Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan

Berdasarkan anamnesa, gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium,


maka dapat ditetapkan diagnosa dari penyakit kucing tersebut adalah otitis yang disebabkan
infeksi ektoparasit otodectes dan ineksi sekunder oleh bakteri patogen. Tungau telinga atau ear
mite adalah tungau parasit yang berukuran sangat kecil, atau disebut Otodoctes Cynotis yang
dapat menginfeksi telinga kucing dan anjing. Tungau Otodoctes Cynotis menular dan bertahan
hidup dengan mengkonsumsi nutrisi dari jaringan telinga dan darah kucing. Tungau tersebut
dapat hidup secara berkala pada cakar dan bulu kucing. Tungau Otodoctes Cynotis dapat
menyebar pada anjing dan kucing, tetapi tidak dapat menular pada manusia untuk jangka waktu
yang lama. Siklus hidup Otodoctes adalah jenis tungau psoroptes dan tiga minggu dalam bentuk
telur larva dan nimpa pada bentuk dewasa.
Pengobatan penyakit otitis yang disebabkan otodectes yaitu dengan memberikan obat
tetes telinga (topical), ataupun injeksi antiparasit (Ivermectin) dengan ketentuan yang berisi
campuran ivermectin dengan aqua bides ataupun dengan menggunakan campuran antiektoparasit
(Ivermectin) dengan antihistamin (Dipenilhidramin HCL) dan antibiotik (Medoxy L) yang
mengandung Oxytetracycline untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Pemberian terapi
injeksi ektoparasit yaitu menggunakan ivermectin dengan dosis 0,02 mg/kg sucutaneus pada
kucing.
Pencegahan penyakit kulit yang disebabkan penyakit ektoparasit otodectes yaitu dengan
menjaga kebersihan telinga kucing dan mengisolasi kucing yang terinfeksi Otodoctes Cynotis
dengan kucing lainnya.
Mekanisme kerja ivermectin didalam tubuh adalah menganggu aktivitas aliran ion klorida
pada system saraf. Preparat ini dapat terikat pada reseptor yang meningkatkan permeabilitas
membrane parasit terhadap ion klorida, sehingga akan mengakibatkan saluran klorida terbuka
dan mencegah pengeluaran neuromuskuler akan memblokir dan polaritas neuron akan terganggu,
sehingga menyebabkan terjadinya otodectes pada kucing (Wardana, 2006).
Ivermectin mempunyai sifat vemisidal dan acarasidal karena kesanggupannya berikatan
dengan asam gamma aminobutirat (GABA) dan menganggu saluran khlor (Chlor Pathway)
hingga terjadi hiperpolarisasi membrane sel dan selanjutnya menghambat hantaran saraf yang
berakibat kelumpuhan saraf pada otot perifer. GABA pada mamalia menghambat hantaran saraf
pada susunan saraf pusat, sedangkan pada nematoda dan artropoda pada mengatur hantarab saraf
sampai otot perifer (Subronto dan Ida, 2001).
Menurut Dhingra (2008), otitis eksterna adalah suatu peradangan pada saluran eksterna
telinga, baik akut maupun kronis. Otitis biasanya dihubungkan dengan infeksi sekunder oleh
bakteri atau jamur yang menyertai maserasi kulit dan jaringan subkutan. Faktor utama otitis
eksterna yang paling umum adalah hipersensitivitas, gangguan keratinisasi, dan tungau
Otodectes. Bakteri yang bersifat patogen yang paling sering mengakibatkan adanya otitis
eksterna adalah Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) (20% - 60%), Staphylococcus aureus
(10% - 70%) dan bakteri Gram positif dan negatif lainnya (Rosenfeld, 2007).
Pengobatan otitis harus dilakukan sesegera mungkin karena dapat menyebabkan
kematian. Prognosis otodectes yaitu fausta. Pada kasus yang sangat parah, Otodoctes Cynotis
dapat menyebabkan pembentukan hematoma di telinga.

Referensi

Dhingra, P.L. 2008. Perandingan Efektiitas Klinis Oflosasin Kombinasi Steroid Topikal pada
Otitis Eksterna Profunda di Makasar. Skripsi. Universitas Hasanudin. Makasar.
Rosenfeld, A.J. 2007. Veterinary Medical Team Handbook. Blackwell Pulishing Profesional.
Iowa.
Suronto dan ida. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Wardana. 2006. Scabies Tantangan Penyakit Zoonosis Masa Kini dan Masa Datang. Jurnal.
16(1):40-52.