Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA

KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU

Yang dibina oleh Bapak Sumari dan Ibu Fauziatul Fajaroh

Oleh:
Desy Irianti 150331604550*
Devi Dwi P. 150331600057*
Devita Novi A. 150331603639*

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
Februari 2017
1. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan diharapkan mahasiswa dapat menentukan kelarutan zat
pada berbagai suhu dan menentukan kalor pelarut differensial.

2. DASAR TEORI
Dalam larutan jenuh terjadi kesetimbangan antara molekul-molekul zat yang larut
dan yang tidak larut. Kesetimbangan itu dapat dituliskan sebagai berikut:
A(p) ↔ A(l)
A(p) : molekul zat yang tidak larut
A(l) : molekul zat terlarut
Tetapan kesetimbangan proses pelarutan tersebut:

Kelarutan adalah jumlah zat yang dapat larut dalam sejumlah pelarut sampai
membentuk larutan jenuh. Apabila suatu larutan suhunya diubah, maka hasil
kelarutannya juga akan berubah. Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh dan lewat jenuh.
Larutan dikatakan jenuh pada temperatur tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan
lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat terlarut kurang dari larutan jenuh disebut larutan
tidak jenuh. Dan bila jumlah zat terlarut lebih dari larutan jenuh disebut larutan lewat
jenuh. Daya larut suatu zat dalam zat lain, dipengaruhi oleh jenis zat pelarut, temperatur
dan sedikit tekanan. Pengaruh suhu terhadap kelarutan dapat dilihat pada peristiwa
sederhana yang terjadi pada kehidupan sehari-hari yaitu kelarutan gula dalam air. Gula
yang dilarutkan ke dalam air panas, dan satu lagi ke dalam air dingin, maka gula akan
lebih cepat larut pada air panas karena semakin besar suhu semakin besar pula
kelarutannya. Aplikasi kelarutan dalam dunia industri adalah pada pembuatan reaktor
kimia, pada proses pemisahan dengan cara pengkristalan integral, selain itu juga dapat
digunakan untuk dasar atau ilmu dalam proses pembuatan granul-granul pada industri
baja. Oleh karena aplikasi kelarutan yang bermanfaat dan adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi kelarutan maka praktikum kelarutan zat padat dalam cairan perlu
dilakukan.

3. PERALATAN YANG DIGUNAKAN


1) Gelas kimia
2) Tabung reaksi besar
3) Batang pengaduk
4) Thermometer
5) Pipet gondok
6) Erlenmeyer
7) Labu ukur
8) Kaca arloji
9) Buret

4. BAHAN YANG DIGUNAKAN


1) Asam oksalat jenuh
2) NaOH
3) Akuades
4) Indicator Fenolftalein
5) Es

5. LANGKAH KERJA
1) Dimasukkan larutan jenuh asam oksalat pada tabung A, kemudian tabung A yang
berisi larutan jenuh dimasukkan kedalam gelas piala yang berisi air pada suhu
kamar.
2) Dilengkapi tabung A dengan pengaduk dan thermometer, sebagaimana yang
tertera pada gambar berikut:

3) Diaduk terus larutan di tabung A. Bilamana suhu menurun sampai 40oC, dipipet
10 mL larutan dan encerkan hingga 100 mL dalam labu ukur 100 mL.
4) Dilakukan pengambilan yang serupa pada 30oC, 20oC, dan 10oC. Untuk dapat
mencapai 20oC, dan 10oC, es ditambahkan pada air di gelas beaker. Ujung pipet
perlu dibungkus kertas saring, agar zat padat tidak memasuki pipet, ketika
pemipetan dilakukan.
5) Dititrasi 10 mL larutan yang telah diencerkan dengan NaOH 2 M dan indicator
fenolftalein.
6. DATA HASIL PENGAMATAN
- Data Hasil Pengamatan
No. Suhu Volume larutan Konsentrasi Volume
jenuh oksalat NaOH NaOH
1 40oC 10 mL 2M 1,22 mL
2 30oC 10 mL 2M 1,75 mL
3 20oC 10 mL 2M 1,19 mL
4 10oC 10 mL 2M 0,96 mL

*Catatan: larutan jenuh oksalat diambil 10 mL pada tiap-tiap suhu dan diencerkan hingga
100 mL, kemudian diambil 10 mL untuk dititrasi.
- Perhitungan
1. Pada suhu 40oC
 Saat dititrasi
MNaOH x VNaOH x nNaOH = MH2C2O4 x V H2C2O4 x n H2C2O4
2 mol L-1 x 1,22 mL x 1= MH2C2O4 x 10 mL x 2
MH2C2O4 = 2 mol L-1 x 1,22 mL x 1
10 mL x 2
= 0,122 mol L-1
 Saat diambil 10 mL
Mol dalam 100 mL = 0,122 mol L-1
10
= 0,0122 mol
100 mL
 Saat pengenceren
MH2C2O4 x V H2C2O4(sblm pengenceran)= MH2C2O4 x V H2C2O4(stlh ngenceran)
M H2C2O4 x 10 mL = 0,0122 mol x 100 mL
100 mL
M H2C2O4 = 0,0122 mol x 100 mL
100 mLx10 mL
= 0,0122 mol
10 mL
 Konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 40oC
M H2C2O4 = 0,0122 mol x 1000 mL
10 mL L
= 1,22 mol
L
2. Pada suhu 30oC
 Saat dititrasi
MNaOH x VNaOH x nNaOH = MH2C2O4 x V H2C2O4 x n H2C2O4
2 mol L-1 x 1,75mL x 1= MH2C2O4 x 10 mL x 2
MH2C2O4 = 2 mol L-1 x 1,75 mL x 1
10 mL x 2
= 0,175 mol L-1
 Saat diambil 10 mL
Mol dalam 100 mL = 0,175mol L-1
10
= 0,0175 mol
100 mL
 Saat pengenceren
MH2C2O4 x V H2C2O4(sblm pengenceran)= MH2C2O4 x V H2C2O4(stlh ngenceran)
M H2C2O4 x 10 mL = 0,0175 mol x 100 mL
100 mL
M H2C2O4 = 0,0175 mol x 100 mL
100 mLx10 mL
= 0,0175 mol
10 mL
 Konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 30oC
M H2C2O4 = 0,0175 mol x 1000 mL
10 mL L
= 1,75 mol
L
3. Pada suhu 20oC
 Saat dititrasi
MNaOH x VNaOH x nNaOH = MH2C2O4 x V H2C2O4 x n H2C2O4
2 mol L-1 x 1,19 mL x 1= MH2C2O4 x 10 mL x 2
MH2C2O4 = 2 mol L-1 x 1,19 mL x 1
10 mL x 2
= 0,119 mol L-1
 Saat diambil 10 mL
Mol dalam 100 mL = 0,119 mol L-1
10
= 0,0119 mol
100 mL
 Saat pengenceren
MH2C2O4 x V H2C2O4(sblm pengenceran)= MH2C2O4 x V H2C2O4(stlh ngenceran)
M H2C2O4 x 10 mL = 0,0119 mol x 100 mL
100 mL
M H2C2O4 = 0,0119 mol x 100 mL
100 mLx10 mL
= 0,0119 mol
10 mL
 Konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 20oC
M H2C2O4 = 0,0119 mol x 1000 mL
10 mL L
= 1,19 mol
L
4. Pada suhu 10oC
 Saat dititrasi
MNaOH x VNaOH x nNaOH = MH2C2O4 x V H2C2O4 x n H2C2O4
2 mol L-1 x 0,96 mL x 1= MH2C2O4 x 10 mL x 2
MH2C2O4 = 2 mol L-1 x 0,96 mL x 1
10 mL x 2
= 0,096 mol L-1
 Saat diambil 10 mL
Mol dalam 100 mL = 0,096 mol L-1
10
= 0,0096 mol
100 mL
 Saat pengenceren
MH2C2O4 x V H2C2O4(sblm pengenceran)= MH2C2O4 x V H2C2O4(stlh ngenceran)
M H2C2O4 x 10 mL = 0,0096 mol x 100 mL
100 mL
M H2C2O4 = 0,0096 mol x 100 mL
100 mLx10 mL
= 0,0096 mol
10 mL
 Konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 10oC
M H2C2O4 = 0,0096 mol x 1000 mL
10 mL L
= 0,96 mol
L
- Table konsentrasi
No. Suhu Konsentrasi
H2C2O4
1 40oC 1,22 M
2 30oC 1,75 M
3 20oC 1,19 M
4 10oC 0,96 M
7. ANALISIS PROSEDUR
Langkah kerja yang disorot Analisis
Dimasukkan tabung yang berisi reaksi yang Untuk mempercepat penurunan suhu
berisi larutan jenuh kedalam gelas kimia
yang berisi air
Diaduk terus larutan jenuh di dalam tabung Untuk memastikan bahwa zat terlarut
reaksi merata dalam larutan
Ujung pipet dibungkus dengan pipet saring Untuk menghindari masuknya padatan
kedalam pipet
Ditambahkan indicator fenolftalein pada Untuk mengetahui titik akhir titrasi yang
larutan yang akan dititrasi ditandai dengan perubahan warna larutan
dari tidak berwarna menjadi merah muda

8. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan ke-9 ini, bertujuan untuk menentukan kelarutan zat pada berbagai
suhu dan menentukan kalor pelarutan differensial. Percobaan ini diawali dengan
mengambil larutan asam oksalat jenuh yang telah disediakan oleh laborat. Kemudian
larutan dimasukkan kedalam tabung reaksi ± 50 mL, selanjutnya tabung reaksi yang
berisi larutan jenuh tersebut di masukkan kedalam gelas kimia yang berisi air.
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan jenuh tersebut pengaduk dan
thermometer. Larutan yang berada di dalam tabung terus diaduk. Pada suhu 40 oC diambil
10 mL larutan jenuh asam oksalat menggunakan pipet volum 10 mL, kemudian di
pindahkan kedalam labu takar 100 mL, lalu diencerkan. Setelah diencerkan diambil 10
mL larutan asam oksalat hasil pengenceran dan dipindahkan ke dalam Erlenmeyer
kemudian ditambahkan indicator fenolftalein tiga tetes dan dititrasi dengan NaOH 2 M.
Didapat volume NaOH hingga dapat merubah larutan yang awalnya tidak berwarna
menjadi merah muda sebesar 1,22 mL. Dengan persamaan reaksi:
2NaOH(aq) + H2C2O4  Na2C2O4(aq) + 2H2O(ℓ)
Untuk mengetahui konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 40 oC digunakan
perhitungan sebagai berikut:
 Saat dititrasi
MNaOH x VNaOH x nNaOH = MH2C2O4 x V H2C2O4 x n H2C2O4
2 mol L-1 x 1,22 mL x 1= MH2C2O4 x 10 mL x 2
MH2C2O4 = 2 mol L-1 x 1,22 mL x 1
10 mL x 2
= 0,122 mol L-1
 Saat diambil 10 mL
Mol dalam 100 mL = 0,122 mol L-1
10
= 0,0122 mol
100 mL
 Saat pengenceren
MH2C2O4 x V H2C2O4(sblm pengenceran)= MH2C2O4 x V H2C2O4(stlh ngenceran)
M H2C2O4 x 10 mL = 0,0122 mol x 100 mL
100 mL
M H2C2O4 = 0,0122 mol x 100 mL
100 mLx10 mL
= 0,0122 mol
10 mL
 Konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 40oC
M H2C2O4 = 0,0122 mol x 1000 mL
10 mL L
= 1,22 mol
L
Melalui perhitungan tersebut diketahui bahwa konsentrasi asam oksalat jenuh
pada suhu 40oC adalah 1,22 mol/L.
Pada suhu 30 oC juga diambil 10 mL larutan jenuh asam oksalat menggunakan
pipet volum 10 mL, kemudian di pindahkan kedalam labu takar 100 mL, lalu diencerkan.
Setelah diencerkan diambil 10 mL larutan asam oksalat hasil pengenceran dan
dipindahkan ke dalam Erlenmeyer kemudian ditambahkan indicator fenolftalein tiga tetes
dan dititrasi dengan NaOH 2 M. Didapat volume NaOH hingga dapat merubah larutan
yang awalnya tidak berwarna menjadi merah muda sebesar 1,75 mL. Dengan persamaan
reaksi:
2NaOH(aq) + H2C2O4  Na2C2O4(aq) + 2H2O(ℓ)
Untuk mengetahui konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 30 oC digunakan
perhitungan sebagai berikut:
 Saat dititrasi
MNaOH x VNaOH x nNaOH = MH2C2O4 x V H2C2O4 x n H2C2O4
2 mol L-1 x 1,75mL x 1= MH2C2O4 x 10 mL x 2

MH2C2O4 = 2 mol L-1 x 1,75 mL x 1


10 mL x 2
= 0,175 mol L-1

 Saat diambil 10 mL
Mol dalam 100 mL = 0,175mol L-1
10
= 0,0175 mol
100 mL
 Saat pengenceren
MH2C2O4 x V H2C2O4(sblm pengenceran)= MH2C2O4 x V H2C2O4(stlh ngenceran)
M H2C2O4 x 10 mL = 0,0175 mol x 100 mL
100 mL
M H2C2O4 = 0,0175 mol x 100 mL
100 mLx10 mL
= 0,0175 mol
10 mL
 Konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 30oC
M H2C2O4 = 0,0175 mol x 1000 mL
10 mL L
= 1,75 mol
L
Melalui perhitungan tersebut diketahui bahwa konsentrasi asam oksalat jenuh
pada suhu 30oC adalah 1,75 mol/L.
Pada suhu 20 oC juga diambil 10 mL larutan jenuh asam oksalat menggunakan
pipet volum 10 mL, kemudian di pindahkan kedalam labu takar 100 mL, lalu diencerkan.
Setelah diencerkan diambil 10 mL larutan asam oksalat hasil pengenceran dan
dipindahkan ke dalam Erlenmeyer kemudian ditambahkan indicator fenolftalein tiga tetes
dan dititrasi dengan NaOH 2 M. Didapat volume NaOH hingga dapat merubah larutan
yang awalnya tidak berwarna menjadi merah muda sebesar 1,19 mL. Dengan persamaan
reaksi:
2NaOH(aq) + H2C2O4  Na2C2O4(aq) + 2H2O(ℓ)
Untuk mengetahui konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 20 oC digunakan
perhitungan sebagai berikut:

 Saat dititrasi
MNaOH x VNaOH x nNaOH = MH2C2O4 x V H2C2O4 x n H2C2O4
2 mol L-1 x 1,19 mL x 1= MH2C2O4 x 10 mL x 2
MH2C2O4 = 2 mol L-1 x 1,19 mL x 1
10 mL x 2
= 0,119 mol L-1

 Saat diambil 10 mL
Mol dalam 100 mL = 0,119 mol L-1
10
= 0,0119 mol
100 mL
 Saat pengenceren
MH2C2O4 x V H2C2O4(sblm pengenceran)= MH2C2O4 x V H2C2O4(stlh ngenceran)
M H2C2O4 x 10 mL = 0,0119 mol x 100 mL
100 mL
M H2C2O4 = 0,0119 mol x 100 mL
100 mLx10 mL
= 0,0119 mol
10 mL
 Konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 20oC
M H2C2O4 = 0,0119 mol x 1000 mL
10 mL L
= 1,19 mol
L
Melalui perhitungan tersebut diketahui bahwa konsentrasi asam oksalat jenuh
pada suhu 20oC adalah 1,19 mol/L.
Pada suhu 10 oC juga diambil 10 mL larutan jenuh asam oksalat menggunakan
pipet volum 10 mL, kemudian di pindahkan kedalam labu takar 100 mL, lalu diencerkan.
Setelah diencerkan diambil 10 mL larutan asam oksalat hasil pengenceran dan
dipindahkan ke dalam Erlenmeyer kemudian ditambahkan indicator fenolftalein tiga tetes
dan dititrasi dengan NaOH 2 M. Didapat volume NaOH hingga dapat merubah larutan
yang awalnya tidak berwarna menjadi merah muda sebesar 0,96 mL. Dengan persamaan
reaksi:
2NaOH(aq) + H2C2O4  Na2C2O4(aq) + 2H2O(ℓ)
Untuk mengetahui konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 10 oC digunakan
perhitungan sebagai berikut:
 Saat dititrasi
MNaOH x VNaOH x nNaOH = MH2C2O4 x V H2C2O4 x n H2C2O4
2 mol L-1 x 0,96 mL x 1= MH2C2O4 x 10 mL x 2
MH2C2O4 = 2 mol L-1 x 0,96 mL x 1
10 mL x 2
= 0,096 mol L-1
 Saat diambil 10 mL
Mol dalam 100 mL = 0,096 mol L-1
10
= 0,0096 mol
100 mL
 Saat pengenceren
MH2C2O4 x V H2C2O4(sblm pengenceran)= MH2C2O4 x V H2C2O4(stlh ngenceran)
M H2C2O4 x 10 mL = 0,0096 mol x 100 mL
100 mL
M H2C2O4 = 0,0096 mol x 100 mL
100 mLx10 mL
= 0,0096 mol
10 mL

 Konsentrasi asam oksalat jenuh pada suhu 10oC


M H2C2O4 = 0,0096 mol x 1000 mL
10 mL L
= 0,96 mol
L
Melalui perhitungan tersebut diketahui bahwa konsentrasi asam oksalat jenuh
pada suhu 10oC adalah 0,96 mol/L.

Dari konsentrasi yang telah diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwa konsentrasi
zat berkurang seiring dengan menurunnya suhu. Hal ini disebabkan karena semakin
tinggi suhu/temperature tumbukan antar partikel-partikel dalam zat tersebut semakin
cepat sehingga akan mempercepat terjadinya reaksi (palarutan) sehingga kelarutannya
tinggi. Hal ini sesuai dengan hasil percobaan yang diperoleh, tetapi pada suhu 30 oC
konsentrasinya lebih tinggi dibandingkan pada suhu 40 oC, hal ini diduga praktikan
melakukan kesalahan dalam praktikum.

No. Suhu Konsentrasi


H2C2O4
1 40oC 1,22 M
2 30oC 1,75 M
3 20oC 1,19 M
4 10oC 0,96 M

Penentuan kalor pelarutan differensial dapat ditentukan dengan menggunakan


persamaan:

𝑚𝑧(𝑇2) ∆𝐻𝐷𝑠 𝑇2 − 𝑇1
log = ( )
𝑚𝑧(𝑇1) 2,303𝑅 𝑇2 × 𝑇1

Dengan perhitungan berdasarkan data pengamatan sebagai berikut:

 Pada T1=40 oC dan T2=30 oC

1,75 𝑚𝑜𝑙 ∆𝐻𝐷𝑠 303 − 313 𝐾


log = ( )
1,22 𝑚𝑜𝑙 2,303 × 8,314 𝐽 303 × 313 𝐾𝐾
𝑚𝑜𝑙 𝐾

∆𝐻𝐷𝑠 −10
0,156 = ( )
𝐽 94839𝐾
2,303 × 8,314
𝑚𝑜𝑙 𝐾
0,1566 × 2,303 × 8,314 × 94839 𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 =
−10 𝑚𝑜𝑙
𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 = −28439
𝑚𝑜𝑙
𝑘𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 = −28,439
𝑚𝑜𝑙
 Pada T1=30 oC dan T2=20 oC
1,19 𝑚𝑜𝑙 ∆𝐻𝐷𝑠 303 − 293 𝐾
log = ( )
1,75 𝑚𝑜𝑙 2,303 × 8,314 𝐽 303 × 293 𝐾𝐾
𝑚𝑜𝑙 𝐾
∆𝐻𝐷𝑠 −10
− 0,167 = ( )
𝐽 88779𝐾
2,303 × 8,314
𝑚𝑜𝑙 𝐾
−0,1566 × 2,303 × 8,314 × 88779 𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 =
−10 𝑚𝑜𝑙
𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 = 284722
𝑚𝑜𝑙
𝑘𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 = 28,472
𝑚𝑜𝑙
 Pada T1=20 oC dan T2=10 oC
0,96 𝑚𝑜𝑙 ∆𝐻𝐷𝑠 293 − 283 𝐾
log = ( )
1,19 𝑚𝑜𝑙 2,303 × 8,314 𝐽 283 × 293 𝐾𝐾
𝑚𝑜𝑙 𝐾
∆𝐻𝐷𝑠 −10
− 0,093 = ( )
𝐽 82919𝐾
2,303 × 8,314
𝑚𝑜𝑙 𝐾
−0,093 × 2,303 × 8,314 × 82919 𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 =
−10 𝑚𝑜𝑙
𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 = 14809
𝑚𝑜𝑙
𝑘𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 = 14,809
𝑚𝑜𝑙
Selain itu ∆𝐻𝐷𝑠 juga bias diketahui menggunakan arah garis singgung pada kurva
log mz terhadap 1/T. Dengan hasil kurva sebagai berikut:

−∆𝐻𝐷𝑠 1
log 𝑚𝑧 = 2,303 𝑅 × 𝑇

−∆𝐻𝐷𝑠
𝑔𝑟𝑎𝑑𝑖𝑒𝑛 = 2,303 𝑅

−∆𝐻𝐷𝑠
−2,338 = 2,303 𝑅

𝐽
−∆𝐻𝐷𝑠 = −2,338 × 2,303 × 8,314
𝑚𝑜𝑙 𝐾
𝐽
∆𝐻𝐷𝑠 = 44,766 𝑚𝑜𝑙 𝐾

Dari perhitungan dengan persamaan regresi linear diperoleh slope b = -2,338,


sehingga harga ∆H dapat ditentukan. Berdasarkan gambar, diperoleh sebesar 44,766
J/molK. Perhitungan panas pelarut tersebut manghasilkan nilai yang positif. Hal ini
menunjukan bahwa reaksi tersebut bersifat endoterm atau menyerap panas, sehingga
terjadi perpindahan panas dari lingkungan ke sistem. Pada reaksi endotermis , semakin
tinggi suhu maka semakin banyak zat yang larut. Hasil perhitungan ini sesuai dengan
teori yang ada bahwa panas pelarutan pada umumnya bernilai positif dan bersifat
endoterm atau menyerap kalor.

9. KESIMPULAN
- Konsentrasi asam oksalat dari masing-masing suhu adalah pada suhu 40°C
sebesar 1,22 M, pada suhu 30°C sebesar 1,75 M, pada suhu 20°C sebesar 1,19 M
dan pada suhu 10° C sebesar 0,96 M.
- Kelarutan suatu zat akan bertambah seiring dengan semakin meningkatnya suhu.
Hal ini disebabkan karena semakin tinggi suhu/temperature tumbukan antar
partikel-partikel dalam zat tersebut semakin cepat sehingga akan mempercepat
terjadinya reaksi (palarutan).
- Kalor pelarutan diferensial yang berhasil didapatkan pada percobaan kelarutan
sebagai fungsi suhu berdasarkan kurva adalah 44,766 J/molK merupakan reaksi
yang bersifat endoterm.

10. DAFTAR PUSTAKA


Atkins, PW.1994. Kimia Fisika.Jakarta: Erlangga

Tim Kimia Fisika,dkk. 2017. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika. Malang:


Universitas Negeri Malang
JAWABAN PERTANYAAN

1. Perubahan antalpi jika suatu mol zat terlarut dilarutkan dalam jumlah larutan tak
terhingga sehingga konsentrasinya tidak berubah dalam penambahan 1 mol zat terlarut.
2. Pada reaksi endotermis , semakin tinggi suhu maka semakin banyak zat yang larut.