Anda di halaman 1dari 28

Referat

SMF/BAGIAN ILMU MATA


Januari 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

MIOPIA

Oleh:
Janet Edrina Ung, S.Ked
(1408010018)

PEMBIMBING:

dr.Eunike Cahyaningsi, Sp.M

BAGIAN/ SMF MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG
2019
BAB 1

PENDAHULUAN

Refraksi mata adalah pembiasan sinar datang pada mata agar dapat jatuh tepat di depan

retina sentral (macula). Media refraksi membantu agar sinar yang datang dapat jatuh tepat di depan

retina sentral (macula). Media refraksi terdiri dari kornea, aqueous humor (cairan mata), lensa,

badan vitreous (badan kaca). Gangguan media refraksi menyebabkan visus turun (baik mendadak

ataupun perlahan).

Miopia adalah gangguan refraksi berupa pemfokusan berkas sinar sejajar yang memasuki

mata di depan retina tanpa akomodasi. Disebut juga nearsightedness (rabun jauh), karena titik

jauhnya maju, tidak sejauh mata emetropia dengan daya akomodasi yang sama

(istirahat).Gangguna refraksi ini disebabkan kelainan kelengkungan kornea dan lensa, perubahan

indeks bias, dan kelainan panjang sumbu bola mata.

Pada negara berkembang dilaporkan prevalensi miopia meningkat pada usia sekolah dan

dewasa muda, mencapai 20-25% pada remaja dan 25-35% pada dewasa muda. Pasien yang datang

akan mengeluhkan bahwa saat melihat jauh objek yang dilihatnya menjadi kabur. Pasien juga akan

memberikan beberapa keluhan, seperti sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah

kelopak yang sempit.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI MEDIA REFRAKSI

Refraksi mata adalah hasil pembiasan sinar datang pada mata yang dipengaruhi oleh media

refraksi. Media refraksi membantu agar sinar yang datang dapat jatuh tepat di depan retina sentral

(macula). Media refraksi terdiri dari kornea, aqueous humor (cairan mata), lensa, badan vitreous

(badan kaca) dan panjang bola mata. Gangguan media refraksi menyebabkan visus turun (baik

mendadak ataupun perlahan).1

Gambar 1 : Anatomi bola mata (samping)

2.1.1 Kornea

Kornea merupakan selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya.2 Kornea

bersifat avaskular, berbentuk cembung dengan jari - jari sekitar 12 mm, dan mempunyai indeks

refraksi 1.3771.3 Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutupi bola mata sebelah depan dan
terdiri atas 5 lapis, yaitu:4,5

1. Epitel

 Tebalnya 550 μm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang

tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.

 Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi

lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan

erat berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya

melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air,

elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier.

 Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi

gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.

 Epitel berasal dari ektoderm permukaan.

2. Membran Bowman

 Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang

tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

 Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3. Stroma

 Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya,

pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sadangkan dibagian perifer serat

kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama

yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang

merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit


membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah

trauma.

 Bersifat higroskopis yag menarik air. Kadar air diatur oleh fungsi pompa sel endotel

dan penguapan oleh epitel.

4. Membran Descement

 Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea

dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya.

 Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 μm.

5. Endotel

 Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 μm. Endotel

melekat pada membran descement melalui hemi desmosom dan zonula okluden.

 Lapisan terpenting untuk mempertahankan kejernihan kornea.

 Mengatur cairan dalam stroma.

 Tidak mempunyai daya regenerasi.

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf

nasosiliar, saraf V. Saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea,

menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi

sampai kepada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin

ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam

waktu 3 bulan.1

Trauma atau panyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel

terganggu sehingga dekompresi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunya daya

regenerasi. 1
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah

depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana total kekuatan refraksi kornea

adalah 43,1 dioptri.1

2.1.2. Aqueous Humor (Cairan Mata)

Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya tidak memiliki

pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya

ke fotoreseptor. Aqueous humor dibentuk dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di

dalam korpus siliaris, turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke

suatu saluran di tepi kornea yaitu Canal of Schlemm dan akhirnya masuk ke darah.4,5

2.1.3. Lensa

Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam bola mata

dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris dan terdiri dari zat tembus

cahaya (transparan) berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat

terjadinya akomodasi.4,5

Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak dalam bilik mata belakang. Lensa

akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di dalam kapsul lensa. Epitel lensa

akan membentuk serat lensa terus-menerus sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di

bagian sentral lensa sehingga membentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat

lensa yang paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di bagian

perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada

badan siliar.4,5,6
Lensa turut membantu proses pembiasan cahaya, dimana lensa memiliki kekuatan

pembiasan sebesar 15 dioptri. Lensa memiliki kemampuan untuk mengubah kekuatan dioptrinya,

sehingga objek dekat maupun jauh dapat fokus di depan retina.1,4

2.1.4. Badan Vitreous (Badan Kaca)

Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini merupakan gel

transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit kolagen, dan molekul asam hialuronat

yang sangat terhidrasi. Badan vitreous mengandung sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen

dan asam hialuronat. Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina.

Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada

pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhan badan vitreous akan memudahkan melihat bagian retina

pada pemeriksaan oftalmoskopi. Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata

yang sferis.4,5

2.1.5 Panjang Bola Mata


Panjang bola mata menentukan keseimbangan dalam pembiasan. Ukuran diameter

anteroposterior bola mata adalah 24 mm Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila

terdapat kelainan pembiasan sinar oleh karena kornea (mendatar atau cembung) atau adanya

perubahan panjang (lebih panjang atau lebih pendek) bola mata, maka sinar normal tidak dapat

terfokus pada makula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa miopia,

hipermetropia, atau astigmatisma. Pada pertambahan 1 mm diameter anteroposterior bola mata

akan menyebabkan terjadi peningkatan pembiasan cahaya sebesar 3 dioptri.4,5


2.2 FISIOLOGI REFRAKSI

Gambar 2. Fisiologi refraksi

Berkas-berkas cahaya mencapai mata harus dibelokkan ke arah dalam untuk difokuskan

kembali ke sebuah titik peka-cahaya di retina agar dihasilkan suatu bayangan yang akurat

mengenai sumber cahaya. Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika berkas

berpindah dari satu medium dengan kepadatan (densitas) tertentu ke medium dengan kepadatan

yang berbeda.5

Cahaya bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan lainnya

misalnya : kaca, air. Ketika suatu berkas cahaya masuk ke medium dengan densitas yang lebih

tinggi, cahaya tersebut melambat (sebaliknya juga berlaku). Berkas cahaya mengubah arah

perjalanannya jika mengenai medium baru pada tiap sudut selain tegak lurus. Masing-masing

memiliki indek bias yang berbeda-beda, indek bias udara adalah 1, kornea 1.38, aqueous humor

1.33, lensa 1.40, dan vitreous humor 1.34.5,7

Dua faktor penting dalam refraksi : densitas komparatif antara 2 media (semakin besar

perbedaan densitas, semakin besar derajat pembelokan) dan sudut jatuhnya berkas cahaya di
medium kedua (semakin besar sudut, semakin besar pembiasan). Dua struktur yang paling penting

dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa. Permukaan kornea, struktur pertama

yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang melengkung berperan besar dalam reftraktif total

karena perbedaan densitas pertemuan udara/kornea jauh lebih besar dari pada perbedaan densitas

antara lensa dan cairan yang mengelilinginya. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap

konstan karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah. Sebaliknya kemampuan refraksi lensa

dapat disesuaikan dengan mengubah kelengkungannya sesuai keperluan untuk melihat

dekat/jauh.7

Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya terfokus diretina

agara penglihatan jelas. Apabila bayangan sudah terfokus sebelum bayangan mencapai retina atau

belum terfokus sebelum mencapai retina ,bayangan tersebut tampak kabur. Berkas-berkas cahaya

yang berasal dari benda dekat lebih divergen sewaktu mencapai mata daripada berkas-berkas dari

sumber jauh. Berkas dari sumber cahaya yang terletak lebih dari 6 meter (20 kaki) dianggap sejajar

saat mencapai mata.5,7

Untuk kekuatan refraktif mata tertentu, sumber cahaya dekat memerlukan jarak yang lebih

besar di belakang lensa agar dapat memfokuskan daripada sumber cahaya jauh, karena berkas dari

sumber cahaya dekat masih berdivergensi sewaktu mencapai mata. Untuk mata tertentu, jarak

antara lensa dan retina selalu sama. Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di

retina (dalam jarak yang sama), harus dipergunakan lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat.

Kekuatan lensa dapat disesuaikan melalui proses akomodasi.5,7

2.3 AKOMODASI

Akomodasi adalah kesanggupan mata untuk memperbesar daya pembiasannya.

Akomodasi dipengaruhi oleh serat-serat sirkuler mm. siliaris. Fungsi serat-serat sirkuler adalah
mengerutkan dan relaksasi serat-serat zonula yang berorigo di lembah-lembah di antara prosesus

siliaris. Otot ini mengubah tegangan pada kapsul lensa, sehingga lensa dapat mempunyai berbagai

fokus baik untuk objek dekat maupun yang berjarak jauh dalam lapangan pandang. Mata akan

berakomodasi bila bayangan benda difokuskan di belakang retina.4,5

Ada beberapa teori mengenai mekanisme akomodasi, antara lain : 7

• Teori Helmholtz
Di mana zonula Zinn kendor akibat kontraksi otot silar sirkuler,

mengakibatkan lensa yang elastic menjadi cembung. 


• Teori Thsernig
Dasarnya adalah bahwa nucleus lensa tidak dapat berubah bentuk sedang yang

dapat berubah bentuk adalah bagian lensa superfisial atau korteks lensa. Pada waktu akomodasi

terjadi tegangan pada zonula Zinn sehingga nucleus lensa terjepit dan bagian lensa superfisial

di depan nucleus akan mencembung. 


Gambar 3. Akomodasi mata

Punctum remotum (R) adalah titik terjauh yang dapat dilihat dengan nyata tanpa

akomodasi. Pada emetrop letak R adalah tak terhingga. Punctum proksimum (P) adalah titik

terdekat yang dapat dilihat dengan akomodasi maksimal. Daerah akomodasi adalah daerah di

antara titik R dan titik P. Lebar akomodasi (A) adalah tenaga yang dibutuhkan untuk melihat

daerah akomodasi. Lebar akomodasi dinyatakan dengan dioptri, besarnya sama dengan kekuatan

lensa konfeks yang harus diletakkan di depan mata yang menggantikan akomodasi untuk punctum

proksimum.6,7
Terdapat tiga trias akomodasi yaitu mata yang konvergen, lensa yang mencembung dan

pupil yang miosis.

A = 1/P – 1/R

Kekuatan akomodasi makin berkurang dengan bertambahnya umur dan punctum proksimumnya

(P) semakin menjauh. Hal ini disebabkan oleh karena berkurangnya elastisitas dari lensa dan

berkurangnya kekuatan otot siliarnya.6,7

2.4 MIOPIA

2.4.1 Definisi Miopia

Miopia (Yunani myein = menutup + -opia) adalah gangguan refraksi berupa pemfokusan

berkas sinar sejajar yang memasuki mata di depan retina tanpa akomodasi. Disebut juga

nearsightedness (rabun jauh), karena titik jauhnya maju, tidak sejauh mata emetropia dengan daya

akomodasi yang sama (istirahat).7

Gambar 4 Mata Miopia.


2.4.2 Etiologi Miopia

Miopia dapat disebabkan oleh : 1,7

1. Peningkatan panjang bola mata anteroposterior, biasa disebut miopia aksial. Ini

merupakan etiologi paling sering.

2. Peningkatan kurva dari kornea, lensa atau keduanya, biasa disebut miopia kurvatural.

3. Perpindahan posisi kristal lensa ke arah anterior, biasa disebut miopia posisional.

4. Peningkatan kekuatan refraksi dari lensa, berhubungan dengan sklerosis nuklear pada

penderita katarak.

2.4.3 Epidemologi Miopia

Miopia dapat terjadi pada berbagai usia. Ditemukan bahwa bayi memiliki miopia pada

derajat tertentu. Miopia akan mengalami perbaikan menjadi emetropia pada usia balita. Prevalensi

miopia akan meningkat lagi pada usia sekolah dan dewasa muda, mencapai 20-25% pada remaja

dan 25-35% pada dewasa muda di Amerika Serikat dan Negara-negara berkembang. Prevalensi

miopia akan mengalami penurunan pada populasi di atas 45 tahun. Pada beberapa studi

menemukan prevalensi miopia pada wanita lebih tinggi dibandingkan pria. Prevalensi miopia juga

mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya tingkat pemasukan dan tingkat pendidikan,

serta orang yang bekerja menggunakan komputer setiap hari.8

2.4.4 Klasifikasi Miopia

Menurut American Optometric Association (AOA), miopia dapat diklasifikasikan menurut

klinis, derajat serta umur onset terjadinya miopia.8

Tabel 2.1 Sistem Klasifikasi Miopia

Tipe klasifikasi Jenis-jenis miopia

Klinis (Clinical entity) Simple myopia


Nocturnal myopia

Pseudomyopia

Degenerative myopia

Induced myopia

Derajat (Degree) Low myopia

Medium myopia

High myopia

Onset (Age of onset) Congenital myopia

Youth-onset myopia

Early adult-onset myopia

Late adult-onset myopia

Miopia secara klinis dapat dibagi menjadi:

1. Miopia Simpleks: miopia yang dipengaruh oleh kekuatan optik dari kornea, kristal

lensa dan panjang aksial bola mata.

2. Miopia Nokturnal: miopia yang terjadi hanya saat pencahayaan redup atau kurang

cahaya. Hal ini disebabkan terutama karena peningkatan respon akomodatif yang

berhubungan dengan cahaya yang kurang.

3. Pseudomiopia: miopia yang diakibatkan oleh peningkatan kekuatan refraktif bola mata

karena stimulasi yang berlebih dari mekanisme akomodatif mata atau spasme siliaris.

Kondisi ini dinamakan pseudomiopia dikarenakan pasien hanya mendapat miopia di

keadaan tertentu saat terjadi kesalahan respon akomodatif dari mata.


4. Miopia degeneratif: miopia yang disebabkan oleh perubahan degeneratif dari segemen

posterior mata, biasa disebut juga miopia patologis. Perubahan degeneratif yang terjadi

dapat menyebabkan fungsi visual yang abnormal, seperti penurunan ketajaman visual

yang telah dikoreksi atau perubahan lapangan pandang.

5. Miopia terinduksi/didapat: miopia yang disebabkan karena paparan dari agen-agen

farmakologi, variasi tingkatan gula darah, sklerosis nuklear dari kristal lensa, atau

penyebab lainnya yang masih belum diketahui. Miopia ini biasanya hanya sebentar

dan dapat kembali normal.

Menurut derajat beratnya, miopia dibagi dalam:

1. Miopia ringan (<3,0 dioptri).

2. Miopia sedang (3-6 dioptri).

3. Miopia berat (>6,0 dioptri).

Menurut usia onsetnya, miopia dibagi menjadi:

1. Miopia kongenital : sejak lahir dan menetap sampai

masa anak-anak.

2. Miopia onset anak remaja : di bawah usia 20 tahun.

3. Miopia onset dewasa awal : di antara usia 20 hingga 40 tahun.

4. Miopia onset dewasa lanjut : di atas usia 40 tahun(14).

2.4.5 Patogenesis Miopia

Miopia terjadi biasanya akibat aksis anteroposterior bola mata terlalu panjang untuk

refraksi (miopia aksial) dan akibat indeks refraksi kornea dan lensa yang terlalu kuat menyebabkan

kekuatan refraksi yang terlalu besar (miopi refraktif), seperti pada kasus katarak dimana terjadi

sklerosis nuklear yang menyebabkan peningkatan kemampuan refraktif dari lensa sehingga mata
menjadi lebih miopia. Akibatnya, cahaya yang datang dari sebuah objek tidak sampai ke retina

dan objek tersebut tidak memproduksi gambar yang tajam di retina.1,8,9

Orang yang sering melakukan pekejaan dengan fokus yang dekat dapat menginduksi

terjadinya pseudomiopia. Pada saat melihat dengan fokus yang dekat diperlukan adanya

akomodasi pada mata. Jika kegiatan ini dilakukan terus menerus dapat menyebabkan terjadinya

stimulasi yang berlebih dari mekanisme akomodatif mata. Overstimuli mekanisme akomodatif

menyebabkan meningkatnya kekuatan refraktif. Akibatnya, cahaya yang datang dari sebuah objek

tidak sampai ke retina dan objek tersebut tidak memproduksi gambar yang tajam di retina.

Pseudomiopia akan menetap hingga terjadi relaksasi dari mekanisme akomodatif.1,8

Pada myopia degenerative atau myopia patologi terjadi peningkatan panjang bola mata

akibat perubahan kuantitas serabut kolagen pada sclera bagian posterior. Hal ini bisanya terjadi

pada pasien yag memiliki derajat myopia yang tinggi yaitu miopia lebih dari -6 dioptri (D).

Pertambahan panjang bola mata menyebabkan terjadi penipisan di daerah sclera dan retina. Hal

ini memicu terbentuknya penonjolan di bagian posterior berupa stafiloma postikum yang terletak

pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina. Atrofi retina terjadi kemudian setelah

terjadinya atrofi sklera dan kadang-kadang terjadi ruptur membran Bruch yang dapat menimbulkan

rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina.1

Gambar 5 Mata Miopia Saat Melihat Jarak Dekat dan Jarak Jauh
2.4.6 MANIFESTASI KLINIS MIOPIA

Pasien dengan miopia biasa dikatakan rabun jauh, karena pasien akan lebih jelas dalam

melihat jika jarak objeknya di dekatkan malahan terlalu dekat. Sedangkan untuk melihat jarak

jauh, pasien akan mengeluhkan bahwa objek yang dilihatnya terlihat kabur. Pasien juga akan

memberikan beberapa keluhan, seperti sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah

kelopak yang sempit. Dan pasien dengan miopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya

untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil).1

Untuk pasien dengan miopia simpleks dan miopia degeneratif, rabun jauh yang dialami

akan selalu muncul setiap saat. Pada miopia nokturnal, rabun jauh yang dialami hanya saat

pencahayaan redup atau kondisi kurang cahaya hingga gelap. Pada pasien pseudomiopia, rabun

jauh yang dialami bisa konstan atau hilang timbul dengan rabun jauh yang hebat setelah aktivitas

jarak dekat. Sedangkan untuk penderita miopia terinduksi/didapat, rabun jauh yang dialami bisa

bermacam-macam, mulai dari transient (hanya beberapa jam) hingga konstan, tergantung agen

atau kondisi yang menyebabkan pasien mengalami miopia tersebut.1,8

Selain pseudomiopia dan beberapa bentuk dari miopia terinduksi/didapat, gejala astenopia

bukan merupakan karakteristik dari miopia. Jika astenopia timbul pada pasien miopia, biasanya

hal ini disebabkan oleh kausa lain, seperti astigmatisme, anisometropia atau disfungsi akomodatif.

Anak-anak dengan miopia simpleks biasanya tidak menyadari bahwa mereka sudah mengalami

penurunan jarak pandang sampai mereka sadar bahwa teman sebayanya mampu melihat lebih baik

dibandingkan mereka. Sebagai contohnya, banyak anak usia sekolah yang menyadari bahwa

mereka tidak bisa membaca papan tulis dengan baik seperti teman sekelasnya. Sedangkan yang

belum pernah melaporkan masalah visus, jarak pandang yang buruk pertam kali dideteksi saat

skrining visus atau pemeriksaan mata dan visus yang komprehensif.8


2.4.7 PENEGAKAN DIAGNOSIS MIOPIA

Ada dua jenis metode untuk mengevaluasi gangguan refraksi pada mata:

1. Refraksi subjektif, dimana hasil yang didapat berdasarkan pada kemampuan pasien

dalam membedakan perubahan yang dialami dirinya. Proses ini bergantung pada kerja

sama pasien.10 Metode dari pemeriksaan ini menggunakan kartu Snellen disertai

koreksi refraksi menggunakan trial frame untuk mengetahui visus dan besar koreksi

masing-masing mata.

Gambar 6 Kartu Snellen Gambar 7 Trial Frame Set

Berikut syarat-syarat pemeriksaan ini, antara lain:1,10

a. Jarak pemeriksa dan penderita sejauh 6 meter.

b. Pemeriksaan ini harus dilakukan dengan tenang, baik pemeriksa maupun

penderita.
c. Pada pemeriksaan terlebih dahulu ditentukan visus/tajam penglihatan atau VOD

(visus oculi dextra) dan VOS (visus oculi sinistra).

Berikut merupakan visus yang bisa ditentukan menggunakan kartu Snellen standar:

a) Bila tajam penglihatan 6/6 (20/20) maka berarti ia dapat melihat huruf pada jarak

6 meter, yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter.

b) Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris kedua dari atas, berarti tajam

penglihatan pasien adalah 6/30 (20/100).

c) Bila tajam penglihatan adalah 6/60 (20/200) berarti ia hanya dapat terlihat pada

jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 60

meter.

d) Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen, maka

dilakukan uji hitung jari. Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada jarak

60 meter.

e) Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan

pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam 3/60. Dengan pengujian ini tajam

penglihatan hanya dapat dinilai sampai 1/60, yang berarti hanya dapat menghitung

jari pada jarak 1 meter.

f) Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan tajam penglihatan pasien

yang lebih buruk daripada 1/60. Orang normal dapat melihat gerakan atau

lambaian tangan pada jarak 300 meter. Bila mata hanya dapat melihat lambaian

tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatannya adalah 1/300.


g) Kadang-kadang mata hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan tidak dapat

melihat lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai tajam penglihatan 1/~.

Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tak terhingga.

h) Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar maka dikatakan

penglihatnnya adalah 0 (nol) atau buta total.

Ketajaman yang kurang dapat dikoreksi menggunakan lensa sferis +, sferis –, silindris

+, dan silindris –. Pada kelainan refraksi miopia, ketajaman penglihatan dapat

dikoreksi dengan menggunakan sferis negatif terkecil yang akan memberikan

ketajaman penglihatan terbaik tanpa akomodasi.8,11

2. Refraksi objektif, dimana hasil pemeriksaan bergantung kepada penilaian pemeriksa

sepenuhnya untuk menentukan koreksi optik maksimal. Merupakan satu-satunya cara

untuk menentukan gangguan refraksi pada pasien yang tidak mampu bekerja sama

dalam refraksi subjektif, seperti anak-anak dengan developmental delay. Ada dua

pemeriksaan yang menggunakan metode ini, retinoskopi dan autorefraksi. Retinoskopi

adalah salah satu metode objektif dalam menentukan gangguan refraksi pada pasien

dan merupakan prosedur yang paling sering dilakukan dalam praktik optometrik.

Karena prosedur ini merupakan teknik yang sangat objektif, pasien tidak dapat

mengganggu gugat hasil yang keluar. Saat prosedur ini dilakukan, sinar berbentuk

kerucut atau silinder ditembakkan ke mata pasien dan pemeriksa mengobservasi

pergerakan cahaya yang di refleksikan dari retina pasien. Retinoskopi pada ruang gelap

dapat dilakukan untuk menegakan diagnosis nocturnal myopia.10

2.4.8 Penatalaksanaan Miopia


Miopia dapat dikoreksi dengan menggunakan beberapa cara, seperti menggunakan kaca

mata, lensa kontak, atau melalui. Namun yang paling sering digunakan sebagai terapi untuk

mengkoreksi miopia adalah kaca mata dan lensa kontak.

a. Kaca mata

Kaca mata adalah lensa yang dipasangkan pada sebuah bingkai. Ini adalah

metode yang umum, murah, mudah, dan paling aman untuk diberikan kepada pasien

dengan gangguan refraksi dan presbiopia. Untuk mengurangi aberasi nonkromatik,

lensa dibuat dalam bentuk meniskus (kurva terkoreksi) dan dimiringkan ke depan

(pantascopic tilt).11 Pada pasien miopia dapat diberikan kaca mata sferis negatif

terkecil untuk mengurangi indeks bias sehingga dapat memberikan ketajaman

maksimal. Sebagai contoh bila pasien dikoreksi dengan S -3.0 memberikan tajam

penglihatan 6/6 dan demikian juga bila diberikan S -3.25, maka sebaiknya diberikan

lensa koreksi -3.0 agar untuk memberikan istirahat mata dengan baik sesudah

dikoreksi.1

Gambar 8 Miopia tanpa koreksi dan Miopia dengan koreksi


b. Lensa Kontak

Lensa kontak semakin populer beberapa tahun terakhir.13 Lensa kontak

adalah lensa buatan yang lapisan depannya menyerupai lapisan anterior dari kornea.

Sehingga, selain dapat digunakan untuk koreksi gangguan refraksi, dapat pula

digunakan untuk memperbaiki iregularitas dari lapisan depan kornea.14 Biasa di

diberikan untuk penderita yang kurang nyaman dengan kaca mata dan alasan kosmetik.

Kontraindikasi pada pasien dengan gangguan mental serta kurang motivasi,

dakriosistitis kronik, blefaritis kronik, konjungtivitis kronik, dry-eye syndrome,

distrofi kornea dan degenerasi, dan rekurensi dari penyakit seperti episkleritis, skleritis

dan iridosiklitis.13,14

c. Operasi Refraktif

Operasi untuk memperbaiki gangguan refraksi sudah menjadi sangat populer. Hal ini

perlu dilakukan setelah gangguan tersebut sudah stabil, biasanya setelah usia 20 tahun.

Adapun beberapa teknik yang dapat dilakukan, terlebih untuk pasien miopia, antara

lain:

a. Radial keratotomy (RK) merupakan pembuatan insisi radial yang dalam (90%

ketebalan kornea) di lapisan perifer kornea menyiskan bagian sentral zona optikal

sebesar 4 mm. Saat bekas insisi ini sembuh, akan meratakan bagian sentral kornea

yang menyebabkan penurunan kekuatan refraksi dari kornea tersebut. Prosedur ini

memberikan hasil yang sangat baik pada pasien dengan miopia ringan hingga

sedang (2 sampai 6 dioptri). Namun harus dipikirkan bahwa pasien bisa

mengalami perasaan silau di malam hari dan sangat jarang sekali bahwa proses

penyembuhan yang kurang seimbang dapat menyebabkan astigmatisme iregular.13


Gambar 9 Radial Keratotomy (RK)

b. Photorefractive keratectomy (PRK). Dalam teknik ini, untuk mengkoreksi miopia,

sentral zona optikal dari stroma anterior kornea difotoablasi menggunakan

excimer laser (193-nm sinar UV) untuk meratakan bagian sentral dari kornea.

Seperti RK, PRK juga dapat memberikan hasil yang sangat baik pada miopia

ringan hingga sedang. Perlu diingat bahwa penyembuhan setelah operasi

membutuhkan waktu yang lama dan pasien akan merasakan nyeri atau tidak

nyaman selama beberapa minggu, selain itu PRK lebih mahal daripada RK.13
Gambar 10 Photorefractive Keratectomy (PRK)

c. Laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK). Dalam teknik ini pertama dibuat

sobekan sebesar 130-160 mikron tebalnya dari bagian anterior kornea dan

diangkat. Setelah itu, jaringan midstromal diablasi langsung dengan excimer laser

beam, meratakan lapisan kornea. Prosedur ini dapat dilakukan pada pasien miopia

hingga -12 dioptri. Kriteria pasien untuk mendapatkan tindakan ini seperti pasien

diatas 20 tahun, refraksi yang stabil setidaknya 12 bulan, bermotivasi, tidak ada

riwayat maupun penyakit sekarang yang berhubungan dengan penyakit-penyakit

kornea dan ketebalan kornea diatas 450 mm.13

Gambar 11 Laser Assisted In-Situ Keratomileusis (LASIK)

2.4.9 Komplikasi Miopia

1. Ablasio Retina

Abiasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang retina dari sel

epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan

membrane Bruch. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat

suatu pendekatan structural dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan

titik lemah yang potensial untuk lepas secara embriologis. Lepasnya retina atau sel
kerucut dan batang dari koroid atau sel pigmen epitel akan mengakibatkan gangguan

nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila berlangsung lama akan

mengakibatkan gangguan fungsi yang menetap(15).

2. Vitreous Liquefaction

Merupakan perubahan degeneratif pada vitreus. Miopia merupakan kausa degeratif

dari penyakit ini. Ditandai degan tidak adanya fine fibrillar structure yang normal saat

pemeriksaan sit-lamp biomicroscopy dan terlihat kantong likuifaksi yang berhubungan

dengan munculnya bahan agregat kasar bergerak bebas di dalam vitreus bebas.

Likuifaksi biasanya berhubungan dengan kolaps (synersis) dan kekeruhan vitreus yang

dapat dilihat secara subjektif sebagai black floaters di depan mata.

3. Glaukoma

Terutama pada primary open angle glaucoma (POAG) yang merupakan salah satu tipe

glaukoma primer (tanpa disertai penyakit lain yang dapat meningkatkan tekanan

intraokuler). Ini terjadi pada mata dengan anterior chamber yang sudutnya terbuka.

Memiliki karakteristik peningkatan tekanan intraokuler yang lambat progresivitasnya

disertai dengan disc cupping yang khas dan defek lapangan pandang yang spesifik.

Pasien dengan miopia lebih mungkin untuk terkena dibanding orang normal(1).

2.4.10 Prognosis Miopia

Miopia dapat dikoreksi melalui banyak cara, seperti penggunaan kaca mata dan lensa

kontak ataupun melalui jalur operasi. Dengan koreksi yang baik, maka dapat dicapai visus normal

(6/6). Faktor risiko dari miopia sendiri ada yang tidak bisa diubah, seperti riwayat keluarga

penderita miopia, dapat mempengaruhi derajat serta perjalanan penyakit itu sendiri. Namun ada

pula faktor risiko yang bisa diubah, seperti aktivitas jarak dekat, aktivitas outdoor, nutrisi yang
jika kita jaga, maka akan muncul outcome yang baik. Pada anak-anak perlu dilakukan skrining

untuk melihat apakah ada kecenderungan miopia karena jika sudah di dapatkan anak dengan

miopia yang masih ringan, dapat dilakukan beberapa upaya preventif dan kuratif agar

progresivitasnya dapat ditahan(4).

2.4.11 Pencegahan Miopia

Mata dari anak-anak preschool memiliki respon yang sangat tinggi terhadap stres dari

aktivitas jarak dekat dan mudah terjadi miopia, sehingga orang tua sebaiknya tidak mengajarkan

anak untuk membaca sebelum mereka mulai sekolah (kurang lebih usia 6 tahun). Banyak anak

yang menghabiskan lebih dari 3 sampai 4 jam berkonsentrasi pada suatu objek dalam jarak dekat,

hal ini merupakan sesuatu yang kurang baik untuk mata anak tersebut. Selain hal tersebut perlu

diperhatikan pula:8

1. Setiap membaca atau melakukan pekerjaa yang membutuhkan fokus dekat istirahatkan

mata setiap 20 menit sekali selama 20 detik sambil memandang sejauh 20 kaki atau 6 meter.

2. Pada saat membaca pertahankan posisi yang tidak terlalu dekat terhadap buku. Idealnya

buku harus berjarak 50-70 cm dari pandangan .

3. Pastikan pencahayaan yang memadai selagi membaca. Hindari membaca menggunakan

sumber cahaya yang minim. Usahakan pada saat membaca untuk tidak membelakangi

sumber cahaya namun menghadapa kearah sumber cahaya.

4. Posisi duduk yang tegak dan rileks pada saat membaca maupun melakukan pekerjaan yang

membutuhkan fokus dekat.

5. Berikan batasan waktu pada saat menonton tv maupun menonton video games. Duduklah

sejauh 5-6 kaki dari televisi.


BAB 3

KESIMPULAN

Miopia adalah gangguan refraksi berupa pemfokusan berkas sinar sejajar yang memasuki

mata di depan retina tanpa akomodasi. Miopia dapat diakibatkan terjadinya perubahan indeks bias

dan kelainan panjang sumbu bola mata. Pasien yang mengalami myopia akan dating dengan

keluhan utama untuk melihat jarak jauh objek yang dilihatnya akan terlihat kabur. Pasien akan

lebih jelas dalam melihat jika jarak objeknya di dekatkan malahan terlalu dekat. Miopia dapat

dengan mudah dideteksi, diobati dan dievaluasi dengan pemberian kaca mata. Namun demikian

miopia menjadi masalah serius jika tidak cepat ditanggulangi. Oleh karena itu setiap pasien wajib

dilakukan pemeriksaan visus sebagai bagian dari pemeriksaan fisik mata umum.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. 5th Edition. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2015.
2. Isabel SS. 2016. Refractive error study in young subjects: results from a rural area in
Paraguay. International Journal of Ophtalmology. [diakses dari :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5360785/ tanggal 5 Januari 2019]
3. Hashemi H. 2017. Global and regional estimates of prevalence of refractive errors:
systematic review and metaanalysis. Journal of Curent Ophtalmology. [diakses dari
:http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2452232517300227/ tanggal 5 Januari
2019]
4. Olujic, SM, 2013. Etiology and Clinical Presentation of Astigmatism. Dalam: Advances in
Ophtalmology; edited by Rumelt S. PP: 167 – 190. Available at: [diakses dari :
www.intechopen.com/download/pdf/29985 tanggal 5 Januari 2019]
5. Maksus AI. Standar prosedur Pemeriksaan Refraksi Untuk Refraksionis Optisien (Diploma
Optometris). Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2016.
6. Patorgis CJ. Diagnosis and management in vision care. Boston: Butterworths, 2016:203-38.
7. Olver J and Cassidy L, Basic Optics and Refraction. In Olver J and Cassidy L, Ophtalmology
at a Glance. New York: Blackwell Science, 2015; 22-23.
8. Goss DA, Grosvenor TP, Keller JT, Marsh-Tootle W, Norton TT, Zadnik K. Care of the
Patient with Myopia. St. Louis: American Optometric Association; 2010.
9. Silbernagl S, Lang F. Color Atlas of Pathophysiology. New York: Theime; 2000.
10. Keirl A, Christie C. Clinical Optics and Refraction. Philadelphia: Elsevier Ltd; 2007.
11. Ilyas HS. Dasar - Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. 2nd ed. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006.
12. Riordan-Eva P, Whitcher JP. Oftalmologi Umum Vaughan & Asbury. 17th ed. Susanto D,
editor. Jakarta: EGC; 2010. 468 p.
13. Khaw PT, Shah P, Elkington AR. ABC of Eyes. 4th ed. London: BMJ Publishing Group
Ltd; 2004.
14. Khuran AK. Comprehensive Ophthalmology. 4th ed. New Delhi: New Age International (P)
Ltd.; 2007. 605 p.