Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH FARMAKOTERAPI IV

“Schistosomiasis”

OLEH :

Kelompok 4

Tamara Akhyada Virdiana Irawan (15160004)

Dhea Fabiani (15160033)

Gracia Asri (15160014)

Vhita Indah Pradipta (17160034)

Dahniar (15160022)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

UNIVERSITAS DHARMA ANDALAS

PADANG

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
penyususn panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada penyususn, sehingga penyusun dapat menyelesaikan
makalah Farmakoterapi mengenai “Shistosomiasis” ini.

Adapun makalah Farmakoterapi tentang “Shistosomiasis” ini telah saya usahakan


semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya tidak lupa menyampaikan banyak
terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak
lepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi
penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan
terbuka kami membuka selebar - lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik
kepada saya sehingga saya dapat memperbaiki makalah Farmakoterapi ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah Farmakoterapi ini kita


semua dapat mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi
tehadap pembaca.

Padang, Januari 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii


DAFTAR ISI............................................................................ Error! Bookmark not defined.
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG .................................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................ 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 4
A. Schistosomiasis ............................................................................................................... 4
B. Morfologi Cacing Schistosoma....................................................................................... 4
C. Perkembangbiakan .......................................................................................................... 7
D. Siklus Hidup.................................................................................................................... 7
E. Gejala dan Manifestasi Klinik ........................................................................................ 9
F. Identifikasi .................................................................................................................... 10
G. Penyebab Penularan ...................................................................................................... 10
H. Penyebaran .................................................................................................................... 11
I. Penatalaksanaan ............................................................................................................ 12
J. Pencegahan dan Penanggulangan Wabah ..................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Parasit adalah organisme yang termasuk dalam kerajaan binatang (animal
kingdom) yang untuk dapat mempertahankan hidupnya membutuhkan makhluk hidup
lain sebagai sumber sumber kehidupannya termasuk sebagai sumber makanannya.
Oleh karena itu parasit sangat merugikan hidup dan bahkan dapat membunuh inang
(hospes) tempatnya menumpang hidup.
Parasitologi kedokteran adalah ilmu kedokteran yang mempelajari tentang
parasit yang hidup pada atau di dalam tubuh manusia atau hewan, baik yang hidup
untuk sementara waktu maupun yang hidup parasitik sepanjang umurnya di dalam
tubuh atau pada permukaan tubuh inang tempatnya mencari makan untuk
mempertahankan hidupnya.
Parasitisme. Parasitisme adalah hubungan timbal balik yang bersifat
sementara atau permanen antara dua organisme hidup di mana salah satu organisme
(disebut parasit) tergantung sepenuh hidupnya pada organisme lainnya (disebut inang
atau hospes). Berdasar pada tempatnya hidup, parasit dapat digolongkan menjadi
ektoparasit (ectoparasite) jika hidup di permukaan tubuh hospes (menimbulkan
infestasi) dan yang hidup di dalam tubuh hospes (menyebabkan infeksi) disebut
endoparasit (endoparasite).
Sesuai dengan cara hidupnya dikenal parasit fakultatif jika parasit selain hidup
parasitik pada tubuh hospes, mampu hidup bebas di luar tubuh hospes, dan disebut
parasit obligat jika parasit ini harus selalu hidup parasitik pada hospes karena selama
hidupnya sangat tergantung pada makanan yang didapatnya dari hospes. Parasit yang
hidup parasitik pada hospes yang sebenarnya bukan hospes alaminya, disebut parasit
insidental.
Berdasar waktunya dikenal parasit temporer jika organisme ini hanya hidup
parasitik pada tubuh hospes pada waktu ia membutuhkan makanan, dan hidup bebas
(free-living) di luar tubuh hospes jika sedang tidak membutuhkan makanan dari
hospes. Pada parasit permanen, seluruh masa hidup parasit berada di dalam tubuh
hospes yang menyediakan makanan selama hidupnya. Di luar tubuh hospes parasit
akan mati.

1
Berdasar sifat hidupnya, parasit disebut patogenik jika parasit yang hidup pada
tubuh hospes menimbulkan kerusakan pada organ atau jaringan tubuh hospes baik
secara mekanis, traumatik, maupun karena racun atau toksin yang dihasilkannya.
Pseudoparasit adalah benda asing yang pada pemeriksaan bentuknya mirip seperti
parasit, sedangkan parasit koprosoik atau spurious parasite adalah spesies asing yang
berada di dalam usus hospes lalu melewati saluran pencernaan tanpa menimbulkan
gejala infeksi pada hospes.
Cacing mempunyai tubuh yang simetrik bilateral dan tersusun dari banyak sel
(multiseluler). Parasit Cacing yang penting bagi manusia terdiri dari dua golongan
besar yaitu filum Platyhelminthes dan filum Nemathelminthes. Platyhelminthes terdiri
dari 2 kelas yang penting, yaitu kelas Cestoidea ( atau Cestoda) dan kelas Trematoda,
sedang kelas Nematoda merupakan kelas yang penting dalam filum Nemathelminthes.
Platyhelminthes mempunyai bentuk tubuh yang pipih seperti daun
(Trematoda) atau berbentuk pita dengan banyak segmen (Cestoda). Sedangkan filum
Nemathelminthes mempunyai bentuk tubuh yang silindris memanjang, tidak terbagi
dalam segmen-segmen.
Daur hidup Trematoda selalu membutuhkan 2 hospes, yaitu hospes definitif
(manusia atau mamalia), dan hospes perantara yang dapat berupa moluska (siput),
ikan, ketam, atau tumbuhan. Infeksi cacing Trematoda dapat terjadi dengan masuknya
stadium infektif yang dapat berupa metaserkaria (infeksi per oral) atau larva serkaria
( menembus kulit).
Schistosoma adalah trematoda yang sistem reproduksinya tidak hermafrodit.
Ukuran cacing jantannya lebih besar tetapi lebih pendek dari pada ukuran cacing
betina. Cacing jantan memiliki canalis gynaecophorus, saluran tempat cacing betina
berada selama cacing jantan dan betina mengadakan hubungan kelamin. Tiga spesies
Schistosoma yang menimbulkan masalah kesehatan pada manusia adalah
Schistosoma japonicum, Schistosoma haematobium dan Schistosoma mansoni.
Daerah-daerah tropis yang basah dan temperaturnya optimal bagi kehidupan
parasit merupakan tempat ideal bagi kehidupan parasit baik yang hidup pada manusia
maupun yang hidup di dalam tubuh hewan. Daerah subtropis yang pendek musim
panasnya, dan tempat-tempat yang beriklim sangat dingin, serta daerah-daerah yang
beriklim sangat panas menghambat perkembangan, kehidupan dan penyebaran
parasit.

2
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Schistosomiasis?
2. Apa penyebab dari Schistosomiasis?
3. Bagimana morfologi dari cacing Schistosoma?
4. Bagaimana perkembangbiakan Schistosomiasis?
5. Bagamana siklus hidup dari Schistosomiasis?
6. Apa saja gejala dan manifestasi klinik dari Schistosomiasis?
7. Bagaimana cara mengidentifikasi Schistosomiasis?
8. Apa penyebab hospes dapat terinfeksi Schistosomiasis?
9. Bagaimana penyebaran Schistosomiasis?
10. Bagaimana penatalaksanaan dari Schistosomiasis?
11. Bagaimana cara pencegahan dan penggulangan wabah?

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Schistosomiasis
Shistosomiasis adalah penyakit yang disebakan cacing parasit yang hidup di
air di daerah subtropis dan tropis. Schistosomiasis juga dikenal sebagai bilharzia atau
demam siput. Penyakit ini menyerang usus dan sistem urinasi terlebih dahulu, namun
karena cacing tinggal didalam darah, Schistosomiasis dapat menyerang sistemlainnya.
Schistosomiasis disebabkn oleh trematoda darah digenetik yang sistem
reproduksinya tidak hermafrodit. Tiga spesies utama yang menginfeksi manusia
adalah Schistosoma haematobium, S.Japonicum dan S.Mansoni.

B. Morfologi Cacing Schistosoma

Gambar 1. Schistosoma jantan dan betina

Cacing dewasa. Saluran pencernaan cacing ini mula-mula bercabang menjadi


dua sekum, kemudian di daerah posterior tubuh, kedua cabang sekum akan kembali
menjadi satu saluran buntu.
Sistem ekskresi. Cacing Schistosoma mempunyai sistem ekskresi berupa sel
api (flame cell) beserta dengan saluran-salurannya.

4
Sistem reproduksi. Cacing jantan mempunyai testis berjumlah antara 4 sampai
9 buah yang terletak di bagian dorsal di belakang ventral sucker. Cacing jantan tidak
memiliki alat kopulasi. Di dalam uterus cacing betina tampak berisi beberapa buah
telur yang mempunyai spina atau duri yang khas bentuknya.

Gambar 2. Morfologi Schistosoma


(a) jantan (b) betina
1. oral sucker 2. ventral sucker 3. genital pore 4. testis 5. uterus 6. tuberkel 7.
gynaecophoric canal 8. shell glands 9. ovarium 10.vitelline duct 11. vitelaria

Telur. Schistosoma berbeda dengan cacing Trematoda lainnya, telurnya tidak


mempunyai operkulum, tetapi memiliki spina yang khas bentuknya untuk masing-
masing spesies. Telur cacing pada waktu dikeluarkan dari tubuh induknya sudah
berisi embrio yang sempurna berupa larva stadium pertama (mirasidium) yang
berambut getar (cilia).

5
Gambar 3. Diferensiasi telur Schistosoma
1. S. haematobium (spina terminal) 2. S. mansoni (spina lateral)
3. S. japonicum (lateral knob )

Serkaria. Larva cacing Schistosoma mempunyai ekor yang bercabang dua,


merupakan stadium infektif yang mampu menembus kulit hospes definitif.
Spesies cacing Schistosoma dapat dibedakan morfologinya dengan
memperhatikan ukuran cacing, gambaran tuberkel kulit, letak serta jumlah testis dan
ovarium, serta bentuk dan lokasi spina telur cacing. Lihat tabel di bawah ini.

Tabel 1. Perbedaan anatomi dan morfologi cacing Schistosoma

S. haematobium S.japonicum S.mansoni


Perbedaan
Ukuran cacing Jantan:10-15 mm Jantan: 12-20 mm Jantan: 6,4-12 mm
Betina: 20 mm Betina: 26 mm Betina: 7,2-17 mm

Tuberkel kulit Halus Halus Kasar

Testis 4-5 buah 6-8 buah 8-9 buah

Ovarium Di pertengahan Di pertengahan Di pertengahan


tubuh bagian tubuh tubuh bagian
posterior anterior
Spina telur Terminal Berupa lateral Lateral
knob

6
C. Perkembangbiakan
Cacing Schistosoma mempunyai tempat hidup di dalam vena-vena yang
berbeda, sehingga dalam pemeriksaan parasitologis telur cacing dapat ditemukan di
dalam urine, atau pada tinja penderita.
Tempat hidup cacing Schistosoma japonicum adalah di dalam vena porta
intrahepatik, vena mesenterika ileosekal dan didalam pleksus vena hemoroidalis,
sehingga telurnya ditemukan di dalam tinja atau ditemukan dengan melakukan biopsi
hati dan biopsi rektum. Cacing Schistosoma haematobium hidup di dalam vena-vena
panggul, kandung kemih, prostat dan uterus sehingga telurnya dapat ditemukan di
dalam urine penderita atau dari bahan biopsi mukosa kandung kemih. Schistosoma
mansoni telurnya dapat ditemukan di dalam tinja penderita atau dari biopsi rektum
karena cacing dewasa hidup di dalam vena mesenterika rektosigmoid dan di cabang
intrahepatik vena porta.

D. Siklus Hidup

Gambar 4. Siklus Hidup Schistosoma

7
Untuk dapat melanjutkan daur hidupnya telur Schistosoma yang keluar dari
tubuh hospes definitif bersama tinja atau urine harus masuk ke dalam air agar dapat
menetas menjadi larva mirasidium. Mirasidium lalu berenang mencari hospes
perantara, yaitu siput yang menjadi tempat mirasidium berkembang menjadi
sporokista, dan akhirnya tumbuh menjadi serkaria yang infektif.
Manusia terinfeksi cacing ini dengan masuknya serkaria secara aktif
menembus kulit yang tak terlindung. Dengan melalui aliran darah aferen, serkaria
mencapai jantung dan paru, lalu kembali ke jantung kiri, masuk ke sistem sirkulasi
sistemik dan ke cabang-cabang vena porta, akhirnya sampai di hati. Parasit tumbuh
menjadi cacing dewasa di dalam jaringan hati. Setelah cacing menjadi dewasa, cacing
kembali ke vena porta, vena usus, atau vena kandung kemih sesuai dengan tempat
hidup masing-masing spesies cacing.
Masa prepaten dalam pertumbuhan cacing Schistosoma berbeda waktunya.
Periode prepaten pada Schistosoma haematobium lamanya adalah 10-12 minggu,
Schistosoma mansoni 7-8 minggu, dan pada Schistosoma japonicum adalah 5-6
minggu.
Cacing Schistosoma yang hidup pada manusia dapat mencapai unur 30 tahun.
Pada daur hidup Schistosoma manusia adalah hospes definitif utama, sedangkan
berbagai hewan mamalia yang juga dapat bertindak sebagai hospes definitif
merupakan reservoir host.

Gambar 5. Daur Hidup Schistosoma

8
Hospes definitif. Schistosoma termasuk parasit zoonosis, karena selain
manusia berbagai jenis hewan juga dapat bertindak selaku hospes definitif. Primata,
yaitu kera dan baboon dapat menjadi hospes definitif Schistosoma haematobium,
sedangkan kera, baboon, opossum dan rodensia merupakan hospes definitif
Schistosoma mansoni. Hewan-hewan domestik lain banyak yang dapat bertindak
selaku hospes definitif Schistosoma japonicum , antara lain adalah anjing, kucing,
sapi, kerbau, kuda, babi, rusa dan tikus.
Hospes perantara. Banyak genus siput yang dapat menjadi hospes perantara
cacing Schistosoma, yaitu Bulinus dan Physopsis (hospes perantara Schistosoma
haematobium), siput Oncomelania hupensis merupakan hospes perantara Schistosoma
japonicum, sedangkan siput Biomphalaria dan Australorbis merupakan hospes
perantara Schistosoma mansoni.

Gambar 6. Siput hospes perantara cacing Schistosoma.


(a). Biomphalaria (b). Oncomelania

E. Gejala dan Manifestasi Klinik


Semua stadium cacing Schistosoma baik cacing dewasa, serkaria maupun telur
cacing dapat menyebabkan perubahan patologik pada jaringan tubuh
penderita.Terdapat tiga tahapan klinis pada skistosomiasis, yaitu masa inkubasi
biologis, tahap stadium akut, dan tahap stadiun kronis.
 Masa inkubasi biologis. Waktu antara saat masuknya serkaria menembus kulit
sampai saat terjadinya cacing dewasa terjadi kelainan kulit dan gatal-gatal, disertai
keradangan akut pada hati.

9
 Tahap stadium akut. Pada tahapan yang terjadi akibat terbentuknya telur cacing,
terjadi kerusakan jaringan dan perdarahan, pembentukan pseudoabses,
pseudotuberkel dan pembentukan jaringan ikat.
 Tahap stadium kronik. Pada tahap stadium kronik terjadi proses-proses
penyembuhan jaringan dan pembentukan jaringan fibrosis disertai pengecilan hati
akibat telah terjadinya sirosis, terjadi pembesaran limpa, asites dan ikterus. Dapat
juga terjadi hipertensi portal. Pada stadium ini dapat terjadi berbagai gejala dan
masalah, tergantung pada area yang persis terinfeksi, meliputi :
a. Pada sistem pencernaan : terjadi anemia, sakit dan bengkak pada perut,
diare serta darah pada feses.
b. Sistem urinasi : infeksi pada kandung kemih (cystisis), sakit saat buang air
kecil dan darah pada urin.
c. Jantung da paru-paru : batuk yang tidak kunjung hilang, napas berbunyi,
sesak napas, dan batuk darah.
d. Sistem saraf atau otak : menyebabkan kejang, sakit kepala, lemah, pusing
serta mati rasa pada kaki.

F. Identifikasi
skistosomiasis ditentukan jika ditemukan telur Schistosoma yang spesifik
bentuknya bagi masing-masing spesies pada tinja atau urine penderita, pada hasil
biopsi kandung kemih atau biopsi rektum. Telur Schistosoma hematobium dapat
ditemukan di dalam urine penderita atau pasa hasil biopsi kandung kamih sedangkan
telur Schistosoma japonicum dan telur Schistosoma mansoni dapat ditemukan di
dalam tinja atau pada hasil biopsi rektum. Telur Schistosoma japonicum dapat juga
ditemukan melalui biopsi jaringan hati penderita.

G. Penyebab Penularan
Cacing penyebab schistosomiasis hidup di air tawar seperti kolam, danau,
sungai, waduk, dan kanal. Air untuk mandi yang berasal dari sumber yang tidak
disaring langsung dari danau atau sungai juga dapat menyebabkan infeksi, namun
cacing tidak tinggal diair laut, kolom yang mengandung kloron atau sumber air yang

10
dikelola dengan baik. Seseorang dapat terinfeksi jika memiliki kontak dengan air yang
terkontaminasi, saat mengayuh kapal, berenang atau mencuci dan cacing kecil
memasuki kulit. Yang rentan terinfeksi adalah anak-anak.

H. Penyebaran

Gambar 7. Sebaran Schistosomiasis di dunia

Daerah sebaran skistosomiasis sesuai dengan sebaran populasi siput yang


menjadi hospes perantara masing-masing spesies cacing. Schistosoma haematobium
dilaporkan dari Afrika dan negara-negara Timur Tengah, sedangkan Schistosoma
japonicum endemis di Asia Timur dan Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Schistosoma mansoni banyak dijumpai di Afrika, Amerika Tengah dan Amerika
Selatan.
Schistosomiasis japonicum di Indonesia dilaporkan endemis di Sulawesi
Tengah dengan prevalensi antara 12% sampai dengan 74%. Sesudah dilakukan
pemberantasan sejak tahun 1995 melalui pengobatan penderita dan pemberantasan
siput penularnya, prevalensi schistosomiasis menurun pada tahun 2004 menjadi
kurang dari 1%.

11
I. Penatalaksanaan
Obat pilihan untuk mengobati skistosomiasis adalah Prazikuantel.

Prazikuantel
Indikasi :
antelmetik bers[ektrum luas dan efektif pada cestoda dan trematoda pada
hewan dan manusia.
Dosis :
 Pada pengobatan skistosomiasis mansoni dan haematobium, prazikuantel
diberikan dengan takaran 40 mg per kg berat badan dalam 2 kali pemberian
selama 1 hari. Sebagai obat pengganti untuk S.mansoni dapat diberikan
Oxamniquin dengan dosis 15 mg/kg dengan satu kali pemberian (dewasa),
sedangkan pada anak diberikan dengan dosis 20 mg/kg/hari terbagi dalam 2
dosis , selama 1 hari.
 Untuk mengobati skistosomiasis japonicum Prazikuantel diberikan dengan
takaran 60 mg per kg berat badan dalam 3 kali pemberian selama 1 hari.
Mekanisme Kerja :
Kerjanya cepat mealui 2 cara
 Pada kadar efektif terendah menimbulkan peningkatan aktivitas otot cacing,
karena hilangnya Ca2+ intrasel sehingga timbul kontraksi dan paralisis spastik
yang sifatnya reversibel, yang mungkin mengakibatkan terlepasnya cacing
dari tempatnya yang normal pada hospes. Misalnya terlepasnya S.manosi dari
vena mensentrika dan masuk kehati.
 Pada dosis terapi yang lebih tinggi prazikuantel mengakibatkan vakuolisasi
dan vesikulasi tegumen cacing, sehingga isi cacing keluar, mekanisme
pertahanan tubuh hospes dipacu dan terjadi kehancuran cacing.
Farmakokinetik Obat :
 Absorpsi, pada pemberian oral absorpsinya baik. Kadar maksimal dalam
darah terjadi dalam waktu 1-3 jam.
 Metabolisme, berlangsung cepat dihati melalui proses hidroksilasi dan
konyugasi sehingga terbentuk produk yang efek antelmitiknya kurang aktif.
Waktu paruh obat 0,8-1,5 jam.

12
 Ekskresi, sebagian besar melalui urin dan sisanya melalui empedu. Hanya
sedikit obat yang diekskresi dalam bentuk utuh.
Efek Samping :
Timbul dalam beberapa jam setelah pemberian obat dan akan bertahan selama
beberapa jam sampai 1 hari. Yang paling sering adalah sakit kepala, pusing,
mengantuk dan lelah. Efek lainnya adalah mual, muntah, nyeri perut, diare, pruritus,
urtikaria, nyeri sendi dan otot, serta peningkatan enzim hati selintas.
Kontra Indikasi :
 Ocular cysticercosis sebab kehancuran parasit dimata dapat menimbulkan
cacat permanen.
 Anak umur < 4 tahun.
 Wanita hamil dan menyususi
 Pasien dengan gangguan fungsi hati (memerlukan penyesuaian dosis).
Interaksi :
Kortikosteroid dapat menurunkan kadar prazikuanter pada plasma hingga
50%.

Pengobatan skistosomiasis dapat juga dilakukan dengan memberikan


Niridazole. Obat-obat lain, misalnya tartar emetik, antimon, dimerkaptosuksinat,
ambilhar dan fuadin, hasilnya tidak sebaik pengobatan menggunakan prazikuantel dan
niridazole.

J. Pencegahan dan Penanggulangan Wabah


Untuk mencegah terjadinya penyebaran skistosomiasis harus dilakukan
pengobatan masal pada seluruh penduduk daerah endemis. Selain itu harus dilakukan
juga perbaikan lingkungan hidup untuk mencegah pencemaran perairan oleh tinja,
serta pemberantasan siput yang menjadi hospes perantara cacing Schistosoma.

13
DAFTAR PUSTAKA

Helbig, Sina, et all. Schistosomiasis (Bilharzia, Snail fever)Trematode(Fluke). First author :


Corresponding author.
Mtethiwa, Austin. 2015. Prevalence and Intensity of Schistosomiasis in Communities around
Water Reservoirs in Malawi. “Journal of Tropical Diseases”. 4 (1). 1-6. 2329-891X
JTD.
Soedarto & Park. 2011. BUKU AJAR PARASITOLOGI KEDOKTERAN. Sagung Seto. ISBN
: 978-602-8674-41-6
World Health Organozation. 2011. Distribution Of Schistosomiasis.Map Production :
Control of Neglected.

14