Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL

RANCANGAN INDUSTRI PANGAN


“KERIPIK PISANG”

Disusun oleh :
Yoga Lahardi D.111.15.0006

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN DAN PETERNAKAN


UNIVERSITAS SEMARANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kondisi ekonomi di jaman sekarang sedang dalam keadaan krisis ekonomi, krisis
ekonomi yang sedang terjadi pada saat ini sangat berpengaruh pada segi kehidupan ekonomi
masyarakat, sehingga masyarakat sangat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,
sehingga mengakibatkan rendahnya kehidupan ekonomi masyarakat dan itu sangat
memprihatinkan. Selain itu dimana produksi perusahaan - perusahaan besar pun ikut
menurun, banyak pula perusahaan - perusahaan yang berhenti berproduksi karena perusahaan
tersebut juga tidak bisa lagi memproduksi dalam jumlah besar dan perusahaan banyak yang
mengalami gulung tikar / kebangkrutan sehingga mengakibatkan penghentian karyawan -
karyawan / yang lazim disebut phk (pemutusan hubungan kerja) sehingga menambah angka
pengangguran dimana - mana semakin banyak dan khususnya di daerah saya sendiri karena
sulitnya untuk mencari pekerjaan lagi.
Mengingat pentingnya perubahan ekonomi masyarakat di jaman sekarang ini,
maka masyaraka di tuntut agar lebih semangat dan berusaha lagi untuk mencapai
suatu pekerjaan dan mengalami perubahan yang lebih baik demi memenuhi kehidupan
sendiri, keluarga, maupun untuk membantu orang lain yang mengalami kesusahan.
Bukan hanya faktor tersebut saja melainkan juga masyarakat sekarang ini harus lebih
kreatif lagi dalam mencari pekerjaan.
Lingkungan saya merupakan daerah yang agraris, masih banyak lahan
pertanian dan lahan pertanian tersebut banyak digunakan untuk menanam pohon
pisang karena kondisi tanah tersebut sangat cocok sekali untuk penanaman pohon
pisang, namun pisang bukanlah kebutuhan pokok di daerah saya maka ketika mereka
panen mereka kebingungan akan menjual pisang ini kemana, saya semakin prihatin
dengan kondisi seperti itu, karena itu merupakan satu - satunya lahan pertanian yang
bisa mereka jadikan sebagai mata pencahariannya.
Dengan melihat kondisi seperti itu saya akan membuat sebuah usaha yang
pastinya dapat membantu kesulitan - kesulitan yang sedang terjadi di daerah saya
yaitu dengan membantu masyarakat yang mempunyai lahan pertanian pohon pisang
dan juga membantu masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan. Saya akan
membuat keripik pisang, dengan seperti itu para petani yang menanam pohon pisang
tidak akan lagi kebingungan untuk menjual hasil panennya dan dengan saya membuat
keripik pisang ini saya juga dapat menarik tenaga kerja sehingga angka pengangguran
dapat berkurang.
Pada saat ini banyak orang yang serba ingin praktis dalam makanan. Maka dari
itu saya akan membuat keripik pisang ini dengan pembuatan yang berbeda agar orang
yang menyukai makanan ini tidak merasa bosan karena banyaknya kalangan
masyarakat yang menyukai cemilan ini, maka saya akan berusaha memberikan
kualitas dan mutu yang baik yang harganya relatif murah bagi semua kalangan
masyarakat.

B. Tujuan

Adapun tujuan saya di dalam membuat usaha (makanan) ini adalah :


1. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
2. Untuk menambah daya tampung tenaga kerja sehingga dapat mengurangi angka
pengangguran.
3. Dapat membantu para petani yang menanam pohon pisang
4. Memasarkan produk hasil olahan kepada masyarakat sekitar
5. Memperkenalkan hasil olahan sendiri agar masyarakat mengetahui bahwa keripik
pisang ini mempunyai nilai cita rasa yang tinggi.

BAB II
ASPEK PEMASARAN
A. Segmentasi, Targeting dan Positioning
a. Segmentasi
Yang menjadi segmen dari usaha keripik pisang ini adalah semua segmen
mulai dari kecil hingga atas
b. Targeting
Yang menjadi target market adalah anak-anak, pemuda dan orang tua
c. Positioning
Saya ingin menciptakan image atau citra perusahaan di benak konsumen
sebagai tempat pengolahan pisang menjadi olahan keripik, berkualitas dan tak
kalah kandungan nutrisinya daripada keripik biasa.

B. Permintaan
a. Perkembangan permintaan saat ini
Dewasa ini, kalau kita cermati, permintaan akan keripik di kalangan anak-
anak, remaja bahkan orang tua cukup. Bukan hanya rasanya saja yang berbeda
namun saya akan membuat keripik pisang ini berbeda dari segi packing, dan cara
pemasarannya juga, yang pasti akan lebih unik dari pada yang lainnya, dengan
seperti itu para konsumen tidak akan mengalami yang namanya kejenuhan dalam
mengkonsumsi makanan ini.
b. Prospek permintaan di masa yang akan datang
Dengan membanjirnya berbagai macam produk keripik yang tidak semua
memiliki kandungan nutrisi yang baik di masyarakat akan menyebabkan kondisi
persaingan produk – produk tersebut akan mengalami kejenuhan seiring dengan
tingginya persaingan pada industri tersebut. Kondisi tersebut akan memunculkan titik
balik dimana akan ditandai dengan berkurangnya permintaan akan produk-produk
tersebut, dan konsumen beralih ke produk lain yang sejenis yang punya kandungan
nutrisi yang baik. Terlebih ketika sekarang sedang ada trend dari masyarakat yang
lebih menyukai produk – produk makanan maupun minuman olahan lokal yang
bernutrisi tinggi, maka kondisi tersebut jelas akan memunculkan peluang bagi kegiatan
bisnis pada bahan baku lokal, tentunya bagi sektor pertanian seperti ubi jalar juga
akan meningkat seiring dengan tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan
mereka.
C. Penawaran
a. Perkembangan penawaran saat ini
Perkembangan penawaran di sektor usaha pengolahan keripik pisang pada
saat ini memang relative masih biasa-biasa saja. Hal tersebut disebabkan karena
sektor usaha ini belum dibidik dan dikelola secara serius di semua kota. Oleh
karena itu, agar usha keripik pisang menjadi lebih baik maka perlu peningkatan
penawaran yang memberikan nilai lebih bagi konsumen.
b. Prospek penawaran di masa yang akan datang
Mengingat adanya peluang yang besar dalam usaha pengolahan keripik
pisang pada masa yang akan datang, maka perlu adanya penawaran produk yang
memberikan nilai lebih dan manfaat bagi konsumen. Penawaran tersebut akan
semakin variatif maupun lebih kompetitif karena sudah ditunjang dengan
perangkat teknologi informasi yang memberikan kemudahan bagi penjual maupun
pembeli dalam melakukan transaksi atau sebatas bertukar informasi. Oleh karena
itu, bagi pelaku usaha di sektor ini harus mampu melakukan penawaran yang
inovatif untuk menarik pasar.

D. Analisis Kelayakan Pemasaran


Dalam melakukan analisis Permintaan, kami menggunakan model matrik
pembobotan berskala 1 – 5.
Keterangan :
Sangat lemah : 1 Kuat :4
Lemah :2 Sangat kuat :5
Sedang :3
No. Item yang dinilai Kriteria Penilaian
Sangat Lemah Sedang Kuat Sangat
Lemah Kuat
1 SDM √
2 Pesaing √
3 Konsumen √
4 Tren/Mode √
5 Armada Pemasaran √
6 Harga √
7 Promosi √
8 Distribusi √
9 Produk √
10 Mutu produk √
11 Peraturan Pemerintah √
12 Lingkungan Bisnis √
13 Ketersediaan bahan baku √
14 Rencana Pemasaran √
15 Penyimpanan produk √
16 Margin laba √
17 Ketersediaan Modal √
18 Pangsa Pasar √
19 Majemen Perusahaan √
20 Teknologi √
Total Bobot 0 2 18 36 20

Interval = Nilai tertinggi dari interval – Nilai terendah dari interval


Jumlah Kelas
=5–1
5
= 0,8

Keterangan untuk mengetahui layak atau tidaknya dari segi pemasaran :

1,00 – 1,80 = Sangat tidak layak


1,81 – 2,60 = Tidak layak
2,61 – 3,40 = Sedang
3,41 – 4,20 = Layak
4,21 – 5,00 = Sangat layak

Untuk mengetahui layak atau tidaknya dari segi pemasaran maka dapat dicari
dengan rumus ;

Kelayakan usaha = Tatal bobot


Jumlah item yang dinilai

= 76/20

= 3,80
Berdasarkan hasil yang diperoleh sebesar 3,80 maka usaha pengolahan keripik pisang
dari sisi pemasaran dikatakan layak karena masuk pada range 3,41 – 4,20.

E. Analisis Persaingan

Untuk melakukan analisis terhadap kondisi persaingan pada usaha pengolahan


keripik pisang, maka kami menggunakan analisis Matrik Persaingan, yaitu dengan
cara:
a. Membandingkan usaha satu dengan usaha lain yang sejenis pada factor
persaingannya, semakin bagus maka semakin tinggi skornya. Skala penilaian
yang digunakan adalah skala 1 – 5 .

b. Dengan membandingkan tingkat kepentingan dari masing – masing factor.


Semakin penting, maka skornya semakin tinggi. Skala penilaian yang digunakan
adalah skala 1 – 5 .

Tabel Matrik Analisis Tingkat Persaingan

Faktor Keripik Biasa Keripik Pabrikan Keripik Home Keripik Pisang


Persainga (kemasan) made
A B A. A B A.B A B A.B A B A.B
n
B
Harga 2 3 6 4 4 16 4 5 20 5 4 20
Kualitas 3 2 6 4 3 12 4 5 16 5 4 20
Promosi 2 2 4 3 3 9 4 4 16 5 5 25
Pelayanan 2 2 4 4 3 12 5 4 20 5 5 25
Lokasi 2 2 4 3 3 9 5 4 16 4 5 20
Nutrisi 2 2 4 3 3 9 4 4 16 5 5 25
26 67 104 135

Berdasarkan tabel matriks analisis tingkat persaingan, maka dapat disimpulkan


bahwa usaha Keripik Pisang menduduki peringkat teratas untuk kekuatan
kompetitifnya, sedangkan pesaing yang paling besar adalah home made. Kelemahan
dari Keripik Pisang pada Lokasi Penjualan yang kurang menguntungkan
dibandingkan dengan lokasi dari penjualan keripik pisang home made. Oleh karena
itu harus ada pembenahan dan evaluasi terhadap lokasi Keripik Pisang agar nantinya
mudah dijangkau oleh konsumen.

F. Program Pemasaran

a. Tingkat pelayanan
Dalam memasarkan es krim kami memberikan layanan yang memuaskan
melalui layanan pemesanan dan delivery.

b. Penetapan harga
Penetapan harga yang akan dilakukan adalah dengan menetapkan harga
berdasarkan tingkat keberlangsungan usaha, dimana kami mencari keuntungan
yang relative sehingga dapat menjalankan usaha secara kontinyu untuk
meningkatkan pangsa pasar.

c. Kegiatan promosi
Beberapa kegiatan promosi yang dilakukan adalah dengan melalui promosi di
media masa cetak, leaflet serta spanduk yang diletakkan di tempat-tempat strategis.
Satu lagi yang promosi kami, yaitu pembelian 5 keripik pisang gratis 1 keripik
pisang selama 1 (satu) bulan pertama.

d. Kegiatan Distribusi
Untuk kegiatan distribusi, kami akan menyiapkan keripik pisang yang telah
diolah untuk sebagian di ambil para penjual kami.

BAB III
ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI

A. Lokasi Usaha
Lokasi usaha yang akan kami dirikan mempunyai pusat pembuatan keripik
pisang sekaligus juga menjadi sebuah outlet kecil di sekitar kawasan Pleburan,
Semarang yang nantinya bisa menjadi lokasi strategis bagi para konsumen yang siap
mencicipi Keripik olahan pisang kami.
Kami juga siap menjual keripik olahan ini dengan gerobak sepeda yang akan
berkeliling di sekitar kawasan Tembalang dan sekitarnya dan satu lagi gerobak sepeda
yang ada di kawasan Tlogosari dan sekitarnya. Adanya gerobak sepeda di berbagai
tempat ini paling tidak bisa memanjakan lidah konsumen yang haus mencicipi keripik
yang penuh kelezatan ini.
Pembukaan 3(tiga) tempat penjualan keripik ini diharapkan bisa menjangkau
semua segmen seperti yang kami rencanakan. Semua bisa merasakannya dengan
harga yang terjangkau bagi masyarakat yang ada tapi juga mempunyai kandungan
nutrisi bagi tubuh.

B. Sumber Bahan Baku


Dalam pembelian bahan baku, kami mendapatkan bahan baku dari pasar
Peterongan di daerah di Semarang. Pisang tersebut kami pesan kepada supplier-
supplier dan harus sesuai standart pembuatan yang kami gunakan. Pembuatan standart
untuk bahan baku harus dilakukan agar hasilnya saat di produksi tetap stabil.
Untuk masalah harga yang naik turun karena musim dan hama kami siasati
dengan sistem memesan bahan baku jauh-jauh hari sebelum panen sesuai standart
pembuatan kita kepada supplier yang bekerja sama dengan kita sebelum harga naik
tajam. Dengan cara itu paling tidak kita mampu menekan harga seminimal mungkin
tapi mempunyai mutu yang baik.
Satu lagi cara pengolahan yang kami punya yaitu dengan cara First In First
Out. Yang dimaksud dengan lagkah ini adalah bahan baku yang pertama kali datang
langsung akan dikeluarkan dan diolah pertama untuk menjadi keripik. Langkah ini
kami ambil untuk menjaga kualitas keripik kami supaya tetap terjaga kesegarannnya.

C. Jenis Teknologi
a. Cara pembuatan keripik pisang :
1. Langkah awal saya memilih pisang yang muda untuk dijadikan produk
2. Kemudian,garam dicampurkan menjdi kedalam wajan atau loyang yang
berisi air bersih, lalu diaduk hingga tercampur merata.
3. Selanjutnya, pisang tersebut dikupas, diiris tipis-tipis lalu dimasukkan ke
dalam loyang yang berisi larutan tadi.
4. Setelah itu, pisang diangkat dari larutan dan dimasukkan kedalam
penggorangan yang berisi minyak goring, tetapi sebelum dimasukkan ke
dalam penggorengan pastikan minyak goreng telah panas.
5. Selama dalam penggorengan, pisang diaduk-aduk agar semuanya merata.
6. Apabila sudah kekuningan, pisang dapat diangkat dari penggorangan dan
tiriskan beberapa menit. Tunggu hingga dingin, kemudian dikemas dalam
kantong plastik dan keripik pisang pun siap untuk dipasarkan.

b. Alat dan bahan yang kami gunakan :


 Alat
- Wajan
- Sendok
- Dandang
- Pisau
- Baskom
- Plastik kemasan
- Tungku

c. Teknologi yang digunakan


 Slicing dengan Pisau atau parutan
 Soaking dengan air garam
 Packing dengan plastic kemasan

D. Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi yang akan kami buat untuk para pelanggan, kami
rencanakan sekitar 400 porsi yang nantinya akan dibagi di tiga tempat yang kita
punya. Daerah cakupan yang cukup lebar memungkinkan suksesnya kapasitas
produksi kami dalam satu hari bisa laris manis terjual.
Untuk pembagian jumlah kuota tiap daerah harus kami sesuaikan dengan
dengan konsumen yang ada di daerah sekitar yang kami layani. Kami lebih memberi
kuota yang lebih pada outlet kecil kami yang ada di Pleburan sebanyak 150 porsi
keripik pisang, sedangkan untuk gerobak sepeda di Tlogosari dan Tembalang
mendapat kuota sebanyak 125 porsi. Langkah ini kami lakukan agar tidak banyak es
krim yang rusak saat jauh dari pusat pembuatan.
Setelah penjualan kami sedikit demi sedikit naik, kami akan meningkatkan
jumlah produksi kami dan akan membuka tempat penjualan baru jika perlu sesuai
dengan kebutuhan konsumen kami yang terus meningkat.

E. Jenis dan Jumlah Investasi


Jenis dan jumlah investasi yang kami rencanakan secara ekonomis :
 Tungku Besar : 3 buah
 Wajan Besar : 3 buah
 Pisau : 4 buah
 Baskom Besar : 4 buah
 Dandang Besar : 4 buah
 Gerobak sepeda : 2 buah
 Sendok : 4 buah
 Timbangan : 3 buah
 Sealer machine : 2 buah

F. Pembuangan Limbah
Pembuangan limbah agar tidak mencemari lingkungan seperti :
1. Kulit pisang
Untuk kulit pisang kami bungkus dalam plastik yang bisa terurai supaya
tidak mencemari ekosistem tanah.
2. Air bekas pencucian pisang
Untuk air bekas pencucian kami siramkan pada tanaman yang tumbuh di
sekitar tempat pembuatan keripik pisang.
Jadi proses pembuatan keripik kami tidak merusak ekosistem sekitar tempat kami
membuat olahan dari pisang ini.
BAB IV
ASPEK ORGANISASI DAN MANAJEMEN

A. Nama Unit Usaha


Unit usaha ini diberi nama Keripik Pisang dikarenakan bergerak dalam
mengembangkan olahan berbentuk keripik dari bahan baku lokal yang mempunyai
kandungan nutrisi baik bagi tubuh dan dibuat dari pisang tanpa memakai zat pewarna.
Nama Organisasi : Outlet Keripik “Keripik Pisang”
Pemilik : Yoga Lahardi
Alamat : Jalan Dr.Muwardi Timur VII/7
Semarang
No Telp : 082235065106

B. Organisasi
a. Badan organisasi
Badan organisasi yang dalam perusahaan kami bersifat kekeluargaan. Tidak
ada jabatan paling tinggi atau rendah. Semua bekerja sama guna memenuhi
permintaan pasar akan keripik yang kaya akan manfaat ini.
Dalam hal ini hanya dibagi : koordinator produksi dan pemasaran,
bendahara, pembuat keripik pisang. Pembagian ini hanya memudahakan kinerja
masing-masing bagian agar hasil yang dicapai bisa maksimal.

b. Pembagian jabatan
 Koordinator, bendahara, pembuat dan penjual keripik pisang.

C. Personalia
a. Kebutuhan tenaga kerja
Dalam menjalankan usaha pengolahan keripik pisang ini kami membutuhkan
kurang lebih 10 orang dengan rincian sebagai berikut :
 Koordinator 1 orang, bendahara 1 orang, pembuat keripik pisang 5 orang,
penjual keripik pisang 3 orang
b. Tingkat balas jasa
Tingkat balas jasa berupa Gaji, Training, Bonus Prestasi dan bingkisan THR
BAB V
ASPEK KEUANGAN

A. Biaya Investasi
a. Investasi harga tetap
Investasi tetap kami mencapai Rp. 10.000.000,-

b. Biaya Pra Operasi


Biaya pra operasi kami pencapai Rp 19.560.000,-

c. Modal Kerja
Modal kerja yang kami gunakan untuk membiayai seluruh aktiva
lancar yang mencapai Rp 1.500.000,-
Total kebutuhan dana Investasi = Rp 31.060.000,-

B. Rencana Pembelanjaan dan Sumber Dana


a. Modal Sendiri
Modal sendiri sebesar Rp 20.000.000,-
b. Pinjaman bank BPR Udan Deres
Pinjaman dari bank Rp 15.000.000,-

C. Rencana Kebutuhan Dana


a. Aktiva tetap
 Freezer, 2 buah Rp 8.000.000,-
 Blender, 4 buah Rp 2.600.000,-
 Mixer, 2 buah Rp 6.000.000,-
 Dandang, 4 buah Rp 800.000,-
 Baskom, 4 buah Rp 120.000,-
 Pisau, 6 buah Rp 180.000,-
 Timbangan, 2 buah Rp 400.000,-
 Sendok, 1 lusin Rp 10.000,-
 Gerobak sepeda Rp 1.000.000,-
 Box Ice Cream Rp 200.000,-
 Kompor Gas Rp 450.000,-
 Ice Maker Rp 4.500.000,-

b. Aktiva Lancar
 Kas Rp 1.000.000,-
 Es Krim Ubi jalar ` Rp 1.125.000,-

D. Proyeksi Keuangan
a. Proyeksi pendapatan
 Pendapatan per hari Rp 1.000.000,-
 Pendapatan per bulan Rp 25.000.000,-
 Pendapatan per tahun Rp 300.000.000,-

b. Proyeksi biaya per bulan Rp 13.264.500,-

c. Proyeksi biaya per tahun


 Pengadaan Bahan Baku Rp 18.000.000,-
 Gaji Karyawan
- 1 koordinator Rp 18.000.000,-
- 1 bendahara Rp 13.200.000,-
- 5 pembuat es krim Rp 42.000.000,-
- 3 penjual es krim Rp 18.000.000,-
Jumlah gaji karyawan Rp 91.200.000,-
 Biaya listrik Rp 6.000.000,-
 PPn Rp 54.000.000,-
 Biaya Gas Rp 1.570.000,-
 Biaya pulsa telepon Rp 1.200.000,-
 Perlengkapan kebersihan Rp 500.000,-
 Perlengkapan kesehatan Rp 1.200.000,-
 Dep gerobak sepeda 5th Rp 160.000,-
 Dep ice maker 10th Rp 810.000,-
 Dep mixer 3th Rp 500.000,-
 Dep blender 3th Rp 300.000,-
 Dep freezer 10th Rp 800.000,-
 Dep timbangan 2th Rp 150.000,-
 Dep kompor 5th Rp 60.000,-
d. Perhitungan proyeksi laba dan rugi
Perhitungan laba/rugi dengan menghitung selisih dari pendapatan dengan
pengeluaran. (per tahun)
Laba/rugi = Pendapatan – Pengeluaran
= Rp 300.000.000 – Rp 175.840.000
= Rp 124.160.000,-
Dengan demikian laba yang diperoleh per tahun dalam penjualan es krim ubi jalar
ini Rp 124.160.000,-
e. Proyeksi kemampuan pelunasan hutang
Hutang akan dilunasi dalam waktu 5 tahun dengan bunga 12% per tahun.

f. Perhitungan kelayakan usaha


1. Payback Periode

PBP = Thn sbLm PBP + ∑ Invest yg tLh d diskon – ∑ bnefit yg diskon sblm PBP
∑benefit pada PBP

= 2 + 3478000 – 19414000
20082300
= 2 + 0,765

= 2 bulan 23 hari

 Jadi Payback Period kami sekitar 2 bulan 23 hari.

2. Gross Benefit Cost (GBC)


= Rp 73.678.850 : Rp 34.778.000

= 2,12

 Berdasarkan hasil perhitungan di atas dari tabel dibawah kami mempunyai


Net B/C > 1 yang berarti proyek kami layak untuk dijalankan.

3. Net Present Value (NPV)

Bula Investas Biaya Total Benefit Net DF Present


n i Operasi Cost Rp(000 Benefit 1,5% Value
Rp(000) Rp(000 Rp(000 ) Rp(000 Rp(000)
) ) )
0 20.000 - - - -20.000 1,000 -20.000
1 15.000 - - - -15.000 0,9852 -14.778
2 - 15.000 15.000 20.000 5000 0,9707 4853,5
3 - 15.500 15.500 21.000 5500 0,9563 5259,65
4 - 16.000 16.000 22.000 6000 0,9422 5653,2
5 - 16.500 16.500 23.000 6500 0,9283 6033,95
6 - 17.000 17.000 24.000 7000 0,9145 6401,5
7 - 17.500 17.500 25.000 7500 0,9010 6757,5
8 - 18.000 18.000 26.000 8000 0,8877 7101,6
9 - 18.500 18.500 27.000 8500 0,8746 7434,1
10 - 19.000 19.000 28.000 9000 0,8617 7755,3
11 - 19.500 19.500 29.000 9500 0,8489 8064,55
12 - 20.000 20.000 30.000 10.000 0,8364 8364

NPV =

= Rp 73.678.850 – 34.788.000

= Rp 38.900.850,-

 NPV kami adalah Rp 38.900.850,-

4. Break Event Point ( BEP )

BEP = Thn sbLm BEP + ∑ TC yg tLh d DF - ∑B yg tLh d DF


Jumlah Benefit pd BEP
Bu Investasi Biaya Total Benefit Net DF B C
lan Rp(000) Operasi Cost Rp(000 Benefit 1,5% Rp(000) Rp(000)
Rp(000) Rp(000) ) Rp(000)
0 20.000 - - - -20.000 1,000 - -20.000
1 15.000 - - - -15.000 0,9852 - -14.778
2 - 15.000 15.000 20.000 5000 0,9707 19.414 14.560,5
3 - 15.500 15.500 21.000 5500 0,9563 20.082,3 14.822,65
4 - 16.000 16.000 22.000 6000 0,9422 20.728,4 15.075,2
5 - 16.500 16.500 23.000 6500 0,9283 21.350,9 15.316,95
6 - 17.000 17.000 24.000 7000 0,9145 21.948 15.546,5
7 - 17.500 17.500 25.000 7500 0,9010 22.525 15.767,5
8 - 18.000 18.000 26.000 8000 0,8877 23.080,2 15.978,6
9 - 18.500 18.500 27.000 8500 0,8746 23.614,2 16.180,1
10 - 19.000 19.000 28.000 9000 0,8617 24.127,6 16.372,3
11 - 19.500 19.500 29.000 9500 0,8489 24618,1 16.553,55
12 - 20.000 20.000 30.000 10.000 0,8364 25.092 16.728
Rp 245.680,7 Rp 207.679,85

BEP = 10 + 207.679,850 – 196.870,600


24618100

= 10 + 0,44

= 10 bulan 14 hari

 Jadi usaha kami memerlukan waktu untuk BEP (Titik Impas) sekitar 10
bulan 14 hari.

PERAMALAN KELAYAKAN USAHA


ES KRIM CHEE BEE

Peramalan yang perusahaan kami gunakan ini dilakukan pada kisaran jangka waktu 5 (lima)
tahun ke depan sejak usaha ini berdiri, yaitu dari tahun 2011 – 2015. Berikut ini tabelnya :

Tahun Permintaan (Y) X X2 X.Y Perkiraan n (Ye)

2011 120.000 -2 4 - 240.000 120.000

2012 130.000 -1 1 - 130.000 130.000

2013 140.000 0 0 0 140.000

2014 150.000 1 1 150.000 150.000

2015 160.000 2 4 320.000 160.000


Jumlah 700.000 0 10 100.000 700.000

Hitungan persamaan Trends konstanta a & b :

∑ Yi 700.000
a = ---------- = = 140.000
n 5

∑ Xi Yi 100.000
b = ------------- = = 10.000
X2 10

Persamaan Trends Ye = 140.000 + 10.000 (x)


Perkiraan Permintaan Es Krim Chee Bee
5 Tahun Mendatang

Permintaan

BAB VI
ASPEK EKONOMI DAN SOSIAL
1. Pengaruh Terhadap Penghasilan Negara
Pendirian usaha pembuatan es krim ubi jalar yang masih merupakan industri
menengah, tentunya akan dikenakan pajak. Sehingga secara langsung usaha
pembuatan es krim ubi jalar ini juga ikut berpartisipasi dalam menyumbangkan devisa
negara sebesar 10% dari hasil penjualan Cherry Bells (Che Be) Es Krim.
2. Penyerapan Tenaga Kerja
Usaha pembuatan es krim ubi jalar ini juga menciptakan lapangan kerja bagi
masyarakat di sekitar lokasi produksi, sehingga bisa mengurangi pengangguran
meskipun jumlahnya hanya sebagian kecil saja sekitar 10 orang. Karena industri ini
tidak hanya memperkerjakn tenaga kerja muda, melainkan ada yang sebagian
merupakan ibu – ibu rumah tangga yang dapat mengisi sebagian waktu luangnya
untuk menambah penghasilan.
3. Dampak terhadap industri lain
1. Bagi usaha sejenis tapi berbeda bahan bakunya tentu akan meningkatkan
persaingan
2. Bagi keadaan ekonomi para petani ubi jalar akan lebih baik karena ubi
jalar yang mereka panen akan lebih banyak dibutuhkan.

BAB VII
KESIMPULAN
A. Kesimpulan

Dari hasil analisis beberapa faktor, ternyata usaha pembuatan es krim ubi jalar
ini mampu memberikan hasil yang baik dan dapat dikatakan layak untuk dijalankan.
Terlebih ketika ada dukungan dari beberapa daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta yang
merupakan sentra ubi jalar, kebijakan pemerintah dalam Perpres no. 22 tahun 2009
dan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi makanan olahan yang
mempunyai nutrisi tinggi guna menjaga kesehatan, serta tingkat persaingan yang
belum terlalu komptetitif, maka kondisi tersebut memberikan peluang yang baik
untuk dibidik dijadikan peluang usaha. Peluang tersebut memberikan rasa optimis
untuk menjalankan usaha ini.

B. Saran

Dalam menjalankan usaha pembuatan es krim ubi jalar, yang perlu untuk
diperhatikan adalah mengenai bagaimana menjaga stabilitas pasokan bahan baku yang
berkualitas dan mencari segmen yang tepat. Penentuan lokasi dan pemasaran juga
menentukan dalam memasarkan es krim ini sehingga lebih banyak manfaat yang
dapat dirasakan oleh masyarakat.