Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN CA COLON


DI RAJAWALI 3B RSUP. DR. KARIADI SEMARANG

A. Anatomi dan Fisiologi


Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara
usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari
feses. Usus besar terdiri dari :
a) Kolon asendens (kanan)
b) Kolon transversum
c) Kolon desendens (kiri)
d) Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna
beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus
besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini
penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa
menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya
terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah
diare.
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, "buta") dalam istilah
anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian
kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan
beberapa jenis reptil.
Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar, sedangkan
karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya
digantikan oleh umbai cacing.
Rektum (Bahasa Latin: regere, "meluruskan, mengatur") adalah sebuah
ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir
di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses.
Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi,
yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke
dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB).
Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rectum
akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan
defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke
usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak
terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.
Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi
bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot
yang penting untuk menunda BAB.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan
limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit)
dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot
sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air
besar BAB), yang merupakan fungsi utama anus.

B. Definisi
Tumor adalah suatu benjolan atau struktur yang menempati area tertentu
pada tubuh, dan merupakan neoplasma yang dapat bersifat jinak atau ganas
(FKUI, 2008 : 268).
Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang
tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis
lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan
(invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan
yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen
vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya (Gale, 2000 : 177).
Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa
abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial dari colon (Brooker,
2001 : 72).
Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus
Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan
appendix (usus buntu).
Kanker kolon/usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di
dalam permukaan usus besar atau rektum (Boyle & Langman, 2000 : 805).
Kanker kolon adalah pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh
pada kolon dan menginvasi jaringan sekitarnya (Tambayong, 2000 : 143).
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kanker
kolon adalah suatu pertumbuhan tumor yang bersifat ganas dan merusak sel DNA
dan jaringan sehat disekitar kolon (usus besar).

C. Etiologi
Penyebab dari pada kanker Colon tidak diketahui. Diet dan pengurangan
waktu peredaran pada usus besar (Aliran depan feces) yang meliputi faktor
kausatif. Petunjuk pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer
Society, The National Cancer Institute, dan organisasi kanker lainnya.
Faktor resiko telah teridentifikasi. Faktor resiko untuk kanker kolon
 Usia lebih dari 40 tahun
 Darah dalam feses
 Riwayat polip rektal atau polip kolon
 Adanya polip adematosa atau adenoma villus
 Riwayat keluarga dengan kanker kolon atau poliposis dalam keluarga
 Riwayat penyakit usus inflamasi kronis
 Diet tinggi lemak, protein, daging dan rendah serat.

Makanan-makanan yang pasti di curigai mengandung zat-zat kimia yang


menyebabkan kanker pada usus besar ( Tabel 56-1 ). Makanan tersebut juga
mengurangi waktu peredaran pada perut,yang mempercepat usus besar
menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak
hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob,
menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan
di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet
dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak
dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok
menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan
buah-buahan ( e.g Mormons,seventh Day Adventists ).
Makanan yang harus dihindari :
 Daging merah
 Lemak hewan
 Makanan berlemak
 Daging dan ikan goreng atau panggang
 Karbohidrat yang disaring(example:sari yang disaring)
 Makanan yang harus dikonsumsi:
 Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables
dari golongan kubis ( seperti brokoli,brussels sprouts )
 Butir padi yang utuh
 Cairan yang cukup terutama air

Karena sebagian besar tumor Colon menghasilkan adenoma, faktor


utama yang membahayakan terhadap kanker Colon menyebabkan adenoma. Ada
tiga type adenoma Colon : tubular,villous dan tubulo villous ( akan di bahas pada
polips ). Meskipun hampir besar kanker Colon berasal dari adenoma,hanya 5%
dari semua adenoma Colon menjadi manigna, villous adenoma mempunyai
potensial tinggi untuk menjadi manigna.
Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor
tidak diketahui poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada
gen autosom dominan. Ini di karakteristikkan pada permulaan adematus polip
pada colon dan rektum. Resiko dari kanker pada tempat femiliar poliposis
mendekati 100 % dari orang yang berusia 20 – 30 tahun.
Orang-orang yang telah mempunyai ucerative colitis atau penyakit
Crohn’s juga mempunyai resiko terhadap kanker Colon. Penambahan resiko pada
permulaan usia muda dan tingkat yang lebih tinggi terhadap keterlibatan colon.
Resiko dari kanker Colon akan menjadi 2/3 kali lebih besar jika anggota keluarga
menderita penyakit tersebut.

D. Manifestasi Klinis
1. Kanker kolon kanan
 Isi kolon berupa cairan
 Obstruksi
 Melena
 Nyeri dangkal abdomen
 Anemia
 Mucus jarang terlihat
 Pada orang yang kurus, tumor kolon kanan mungkin dapat teraba,
tetapi jarang pada stadium awal. Penderita mungkin mengalami
perasaan tidak enak pada abdomen, dan kadang – kadang pada
epigastrium.

2. Kanker kolon kiri dan rectum


 Cenderung menyebabkan perubahan defekasi
 Diare
 Nyeri kejang
 Kembung
 Sering timbul gangguan obstruksi
 Feses dapat kecil dan berbentuk seperti pita
 Mucus maupun darah segar sering terlihat pada feses.
 Anemia
 Keinginan defekasi atau sering berkemih
 Gejala yang mungkin dapat timbul pada lesi rectal adalah evakuasi
feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare
bergantian, serta feses berdarah (Gale, 2000).

Tabel Perbedaan manifestasi klinis dari kolon kanan dan kolon kiri
Kolon kanan Kolon kiri
Pasokan darah: a. mesenterika superior, v. Pasokan darah: a. mesenterika inferior, v.
mesenterika superior. mesenterika inferior
Balikan vena: vena porta hati kanan Balikan vena: v. lienalisàvena porta hati kiri
Besar Kecil
Cair seperti bubur Berbentuk kering, padat
Terutama absorbsi air, elektrolit Storasi feses, defekasi
Umumnya berbentuk benjolan, sering Umumnya tipe infiltrative, mudah ileus
ulserasi luas, berdarah, infeksi
Massa abdominal, sistemik, perut Ileus (obstruksi pada usus), hematokezia
kembung, nyeri samar dan gejala tak khas (perdarahan yang keluar dari anus dengan
warna merah segar), iritasi usus
E. Klasifikasi
Klasifikasi kanker kolon dapat ditentukan dengan sistem TNM (T =
tumor, N = kelenjar getah bening regional, M =jarak metastese).
T Tumor primer
TO Tidak ada tumor
TI Invasi hingga mukosa atau sub mukosa
T2 Invasi ke dinding otot
T3 Tumor menembus dinding otot
N Kelenjar limfa
N0 tidak ada metastase
N1 Metastasis ke kelenjar regional unilateral
N2 Metastasis ke kelenjar regional bilateral
N3 Metastasis multipel ekstensif ke kelenjar regional
M Metastasis jauh
MO Tidak ada metastasis jauh
MI Ada metastasis jauh

Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai


berikut :
A kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada metastasis.
B1 kanker telah menginfiltrasi lapisan muskularis mukosa.
B2 kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria.
C1 kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening
sebanyak satu sampai empat buah.
C2 kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih
dari 5 buah.
D kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan
penyebaran yang luas & tidak dapat dioperasi lagi.
Karsinoma Colon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip.
Biasanya tumor ini tumbuh tidak terditeksi sampai gejala-gejala muncul secara
berlahan dan tampak membahayakan. Penyakit ini menyebar dalam beberapa
metode. Tumor mungkin menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di
perut,mencapai serosa dan mesenterik fat. Kemudian tumor mulai melekat pada
organ yang ada disekitarnya,kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar
atau menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsung
masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui
limpa,setelah sel tumor masuk pada sistem sirkulasi,biasanya sel bergerak menuju
liver. Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh kemudian metastase ke paru-
paru.
Tempat metastase yang lain termasuk:
 Kelenjar Adrenalin
 Ginjal
 Kulit
 Tulang
 Otak
Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limpa dan
sistem sirkulasi,tumor colon juga dapat menyebar pada bagian peritonial sebelum
pembedahan tumor belum dilakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor dihilangkan
dan sel kanker dari tumor pecah menuju kerongga peritonial.

F. Komplikasi
Komplikasi pada pasien dengan kanker kolon yaitu:
1. Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau
lengkap.
2. Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan
penyebaran langsung.
3. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah
sekitar kolon yang menyebabkan hemorragi.
4. Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses.
5. Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.
6. Pembentukan abses

Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina. Biasanya


tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan
pendarahan. Tumor tumbuh kedalam usus besar dan secara berangsur-angsur
membantu usus besar dan pada akirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor
melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang berada disekitanya (
Uterus, urinary bladder,dan ureter ) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi
oleh kanker.

G. Patofisiologi
Penyebab jelas kanker usus besar belum diketahui secara pasti, namun
makanan merupakan faktor yang penting dalam kejadian kanker tersebut. Yaitu
berkorelasi dengan faktor makanan yang mengandung kolesterol dan lemak
hewan tinggi, kadar serat yang rendah, serta adanya interaksi antara bakteri di
dalam usus besar dengan asam empedu dan makanan, selain itu dapat juga
dipengaruhi oleh minuman yang beralkohol, khususnya bir.
Kanker kolon dan rektum terutama berjenis histopatologis (95%)
adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel dalam usus = endotel). Munculnya
tumor biasanya dimulai sebagai polip jinak, yang kemudian dapat menjadi ganas
dan menyusup, serta merusak; jaringan normal dan meluas ke dalam struktur
sekitarnya. Tumor dapat berupa masa polipoid, besar, tumbuh ke dalam lumen,
dan dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai striktura annular (mirip cincin).
Lesi annular lebih sering terjadi pada bagi rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid
yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon asendens.
Tumor dapat menyebar melalui :
1. Infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam
kandung kemih (vesika urinaria).
2. Penyebaran lewat pembuluh limfe limfogen ke kelenjar limfe
perikolon dan mesokolon.
3. Melalui aliran darah, hematogen biasanya ke hati karena kolon
mengalirkan darah balik ke sistem portal.

Stadium pada pasien kanker kolon menurut Syamsu Hidyat (1197)


diantaranya:
1. Stadium I bila keberadaan sel-sel kanker masih sebatas pada lapisan
dinding usus besar (lapisan mukosa).
2. Stadium II terjadi saat sel-sel kanker sudah masuk ke jaringan otot di
bawah lapisan mukosa.
3. Pada stadium III sel kanker sudah menyebar ke sebagian kelenjar
limfe yang banyak terdapat di sekitar usus.
4. Stadium IV terjadi saat sel-sel kanker sudah menyerang seluruh
kelenjar limfe atau bahkan ke organ-organ lain.
H. Pathway

I. Pencegahan
1. Konsumsi makanan berserat. Untuk memperlancar buang air besar dan
menurunkan derajat keasaman, kosentrasi asam lemak, asam empedu, dan
besi dalam usus besar.
2. Asam lemak omega-3, yang terdapat dalam ikan tertentu.
3. Kosentrasi kalium, vitamin A, C, D, dan E dan betakarotin.
4. Susu yang mengandung lactobacillus acidophilus.
5. Berolahraga dan banyak bergerak sehingga semakin mudah dan teratur
untuk buang air besar.
6. Hidup rileks dan kurangi stress.
J. Pemeriksaan Penunjang
1. Endoskopi:
Pemeriksaan endoskopi perlu dilakukan baik sigmoidoskopi maupun
kolonoskopi. Gambaran yang khas karsinoma atau ulkus akan dapat dilihat
dengan jelas pada endoskopi, dan untuk menegakkan diagnosis perlu
dilakukan biopsi.
2. Radiologis
Pemeriksan radiologis yang dapat dilakukan antara lain adalah foto dada
dan foto kolon (barium enema). Foto dada dilakukan untuk melihat apakah
ada metastasis kanker ke paru. Pemeriksaan dengan enema barium
mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan
letaknya. Tes ini mungkin menggambarkan adanya kebuntuan pada isi
perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Luka yang
kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium
secara umum dilakukan setelah sigmoidoscopy dancolonoscopy.
Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa dan luas
dari penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan
tempat yang jauh yang sudah metastasis.
Pemeriksaan foto dada berguna selain untuk melihat ada tidaknya
metastasis kanker pada paru juga bisa digunakan untuk persiapan tindakan
pembedahan. Pada foto kolon dapat dapat terlihat suatu filling defect pada
suatu tempat atau suatu striktura.
3. Ultrasonografi (USG)
Sulit dilakukan untuk memeriksa kanker pada kolon, tetapi digunakan
untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker ke kelenjar getah bening di
abdomen dan hati.
4. Histopatologi
Biopsy digunakan untuk menegakkan diagnosis. Gambar histopatologis
karsinoma kolon adalah adenokarsinoma dan perlu ditentukan
diferensiansi sel.
5. Laboratorium
Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien
mengalami perdarahan (FKUI, 2001 : 210). Tumor marker (petanda
tumor) yang biasa dipakai adalah CEA. Kadar CEA lebih dari 5 mg/ ml
biasanya ditemukan karsinoma kolorektal yang sudah lanjut. Berdasarkan
penelitian, CEA tidak bisa digunakan untuk mendeteksi secara dini
karsinoma kolorektal, sebab ditemukan titer lebih dari 5 mg/ml hanya pada
sepertiga kasus stadium III. Pasien dengan buang air besar lendir berdarah,
perlu diperiksa tinjanya secara bakteriologis terhadap shigella dan juga
amoeba.
6. Scan (misalnya, MR1. CZ: gallium) dan ultrasound
Dilakukan untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik, dan evaluasi
respons pada pengobatan.
7. Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum)
Dilakukan untuk diagnostik banding dan menggambarkan pengobatan dan
dapat dilakukan melalui sum-sum tulang, kulit, organ dan sebagainya.

K. Penatalaksanaan Medis
Bila sudah pasti karsinoma kolon, maka kemungkinan pengobatan adalah
sebagai berikut :
1. Pembedahan (Operasi)
Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan kanker kolon dan
rektal, pembedahan dapat bersifat kuratif atau paliatif. Kanker yang
terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengankolonoskop. Kolostomi
laparoskopik dengan polipektomi merupakan suatu prosedur yang baru
dikembangkan untuk meminimalkan luasnya pembedahan pada beberapa
kasus. Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam membuat
keputusan dikolon, massa tumor kemudian di eksisi. Reseksi usus
diindikasikan untuk kebanyakan lesi kelas A dan semua kelas B serta lesi
C. Pembedahan kadang dianjurkan untuk mengatasi kanker kolon kelas
D. Tujuan pembedahan dalam situasi ini adalah paliatif. Apabila
tumor sudah menyebar dan mencakup struktur vital sekitar, operasi tidak
dapat dilakukan. Tipe pembedahan tergantung dari lokasi dan ukuran
tumor.
Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut.
 Reseksi segmental dengan anastomosis (pengangkatan tumor dan
porsi usus pada sisi pertumbuhan, pembuluh darah dan nodus limfatik)
 Reseksi abominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen
(pengangkatan tumor dan
porsisigmoid dan semua rektum serta sfingter anal)
 Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan
anastomosis serta reanastomosis lanjut dari kolostomi
 Kolostomi permanen atau iliostomy (untuk menyembuhkan lesi
obstruksi yang tidak dapat direseksi)

2. Penyinaran (Radioterapi)
Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi
misalnya sinar X, atau sinar gamma, difokuskan untuk merusak daerah
yang ditumbuhi tumor, merusak genetic sehingga membunuh kanker.
Terapi radiasi merusak sel-sel yang pembelahan dirinya cepat, antara alin
sel kanker, sel kulit, sel dinding lambung & usus, sel darah. Kerusakan
sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan kehilangan nafsu
makan.
3. Kemotherapy
Chemotherapy memakai obat antikanker yang kuat , dapat masuk ke
dalam sirkulasi darah, sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah
menyebar. Obat chemotherapy ini ada kira-kira 50 jenis. Biasanya di
injeksi atau dimakan, pada umumnya lebih dari satu macam obat, karena
digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus (FKUI, 2001 :
211)
4. Difersi vekal untuk kanker kolon dan rektum
Berkenaan dengan tehnik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi
dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker kolorektal.
Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah.
Stoma ini dapat berfungsi sebagai difersi sementara atau permanen. Ini
memungkinkan drainase atau evakuasi isi kolon keluar tubuh.
Konsistensi drainase dihubungkan dengan penempatan kolostomi yang
ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada jaringan sekitar.
5. Penatalaksanaan Keperawatan
 Dukungan adaptasi dan kemandirian.
 Meningkatkan kenyamanan.
 Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.
 Mencegah komplikasi.
 Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit, prognosis,
dan kebutuhan pengobatan.
6. Penatalaksanaan Diet
 Cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.
Serat dapat melancarkan pencemaan dan buang air besar sehingga
berfungsi menghilangkan kotoran dan zat yang tidak berguna di usus,
karena kotoran yang terlalu lama mengendap di usus akan menjadi
racun yang memicu sel kanker.
 Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari)
 Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol
tinggi terutama yang terdapat pada daging hewan.
 Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena
hal tersebut dapat memicu sel karsinogen / sel kanker.
 Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.
 Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.
ASUHAN KEPERAWATAN
CA COLON

A. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses
keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu
dikaji adalah:
1. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
 Kelemahan, kelelahan/keletihan
 Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam
hari.
 Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan,
tingkat stres tinggi.

2. Sirkulasi:
Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
Tanda: Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.

3. Integritas ego:
Gejala:
 Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara
mengatasi stres (merokok, minum alkohol, menunda pengobatan,
keyakinan religius/spiritual)
 Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat,
pembedahan)
 Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak
mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.
Tanda: Menyangkal, menarik diri, marah.
4. Eliminasi:
Gejala:
 Perubahan pola defekasi,
 Darah pada feses,
 Nyeri pada defekasi
Tanda:
 Perubahan bising usus, distensi abdomen
 Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah

5. Makanan/cairan:
Gejala:
 Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian
zat aditif dan bahan pengawet)
 Anoreksia, mual, muntah
 Intoleransi makanan
Tanda: Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot

6. Nyeri/ketidaknyamanan:
Gejala: Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai
berat tergantung proses penyakit

7. Keamanan:
Gejala: Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.
Tanda: Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia

8. Interaksi sosial
Gejala:
 Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)
 Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan
status kesehatan.
9. Penyuluhan/pembelajaran:
 Riwayat kanker dalam keluarga
 Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya
 Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.
 Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan
sekunder akibat obstruksi
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan
absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses
keganasan usus.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah (abdomen dan
perianal), pembentukan stoma, dan kontaminasi fekal terhadap kulit
periostomal
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kolostomi
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
b/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.

C. Intervensi
1. Diagnosa : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kompresi
jaringan sekunder akibat obstruksi
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan nyeri
hilang atau skala nyeri berkurang.
Kriteria Hasil : Melaporkan nyeri hilang/terkontrol, tampak rileks dan mampu
tidur/istirahat dengan tepat
Intervensi Rasional
1. Dorong pasien untuk melaporkan Mencoba untuk mentoleransi nyeri,
nyeri daripada meminta analgesic
2. Izinkan pasien untuk memulai Menurunkan tegangan abdomen dan
posisi yang nyaman, mis lutut fleksi meningkatkan rasa control

3. Berikan tindakan yang nyaman ( Meningkatkan relaksasi, memfokuskan


pijatan punggung, ubah posisi) & kembali perhatian dan menigkatkan
aktivitas senggang kemampuan koping.

4. Dorong penggunaan tekhnik Membantu pasien untuk istirahat lebih


relaksasi, mis, bimbingan imajinasi, efektif dan memfokuskan kembali
visualisasi. Berikan aktivitas tenggang perhatian, sehingga menurunakan nyeri
dan ketidak nyamanan

5. Kolaborasi dalam pemberian obat Menurunkan nyeri, meningkatkan


sesuai indikasi, mis, analgesik kenyamanan.

2. Diagnosa : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d


gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses
keganasan usus.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam di
harapkan kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria hasil : klien melaporkan selera makannya meningkat
INTERVENSI RASIONAL
1. Pertahankan tirah baring selama fase Menurunkan kebutuhan metabolik
akut/pasca terapi untuk mencegah penurunan kalori dan
simpanan energi.

2. Bantu perawatan kebersihan rongga Meningkatkan kenyamanan dan selera


mulut (oral hygiene). makan.

3. Berikan diet TKTP, sajikan dalam Asupan kalori dan protein tinggi perlu
bentuk yang sesuai perkembangan diberikan untuk mengimbangi status
kesehatan klien (lunak, bubur kasar, nasi hipermetabolisme klien keganasan.
biasa)

4. Kolaborasi pemberian obat-obatan Pemberian preparat zat besi dan vitamin


sesuai indikasi (roborantia) B12 dapat mencegah anemia;
pemberian asam folat mungkin perlu
untuk mengatasi defisiensi karen
amalbasorbsi.

5. Bila perlu, kolaborasi pemberian Pemberian peroral mungkin dihentikan


nutrisi parenteral. sementara untuk mengistirahatkan
saluran cerna.

3. Diagnosa : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah


(abdomen dan perianal), pembentukan stoma, dan kontaminasi fekal terhadap kulit
periostomal.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatn selama 3x24 jam diharapkan dapat
meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanpa infeksi.
Kriteria hasil : klien melaporkan luknya sudah sembuh atau mulai sembuh /
mengering
INTERVENSI RASIONAL
1. Observasi luka, catat karakteristik Perdarahan pascaoperasi paling sering
drainase terjadi selama 48 jam pertama, dimana
infeksi dapat terjadi kapan saja

2. Ganti balutan sesuai kebutuhan, Sejumlah besar drainase serosa menuntut


gunakan tekhnik aseptic penggantian dengan sering untuk
menurunkan iritasi kulit dan potensial
ptensi

3. Dorong posisi miring dengan kepala Meningkatkan drainase dari luka parineal
tinggi, hindari duduk lama atau drain menurunkan resiko
pengumpulan. Duduk lama meningkatkan
tekanan parineal, menurunkan sirkulasi
keluka, dan memperlambat penyembuhan

4. Kolaborasi irigasi luka sesuai indikasi, Diperlukan untuk menginflamasi/ infekasi


gunakan cairan garam faal, larutan hidrogen praoperasi atau kontaminasi intraoperasi
peroksida, atau larutan antibiotic

5. Kolaborasi rendam duduk Meningkatkan kebersihan dan memudahkan


penyembuhan.

4. Diagnosa : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kolostomi


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperaawatn selama 2x24 jam di harapkan klien
dapatmenerima kondisi diri sesuai situasi, menerima perubahan kedalam konsep diri
tanpa harga diri yang negative.
Kriteria hasil : klien menyatakan penerimaan tentang kondisi diri dengan baik.
INTERVENSI RASIONAL
1. Pastikan apakah konseling dilakukan Memberikan informasi tentang tingkat
bila mungkin dan/atau ostomi perlu pengetahuan pasien terhadap pengetahuan
untuk diskusikan tentang situasi pasien.

2. Dorong pasien/orang tedekat untuk Membantu pasien untuk menyadari


menyatakn perasaan tentang ostomi perasaannya tidak biasa dan perasaan
bersalah tentng mereka tidak perlu/tidak
membantu
3. Catat prilaku menarik diri. Peningkatan Dugaan masalah pada pnilaian yang dapat
ktergantungan, manipulasi, atau tidak terlibat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih
pada perawatan. ketat.

4. Berikan kesempatan pada pasien untuk Ketergantungan pada perawatan diri


menerima ostomi melalui partisipasi pada membantu untuk memperbaiki kepercayaan
perawatan diri. diri dan peneriman situasi

5. Rencanakan/jadwalkan perawatan Meningkatkan rasa kontroling dan


dengan pasien memberikan pesan pada pasien bahwa ia
dapat menangani hal tersebut,
meningkatkan harga diri
6. Pertahankan pendekatan positif selama Bantu pasien/orang terdekat untuk
aktifitas perawatan. Jangan perlihatkan rasa menerima perubahan tubuh dan merasakan
marah secara pribadi baik tentang diri sendiri.

7. Diskusikan kemungkinan kontak dengan Dapat memberikan sistem pendukung yang


pengunjung ostomi, dan buat perjanjian baik
untuk kunjungan berikutnya bila diperlukan.
5. Diagnosa : Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan b/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam di harapkan dapat
meningkatkan pemahaman klien kondisi/tentang penyakit, tindakan dan prognosis.
Dengan melakukan prosedur yang diperlukan, menjelaskan alasan tindakan.
Kriteria hasil : klien mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan penyakit serta
prosedur yang akan dilakukan pada dirinya.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji tingkat pengetahuan klien/ orang Proses pembelajaran sangat dipengaruhi
terdekat dan kemampuan/kesiapan belajar oleh kesiapan fisik dan mental klien.
klien.

2. Jelaskan tentang proses penyakit, Meningkatkan pengetahuan klien


penyebab/faktor risiko, dan dampak penyakit tentang masalah yang dialaminya.
terhadap perubahan status kesehatan-sosio-
ekonomi, fungsi-peran dan pola interaksi
sosial klien.

3. Jelaskan tentang terapi pembedahan, radiasi Meningkatkan partisipasi dan


dan kemoterapi serta efek samping yang dapat kemandirian klien untuk mengikuti
terjadi program terapi.

4. Tekankan pentingnya mempertahan kan asupan Penderita kanker yang mengikuti


nutrisi dan cairan yang adekuat. program terapi yang tepat dengan status
gizi yang adekuat meningkatkan kualitas
hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah,Edisi 8,Vol.2. Jakarta:


EGC
Doenges dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3. Jakarta: EGC
Price & Wilson. 2006. Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.6.
Jakarta: EGC
Prayuda hendi, Muhammad. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Ca
Colon. Inhttp://www.scribd.com. Last update 13 november 2018
Malini, eva. 2016. Askep Hemeroid Pasien Hemeroid dan Ca
Colorectal. Inhttp://www.scribd.com. Lustupdate 27 november 2018