Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN ELECTIVE STUDY TAHAP I

HUBUNGAN ANTARA PENINGKATAN NAFSU


MAKAN SEBAGAI SALAH SATU GEJALA PRE-
MENSTRUASI SYNDROM DENGAN KENAIKAN
BERAT BADAN MAHASISWI FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

AYUTI BULAAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017
LAPORAN ELECTIVE STUDY TAHAP I

HUBUNGAN ANTARA PENINGKATAN NAFSU


MAKAN SEBAGAI SALAH SATU GEJALA PRE-
MENSTRUASI SYNDROM DENGAN KENAIKAN
BERAT BADAN MAHASISWI FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

AYUTI BULAAN
1602511132

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017
KATA PENGANTAR

Terima kasih penulis panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa sehingga
karya yang berjudul Hubungan Antara Peningkatan Nafsu Makan Sebagai Salah
Satu Gejala Pre-Menstruasi Syndrom Dengan Kenaikan Berat Badan Mahasiswi
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dapat selesai tepat pada waktunya.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas dalam blok “Elective Study” pada
semester II. Selain itu, pembuatan karya ini juga bertujuan menambah
pengalaman dan pengetahuan penulis mengenai hubungan antara gejala PMS
dengan kenaikan berat badan. Untuk itu, pada kesempatan kali ini, penulis juga
tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan serta dukungan yang
telah diberikan, yaitu kepada:
1. dr. Putu AyuAsri Damayanti, M.Kes selaku ketua blok.
2. Prof. dr. I Dewa Putu Sutjana, M.Erg, PFK, Sp.Erg, AIFO selaku dosen
pembimbing 1.
3. dr. I Made Krisna Dinata, M.Erg selaku dosen pembimbing 2.
4. dr. I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti, M.Biomed. selaku dosen penguji.
5. Pihak-pihak lain yang telah memberikan bantuan maupun dukungan secara
moriil dan materiil.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna. Oleh karenaitu,
penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
membenahi karya berikutnya. Akhir kata, penulis mengharapkan semoga tulisan
ini dapat berguna bagi pembaca dan dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh
pembaca.

Denpasar, 6 Juni 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR...................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................... iii

DAFTAR TABEL.......................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR......................................................................................... v

BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 4
1.3 Tujuan Penelitian................................................................................. 4
1.4 Manfaat Penelitian............................................................................... 4
1.4.1 Manfaat bagi Dunia Pendidikan................................................. 4
1.4.2 Manfaat bagi Masyarakat........................................................... 4
1.4.3 Manfaat bagi Penulis.................................................................. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 6

2.1 Menstruasi............................................................................................ 6
2.1.1 Siklus Mens................................................................................ 6
2.1.2 Premenstruasi Sindrom (PMS) .................................................. 8
2.1.3 Gejalah PMS............................................................................. 9
2.2 Mekanisme PMS dalam Peningkatan Nafsu Makan............................ 9
2.3 Peningkatan Nafsu Makan Memicu Kenaikan Berat Badan............... 12
2.3.1 Kenaikan Berat Badan.............................................................. 13
2.3.2 Dampak Kelebihan Berat Badan.............................................. 15

BAB III PENUTUP.......................................................................................... 17

3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 19

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Keterangan garfik indeks massa tubuh CDC 2000..............................14

Tabel 2.2 Klasifikasi Berat Badan Lebih dan Obesitas Pada Orang Dewasa
Berdasarkan IMT dan Lingkar Perut Menurut Kriteria Asia
Pasifik.....................................................................................................................14

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Fase folikular, fase luteal, dan menstruasi pada setiap siklus bulanan
perempuan...........................................................................................................(08)
Gambar 2.2 Sintesis hormone-hormon utama perempuan.................................(11)
Gambar 2.3 Grafik indeks massa tubuh CDC 2000...........................................(13)

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dewasa ini banyak orang mengeluh akibat kenaikan berat badan yang

tidak terkontrol. Keluhan tersebut paling banyak terdengar dari kalangan

perempuan baik yang masih remaja maupun yang sudah dewasa dan tentu saja

kebanyakan juga muncul dari kalangan mahasiswi. Mahasiswi khususnya yang

berkuliah di Fakultas Kedokteran pada saat pre-klinik tentu saja memiliki jadwal

kuliah yang sangat padat dengan tuntutan kompetensi yang sangat tinggi. Oleh

karena itu kebanyakan mahasiswi fakultas kedokteran menghabiskan banyak

waktunya dengan duduk membaca, mendengarkan dan sedikit melakukan

aktivitas fisik seperti berolahraga. Kondisi tersebut sangat mendukung

kemungkinan peningkatan berat badan apalagi jika mahasiswi tidak menjaga pola

makan yang baik. Peningkatan berat badan yang secara terus menerus dan tidak

terkontrol dapat menjadi masalah besar yang bisa mengakibatkan kegemukan atau

obesitas pada setiap orang tidak terkecuali pada mahasiswa kedokteran.

Obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan

yang menimbulkan risiko terhadap kesehatan (WHO,2014). Obesitas adalah salah

satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di dunia. Bukan hanya menjadi

masalah medis tapi juga masalah filosofis, ekologis, ekonomi, sosiokultural, dan

psikologis sebagai konsekuensi yang besar dari definisi nilai modern masyarakat

untuk 'menerima lebih banyak dan lebih banyak' (Maurer,2016). Dapat di artikan

bahwa masyarakat saat ini memiliki tingkat kepuasan yang tidak terbatas dengan

berbagai kebutuhan termasuk dalam hal kebiasaan makan yang menginginkan

1
2

asupan makanan lebih dan lebih lagi sehingga mengakibatkan obesitas. Dalam

sepuluh tahun terakhir, obesitas menjadi masalah global (WHO, 2014).

Prevalensi obesitas didunia telah meningkat hampir dua kali lipat antara

tahun 1980 dan 2008. Menurut data World Health Organization (WHO) , pada

tahun 2014 terdapat lebih dari 1,9 milyar orang dewasa diatas 18 tahun

mengalami kelebihan berat badan dan lebih dari 600 juta orang mengalami

obesitas. Pada tahun yang sama di dapatkan data sekitar 39% laki-laki and 40%

perempuan umur 18+ mengalami kelebihan berat badan/overweight (BMI ≥ 25

kg/m2) and 11% dari laki-laki dan 15% dari perempuan mengalami obesitas

(BMI ≥30 kg/m2). Pada penelitian yang dilakukan di SMA Kristen Tumou Tou

kota Bitung di dapatkan juga prevalensi obesitas pada remaja adalah sebesar

12,40% yang terdiri dari 2,91% remaja laki-laki dan 9,5% remaja perempuan

(Tuerah dan manampiring, 2014). Pada penelitian nugroho dan rekannya pada

tahun 2016 juga menyebutkan bahwa Angka kelebihan berat badan di Indonesia

pada perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki yaitu 26,9% pada perempuan dan

16,3% pada laki-laki (Nugroho et al, 2016).

Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa perempuan memiliki persentase

yang lebih tinggi terhadap kenaikan berat badan dibanding laki-laki. Salah satu

penyebab kenaikan berat badan yang tidak terhindarkan yaitu peningkatan nafsu

makan secara tidak terkontrol sehingga mengakibatkan suatu kebiasaan yang

berdampak pada masalah kesehatan. Dalam korelasinya dengan persentase

kenaikan berat badan yang lebih tinggi pada wanita para peneliti mengungkapkan

bahwa peningkatan nafsu makan pada wanita merupakan salah satu gejala dari

Pre-menstruasi Syndrom (PMS) (Putri dan margawati, 2013).


3

PMS adalah gangguan yang umum terjadi pada pertengahan siklus

menstruasi wanita, ditandai dengan gejala fisik, emosional, dan perilaku yang

konsisten terjadi sebelum masa menstruasi (Farida, 2011;Hapsari,2016). PMS

terjadi beberapa hari sampai kurang lebih satu minggu sebelum menstruasi dan

akan menghilang setelah menstruasi berakhir.

Prevalensi kejadian PMS cukup tinggi yaitu hampir 75% wanita usia subur

di seluruh dunia mengalami PMS. Di Amerika kejadiannya mencapai 70-90%,

Swedia sekitar 61-85%, Maroko 51,2%, Australia 85%, Taiwan 73%, dan Jepang

mencapai 95% yang mengalami PMS (Wahyuningsih, 2016). Negara Indonesia

sendiri angka kejadiannya sekitar 70-90% (Ernawati, 2012).

Peningkatan nafsu makan sebagai salah satu gejala PMS memiliki

hubungan yang erat dengan kenaikan berat badan dikarenakan pada penelitian

sebelumnya dikatakan bahwa pesta makan dan emotional eating mencapai

puncaknya selama fase midluteal siklus menstruasi dan diperkirakan karena

adanya perubahan estrogen dan progesteron dalam tubuh (Klump et al, 2008;

Edler et al, 2007). Pada sampel wanita terbesar yang diteliti hingga saat ini,

Klump dan rekan pada tahun 2013 menemukan interaksi yang signifikan antara

estrogen dan progesteron, di mana emotional eating paling tinggi terjadi bila

kadar estradiol dan progesteron meningkat. Progesteron mencapai puncak pada

fase midluteal dan estrogen juga menunjukkan puncak sekunder (Klump et al,

2013).

Semua wanita yang telah memasuki masa aktif reproduksi normalnya akan

mengalami silkus bulanan yang disebut dengan menstruasi. Oleh karena itu

wanita lebih beresiko terhadap Peningkatan nafsu makan yang akan


4

menyebabkan peningkatan berat badan dan pada akhirnya menyebabkan berbagai

masalah kesehatan seperti obesitas, dan komplikasi penyakit lainnya seperti

diabetes melitus, penyakit jantung, gangguan pernapasan dan implikasi penyakit

lainnya.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana hubungan antara peningkatan nafsu makan sebagai salah satu gejala

PMS dengan kenaikan berat badan?

1.3. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara PMS dengan kebiasaan makan

yang dapat meningkatkan berat badan.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat bagi Dunia Pendidikan

Hasil penelitian dapat menambah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang faal

yang dapat dijadikan acuan dalam penelitian selanjutnya.

1.4.2 Manfaat bagi Masyarakat

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman khususnya bagi setiap

wanita yang telah aktif reproduksi tentang gejala PMS dan hubungannya dengan

kenikan berat badan.

1.4.3 Manfaat bagi Penulis


5

Menambah wawasan penulis tentang prevalensi dan bagaimana hubungan antara

PMS dengan kebiasaan makan yang dapat meningkatkan berat badan pada seluruh

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Menstruasi

Menstruasi merupakan hasil perpaduan yang sangat rapi dan baku dari

hypothalamus-pituitary-ovarian endocrine axis. Hipotalamus memacu kelenjar

hipofisis anterior dengan mensekresi gonadotropin-releasing hormone (GnRH)

suatu deka-peptide yang disekresi secara pulsatif oleh hipotalamus. Gonadotropin

memacu sintesis dan pelepasan follicle-stimulating hormone (FSH) dan

luteinizing-hormone (LH). Pada awal masa pubertas, kadar hormon FSH ( follicle-

stimulating hormone ) dan LH (luteinizing hormone ) akan meningkat, sehingga

merangsang pembentukan hormone seksual. Pada remaja putri, peningkatan kadar

hormon tersebut menyebabkan pematangan payudara, ovarium, dan vagina serta

dimulainya siklus menstruasi (Sulistyorini, 2017).

2.1.1 Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi merupakan salah satu tanda kematangan organ

reproduksi wanita. Menurut Hutami, A.P. 2010, siklus menstruasi adalah proses

komplek yang mencakup reproduktif dan endokrin. Normalnya, setiap wanita

yang telah mengalami kematangan organ reproduksi akan mengalami menstruasi

yang merupakan proses pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai

dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat

kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut pada akhirnya akan

membentuk siklus menstruasi. Siklus menstruasi pada wanita normalnya

6
7

berkisarantara 21-35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki siklus peremenstruasi

28 hari dengan lama menstruasi 3-5 hari, ada yang 7-8 hari (Setiawati, 2015).

Umumnya siklus menstruasi mencakup tiga fase yaitu fase folikular, fase

luteal, dan fase menstruasi. Fase folikular terjadi setelah pelepasan endometrium,

dimana FSH akan merangsang pertumbuhan beberapa folikel primordial dalam

ovarium dan akan di hasilkan satu folikel yang matang yang disebut folikel de

graaf . Dalam folikel de graaf, oosit primer akan dimatangkan dan kemudian

folikel de graaf juga akan menghasilkan estrogen yang merangsang pembentukan

endometrium. Estrogen juga memengaruhi serviks untuk mengeluarkan lendir

bersifat basa. Lendir itu akan menetralkan sifat asam dalam serviks sehingga

sperma mampu hidup di dalamnya. Fase luteal di tandai dengan pelepasan oosit

dari folikel de graaf dikarenakan peningkatan estrogen yang kemudian

merangsang kelenjar hipofisis untuk mensekresikan luteinizing hormone (LH)

yang berperan dalam ovulasi. Fase ini biasanya terjadi pada hari ke-14 dihitung

sejak hari pertama menstruasi. Pada fase ini kemungkinan terjadinya kehamilan

sangat tinggi (Hapsari, 2010). Setelah ovulasi terjadi, progesteron dan estrogen

bersama-sama disekresi dalam jumlah yang besar oleh korpus luteum. Kelenjar

semakin berkelok-kelok dan kelebihan substansi sekresinya bertumpuk di dalam

sel epitel kelenjar. Selain itu, sitoplasma sel-sel stroma meningkat, simpanan lipid

dan glikogen sangat meningkat dalam sel stroma, dan suplai darah kedalam

endometrium meningkat lebih jauh sebanding dengan perkembangan aktivitas

sekresi, dengan pembuluh darah yang semakin berkelok-kelok. Tujuan dari

berbagai perubahan yang terjadi pada endometrium ini yaitu untuk menghasilkan

endometrium yang sangat sekretorik, yang mengandung sejumlah besar cadangan


8

nutrien untuk menyiapkan kondisi yang cocok untuk implantasi ovum jika terjadi

pembuahan. Setelah fase luteal berakhir dan tidak terjadi pembuahan maka akan

terjadi pelepasan endometrium yang ditandai dengan keluarnya darah atau yang di

sebut fase menstruasi (Guyton dan hall, 2016). Perhatikan gambar 2.1.

(Guyton dan hall, 2016)

Gambar 2.1 Fase folikular, fase luteal, dan menstruasi pada setiap siklus bulanan
perempuan

2.1.2 Premenstruasi Sindrom (PMS)

PMS merupakan sindrom yang terjadi secara khas pada periode antara

ovulasi dan awal menstruasi (Dorland, 2002). Premenstrual syndrome merupakan

kelainan psikologik dan somatik dengan penyebab yang tidak diketahui. Penyebab

yang paling memungkinkan adalah interaksi estrogen dengan neurotransmitter

pada sistem saraf pusat seperti serotonin, karena pada wanita yang mengalami

premenstrual syndrome terjadi peningkatan hormon estrogen(Stolberg et al,


9

2003). Serotonin berperan dalam kebiasaan vegetative (makan, kebiasaan

seksual, dan kontrol suhu) dan juga berdampak pada suasana hati/mood.

2.1.3 Gejala PMS

Gejala PMS diklasifikasikan menjadi lima meliputi :

1) Tipe A (Anxiety)

Premenstrual syndrome dengan gejala ansietas, insomnia, ketegangan,

perubahan mood.

2) Tipe C (Craving)

Premenstrual syndrome dengan gejala menyukai jenis makanan tertentu

(mengidam), hipoglikemia, malas, lemah, sakit kepala.

3) Tipe D (Depression)

Premenstrual syndrome dengan gejala, pelupa, depresi, suka menangis,

dan bingung.

4) Tipe H (Hydration)

Premenstrual syndrome dengan gejala perut sebah, pertambahan berat

badan, edema ekstremitas, dan nyeri payudara.

5) Tipe O (Other)

Premenstrual syndrome dengan gejala nausea, muncul jerawat, banyak

keringat (Kaslow, 2010; Freeman, 2003) .

2.2 Mekanisme PMS dalam Peningkatan Nafsu Makan

Beberapa penelitian sebelumnya telah mendeklarasikan adanya hubungan

antara peningkatan nafsu makan pada wanita yang disebabkan oleh

ketidakseimbangan hormon saat mengalami menstruasi (Klump et al, 2008;

Klump et al, 2013; Edler, 2007; Davidsen et al. 2007). Hormon memiliki peran
10

yang sangat kompleks dalam mengatur berbagai siklus metabolisme tubuh,

termasuk sangat kompleks dalam mengatur siklus menstruasi seperti yang telah

dijelaskan sebelumnya bahwa menstruasi merupakan hasil perpaduan yang sangat

rapi dan baku dari hypothalamus-pituitary-ovarian endocrine axis. Berkaitan

dengan fase siklus menstruasi pada perempuan, sebelumnya telah diamati bahwa

asupan energi menurun selama fase folikel dan ovulasi akhir siklus menstruasi

yang ditandai dengan tingkat estradiol yang lebih tinggi, namun peningkatan

asupan nutrisi cenderung meningkat selama fase luteal, fase dimana kadar plasma

estradiol dan progesteron meningkat (Cheikh et al, 2009;Kammoun et al, 2017;Li

ET et al, 1999;Martini et al, 1994). Secara khusus, walaupun terdapat penelitian

yang menjukkan bahwa kadar estradiol yang rendah dan kadar progresteron yang

tinggi berperan dalam peningkatan asupan makan yang berlebih dan emotional

eating, namun studi baru-baru ini menunjukkan bahwa interaksi antara estradiol

dan progesteron saat keduanya mengalami peningkatan pada fase midluteal juga

berperan dalam peningkatan asupan makan yang berlebih (Klump et al, 2013).

Beberapa penelitian mencatat bahwa wanita yang melaporkan gejala PMS yang

berat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari biasanya dan memiliki peningkatan

nafsu makan berlebihan dan hasrat yang lebih sering untuk makanan berlemak

manis selama fase luteal (Masho et al, 2005;Gibson, 2012).

Mekanisme fisiologis PMS yang menyebabkan peningkatan nafsu makan

dapat dikaitkan dengan pelepasan ovum pasca ovulasi. Berbagai perubahan terjadi

pada endometrium dengan tujuan untuk menghasilkan endometrium yang sangat

sekretorik, yang mengandung sejumlah besar cadangan nutrien untuk menyiapkan

kondisi yang cocok untuk implantasi ovum jika terjadi pembuahan. Perubahan
11

yang terjadi seperti sitoplasma sel-sel stroma akan meningkat, simpanan lipid dan

glikogen sangat meningkat dalam sel stroma, dan suplai darah kedalam

endometrium meningkat lebih sebanding dengan perkembangan aktivitas sekresi,

dengan pembuluh darah yang semakin berkelok-kelok (Guyton dan Hall, 2016).

Berbagi perubahan tersebut tentu saja akan mendapatkan respon dari tubuh

salah satunya dengan peningkatan konsumsi makanan untuk memenuhi

kebutuhan tubuh. Di tinjau dari segi homon, peningkatan estrogen dan

progesteron selama fase luteal berkaitan dengan penggunaan lemak/kolestrol

sebagai bahan baku pembuatan hormon golongan steroid, termasuk estrogen dan

progresteron. Sintesis berbagai hormon steroid dari kolesterol memerlukan

serangkaian reaksi enzimatik yang memodifikasi molekul kolesterol untuk

menghasilkan hormon-hormon utama pada perempuan temasuk hormon

progesteron dan estrogen (Sherwood, 2013).

(Guyton dan hall, 2016).


Gambar 2.2 Sintesis hormone-hormon utama perempuan
Adanya peningkatan sekresi hormon estrogen dan progesteron pada fase

luteal mengakibatkan jumlah bahan baku kolestrol yang diperlukan juga akan
12

semakin meningkat sehingga mengurangi persentase lemak tubuh. Leptin adalah

hormon yang disekresikan oleh sel-sel lemak. Jika jaringan lemak berkurang

maka produksi leptin sebagai hormon yang menstimulus pusat kenyang di nuklei

ventromedialis hipotalamus akan menurun fungsinya sehingga kecenderungan

untuk makan tidak terkontrol akan terjadi. Penurunan kadar leptin juga

menyebabkan neuropeptida Y merangsang LHA (lateral Hipothalamus Area)

yang akan menghambat pusat kenyang sehingga muncul perasaan lapar atau

keinginan untuk makan (Guyton dan Hall, 2016). Hal ini di pertegas pada studi

tentang wanita dengan sindrom pramenstruasi ditemukan adanya penurunan leptin

pada fase luteal akhir yang berhubungan dengan makan berlebih (Ko et al., 2015).

Kecenderungan untuk makan tersebut merupakan salah satu mekanisme tubuh

dalam mempertahankan keseimbangan persentase lemak di jaringan.

2.3 Peningkatan nafsu makan memicu kenaikan berat badan dan obesitas

Suatu kebiasaan muncul dari kegiatan atau tindakan yang dilakukan

secara berulang-ulang. Kebiasaan tersebut akan membentuk pola perilaku dan

akhirnya membentuk suatu karakter. Sama halnya dengan kebiasaan makan, pola

makan terbentuk dari kebiasaan makan yang setiap hari rutin dijalankan. Namun,

banyak hal yang dapat merusak pola makan sehingga tidak berjalan dengan teratur

dan menghasilkan pola makan yang tidak menentu bahkan kebiasaan makan

menjadi tidak terpola. Salah satu hal yang dapat mengganggu perilaku makan

yiatu PMS (Chung et al, 2010). Seperti yang telah di bahas sebelumnya bahwa

salah satu gejala PMS yaitu adanya peningkatan nafsu makan. Jika gejala PMS

berlangsung sekitar kurang lebih satu minggu setiap bulannya (Wahyuningsih et

al, 2013), maka kebiasaan makan berlebih pada perempuan yang mengalami PMS
13

akan terbentuk. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan nafsu makan yang

awalnya dipengaruhi oleh faktor fisiologis seperti hormon memiliki potensi

dalam membentuk suatu kebiasaan makan yang berlebih yang kemudian

berimplikasi pada kenaikan berat badan dan obesitas.

2.3.1 Kenaikan Berat Badan

Kenaikan berat badan merupakan salah satu hal yang normal terjadi dalam

pertumbuhan dan perkembangan setiap individu, akan tetapi pertambahan berat

badan yang terjadi secara terus menerus dan tidak terkontrol dapat mengarah pada

kelebihan berat badan (Overweight) dan obesitas yang tentu saja berdampak

buruk bagi kesehatan jasmani. Menurut WHO 2014, overweight dan obesitas di

defenisikan sebagai akumulasi lemak/lipid yang abnormal yang menimbulkan

risiko bagi kesehatan. Umumnya, obesitas dan overweight dapat ditentukan

menggunakan indeks massa tubuh (IMT)/ Body Mass Index (BMI), yaitu

perbandingan berat badan (dalam kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam

meter). Pada usia 0-20 tahun, indeks massa tubuh ditentukan dengan memplot

IMT menggunakan grafik indeks-massa-tubuh CDC 2000, yaitu di atas persentil

95th (Gambar 2.3).

Tabel 2.1 Keterangan garfik indeks massa tubuh CDC 2000. Digunakan untuk
menggolongkan massa tubuh berdasarkan persentil yang dihasilakan dari
perhitungan.
Terminology Percentile

Underweight < 5th

Healthy weight 5th to 84th

Overweight 85th to 94th

Obesity 95th or greater


14

Severeobesity/extreme obesity 99th or greater

(CDC, 2000)

Gambar 2.3 Grafik indeks massa tubuh CDC 2000. Digunakan sebagai parameter dalam
menghitung massa tubuh dari rentang umur 0-20 tahun. (CDC, 2000)

Sedangkan pada usia lebih dari 20 tahun, menurut kriteria WHO untuk kawasan

Asia Pasifik, obesitas ditentukan jika IMT > 25 (Isbayuputra, 2009).

Tabel 2.2 Klasifikasi Berat Badan Lebih dan Obesitas Pada Orang Dewasa
Berdasarkan IMT dan Lingkar Perut Menurut Kriteria Asia Pasifik
Klasifikasi IMT (kg/m2)

Underweight < 18,5

Normal 18,5-22,9

Overweight > 23,0-24,9

Obesitas I 25,0-29,9

Obesitas II > 30,0

(Sidhartawan, 2006)

Kenaikan berat badan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pola

makan, pola hidup, aktivitas fisik, faktor lingkungan, genetik, faktor kesehatan,
15

psikis dan obat-obatan hormonal (Supriyanto, 2013). Kenaikan berat badan

secara tidak terkontrol sehingga menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas

dapat memberikan dampak dalam berbagai aspek seperti dalam aspek kesehatan

jasmani, kognitif, dan psikologis.

2.3.2 Dampak Kelebihan Berat Badan

Kelebihan berat badan dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan

seperti kesehatan jasmani, pikiran(Kognitif), dan jiwa (psikologis).

a. Dampak kelebihan berat badan pada kesehatan jasmani

Kelebihan berat badan atau obesitas dapat memengaruhi setiap

sistem fungsional tubuh termasuk sistem endokrin, gastrointestinal,

cardiovaskular, dan saraf. Berbagai penyakit yang dikenal merupakan

komlikasi akibat kelebihan berat badan yaitu diabetes melitus, penyakit

jantung koroner , hipertensi, chronic heart failure, chronic renal failure,

Sindrom metabolik , kanker dan masih banyak lagi. (Bischoff et al, 2016).

b. Dampak kelebihan berat badan pada kesehatan kognitif

Konsekuensi obesitas di bidang medis telah dibahas dari tahun-tahun

sebelumnya, namun konsekuensi kognitif telah dipelajari baru-baru ini.

Fungsi kognitif mengacu pada pengolahan, integrasi, penyimpanan dan

pengambilan informasi. Ini mencakup persepsi, perhatian, ingatan dan fungsi

eksekutif. Penelitian yang dilakukan dikelompok umur 4-18 dan 19-45 tahun

menunjukkan bahwa partisipan obesitas memiliki indeks kognitif yang jauh

lebih buruk dibandingkan dengan individu dengan berat badan normal.

Temuan yang paling konsisten adalah hasil buruk dalam tes fungsi eksekutif

(Richard, 2015).
16

c. Dampak kelebihan berat badan pada kesehatan jiwa atau Psikologis

Studi epidemiologi menunjukkan hubungan positif antara obesitas,

gangguan mood dan kecemasan. Kelebihan berat badan pada kebanyakan

orang dinilai sangat mengganggu penampilan yang berimpilkasi pada

kurangnya kepercayaan diri, menjadi beban, dianggap sebagai sesuatu yang

memalukan dan tidak jarang menjadi bahan celaan dari lingkungan sosial

(Mather et al, 2009).


BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Menstruasi merupakan hasil perpaduan yang sangat rapi dan baku dari

hypothalamus-pituitary-ovarian endocrine axis. Menstruasi akan membentuk

siklus yang merupakan salah satu tanda kematangan organ reproduksi wanita.

Umumnya siklus menstruasi mencakup tiga fase yaitu fase folikular, fase luteal,

dan fase menstruasi. Pre Menstruasi Syndrom (PMS) merupakan sindrom yang

terjadi secara khas pada periode antara ovulasi dan awal menstruasi. Gejala PMS

di klasifiikasikan menjadi lima tipe yaitu Tipe A (Anxiety), tipe C (Craving), tipe

D (Depression), tipe H (Hydration), dan tipe O (Other).

Secara fisiologis PMS memiliki peran dalam peningkatan nafsu makan.

Beberapa hasil studi telah mendeklarasikan adanya hubungan antara peningkatan

nafsu makan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon saat menstruasi.

Peningkatan sekresi hormon estrogen dan progesteron pada fase luteal

mengakibatkan jumlah pemakaian bahan baku pembuatan hormon yaitu kolesterol

akan meningkat sehingga dapat mengurangi persentase lemak tubuh. Jika jaringan

lemak berkurang maka leptin sebagai hormon yang menstimulus pusat kenyang di

nuklei ventromedialis hipotalamus akan menurun kadar sekresi dan fungsinya

sehingga kecenderungan untuk makan tidak terkontrol akan terjadi. Penurunan

kadar leptin menyebabkan neuropeptida Y merangsang LHA (lateral

Hipothalamus Area) yang akan menghambat pusat kenyang sehingga muncul

perasaan lapar atau keinginan untuk makan. Selain pengaruh hormon, berbagai

perubahan yang terjadi dalam ovarium pasca ovulasi dengan tujuan untuk

17
18

menghasilkan endometrium yang sangat sekretorik, yang mengandung sejumlah

besar cadangan nutrien untuk menyiapkan kondisi yang cocok untuk implantasi

ovum jika terjadi pembuahan turut serta mengambil peran dalam peningkatan

nafsu makan.

Peningkatan nafsu makan yang terjadi selama kurang lebih tujuh hari PMS

setiap bulannya memiliki potensi dalam membentuk suatu kebiasaan makan

yang berlebih yang kemudian berimplikasi pada kenaikan berat badan dan

obesitas. Obesitas dan overweight dapat ditentukan menggunakan indeks massa

tubuh (IMT)/ Body Mass Index (BMI). Kelebihan berat badan memberikan

dampak yang buruk dalam berbagai aspek tidak hanya pada kesehatan jasmani

namun juga berpengaruh pada aspek kesehatan kognitif dan psikologis.

3.2 Saran

Pada penelitian ini, peneliti memiliki beberapa saran kepada peneliti lain dan

masyarakat sebagai berikut:

1. Kepada peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan yang

berhubungan dengan penelitian ini dan penelitian yang telah dilakukan

sebelumnya, diharapkan peneli selanjutnya dapat menemukan mekanisme

yang jelas dan molekuler tentang hubungan antara peningkatan nafsu makan

sebagai gejala PMS dengan kenaikan berat badan.

2. Kepada masyarakat khususnya para wanita yang telah aktif secara reproduktif

agar lebih berhati-hati dan mengontrol kebiasaan makan yang berlebih saat

mengalami PMS agar tidak menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Jika

mengalami gejala peningkatan nafsu makan saat menstruasi maka sebaiknya

diimbangi dengan aktivitas fisik seperti berolahraga.


19

DAFTAR PUSTAKA

Bischoff, S.C., Boirie, Y., Cederholm, T., Chourdakis, M., Cuerda, C., Delzenne,
N.M., Deutz, N.E., Fouque, D., Genton, L., Gil, C. and Koletzko, B., 2016.
Towards a multidisciplinary approach to understand and manage obesity
and related diseases. Clinical Nutrition.

CDC .(2000).CDC Growth Chart 2000. Dari: Http://www.cdc.gov

Cheikh Ismail, L.I., Al-Hourani, H., Lightowler, H.J., Aldhaheri, A.S., & Henry,
C.J. ( 2009). Energy and nutrient intakes during different phases of the
menstrual cycle in females in the United Arab Emirates. Annals of
Nutrition and Metabolism, 54, 124-128.

Chung, S.C., Bond, E.F. and Jarrett, M.E., 2010. Food intake changes across the
menstrual cycle in Taiwanese women. Biological research for nursing,
12(1), pp.37-46.

Davidsen L, Vistisen B, Astrup A .(2007).Impact of the menstrual cycle on


determinants of energy balance: a putative role in weight loss attempts. Int
J Obes 31: 1777-1785

Desi Kurnia, Haspari.(2016).Hubungan Tingkat Stres dengan Tingkat


Premenstrual Syndrome (PMS) pada Siswi SMK Cokroaminoto 1
Surakarta. Diss. Universitas Sebelas Maret

Dorland, W.A.N. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. 29th ed. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC, hal: 1051, 2147.

Edler C, Lipson SF, Keel PK. (2007).Ovarian hormones and binge eating in
bulimia nervosa. Psychol Med 37:131–141.

Ernawati, R. 2012. Hubungan Tingkat Kecerdasan Emosional dengan Derajat


Pre Menstrual Syndrome (PMS) pada Remaja Putri di Asrama Putri
Universitas Brawijaya Malang. http://old.fk.ub.ac.id/artikel/id.pdf.
Diakses tanggal 22 November 2013.

Farida, Z. K. 2011. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Tindakan


Sindroma Pramenstruasi pada Siswi di SMA N 09 Semarang.
http://digilib.unimus.ac.id/d

Freeman E. (2003) Premenstrual syndrome and premenstrual dysphoric disorder:


definitions and diagnosis. Psychoneuroendocrinology 28,25–37.

Gibson EL.(2012). The psychobiology of comfort eating. Behav Pharmacol


23:442-60.
20

Guyton A.C., Hall J.E. 2016. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 12st ed. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal :945-61.

Hapsari, B.D.A., 2010. Pengaruh hipertensi primer terhadap timbulnya


premenstrual syndrome pada wanita di Kelurahan Jati Kecamatan Jaten
Karanganyar (Doctoral dissertation, Universitas Sebelas Maret Surakarta).

Hutami, A.P. 2010. Hubungan sindrom pramenstruasi dengan Regularitas Siklus


Menstruasi pada Mahasiswi S-1 Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.Skripsi Tidak Diterbitkan.Medan : Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

Isbayuputra Marsen, 2009. Prevalensi Obesitas pada Anak TK dan Faktor yang
Memengaruhinya, FK UI, Jakarta

Kammoun, I., Saâda, W.B., Sifaou, A., Haouat, E., Kandara, H., Salem, L.B. and
Slama, C.B., 2017, February. Change in women's eating habits during the
menstrual cycle. In Annales d'endocrinologie (Vol. 78, No. 1, pp. 33-37).
Elsevier Masson.

Kaslow, J.E. 2010. Premenstrual Syndrome.


http://www.drkaslow.com/html/premenstrual_syndromes.html. (27
Februari 2010).

Klump KL, Culbert KM, Edler C, Keel PK. (2008). Ovarian hormones and binge
eating: Exploring associations in community samples. Psychol Med
38:1749–1757.

Klump K, Keel P, Racine S, Burt A, Neale M, Sisk C, et al. (2013).The interactive


effects of estrogen and progesterone on changes in emotional eating across
the menstrual cycle. J Abnorm Psychol 122:131–137.

Klump, K.L., Keel, P.K., Burt, S.A., Racine, S.E., Neale, M.C., Sisk, C.L. and
Boker, S., 2013. Ovarian hormones and emotional eating associations
across the menstrual cycle: an examination of the potential moderating
effects of body mass index and dietary restraint. International Journal of
Eating Disorders, 46(3), pp.256-263

KO CH, YEN CF, LONG CY, KUO YT, CHEN CS, YEN JY. (2015).The late-
luteal leptin level, caloric intake and eating behaviors among women with
premenstrual dysphoric disorder. Psychoneuroendocrinology 56: 52-61

Li ET, Tsang LB, Lui SS. (1999).Menstrual cycle and voluntary food intake in
young Chinese women. Appetite, 33:109–18.

Martini MC, Lampe JW, Slavin JL, Kurzer MS.(1994). Effect of the menstrual
cycle on energy and nutrient intake. Am J Clin Nutr, 60:895–9.

Masho SW, Adera T, South-Paul J. (2005). Obesity as a risk factor for


premenstrual syndrome. J Psychosom Obstet Gynaecol , 26:33–9.
21

Mather AA, Cox BJ, Enns MW, Sareen J. (2009). Associations of obesity with
psychiatric disorders and suicidal behaviors in a nationally representative
sample. J Psychosom Res, 66:277-85

Maurer, Susanne. (2016).Weight Management in Primary Care. Visc Med,


32:342–346. DOI: 10.1159/000450667

Nugroho, K., Mulyadi dan Masi, G.N. M. ( 2016). Hubungan aktivitas fisik dan
pola makan dengan perubahan indeks massa tubuh pada mahasiswa
Semester 2 programstudi ilmu keperawatan Fakultas kedokteran. e-journal
Keperawatan(e-Kp) Volume 4 Nomor 2

Putri, Rosa Pratita Dwi Pratiwi, and Ani Margawati. (2013). Hubungan antara
Derajat Sindrom Pramenstruasi dan Aktivitas Fisik dengan Perilaku
Makan pada Remaja Putri. Diss. Diponegoro University

Richard, D. (2015). Cognitive and autonomic determinants of energy homeostasis


in obesity. Nat Rev Endocrinol, 11:489-501.

Setiawati, S.E., 2015. Pengaruh Stres terhadap Siklus Menstruasi pada Remaja.
Majority, 4(01).

Sherwood L. (2013). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC,
Hal 795-09

Sidhartawan, S. (2006). Obesitas. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi


I,Simadibrata M, Setiati S editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid II
edisi IV. Jakarta: Pusat penerbitan departemen ilmu penyakit dalam
fakultas kedokteran universitas Indonesia. Hal.1919-25.

Stolberg M., Greene R., Dalton K. 2003. Tackling premenstrual syndrome. MeRec
Buletin. 13 : 9-12

Supriyanto, Agus. 2013. Obesitas, Faktor Penyebab dan Bentuk-bentuk


Terapinya. Diunduh dari: http://id.scrib.com. Akses: 5 Oktober 2015

Sulistyorini, L., 2017. Perbedaan Keteraturan Siklus Menstruasi Pada Remaja


Yang Mempunyai Status Gizi Lebih Dengan Normal

Tuerah, Wulan, and Aaltje Manampiring. (2014). "Prevalensi Obesitas Pada


Remaja Di Sma Kristen Tumou Tou Kota Bitung." Jurnal e-biomedik 2.2

Wahyuningsih, Ayu Dwi. (2016). "Hubungan Status Gizi Dengan Pre Menstruasi
Syndrome (Pms) Pada Remaja Putri Di Sma Negeri 7 Kota Malang."
Kendedes Midwifery Journal 2.1 .

WHO. (2014). Overweight and obesity.