Anda di halaman 1dari 17

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Bandar Udara


Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Tahun 2010 Tentang Tatanan Kebandarudaraan
Nasional, Bandar Udara adalah kawasan di daratan atau perairan dengan batasan-batasan
tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun
penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan moda transportasi, yang
dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas pokok dan
penunjang lainnya, yang terdiri atas Bandar Udara umum dan Bandar Udara khusus, yang
selanjutnya Bandar Udara umum disebut dengan Bandar Udara.
Definisi bandar udara menurut PT (Persero) Angkasa Pura I adalah lapangan udara,
termasuk segala bangunan dan peralatan yang merupakan kelengkapan minimal untuk
menjamin tersedianya fasilitas bagi angkutan udara untuk masyarakat. Pada masa awal
penerbangan, bandara hanyalah sebuah tanah lapang berumput yang bisa didarati pesawat
dari arah mana saja tergantung arah angin. Di masa Perang Dunia I, bandara mulai dibangun
permanen seiring meningkatnya penggunaan pesawat terbang dan landas pacu mulai terlihat
seperti sekarang. Setelah perang, bandara mulai ditambahkan fasilitas komersial untuk
melayani penumpang. Dimasa modern, bandara bukan hanya tempat untuk naik dan turun
pesawat. Dalam perkembangannya, berbagai fasilitas ditambahkan seperti toko-toko,
restoran, pusat kebugaran, dan butik-butik merek ternama apalagi di bandara-bandara baru.

2.2 Klasifikasi Bandar Udara


Menurut Aisyah (2017), bandara terbagi menjadi dua, yaitu umum dan khusus. Bandara
umum melayani penerbangan untuk kepentingan umum. Sedangkan penerbangan khusus
yaitu melayani penerbangan untuk kepentingan pribadi atau khusus. Sedangkan berdasarkan
rute pelayanannya, terbagi menjadi dua, yaitu domestik dan internasional. Rute domestik
yaitu rute yang melayani dalam negri dan rute internasional untuk rute antar negara. Kegiatan
angkutan udara dalam negeri (domestik) seluruhnya dilakukan oleh Perusahaan Penerbangan
Nasional (Perusahaan Pemerintah dan Swasta), sedangkan untuk penerbangan luar negeri
(internasional) dilakukan oleh perusahaan penerbangan asing dan perusahaan penerbangan
nasional.
Bandar udara secara umum digolongkan dalam beberapa tipe menurut beberapa kriteria
yang disesuaikan dengan keperluan penggolongannya, antara lain :
1. Berdasarkan karakteristik fisiknya, bandar udara dapat digolongkan menjadi seaplane,
base, stol port (jarak takeoff dan landing yang pendek), dan bandar udara konvensional.
2. Berdasarkan pengelolaan dan penggunaannya, Bandar udara dapat digolongkan menjadi
dua, yakni bandar udara umum yang dikelola pemerintah untuk penggunaans secara
umum maupun militer atau bandar udara swasta / pribadi yang dikelola / digunakan untuk
kepentingan pribadi / perusahaan swasta tertentu.
3. Berdasarkan aktivitas rutinnya, bandar udara dapat digolongkan menurut jenis pesawat
terbang yang beroperasi (enplanements) serta menurut karakteristik operasinya
(operations).
4. Berdasarkan fasilitas yang tersedia, bandar udara dapat dikategorikan menurut jumlah
runway yang tersedia, alat navigasi yang tersedia, kapasitas hangar, dan lain sebagainya.

2.3 Fungsi Bandar Udara


Fungsi utama sebuah Bandar Udara sama halnya seperti sebuah terminal dimana
dalam hal ini melayani penumpang pesawat udara, sebagai tempat pemberhentian,
pemberangkatan, atapun sekedar persinggahan pesawat udara (transit). Di dalamnya terjadi
berbagai macam rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pesawat terbang, seperti
mengangkut / menurunkan penumpang dan barang, melakukan pengisihan bahan bakal,
pemeliharaan pesawat, perbaikan kerusakan pesawat, dan lain-lain. Bandar udara digunakan
untuk memproses penumpang dan bagasi untuk pertemuan dengan pesawat dan moda
transportasi darat. Bandar udara juga digunakan untuk penanganan pengangkutan barang
(cargo). (Robert, 1988)
Pentingnya pengembangan sub sektor transportasi udara antara lain :
1. Mempercepat arus lalu lintas penumpang, kargo dan servis melalui transportasi udara di
setiap pelosok Indonesia
2. Mempercepat wahana ekonomi, memperkuat persatuan nasional dalaam rangka
menetapkan wawasan nusantara
3. Mengembangkan transportasi yang terintegrasi dengan sektor lainnya serta
memperhatikan kesinambungan lingkungan secara ekonomis.
Transportasi udara di Indonesia memiliki fungsi strategis sebagai sarana transportasi yang
menyatukan seluruh wilayah dan dampaknya berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan dan
peranannya maupun dalam pengembangannya.

2.4 Peranan Bandar Udara


Bandar Udara merupakan suatu fasilitas sebagai perantara (interface) antara transportasi
udata dengan transportasi darat, yang secara umum fungsinya sama dengan terminal, yakni
sebagai : (Lubis Harun, 2001)
1. Tempat pelayanan bagi keberangkatan / kedatangan pesawat.
2. Untuk bongkar / muat barang atau naik / turun penumpang.
3. Tempat perpindahan (interchange) antar moda transportasi udara dengan moda
transportasi yang sama (transit) atau dengan moda yang lainnya.
4. Tempat untuk penyimpanan barang (storage) selama proses pengurusan dokumen.
5. Sebagai tempat untuk pengisihan bahan bakar, perawatan dan pemeriksanaan kondisi
pesawat sebelum dinyatakan layak untuk terbang.

2.5 Fasilitas Sanitasi di Bandar Udara


2.5.1 Toilet
Toilet adalah sebuah ruangan yang dirancang khusus lengkap dengan kloset,
persedian air bersih dan perlengkapan lain yang bersih, aman, dan higienis dimana
masyarakat di tempat-tempat domestik, komersial maupun publik dapat membuang hajat
serta memenuhi kebutuhan fisik, sosial, dan psikologis lainnya. Jumlah minimum toilet di
bandara yaitu 2 buah dengan standar ukuran kubikalnya yaitu 120x150cm.
Toilet di tempat seperti bandara sebaiknya memiliki toilet khusus bagi disabel.
Jarak kubikal dari lantai adalah 20cm untuk menghindari berkembangnya lumut dan
kuman penyakit. Sedangkan jarak kubikal ke wastafel yaitu 80cm. Pintu kubikal toilet
harus keluar dengan jarak minimum pintu dan kloset adalah 80cm. Toilet pria, jarak
urinoir satu dengan yang lain adalah 80cm dan tersedia mat/keset. Untuk WC tinggi
minimum bagi orang dewasa 35,6-38cm dari lantai dengan volume pengelontor 4,5-6L
dan tersedia washlet atau jetshower. Tersedia tempat sampah khusus pembalut dan tissue
pada toilet wanita. Selain itu, toilet wanita dan pria harus terpisah dengan pemberian
tanda jenis kelamin di setiap toiletnya. Toilet yang sehat memiliki ventilasi yang cukup,
cahaya minimal 200 lux, dan kelembaban ruangannya 45-55% (Adiwoso 2013).

2.5.2 Pembuangan air limbah


Menurut Perarturan Menteri Perhubungan no.54 tahun 2017, pengelolaanair limbah di
Bandar udara meliputi : pengurangan air limbah, penyaluran air limbah, pengolahan air
limbah, dan pembuangan air limbah.
a. Pengurangan air limbah
Kegiatan meminimalisir air limbah di setiap kegiatan di Bandar udara, yaitu terdiri
atas efisiensi pemakaian air di bandar udara dan pemasangan alat hemat air serta
penerepan kebijakan dalam pengurangan air limbah di bandar udara.
b. Penyaluran air limbah
Kegiatan menyalurkan air limbah. Penyaluran air limbah harus memenuhi syarat,
yaitu air permukaan tidak boleh terkontaminasi, air tanah tidak boleh terkontaminasi,
tidak memungkinkan menjadi tempat perkembangbiakan agen penyakit, tidak
mengganggu dari segi bau dan estetika. Penyaluran air limbah dibuat dengan
membuat saluran air limbah yang tertutup dan kedap air, memisahkan saluran air
limbah dengan saluran drainase atau air hujan, dan mencegah kontaminasi ceceran
bahan bakar minyak, pelumas, dll.
c. Pengolahan air limbah
Kegiatan menurunkan, meminimalkan, dan mengurangi kadar polutan yang terdapat
dalam air limbah. Pengolahan air limbah yang dimaksud adalah menyediakan
fasilitas pengolahan air limbah sesuai dengan skala air limbah yang dihasilkan di
Bandar udara. Selain itu, Bandar udara harus bekerja sama dengan perseorangan
warga Indonesia atau pemerintah daerah serta memastikan bahwa pengelolaan air
limbah sesuai dengan ketentuan perarturan perundang-undangan . Kegiatan yang
dapat dilakukan yaitu pendaurulangan air limbah dan pemanfaatan kembali air limbah
d. Pembuangan air limbah
Kegiatan membuang air limbah hasil pengolahan air limbah ke media lingkungan.
Pembuangan air limbah wajib memenuhi baku mutu air limbah yang berlaku.

2.5.3 Tempat cuci tangan


Tempat cuci tangan atau wastafel di tempat umum menjadi sarana sanitasi yang
penting bagi masyarakat. Cuci tangan dapat membunuh mikrobiologi yang menjadi agen
penyakit. Wastafel harus tersedia di bandara. Wastafel yang sesuai dengan standar adalah
wastafel yang dilengkapi dengan sabun dan akses air bersih yang lancar.

2.5.4 Tempat parkir


Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat sementara
karena ditnggal oleh pengemudinya. Menurut Hobbs (1995), parkir diartikan sebagai
suatu kegiatan untuk meletakkan atau menyimpan kendaraan disuatu tempat tertentu yang
lamanya tergantung kepada selesainya keperluan dari pengendaraan tersebut. Tempat
parkir adalah lokasi yang ditentukan sebagai tempat pemberhentian kendaraan yang tidak
bersifat sementara untuk melakukan kegiatan pada suatu kurun waktu. Kegiatan parkir
adalah kecenderungan pengguna kendaraan untuk melakukan perparkiran dan dapat
dibagi beberapa lokasi sebgai berikut (Yusira 2016):
a. Pusat perdagangan (pasar, eceran dan swalayan) Parkir di suatu pusat perdagangan ini
ada dua macam yaitu pekerja dan pengunjung. Pekerja umumnya parkir untuk jangka
panjang dan untuk parkir pengunjung untuk jangka pendek.
b. Pusat perkantoran swasta dan pemerintah Parkir di pusar perkantoran adalah parkir
jangka panjang. Kebutuhan luas parkirnya disesuaikan dengan jumlah karyawan.
c. Sekolah dan Universitas, parkir sekolah dan universitas terdiri dari
pekerja/guru/dosen dan siswa/mahasiswa parkir biasanya dalam jangka pendek
sedangkan untuk pekerja/guru/dosen jangkanya lebih panjang.
d. Tempat rekreasi Tempat parkir di tempat rekreasi biasanya sangatlah ramai pada hari
libur sehingga jumlahnya meningkat dari hari biasa.
e. Hotel dan tempat penginapan Kebutuhan untuk ruang parkir ini berdasarkan jumlah
kamar, tarif penyewaan kamar dan acara-acara seperti seminar atau pernikahan.
f. Rumah sakit Kebutuhan parkir rumah sakit biasanya berdasarkan tariff rumah sakit
itu sendiri serta jumlah kamar yang tersedia
Menurut peraturan menteri perhubungan RI tnomor 77 tahun 2015 tentang
standarisasi dan sertifikasi fasilitas bandara, Tempat parkir merupakan bagian dari
prasarana sisi darat (Landside facility) yang harus terpenuhi, salah satunya ialah terdapat
tempat parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat

2.5.5 Tempat Sampah


Penyediaan tempat sampah dibandara merupakan yang harus dipenuhi pada
bandara, khususnya di ruang tunggu harus tersedia minimal 1 buah tempat sampah
disetiap radius 10 meter. Selain itu pada ruangan terbuka disekitar bandara juga harus
tersedia tempat sampah minimal 1 buah dalam radius 20 meter. Tempat sampah yang
tersedia harus dalam keadaan baik, terbuat dari bahan yang kuat, anti karat, ringan,
mudah dibersihkan dan dilengkapi penutup
Menurut tempo (2012) bandara dalam hal ini ialah bandara Soekarno Hatta dapat
memproduksi lebih dari 40 ton sampah. Sampah tersebut terdiri dari sampah padat airside
dan landside. Sampah airside adalah sampah padat yang terkumpul disisi bandara seperti
apron dan taxiway. Sedangkan sampah landside adalah sampah yang berasal dari area
kargo, check-in, boarding , tenant serta lokasi parkir kendaraan. Selain sampah padat,
terdapat juga sampah cair yang diproduksi bandara dengan jumlah 8,8 juta kiloliter
perhari. Setelah dilakukan pengelolaan terhadap limbah tersebut makan dapat dihasilkan
5,5 jta kiloliter air bersih yang dapat digunakan untuk perawatan taman.
Selain itu untuk mengelola sampah dibandara, dapat juga dilakukan beberapa
tahap pengelolaan seperti optimalisasi reduce, reuse, recycle (3R), peningkatan kualitas
sumber daya manusia, produksi briket dan kompos, serta pengolahan sampah sejalan
dengan grand design tertentu.

2.5.6 Pencahayaan dan kebisingan


Pencahayaan dalam ruang tunggu bandara harus lebih dari 100 lux , dengan udara
yang tidak pengap dan berbau. Selain itu pada Bandar udara, masalah yang perlu
diperhatikan ialah kebisingan karena pesawat yang beraktifitas pasti mengeluarkan bising
sehingga pada ruang tunggu diatur mengenai batas maksimal kebisingan ialah 55 Dba.
Pada Bandar udara terdapat 4 klasifikasi zona kebisingan yaitu zona A, zona B,
zona C, dan zona D. Zona A adalah daerah dengan tingkatan bising antara 150 dB. Pada
zona ini tidak boleh dimasuki sama sekali. Zona B adalah daerah kebisingan antara 135-
150 dB. Pada zona tersebut orang yang masuk harus dalam waktu yang sesingkat
mungkin dan harus menggunakan earmuff. Zona C yaitu dengan tingkat kebisingan
antara 115 -135 dB, semua pekerja yang berada pada zona tersebut harus menggunakan
earmuff, tetapi jika hanya sebentar boleh hanya memakai earplug. Zona D, merupakan
daerah dengan tingkat kebisingan 100-115 dB, sehingga pekerja yang berada pada zona
D harus memakai ear plug secara terus menerus.

2.5.7 Ruang tunggu


Menurut magnun (2015) Ruang tunggu adalah ruang yang digunakan sebagai
tempat menunggu bagi orang. Area atau ruang tunggu merupakan salah satu fasilitas
bandara yang harus dilengkapi dengan sarana lainnya yaitu kamar mandi, telepon umum,
layanan P3K, kantor pos, informasi, dan fasilitas-fasilitas komersial. Ruang Tunggu
Keberangkatan di bandara merupakan tempat yang harus cukup untuk menampung
penumpang waktu sibuk selama menunggu waktu check-in, dan selama penumpang
menunggu saat boarding setelah check in. Ruang ini selain digunakan untuk menunggu
keberangkatan pesawat juga dipakai sebagai jalan keluar bagi penumpang yang turun dari
pesawat. Pada umumnya, ruangan ini harus cukup besar untuk dapat menampung
sejumlah penumpang yang diharapkan ada di ruangan ini 15 menit sebelum jam
keberangkatan pesawat, dengan menganggap waktu itu adalah waktu di mana penumpang
dapat mulai masuk ke pesawat. Dalam ruangan ini harus terdapat tempat duduk walaupun
tidak perlu untuk seluruh penumpang, ruangan bagi perusahaan penerbangan untuk
memroses keberangkatan, di tambah untuk antrian dan jalan keluar bagi penumpang yang
baru turun dari pesawat. Luas ruang tunggu bersama untuk keberangkatan didasarkan
pada jumlah total penumpang yang naik ke pesawat pada jam puncak untuk pintu
gerbang ke pesawat (gates) yang dilayani oleh ruang tunggu tersebut. Pada ruang tunggu
dapat disediakan fasilitas komersial bagi penumpang untuk berbelanja selama waktu
menunggu (Muda 2014).

2.6 Persyaratan Bandara dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 44 tahun 2014


2.6.1 Air
Air menurut permenkes no 44 tahun 2014 harus terjamin ketersediaannya untuk
semua keperluan bandara. Selain itu air juga harus memenuhi kualitas dari segi fisik,
kimia, dan mikrobiologi. Air yang melalui kran merupakan air siap minum sehingga
kualitasnya harus terjaga sesuai dengan persyaratan air minum. Berdasarkan Permenkes
No 32 tahun 2017 terdapat Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk media Air
yang diperuntukan sebagai keperluan Higiene Sanitasi meliputi parameter fisik, biologi,
dan kimia yang dapat berupa parameter wajib dan parameter tambahan. Parameter wajib
merupakan parameter yang harus diperiksa secara berkala sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan, sedangkan parameter tambahan hanya diwajibkan untuk
diperiksa jika kondisi geohidrologi mengindikasikan adanya potensi pencemaran
berkaitan dengan parameter tambahan. Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi tersebut
digunakan untuk pemeliharaan kebersihan perorangan seperti mandi dan sikat gigi, serta
untuk keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan, dan pakaian. Selain itu Air untuk
Keperluan Higiene Sanitasi dapat digunakan sebagai air baku air minum. Berikut
merupakan Parameter Fisik dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk
Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi.
Tabel 1. Parameter Fisik Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk Media Air
untuk Keperluan Higiene Sanitasi.
Tabel 2. Parameter Biologi dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi

Tabel 3 berisi daftar parameter kimia yang harus diperiksa untuk keperluan
higiene sanitasi yang meliputi 10 parameter wajib dan 10 parameter tambahan.
Parameter tambahan ditetapkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dan otoritas
pelabuhan/bandar udara.
Tabel 3. Parameter Kimia dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi

(Permenkes no 32 , 2017)
2.6.2 Limbah
Peraturan mengenai pengendalian pencemaran lingkungan telah diatur dalam
Undang- Undang No. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup. Bandara sebagai salah satu tempat penghasil sampah karena mempunyai andil
dengan kawasan komersial yaitu sebesar 9% Sehingga Bandara adalah area publik jadi
wajib mempunyai instalasi untuk pembuangan limbah.
2.6.2.1 Pengelolaan Limbah Cair
Air limbah yang berasal dari industri harus diolah di instalasi pengolahan limbah.
Saluran air limbah juga harus tertutup, serta pengelolaan supaya tidak terdapat genangan
air limbah serta bebas dari ceceran minyak di kawasan Bandar udara. Air limbah
sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani pengolahan terlebih dahulu.

Pengelolaan air limbah dapat dilakukan secara alamiah maupun dengan bantuan
peralatan. Pengolahan air limbah secara alamiah biasanya dilakukan dengan bantuan
kolam stabilisasi sedangkan pengolahan air dengan bantuan peralatan misalnya dilakukan
pada Instalasi Pengolahan Air Limbah/ IPAL (Waste Water Treatment Plant /WWTP).
Pengelolaan Limbah bertujuan untuk Mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga,
Melindungi hewan dan tanaman yang hidup didalam air, Menghindari pencemaran tanah
permukaan, Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vektor penyakit.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengelolah air limbah,diantaranya:
a. Pengenceran (disposal by dilution )
Air limbah dibuang ke sungai, danau, atau laut agar
mengalami pengenceran. Dengan cara ini air limbah akan mengalami purifikasi
alami. Namun , cara semacam ini dapat mencemari air permukaan dengan bakteri
pathogen, larva dan telur cacing , serta bibit penyakit lainnya yang terdapat dalam
air limbah tersebut. Apabila hanya cara ini yang dapat diterapkan, maka
persyaratan berikut harus dipenuhi:
1. Air sungai atau danau tidak boleh digunakan untuk keperluan lain.
2. Volume air mencukupi sehingga pengenceran berlangsung kurangdari 30-40
kali
3. Air harus cukup mengandung oksigen. Dengan kata lain air harus mengalir
(tidak boleh stagnan) agar tidak menimmbulkan bau. (Arief 2016)

b. Cesspool
Bentuk cesspool ini menyerupai sumur tetapi digunakan
untuk pembuangan air limbah. Dibuat pada tanah yang berpasir agar
air buanganmudah meresap kedalam tanah. Bagian atas ditembok agar tidak
tembusair. Apabila ceespool sudah penuh (±60bulan), lumpur didalamnya
dapatdihisap keluar atau dari semula dibuat cesspool secara berangkai sehingga
bila yang satu penuh, air akan mengalir ke cesspool berikutnya.
Jarak cesspool dengan sumur air bersih adalah 45 meter dan minimal 6 meter dari
pondasi rumah (Arief 2016).

c. Sumur resapan (seepage pit )


Sumur resapan merupakan sumur tempat menampung air limbah
yangtelah mengalami pengolahan dalam system lain, misalnya dari aqua privy
atau septic tank. Dengan cara ini, air hanya tinggal mengalami peresapan ke
dalam tanah. Sumur resapan ini dibuat pada tanah yang berpasir,dengan diameter
1-2,5 meter dan kedalaman 2,5 meter. Lama pemakaian dapat mencapai 6-10
tahun (Arief 2016).

d. Septic tank
Septic tank menurut WHO, merupakan metode terbaik untuk
mengelolahair limbah walau biayanya mahal, rumit, dan memerlukan tanah yang
luas. Septic tank memiliki 4 bagian, antara lain:
1. Ruang pembusukan, Dalam ruang ini, air kotor akan tertahan 13 hari dan
akanmengalami penguraian oleh bakteri pembusuk yang akanmenghasilkan
gas, cairan, dan lumpur. Gas dan cairan akan masuk kedalam
dosing chamber melalui pipa dan lumpur akan masuk ke ruang lumpur.
2. Ruang lumpur, merupakan tempat penampungan lumpur. Apabila ruang
sudah penuh, lumpur dapat dipompa keluar.
3. Dosing chamber, dalam dosing chamber terdapat bagian yang berfumgsi
untuk mengatur kecepatan air yang akan dialirkan ke bidang resapan agar
merata.
4. Bidang resapan, merupakan bidang yang akan menyerap cairan keluar dari
dosing chamber dan menyaring bakteri pathogen maupun bibit penyakit lain.
Panjang minimal bidang resapan ini 10meter dan dibuat pada tanah berpasir.

e. System Riool (sewage)


System riool menampung semua air kotor dari rumah maupun
perusahaan,dan terkadang menampung kotoran dari lingkungan. Apabila dipakai
untuk menampung air hujan, sistem riool ini disebut combined system,sedangkan
jika bak penampung air hujannya dipisahkan maka disebut separated system. Agar
tidak merugikan kepentingan lain, air kotor dialirkan ke ujung kota, misalnya ke
daerah peternakan, pertanian, atau perikanan darat. Air kotor itu masih
memerlukan pengolahan.Proses pengolahan yang dilakukan, antara lain:
1. Penyaringan (screening), Penyaringan ditujukan untuk menangkap benda-
benda yang terapung diatas permukaan air.
2. Pengendapan (sedimentation), air limbah dialirkan ke dalam bak besar
(sand trap) sehingga aliran menjadi lambat dan lumpur serta pasir mengendap.
3. Proses biologis, Proses ini menggunakan mikroba untuk memusnahkan zat
organic di dalam limbah baik secara aerob maupun anaerob.
4. Disaring dengan saringan pasir (sand filter)
5. Desinfeksi, dengan kaporit (10kg/1 juta air limbah) untuk membunuh mikroba
pathogen.
6. Pengenceran, air limbah dibuang ke sungai, danau atau laut sehingga
mengalami pengenceran (Arief 2016).

2.6.2.2 Limbah Padat (Pengelolaan sampah)


Terdapat beberapa macam penggolongan sampah, yaitu asal, komposisi, bentuk,
lokasi, proses terjadinya, sifat dan jenisnya. Sampah berdasarkan asalnya, terbagi menjadi
sampah hasil kegiatan rumah tangga (termasuk di dalamnya sampah rumah sakit, hotel
dan kantor), sampah hasil kegiatan industri/pabrik, sampah hasil kegiatan pertanian
(meliputi perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan), sampah hasil kegiatan
perdagangan (misalnya sampah pasar dan toko), sampah hasil kegiatan pembangunan,
serta sampah jalan raya.
Penggolongan sampah berdasarkan komposisinya yaitu sampah seragam dan
sampah campuran. Sampah seragam merupakan sampah hasil kegiatan industri umumnya
termasuk dalam golongan ini. Sampah dari kantor sering hanya terdiri atas kertas, karton,
kertas karbon dan semacamnya yang masih tergolong seragam atau sejenis. Sedangkan
sampah campuran misalnya, sampah yang bersal dari pasar atau sampah dari tempat-
tempat umum yang sangat beraneka ragam dan bercampur menjadi satu.
Penggolongan sampah berdasarkan bentuknya terbagi atas sampah padatan
(solid), misalnya daun, kertas, karton, kaleng, plastik dan logam. Sampah cairan
(termasuk bubur), misalnya bekas air pencuci, bekas cairan yang tumpah, tetes tebu, dan
limbah industri yang cair. Sampah berbentuk gas, misalnya karbon dioksida, amonia,
H2S dan lainnya
Penggolongan sampah berdasarkan lokasinya dibagi menjadi dua, yaitu sampah
kota dan sampah daerah. Sampah kota (urban) yang terkumpul di kota-kota besar.
Sampah daerah yang terkumpul di daerah-daerah luar perkotaan. Sedangkan
penggolongan sampah berdasarkan proses terjadinya ialah sampah alami, yang terjadinya
karena proses alami. Misalnya rontokan dedaunan. Sampah non-alami, ialah sampah
yang terjadinya karena kegiatan manusia. Misalnya plastik dan kertas.
Berdasarkan sifatnya,penggolongan sampah dibagi menjadi sampah organik dan
sampah anorganik. Sampah organik, terdiri atas dedaunan, kayu, tulang, sisa makanan
ternak, sayur dan buah. Sampah organik adalah sampah yang mengandung senyawa
organik dan tersusun oleh unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Sampah ini mudah
didegradasi oleh mikroba. Sedangkan sampah anorganik, terdiri atas kaleng, plastik, besi,
logam, kaca dan bahan-bahan lainnya yang tidak tersusun oleh senyawa anorganik.
Sampah ini tidak dapat didegradasi oleh mikroba sehingga sulit untuk diuraikan.
Adapun jenis-jenis sampah yang dihasilkan dari aktivitas bandara, yaitu Sampah
organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup,
di mana sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Dari
aktivitas bandara, sampah organik yang dihasilkan berupa sampah sisa makanan, sisa
sayuran, sisa buah, kertas, kayu, daun-daunan dan tanah. Sedangkan, sampah anorganik
yaitu sampah yang tidak dapat terdegradasi secara alami. Contoh sampah bandara jenis
ini adalah kaleng, besi, plastik, karet, botol dan kaca.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 18 tahun 2008, yang
dimaksud dengan pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan
sampah adalah sebuah upaya komprehensif menangani sampah-sampah yang dihasilkan
dari berbagai aktivitas manusia, dikelompokkan menjadi enam elemen terpisah yaitu
Pertama, pengendalian bangkitan (control of generation), Kedua, penyimpanan (storage).
Ketiga, pengumpulan (collection). Keempat, pemindahan dan pengangkutan (transfer and
transport). Kelima, pemrosesan (processing), dan keenam, yaitu pembuangan (disposal)
(Soekmana, 2010). Pemisahan elemen-elemen ini sangat penting karena pengelolaan
setiap elemen sangat dinamis, khususnya mengikuti perkembangan teknologi dan budaya
serta bervariasi dari suatu tempat ke tempat lainnya. Agar sistem pengelolaan sampah
dapat berlangsung efisien maka setiap elemen baik sendiri-sendiri maupun bersama harus
dikelola secara optimal dengan mempertimbangkan sebagai keterbatasan seperti biaya,
teknologi, pendidikan dan perilaku masyarakat (Osmen, 2000).
Sampah yang berada dibandara tempat penampunagn sampah sementara dapat
menimbulkan pencemaran, untuk meminimalisir hal tersebut maka harus dilakukan
pengangkutan sampah secara rutin ketersediaan bak atau tempat sampah harus terpisah
dengan kantor instansi (PMK 44, 2014).

2.6.2.3 Pengelolaan Limbah B3


Bahan Berbahaya dan Beracun atau sering disingkat B3 menurut (Riyanto 2014)
adalah zat atau bahan-bahan lain yang dapat membahayakan kesehatan atau
kelangsungan hidup manusia, makhluk lain, dan atau lingkungan hidup pada umumnya.
Karena sifat-sifatnya itu, bahan berbahaya dan beracun serta limbahnya memerlukan
penanganan yang khusus. Menurut PP No 101 Tahun 2014, terdapat 4 sumber limbah
yaitu :
a) Limbah B3 dari sumber spesifik
b) Limbah B3 dari B3 kadaluarsa, B3 yang tumpah, B3 yang tidak memenuhi spesifikasi
produk yang akan dibuang, dan bekas kemasan B3
c) Limbah B3 dari sumber spesifik umum
d) Limbah B3 dari sumber spesifik khusus
Limbah B3 dari sumber spesifik contohnya ialah Pelarut terhalogenasi
(contohnya: metilen klorida, klorobenzena, dll), pelarut yang tidak terhalogenasi
(contohnya: aseton, toluena, nitrobenzena, dll), asam atau basa (asam fosfat, asam sulfat,
natrium hidroksida, dll), yang tidal spesifik lain (contohnya: aki bekas, limbah
laboratorium yang mengandung B3, kemasan bekas B3, dll).
Limbah B3 dari B3 kadaluarsa, B3 yang tumpah, B3 yang tidak memenuhi
spesifikasi produk yang akan dibuang, dan bekas kemasan B3 contohnya Barium sianida,
karbon disulfida, tembaga sianida, gas fluor, endrin
Limbah B3 dari sumber spesifik umum contohnya
Pabrik pupuk dan bahan senyawa nitrogen (contohnya: limbah karbon aktif, katalis
bekas, sludge IPAL, dll), pabrik pestisida (contohnya: residu proses produksi, abu
insinerator, sludge IPAL, dll), kilang minyak bumi (contohnya: sludge dari proses
produksi, residu dasar tanki, dll), pabrik petrokimia (katalis bekas, sludge IPAL, dll)
Limbah B3 dari sumber spesifik khusus misalnya
Copper slug dari proses peleburan bijih tembaga, slag nikel dari proses peleburan bijih
nikel, slag timah putih dari proses peleburan timah putih (Sn), sludge IPAL proses
pengolahan air limbah dari industri pulp.
Limbah yang termasuk dalam kategori B3, harus ditangani secara khusus dengan
cara penyediaan sarana penampungan limbah B3. Selain itu juga harus diatur mengenai
kapasitas SPL B3 yang ada serta bagaimana sitem pengangkutan limbah B3 (PMK 2014)

2.6.3 Kualitas udara dan kebisingan


Menurut KepMenLH no 48 tahun 1996, Kebisingan adalah bunyi yang tidak
diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Tingkat
kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang dinyatakan dalam satuan decible disingkat
dB. Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang
diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak
menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Kebisingan
berasal dari kata bising yang artinya semua bunyi yang mengalihkan perhatian,
mengganggu, atau berbahaya bagi kegiatan sehari-hari, bising umumnya didefinisikan
sebagai bunyi yang tidak diinginkan dan juga dapat menyebabkan polusi lingkungan.
Dampak tingkat kebisingan sebesar 65 dBA secara kontinyu akan berdampak penyakit
jantung, kebisingan sebesar 70 dBA akan mengakibatkan kelelahan mental dan fisik,
gangguan psikomatis, serta kebisingan sebesar 80 dBA akan mengakibatkan kerusakan
dan penurunan daya pendengaran (Sasmita 2017)
Berdasarkan PP No. 40 Tahun 2012 diwajibkan kepada setiap bandar udara untuk
menerapkan bandar udara yang ramah lingkungan. Bandar udara ramah lingkungan
dilakukan secara bertahap dengan menetapkan rencana pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup bandara, melaksanakan kegiatan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup bandara, mengevaluasi hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup bandara yang telah dilaksankan, dan melaporkan kegiatan penenrapan bandara
ramah lingkungan kepada Menteri. Disetiap Bandar Udara harus dilakukan pemantauan
terhadap kualitas udara dan kualitas kebisingan di lingkungan Bandar udara. Pemantauan
tersebut harus terprogram sehingga pemantauan kualitas udara dan kebisingan dapat
dilakukan secara teratur (Direktorat jendral Perhubungan Udara 2012)

DAFTAR PUSTAKA
Lubis Harun A Sorah. 2001. Dasar-Dasar Transportasi. Jurusan.Teknik Sipil ITB, Bandung.
Peraturan Menteri Perhubungan. Nomor: Km 11 Tahun 2010. Tentang. Tatanan
Kebandarudaraan Nasional
Robert; Mc Kelvey, Franciz X. 1988. Perencanaan dan. Perancangan Bandar Udara Jilid 1.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Adiwoso, Naning. 2013. Toilet?Restroom?Toilet Indonesia. Jakarta ; Asosiasi Toilet Indonesia
Perarturan Mentri Perehubungan Republik Indonesia No.54 tahun 2017 tentang Pengelolaan
Limbah dan Zat Kimia Pengoperasian Pesawat Udara dan Bandar Udara. Diunduh di
http://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/permen/2017/PM_54_Tahun_2017_recognized.pdf
(pada 8 Mei 2018)
Aisyah, Siti. 2017. Sanitasi Bandar Udara. Diunduh di
https://www.slideshare.net/SitiAisyah67/sanitasi-bandara (pada 8 Mei 2018)
Yusira S. 2916. Diakses tanggal 9 mai 2018 melalui repository.umy.ac.id/

Magnum. 2015. Diakses tanggal 9 mai 2018 melalui eprints.polsri.ac.id/2147/3/BAB%20II.pdf

Muda. 2014. Diakses tanggal 9 mai 2018 melalui http://e-


journal.uajy.ac.id/4827/3/2MTS01891.pdf

Arief .2016. Pengolahan Limbah Industri : dasar-dasar pengetahuan dan Aplikasi di tempat
kerja. Penerbit Andi

Direktorat jendral Perhubungan Udara 2012. http://hubud.dephub.go.id/?id/news/detail/1607.


Diakses 16 Mei 2018

Riyanto .2014. Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun. Deepublish

Sasmita 2017. Jurnal Evaluasi Tingkat Kebisingan Di Bandara.


Https://Www.Researchgate.Net/Publication/319006800_EVALUASI_TINGKAT_KEBISINGA
N_DI_BANDARA_SULTAN_SYARIF_KASIM_II_PEKANBARU [diakses 16 Mei 2018].
Gultom, Osmen. 2002. Pengelolaan Sampah Padat Perkotaan Secara Terpadu. Pusat
Pengembangan Pengelolaan Limbah Radioaktif, Batan.

Sejati, Kuncoro. 2009. Pengolahan Sampah Terpadu. Kanisius.