Anda di halaman 1dari 33

Laporan Kasus

LUKA BAKAR AIR PANAS DERAJAT IIA BSA 3.5%

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik


di Bagian Ilmu Bedah RSUD Dr. Sobirin Lubuk Linggau

Oleh:
Irma Pratiwi, S.Ked 04054821719038
Moulya Halisyah Cempaka, S.Ked 04084821719217
Muhammad Audy Ramadhan, S.Ked 04084821719218
Rian Doli Najogi Sihombing, S.Ked 04084821719234
Ainindia Rahma, S.Ked 04054821820139

Pembimbing:
dr. Hazairin, Sp.B

DEPARTEMEN ILMU BEDAH


RSUD DR. SOBIRIN LUBUK LINGGAU
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus
Luka Bakar Air Panas Derajat IIA BSA 3.5%

Oleh :
Irma Pratiwi, S.Ked 04054821719038
Moulya Halisyah Cempaka, S.Ked 04084821719217
Muhammad Audy Ramadhan, S.Ked 04084821719218
Rian Doli Najogi Sihombing, S.Ked 04084821719234
Ainindia Rahma, S.Ked 04054821820139

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik di Departemen Ilmu Bedah RSUD Dr. Sobirin Lubuk Linggau
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Periode 26 November – 21 Desember
2018.

Lubuk Linggau, Desember 2018

dr. Hazairin, Sp.B

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul “Luka Bakar Air Panas
Derajat IIA BSA 3.5%” sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan
Klinik di Departemen Ilmu Bedah RSUD Dr. Sobirin Lubuk Linggau.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Hazairin,
Sp.B. selaku pembimbing yang telah membantu penyelesaian laporan kasus ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan dokter muda dan
semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang
bersifat membangun sangat kami harapkan. Demikianlah penulisan laporan kasus
ini, semoga bermanfaat.

Lubuk Linggau, Desember 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN ......................................................................................1
BAB II. STATUS PASIEN ......................................................................................2
BAB III. TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................6
BAB IV. ANALISIS KASUS ...............................................................................29
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................31

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan api ke tubuh
(flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas (kontak panas), akibat
sengatan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn).1
Lebih dari 2 juta kasus luka bakar di Amerika Serikat memerlukan
penanganan medis setiap tahunnya, dan sekitar 14.000 kasus berakhir dengan
kematian.2 Sekitar 175.000 orang di Inggris menderita luka bakar setiap tahunnya,
dan 13.000 diantaranya memerlukan perawatan di Rumah Sakit, sekitar 1.000 orang
mengalami luka bakar berat.3
Beratnya luka bakar tergantung pada dalam, luas dan letak luka. Luka bakar
menurut kedalamannya dibagi menjadi tiga yaitu dangkal, parsial dan ketebalan
penuh. Sedangkan menurut luasnya dapat dihitung oleh setidaknya 3 metode yang
berbeda yakni rule of nine, grafik Lund dan Browder dan permukaan palmar. Berat
atau ringannya luka bakar membantu dalam penentuan prognosis dan tatalaksana
yang tepat.1,2,4
Luka bakar menimbulkan kerusakan dan perubahan berbagai sistem tubuh
yang kadang sulit dipantau, sehingga menyebabkan kesulitan dalam
penanganannya. Kesulitan terbesar terutama apabila sudah terjadi komplikasi.5
Oleh karena itu, sebagai dokter umum yang akan terjun ke dalam lingkungan
masyarakat, pemahaman tentang luka bakar sangatlah penting agar dapat
menatalaksana secara benar sehingga mencegah terjadinya komplikasi.

1
BAB II
STATUS PASIEN

2.1. IDENTIFIKASI
Nama : An. M
Usia : 1 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Lubuk Linggau
Suku Bangsa : Indonesia
Pekerjaan :-
Nomor Rekam Medis : 29.91.22
MRS : 08 Desember 2018 pukul 17.00 WIB
Berat Badan : 10 Kg

2.2. ANAMNESIS
Alloanamnesis dengan orang tua pasien (Tanggal 08 Desember 2018).
Keluhan Utama : Luka bakar disebabkan air panas
Riwayat Perjalanan Penyakit :
Sejak ± 2 jam SMRS pasien tersiram air panas dari dispenser di bagian
kaki kanan. Ketika ibu pasien menyadari anaknya terkena air panas, ibu
pasien segera melepas celana anaknya. Luka disiram dengan air dingin dan
tidak dioles dengan bahan apapun. Kemudian pasien dibawa ke IGD RSUD
Dr. Sobirin Lubuk Linggau pada tanggal 07 Desember 2018.
Riwayat Penyakit Dahulu
 Tidak ada
Riwayat Penyakit Dalam Keluarga
 Tidak ada
Riwayat Imunisasi
 Lenkap (terakhir imunisasi campak saat umur 9 bulan)

2
2.3. PEMERIKSAAN FISIK
Primary Survey
Airway : Paten
Breathing : Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri, warna
cherry red tidak ada, eskar melingkar tidak ada, RR:
24x/menit, reguler.
Circulation : Perdarahan aktif tidak ada, pucat tidak ada, nadi:
124x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup, TD: 100/60
mmHg, CRT <2’’, SpO2: 97%.
Disability : Alert, pupil isokor, diameter 3mm, reflex cahaya (+/+).

Secondary Survey
 Kepala
Bentuk : Normosefali, simetris
Mata : Pupil bulat isokor ø 3mm, reflek cahaya (+),
konjungtiva palpebral pucat (-), sklera ikterik (-)
Hidung : Sekret (-), napas cuping hidung (-)
Telinga : Sekret (-)
Tenggorokan : Faring hiperemis (-)
Leher : Pembesaran KGB (-)

 Thoraks
Paru-paru
Inspeksi : Statis, dinamis simetris, retraksi (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-).

3
Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba, Thrill tidak teraba
Perkusi : Redup, batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : HR: 124 x/menit, reguler, BJ I-II normal, murmur (-), gallop
(-)
 Abdomen
Inspeksi : Datar
Palpasi : Lemas, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani, shifting dullness (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal

 Genitalia dan lipat paha : Dalam batas normal


 Ekstremitas : Akral dingin (-), sianosis (-), edema (-)

Luas Luka Bakar


 Pedis Dekstra: Tampak luka dengan dasar merah dan basah, bula (+), nyeri
(+), + 2.5% BSA.
 Skrotum: Tampak luka dengan dasar merah dan basah, bula (+), tampak
bula pecah dengan dasar merah dan basah , nyeri (+), <1% BSA.

2.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak dilakukan

2.5. DIAGNOSIS KERJA


Luka Bakar Air Panas Derajat IIA BSA 3.5% Regio Pedis Dekstra + Skrotum

4
2.6. TATALAKSANA
a. Terapi Cairan: IVFD KAEN 3B
= (100cc x BB)/24 jam
= 100cc x 10 Kg = 1000cc/24 jam = 40 gtt/menit
b. Inj. Cefixime 1 x 100 mg
c. Ibuprofen syr 2 x 100 mg
d. Wound toilet dengan salep Burnazine + NaCl

2.7. PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

Foto Pasien

5
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Kulit


Kulit merupakan organ terbesar di tubuh manusia, berkisar antara 0,25
m2 pada neonatus hingga 1,8 m2 pada dewasa. Secara anatomis kulit tersusun
atas 2 lapisan yaitu lapisan epidermis dan dermis. Lapisan luar epidermis
berfungsi sebagai pembatas terhadap lingkungan, mencegah invasi bakteri
dan paparan zat kimia. Lapisan dalam epidermis aktif secara metabolik dan
memproduksi faktor pertumbuhan yang berperan dalam replikasi kulit setiap
2 minggu. Lapisan dermis terdiri dari jaringan ikat fibrosa, memiliki
pembuluh darah dan serabut saraf. Lapisan dermis adalah pembatas yang
mencegah kehilangan air melalui evaporasi dan kehilangan panas tubuh
berlebihan. Kelenjar keringat berperan mengontrol suhu tubuh dengan cara
mengatur jumlah air yang berevaporasi. Selain itu, serabut saraf pada lapisan
dermis berperan sebagai mekanisme proteksi terhadap lingkungan. Selain itu,
kulit juga memproduksi vitamin D dengan bantuan sinar UV.2

Gambar 1. Struktur Kulit6

6
3.1.1. Epidermis
Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari
3 jenis sel, yaitu: epitel berlapis gepeng bertanduk (keratinosit), sel melanosit,
dan sel Langerhans, serta sel tambahan yaitu sel Merkel.6
Epidermis terdiri atas lima lapisan7:
a. Stratum basale, terdiri atas sel-sel berbentuk kuboid atau kolumnar yang
tersusun vertikal. Lapisan ini merupakan lapisan epidermis paling bawah
dan berperan dalam regenerasi sel.
b. Stratum spinosum, terdiri atas 8-10 lapis sel yang berbentuk poligonal
dengan ukuran berbeda-beda. Makin dekat ke permukaan sel berbentuk
semakin gepeng. Diantara sel-sel stratum spinosum terdapat jembatan-
jembatan antar sel (intercelullar bridge) yang terdiri atas protoplasma dan
tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk
penebalan bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero. Di antara sel-sel
spinosum terdapat pula sel Langerhans. Sel-sel Stratum spinosum
mengandung banyak glikogen.
c. Stratum granulosum, terdiri dari 3-5 lapis sel poligonal gepeng dengan
sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula
keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel
Langerhans.
d. Stratum lusidum, merupakan lapisan di bawah lapisan korneum, terdiri
dari lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah
menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan ini hanya terdapat pada
telapak tangan dan telapak kaki.
e. Stratum korneum (lapisan tanduk),adalah lapisan kulit yang paling luar
dan terdiri atas 25-30 lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan
protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk).

3.1.2. Dermis
Dermis merupakan jaringan dibawah epidermis yang terdiri dari dua
lapisan, yaitu papilar dermis dan retikular dermis. Dermis terdiri atas ikatan

7
jaringan ikat kuat sehingga memiliki daya regang yang besar. Papilar dermis
mengandung fibroblast, sel mast, makrofag, dan leukosit yang keluar dari
pembuluh darah, dan terdiri atas jaringan ikat longgar. Sedangkan retikular
dermis memiliki struktur lebih tebal dan terdiri atas jaringan ikat padat tak
beraturan.7
a. Stratum papillaris yang terdiri dari 7:
 Kolagen tipis
 Kapiler
 Meissner corpuscles
 Ujung serabut saraf
b. Stratum retikularis terdiri dari7 :
 Fibroblast: merupakan sel pembentuk unsur untuk fibrous dan substansi
dasarnya.
 Kolagen : merupakan 70% dari berat kering seluruh jaringan ikat,
serabut ini terbentuk oleh fibroblast, tersusun atas fibrin dari rantai
polypeptide. Serabut ini bertanggung jawab pada ketegangan kulit
merupakan unsur pembentuk garis langer (cleavage line).
 Elastin : Hanya 2 % dari berat kering jaringan ikat. Serabut elastin, ini
juga dibentuk oleh fibroblast tetapi susunannya lebih halus
dibandingkan dengan kolagen. Serabut elastin ini bertanggung jawab
atas elastisitas kulit.

3.1.3. Subkutis
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri atas
jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak
merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak
yang bertambah.Fungsi subkutis/hipodermis antara lain sebagai melekat ke
struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan
mechanical shock absorber.6

8
3.1.4. Persarafan Kulit
Kulit diinervasi oleh kira-kira 1.000.000 serabut saraf aferen. Sebagian
besar terdapat pada wajah dan ekstremitas, sedangkan pada punggung relatif
sedikit. Serabut saraf ini mempunyai akson dengan badan sel yang berada
pada dorsal root ganglia. Serabut saraf ini masuk kulit melalui lapisan lemak
subkutan, kemudian masing-masing terbagi dua yaitu serabut saraf bermielin
dan serabut saraf tidak bermielin. Serabut saraf bermielin berjalan horizontal
membentuk anyaman dengan serabut yang sama, kemudian naik ascenden
bersama pembuluh darah dan menginervasi dermis bagian superficial. Dalam
perjalanan selanjutnya serabut ini dibungkus oleh sel Schwann dan sebagian
tidak bermielin. Sebagian berakhir di dermis, beberapa melakukan penetrasi
membran basalis tetapi tidak jauh melanjut ke epidermis.6
Ada 3 macam serabut saraf yang terdapat pada kulit, yaitu :8.9
a. Serabut adrenergik : berfungsi untuk menginervasi pembuluh darah
(untuk vasokonstriksi pembuluh darah, m. erector papilare (untuk
kontraksi otot tersebut), dan kelenjar apokrin (untuk pengatur sekresi
kelenjar apokrin).
b. Serabut kolinergik : berfungsi menginervasi kelenjar ekrin.
c. Serabut sensorik : berfungsi untuk menerima rangsangan dari luar
tubuh. Ada beberapa akhiran serabut saraf sensorik, yaitu Korpuskulum
Meisnerri,Korpuskulum Paccini, dan akhiran serabut saraf bebas.
Ketiga akhiran serabut sensorik tersebut lebih jauh adalah sebagai
berikut :
a. Korpuskulum Meisnerri berfungsi menerima rangsangan sentuhan dan
tekanan ringan. Terdapat pada papilla dermis dan paling banyak dapat
dijumpai pada telapak tangan dan kaki.
b. Korpuskulum Paccini berfungsi untuk menerima rangsangan tekanan
dalam dan terdapat pada dermis bagian dalam terutama pada bagian-
bagian badan yang sering menahan beban berat.

9
c. Akhiran saraf rambut bebas berfungsi untuk menerima rangsangan panas,
dingin, nyeri, gatal. Akhiran saraf bebas ini terdapat terutama pada papilla
dermis dan sekitar folikel rambut.

3.1.5. Vaskularisasi Kulit


Pada kulit yang masih normal, darah yang sampai pada kulit merupakan
10% dari seluruh peredaran darah dalam tubuh. Pembuluh darah di dalam
kulit terdiri dari 2 plexus yaitu :
a. Plexus superficialis: terdapat pada bagian atas dermis dan tersusun sejajar
dengan epidermis. Plexus superficialis ini terdiri dari atas kapiler-kapiler,
endarteriole dan venulae yang memberi makan ke papilla.
b. Plexus profunda: terdapat pada bagian bawah dermis atau dekat subkutis
dan terutama terdiri atas pembuluh-pembuluh darah yang lebih besar dari
pada plexus superficialis.
Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah akan tetapi epidermis
mendapat nutrien dari dermis melalui membran epidermis.Pada jari-jari di
antara arteriole dan venulae terdapat kelompokan otot polos yang mempunyai
fungsi khusus yaitu mengatur shunt arterio-venosa dan sering dinamakan
glomus. Sedangkan pembuluh limfe biasanya mengikuti pembuluh darah.8,9

3.2 Fisiologi Kulit


Kulit memiliki fungsi antara lain fungsi proteksi, ekskresi, absorbsi,
keratinisasi, pembentuk pigmen, termoregulasi, pembentuk vitamin D,
persepsi dan peran dalam imunologi kulit.
a. Fungsi Proteksi
Kulit menjaga tubuh dari gangguan fisik, kimia, suhu, sinar ultraviolet dan
mikroorganisme. Proteksi terhadap gangguan fisik dan mekanis
dilaksanakan oleh stratum korneum pada telapak tangan dan telapak kaki
dan proses keratinisasi berperan sebagai barier mekanis. Serabut elastis
dan kolagen menyebabkan adanya elastisitas kulit dan lapisan lemak pada
sub kutis juga sebagai barier terhadap tekanan. Proteksi terhadap gangguan

10
kimia dilaksanakan oleh stratum korneum yang impermeabel terhadap
berbagai zat kimia dan air serta adanya keasaman kulit. Proteksi tehadap
radiasi dan sinar ultraviolet dilaksanakan oleh melanosit, ketebalan
stratum korneum dan asam uroleanat yang dijumpai pada keringat.10

b. Fungsi Ekskresi
Kelenjar kulit mengeluarkan zat dan sisa metabolisme seperti Na, Cl, urea,
asam urat, amonia. Kelenjar sebasea menghasilkan sebum yang berguna
untuk menekan evaporasi air yang berlebihan. Kelenjar keringat
mengeluarkan keringat beserta garam-garamnya.10

c. Fungsi Absorbsi
Fungsi absorbsi dimungkinkan dengan adanya permeabilitas kulit.
Absorbsi berlangsung melalui celah antar sel, menembus epidermis atau
melalui muara saluran kelenjar. Kulit yang sehat tidak mudah menyerap
air, larutan atau benda-benda padat, tetapi larutan yang mudah menguap
akan mudah diabsorpsi. Kemampuan absorbsi dipengaruhi oleh ketebalan
kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme, umur, trauma pada kulit dan jenis
vehikulum.10

d. Fungsi Keratinisasi
Keratinisasi adalah proses diferensiasi sel-sel stratum basale menjadi sel-
sel yang berubah bentuk dan berpindah ke lapisan atas menjadi sel-sel
yang makin gepeng dan akhirnya mengalami deskuamasi. Proses
keratinisasi ini berlangsung 14-21 hari dan memberi perlindungan kulit
terhadap infeksi secara mekanis fisiologik.10

e. Fungsi Pembentukan Pigmen


Pembentukan pigmen kulit dilaksanakan oleh sel melanosit yang ada di
stratum basale. Proses pembentukan melanin terjadi didalam melanosom
yang terdapat dalam melanosit dan kemudian melalui dendrit-dendritnya

11
membawa melanosom ke sel keratinosit, jaringan sekitarnya bahkan
sampai ke dermis. Warna kulit ditentukan oleh jumlah, tipe, ukuran,
distribusi pigmen, ketebalan kulit, reduksi Hb, oksi Hb dan karoten.10

f. Fungsi Termoregulasi
Pengaturan regulasi panas dilaksanakan oleh sekresi kelenjar keringat,
kemampuan pembuluh darah untuk berkontraksi dan vaskularisasi kulit
yang banyak pada dermis. Panas tubuh keluar melalui kulit dengan cara
radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi.10

g. Fungsi Pembentukan Vitamin


Pembentukan Vitamin D berlangsung pada stratum spinosum dan stratum
basale yaitu dengan mengubah 7 dehidro kolesterol dengan bantuan sinar
ultraviolet B. Walaupun didapat pembentukan vitamin D ditubuh tapi
kebutuhan ini belum cukup sehingga perlu pemberian vitamin D dari
luar.10

h. Fungsi Persepsi
Fungsi persepsi dimungkinkan dengan adanya saraf sensori di dermis dan
sub kutis. Persepsi yang dapat diterima kulit adalah perabaan, tekanan,
panas, dingin dan rasa sakit. Persepsi raba terletak pada badan taktil
Meisnier yang berada di papila dermis dan Merkel Ranvier di epidermis.
Persepsi tekana oleh badan Vater Paccini di epidermis, rasa panas oleh
badan Ruffini di dermis dan sub kutis, rasa dingin oleh badan Krause dan
rasa sakit oleh “free nerve ending”. Saraf-saraf sensorik lebih banyak
jumlahnya di daerah erotik.10

i. Peran dalam imunologi kulit


Pada kulit didapat apa yang disebut SALT (Skin Associated Lymphoid
Tissue) yang terdiri dari sel Langerhans, keratinosit, saluran limfatik kulit
dan sel endotel kapiler khusus yang memiliki reseptor khusus untuk

12
menarik sel limfosit T kedalam epidermis. Sel Langerhans berfungsi
sebagai antigen presenting cell yang membawa antigen ke sel limfatik
dalam reaksi alergi kontak. Sel keratinosit memproduksi cairan yang
mengandung protein yang akan berikatan dengan antigen yang masuk ke
epidermis untuk membentuk antigen kompleks yang potensial. Keratinosit
juga memproduksi Limphokine Like Activity seperti Epidermal Thymocyte
Activating Factor (ETAF) yang identik dengan IL-1 dan berbagai fungsi
lain. SALT juga sangat penting untuk memonitor sel-sel ganas yang timbul
akibat radiasi UV, zat kimia maupun oleh virus onkogenik. Sampai saat
ini peranan SALT masih terus diselidiki.6

3.3 Luka Bakar


3.3.1. Definisi
Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan api
ke tubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas (kontak
panas), akibat sengatan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta sengatan
matahari (sunburn).1

3.3.2. Epidemiologi
Lebih dari 2 juta kasus luka bakar di Amerika Serikat memerlukan
penanganan medis setiap tahunnya, dan sekitar 14.000 kasus berakhir dengan
kematian.2 Sekitar 175.000 orang di Inggris menderita luka bakar setiap
tahunnya, dan 13.000 diantaranya memerlukan perawatan di Rumah Sakit,
sekitar 1.000 orang mengalami luka bakar berat.3
Luka bakar juga masih menjadi masalah besar yang mengancam
seluruh kalangan usia. Lebih dari 60% pasien luka bakar terjadi dalam kisaran
usia produktif dimana pria lebih banyak daripada perempuan. Hingga 55%
disbebakan oleh api, 40% karena air mendidih, dan selebihnya dikarenakan
kimia dan listrik.11

13
3.3.3. Etiologi
Penyebab terjadinya luka bakar dapat berdasarkan mekanisme injurinya
meliputi1:
a. Luka bakar suhu tinggi(Thermal Burn): gas, cairan, bahan padat
Luka bakar thermal burn biasanya disebabkan oleh air panas (scald)
,jilatan api ketubuh (flash), kobaran api di tubuh (flam), dan akibat
terpapar atau kontak dengan objek-objek panas lainnya(logam panas, dan
lain-lain).
b. Luka bakar bahan kimia (Chemical Burn)
Luka bakar kimia biasanya disebabkan oleh asam kuat atau alkali yang
biasa digunakan dalam bidang industri militer ataupu bahan pembersih
yang sering digunakan untuk keperluan rumah tangga.
c. Luka bakar sengatan listrik (Electrical Burn)
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api, dan
ledakan. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki
resistensi paling rendah. Kerusakan terutama pada pembuluh darah,
khusunya tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke
distal. Sering kali kerusakan berada jauh dari lokasi kontak, baik kontak
dengan sumber arus maupun grown.
d. Luka bakar radiasi (Radiasi Injury)
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radio aktif.
Tipe injury ini sering disebabkan oleh penggunaan radio aktif untuk
keperluan terapeutik dalam dunia kedokteran dan industri. Akibat terpapar
sinar matahari yang terlalu lama juga dapat menyebabkan luka bakar
radiasi.

3.3.4. Patofisiologi
Luka bakar tidak hanya dapat menyebabkan terjadinya respon lokal
saja, tetapi juga dapat menyebabkan respon sistemik bagi tubuh. Hal ini
dipengaruhi oleh seberapa luas distribusi/luas luka pada kulit, temperatur, dan
seberapa lama kulit terpapar dengan sumber panas tersebut.12

14
a. Respon Lokal
Jackson mendeskripsikan luka bakar lokal menjadi tiga zona yaitu:
 Zona hyperemia
Di zona ini perfusi jaringan meningkat. Jaringan akan membaik, kecuali
terdapat sepsis berat atau hipoerfusi berkepanjangan.11
 Zona stasis
Area hipoperfusi yang terletak disekeliling zona koagulasi dan masih
berpotensi untuk diselamatkan. Merupakan target utama resusitasi
untuk meningkatkan perfusi ke daerah ini dan mencegah kerusakan
baru yang ireversibel. Keadaan lainnya seperti hipotensi berkelanjutan,
infeksi, ataupun edema dapat mengubah area ini menjadi rusak
ireversibel.11,12

Gambar 2. Zona Luka Bakar


 Zona koagulasi
Titik kerusakan maksimum terjadinya kehilangan jaringan ireversibel
akibat koagulasi protein. Zona ini terdiri dari eschar atau jaringan
nekrotik dan biasanya terkena paling dekat dengan sumber panas.11,12

15
b. Respon Sistemik
Ketika luas luka bakar mencapai 15-20% total permukaan tubuh, terjadi
pelepasan sitokin dan mediator inflamasi pada lesi yang memberi efek
sistemik.11
 Perubahan Kardiovaskuler
Luka bakar yang terjadi akan berdampak terhadap peningkatan
permeabilitas pembuluh-pembuluh kapiler. Permeabilitas kapiler yang
meningkat membuat pelepasan protein dan cairan intravaskuler ke
kompartemen interstitial. Selain itu terjadi juga vasokonstriksi arteri-
arteri perifer dan splanknik. Pelepasan TNF-α menyebabkan
kontraktilitas miokard menurun. Keadaan tersebut diperberat dengan
hilangnya cairan dari luka dan luas daerah yang terkena. Hal inilah yang
menyebabkan terjadinya hipotensi sistemik dan berujung pada
hipoperfusi organ pada luka bakar.11,13
 Perubahan Respiratorik
Mediator inflamasi menyebabkan bronkokonstriksi dan pada keadaan
yang berat dapat menyebabkan respiratory distress syndrome.11
 Perubahan Metabolik
Basal metabolic rate meningkat hingga 3 kali lipat dan diperberat
dengan hipoperfusi splanknik, membutuhkan nutrisi enteral segera
untuk mengurangi katabolisme dan menjaga keutuhan usus.11
 Perubahan Imunologis
Terjadi down regulation tidak spesifik sistem imun, baik selular
maupun humoral. Contohnya, depresi aktivitas limfosit, penurunan
produksi immunoglobulin, supresi aktivitas sistem komplemen, dan
gangguan pada fungsi neutrofil dan makrofag.11,14 Kerusakan stratum
korneum pada kulit juga memungkinkan invasi mikroorganisme. Selain
itu, kerusakan sel Langerhans yang berfungsi sebagai mediator respon
imun lokal juga dapat meningkatkan meningkatkan risiko terjadinya
infeksi dan sepsis yang mengancam kelangsungan hidup pasien.11,14

16
3.3.5. Klasifikasi
Berdasarkan kedalamannya, luka bakar dapat dikelompokkan menjadi tiga
derajat:11
Tabel 1. Klasifikasi Derajat Luka Bakar
Derajat I Derajat IIa Derajat IIb Derajat III
(superficial) (partial (partial (full thickness)
thickness- thickness-deep
superficial dermal)
dermal)
Kedalaman Epidermis Lapisan atas Lapisan dermis Subkutan, otot,
dermis dalam tulang
Warna Kemerahan Merah Merah/putih Putih/coklat
muda/ kehitaman
kemerahan
Bula - +/- +/- -
Capillary + + + -
refill
Nyeri + + +(tumpul) -
Kekeringan Kering Lembab Lembab Kering
Lainnya - Edema, Tidak terlalu Hangus, eskar
pucat pucat

Gambar 3. Kedalaman Luka Bakar

17
Berdasarkan berat ringannya, luka bakar dapat dikelompokkan menjadi
tiga derajat yaitu:15
a. Luka bakar derajat ringan
 Luka bakar derajat II <15% pada orang dewasa
 Luka bakar derajat II<10% pada anak-anak
 Luka bakar derajat III<2%
b. Luka bakar derajat sedang
 Luka bakar derajat II <15-25% pada orang dewasa
 Luka bakar derajat II<10%-20% pada anak-anak
 Luka bakar derajat III<10%
c. Luka bakar derajat berat
 Luka bakar derajat II >25% pada orang dewasa
 Luka bakar derajat II>20% pada anak-anak
 Luka bakar derajat III>10%
 Luka bakar pada wajah, telinga, mata, tangan, kaki dan
genitalia/perineum
 Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, dan disertai trauma lain.

3.3.6. Diagnosis
Asesmen Area Luka Bakar
Ketika mengestimasi area luka bakar, eritema dan luka bakar derajat 1
tidak diperhitungkan. Penting untuk membuka permukaan selama penilaian,
namun lingkungan harus tetap hangat.11
a. Permukaan palmar
Gunakan area permukaan palmar pasien (termasuk jari-jari) secara kasar
merupakan 1% total permukaan tubuh. Dapat digunakan untuk
mengestimasi luka bakar kecil (<15%) atau yang sangat besar (>85%,
hitung permukaan yang tidak terbakar). Namun untuk ukuran medium,
seringkali tidak akurat.11

18
b. Wallace rule of nines
Baik dan cepat. Lebih sering digunakan pada dewasa, yaitu area tubuh
dibagi berdasarkan area 9%. Sedangkan pada anak sedikit berbeda karena
ukuran kepalanya yang relative lebih besar sehingga kurang akurat
digunakan untuk anak-anak.11 Seluruh permukaan lengan, masing-masing
9%, batang tubuh posterior dan anterior, masing-masing 18%, kepala/leher
sebesar 9%, seluruh ekstremitas bawah, masing-masing 18% dan area
genital 1%.

c. Lund and Browder


Dapat digunakan pada bentuk tubuh dan usia bervariasi, termasuk pada
anak-anak.11

Gambar 4. Lund and Browder Chart

3.3.7. Tatalaksana
Tatalaksana Awal
a. Hentikan proses luka bakar, jauhkan semua sumber luka bakar. Pakaian
sebaiknya dilepaskan karena dapat menahan panas.

19
b. Dinginkan luka bakar. Efektif pada 20 menit pertama, irigasi dengan air
15 oC selama 20 menit. Hal tersebut membantu melepaskan bahan
berbahaya, mengurangi nyeri, dan mengurangi edema dengan
menstabilkan sel mast dan pelepasan histamine. Jangan gunakan air
dengan es karena vasokonstriksi yang disebabkannya dapat menyebabkan
progresi luka bakar. Namun, mendinginkan area kulit luka bakar yang luas
dapat menyebabkan hipotermia, terutama pada anak-anak.11,15
c. Luka bakar tertentu. Pasien dengan luka bakar sengatan listrik tegangan
tinggi dapat mengalami penurunan kesadaran atau memiliki EKG
abnormal saat masuk rumah sakit, sehingga memerlukan pemantauan
EKG 24 jam. Pasien dengan luka bakar kimia perlu dilakukan irigasi
dengan sejumlah besar air dalam waktu yang cukup lama, terutama pada
daerah mata. Pembengkakan kelopak mata dan spasme otot disertai nyeri
akan menghalangi pencucian adekuat. Untuk irigasi kadang diperlukan
prosedur retraksi kelopak mata yag baik.15

Initial Assesment

a. Airway
Sama halnya dengan bantuan hidup lanjut, sebaiknya servikal tetap
dilindungi kecuali yakin tidak terdapat jejas servikal. Inhalasi gas panas
dapat menyebabkan edema pita suara beberapa saat kemudian. Oleh

20
karena itu, jaga jalan napas tetap paten. Bila diperlukan dapat dilakukan
intubasi.11
Tanda-tanda trauma inhalasi adalah sebagai berikut:
 Riwayat luka bakar karena api atau luka bakar di ruangan tertutup
 Luka bakar yang luas dan dalam di area wajah, leher, atau upper torso
 Bulu hidung yang terbakar
 Adanya sputum berkarbon atau partikel karbon di orofaring
Indikasi untuk dilakukan intubasi adalah sebagai berikut:
 Edema atau eritema area orofaring dari inspeksi langsung dengan
laringoskop
 Suara yang berubah menjadi kasar atau batuk kasar
 Stridor, takipnea atau dispnea

b. Breathing
Seluruh pasien luka bakar sebaiknya mendapat oksigen 100% dengan non-
rebreathing mask11
 Luka bakar yang mengellilingi dada, atau sangat luas dan dalam di area
dada, dapat membatasi pergerakan dada dan membuat ventilasi
inadekuat. Dibutuhkan tindakan eskarotomi
 Jejas yang mempenetrasi menyebabkan tension pneumothorax,
kontusio paru, dan trauma alveolar yang dapat menyebabkan adult
respiratory distress syndrome.
 Sekalipun telah dingin, hasil kombustio dapat masuk ke dalam paru-
paru dan mengiritasi paru yang menyebabkan inflamasi, bronkospasme,
dan bronkorhoea. Sillia pneumosit yang rusak dapat berlanjut menjadi
atelektasis atau pneumonia. Dapat diberikan nebulizer atau ventilasi
tekanan positif dengan positive end-expiratory pressure (PEEP)
 Afinitas ikatan karbonmonoksida dengan deoksihemoglobin 40 kali
lebih kuat bila dibandingkan dengan oksigen. Karbonmonoksida juga
berikatan dengan protein intraseluler terutama melalui jalur sitrokrom

21
oksidase, Kedua proses tersebut menyebabkan hipoksia ekstraseluler
dan intraseluler. Pulse oximetry tidak dapat membedakan keduanya
sehingga dapat menunjukkan hasil yang normal. Analisis gas darah
dapat menunjukkan asidosis metabolic dan peningkatan
karboksihemoglobin. Berikan oksigen 100% untuk mengeser
kedudukan karbon monoksida dengan cepat.11

c. Circulation
Buat dua jalur intravena yang besar di area tanpa luka. Pada luka
bakar >20% diperlukan pemasangan kateter urine untuk memonitor
keluaran urine. Pada anak, bila tidak memungkinkan dengan akses
intravena, dapat menggunakan akses interoseus untuk sementara. Namun,
jalur intravena tetap harus segera dipasang.11
Total cairan yang dibutuhkan dalam 24 jam:
4 mL x luas luka bakar (%) x berat badan (Kg)
Lima puluh persen diberikan dalam 8 jam pertama dan selebihnya dalam
16 jam setelahnya. Pada anak-anak, cairan yang dibutuhkan tiap jamnya
yaitu, 4 ml/KgBB untuk 10 kg pertama berat badan, 2 ml/KgBB untuk 10
kg kedua berat badan, ditambah cairan dextrose 5% sebagai cairan
maintenance. Target urine output dewasa adalah 0,5–1 ml/Kg/Jam dan 1–
2 ml/Kg/Jam pada anak-anak.11,15
Perlu juga dilakukan pemeriksaan CRT untuk menilai perfusi padi
organ perifer, normalnya < 2 detik.15

d. Disability
Periksa tingkat kesadaran pasien dengan Glasglow coma scale. Penurunan
kesadaran dapat terjadi karena hipoksia atau hipovolemi. Dilakukan
penilaian dengan AVPU (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive) serta
penilaian terhadap reflex cahaya pupil.15

22
e. Exposure
Seluruh permukaan tubuh pasien harus diperiksa termasuk punggung,
untuk mendapatkan estimasi akurat dari area luka bakar dan jejas yang
menyertai. Pasien sebaiknya segera ditutupi selimut karena rentan
hipotermi, terutama anak-anak. Jangan lupa untuk menggali informasi
riwayat pasien, biasanya dilakukan dengan menggunakan AMPLE
(Allergies, Medication, Past Illness, Last Meal, Environment).15

Tatalaksana Lanjutan
a. Bersihkan luka
Bersihkan dengan sabun dan air atau cairan antibakteri seperti cairan
klorheksidin. Bila terdapat bula yang besar, sebaiknya dipecahkan dari
bagian dasar, kulit mati sebaiknya dibuang dengan gunting atau jarum
steril. Bula yang kecil sebaiknya dibiarkan saja.11
 Luka bakar derajat I
Cuci dengan air dan sabun, berikan pelembab atau antibiotik topical.
Dalam beberapa hari akan sembuh.11
 Luka bakar derajat II
 Bila terdapat bula intak, biarkan karena membantu penyembuhan
luka
 Bila bula sudah terbuka, buang semua kulit mati
 Berikan antibiotic topical, biasanya krim neomycin basitrasin
(Nebacetin) atau salep MEBO dua kali sehari dan tutup dengan
penutup kering
 Derajat II superficial biasanya sembuh dalam 10–14 hari. Sedangkan
derajat II dalam biasanya sembuh dalam 3–4 minggu
 Luka bakar derajat III
 Berikan antibiotic topical
 Biasanya butuh waktu minimal 4 minggu untuk sembuh dan sembuh
dengan jaringan parut hipertrofik

23
 Biasanya membutuhkan eksisi tangensial dan skin graft (kecuali luka
dengan diameter <4cm)
b. Gunakan dressing
Idealnya dalam 24 jam perlu dilakukan pemeriksaan dressing ulang.
Pertama kali dressing diganti setelah 48 jam, kemudian setiap 3-5 hari
berikutnya. Bila luka yang diberi dressing terasa nyeri, berbau,
terkontaminasi, keluar cairan berlebihan, atau adanya tanda-tanda infeksi
seperti demam, segera ganti dressing. Bila luka tidak sembuh dalam 3
minggu, segera rujuk ke bedah plastic yang menangani luka bakar. Bekas
luka bakar akan kering dan sensitif. Dalam masa penyembuhan dapat
terasa gatal. Sebaiknya berikan krim pelembut dan hindarkan dari paparan
sinar matahari langsung.11
c. Suportif
Berikan analgesic, terutama luka bakar superficial karena sangat nyeri.
Bila NSAID tidak dapat mengatasi nyeri, dapat diberikan morfin oral
(pada luka bakar kecil) atau intravena. Dengan dosis 2-3 mg setiap kali
pemberian dan di titrasi untuk kontrol. Hati-hati pemberian karena dosis
berlebihan dapat menyebabkan pasien tidak bernapas. Jangan berikan
lebih dari 0,1 mg/KgBB dalam periode 1-2 jam. Berlaku pada anak-anak
dan dewasa.11
d. Luka bakar di wajah
Sebaiknya dirujuk ke spesialis bedah plastik. Namun bila hanya sunburn,
luka sebaiknya dibersihkan 2 kali sehari dengan solusio klorheksidin
terdilusi. Sebaiknya dilapisi krim seperti paraffin cair, setiap 1-4 jam untuk
meminimalisasi pembentukan krusta. Pasien sebaiknya tidur dengan 2
bantal dalam 48 jam pertama untuk mencegah edema wajah.11
e. Indikasi rujuk ke unit luka bakar
Seluruh luka bakar yang kompleks harus dirujuk yakni
 Usia < 5 tahun atau > 60 tahun

24
 Luka bakar mengenai wajah, tangan, perineum, di kaki bila kehilangan
banyak kulit, bila mengenai lipatan seperti aksila atau leher, dan yang
melingkar di ekstremitas, torso atau leher.
 Trauma inhalasi
 Trauma kimia > 5% total area tubuh, pajanan terhadap radiasi yang
mengionisasi, trauma listrik tegangan tinggi, trauma panas tekanan
tinggi, luka bakar asam hidrofluorat >1% total luas permukaan tubuh,
atau trauma yang diduga karena disengaja (kekerasan)
 Luas kulit yang terkena pada anak-anak <16 tahun sekitar >5% dari
seluruh luas permukaan tubuh, dewasa > 16 tahun bila >10% luas
permukaan tubuh.
 Adanya kondisi komorbid lain yang menyertai seperti kehamilan,
imunosupresi, gangguan jantung, fraktur, trauma kepala atau
kecelakaan.

3.3.8. Komplikasi
Beberapa komplikasi dari luka bakar yang dapat terjadi:16
a. Infeksi
b. Kontraktur
c. Compartement syndrome

3.3.9. Prognosis
Prognosis pasien biasanya tergantung pada kondisi-kondisi yang menyertai
pasien, misalnya pasien dengan cedera inhalasi, syok, dan dengan
komplikasi-komplikasi lainnya akan semakin buruk. Selain itu juga
dipengaruhi oleh jenis luka bakar, luas dan kedalaman luka bakar, serta
lamanya kontak dengan sumber panas yang ada.12

25
BAB IV
ANALISIS KASUS

Sejak ± 2 jam SMRS pasien tersiram air panas dari dispenser di bagian kaki
kanan. Ketika ibu pasien menyadari anaknya terkena air panas, ibu pasien segera
melepas celana anaknya. Luka disiram dengan air dingin dan tidak dioles dengan
bahan apapun. Kemudian pasien dibawa ke IGD RSUD Dr. Sobirin Lubuk Linggau
pada tanggal 07 Desember 2018.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pada pedis dekstra tampak luka dengan
dasar merah dan basah, bula (+), nyeri (+), + 2.5% BSA. Pada skrotum tampak luka
dengan dasar merah dan basah, bula (+), tampak bula pecah dengan dasar merah
dan basah , nyeri (+), <1% BSA.
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi dapat menyebabkan
permeabilitasnya meningkat. Hal ini menyebabkan edema dan timbulnya bula yang
mengandung banyak elektrolit sehingga volume cairan intravaskular menurun.
Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat
penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka
bakar derajat dua. Pada kasus didapatkan derajat luka bakar yaitu derajat IIA
(Superficial Dermal) sebab kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis yang
terlihat dari reaksi inflamasi akut dan proses eksudasi, ditemukan bula, dasar luka
berwarna merah dan nyeri akibat iritasi ujung saraf sensorik. Luka bakar pada
pasien ini tidak digolongkan derajat I karena pada luka bakar derajat I kelainan
hanya ditemmukan berupa eritema. Luka bakar juga tidak digolongkan pada derajat
III karena tidak dijumpai kulit yang berwarna abu-abu atau kehitaman, pucat,
letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar dan tidak dijumpai rasa nyeri
akibat kerusakan total ujung serabut saraf sensoris. Luas luka bakar yang dipakai
pada kasus ini adalah menggunakan Wallace Rule of Nines, dari hasil perhitungan
didapatkan luas luka bakar 3.5%.
Tatalaksana awal untuk luka bakar adalah airway: bebaskan jalan napas dan
nilai adanya trauma inhalasi; breathing: nilai pernapasan; circulatory: pantau
tekanan darah, nadi dan resusitasi cairan; disability: nilai GCS dan environment:

26
menghentuikan proses trauma bakar, menilai luas luka bakar dan periksa adakah
trauma penyerta lain. Pasien diberikan cairan menggunakan perhitungan Holliday-
Segar yaitu 100cc x berat badan (10 Kg pertama). Pasien juga diberikan antibiotik
dan penghilang nyeri. Cairan dimonitor dengan menilai urine output pada pasien.
Kemudian pasien dirawat inap, dilakukan wound toilet dengan salep Burnazine dan
NaCl.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Moenadjat, Y. 2005. Luka Bakar. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.


2. Doherty, G.M., 2015. Current Diagnosis and Treatment Surgery 14th edition.
California : McGraw-Hill Education.
3. Williams, N.S., et al. 2018. Bailey and Love’s Short of Practice Surgery 27th
edition. UK : Taylor and Francis Group.
4. Ahmadsyah, I. Prasetyono, T. 2015. Luka. Dalam: Sjamsuhidajat, R., de Jong
W., editor. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
5. Anggowarsito, J. L. 2014. Luka Bakar Sudut Pandang Dermatologi. Widya
Medika Surabaya. 2(2): 115-120.
6. James, W.D., et al. 2016. Andrew’s Disease of Skin 12th edition. Philadelphia
: Elsevier.
7. Tortora, G.J., Derrickson B. 2009. Principles of Anatomy and Physiology 12th
Edition. US : John Willey and Son.
8. Grichnik JM, Rhodes AR, Sober AJ. Benign Neoplasias and Hyperplasias of
Melanocytes. In : Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS,
Leffell DJ. 2008. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th Edition.
New York: McGraw Hill. h. 1099-1121.
9. Budimulja U. Morfologi dan Cara Membuat Diagnosis. Dalam : Djuanda A,
Hamzah M, Aisah S. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-5.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Hal 34-42.
10. Ahmadsyah, I. Prasetyono, T. 2015. Luka. Dalam: Sjamsuhidajat, R., de Jong
W., editor. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
11. American College of Surgeons (ACS) Committees on Trauma. Advanced
trauma life support (ATLS) student course manual. Edisi ke-9. 2012.
12. Cameron, A. M., et al. Burn Wound Management: a Surgical Prespective.
Wound Practice and Research. 2010 Feb. 18(1): 35-40.
13. Tiwari, V. K. Burn Wound: How it Differs From Other Wounds?. Indian
Journal of Plastic Surgery. 2012 May-Aug. 45(2): 364-373.

28
14. Rahayuningsih, T. 2012. Pentalaksanaan Luka Bakar (Combustio).
(https://ejournal.stikespku.ac.id/index.php/mpp/article/viewFile/11/9,
Diakses tanggal 14 Desember 2018).
15. Emergency Management of Severe Burns (EMSB), Course Manual, 17th
edition. Australia and New Zealand Burn Association Ltd, Februari 2013.
16. Masood, R. A., et al. Burn Cases, Their Management and Complications: A
Review. International Current Pharmaceutical Journal. 2016 Nov. 5(12):
103-105.

29