Anda di halaman 1dari 7

MATERI PENYULUHAN

1. Pengertian HIV

HIV adalah virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah
putih sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Bila virus HIV tersebut
menjadi tak terkendali dan telah menyerang tubuh dalam jangka waktu lama maka infeksi
virus HIV tersebut dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome).(DepKes RI:2006)

AIDS adalah singkatan dari acquired immunedeficiency syndrome, merupakan


sekumpulan gejala yang menyertai infeksi HIV. Infeksi HIV disertai gejala infeksi yang
oportunistik yang diakibatkan adanya penurunan kekebalan tubuh akibat kerusakan sistem
imun.(Mulyana R.S:2007)

AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang
berkaitan dengan infeksi Human Immunodefisiensi Virus (HIV). (Suzane C.Smeltzer dan
Brenda G.Bare:2007).

AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV , mulai dari kelainan
ringan dalam respon imun tanpa tanda gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan
berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat mambawa kematian dan dengan kelainan
malignitas yang jarang terjadi. (Center for Disease Control and Prevention:2008).

2. Epidemiologi
Adanya infeksi menular seksual (IMS) yang lain (misal GO, klamidia), dapat
meningkatkan risiko penularan HIV (2-5%). HIV menginfeksi sel-sel darah sistem imunitas
tubuh sehingga semakin lama daya tahan tubuh menurun dan sering berakibat kematian. HIV
akan mati dalam air mendidih/ panas kering (open) dengan suhu 56oC selama 10-20 menit.
HIV juga tidak dapat hidup dalam darah yang kering lebih dari 1 jam, namun mampu
bertahan hidup dalam darah yang tertinggal di spuit/ siring/ tabung suntik selama 4 minggu.
Selain itu, HIV juga tidak tahan terhadap beberapa bahan kimia seperti Nonoxynol-9, sodium
klorida dan sodium hidroksida.
3. Gejala Infeksi HIV/ AIDS
• Infeksi akut : flu yang terjadu selama 3-6 minggu setelah terinfeksi, panas(suhu tubuh
meningkat lebih dari 38°C) dan rasa lemah selama 1-2 minggu. Bisa disertai ataupun
tidak gejala-gejala seperti:bisul dengan bercak kemerahan (biasanya pada tubuh
bagian atas) dan tidak gatal. Sakit kepala, sakit pada otot-otot, sakit tenggorokan,
pembengkakan kelenjar, diare (mencret), mual-mual, maupun muntah-muntah.
• Infeksi kronik : tidak menunjukkan gejala. Yaitu mulai dari 3-6 minggu setelah
infeksi sampai 10 tahun.
• Sistem imun berangsur-angsur turun, sampai sel T CD4 turun dibawah 200/ml dan
penderita masuk dalam fase AIDS.
• AIDS merupakan kumpulan gejala yang menyertai infeksi HIV. Gejala yang tampak
tergantung jenis infeksi yang menyertainya. Gejala-gejala AIDS diantaranya : selalu
merasa lelah, pembengkakan kelenjar pada leher atau lipatan paha, panas
badan(meningkatnya suhu tubuh lebih dari 38°C)yang berlangsung lebih dari 10
hari,keluar keringat pada malam hari, penurunan berat badan mencapai lebih dari10%
yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya, bercak keunguan pada kulit yang tidak
segera hilang, pernafasan pendek, diare berat yang berlangsung lama, infeksi jamur
(candida) pada mulut, tenggorokan, atau vagina dan mudah memar/perdarahan yang
tidak bisa dijelaskan penyebabnya.
4. Stadium infeksi HIV/ AIDS
Stadium I
Tanpa gejala klinis, masih terlihat sehat dan normal. Pembengkakan kelenjar getah bening di
seluruh tubuh yang menetap.Tingkat aktivitas 1: Masih dapat melakukan aktivitas sehari-
hari .
Stadium II
Kehilangan berat badan, kurang dari 10%; Gejala pada mukosa dan kulit yang ringan
(dermatitis seboroik, infeksi jamur pada kuku, perlukaan pada mukosa mulut yang sering
kambuh, radang pada sudut bibir); Herpes zoster terjadi dalam 5 tahun terakhir; ISPA (infeksi
saluran nafas bagian atas) yang berulang, misalnya sinusitis karena infeksi bakteri. Tingkat
aktivitas 2: dengan gejala, aktivitas normal.
Stadium III
Penurunan berat badan lebih dari 10%; Diare kronik yang tidak diketahui penyebabnya lebih
dari 1 bulan; Demam berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan;
Candidiasis pada mulut; Bercak putih pada mulut berambut; TB paru dalam 1 tahun terakhir;
Infeksi bakteri yang berat, misalnya: pneumonia, bisul pada otot. Tingkat aktivitas 3:
terbaring di tempat tidur, kurang dari 15 hari dalam satu bulan terakhir.
Stadium IV
• Kehilangan berat badan lebih dari 10% ditambah salah satu dari : diare kronik yang
tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan. Kelemahan kronik dan demam
berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan.
• Pneumocystis carinii pneumonia (PCP).
• Toksoplasmosis pada otak.
• Kriptosporidiosis dengan diare lebih dari 1 bulan.
• Kriptokokosis di luar paru.
• Sitomegalovirus pada organ selain hati, limpa dan kelenjar getah bening.
• Infeksi virus Herpes simpleks pada kulit atau mukosa lebih dari 1 bulan atau dalam
rongga perut tanpa memperhatikan lamanya.
• PML(progressivemultifocalencephalopathy) atau infeksi virus dalam otak.
• Setiap infeksi jamur yang menyeluruh, misalnya:histoplasmosis,kokidioidomikosis.
• Candidiasis pada kerongkongan, tenggorokan, saluran paru dan paru.
• Mikobakteriosis tidak spesifik yang menyeluruh.
• Septikemia salmonela bukan tifoid.
• TB di luar paru.
• Limfoma.
• Kaposi’s sarkoma.
• Ensefalopati HIV sesuai definisi CDC.
Tingkat aktivitas 4: terbaring di tempat tidur,yang lebih dari 15 hari dalam 1 bulan terakhir.
5. Kelompok Resiko
Ditinjau dari cara penularannya, kelompok yang berpotensi terinfeksi HIV/ AIDS adalah
pekerja seks komersial dengan pelanggannya, pramuria/ pramupijat, kaum homoseksual,
penyalahguna narkoba suntik dan penerima darah atau produk darah yang berulang.
6. Cara Penularan
HIV hanya bisa hidup dalam cairan tubuh seperti : darah, cairan air mani (semen),
cairan vagina dan serviks, air susu ibu maupun cairan dalam otak. Sedangkan air kencing, air
mata dan keringat yang mengandung virus dalam jumlah kecil tidak berpotensi menularkan
HIV.
Cara penularan melalui hubungan seksual tanpa pengaman/ kondom, jarum suntik
yang digunakan bersama-sama, tusukan jarum untuk tatto, transfusi darah dan hasil olahan
darah, transplantasi organ, infeksi ibu hamil pada bayinya(sewaktu hamil, melahirkan
maupun menyusui). HIV tidak ditularkan melalui tempat duduk WC, sentuhan langsung
dengan penderita HIV (bersalaman, berpelukan), tidak juga melalui bersin, batuk, ludah
ataupun ciuman bibir (French kissing), maupun melalui gigitan nyamuk atau kutu.
7. Penularan HIV/ AIDS :
• Hubungan seksual dengan orang yang mengidap HIV/AIDS, berhubungan seks
dengan pasangan yang berganti-ganti dan tidak menggunakan alat pelindung
(kondom).
• Kontak darah/luka dan transfusi darah – Kontak darah/luka dan transfusi darah yang
sudah tercemar virus HIV.
• Penggunaan jarum suntik atau jarum tindik – Penggunaan jarum suntik atau jarum
tindik secara bersama atau bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV.
• Dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya.
HIV tidak menular melalui gigitan nyamuk, orang bersalaman, berciuman,
berpelukan, tinggal serumah, makan dam minum dengan piring-gelas yang sama.

8. Cara Pencegahan
Pencegahan yang dilakukan ditujukan kepada seseorang yang mempunyai perilaku
beresiko, sehingga diharapkan pasangan seksual dapat melindungi dirinya sendiri maupun
pasangannya. Adapun caranya adalah :
A : Anda jauhi hubungan seks
B : Bersikap saling setia dengan pasangan
C : Cegah dengan memakai kondom tiap melakukan hubungan
D : Dihindari pemakaian jarum suntik bebas
E : Edukasi atau pelatihan ( HIV/AIDS, NAPZA, life skill, dll )
9. Pemeriksaan HIV/ AIDS
Pemeriksaan sedini mungkin untuk mengetahui infeksi HIV sangat membantu dalam
pencegahan dan pengobatan yang lebih lanjut. Tes HIV untuk yang beresiko dilakukan setiap
6 bulan, selain itu pencegahan dapat mengurangi faktor resiko. Apabila sudah terdiagnosis
infeksi HIV dilakukan dengan dua cara pemeriksaan antibodi yaitu ELISA dan Western blot.
Tes Western blot dilakukan di negara-negara maju, sedangkan untuk negara berkembang
dinjurkan oleh WHO pemeriksaan menggunakan tes ELISA yang dilakukan 2-3 kali.
Beberapa kelemahan dan keunggulan tes pemeriksaan infeksi HIV :
1. Tes Elisa – Keuntungan : murah; efisien; cocok untuk testing dalam jumlah besar; dapat
mendeteksi HIV-1, HIV-2 dan varian HIV; cocok dalam surveilans dan pelayanan transfuse
darah terpusat. Kelemahan : butuh staf dan tehnisi laboratorium yang terampil dan terlatih;
peralatan canggih; sumber listrik konstan; waktu yang cukup.
2. Tes Sederhana/ Cepat – Keuntungan : hasil cepat; menggunakan sampel darah lengkap
(whole blood); tidak butuh peralatan khusus; sederhana; dapat dikerjakan oleh staf dengan
pelatihan terbatas; tidak perlu listrik; dapat dipindah-pindahkan dan fleksibel; hasil mudah
dibaca; punya kontrol internal sehingga hasil akurat; rancangan tes tunggal untuk spesimen
terbatas. Kelemahan : lebih mahal dari tes ELISA; butuh mesin pendingin (2o C dan 30 o C);
meningkatkan potensi testing wajib; pemberitahuan hasil tes tidak terpikirkan implikasinya.
3. Tes Air Liur dan Air Kencing – Keuntungan : prosedur pengumpulan lebih sederhana;
cocok untuk orang yang menolak memberikan darah; menurunkan resiko kerja; lebih aman
(karena mengandung sedikit virus). Kelemahan : harus mengikuti prosedur testing yang
spesifik dan hati-hati; berpotensi untuk testing mandatory; mendorong timbulnya mitos
penularan HIV lewat ciuman; belum banyak dievaluasi di lapangan.
4. Tes Konfirmasi (Western blot) – Keuntungan : untuk memastikan suatu hasil positif dari
tes pertama. Kelemahan : mahal; membutuhkan peralatan khusus; pemeriksa harus terlatih.
5. Antigen Virus - Keuntungan : mengetahui infeksi dini HIV; skrinning darah; mendiagnosis
infeksi bayi baru lahir; memonitor pengobatan dengan ARV. Kelemahan : kurang sensitif
untuk tes darah.
6. VCT (Voluntary Counseling And Testing) - Kelemahan : perlu pelayanan konseling yang
efektif; konselor perlu disupervisi; konselor terkadang perlu konseling.
10. Pengobatan HIV/ AIDS
Terapi antiretroviral (ART) berarti mengobati infeksi HIV dengan beberapa obat.
Karena HIV adalah retrovirus,maka obat ini biasa disebut sebagai obat antiretroviral (ARV).
ARV tidak membunuh virus tersebut,namun ART dapat memperlambat pertumbuhan virus.
Waktu pertumbuhan virus diperlambat, begitu juga penyakit HIV.
Jenis obat-obat antiretroviral :
• Attachment inhibitors (mencegah perlekatan virus pada sel host) dan fusion
inhibitors (mencegah fusi membran luar virus dengan membran sel hos). Obat ini
adalah obat baru yang sedang diteliti pada manusia.
• Reverse transcriptase inhibitors atau RTI, mencegah salinan RNA virus ke dalam
DNA sel hos. Beberapa obat-obatan yang dipergunakan saat ini adalah golongan
Nukes dan Non-Nukes.
• Integrase inhibitors, menghalangi kerja enzim integrase yang berfungsi
menyambung potongan-potongan DNA untuk membentuk virus. Penelitian obat ini
pada manusia dimulai tahun 2001 (S-1360).
• Protease inhibitors (PIs), menghalangi enzim protease yang berfungsi memotong
DNA menjadi potongan-potongan yang tepat. Golongan obat ini sekarang telah
beredar di pasaran (Saquinavir, Ritonavir, Lopinavir, dll.).
• Immune stimulators (perangsang imunitas) tubuh melalui kurir (messenger) kimia,
termasuk interleukin-2 (IL-2), Reticulose, HRG214. Obat ini masih dalam penelitian
tahap lanjut pada manusia.
• Obat antisense, merupakan “bayangan cermin” kode genetik HIV yang mengikat
pada virus untuk mencegah fungsinya (HGTV43). Obat ini masih dalam percobaan.
11. Perawatan dan Dukungan
Perawatan dan dukungan untuk ODHA (orang dengan HIV/ AIDS) sangat penting
sekali. Hal tersebut dapat menimbulkan percaya diri/ tidak minder dalam pergaulan. ODHA
sangat memerlukan teman untuk memberikan motivasi hidup dalam menjalani kehidupannya.
HIV/ AIDS memang belum bisa diobati, tetapi orang yang mengidap HIV/ AIDS dapat hidup
lebih lama menjadi apa yang mereka inginkan.
12. Kiat Hidup Sehat Dengan HIV/AIDS
1) Makan makanan bergizi.
2) Tetap lakukan kegiatan dan bekerja/ beraktivitas.
3) Istirahat cukup.
4) Sayangilah diri sendiri.
5) Temuilah teman/ saudara sesering mungkin.
6) Temui dokter bila ada masalah/ keluhan.
7) Berusaha untuk menghindari infeksi lain, penggunaan obat-obat tanpe resep dan hindari
mengurung diri sendiri.

13. Perawatan di rumah (home care)


1. Memberikan penjelasan pada ODHA dan keluarga tentang pengertian, cara penularan,
pencegahan, gejala-gejala, penanganan HIV/AIDS, pemberian perawatan, pencarian bantuan
dan motivasi hidup.
2. Mengajaran pada keluarga ODHA tentang bertanya dan mendengarkan, memberikan
informasi dan mendiskusikan, mengevaluasi pemahaman, mendengar dan menjawab
pertanyaan, menunjukkan cara melakukan sesuatu dengan benar dan mandiri serta
pemecahan masalah.
3. Mencegah penularan HIV di rumah dengan cara cuci tangan, menjaga kain sprei dan baju
tetap bersih, jangan berbagi barang-barang tajam
4. Menghindari infeksi lain seperti dengan cuci tangan, menggunakan air bersih dan matang
untuk konsumsi, jangan meludah sembarang tempat, tutup mulut/ hidung saat batuk/ bersin,
buanglah sampah pada tempatnya.
5. Menghindari malaria dengan menggunakan kelambu saat tidur dan penggunaan obat
nyamuk.
6. Merawat anak-anak dengan HIV/ AIDS, yaitu dengan memberikan makanan terbaik (ASI),
memberikan imunisasi, pengobatan apabila si kecil sudah terinfeksi, serta memperlakukan
anak secara normal.
7. Mengenal dan mengelola gejala yang timbul pada ODHA.
Gejala-gejalanya seperti demam, diare, masalah kulit, timbul bercak putih pada mulut dan
tenggorokan, mual dan muntah,nyeri, kelelahan dan kecemasan serta kecemasan dan depresi.
8. Perawatan paliatif (untuk memberikan perasaan nyaman dan menghindari keresahan,
membantu belajar mandiri, menghibur saat sedih,membangun motivasi diri)
14. HIV dan interaksinya pada kehamilan.

Pengaruh kehamilan pada status HIV terbatas, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada
efek marginal pada system immunologi selama kehamila, dan tidak menunjukkan perubahan
yang konsisten dari virus HIV maupun sel T. Kondisi persalinan dan post partum harus
mendapat perhatian kusus dari tenaga kesehatan. Demikian juga pertimbangan pada
keselamatan bayinya khususnya pada wktu pemberian therapy.
Pada wanita hamil,juga terdapat 4 stadium yang tanda dan gejalanya sama dengan orang
biasa yang terinfeksi HIV. Namun bayi yang dikandung kemungkinan juga akan tertular HIV
selama kehamilan,persalinan,maupun setelah persalinan dengan hal-hal yang mempengaruhi,
antara lain: kadar HIV dalam darah ibu menjelang atau pada saat bersalin, dan kadar HIV
dalam ASI bila ibu menyusui bayinya. Kadar HIV dalam darah tertinggi pada 3-6 minggu
setelah terinfeksi , dan akan menurun sampai bertahun-tahun sampai menjadi AIDS. Resiko
penularan terjadi jika kadar HIV darah diatas 100.000 kopi/ml , dimana ibu dapat menularkan
HIV ke bayinya.(DepKes RI:2006).

Menurut Mulyana(2008), status kesehatan dan gizi ibu juga mempengaruhi resiko penularan
HIV ke bayinya,jika sel CD4 rendah (system pertahanan tubuh menurun) maka resiko
penularan akan menjadi lebih tinggi. Sedangkan pada pemberian ASI, resiko akan bertambah
bila ibu terkena masalah payudara seperti mastitis,abses,dan luka pada putting susu (putting
lecet). Meskipun HIV pada ASI konsentrasinya lebih rendah dari yang terdapat dalam
darah,tetapi dapat menyebabkan penularan , terutama dengan adanya masalah pada mulut
bayi, seperti terdapat luka di mulut bayi, bayi berat lahir rendah,dan bayi premature yang
rentan terkena HIV.(Dep Kes RI:2006).

Sebagian besar,penularan bayi terjadi pada saat persalinan,ketika proses persalinan,karena


pada proses persalinan tekanan pada plasenta meningkat,terutama disebabkan oleh infeksi.
Dimana, mungkin pada proses persalinan, darah ibu akan bercampur dengan bayi.(Dep Kes
RI:2006). Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir, dan kulit bayi
masih sangat lemah,sehingga mudah terinfeksi, kemungkinan juga darah ibu akan tertelan
oleh bayi. Semakin lama proses persalinan,semakin lama juga kontak bayi dengan darah,dan
lendir ibu. Apabila terjadi ketuban pecah dini (KPP) yang lebih dari 4 jam sebelum proses
persalinan, maka resiko penularan pada bayi akan meningkat dua kali lipat disbanding jika
ketuban pecah kurang dari 4 jam sebelum bayi lahir. (Mulyana:2008)

15. Strategi pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayinya

Srategi pencegahan penularan dikenal dengan nama Prevention of Mother to Child HIV
Transmission (PMCT) antara lain :
1. Pelayanan kesehatan ibu yang komprehensif.
2. Layanan konseling dan tes HIV secara sukarela
3. Pemberian obat antiretroviral
4. Konseling tentang HIV dan makanan bayi serta pemberian susu formula sebagai
pengganti ASI
5. Persalinan aman dengan Sectio cesaria, sebelum ketuban pecah dan sebelum
kontraksi.
Sedangkan penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui:
• Saat hamil : dengan penggunaan antiretroviral selama kehamilan yang bertujuan agar
vital load rendah,sehingga jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh
kurang efektif untuk menularkan HIV.
• Saat melahirkan : cara persalinan yang terbukti paling aman untuk ibu HIV adalah
dengan Sectio cesaria.
• Setelah bayi lahir : informasi yang lengkap kepada ibu tentang resiko dan manfaat
ASI.