Anda di halaman 1dari 29

MULTIPLE REACTIONS

Kelompok 6:
Iis Haisah
Imsak
Indra Prasetya
Irma Indriyani
Maria Gracia

Fakultas Teknik
Universitas Pamulang
2019
6.1 PARALEL REACTIONS

Reaksi parallel atau reaksi samping (competitive reaction) yaitu dari


reaktan yang sama dihasilkan produk yang berbeda melalui jalur reaksi
yang berbeda pula. Contoh :

Contoh reaksi paralel yang cukup terkenal pada skala industry adalah reaksi
oksidasi terhadap etilen akan dihasilkan produk yang diinginkan adalah
etilen oksida sementara selama terjadi reaksi oksidasi sebagian
etilen terbakar sempurna dan dihasilkan produk yang tidak diinginkan
adalah uap air dan karbon dioksida.

a) Memaksimumkan jumlah produk yang diinginkan pada reaksi paralel

Ada beberapa cara untuk meminimalkan jumlah produk yang


tidak diinginkan, U antara lain dengan cara jenis reaktor yang digunakan
atau kondisi operasi (penetapan temperature reaksi dan tekanan di dalam
reaktor). Contoh Reaksi paralel :
KD
A D
KU
A U

Maka laju reaksi paralel tersebut adalah :

Dan laju pengurangan mol zat A sama dengan laju pertambahan pembentu
kan zat D dan zat U :

−𝑟𝐴 = 𝑟𝐷 + 𝑟𝑈

−𝑟𝐴 = 𝑘𝐷 𝐶𝐴𝛼1 + 𝑘𝑈 𝐶𝐴𝛼2


Nilai α1 dan α2 positif, dan diinginkan laju pembentukan zat D, r D jauh
lebih besar dari laju pembentukan zat U, rU. Dan perbandingan
laju pembentukan zat D terhadap laju pembentukan zat U
disebut parameter laju selektivitas zat D, harus sebesar mungkin.

𝑟 𝑘 𝐶 𝛼1 𝐾 (𝑎1−𝛼2)
𝑆𝐷𝑈 = 𝑟𝐷 = 𝑘𝐷 𝐶𝐴𝛼2 = 𝐾𝐷 𝐶𝐴 (6.1)
𝑈 𝑈 𝐴 𝑈

b) Memaksimumkan parameter laju selektivitas, S untuk satu buah reaktan

Ada beberapa cara untuk memaksimumkan parameter laju selektivitas,


S untuk kasus orde reaksi yang berbeda dari masing-masing reaksi untuk
pembentukan zat D maupun zat U.

Kasus I untuk α1> α2

Untuk orde reaksi pembentukan zat D, lebih besar dari orde


reaksi pembentukan zat U maka nilai α1– α2= a adalah positif.

α1– α2 = a

𝑟 𝐾
𝑆𝐷𝑈 = 𝑟𝐷 = 𝐾𝐷 𝐶𝐴𝑎 (6.2)
𝑈 𝑈

Dari persamaan (6.2) apabila diinginkan nilai SDU yang


maksimum, bisa dicapai apabila nilai konsentrasi reaktan zat A, CA selama
reaksi berlangsung sebesar mungkin. Apabila reaksi dalam fasa gas, untuk
mempertahankan supaya konsentrasi zat A, CA sebesar mungkin maka
reaksi harus dilangsungkan tanpa ada zat Inert dan tekanan operasi harus
tinggi. Dan apabila reaksi fasa cair, maka harus
dihindarkan penggunaan reaktan yang encer seminimum mungkin. Untuk
kasus ini sebaiknya dipilih reaktor Batch atau Plug Flow Reactor (PFR) karna
pada kedua reaktor tersebut untuk penggunaan konsentrasi reaktan yang
tinggi akan berkurang secara bertahap selama reaksi berlangsung. Berbeda
dengan reactor jenis CSTR, konsentrasi
reaktan akan turun secara drastis begitu reaktan masuk ke dalam reaktor.
Oleh karena itu untuk kasus ini reactor jenis CSTR tidak dipilih.

Kasus II untuk α2> α1

Untuk kasus orde reaksi pembentukan zat U lebih besar dari orde reaksi
pembentukan zat D :
KD
A D
KU
A U
Dan

α2- α1= a

𝑟 𝑘 𝐶 𝛼1 𝐾𝐷
𝑆𝐷𝑈 = 𝑟𝐷 = 𝑘𝐷 𝐶𝐴𝛼2 = 𝐾 𝑎 (6.3)
𝑈 𝑈 𝐴 𝑈 𝐶𝐴

Dari persamaan (6.3) apabila diinginkan nilai SDU yang maksimum maka
nilai konsentrasi A, CA setelah reaksi sekecil mungkin. Nilai konsentrasi A,
CA setelah reaksi kecil bias dicapai apabila digunakan umpan/reaktan yang
encer yaitu bias dicapai dengan cara ditambahkan zat Inert pada umpan
dan reaksi sebaiknya dilangsungkan di dalam reactor jenis CSTR karena
proses yang terjadi pada CSTR konsentrasi
reaktan akan cepat sekali mengecil. Disamping itu, aliran produk keluar dari
CSTR yang memang konsentrasinya sudah encer dapat di
daur ulang (recycle) masuk bersama-sama umpan segar sehingga
konsentrasi reaktan yang kecil tetap dapat dipertahankan.
Karena nilai energi aktivasi (E) dari kedua reaksi tersebut tidak diketahui
maka tidak dapat ditetapkan apakah reaksi tersebut sebaiknya
dioperasikan
pada temperatur rendah atau tinggi. Sensitivitas dari parameter
laju selektivitas suatu produk terhadap temperatur dapat ditentukan dari
nilai rasio konstanta laju kedua reaksi tersebut.

ED EU
kD AD eEd /Rt K
= = KD e−(RT −RT ) (6.4)
kU AD eEd /Rt U

A = factor frekuensi tergantung berat dan struktur molekul, frekuensi dan


posisi tumbukan antar molekul

E = energy aktivasi reaksiya itu energi minimum yang diperlukan sehingga


reaksi dapat berlangsung.

Kasus III untuk ED> EU

Supaya rD besar, maka kD harus besar dan nilai KD akan berubah menjadi
besar dapat dicapai apabila temperature semakin tinggi, dan
sebaliknya nilai kU semakin mengecil dengan bertambahnya nilai
temperatur reaksi. Maka supaya nilai SDU maksimum sebaiknya
temperature reaksi dioperasikan sebesar mungkin.

Kasus IV untuk EU> ED

Untuk kasus ini sebaiknya reaksi dilangsungkan pada temperatur sekecilmu


ngkinuntuksupayanilai SDUmaksimum,
tetapisekalipun begitu temperatur reaksi tidak boleh terlalu rendah karena
apabila
temperatur reaksi terlalu kecil bisa saja reaksi untuk pembentukan produk
yang diinginkan malah tidak berlangsung.

c) Memaksimumkan Parameter Laju Selektivitas, S untuk dua reaktan

Dua macam reaktan menghasilkan dua produk yang berbeda melalui jalur
reaksi yang berbeda pula :

A + B k1 D

A + B k2 U

Diketahui laju reaksi :

rD  k1 CA1 C B1 (6.9)

rU  k 2 CA2 C B
2 (6.10)

Parameter laju selektivitas zat D terhadap zat U :

rD k
SDU   1 CA1 -  2 C B
 1 - 2 (6.11)
rU k2

Dari persamaan (6.11) nilai SDU dapat dimaksimumkan, dengan cara


berbagai konfigurasi dan jenis reaktor yang digunakan seperti ditampilkan
pada Gambar 6.3.

Zat A
Zat B

(a) CSTR
Zat A

Zat B

(b) ReaktorPipa

kQ

( c ) Reaktor Batch

Zat B

Mula-mulaZat A dimasukkan

(d) ReaktorSemibatch

Zat A

Mula-mulaZat B dimasukkan

(e) ReaktorSemibatch
Zat A

Zat B

(f) ReaktorPipadengan
aliranumpandarisamping

Zat A

Zat B

(g) ReaktorPipadengan
aliranumpandarisamping

Zat A

Zat B
(h) Reaktorpipadengan
Recycle (daurulang)
Zat A

Zat B

(i) Reaktor CSTR yang


dipasangseri
6.2 Series Reactions

Pada bagian ini kami melihat bahwa produk yang tidak diinginkan dapat
diminimalkan dengan menyesuaikan kondisi reaksi (mis., Konsentrasi) dan
dengan memilih reaktor yang tepat. Untuk serangkaian reaksi berurutan,
variabel yang paling penting adalah waktu: waktu ruang untuk reaktor aliran dan
waktu nyata untuk reaktor batch. Untuk menggambarkan pentingnya faktor
waktu, kami mempertimbangkan urutan di mana spesies B adalah produk yang
diinginkan.
𝒌𝟏 𝒌𝟏
𝑨→ 𝑩→ 𝑪

Jika reaksi pertama lambat dan reaksi kedua cepat, akan sangat sulit
untuk menghasilkan spesies B. jika reaksi pertama (formasi B) cepat dan reaksi
untuk membentuk C lambat, hasil B yang besar dapat tercapai. Namun, jika
reaksi dibiarkan berjalan dalam waktu lama pada reaktor batch, atau jika reaktor
aliran tabung terlalu panjang, dan produk yang diinginkan B akan dikonversi
menjadi C.

Contoh 6-3 memaksimalkan hasil produk antara


Oksidasi etanol untuk membentuk asetaldehida dilakukan pada katalis 4%
berat Cu-2% berat Cr pada Al2O3. Namun, asetaldehida juga teroksidasi pada
katalis ini dari karbon dioksida. Reaksi dilakukan dalam tiga kali lipat oksigen dan
konsentrasi encer (sekitar 0,1% O2 dan 98,9% N2). Akibatnya, perubahan volume
dengan reaksi dapat diabaikan. Tentukan konsentrasi asetaldehida sebagai fungsi
ruang dan waktu,
1 5
+ O2 + O2
2 2
CH3 CH2 OH(g) → CH3 CHO → 2CO2

Reaksi tersebut bersifat ireversibel dan orde pertama dalam etanol dan
asetaldehida.

Penyelesaian:
Karena O2 berlebihan, kita dapat menuliskan persamaan di atas sebagai
𝒌𝟏 𝒌𝟏
𝑨→ 𝑩→ 𝑪
1. Mole balance on A:
𝒅𝑭𝑨
= 𝒓′ 𝑨
𝒅𝑾
a. rate law:

−𝒓′ 𝑨 = 𝒌𝟏 𝑪𝑨
b. stoichiometry (ε<< 1):
𝑭𝑨 = 𝑪𝑨 𝝊𝟎
c. combining, we have
𝒅𝑪𝑨
𝝊𝟎 = −𝒌𝟏 𝑪𝑨
𝒅𝑾

d. mengintegrasikan dengan CA = CA0 pada W = 0

−𝒌𝟏 τ’
𝑪𝑨 = 𝑪𝑨𝟎 . 𝒆𝒆

2. mole balance on B:
𝒅𝑭𝑩
= 𝒓′ 𝑩 𝒏𝒆𝒕
𝒅𝑾

a. rate law (net):

𝒓′ 𝑩 𝒏𝒆𝒕 = 𝒓′ 𝑩𝒓𝒙𝒏𝟏 + 𝒓′ 𝑩𝒓𝒙𝒏𝟐

𝒓′ 𝑩 𝒏𝒆𝒕 = 𝒌𝟏 𝑪𝑨 − 𝒌𝟐 𝑪𝑩

b. stoichiometry:
𝑭𝑩 = 𝝊𝟎 𝑪𝑩

c. combining yields:

𝒅𝑪𝑩
𝝊𝟎 = 𝒌𝟏 𝑪𝑨 − 𝒌𝟐 𝑪𝑩
𝒅𝑾

Mengganti CA dan mengatur ulang, kita miliki

𝒅𝑪𝑩 −𝒌 τ’
+ 𝒌𝟐 𝑪𝑩 = 𝒌𝟏 𝑪𝑨𝟎 . 𝒆𝒆 𝟏
𝒅τ’

d. menggunakan faktor integrasi memberi kita

𝒅(𝑪𝑩 𝒆+𝒌𝟏τ’ )
= 𝒌𝟏 𝑪𝑨𝟎 . 𝒆(𝒌𝟐 −𝒌𝟏 )τ’
𝒅τ’
Di jalur masuk ke reaktor, W = 0, τ’ = W/υ0 = 0 dan CB = 0 berintegrasi, kita
dapatkan

𝒆(−𝒌𝟏 )τ’ − 𝒆(−𝒌𝟐 )τ’


𝑪𝑩 = 𝒌𝟏 𝑪𝑨𝟎 ( )
𝒌𝟐 − 𝒌𝟏

konsentrasi A, B dan C ditunjukkan pada Gambar E6-3.1.

3. Hasil optimal. Konsentrasi B melewati maksimum pada titik di sepanjang


reaktor. Akibatnya, untuk menemukan panjang reaktor yang optimal, kita
perlu membedakan persamaan (E6-3.7);
𝒅𝑪𝑩 𝒌𝟏 𝑪𝑨𝟎
=0= (−𝒌𝟏 𝒆−𝒌𝟏 τ’ + 𝒌𝟐 𝒆−𝒌𝟐 τ’
𝒅τ’ 𝒌𝟐 − 𝒌𝟏

Penyelesaian untuk τ’ditunjukkan sebagai berikut:


𝟏 𝒌
τ’𝑜𝑝𝑡 = 𝒌 𝑙𝑛 𝒌𝟏
𝟏 −𝒌𝟐 𝟐

𝝊𝟎 𝒌𝟏
𝑊𝑜𝑝𝑡 = 𝑙𝑛
𝒌𝟏 − 𝒌𝟐 𝒌𝟐

Konversi yang sesuai dari A adalah


𝑪𝑨𝟎 − 𝑪𝑨
𝑋𝑜𝑝𝑡 = = 1 − 𝒆−𝒌𝟏 τ’
𝑪𝑨𝟎
𝒌𝟏
𝒌𝟏 ⁄(𝒌 −𝒌 )
𝟏 𝟐
= 1 − exp [−ln (𝒌 ) ]
𝟐

𝒌𝟏
⁄(𝒌 −𝒌 )
𝒌𝟏 𝟐 𝟏
=1−( )
𝒌𝟐
Hasil telah didefinisikan sebagai

mol asetaldehida keluar


ỸA =
mol etanol masuk

dan ditampilkan sebagai fungsi konversi pada Gambar E6-3.2.

Gambar E6-3.2. Hasil dari asetaldehida sebagai fungsi konversi etanol.


Data diperoleh pada suhu 518 K. Titik data (dalam rangka meningkatkan
konversi etanol) diperoleh pada kecepatan ruang 26,000, 52,000,
104,000, dan 208,000 h-1. Kurva dihitung untuk reaksi seri orde pertama
dalam PFR dan menunjukkan hasil spesies antara B sebagai fungsi dari
konversi reaktan untuk berbagai rasio konstanta laju k1 dan k2.

6.3 PROBLEM SOLVING

Contoh1 : Stoikiometri dan Nilai untuk Berbagai Reaksi

Pertimbangkan serangkaian reaksi berikut

RateLaws4
r1NO  k1NO CNH3 CNO
15
Reaction 1 :4NH3 + 6NO 5N2 + 6H2O

Reaction2 :2NO N2+02 r2 N 2  k2 N 2CNO


2

r302  k302 CN2 Co22


Reaction3 :N2+202 2N02

Tulis laju reaksiuntuk setiap spesies dalam setiap reaksi dan kemudian
tulis laju bersih pembentukan NO, 02, dan N2.

Solusi :

Hukum laju untuk reaksi 1, 2, dan 3 diberikan dalam bentuk spesies NO,
N2, dan
02, masing-masing. Akibatnya, untuk menghubungkan setiap spesies
yang bereaksi dalam setiap reaksi dengan hukum laju, kami membagi
masing-masing reaksi melalui koefisien stoikiometrik dari spesies di
mana hukum laju diberikan.

1. 2
NO  NH 3 2
N 2  H 2O r1NO  k1NOCNH3 CNO
1,5
(E6-4.l)
3
5

2.
2NO N2  O2 r2 N2  k2 N2 CNO
2
(E6-4.2)

O2 
1
N2 NO2 r3O2  k3O2 CN 2CO2 2
3. 2
(E6-4.3)

Thecorrespondingratelawsarerelated :

riA r r r
 ib  iC  iD
 ai bi Ci di

Reaction I:Theratelaww.r.t.NOis

 r1NO  k1NO C NH 3C NO
1.5

Therelativeratesare

r1NO r1NH 3 r1N 2 r1H 2O


  
 1  2 / 3  5 / 6  1
Thentherateofdisappearance of NH3is

2 2
 r1NH 3   r1NO   k1NO CNH 3CNO
1,5

3 3
(E6-4.4)

5 5
r1NH 2   r1NO   k1NO CNH 3CNO
1,5

6 6
(E6-4.5)

r1H 2 O   r1NO (E6-4.6)

Reaction 2 :

r2 NO  2R 2 N 2  2k2 N2 CNO


2

(E6-4.7)
r2O2  r2 N 2
(E6-4.8)

Reaction 3 :
 r3 N 2 
1
2
 1
 r3O2  k3O2 C N 2 CO22 (E6-4.9)
2
r3 NO2   r3O2
(E6-4.10)

Next,letusexaminethenetrateofformations.ThenetratesofformationofNOis:
3
rNO  
i 1
riNO  r1NO  r2 NO  0 (E6-4.ll)

rNO  k1NOCNH3 CNO


1.5
 2k2 N2 CNO
2
(
E6·4.l2)
NextconsiderN2
3
rN 2   riN 2  r1N 2  r2 N 2  r3 N2
i 1
(E6-4.13)

5 1
rN2  k1NO CNH3 CNO
1.5
 k2 N2 CNO
2
 k3O2 C N2 CO22 (
6 2 E
6
-
4
.
1
4
)

Finally02

rO2  r2O2  r3O2  r2 N2  r3O2


(E6-4.15)

rO2  k2 N2 CNO
2
 k3O2 CN2 CO22
(E6-4.16)
Contoh2 :Meminimalkanproduk yang
tidakdiinginkanuntukreaktantunggal

ReaktanA teruraiolehreaksisimultanuntukmembentuktigaproduk; satu


yang diinginkan, D dandua yang tidakdiinginkan, Q dan U. Reaksifase gas
ini, bersamadenganhukumlaju yang sesuai, adalah:
Produk yang diinginkan:

A D
   1 1  
rd  0.0002 EXP 36,000     CA
   300 T   

UnwantedproductU:
A U
   1 1  
rU  0.0018exp 25, 000      C1.5
A
   200 T   

UnwantedproductQ:
A Q
   1 1  
rQ  0.00452exp 500     CA0.5
   300 T  

Solusi:
Karena faktor pra eksponensial sebanding, tetapi energi aktivasi reaksi
(E6¬1l) dan (E6¬l.2) jauh lebih besar daripada energi aktivasi reaksi
(E6¬1.3), laju reaksi pembentukan Q akan diabaikan sehubungan dengan
tingkat pembentukan D dan U pada suhu tinggi:

rD
S DQ   Very large
rQ
Sekarang kita hanya perlu mempertimbangkan laju relatif pembentukan
D dan U pada suhu tinggi:
 1 1
 
T 
 rD  0.11e11,000  300 
S DU     0.5
 rU  CA

Dari Persamaan (E6¬l.5) kami mengamatibahwajumlahproduk yang


tidakdiinginkan, U,
dapatdiminimalkandenganmelakukanreaksipadakonsentrasirendah.Olehkarenait
u, untukmemaksimalkankonversiAke D kami inginmengoperasikanreaktor kami
padasuhutinggi (untukmeminimalkanpembentukan Q)
danpadakonsentrasirendah A (untukmeminimalkanpembentukan U). Yaitu,
lakukanreaksipada

1. Suhutinggi.
2. Konsentrasi A yang rendah, yangdapatdicapaidengan:
a. Menambahkaninert.
b. Menggunakantekananrendah (jikafase gas).
c. MenggunakanCSTRataureactordaurulang

Contoh
Memaksimalkan Yield dari produk antara

Reaksi oksidasi terhadap etanol untuk menghasikan asetaldehid,


dilangsungkan dengan menggunakan katalis dengan komposisi 4%-b Cu,
2%-b Cr dalam Al2O3. Sayangnya dengan katalis tersebut asetaldehid
juga teroksidasi menjadi karbon dioksida. Reaksi oksidasi tersebut
dilangsungkan dengan oksigen yang berlebih yang terdapat dalam
campuran yang sangat encer (yaitu : 0,1% etanol, 1% oksigen dan 98%
nitrogen). Sehingga perubahan volume fuida selama reaksi dapat
diabaikan.
Tentukan konsentrasi asetaldihid sebagai fungsi space time.
+ 5/2 O2
CH3CH2OH (g) +- ½ CH3CH 2 CO2
H2OO2 - 2 H2O
Reaksi seri tersebut reaksi searah dan masing-masing reaksi adalah orde
satu.

Penyelesaian :
k1
A B k2 C

dFA '
1. Neraca Mol zat A :  rA
dW

'
a). Hukum laju : - rA  k1 C1A
b). Stokiometri reaksi : FA  CA v  CA v 0

dFA
c). Kombinasi :  - k1 C A
dW

d(v 0 C A )
 - k1 C A
dW

d CA
v0  - k1 C A
dW

W  V
'   b  b 
v0 v0
 b  densitas ruah (bulk density)

d). Diintegralkan dengan nilai batas untuk W = 0 , CA = CA0

d CA
v0  - k1 C A
dW

d CA k
 - 1 dW
CA v0

k1
ln C A - ln C A0  - W
v0

CA k
ln  - 1 W
C A0 v0
k
- 1W
CA
 e v0
C A0

k
- 1W
v0
C A  C A0 e

dFB '
2. Neraca mol zat B :  rB net
dW

a) Hukumlaju(netto):
' ' '
rB net
 rB rx -1
 rB rx -2

'
rB net
 k1 C A  k 2 C B

b) Stokiometrireaksi :

FB  v C B  v 0 C A

c) Kombinasi :

dFB
 k1 C A - k 2 C B
dW

dC B
v0  k1 C A - k 2 C B
dW

k
- 1W
v0
C A  C A0 e

k
- 1W
dC B
v0  k1 C A0 e v0 - k 2 CB
dW
k
- 1W
dC B
v0  k 2 C B  k1 C A0 e v0
dW

k
- 1 v0  '
dC B v0
v0  k 2 C B  k1 C A0 e
v 0 d '

'
 k 2 C B  k1 C A0 e - k1 
dC B
d '

d) Bentuk Umum :

dy
 Py  Q
dx

Dengan : y  CB
P  k2

'
Q  k1 CA0 e- k1 

Penyelesaian umum :

y e   Q e
P dx P dx
dx  konstanta

Jadi penyelesaian :

'
 k 2 CB  k1 CA0 e- k1 
dCB
d '

k d ' ' k d '


CB e  2   k1 CA0 e- k1  e  2 d '  K

' ' '


CB e k 2    k1 CA0 e- k1  ek 2  d '  K

' '
CB ek 2    k1 CA0 e(k 2 - k1)  d '  K

' '
CB ek 2   k1 CA0  e(k 2 - k1)  d '  K

' '
CB ek 2   k1 CA0  e(k 2 - k1)  d (k 2 - k1)  '  K
1
(k 2 - k1)

' (k 2 - k1)  '


CB e k 2  
k1 CA0
 d e  K
(k 2  k1)

' k1 CA0 (k 2 - k1)  '


CB e k 2   e  K
(k 2  k1)

Pada awal reaksi yaitu saat τ’ = 0, nilai CB = 0 maka :

k 1 C A0
0   K
(k 2  k 1 )
k 1 C A0
K  -
(k 2  k 1 )

' k1 CA0 (k 2 - k1)  '


CB e k 2  
k C
e - 1 A0
(k 2  k1) (k 2  k1)

 ' 
k1 CA0  e(k 2 - k1)  - k2  ' 
CB  - e
(k 2  k1)  k2  '


 e 

 - k1  ' ' 
 e e- k 2  
CB  k1 CA0  - 
 (k 2  k1) (k 2  k1) 
 

 - k1  ' ' 
e - e- k 2  
CB  k1 CA0  
 k 2  k1 
 

Ci

B
A
τ1
’ ’ ’ ’
τ1 τ2 τ3 τ4
Gambar6.3 :JenisdankonfigurasiReaktor yang berbedauntuk
Meminimumkanjumlahproduk yang tidakdiinginkan

Contoh C: PFR Fasa Gas, TanpaPenurunanTekanan


Reaksi yang samadannilaihokumsepertiduacontohsebelumnya

(1)
CATATAN: Lajureaksispesifik k1A
adalahdidefinisikansehubungandenganspesies A.

(2)

CATATAN: Lajureaksispesifik k2C


adalahdidefinisikansehubungandenganspesies C.

Reaksifase gas kompleksterjadidalam PFR.Umpanadalah molar yang


samadalam A dan B dengan FA0 = 10 mol /
mntdanlajualiranvolumetrikadalah 100 dm3 / mnt. Volume
reaktoradalah 1.000 dm3, tidakadapenurunantekanan, konsentrasi total
yang masukadalah CT0 = 0,2mol / dm3 dankonstantalajuadalah

2
 dm3 
K1 A  100   / min
 mol 
4
 dm3 
K 2C  1,500   / min
 mol 
Plot FA, FB, FC, FD dan C / D sebagaifungsidari V

Larutan

PFR Fasa Gas, TanpaPenurunanTekanan

SaldoMol

SaldoMol
dFA (FA0=10)
 rA (1) (FB0=10)
dV
Vf=1,000

dFB
 rB
dV

dFC
r
(2)

(3)

(4)

TarifBersih

rA  r1 A  r2 A
(5)

rB  r1B
(6)
(7)
rC  r1C  r2C
(8)

rD  r1D

Tingkat Hukum

r1 A  k1 AC ACB2
(9)

r2C  k2C C A2CB2


(10)

TarifRelatif

r1 A r r
 1B  1C
1 2 1 Reaction 1

(11)
r1B  2r1 A

r1C  r1 A
(12)

r2 A r r
 2C  2 D
2 3 1

2
r2 A  r2 C
3
Reaction 2

(13)

(14)

Selektivitas

F 
s  if  v  0.0001 then  C  else  0 
(15)
C/D
 FD 

Stoikiometri

F 
C A  CT 0  A  y
 FT 

F 
CB  CT 0  B y
 FT 

F 
CC  CT 0  C  y
 FT 

F 
CD  CT 0  D  y
 FT 

Parameter
Contoh E: SemibatchCair

Reaksi yang sama, undang-undangnilai, dankonstantanilaiseperticontoh


A

(1)

CATATAN: Lajureaksispesifik k1A


adalahDidefinisikansehubungandenganspesies A.

(2)

CATATAN: Lajureaksispesifik k2C


adalahDidefinisikansehubungandenganspesies C.

Reaksifasecairkompleksterjadidalamreaktorsemibatch di mana A
diumpankanke B dengan FA0 = 3 mol / menit.
Lajualiranvolumetrikadalah 10 dm3 / menitdan volume
reaktorawaladalah 1.000 dm3.

Volume maksimumadalah 2.000 dm3 dan CA0 = 0.3 mol / dm3 dan CB0 =
0.2 mol / dm3. Plot CA, CB, CC, CD dan SC / D sebagaifungsiwaktu.

Larutan

ReaksiBergandaFaseCairdalamReaktorSemibatch

SaldoMol

TarifNeto, Undang-UndangTarif, dantariffrelativesamadengan PFR


FaseCairdan Gas dan CSTR FaseCair.
Stoikiometri

Selektivitas

Parameter