Anda di halaman 1dari 23

BAB III

K.H. BISRI MUSTHOFA DALAM AKTIVITAS DAKWAH

A. Biografi K.H. Bisri Musthofa


Rembang adalah wilayah kabupaten di bagian pesisir utara pulau Jawa
yang merupakan wilayah perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur.
Di provinsi Jawa Tengah, kabupaten Rembang sebagai wilayah yang
mempunyai pondok pesantren termasyur, dikenal masyarakat luas. Bersama
kota Rembang itu sendiri yang mempunyai pesantren yang terkenal asuhan
K.H. Bisri Musthofa. Menelusuri kehdupan K.H Bisri Musthofa, beliau
dilahirkan di Desa Peswahan Gang Sale Rembang, tepatnya pada tahun 1915
Masehi “11. Sebagaimana kita ketahui kehidupan zaman dahulu, bahwa
tanggal kelahiran tidak begitu diperhatikan atau tidak dipermasalahkan,
hingga sampai sekarangpun masih terjadi di masyarakat terutama bagi
masyarakat pedesaan.
Beliau merupakan anak pertama dari keempat saudara yang dilahirkan
oleh Khotijah, disambut dengan penuh gembira, walaupun H. Zaenal
Musthofa sebagai ayahnya mengawini Hajjah Khotijah sebagai istri yang
kedua, dimana mereka sama-sama membawa dua anak. Perkawinan H. Zaenal
Musthofa dengan Hajjah Khotijah mempunyai keturunan empat orang anak,
yaitu :
1. K.H. Bisri Musthofa
2. K.H. Ma’tsum
3. Salamah
4. K.H. Misbach
Adapun mengenai silsilah H. Zaenal Musthofa dan Hajjah Khotijah
belum dapat diketahui secara rinci. Namun menurut catatan K.H. Bisri
Musthofa kedua orang tuanya adalah sama-sama cucu dari Mbah Syuro.
Sedang mbah Syuro itu sendiri tidak diketahui dari mana asal usulnya, yang
jelas beliau seorang pendatang yang kemudian menetap di daerah Serang

1
K.H. Musthofa Bisri, wawancara pribadi, Rembang, 1 Agustus 1966.
Rembang. Karena waktu itu masih diliputi suasana rakyat Indonesia merebut
kemerdekaan, sehingga keadaan yang demikian tidak memungkinkan untuk
mendeteksi ataupun menelusuri masalah itu2. Dengan demikian hal itu tidak
mempengaruhi karismatik K.H. Bisri Musthofa dalam menyiarkan ajaran
Islam. Walaupun beberapa rintangan dan hambatan dan penderitaan selalu
dialami.
1. Masa Anak-anak
Masa kecil adalah masa yang penuh dengan kegembiraan dan
kesenangan, begitu juga yang dialami K.H. Bisri Musthofa. Semua itu
merupakan kewajaran seorang yang masih kanak-kanak, kegembiraan
K.H. Bisri Musthofa yang dirasakan didukung dengan keadaan materi
yang mapan dari kedua orang tuanya, meskipun beliau dilahirkan oleh
seorang pedagang kain. Walaupun demikian oleh H. Zaenal Musthofa
dalam memberikan kasih sayang, bimbingan, dan arahan yang besar
manfaatnya, sehingga peraturan dalam keluarga selalu dapat dipenuhi.
Karena beliau tidak menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang
tak berguna, atau orang yang tidak baik. Sebagaimana layaknya orang
tua mendambakan anaknya menjadi yang berguna atau anak yang
sholih dan sholihah. Untuk itu beliau mengajar dan mendidik anak-
anaknya dengan keras yang diimbangi dengan rasa kasih sayang yang
besar untuk mencapai cita-cita yang dimulai dari kandungan sampai
dewasa, baik mengenai pendidikan agama maupun dalam hal lainnya.
Sikap yang demikian menunjukkan kebijaksanaan bagi orang tua
dalam mendidik anaknya. “Orang tua saya adalah orang yang keras”3.
Itu semua beliau lakukan untuk membantu dalam usaha anaknya agar
berhasil dan berbakti kepada kedua orang tua sesuai dengan aturan-
aturan dalam ajaran Islam. Sehingga mereka akan terbiasa hal-hal yang

2
K.H. Cholil Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Taman Pelajar Islam, Wawancara Pribadi,
Rembang, 1 Agustus 1996
3
K.H. Kholil Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren TPI, Wawancara Pribadi, Rembang, 1 Agustus
1996
baik dan benar, itu merupakan kewajiban orang tua untuk mendidik
anaknya.
Pemahaman yang kuat dalam diri H. Zaenal Musthofa berangkat
Hajji ke Tanah Suci Mekkah sebagai kewajiban seorang muslim yang
mampu bersama keluarganya, termasuh K.H. Bisri Musthofa yang
waktu itu baru berumur 8 tahun. Pada waktu itu Bisri Musthofa
disekolahkan Jawa (pribumi) kelas dua. Mengingat zaman dulu, orang
menunaikan ibadah haji membutuhkan waktu kurang lebih tujuh bulan,
maka dengan demikian sekolah Bisri Musthofa terhenti. Mulai
berangkat sampai pelaksanaan haji, Zaenal Musthofa dalam keadaan
sakit. Rupanya Allah selalu menguji kesabaran dan ketaqwaan keluarga
H. Zaenal Musthofa.
Setelah pelaksanaan haji, saat akan pulang ke tanah air, Pelabuhan
Jeddah tahun 1923. Kapal haji milik Chasan Imazi “Bombay” merapat.
Kapal itu akan mengantar jamaah haji Indonesia pulang ke tanah air.
Tidak lama para jamaah sudah naik ke atas kapal. Tapi ada satu
keluarga asal Rembang, Jawa Tengah, yang masih tenang-tenang di
dermaga di lantai pelabuhan.
“Nguaang”. Sirine berbunyi, pertama kapal-kapal akan segera
berangkat. Sekali lagi keluarga beranggota enam orant tak beranjak dari
tempatnya, mereka sedang menunggu sang ayah yang sedang meregang
nyawa di dermaga itu.
Penyakit H. Zaenal Musthofa semakin parah, yang akhirnya Allah
memanggilnya dan wafatlah H. Zaenal Musthofa di hadapan
keluaganya. Kemudian mayatnya ditinggalkan dan dititipkan kepada
seorang syeikh dengan memberi ongkos untuk mengurus jenazah serta
pemakamanya. Kisah ini hanya dapat di rasakan oleh mashadi da hajjah
chotijah tiga adiknya masih telalu kecil untuk memahami peristiwa itu.
Mashadi tidak lain adalah KH. Bisri Mustofa, waktu itu berumur 8
tahun. Adiknya salamah 5.5 tahun, misbah 3.5 tahun, dan ma’sum si
bungsu baru 1 tahun. Mereka sekeluarga menunaikan ibadah haji4.
Sekembalinya menunaikan ibadah haji KH. Bisri Mustofa tidak
melanjutkan di sekolah jawa. Tetapi dididik oleh H. Zuhdi untuk
mengaji disamping juga ngaji kepada Hj. Khotijah. KH. Bisri Mustofa
memang berasal dari keluarga cukup, berada pada ukuran waktu itu.
Keberangkatan haji sekeluarga tadi menjadi bukti. Status sosial
ekonomi orang tua Mashadi memang cukup mapan. Ketika itu kondisi
sosial ekonomi masyarakat serba memprihatinkan karena ulah penjajah.
Tapi sejak peristiwa Jeddah itulah babak kehidupan Mashadi yang
sesungguhnya dimulai. Sepeninggalan orang tua. Mashadi diasuh H.
Zuhdi, karena kesempatan untuk mendidik sedikit, akhirnya
meneruskan mengaji di K. Cholil Harun Sawahan5.
Setelah mengaji Al-Qur’an cukup lama, mulai tidak krasan tinggal
dirumah. Beliau mulai membantu ibunya di pasar pedagang. Atas dasar
berdagang. Atas dasar nasehat dan saran familinya KH. Bisri Mustofa
dimasukkan Sekolah Belanda, yang bernama HIS dan Eropese School6
kemudian tidak lama datang K. Kholil Kasingan, beliau meminta agar
KH. Bisri Mustofa untukn ikut dan belajar dipondok pesantren yang ia
asuh. Seketika itu KH. Bisri Mustofa ikut K. Kholil Harun ke Kasingan
Kecamatan Serang. Mulailah KH. Bisri Mustofa mempelajari kitab
seperti : Safinatunnajah, Al-Jurumiah, Ta’limul Muta’alim, Nurul
Zalam dan lainya, yang di berikan oleh KH. Kholil Harun biasanya
dengan bahasa jawa7.
2. Masa Remaja

4
KH. Kholil Bisri Pengasuh Pondok Pesantren Taman Pelajar Islam, Wawancara, rembang, 1
Agustus 1996.
5
KH. A. Mustofa Bisri, Menapak Jejak Mengenal Watak, Sekilas Biografi 26 Tokoh Nahdatul
Ulama, Yayasan Saifudin Jakarta. Hlm. 333-334
6
KH. Cholil Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Taman Pelajar Islam, Wawancara Pribadi,
Rembang, 1 Agustus 96
7
KH. Mustofa Bisri, Wawancara, Rembang
Dengan pertumbuhan yang normal, maka tahun 1933 KH. Bisri
Mustofa mulai tumbuh sebagai pemuda yang rajin dan pandai, sehingga
usia yang relatif muda untuk menjadi “Badal” (pengganti) dalam
mengajar jika KH. Kolil Harun berhalangan. Secara tidak langsung KH.
Kholil Harun untuk membimbing dan mengajakan ilmu kepada
santrinya di Pondok Pesantren Kasingan8. Dengan melihat
perkembangan serta kepribadian KH. Bisri Mustofa maka pengaruh dan
perananya di dalam Pondok Pesantren Kasingan, semakin kian
menonjol dan mantap serta dikagumi sesamanya.
Mengingat masa muda merupakan masa yang penuh dengan
semangat yang tinggi, daya kreatifitas dan perkiraan yang mewarnai
kehidupan. Darisinilah mulai nampak sifat-sifat yang
kepemimpinannya, rasa konsekwen terhadap tugas yang dibebankan
kepadanya selalu dilaksanakan dengan baik.
KH. Bisri Musthofa dalam mempelajari ilmu agama itu secara
aktif, khususnya bersumber dari Kitab Kuning. Baik Nahwu dan Sorof
maupun Ilmu-ilmu Syari’ah serta ilmu Fiqih dan lainya seperti : tafsir
Jalalain, Alfiah Ibnu Malik, Bulughul Marom Jauharil Maknun, dan
sebagainya9. KH. Bisri Musthofa mempelajari kitab-kitab tersebut pada
KH. Kholil Harun, karena beliau belum diijinkan untuk pindah
pesantren. KH. Kholil masih mampu memberikan pelajaran dan ilmu
lainya pada KH. Bisri Musthofa hingga pada masa remajanya. KH.
Bisri Musthofa menghabiskan waktu mudanya untuk menimba kepada
Kiai-kiai maupun Ustadz yang senior disamping demikian KH. Bisri
Musthofa harus mempraktekkan ilmu yang didapatnya, dengan
memberikan pelajaran kepada teman-temanya sehingga hampir setiap
KH. Kholil Harun berhalangan maka KH. Bisri Musthofa yang menjadi
badalnya atau penggantinya.

8
KH. Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren TPI Rembang, Wawancara, Rembang, 1 Agustus
1996
9
KH. Musthofa Bisri, (anak) Pengasuh Pondok Pesantren TPI Rembang, Wawancara, Rembang, 1
Agustus 96
Kemampuan KH. Bisri Musthofa semakin hari semakin kelihatan
hebat dan mantap. Maka sejak itulah beliau terpilih menjadi lurah
pondok Pesantren Kasingan, karena ketekunan dan kemampuan yang
beliau miliki membuat perhatian dikalangan santri, demikian juga KH.
Kholil Harun. Kemudian secara diam-diam KH. Mendatangi ibu dan
kakaknya untuk membicarakan masalah perkawinan beliau dengan anak
perempuanya pada waktu itu, KH. Bisri Musthofa baru berumur 20
Tahun sedangkan perempuanya usia 10 tahun.
Sebagaimana tradisi yang terjadi diantara para kiai yakni
membangun antara mereka, KH. Kholil Harun tak lepas dari masalah
tersebut. Hubungan dan solidaritas yang mereka jalin antara kiai,
biasanya lewat cara mengembangkan jaringan perkawinan antara
keluarga kiai, disamping mengembangkan tradisi transmisi pengetahuan
dan transmisi intelektual sesama kiai dan keluarga.
Setahun setelah pernikahannya dengan hajah ma’rafah lalu beliau
mendapatkan kesampatan untuk mengangkat untuk berangkatyang
kedua kalinya. Kali ini beliau berangkat dengan beberapa temanya dari
pondok Kasingan seperti KH. Abdul Karim KH. Mundir. Adapun
tujuanya, selain melaksanakan ibadah haji juga untuk mencari ilmu.
Setelah beliau berada di mekkah dan belajar dengan ulama besar
seperti Syekh Umar Uamdan dan Syekh Syaid Al-Alawi, Beliau
menerima surat dari kholil harun agar KH. Bisri Musthofa secepatnya
kembali ke Indonesia. Alasan yang disampaikan KH. Kholil Harun
ialah bahwa santri semakin banyak dan beliau sudah tua dan sudah
cukup lelah untuk mengajar santri yang cukup banyak. Dengan surat
tersebut, KH. Bisri Musthofa tidak berbuat banyak, melainkan enurut
apa yang menjadi keinginan KH. Kholil Harun. Karena itu setelah satu
tahun di mekkah, kembalilah beliau keindonesia dan langsung
memimpin pondok pesantren di Kasingan tempat KH. Kholil Harun.
Baru dua tahun KH. Bisri Musthofa mengabdikan diri di Pondok
Pesantren Kasingan, KH. Kholil Harun wafat. KH. Kholil Harun
membuat KH. Bisri Musthofa tugasnya semakin berat, karena atas dasar
kesepakatan keluarga, maka KH. Bisri Musthofa terpilih menjadi
pengasuh pondok pesantren10.
Setelah memangku jabatan pengasuh pondok pesantren Kasingan,
kegiatan proses belajar mengajar semakin sibuk, hampir seluruh waktu
digunakan untuk menelaah kitab-kitab sebagai persiapan mengajar dan
diskusi, karena pada dasarnya ilmu itu untuk kepentingan orang banyak.
Dengan demikian kemanfaatan ilmu itu untuk orang banyak sedangkan
kemanfaatan suatu ibadah itu, pahalanya hanya untuk yang
mengerjakannya saja.
3. Masa-masa dewasa KH. Bisri Musthofa
Kegiatan dan keaktifan KH. Bisri Musthofa sanat, hingga beliau
hampir tidak berhenti dalam proses belajar dan mengajar yang terjadi
pada masa-masa tuanya. Yang mana beliau seorang figur orator yang
mendekati sempurna, pengasuh pondok pesantren, dan pengarang yang
produktif11. Kemampuan panggung KH. Bisri Musthofa memang tak
terbantah, dan diakui oleh siapapun. Benar apa yang digambarkan oleh
KH. Saifuddin Zuhri. Bahwa KH. Bisri Musthofa orator, ahli pidato
yang dapat mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit menjadi begitu
gamblang / jelas. Mudah diterima orang kota atau desa. Hal-hal yang
memberatkan menjadi ringan. Yang membosankan menjadi
mengasyikan. Yang sepele menjadi amat penting. Kritik-kritiknya
sangat tajam, meluncur begitu saja dengan lancar dan menyegarkan.
Pihak yang terkena kritik tidak marah, karena disampaikan secara sopan
dan menyenangkan.12
Belau banyak berdakwah dan mengarang kitab-kitab agama,
kedalam terjemah, baik berupa terjemah, ke bahasa Indonesia maupun
terjemah kedalam bahasa Jawa. Dari sinilah KH. Bisri Musthofa

10
Kh. Kholil Bisri Pengasuh Pondok Pesantren Taman Pendidikan Islam Rembang, 1 Agustus 1996
11
KH. Mustofa Bisri, Manpak jejak mengenal watak sekilas biografi 26 tokoh Nahdltul Ulama,
Yayasan saifudin zuhri, hlm 331.
12
Ibid, hlm 331-332.
memberi contoh kepada anak-anaknya. Dengan harapan menjadi anak
sholeh dan sholihah, namun tidak menutup kemungkinan keilmuan
yang beliau miliki, disampaikan ataupun diajarkan kepada anak-
anaknya juga dia ajarkan ke murid-muridnya. Sebagaimana dikatakan
KH. Kholil Bisri sebagaimana dikatakan KH. Kholil Bisri sebagai
berikut: “Janganlah berhenti belajar dan mengajar selagi kita ada
kemampuan, kesempatan, waktu, karena itu merupakan amal perbuatan
yang baik bagi kita”.13
Menyimak dari ayat diatas memberikan semangat yang tinggi
kepada KH. Bisri Musthoafadalam melakukan kegiatan dakwah
ilamiah. Semua pesan yang beliau sampaikan, baik kepada putra
putrinya maupun kepada murid-muridnya itu masih tetap berjalan,
sejalan dengan pondok pesantren yang beliau pimpin semakin lama
semakin maju, baik secara fisik maupun pendidikanya.
Buah perkawinan KH. Bisri Musthofa dengan Hj. Ma’rifah telah
melahirkan tiga orang putra dan lima orang putri:
1. KH. Kholil Bisri, yang sekarng memangku jabatan-jabatan,
diantaranya: pengasuh pondok pesantren TPI Rembang, dalam
pemerintah juga menjabat sebagai ketua DPRD daerah tingkat
II Rembang dari tahun1977-1978, sampai sekarang disamping
jugaKH. Kholil Bisri menjabat ketua Nahdlatul Ulama cabang
Rembang pada tahun yang sama dan menjabat DPR RI.
2. KH. Mustofa Bisri, Merupakan putra yang kedua, beliau
membantu di pondok pesantren dan dalam pemerintah ia
sebagai anggota DPRD tingkat I Semarang.
3. KH. Adib anak ketiga, kegiatan beliau mengurusi mengenai
administrasi podok pesantren dan beliau juga aktif
menterjemahkan kitab-kitab kedalam bahasa Indonesia ia
terkenal sangat teliti, tekun, rajin. Beliau meninggal pada tahun

13
KH. Kholil Bisri, Wawancara Pribadi, pengasuh Pondok Pesantren TPI, Rembang, 1 Agustus
1996.
1995 karena kecelakaan sewaktu akan menghadiri acara
muktamar yang ke 30 di cipasung.
4. Ustadzah Faridah merupakan anak yang keempat, kegiatan
sehari-harinya sebagai guru ngaji serta menangani sekolah
dilingkungan pondok pesantren.
5. Ibu Naziyah anak ke lima, sebagaimana kodratnya dalam
kehidupan rumah tangga bahwa wanita ikut pada suami, begitu
pula yang dialami ibu naziah, ia ikut suaminya di Semarang.
6. Labib dan Nihayah putra ke enam dan ke tujuh namun Alloh
menghendaki lain, labib dan nihayah meninggal sejak kecil.
7. Dra. atikah merupakan putra bungsu dari delapan putra-
putrinya, ia juga aktif dalam menangani, dipondok pesantren
lebih khususnya pada santri putri14.

Dengan demikian KH. Musthofa Bisri dalam mendidik putra-


putrinya termasuk orang tua yang berhasil. Disamping itu juga aktif
dalam kegiatan dakwah bagaimana layaknya seorang figur kiai. Dalam
lingkungan pemerintah beliau sangat diperhitungkan artinya jabatan-
jabatan yang beliau pegang dan lembaga tinggi negara maupun didaerah
tingkat satu serta daerah tingkat dua sangat penting.

Dalam organisasi KH. Bisri Musthofa menjabat sebagai ketua


Masyumi dan juga menjabat sebagai ketua Nahdlatul Ulama (NU) di
tingkat cabang Rembang, bahkan KH. Bisri Musthofa menjabat sebagai
ketua Syuriah untuk Daerah Tingkat I Semarang.

Dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat KH. Bisri Musthofa


adalah seorang ulama yang mempunyai figur sesuai dengan kondisi
masyarakat, dan mendapat simpati dari kalangan umat Islam. Sehingga
segala fatwa-fatwa ataupun saran-saranya yang beliau sampaikan dapat
diterima oleh masyarakat dan pemerintah. Walaupun ada beberapa

14
KH. Kholil Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Taman Pelajar Islam, Wawancara Pribadi,
Rembang, 1 Agustus 1996.
cobaan hidup yang beliau alami semakin lama semakin berat yang
dirasakan. Namun itu semua beliau hadapi penuh dengan kesabaran,
ketekunan dan keuletan, karena ini semua merupakan cobaan untuk
berdakwah.

B. Latar Belakang Pendidikan Dan Keluarga


Kehidupan KH. Bisri Musthofa banyak di pendidikan pondok pesantren, ii
dapat kita lihat dari gaya dan cara mengajar serta sikap yang ada pada dirinya.
Keistiqomahan yang tertanam dalam hati beliau, merupakan kunci kesuksesan
dalam kehidupan, sebab sifat Istiqomah akan melahirkan sikap optimis,
berpengharapan dengan usaha yang tulus.
Pada awalnya, Kiai Bisri tidak berminat belajar di pesantren, itu dirasakan
ketika pertama kali mengenal pesantren seusai tamat sekolah “Ongko Loro”.
Kakanya pernah mencoba, waktu liburan sekolah, mengirimkan Mashadi ke
pesantren asuhan K. Chasbullah di Kajen, untuk mengaji pasaran. Disana dia
tidak krerasan, dan hanya tiga hari remaja mashadi pulang ke rumah. Demikan
juga disuruh mengaji di pesantren kiai Cholil Kasingan, tetangga desanya di
rembang – kelak menjadi mertuanya – remaja mashadikembali ogah-ogahan.
Ada beberapa alasan, sebagaimana diterangkan data biorgafinya, kenapa
pada mulanya engga sekolah di pesantren. Menurutnya, pelajaran di pesantren
sangat sulit terutama pelajaran nahwu dan shorof. Karena itu ia menjadi malas
jika harus belajar di pesantren. Selain itu K. Cholil, pengasuh pondok
pesantren Kasingan, dalam pikiran Mashadi waktu itu, terkesan angker dan
menakutkan. Bagi dia lebih baik tidak usah mengaji daripada nanti terkena
pukulan Kiai.
Ia juga merasa kehadiranya kurang mendapat perhatian dari teman-
temanya di pesantren. Di tambah dengan bekalnya untuk belajar yang serba
pas-pasan membuatnya makin tidak betah/ krasan tinggal di pesantren.
Keinginan Mashadi, kala itu, bukanlah mengaji, tapi ingin bekerja mencari
duit. Apalagi lingkunganya keluarga dan masyarakat di daerahnya, mayoritas
kaum pedagang. Kakanya H. Zuhdi, membuka toko cukup besar. Kakak
iparnya H. Muchtar, seorang pedagang batik yang terkenal di pasar Rembang,
pasar Sulang dan pasar Kaliori.
Namun demikian, setelah beberapa waktu dalam kebimbangan, dia
kembali lagi ke pesantren Kasingan. Kali ini dengan jurus baru. Dalam rangka
aktualisasi diri, Mashadi untuk sementara tidak ikut mengaji langsung dengan
Kiai Cholil. Bukan takut pukulan Kiai, tapi untuk menepis anggapan negatif
anak kampung. Mashadi belajar terlebih dahulu dengan santri senior, sudja’i
namanya, yag tak lain adalah ipar Kiai Cholil sendiri secara diam-diam. Dan
tidak tanggung-tanggung, ia langsung engaji kitab Alfiah Ibnu Malik, kitab
nahwu ber bentuk 1000 Nazam.
Pada tahun 1932, mashadi minta restu kepada kiai cholil untuk pindah ke
pesantren Termas yang waktu itu diasuh K. Damyati. Tanpa alasan yang jelas,
permohonan itu tidak dikabulkan . belakangan diketahui, K. Cholil berminat
mengambil Bisri sebagai menantu. Pada bulan juni 1935 berlangsung
perkawinan Bisri yang waktu itu berusia 20 tahun dengan Ma’rufah binta
Cholil yang baru berusia 10 tahun.
Menjadi menantu kiai itu enak-enak susah. Bagi yang memang pintar
enak, sebab langsung dapat mengajar, dan tanpa susah payah mencari murid.
Bagi ilmunya yang pas-pasan, susah bukan kepalang. Dan sialnya lagi orang
beranggapan tidak mungkin seorang kiai mengambil menantu bodoh. Yang
terahir ini dialami Kiai Bisri Musthofa yang waktu itu masih merasa bodoh.
Dia prihatin, karena para santri minta dibacakan kitab macam-macam, bahkan
wujud kitabnya saja dia tidak pernah tahu.
Prinsip belajar candak kulak (belajar sambil mengajar) akhirnya
dilakukan. Dia belajar, atau lebih tepatnya musyawarah membaca kitab, di
Karanggeneng bersama K. Kamil. Hasil musyawaroh itu dibacakan esok
harinya kepada para santrinya ndi Kasingan. Karena itu jadwal ngaji di
pesantren sangat tergantung pada jadwal musyawarah di Kasingan di
Karanggeneng. Kalau di Karanggeneng libur, pengajian Kiai bisri di Kasingan
ikut libur, Karena ia kehabisan bahan.
Tdak betah dengan model candak-kulak, Kiai Bisri Musthofa ingin
meninggalkan Rembang. Yang penting pergi dari bumi panas pesantren
Kasingan. Maka begitu musim haji tiba, Kiai Bisri Musthofa nekat pergi ke
Mekkah, dengan uang tabungan dan hasil jual kitab Bijuraimi Iqna. Harga
tiket berangkat haji waktu itu RP 185,-. Pada tahun 1936, berangkatlah Kiai
Bisri Musthofa ke Mekkah untuk ibadah haji, tanpa bekal cukup selama di
Mekkah, dia numpang dirumah Syekh Chamid Said sebagai Khadam,
pembantu.
Menjelang rombongan haji pulang ke tanah air, Kiai Bisri Musthofa sedih
teringat akan pengalaman sebagai menantu kiai, dengan ilmu pas-pasan. Kiai
Bisri memutuskan tidak ikut pulang dan tiketnya dijual. Bersama dua
temannya, Suyuti Cholil dan Zuhdi dari Tuban, dia bermukim di Mekkah,
untuk memperdalam pengetahuan. Di sinilah Kiai Bisri Musthofa berguru
kepada :
1. K. Bakir
2. Syeh Umar Hamda Al-Maghribi
3. Syeh Al-Maliki
4. Sayid Amin
5. Syeh Hasan Masysyath
6. Sayid Alawie
7. K. Muhaimin
Itu selama setahun. Pada musim haji berikutnya, K.H. Bisri Musthofa
kembali ke tanah air15. Adapun guru-guru K.H. Musthofa Bisri sebagai
berikut:
1. H. Zhdi Kampung Pesawahan
2. K. Cholil Pesawahan
3. K.H. Cholil Harun Kasingan Sarang
4. K.h. Chasbullah Kajen Pati
5. K.H. Hasyim Asy’ari Jombang

15
K.H. A. Musthofa Bisri, Menapak Jejak Mengenal Watak, (Sekilas Biografi 26 Tokoh Nahdlatul
Ulama), Yayasan Sifuddin Zuhri, hlm 335-337
6. K. Kamil Karanggeneng
7. K. Fadloli Karanggeneng16
Dan masih ada lagi yang tidak dapat penulis paparkan, melihat K.H, Bisri
Musthofa yang demikian hebatnya, ernyata beliau mempunyai andil yang
cukup besar bagi kepentingan agama, bangsa dan negara. Demikian aktivitas
K.H. Bisri Musthofa.

C. Aktivitas Dakwah K.H. Bisri Musthofa


K.H. Bisri Musthofa, seorang kiyai, orator yang mendekati sempurna,
sastrawan yang cukup produktif juga pengasuh pondok pesantren yang ikhlas
mengajarkan ilmunya demi siar agama, bangsa dan negara.
K.H. Bisri Musthofa seorang tokoh yang hidup pada zaman. Dalam dunia
politik, ia memiliki kedudukan yang cukup penting. Pada zaman penjajahan,
ia duduk sebagai ketua Nahdlatul Ulama dan ketua Hizbullah cabang
Rembang. Kemudian setelah majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dibubarkan
Jepang ia diangkat menjadi ketua Masyumi. Ketua Masyumi pusat waktu itu
K.H. Hasyim Asy’ari dan wakilnya Ki Bagus Hadikusumo.
Dan ketia terjadi pergolakan, K.H. Bisri ikut menyerbu ke Sayung
bersama barisan Hizbullah dan Sabilillah. Pernah menjabat kepala Kantor
Agama dan Ketua Pengadilan Agama Rembang. Menjelang kampanye pemilu
1955, jabatan tersebut ditinggalkan dan mulai aktif di partai NU.
Pada zaman pemerintahan Sukarno, K.H. Bisri duduk sebagai anggota
konstituante, anggota MPRS dan pembantu mentri penghubung ulama.
Sebagai anggota MPRS, ia ikut terlibat dalam pengangkatan Letjen Soeharto
sebagai presiden, menggantikan Sukarno dan memimpin do’a waktu
pelantikan.
Pada masa Orde Baru, K.H. Bisri pernah menjadi anggota DPRD I Jawa
Tengah hasil pemilu 1971 dari fraksi NU dan anggota MPR dari utusan daerah
golongan ulama. Pada tahun 1977, ketia partai Islam berfungsi dalam PPP, dia

16
K.H. Kholil Bisri, Wawancara Pribadi, Pengasuh Pondok Pesantren TPI, Rembang, 1 Oktober
1996
menjadi anggota Majelis Syuro PPP pusat dan sebagai Syuriah NU wilayah
Jawa Tengah.
Menjelang pemilu 1977, K.H. Bisri terdaftar sebagai nomor satu anggota
DPR pusat dari PPP untuk daerah pemilihan daerah Jawa Tengah. Dan pemilu
1977 berlangsung tanpa kehadiran K.H. Bisri. Beliau meninggalkan dunia
fana seminggu sebelum masa kampanye 24 Februari 1977.
Duduknya kiai Bisri sebagai calon utama anggota DPR tersebut, memang
memberikan bobot tersendiri bagi perolehan suara PPP. Itulah sebabnya,
kepergian beliau untuk selama—lamanya dirasakan sebagai suatu musibah
yang berat. Tampaknya Allah sengaja menguji ketabahan umat penduduk
partai Islam dalam menentukan pilihan politiknya tanpa keterlibatan seorang
Bisri Musthofa. Yang patah memang bisa tumbuh, yang hilang bisa berganti.
Tapi seorang Bisri Musthofa? Tidak mudah dicari penggantinya. Kiai
Saifuddin Zuhri menggambarkan rasa kehilangannya17.
Menelusuri aktivitas K.H. Bisri Musthofa dalam berdakwah sangat
menarik, karena beliau merupakan mubaligh yang mendekati sempurna,
seorang sastrawan yang produktif, dan juga pengasuh pondok pesantren,
sehingga kematangan ilmunya tidak diragukan lagi sebagai seorang ulama.
Ulama adalah pewaris Nabi dalam mensyiarkan ataupun mengembangkan
ajaran agama Islam yang diamanahkan serta untuk disampaikan pada manusia.
Pengemban dakwah senantiasa wajib menghadapi jihad dalam rangka
meninggikan atau menegakkan kalimah Allah. Jihad adalah mengorbankan
kemampuan di medan kepada jalan Allah untuk meninggikan kalimah-Nya
secara langsung atau dengan harta, pendapat (pemikiran) dan lain
sebagainya18.
K.H. Bisri Musthofa tidak berhenti dalam mengemban tugas dakwahnya.
Beliau berdakwah dalam keadaan apapun, karena dengan tujuan untuk
membina manusia kepada jalan yang benar, yang sesuai dengan ajaran agama
Islam. Dalam pandangan agama Islam, jelas bahwa manusia itu adalah
17
K.H. A. Musthofa Bisri, Menapak Jejak Mengenal Watak, Sekilas Biografi 26 Tokoh Nahdlatul
Ulama, Yayasan Saifuddin Zuhri, hlm 332-333
18
Dr. Samih ‘Athif As-Zain, Sifat dan Karakter para Da’i, Husaini, Bandung, 1988, hlm 121
makhluk yang dimuliakan, bahkan lebih mulia dari pada makhluk apapun. Dia
menakdirkan orang yang membangkitkan dari tempat tersungkurnya. Maka
kewajiban kita hanyalah menghidupkan harapan-harapan dengan cara
mengembalikan kehidupan akidahnya. Karena dengan akhidah dan akhlak
yang baik, di situlah kita akan bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di
akhirat.
Adapun perintah taghyirul munkar atau merubah, dan melenyapkan atau
mengurangi kemunkaran, demikian juga menghilangkan jalan yang menuju
kemunkaran. Maka dari itu cara yang ditempuh para pengemban dakwah
haruslah mampu menghias diri dengan kesabaran dan menggunakan segala
cara yang mungkin selama tidak menyalahi syara’ serta tidak melanggar
batasan-batasan Allah.

D. Metode Yang Di Pakai K.H. Bisri Musthofa


Kalau dakwah diartikan dengan ceramah umum, maka tidak kalah
populernya dengan K.H. Bisri Musthofa, beliau merupakan seorang mubaligh
yang mendekati sempurna. Sifat kearifan yang beliau miliki menandakan
seorang ulama, yang menguasai kitab-kitab keislaman, demikian ia sering
memberikan pengarahan atau pidato tentang agama kepada halayak umum,
juga dengan berbagai kajian ilmiah. Popularitas beliau tidak terletak pada
pidato-pidato, tetapi juga penguasaan ilmu-ilmu lain yang amat mendalam,
sehingga fatwa-fatwanya sangat diperhatikan dan menjadi panutan umat.
Metode di antara kaidah yang seyogyanya harus dipegang teguh oleh
pembawa/da'i, K.H. apabila berpidato dengan bahasa yang aktual mereka yang
mereka fahami, menhindari penggunaan istilah-istilah rumit dan kesulitan
kata-kata yang asing, sengaja mencari bahasa yang mudah dan lugas.
Dalam rangka dakwah Islamiyah agar supaya masyarakat menerima
dengan lapang dada maka dalam penyarpaian materi harus melihat situasi dan
kondisi masyarakat sehagai obyek dakwa. Kalau tidak, dakwah tidak berhasil
dan tidak tepat guna. Maka dari itu berda' wah memerlukan metode, sistem,
pengenalan jiwa manusia dan lingkungan, sehingga akan mengetahui metode
dakwah yang efaktif dan efesien. Para da'i dalam memilih dan mengunakan
metode dakwah tidak terpancang pada salah satu metode yang disukai. Yang
terpenting adalah mengunakan metode yang bisa efektif dan efesien serta
dakwahnya bisa diterima orang lain.
Adapun yang dipakai K.H. Bisri Musthofa dalam dakwah, seperti pada
umumnya para juru dakwah yakni dengan mengunakan berbagai metode
dakwah seperti di atas, termasuk metode ceramah, dakwah bil af'al, dakwah
kitaabah.
1. Metode Ceramah

K.H. Bisri Musthofa sering berdakwah dengan memberikan ceramah di


masjid, mushola den perumahan, bahkan di perkantoran, baik permerintah
maupun swasta. hal semacam ini sering beliau lakukan setiap waktu dan
kesempatan, seperti yang dikatakan KH. Kholil Bisri bahwa KH. Bisri
Musthofa berdakwah hampir setiap hari dan beliau berdakwah tidak hanya
di Rembang, tetapi juga keluar Rembang, sepertinya, Jakarta, Pekalongan,
Semarang dan Surabaya, pendek kata sekitar pulau Jawa.

KH. Bisri Musthofa adalah seorang Ulama, segala pembicaraanya


banyak didengar dan perhatikan kalangan masyarakat bawah maupun atas,
dari masyarakat yang pedesan maupun masyarakat perkotaan, Sehingga
tidak sedikit masyarakat mengaharapkan kehadiran beliau pada saat-saat
acara perayaan sepertinya; Maulid, Isro Mi’roj dan acara perkawinan, tidak
ketinggalan pada acara haflah, acara haul. Masyarakat menerima apa yang
disampaikan KH. Bisri Musthofa, karena sesuai dengan kehiduppn
masyarakat.19

Dengan kepandaian Belaiu dalam berorator, jika be lieu memberikan


ceramah agema tidak membuat korban perasaan orang yang mendengarkan,
di samping itu beliau menunjukan jalan kemudahan, sehingga
pembicarannya itu menjadi obat Clan senjata bagi ketentraman jiwa.

19
KH. Kholil Bisri, Wawancara, Pengasuh Pondok Taman Pendidikan Islam, Rembang, 1 Oktober
1996
2. Dakwah Bil Af'al
Seorang ulama dituntut tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga
harus mempu memberikan contoh dan tauladan kepada umat yang baik.
Sehingga segala usaha dan jerih payah dapat dirasakan, dalam kemajuan
umat itu sendiri. Karena itu semua teleh dicontohkan bapak para Nabi dan
Imam pemersatu yang mentauhidkan Allah, Imam Al Muwahiddin,
Ibrahim Kholilullah, itulah sebutan yang sandang Nabi yang mulia ini.
Allah telah memerintahkan kepada penghulu para rasul dan penutup para
Nabi, yakni Muhammad SAW, berikut umatnya untuk mengikuti Ibrahim
as, meneladani da'wahnya serta berpegang pada petunjuk dan manhajnya.20
Ternyata -apa yang dilakukan K.H. Bisri Musthofa mencontoh Nabi
Muhammad SAW, yaitu bersikap baik dan ramah terhadap orang-orang
non Islam. Dengan sikap yang baikk dan ramah itu, tidak sedikit orang-
orang Cina atau Kristen yang menjalin hubungan dengan KH. Bisri
Musthofa, bahkan ada yang memeluk agama Islam. Karena pada
prinsipnya bergaul dengan siapaun diperkenankan dalam ajaran Islam.
K.H. Bisri Musthofa tidak hanya baik dalam pergaulan, tetapi juga
menjalin hubungan dagang. Beliau selalu menanamkan rasa percaya yang
kuat, sehingga banyak orang diluar Islam mau bekerja sama dalam
perdangan.. Kebaikan yang diberikan KH. Musthofa baik itu perbuatan
maupun perkataan, tidak hanya mendapat perhatian dari kaum muslim
saja, tetapi dari umat lainpun juga mendapat perhatian yang khusus.
Karenaa K.H. Bisri Musthofa dalam bergaul tidak membeda-beda tahta,
kedudukan maupun keturunan.
K.H. Bisri Musthofa yang hidup ditengah-tengah masyarakat pedesan
dan perkotaan, dengan keadaan yang demikian rupa, mampu menanamkan
simpati dan kepercayaan masyarakat kepadanya, Secara tidak langsung
KH. Bisri Musthofa mampu membawa kemajuan umat Islam di Rembang
khususnya dan pada Umumnya bangsa Indonesia. Semua itu peran aktif

20
Dr. Rabi Bin Hadi Al- Madkhali, Manhaj Da'wah ParaNabi Dengan Landasan Hikmah dan Rasio,
Gema Insan Press, tahun 1992 hlm 49
seorang ulama yang mampu memberi contoh dan tauladan yang balk dan
penuh dengan rasa pengertian21.
3. Dakwah Bil Kitaabah
K.H. Bisri Musthofa setelah berdakwah dengan lisan dan juga dengan
perbuatan. Beliau juga mampu berdakwah dengan bentuk karya tulis, baik
dalam bahasa Arab maupun kedalam bahasa Jawa, dengan kata lain beliau
sering menerjemahkan kitab Bahasa Arab ke Bahasa Jawa, A1-Ibris dan
sebagainya, sedang dalam Bahasa Indonesia seperti buku tentang KB yaitu
Islam dan Keluarga Berencana.
KH. Bisri Musthofa seorang ulama, yang mampu berpidato dan
berbuat serta mampu berkarya. Tidak semua ulama yang mampu
berbicara/berpidato, sebagaimana yang diperbuat oleh beliau. Ada Ulama
yang mampu berpidato, namun tidak mampu berkarya, ada yang mampu
berkarya, tidak mampu berbuat. Kitab-kitab yang dikarang KH. Bisri
Musthofa banyak digunakan dilingkungan pondok pesantren dan
masyarakat. Bagi masyarakat pedesaan beliau menerjemahkan kedalam
bahasa Jawa, memang yang belum banyak mengerti Agama Islam. Begitu
juga beliau menterjemahkan kedalam bahasa Indbnesia.22
E. Materi Yang di Sampaikan KH. Bisri Musthofa
Dakwah adalah suatu tugas yang suci dalam agama Islam untuk
disebarkan kepada seluruh umat manusia. Maka dari itu dakwah adalah
suatu usaha mengajak, membangun manusia setuhnya, membangun
rohaninya menuju kesejahteraan batinnya dan meningkatkan kehidupan
jasmani sebagai sarana dan prasarana untuk kesejahteraan di dunia dan di
akherat. Oleh karena itu materi yang disampaikan dalam dakwah Islamiah,
juga materi keduniaan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Adapun yang dimaksud dengan materi dakwah untuk disampaikan
adalah agama yang menganut ajaran kitab Allah yakni Al-Qur'an dan Al-
Hadits Rasulullah SAW. yang mana keduanya ini merupakan sumber utama

21
K.H. Kholil Bisri, Wawancara, Pengasuh Pondok pessantren,Tpi, Rembang tahun 1995
22
Ibid,KH. Bisri Musthofa Wawancara, 1 Agustus 1995.
ajaran Islam. Oleh karena itu materi dakwah Islam tidak boleh lepas dari
kedua sumber tersebut, apabila seorang da'i tidak berstandar pada Al-Qur'an
dan Al-Hadits, maka seluruh aktivitas dakwah akan sia-sia dan kegiatan itu
dilarang oleh agama Islam.
Namun secara garis besar materi-materi yang disam paikan K.H. Bisri
Musthofa pada urnumnya berkisar pada :
1. Bidang Aqidah
Aqidah adalah suatu pokok kepercayaan dalam agama Islam, disinilah
tauhid yang merupakan inti dari kepercayaan. Jadi aqidah dalam agama
Islam adalah 'itiqad batinniyah yang mencakup maslah-masalah yang erat
hubungannya dengan rukun iman. Dimana dalam aqidah itu orang-orang
untuk mengucapkan kalimat syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
Nabi Muhammad itu utusan Allah dan mendirikan sembahyang dan
mengeluarkan zakat, maka bila mereka telah memenuhi sebagaian dari apa
yang 'telah diterangkan dalam rukun iman dan penerapannya didalam
kehidupan nyata. Tanpa itu manusia tidak akan dapat menyadari pentingnya
ajaran Islam. Jika manusia mengerti makna tauhid, maka ia akan dapat
menghidari setiap bentuk keingkaran, atheisme, dan politheisme.
Masyarakat Rembang sedikit telah terpengaruh ajaran animisme.
Sedang K.H. Bisri Mustofa menjadi panutan masyarakat dalam semua
persoalan maka dari beliau selalu berusaha menanamkan aqidah Islam yang
kuat, agar masyarakat terhindar pengaruh ajaran-ajaran yang diluar Islam.
Semua ini beliau lakukan agar masyarakat selamat di dunia dan di akherat.
2. Bidang Syari'ah
Dasar ajaran Islam yang kedua adalah syari'ah, Syari'ah adalah hukum-
hukum yang diciptakan oleh Allah untuk segala hambanya, agar mereka
mengerti, melaksanakan dan mengamalkan untuk kebahagiaan antara dunia
dan akherat.
Pengertian syari'ah dalam Islam adalah berhubungan erat dengan amal
lahir (nyata) dalam rangka mentaati semua peraturan / hukum Allah guna
mengatur hubungan antara manusia dengan, Tuhannya dan mengatur
pergaulan hidup antara sesama manusia23. Sebab semua perbuatan manusia
pada hakekatnya adalah merupakan, rasa pengabdian kepada Allah, baik
yang bentuknya pengabdian secara murni ataupun berhubungan dengan
pengelollan dalam semesta. Sebagaimana yang dilakukan KH. Bisri
Musthofa dalam dakwah, baik yang hubungannya antara manusia dengan
Tuhannya (vertikal) yang disebut dengan ibadah, dan hubungan antara
(horisontal) yang disebut muamalah.
3. Bidang Akhlaq
Dalam bidang akhlaq merupakan ajaran Islam yang ketiga atau disebut
dengan Akhlaq adalah materi pelengkap, yakni untuk melengkapi materi-
materi bidang aqidah dan bidang syari'ah. Namun hanya pelengkap, bukan
berarti tidak penting. Islam sangat mengajarkan pada umatnya untuk
mengunakan budi pekerti dalam hidup dan kehidupannya.
Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah sebagai
pembawa risalah, untuk menyempurnakan akhlaq atau akal budi pekerti
manusia yang baik, sesuai dengan ajaran Islam. Agar manusia menempuh
jalan, lalu mengikatkan diri pada roda kereta yang berjalan pada relnya
(ajaran Islam).
Kemudian KH. Bisri Musthofa selalu menekan pada penerima dakwah
akhlaq yang bak. Sehingga mad'u mempunyai sifat kemandirian dan
kepribadian yang baik sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.
Ajaran akhlaq atau budi pekerti termasuk kedalam materi dakwah yang
penting di sampaikkan pada masyarakat sebagai obyek dakwah. Dengan
akhlaq yang baik, dan dengan keyakinan agama yang kuat, maka Islam
selalu mengantisipasi dekadensi moral.
Dengan materi ini, K.H. Bisri Musthofa optimis bahwa penerima
dakwah menjadi masyarakat yang bermoral sesuai dengan tuntunan agama
Islam, dan inilah yang dikehendaki oleh agama Islam guna menuju
masyarakat yang bahagia di dunia dan di akherat,

23
Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Al-Ikhlas, Surabaya, 1983, hlm 61
F. Materi Yang Disampaikan K.H. Bisri Musthofa
Dakwah adalah suatu tugas yang suci agama untuk disebarkan pada seluruh umat
manusia. Untuk itu dakwah adalah suatu usaha untuk membangun manusia
seutuhnya, membangun rohaninya menuju kesejahteraan batinniyah dan
meningkatkan kehidupan jasmani sebagai sarana kesejahteraan di dunia dan di
akherat. Karena itu materi yang disampaikan dakwah Islamiah, juga materi sesuai
dengan ajaran Islam, sebab agama Islam melingkupi konsep dunia dan akherat.
Dengan maksud materi dakwah adalah semua bahan atau sumber yang
disampaikan oleh dai sebagai penyampai dakwah kepada mad’ sebagai penerima
dakwah untuk menuju tercapainya dari pada tujuan dakwah itu.
Adapun yang secara garis besarnya materi-materi yang di sampaikan KH. Bisri
Musthofa umumnya berkisar pada :
1. Bidang Aqidah
Aqidah adalah suatu pokok kepercayaan dalam syari'at Islam, disinilah tauhid
yang merupakan inti dari kepercayaan. Jadi aqidah dalam Islam adalah bersifat
itiqad batinniah yang mencakup masalah-masalah yang erat hubungannya dengan
rukun iman. Tauhid menjadi landasan dasar dan inti ajaran Islam, yang
membedakan manusia menjadi muslim, kafir musyrik atau dahriyyin (orang yang
tidak percaya adanya Tuhan). Tetapi perbedaan antara yang percaya dan yang
tidak percaya bukan hanya terletak pada kalimah syahadat. Kekuatannya
sungguhnya terletak pada penerimaan secara sadar dan mutlak terhadap ajaran
Islam.
K.H. Bisri Musthofa selalu berjuang untuk kemajuan umat Islam khususnya
dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dalam berdakwah beliau bersifat
ramah dan sopan, serta menunjukan sifat-sifat yang baik, sabar serta bersahabat.
Sebagaimana Rosulullah dalam berdakwah tidak memaksa pada manusia untuk
memeluk agama Islam, penyebaran agama Islam tidak dengan cara kekerasan.
Memang benar, Islam mengakui (realitas) adanya, perbedaan dalam bahasa
dan ras (suku bangsa) tetapi tidaklah hal itu merupakan dasar perbedaan dalam
hal menghargainya. Namun yang penting dalam berdakwah adalah tujuan dan
arah yang harus diketahui sebelum melakukan aktivitas senantiasa diketahui
dalam aktivitas itu.
Dengan demikian approach dan metode dakwah itu berdiri di atas landasan
yang sangat demokratis dan persuasif. Demokratis yang dimaksudkan, bahwa
seorang komunikator pada akhirnya menghargai keputusan final yang akan
dipilih/dilakukan oleh pihak komunikannyan24. K.H. Bisri Musthofa sangat
disenangi oleh masyarakat, segala bicaranya banyak yang didengar dan
diperhatikan oleh masyarakat baik dikalangan bawah maupun masyarakat
dikalangan atas.
K.H. Bisri Musthofa sangat dihormati, disenangi masyarakat, lincah
bicaranya den pandai bergaul jika beliau memberikan ceramah agama tidak
membuat perasaan pedengar tersinggung/marah. Karena beliau memberikan
gambaran yang baik-baik dan menyenangkan, sepertinya memberikan gambaran
tentang balasan bagi orang-orang yang beramal baik, terhadap orang-orang selain
Islam K.H. Bisri Musthofa memberikan peringatan yang menakutkan, namun
juga di jalan yang baik dan jalan yang benar menurut agama Islam. Sehingga
segala pembicaraannya seakan-akan menjadi obat dan senjata bagi ketentraman
jiwa.

C. Karya KH. Bisri Musthofa Sebagai Pengembangan Dakwah


K.H. Bisri Musthofa adalah seorang orator /yang berhasil, bisa kita katakan
ahli pidato yang mendekati sempurna. Karena beliau mampu mempunyai konsep
penguasaan dakwah untuk berdakwah, artinya beliau mampu menguasai objek
dakwah atau medan luar disini ialah (kelompok) yang berada diluar kelompok yang
sudah terorganisasi atau terikat dengan peraturan-peraturan Islam.
Kedua medan dalam artinya mereka berada di dalam suatu kelompok tertentu
yang sudah terorganisasi, bahkan telah biasa dan akrab dengan aktifitas-aktifitas
keagamaan serta dipersiapkan sebagai calon da’i sebagai pengemban tugas-tugas
dakwah.25 Keduanya membutuhkan kemampuan yang optimal dalam penguasaan
sebagaimana yang dilakukan KH. Bisri Musthofa sebagai ulama yang besar.
Kemudian yang paling mengagumkan adalah di tengah-tengah kesibukan
sebagai pengasuh Pondok Pesantren yang mempunyai ratusan santri dan kegiatan
yang sangat padat beliau masih sempat melahirkan begitu banyak karya-karya
tulisnya.

24
Drs. H. Toto Tasmara, Kamunikasi Dakwah,, Gaya Media Pratama, Jakarta,_1997.,hlm 44.
25
Fathi Yakan, Konsep Penguasaan Da’wah, firdaus Pemandu Ilmu dan Hikmah, hlm 6-7.
Kiai seperti itu sulit kita temukan gantinya. Kadang-kadang ada yang pandai
pidato, tetapi tidak bisa menulis. Atau sebaliknya, kadang-kadang lihai pidato,
tetapi tidak mahir tulis menulis. Sementara kiai Bisri Musthofa memiliki keahlian
semuanya. Insya Allah inilah amal sholeh dan pusaka yang jelas manfaatnya.
Dalam hal-hal tertentu Kiai Bisri Musthofa biasa tampil secara formal, berwibawa
dan menggetarkan, tetapi pada saat yang sama beliau juga dapat membuat orang
terpingkal-pingkal. Dia sanggup meluncurkan peluru berbisa dengan cara yang
penuh buaian.26
Dengan demikian orang yang beragama. Berahlaqul karimah, maka dari al-
sulh “tempat kedamaian” dimana kaum muslim hidup sebagai minoritas, tetapi
mereka berada dalam kedamaian dan dapat melaksanakan agamanya secara
bebas.27 Walaupun Islam berkuasa sebagai agama mayoritas. Jadi bisa diupayakan
untuk membentuk sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa (imtaq) serta
berilmu pengetahuan dan teknologi.

26
KH. Ali Ma’sum, Ajakan Suci Pokok-pokok Pikiran Tentang NU. Ulama dan Pesantren, Lajnah
Ta’lim wa Nasyir, Yogyakarta, hlm 99-100
27
Harun Nasution & Azyurmadi Azra, Perkembangan Modern Dalam Islam, Yayasan Obor
Indonesia, Jakarta 1985, Hlm 47.