Anda di halaman 1dari 34

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN TINGGI


NKP - 10

NASKAH KARYA PERORANGAN (NKP)

TOPIK
KEMAMPUAN POLRI DAN PEMELIHARAAN KEAMANAN DI LAUT

JUDUL
STRATEGI OPTIMALISASI PERAN DITPOLAIR POLDA GORONTALO
GUNA MENDUKUNG PENANGANAN TINDAK PIDANA ILLEGAL FISHING
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KAMDAGRI

OLEH
NAMA : Drs. MERDISYAM, M.Si
NO. SERDIK : 201504001028
OLEH :
SINDIKAT : III (TIGA)
POK DISKUSI : III (TIGA)

PESERTA SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN TINGGI POLRI


DIKREG KE – 24 T.A. 2015
1

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI


SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN TINGGI

TOPIK
KEMAMPUAN POLRI DAN PEMELIHARAAN KEAMANAN DI LAUT

JUDUL
STRATEGI OPTIMALISASI PERAN DITPOLAIR POLDA GORONTALO
GUNA MENDUKUNG PENANGANAN TINDAK PIDANA ILLEGAL FISHING
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KAMDAGRI

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Keamanan dalam negeri adalah sebuah kondisi terselenggaranya
kamtibmas, penegakan hukum, pelayanan, pengayoman, dan perlindungan
kepada masyarakat secara berkelanjutan dan berkesinambungan, sehingga
masyarakat merasa aman dan nyaman melakukan aktifitas sehari-hari.
Kondisi kamdagri selama ini memang mengalami pasang surut akibat
adanya perkembangan global, regional, nasional, dan lokal sehingga
memunculnya dinamika politik, ekonomi, sosial budaya yang komplek dan
beragam. Menurut survei dari Charta Politika Consulting, kondisi kamdagri
dirasakan dan dipersepsikan oleh masyarakat mengalami penurunan,
dimana tahun 2013 mencapai 57 %, tahun 2014 menurun menjadi 56 % 1.
Hal ini terjadi salah satunya karena masih lemahnya penanganan terhadap
kejahatan ilegal fishing di wilayah perairan Indonesia. penanganan
kejahatan ilegal fishing harus digiatkan sesuai dengan visi Indoensia
sebagai poros maritim dunia yang dicanangkan oleh Jokowi-JK dalam
program nawacita.

1http://www.slideshare.net/nikkichio/persepsi-dan-sikap-masyarakat-terhadap-polisi. Diunduh pada


tanggal 14 September 2015, jam 21.00 WIB.
2

Salah satu wilayah yang dijadikan sebagai ajang bagi lalu lintas
kejahatan transnasional adalah wilayah lautan atau wilayah perairan. 2
Banyak sekali aksi kejahatan transnasional yang dilakukan di laut atau
melalui laut, seperti penyelundupan senjata melalui laut, terorisme melalui
laut, drug traficking melalui laut, human traficking melalui laut, smugling /
penyelundupan manusia melalui wilayah laut, dan yang paling sering terjadi
adalah illegal fishing yang terjadi di laut atau perairan suatu negara, tidak
terkecuali perairan / wilayah lautan Indonesia. Kejahatan transnasional
berupa illegal fishing sangat marak terjadi di Indonesia mengingat kondisi
geografis Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan. Dalam kejahatan
illegal fishing, sedikitnya, ada seribu kapal asing hilir mudik menangkap
ikan secara ilegal di Indonesia setiap tahunnya. Apalagi, potensi kerugian
negara sebesar Rp 80 triliun per tahun. Kerugian tersebut terdiri dari
potensi ikan yang hilang mencapai Rp 30 triliun dan potensi kehilangan
penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 50 triliun setiap
tahun. Negara Indonesia sendiri memiliki sumber daya perikanan yang
sangat besar. Volume produksi perikanan tangkap di laut pada tahun 2013
sebesar 5.039.446 ton dengan nilai produksi sebesar 59 triliun rupiah3.
Tidak hanya itu, 62% wilayah Indonesia berupa lautan dan separuh
diantaranya merupakan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Wilayah laut
Indonesia yang berada diantara 2 benua dan 2 samudra telah lama menjadi
jalur utama perdagangan dunia.
Sebagai aparat penegak hukum, Polri menempati posisi strategis
untuk menangani kejahatan illegal fishing di seluruh wilayah perairan
Indonesia. Dalam konteks kejahatan illegal fishing, maka Ditpolair Polda
memiliki tugas dan tanggungjawab untuk melakukan berbagai upaya dan
langkah penanganan kejahatan illegal fishing. Ditpolair Polda selama ini
telah berkomitmen untuk melakukan pencegahan dan penegakan hukum
terhadap semua kejahatan illegal fishing dengan mengusut setiap pelaku
dan modus operandi pencurian ikan yang ada di wilayah perairan.

2Barkah Suheryanto, Indonesia : Potensi Kekayaan Perikanan Yang Melimpah, Jakarta, Sinar
Press, 2009, hal. 27
3http://jurnalmaritim.com/2014/8/484/kapal-asing-dominasi-illegal-fishing. Diunduh pada tanggal 15

September 2015 jam 15.00 WIB


3

Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda merupakan satuan Polda yang


berwenang untuk melakukan langkah preemtif, preventif dan represif /
gakkum dalam menangani kejahatan illegal fishing4. Oleh karena itu,
diperlukan optimalisasi peran ditpolair polda, mengingat selama ini penyidik
polair menghadapi permasalahan pada lemahnya sumber daya organisasi
(SDM, anggaran, sarana prasarana, metode) dan lemahnya sinergitas
polisional lintas sektoral untuk menangani kejahatan ilegal fishing.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka sangat cocok dan relevan
apabila diangkat judul NKP sebagai berikut: “Strategi Optimalisasi Peran
Ditpolair Guna Mendukung Penanganan Tindak Pidana Illegal Fishing
Dalam Rangka Terwujudnya Kamdagri”.

2. Pokok Masalah dan Persoalan


a. Pokok Masalah
Berdasarkaan uraian latar belakang yang telah dikemukakan
di atas, maka dapat dirancang dan diformulasikan pokok masalah
yang dituangkan dalam pertanyaan berikut ini :
“Bagaimana strategi optimalisasi peran ditpolair, yang mampu
mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing, sehingga
kamdagri dapat terwujud?”.

b. Persoalan
Adapun pokok-pokok persoalan dalam tulisan ini dituangkan
dalam pertanyaan berikut ini :
1) Bagaimana dukungan sumber daya organisasi (SDM,
anggaran, sarana prasarana, sismet) dalam mengoptimalkan
peran Ditpolair untuk mendukung penanganan tindak pidana
illegal fishing?
2) Bagaimana sinergitas polisional (komunikasi, koordinasi,
kolaborasi) dengan instansi lintas sektoral dalam
mengoptimalkan peran Ditpolair untuk mendukung
penanganan tindak pidana illegal fishing?
4http://jalanbaron.com/2014/11/kekayaan-alam-laut-indonesia/. Diunduh pada tanggal 15
September 2015 jam 15.00 WIB
4

3. Ruang Lingkup
Pembatasan bidang dalam tulisan ini merujuk pada upaya, langkah,
dan aksi nyata pimpinan Polda dalam menyiapkan strategi optimalisasi
peran ditpolair guna mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing
melalui analisis teori SWOT :IFAS/EFAS/SFAS. Sedangkan pembatasan
lokasi / wilayah difokuskan pada satuan organisasi Polda Gorontalo.
Sementara itu, pembatasan waktu ditetapkan pada tahun 2015, yang mana
data-data yang ditampilkan sampai dengan tahun 2015.
5

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

Dalam perspektif teoritis metodologis, setiap permasalahan dan persoalan


harus dibedah, dianalisis dan ditelaah secara sistematis, ilmiah dan saintifik,
dengan menggunakan kerangka konseptual teoritik yang aplikabel dan logis.
Demikian pula dengan tulisan ini yang mengangkat tentang strategi optimalisasi
peran ditpolair guna mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing dalam
rangka terwujudnya kamdagri yang memerlukan kerangka konseptual teoritik
sebagai pisau analisis untuk mendapatkan solusi, pemecahan masalah dan
strategi cara bertindak. Oleh karena itu, tulisan ini akan menggunakan kerangka
teori sebagai berikut :

4. Teori SWOT : IFAS/EFAS/SFAS


Menurut Thomas L. Saaty (2003), Analytical Hierarchy Process
(AHP) merupakan sistem pengambilan keputusan dengan multi kriteria/
multi alternatif pilihan dan melalui proses deliberasi yang panjang. AHP
dipergunakan untuk memecahkan dan membantu pengambilan keputusan
atas permasalahan yang sangat kompleks. AHP dengan kriteria yang
sangat kompleks dapat menggunakan software Expert Choice5. Analytical
Hierarchy Process (AHP) ini memberikan wawasan tentang tata cara
membuat atau menentukan pilihan berdasarkan skala prioritas terhadap
persoalan-persoalan yang menjadi target dalam pengambilan keputusan
stratejik melalui Tactically Effectiveness of Analysis Tools. Cara ini sangat
efektif dengan metode EFAS (External Factor Analysis Summary) dan IFAS
(Internal Factor Analysis Summary) yang memuat kriteria terhadap peluang
dan kendala yang masing-masing dengan diberikan nilai bobot (weighted),
peringkat (ratings) dan skor (score), kemudian dapat disimpulkan dalam
Strategic Factor Analysis Summary (SFAS), sehingga dapat dilihat posisi
organisasi Polri terhadap permasalahan yang ditetapkan sebagai program
jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.Teori SWOT :
IFAS/EFAS/SFAS dipergunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam mengoptimalkan peran Ditpolair guna mendukung

5 Sespimti Polri, MP Analytical Hierarchy Process, Bahan Ajar, Dikreg Ke-24 T.P. 2015
6

penanganan tindak pidana illegal fishing dalam rangka terwujudnya


kamdagri, yang tertuang dalam bab 4 dan bab 6.

5. Teori Sumber Daya Organisasi


Menurut Miftah Toha (2001), setiap organisasi selalu memiliki
sumber daya organisasi, yakni sumber daya manusia, sumber daya sarana
prasarana, sumber daya anggaran, dan sumber daya sismet6. Keempat
sumber daya organisasi ini sangat berperan besar dalam mencapai visi dan
misi organisasi. Kinerja organisasi akan dapat berhasil dengan baik apabila
keempat sumber daya tersebut dikelola secara baik dan benar sehingga
akan membawa organisasi pada arah yang benar dan mencapai semua
target kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya. Teori sumber daya
organisasi dipergunakan untuk menganalisis kondisi saat ini dan kondisi
yang diharapkan dalam mengoptimalkan peran Ditpolair guna mendukung
penanganan tindak pidana illegal fishing dalam rangka terwujudnya
kamdagri, yang tertuang dalam bab 3 dan 5.

6. Teori Kerjasama
Menurut Tomas Lukito (2006), setiap orang, kelompok maupun
organisasi selalu membutuhkan kerjasama dengan pihak lain, orang lain,
manusia lain, dan kelompok masyarakat lainnya dengan tujuan untuk
mencukupi kebutuhan atau mencapai kepentingannya. Kerjasama
umumnya bisa terjadi apabila adan hubungan yang bersifat mutualisme
(saling menguntungkan) dan komplementer (saling melengkapi) berbasis
pada sinergi, kemitraan, kesejajaran dan kejujuran. Ruang lingkup
kerjasama adalah dimulai dari komunikasi, koordinasi dan kolaborasi 7.Teori
kerjasama dipergunakan untuk menganalisis kondisi saat ini dan kondisi
yang diharapkan dalam mengoptimalkan peran Ditpolair guna mendukung
penanganan tindak pidana illegal fishing dalam rangka terwujudnya
kamdagri, yang tertuang dalam bab 3 dan 5.

6Miftah Toha, Organisasi Publik dan Manajemen Publik, Yogyakarta, UGM Press, 2001, hal. 27
7http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2006/Artikel_10500062.pdf.

Diunduh pada tanggal 10 September 2015, jam 11.00 WIB


7

7. Teori Penegakan Hukum


Dalam teori penegakan hukum, Satjipto Raharjo (2001) menyatakan
bahwa terdapat pola-pola penanganan kejahatan, tindak pidana dan kasus
yang terjadi di tengah masyarakat. Pola penanganan biasanya dikenal
dengan pola penanganan yang bersifat preemtif, preventif dan represif /
penindakan.8 Pola penanganan tindak pidana harus mengacu kepada
ketiga pola ini dimana upaya represif merupakan upaya terakhir apabila
pola preemtif dan preventif sudah mampu lagi mencegah, meredam dan
menangkal terjadinya tindak pidana atau kejahatan yang terjadi di tengah
masyarakat. Teori ini dipergunakan untuk menganalisis tentang pendekatan
yang dipergunakan untuk menegakan hukum kejahatan ilegal fishing, yang
tertuang di bab 1 dan 6.

8. Mata Pelajaran Hukum Laut Internasional


Mata pelajaran ini menyatakan secara jelas bahwa Hukum Laut
Internasional adalah kaidah-kaidah hukum yang mengatur hak dan
kewenangan suatu negara atas kawasan laut yang berada dibawah
yurisdiksi nasionalnya (national jurisdiction)9. Usaha masyarakat
Internasional untuk mengatur masalah kelautan melalui Konperensi PBB
tentang Hukum Laut yang ketiga telah berhasil mewujudkan United Nations
Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) atau Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut , yang telah ditanda-tangani oleh 117
(seratus tujuh belas) Negara peserta termasuk Indonesia dan 2 satuan
bukan Negara di Montego Bay, Jamaica pada tanggal 10 Desember 1982.
Dibandingkan dengan Konvensi – Konvensi Jenewa 1958 tentang Hukum
Laut, bahwa Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 ( UNCLOS 1982)
tersebut mengatur rejim-rejim hukum laut secara lengkap dan menyeluruh,
yang rejimnya satu sama lain tidak dapat dipisahkan.
Wacana tentang illegal fishing muncul bersama-sama dalam kerangka
IUU (Illegal, Unreporterd and Unregulated) fishing practices pada saat
diselenggarakannya forum CCAMLR (Commision for Conservation of

8Satjito Raharjo, Pengantar Ilmu Hukum, Semarang, UNDIP, 2001, hal. 34


9 Sespimti Polri, MP Hukum Laut Internasional, Bahan Ajar, Dikreg Ke-24 T.P. 2015
8

Atlantic Marine Living Resources) pada 27 Oktober – 7 Nopember 1997.


Pada saat itu dibahas mengenai kerugian akibat praktek penangkapan ikan
yang dilakukan oleh negara bukan anggota CCAMLR. Dari forum ini
kemudian masalah illegal fishing ini dijadikan isu utama di tingkat global
oleh FAO dengan alasan kuat, bahwa saat ini cadangan ikan dunia
menujukkan trend menurun dan salah satu faktornya penyebabnya adalah
praktek illegal fishing. Pada 1996 saja, dari 14 daerah penangkapan ikan
utama dunia (the world’s majorfishing grounds), sembilan di antaranya telah
over fishing, sedangkan lima fishing ground masih dapat dikembangkan
(FAO, 1996). Perairan laut Indonesia termasuk yang masih bisa
dikembangkan. Di sisi lain dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia,
maka permintaan terhadap produk perikanan terus meningkat, fakta global
inilah yang membuat wilayah laut Indonesia menjadi incaran para nelayan
asing.
IUU fishing dapat dikategorikan dalam tiga kelompok: (1) Illegal
fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan secara illegal di perairan wilayah
atau ZEE suatu negara, atau tidak memiliki ijin dari negara tersebut; (2)
Unregulated fishing yaitu kegiatan penangkapan di perairan wilayah atau
ZEE suatu negara yang tidak mematuhi aturan yang berlaku di negara
tersebut; dan (3) Unreported fishing yaitu kegiatan penagkapan ikan di
perairan wilayah atau ZEE suatu negara yang tidak dilaporkan baik
operasionalnya maupun data kapal dan hasil tangkapannya. Praktek
terbesar dalam IUU fishing menurut Bray (2000) pada dasarnya adalah
poaching atau penangkapan ikan oleh negara lain tanpa ijin dari negara
yang bersangkutan, atau dengan kata lain, pencurian ikan oleh pihak asing
alias illegal fishing.
Pada prakteknya keterlibatan pihak asing dalam pencurian ikan dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu sebagai berikut : Pertama, pencurian semi-
legal, yaitu pencurian ikan yang dilakukan oleh kapal asing dengan
memanfaatkan surat ijin penangkapan legal yang dimiliki oleh pengusaha
lokal, dengan menggunakan kapal berbendera lokal atau bendera negara
lain. Praktek ini tetap dikatagorikan sebagai illegal fishing, karena selain
menangkap ikan di wilayah perairan yang bukan haknya, pelaku illegal
9

fishing ini tidak jarang juga langsung mengirim hasil tangkapan tanpa
melalui proses pendaratan ikan di wilayah yang sah. Praktek ini sering
disebut sebagai praktek “pinjam bendera” (Flag of Convenience; FOC).
Kedua, adalah pencurian murni illegal, yaitu proses penangkapan ikan yang
dilakukan oleh nelayan asing dan kapal asing tersebut menggunakan
benderanya sendiri untuk menangkap ikan di wilayah kita. Kegiatan ini
jumlahnya cukup besar, berdasarkan perkiraan FAO (2008) ada sekitar 1
juta ton per tahun dengan jumlah kapal sekitar 3000 kapal. Kapal-kapal
tersebut berasal dari Thailand, Vietnam, Mlaysia, RRC, Pilipina, Taiwan,
Korsel, dan lainnya.Mata pelajaran ini dipergunakan sebagai pisau analisis
untuk memandu menjabarkan permasalahan dan persoalan yang tertuang
di bab 1.
10

BAB III
KONDISI PERAN DITPOLAIR POLDA GORONTALO SAAT INI

Kondisi faktual adalah sebuah kondisi yang menggambarkan secara riel,


nyata dan kongkret tentang permasalahan dan persoalan yang terjadi dengan
tampilan data, fakta dan informasi yang lengkap dan mendukung.
Kondisi faktual Ditpolair Polda Gorontalo dillihat dari aspek sumber daya
organisasi dijelaskan sebagai berikut :
Direktorat kepolisian perairan Polda Gorontalo berkedudukan disebelah utara
dengan koordinat 0,19’ – 1,15’ lintang utara dan 121,23’ – 123,43’ bujur timur.
dan mempunyai wilayah hukum mulai dari Bone Bolango sampai dengan
kabupaten Pohuwato, dengan luas laut 317,9 mil, sebelah selatan laut teluk tomini
172,4 mil dgn panjang pantai 330 km, sebelah utara laut sulawesi 145,5 mil dgn
panjang pantai 330 km. terdiri dari 1 markas komando & 13 markas unit.
Rincian personil Dit Polair Polda Golontalo yang ada saat ini sebagai berikut
: jumlah sesuai DSP 164 personil, jumlah rill: 99 personil, dengan kekuatan kapal
pendukung memiliki 7 kapal jenis C2 dan 5 kapal jenis C3 serta 2 unit perahu
karet dengan mesin 40 PK.
Dengan dukungan anggaran dalam Pagu Anggaran Dit Polair Polda
Gorontalo tahun 2015 sebesar Rp. 5.531.261.000,-
Adapun kondisi faktual yang terjadi tentang strategi optimalisasi peran
Ditpolair guna mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing dalam rangka
terwujudnya kamdagri, dapat diuraikan sebagai berikut :

9. Dukungan Sumber Daya Organisasi Dalam Mengoptimalkan Peran


Ditpolair Untuk Mendukung Penanganan Tindak Pidana Illegal Fishing
Kondisi peran Ditpolair Polda dalam mendukung penanganan tindak
pidana illegal fishing saat ini, sesuai dengan teori sumber daya organisasi,
sebagai berikut :
a. Personil. Pengetahuan, keahlian, dan keterampilan sebagian kecil
personil Ditpolair dalam memahami kejahatan illega fishing masih
lemah, baik dalam memahami pelaku, jaringan, mafia, modus
operandi dan olah TKP. Kualitas personil yang masih lemah juga
11

disebabkan oleh belum semua personil Ditpolair mengikuti dikjur


fungsi teknis polair dan jumlah / kuantitas personil yang masih
terbatas dan belum sesuai dengan DSPP, mengingat jika
dihadapkan pada jangkauan pemantauan wilayah perairan
Gorontalo yang sangat luas.
b. Anggaran. Alokasi anggaran untuk kegiatan operasional di perairan
masih sangat terbatas. Kegiatan operasi, patroli rutin dan
pemantauan setiap harinya membutuhkan bahan bakar untuk kapal
patroli yang sangat besar mengingat jarak tempuh patroli yang
melingkupi kepulauan di Gorontalo sehingga membutuhkan alokasi
anggaran yang besar, sementara itu alokasi anggaran operasional
yang ada sangat terbatas, sehingga mempengaruhi kualitas patroli
dan frekeuensi patroli di wilaayah perairan Gorontalo.
c. Sarana Prasarana atau peralatan di Ditpolair Polda Gorontalo masih
sangat terbatas, dimana kapal patroli hanya berjumlah 12 unit dan
peralatan khusus fungsi teknis polair juga masih minim sehingga
mempengaruhi terhadap kegiatan operasional patroli poalir dalam
menjaga perairan wilayah Gorontalo dari ancaman kejahatan illegal
fishing.
d. Metode. metode operasi kepolisian terpadu belum sepenuhnya
berjalan dengan optimal dimana kerjasama dengan lintas sektoral,
khususnya kerjasama penanganan kejahatan illegal fishing dengan
TNI AL, KKP, Imigrasi dan kepolisian negara tetangga hanya
dilakukan sesekali ketika terjadi permasalahan penangkapan kapal
asing yang mencuri ikan di laut, namun upaya pencegahan melalui
patroli bersama belum intensif dilakukan, sehingga terkesan berjalan
sendiri-sendiri dan ego sektoral antar instansi.

10. Sinergitas Polisional Dengan Instansi Lintas Sektoral Dalam


Mengoptimalkan Peran Ditpolair Polda Untuk Mendukung Penanganan
Tindak Pidana Illegal Fishing
12

Kondisi sinergitas polisional dengan instansi lintas sektoral dalam


mengoptimalkan peran Ditpolair Polda, sesuai dengan teori kerjasama,
sebagai berikut :
a. Aspek Komunikasi,Ditpolair Polda dengan Bakamla, KKP, dan DKP
Pemda selama ini masih terbatas komunikasi formal dan insidentil,
yakni ketika terjadi ilegal fishing, seperti nelayan melanggar zonasi
maupun penggunaan alat tangkap ikan yang tidak sesuai dengan
ketentuan.
b. Aspek Koordinasi, yang dilakukan Ditpolair Polda dengan Bakamla,
KKP, danDKP Pemda selama ini sudah dilakukan dalam rakor,
namun belum rutin dan belum menyentuh persoalan riel di lapangan,
misalnya persoalan banyaknya nelayan maupun pelaku usaha yang
mengurus ijin ke KKP dan DKP Pemda sulit dan berbelit-belit
sehingga nekat melakukan penangkapan ikan tanpa adanya ijin atau
ijinnya dipalsukan.
c. Aspek Kolaborasi yang dilakukan oleh Ditpolair Polda dengan
Bakamla, KKP, danDKP Pemda masih lemah, dimana belum ada
operasi gabungan bersama antara kedua belah pihak untuk
melakukan patroli bersama maupun sosialisasi kepada nelayan
tentang pentingnya menangkap ikan secara legal.

11. Implikasi Belum Optimalnya Peran Ditpolair Terhadap Penanganan


Tindak Pidana Illegal Fishing Dan Kamdagri
a. Belum optimalnya peran Ditpolair berpengaruh terhadap
penanganan tindak pidana illegal fishing, dengan indikator :
1) Semakin meningkatnya kejahatan ilegal fishing setiap
tahunnya dengan modus operandi, jaringan, dan sindikat
yang canggih, modern dan sistematis.
2) Semakin memburuknya pendapatan ekonomi di wilayah
perairan dan terancamnya sumber kekayaan laut Indonesia
oleh aksi ilegal fishing.
13

b. Belum optimalnya peran Ditpolair berimplikasi terhadap penanganan


tindak pidana illegal fishing, yang apada akhirnya menyebabkan
kamdagri tidak stabil, dengan indikator, dengan indikator :
1) Masyarakat menjadi resah, gelisah dan apatis terhadap
keamanan di wilayah perairan Indonesia.
2) Masyarakat menjadi tidak percaya, tidak mendukung dan
bahkan menolak eksistensi Polri sebagai aparat kamdagri.
14

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERAN DITPOLAIR POLDA GORONTALO

Setiap permasalahan dan persoalan pasti ada faktor-faktor yang


mempengaruhi. Demikian pula dengan strategi optimalisasi peran ditpolair guna
mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing dalam rangka terwujudnya
kamdagri. Berdasarkan teori SWOT, faktor-faktor yang mempengaruhi terbagi
dalam faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan
kendala) yang akan diuraikan sebagai berikut :

12. Faktor Internal


a. Kekuatan
1) Kebijakan strategi (Jakstra) Polri tentang pentingnya
penegakan hukum di wilayah perairan Indonesia untuk
menyelamatkan sumber kekayaan laut.
2) Program quick wins Polri yang salah satunya memfokuskan
penegakan hukum tindak pidana ilegal fishing di wilayah
perairan Indonesia.
3) Komitmen jajaran pengemban fungsi Polair di Polda dan
Polres dalam mengungkap, menangkap dan memproses
setiap pelaku kejahatan ilegal fishing.
4) Semakin meningkatnya alokasi anggaran Polri dalam APBN
sehingga dapat mendukung peran Ditpolair Polda untuk
menangani tindak pidana ilegal fishing.
5) Semakin meningkatnya sarana prasarana Polri sehingga
dapat mendukung peran Ditpolair Polda untuk menangani
tindak pidana ilegal fishing.
b. Kelemahan
1) Masih lemahnya pengawasan melekat dan pengawasan
fungsional terhadap penegakan hukum di laut yang dilakukan
oleh Ditpolair Polda.
15

2) Masih adanya oknum anggota Ditpolair yang memberikan


“backing” terhadap aktifitas kejahatan ilegal fishing.
3) Manajemen kerja Ditpoalir Polda yang belum semuanya
didasarkan pada target kinerja dan sasaran kinerja dalam
penegakan hukum tindak pidana ilegal fishing.
4) Masih lemahnya kemampuan personil Ditpolair Polda dalam
menangani tindak pidana ilegal fishing.
5) Masih lemahnya sismet Ditpolair Polda dalam menangani
tindak pidana ilegal fishing.

13. Faktor Eksternal


a. Peluang
1) Adanya kebijakan Nawacita Jokowi-JK yang mendorong
hadirnya negara di tengah masyarakat sehingga Polri hadir
melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat dalam
menanggulangi ilegal fishing.
2) Adanya kerjasama dengan Interpol dan Kepolisian dari negara
tetangga (Asean / Aseanapol) untuk membahas
permasalahan kejahatan illegal fishing yang melibatkan kapal
asing dan orang asing.
3) Adanya partisipasi masyarakat di sekitar wilayah pantai,
pesisir, dan pulau-pulau kecil terluar, yang selalu memberikan
pengaduan kepada Ditpoalir Polda tentang berbagai tindak
pidana illegal fishing yang mereka ketahui di lingkungan
nelayan masing-masing.
4) Adanya dukungan unsur CJS dan Imigrasi dalam menangani
tindak pidana ilegal fishing.
5) Adanya partisipasi aktif komunitas nelayan dalam menangani
tindak pidana ilegal fishing.
b. Kendala
1) Masih adanya kritikan dan hujatan dari komunitas LSM yang
bergerak di bidang maritim, perikanan dan kelautan terhadap
16

kinerja Ditpolair Polda dalam menangani tindak pidana illegal


fishing.
2) Masih lemahnya kesadaran hukum masyarakat nelayan yang
ada di wilayah pantai, pesisir, dan pulau-pulau kecil terluar
yang mana mereka mencari ikan di wilayah perairan yang
dilarang oleh aturan perundang-undangan yang berlaku,
melanggar zonasi, menggunakan peralatan tangkap ikan yang
tidak sesuai ketentuan.
3) Media massa yang memberitakan secara bombastis dan
tendensius tentang penegakan hukum di laut yang penuh
dengan penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang.
4) Masih lemahnya koordinasi dengan KKP dan DKP dalam
menangani tindak pidana ilegal fishing.
5) Masih lemahnya kolaborasi dengan Bakamla dan TNI AL
dalam menangani tindak pidana ilegal fishing.
17

BAB V
KONDISI PERAN DITPOLAIR POLDA GORONTALO
YANG DIHARAPKAN

Kondisi ideal adalah sebuah kondisi yang diharapkan / das sollen sebagai
lawan dari kondisi faktual / das sein yang akan menjadi panduan, pedoman dan
koridor untuk menyusun langkah, upaya, dan strategi perubahan dari kondisi
faktual menuju kondisi ideal. Kondisi ideal biasanya merujuk pada aturan
perundang-undangan dan aspek teoritis yang bersifat ideal. Adapun kondisi ideal
daristrategi optimalisasi peran ditpolair guna mendukung penanganan tindak
pidana illegal fishing dalam rangka terwujudnya kamdagri, adalah sebagai berikut :

14. Dukungan Sumber Daya Organisasi Dalam Mengoptimalkan Peran


Ditpolair Untuk Mendukung Penanganan Tindak Pidana Illegal Fishing
Diharapkan peran Ditpolair yang diterapkan oleh penyidik Polri
dalam mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing berjalan secara
optimal, sesuai dengan teori sumber daya organisasi, sebagai berikut :
a. Personil. Diharapkan terwujud personil yang mampu memahami,
menguasai dan menghayati tentang aturan perundang-undangan
tindak pidana illegal fishing, penyidikan tindak pidana illegal fishing
dan kualitas personil dalam menguak mafia / jaringan internasional
illegal fishing. Harapannya, terwujud personil Ditpolair Polda
Gorontalo yang semuanya mengikuti dikjur fungsi teknis polair, dan
jumlah personil yang sesuai dengan DSPP.
b. Anggaran. Diharapkan terwujud alokasi anggaran yang memadai
untuk mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing sehingga
akan mampu menciptakan Kamdagri. Harapannya, alokasi anggaran
kegiatan operasional Ditpolair dalam menangani kejahatan illegal
fishing akan selalu meningkat sehingga akan mampu melakukan
penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus-kasus kejahatan illegal
fishing secara cepat dan profesional.
c. Sarana Prasarana. Diharapkan terwujud sarana prasarana kapal,
teknologi komputer dan internet yang modern, canggih dan handal
18

dalam mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing di


wilayah hukum Polda Gorontalo. Harapannya, semua sarana
prasarana, peralatan pendukung dan peralatan teknis lainnya dapat
didukung sehingga akan mampu meningkatkan peran, kinerja dan
kualitas Ditpolair Polda Gorontalo.
d. Sismet. Diharapkan terwujud sistem komunikasi dan koordinasi antar
Ditpolair dengan Satpolair di setiap Polres dalam melaksanakan
penegakan hukum tindak pidana illegl fishing. Harapannya, terwujud
mekanisme kemitraan, kerjasama dan sistem sinergi dengan instansi
lintas sektoral dalam menangani kejahatan illegal fishing di wilayah
Polda Gorontalo, yang mana Ditpolair Polda mampu mensinergikan
berbagai pihak untuk mendukung peran Ditpolair Polda Gorontalo
dalam menangani kejahatan ilegal fishing.

15. Sinergitas Polisional Dengan Instansi Lintas Sektoral Untuk


Mengoptimalkan Peran Ditpolair Dalam Mendukung Penanganan
Tindak Pidana Illegal Fishing
Diharapkan sinergitas polisional dengan instansi lintas sektoral untuk
mengoptimalkan peran Ditpolair dalam mendukung penanganan tindak
pidana illegal fishing berjalan secara optimal, sesuai dengan teori
kerjasama, sebagai berikut :
a. Aspek Komunikasi. Diharapkan komunikasi Ditpolair Polda dengan
Bakamla, KKP, dan DKP Pemda dilakukan baik komunikasi formal
dan informal untuk membahas nelayan mapun pihak-pihak lain
melanggar zonasi maupun penggunaan alat tangkap ikan yang tidak
sesuai dengan ketentuan.
b. Aspek Koordinasi. Diharapkan rapat koordinasi yang dilakukan
Ditpolair Poldadengan Bakamla, KKP, dan DKP Pemda dilakukan
secara rutin dan menyentuh persoalan riel di lapangan, misalnya
persoalan banyaknya nelayan maupun pelaku usaha yang mengurus
ijin ke DKP sulit dan berbelit-belit sehingga nekat melakukan
penangkapan ikan tanpa adanya ijin atau ijinnya dipalsukan.
19

c. Aspek Kolaborasi. Diharapkan kolaborasi yang dilakukan oleh


Ditpolair Polda dengan Bakamla, KKP, dan DKP Pemda semakin
meningkat , berupa operasi gabungan bersama antara kedua belah
pihak untuk melakukan patroli bersama maupun sosialisasi kepada
nelayan tentang pentingnya menangkap ikan secara legal.

16. Kontribusi Optimalnya Peran Ditpolair Terhadap Penanganan Tindak


Pidana Illegal Fishing Dan Kamdagri
a. Diharapkan optimalnya peran Ditpolair berkontribusi terhadap
penanganan tindak pidana illegal fishing, dengan indikator :
1) Semakin menurunnya kejahatan ilegal fishing setiap
tahunnya dan mampu mengungkap modus operandi,
jaringan, dan sindikat yang canggih, modern dan sistematis.
2) Semakin meningkatnya pendapatan ekonomi di wilayah
perairan dan terajaganya sumber kekayaan laut Indonesia
oleh aksi ilegal fishing.
b. Diharapkan penanganan tindak pidana illegal fishing yang optimal
mendorong pada situasi dan kondisi kamdagri yang mantap, kokoh
dan stabil, dengan indikator :
1) Masyarakat semakin partisipatif dan berperan serta dalam
menjaga wilayah perairana Indonesia.
2) Masyarakat semakin percaya, yakin dan mendukung
terhadap semua program dan kegiatan penegakan hukum
yang dijalankan oleh Polri.
20

BAB VI
STRATEGI PEMECAHAN MASALAH

Dalam menganalisis tentang strategi optimalisasi peran ditpolair guna


mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing dalam rangka terwujudnya
kamdagri, maka diperlukan perangkat analisis teoritik. Teori analisis yang
dipergunakan adalah teori IFAS/EFAS/SFAS. Oleh karena itu, sebelum dilakukan
langkah manajemen strategis (berupa visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan,
strategi, dan implementasi strategi), maka akan dilakukan aplikasi teori
IFAS/EFAS/SFAS sebagai dasar dalam menyusun langkah manajemen strategis,
sebagai berikut :

17. Analisis IFAS, EFAS & EFAS


1) Internal Factor Analysis Strategy (IFAS)
PRING
FAKTOR INTERNAL BOBOT
KAT
SKOR

Kekuatan (Strengths)

1. Kebijakan strategi (Jakstra) Polri tentang


pentingnya penegakan hukum di wilayah
0,10 6 0,60
perairan Indonesia untuk menyelamatkan
sumber kekayaan laut

2. Program quick wins Polri yang salah satunya


memfokuskan penegakan hukum tindak pidana 0,11 7 0,77
ilegal fishing di wilayah perairan Indonesia

3. Komitmen jajaran pengemban fungsi Polair di


Polda dan Polres dalam mengungkap,
0,12 6 0,72
menangkap dan memproses setiap pelaku
kejahatan ilegal fishing

4. Semakin meningkatnya alokasi anggaran Polri


dalam APBN sehingga dapat mendukung peran
0,08 8 0,64
Ditpolair Polda untuk menangani tindak pidana
ilegal fishing

5. Semakin meningkatnya sarana prasarana Polri


sehingga dapat mendukung peran Ditpolair
0,09 9 0,81
Polda untuk menangani tindak pidana ilegal
fishing

0,50 2,77
21

Kelemahan (Weakness)

1. Masih lemahnya pengawasan melekat dan


pengawasan fungsional terhadap penegakan
0,10 1 0,10
hukum di laut yang dilakukan oleh Ditpolair
Polda

2. Masih adanya oknum anggota Ditpolair yang


memberikan “backing” terhadap aktifitas 0,09 2 0,18
kejahatan ilegal fishing

3. Manajemen kerja Ditpoalir Polda yang belum


semuanya didasarkan pada target kinerja dan
0,08 3 0,24
sasaran kinerja dalam penegakan hukum tindak
pidana ilegal fishing

4. Masih lemahnya kemampuan personil Ditpolair


Polda dalam menangani tindak pidana ilegal 0,12 4 0,48
fishing

5. Masih lemahnya sismet Ditpolair Polda dalam


0,11 5 0,55
menangani tindak pidana ilegal fishing

Sub Jumlah 0,50 1,55

Jumlah Total 1,00 4,32

2) Eksternal Factor Analysis Strategy (EFAS)


PRING
FAKTOREKSTERNAL BOBOT
KAT
SKOR

Peluang (Opportinities)

1. Adanya kebijakan Nawacita Jokowi-JK yang


mendorong hadirnya negara di tengah
masyarakat sehingga Polri hadir melindungi, 0,08 6 0,48
mengayomi, dan melayani masyarakat dalam
menanggulangi ilegal fishing

2. Adanya kerjasama dengan Interpol dan


Kepolisian dari negara tetangga (Asean /
Aseanapol) untuk membahas permasalahan 0,10 7 0,70
kejahatan illegal fishing yang melibatkan kapal
asing dan orang asing

3. Adanya partisipasi masyarakat di sekitar


wilayah pantai, pesisir, dan pulau-pulau kecil
terluar, yang selalu memberikan pengaduan 0,09 6 0,54
kepada Ditpoalir Polda tentang berbagai tindak
pidana illegal fishing yang mereka ketahui di
22

lingkungan nelayan masing-masing

4. Adanya dukungan unsur CJS dan Imigrasi


0,11 9 0,99
dalam menangani tindak pidana ilegal fishing

5. Adanya partisipasi aktif komunitas nelayan


0,12 8 0,96
dalam menangani tindak pidana ilegal fishing

Sub Jumlah 0,50 3,67

Kendala (Threats)

1. Masih adanya kritikan dan hujatan dari


komunitas LSM yang bergerak di bidang
maritim, perikanan dan kelautan terhadap 0,09 1 0,09
kinerja Ditpolair Polda dalam menangani tindak
pidana illegal fishing

2. Masih lemahnya kesadaran hukum masyarakat


nelayan yang ada di wilayah pantai, pesisir, dan
pulau-pulau kecil terluar yang mana mereka
mencari ikan di wilayah perairan yang dilarang 0,08 2 0,16
oleh aturan perundang-undangan yang berlaku,
melanggar zonasi, menggunakan peralatan
tangkap ikan yang tidak sesuai ketentuan

3. Media massa yang memberitakan secara


bombastis dan tendensius tentang penegakan
0,12 3 0,36
hukum di laut yang penuh dengan
penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang

4. Masih lemahnya koordinasi dengan KKP dan


DKP dalam menangani tindak pidana ilegal 0,11 4 0,44
fishing

5. Masih lemahnya kolaborasi dengan Bakamla


dan TNI AL dalam menangani tindak pidana 0,10 5 0,50
ilegal fishing

Sub Jumlah 0,50 1,55

Jumlah Total 1,00 5,22


23

3) Position Mapping
KUAT SEDANG LEMAH

9 6 4,32 3
0o000 0
1. GROWTH 2. 3. RETRENCHMENT
GROWTH
Konsentrasi melalui
Penghematan
TINGGI
integrasi vertikal Konsentrasi melalui
integrasi horizontal (berbenah diri)
FAKTOR

6
4. CAREFULLY 5.a GROWTH 6. RETRENCHMENT
5,22 Konsentrasi melalui
SEDANG

integrasi horizontal
Berhati-hati Captive
5.b STABILITY
(keterikatan)
Organisasi tidak melakukan
perubahan
EKSTERNAL

3
7. GROWTH 8. GROWTH 9. RETRENCHMENT
RENDAH

Diversifikasi konsentrik Diversifikasi Likuidasi


konglomerasi

FAKTOR INTERNAL

Dari matriks internal dan eksternal sebagaimana


digambarkan di atas maka posisi strategi optimalisasi peran
ditpolair guna mendukung penanganan tindak pidana illegal
fishing dalam rangka terwujudnya kamdagri terletak pada sel
5a yaitu GROWTH konsentrasi melalui integrasi horizontal.
Artinya bahwa posisi strategi optimalisasi peran ditpolair guna
mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing dalam
rangka terwujudnya kamdagri saat ini berada dalam posisi
berkembang sehingga diperlukan langkah taktis berupa
pembenahan internal, berupa peningkatan SDM, anggaran,
sarana prasarana, dan sismet serta kerjasama lintas sektoral
untuk mendukung mengoptimalkan peran Ditpolair Polair
Polda dalam menangani tindak pidana ilegal fishing.
24

4) Strategic Factor Analysis Summary (SFAS)


JANGKA WAKTU
PRING
FAKTOR STRATEGIK KUNCI BOBOT
KAT
SKOR J J J
PD SD PJ
1. Semakin meningkatnya alokasi
anggaran Polri dalam APBN
sehingga dapat mendukung peran 0,08 8 0,64
Ditpolair Polda untuk menangani
tindak pidana ilegal fishing
2. Semakin meningkatnya sarana
prasarana Polri sehingga dapat
mendukung peran Ditpolair Polda 0,09 9 0,81
untuk menangani tindak pidana
ilegal fishing
3. Masih lemahnya puan pers
Ditpolair Polda dalam menangani 0,12 4 0,48
tindak pidana ilegal fishing
4. Masih lemahnya sismet Ditpolair
Polda dalam menangani tindak 0,11 5 0,55
pidana ilegal fishing
5. Adanya dukungan unsur CJS dan
Imigrasi dalam menangani tindak 0,11 9 0,99
pidana ilegal fishing
6. Adanya partisipasi aktif komunitas
nelayan dalam menangani tindak 0,12 8 0,96
pidana ilegal fishing
7. Masih lemahnya koordinasi
dengan KKP dan DKP dalam
0,11 4 0,44
menangani tindak pidana ilegal
fishing

8. Masih lemahnya kolaborasi


dengan Bakamla dan TNI AL
0,10 5 0,50
dalam menangani tindak pidana
ilegal fishing

Untuk menghitung range dalam rangka menentukan strategi yang


akan diambil pada jangka pendek, jangka sedang, dan jangka panjang,
maka cara menghitungnya adalah sebagai berikut :
 Range : Angka terbesar dikurangi angka terkecil dibagi 3
0,99 – 0,44 : 3 = 0,18
 Jangka Pendek : Angka terkecil ditambah range
0,44 + 0,18 = 0,62 (nilai dibawah 0,62 adalah jangka pendek)
 Jangka Sedang : Diantara jangka pendek dan jangka panjang
25

0,63 + 0,18 = 0,81 (0,63 – 0,81)


 Jangka Panjang : Skore yang berada di atas 0,81
5) Kuadran SWOT
Berdasarkan hasil analisis IFAS dan EFAS, diperoleh
hasil kekuatan (2,77) lebih besar dari pada kelemahan (1,55)
dan peluang (3,67) lebih besar dari pada kendala (1,55),
maka dengan demikian dalam analisis SWOT dapat
digambarkan matriks SWOT sebagai berikut:
Peluang
(O)

III I

S<W S>W
O>T O>T
TURN AROUND AGRESIF

Kelemahan Kekuatan
(W) (S)

S<W S>W
O<T O<T
DEFENSIF DIVERSIFIKASI

IV II
Kendala
(T)

Berdasarkan matriks SWOT di atas, maka strategi


optimalisasi peran ditpolair guna mendukung penanganan
tindak pidana illegal fishing dalam rangka terwujudnya
kamdagri dapat digambarkan sebagai berikut:
a) Kuadran I : Apabila strategi optimalisasi peran ditpolair
guna mendukung penanganan tindak pidana illegal
fishing dalam rangka terwujudnya kamdagri berada
pada Kuadran I dimana kekuatan (S) lebih besar
daripada kelemahan (W) serta peluang (O) lebih besar
daripada kendala (T), maka strategi yang digunakan
adalah strategi agresif.
b) Kuadran II : Apabila strategi optimalisasi peran ditpolair
guna mendukung penanganan tindak pidana illegal
fishing dalam rangka terwujudnya kamdagri berada
26

pada Kuadran II dimana Kekuatan (S) lebih besar dari


Kelemahan (W) serta Peluang (O) lebih kecil dari
Kendala (T), maka strategi yang diterapkan adalah
Diversifikasi.
c) Kuadran III : Apabila strategi optimalisasi peran
ditpolair guna mendukung penanganan tindak pidana
illegal fishing dalam rangka terwujudnya kamdagri
berada pada Kuadran III dimana Kekuatan (S) lebih
kecil dari Kelemahan (W) serta Peluang (O) lebih besar
dari Kendala (T), maka strategi yang digunakan adalah
Turn Around (berbenah diri).
d) Kuadran IV : Apabila strategi optimalisasi peran
ditpolair guna mendukung penanganan tindak pidana
illegal fishing dalam rangka terwujudnya kamdagri
berada pada posisi Kuadran IV dimana kekuatan (S)
lebih kecil dari Kelemahan (W) serta Peluang (O) lebih
kecil dari Kendala (T), maka strategi yang digunakan
adalah Defensif.

Berdasarkan matriks skenario di atas, dengan


memperhitungkan hasil dari analisis IFAS dan EFAS, maka
diperoleh posisi strategi optimalisasi peran ditpolair guna
mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing dalam
rangka terwujudnya kamdagri berada pada Kuadran I, yaitu
Agresif, artinya strategi optimalisasi peran ditpolair guna
mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing dalam
rangka terwujudnya kamdagri, maka Polri perlu
memperhatikan aspek kelemahan (berupa meningkatkan
kemampuan SDM, anggaran, sarana prasarana, sismet dari
penyidik Ditpolair Polda) dan kendala (mengintensifkan
komunikasi, koordinasi dan kolaborasi dengan instansi lintas
sektoral yang terkait).
27

18. Visi
Visi yang dirumuskan adalah sebagai berikut : “Terwujudnya kamdagri
melalui optimalisasi peran ditpolair,dalam mendukung penanganan tindak
pidana illegal fishing”.
19. Misi
a. Mewujudkan sumber daya organisasi untuk mendukung
mengoptimalkan peran Ditpolair Polda dalam mendukung penanganan
tindak pidana illegal fishing.
b. Mewujudkan kerjasama lintas sektoral dalam mengoptimalkan peran
Ditpolair Polda sehingga mampu mendukung penanganan tindak
pidana illegal fishing.
20. Tujuan
a. Meningkatkan kualitas sumber daya kepolisian untuk mengoptimalkan
peran Ditpolair Polda sehingga mampu mendukung penanganan tindak
pidana illegal fishing.
b. Meningkatkan kemitraan dan sinergitas dengan instansi lintas sektoral
untuk mencegah, menindak dan memproses para pelaku kejahatan
ilegal fishing.
21. Sasaran
a. Terpenuhinya kualitas SDM, anggaran, sarana prasarana dan sismet di
jajaran Ditpolair Polda guna menegakan hukum kejahatan ilegal fishing.
b. Terjalinnya kegiatan bersama, aksi bersama, dan operasi bersama
dengan instansi lintas sektoral dan pihak terkait lainnya untuk
menegakan hukum kejahatan ilegal fishing.
22. Kebijakan
a. Lakukan pengarahan, sosialisasi, pelatihan dan simulasi kepada
pengemban fungsi polair dan jajarannya dalam melaksanakan
pencegahan dan penindakan kejahatan ilegal fishing.
b. Lakukan sosialisasi, edukasi dan penyuluhan bersama dengan instansi
lintas sektoral dalam penanganan kejahatan ilegal fishing.
23. Strategi
a. Strategi jangka pendek(1 tahun).
28

1) Meningkatkan kemampuan personil Ditpolair Polda dalam


menangani tindak pidana ilegal fishing.
2) Meningkatkan sismet Ditpolair Polda dalam menangani tindak
pidana ilegal fishing.
3) Meningkatkan koordinasi dengan KKP dan DKP dalam menangani
tindak pidana ilegal fishing.
4) Meningkatkan kolaborasi dengan Bakamla dan TNI AL dalam
menangani tindak pidana ilegal fishing.
b. Strategi jangka menengah/sedang (3 tahun).
1) Meningkatkan alokasi anggaran Ditpolair Polda dalam menangani
tindak pidana ilegal fishing.
2) Meningkatkan sarana prasarana Ditpolair Polda dalam menangani
tindak pidana ilegal fishing.
c. Strategi jangka panjang (5 tahun).
1) Mengintensifkan komunikasi dengan unsur CJS dan Imigrasi
dalam menangani tindak pidana ilegal fishing.
2) Meningkatkan kerjasama dengan komunitas nelayan dalam
menangani tindak pidana ilegal fishing.

24. Implementasi Strategi


a. Strategi Jangka Pendek (1 tahun)
Strategi jangka pendek yang diformulasikan adalah sebagai
berikut:
1) Meningkatkan kemampuan personil Ditpolair Polda dalam
menangani tindak pidana ilegal fishing, melalui langkah-langkah :
a) Kapolda memerintahkan Dirpolair memberikan pengarahan
kepada semua personil polair tentang aturan perundang-
undangan yang terkait dengan penegakan hukum tindak
pidana illegal fishing.
b) Kapolda memerintahkan Dirpolair memberikan sosialisasi
dan pelatihan kepada semua personil polair secara rutin
tentang proses penyidikan tindak pidana illegal fishing
secara cepat dan profesional.
29

2) Meningkatkan sismet Ditpolair Polda dalam menangani tindak


pidana ilegal fishing, melalui langkah-langkah:
a) Kapolda memerintahkan Dirpolair membuat sistem
komunikasi dan koordinasi serta supervisi yang efektif antara
Ditpolair Polda dengan Satpolair Polres dalam menangani
tindak pidana illegal fishing.
b) Kapolda memerintahkan Dirpolair membuat sop / juklak /
juknis tentang pencegahan, penangkalan dan penegakan
hukum ilegal fishing sehingga dapat dipedomani personil
polair di lapangan.
3) Meningkatkan koordinasi dengan KKP dan DKP dalam menangani
tindak pidana ilegal fishing, melalui langkah-langkah :
a) Kapolda memerintahkan Dirpolair melakukan pertemuan
dengan jajaran PPNS Perikanan dari DKP Pemda dan KKP
untuk membahas tentang teknis penegakan hukum illegal
fishing, terkait porsi kewenangan dan teknis koordinasi di
lapangan, sebagai penjabaran dari MoU yang ditandatangani
kedua belah pihak.
b) Kapolda memerintahkan Dirpolair melakukan diskusi dengan
PPNS Perikanan dari DKP Pemda dan KKP untuk saling
sharing informasi dan pertukaran data terkait dengan
penanganan kejahatan illegal fishing.
4) Meningkatkan kolaborasi dengan Bakamla dan TNI AL dalam
menangani tindak pidana ilegal fishing, melalui langkah-langkah :
a) Kapolda memerintahkan Dirpolair melakukan koordinasi
dengan pimpinan Bakamla dan penyidik TNI AL untuk
membahas tentang penanganan tindak pidana illegal fishing
di wilayah perairan / lautan sehingga tidak terjadi tumpang
tindih kewenangan di lapangan.
b) Kapolda memerintahkan Dirpolair melakukan kegiatan
bersama, seperti patroli rutin bersama dengan Bakamla dan
TNI AL untuk mendeteksi para pelaku illegal fishing di
wilayah perairan / lautan.
30

b. Strategi Jangka Menengah (3 tahun)


Strategi jangka sedang adalah melanjutkan strategi jangka
pendek yang belum tercapai dan melakukan langkah strategis sebagai
berikut :
1) Meningkatkan alokasi anggaran Ditpolair Polda dalam menangani
tindak pidana ilegal fishing, melalui langkah-langkah:
a) Kapolda memerintahkan Karo rena dan Dirpolair menyusun
Renja / RKA KL / DIPA Ditpoalir yang memadai untuk
dialokasikan ke dalam kegiatan operasional Ditpolair dalam
menangani tindak pidana illegal fishing.
b) Kapolda memerintahkan Dirpolair mengelola anggaran
operasional secara efektif, efisien dan berbasis kinerja
sehingga dapat mendukung penanganan tindak pidana
illegal fishing.
2) Meningkatkan sarana prasarana Ditpolair Polda dalam menangani
tindak pidana ilegal fishing, melalui langkah-langkah:
a) Kapolda memerintahkan Karo Sarpras menambah kapal
patroli ditpolair yang modern dan canggih sehingga mampu
menyaingi kapal-kapal asing yang mencuri ikan di wilayah
perairan Indonesia.
b) Kapolda memerintahkan Karo Sarpras melengkapi kapal
patroli ditpolair dengan peralatan komunikasi dan peralatan
informasi serta radar yang canggih untuk mendeteksi dan
menangani tindak pidana illegal fishing.

c. Strategi Jangka Panjang (5 tahun)


Strategi jangka panjang adalah melanjutkan strategi jangka
menengah yang belum tercapai dan melakukan langkah strategis
sebagai berikut :
1) Mengintensifkan komunikasi dengan Unsur CJS dan Imigrasi
dalam menangani tindak pidana ilegal fishing, melalui langkah-
langkah :
31

a) Kapolda memerintahkan Dirpolair melakukan koordinasi


dengan unsur pimpinan CJS (kejaksaan / JPU dan
pengadilan) agar supaya pelaku, tersangka dan terdakwa
tindak pidana illegal fishing dihukum berat untuk
menumbuhkan efek jera.
b) Kapolda memerintahkan Dirpolair melakukan komunikasi
dengan jajaran CJS untuk membuat mekanisme peradilan
yang cepat, tepat dan transparan terhadap tindak pidana
illegal fishing.
c) Kapolda memerintahkan Dirpolair melakukan komunikasi
dengan jajaran imigrasi untuk mengurus dan membahas
permasalahan dokumen keimigrasian dari para pelaku asing
atau warga negara asing dari pelaku tindak pidana illegal
fishing.
d) Kapolda memerintahkan Dirpolair melakukan dialog dengan
pimpinan imigrasi untuk membuat mekanisme yang tepat
dan cepat dalam penanganan warga negara asing dan
pelaku asing dalam tindak pidana illegal fishing yang
tertangkap di wilayah perairan Indonesia.
2) Meningkatkan kerjasama dengan komunitas nelayan dalam
menangani tindak pidana ilegal fishing, melalui langkah-langkah :
a) Kapolda memerintahkan Dirpolair memberikan penyuluhan
kepada masyarakat nelayan di wilayah pesisir dan pulau
kecil terluar tentang tindak pidana illegal fishing dan tata cara
pencarian ikan yang sesuai dengan aturan hukum yang
berlaku.
b) Kapolda memerintahkan Dirpolair memberikan sosialisasi
kepada masyarakat nelayan, ormas dan LSM setempat,
termasuk tokoh masyarakat tentang mekanisme pelaporan
cepat, cegah dini, tangkal dini terhadap kejahatan illegal
fishing yang ada di lingkungannnya masing-masing.
32

BAB VII
PENUTUP

25. Kesimpulan
Berdasarkan uraian bab-bab di atas, maka dapat ditarik benang merah
kesimpulan sebagai berikut :
a Dukungan sumber daya organisasi dalam mengoptimalkan peran
Ditpolair guna mendukung penanganan tindak pidana illegal fishing
masih belum sepenuhnya optimal, dilihat dari SDM, anggaran, sarana
prasarana dan sismet yang masih lemah, sehingga diperlukan langkah
pembinaan, pengarahan, sosialisasi, pelatihan dan simulasi.
b Sinergitas polisional dengan lintas sektoral dalam mengoptimalkan
peran Ditpolair guna mendukung penanganan tindak pidana illegal
fishing masih belum sepenuhnya optimal, dilihat dari aspek komunikasi,
koordinasi, kolaborasi yang belum intensif, sehingga diperlukan langkah
diskusi, dialog, fasilitasi, dan konsultasi.

26. Rekomendasi
Berlandaskan uraian kesimpulan di atas, maka dapat dirumuskan
rekomendasi sebagai berikut :
a. Dimohonkan kepada Kapolri memerintahkan Ditpolair Baharkam Polri
untuk melakukan sosialisasi, pelatihan, simulasi dan supervisi terhadap
penanganan tindak pidana illegal fishing yang diperankan oleh jajaran
Ditpolair Polda sehingga meningkatkan kualitas, kompetensi dan kinerja
personil polair dalam menegakan hukum di lautan / perairan Indonesia.
b. Dimohonkan kepada Kapolri memerintahkan As Sarpras Kapolri untuk
melakukan evaluasi kebutuhan sarana prasarana yang dibutuhkan oleh
semua Ditpolair Polda sehingga akan terpetakan rencana kebutuhan
sarana prasarana / peralatan polair untuk dijadikan sebagai dasar
dalam pengadaan peralatan / sarana prasarana di lingkungan Ditpolair
Polda.
33

DAFTAR PUSTAKA

Aturan Perundang-undangan :
UU No.8 Tahun 1981 Tentang KUHAP
UU No 2 Tahun 2002 Tentang Polri
UU No. 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara
UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan
UU No. 1 tahun 2014 tentang Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Terluar
UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
UU No. 24 tahun 2014 tentang Kelautan
Perkap No. 14 Tahun 2011 Tentang Kode Etik Profesi Polri
Perkap No. 12 Tahun 2014 Tentang Penyusunan Kerjasama
Perkap No 14 tahun 2012 Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana
Perkap No 9 tahun 2011 tentang Manajemen Operasional Kepolisian
Buku &Hanjar :
Barkah Suheryanto, Indonesia : Potensi Kekayaan Perikanan Yang Melimpah,
Jakarta, Sinar Press, 2009
Miftah Toha, Organisasi Publik dan Manajemen Publik, Yogyakarta, UGM Press,
2001
Satjito Raharjo, Pengantar Ilmu Hukum, Semarang, UNDIP, 2001
Sespimti Polri, MP Analytical Hierarchy Process, Bahan Ajar, Dikreg Ke-24 T.P.
2015
Sespimti Polri, MP Hukum Laut Internasional, Bahan Ajar, Dikreg Ke-24 T.P.
2015.
Website Internet :
http://jalanbaron.com/2014/11/kekayaan-alam-laut-indonesia/. Diunduh pada
tanggal 15 September 2015 jam 15.00 WIB
http://jurnalmaritim.com/2014/8/484/kapal-asing-dominasi-illegal-fishing. Diunduh
pada tanggal 15 September 2015 jam 15.00 WIB
http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2006/Artikel_105
00062.pdf. Diunduh pada tanggal 10 September 2015, jam 11.00 WIB
http://www.slideshare.net/nikkichio/persepsi-dan-sikap-masyarakat-terhadap-
polisi. Diunduh pada tanggal 14 September 2015, jam 21.00 WIB.

Anda mungkin juga menyukai