksaan dan
Kepolisian sebagai lembaga penegak hukum pada perkara korupsi selain KPK, memunculkan
permaslahan berupa kemandirian Kejaksaan dan Kepolisian, terutama terkait dengan penyidikan
perkara korupsi. Hal ini dapat dilihat dari Jaksa Agung dan Kapolri yang diangkat dan diberhentikan
oleh Presiden, sehingga dapat memungkinkan adanya intervensi politik. Kewenangan penuntutan
yang ada pada KPK sudah tepat karena lembaga ini bergerak secara independen tanpa intervensi
kekuasaan manapun.

Bidasan (pembicara ke 2)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah lembaga yang dibentuk sebagai salah satu bagian dari
agenda pemberantasan korupsi yang merupakan salah satu agenda terpenting dalam pembenahan
tata pemerintahan di Indonesia. Walaupun bersifat independen dan bebas dari kekuasaan manapun,
KPK tetap bergantung kepada kekuasaan eksekutif dalam kaitannya pada masalah keorganisasian, lalu
memiliki hubungan khusus dengan kekuasaan yudikatif dalam hal penuntutan dan persidangan
perkara tindak pidana korupsi, namun dalam perkembangannya keberadaan dan kedudukan KPK
dalam struktur ketatanegaraan Indonesia mulai dipertanyakan oleh berbagai pihak. Tugas, wewenang,
dan kewajiban yang dilegitimasi oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memang membuat komisi ini terkesan menyerupai sebuah
lembaga “superbody” dan berpotensi “abuse of power”. Sebagai lembaga negara yang nama nya tidak
tercantum dalam UUD Negara RI Tahun 1945, KPK dianggap oleh sebagian pihak sebagai lembaga
ekstrakonstitusional. Akibat beberapa anggapan tersebut beberapa orang sebagai pemohon
mengajukan judicial review kepada Mahkamah Konstitusi, mempersoalkan eksistensi KPK dengan
menghadapkan Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 20 Undang-Undang KPK dengan pasal 1 ayat (3) UUD 1945
tentang Indonesia adalah Negara hukum. Mereka berpendapat bahwa ketiga pasal Undang-undang
KPK tersebut bertentangan dengan konsep negara di dalam UUD 1945 yang telah menetapkan
delapan organ negara yang mempunyai kedudukan yang sama atau sederajat yang secara langsung
mendapat fungsi konstitusional dari UUD 1945 yaitu MPR, Presiden, DPR, DPD, BPK, MA, MK dan KY.