Anda di halaman 1dari 26

2 1

MAKALAH
WANITA DEWASA MASA PERSALINAN

DISUSUN OLEH:
INDAH JAYANTI
02171270

TUGAS
PSIKOLOGI KEBIDANAN
DOSEN : ANDI SITTI UMRAH, S.ST., M.Keb.

AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH


PALOPO
2018
2 2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Atas berkat rahmat dan
hidayahnya saya sebagai penulis telah berhasil menyelesaikan makalah yang
membahas tentang’’Wanita Dewasa Pada Masa Persalinan” dengan baik dan
semaksimal mungkin. Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit masalah dan
juga hambatan-hambatan yang penulis hadapi. Namun, penulis sadar bahwa
kelancaran dari penyusunan makalah ini juga di dorong oleh adanya bantuan dari
internet, buku dan teman-teman seperjuangan sehingga berbagai kendala-kendala
penulis akhirnya dapat teratasi. Oleh karena itu, saya sebagai penulis sangat
berterima kasih kepada sesama teman seperjuangan karena berkat adanya
kekompakan dalam menyelesaikan makalah ini sehingga berbagai kesulitan dan
hambatan dapat teratasi.
Semoga makalah yang saya buat ini dapat bermanfaat dan menjadi
sumbangan pemikiran bagi teman-teman khususnya saya sendiri selaku penyusun
sehingga tujuan yang kami harapkan dapat tercapai. Aamiin Ya Rabbal Alaminn...
Dan semoga pula makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas
kepada pembaca walaupun makalah yang saya buat ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Saya sebagai penyusun mohon atas saran dan kritiknya.Terima kasih.

Palopo, 18 Desember 2018

Penulis

i
2 3

DAFTAR ISI

JUDUL HALAMAN
KATA PENGANTAR . ................................................................................ i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang................................................................................. 1
B. Tujuan Penulisan ............................................................................ 2
C. Manfaat Penulisan .......................................................................... 2
D. Sistematika Penulisan ..................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 4
Wanita Dewasa Masa Persalinan
1. Adat kebiasaan melahirkan ............................................................. 4
2. Emosi pada saat hamil dan melahirkan .......................................... 6
a. Emosi pada ibu hamil ................................................................. 6
b. Emosi pada saat melahirkan ....................................................... 10
3. Faktor somatik dan psikis mempengaruhi kelahiran ...................... 12
4. Kegelisahan dan ketakutan menjelang kelahiran ............................ 17
5. Reaksi wanita hipermasculine dalam menghadapi kelahiran .......... 20
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 22
A. Kesimpulan ..................................................................................... 22
B. Saran……………………………………………………………….22
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 23

ii
2 4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peristiwa kelahiran itu bukan hanya merupakan proses yang fisiologis
belaka, akan tetapi banyak pula diwarnai komponen-komponen psikologis.
Jika seandainya kelahiran itu Cuma fisiologis saja sifatnya, dan kondisi
organisnya juga normal, maka pasti proses berlangsungnya akan sama saja
di mana-mana dan pada setiap wanita, serta tidak akan mempunyai banyak
variasi. Sedang pada kenyataannya, aktivitas melahirkan bayi ini cukup
bervariasi (Daulay, 2014)
Dari yang amat mudah dan lancar sampai pada yang sangat sukar,
baik itu normal maupun abnormal dengan operasi Sectio Caesarea (SC)
dan lain-lain. Orang menyebutkan beberapa faktor penyebab dari mudah
sulitnya aktifitas melahirkan bayi, antara lain adalah:
1. Perbedaan iklim dan lingkungan sosial, yang mempengaruhi fungsi-
fungsi kelenjar endokrin dan kelenjar endokrin ini sangat penting
fungsinya pada saat melahirkan bayi.
2. Cara hidup yang baik atau cara yang sangat ceroboh dari wanita yang
bersangkutan, sebab cara hidup tersebut terutama cara hidup seksualnya
mempengaruhi kondisi rahim dan genitalia.
3. Kondisi otot-otot panggul wanita.
4. Kondisi psikis/kejiwaan wanita yang bersangkutan.
Orang mendapatkan kesan, bahwa sekalipun kini terdapat banyak
kemajuan di bidang kebidanan dan kedokteran untuk meringankan proses
partus, namun kehidupan psikis wanita yang tengah melahirkan bayinya
itu sejak zaman purba hingga masa modern sekarang masih saja banyak
diliputi oleh macam-macam ketakutan dan ketakhayulan. Oleh karena itu,
akan mempengaruhi emosi pada saat hamil dan proses melahirkan

1
22 5

menimbulkan kegelisahan dan ketakutan menjelang kelahiran (Daulay,


2014).

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini sebagai berikut:
1. Memberi pengetahuan tentang adat kebiasaan melahirkan.
2. Memberi pengetahuan tentang emosi pada ibu hamil dan melahirkan.
3. Memberi pengetahuan tentang faktor somatik dan psikis yang
mempengaruhi kelahiran.
4. Memberi pengetahuan tentang kegelisahan dan ketakutan menjelang
kelahiran.
5. Memberi pengetahuan tentang reaksi wanita hipermasculine dalam
menghadapi kelahiran.

C. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan dalam makalah ini sebagai berikut:
1. Menambah wawasan mengenai materi tentang materi yang dibahas
2. Mengembangkan pemahaman mahasiswa tentang materi yang dibahas
3. Meningkatkan keterampilan para mahasiswa tentang materi yang
dibahas

D. Sistematika Penulisan
1. BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Tujuan Penulisan
c. Manfaat Penulisan
d. Sistematika Penulisan
2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Wanita Dewasa Masa Persalinan
a. Adat kebiasaan melahirkan
b. Emosi pada saat hamil dan melahirkan
2 63

c. Faktor somatik dan psikis mempengaruhi kelahiran


d. Kegelisahan dan ketakutan menjelang kelahiran
e. Reaksi wanita hipermasculine dalam menghadapi kelahiran
3. BAB III PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Saran
4. DAFTAR PUSTAKA
2 7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. WANITA DEWASA MASA PERSALINAN


1. Adat Kebiasaan Melahirkan
Banyak orang berspekulasi tentang mudah atau sulitnya aktivitas
melahirkan bayi, dengan memperbandingkan prosesnya dengan berbagai
suku bangsa yang mempunyai bermacam-macam budaya (Marmi &
Margiyati, 2013).
Penduduk pemeluk norma-norma tradisional secara ketat, wanita-
wanita primitif memiliki toleransi lebih besar terhadap penderitaan dan
rasa sakit ketika melahirkan bayinya. Dengan demikian proses melahirkan
pada wanita-wanita primitif itu lebih mudah dan lebih cepat. Dan proses-
proses reproduksi pada mereka itu kelihatannya lebih simpel-sederhana,
jika dibandingkan dengan proses reproduksi pada wanita-wanita modern
yang mengalami “proses degeneratif” diakibatkan oleh kebudayaan yang
memberikan banyak kemudahan dan kemanjaan, yang menyebabkan
tubuh dan mentalnya kurang tertempa/terlatih untuk fungsi reproduksi atau
melahirkan anak bayinya (Marmi & Margiyati, 2013).
Banyak peneliti menyatakan, bahwa otot-otot panggul wanita-wanita
primitif itu lebih efisien daripada otot-otot panggul wanita modern yang
serba “manja” sebab wanita-wanita dengan kebudayaan primitif itu
hidupnya lebih aktif dan kerjanya jauh lebih berat guna menghadapi
tantangan alam, jika dibandingkan dengan wanita modern yang hidup
dalam kebudayaan tinggi dengan macam-macam komfort dan fasilitas.
kerja berat dan kehidupan aktif jelas memperkuat otot-otot panggulnya,
sehingga memudahkan proses kelahirannya. Sedang kebudayaan modern
yang tinggi sekarang ini menyebabkan timbulnya pengaruh yang sangat
melemahkan dan inhibitif terhadap otot-otot panggul juga terhadap
aktifitas melahirkan anak (Marmi & Margiyati, 2013).

4
2 5
8

Misalnya, proses kelahiran pada wanita-wanita daerah Tengger di


Pegununngan Bromo jarang berlangsung sangat lama. Biasanya berproses
sekitar satu atau dua jam saja. Pada beberapa suku-suku primitif di tanah
Batak daerah Kalimantan (Dayak), Kubu (daerah Sumatra Selatan) dan
Irian Jaya serta suku-suku primitif di Benua Australia, proses kelahiran itu
biasanya berlangsung beberapa menit saja. Ibu yang baru saja melahirkan
itu segera memandikan tubuhnya sendiri dan bayi yang dilahirkannya di
sungai yang paling dekat, lalu kembali pada tugas pekerjaanya yang
terpotong atau terganggu oleh aktifitas melahirkannya tadi. Seolah-olah
tidak ada suatu peristiwa penting yang terjadi pada dirinya (Marmi &
Margiyati, 2013).
Jika seorang wanita suku primitif yang tengah hamil itu tiba-tiba
merasakan tanda-tanda mau melahirkan, suatu saat ia akan melakukan
perjalanan jauh maka ia berhenti sebentar untuk menolong kelahiran bayi
dan diri sendiri, lalu meneruskan lagi perjalanannya sampai ia tiba di
tempat yang ingin ditujunya (Marmi & Margiyati, 2013).
Biasanya proses melahirkan itu banyak dipengaruhi oleh proses
identifikasi wanita yang bersangkutan dengan ibunya. Jika ibunya mudah
melahirkan anak-anaknya maka pada umumnya anak-anak gadisnya kelak
juga mudah melahirkan bayinya. Dengan demikian pengaruh-pengaruh
psikologis ibu ikut memaikan peranan dalam fungsi reproduksi anak
perempuannya. Dan sebaliknya jika ibunya banyak mengalami kesulitan
sewaktu melahirkan anaknya maka anak gadisnya juga mengembangkan
mekanisme kesulitan melahirkan bayinya. Maka proses identifikasi itu
tampaknya menyebabkan wanita yang bersangkutan menyerah mengikuti
pola melahirkan bayi yang dikembangkan oleh ibunya (Marmi &
Margiyati, 2013).
Fakta menunjukkan bahwa baik dikalangan wanita yang
berkebudayaan primitif maupun dikalangan wanita-wanita modern di kota-
kota besar, sering kali berlangsung peristiwa sebagai berikut : para wanita
tersebut ada kalanya dihadapkan pada gangguan-gangguan yang cukup
2 6
9

serius dan macam-macam kesulitan sewaktu mereka melahirkan bayinya.


Kesulitan tersebut kadang kala mengakibatkan wanita-wanita tadi menjadi
invalid atau meninggal dunia. Proses kelahiran yang sulit inilah yang
mendorong orang untuk mengembangkan ilmu kebidanan dan kedokteran,
guna memperingan penderitaan para ibu yang tengah melahirkan bayinya
(Marmi & Margiyati, 2013).
Contoh:
Di daerah Aceh sendiri ada tahapan terhadap wanita yang telah
melahirkan, didasarkan pada fitrah manusiawi:
a. Setelah melahirkan ibu dimandikan. Pada siraman terakhir, disiram
dengan ie boh kruet (jeruk purut) guna menghilangkan bau amis,
setelah mengganti pakaian diberikan kuning telur dengan madu.
b. Selama tiga hari diberikan ramuan daun-daunan yang terdiri dari daun
pengangga, daun pacar (gaca), urang-aring. daun-daunan ini diremas
dengan air lalu diminum. Hal tersebut untuk membersihkan darah
kotor.
c. Selama tujuh hari kemudian diberikan ramuan dari kunyit, gula
merah, asam jawa, kencur dan lada. Semua bahan ini ditumbuk
sampai halus lalu dicmapur dengan air ditambah madudan kuning
telur. khasiatnya untuk menambah darah dan membersihkan darah
kotor.
2. Emosi Pada Saat Hamil dan Melahirkan
a. Emosi pada saat hamil
Perubahan emosional terjadi selama kehamilan. Hormon dapat
mempengaruhi suasana hati dan karena kadarnya yang naik turun maka
demikian juga dengan suasana hati (Kartono & Kartini, 2007).
Oleh karena itu adalah hal yang normal bila ibu hamil merasa
sedih, menangis, panik, sedikit tidak yakin atau merasa senang luar
biasa. Perubahan ini harus dihadapi sekalipun agak membingungkan
untuk sementara waktu. Atau merasa sedih atau marah lebih dari 3
minggu (Kartono & Kartini, 2007).
2107

Dengan hadirnya janin di dalam rahim, maka hal itu akan


mempengaruhi emosi si ibu. Apabila pengaruh emosi ibu tidak
didukung oleh lingkungan keluarga yang harmonis ataupun lingkungan
tempat tinggal yang kondusif, maka hal ini akan mengakibatkan stres
pada ibu hamil (Kartono & Kartini, 2007).
Sebagai contoh, ibu hamil yang kurang waktu tidurnya akan
mempengaruhi kondisi kesehatan dan kebugaran tubuh. Karena waktu
untuk beristirahat pun berkurang. Dan apabila stres yang muncul
mempengaruhi nafsu makan ibu yang berkurang, akibatnya bisa
berbahaya (Kartono & Kartini, 2007).
Pasokan makanan bergizi yang dibutuhkan oleh ibu dan janin tentu
berkurang pula. Karena pasokan makanan bergizi kurang, maka di
khawatirkan pertumbuhan janin akan terganggu.
Secara psikologis, stres pada ibu hamil dapat dibagi dalam tiga tahapan.
1) Tahap pertama adalah pada triwulan pertama
Yaitu pada saat usia kehamilan satu hingga tiga bulan. Dalam
kurun waktu tersebut, biasanya ibu belum terbiasa dengan
keadaannya, di mana adanya perubahan hormon yang mempengaruhi
kejiwaan ibu, sehingga ibu sering merasa kesal atau sedih. Selain itu,
ibu hamil ada juga yang mengalami mual-mual dan morning
sickness, yang mengakibatkan stres dan gelisah (Kartono & Kartini,
2007).
2) Tahap kedua saat triwulan kedua
Yaitu pada saat usia kehamilan empat hingga enam bulan.
Dalam kurun waktu tersebut, biasanya ibu sudah merasa tenang,
karena telah terbiasanya dengan keadaannya. Di tahap ini, ibu hamil
sudah dapat melakukan aktivitas, termasuk aktivitas hubungan suami
istri (Kartono & Kartini, 2007).
3) Tahap ketiga yakni trimester ketiga.
Stres pada ibu hamil akan meningkat kembali. Hal itu dapat
terjadi dikarenakan kondisi kehamilan semakin membesar. Kondisi
2118

itu tidak jarang memunculkan masalah seperti posisi tidur yang


kurang nyaman dan mudah terserang rasa lelah. Dan semakin
bertambah dekatnya waktu persalinan pun akan membuat tingkat
stres ibu semakin tinggi. Perasaan cemas muncul bisa dikarenakan si
ibu memikirkan proses melahirkan serta kondisi bayi yang akan
dilahirkan (Kartono & Kartini, 2007).
Fluktuasi mood ibu hamil sebenarnya mirip perilakunya saat
menjelang haid atau premenstruation syndrom (PMS). Di trimester
pertama, hal ini karena dia sedang menyesuai diri dengan perubahan
hormon dan tubuh (Kartono & Kartini, 2007).
Di trimester ketiga mood ibu hamil yang mudah anjlok seringkali
disebabkan oleh tubuhnya yang semakin lelah membawa kandungan
yang besar, napas yang makin pendek, rasa gerah dan berkeringat, sakit
punggung, kaki dan wajah bengkak, juga khawatir terhadap proses
persalinan (Kartono & Kartini, 2007).
Saat mood ibu hamil sedang turun, sebaiknya hadapi dengan:
1) Terima dan beradaptasi.
Belajar menerima dan beradaptasi dengan mood istri hamil
yang seperti roller coaster itu penting. Misalnya, kalau dia sedang
marah-marah, cukup senyum saja. Kalau dia tiba-tiba menangis,
peluk dan sodorkan tisu (Kartono & Kartini, 2007).
2) Dukung dia.
Misalnya, ketika wajahnya murung saat bercermin, segera
katakan, “Tetap cantik kok. Setelah melahirkan, kulit wajahmu
pasti kembali mulus!” Bila ibu hamil mendapat cukup dukungan
dari orang di sekitarnya, ia akan merasa bahagia, tenang dan
membangun persepsi positif tentang kehamilannya. Terlebih lagi
bila didampingi suami yang berpandangan positif juga (Kartono &
Kartini, 2007).
212 9

3) Tempat mencurahkan hati.


Jadikan Anda tempat curahan hatinya. Emosi negatif yang
diungkapkan dan dibaginya akan terasa ringan. Bila istri enggan
mengungkapkan perasaan, luangkan waktu untuk "memancingnya".
Misalnya katakan, “Kalau dipendam sendiri nanti stres dan bayi
kita terkena dampaknya. Ada apa sih, Sayang?” (Kartono &
Kartini, 2007).
4) Peka pada perasaannya.
Peka adalah bentuk empati Anda terhadap perasaan istri.
Jangan bercanda atau mengolok-oloknya. Misalnya, mengatakan
dia gembrot. Saat dia mengungkapkan perasaan yang konyol
sekalipun, hati-hati berkomentar. Misalnya, ketika dia merasa risih
sesudah periksa dalam, jangan malah keceplosan, “Cincin
dokternya ketinggalan di dalam nggak?” Meski pun Anda cuma
bercanda, tapi perasaan ibuhamil bisa menjadi super sensitif
(Kartono & Kartini, 2007).
5) Hadapi dengan humor atau romantisme.
Mengembangkan sifat humoris atau romantis saat mood istri
sedang jelek. Anda bisa coba membuatnya tertawa dengan
melontarkan banyolan. Meski pun humor Anda tak lucu, istri pasti
menghargainya. Atau, beri hadiah kecil seperti bunga, puisi cinta,
seporsi rujak, atau ajak ke tempat yang menyenangkan. Istri akan
tersanjung dan terobati dengan perhatian anda (Kartono & Kartini,
2007).
6) Sabar.
Kehamilan bukan kondisi menetap, begitu juga perubahan
emosi istri Anda. Itu hanya sementara, sehingga Anda tidak perlu
terlalu khawatir, kesal atau frustrasi (Kartono & Kartini, 2007).
Waspada bila:
a) Perubahan mood sangat berat sampai-sampai ia tidak bisa
berkonsentrasi, mengingat, mengambil keputusan, bekerja dan
10
213

beraktivitas sehari-hari (termasuk mengurus diri). Anda perlu


membicarakannya dengan istri dan dokter (Kartono & Kartini,
2007).
b) Menimbulkan konflik antara istri dengan orang di sekitarnya, baik
keluarga atau teman. Anda harus cepat tanggap dan siap menjadi
mediator atau penengah, bukannya terpancing bertengkar juga
(Kartono & Kartini, 2007).
c) Mood buruk berkembang jadi stres, lalu depresi. Bicarakan dengan
istri dan dokter. Bila perlu ajak mencari psikolog yang dapat
membantu memperbaiki mood-nya (Kartono & Kartini, 2007).
b. Emosi pada saat melahirkan
Perasaan sedih cemas panik perubahan emosi mudah marah yang
dialami ibu setelah melahirkan. Keadaan semacam ini dalam dunia
kesehatan disebut dengan istilah Baby Blues Syndrome atau stress
pasca persalinan orang umum mengenal akan istilah ini (Kartono &
Kartini, 2007).
Pada saat kehamilan berlangsung maka ibu hamil akan banyak
mengalami perubahan besar baik fisik maupun non fisik termasuk di
dalamnya perubahan hormon. Begitu juga pasca melahirkan, perubahan
tubuh dan hormon kembali terjadi lagi (Kartono & Kartini, 2007).
Perubahan-perubahan pada ibu hamil dan setelah proses persalinan
bisa mempengaruhi akan hal ini. Penurunan secara drastis kadar
hormon estrogen dan progesteron serta hormon lainnya yang di
produksi oleh kelenjar tiroid akan menyebabkan ibu sering mengalami
rasa lelah, depresi dan penurunan mood (Kartono & Kartini, 2007).
Sepintas lalu telah kita singgung beberapa analogi di antara proses
kelahiran pada wanita primitive dan wanita modern. Orang
mendapatkan kesan, bahwa sekalipun kini terdapat banyak kemajuan di
bidang kebidanan dan kedokteran untuk meringankan proses partus,
namun kehidupan psikis wanita yang tengah melahirkan bayinya itu
sejak zaman purba hingga masa modern sekarang masih saja banyak
21411

diliputi oleh macam-macam ketakutan dan ketakhayulan (Marmi &


Margiyati, 2013).
Memang benar, bahwa pada zaman mutakhir ini kepercayaan pada
kekuatan-kekuatan gaib selama proses reproduksi sudah sangat
berkurang. Sebab secara biologis, anatomis dan psikologis, kesulitan-
kesulitan pada peristiwa partus bisa dijelaskan dengan alasan-alasan
psikologis atau sebab abnormalitas (keluar-kebiasaan) (Marmi &
Margiyati, 2013).
Namun dalam abad ilmiah dengan semua kemajuan ilmu
pengetahuan dan filsafat-filsafat materialistis ini, bentuk kuntilanak dan
setan jahat yang mmebarengi kelahiran bayi kemudian tampil dalam
bentuk baru, yaitu berupa: kecemasan dan ketakutan pada dosa-dosa
atau kesalahan-kesalahan sendiri. Oleh rasa berdosa ini wanita yang
bersangkutan merasa amat takut kalau-kalau nantinya ia melahirkan
bayi yang cacat jasmaniah dan lahiriyah (Marmi & Margiyati, 2013).
Kita bisa memahami, bahwa lancar atau tidaknya proses kelahiran
itu banyak bergantung pada kondisi biologis, Khususnya kondisi wanita
yang bersangkutan. Namun kita juga mengerti bahwa hampir tidak ada
tingkah laku manusia (terutama yang disadari) dan proses biologisnya
yang tidak dipengaruhi oleh proses psikis. maka dapat dimengerti,
bahwa membesarnya janin dalam kandungan itu mengakibatkan calon
ibu yang bersangkutan mudah capai, tidak nyaman badan, tidak bisa
tidur enak, sering mendapatkan kesulitan dalam bernafas, dan macam-
macam beban jasmaniah lain-lainnya di waktu kehamilan (Marmi &
Margiyati, 2013).
Semua pengalaman tersebut di atas pasti mengakibatkan timbulnya
rasa tegang, ketakutan, kecemasan, konflik-konflik batin dan material
psikis lainnya (Marmi & Margiyati, 2013).
Lagi pula semua keresahan hati serta konflik-konflik batin yang
lama-lama, kini menjadi akut dan intensif kembali dengan
215 12

bertambahnya beban jasmaniah selama mengandung lebih-lebih pada


saat mendekati kelahiran bayinya (Marmi & Margiyati, 2013).
3. Faktor Somatik dan Psikis Mempengaruhi Kelahiran
Setiap proses biologis dari fungsi keibuan dan reproduksi, yaitu sejak
turunnya bibit ke dalam rahim ibu sampai saat kelahiran bayi itu
senantiasa saja dipengaruhinya (distimulir atau justru dihambat) oleh
pengaruh-pengaruh psikis tertentu (Marmi & Margiyati, 2013).
Maka ada:
a. Interdependensi di antara faktor-faktor somatik (jasmaniah) dengan
faktor-faktor psikis.
b. Jadi pada fungsi reproduksi yang sifatnya biologis itu selalu dimuati
pula oleh elemen-elemen psikis.
Dengan demikian segenap perkembangan psikis dan pengalaman-
pengalaman emosional di masa silam dari wanita yang bersangkutan ikut
berperan dalam kegiatan mempengaruhi mudah atau sukarnya proses
kelahiran bayinya (Marmi & Margiyati, 2013).
Para psikiater dan psikolog pada umumnya tidak mempunyai
kesempatan untuk memperhatikan pengalaman psikis wanita yang tengah
melahirkan. Juga para dokter dan bidan hampir-hampir tidak mempunyai
waktu untuk memperhatikan kondisi psikis wanita tersebut. Sebab mereka
biasanya disibuktikan oleh faktor-faktor somatik. Mereka juga terlampau
tegang dan capai untuk memperhatikan kehidupan psikis wanita partus
tadi. pada umumnya para dokter dan bidan menganggap tugas mereka
telah selesai, apabila bayinya lahir dengan selamat, dan ibunya tidak
menunjukkan tanda-tanda patologis atau kelainan-kelainan kondisi
tubuhnya (Hidayat & dkk, 2008).
Biasanya para dokter segera melakukan intervensi (pertolongan
interventif sebelum kelahiran bayi) jauh sebelum kelahiran bayi, apabila
terlihat tanda-tanda kelainan pada kehamilan. Sebab mereka sama sekali
tidak mengharapkan terjadinya proses partus yang abnormal. bahkan ada
kalanya para dokter melakukan pembedahan (kelahiran artificial), dan
216 13

menerapkan hipnose untuk memperingan penderitaan para wanita yang


tengah melahirkan. Maka tampaknya di kelak kemudian hari akan semakin
sedikit proses biologis yang spontan alami kelahiran bayi, khususnya
dalam masyarakat supermodern, berkat bantuan alat-alat kebidanan paling
mutakhir, karena wanita-wanita yang bersangkutan memilih kelahiran
bayinya lewat pembedahan (Hidayat & dkk, 2008).
Sangat menarik hati jika bisa mendapatkan wawasan tentang reaksi-
reaksi psikis dari wanita yang tengah melahirkan bayinya secara spontan.
Yaitu memperhatikan:
1) Pengalaman feminim, kebahagaiaan kepedihan/kesakitan yang paling
memuncak dan paling mengesankan dalam hidupnya.
2) Terutama pada saat kelahiran bayinya yang pertama kali.
Untuk memperoleh sedikit pengertian tentang situasi psikologis dari
kelahiran, kita harus menjenguk sejenak fase terakhir dari masa kehamilan.
Kelahiran sang bayi senantiasa diawali dengan beberapa tanda-tanda
pendahuluan. Beberapa minggu sebelum kelahiran bayi, uterus atau rahim
ibu itu menurun. Pada setiap luapan emosi yang disebabkan oleh
ransangan kuat dari luar, akan timbul kontraksi-kontraksi dalam
kandungan yang hampir mirip dengan kontraksi mau melahirkan. Rahim
yang menurun itu mengakibatkan tekanan-tekanan yang semakin terasa
berat di dalam perut, ketegangan-ketegangan batin, dan sesak nafas (Sulit
bernafas) (Hidayat & dkk, 2008).
Bahkan bagi wanita yang paling sehat sekalipun, kondisi somatik
menjelang kelahiran bayi ini dirasakan sangat berat dan tidak
menyenangkan. Sering timbul rasa jengkel, tidak nyaman badan, selalu
kegerahan, duduk-berdiri-tidur serasa salah dan tidak menyenagkan, tidak
sabaran, cepat menjadi letih, lesu dan identifikasi serta harmoni antara ibu
dengan janin yang dikandungannya jadi terganggu. Bayi yang semula
sangat diharapkan dan mulai dicintai secara psikologis selama berbulan-
bulan itu kini mulai dirasakan sebagai beban yang amat berat (Hidayat &
dkk, 2008).
14
217

Penderitaan fisik dan beban jasmaniah selama minggu-minggu


terakhir masa kehamilan itu menimbulkan banyak gangguan psikis, dan
pada akhirnya merengganngkan rutinitas ibu anak yang semula tunggal
dan harmonis. Perubahan-perubahan organik pada minggu-minggu
terakhir itu menimbulkan pula semakin banyaknya perasaan-perasaan
tidak nyaman. Maka beban derita fisik ini menjadi latar belakang dari
impuls-impuls emosional yang diwarnai oleh “sikap-sikap bermusuhan”
terhadap bayinya. Lalu ibu tersebut mengharapkan dengan sangat agar
“endofarasit” yang dikandungnya bisa cepat-cepat dikeluarkan dari
rahimnya (Hidayat & dkk, 2008).
Dengan semakin bertambah beratnya beban kandungan dan bertambah
banyaknya rasa-rasa tidak nyaman secara fisik, ego wanita yang tengah
hamil itu secara psikologis jadi semakin capai dan lesu letih lahir-batinnya.
Akibatnya, relasi ibu dengan (calon) anaknya jadi terpecah, sehingga
polaritas aku-kamu (aku sebagai pribadi ibu dan kamu sebagai bayi)
menjadi semakin jelas. Timbulan dulitas perasaan, yaitu:
1) Harapan-cinta-kasih dan
2) Impuls-impuls bermusuhan-kebencian
Oleh sebab itu, “musuh” yang ada dalam kandungan itu harus cepat-
cepat keluar dari rahim, agar tidak terlampau menjadi sumber
ketidaksenangan, uuntuk kemudian dijadikan “objek kesayangan” (Marmi
& Margiyati, 2013).
Maka selama minggu-minggu terakhir kehamilan itu muncul banyak
konflik antara keinginan untuk mempertahankan janinnya cepat-cepat.
Pada umumnya peristiwa ini berlangsung dalam batin/kehidupan psikis
belaka. Kainginan untuk mempertahankan janin itu merupakan ekspresi
dari kepuasaan diri yang narsistis (dan lindungi janin) yang sudah timbul
sejak permulaan masa kehamilan. Keinginan yang narsistis ini cenderung
menolak kelahiran bayi, dan ingin mempertahankan janinnya selama
mungkin; jadi terdapat unitas total antara ibu-anak. Dan semakin ketatlah
rasa-rasanya identifikasi sang ibu dengan bayinya: sehingga ibu tersebut
21815

ingin sekali menolak kelahiran bayinya, atau mengundurkan kelahiran


bayinya, selama mungkin (Marmi & Margiyati, 2013).
Bersamaan denga peristiwa tadi, disebabkan oleh:
1) Fantasi tentang bakal bayinya yang segera lahir sebagai objek kasih
sayang.
2) Beban fisik oleh semakin membesarnya bayi dalam kandungan.
Jika konflik antara dua terdensi tadi jadi ekstrim dan patologis,
sehingga kecenderugan-kecenderungan tersebut mungkin akan terjadi
peristiwa kelahiran premature (lahir sebelum waktunya).
Sebaliknya jika:
1) Unitas yang narsistis dari sang ibu berupa kesombongan untuk
mempertahankan dan memilki janin yang ungggul
2) Ditambah dengan kecemaasan ibu kalau bayinya nanti tidak
mendapatkan jaminan keamanan jika sudah ada diluar rahim ibunya
3) Ibu tersebut merasa tidak atau belum mampu memikul tanggung
jawab baru sebagai ibu muda, maka masa kehamilan itu akan jadi
lebih oanjang atau lama. Dengan kata-kata lain, munculah
kecenderungan yang sangat kuat untuk memperpanjang kehamilan.
Ada rasa melekat yang kuat terhadap status quo dan timbul pula
banyak kecemasan yang akan berkembang menjadi disharmoni atau
pecahnya unitas ibu anak. Muncul pula ketakutan menghadapi kesakitan
dan resiko bahaya melahirkan bayinya. Semua peristiwa ini merupakan
hambatan untuk mengakhiri masa kehamilan, dan terjadilah perpanjangan
masa kehamilan (Marmi & Margiyati, 2013).
Selanjutnya, disharmoni pada unitas relasi ibu anak pada minggu-
minggu terakhir masa kehamilan itu menjadi prelude dari proses
pemisahan (bayinya terpisah dari ibunya, keluar dari rahim ibu) yang
permanen. Secara sadar, amat banyak wanita yang mendambakan anak
pertamanya adalah laki-laki. Sebab banyak sekali tersembunyi dalam
dambaan tersebut keinginan untuk “lahir kembali sebagai laki-laki”,
sebagai proses penyempurnaan dirinya. Sebab laki-laki adalah lambang
16

219

dari hidup serta keperkasaan. Juga sang ayah dan kakek biasanya
mengharapkan, agar anak dan cucu pertama adalah laki-laki, sebagai
lambang dari:
1) Kelahiran kembali diri mereka.
2) Dan sebagai tanda keabadian kepribadiannya.
Banyak pula wanita yang mengikuti pola harapan semacam ini,
sebagai tanda cinta kasihnya terhadap suami. Motivasi utama yang terselip
di dalamnya adalah penghargaan yang dikaitkan pada hari-hari mendatang
yang pada diri anak lelakinyalah wanita tersebut mendambakan hadirnya
seorang pria yang bisa mengasihi dan melindungi dirinya, terutama jika ia
sudah menjadi tua renta (Marmi & Margiyati, 2013).
Berbarengan dengan dambaan anak lelaki sebagai anak pertama, sering
pula dambaan tersebut disertai keinginan untuk memperoleh anak
perempuan yang cantik jelita, dan melebihi segala kualitas sendiri
(melebihi ibunya). Agak aneh tampaknya, bahwa wanita hamil itu sering
mimpi melahirkan anak laki-laki yang jelek rupanya. Sedang jika yang
diharapkan lahir anak perempuan, maka anak tersebut hendaknya berwajah
cantik dan gemilang (Marmi & Margiyati, 2013).
Di sini tampaknya terdapat relasi yang ambivalen terhadap suaminya,
yang mengandung unsur perasaan-perasaan majemuk, yaitu: “ inilah
anakmu yang kulahirkan. Dia gagah kokoh perkasa, namun sama jeleknya
dengan wajahmu”. Sebab jauh dibalik ketidaksadarannya, setiap wanita itu
mengharapkan agar wajah suaminya itu “ tampak” tampan bagi istrinya
saja dan didoakan “tampak” buruk di mata wanita lain. Dengan demikian
tidak terdapat resiko suaminya akan direbut oleh wanita lain. Sedang
semua mimpi tentang anak perempuan yang akan dilahirkan, pastilah
berwajah cantik, persisi harapannya sendiri mengenai wajah pribadi ibu itu
sendiri dan wajah anak perempuan yang bakal dilahirkan (Marmi &
Margiyati, 2013).
220 17

4. Kegelisahan dan Ketakutan Menjelang Kelahiran


Pada setiap wanita, baik yang bahagia maupun yang tidak bahagia,
apabila dirinya jadi hamil pasti akan dihinggapi campuran perasaan, yaitu
rasa kuat dan berani menanggung segala cobaan, dan rasa-rasa lemah hati,
takut, ngeri, rasa cinta dan benci, keraguan dan kepastian, kegelisahan dan
rasa tenang bahagia, harapan penuh kebahagiaan dan kecemasan, yang
semuanya menjadi semakin intensif pada saat mendekati masa kelahiran
bayinya (Suryani & Widyasih, 2009).
Sebab-sebab semua kegelisahan dan ketakutan antara lain adalah
sebagai berikut:
a. Takut mati
Sekalipun peristiwa kelahiran itu adalah satu fenomena fisiologis
yang normal, namun hal tersebut tidak kalis dari resiko dan bahaya
kematian. Bahkan pada proses yang normal sekalipun senantiasa
disertai perdarahan dan kesakitan hebat peristiwa inilah yang
menimbulkan ketakutan-ketakutan khususnya takut mati biak
kematian dirinya sendiri maupun anak bayi yang akan dilahirkan.
inilah penyebab pertama (Marmi & Margiyati, 2013).
b. Trauma kelahiran
Berkaitan dengan perasaan takut mati yang ada pada wanita pada
saat melahirkan bayinya, adapula ketakutan lahir (takut dilahirkan di
dunia ini) pada anak bayi, yang kita kenal sebagai “trauma kelahiran”.
Trauma kelahiran ini berupa ketakutan berpisahnya bayi dari rahim
ibunya. Yaitu merupakan ketakutan “hipotesis” untuk dilahirkan di
dunia dan takut terpisah dari ibunya (Suryani & Widyasih, 2009).
c. Perasaan bersalah/berdosa
Sebab lain yang menimbulkan ketakutan akan kematian pada
proses melahirkan bayinya ialah: perasaan bersalah atau berdosa
terhadap ibunya (Marmi & Margiyati, 2013).
Pada setiap fase perkembangan menuju pada feminitas sejati,
yaitu sejak masa kanak-kanak, masa gadis cilik, periode pubertas,
221
18

sampai pada usia adolesensi, selalu saja gadis yang bersangkutan


diliputi emosi-emosi cinta kasih pada ibu yang kadangkala juga diikuti
rasa kebencian, iri hati dan dendam. bahkan juga disertai keinginan
untuk membunuh adik-adik atau saudara kandungnya yang dianggap
sebagai saingannya. peristiwa “ingin membunuh” itu kelak kemudian
hari diubah menjadi hasrat untuk memusnahkan janin atau bayinya
sendiri, sehingga berlangsung keguguran kandungannya (Marmi &
Margiyati, 2013).
Dalam semua aktivitas reproduksinya, wanita itu banyak
melakukan identifikasi terhadap ibunya. Jika identifikasi ini menjadi
salah bentuk, dan tadi banyak mengembangkan mekanisme rasa-rasa
bersalah dan rasa berdosa terhadap ibunya, maka peristiwa tadi
membuat dirinya menjadi tidak mampu berfungsi sebagai ibu yang
bahagia, sebab selalu saja ia dibebani atau dikejar-dikejar oleh rasa
berdosa (Marmi & Margiyati, 2013).
Perasaan berdosa terhadap ibu ini erat hubungannya dengan
ketakutan akan mati pada saat wanita tersebut melahirkan bayinya.
Oleh karena itu kita jumpai adat kebiasaan sejak zaman dahulu sampai
masa sekarang berupa:
1) Orang lebih suka dan merasa lebih mantap kalau ibunya (nenek
sang bayi) menunggui dikala ia melahirkan bayinya.
2) Maka menjadi sangat pentinglah kehadiran ibu tersebut pada
anaknya melahirkan oroknya.
d. Ketakutan riil
Pada saat wanita hamil, ketakutan untuk melahirkan bayinya itu
saat bisa diperkuat oleh sebab-sebab konkret lainnya.
Misalnya:
1) Takut kalau bayinya akan lahir cacat atau lahir dalam keadaan
patologis.
2) Takut kalau bayinya akan bernasib buruk disebabkan oleh dosa-
dosa ibu itu sendiri di masa silam.
22219

3) takut kalau beban hidupnya akan hidupnya menjadi semakin berat


oleh lahirnya sang bayi.
4) Munculnya elemen ketakutan yang sangat mendalam dan tidak
disadari, kalau ia akan dipisahkan dari bayinya.
5) Takut kehilangan bayinya yang sering muncul sejak masa
kehamilan sampai waktu melahirkan bayinya. Ketakutan ini bisa
diperkuat oleh rasa-rasa berdosa atau bersalah.
Ketakutan mati yang sangat mendalam di kala melahirkan bayinya itu
disebut ketakutan primer, biasanya dibarengi dengan kekuatan-kekuatan
superfisial (buatan, dibuat-buat) lainnya yang berkaitan dengan kesulitan
hidup, disebut sebagai kekuatan sekunder (Marmi & Margiyati, 2013).
Kekuatan primer dari wanita hamil itu bisa menjadi semakin intensif,
jika ibunya, suaminya dan semua orang yang bersimpati pada dirinya ikut-
ikutan menjadi panik dan resah memikirkan nasib keadaannya. Oleh
karena itu, sikap mengartinya, karena bisa memberikan dan melindungi
dari suami dan ibunya itu sangat besar artinya, karena bisa memberrikan
suppport moril pada setiap konflik batin, keresahan hati dan ketakutan,
baik yang riil maupun yang iriil sifatnya (Marmi & Margiyati, 2013).
Segala macam ketakutan jadi menyebabkan timbulnya rasa-rasa
pesimistis dan beriklim “hawa kematian”. Namun dibalik semua ketakutan
tersebut, selalu saja terselip harapan-harapan yang menyenangkan untuk
bisa dengan segera dengan menimang dan membelai bayi kesayangan
yang bakal lahir. Harapan ini menimbulkan rasa-rasa optimistis, dan
beriklim “hawa kehidupan”, spirit dan gairah hidup. Perasaan positif ini
biasanya dilandasi oleh pengetahuan intelektual, bahwa sebenarnya
memang tidak ada bahaya-bahaya rill pada masa kehamilan dan saat
melahirkan bayinya. Dan bahwa dirinya pasti selamat (survive), sekalipun
melalui banyak kesakitan dan deerita lahir dan batin. Karena itu pada calon
ibu-ibu muda itu perlu ditempakan:
1) Kesiapan mental menghadapi tugas menjadi hamil dan melahirkan
bayinya
223 20

2) Tanpa konflik-konflik batin yang serius dan rasa ketakutan


Banyak wanita dan anak gadis pada usia jauh sebelum saat
kedewasaannya dihinggapi rasa takut mati, kalau nantinya dia melahirkan
bayi. Akibatnya, fungsi keibuannya menjadi korban dari ketakutan-
ketakutan yang tidak disadari ini (yaitu akibat dari takut mati sewaktu
melahirkan itu). Mereka kemudian menghindari perkawinan atau
menghindari mempunyai anak (Marmi & Margiyati, 2013).
5. Reaksi Wanita Hipermasculine dalam Menghadapi Kelahiran
Reaksi yang terjadi pada wanita hipermaskulin adalah selalu diikuti
perasaan bahwa dia sangat berharap dan mendambakan anak tetapi ada
konflik batin bahwa dia juga tidak suka mendapatkan keturunan (Suryani
& Widyasih, 2009).
Wanita hipermaskulin memiliki sifat yang aktif dan kejantanan. Pada
wanita ini, sejak awal kehamilan dihadapkan pada perasaan enggan untuk
melahirkan tetapi dia ingin memiliki anak. Dia menganggap anak dapat
menghambat pekerjaan dan karirnya. Kehidupan emosional pada wanita
hipermaskulin selalu diliputi perasaan bahwa dia sangat berharap dan
mendambakan anak tetapi ada konflik batin bahwa dia juga tidak suka
mendapatkan keturunan. Akibatnya dapat timbul ketidakpercayaan diri
pada wanita tersebut, bahkan dapat mengalami gangguan syaraf seperti
sakit kepala hebat pada satu sisi saja (migraine) (Suryani & Widyasih,
2009).
Ketika wanita hipermaskulin mengetahui dirinya hamil, pertama kali
akan timbul konflik batin. Dia merasa seperti bermimpi. Emosi-emosi
negatif akan mengikuti wanita ini. Akibatnya timbul rasa khawatir dan
kecemasan yang berlebihan. Kecemasan-kecemasan yang dirasakan
diantaranya adalah:
a. Bayi yang lahir nanti dapat menghalangi kebahagiannya.
b. Bayi itu akan menghambat karir dan mengurangi eksistensinya dalam
pekerjaan.
21
224

c. Tidak percaya diri apakah dia mampu menjadi ibu dan bisa merawat
bayi.
d. Bakat dan kemampuan ibu dapat mati setelah bayi lahir.
e. Nanti dia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri setelah kelahiran
bayinya.
f. Takut tidak dapat membagi waktu antara anak, karir dan rumah
tangga.
Kecemasan-kecemasan tersebut sebenarnya bersumber dari dirinya
sendiri yang mengalami konflik batin antara dorongan feminitas dan
maskulinitasnya. Di satu sisi dorongan feminitas mendambakan keturunan
sendiri dan secara naluri ingin menjadi ibu tetapi di sisi lain ada dorongan
maskulinitas yang lebih mengutamakan karir, jabatan, prestasi dan
eksistensi diri (Suryani & Widyasih, 2009).
Pada proses persalinan, wanita hipermaskulin akan berjuang
mengatasi kecemasan dan ketakutannya tersebut. Kesakitan fisik yang
dialami saat proses persalinan misal saat timbulnya kontraksi, akan diatasi
wanita hipermaskulin dengan usahanya sendiri. Dia akan menganggap
bahwa kelahiran bayinya adalah sebuah prestasi bagi dirinya sendiri. Tapi
kadangkala usaha tersebut muncul secara ekstrim dan cenderung bersifat
masculine-agresif. Pada keadaan selanjutnya wanita ini bersifat hiper-
pasif, cenderung kurang peduli dan akhirnya membiarkan dokter untuk
melakukan operasi untuk melahirkan bayinya (Kartono & Kartini, 2007).
225

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Umumnya wanita primitif pada saat proses melahirkan memiliki
toleransi lebih besar terhadap penderitaan dan rasa sakit ketika
melahirkan. wanita-wanita modern yang mengalami “proses
degeneratif” diakibatkan oleh kebudayaan yang memberikan banyak
kemudahan dan kemanjaan, yang menyebabkan tubuh dan mentalnya
kurang tertempa/terlatih untuk fungsi reproduksi atau melahirkan anak
bayinya.
2. Emosi pada saat hamil merasa sedih, menangis, panik, sedikit tidak
yakin atau merasa senang luar biasa. Emosi pada saat melahirkan
Perasaan sedih cemas panik perubahan emosi mudah marah yang
dialami ibu setelah melahirkan.
3. Faktor somatik dan psikis Proses Biologis dari fungsi keibuan
Perkembangan psikis dan pengalaman-pengalaman emosional di masa
silam. Faktor somatik dan psikis pada ibu yang ingin melahirkan
sangatlah penting.
4. Kegelisahan dan ketakutan menjelang kelahiran ada 4 yaitu: Takut
mati, Trauma Kelahiran, Perasaan bersalah/berdosa, Ketakutan riil.
5. Reaksi wanita hipermasculine adalah selalu diikuti perasaan bahwa dia
sangat berharap dan mendambakan anak tetapi ada konflik batin
bahwa dia juga tidak suka mendapatkan anak.

B. Saran
Sebaiknya kepada pembaca untuk mencari juga refrensi yang lain,
agar lebih memahami dan mengetahui tentang “Wanita Dewasa Masa
Persalinan”. Penulis juga menyadari bahwa makalah ini belum sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk
perbaikan makalah-makalah selanjutnya.

22
226 23

DAFTAR PUSTAKA

Daulay, N. (2014). Pengantar Psikologi dan Pandangan Al-quran tentang


psikologi . Jakarta: Kencana .
Hidayat, A., & dkk. (2008). Catatan Kuliah Konsep Kebidanan Plus Materi Bidan
Delima . Yogyakarta: Mitra Cendekia Press.
Kartono, & Kartini. (2007). Psikologi Wanita Jilid 2 (Mengenal Wanita Sebagai
Ibu dan Anak). Jakarta: Manjar Maju .
Marmi, & Margiyati. (2013). Pengantar Psikologi Kebidanan . Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Suryani, E., & Widyasih, H. (2009). Psikologi Ibu Dan Anak . Yogyakarta:
Fitramaya.