Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hubungan dengan Penelitian Sebelumnya

Skripsi ini sangat erat kaitannya dengan apa yang ditulis oleh Puspita

Jayanti yang berjudul “Penyelesaian Wanprestasi Pemberian Kredit tanpa

Agunan dalam Pelaksanaan Penyediaan Dana Bergulir dan Kredit Mikro

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.1

Dalam skripsi tersebut dijelaskan bahwa strategi penanganan

wanprestasi pemberian kredit tanpa agunan dalam pelaksanaan penyediaan

dana bergulir dan kredit (PNPM) mandiri adalah rescheduling atau

penjadwalan kembali, reconditioning atau persyaratan kembali, dan

restructuring atau penataan kembali. Rescheduling yang dilakukan oleh BKM

yaitu berupa perubahan jadwal pembayaran kredit anggota KSM yang

wanprestasi. Reconditioning yang dilakukan oleh BKM yaitu penambahan

jangka waktu pelunasan kredit untuk anggota anggota KSM yang wanprestasi.

Restrukturing dilakukan oleh BKM tidak melalui pemberian tambahan kredit

namun melalui penjadwalan kembali kredit serta persyaratan kembali kredit.

Kamaruddin Andi Jemang dalam penelitiannya yang berjudul “Strategi

Penanganan pinjaman bergulir program PNPM Mandiri Perkotaan sulsel”

mengungkapkan bahwa strategi penangannya adalah

1
Puspita Jayanti (NIM.0910113159), Skripsi: Penyelesaian Wanprestasi Pemberian Kredit
tanpa Agunan dalam Pelaksanaan Penyediaan Dana Bergulir dan Kredit Mikro Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malan 2013

8
1. Pendampingan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)

2. Penanganan Kredit Macet

3. Peran Pemerintah Kota/Kabupaten2

B. Landasan Teori

1. Strategi penanganan

Menurut Merus strategi didefinisikan sebagai suatu proses

penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan

jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya

bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.3

Selanjutnya menurut Chandel mengartikan strategi adalah suatu

bentuk atau rencana yang mengintegrasikan tujuan-tujuan utama,

kebijakan-kebijakan dan rangkaian tindakan dalam suatu organisasi

menjadi suatu kesatuan yang utuh. Strategi diformulasikan dengan baik

akan membantu penyaluran dan pengalokasian sumber daya yang dimiliki

perusahaan menjadi suatu bentuk yang unik dan dapat bertahan. Strategi

yang baik disusun berdasarkan kemampuan internal dan kelemahan

perusahaan, antisipasi perubahan dalam lingkungan, serta kesatuan

pergerakan yang dilakukan oleh mata-mata musuh.4

Goldwarthy dan Ashley mengusulkan tujuh aturan dasar dalam

merumuskan suatu strategi sebagai berikut:5

2
http://www.p2kp.org/wartadetil.asp?mid=7034&catid=2&) diakses tanggal 1 agustus
2016
3
Husein Umar, Strategic Manajement In Action, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka utama,
2001), h.31
4
Sopriono, Manajemen Strategi dan Kebijakan Bisnis, (Yogyakarta: BPFE, 1985), H. 8.
5
Op.cit. 98

9
1) Ia harus menjelaskan dan menginterpretasikan masa depan, tidak

hanya masa sekarang.

2) Arahan strategi harus bisa menentukan rancangan dan bukan

sebaliknya.

3) Strategi harus berfokus pada keunggulan kompetitif, tidak semata-

mata pada pertimbangan keungan.

4) Ia harus diaplikasikan dari atas kebawa, bukan dari bawa keatas.

5) Strategi harus mempunyai orientasi eksternal.

6) Fleksibilitas adalah sangat esensial.

7) Strategi harus berpusat pada hasil jangka panjang.

a. Fungsi dan tingkatan strategi

1. Fungsi strategi

a. Strategi sebagai rencana (plan)

Strategi menjadi arah tindakan pedoman yang digunakan

untuk menghadapi lingkungan tertentu. Bertitik tolak dari kesadaran

kekuatannya.

b. Strategi sebagai pola (pattern)

Sebagai pola dari suatu rangkaian tindakan untuk

menghadapi tantangan/ancaman atau memanfaatkan peluang yang

terdapat di lingkungan

10
c. Strategi sebagai kedudukan (position)

Penempatan perusahaan di lingkungan mikro. Strategi

menjadi media yang menjembatani perusahaan dengan

lingkungannya

d. Strategi sebagai perspektif

Strategi menjadi perwujudan cara melihat dan memahami

lingkungan. Disusun bertitik tolak dari tata nilai budaya kerja dan

wawasan koalisi dominan itu6

2. Tingkatan strategi

a. Strategi korporat (corporate strategy)

Suatu pernyataan maksud sebuah perusahaan, arah

pertumbuhannya dan tujun jangka panjang. Tujuan korporat

perusahaan terpusat pada sebuah pertanyaan kunci. Bisnis apa yang

harus digeluti perusahaan? Strategi korporasi akan menentukan

apakah bentuk kegiatan bisnis dari organisasi tersebut, perlukah satu

perusahaan diintegrasikan dengan perusahaan lain atau harus berdiri

sendiri-sendiri dan bagaimana bisnis tersebut berhubungan dengan

masyarakat

b. Strategi bisnis (business strategy)

Pertanyaan rinci definisi, misi, tujuan, unit bisnis dan

angan-angan yang akan digunakan untuk mencapai tujuan jangka

6
Matondang, kepemimpinan: budaya organisasi dan manajemen strategik, (Bandung:
Pustaka Setia, 1997), h. 73

11
panjang perusahaan. Isu utama strategi dalam level ini ialah

berkenaan dengan persaingan di suatu pasar oleh setiap unit bisnis

c. Strategi operasional (operational strategy)

Suatu perencanaan rinci tujuan jangka panjang dan metode

yang akan digunakan oleh suatu bidang operasional untuk mencapai

tujuan jangka pendek unit bisnisnya. Isu utama strategi pada level

ini berkenaan dengan bagaimana masing-masing bagian dari

organisasi dapat dirangkai secara bersama-sama membentuk

strategic architecture yang secara efektif mampu menghasilkan arah

strategik.7

2. Kredit bermasalah

a. Pengertian Kredit

Kredit berasal dari kata credere, yaitu bahasa italia yang

artinya percaya. Jadi orang yang mendapat kredit berarti orang

tersebut dipercaya untuk diberikan pinjaman.8 Dalam arti luas kredit

diartikan sebagai kepercayaan. Maksud dari percaya bagi si pemberi

kredit adalah ia dipercaya kepada si penerima kredit bahwa kredit

yanag disalurkan pasti akan dikembalikan sesuai perjanjian

sedanhgkan bagi si penerima kredit merupakan penerimaan

7
Thomas, sistem pengendalian manajemen: konsep, aplikasi, dan pengukuran kinerja,
(Jakarta: Indeks, 2013), h. 62
8
Syamsu Iskandar, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: In Media, 2012), edisi
2, h. 118

12
kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai

jangka waktu.9

Menurut Eric L. Kohler kredit adalah Kemampuan untuk

melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman

dengan suatu janji pembayaranya akan dilakukan, ditangguhkan pada

jangka waktu yang disepakati”.10

Secara umum kredit adalah pinjaman yang diberikan kreditur

kepada debitur untuk meningkatkan usahanya, untuk mencapai

keuntungan yang dicita-citakan. Pada prakteknya pemberian kredit

adalah pemberian pinjaman oleh kreditur kepada debitur untuk

membiayai kegiatan usahanya, dalam jumlah tertentu, dalam jangka

waktu yang disepakati bersama dengan ketentuan-ketentuan yang

disetujui bersama, yang dituangkan dalam suatu perjanjian kredit.

Pada ilmu ekonomi pengertian kredit itu berkisar pada

masalah prestasi dan kontra prestasi antara barang, jasa dan uang,

karena kontra prestasi diwujudkan pada masa yang akan datang, maka

kredit dalam pengertian ekonomi adalah penundaan pembayaran

(dalam bentuk barang, jasa atau uang) dari suatu prestasi yang

diberikan saat ini.

Kredit adalah penyerahan barang, jasa, atau uang dari satu

pihak (kreditor/ atau pemberi pinjaman) atas dasar kepercayaan

9
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: Rajawali Press 2013), cet. 13,
h. 86
10
Eric L. Kohler dalam bukunya Astiko & Sunardi (1996: 5)

13
kepada pihak lain (nasabah atau pengutang /borrower) dengan janji

membayar dari penerimaan kredit kepada pemberi kredit pada tanggal

yang telah disepakati kedua belah pihak11

b. Jenis-jenis Kredit

Pada hakekatnya kredit hanya satu macam saja bila dilihat

dari pengertian yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi untuk

membedakan kredit menurut faktor-faktor dan unsur-unsur yang ada

dalam pengertian kredit, maka dilakukan pengklasifikasian kredit

sebagai berikut:

1. Berdasarkan Sifat Penggunaan Kredit

a. Kredit Konsumtif

Yaitu kredit yang diberikan dengan tujuan untuk

memperlancar jalannya proses konsumsi masyarakat. Dana kredit

konsumtif tidak digunakan untuk kepentingan usaha.

b. Kredit produktif

Yaitu kredit yang diberikan dengan tujuan untuk

memperlancar proses produksi. Misalnya, dana kredit digunakan

untuk menutup biaya proses pengolahan bahan baku menjadi barang

konsumsi.12

11
http://Kredit dana bergulir-PNPM Mandiri Perkotaan diakses pada tanggal 29 Agustus
2016
12
Ibid

14
2. Berdasarkan Keperluan Kredit

a. Kredit Produksi

Yaitu kredit yang diberikan untuk membiayai current

operation suatu perusahaan.

b. Kredit Perusahaan

Yaitu kredit yang diberikan dengan tujuan untuk membeli

barangbarang untuk dijual lagi.

c. Kredit Investasi

Yaitu kredit yang diberikan kepada nasabah yang

membutuhkan modal investasi atau untuk pembelian barang

modal.13

c. Penyebab kredit bermasalah

Penyebab kredit bermasalah dapat didefinisikan sebagai suatu

kondisi yang mengakibatkan terjadinya tunggakan, kemacetan atau

tidak tertagihnya uang bank. Dalam banyak kasus kredit bermasalah

seringkali terjadi structural causes (penyebab tersktruktur). Secara

singkat structural/causes dapat diilustrasikan sebagai berikut.14

Independen Cause Dependen cause Problem

13
Implementasi Pemberian Kredit Bergulir Kepada Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
diakses pada tanggal 29 agustus 2016
14
Ahmad subagyo, Teknik Penyelesaian Kredit Bermasalah, (Jakarta: mitra wacana media)
h. 46

15
Contoh: dependen cause dalam kredit bermasalah adalah

debitur tidak mampu hutang, jika ditelusuri lagi kebelakang kenapa

debitur tidak mampu membayar hutangnya akan diperoleh independen

cause. Independen cause merupakan sebaab utama dan suatu masalah.

Dalam semua hal, wajib mengetahui sebab utama timbulnya masalah

guna mencari penyelesaian masalah.

Pada contoh diatas, jika hanya dilihat penyebab kredit

bermasalah adalah debitur tidak mampu untuk membayar hutangnya,

solusi yang mungkin direkomendasikan adalah memperpanjang jangka

waktu kredit. Rekomendasi ini akan salah jika kondisi yang melatar

belakangi ketidakmampuan debitur adalah kekurangan modal untuk

mencapai kapasitas usaha produksi yang menguntungkan.

Rekomendasi yang lebih tepat adalah melakukan refinancing.

Menurut Kuncoro dan Suharjono, penyebab timbulnya kredit

macet atau pembiayaan bermasalah selain dari pihak bank dan debitur,

juga dipengaruhi oleh informasi-informasi yang diberikan pihak bank

kurang dimengerti oleh nasabahnya.15

Selain itu, Djamil juga berpendapat diantara faktor yang

menyebabkan pembiayaan bermasalah adalah sebagai berikut:16

15
Koncoro Suharjono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Cet. III, Yogyakarta:
Ekonomi, 2005), h.128.
16
Faturrahman Djamil, M.A. Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syari’ah,
(Cet. I, Jakarta: Sinar Grafika, 2012), h.73.

16
1) Faktor internal

Faktor internal adalah faktor yang ada dalam perusahaan

tersebut dan faktor utama yang paling dominan adalah faktor

manajerial. Timbulnya kesulitan-kesulitan keuangan perusahaan

yang disebabkan oleh faktor manajerial dapat dilihat dari

beberapa hal seperti kelemahan dalam kebijakan pembelian dan

penjualan, lemahnya pengawasan biaya dan pengeluaran,

kebijakan piutang yang kurang tepat, penempatan yang

berlebihan pada aktiva tetap, permodalan yang tidak cukup.

a) Petugas

(1) Rendahnya kemampuan atau ketajaman pihak bank.

(2) Melakukan analisis kelayakan permintaan pembiayaan

yang diajukan nasabah.

(3) Lemahnya sistem informasi pembiayaan serta sistem

pengawasan administrasi pembiayaan mereka.

(4) Campur tangan yang berlebih dari pemengang saham

bank dalam keputusan penyaluran pembiayaan.

(5) Pengikat jaminan yang kurang sempurna.

b) Sistem

(1) Penyaluran yang kurang jelas untuk apa pembiayaan

tersebut.

17
(2) Pengawasan dan pembinaan dari pihak bank yang

kurangterhadap nasabah.

(3) Pelunasan atau jangka waktu.

(4) Manajemen atau kebijakan.

(5) Komite terdiri dari 3 orang.

(6) Pengurus atau pejabat.

(7) Aplikasi sistem.

2) Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang ada diluar kekuasaan

manajemen perusahaan, seperti nasabah dan lingkungan.

a) Nasabah

(1) Karakter (watak) nasabah yang tidak mau membayar.

(2) Kapasitas nasabah tersebut tidak mampu membayar

angsuran pembiayaan tersebut.

b) Lingkungan

(1) Kebijakan pemerintah.

(2) Kondisi lingkungan.

(3) Kondisi ekonomi atau persaingan usaha.

d. Strategi Penanganan Kredit Bermasalah

Upaya untuk membantu nasabah yang mengalami

pembiayaan bermasalah adalah sebagai berikut:

1) Rescheduling (penjadwalan kembali)

18
Yaitu penjadwalan kembali jangka waktu pembayaran

serta memperkecil jumlah pembayaran atau akad dan margin

baru. Kebijakan ini berkaitan dengan jangka waktu kredit

sehingga keringanan yang dapat diberikan adalah sebagai

berikut:

a) Perpanjangan jangka waktu pembayaran.

b) Perpanjangan jarak waktu angsuran, misalnya semula

angsuran ditetapkan setiap 3 bulan, kemudian menjadi 6

bulan.

c) Penurunan jumlah untuk setiap angsuran yang

mengakibatkan perpanjangan jangka waktu pembayaran.17

2) Reconditioning (persyaratan ulang)

Yaitu perubahan sebagian atau seluruh perubahan

pembiayaan, antara lain perubahan jadwal pembayaran, jumlah

angsuran, jangka waktu dan pemberian potongan sepanjang

tidak menambah sisa kewajiban nasabah yang harus dibayar

kepada BMT serta memperkecil margin keuntungan atau bagi

hasil usaha yang suda ditetapkan olek kedua belah pihak.18

3) Restructuring (penataan kembali)

Yaitu perubahan persyaratan tidak terbatas pada

Rescherduling dan Reconditioning, antara lain meliputi:

17
Faturrahman Djamil, M.A. Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syari’ah,
(Cet. I, Jakarta: Sinar Grafika, 2012), h. 83
18
Ibid h. 83

19
a) Penambahan dana fasilitas pembiayaan BMT.

b) Konversi akad pembiayaan.

c) Konversi pembiayaan menjadi surat berharga syari’ah

berjangka waktu menengah.

d) Konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara

perusahaan nasabah.19

3. Konsep Zakat

a. Pengertian zakat, infak dan sedekah

Perkataan zakat berasal dari kata “zaka”, artinya tumbuh dengan

subur. Makna lain dari kata “zaka” sebagaimana digunakan dalam Al-

Quran adalah suci dari dosa.20

Dalam kitab-kitab hukum islam, perkataan zakat diartikan dengan

suci, tumbuh, dan berkembang serta berkah. Jika pengertian ini

dihubungkan dengan harta maka menurut ajara islam harta yang di zakati

akan tumbuh berkembang, bertambah karena suci dan berkah (membawa

kebaikan bagi hidup dan kebaikan yang punya harta). Jika dirumuskan

zakat adalah bagian dari harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim

yang memenuhi syarat kepada orang-orang tertentu dengan syarat-syarat

tertentu.

Syarat-syarat tertentu adalah nisab (jumlah minimum harta

kekayaan yang wajib dikeluarka zakatnya), haul (jangka waktu yang

19
Ibid, h. 84.
20
Muhammad Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara dan
Penerjemahan Al-Quran, 1993), h. 463

20
ditentukan bila seseorang wajib mengeluarkan zakat hartanya), dan

kadarnya (ukuran besarnya zakat yang harus dikeluarkan)21

Hubungan antara pengertian zakat menurut bahasa dengan

pengertian menurut istilah sangat nyata dan erat sekali, yaitu harta yang

dikeluarkan zakatnya akan menjadi berkah, tumbuh, berkembang dan

bertambah, suci dan baik.22 Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam surat

At-Taubah: 103 dan surat Ar-Rum: 39

‫س َك ٌن لَ ُه ْم‬ َ ‫علَ ْي ِه ْم ِإ َّن‬


َ َ‫صالتَك‬ َ ُ ‫صدَقَةً ت‬
َ ‫ط ِه ُر ُه ْم َوتُزَ ِكي ِه ْم ِب َها َو‬
َ ‫ص ِل‬ َ ‫ُخ ْذ ِم ْن أ َ ْم َوا ِل ِه ْم‬
‫ع ِلي ٌم‬
َ ‫س ِمي ٌع‬َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫َو‬

Terjemahan:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk
mereka. Sesungguhnya doa kamu itu nenjadi ketentraman bagi jiwa
mereka dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.” (At-
Taubah: 103)

‫َّللاِ َو َما آت َ ْيت ُ ْم ِم ْن‬


َّ َ‫اس فَال َي ْربُو ِع ْند‬ ِ َّ‫َو َما آت َ ْيت ُ ْم ِم ْن ِربًا ِل َي ْرب َُو ِفي أ َ ْم َوا ِل الن‬
ْ ‫َّللاِ فَأُولَئِكَ ُه ُم ْال ُم‬
َ‫ض ِعفُون‬ َّ َ‫زَ َكا ٍة ت ُ ِريدُونَ َوجْ ه‬

Terjemahan:

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia


bertambah pada harta manusia maka riba ini tidak menambah pada
sisi Allah, dan yang kamu berikan berupa zakat yang kamu
maksudkan untuk mencari keridhaan Allah maka (yang berbuat
demikian) itulah orang-orang yang melipatkan gandakan hartanya”
(Q.S Ar-Rum: 39)

21
Muhammad Daud Ali, Habibah Daud, Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia,
(Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 1995), cet. 1, h. 241
22
Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insan, 2002),
cet. 1, h. 7

21
Infak artinya menafkahkan, membelanjakan harta.23 Infak adalah

mendermakan, memberi rezki berupa karunia Allah atau menafkahkan

sesuatu pada orang lain dengan ikhlas karena Allah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, infak adalah pemberian

(sumbangan) harta benda untuk kebaikan, atau menyumbangkan harta

untuk kepentingan umum.24

Menurut Didin Hafidhuddin, infak dari kata “an-faqaa” yang

berarti mengeluarkan suatu harta untuk keperluan sesuatu. Secara istilah

infak berarti mengeluarkan bagian dari harta pendapatan atau penghasilan

untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh ajaran islam. Infak

dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman baik berpenghasilan tinggi

maupun rendah.25

Sedekah secara bahasa berasal dari akar kata “shodaqa” yang

berarti sesuatu yang benar atau jujur. Sedekah dapat diartikan

mengeluarkan harta di jalan Allah sebagai bukti kejujuran atau kebenaran

iman seseorang. Sedekah dapat pula diartikan mengeluarkan yang tidak

wajib dijalan Allah, tetapi kadang diartikan sebagai bantuan yang non

materi atau ibadah-ibadah fisik non materi seperti menolong orang lain

dengan tenaga dan pikirannya, mengajarkan ilmu, bertasbih, berdzikir, dan

lain sebagainya.26

23
Muhammad Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: yayasan penyelenggara dan
Penerjemahan Al-Quran, 1993), h. 463
24
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 431
25
Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 15
26
http://www. Karya tulis/pengertian-zakat-infak-sedekah diakses pada tanggal 03 Agustus
2016

22
b. Dasar hukum zakat

Zakat sebagai rukun islam yang ke tiga di samping sebagai ibadah

dan bukti ketundukan kepada Allah juga memiliki fungsi sosial yang

sangat besar di samping merupakan salah satu pilar dalam ekonomi islam.

Zakat dalam Al-Quran disebut sebanyak 82 kali, ini menunjukan

hukum zakat yang sangat kuat. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Al-

Quran dalam surah Al-Baqarah: 110

َّ َ‫الز َكاة َ َو َما تُقَ ِد ُموا أل ْنفُ ِس ُك ْم ِم ْن َخي ٍْر ت َِجدُوهُ ِع ْند‬
َّ ‫َّللاِ ِإ َّن‬
َ‫َّللا‬ َّ ‫صالة َ َوآتُوا‬َّ ‫َوأَقِي ُموا ال‬
‫ير‬
ٌ ‫ص‬ ِ ‫ِب َما ت َ ْع َملُونَ َب‬

Terjemahan:
“Dan dirkanlah sholat dan tunaikan zakat, apapun yang
diusahakan oleh dirimu tentu kamu akan mendapatkan pahalanya
disisi allah sesungguhnya Allah Maha mengetahui apapun yang
kamu kerjakan”27

c. Tujuan zakat

Adapun tujuan zakat, antara lain adalah: (a) mengangkat derajat

fakir miskin dan membantunya keluar dari kesulitan hidup serta

penderitaan; (b) membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh

gharimin (orang-orang yang berhutang), ibnu sabil (orang yang kehabisan

biaya dalam perjalanan yang bermaksud baik), (c) membentangkan dan

membina tali persaudaraan sesama umat islam dan manusia pada

umumnya; (d) menghilangkan sifat kikir; (e) membersihkan sifat dengki

dan iri hati dari orang-orang miskin; (f) menjembatani jurang pemisah

antara kaya dan miskin; (g) mengembangkan rasa tanggungjawab sosial

27
Al-Quran dan Terjemahan (Jakarta: Darus Sunnah, 2013), cet 15 h. 18

23
pada diri seseorang terutama pada mereka yang mempunyai harta; (h)

mendidik manusia untuk disiplin menunaikan kewajiban dan

menyerahkan hak orang lain yang ada padanya; dan (i) sarana pemerataan

pendapatan untuk mencapai keberhasilan sosial.28

d. Penerima zakat

Mengenai penerima zakat dapat dibagi ke dalam dua kategori,

yaitu yang berhak dan yang tidak berhak menerima zakat sebagaimana

yang akan diuraikan berikut ini:

1. Berhak menerima zakat

Yang berhak menerima zakat menurut ketentuan Al-Qur’an

surah At-Taubah ayat 60 adalah:29

a. Fakir, yaitu orang yang tidak berharta dan tidak pula mempunyai

pekerjaan atau usaha tetap guna mencukupi kebutuhan hidupnya

(nafkah), sedang orang yang menanggungnya (menjamin hidupnya)

tidak ada.

b. Miskin, yaitu orang-orang yang tidak bisa mencukupi kebutuhan

hidupnya, meskipun ia mempunyai pekerjaan atau usaha tetap, tetapi

hasil usahanya itu belum mencukupi kebutuhannya, dan orang yang

menanggungnya tidak ada.

c. Amil, yaitu mereka (panitia atau organisasi) yang melaksanakan

segala kegiatan urusan zakat, baik mengumpulkannya,

28
Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insan, 2002),
cet. 1, h. 8
29
K.N. Sofyan Hasan, Pengantar Hukum Zakat Dan Wakaf, (Surabaya: Al-Ikhlas 1995),
Cet. Ke 1, h. 43- 46.

24
membagikannya (kepada para mustahik) maupun pengelolanya.

Allah menyediakan upah bagi mereka (‘amilin) dari harta zakat

sebagai imbalan, dan tidak diambil selain harta zakat.

d. Muallaf, yaitu orang yang masih lemah imannya karena baru

memeluk agama Islam atau orang yang ada keinginan untuk masuk

Islam tetapi masih ragu-ragu. Dengan bagian zakat, dapat

memantapkan hatinya di dalam Islam.

e. Riqab, yaitu asal katanya berarti budak belian yang harus

dimerdekakan. Jadi, riqab adalah hamba sahaya yang perlu

diberikan bagian zakat melepaskan diri dari belenggu perbudakan.

f. Gharim, yaitu orang yang punya hutang karena sesuatu kepentingan

yang bukan untuk perbuatan maksiat ia tidak mampu membayar atau

melunasinya.

g. Sabilillah, yaitu usaha-usaha yang ditujukan untuk meningkatkan

atau meninggikan syiar Islam, seperti membela atau

mempertahankan agama, mendirikan tempat ibadah, pendidikan,

rumah sakit dan lain-lain.

h. Ibnu sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan

dengan maksud baik. Singkatnya orang musafir yang memerlukan

bantuan.

2. Tidak berhak menerima zakat

25
Secara umum golongan yang berhak menerima atau yang

diharamkan menerima zakat adalah:

a. Orang kaya

b. Orang kuat yang mampu bekerja

c. Orang yang tidak beragamadan orang kafir yang memerangi Islam,

berdasarkan ijma’ ulama dan kafir zimmi menurut jumhur fuqaha.

d. Anak-anak yang mengeluarkan zakat, kedua orang tuanya.

e. Keluarga Nabi SAW yaitu ibnu Hasyim dan bani Hasyim dan ibnu

Muthalib, meskipun ada perbedaan pendapat hal itu.30

Sebagaimana telah disebutkan di atas, jelas hanya delapan

kelompok itulah yang berhak menerima bagian zakat, yang dalam

istilah hukum (fikih). Islam disebut asnaf amaniyah atau kelompok

delapan. Ketentuan yang tegas dan kuat ini menjadi pegangan di dalam

pendayagunaan zakat. Namun demikian, berdasarkan kemaslahatan

umat, kebutuhan-kebutuhuan yang sangat mendesak dalam masyarakat

tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, zakat dapat diberikan kepada

kelompok penerima zakat yang lebih mendesak kebutuhannya dari pada

kelompok lain yang kurang mendesak kebutuhannya.

Pengertian inilah yang lebih tepat dan lebih dekat dengan

hakikat dan hikmah zakat tersebut, di antaranya adalah untuk membina

dan mengembangkan stabilitas sosial. Namun yang patut diingat,

hendaknya kelompok fakir-miskin harus lebih diutamakan sebagai

30
Yusuf Qardawi, Hukum Zakat (Studi Komparatif Mengenal Status & Filsafat), h. 674

26
kelompok penerima zakat, karena memberikan kepada mereka

merupakan tujuan utama dari zakat31

e. Hakikat zakat

Adapun hakikat zakat berdasarkan dalil-dalil yang

mewajibkannya adalah merupakan hak mustahik dan bukan merupakan

pemberian atau kebaikan hati orang-orang kaya semata. Dengan kata lain

zakat mencerminkan kewajiban bagi orang-orang kaya dan hak yang legal

bagi golongan miskin baik diminta maupun tidak.

Di dalam zakat tidak ada istilah hutang budi, balas budi, malu

ataupun hina. Hal ini karena hakikatnya sebuah zakat adalah pemberian

dari Allah, juga menurut islam seseorang yang kaya tidaklah berlebihan

kedudukannya disisi Allah dari orang miskin karena hartanya karena yang

membedakan hanyalah derajat dan ketakwaannya.32

f. Zakat produktif dalam perspektif islam

Teori hukum islam menunjukan bahwa dalam mengahadapi

masalah-masalah yang tidak jelas rinciannya dalam Al-Quran atau

petunjuk yang ditinggalkannya Nabi, penyelesaiannya adalah dengan

metode ijtihad. Ijtihad atau pemakaian akal tetap berpedoman pada Al-

Quran dan Hadits.

Dalam sejarah hukum islam dilihat bahwa ijtihad diakui sebagai

sumber hukum setelah Al-Quran dan Hadits. Apalagi problematika zakat

31
Ibid, h. 47
32
http://www. Karya tulis/hakikat-zakat-infak-sedekah diakses pada tanggal 03 Agustus
2016

27
tidak pernah absen, selalu menjadi topik pembicaraan umat islam, topik

aktual dan akan terus ada selagi umat islam ada. Fungsi sosial, ekonomi,

dan pendidikan dari zakat bila dikembangkan dan dibudidayakan sebaik-

baiknya akan dapat mengatasi masalah sosial, ekonomi, dan pendidikan

yang sedang dihadapi bangsa.

Disamping itu zakat merupakan sarana bukan tujuan, karena

dalam penerapan rumusan-rumusan tentang zakat harus ma’qulu al-

ma’na, rasional, ia termasuk bidang fikih yang selama penerapannya harus

dipertimbangkan kondisi dan situasi serta senafas dengan tuntutan dan

perkembangan zaman (kapan dan dimana dilaksanakan). Dengan

demikian bahwa teknik pelaksanaan pembagian zakat bukan sesuatu yang

mutlak akan tetapi dinamis dapat disesuaikan dengan kebutuhan disuatu

tempat. Dalam artian perubahan dan perbedaan dengan cara pembagian

zakat tidaklah dilarang dala islam karena tidak ada dasar hukum yang

secara jelas menyebutkan cara pembagian zakat tersebut.

Bahkan menurut Yusuf Al-Qardhawi “pemerintah islam boleh

membangun pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan dari uang zakat

yang pemilikan dan keuntungan untuk kepentingan fakir miskin untuk

jaminan hidup mereka sepanjang masa.

Didin Hafidhuddin mengemukakan bahwa bagi para pedagang

yang sudah mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya pun boleh diberi

28
pinjaman yang pengembaliannya tanpa bunga, apabila mereka

membutuhkan dana tambahan atau mengembangka usahanya.33

Pendayagunaan zakat khususnya berupa infak dan sedekah

diperuntukkan bagi usaha produktif, tujuannya adalah untuk

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendayagunaan hasil

pengumpulan zakat untuk kebutuhan usaha produktif dilakukan

berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:

1. Apabila pendayagunaan zakat untuk mustahik delapan asnaf sudah

terpenuhi dan ternyata masih terdapat kelebihan

2. Terdapat usaha-usaha nyata yang berpeluang memungkingkan

3. Mendapat persetujuan dari dewan pertimbangan

Penyaluran/pendistribusian zakat dalam bentuk ini adalah bersifat bantuan

pemberdayaan melalui program atau kegiatan yang berkesinambungan,

dengan dana bergulir untuk memberi kesempatan penerima dana lebih

banyak lagi.34

Umumnya zakat yang ditunaikan bersifat konsumtif yaitu untuk

memenuhi kebutuhan sehari-hari, menutupi kebutuhan makanan dan

sandang. Namun jika dipikir lebih jauh hal ini kurang memberikan solusi

untuk jangka panjang karena zakat yang diberikan itu akan dimafaatkan

untuk kebutuhan sehari-hari dimana akan segera habis kemudian mustahik

akan kembali hidup dalam keadaan kafir dan miskin. Oleh karena itu

33
http://mihrabia.blogspot,com/2010/11/zakat-produkif.html, akses 05 agustus 2016
34
Departemen Agama RI, Pola Pembinaan Badan Amil Zakat 2005, h. 25-26

29
muncul istilah zakat produktif agar dapat memberikan dampak dan nilai

manfaat dalam jangka panjang. Bentuk Pendayagunaan zakat produktif di

BAZNAS Maros dituangkan dalam bentuk dana bergulir.35

4. Dana bergulir

Dana bergulir adalah dana yang diberikan kepada masyarakat

umumnya masyarakat menengah ke bawah dengan tujuan meningkatkan

kesejahteraannya. Dana bergulir dilakukan dalam bentuk pinjaman sebagai

bentuk edukasi dari BAZNAS agar dana bergulir tersebut dapat dimanfaatkan

sebaik-baiknya dan juga sebagai motivasi/dorongan agar kedepannya dapat

berzakat.36 Maksud dan tujuan penyaluran dana bergulir adalah sebagai

berikut :

a. Membantu perkuatan modal usaha

b. Meningkatkan aktivitas ekonomi kerakyatan

c. Meningkatkan volume usaha

d. Meningkatkan penyerapan tenaga kerja

e. Meningkatkan pendapatan masyarakat

f. Membangkitkan etos kerja37

C. Pengertian Judul dan Definisi Operasional

a. Strategi penanganan

35
Wawancara salah satu pimpinan BAZNAS Maros
36
Ibid
37
Ibid

30
Istilah starategi berasal dari bahasa inggris yaitu “strategy”,

yang berarti siasat atau taktik.38 Sedangkan istilah penanganan dalam

kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai cara atau perbuatan

menangani.39

Dalam proposal ini, strategi penanganan yang dimaksud adalah

cara-cara atau upaya penanganan kredit bermasalah dana bergulir yang

dilakukan oleh BAZNAS Maros.

b. Kredit bermasalah

Kredit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti

cara menjual barang dengan pembayaran diangsur (dicicil), pinjaman

uang dengan pengembaliannya diangsur.40

Adapun yang dimaksud kredit bermasalah dalam proposal ini

adalah sejumlah masyarakat yang melakukan peminjaman dana bergulir

untuk kelangsungan usahanya, namun dalam prakteknya setelah

melakukan peminjaman tidak lagi membayar angsurannya sebagaimana

yang telah disepakati di awal.

c. Dana bergulir

Pendayagunaan zakat khususnya yang berupa infak dan sedekah

diperuntukkan bagi usaha produktif, tujuannya adalah untuk

meingkatkan kesejahteraan masyarakat. Penyaluran/pendistribusian

38
Jhon M. Echols dan Hasan Sadili, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1990),
h. 56.
39
Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern
English Press, 1991), h. 1534.
40
Kamus Besar Bahasa Indonesia h. 445

31
zakat dalam bentuk ini adalah bersifat bantuan pemberdayaan melalui

program atau kegiatan yang berkesinambungan, dengan dana bergulir

untuk memberi kesempatan penerima dana lebih banyak.41

Adapun maksud dana bergulir dalam proposal ini adalah dana

yang berasal dari zakat, infak, sedekah yang penggunaannya ditujukan

untuk sektor produktif melalui program dana bergulir.

d. BAZNAS Kab. Maros

BAZNAS adalah lembaga yang berwenang melaksanakan tugas

pengelolaan zakat secara nasional. BAZNAS kabupaten/kota adalah

lembaga yang berwenang melaksanakan tugas dan fungsi BAZNAS

pada tingkat kabupaten/kota.42

BAZNAS Kab. Maros merupakan lembaga zakat yang salah satu

satu program kerjanya yaitu dana bergulir usaha kecil masyarakat.

Dengan adanya program ini BAZNAS Maros memberikan pinjaman

modal kepada masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya,

sehingga harapan dari BAZNAS Maros dengan adanya program ini

diharapkan dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan

kesejahteraannya.

Adapun yang kami maksud dengan strategi penanganan kredit

bermasalah dana bergulir adalah adalah berbagai upaya-upaya yang

dilakukan agar kredit ini bisa kembali lancar, mengingat dana yang

41
Depag, Pola Pembinaan Badan Amil Zakat 2005 h. 25
42
(peraturan BAZNAS no. 01 tahun 2014 tentang pengajuan pertimbangan pimpinan
BAZNAS (salinan). Pdf-Adobe Reader )

32
diberikan adalah dana bergulir artinya dana tersebut terus digulirkan

untuk tujuan usaha produktif guna untuk menambah penerima dana

lebih banyak.

D. Kerangka Pikir

Penyebab Kredit Bermasalah

di BAZNAS Maros

Internal Eksternal

a. SDM a. Nasabah
b. Sistem b. Lingkungan
c.

Strategi Penanganan
Maros

 Rescheduling

 Reconditioning

 Restructuring

33
34