Anda di halaman 1dari 3

KOMPOS

Setiap individu dapat dipastikan memproduksi sampah setiap hari. TPA


Segawe Tulungagung menerima 8-9 ton sampah setiap harinya yang berasal dari
daerah Tulungagung dan Galek. Purwasasmita dan Mulyadi menyebutkan
produksi sampah setiap orang adalah 1-2 liter perhari, dan 70-80% sampah kota
merupakan sampah organik. Sampah organik merupakan limbah yang berasal dari
sisa makhluk hidup atau alam seperti manusia, hewan dan tumbuhan yang mudah
mengalami pelapukan atau pembusukan seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun
kering dan sebagaimnya.
Sampah organik dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos. Kompos adalah
pupuk alami (organik) yang terbuat dari bahan-bahan hijauan dan bahan organik
lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan misalnya
kotoran ternak atau bila dipandang perlu bisa ditambahkan pupuk buatan pabrik
seperti urea bisa juga tetes tebu dan air lindi (air dengan konsentrasi kandung
anorganik yang tinggi yang terbentuk dalam landfill akibat adanya air hujan yang
masuk ke dalam landfill).
Pengolahan sampah organik menjadi kompos telah banyak dilakukan
dengan berbagai metode. Pengolah sampah yang efektif adalah dari unit terkecil
penghasil sampah, yaitu rumah tangga. Untuk mempercepat pembuatan kompos
diperlukan bioaktivator seperti Effective Microorganisms 4 (EM4) yang
merupakan kultur campuran dalam medium cair yang berwarna coklat
kekuningan, berbau asam dan terdiri dari mikroorganisme yang menguntungan
bagi kesuburan tanah. Adapun jenis mikroorganisme yang berada dalam EM4
antara lain: Lactobacillus sp., Khamir, Actinomycetes, Streptomyces. Selain
memfermentasi bahan organik dalam tanah atau sampah, EM4 juga merangsang
perkembangan mikroorganisme lainnya yang menguntungkan bagi kesuburan
tanah dan bermanfaat bagi tanaman.
EM4 dapat digunakan untuk pengomposan karena mampu mempercepat
proses dekomposisi sampah organik. Setiap bahan organik akan terfermentasi oleh
EM4 pada suhu 40-50˚C . Pada proses fermentasi akan dilepaskan hasil berupa
gula, alkohol, vitamin, asam laktat, asam amino dan senyawa organik lainnyaserta
melarutkan unsur hara yang bersifat stabil dan mudah bereaksi sehingga mudah
diserap oleh tanaman. Proses fermentasi sampah organik tidak melepaskan panas
dan gas yang berbau busuk, sehingga secara naluriah serangga tidak tertarik untuk
berkembang biak disana.
Pembuatan kompos di TPA Segawe Tulungagung menggunakan dua teknik
fermentasi, yaitu fermentasi yang ditempatkan didalam tong plastik dan
fermentasi yang hanya ditutup oleh terpal (penutup plastik).
Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Sampah organik
2. EM4
3. Air lindi
4. Tetes tebu
Alat yang diperlukan:
1. Mesin pencacah
2. Mesin penggiling
3. Tong plastik (teknik 1)
4. Terpal (teknik 2)
Langkah pembuatan kompos:
1. Teknik 1
a. Siapkan sampah organik
b. Masukkan sampah organik ke dalam mesin pencacah kemudian cacah
hingga ukuran sampah menjadi lebih kecil
c. Masukkan sampah yang sudah dicacah ke dalam tong plastik dan
tambahkan EM4, tetes dan air lindi aduk hingga tercampur semua
kemudian tutup tong plastik
d. Diamkan 25-30 hari
e. Setelah 25 hari buka tong dan keluarkan serta keringkan sampah hasil
fermentasi
f. Masukkan sampah hasil fermentasi dalam mesin penggiling agar
sampah tidak menggumpal dan menjadi ukuran yang lebih kecil
g. Jadilah pupuk
2. Teknik 2
a. Siapkan sampah organik
b. Masukkan sampah organik ke dalam mesin pencacah kemudian cacah
hingga ukuran sampah menjadi lebih kecil
c. Tumpuk sampah organik yang telah dicacah tambahkan EM4, tets dan
air lindi aduk hingga tercampur kemudian tutup dengan terpal
d. Diamkan 25-30 hari
e. Setelah 25 hari buka terpal dan keringkan hasil fermentasi sampah
organik
f. Masukkan sampah hasil fermentasi dalam mesin penggiling agar
sampah tidak menggumpal dan menjadi ukuran yang lebih kecil
g. Jadilah pupuk
Pupuk dari TPA Segawe Tulungagung biasanya digunakan untuk pupuk di
taman kota, tanaman yang ada di Alun-Alun Tulungagung, dan di Hutan kota
Tulungagung.

Daftar Pustaka
Ramdhaniati, Susi. 2017. Komposter Mini Membuat Kompos dari Limbah Dapur.
(Online) jabar.libang.pertanian.go.id/index.php/info-teknologi/595-komposter-
mini diakses 25 April 2018