Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia

Vol. 22, No. 3, 2007, 277 – 291

HUBUNGAN ANTARA KORUPSI


DENGAN PENANAMAN MODAL ASING:
STUDI KASUS ENAM NEGARA ASEAN: 1997-2005 1
Andryan Setyadharma
Magister Sains Ilmu Ekonomi
Pascasarjana Universitas Gadjah Mada

ABSTRACT

The corruption remains significant and unfair barriers to trade and economic
development in many countries. These practices increase costs, decrease fair competition
and represent a significant deterrent to foreign investment. Previous studies have showed
that corruption tends to have negative impact on foreign direct investment (FDI) but only
few studies have investigated the possibility of effects in the opposite direction. This paper
attempts to find the relationship between corruption and FDI with two ways: assess the
effect of inflows of FDI, as a measure of trade openness, on corruption at the country level
and also attempts to see the effect of corruption on FDI. It conducts regression analysis on
a cross section of six ASEAN countries over the period 1997 to 2005 and controls for
some other variables likely to impact on corruption as well as FDI. The result shows that
there’s significant impact of corruption on inflows of FDI, and in opposite indicated that
inflows of FDI is significant with the lower level of corruption in six ASEAN countries.
Keywords: Korupsi, Penanaman Modal Asing, ASEAN

PENDAHULUAN1 yang menurun pada investasi di wilayah


ASEAN merupakan salah satu kawasan ASEAN. Hal ini bahkan terjadi di sejumlah
yang kaya dengan sumber daya alam dan negara sebelum terjadinya krisis ekonomi
manusia. ASEAN juga merupakan salah satu pada tahun 1997.
kawasan di dunia yang mencatat pertumbuhan Aliran PMA pada enam negara ASEAN
ekonomi cukup tinggi. Tingginya pertum- berada pada posisi tertinggi di tahun 1997,
buhan ekonomi ini tidak terlepas dari derasnya pada tahun yang sama dengan terjadinya krisis
arus penanaman modal asing (PMA) ke ekonomi dibeberapa negara Asia (Gambar 1).
negara-negara kawasan ini. ASEAN sukses Namun sejumlah negara telah menunjukkan
menarik PMA dan menjadikan perusahaan- penurunan PMA sebelum terjadinya krisis
perusahaan asing sebagai bagian dari strategi tersebut. Bahkan Indonesia semenjak tahun
pembangunan nasional. Pada tahun 1990-an, 1998 telah menunjukkan adanya negatif
negara-negara ASEAN menjadi penerima inflow. Setelah krisis ekonomi tahun 1997,
PMA terbesar di dunia setelah China di mana beberapa negara ASEAN juga menunjukkan
investor asing mendorong terjadinya pemba- penurunan jumlah PMA, seperti misalnya
ngunan wilayah yang berorientasi ekspor. Philipina dan Thailand. Pada tahun 2004,
Namun demikian, telah terjadi pergeseran tren secara total telah terjadi peningkatan jumlah
PMA yang masuk ke ASEAN sebesar 37,35
1
Terima kasih kepada reviewer atas masukan yang sangat persen dibandingkan tahun sebelumnya.
berharga untuk penyempurnaan tulisan ini.
278 Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia Juli

40

35

30

25
Nilai (Miliar USD)

20

15

10

0
1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005

-5
Tahun

Indonesia Malaysia Philippines Singapore Thailand Vietnam

Gambar 1. Perkembangan Penanaman Modal Asing di Enam Negara ASEAN, 1994-2005


Sumber: UNCTAD (2006)

Jumlah PMA yang masuk paling besar diteri- kinerja dan potensi PMA yang tinggi; (2)
ma oleh Singapura yang menerima 58,84 above potential, yaitu negara dengan potensi
persen dari total PMA di ASEAN. PMA yang rendah namun memiliki kinerja
Sementara itu, tren aliran PMA ke PMA yang tinggi; (3) below potential, yaitu
ASEAN menunjukkan hubungan yang searah yaitu negara dengan potensi PMA yang tinggi
dengan tren perkembangan PMA dunia namun memiliki kinerja PMA yang rendah;
(Gambar 2). Walaupun kecenderungan tren (4) under performers, yaitu negara dengan
yang searah dan merupakan penerima PMA potensi dan kinerja PMA yang rendah. Tabel 1
terbesar kedua setelah China, namun menunjukkan matriks aliran masuk PMA
persentase PMA yang masuk ke ASEAN dari tersebut.
seluruh total PMA dunia sangat kecil, rata-rata
PMA yang masuk ke ASEAN hanya 4,9 Tabel 1. Matriks Aliran Masuk PMA
persen per tahun, sedangkan rata-rata PMA
yang masuk ke China adalah 5,10 persen. Kinerja PMA Kinerja PMA
Tinggi rendah
KORUPSI DAN PENANAMAN MODAL Potensi
PMA Front runners Below potential
ASING
Tinggi
Untuk menunjukkan kinerja dan potensi Potensi
Above Under
suatu negara terhadap PMA, United Nations PMA
potential performers
Conference on Trade and Development Rendah
(UNCTAD) sejak tahun 1988 membuat suatu Sumber: UNCTAD (2006)
matriks yang dibagi dalam empat bagian,
yaitu: (1) front runner, yaitu negara dengan
2007 Setyadharma 279

1,600 40
Miliar US$

Miliar US$
1,400 35

1,200 30

1,000 25

800 20

600 15

400 10

200 5

0 0
70

72

74

76

78

80

82

84

86

88

90

92

94

96

98

00

02

04
19

19

19

19

19

19

19

19

19

19

19

19

19

19

19

20

20

20
Total Dunia ASEAN 6
Gambar 2. Tren Penanaman Modal Asing di Enam Negara ASEAN dan Dunia, 1970-2005
Sumber: UNCTAD (2006)

Tabel 2. Matriks Aliran Masuk PMA Enam Negara ASEAN, Periode 1988-1990
Kinerja PMA
Tinggi Rendah
Potensi FDI

Indonesia, Malaysia,
Tinggi
Singapura, Thailand

Rendah Philipina, Vietnam

Sumber: UNCTAD (2006)

Tabel 3. Matriks Aliran Masuk PMA Enam Negara ASEAN, Periode 2002-2004
Kinerja PMA
Tinggi Rendah
Potensi FDI

Tinggi Malaysia, Singapura, Philipina, Thailand

Rendah Vietnam Indonesia

Sumber: UNCTAD (2006)


280 Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia Juli

Tabel 2 dan tabel 3 menunjukkan matriks Istilah “korupsi” dipergunakan sebagai


aliran masuk PMA bagi enam negara ASEAN suatu acuan singkat untuk serangkaian
pada periode 1988-1990 dan periode 2002- tindakan-tindakan terlarang atau melawan
2004. Pada periode 1988-1990, terdapat empat hukum dalam arti luas (ADB, 1998). Walau-
negara yang dikategorikan sebagai front pun tidak ada definisi umum atau menyeluruh
runner yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, tentang apa yang dimaksud dengan korupsi,
dan Thailand. Sementara Philipina dan definisi yang paling menonjol memberikan
Vietnam termasuk kategori above potential. penekanan yang sama pada penyalahgunaan
Posisi seperti ini menunjukkan bahwa ASEAN kekuasaan atau jabatan publik untuk keun-
memang memiliki daya tarik yang luar biasa tungan pribadi. ADB (1998) mendefinisikan
bagi negara-negara investor. korupsi secara lebih menyeluruh sebagai
Namun pada periode 2002-2004, posisi berikut: “Korupsi melibatkan perilaku oleh
negara yang tidak berubah jika dibandingkan sebagian pegawai sektor publik dan swasta, di
dengan periode 1988-1990 yaitu Malaysia, mana mereka dengan tidak pantas dan
Singapura, dan Vietnam, sementara negara- melawan hukum memperkaya diri mereka
negara lain sudah pindah posisi. Indonesia sendiri dan/atau orang-orang yang dekat
dikategorikan pada under performers semen- dengan mereka, atau membujuk orang lain
tara Philipina dan Thailand masuk kategori untuk melakukan hal-hal tersebut, dengan
below potential. Thailand tidak mampu menyalahgunakan jabatan di mana mereka
mempertahankan kinerjanya. Philipina mampu ditempatkan”. Oxford Unabridged Dictionary
meningkatkan potensi namun masih memiliki (Kamus Lengkap Oxford) mendefinisikan
kinerja yang rendah. Sedangkan Indonesia korupsi sebagai “penyimpangan atau peru-
tidak mampu mempertahankan potensi dan sakan integritas dalam pelaksanaan tugas-
kinerja PMA yang tinggi. Secara keseluruhan, tugas publik dengan penyuapan atau balas
Indonesia merupakan negara yang paling jasa.” Webster’s Collegiate Dictionary
gagal dalam pengelolaan PMA. (Kamus Perguruan Tinggi Webster) mendefi-
nisikan korupsi sebagai “bujukan untuk ber-
Dari penjelasan di atas, apakah ada buat salah dengan cara-cara yang tidak pantas
hubungan antara turunnya PMA yang masuk atau melawan hukum (seperti penyuapan).”
ke ASEAN dengan tingkat korupsi di masing-
masing negara?. Korupsi memang telah men- Pengertian ringkas yang dipergunakan
jadi momok bagi dunia usaha. Merajalelanya oleh Bank Dunia adalah “penyalahgunaan
korupsi mengikis daya saing suatu negara jabatan publik untuk keuntungan pribadi”.
secara drastis. Korupsi menghambat investasi Definisi ini serupa dengan yang dipergunakan
masuk yang sangat penting bagi pertumbuhan oleh Transparency International (TI), yaitu :
perekonomian. Korupsi membuat alokasi “Korupsi melibatkan perilaku oleh pegawai di
sumber daya ekonomi menjadi kurang efisien, sektor publik, baik politikus atau pegawai
membuat mahal biaya produksi dan distribusi negeri, di mana mereka dengan tidak pantas
barang yang akhirnya akan menimbulkan high dan melawan hukum memperkaya diri mereka
cost economy. Korupsi sebagai hambatan sendiri, atau yang dekat dengan mereka,
dipercayai dapat menimbulkan berkurangnya dengan menyalahgunakan kekuasaan publik
market integrity dan melemahnya penerapan yang dipercayakan kepada mereka” (Transpa-
good governance baik pada sektor swasta rency International, 2000).
maupun publik yang baik. Secara singkat
dapat dikatakan, bahwa korupsi merupakan KORUPSI DAN DAYA SAING
trade barrier, investment barrier, development Sejak tahun 1995, TI mengeluarkan daftar
barrier dan merugikan negara itu sendiri. peringkat negara-negara terkorupsi di dunia
2007 Setyadharma 281

dengan menggunakan indeks antara 0-10, di ditempati oleh Angola (CPI: 2,20 dan GCI:
mana 0 adalah paling korup dan 10 tidak ada 2,50) dan posisi tertinggi ditempati oleh
korupsi. Indeks Persepsi Korupsi berhubungan Finlandia (CPI: 9,60 dan GCI: 5,76).
dengan persepsi para pengusaha dan para Sementara itu untuk ASEAN, Singapura
analis. Tabel 4 merangkum peringkat Indeks merupakan negara yang memiliki daya saing
Persepsi Korupsi (Corruption Perception dan persepsi korupsi yang paling baik. Dari
Index/CPI) untuk enam negara ASEAN. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa terdapat
tabel 4 terlihat bahwa Indonesia merupakan tren yang positif antara korupsi dengan daya
negara dengan peringkat korupsi terendah dan saing, di mana negara yang memiliki Indeks
Singapura merupakan negara dengan tingkat Persepsi Korupsi yang baik juga memiliki
korupsi terbaik. daya saing yang tinggi pula.
Sedangkan untuk indikator daya saing,
World Economic Forum (WEF) tiap tahun PENELITIAN SEBELUMNYA
mengeluarkan informasi daya saing suatu Studi Mauro (1995) menunjukkan bahwa
negara dalam laporannya yang berjudul The korupsi telah menciptakan inefisiensi birokrasi
Global Competitiveness Report. Dalam salah yang selanjutnya memperburuk pertumbuhan.
satu laporannya, WEF mengeluarkan indeks Korupsi juga merangsang terjadinya ketidak-
daya saing pertumbuhan (Growth Competiti- tepatan alokasi investasi sektor-sektor eko-
veness Index/GCI) untuk mengukur daya saing nomi. Pada saat sama, korupsi mempengaruhi
suatu negara yang mengandung tiga kom- tingkat pendapatan steady state akibat
ponen indeks, yaitu indeks teknologi, indeks ketidaktepatan alokasi produksi. Dalam
institusi publik, dan indeks lingkungan makro- keadaan ekonomi berada di bawah tingkat
ekonomi. Indeks daya saing pertumbuhan steady state-nya, korupsi yang menaik
memiliki nilai antara 0 sampai 6, di mana berdampak pada penurunan pertumbuhan.
angka 0 menunjukkan tidak memiliki daya
Wei (2000) menginvestigasi apakah aliran
saing dan 6 menunjukkan kekuatan daya saing
PMA dari Amerika Serikat dan negara-negara
yang paling tinggi.
lain secara statistik berbeda atau tidak dengan
Hubungan antara korupsi dengan daya menggunakan data aliran bilateral antara 12
saing dapat dilihat pada gambar 3. Kotak- negara asal PMA dan 45 negara penerima
kotak kecil menggambarkan posisi 116 negara PMA untuk tahun 1990 dan 1991. Dengan
dalam tingkat korupsi dan tingkat daya saing menggunakan metode double log-linear dan
yang disurvei oleh masing-masing lembaga metode modified tobit Wei (2000)
pada tahun 2005. Posisi yang paling bawah menyimpulkan bahwa korupsi menghasilkan

Tabel 4. Peringkat Indeks Persepsi Korupsi Enam Negara ASEAN, 2000-2006


Tahun Indonesia Malaysia Philipina Singapura Thailand Vietnam n
2000 85 36 69 6 66 76 90
2001 88 36 65 4 61 75 91
2002 96 33 77 5 64 85 102
2003 122 37 92 5 70 100 133
2004 133 39 102 5 64 102 145
2005 137 39 117 5 59 107 159
2006 130 44 121 5 63 111 163
n = jumlah negara yang disurvei
Sumber: Transparency International (2006)
282 Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia Juli

6.0
Growth Competitiveness Index 2006

5.5 ASEAN

Vietnam
5.0
Thailand
4.5
Singapore

4.0 Philippines

Malaysia
3.5
Indonesia

3.0

2.5
Total Population
2.0 Rsq = 0.7698
0 2 4 6 8 10

Corruption Perception Index 2006


Gambar 3. Hubungan Antara Indeks Persepsi Korupsi dengan Indeks Daya Saing Pertumbuhan
pada 125 Negara tahun 2006

efek negatif dan signifikan pada PMA, dan metode fixed effect dan random effect
tidak memiliki efek yang berbeda-beda berda- menyimpulkan bahwa korupsi berdampak
sarkan negara asal PMA. buruk pada komposisi aliran modal masuk
Smarynzka & Wei (2000) dengan meng- yang akan mengurangi PMA dan mening-
gunakan data cross section dari 1.405 perusa- katkan ketergantungan negara pada pinjaman
haan pada tahun 1995 dan menggunakan bank.
metode probit dan maximum likelihood Habib & Zurawicki (2001) menguji
menyatakan bahwa korupsi di negara pengaruh korupsi pada PMA dan penanaman
penerima PMA mengakibatkan investor asing modal dalam negeri (PMDN). Hasilnya
memilih untuk melakukan joint ventures menunjukkan bahwa korupsi memiliki
daripada memiliki perusahaan yang dimiliki pengaruh negatif yang lebih kuat pada PMA
100 persen sendiri. Penelitian Lambsdorff & daripada investasi lokal. Lambsdorff (2003)
Cornelius (2000) dengan menggunakan data mengajukan pertanyaan bagaimana korupsi
negara-negara Afrika menemukan pengaruh mempengaruhi aliran masuk modal yang tetap.
negatif korupsi pada PMA. Wei & Wu (2001) Penelitiannya membagi investasi pada dua
menggunakan data cross section selama kategori utama, yaitu tabungan domestik dan
periode 1994-1996 dengan menggunakan aliran masuk modal netto. Pengaruh negatif
2007 Setyadharma 283

yang signifikan terbukti pada variabel aliran PMA walaupun menggunakan sejumlah
masuk modal netto. Namun penelitian ini spesifikasi model. Dengan menggunakan data
tidak membedakan bentuk-bentuk dari aliran pada Sub-Sahara Afrika, Okeahalam & Bah
masuk modal. Untuk mengidentifikasi faktor- (1998) juga menghasilkan hasil yang tidak
faktor yang potensial, penelitian ini signifikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
menggunakan variabel-variabel institusional literatur-literatur yang ada telah menghasilkan
seperti kualitas birokrasi, kebebasan sipil, hasil-hasil yang berbeda mengenai dampak
stabilitas pemerintahan, hukum, dan tradisi korupsi terhadap PMA.
suatu negara. Hasilnya menunjukkan bahwa Ketika banyak literatur-literatur yang
seluruh variabel kecuali variabel terakhir menguji dampak korupsi pada PMA, Larrain
merupakan variabel-variabel yang menen- & Tavarez (2004) menguji kebalikannya.
tukan dalam masuknya modal asing. Habib & Menggunakan data cross section sejumlah
Zurawicki (2002) menggunakan data cross negara selama tahun 1980-1994 menguji
section 89 negara selama tahun 1996-1998 bagaimana PMA mempengaruhi korupsi.
dengan metode OLS dan probit menguji Penelitian ini menunjukkan bahwa PMA
akibat korupsi pada penanaman modal asing secara signifikan berhubungan dengan tingkat
dengan dua cara, yaitu menganalisis tingkat korupsi yang lebih rendah.
korupsi di negara pemilik modal dan menguji
perbedaan absolut pada tingkat korupsi antara Keterkaitan penelitian-penelitian sebelum-
negara pemilik modal dan negara penerima nya adalah data yang digunakan merupakan
modal asing. Hasil pengujian menunjukkan data cross section (analisis beberapa negara)
hasil yang sama untuk keduanya, yaitu dan beberapa penelitian menambahkan dengan
hubungan yang negatif. Hasil ini menunjukkan suatu periode waktu sehingga menjadi analisis
bahwa investor asing secara umum data panel. Analisis data runtut waktu saja
menghindari korupsi karena menyadari bahwa tidak dimungkinkan sebab ketersediaan data
hal itu salah dan dapat menciptakan inefisiensi korupsi suatu negara dalam jangka panjang
dalam biaya operasional. tidak mencukupi. Perbedaannya terletak pada
alat analisis yang tidak sama dengan yang lain
Di sisi lain, terdapat penelitian yang tidak untuk menjawab pertanyaan penelitian,
mendukung penelitian-penelitian di atas. sampel negara yang digunakan serta periode
Penelitian Akcay (2001) menghasilkan suatu waktu yang tidak sama.
pengecualian terhadap keberadaan bukti yang
menyatakan hubungan negatif antara PMA Tidak adanya keseragaman penggunaan
dan korupsi. Dia menggunakan data cross data yang digunakan sebagai proxy dari
section dari 52 negara berkembang dengan korupsi pada penelitian sebelumnya menjadi
dua macam indeks korupsi yang berbeda. persoalan yang menarik untuk dicermati.
Akcay (2001) tidak menemukan bukti untuk Sedikitnya terdapat enam sumber yang bisa
mendukung keberadaan hubungan yang digunakan sebagai ukuran suatu tingkat
signifikan antara korupsi dan PMA. Lebih korupsi (Alesina & Weder, 1999), yaitu:
lanjut lagi, hasil penelitian ini menunjukkan International Country Risk Guide (ICRG),
bahwa tingkat pajak korporat, ukuran pasar, World Development Report (WDR), Standard
keterbukaan ekonomi, dan biaya tenaga kerja & Poors, Business International (sekarang
adalah variabel-variabel ekonomi yang paling bernama Economist Intellegence Unit), World
relevan dalam mempengaruhi PMA. Competitiveness Yearbook, dan terakhir
Menggunakan data cross section, Alesina & adalah Transperancy International.
Weder (1999) dengan menggunakan OLS Penelitian sebelumnya tidak ada yang
tidak dapat menghasilkan parameter yang secara khusus meneliti kawasan Asia saja
signifikan pada variabel korupsi terhadap sebagai sampelnya. Asia selama periode 2000-
284 Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia Juli

2005 merupakan wilayah penerima PMA


terbesar kedua setelah Eropa. Studi ini akan Pooled Least
mengisi kekosongan penelitian pada kawasan Square
Asia khususnya di ASEAN karena Pada tahun
1990-an, negara-negara ASEAN menjadi Chow Test LM Test
penerima PMA terbesar di dunia setelah
China, sehingga analisis dampak korupsi di
kawasan ASEAN ini menjadi menarik.
Fixed Random
METODOLOGI
Effect Hausman Effect
Studi ini akan melihat apakah ada Test
hubungan antara korupsi dengan penanaman
modal asing (PMA). Pertama, hubungan yang
Gambar 4. Pengujian Pemilihan Model Dalam
akan dilihat adalah apakah tingkat korupsi
Pengolahan Data Panel
suatu negara mempengaruhi masuknya PMA
di negara tersebut, dan kedua akan dilihat
Pooled Least Square Vs Fixed Effect
apakah masuknya PMA sebagai ukuran
keterbukaan suatu negara akan menjadikan Chow Test digunakan untuk memilih
korupsi menjadi lebih sedikit. Studi ini apakah model yang digunakan Pooled Least
menggunakan analisis data panel dengan Square atau Fixed Effect. Seperti yang
sampel enam negara ASEAN yaitu: Indonesia, diketahui, terkadang asumsi bahwa setiap unit
Malaysia, Philipina, Singapura, Thailand, dan cross section memiliki perilaku yang sama
Vietnam, dengan periode 1997-2005. Pemi- cenderung tidak realistis mengingat
lihan sampel ini dikarenakan ketersediaan dimungkinkan saja setiap unit cross section
data, dan terlebih lagi karena sampel berada di memiliki perilaku yang berbeda. Dalam
satu kawasan regional yang secara signifikan pengujian ini dilakukan dengan hipotesis
menerima PMA dalam jumlah besar. sebagai berikut:
Studi ini menggunakan analisis model H0: Model Pooled Least Square (Restricted)
data panel di mana dikenal tiga macam
pendekatan yang terdiri dari pendekatan H1: Model Fixed Effect (Unrestricted)
kuadrat terkecil (pooled least square),
Dasar penolakan terhadap hipotesis nol
pendekatan efek tetap (fixed effect), dan
tersebut adalah dengan menggunakan F
pendekatan efek acak (random effect). Dalam
Statistik seperti yang dirumuskan oleh Chow:
analisis model data panel ini akan mencoba
membandingkan model mana yang akan (RRSS URSS) /(N  1)
CHOW  (1)
dipilih, apakah pendekatan kuadrat terkecil URSS/(NT  N  K)
(pooled least square), pendekatan efek tetap
Di mana:
(fixed effect) atau pendekatan efek acak
(random effect). Pengujian pemilihan model RRSS = Restricted Residual Sum Square
manakah dalam data panel yang akan dipilih (Merupakan Sum of Square Residual
dapat digambarkan pada gambar 4 berikut ini: yang diperoleh dari estimasi data
panel dengan metode pooled least
square/common intercept)
2007 Setyadharma 285

URSS = Unrestricted Residual Sum Square hipotesis nul. Artinya, estimasi yang tepat
(Merupakan Sum of Square Residual untuk model regresi data panel adalah metode
yang diperoleh dari estimasi data random effect daripada metode PLS, demikian
panel dengan metode fixed effect) sebaliknya.
N= umlah data cross section
T= Jumlah data time series Random Effect Vs Fixed Effect
K= Jumlah variabel penjelas Hausman Test adalah pengujian statistik
Di mana pengujian ini mengikuti distribusi F sebagai dasar pertimbangan dalam memilih
statistik yaitu FN-1, NT-N-K apakah menggunakan model fixed effect atau
Jika nilai CHOW Statistics (F Stat) hasil model random effect. Seperti yang diketahui
pengujian lebih besar dari F Tabel, maka bahwa penggunaan model fixed effect me-
cukup bukti bagi kita untuk melakukan ngandung suatu unsur trade off yaitu hilang-
penolakan terhadap hipotesis nol sehingga nya derajat kebebasan dengan memasukkan
model yang kita gunakan adalah model fixed variabel dummy. Pengujian ini dilakukan
effect, begitu juga sebaliknya. dengan hipotesis sebagai berikut:

H0: Random Effects Model


Pooled Least Square Vs Random Effect
H1: Fixed Effects Model
LM Test atau lengkapnya The Breusch –
Pagan LM Test digunakan sebagai Unsur penting untuk uji ini adalah
pertimbangan statistik dalam memilih model covarian matriks dari perbedaan vektor
Random Effect versus Pooled Least Square
  
yang didasarkan pada nilai residual dari  GLS  :
metode OLS. Hipotesis yang digunakan  
adalah sebagai berikut       
Var   GLS   Var   Var  GLS   '
H0: Pooled Least Square      
H1: Random Effect,      
Cov,  GLS   Cov,  GLS  (3)
Adapun nilai stastistik LM Test dihitung    
berdasarkan formula sebagai berikut Hasil metode Hausman adalah bahwa perbe-
(Widarjono, 2005): daan covarians dari estimator yang efisien
2 dengan estimator yang tidak efisien adalah nol
 n  T 2  sehingga:
   e it  
nT  i1  i1          
LM   n T  1 Cov   GLS ,  GLS   Cov,  GLS  
2(T  1)   (2)
  e it
2     

 i1 t 1   
Var GLS   0
 
Di mana n = jumlah variabel; T = jumlah     
periode waktu dan e adalah residual metode Cov, GLS   Var GLS  (4)
OLS. Dasar penolakan terhadap H0 dengan    
menggunakan statistik LM yang mengikuti Kemudian persamaan 4 dimasukkan ke
distribusi dari chi-square. Bila nilai LM dalam persamaan 3 akan menghasilkan
Statistik lebih besar dibandingkan dengan nilai covarians matriks sebagai berikut:
kritis statistik chi-square maka kita menolak
286 Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia Juli

       diperkirakan mempengaruhi masing-masing


Var   GLS   Var   Var  GLS  variabel kunci.
     
 Variabel Kontrol Utama
 Var (q) (5)
PDB per kapita merupakan variabel
Selanjutnya, mengikuti kriteria Wald, uji penjelas yang signifikan untuk PMA (Wells &
Hausman akan mengikuti distribusi chi-square Wint, 2000; Grosse & Trevino, 1996; Habib &
sebagai berikut: Zurawicki, 2002). Tingginya PDB per kapita
   mencerminkan tingginya potensi konsumsi
m  q' Var (q) 1 q (6) pada negara penerima investasi asing. Semen-
    tara itu PDB per kapita merupakan variabel
Di mana q   GLS  dan kontrol yang penting untuk menjelaskan
  korupsi karena pendapatan per kapita
     menunjukkan tingkat kesejahteraan masya-
Var (q)  Var   Var GLS  rakat suatu negara yang terkait dengan
    keberadaan institusi yang efisien dan
Sebagai dasar penolakan Hipotesis nol transparan (Larrain & Tavares, 2004). Log
tersebut dengan menggunakan pertimbangan PDB riil per kapita (LnYCAP) masing-
statistik chi-square. Bila nilai Statistik masing negara yang telah dikonversikan ke
Hausman lebih besar dibandingkan dengan dalam mata uang US$ digunakan dalam studi
nilai kritis statistik chi-square maka kita ini. Data berasal dari UNCTAD (2006).
menolak hipotesis nul. Artinya, estimasi yang Indeks tingkat kebebasan ekonomi (EFI)
tepat untuk model regresi data panel adalah menunjukkan besarnya campur tangan
metode fixed effect daripada metode random pemerintah dalam perekonomian suatu negara.
effect, demikian sebaliknya Tingkat kebebasan ekonomi diukur dengan
Indeks Kebebasan Ekonomi (Economic
SPESIFIKASI DATA Freedom Index/EFI) yang dikeluarkan oleh
Dalam penelitian ini sebagai variabel Heritage Foundation (2006)3. Rentang indeks
kunci yang digunakan adalah PMA riil dalam ini adalah 0 sampai 10 dengan distribusi
bentuk logaritma (Ln RFDI) dan korupsi sebagai berikut:
(CPI). Data Penanaman modal asing berasal  0 – 49,9 : Repressed
dari UNCTAD (2006) sementara data korupsi
berasal dari Indeks Persepsi Korupsi yang  50 – 59,9 : Mostly unfree
dikeluarkan oleh Transparency International  60 – 69,9 : Moderately free
(2006)2 sebagai proxy. Di samping variabel  70 – 79,9 : Mostly Free
kunci, model regresi ini juga akan menggu-
nakan dua variabel ”kontrol” utama yang  80 – 100 : Free
diperkirakan mempengaruhi variabel kunci di Campur tangan pemerintah dalam
atas, yaitu PDB per kapita dan Tingkat perekonomian yang mengandung paksaan
Kebebasan Ekonomi, selain mengunakan dua merupakan hambatan masuk bagi PMA. Oleh
variabel kontrol utama tersebut, juga akan karena itu, perekonomian yang cenderung
digunakan beberapa variabel lain yang
3
Metodologi yang digunakan dapat lebih lengkap dilihat
2
Untuk melihat lebih detil mengenai metodologinya dapat pada:
dilihat pada http://www.transparency.org/content/ www.heritage.org/research/features/index/chapter/htm/i
download/10699/91683/version/1/file/CPI_2006_short_ ndex2007_chap3.cfm
Methodology.pdf
2007 Setyadharma 287

tanpa campur tangan pemerintah yang berle- (Baik PNS maupun tentara/polisi) yang
bihan akan menjadi daya tarik bagi masuknya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan
PMA. Kebebasan ekonomi sendiri merupakan pegawai maka tingkat korupsi yang dilakukan
insentif bagi keterbukaan dan efisiensi oleh para pegawai pemerintahan berkurang.
institusi-institusi publik yang pada akhirnya Hal ini disebabkan karena salah satu aktor
akan mengurangi korupsi. yang memungkinkan terjadinya korupsi adalah
Terdapat sepuluh variabel yang memben- oknum pegawai pemerintah (lihat Trans-
tuk indeks tingkat kebebasan ekonomi ini. parency International (2005), Kuncoro, et al.
Salah satu variabel yang digunakan adalah (2004), Dwiyanto, et al. (2002)). Negara-
tingkat korupsi yang menggunakan data negara di mana gaji di sektor publik sering
Transperancy International (TI). Untuk meng- rendah dan dibeberapa kasus bahkan mungkin
hindari kesalahan spesifikasi data, maka tidak cukup untuk hidup, beberapa orang
variabel korupsi dalam indeks tingkat kebe- berketetapan bahwa hal tersebut adalah
basan ekonomi dikeluarkan sehingga hanya alamiah bagi pegawai negeri untuk mening-
menggunakan sembilan variabel sebagai katkan penghasilan mereka dengan cara-cara
pembentuk indeks tingkat kebebasan ekonomi. lain (ADB, 1998). Data yang dipergunakan
adalah persentase pengeluaran pemerintah
Variabel Tambahan terhadap PDB (GOV) untuk masing-masing
negara ASEAN. Data berasal dari IMF.
Berikut adalah variabel penjelas yang
digunakan dalam penelitian ini untuk menje- HASIL EMPIRIS
laskan masuknya PMA ke suatu negara:
Tabel 5 menunjukkan nilai statistik hasil
Tenaga kerja merupakan faktor penting perhitungan Chow Test, LM Test dan
bagi investor asing. Banyaknya tenaga kerja Hausman Test untuk menentukan model
yang disertai dengan upah yang rendah terbaik dari tiga pendekatan dalam analisis
membuat suatu negara menjadi lebih atraktif data panel, yaiu pooled least square, fixed
bagi investor. Tingkat pengangguran suatu effect, dan random effect. Berdasarkan uji-uji
negara (UNEMP) dapat dijadikan suatu proxy yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bagi ketersediaan tenaga kerja (Billington, model data panel yang terbaik untuk kedua
1999; Habib & Zurawicki, 2002). Dalam model adalah model fixed effect4.
tingkat pengangguran yang tinggi, pekerja
menilai lebih tinggi pekerjaan mereka saat ini Tabel 6 menunjukkan hasil model fixed
dan mau menerima upah yang lebih rendah effect dengan metode Seemingly Unrelated
untuk mempertahankan pekerjaannya. Oleh Regression (SUR) di mana Generalize Least
karena itu pengangguran yang tinggi memiliki Square menggunakan estimasi residual
pengaruh yang positif bagi PMA yang covariance matrix cross section. Metode ini
berorientasi sumber daya. Data pengangguran mengoreksi baik heteroskedastisitas maupun
yang digunakan dalam penelitian ini adalah autokorelasi antarunit cross section.
persentase tingkat pengangguran masing-
4
masing negara. Data diperoleh dari Asian Secara umum, dalam pengujian estimasi model-model
data panel ini, diperlukan sebuah strategi. Yaitu hanya
Development Bank (2006). perlu menguji dua macam test, yaitu:
Penelitian Larrain & Tavares (2004) a) RE vs FE (Hausman Test)
b) PLS vs FE (Chow Test)
menunjukkan bahwa semakin besar pangsa Jika (b) tidak signifikan maka digunakan Pooled Least
pengeluaran pemerintah terhadap PDB akan Square.
mengurangi tingkat korupsi suatu negara. Bila Jika (b) signifikan namun (a) tidak signifikan maka
digunakan Random Effect Model.
pengeluaran pemerintah yang meningkat Jika keduanya signifikan, maka digunakan Fixed Effect
adalah komponen gaji pegawai pemerintah Model
288 Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia Juli

Tabel 5. Nilai Statistik untuk Pengujian Chow Test, LM Test dan Hausman Test

Variabel Independen
Uji Ln FDI CPI Keterangan
(Model 1) (Model 2)
Chow Test 2.14*** 140.76* Ho ditolak untuk kedua model, artinya model fixed
effect lebih baik dibandingkan PLS
LM Test 0.88 41.83* Ho diterima untuk model 1, artinya model PLS lebih
baik dibandingkan model random effect dan Ho ditolak
untuk model 2, artinya model random effect lebih baik
dibandingkan model PLS
Hausman Test 13.83** 28.41* Ho ditolak untuk kedua model, artinya model fixed
effect lebih baik dibandingkan model random effect
Keterangan: * signifikan pada derajat kepercayaan 1%
** signifikan pada derajat kepercayaan 5%
*** signifikan pada derajat kepercayaan 10%

Tabel 6. Hasil Regresi Data Panel


Variabel Dependen: Variabel Dependen:
Log Penanaman Modal Asing (Ln FDI) Indeks Persepsi Korupsi (CPI)
0.138071 0.209042
CPI Ln FDI
(2.693)* (4.535)*
0.027324 0.039541
Ln YCAP Ln YCAP
(0.444) (1.065)
0.020231 0.023479
EFI EFI
(7.698)* (5.972)*
0.027065 0.111024
UNEMP GOV
(1.957)*** (8.422)*
Adjusted R2 0.702 Adjusted R2 0.992
Keterangan : Angka dalam kurung menunjukkan nilai t statistik
* signifikan pada derajat kepercayaan 1%
*** signifikan pada derajat kepercayaan 10%

Menggunakan empat variabel penjelas hubungan yang signifikan antara korupsi dan
dengan variabel dependen Ln FDI dengan penanaman modal asing (lihat Wei (2000),
nilai adjusted R2 = 0,702, dapat dilihat bahwa Smarynzka & Wei (2000), Lambsdorff &
tingkat korupsi mempengaruhi masuknya Cornelius (2000), Wei & Wu (2001), Habib &
penanaman modal asing di enam negara Zurawicki (2001; 2002)). Ternyata korupsi
ASEAN yang ditunjukkan dengan signifi- menjadi perhatian yang cukup besar bagi
kannya nilai t-statistik variabel CPI. Semakin investor asing sehingga tingkat korupsi di
baik nilai indeks persepsi korupsi maka ASEAN menjadi pertimbangan utama dalam
penanaman modal asing akan semakin besar. menanamkan modalnya. Sementara itu hanya
Penemuan ini memperkuat penelitian-pene- dua dari tiga variabel lain yang secara
litian sebelumnya yang menunjukkan singnifikan pula mempengaruhi masuknya
2007 Setyadharma 289

PMA di ASEAN, yaitu tingkat kebebasan semakin besar yang menunjukkan semakin
ekonomi, dan tingkat pengangguran, semen- berkurangnya korupsi. Berkurangnya cakupan
tara tingkat pendapatan per kapita tidak campur tangan pemerintah secara langsung
memiliki hubungan yang signifikan dengan dalam ekonomi, yang didasari keyakinan
PMA. Tingkat kebebasan ekonomi memiliki bahwa pasar seharusnya efisien, memiliki
hubungan yang positif dan signifikan dengan daya saing dan memiliki penghalang jalan
PMA. Hal ini masuk akal karena semakin masuk dan keluar sesedikit mungkin. Hal ini
sedikit campur tangan suatu pemerintah dalam akan mengurangi kesempatan bagi perusahaan
mengelola ekonominya (yang ditunjukkan atau pegawai untuk mengambil keuntungan
dengan indeks yang semakin besar) maka dari pasar yang dibatasi secara artifisial atau
PMA akan bertambah karena pengusaha yakin penetapan harga yang di bawah optimal dalam
negara-negara dengan tingkat campur tangan meminta penyewaan hak monopoli, yang pada
pemerintah yang sedikit akan memberikan akhirnya mengurangi korupsi (ADB, 1998).
ruang yang lebih bebas bagi mereka dalam Pengeluaran pemerintah berhubungan positif
mengelola bisnisnya. Sementara itu tingkat secara signifikan dengan Indeks Persepsi
pengangguran sebagai suatu proxy bagi keter- Korupsi. Artinya semakin besar pengeluaran
sediaan tenaga kerja mempunyai hubungan pemerintah maka korupsi akan semakin
positif dengan PMA. Hal ini menunjukkan berkurang. Korupsi akan semakin berkurang
bahwa tenaga kerja dapat dibayar dengan bila pos-pos dalam pengeluaran pemerintah
murah sehingga perusahaan dapat mengha- digunakan bagi usaha-usaha yang secara
silkan keuntungan yang lebih besar bagi langsung (seperti perbaikan gaji pegawai
mereka sehingga tingkat pengangguran secara pemerintah) maupun tidak langsung
atraktif menarik PMA untuk masuk ke (pendidikan) yang akan meningkatkan kese-
ASEAN. jahteraan warga negaranya sehingga keinginan
Sementara itu, menggunakan empat untuk melakukan korupsi (khususnya bagi
variabel penjelas dengan variabel dependen pegawai pemerintah) menjadi berkurang.
CPI mempunyai nilai adjusted R2 = 0,992,
dapat dilihat bahwa penanaman modal asing PENUTUP
mampu mempengaruhi tingkat korupsi secara Masalah korupsi merupakan masalah
signifikan. Masuknya PMA membuat korupsi kuno yang dapat ditemukan di dalam semua
semakin berkurang yang ditunjukkan dengan pemerintahan. Hal tersebut juga dapat
semakin membaiknya Indeks Persepsi ditemukan di sektor swasta dan dalam inte-
Korupsi. Hasil penelitian ini mendukung raksi antara sektor-sektor publik dan swasta.
penelitian sebelumnya Larrain & Tavarez Dengan menggunakan data cross section enam
(2004). Dari tiga variabel yang lain, hanya dua negara ASEAN, yaitu: Indonesia, Malaysia,
yang secara signifikan mempunyai pengaruh Philipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam
terhadap berkurangnya korupsi di ASEAN, dengan periode 1997-2005, penelitian ini
yaitu indeks tingkat kebebasan ekonomi dan menunjukkan adanya hubungan dua arah
pengeluaran pemerintah. Pendapatan per antara korupsi dan penanaman modal asing.
kapita tidak mempunyai pengaruh terhadap Timbulnya kesadaran dalam diri pemerintah di
Indeks Persepsi Korupsi yang membaik. ASEAN akan pentingnya pembenahan korupsi
Tingkat kebebasan ekonomi memiliki perlu dilakukan sebagai sebuah usaha menarik
hubungan signifikan yang positif dengan CPI. FDI. Investor FDI pada umumnya berusaha
Semakin sedikit campur tangan suatu peme- untuk mempelajari risiko yang akan diha-
rintahan dalam mengelola ekonominya (yang dapinya sebelum menanamkan modalnya,
ditunjukkan dengan indeks yang semakin terutama di negara-negara sedang berkem-
besar) maka nilai indeks persepsi korupsi akan bang. Para investor ini juga berkeinginan kuat
290 Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia Juli

untuk meminimalkan, mengurangi, serta Grosse, Robert dan Len Trevino. 1996.
membatasi dampak negatif terhadap investasi “Foreign Direct Investments in the United
FDI yang mereka lakukan, termasuk terhadap States: An Analysis by Country of
risiko korupsi yang mengganggu kinerja Origin”. Journal of International Business
mereka kelak. Studies, 27 (1): 139-55.
Tampaknya akan lebih efektif apabila Heritage Foundation. 2006. Index of Economic
memfokuskan upaya-upaya anti korupsinya Freedom 2006. http://www.heritage.org/
pada tindakan-tindakan pencegahan dan bukan research/features/index/, diakses tanggal
pada upaya-upaya jangka pendek yang 20 Februari 2007
ditujukan pada “menuntut mereka yang Habib, M. dan L. Zurawicki. 2001. “Country-
melakukan korupsi”. Kemajuan yang berarti level Investments and the Effect of
dapat diraih dalam perjuangan melawan Corruption–Some Empirical Evidence”.
korupsi apabila reformasi hukum, kelem- International Business Review 10: 687-
bagaan dan kebijakan dilaksanakan dengan 700.
baik.
Habib, M. dan L. Zurawicki. 2002. “Corrup-
tion and Foreign Direct Investment”.
DAFTAR PUSTAKA
Journal Of International Business Studies
Akcay, S. 2001. “Is Corruption an Obstacle 33, 2 (Second Quarter 2002): 291–307.
for Foreign Investors in Developing
International Monetary Fund. International
Countries? A Cross-Country Evidence”.
Financial Statistics.
Yapi Kredi Economic Review 12 (2): 27-
34. Kuncoro, Mudrajad, J. Subarkah., B.A.
Djatmiko., P. Kusumo, E.M. Wardani.,
Alesina, A., dan B. Weder. 1999. "Do Corrupt
R.W Djani, dan I.A Supomo. 2004. Study
Governments receive less Foreign Aid?".
on Domestic Regulatory Constraints to
National Bureau of Economic Research
Labor-Intensive Manufacturing Exports.
Working Paper 7108, Cambridge MA.
Final Report., Yogyakarta.
Asian Development Bank. 1998. Anticor-
Lambsdorff, J. Graf. 2003. “How Corruption
ruption Policy. Manila. July
Affects Persistent Capital Flows”. The
Asian Development Bank. 2006. Key Indi- Economics of Governance 4 (3): 229-244
cators 2006. www.adb.org/statistics,
Lambsdorff, J. Graf dan P. Cornelius. 2000.
diakses tanggal 15 Mei 2007
“Corruption, Foreign Investment and
Billington, Nicholas. 1999. “The Location of Growth”. In: The Africa Competitiveness
Foreign Direct Investment: An Empirical Report 2000/2001, World Economic
Analysis”. Applied Economics Jan, 31: Forum, Oxford University Press: New
65-80. York, Oxford.
Dwiyanto, Agus, Riza Noer Arfani, Agus Larrain B, Felipe dan Jose Tavares. 2004.
Heruanto Hadna, Bevaola Kusumasari, “Does Foreign Direct Investment
Amelia Maika, Mohammad Nuh, Setiadi, Decrease Corruption?”. Cuadernos De
Sukamdi, Bambang Wicaksono, Economia 41 (Agosto): 217-230
Muhamad Yusuf. 2002. Reformasi Tata
Mauro, Paolo. 1995. “Corruption and
Pemerintahan dan Otonomi Daerah.
Growth”. The Quarterly Journal of
Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Economics, August: 686-706.
Universitas Gadjah Mada.
Okeahalam, C.C. dan I. Bah. 1998. “Perceived
Corruption and Investment in Sub-
2007 Setyadharma 291

Saharan Africa”. South African Journal of Transition Economies: Implications for


Economics 67 (1) March, 386. Development. New York and Geneva:
Smarzynska, B., dan Shang-Jin Wei .2000. United Nations.
“Corruption and the Composition of Wei, Shang-Jin., dan Y. Wu 2001. “Negative
Foreign Direct Investment: Firm-level Alchemy? Corruption, Composition of
Evidence”. National Bureau of Economic Capital Flows and Currency Crises“.
Research Working Paper 7969, Cam- National Bureau of Economic Research
bridge MA. Working Paper 8187, Cambridge MA.
Tambunan, Tulus T.H. 2001. Kinerja Ekspor Wei, Shang–Jin. 2000. "How Taxing is
Manufaktur Indonesia. Jakarta: Corruption on International Investors".
Kompartemen Industri Logam Dasar & Review of Economics and Statistics,
Mesin dan LP3E. LXXXII (1), 1-11.
Transparency International. 2000. TI Source Wells, Louis, dan Alvin Wint. 2000.
Book 2000, http://ww1.transparency.org/ “Marketing a Country: Promotion as a
sourcebook/01.html, diakses tanggal 20 Tool for Attracting Foreign Investment”.
Agustus 2006 Occasional Paper no. 13, Washington,
Transparency International. 2006. Transpa- D.C.: World Bank.
rency International Corruption Perception Widarjono, Agus. 2005. Ekonometrika: Teori
Index 2006, http://www.transparency.org, dan Aplikasi, Yogyakarta: Ekonisia
diakses tanggal 31 Maret 2007 World Economic Forum. 2006. The Global
UNCTAD. 2006. World Investment Report Competitiveness Report 2006-2007.
2006: FDI from Developing and