Anda di halaman 1dari 7

FORMAT KERANGKA TOPIK PENELITIAN

UNTUK PENGAJUAN JUDUL SKRIPSI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NASIONAL
TAHUN 2018

Nama : Abdurachman Fauzi


NPM : 17311242012083
Judul yang Diajukan : Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit
Skabies di Wilayah Kerja Puskesmas Labuan Kabupaten
Pandeglang Provinsi Banten Tahun 2018
1. Latar Belakang

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa skabies merupakan

penyakit kulit yang endemis di wilayah beriklim tropis dan subtropis, seperti Afrika,

Amerika selatan, Karibia, Australia tengah dan selatan, dan Asia. Prevalensi skabies pada

anak berusia 6 tahun di daerah kumuh di Bangladesh adalah 23-29% dan di Kamboja

43%. Studi di rumah kesejahteraan di Malaysia tahun 2015 menunjukkan prevalensi 30%

dan di Timor Leste prevalensi skabies 17,3%. Secara global, skabies dapat mengenai

lebih dari 130 juta orang setiap saat dengan tingkat kejadian skabies bervariasi dari 0,3%

sampai 46%. Tingkat tertinggi skabies terjadi di negara dengan iklim tropis, tingkat

kepadatan penduduk yang tinggi dan sosial ekonomi yang relatif rendah (WHO, 2016).

Di indonesia prevalensi penyakit skabies masih cukup tinggi. Menurut Departemen

Kesehatan RI tahun 2016 prevalensi skabies di Indonesia sebesar 5,60-12,95 % dan

skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit (Depkes RI, 2016). Skabies

merupakan penyakit kulit yang bersifat global. Prevalensi skabies meningkat dan

memberat pada negara tropis, yaitu sekitar 10% dan hampir 50% mengenai anak-anak.

Skabies dapat muncul endemik pada anak usia sekolah, dan kejadiannya sangat sering di

daerah pedesaan terutama di negara berkembang, pasien lanjut usia yang dirawat di
rumah, pasien dengan HIV/AIDS, dan pasien yang mengkonsumsi obat imunosupresan

akan mengalami faktor risiko yang lebih besar untuk mengalami skabies (Depkes RI,

2016).

Prevalensi skabies di puskesmas seluruh Indonesia menduduki urutan ketiga dari 12

penyakit kulit tersering dan angka kejadiannya sebesar 5,6 - 12,95%. Data yang

dilaporkan bahwa prevalensi penyakit skabies ini terjadi diberbagai pemukiman kurang

baik seperti tempat pembuangan akhir, rumah susun, lembaga permasyarakatan, dan

pondok pesantren. Sedangkan angka kejadian skabies di Jakarta (6,20%), di Kabupaten

Boyolali (7,36%), di Kabupaten Pasuruan (8,22%) dan di Semarang mencapai 5,80%

(Depkes RI, 2016). Sedangkan pada tahun 2016 di Provinsi Banten terjadi Kejadian Luar

Biasa scabies, dan di tahun 2016 prevalensi skabies di provinsi tersebut mencapai 40,78%

(Dinkes Provinsi Banten, 2016).

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang tahun 2017

menunjukkan angka kejadian penyakit skabies sebanyak 3.126 kasus. Prevalensi penyakit

skabies di Kabupaten Pandeglang sebesar 4,5%. Hal ini jika dibandingkan berdasarkan

prevalensi skabies di Puskesmas seluruh Indonesia yaitu sebesar 5,6%-12,95% yang

merupakan kategori penyakit skabies yang cukup tinggi. Jumlah ini tentu akan terus

meningkat pada tahun 2018 jika tidak segera ditangani (Dinkes Kab. Pandeglang, 2017).

Skabies merupakan penyakit kulit menular akibat infestasi tungau Sarcoptes

scabiei var hominis (S. scabiei) yang membentuk terowongan pada lapisan stratum

korneum dan stratum granulosum pejamu. S. scabiei termasuk parasit obligat pada

manusia. Skabies menjadi masalah yang umum di dunia, mengenai hampir semua

golongan usia, ras, dan kelompok sosial ekonomi. Kelompok sosial ekonomi rendah lebih

rentan terkena penyakit ini (Mukono, 2013).


Skabies sering diabaikan karena tidak mengancam jiwa sehingga prioritas

penanganannya rendah, namun sebenarnya skabies kronis dan berat dapat menimbulkan

komplikasi yang berbahaya. Skabies menimbulkan ketidaknyamanan karena

menimbulkan lesi yang sangat gatal. Akibatnya, penderita sering menggaruk dan

mengakibatkan infeksi sekunder terutama oleh bakteri Group A Streptococci (GAS) serta

Staphylococcus aureus. Komplikasi akibat infestasi sekunder GAS dan S. aureus sering

terdapat pada anak-anak di negara berkembang (Golant, 2012).

Skabies merupakan penyakit yang berkaitan dengan kebersihan diri. Angka

kejadian skabies meningkat pada kelompok masyarakat yang hidup dengan kondisi

kebersihan diri dan lingkungan di bawah standar. Hal ini disebabkan oleh kurangnya

pengetahuan masyarakat tentang penyakit skabies. Kurangnya pengetahuan tentang faktor

penyebab dan bahaya penyakit skabies membuat penyakit ini dianggap sebagai penyakit

yang biasa saja karena tidak membahayakan jiwa. Selain itu rendahnya pengetahuan

masyarakat tentang cara penyebaran dan pencegahan skabies menyebabkan angka

kejadian skabies tinggi pada kelompok masyarakat (Heukelbach, 2012).

Kebersihan merupakan anjuran bagi kita semua. Kebersihan yang dianjurkan itu

meliputi seluruh aspek kehidupan, baik fisik maupun non fisik. Kebersihan pada aspek

fisik antara lain adalah lingkungan, yang dianggap paling penting, dalam kehidupan

masyarakat dalam hal menunjang kenyamanan semua orang dalam melakukan segala

aktivitas hariannya. Dengan demikian diharapkan agar kebersihan menjadi sorotan dan

perhatian semua pihak, karena jika kebersihan lingkungan tidak diperhatikan maka

dikhawatirkan akan timbul bermacam-macam dampak negatif terhadap kemajuan

masyarakat, melemahkan potensi yang ada akibat terganggunya kesehatan (Rahmawati,

2012).
Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang upaya pencegahan menyebabkan

penyakit ini masih sering menjangkit. Pencegahan skabies pada manusia dapat dilakukan

dengan cara menghindari kontak langsung dengan penderita dan mencegah penggunaan

barang-barang penderita secara bersama-sama. Pakaian, handuk, dan barang-barang

lainnya yang pernah digunakan oleh penderita harus diisolasi dan dicuci dengan air

panas. Pakaian dan barang-barang asal kain dianjurkan untuk disetrika sebelum

digunakan. Sprai penderita harus sering diganti dengan yang baru maksimal tiga hari

sekali. Benda-benda yang tidak dapat dicuci dengan air (bantal, guling, selimut)

disarankan dimasukkan kedalam kantung plastik selama tujuh hari, selanjutnya dicuci

kering atau dijemur di bawah sinar matahari. Kebersihan tubuh dan lingkungan termasuk

sanitasi serta pola hidup yang sehat akan mempercepat kesembuhan dan memutus siklus

hidup S. Scabiei (Juanda, 2012).

Wilayah Puskesmas Labuan Kabupaten Pandeglang terletak diperkampungan yang

penduduknya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan buruh. Selain itu di

beberapa kampung yang termasuk wilayah kerja Puskesmas Labuan banyak terdapat

pondok pesantren. Berdasarkan laporan bulanan dari Puskesmas Labuan bahwa pada

tahun 2016 terdapat 116 kasus skabies dan pada tahun 2017 terhitung dari bulan Januari –

Maret ditemukan kejadian skabies sebanyak 35 kasus. Hasil dari wawancara dengan

petugas kesehatan yang menangani penyakit kulit di Puskesmas Labuan bahwa hampir

80% penderita skabies adalah anak remaja yang berasal dari pondok pesantren yang ada

di wilayah Kecamatan Labuan.

Berdasarkan hasil survei pendahuluan dengan melakukan wawancara pada 10 orang

penderita skabies yang berkunjung ke Puskesmas Labuan menunjukkan bahwa 7 orang

tidak mengetahui apa itu penyakit skabies yang mereka tahu hanya penyakit gatal-gatal

biasa, sedangkan 3 orang mengetahui penyakit skabies akan tetapi hanya tahu tentang
gejalanya saja, dan 5 dari 10 orang penderita mengaku mereka tertular oleh temannya

yang sudah terjangkit skabies lebih dulu, sedangkan 3 dari 10 orang mengaku terkena

penyakit gatal-gatal karena kurang menjaga kebersihan diri dan lingkungan di sekitar

rumhanya. Melihat fenomena ini penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai

faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit skabies di wilayah kerja

Puskesmas Labuan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten tahun 2018.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

“faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian penyakit skabies di wilayah

kerja Puskesmas Labuan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten tahun 2018?”.

3. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum

Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit skabies di

wilayah kerja Puskesmas Labuan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten tahun 2018.

b. Tujuan Khusus
1) Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian penyakit skabies di wilayah kerja

Puskesmas Labuan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten tahun 2018.


2) Diketahuinya distribusi frekuensi kejadian penyakit skabies berdasarkan

pengetahuan, kebersihan diri dan status ekonomi di wilayah kerja Puskesmas

Labuan Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten tahun 2018.


3) Diketahuinya hubungan antara pengetahuan, kebersihan diri dan status ekonomi

dengan kejadian penyakit skabies di wilayah kerja Puskesmas Labuan Kabupaten

Pandeglang Provinsi Banten tahun 2018.


4. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara

konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan.

Berdasarkan kerangka pemikiran dan tinjauan pustaka, maka penulis mengambil

beberapa variabel yang akan diteliti digambarkan dalam kerangka sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen

1. Pengetahuan
2. Kebersihan Diri Kejadian Skabies
Gambar. Kerangka Konsep Penelitian
5. 3. Status
Metode Ekonomi
Penelitian
5.1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian studi analitik observasional dengan desain studi

kasus kelola (Case Control Study) dengan memilih kasus (responden dengan skabies) dan

kontrol (responden tidak skabies). Peneliti kemudian mengukur paparan yang dialami

subyek pada waktu yang lalu (retrospektif) dengan cara mengkaji data yang dikumpulkan

melalui responden.
5.2. Populasi

Populasi adalah wilayah yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas

dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian

ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Populasi kasus adalah semua pasien yang

berobat ke Puskesmas Labuan tercatat dari bulan Agustus – Oktober 2018 yaitu sebanyak

35 orang. Sedangkan populasi kontrol adalah tetangga penderita yang tidak menderita

skabies yang rumahnya dekat dengan kasus sebanyak 35 orang.

5.3. Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuan Kabupaten

Pandeglang Provinsi Banten. Alasan peneliti memilih lokasi ini adalah:

a. Tingginya prevalensi kasus skabies di wilayah kerja Puskesmas Labuan.

b. Lokasi penelitian mudah dijangkau.

c. Jumlah responden yang mencukupi untuk target penelitian.


5.4. Variabel Penelitian
Variabel terdiri dari variabel bebas (independent variable), variabel terikat

(dependent variabel), dan variabel pengganggu (counfounding variable). Variabel bebas

dalam penelitian ini yaitu pengetahuan, kebersihan diri dan status ekonomi. Sedangkan

variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian skabies.

5.5. Rencana Analisis Data


Analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a. Analisis Univariat
Analisa data dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan presentasi tiap

variabel yang diteliti. Data yang bersifat kategorik dicari frekuensi dan proporsinya.

Analisa univariat ditujukan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik

setiap variabel penelitian. Pada umumnya dalam analisa ini hanya menghasilkan

distribusi dan persentase dari tiap variabel.


b. Analisis Bivariat
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas

dan variabel terikat dengan menggunakan chi square (X2). Apabila didapatkan nilai p ≤ α

(p ≤ 0,05) artinya, ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat, apabila nilai p

> α ( p > 0,05) berarti tidak ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.