Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Untuk mengetahui kualitas suatu hadis, setiap orang yang akan

melaksanakan penelitian hadis diwajibkan mengetahui ilmu ini, karena ilmu

ini merupakan alat untuk menilai sekaligus menentukan kualitas hadis melalui

penilaian terhadap para periwayatnya. Sifat-sifat yang ada pada periwayat tersebut

bisa berupa sifat terpuji, sehingga seorang kritikus hadis akan mempercayai

bahwa orang tersebut memang layak untuk dipercaya sebagai periwayat hadis

Nabi. Demikian juga sifat-sifat tersebut, bisa berupa sifat tercela, yang

menyebabkan seseorang yang mempunyai sifat tersebut akan diragukan

kredibilitasnya dan pada akhirnya dinilai sebagai orang yang tidak layak untuk

meriwayatkan hadis Nabi. Karena sifatnya yang demikian, pada awalnya, ilmu ini

sulit berkembang, karena masih banyak umat Islam yang ragu untuk

mengembangkan ilmu ini.

Keraguan yang ditunjukkan oleh umat Islam dalam mengembangkan ilmu

ini ialah disebabkan bahwa ilmu ini memang berupaya mengungkap aib orang,

yang dalam pergaulan dan ajaran Islam, sesungguhnya sangat

dilarang. Namun karena ada sisi lain yang justru lebih penting, yakni kebenaran

hadis yang merupakan sumber pokok dan utama dalam syari’at Islam, maka ilmu

ini harus tetap dipertahankan. Artinya, bahwa meskipun membeberkan aib orang

1
lain sesama muslim itu dilarang, tetapi kalau seandainya ada seorang pembawa

hadis atau periwayat hadis yang sesungguhnya diri orang tersebut cacat,

yang kalau dibiarkan riwayat orang tersebut akan dipercaya sebagai suatu

kebenaran yang datang dari Nabi, padahal hadis yang diriwayatkannya tersebut

sama sekali tidak datang dan berasal dari Nabi, maka orang yang membiarkan

tersebut tentu harus menanggung akibatnya.

Untunglah umat Islam, dalam hal ini para ulamanya kemudian menyadari

pentingnya ilmu ini sehingga mereka kemudian dapat menerima argumentasi

tersebut dan selanjutnya mengembangkan ilmu ini dengan mantap hingga sampai

zaman kita ini. Ilmu ini dikalangan para ulama disebut ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil.

B. Permasalahan

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka penulis mencoba

membuat rumusan dan batasan masalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian dan ruang lingkup ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil?

2. Bagaimana sejarah petumbuhannya ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil?

3. Bagaimana kaidah-kaidah al-Jarh wa al-Ta’dil?

4. Bagaimana maratib al-Jarh wa al-Ta’dil?

5. Apa kitab-kitab rujukan al-Jarh wa al-Ta’dil?

2
C. Signifikansi Permasalahan

Pembahasan al-Jarh wa al-Ta’dil bertujuan untuk membantu bagi siapa

saja yang ingin menilai sekaligus menentukan kualitas hadis melalui penilaian

terhadap para periwayatnya, terutama bagi para mahasiswa perguruan tinggi

agama Islam, sehingga mereka dapat menggapai banyak manfaat dalam menuntut

ilmu pengetahuan.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil

Jarh ada dua macam yaitu:

1. Jarh material, yaitu suatu bentuk jarh (luka) yang menimbulkan bekas cedera

atau luka pada fisik manusia yang disebabkan oleh benda tajam dan

sebagainya. Bentuk jarh semacam ini tidak termasuk dalam pembahasan

makalah ini.

2. Jarh inmaterial, yaitu suatu bentuk jarh (luka) nonfisik, seperti menyebutkan

sifat-sifat kejelekan seseorang dengan menggunakan ucapan atau bentuk

tulisan. Bentuk jarh semacam ini yang menjadi topik (masalah) pembahasan

makalah ini.1

Pada dasarnya, ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil merupakan bagian dari ilmu rijal

al-hadis, namun karena ia dipandang sebagai bagian yang terpenting, ilmu ini

dijadikan ilmu yang berdiri sendiri.2

Al-Jarh dari segi bahasa merupakan bentuk masdar dari kata jaraha-

yajrihu yang berarti melukai 3 , sedangkan menurut istilah al-Jarh berarti

munculnya suatu sifat yang ada dalam diri perawi yang menodai sifat adilnya

1
Mahmud Ali Fayyad, A. Zarkasyi Chumaidy (pen), Manhaj Al-Muhadditsiin Fii Dhabth As-
Sunnah, (Bandung: CV. Pustaka Setia. 1998), h. 57.

2
M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang.
1997), h. 153.
3
A. Qadir Hassan, Ilmu Mushthalah Hadits, (Bandung: CV. Diponegoro. 1994), h. 445.

4
atau mencacatkan hafalan kekuatan ingatannya yang menyebabkan gugur

riwayatnya, lemah riwayatnya, dan tertolak riwayatnya.4

Para ulama hadis mendefinisikan al-Jarh sebagai berikut:

‫الجرح عندالمحد ثين الطعن فی راوی الحد يث بمايسلب أويخل بعدالته أوضبطه‬

Artinya: Jarh menurut muhadditsin adalah menunjukkan sifat-sifat cela rawi


sehingga mengangkat atau mencacatkan adalah atau kedhabitannya.5

Ta’dil menurut bahasa berarti at-tasywiyah (menyamakan) 6 , sedangkan

Ta’dil menurut istilah adalah mensifati perawi dengan sifat-sifat yang menetapkan

kebersihannya dari pada kesalahan-kesalahannya, lalu tampaklah keadilannya,

dan diterimalah riwayatnya.7

Adapun para ulama hadis mendefinisikan al-Ta’dil sebagai berikut:

‫عكسه هوتزكية الراوي والحكم عليه بأ نه عد ل أوضا بط‬

Artinya: Lawan dari al-Jarh, yaitu pembersihan atau penyucian perawi dan
ketetapan bahwa ia adil atau dhabit.8

Dengan demikian, ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil menurut ‘Ajaj berarti:

‫االعلم الذ ي يبحث في أحوال الرواة من حيث قبول رواياتهم اوردها‬

4
Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadits Pokok-Pokok Ilmu Hadis, (Jakarta: Gaya
Media Pratama, 2007), h. 233.
5
Agus Solahudin, Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011), h. 113.
6
Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010), h. 31.
7
M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang,
1981), h. 205.
8
Mudasir, Ilmu Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 50.

5
Artinya: Ilmu yang membahas hal-ihwal para perawi dari segi diterima atau
ditolak riwayat mereka.9

Ulama lain mendefinisikan al-Jarh wa al-Ta’dil sebagai berikut:

‫علم يبحث عن الرواةمن حيث ما وردفي شأنهم ممايشنيهم أويزكيهم بألفاظ مخصو صما‬

Artinya: Ilmu yang membahas rawi hadis dari segi yang dapat menunujukkan
keadaan mereka, baik yang dapat mencacatkan atau membersihkan
mereka, dengan lafazh tertentu.10

Mencacat para perawi (yakni menerangkan keadaannya yang tidak baik,

agar orang tidak terpedaya dengan riwayat-riwayatnya), telah tumbuh sejak

zaman sahabat.11

Maka ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil adalah ilmu yang membahas keadaan

rawi dari sisi diterima atau ditolak periwayatannya. Ilmu ini merupakan ilmu

hadis terpenting, karena dengan ilmu ini, dapat membedakan yang shahih dari

yang cacat, yang diterima dan ditolak, karena masing-masing tingkatan jarh dan

ta’dil memiliki akibat hukum yang berbeda-beda.

B. Sejarah Pertumbuhan Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil

Sejarah pertumbuhan ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil seiring dengan sejarah

pertumbuhan dan perkembangan periwayatan hadis, karena bagaimanapun juga

untuk memilah dan memilih hadis shahih harus melewati penelitian terhadap

9
Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, op, cit., h. 234.
10
Agus Solahudin, Agus Suyadi, loc, cit.
11
Muhammad Ahmad dan M. Mudzakir, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), h.
60.

6
rawi-rawi dalam sanadnya yang akhirnya memungkinkan untuk membedakan

antara hadis maqbu dan hadis mardud.

Praktek men-Jarh dan men-Ta’dil sudah tampak pada masa Rasulullah,

yang beliau contohkan sendiri secara langsung dengan memuji sahabat Khalid bin

al-Walid dengan sebutan :

‫نعم عبد هللا خالـد بن الـوليد سيف من سيـو ف هللا‬

Artinya: Sebaik-baik hamba Allah adalah Khalid bin Walid. Dia adalah pedang
dari sekian banyak pedang Allah.

Selain dari riwayat-riwayat yang kita peroleh dari Rasullullah, banyak

pula kita menemukan pandangan dan pendapat para sahabat. Banyak kasus

dimana sahabat yang satu memberikan penilaian terhadap sahabat yang lainnya

dalam kaitannya sebagai perawi hadis. Keadaan demikian berlanjut dan

dilanjutkan oleh tabi’in, atba’at-tabi’in serta para pakar ilmu hadis berikutnya.

Dalam hal ini mereka menerangkan keadaan para rawi semata-mata dilandasi

semangat religius dan mengharap ridha Allah swt. Maka apa yang mereka

katakan tentang kebaikan ataupun kejelekan seorang rawi akan mereka katakan

dengan sebenarnya tanpa tenggang rasa, meski yang dinilai negatif adalah

keluarganya. Para ulama’ hadis disamping teguh, keras, dan tegas dalam

memberikan penilaian, juga dikenal teliti dalam mempelajari kehidupan para

rawi. Disamping mengkiprahkan diri dalam ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil, para ulama

juga memotivasi para muridnya untuk turut andil mencari tahu keadaan rawi

7
tertentu dan menjelaskan kepada yang lainnya. Ringkasnya, aktivitas mencari,

merekam, dan menyebarkan informasi keadaan rawi sangat digalakkan. Hal ini

jelas terungkap dari pernyataan Abd ar-Rahman bin Mahdi :

‫سألت شعبة وابن المبا رك ومالك بن أنس عن الرجل يتحم بالكـذ ب قالو‬
‫انشره فإ نه دين‬

Artinya: Saya pernah bertanya kepada Syu’bah, Ibn al-Mubarak dan Malik bin
Anas tentang seseorang yang tertuduh dusta. Maka mereka menjawab:
sebarkanlah berita tentang dia, karena merupakan pengamalan agama.

Yahya bin Sa’id al-Qaththan menceritakan :

‫سألت سفيان الشورى وشعبة ومالكا وابن عيـينة عن الرجل ال يكون شبتا فى‬
‫الحديث فيأتينى الر جل فيسنألنى عنه قا لوا أخبر عنه أنه ليس بحد يث‬
Artinya: Saya pernah bertanya kepada Sufyan ats-Tsauri, Malik dan Ibn ‘Uyainah
tentang seseorang yang tidak teliti dalam meriwayatkan hadits.
Kemudian datanglah kepadaku seseorang yang menanyakan orang
tersebut. Maka mereka menyatakan kabarkanlah bahwa orang itu
haditsnya tidak dapat diterima.

Begitu gencarnya aktivitas meliput kualitas rawi, Ibn al-Mubarak

menentang dengan tegas tuduhan orang-orang sufi yang menyamakan aktivitas

semacam itu dengan Ghibah :

‫ المعلى بن هال ل هو إال أنه إذا جاء الحد يث يكـذ ب فقال‬: ‫قا ل ابن المبارك‬
‫بعض الصوفيه يا أبا عبد الرحمن تغتاب ؟ فقال أسكت إذا لم يتبـين كيف يعر‬
‫ف الحق من الباطل‬

8
Artinya: Ibn al-Mubarak berkata : Al-Ma’aliy ibn Hilal itulah orangnya, hanya
saja apabila ia menyampaikan hadits, ia berdusta. Sebagian ulama sufi
berkata kepadanya; Hai ‘Abdurrahman mengapa anda menggunjing? Ibn
al-Mubarak berkata: Diamlah! Kalau kita tidak menjelaskan bagaimana
dapat diketahui yang benar dan yang salah.

Selain itu Ahmad bin Hanbal juga mewartakan kondisi yang senada.

Tanggung jawab para ulama yang begitu besar dalam menilai kualitas rawi

ditegaskan dalam rangka menjaga sunnah dari tangan-tangan perusak dan pemalsu

hadits, yang pada gilirannya menjadi wasilah mengetahui kualitas nilai hadis.

Pada dasarnya, ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil tumbuh dan berkembang bersamaan

dengan periwayatan hadis, yakni semenjak Rasulullah dan para sahabatnya.

Ulama-ulama sesudahnyalah yang kemudian melanjutkan tradisi semacam itu

untuk memenuhi titah Allah yang tertuang dalam QS. al-Ahzab 70-71:

‫ يصلح لكم أعما لكم ويغفر‬،‫ياأيها الذين أمنوا اتقو ا هللا وقو لوا قو ال سد يدا‬
‫لكم ذنو بكم ومن يطع هللا ورسوله فقد فاز فوزا عظـيما‬

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah yang benar, niscya Allah memperbaiki amalan-amalanmu
dan mengampun dosa-dosamu. Dan barang siapa menta’ati Allah dan
Rasul-Nya, maka sesungguhnyaia tlah mendapat kemenangan besar.

Adapun diantara tokoh-tokoh Jarh dan Mu’addil yang muncul dari

kalangan sahabat adalah: Ibnu ‘Abas (w. 68H), ‘Ubadah bin Shamit (w.34H)

Anas bin Malik (w.93H). Dari kalangan tabi’in muncul nama-nama ‘Amir

(w.104H), Ibnu Sirin (w.110H), Sa’id ibn Musayyab (w.93H). Di antara ulama

hadis yang berkiprah sekitar abad ke-2 H yaitu: Syu’bah bin al-Hajjaj (w.160 H),

9
Malik bin Anas (w.179H), Sufyan bin ‘Uyainah (w.198H). Sedangkan Ulama

hadis yang berkiprah pada abad ke-3 H yaitu: Yazid bin Harun (w.206H), Abu

Dawud ath-Thayalisi (w.204H), ‘Abd ar-Razzaq bin Hammam (w.211H), Abu

‘Ashim (w.212H). Ulama al-jarh wa at-Ta’dil sekitar abad ke-4 H adalah: Abu

Bakar al-Faryabi (w.303H), Abu Ya’la (w.307H), an-Nasa’I (303H), Ibnu

Huzaimah (w.311H), Ibnu Jarir ath-Thabari (w.310H).12

Dengan demikian ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil ini tumbuh bersama-sama

dengan tumbuhnya periwayatan dalam islam, karena untuk mengetahui hadis-

hadis yang shahih yang perlu diketahui para perawinya sehingga dapat

membedakan mana yang diterima dan yang ditolak riwayatnya. Karena itulah,

para ulama menanyakan tentang keadaan para perawi, meneliti kehidupan

mereka, mengetahui segala keadaan mereka, lama berguru, hingga mengetahui

siapa yang lebih hafal dan kuat ingatannya. Prinsip-prinsipnya telah tegak sejak

masa sahabat. Tidak sedikit diantara mereka yang berbicara tentang para perawi.

Banyak pula tabi’in dan generasi sesudah mereka yang berbicara tentang perawi.

Mereka menilai itu wajib, karena merupakan salah satu bentuk nasehat kaum

muslimin, menegakkan pilar-pilar agama, dan memenuhi perintah Allah Azza Wa

Jalla. 13

C. Kaidah-Kaidah al-Jarh wa al-Ta’dil

12
http://dc178.4shared.com/doc/vGPY8Q-K/preview.html.
13
M. Hasbi Ash-Shiddieqy, op, cit., h. 206.

10
Ketika sebagian besar hukum-hukum syariat hanya bisa diketahui dengan

jalan meriwayatkan hadis, maka para ulama mulai meneliti keadaan (semua sifat)

para perawi hadis. Ada beberapa kaidah penting yang digunakan mereka sebagai

metode penelitian dari perawi hadis, yaitu:

a. Al-amanah wa al-nazahah; dalam artian mereka tidak hanya menyebutkan

kekurangan tetapi juga kelebihan perawi, seperti yang dikatakan oleh

Muhammad bin Sirin: “saya telah berbuat dzalim terhadap saudaramu jika

hanya menyebutkan keburukannya dengan tanpa menyebutkan kebaikannya”.

b. Al-diqoh fi al-bahsi wa al-hukmi; dalam artian mereka sangat mendalam

dalam meneliti keadaan perawi yang diperbincangkan. Mayoritas para ulama

bisa mendiskripsikan keadaan para rawi, adakalanya karena mereka pernah

bergaul langsung dengan para rawi atau murni karena persangkaan mereka,

dan mereka membedakan antara lemahnya rawi yang berangkat dari

kelemahannya dalam beragama dan dari lemahnya hafalan.

c. Iltizam ‘ala al-adab fi al-jarh; dalam artian para ulama jarh wa ta’dil dalam

ijtihad mereka untuk memberikan kritikan tidak akan keluar dari etika

penelitian yang bersifat ilmiah yang shahih. Kritikan yang paling tajam

kepada rawi hanya memakai ungkapan “fulan adalah orang yang lemah atau

pembohong”. Bahkan sebagian dari mereka tidak memakai kata

“pembohong” tapi dengan ucapan “ia adalah orang yang tidak jujur”.

d. Al-ijmal fi al-Ta’dil wa Tafsil fi al-tarjih; dalam artian, mereka ulama jarh wa

ta’dil selalu menjelaskan sifat adil seorang rawi secara global (tidak

11
menjelaskan sebab-sebab keadilannya), seperti: ia bisa dipercaya, ia adil, dan

lain sebagainya. Sedangkan dalam menjelaskan sebab-sebab dari sifat jarh

rawi selalu terperinci, seperti: pelupa, pembohong, fasik, dan lain

sebagainya.14

D. Maratib al-Jarh wa al-Ta’dil

Berdasarkan hasil penelitian ulama ahli kritik hadis, ternyata keadaan para

periwayat hadis bermacam-macam. Sesuai dengan keadaan para periwayat itu,

maka ulama ahli kritik hadis menyusun peringkat para periwayat di lihat dari

kualitas pribadi dan kapasitas intelektual mereka. Keadaan para periwayat yang

bermacam-macam itu dibedakan dalam ilmu jarh wa ta’dil. Urut-urutan lafaz itu

dikenal dengan sebutan maratib al- alfaz al-jarh wa ta’dil (peringkat lafaz-lafaz

ketercelaan dan keterpujian).15

Jumlah peringkat yang berlaku untuk jarh wa ta’dil tidak disepakati oleh

ulama ahli hadis. Sebagian ulama ada yang membaginya menjadi empat peringkat

untuk al-jarh dan empat peringkat untuk al-ta’dil, sebagian ulama ada yang

membaginya menjadi lima peringkat untuk al-jarh dan untuk al-ta’dil., dan

sebagian ulama lagi ada yang membaginya masing-masing yakni untuk jarh dan

ta’dil kepada enam peringkat.

Maratib Ta’dil (tingkatan ta’dil) dari yang paling tinggi derajatnya

14
http://dc178.4shared.com/doc/vGPY8Q-K/preview.html. op, cit.,
15
M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, (Jakarta: Bulan Bintang. 1991), h.
75.

12
 Tsiqoh (terpercaya)

 Shoduq (jujur/benar)

 Syeikhun (memiliki ilmu dan pengalaman yang banyak)

 Sholehul Hadis (periwayat yang sholeh)

Maratib al-Jarh (peringkat kelemahan perawi) dari yang paling ringan

 Layyinul Hadits (Ada aspek yang melemahkan haditsnya)

 Dhoiful Hadits (haditsnya lemah)

 Matrukul Hadits (tidak lengkap dalam mendengarkan haditsnya)

 Kadzab (pendusta)

1. Tingkatan Ta’dil

a) Tingkatan pertama (tertinggi): penyifatan rawi yang menunjukkan bentuk

keta’dilan dan kedhabitan tertinggi (bentuk mubalaghah), seperti: “Ilaihi

Al-Muntaha Fi Al-Dhabti Wa Al-Tasabut” maksudnya: ia sangat tinggi

dalam segi ketelitian dan kecermatan, 16 Autsaqu An-Nas, Adh-Bath An-

Nas dan Laisa Lahu Nadzir.17 dan lain-lain.

b) Tingkatan kedua: penyifatan rawi yang menunjukkan kemasyhuran dalam

keta’dilan dan kecermatan (Al tatsabut), seperti “fulan la tusalu

‘anhu” maksudnya seorang rawi yang tak dipertanyakan lagi.

16
Mahmud Ali Fayyad, Metodologi Penetapan Kesahihan Hadis, (Bandung: Pustaka Setia,
1998), h. 82.
17
Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, op, cit., h. 275.

13
c) Tingkatan ketiga: penyifatan rawi yang menunjukkan kecermatan

(tasabut) dan memperkukuh sifat rawi dengan pengulangan sifat yang

sama atau yang sepadan seperti “Hujjah Hujjah”.18

d) Dan masih ada lagi yang lain.

1. Tingkatan Jarh

a) Tingkatan tertinggi: Penyifatan rawi yang menunjukkan hanya

sekedar Dha’if atau tidak bisa dijadikan pegangan seperti lafal-lafal

“Layyin Al-Hadis” maksudnya hadis yang lemah.

b) Tingkatan kedua: penyifatan rawi dengan tingkat kedha’ifannya yang lebih

besar dari pensifatan yang sebelumnya atau yang menunjukkkan sesuatu

yang harus ditinggalkan seperti, “Dha’if” maksudnya hadis munkar.

c) Tingkatan ketiga: penyifatan rawi yang menggugurkan hadis,

seperti “mardudul hadis” maksudnya hadisnya ditolak.19

d) Dan masih ada lagi yang lainnya.

Tingkatan-tingkatan sebagai al-Jarh

Dalam Kitab Taisir ‘Ulum Al Hadis li Al Mudtadi’in, Amru Abdul

Mun’im Salim, menyebutkan tingkatan Jarh sebagaimana pada tingkatan

Mu’addil di atas, yaitu:

1. Mutasyadid dalam menjarh, seperti Abu Hatim Ar Razi dan Al Jauzajani.

18
Mahmud Ali Fayyad, op, cit., h. 82.
19
Ibid, h. 84-85.

14
2. Musrifin (terlalu mudah) dalam menjarh, seperti Abu Al Fath Muhammad bin

Al Husain Al Azdi.

3. Mu’tadil dalam menjarh, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah Ar

Razi, Ibnu Ma’in, Asy Syaikhani.20

Lafaz-lafaz dalam Tajrih

1. Lafaz yang menunjukan adanya kelemahan (yaitu jarh yang paling ringan),

contohnya: fulan layyinun Al Hadis, atau hadisuhu maqalun, (hadisnya

diperbincangkan).

2. Lafaz yang menunjukkan adanya kelemahan terhadap perawi tidak dapat

dijadikan hujjah, contoh: fulan laa yuhtaj bihi (fulan tidak bisa dijadikan

hujjah), atau dha’if, lahu manakir (hadis nya munkar).

3. Lafaz yang menunjukan lemah sekali tidak dapat ditulis hadisnya, contoh:

fulan laa yuktab hadis uhu (fulan hadis nya tidak ditulis), laa tahillu

riwayatahu (tidak boleh meriwayatkan darinya), fulan dha’if jiddan, wahn bi

marattin (orang yang sering melakukan persangkaan).

4. Lafaz yang menunjukkan adanya tuduhan berbuat dusta atau pemalsuan hadis,

Contoh: fulan muthamun bil kadzb (fulan dituduh berbuat dusta), fulan

muthamun bi Al Wadh’i (fulan dituduh membuat hadis palsu), yasriqu Al

Hadis (dia mencuri hadis), matruk, atau laisa bi tsiqah.

Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi, Beirut, Dar al-Ihya’ al-Sunnah al-
20

Nabawiyyah, 1979, juz I. hlm 229-233.

15
5. Lafaz yang menunjukkan adanya perbuatan dusta atau yang semacamnya,

contoh kadzdzab atau dajjal, wadha’ (pemalsu).

6. Lafaz yang menunjukkan adanya mubalaghah (superlatif) dalam perbuatan

dusta, contoh: fulan paling pembohong, ilaihi al muntaha bi al kadzb (dia

pangkalnya kedustaan) dan lainnya.21

Tingkatan-tingkatan sebagai Mu’addil

Dalam tingkatan-tingkatan Mu’addil, dikenal istilah-istilah sebagai

berikut:

1. Mutasahil dalam ta’dil (terlalu mudah memberi rekomendasi keadilan). Maka

tingkat yang pertama ini tidak diterima bila ia memberikan rekomendasi siqah

kepada seseorang, kecuali bila ia benar-benar mengetahui secara pasti.

Diantara ulama’ yang mutasahil dalam ta’dil, yaitu Imam Muhammad bin

Ishaq bin al Huzaimah dan muridnya, Abu Hatim bin Ibnu Hibban juga Ibnu

Hibban al Hakim Ibnu Abdullah, terutama dalam kitab al Mustadark-nya, al-

Daruquthni, namun beliau lebih baik dari Ibnu Hibban dan al Baihaqi.

2. Mutasyadid (terlalu ketat dalam memberikan rekomendasi adil kepada seorang

perawi). Untuk yang kedua ini ta’dilnya dipegang erat-erat, apalagi terhadap

perawi yang diperselisihkan. Diantara para ulama’ yang mutasyadid adalah

Abu Hatim Ar Razi, Al-Jurjani dan An Nasa’i. Ibnu Ma’in juga dikatakan

sebagai mutasyadid.

21
Ibid.

16
3. Mu’tadil (sikap pertengahan). Untuk tingkatan yang ketiga, perkataan

diterima, dan tidak ditolak kecuali bila menyelisihi jumhur. Ulama’ yang

termasuk mu’tadil adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah Ar Razi, Ibnu

Ma’in, Asy Syaikhani dan At Tirmidzi.22

Lafaz-lafaz dalam Ta’dil

Ibnu Abi Hatim dalam bagian pendahuluan kitabnya Al Jarh wa At Ta’dil

menetapkan lafaz-lafaz dalam jarh wa ta’dil menjadi empat tingkatan, sedangkan

para ulama lainnya menambah dua poin menjadi enam, di antaranya adalah:

1. Lafaz menggunakan bentuk superlative (mubalaghah) dalam ketsiqahan atau

mengikuti wazan af’al., contoh: Fulanun Asbata An Nas (Fulan adalah

manusia yang paling teguh), fulan ilaihi Al Muntaha fi At Tatsabut (fulan yang

paling tinggi keteguhannya) dan lainnya.

2. Lafaz yang menyebutkan salah satu sifat atau dua sifat yang menguatkan

ketsiqahannya dan keadilan contoh: tsiqah tsiqah, atau tsiqah tsabit.

3. Ungkapan yang menunjukkan ketsiqahan tanpa adanya penguat contoh:

Tsiqah, tsabat, mutqin.

4. Lafaz yang menunjukkan ta’dil tanpa adanya isyarat akan kekuatan hafalan

dan ketelitian, contoh: shaduquna (orang yang jujur), ma’mun (terpercaya) laa

ba’sa bih (tidak masalah atau tidak ada cacat).

5. Lafaz yang tidak menunjukan ketsiqahan atau pun celaan Contoh; Fulanun

Syaikhun, rawiya ‘anhu An Nas (manusia meriwayatkan darinya).

22
Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, op, cit., h. 267.

17
6. Lafaz yang mendekati adanya jarh contoh: fulan shalih hadis (lumayan) atau

yuktabu hadisuhu (hadisnya dicatat).

Karena terjadi perbedaan peringkat, maka ada lafaz yang sama untuk

peringkat al-jarh dan ta’dil, tetapi memiliki peringkat yang berbeda. Lafaz saduq,

misalnya, ada ulama yang menempatkannya pada peringkat kedua dalam urutan

al-ta’dil dan ada ulama yang menempatkannya pada urutan keempat. Adanya

perbedaan dalam menempatkan peringkat lafaz, untuk jarh wa ta’dil itu memberi

petunjuk bahwa memahami tingkat kualitas yang dimaksudkan oleh lafaz jarh wa

ta’dil diperlukan penelitian misalnya dengan menghubungkan penggunaan lafaz

itu kepada ulama yang memakainya. Untuk memperoleh gambaran lebih jelas

tentang macam-macam lafaz untuk jarh wa ta’dil beserta peringkatnya masing-

masing, perlu dipelajari lebih mendalam kitab-kitab yang membahas al-jarh wa

ta’dil.23

E. Kitab-Kitab Rujukan al-Jarh wa al-Ta’dil

Kesungguhan para ulama dalam menyusun ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil

berpangkal pada akhir abad ke-2 H, yaitu ketika pembukuan hadis berkembang

disegenap kota-kota islam, maka lahirlah macam-macam kitab dalam berbagai

bidang.

Kitab-kitab yang lahir pada masa itu, merupakan titik tolak bagi karya-

karya besar yang lahir kemudian. Permulaan kitab yang disusun dalam bidang ini

23
M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang. 1988), h.
171.

18
ialah: hasil karya Yahya ibn Ma’in (158-233 H), hasil karya Ali ibnul Madini

(161-234 H), hasil karya Ahmad ibn Hambal (164-241 H). Sesudah itu barulah

lahir kitab-kitab yang besar yang mengumpulkam pendapat-pendapat imam-imam

al-Jarh wa al-Ta’dil. Kitab-kitab tersebut ini ada yang sederhana isinya dan ada

yang sangat luas isinya, yang paling kecil diantara kitab-kitab itu ialah: kitab yang

terdiri hanya satu jilid yang menerangkan keadaan beberapa ratus perawi, yang

paling luas terdiri atas beberapa jilid menerangkan keadaan puluhan ribu perawi.

Kitab yang paling tua yang sampai ke tangan kita ialah: kitab Ma’rifatul

Rijal, karangan Ibn Ma’in, Ad Dlu’afa karya Bukhari (194-236 H), dan kitab Adl

Dlu’afa wal Matrukin, karya An Nasa-I (215-303 H). Diantara kitab-kitab yang

terkenal ialah: kitab Ats Tsiqat, karangan Abu Hatim ibnu Hibban Al Busti, wafat

pada tahun 354 H. Dan Al Kamil, karya Al Hafidh Abdullah ibn Muhammad

ibn Adiy Al Jurjani (277-365 H).24

24
Hasbi Tengku Muhammad Ash-Shiddieqy, op, cit., h. 232-234.

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian di muka, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Al-Jarh dari segi bahasa merupakan bentuk masdar dari kata jaraha-yajrihu

yang berarti melukai, sedangkan menurut istilah al-Jarh berarti munculnya

suatu sifat yang ada dalam diri perawi yang menodai sifat adilnya atau

mencacatkan hafalan kekuatan ingatannya yang menyebabkan gugur

riwayatnya, lemah riwayatnya, dan tertolak riwayatnya. Maka ilmu al-Jarh

wa al-Ta’dil adalah ilmu yang membahas keadaan rawi dari sisi diterima atau

ditolak periwayatannya.

2. Sejarah pertumbuhan ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil seiring dengan sejarah

pertumbuhan dan perkembangan periwayatan hadis, karena bagaimanapun

juga untuk memilah dan memilih hadis shahih harus melewati penelitian

terhadap rawi-rawi dalam sanadnya yang akhirnya memungkinkan untuk

membedakan antara hadis maqbu dan hadis mardud.

3. Ada beberapa kaidah yang digunakan sebagai metode penelitian dari perawi

hadis, yaitu:

a. Al-amanah wa al-nazahah; dalam artian mereka tidak hanya menyebutkan

kekurangan tetapi juga kelebihan perawi.

b. Al-diqoh fi al-bahsi wa al-hukmi; dalam artian mereka sangat mendalam

dalam meneliti keadaan perawi yang diperbincangkan.

20
c. Iltizam ‘ala al-adab fi al-jarh; dalam artian para ulama jarh wa ta’dil

dalam ijtihad mereka untuk memberikan kritikan tidak akan keluar dari

etika penelitian yang bersifat ilmiah yang shahih.

d. Al-ijmal fi al-Ta’dil wa Tafsil fi al-tarjih; dalam artian, mereka ulama jarh

wa ta’dil selalu menjelaskan sifat adil seorang rawi secara global (tidak

menjelaskan sebab-sebab keadilannya).

4. Urut-urutan lafaz dikenal dengan sebutan maratib al- alfaz al-jarh wa ta’dil

(peringkat lafaz-lafaz ketercelaan dan keterpujian) yaitu:

Maratib Ta’dil (tingkatan ta’dil) dari yang paling tinggi derajatnya

 Tsiqoh (terpercaya)

 Shoduq (jujur/benar)

 Syeikhun (memiliki ilmu dan pengalaman yang banyak)

 Sholehul Hadis (periwayat yang sholeh)

Maratib al-Jarh (peringkat kelemahan perawi) dari yang paling ringan

 Layyinul Hadits (Ada aspek yang melemahkan haditsnya)

 Dhoiful Hadits (haditsnya lemah)

 Matrukul Hadits (tidak lengkap dalam mendengarkan haditsnya)

 Kadzab (pendusta)

5. Kitab yang paling tua yang sampai ke tangan kita ialah: kitab Ma’rifatul Rijal,

karangan Ibn Ma’in, Ad Dlu’afa karya Bukhari (194-236 H), dan kitab Adl

Dlu’afa wal Matrukin, karya An Nasa-I (215-303 H). Diantara kitab-kitab

yang terkenal ialah: kitab Ats Tsiqat, karangan Abu Hatim ibnu Hibban Al

21
Busti, wafat pada tahun 354 H. Dan Al Kamil, karya Al Hafidh Abdullah ibn

Muhammad ibn Adiy Al Jurjani (277-365 H).

B. Implikasi

Urgensi pembahasan ulum al-hadis tentang ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil

dapat dilihat dari dua tataran:

1. Tataran teologis, mempelajari kaidah usuliah tentang ilmu al-jarh wa al-

Ta’dil akan semakin menambah keimanan seorang muslim.

2. Tataran akademis, mempelajari ulum al-hadis tentang ilmu al-Jarh wa al-

Ta’dil akan semakin memperluas wawasan keilmuan sehingga memudahkan

bagi setiap orang mengkaji, dan meneliti hadis dalam menghadapi era baru di

abad ke-21 ini.

22
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad dan M. Mudzakir. Ulumul Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 2004.

Ali Fayyad, Mahmud dan A. Zarkasyi Chumaidy (pen). Manhaj Al-Muhadditsiin Fii
Dhabth As-Sunnah, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998.

Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi, Beirut, Dar al-Ihya’ al-Sunnah
al-Nabawiyyah, 1979.

Al-Khathib, Muhammad ‘Ajaj. Ushul Al-Hadits Pokok-Pokok Ilmu Hadis, Jakarta:


Gaya Media Pratama, 2007.

Ash-Shiddieqy, M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Jakarta: Bulan


Bintang. 1997.

______________________. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jakarta: Bulan


Bintang, 1981.

Hassan, A. Qadir. Ilmu Mushthalah Hadits, Bandung: CV. Diponegoro. 1994.

http://dc178.4shared.com/doc/vGPY8Q-K/preview.html. op, cit.,

Ismail, M. Syuhudi. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, Jakarta: Bulan Bintang. 1988.

_______________. Metodologi Penelitian Hadis Nabi, Jakarta: Bulan Bintang. 1991.

Mudasir, Ilmu Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 1999.

Solahudin, Agus dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, Bandung: CV. Pustaka Setia,
2011.

Suparta, Munzier. Ilmu Hadis, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010.

23

Anda mungkin juga menyukai