Anda di halaman 1dari 19

PASAR MODAL DI BANGLADESH DAN KEMUNGKINAN

PERMBERLAKUAN PASAR MODAL SYARIAH

OLEH
MUHAMAD MANSUR
1701203010021

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM-BANDA ACEH
TAHUN 2019
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...................................................................................................... i

BAB SATU: PENDAHULUAN .......................................................................


A. Latar Belakang Masalah .........................................................
B. Rumusan Masalah ..................................................................

BAB DUA: PEMBAHASAN ...........................................................................


A. Profil Singkat Republik Islam ..............................................
B. Tokoh PemikBangladesh LKS di Bangladesh........................
C. Islamisasi Ilmu Pengetahuan ..................................................
D. Sistem Keuangan di Bangladesh ............................................
E. Jenis Keuangan Lembaga di Bangladesh ...............................
F. Teori Bank ..............................................................................
a. Riba dan Bunga Bank ......................................................
b. Konsep Perbankan Syariah ..............................................
c. Sistem Perbankan ...........................................................
d. Terintegrasinya LKS sesuai dengan syariah....................
e. Pertumbuhan dan Perkembangan Bank Bangladesh .......
f. Perbandingan Perbankan Bangladesh dan Indonesia ......

BAB TIGA: PENUTUP ...................................................................................


A. Kesimpulan .............................................................................
B. Saran-saran .............................................................................

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Meningkatnya globalisasi dan integrasi ekonomi di antara ekonomi dunia telah

meningkatkan perhatian para investor dan akademisi terhadap masalah hubungan timbal

balik di antara pasar modal di seluruh dunia. Khususnya, minat telah meningkat dengan

meningkatnya aliran modal di seluruh negara yang, pada gilirannya, terutama dijelaskan

oleh langkah-langkah deregulasi pasar, peningkatan teknologi dan inovasi berbagai

produk keuangan. Hubungan yang semakin dekat antara pasar keuangan internasional

dan peningkatan investasi portofolio internasional juga memiliki implikasi penting bagi

kebijakan ekonomi makro. Sebagai contoh, investasi portofolio internasional dapat

mempengaruhi nilai tukar dan dapat menyebabkan apresiasi mata uang lokal. Investasi

portofolio asing dikenakan penarikan tiba-tiba dan karenanya memiliki potensi untuk

mendestabilisasi ekonomi, dengan bukti dari krisis keuangan Meksiko dan Asia Timur

pada 1990-an. Keterkaitan di antara pasar modal internasional juga memiliki implikasi

penting untuk studi model penetapan harga aset internasional, dan kebijakan keuangan

perusahaan multinasional. Tubuh bukti empiris menunjukkan bahwa ada integrasi pasar

modal yang signifikan di antara negara-negara industri utama, sehingga membatasi

manfaat potensial dari diversifikasi internasional (Meric dan Meric, 1989; Ben Zion et

al., 1996). Sebaliknya, hubungan antara pasar negara berkembang dan pasar maju lainnya

tampaknya relatif lemah (Bakaert dan Harvey, 1997). Di bawah segmentasi pasar,

mungkin ada manfaat potensial yang signifikan dari berinvestasi di pasar negara
berkembang, dan banyak penelitian sebenarnya telah meneliti kemungkinan seperti itu

(Errunza, 1994; Ben Zion et al., 1996).

Hubungan antara pasar saham nasional semakin menarik setelah pasar saham Oktober

1987 jatuh secara global. Kecelakaan itu membuat orang menyadari bahwa pasar ekuitas

di seluruh dunia saling berhubungan erat. Cha dan Oh (2000) menyelidiki hubungan

timbal balik antara dua pasar ekuitas terbesar di dunia: Amerika Serikat dan Jepang dan

Hong Kong, Korea, Singapura dan Taiwan. Mereka menemukan bahwa hubungan antara

pasar negara maju dan pasar negara berkembang Asia mulai meningkat setelah jatuhnya

pasar saham pada Oktober 1987, dan telah meningkat secara signifikan sejak terjadinya

krisis keuangan Asia pada Juli 1997. Sheng dan Tu (2000) juga meneliti hubungan antara

pasar saham 12 negara Asia-Pasifik, sebelum dan selama periode krisis keuangan Asia,

dan menemukan bukti yang mendukung keberadaan hubungan kointegrasi antara indeks

saham nasional selama, tetapi tidak sebelumnya, periode krisis keuangan. Meskipun ada

banyak literatur yang membahas masalah integrasi pasar saham di seluruh dunia, ada

sedikit penelitian yang dilakukan tentang masalah ini di pasar saham Bangladesh.

Hambatan utama dalam melakukan penelitian untuk Bangladesh adalah, karena pasar

yang sedang berkembang itu masih dalam tahap bayi dan juga kumpulan data yang

panjang tidak tersedia. Makalah ini menggunakan kumpulan data unik di pasar saham

Bangladesh. Untuk mendapatkan beberapa wawasan tentang pasar negara berkembang,

makalah ini menyelidiki sejauh mana integrasi pasar saham antara Bangladesh dan dua

mitra dagang utamanya, AS dan Jepang. Studi empiris mengungkapkan bahwa pasar

saham AS memengaruhi pasar lain di seluruh dunia (Francis dan Leachman, 1998; Lee

dan Kim, 1994). Meskipun ekonomi terbesar kedua di dunia adalah Jepang, itu tidak
mempengaruhi pasar lain (Francis dan Leachman, 1998). Kami juga memasukkan

wilayah negara terbesar di India untuk menganalisis saling ketergantungan pasar saham.

Kami menguji saling ketergantungan antara harga saham dalam mengevaluasi transmisi

dari guncangan harga saham negara-negara kuat. Sisa dari penelitian ini disusun sebagai

berikut. Bagian selanjutnya menjelaskan data dan sifat integrasinya. Bagian ketiga

berkaitan dengan tes kointegrasi. Dinamika jangka pendek dari sistem dianalisis pada

bagian 4. Akhirnya, bagian 5 menyimpulkan.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah Lembaga Keuangan Syariah di Bangladesh?

2. Apakah Lembaga Keuangan Syariah Terintegrasi Sesuai Dengan Syariah?

3. Bagaimana proses transformasi perbankan di Bangladesh dari konvensional menjadi

Syariah?

4. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah di Bangladesh?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Profil Singkat Bangladesh

Bangladesh memiliki sistem pemerintahan demokrasi parlementer. Presiden ialah kepala

negara, dimana kedudukannya banyak diisi dengan menghadiri upacara-upacara kenegaraan.

Kendali pemerintahan sesungguhnya dipegang Perdana Menteri (PM), yang merupakan

kepala pemerintahan. Presiden dipilih oleh badan legislatif setiap 5 tahun dan memiliki

kekuasaan yang normalnya terbatas yang bertambah selama masa jabatan pemerintahan

pemelihara, terutama dalam mengendalikan transisi menuju pemerintahan baru.

Bangladesh memiliki undang-undang sistem pergantian kekuasaan yang unik; di akhir masa

jabatan sebuah pemerintahan, kekuasaan diserahkan kepada masyarakat sipil selama 3 bulan,

yang menjalankan Pemilu dan menyerahkan kekuasaan untuk memilih DPR. Sistem ini

pertama kali dipraktekkan pada 1991 dan dilembagakan pada 1996 sebagai amandemen ke-

13 dari konstitusi.

Perdana Menteri dipilih melalui upacara pemilihan oleh presiden dan harus menjadi anggota

parlemen, memimpin kepercayaan mayoritas anggota parlemen. Kabinet terdiri atas para

menteri yang dipilih oleh Perdana Menteri dan diangkat oleh presiden. Parlemen satu kamar

ialah Majelis Bangsa 300 anggota atau Jatiyo Sangshad, dipilih oleh rakyat melalui

pemilihan suara terbanyak dari konstitusi wilayah tunggal tunggal untuk menduduki
jabatannya selama 5 tahun. Hak pilih universal berlaku untuk seluruh warganegara saat

usianya menginjak 18 tahun.

Konstitusi Bangladesh ditulis pada 1972 dan telah mengalami 13 amandemen merupakan

dokumen hukum yang terpenting. Hukum lainnya yang berlaku di negara itu dibuat oleh

parlemen yang merupakan turunan dari konstitusi. Badan peradilan tertinggi ialah Mahkamah

Agung, yang ketua dan hakim lainnya diangkat oleh presiden. Peradilan tak terpisah dari

pemerintahan, yang telah banyak menyebabkan banyak kegelisahan di tahun-tahun terkini.

Hukum berdasar pada hukum adat Inggris yang umum, namun hukum privat seperti

pernikahan dan warisan berdasar pada yang termaktub dalam kitab suci, dan sehingga

lingkup agama satu bisa jadi berbeda penegakan hukumnya dengan lingkup agama lainnya.

Dua partai utama di Bangladesh ialah Partai Nasionalis Bangladesh (PNB) dan Liga Awami

Bangladesh (juga diterjemahkan menjadi Liga Rakyat Bangladesh) adalah partai politik

sekular di Bangladesh. Partai ini diketuai oleh Sheikh Hasina, putri dari Sheikh Mujibur

Rahman (Mujib). Partai ini adalah partai terbesar kedua di parlemen Bangladesh setelah

Partai Nasionalis Bangladesh (PNB) bersekutu dengan partai Islam seperti Jamaat-e-Islami

Bangladesh dan Islami Oikya Jot, sedangkan partai Liga Awami Bangladesh bersekutu

dengan partai kiri dan sekuler.

Pemain penting lainnya ialah Partai Jatiya, dikepalai oleh mantan penguasa militer Ershad.

Persaingan Liga Awami-BNP telah memahit dan berpuncak dengan protes, kekerasan, dan

pembunuhan. Politik mahasiswa khususnya kuat di Bangladesh, peninggalam dari masa

gerakan pembebasan. Hampir semua partai memiliki sayap mahasiswa aktif, dan mahasiswa

telah dipilih ke parlemen. 2 partai Islam, Jagrata Muslim Janata Bangladesh (JMJB) dan
Jama’atul Mujahideen Bangladesh (JMB) yang dianggap radikal dilarang pada Februari

2005. Sejak saat itu serangan bom yang terjadi kemudian sering dianggap dilakukan oleh dua

partai yang dilarang ini, dan ratusan anggota partai yang menjadi tersangka telah ditahan oleh

beberapa kali operasi keamanan. Kasus bom bunuh diri yang pertama kali tercatat di

Bangladesh terjadi pada November 2005.

Bangladesh telah terjebak pada krisis politik yang berlangsung hampir dua tahun terakhir.

Ekonomi terganggu, rakyat yang sudah miskin semakin bertambah sengsara. Pemerintahan

dan kelompok oposisi saling serang dan tak mau berkompromi demi masa depan negara.

Hampir semua politisi Bangladesh telah kehilangan kehormatannya di mata warganya. Salah

satu penyebabnya adalah korupsi yang bagaikan wabah di negara miskin itu. Praktik korupsi

dilakukan setiap pemerintahan yang berkuasa dan hampir selalu menjadi kecaman oposisi.

Sebaliknya, ketika oposisi naik ke tampuk kekuasaan, tudingan korupsi juga muncul.

Setidaknya demikian diutarakan tokoh militer Bangladesh, yang juga salah satu komandan

militer saat membebaskan Bangladesh dari Pakistan tahun 1971. “Para politisi telah bekerja

keras dalam 15 tahun terakhir ini soal demokrasi. Namun, hampir semuanya kehilangan

kehormatannya di mata rakyat dan terbukti tidak punya integritas dan harga diri,” kata Letjen

(Purn.) Mir Shawkat Ali.

Karena itu, Shawkat menyarankan agar semua politisi yang ada saat ini berlibur saja dari

dunia politik selama dua tahun, mulai dari sekarang. Hal itu dia nilai perlu agar ada

kesempatan pada bangsa untuk mengembangkan kelembagaan dan menciptakan iklim bagi

terciptanya kondisi politik yang sehat.


Sejak merdeka dari Pakistan tahun 1971, Bangladesh dikuai rezim militer. Namun demokrasi

telah dipulihkan di Bangladesh sejak tahun 1991, setelah Presiden Hossain Mohammad

Ershad terjungkal. Hal itu terjadi setelah dalam waktu yang lama Bangladesh berada dalam

keadaan darurat, yang ditandai dengan serentetan kudeta. Namun tersingkirnya rezim militer

tak membuat Bangladesh tenang, hal itu terjadi karena ada politik balas dendam dari dua

dinasti politik di Bangladesh.

Akar kekacauan politik terletak pada sejarah masa lalu. Pemimpin kemerdekaan Bangladesh,

Sheikh Mujibur Rahman, tewas terbunuh pada 1975. Mujibur adalah bapak dari pemimpin

oposisi Bangladesh sekarang, Sheikh Hasina. Ia adalah pemimpin oposisi yang tergabung

dalam Liga Awami. Hasina pernah menjadi Perdana Menteri Bangladesh. Setelah itu terjadi

pula kudeta yang gagal tahun 1981, namun ditandai dengan tewasnya Jenderal Ziaur Rahman

(Presiden saat itu).

Ziaur adalah suami dari Perdana Menteri Begum Khaleda Zia yang berkuasa saat ini. Zia

kembali menjadi perdana menteri pada 2001, namun sudah mundur pada 22 Oktober 2006

lalu atau tiga bulan menjelang pemilu 22 Januari 2007, sebagaimana dituntut konstitusi

Bangladesh. Zia adalah pemimpin politik Partai Nasionalis Bangladesh (BNP). “Sejak

kematian dua orang itu, para politisi selalu terlibat pertengkaran politik dan perebutan

kekuasaan serta berebut kekayaan. Sementara negara makin terjatuh dalam lingkaran

korupsi,” demikian Shawkat.

Bukan rahasia lagi jika kedua perempuan itu berupaya saling menjatuhkan demi “membalas

dendam” masa lalu. Rumor yang beredar, suami Khaleda Zia, Jenderal Ziaur Rahman,
terlibat dalam pembunuhan ayah Hasina, Sheikh Mujibur Rahman, dalam kudeta berdarah

pada 1975. Kini Bangladesh diharubirukan oleh persaingan antara Liga Awami dan BNP.

“Masa depan negeri ini tergantung pada rakyat”, mengutip ucapan Editor harian bahasa

Inggris New Age Nurul Kabir. Pemilu Bangladesh baru-baru ini (29 Desember 2008) menjadi

penentu perpolitikan negara miskin berpenduduk 140 juta jiwa itu.

Sejak merdeka tahun 1971, ini adalah pemilu pertama yang terlaksana dengan aman tanpa

aksi kekerasan. Partai Liga Awami memenangkan mayoritas kursi di pemilu, mengalahkan

saingan kuatnya partai BNP.

Dari 300 kursi parlemen, Liga Awami menguasai 262 kursi. Masyarakat berharap Liga

awami akan memenuhi janji kampanye mereka yaitu menurunkan harga makanan,

membebaskan negeri itu dari pejabat korup yang merajalela, dan mencegah berkembangnya

aksi kekerasan atas nama agama.

Selama ini tentara berada di belakang pemerintahan sementara, setelah mereka mengambil

alih kekuasaan dua tahun lalu. Negeri itu pun jadi negeri yang terlantar. Kini, setelah

persaingan habis-habisan dalam pemilu antara dua partai utama, Liga Awami akan segera

mengambil alih pemerintahan. Mereka menang mutlak dalam pemilu tersebut. Sanjida,

seorang lulusan berusia 23 tahun. Dia memberikan suaranya untuk Liga Awami. “Sekarang

kami punya pemerintahan yang stabil. Ini bagus untuk kami dan juga bagi perbaikan

ekonomi. Jadi ini hal yang bagus.”

“Ini tidak mungkin karena sekarang mereka tak punya kekuatan untuk melakukan hal itu

karena tak ada yang bakal mendukung mereka. Jadi saya pikir tidak akan mungkin.”
Sambung Sanjida mengenai akan timbulnya serangan balik dari para pendukung oposisi BNP

yang tidak puas dalam hasil Pemilu

Dhaka University adalah barometer bagi perubahan, terutama terkait keinginan untuk

menghentikan kelompok-kelompok yang mendukung terorisme. Para mahasiswa di sini turun

ke jalan November lalu untuk memprotes partai Jamaat e Islami yang menghancurkan patung

penyair sekuler yang sangat dikagumi, Lalon. Partai Jamaat juga melakukan demonstrasi

dengan kekerasan menentang parlemen yang ingin meningkatkan hak-hak perempuan.

Menurut sekretaris jenderal bersama Partai Liga Awami, Syed Ashraful Islam, kesalahan

fatal yang dilakukan BNP sehingga suara untuk mereka anjlok adalah akibat koalisi BNP

dengan partai Jamaat. Dia mengatakan walau 95 persen penduduk Bangladesh adalah

Muslim, para pemilih lebih memilih bentuk negara sekuler.

“Ini adalah pemilu yang menentukan, soal penolakan menyatukan politik dan agama.

Masyarakat menganggap agama tak punya tempat di kancah politik. Di negara ini juga ada

bom bunuh diri yang diledakkan di dalam negeri. Kami tak mau melihat negara melindungi

teroris macam ini di negara kami.”

Syed Ashraful Islam, punya alasan kuat membenci terorisme. Ayahnya dan tiga pemimpin

nasional lainnya dibunuh di penjara tahun 1975 oleh pengikut fanatik agama. Bagi sebagian

besar orang Bangladesh, terutama rakyat miskin, harapan mereka akan masa depan

tergantung pada janji Presiden Liga Awami, Sheik Hasina, yaitu menurunkan harga

makanan. “Para politikus berjanji demi bulan dan bintang. Saya hanya berharap pemerintah

yang baru akan menurunkan harga beras sehingga saya bisa memberi makan keluarga saya.”
Ekonomi

B. Dari sudut pandang ekonomi, pergerakan harga saham dan indeks saham tergantung pada

berbagai faktor. Kurihara (2006) menunjukkan bahwa kinerja perusahaan, dividen, harga

saham negara lain, produk domestik bruto, nilai tukar, suku bunga, perhitungan saat ini,

persediaan uang, lapangan kerja, informasi mereka, dll. Mungkin berdampak pada harga

saham harian. Secara khusus, proses integrasi pasar yang berkelanjutan telah menjadikan

nilai tukar sebagai salah satu penentu utama dari profitabilitas bisnis dan harga ekuitas

(Kim, 2003). Pertanyaan tentang dinamika pasar dan pertukaran harga semakin menjadi

momentum di pasar keuangan global terutama pada saat terjadi krisis keuangan keuangan

pada tahun 1990, pada tahun 1998. pasar modal menjadi saling tergantung sebagai hasil

dari sejumlah alasan termasuk diversifikasi internasional, korelasi pengembalian pasar-

silang, adopsi nilai tukar yang fleksibel,

C. Sistem Keuangan di Bangladesh

Bangladesh merupakan simbol kemiskinan Asia sehingga “pakar kemiskinan” seluruh dunia

merasa “belum pakar” jika belum mempelajari masalah kemiskinan negara ini. Istilah

International Basketplace untuk negara ini sampai-sampai dikenalkan oleh Robert

McNamara, ketika itu Presiden Bank Dunia, untuk menggambarkan contoh kemiskinan yang

sangat parah. Namun pada bulan Juli 2005, menurut Country Brief yang dirilis oleh Bank

Dunia, Bangladesh telah membaik dalam hal pengurangan pertumbuhan penduduk,


pembangunan manusia dan paritas gender di sekolah. Tingkat kemiskinan negara telah

melihat penurunan sebesar 20% sejak awal tahun 1990 an.

Negara Bangladesh memang kian hari mengalami perbaikan ekonomi. Sejak 1975, telah

terjadi peningkatan dua kali lipat dalam PDB per kapita. Selama 2008 resesi ekonomi global,

Bangladesh berhasil tetap stabil. Menurut Biro Statistik Bangladesh (BBS), ada kenaikan $

62 dalam PDB per kapita pada tahun 2009 dari US $ 559 pada akhir tahun 2008. Terdaftar

fiskal 2009 pendapatan per kapita sebesar US $ 621. Sekitar 25% dari GDP negara pada

tahun 2009 berasal dari kiriman uang dari ekspatriat, senilai $ 9.7 miliar dan ekspor garmen

senilai $ 12,3 miliar.

Pada periode terakhir ini, Bangladesh telah mencapai tingkat pertumbuhan 5,7% di tahun

2009. Negara telah mencatatkan ekspansi signifikan dalam kelas menengah. Industri

konsumen telah tumbuh cukup. Peningkatan investasi asing langsung menyoroti laju

pertumbuhan ekonomi Bangladesh. Bahkan pada Januari 2010, perekonomian Bangladesh

telah bangkit setelah resesi global, dan sekarang berada pada posisi yang kuat. Salah satu

jalan keluar bagi Bangladesh untuk mengurangi kemiskinan penduduknya yaitu dengan

microcredit atau microfinance. Bangladesh dianggap sebagai negara tempat kelahiran “ilmu

kredit mikro” (microcredit science) berbentuk Bank Perdesaan, atau dalam bahasa Bengali

Grameen Bank, yang dirintis oleh Profesor Muhammad Yunus. Grameen Bank (GB) kini

menjadi simbol keberhasilan atau kunci sukses program penanggulangan kemiskinan yang

selanjutnya ditiru/direplikasi di berbagai negara termasuk Indonesia yang juga merupakan

negara dunia ketiga.


Bangladesh masih memiliki beberapa hambatan utama untuk pertumbuhan ekonomi nya:

1. Meluasnya korupsi

2. Ketidakstabilan politik (pertarungan politik)

3. Persingan ekonomi dunia

4. kelebihan populasi yang berpengaruh pada meluasnya kemiskinan

5. Lambatnya pelaksanaan reformasi ekonomi

6. Miskin infrastruktur

a. fasilitas pelabuhan yang salah urus

b. pembangkit listrik yang tak mencukupi (krisis energi)

c. pertumbuhan di angkatan buruh yang tidak memiliki ruang kerja yang cukup,

D. Jenis Lembaga Keuangan

Seperti tahun 2011, sekitar 80% dari kekayaan negara diendapkan dengan bank-bank

negara dan sisanya 20% dengan bank swasta. lembaga keuangan Bangladesh adalah:

 Bank

 Keuangan & Kredit Lembaga

 Dana “Gharzolhasaneh” (Dana Pemberian Non-Profit Islam, Replicate Banyak Fungsi

Penyedia Kredit Skala Kecil)

1. Teori Bank

a. Riba dan Bunga Bank

Penghapusan bunga bank dalam sistem perbankan memang menjadi poin penting

dalam menciptakan sistem perbankan syariah. Hal itu telah lama dipikirkan oleh para
ulama fikih maupun ekonom muslim. Meski demikian, terdapat juga beberapa ekonom

muslim yang tidak menganggap bahwa riba yang ada di dalam teks nas sama dengan

praktik bunga yang ada di dalam sistem perbankan. Kelompok yang terakhir ini disebut

dengan kelompok modernis, yang menekankan aspek moral pengharaman riba dan

menomor-duakan “bentuk legal” riba. Sehingga, menurut kelompok ini, jika praktik bunga

perbankan tidak menzalimi maka bukanlah riba. Fazlur Rahman, pemikir asal Pakistan,

berkesimpulan bahwa penghapusan bunga dalam kondisi perkembangan ekonomi dunia

Islam akan menjadi kesalahan utama.

Muhammad Baqir ash-Shadr, salah seorang ahli fikih dan filosof Syiah, menulis

sebuah buku pada tahun 1973 di Irak untuk menyiapkan kerangka hukum bagi sebuah

sistem perbankan syariah yang disebut: Bank Non-Ribawi dalam Islam. Menurut al-Shadr,

kebijakan seorang muslim haruslah (a) melarang setiap keuntungan yang timbul dari riba

dan penimbunan uang, (b) membangun kembali uang dalam peran aslinya sebagai alat

tukar, (c) mengubah bank dari instrumen untuk menumbuhkan modal menjadi alat untuk

memperkaya masyarakat.

Mei Pheng Lee dan Ivan Jeron Detta dalam Islamic Banking & Finance Law

menuliskan bahwa tidak tidak ada negara yang secara penuh menerapkan sistem syariah

karena masih melibatkan bunga dalam transaksi internasionalnya, termasuk Bangladesh.

Pernyataan ini butuh penelitian mendalam mengenai pengenaan bunga dalam transaksi

internasional karena ternyata transaksi tersebut memang disahkan dalam sejumlah hukum

dasar fikih Syiah dan undang-undang Bangladesh. Hal tersebut didasarkan pada aturan

bahwa harta non-muslim yang menjadi musuh kafir (harbî), dalam beberapa kondisi, tidak

terlindungi dalam hukum Islam, begitu juga dengan yang menjadi sekutu kafir harbî. Hal
itu juga yang diterapkan dalam salah satu kaidah fikih Syiah, yakni ilzâm.

b. Konsep Perbankan Syariah

Islamisasi ilmu pengetahuan dalam bidang ekonomi menghasilkan salah satu produk,

yaitu perbankan syariah (islamic banking), yang memusatkan perhatiannya pada

penghapusan bunga sebagai hal penting dalam islamisasi ekonomi. Istilah bank yang

berasal dari kata banque (bahasa Perancis) atau banco (bahasa Italia) memang memiliki

akar sejarahnya di Barat. Ia memiliki arti sebagai "lemari" sebagai tempat menyimpan

harta atau “meja” sebagai tempat menukarkan harta. Banco atau meja untuk penukaran

uang pada abad pertengahan Eropa akan dimusnahkan oleh khalayak ramai jika gagal

menjalankan fungsinya, dan dari sinilah muncul istilah “bangkrut” (bancruptcy). Namun

sebagai sebuah konsep, ia memiliki sejarah panjang yang berasal dari zaman

Babilonia, Yunani, dan Romawi di mana orang- orang ingin menukar hartanya atau

menyimpannya di tempat yang aman.

Disamping menghapuskan riba, perbankan syariah sebagai lembaga yang melayani

jasa keuangan juga menghasilkan keuntungan dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip

bisnis Islam sesuai dengan aturan hukum yang sama seperti yang telah diperintahkan

kepada pribadi muslim, dalam Alquran Allah Swt. berfirman:

Perbankan syariah diharapkan untuk menghasilkan keuntungan tetapi dilarang untuk

menghasilkan keuntungan berlebih dari biaya nasabah mereka. Tujuan perbankan syariah

sebagian besar adalah keuntungan dan moralitas. Keputusan untuk berhubungan dengan

perbankan syariah bukan hanya mencari keuntungan tetapi juga untuk memperoleh rahmat

dari Allah dengan mendukung program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat


muslim. Di dalam Alquran dinyatakan:

Jihad (berjuang karena Allah) bermakna pengorbanan-diri. Karena perbankan syariah

beroperasi tanpa-bunga dan berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

muslim, maka keberadaan mereka juga dalam rangka mengabdi kepada Allah. Perbankan

syariah seharusnya tidak dianggap sebagai lembaga yang semata- mata mengejar

keuntungan tidak juga lembaga derma. Namun, ia adalah kendaraan dalam memajukan

dan mengembangkan masyarakat Islam. Perbankan syariah, meskipun harus membantu

mereka yang membutuhkan, tapi juga tidak boleh melupakan tanggung jawabnya kepada

penyedia dana dan seluruh masyarakat.

Pembahasan sebelumnya menjelaskan beberapa elemen yang terlibat dalam

perbankan Islam:

1. Pelarangan riba dalam semua transaksi;

2. Semua aktivitas bisnis dan investasi dijalankan sesuai dengan ketentuan syariah

(halal);

3. Semua jenis transaksi harus bebas dari unsur gharar (spekulasi yang tidak pasti dan

tidak masuk akal);

4. Setiap bank Islam harus membayar zakat untuk kemudian didistribusikan kepada

kelompok masyarakat yang berhak menerimanya (mustahik);

5. Semua aktivitas harus sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, dengan dewan syariah

khusus bertindak sebagai penyelia dan memberikan nasihat kepada bank mengenai

kepatutan suatu transaksi.

Dalam menerapkan esensi sistem perbankan Islam, bank syariah telah mengembangkan berbagai

instrumen keuangan inovatif dalam batasan sistem hukum Islam. Prinsip-prinsip hukum Islam
yang mengatur perilaku dan isi transaksi komersial di perbankan Islam telah ada sejak zaman

awal Islam di Arab. Para cendekiawan Muslim Abad Pertengahan melakukan upaya rumit untuk

menetapkan prinsip-prinsip dasar keuangan dan perdagangan. Prinsip-prinsip ini seharusnya

mengatur kegiatan ekonomi di negara-negara Muslim saat ini. Yang paling penting dari prinsip-

prinsip ini adalah yang berkaitan dengan ketentuan riba atau bunga, setiap pengembalian yang

telah ditentukan atau tetap dalam transaksi keuangan. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:

"Allah melarang bunga dan mengizinkan perdagangan." Bunga dilarang apakah dibayarkan pada

deposito atau dikumpulkan dengan pinjaman.Sumber dana untuk bank-bank Islami terutama dari

a) modal disetor dan cadangan; dan b) deposito. Modal disetor terdiri dari saham-uang yang

sesuai dengan sifat prinsip-prinsip Musharaka Syariah Islam. Musharaka berarti usaha patungan

dari dua orang atau lebih yang berlangganan dana modal dan memiliki hak untuk berpartisipasi

dalam laba dan manajemen dan memiliki kewajiban untuk menanggung kerugian

proporsional.Deposito dimobilisasi melalui penerapan dua prinsip Syariah berikut ini a) Al-

Wadia, dan b) Mudharabah. Prinsip Al-Wadia menyiratkan bahwa bank menerima dana dengan

usaha untuk mengembalikan setoran atas permintaan dan dengan otorisasi dari deposan untuk

menggunakan dana untuk kepentingan dan atas risiko bank. Setoran rekening giro Bank dikelola

berdasarkan prinsip ini. Dengan membuka akun seperti itu, deposan tidak menyetujui

manajemen (pemungutan suara) apa pun di Bank atau pada dana yang disimpan. Prinsip

Mudaraba menyiratkan bahwa bank menerima simpanan dari deposan dengan wewenang bahwa

Bank akan memiliki hak eksklusif untuk mengelola dana, dan keuntungan yang dihasilkan dari

de-posit tersebut akan dibagikan antara bank dan deposan pada rasio yang disepakati

sebelumnya. dan kerugian, bukan akibat kelalaian bank atau karyawannya, akan ditanggung oleh

deposan. Akun PLS dan berbagai ketentuan deposito dilakukan berdasarkan prinsip
ini.Instrumen pembiayaan komersial didasarkan pada dua prinsip: prinsip untung-rugi (PLS) dan

markup (MUP). Prinsip PLS diterima dengan suara bulat dalam literatur hukum dan ekonomi

Islam sebagai landasan transaksi keuangan. Menurut prinsip PLS, pemodal berhak atas

pengembalian pinjamannya asalkan ia bersedia mengambil bagian dalam risiko investasi dan

menanggung kerugian jika proyek gagal. Dua instrumen berdasarkan prinsip ini telah dirancang

oleh para sarjana hukum dan digunakan oleh bank syariah: Mudarabah dan Musharakah

c. Sistem Perbankan syariah di Banglades

Bank Islam di Bangladesh dilakukan pada tahun 1999 bedampingan dengan bank

konvensional. Dari 39 bank, 5 bank asing Islam, dan 2 cabang bank Islam dari bank

tradisional, Prime Bank Limited yang beroperasi berdasarkan shari’ah. IBBL (Islamic

Bank Bangladesh Ltd) merupakan bank terbesar, dengan saham pasar sebesar 63% dari

total deposito bank Islam. 80-85% depositonya dihimpun melalui sistem bagi hasil

mudarabah. IBBL menawarkan berbagai macam rekening tabungan, rekening umum,

rekening investasi berjangka dan rekening investasi khusus, yang menginvesasikan

dananya dalam suatu proyek dan bank bertindak sebagai agen dengan komisi yang

disepakati. Adapun pembiayaan yang ditawarkan bank adalah murabahah, ba’i muajjal,

dan pembelian sewa.58 Untuk memahami kondisi ekonomi dan proses perubahan sistem

perbankan dari konvensional menjadi syariah di negara Bangladesh, maka kita perlu

mengetahui latar belakang dan sejarah keberadaan beberapa bank asing di Bangladesh.