Anda di halaman 1dari 7

Nama : Adhen Maulana

NPM : 0606158854
Program profesi 2007

LAPORAN PENDAHULUAN
MENINGITIS

DEFINISI

Inflamasi yang terjadi pada lapisan arachnoid, piameter dan spinal cord yang disebabkan
organisme seperti: bakteri, virus, protozoa dan jamur. (Donna, 1999)

Meningitis bacterial adalah Inflamasi pada lapisan arachnoid atau piameter. Infeksi menyebar
sampai subarachnoid melalui CSF, spinal cord dan biasanya juga mengenai ventrikel.
(Black & Matassarin, 1997)

KLASIFIKASI MENINGITIS

1. Meningitis Bakterial (Meningitis sepsis)


Sering terjadi pada musim dingin, saat terjadi infeksi saluran pernafasan. Jenis organisme
yang sering menyebabkan meningitis bacterial adalah streptokokus pneumonia dan neisseria
meningitis.
Meningococal meningitis adalah tife dari meningitis bacterial yang sering terjadi pada daerah
penduduk yang padat, spt: asrama, penjara.
Klien yang mempunyai kondisi spt: otitis media, pneumonia, sinusitis akut atau sickle sell
anemia yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadi meningitis. Fraktur tulang tengkorang
atau pembedahan spinal dapat juga menyebabkan meningitis. Selain itu juga dapat terjadi pada
orang dengan gangguan sistem imun, spt: AIDS dan defisiensi imunologi baik yang congenital
ataupun yang didapat.

2. Meningitis Virus (Meningitis aseptic)


Meningitis virus adalah infeksi pada meningin; cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Virus
biasanya bereflikasi sendiri ditempat terjadinya infeksi awal (misalnya sistem nasofaring dan
saluran cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf pusat melalui sistem vaskuler.
Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus spt: campak, mumps, herpes simplek dan
herpes zoster.
Virus herpes simplek mengganggu metabolisme sel sehingga sell cepat mengalami nekrosis.
Jenis lainnya juga mengganggu produksi enzim atau neurotransmitter yang dapat menyebabkan
disfungsi sel dan gangguan neurologic.

3. Meningitis Jamur
Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem saraf pusat pada
klien dengan AIDS.
Respon inflamasi yang ditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem imun antara lain: bisa
demam/tidak, sakit kepala, mual, muntah dan menurunnya status mental.
ETIOLOGI
Etiologi dapat dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi meningitis:
1. Bakteri
a. Haemophilus influenza
b. Neisseria meningitis (meningococcal)
c. Diplococcus pneumonia (pneumococcal)
d. Streptococco, group A
e. Staphylococus aureus
f. Escherichia coli
g. Kliebsiela
h. Proteus
i. Pseudomonas
2. Virus
a. Abses otak
b. Encephalitis
c. Limfoma
d. Leukemia atau darah diruang subarachnoid
3. Jamur

Faktor predisposisi dari meningitis bacterial:


1. Trauma kepala
2. Infeksi sistemik
3. Infeksi post operasi
4. Infeksi meningeal
5. Gangguan anatomic
6. Penyakit sistemik lainnya

TANDA DAN GEJALA


a. Sakit kepala dan demam, nyeri punggung, kaku leher
b. Mual, muntah
c. Perubahan tingkat kesadaran
d. Rigiditas nukal
e. Tanda kernig positif
f. Tanda babinski positif
g. Fotofobia
h. Kejang dan peningkatan TIK
i. Ruam pada kulit
PATOFISIOLOGI

Organisme (Bakteri, virus, jamur dan protozoa)


 (masuk melalui)

Trauma, prosedur pembedahan atau ruptur abses otak


 (melalui aliran darah)

Central Nervus Sistem



Respon inflamasi di piameter, arachnoid, CSF dan ventrikel

Eksudat terbentuk

Menyebar keseluruh cranial dan saraf spinal

Kerusakan Neurologik

Ketika organisme patogen masuk ke subarachnoid terjadi reaksi inflamasi :


1. Cairan Cerebrospinal mengalami kekeruhan
2. Terbentuk eksudat
3. Perubahan pada arteri subarachnoid, termasuk engorgement with blood, ruptur dan
trombosis
4. Kongesti jaringan sekitarnya

KOMPLIKASI
a. Shock
b. Gangguan koagulasi
c. Komplikasi septic ( Bacterial endocarditis)
d. Demam yang terus menerus

PENATALAKSANAAN
a. Kaji tanda vital dan cek status neurologis setiap 2-4 jam sesuai indikasi
b. Kaji fungsi saraf dengan melihat saraf cranial III, IV, VI, VII, dan VIII dan monitor
perubahannya
c. Managemen nyeri dengan obat atau tanpa obat-obatan
d. Berikan intervensi untuk mengobati atau mencegah peningkatan TIK.
e. Berikan obat-obatan sesuai indikasi:
- Antimikroba : Penisilin, ampisilin, kloramfenikol
- Untuk dehidrasi dan syok : Berikan tambahan volume cairan
- Kejang : Diazepam, fenitoin
- Edema serebral : Diuretik osmotic (manitol)
f. Lindungi klien dari injury pada saat timbul serangan
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Analisa CSS dari fungsi lumbal:


 Meningitis Bakterial :
Tekanan meningkat, cairan keruh/ berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat,
glukosa menurun, kultur (+) beberapa jenis bakteri
 Meningitis Virus
Tekanan bervariasi, SCC biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein
biasanya normal, kultur biasanya (-), kultur virus biasanya hanya dengan prosedur khusus
Glukosa serum : Meningkat
LDH Serum : Meningkat (pada meningitis bakteri)
Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutropil (infeksi bakteri)
Elektrolit darah : Abnormal
ESR/ LED : Meningkat
Kultur darah/ hidung/ tenggorok/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau
mengindikasikan tipe penyebab infeksi
MRI/ CT Scan : Dapat membantu melokalisasi lesi,melihat ukuran/ letak ventrikel; hematom
daerah serebral, hemoragik atau tumor
EEG : Mungkin terlihat gelombang lambat secara fokal atau umum (ensefalitis) atau voltasenya
meningkat (abses)
Rontgen dada, kepala dansinus : Mungkin ada indikasi infeksi atau sumber infeksi intrakranial
Arteriografi karotis : Letak abses

Pengkajian Keperawatan

 AKTIVITAS/ ISTIRAHAT
Gejala  perasaan tidak enak
 keterbatasan yang ditimbulkan oleh kondisinya
Tanda  ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, involunter, kelemahan secara umum,
keterbatasan dalam rentang gerak
 hipotermia

 SIRKULASI
Gejala  ada riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung
congenital (abses otak)
Tanda  jekanan darah meningkat, nadi menurun, tekanan nadi berat (berhubungan
dengan peningkatan TIK dan pengaruh pada pusat vasomotor)
 Takikardia, disritmia (pada fase akut) seperti disritmia sinus pada meningitis

 ELIMINASI
Tanda  Adanya inkontinensia dan/ retensi

 MAKANAN/ CAIRAN
Gejala  Kehilangan nafsu makan
 Kesulitan menelan (pada periode akut)
Tanda  Anoreksia, muntah
 Turgor kulit jelek, membran mukosa kering
 HIGIENE
Tanda  Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri (pada periode akut)

 NEUROSENSORI
Gejala  Sakit kepala (mungkin merupakan gejala pertama dan biasanya keras
 Parestesia, terasa kaku pada semua persyarafan yang terkena, kehilangan
sensasi (kerusakan pada saraf cranial). Hiperalgesia/ meningkatnya sensitivitas
pada nyeri (meningitis), timbul kejang (meningitisbakteri)
 Gangguan pada penglihatan seperti diplopia(fase awal dari beberapa infeksi)
 Foto fobia
 Ketulian atau mungkin hipersensitif terhadap kebisingan
 Adanya halusinasi penciuman/ sentuhan
Tanda  Status mental/ tingkat kesadaran; letargi sampai kebingungan yang berat hingga
koma, delusi dan halusinasi/psikosis organic
 Kehilangan memori, sulit mengambil keputusan (merupakan awal gejala
berkembangnya hidrosefalus komunikan yang mengikuti meningitis bacterial)
 Afasia/ kesulitan dalam berbicara
 Mata (ukuran/ reaksi pupil), unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya
(peningkatan TIK) nistagmus (bola mata bergerak-gerak terus menerus)
 Ptosis, Karakteristik fasial (wajah); perubahan pada fungsi motorik dan sensorik
(syaraf cranial V dan VII terkena)
 Kejang umum atau local (pada abses otak), kejang lobus temporal. Otot
mengalami hipotonia/ flaksid paralysis (pada fase akut meningitis), spastik
(ensefalitis)
 Hemiparese/ hemiplegi (meningitis / ensefalitis)
 Tanda Brudzinski (+) dan atau tanda kernig (+) merupakan indikasi adanya iritasi
meningeal (fase akut)
 Rigiditas nukal (iritasi meningeal)
 Refleks tendon dalam terganggu, Babinski (+)
 Refleks abdominal menurun/ tidakl ada, refleks kremastetik hilang pada laki-
laki(meningitis)

 NYERI/ KENYAMANAN
Gejala  Sakit kepala(berdenyut dengan hebat, frontal) mungkin akan diperburuk oleh
ketegangan leher/ punggung yang kaku, nyeri pada gerakan okuler,
fotosensitivitas, sakit, nyeri tenggorok
Tanda  Tampak terus terjaga, prilaku distraksi/ gelisah. Menangis, mengaduh,
mengeluh

 PERNAFASAN
Gejala  Adanya riwayat infeksi sinus atau paruu (abses otak)
Tanda  Peningkatan kerja awal (fase awal)
 Perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah
 KEAMANAN
Gejala  Adanya riwayat infeksi saluran nafas/ infeksi lain meliputi mastoiditis, telinga
tengah, sinus, abses gigi, infeksi pelvis, abdomen atau kulit; pungsi lumbal,
pembedahan, fraktur pada tengkorak/ cedera kepala, anemia sel sabit
 Imunisasi yang baru terpajan pada meningitis, terpajan oleh campak, chicken
fox, herpes simplek, mononucleosis, gigitan binatang, benda asing yang terbawa
 Gangguan penglihatan/ pendengaran
Tanda  Suhu meningkat, diaforesis, menggigil
 Adanya ras, purpuramenyeluruh, perdarahan subcutan
 Kelemahan secara umum, tonus otot flaksid atau spasti, paralisih atau paresis
 Gangguan sensasi

 PENYULUHAN/PEMBELAJARAN
Gejala  Hipersensitif terhadap obat, masalah medis sebelumnya, spt: penyakit kronis,
alkoholisme, diabetes militus, splenektomi, implantasi pirau ventrikel
Pertimbangan rencana pemulangan :
 Mungkin membutuhkan bantuan pada semua bidang, meliputi perawatan diri dan
mempertahankan tugas/pekerjaan rumah

PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN


1. Risiko tinggi terhadap penyebaran infeksi
2. Risiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan serebral
3. Risiko tinggi terhadap trauma
4. Nyeri
5. Kerusakan mobilitas fisik
6. Perubahan persepsi sensori
7. Ansietas/ketakutan
8. Kurang pengetahuan mengenai penyebab infeksi dan kebutuhan pengobatan
DAFTAR PUSTAKA

Black and Matasarin Jacobs. (1997). Medical surgical nursing : Clinical management for continuity
of care. (Edisi V). hiladelphia: Wb Sounders Company .

Doenges Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. (Edisi III). Jakarta: EGC

Price, Sylvia Anderson. (1995). Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. (Edisi IV).
Jakarta: EGC.

Smeltzer and Bare. (2002). Keperawatan medical bedah. Vol. 3 edisi VIII. Jakarta: EGC