Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN

SISTEM KESEHATAN NASIONAL (SKN)

Pengertian Sistem Kesehatan menurut WHO, 2000 adalah semua kegiatan yang secara
bersama-sama diarahkan untuk mencapai tujuan utama berupa peningkatan & pemeliharaan
kesehatan. Adapun tujuan yang dimaksud adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, merespon harapan-harapan/ kebutuhan-kebutuhan masyarakat sesuai harga diri &
hak azasi manusia (kepedulian) serta memberikan perlindungan finansial bagi masyarakat
terhadap kemungkinan biaya kesehatan (keadilan dalam pembiayaan).

A. MASALAH KEBIJAKAN SKN


Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah pengelolaan kesehatan yang
diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan saling
mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya.
SKN disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan
dasar (primary health care) yang meliputi cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata,
pemberian pelayanan kesehatan berkualitas yang berpihak kepada kepentingan dan harapan
rakyat, kebijakan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan
masyarakat, kepemimpinan, serta profesionalisme dalam pembangunan kesehatan.
Kita sudah memiliki Sistem Kesehatan Nasional (SKN), yang telah ditetapkan pada
tahun 1982. Esensi SKN 1982 telah dipergunakan dalam penyusunan GBHN Bidang
Kesehatan, utamanya GBHN 1988, 1993, dan 1998 dan UU No. 23 tahun 1992 tentang
kesehatan. Lebih operasional, SKN 1982 juga dijadikan acuan dalam penyusunan
perencanaan kebijakan dan program pembangunan kesehatan seperti RPJPK, Indonesia Sehat
2010, Repelita, Propenas, dan Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan. Sesuai dengan
amanat TAP MPR-RI No. X tahun 1998, reformasi di bidang kesehatan juga telah dilakukan
dengan disusunnya Rencana Pembanguan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, memuat
Visi, Misi, dan strategi Pembangunan Kesehatan dengan menerapkan paradigma baru, yaitu
Paradigma Sehat. Paradigma Sehat menekankan pentingnya kesehatan sebagai hak asasi
manusia, kesehatan sebagai investasi bangsa, dan kesehatan menjadi titik sentral
pembangunan nasional.
SKN diharapkan dapat dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembangunan
kesehatan. Banyak kebijakan baru yang telah ditetapkan dan munculnya berbagai tantangan
atau perubahan lingkungan yang dihadapi, baik internal maupun eksternal, seperti: globalisasi,
demokratisasi, desentralisasi, kesehatan sebagai investasi, dan kesehatan sebagai hak azasi
1
manusia. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan dilaksanakan tidak saja oleh Departemen
Kesehatan, namun oleh semua potensi bangsa termasuk Pemerintah Daerah, masyarakat, dan
swasta. Oleh karena itu SKN yang baru perlu dipahami oleh semua pihak.
Meskipun telah banyak hasil-hasil pembangunan kesehatan yang telah dicapai; antara
lain Puskesmas sudah terdapat di semua kecamatan yang ditunjang oleh 3-4 Puskesmas
Pembantu, Tenaga bidan di desa juga sudah ada di desa yang tidak memiliki fasilitas
kesehatan, Rumah Sakit Umum sudah dimiliki oleh semua kabupaten/kota (kecuali kab.
baru/pemekaran); namun masih dihadapi permasalahan pemerataan, mutu, dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Sistem refferal juga belum
menggembirakan. Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah merupakan tantangan
sekaligus peluang dalam upaya meningkatkan pemerataan, mutu, dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan. Akhir-akhir ini dilaporkan pendayagunaannya menurun, yang antara
lain ditunjukkan dengan meningkatnya angka drop-out kader dan menurunnya persentase
kader Posyandu yang aktif.
Pembiayaan kesehatan di Indonesia masih rendah, baru 2,2% dari PDB; masih jauh
dari standard atau anjuran WHO sebesar 5% PDB. Pembiayaan kesehatan dari masyarakat
cukup besar (70%), namun pengelolaan pendayagunaannya tidak efisien (antara lain out of
pocket), dan pembelanjaan belum mengedepankan keluarga miskin. Masalah SDM kesehatan
sangat kompleks, antara lain dapat dikemukakan: Jumlah, jenis, dan mutu tenaga kesehatan
belum memenuhi kebutuhan untuk pelayanan kesehatan. Ratio tenaga terhadap penduduk
masih rendah, dibandingkan dengan negara-negara tetangga (Singapore, Malaysia, Thailand).
ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat masih merupakan masalah besar. Harga
obat yang mahal disebabkan karena sebagian besar (95%) bahan baku masih diimport;
sementara itu bea masuk juga tinggi.
Masalah pokok dalam manajemen kesehatan antara lain yaitu dalam era desentralisasi,
pasokan data SIM kesehatan di berbagai jenjang administrasi menjadi berkurang, sehingga
kurang dapat menunjang Administrasi kesehatan (perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian).
Ilmu pengetahuan dan tekonolgi kesehatan kurang dapat mengimbangi pesatnya kemajuan
ilmu, teknologi, dan globalisasi. Hasil-hasil penelitian kesehatan kurang dapat dimanfaatkan
oleh Administrasi kesehatan.

B. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN SKN


Seperti dalam penyusunan rencana pada umumnya, perlu dilakukan analisis, untuk
mengetahui sejauh mana berjalannya dan keberhasilan dari sistem kesehatan yang telah kita
miliki. Dari laporan WHO tahun 2000, dengan cara pengukuran keberhasilan sistem
2
kesehatan di suatu negara (meskipun sampai saat metode ini masih terus dibahas dan
disempurnakan), yang digunakan 2 (dua) indikator, yaitu “indikator pencapaian” dan
“indikator kinerja”. Dari hasil penilaian tersebut, dalam indikator pencapaian Sistem
Kesehatan Indonesia berada pada peringkat 106 dari 191 negara yang dinilai. Sedangkan dari
sisi indikator kinerja, berada pada peringkat 92 dari 191 negara yang dinilai.
Sudah tentu pencapaian dan kinerja sistem kesehatan tersebut, dipengaruhi oleh sejauh
mana berjalannya subsistem – subsistemnya, yaitu: upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan,
sumberdaya manusia kesehatan, obat dan perbekalan kesehatan, pemberdayaan masyarakat
dan manajemen kesehatan.
1. Upaya Kesehatan Perorangan
a. Hasil dari upaya kesehatan sudah terlihat meskipun belum menunjukan perubahan
yang signifikan secara nasional
b. Akses pelayanan kesehatan meningkat secara nasional tetapi didaerah terpencil,
tertinggal, perbatasan dan pulau – pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah
c. Rasio puskesmas meningkat 3,46 / 100.000 (2003) penduduk menjadi 3,61/100.000
(2005) dan pemanfaatana fasilitas kesehatan meningkat dari 15,1% (1996) menjadi
33,7% (2006). Demikian pula contact rate ke fasilitas kesehatan meningkat dari
34,4% (2005) menjadi 41,8% (2007)
d. Turunnya angka kematian ibu dan peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan meningkat 20% dan peningkatan persalinan difasilitas kesehatan 24,3%
(1997) menjadi 46% (2007)
e. Cakupan pemeriksaan kehamilan 97,1% - 67%. Cakupan imunisasi lengkap 73,9%
- 17,3% (RISKESDAS 2007)
2. Pembiayaan Kesehatan
a. APBN kesehatan Rp. 5,54 T (2004) menjadi Rp. 18,75 T dengan persentase
terhadap APBN 2,6% - 2,8%. Dimana pembelanjaan kesehatan masih didominasi
pembelanjaan publik 49,6% dan pemerintah 50,4% (WHO 2008)
b. Presentase pengeluaran nasional sektor kesehatan 0,81% dari PDB (2005) menjadi
1.09% dari PDB dan belum mencapai 5% dari PDB pertahun
c. 30% pembiayaan bersumber dari pemerintah dan 70% bersumber dari masyarakat
termasuk swasta,yang sebagian besar digunakan untuk pelayanan kuratif
d. Mobilisasi sumber pembiayaan dai masyarakat masih terbatas serta bersifat
peorangan (out of pocket)
e. Cakupan jaminan kesehatan sekitar 46,5% dari seluruh penduduk tahun 2008
(sebagian besar adalah bagian dari Jamkesmas 76,4 juta atau 34,2%)
3
3. Sumber Daya Manusia Kesehatan
a. Jumlah SDM kesehatan belum memadai. Jumlah dokter di Indonesia 19 per
100.000 penduduk
b. Penyebaran SDM kesehatan belum menggembirakan
c. Mutu SDM kesehatan masih perlu pembenahan

4. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan Dan Makanan


a. Sediaan farmasi masih didominasi domestic dengan bahan baku impor sampai
dengan 85% kebutuhan. Sementara ada 9600 jenis tanaman berotensi efek
pengobatan
b. DOEN direvisi secara berkala. Obat esensial generic sudah diterapkan tapi belum
dipahami secara penuh. 90% obat diresepkan Puskesmas adalah Generik esensial,
RS pemerintah <76%, RS Swasta <49%, dan apotik <47%.
5. Manajemen Informasi Dan Kesehatan
a. Keberhasilan manajemen kesehatan sangat ditentukan antara lain oleh tersedianya
data dan informasi kesehatan, dukungan kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi
kesehatan, dukungan hokum kesehatan serta administrasi kesehatan
b. Sistem informasi kesehatan nasional berbasis faslitas sudah mencapai tingkat
kabupaten/kota tetapi masih minim pemanfaatannya. Mencakup antara lain sistem
infomasi manajemen Puskesman (SIMPUS), sistem informasi manajemen
kepegawaian (SIMKA), sistem surveilans penyakit menular, sistem surveilans
penyakit tidak menular, serta sistem jaringan penelitian dan pengembangan
kesehatan nasional (JPPKN).
6. Pemberdayaan Masyarakat
a. Keberhasilan pembangunan kesehatan Indonesia tidak terlepas dari partisipasi aktif
masyarakat
b. Berbagai bentuk upaya kesehatan masyarakat banyak didirikan antara lain 33.910
desa siaga dimana terdapat 20.986 Pos Kesehatan Desa (PosKesDes). Posyandu
sudah berjmlah 269.202 dan 600 Pos Kesehatan Pesantren (PosKesTren).
7. Perubahan Lingkungan Strategis
a. Tingkat Global Dan Regional : terkait target MDGs dan politik kesehatan
Internasional
b. Tingkat Nasional dan lokal : terakit proses politi yaitu desentralisasi, demokratisasi,
dan politik kesehatan dalam Pilkada.

4
C. AKIBAT – AKIBAT KEBIJAKAN SKN
a. Sistem kesehatan yang menjamin semua lapisan masyarakat mendapatkan pelayanan
kesehatan dari pemerintah. Jika peran promotif dan preventif yang diamanatkan
kepada dokter keluarga sebagai ujung tombak dalam pelayanan ini tidak berjalan
dengan maksimal, ditambah lagi dengan mentalitas sebagian masyarakat kita yang
cenderung mengabaikan prinsip hidup sehat karena merasa bahwa pemerintahlah yang
bertanggung jawab atas kesehatannya, maka tidak mustahil jika suatu saat nanti beban
anggaran negara hanya akan habis untuk menangani masalah kesehatan saja,
sementara aspek-aspek lainnya di luar masalah kesehatan akan terbengkalai.
b. Terjadinya peleburan antara peserta Askes PNS dan Pensiunan PNS, TNI/Polri,
Pegawai Swasta/BUMD/BUMN, Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN),
Jamkesmas dan JKRA, maka tidak ada rasa takut lagi bagi masyarakat untuk
memeriksakan kesehatannya, karena tentu saja seluruh beban pembiayaannya akan
ditanggung oleh pemerintah. Namun itu bukan berarti masyarakat kemudian menjadi
tidak peduli dengan upaya menjaga kesehatannya, karena mereka cenderung berharap
bahwa pemerintah pasti akan menalangi semua biaya pengobatannya.
c. Jika dulu, sebelum sistem universal health coverage diberlakukan, masyarakat kita
menjadi lebih mawas diri dalam menjaga gaya hidupnya agar jangan sampai jatuh
sakit, karena mereka sadar bahwa jika mereka sampai jatuh sakit maka biaya yang
harus dikeluarkannya tidaklah sedikit. Dan apabila mereka menderita sakit yang
ringan, yang seumpama dapat sembuh sendiri dengan meningkatnya daya tahan tubuh,
maka ia tidak akan cepat-cepat berobat ke pusat layanan kesehatan primer ataupun
meminta dirujuk kepada sistem pelayanan kesehatan sekunder meskipun sebenarnya
penyakitnya tersebut masih dapat ditangani oleh tenaga kesehatan di pusat layanan
primer.

D. Rekomendasi terhadap Kebijakan SKN


a. Pemerintah agar meningkatkan Upaya Kesehatan perorangan maupun masyarakat.
Untuk masa mendatang, apabila sistem jaminan kesehatan nasional telah berkembang,
pemerintah tidak lagi menyelenggarakan UKP strata pertama melalui Puskesmas.
Penyelenggaraan UKP strata pertama akan diserahkan kepada masyarakat dan swasta
dengan menerapkan konsep dokter keluarga, kecuali di daerah yang sangat terpencil
masih dipadukan dengan pelayanan Puskesmas.
b. Tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara
adil dan termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdaya-guna, untuk menjamin
5
terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Selanjutnya biaya kesehatan dari pemerintah
secara bertahap digunakan seluruhnya untuk pembiayaan UKM dan jaminan
pemeliharaan kesehatan masyarakat rentan dan keluarga miskin.
c. Adanya kebijakan / peraturan pemerataan SDM kesehatan bermutu terdistribusi secara
adil untuk daerah terpencil, tertinggal, perbatasan serta pulau – pulau kecil terdepan
Indonesia.
d. Jaminan ketersediaan dan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan yang diarahkan
untuk adanya jaminan jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang
memenuhi kebutuhan upaya kesehatan (UKM & UKP) serta diarahkan agar adanya
jaminan khasiat, keamanan, dan keabsahan obat dan perbekalan kesehatan, NAPZA,
dan obat tradisional
e. Meningkatkan Sasaran pemberdayaan masyarakat target maksimal yang bersangkutan
dapat menjadi kader masyarakat yang ber-PHBS, terwujudnya kelompok peduli
kesehatan serta terwujudnya perwakilan masyarakat yang peduli kesehatan. Pada
akhirnya diharapkan masyarakat dapat berperan dalam memberikan pelayanan (to
serve), advokasi, dan melakukan pengawasan dalam pelaksanaan pembangunan/upaya
kesehatan.
f. Administrasi kesehatan yang didukung infokes, iptek, dan hukum kesehatan
menunjang penyelenggaraan subsistem lainnya dari SKN (upaya kesehatan,
pembiayaan kesehatan, sumberdaya manusia kesehatan, obat dan perbekalan
kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat).

6
DAFTAR PUSTAKA

1. Peraturan Presiden No.72 Tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional


2. Mutiarin D. 2017. Evaluasi Program Jaminan Keseahatan Nasional pada Fasilitas Tingkat I di
kabupaten Sleman. Journal of Governance and Public Police. Vol 4. No 1. Hal 40-70
3. Adisiswanto D. 2009. Sistem Kesehatan Nasional. Fakultas kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia. Jakarta.
4. Departemen Kesehatan RI. 2004. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta
5. Kharisma D.B. 2018. Sistem Kesehatan Daerah : Isu dan Tantangan Bidang Kesehatan di
Indonesia. Jurnal Rechtsvinding : Media pembinaan Hukum Nasional. Hal 1-6.
6. Liansyah T.M. “Benalu’ dalam Sistem Kesehatan Nasional”. Diakses 19 November 2018.
, http://aceh.tribunnews.com/2014/11/15/benalu-dalam-sistem-kesehatan-nasional