Anda di halaman 1dari 93

Bagian Pertama

Pembangunan Mamminasata dan Dampaknya di


Pedesaan

A. Pengantar

Pada awal tahun 80-an berkembang wacana untuk


mengembangkan kota Makassar menjadi sebuah wilayah yang
terintegrasi dengan wilayah-wilayah penyanggah di sekitarnya.
Diskusi ini kemudian berkembang di kampus-kampus oleh
akademisi, didiskusikan di tingkat pemerintah kota/kabupaten dan
pemerintah provinsi hingga kemudian pada tahun 2003-2008 sebuh
kajian yang lebih dalam mengenai pengembangan infrastruktur dan
wilayah kota yang kemudian disebut Mamminasata dilakukan oleh
Japan International Cooperation Agency (JICA). Hasilnya berupa
rekomendasi pembangunan empat proyek jalan mamminasata yang
sekarang ini telah dan sedang dilaksanakan yakni Trans Sulawesi,
Bypass Mamminasata, Jalan radial Abdullah Dg Sirua dan Jalan
radial Hertasning. Jalan trans Sulawesi menghubungkan kabupaten
maros, kota mkassar, kabupaten Gowa dan kabupaten Takalar.
Kemudian bypass mamminasata adalah jalan lingkar tengah yang
menguhubungkan Makassar dan kabupaten gowa. Sementara jalan
radial Abdullah dg sirua dan jalan hertasning adalah jalan tembus
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

yang akan menghubungkan pusat kota Makassar dengan jalan


bypass mamminasata.

Mamminasata adalah akronim dari empat nama


kota/kabupaten: Maros, Makassar, Sungguminasa dan Takalar.
Tetapi makna mamminasata kemudian berkembang bukan lagi
sebagai sebuah akronim tetapi istilah untuk sebuah mega proyek
pengembangan kota dan pembangunan infrastruktur jalan yang
berbasis pada empat kabupaten kota yang terintegrasi menjadi
sebuah kota besar Maminasata. Integrasi wilayah ini terutama
bertumpu pada pembangunan infrastruktur – berupa pemeliharaan
jalan lama, pembuatan jalan baru dan rekomendasi empat proyek
jalan mamminasa- dan pertumbuhan ekonomi yang semakin luas.
"Tujuannya untuk memudahkan transportasi dan membuat kawasan
pemukiman dan bisnis baru,".

Anggaran dana proyek pembangunan jalan mamminasata


ini berasal dari dana pemerintah pusat sebesar Rp 815 miliar,
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebesar Rp 271,69 miliar dan
biaya pembebasan lahan ditanggung oleh empat kabupaten/kota
yang bersangkutan yang besarannya tergantung kesiapan kabupaten
masing-masing. Kepastian anggaran turun setelah pemerintah
mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
rencana tata ruang wilayah nasional yang menyinggung
pembangunan jalur Mamminasata. Direncanakan pembangunannya
dilakukan pada tahun 2010-1015. Hingga kini proyek
pembangunan jalan yang telah rampung adalah jalan tembus
hertasning dan jalan ring road tengah yang menghubungkan
Makassar dan kabupaten gowa. Sementara jalan trans Sulawesi
baru pada tahap pembebasan lahan.

Tetapi meskipun belum semua proyek jalan telah rampung,


dinamika di tingkat bawah menjadi semakin dinamis. Dinamika ini
terutama berkaitan dengan semakin tingginya proses jual beli lahan

2
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

oleh investor, pertumbuhan sejumlah proyek perumahan,


perubahan lahan pertanian menjadi perumahan, pemindahan
sejumlah kampus ke wilayah ini dan juga semakin terdesaknya
masyarakat petani local ke wilayah pedalaman akibat proses jual
beli atau proses pengambilalihan paksa lahan pertaniannya.
Menurut pengakuan bupati kabupaten gowa misalnya
memproyeksikan ada 500 perumahan di kelurahan pattalassang.
Sementara sejak 2005 pemodal-pemodal besar sector property
sudah mulai membangun di wilayah ini. Di antaranya group ciputra
yang menggandeng mitra local Idris Manggabarani dan Rizal
Tandiawan dalam proyek perumahan elite citra land Celebes seluas
33 hektare di kelurahan paccinongan kabupaten gowa. Idris
terkenal sebagai pengusaha property di bawah bendera PT
Nusasembada Bangunindo, sedangkan Rizal adalah pemilik PT
Suzuki Sinar Galesong yang kini membangun kerajaan bisnis di
sektor properti. Bahkan sekarang group ciputra di bawah PT ciputra
fajar mitra sedang membangun kompleks perumahan ekonomis di
kelurahan paccinnongan seluas 21 hektar. Ada juga BSA Land
yang sedang membangun real estate royal spring di atas lahan
seluas 31 hektar di desa samata kabupaten gowa.

Pertumbuhan pesat di sector property ini menyebabkan


perubahan lanskap, perubahan ruang, perubahan tata guna lahan di
wilayah-wilayah yang di lalui oleh proyek jalan mamminasata ini.
Bahkan lebih dari itu, wilayah-wilayah yang dilalui oleh jalan
mamminasata sekarang telah berubah dengan sangat cepat baik dari
sisi ruang (space), populasi, kondisi demografis dan hubungan-
hubungan social yang kian kompleks akibat adanya perumahan-
perumahan baru di sekitar perkampungan lama warga desa atau di
atas lahan-lahan pertanian dan sengketa serta konflik agrarian
menjadi semakin meningkat. Menurut catatan badan pertanahan
kabupaten gowa telah terjadi 24 konfilk dan sengketa agrarian di
jalur-jalur yang dilalui proyek mamminasata di kabupaten gowa.
Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 6 kasus.
3
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Kondisi-kondisi yang semakin kompleks inilah yang


menjadi titik berangkat buku ini. Terutama pada dinamika
perubahan ruang dan perubahan-perubahan hubungan social serta
konflik yang terjadi seiring dan disebabkan –secara langsung
ataupun tidak langsung- oleh pembangunan proyek jalan
mamminasata ini.

B. Tinjauan Pustaka

Penelitian dengan tema mengenai perluasan kota pernah


dituliskan dengan judul Ekonomi Politik Pertumbuhan Kota oleh
Ramlan Surbakti (1995)1. Tulisan ini mengulas mengenai dampak
pertumbuhan kota bagi pertumbuhan wilayah yang tidak adil antara
wilayah pusat dan wilayah di luarnya. Tulisan ini lebih jauh
mengungkapkan bahwa perkembangan perencanaan pembangunan
telah menyebabkan ketidakadilan pembangunan, bukannya
pemerataan pembangunan antara kota dan desa.

Tulisan lain yang mengulas masalah serupa adalah


Meluasnya Spekulasi Tanah Di Jabotabek oleh Bernard Dorleans
(1994)2. Tulisan ini mengemukakan mengenai maraknya spekulasi
tanah di sekitar Jakarta akibat perluasan kota jakarta menjadi
Jabotabek. Spekulasi ini menyebabkan semakin tingginya harga
tanah dan makin tergusurnya warga miskin perkotaan ke wilayah
pinggiran kota yang lebih jauh.

Bahkan, dua tahun sebelumnya, di tahun 1992, Djoko


Suryanto3 menulis Bias kota Besar Serupa Jakarta yang
mengemukakan perkembangan kota jakarta akibat muculnya ide

1
Ramlan Surbakti Ekonomi Politik Pertumbuhan Kota Majalah Kajian
Sosial Ekonomi Prisma nomor 1 1995 hal. 51-69
2
Bernard Dorleans Meluasnya Spekulasi Tanah di Jabotabek Jurnal
Prisma nomor 2 Februari tahun 1994
3
Djoko Suryanto Bias Kota Besar Serupa Jakarta Jurnal Prisma Nomor
2 Tahun 1992
4
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

pengembangan mega kota Jabotabek. Ide Jabotabek, kata Djoko,


adalah ide pembangunan kota yang telah disebut oleh seorang
konsultan Bank Dunia di tahun 1962. Karena itu meskipun baru
dicetuskan di sekitar tahun 1974 sebagai konsep pembangunan di
kota Jakarta, bukanlah suatu hal yang baru. Tulisan ini juga
mengulas pertumbuhan kota jakarta sejak abd ke-17 yang
kemudian meluas wilayahnya hingga kini. Ketiga tulisan di atas
dimuat dalam jurnal prisma di tahun 1992,1994 dan 1995.

Pada tahun 2009, jurnal Balairung mengangkat fokus


mengenai perkembangan kota. Salah satu tulisan di antaranya
menjelaskan mengenai perkembangan kota besar yang
menimbulkan kerentanan berjudul Problematika Kehidupan Kota
Dan Strategi Menuju Suistainable City. Tulisan ini diungkapkan
oleh Hadi Sabari Yunus4, seorang ahli geografi perkotaan UGM.
Dalam tulisannya, hadi mengulas mengenai trend pengembangan
mega city yang telah banyak dilakukan di berbagai tempat.
Beberapa contoh bisa disebutkan: klaang-Valley Corridor yang
menghubungkan Kuala Lumpu, Shah Alam dan Klaang; Jabotabek
yang menghubungkan Jakarta, Bogor, Tangerang Bekasi; Manila-
Quezon d Filipina;Osaka-Kobe, Tokyo-Yokohama di Jepang;
Beijing-Tianjin Hongkong-Guangzhu di China; Seoul-Puson di
Korea dan Taipei-Kaosiung di Taiwan.

Studi yang lebih dekat adalah Pembangunan Mamminasata


dan Proses Eksklusi sistem Nafkah Masyarakat. Studi kasus
kabupaten Maros, Kabupaten Gowa5. Tulisan ini merupakan
skripsi sarjana di jurusan ilmu pertanianUiniversitas Hasanuddin
yang ditulis Rimarti Anggun Widiatri. Tulisan ini menggunakan
teori pembangunan, govermentality Fuchoult yang
dikonseptualisasi oleh Tania Murray Li dan teori The Power of

4
Hadi Sabari Yunus Problematika Kehidupan Kota Dan Strategi
Menuju Suistainable City Yogyakarta: Balairung, 2009
5
Rimarti Anggun Widiatri
5
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Exclution Tania Li. Proyek pembangunan mamminasata sebagai


salah satu bagian proyek dalam MasterPlan Percepatan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) bertujuan untuk
merangsang pertumbuhan ekonomi dari aras perkotaan yang akan
menarik investasi pihak swasta. Efek dari pembangunan
Mamminasata terhadap perubahan livelihood masyarakat setelah
lahannya dilepaskan, masyarakat memiliki daya penyesuaian
(adaptability) yang lemah, yakni semakin tingginya tingkat
pengangguran, ketidakpastian dan ketidakamanan mata
pencaharian; ada pekerjaan namun serabutan, menjadi
komuter/migran sirkuler.

C. Pendekatan Teoritik

Produksi Ruang: Jalan Raya Sebagai Ruang

Jalan-jalan modern di Hindia, selain banyak hal hebat yang


dilakukannya, sejak awal menjadi medan pertempuran dan ruang
dimana orang belanda di koloni itu jelas-jelas tak pasti tentang diri
mereka sendiri. (2006;14)

Rudolf Mrazek

Ada banyak peran dan makna jalan bagi suatu kota. Jalan
menstrukturkan ruang kota. Ia membagi-bagi kota. Ia juga
menghubungkan berbagai tempat dalam kota. Pada setiap kota,
jalan lahir bersamaan jalan lahir bersamaan waktu dengan lahirnya
kota itu. Di setiap kota dapat ditemukan suatu jalan yang utama dan
pertama menjadi cikal bakal kota tersebut.6

6
Marco Kusumawijaya dalam sekapur sirih buku Hani Raihana Negara
Di Persimpangan Jalan Kampusku (Yogyakarta; kanisius dan kanisius; 2007)
Hal. 7
6
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Dari pernyataan di atas dapat ditarik pertanyaan mengenai


siapa yang mengkonstruksi ruang bernama jalan ini? Bagaimana ia
diproduksi? Apa yang direpresentasikan oleh ruang kota tersebut?
Untuk siapa jalan tersebut dibangun dan siapa yang paling
diuntungkan dari pembangunannya? Membincangkan jalan raya
sebagai ruang, dimana proses produksi kapitalis berada di
dalamnya, Lavebre memberikan kita argumentasi alternatif. Bagi
Lavebre ruang adalah tempat dimana proses produksi dijalankan
dan karena itu mesti dilihat bagaimana bentuk-bentuk representasi
ruang yang berada di dalamnya. ‘Representasi ruang, kata Lavebre,
sebagaimana dikutip George Ritzer dan Douglas J Goodman7,
adalah ruang yang dikonsepsikan oleh para elit-elit sosial’.
Representasi ruang adalah ciptaan kelompok dominan.8

Klasifikasi jalan raya dan subjek-subjek yang secara


potensial bisa berada di dekatnya; jalan kecil (gang) serta
bagaimana gang ini dipersepsi dan dikonstruksi bagi subjek seperti
apa; apa saja yang layak di tempatkan di jalan raya dan apa yang
harus di sembunyikan di gang; dimana saja jalan utama, dimana
sebuah gedung yang bermakna secara sosial layak di tempatkan
dan jalan seperti apa yang harus ada untuk menjadi sarana baginya;
jalan apa yang dikonstruksi dalam politik sebagai jalan yang
‘penting’. Siapa yang menentukan itu semua? Di sinilah kita bisa
melihat bahwa ruang, sebagaimana dikonsepsikan Lavebre, adalah
ruang yang dikonstruksi oleh elit. Elit disini adalah kelompok
sosial yang-baik dalam corak produksi kapitalis maupun feodal-
memegang kekuasaan untuk menentukan arah pembangunan dan
perubahan ruang. Jalan-jalan penting yang dekat dengan gedung-
gedung publik, jalan raya depan istana presiden, jalan mulus
menuju pabrik-pabrik dan kompleks-kompleks industri yang sering
7
George Ritzer dan Douglas J Goodman Teori Sosiologi Dari
Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Teori Postmodern
(Yogyakarta; Kreasi Wacana, 2004) Hlm. 329
8
Ibid Hlm 330
7
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

disaksikan di kota-kota adalah fakta-fakta historis bagaimana


‘ruang direpresentasikan’ secara politis oleh kepentingan-
kepentingan elit sosial di tempat tersebut. Dan juga yang penting
ditegaskan di sini bahwa ruang ini semua lahir dipengaruhi oleh
corak produksinya masing-masing. Seperti dicatat Arianto Sangaji
‘Di dalam masyarakat dengan corak produksi kapitalis, produksi
ruang berorientasi kepada kepentingan kapital; komoditi harus bisa
diproduksi dan disirkulasi secara mudah. Menurutnya Lavebre,
setiap masyarakat — atau setiap corak-produksi — menghasilkan
ruang untuk kebutuhannya sendiri. Dengan kata lain, perbedaan
corak produksi menciptakan ruang berlainan’.

Lafebvre berpendapat bahwa ruang memainkan beragam


peran di dunia sosio-ekonomi. Pertama, ia dapat menjalankan peran
salah satu dari begitu banyak kekuatan produksi (kekuatan lain
yang lebih tradisional adalah pabrik, alat dan mesin). Kedua, ruang
itu sendiri dapat berupa beragam komoditas yang dikonsumsi
(misalnya oleh pelancong yang mengunjungi Disneyland), atau ia
dapat dikonsumsi secara produktif (misalnya tanah tempat
dibangunnya pabrik). Ketiga, secara politis ia penting memfasilitasi
control system (membangun jalan untuk memfasilitasi gerak
tentara untuk menghentikan pemberontakan). Keempat, ruang
memperkuat reproduksi hubungan produktif dan hak milik
(misalnya komunitas-komunitas mahal bergerbang bagi para
kapitalis dan kawasan kumuh bagi orang miskin). Kelima, ruang
bisa berbentuk supra struktur yang, misalnya, terlihat netral namun
menyembunyikan basis ekonomi yang memunculkannya dan yang
jauh dari netral. Jadi system jalan raya bisa jadi terlihat alamiah
namun menguntungkan perusahaan kapitalis yang diizinkan
memindahkan bahan mentah secara mudah dan murah.9

9
George Ritzer dan Douglas J Goodman dalam Teori Marxist dan
berbagai ragam teori Neo-Marxian (Yogyakarta: kreasi wacana, 2011) hal. 169
8
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Jadi dengan logika Lafebvre ini bisa dilihat bahwa jalan


raya sebagai ruang bukanlah sesuatu yang di luar konstruksi sosial
sebagaimana makna-makna yang seringkali diproduksi oleh resim
teknokratik. Ia saling berkait dengan kondisi relasi sosial dan relasi
produksi yang memproduksi ruang tersebut. Jalan adalah ruang
khalayak, ruang negosiasi, ruang sosialisasi. Jalan dihidupi oleh
budaya manusia, dan ia hidup di dalam budaya kita, mendiami
antara lain bahasa kita.10 Di dalam ruang ini, meminjam Laclau dan
Mouffe, ada subjek politik yang sedang berada dalam sebuah
pertarungan posisi. Dalam masyarakat kapitalis, ruang memiliki
posisi yang sangat vital sebagai modal statis bagi produksi kapitalis
dan sebagai ruang dimana relasi eksploitasi dijalankan sekaligus
disamarkan. Kata Lafebvre ‘masalah terbesarnya adalah
representasi ruang elit terlalu mendominasi praktik spasial dan
ruang representasional sehari-hari.11Karena dominasi kelompok elit
dalam representasi ruanglah maka subjek-subjek politik lain yang
berkepentingan dengan ruang tersebut melakukan langkah-langkah
yang memungkinkan untuk melakukan perang posisi agar
mendapatkan ruang representasional yang layak. Dalam kasus-
kasusnya di berbagai tempat memperlihatkan bahwa subjek-subjek
politik seperti kaum miskin kota, mahasiswa dan elemen sosial lain
yang marjinal itu menjalankan politiknya dalam sebuah perang
posisi di jalan raya. Mereka mensubversi makna-makna yang ajeg
dan seringkali dijadikan makna maenstream oleh kelompok elit
tentang siapa saja yang layak dianggap pengguna jalan dan apa saja
aktivitas yang pas dianggap sebagai ‘aktivitas’ di jalan raya. Jadi,
bagi Lafebvre, jelas bahwa ruang ini diproduksi dan direpresentasi
oleh kelas elit tetapi dalam produksi ruang oleh kelas elit ini

10
Marco Kusumawijaya dalam sekapur sirih buku Hani Raihana
Negara Di Persimpangan Jalan Kampusku (Yogyakarta; kanisius dan kanisius;
2007) Hal. 11
11
George Ritzer dan Douglas J Goodman Teori Sosiologi Dari
Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Teori Postmodern
(Yogyakarta; Krasi Wacana, 2004) Hlm. 330
9
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

elemen sosial lainnya juga secara aktif melakukan perlawanan atas


produksi dan representasi tersebut.

Setidaknya, realitas ini ditanggapi Lafebvre lebih lanjut


bahwa untuk mengkaji produksi ruang ada dua hal yang mesti
dikemukakan. Pertama, perhatian kita harus beralih dari sarana
produksi menuju ruang produksi. Kedua, Lafebvre meletakkannya
dalam konteks arah perubahan sosial yang dikehendaki. Jadi, kita
hidup di dunia yang ditandai oleh cara produksi yang berlangsung
di dalam ruang. Ini adalah dunia dominasi dimana control
dijalankan oleh Negara, kapitalis dan borjuasi.12 Jalan sebagai
ruang sosial dimana pertarungan posisi terus terjadi antara subjek-
subjek politik di dalamnya, seringkali dimenangkan dominasinya
oleh kelas elit, kapitalis dan bojuasi.

Mirip dengan Lafebvre yang berkonsentrasi pada ruang,


menurut Massey ruang sosial terbentuk secara relasional dari
eksistensi bersama antara hubungan dan interaksi sosial. Massey
mengusulkan argumen pokok mengenai ruang:

- Ruang adalah sebuah konstruksi sosial


- Dunia sosial terkonstruksi secara spasial
(berdasarkan ruang)
- Ruang sosial tidak statis tapi dinamis, terbentuk oleh
hubungan-hubungan sosial yang terus berubah
- Ruang terkait dengan persoalan kekuasaan dan
simbolisme, yakni ‘geometri-kekuasaan’ ruang
(Massey, 1994: 3)13
Jadi bagaimana ruang bernama ‘jalan raya’ itu diproduksi?
Mengikuti Lafebvre, harus dilihat ruang representasi dan kelompok

12
Ibid. Hlm. 332
13
Chris Barker Kultural Studies Teori Dan Praktik
(Yogyakarta; Bentang; 2005) Hlm. 284
10
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

dominan dan corak produksi yang mengkonstruksi ruang tersebut.


Dalam masyarakat kapitalis pengandaian kontrol kekuasaan adalah
mutlak berada di tangan kapitalis yang menguasai sarana produksi
dan juga ruang produksi. Atau dalam gambaran Arianto sangaji ‘Di
dalam masyarakat dengan corak produksi kapitalis, produksi ruang
berorientasi kepada kepentingan kapital; komoditi harus bisa
diproduksi dan disirkulasi secara mudah. Menurutnya, setiap
masyarakat — atau setiap corak-produksi — menghasilkan ruang
untuk kebutuhannya sendiri. Maka, tentu, jalan raya dikonstruksi
dan direpresentasikan berdasar pada kepentingan dari kelompok
dominan yang memproduksi ruang tersebut, yakni kapitalis untuk
akumulasi kapital. Meskipun kondisi ini seringkali tidak disadari
oleh elemen-elemen sosial yang menggunakan jalan. Seperti dalam
ungkapan Marco Kusumawijaya yang meneguhkan Lavebre
berikut: ‘Tanpa kita sungguh sadari, jalan-jalan kita telah (makin)
dirancang dengan penuh bias luar biasa, ialah dengan visi bahwa ia
diutamakan bagi kendaraan bermotor, bahkan lebih spesifik lagi
bagi mobil pribadi. Dimensi jalan, permukaannya, geometrinya,
tanda-tanda padanya lebih menyapa mobil pribadi daripada pejalan
kaki atau sepeda.’

Jalan sebagai Model “Ekonomi Ruang” kapitalisme

Selain sebagai ruang sosial dalam makna seperti yang


dikemukakan Lafebvre di atas, jalan juga dipersepsikan oleh
sebagian teoritisi sosial lainnya sebagai model ekonomi ruang.
Dalam argumentasi ini akan dikemukakan apa yang disebut Harvey
sebagai ekonomi ruang. Ekonomi ruang (space echonomy) bagi
Harvey digambarkan dalam penjelasannya bahwa ‘pertukaran
barang dan jasa (termasuk tenaga kerja) hampir selalu
menimbulkan perubahan-perubahan dalam lokasi. Pertukaran-
pertukaran tersebut menimbulkan serangkaian gerak spasial yang
saling bertemu sehingga menciptakan suatu geografi interaksi
manusia yang khas. Gerak-gerak spasial ini terhambat oleh adanya
11
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

friksi jarak dan karena itu jejak yang mereka tinggalkan pada dunia
selalu merekam efek-efek dari friksi-friksi tersebut, dan sering
menyebabkan aktifitas-aktifitas menjadi terhimpun ke dalam ruang
dengan cara-cara yang meminimalisir friksi tersebut.
Pengelompokan tenaga kerja secara teritorial dan spasial
(perbedaan antara desa dan kota merupakan salah satu bentuk
perbedaan awal yang paling mencolok) muncul dari pertukaran-
pertukaran yang terjadi di atas ruang ini. Aktifitas kapitalis
karenanya menghasilkan pembangunan geografi yang tak seragam,
bahkan meski tidak ada perbedaan geografi dalam hal sumber daya
dan kesempatan-kesempatan fisik yang merupakan faktor bagi
munculnya logika diferensial dan spesialisasi regional dan spasial.
Akibat kompetisi, kapitalis-kapitalis individual mengejar
keuntungan kompetitif dan memanfaatkan struktur spasial ini dan
karena itu cenderung untuk tertarik atau terdorong untuk bergerak
ke lokasi-lokasi dimana biaya-biayanya lebih rendah atau tingkat
labanya lebih tinggi. Surplus kapital di satu tempat bisa
menemukan pekerja di tempat lain dimana peluang-peluang yang
menguntungkan belum lagi tergarap. Keuntungan-keuntungan
lokasi memainkan suatu peran yang sama bagi kapitalis-kapitalis
individual sebagaimana peran yang dimainkan oleh keuntungan-
keuntungan tekhnologis, dan dalam situasi-situasi tertentu,
keuntungan lokasi bisa mensubtitusi keuntungan tekhnologi.’

Apa yang disebut ekonomi ruang oleh Harvey sebenarnya


merupakan kelanjutan sekaligus kritik Harvey terhadap konsep
lavebre yang mampu menjelaskan bagaimana ruang diproduksi
tetapi tidak mampu merinci baaimana kapitalisme bertahan dalam
sebuah logika ruang. Pengakuan ini ditulis Harvey “kapitalisme
mampu bertahan hidup sedemikian lama melewati berbagai krisis
dan reorganisasi serta lolos dari prediksi-prediksi suram dari
kalangan kiri maupun kanan yang meramalkan bahwa kapitalisme
akan runtuh tidak lama lagi. Daya tahan hidup dari kapitalisme ini

12
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

sungguh merupakan suatu misteri yang menuntut penjelasan. Salah


satu yang berusaha memberikan penjelasan itu, yaitu Lavebre,
beranggapan bahwa dirinya telah berhasil menemukan kunci
penjelasannya melalui pernyataan terkenalnya bahwa kapitalisme
bisa bertahan hidup lewat penciptaan perluasan ruang (production
of space), namun sayangnya ia gagal untuk menjelaskan secara
tepat mengapa hal itu bisa demikian14.

Kritik ini menuntut Harvey memberikan penjelasan dan


usulan teoritik baru. Salah satu model kritik ekonomi ruang Harvey
adalah apa yang disebutnya sebagai Spatio Temporal-fixes, yakni
akomodasi kapitalisme dalam bentuk ruang terhadap kontradiksi-
kontradiksi internal yang rentan krisis dalam akumulasi kapital.
Karena itu kata Harvey (2009;99) ‘ekspansi geografis dan
reorganisasi spasial menjadi salah satu opsinya’. ‘Namun, lanjut
Harvey, opsi ini tidak bisa dipisahkan dari proses pergeseran-
pergeseran temporal dimana surplus kapital dialihkan ke proyek-
proyek jangka panjang yang butuh waktu bertahun-tahun agar nilai
mereka kembali bersirkulasi lewat aktivitas produktif yang sedang
mereka dukung pendanaannya. Karena ekspansi geografis
seringkali menghasilkan investasi dalam infrastruktur-infrastruktur
fisik dan sosial yang bertahan lama (sebagai misal dalam jaringan-
jaringan transportasi dan komunikasi dan pendidikan dan riset),
maka penciptaan dan rekonfigurasi relasi-relasi keruangan menjadi
salah satu cara potensial untuk menunda, jika bukannya
memecahkan, tendensi ke arah krisis kapitalisme. Dalam usahanya
untuk menjawab problem over akumulasi pada tahun 1930-an,
pemerintah AS, sebagai misal mengadakan proyek-proyek
pekerjaan umum yang berorientasi yang berorientasi masa depan di
lokasi-lokasi yang sejauh ini belum berkembang dengan niatan
langsung untuk mengatasi problem surplus kapital dan tenaga kerja

14
David Harvey Imperialisme Baru (yogyakarta; resitbook, 2009) hal.
97
13
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

(dengan semangat yang sama, nazi membangun autobahn-


autobahn pada kurun waktu yang sama)’. Pada intinya, Spatio
temporal fixes ini merupakan suatu metafora bagi suatu jenis solusi
terhadap krisis-krisis kapitalis lewat penangguhan secara temporal
dan lewat ekspansi geografis.

Efek dari proses ekspansi ruang untuk kepentingan


menghindari krisis internal kapitalisme ini, karenanya, adalah
globalisasi dan evolusi lanskap geografis dari aktivitas kapitalis
berlangsung secara besar-besaran berkat adanya babak demi babak
kompresi ruang dan waktu (Harvey;2009). Kompresi ruang dan
waktu atau apa yang disebut Harvey space-time compression
merupakan sebuah keniscayaan dari perjalanan kapital. Semakin
luas jangkauan geografis (dan inilah target utama globalisasi) dan
semakin singkat rentang waktu kontrak di pasar, semakin bagus
(Harvey; 2009).

Salah satu konsekwensi lebih jauh dari proses ini ialah


munculnya dorongan terus menerus untuk mentransformasi skala
geografis yang membatasi aktivitas kapitalis. Seperti halnya
kedatangan rel kereta api dan telegraf pada abad ke sembilan belas
yang mereorganisasi secara total skala dan keragaman spesialisasi
regional (Harvey;2009).

Penemuan teknologi jalan kereta api dan telegraf (sebagai


contoh) telah menjadi referensi historis dimana pergerakan lintas
ruang dalam ekonomi, misalnnya, mesti dimediasi oleh
infrastruktur-infrastruktur yang memadai. Pergerakan lintas ruang
yang cair hanya bisa dicapai jika tersedia infrastruktur-infrastruktur
fisik dalam ruang. Rel kereta api, jalan-jalan raya, bandara-bandara,
fasilitas-fasilitas pelabuhan, jaringan-jaringan kabel, sistem serat-
optik, jaringan-jaringan listrik dsb (Harvey;2009)

Salah satu model praktek spatio temporal-fixes yang sering


disebutkan Harvey adalah Cina. Dalam pembangunan
14
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

infrastrukturnya Cina merupakan negara yang sekarang ini sedang


sangat giat melakukannya. Sejak tahun 1998, Cina berusaha
menyerap surplus tenaga kerja mereka yang sangat besar (dan
untuk mencegah ancaman keresahan sosial) dengan melakukan
investasi-investasi yang dibiayai dengan utang pada mega proyek-
mega proyek seperti pembangunan bendungan, pengaliran Air
sungai Yangtse ke sungai Kuning. Sistem kereta bawah tanah dan
jalan tol baru tengah dibangun di kota-kota besar, dan 8.500 mil
jalan raya baru telah direncanakan dibangun untuk
mengintegrasikan daerah pedalaman dengan zona pantai yang
ekonominya dinamis, termasuk suatu jalur antara Shanghai dan
sebuah jalur menuju Tibet. Infrastruktur-infrastruktur perkotaan
ditingkatkan mutunya dimana-mana (Harvey;2009,136)

Cina berusaha mengatasi problem-problem internal


pertumbuhan kapital di dalam negerinya sendiri sebagian dengan
menanamkan investasi-invesatasi yang dibiayai utang dalam
megaproyek-megaproyek infrastruktur-infrastruktur fisik. Muncul
usulan untuk membangun suatu proyek yang jauh lebih ambisius
(yang menelan biaya sekurang-kurangnya $60 milyar) ketimbang
proyek raksasa Bendungan tiga ngarai yang mengalihkan aliran air
dari sungai yangtze ke sungai kuning. Tingkat urbanisasi yang
tinggi (sejak tahun 1992, ada lebih dari 42 kota yang jumlah
penduduknya melampaui patokan 1 juta orang) membutuhkan
investasi-investasi kapital tetap besar-besaran. Sisem-sitem subway
dan jalan tol yang baru dibangun di kota-kota besar, dan 8.500 mil
jalan raya baru diusulkan dibangun untuk menghubungkan daerah
pedalaman Cina dengan zona Pantai yang dinamis secara ekonomi,
termasuk suatu jalan penghubung jalur cepat antara Shanghai dan
Beijing dan jalan penghubung menuju ke Tibet
(Harvey;2009,219). Selanjutnya Harvey menambahkan ‘cina juga
15

15
David Harvey Neoliberalisme dan restorasi kelas kapitalis
(Yogyakarta; resistbook, 2009) Hal. 219
15
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

berniat membangun suatu jalan tol antara negara bagian yang lebih
panjang dari yang dimiliki oleh Amerika Serikat dala jangka waktu
hanya limabelas tahun ke depan, dan setiap kota besar di Cina
tengah membangun atau telah menyelesaikan pembangunan suatu
bandara besar’(ibid;220). Yang terakhir, Cina memiliki ‘lebih dari
15.000 proyek jalan tol yang sedang dalam proses pengerjaan yang
akan menambah panjang jalan sepanjang 162.000 kilometer di
negeri itu yang cukup untuk mengelilingi bumi ini pada garis
katulistiwanya sebanyak empat kali. Jalan tol ini secara total jauh
lebih panjang daripada sistem jalan tol antar negara bagian yang
pernah dibangun amerika serikat selama tahun 1950-an dan 1960-
an, da pembangunan jalan tol itu berpotensi menyerap surplus
kapital dan buruh selama beberapa tahun mendatang. Pembanguna
itu sendiri dibiayai secara defisit (jadi mengikuti kebijakan klasik
keynesian).

Untuk menghadapi surplus kapital dan buruh Cina telah


menunjukkan dalam rentang waktu dan ruang saat ini semua itu
bisa diatasi. Salah satu opsinya dengan pembangunan jalan-jalan
raya sebagai proyek-proyek yang akan memberikan pekerjaan
secara temporal bagi sejumlah besar surplus buruh di Cina. Jalan
raya pada posisi ini menjadi instrumen gerak kapital menuju, tidak
hanya, imajinasi klasik kapital mengenai perluasan pasar tetapi
juga kompleksitas proses produksi dan reproduksi di dalam ruang
yang berfungsi menyelamatkan kapital dari krisis di dalam
tubuhnya.

16
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Dalam penjelasan yang lebih kompleks harvey


menggambarkan sirkuit kapital yang menjelaskan dimana posisi
teoritik jalan raya sebagai model spatio temporal-fix. Berikut
sirkuit yang dikemukakan Harvey:

Gambar.1. Skema Sirkulasi Kapital

Proyek Pembangunan Jalan dan Potensi Konflik Agraria

Sebagaimana uraian sebelumnya bahwa jalan bukanlah


ruang yang ‘netral’ secara politik tetapi mengandung kepentingan-
kepentingan tertentu dari kelompok social tertentu maka
pembangunan jalan tentu juga membawa konsekwensi-
konsekwensi dan resiko-resiko tertentu bagi seluruh elemen sosial
yang ada. Ada elemen sosial yang dirugikan dan ada elemen sosial
yang diuntungkan. Di bawah resim neoliberal jalan bisa hanya
berupa alat untuk melanggengkan akumulasi kapital dari resim
berkuasa.

Gunawan Wiradi (2009) mengungkapkan konflik agraria


salah satunya diakibatkan oleh ketimpangan peruntukan tanah dan

17
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

penggunaan tanah16. Ketimpangan peruntukan ini bisa berupa alih


fungsi dari tanah pertanian ke non pertanian, pengembangan kota
dan pembangunan perumahan. Alih fungsi ini biasanya didorong
oleh aglomerasi perkotaan seperti kasus jakarta yang meluas dan
menyerap daerah belakangnya (hunterland) seperti Bekasi, Bogor,
Tangerang dan Depok. Perluasan ini kemudian tenar disebut
JABODETABEK. Atau bisa juga dilihat perkembangan kota
bandung di Jawa Barat yang membentuk wilayah-wilayah inter-
face desa-kota.

Melihat kasus Tiga kelurahan –Samata, Romang Polong


dan paccinongang- yang merupakan inter-face Desa-kota, atau
biasa disebut daerah peri-urban dalam sosiologi perkotaan bisa
menggunakan alur berfikir Gunawan Wiradi di atas yang melihat
pengembangan kota yang menyebabkan adanya wilayah-wilayah
batas antara kota dan desa yang rentan konflik. Untuk kasus jawa
barat misalnya yang tertinggi konflik agrarianya adalah daerah
antara jakarta dan bandung. Di sekitar Jakarta itu 37% dan di
sekitar Bandung itu 35%17. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah-
wilayah perluasan kota seperti disebut di atas memiliki kerentanan
konflik agraria.

16
Gunawan Wiradi Seluk Beluk Masalah Agraria, Reforma Agraria dan
Penelitian Agraria (Yogyakarta dan Bogor: STPN dan Sayogyo Institute) Hal. 25
17
Ibid. Hal. 27
18
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Bagian Kedua

Mamminasata dan Programnya Di Tiga Kelurahan

A. Konsep Umum Mamminasata

Mamminasata adalah sebuah rencana. Tepatnya, rencana


tata ruang. Sebuah rencana yang memuat proses transformasi ruang
menuju sebuah ‘Metropolitan’, kota maha besar. Sebuah rencana
prestisius-lebih tepatnya- yang menyangkut bukan hanya wilayah
geografi seluas 1,462km2 tetapi juga menyangkut kemana arah
kehidupan 2,4 juta lebih warga kawasan perkotaan Mamminasata
dan kemungkinan pendatang baru setiap tahun akibat pertumbuhan
ekonomi yang akan mendorong penduduk pedalaman (hunterland)
bergerak menuju perkotaan, atau sering disebut urbanisasi.

Mamminasata awalnya hanyalah sebuah akronim.


Singkatan dari nama kota Makassar, Maros, Sungguminasa dan
Takalar. Tetapi, setelah lebih dari tiga decade sejak digulirkan
pertama kali di tahun 1981 oleh sebuah studi pendahuluan,
Mamminasata telah berubahh menjadi rencana yang membawa-
bawa persoalan hidup manusia, ekologi, perubahan ruang,
perubahan livelihood dan lain sebagainya di dalamnya. Karena itu,
mamminasata saat ini, bukan hanya rencana. Tetapi rencana dengan

19
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

seluruh kompleksitas persoalan manusia dan penghidupannya di


dalamnya!

B. Dari Minasamaupata hingga Mamminasata: Sekilas


Sejarah

Pada tahun 1981, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan


menyiapkan sebuah pra studi rencana kawasan Minasamaupa yakni
singkatan dari nama Sungguminasa, Maros dan Ujungpandang.
Studi persiapan ini kemudian diperkuat oleh pembahasan RTRW
kota pada tahun 1984 yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota
Makassar dan Lembaga Penelitian UNHAS, kemudian tahun 1992
dilakukan revisi oleh dinas tata kota dan daerah. Kemudian, tahun
1997, menyusun rencana tata ruang wilayah Minasamaupata, yang
sudah memasukkan Kabupaten Takalar dalam rencana. Namanya
berganti menjadi Minasamamata. Tetapi, karena kewajiban
meninjau kembali perencana wilayah setiap 5 tahun sekali maka,
pada tahun 2001 dilakukan perubahan nama dari minasamamata
menjadi mamminasata seiring dengan pergantian nama kota Ujung
Pandang menjadi Kota Makassar. RTRW ini menitik beratkan pada
penyusunan struktur tata ruang dan prasarana lintas wilayah dalam
suatu tatanan metropolitan, sehingga selanjutnya disebut sebagai
wilayah metropolitan mamminasata18.

Perkembangan ini terus dilanjutkan dengan penetapan Perda


RTRW No. 10 Tahun 2003 tentang Kawasan Metropolitan
Mamminasata oleh Dinas Penataan Ruang dan pemukiman
(Tarkim) Provinsi Sulawesi Selatan. Selanjutnya dilakukan studi
implementasi Rencana Terpadu Tata Ruang Kawasan Metropolitan
Mamminasata di tahun 2005-2006. Kemudian tahun berikutnya

18
Alimuddin Rianse Laporan Hasil Analisis Rencana tata ruang
wilayah Metropolitan Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa,
Takalar)(Makassar, Balitbangda Provinsi Sulawesi Selatan: 2004)
20
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

disusun usulan penyusunan rancangan peraturan presiden oleh


dinas Tarkim Provinsi Sul-Sel.

Proyek ini kemudian menjadi semakin besar dengan


terlibatnya secara mendalam JICA (Japan International
Cooperation Agency), sebuah lembaga pembiayaan yang dibiayai
oleh pemerintah jepang untuk mengelola bantuan pinjaman kepada
Negara-negara berkembang, dalam studi peningkatan manajemen
pembangunan perkotaan di kawasan Metropolitan Mamminasata
serta keterlibatannya dalam sejumlah kerjasama teknis penyusunan
panduan penataan wilayah. Keterlibatan JICA adalah keterlibatan
donor yang paling aktif meskipun melalui Indonesia Inisiatif
Infrastruktur, AUSAID, lembaga donor milik pemerintah Australia
juga terlibat dalam studi untuk menyusun struktur infrastruktur
Mamminasata19. Sejumlah donor yang berkepentingan untuk
memberikan bantuan teknis dan penyaluran bantuan pinjaman telah
ikut mendorong semakin intensifnya perencanaan pembangunan
infrastruktur dan kawasan Mamminasata.

Terakhir, pada tahun 2011, pemerintah pusat mengeluarkan


Perpres mengenai kawasan strategis nasional perkotaan
mamminasata melalui penetapan Peraturan Presiden No. 55 tahun
2011 tentang rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan
Mamminasata oleh kementerian Pekerjaan Umum (PU). Inilah
yang menjadi paying hukum nasional semua perencanaan dan
pembangunan dan sekaligus legitimasi hukum seluruh aspek di
dalamnya.

19
Lih. Buku panduan manajemen penyelenggaraan pembangunan di
kawasan perkotaan Mamminasata yang disusun bekerjasama antara BKSPMM,
Dinas Tarkim Prov Sul-sel melalui dukungan teknis dari dirjen penataan ruang
kementerian pekerjaan umum dan JICA. Hal. 6-7. Lihat juga Final Report
Detailed Engginering Design for Mamminasata RSWDS yang diterbitkan oleh
Pemerintah Provinsi Sul-sel, SMEC dan AUSAID.
21
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Tetapi perkembangan perencanaan wilayah Mamminasata


tidak berhenti sampai disini. Untuk menindak lanjuti rencana dan
seluruh rekomendasinya, disusunlah berbagai studi untuk
menjadikan rencana ini bukan hanya diatas kertas, tetapi ‘mungkin’
diaplikasikan ke dalam keadaan nyata pengelolaan wilayah.
Diambillah rujukan pembangunan kota baru terintegrasi yaitu kota
KOHOKU di Yokohama, Jepang20. Kemudian lembaga
pembiayaan jepang ikut membantu menyusun rencana detil tata
ruang. Pembangunan kawasan perkotaan Mamminasata merupakan
hasil kerjasama Teknis antara JICA (Japan International
Cooperation Agency) dengan BKSP MM, UPTD Mamminasata
dan Task Force Kota Baru Mamminasata dimulai sebagai tindak
lanjut dari terbentuknya perpres No. 55 Tahun 2011 dan MoU
pembangunan kota baru yang disepakati oleh Pemerintah Provinsi
Sul-Sel dengan Pemkab Gowa, Pemkab Maros dan REI (Real
Estate) Sul-Sel.

Seiring dengan terbitnya perpres No. 55 tahun 2011 tentang


rencana tata ruang kawasan perkotaan Mamminasata, proyek-
proyek pengembangan yang dilaksanakan sebagai implementasi
dari perencanaan perkotaan Mamminasata semakin intensif. Proyek
pembangunan jalan, pembuatan pembangunan limbah terpadu,
perencanaan pembangunan jaringan kereta api dan Monorail.

Tabel 1. Sejarah singkat terbentuknya kawasan Mamminasata

No Tahun Uraian Penanggung Jawab


1. 1980 Penyusunan konsep Rencana Tata Prov. Sul-sel dan
Ruang Wilayah (RTRW) Unhas
Minasamaupa yang mencakup
tiga kabupaten/kota:

20
Rimarti Anggun Widiatry Pengaruh Pembangunan Megapolitan Terhadap
Sosial-Ekonomi dan Ekologi Pada Masyarakat Lokal Tesis Bogor: Sosiologi
Pedesaan IPB: 2014
22
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Sungguminasa (Kabupaten Gowa,


Kabupaten Maros, Kotamadya
Ujung Pandang) yang menjadi
cikal bakal Mamminasata
2. 1982 Revisi atas RTRW Minasamaupa DTKTD (Direktorat
Tata Kota dan Tata
Daerah, Sekarang Dit
Jend. Cipta Karya)
3. 1986 Disusun kembali RTR Kawasan Bappeda Prov. Sul-sel
Minasamaupata (Sungguminasa dan Dinas Cipta
(Kab. Gowa), Maros (Kab. Karya Prov. Sul-sel.
Maros), Ujung Pandang
(Kotamadya Ujung Pandang) dan
Takalar (kab. Takalar)).
4. 2001 Setelah nama Ujung Pandang di Dinas Tarkim Prov.
kembalikan menjadi Makassar, Sul-sel
akronim Minasamaupata diganti
menjadi Minasamamata. Dan
selanjutnya dilakukan peninjauan
kembali atas RTR ini dan
mengubah nama kawasan ini
menjadi Mamminasata atas usulan
Walikota Makassar (HB.
Amiruddin Maula)
Keterangan:
Kata “Mamminasata” juga
memiliki arti dalam Bahasa
Makassar, yaitu “harapan ke
depan” atau “Impian Kita”.
5. 2003 Penetapan Perda RTRW No. 10 Dinas Tarkim Prov.
tahun 2003 tentang kawasan Sul-sel
Metropolitan Mamminasata
6. 2005- Studi implementasi Rencana Studi Master Plan
23
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

2006 Terpadu Tata Ruang Kawasan


Metropolitan Mamminasata.
7. 2007 Usulan penyusunan Rancangan Dinas Tarkim Prov.
Peraturan Presiden Sul-sel
8. 2009 Proyek JICA untuk peningkatan Proyek kerjasama
manajemen pembangunan teknis JICA
perkotaan di kawasan
Metropolitan Mamminasata
9. 2011 Penetapan peraturan Presiden No. Kemen. PU
55 tahun 2011 tentang Rencana
Tata Ruang Kawasan Perkotaan
Mamminasata

24
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Gambar.2.: Kronologi Penataan Ruang Kawasan Mamminasata

C. Struktur Kerja Kelembagaan Mamminasata

Terkait dengan penataan ruang, ada beberapa pihak


(stakeholder) yang sangat terkait dan penting dalam pengelolaan
pembangunan di kawasan Mamminasata. Pihak-pihak ini
bergabung dalam sebuah lembaga fungsional yang disebut Badan
kerja sama pembangunan Metropolitan mamminasata (BKSPMM).
Pihak yang terkait tersebut adalah: Dinas Tata Ruang dan
Pemukiman Provinsi Sulawesi selatan, UPTD Mamminasata yang
di tetapkan pada November 2009 sebagai salah satu unsur dalam
dinas Tata Ruang dan Pemukiman Provinsi Sulawesi Selatan
(Peraturan Guberbur Nomor 82 Tahun 2009), BKSpMM yang
dilengkapi dengan dua unsur yakni pelaksana teknis yang diisi oleh
pegawai negeri sipil yang ditunjuk menangani dan pekerja yang
25
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

merupakan unsur non-PnS yang disebut narasumber dan terakhir


SNVT. Pengembangan KSN perkotaan Mamminasata (Kemen PU)
yang ditetapkan pada tahun 2011 sebagai perpanjangan pemerintah
pusat (Kemen PU)21.

Keterkaitan berbagai pihak dalam berbagai tingkatan


struktur telah memperhatikan betapa besar dan pentingnya pproyek
pembangunan perkotaan Mamminasata ini bagi kepentingan
Nasional. Karena alasan inilah juga, Mamminasata ditetapkan
sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) diantara empat
kawasan strategis nasional yang telah dipayungi oleh perpres22.

D. Program Prioritas Mamminasata

Dalam perpres nomor 55 tahun 2011 pasal 84-86


dikemukakan mengenai pembentukan struktur dan pola ruang
Mamminasata yang akan dikerjakan dalam waktu pelaksanaan 4
tahapan:

 Tahap 1: 2011-2014
 Tahap 2: 2015-2019
 Tahap 3: 2020-2024
 Tahap 4: 2025-2027

Di dalam seluruh tahapan inilah program-program prioritas


yang telah, sedang dan dalam perencanaan implementasinya yang
menyangkut tidak hanya peta dan gambar diatas kerja rencana
tetapi menyangkut manusia, material dan pembiayaan yang
jumlahnya raksasa, seperti pembangunan jalan trans Sulawesi

21
Lih. Buku Panduan Manajemen Penyelenggaraan Pembangunan di
kawasan perkotaan Mamminasata yang disusun bekerjasama antara BKSPMM,
dinas Tarkim Prov. Sul-sel melalui dukungan teknis dari dirjen penataan ruang
kementerian pekerjaan umum dan JICA. Hal.9-12.
22
Hingga saat ini, telah ditetapkan 4 (empat) Perpres RTR KSN
perkotaan yaitu RTR Jabodetabekpunjur (Perpres 54/2008), Sarbagita (Perpres
45/2011, Mamminasata (Perpres 55/2011) dan Mebidangro (Perpres 62/2011).
26
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Mamminasata (58,0Km/935M), Mamminasata bypass


(48,60Km/854,52M), jalan Hertasning (7,20Km/112,12M), Jalan
Abdullah Dg. Sirua (14,60Km/271,69M) dan Pembangunan jalan
dan jembatan Centre Point of Indonesia (8,159Km dan
288Meter/416,97M). tahun-tahun terakhir dan sekitar 12 tahun ke
depan akan menjadi tahun-tahun penting dan saksi perubahan
lanskap, perubahan social amat besar akibat digulirkannya
sejumlah besar bencana proyek Mamminasata.

Program yang dilaksanakan multi tahun (multi year) ini


menjadi prioritas bagi pembangunan struktur ruang kawasan
perkotaan Mamminasata. Kerena itulah Mamminasata ini bertumpu
pada pembangunan sejumlah besar infrastruktur jalan darat, rel
kereta dan monorel yang sudah dan akan dibangun dalam tahun
perencanaan berjalan. Berikut struktur ruang Mamminasata:

27
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Gambar.3. Rencana Struktur Ruang Kawasan Mamminasata

(Sumber: Dirjen Penataan Ruang Departemen Pu)

E. Tiga Kelurahan di Antara Sejumlah Proyek

Tiga kelurahan, yakni samata, paccinongan dan romang


polong, berada dibawah bayang-bayang sejumlah proyek besar.
Pada tahun 2014, masyarakat di Romang Polong meributkan
rencana pemerintah untuk memperlebar jalan menuju Pattallassang
yang melewati kawasan mereka. Tetapi tak lama polemic tersebut,
pertengahan tahun 2014 sudah selesai pembangunan pelebaran
jalan tembus Hertasning ruas Romangpolong-Samata menuju
28
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Pattalassang. Sebagian masyarakat masih membayangkan ongkos


ganti rugi yang lebih tinggi, tetapi proyek jalan ini sudah lebih dulu
selesai. Jalan ini tepat melalui wilayah Paccinongang, Samata dan
Romangpolong sepanjang 15,70 Km23. Awalnya telah dibangun
oleh pemerintah kota Makassar sepanjang 3,0 Km. Kemudian pada
tahap berikutnya dibangun oleh pemerintah Provinsi dengan
konstruksi beton (rigid pavement) sepanjang 5,50 Km dengan lebar
empat lajur. Sisanya sepanjang 7,20 Km yang saat ini telah
rampung pembangunannya adalah pelebaran jalan menjadi empat
lajur dengan median.

Kontribusi jalan hertasning secara langsung adalah sebagai


akses jalan langsung dari timur menuju pusat kota Makassar dan
merupakan salah satu jalan radial. Selain itu sebagai jalan
penghubung utama ke TPA di kecamatan Pattalassang, Kabupaten
Gowa. Jalan ini merupakan rute terpendek menuju bendungan bili-
bili dan Malino.

Jalan lain yang melalui tiga kelurahan ini adalah middle


ringroad yang menghubungkan antang Makassar dan Samata,
Paccinongang, Romang Polong dan Sungguminasa, Gowa. Di tiga
kelurahan ini, jalan ini di beri nama jalan Mustafa Dg. Bunga. Jalan
inilah yang beririsan langsung dengan proyek ruas jalan arteri
utama yang menghubungkan langsung menuju ke kawasan
metropolitan Mamminasata. Pembangunan jalan Abdullah Dg.
Sirua masih dalam pengawasan Pemerintah Kota Makassar yang
dibagi ke dalam enam seksi: A,B,C,D,E dan F. Seksi B saat ini
masih dalam tahap pembangunan, sedangkan seksi E dan F berada
di bawah pengawasan pemerintah kabupaten Maros dan Kabupaten
Gowa. Ruas jalan Abdullah Daeng Sirua ini akan memberikan
kontribusi bagi ekspansi kawasan Metropolitan Mamminasata

23
Informasi ini berutang sejumlah data dari Rimarti Anggun Widiatry
pengaruh pembangunan Megapolitan Terhadap Sosial-Ekonomi dan Ekologi
pada Masyarakat Lokal Tesis bogor: Sosiologi Pedesaan IPB:2014
29
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

karena ruas jalannya menghubungkan dan mengakomodasi


penduduk di wilayah timur dengan lokasi bebas banjir seluas 4000
hektar di sekitar Moncongloe untuk mengakses langsung menuju
kota Makassar serta untuk menarik investor untuk mengembangkan
pembangunan di kota satelit di Makassar bagian timur.

Dari sekian proyek tersebut, masyarakat di tiga kelurahan


ini telah menerima konsekwensinya: bukan hanya jalan yang makin
panjang, lebar dan kokoh, tetapi juga tumbuhnya industry
perumahan yang menggerus sejumlah besar lahan pertanian dan
mendesakkan perubahan penghidupan bagi sejumlah besar warga
tiga kelurahan ini (dibahas khusus di bab iv).

Ketika proyek-proyek besar tersebut sudah rampung dan


sedang dalam penyelesaian, sebenarnya sejumlah indikasi proyek
yang telah ditetapkan dinas tata ruang kabupaten Gowa malang-
melintang diantara tiga kelurahan ini. Berikut daftar beberapa
indikasi program mamminasata di kabupaten Gowa :

Tabel.2. Beberapa Proyek Mamminasata di Kabupaten Gowa


tahun 2011-2030

No Nama Proyek Lokasi


1 Pembangunan terminal Bis Tipe A Pattalassang
2 Pembangunan dan pengembangan Pattalassang
KIWA
3 Pembangunan industry pengolahan Pattalassang
sampah regional Mamminasata
4 Pengembangan Kawasan Somba Opu-Bonto
Pendidikan Samata-Bonto Marannu
5 Pengembangan Kota Satelit baru Pattalassang
Pattalassang
6 Pengembangan Kota Baru Gowa- Pattalassang
Maros

30
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

7 Penyusunan masterplane Gowa


infrastruktur kota baru Gowa-
Maros
8 Peningkatan Kelas jalan Pattalassang-
Sungguminasa-KIWA-Malino- Sombaopu-
Kab.Sinjai menjadi kelas jalan Tinggimoncong,
Kolektor-1 parangloe
9 Peningkatan jalan penghubung
Antang, Makassar-Samata-
Paccinongang-Pao-pao-
Sungguminasa, Gowa
10 Pembebasan lahan jalan Bypass
Mamminasata Kab. Gowa
11 Pembebasan lahan jalan tembus
Abdullah Dg. Sirua
12 Pembangunan jalan tembus
Abdullah Dg. Sirua
13 Peningkatan jalan Tun Abdul
Razak-Pattalassang
14 Pembangunan jalan lingkar luar
Mamminasata
15 Pembangunan monorel perkotaan
mamminasata
16 Pengembangan kawasan kota baru
Gowa
17 Pengembangan kawasan kota baru
Gowa-Maros
18 Rencana pembangunan KEK-
KIWA
19 Pembangunan kota satelit
Pattalassang-parangloe
Sumber: Profil singkat rencana tata ruang kabupaten Gowa (diolah)

31
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

32
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Bagian Ketiga

Tiga Desa Yang Sedang Berubah:

Gambaran Lokasi Penelitian

A. Gambaran Umum Kabupaten Gowa

A.1. Letak Wilayah dan Kondisi Geografis

Luas wilayah kabupaten Gowa adalah 1883,33Km2.


Kabupaten Gowa berada pada 119.3773 Bujur Barat dan
120.0317 Bujur Timur, 5.0829342862 Lintang Utara dan
5.577305437 lintang Selatan. Kabupaten yang berada di daerah
selatan dari Sulawesi selatan merupakan daerah otonom ini, di
sebelah utara berbatasan dengan kota Makassar dan kabupaten
maros. Di sebelah timur berbatasan dengan kabupaten sinjai,
bulukumba dan bantaeng. Di sebelah selatan berbatasan dengan
kabupaten Takalar dan Jeneponto sedangkan di bagian baratnya
dengan kota Makassar dan takalar.

Wilayah administrasi kabupaten Gowa terdiri dari 18


Kecamatan dan 167 Desa/kelurahan dengan luas sekitar 1.883,33
kilometer persegi atau sama dengan 3,01 persen dari luas wilayah
provinsi Sulawesi selatan. Wilayah kabupaten Gowa sebagian besar
merupakan dataran tinggi yaitu sekitar 72,26%. Ada 9 wilayah
kecamatan yang merupakan dataran tinggi yaitu Parangloe,
33
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Manuju, Tinggimoncong, Tombolo pao, Parigi, Bungaya,


Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Dari total luas
kabupaten Gowa 35,30% mempunyai kemiringan tanah di atas 40,
yaitu pada wilayah kecamatan Parangloe, Tinggimoncong,
Bungaya dan Tompobulu. Kabupaten gowa di lalui oleh banyak
sungai yang cukup besar yaitu ada 15 sungai. Sungai dengan luas
daerah aliran yang terbesar adalah sungai jeneberang yaitu seluas
881Km2 dengan panjang 90Km. Sebagian wilayah (27,74%)
kabupaten Gowa lainnya berada didataran rendah (9 kabupaten).

Gambar.4. Peta Kabupaten Gowa

A.2. Kondisi Penduduk dan Kehidupan Masyarakat

34
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Jumlah penduduk kabupaten gowa pada tahun 2012 adalah


670.465 jiwa. Jumlah ini bertambah 64.591 jiwa dari jumlah
penduduk tahun 2008 yang berkisar 605.465 jiwa. Jumlah
penduduk usia kerja di kabupaten Gowa adalah 421.357 jiwa di
tahun 2009, 448.743 jiwa di tahun 2010 dan menjadi 452.553 jiwa
di tahun 2011. Dari jumlah penduduk dengan usia kerja di atas,
jumlah penduduk yang menganggur pada tahun 2011 adalah 21.029
jiwa atau 7,05%. Angka pengangguran ini sebenarnya sudah
berhasil diturunkan dari angka tahun 2006 yang berjumlah 59.579
jiwa atau 22,66% dari total jumlah penduduk.

Peringkat indeks pembangunan manusia kabupaten Gowa


adalah 67,74 pada tahun 2006 dan membaik pada tahun 2011
menjadi 71,29. Perbaikan angka indeks pembangunan manusia ini
mungkin juga terkait dengan semakin berkurangnya jumlah
penduduk yang menganggur.

Berdasarkan laporan BPS dalam Gowa in Figure tahun


2012 pelayanan pendidikan di kabupaten Gowa dilaksanakan oleh
sedikitnya 830 lembaga pendidikan mulai dari tingkat taman
kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Jumlah tersebut dirinci atas
218 Taman kanak-kanak, 406 Sekolah Dasar (SD), 78 sekolah
menengah pertama (SMP), 59 Madrasah Tsanawiyah (MTs), 35
Sekolah Menengah Umum (SMU) dan 29 Madrasah Aliyah (MA)
serta 5 perguruan tinggi.

Pelayanan kesehatan dilaksanakan oleh 2 buah rumah sakit


dan 146 pusat kesehatan masyarakat yang terdiri dari 25 puskesmas
induk dan 121 puskesmas pembantu.

Menurut data kantor kepolisian resort kabupaten Gowa


jumlah tindak pidana yang dilaporkan di tahun 2012 adalah2.008
kasus. Angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya
yakni 1.928 dan angka tahun 2009 yang hanya 1.195 kasus yang
dilapor.
35
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Angka kejahatan di atas sinkron dengan tingginya tingkat


kemiskinan di kabupaten Gowa. Menurut data yang tercatat dalam
monografi kabupaten Gowa di kantor BPS: penduduk miskin
kabupaten Gowa pada tahun 2006 adalah 85.400 jiwa atau 19,13%.
Angka ini terus turun dari tahun ke tahun yakni tahun 2007 menjadi
83.900 jiwa, 2008 pada angka 77.200 jiwa, 2009 67.000 jiwa dan
terakhir tahun 2010 angkanya juga menurun menjadi 62.100 atau
9,49%.

A.3. Kondisi Wilayah dan rencana pembangunan


Mamminasata

Kabupaten Gowa adalah wilayah agromerasi dari kota


Makassar dan menjadi bagian dari skema pembangunan kota
megapolitan Mamminasata. Karena itu pertumbuhan penduduknya
juga cukup tinggi yakni rata-rata 1,02%. Pertumbuhan
penduduknya paling tinggi adalah di kecamatan Somba Opu,
wilayah yang berbatasan langsung dengan kota Makassar yakni
3,17%. Sekarang ini dari keseluruhan penduduk Sulawesi selatan
tahun 2010 adalah 7,9juta jiwa, sudah lebih dari sepertiganya
yakni, 2,4 juta jiwa (30,38%) bermukim dan bekerja di wilayah
Mamminasata.

Berdasarkan Perpres 55/2011 pasal 1 ayat 8 menyatakan


bahwa kawasan perkotaan Makassar, Maros, Sungguminasa dan
takalar selanjutnya disebut kawasan perkotaan Mamminasata.
Kawasan ini terdiri dari perkotaan Maros di kabupaten Maros,
Perkotaan Sungguminasa di kabupaten Gowa, Takalar di kabupaten
Takalar dan kota Makassar sebagai kawasan perkotaan inti yang
membentuk kawasan metropolitan Mamminasata. Wilayah
Mamminasata ini dirinci dalam pasal 5 adalah seluruh wilayah kota
Makassar, seluruh wilayah kabupaten Takalar, sebagian wilayah
kabupaten Gowa (11 kecamatan) dan sebagian wilayah kabupaten
maros (12 Kecamatan).

36
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Di kabupaten gowa sendiri dari 24 kecamatan terdapat 9


kecamatan yang masuk skema pembangunan Metropolitan
Mamminasata. Kecamatan tersebut adalah Somba Opu, Kecamatan
Bonto Marannu, Kecamatan Pattalassang, Kecamatan Pallangga,
Kecamatan Bajeng, Kecamatan Bajeng Barat, Kecamatan
Bontonompo, Kecamatan Bontonompo Selatan, Kecamatan
Barombong, Kecamatan Manuju dan kecamatan Parangloe.

B. Tiga Kelurahan yang Sedang Berubah: Gambaran


Mikro Lokasi Penelitian

Tiga kelurahan –Paccinongan, Samata dan Romang Polong-


adalah gambaran umum tiga desa yang disatukan oleh kondisi
perubahan yang sama secara umum karena datangnya proyek
pembangunan skala besar dari luar dan dalam kelurahan sendiri.
Kondisi perubahan tersebut diantaranya adalah perubahan sosial
dalam ranah pekerjaanmasyarakatnya dari wilayah yang
sepenuhnya desa atau ‘pinggiran’ diinkorporasi menjadi wilayah
urban, dari lahan pertanian hijau menjadi ladang tumbuhnya
perumahan-perumahan (skala kecil sampai skala besar), dari
aktifitas pertanian menuju aktifitas non pertanian (off-farm) serta
perubahan gaya hidup yang mengiringinya.

Tiga kelurahan ini memiliki 15 buah sekolah taman kanak-


kanak, 13 buah sekolah dasar, enam sekolah menengah pertama
(SMP/MTS) dan enam buah sekolah menengah umum
(SMA/SMK/MA) serta dilengkapi sebuah kampus negeri, dari tiga
kampus negeri besar di Sulawesi selatan, yakni UIN Alauddin
Makassar. Insttitusi-institusi pendidikan ini merupakan salah satu
pendorong terjadinya transformasi sosial di wilayah ini selain
pembangunan infrastruktur berupa jalan dan lainnya. Untuk melihat
gambaran yang lebih detil berikut gambaran singkat tiga kelurahan:

B.1. Paccinongang dan Cepatnya Pertumbuhan Penduduk


daerah Peri Urban
37
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Luas wilayah Paccinongan adalah 2,32 Km persegi. Pada


tahun 2011 penduduk pacinongan adalah 20.100 jiwa dengan
kepadatan penduduk 5.357 jiwa perkilometer. Sebuah jumlah
penduduk yang amat banyak untuk ukuran sebuah kelurahan.
Paccinongan adalah salah satu dari 14 kelurahan di wilayah
kecamatan Somba Opu. Dari jumlah penduduk tersebut, 6.246 Jiwa
di antaranya adalah penduduk dengan kategori prasejahtera jauh
meningkat dari data di tahun 2003 yakni 2.481 jiwa.

Pada tahun 2003, Paccinongan adalah kelurahan yang


terpadat penduduknya di kecamatan Sombaopu yakni 6.130 jiwa
perkilometer persegi. Tetapi kondisi berubah di tahun 2011,
kelurahan dengan kepadatan tertinggi adalah kelurahan Batang
Kaluku dengan kepadatan perkilometer persegi berjumlah 10.046
jiwa. Meskipun demikian, jumlah penduduk terbanyak tetap
dipegang kelurahan Paccinongan.

Pada tahun 1999 penduduk Paccinongan berjumlah 7.077


jiwa, selisih 1.102 jiwa dengan kelurahan Bonto-Bontoa yang
tertinggi berjumlah 8.179 jiwa. Jumlah penduduk Paccinongan
melonjak dubelas tahun kemudian, di tahun 2011, menjadi 20.100
jiwa atau bertambah 13.023 Jiwa, dan Bonto-Bontoa yang satu
dekade sebelumnya menjadi kelurahan terbanyak penduduknya,
hanya bertambah 4.042 jiwa menjadi 12.221 jiwa dalam kurun
yang sama.

Apa yang menyebabkan membengkaknya jumlah penduduk


di Paccinongan? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Tetapi
penjelasan berikut mungkin ada artinya untuk memahami
pertumbuhan penduduk yang amat tinggi di sebuah kelurahan yang
berbatasan langsung dengan ibu kota provinsi yang sedang tumbuh
perekonomiannya dengan tingkat mencapai 8,5% di tahun 2012:
Makassar. Paccinongan adalah kelurahan yang sebelah utaranya
langsung berbatasan dengan kota makassar. Kelurahan ini hanya

38
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

berjarak 1,5 KM dari pusat kota kecamatan somba opu dan sunggu
minasa ibukota kabupaten Gowa.

Pada tahun 2000 penduduk kota Makassar berjumlah


1.193.434 jiwa. Jumlah ini meningkat sebanya 1,6 persen menjadi
1.223.540 Jiwa. Dari jumlah itu, hampir separuhnya, atau empat
kecamatan berdekatan dengan kabupaten Gowa berpenduduk
511.833 Jiwa yakni Rappocini, Panakukang, Tamalate dan
Manggala. Dari keempat yang disebutkan itu, hanya manggala dan
tamalate yang memiliki peluang untuk memperluas wilayah
perumahan karena di sebelah barat tamalate ada kelurahan
Barombong yang juga sedang giat dibangun perumahan dan daerah
manggala yang sebagian besar wilayahnya masih bisa dibanguni.
Karena itu untuk menjawab kebutuhan perumahan bagi penduduk
yang jumlahnya terus tumbuh bisa dicari alternatif ke daerah luar
kota yang terdekat aksesnya dengan kota. Maka imbasnya, daerah
yang berbatasan langsung dengan kota makassar, seperti
pacinongang dan samata menjadi daerah tumpahan kelebihan
penduduk dari Makassar. Hal ini bisa dilihat dengan tumbuhnya
tidak kurang dari 24 kompleks (penjelasan detilnya bisa dilihat di
bab IV mengenai industri property) perumahan yang jumlah
rumahnya mulai dari yang hanya 19 rumah seperti Gria Samata
Permai hingga yang 1300 rumah, seperti Citra Garden. Wal hasil,
paccinongan tumbuh makin membengkak jumlah penduduknya,
makin sempit lahan pertaniannya dan makin banyak proyek
perumahannya. Gejala inilah mungkin yang disebut oleh Wiradi
(2009) sebagai gejala dekonsentrasi. Sebuah gejala terlemparnya
para penduduk kota kemali ke desa atau ke wilayah pinggiran
akibat mahalnya biaya untuk tempat tinggal di pusat kota.

Alur berfikir ini, dikuatkan dengan fakta pembukaan jalan


tembus hertasning yang langsung menghubungkan kecamatan
rappocini, Panakkukang kota Makassar dengan kelurahan
Pacinongan dan Samata di kabupaten Gowa dengan waktu tempuh
39
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

hanya sekitar 10 menit. Keunggulan geografis ini digambarkan


dengan baik oleh kata pengantar Statistik Penggunaan Lahan
Pertanian Di Kabupaten Gowa tahun 2013:

“Letak geografis kabupaten Gowa memiliki karakteristik


tersendiri karena berbatasan langsung dengan Kota
Makassar. Sekaligus merupakan pintu gerbang untuk
memasuki wilayah bagian selatan ibu Kota Provinsi
Sulawesi Selatan. Karena itu, mobilitas penduduk antara
kedua daerah tersebut sangat tinggi. Hal ini berkonsekwensi
pada penambahan jumlah penduduk dan penyediaan
fasilitas perumahan.

Banyak pengembang memilih kabupaten Gowa sebagai


lokasi pembangunan perumahan. Hal ini akan berdampak
positif terhadap penyediaan perumahan. Hanya saja
dikhawatirkan akan menyebabkan makin berkurangnya
lahan pertanian, mengingat lokasi perumahan pada
umumnya adalah lahan pertanian produktif” (BPS
Kabupaten Gowa; 2013)

Pada tahun 2006, ketika persiapan pembangunan proyek


perumahan surandar I, BPS Kabupaten Gowa mengumumkan data
sensus ekonomi nasional. Menurut Sensus ekonomi tahun 2006
jumlah usaha menurut lokasi usaha tidak permanen di kelurahan
Paccionongan adalah: usaha perdagangan besar dan eceran 310
usaha, akomodasi dan makan-makan 24 usaha, transportasi,
pergudangan dan komunikasi 180. sedangkan jumlah usaha
menurut lokasi yang permanen di Kelurahan Paccinongan adalah:
industri pengolahan 49, konstruksi 14, perdagangan besar dan
eceran412, akomodasi dan makan minum 45, transportasi
pergudangan dan komunikasi 41. Mengikuti keterangan sensus ini
juga, ditemukan usaha real estate berjumlah 5 unit usaha. Delapan
40
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

tahun setelah data itu diluncurkan, kami menemukan tidak kurang


dari 24 kompleks perumahan.

Luas tanah sawah tadah hujan pada tahun 2002 di


keluarahan Paccinongan 151,87 hektare, pekarangan 1,60 Hektare
dan tegalan 78,53 hektare.

B.2. Samata: Wilayah Pinggiran

Tidak mudah mencapai daerah ini seandainya kita bicara mengenai


desa ini sebelum adanya jalan tembus hertasning-aroepala yang
tepat melintasi halaman belakang lingkungan Samata. Ketika jalan
ini tembus, sebuah proyek perumahan prestisius seluas 21 hektar
memuji wilayah perumahannya dalam sebuah brosur yang mereka
produksi dengan kata ‘accessible’. Seakan-akan perumahan ini
berada di dekat Graha Pena, salahsatu kantor harian berita
terpenting di kota Makassar, kantor PLN, Rumah Sakit Grestelina,
Universitas 45, ramayana, mal panakukang, pasar segar, universitas
negeri makassar kantor DPRD kota makassar dan hotel paling
mewah di kota makassar, Grand Clarion. Padahal jarak kelurahan
samata dari Pusat kota Kabupaten Gowa saja berjarak 7 KM dan
dari pusat kota makassar berjarak kurang lebih 17 Km. Tapi brosur
adalah gincu, biar enak dipandang. Atau brosur itu adalah pemanis.
Sebuah wilayah jauh nun di sana bisa terkesan amat dekat seperti
sepelemparan batu atau bahkan sejangkauan tangan.

Kelurahan Samata luasnya 2,44 KM persegi dengan jumlah


penduduk 3.414 jiwa dengan kepadatan penduduk 1.399 jiwa
perkilometer di tahun 2003 dan naik dua kali lipat menjadi 7.065
jiwa dengan kepadatan penduduk 4.847 jiwa perkilometer persegi
satu dekade kemudian, tahun 2011. Menurut seorang petugas
kelurahan ada fenomena yang khas tahun-tahun terakhir ini dimana
semakin banyak orang yang melakukan pengurusan surat
keterangan pindah domisili ke kelurahan Samata. “tanda ke bahwa
pertumbuhan penduduk makin tinggi di keluarahan samata di
41
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

antaranya adalah bertambahnya TPS pada pemilihan Gubernur


kemarin (2013), pada pilkada kabupaten gowa dua tahun
sebelumnya hanya 9 TPS sementara pada 2013 ketika pilkada
gubernur bertambah menjadi 12”. Angka kemiskinan di kelurahan
ini masih tergolong tinggi. Berikut data yang bertambah dari tahun
2003 dengan jumlah 845 naik menjadi 1279 di tahun 2011.

Sensus ekonomi tahun 2006 mencatat jumlah usaha


menurut lokasi usaha tidak permanen di kelurahan samata Jumlah
usaha perdagangan besar dan eceran 129 usaha, akomodasi dan
makan-makan 8 usaha, transportasi, pergudangan dan komunikasi
22. Sedangkan jumlah usaha menurut lokasi usaha permanen
Industri pengolahan 3, perdagangan besar dan eceran 98,
akomodasi dan makan minum 5, transportasi pergudangan dan
komunikasi 5.

Berdasarkan data sensus yang sama (2006) tidak ditemukan


usaha real estate di kelurahan Samata. Namun perkembangan di
lapangan setelah sensus ini dilakukan hingga sekarang telah
terdapat tidak kurang dari 14 buah kompleks perumahan.

Luas tanah sawah tadah hujan pada tahun 2002 di kelurahan


Samata adalah 108, 92 hektare, pekarangan 39,14 Hektare dan
tegalan 95,94 hektar.

B.3. Romang Polong dan Jejak Reforma Agraria

Sejak digunakannya kampus UIN di tahun 1999 di lahan


seluas 32 Hektare di wilayah Romang Polong, di tepi sebelah
kanan jalan tembus Tun Abdul Razak, jumlah penduduk romang
polong naik sekitar 500 jiwa pertahun. Pada tahun 1999 misalnya
penduduk Romang Polong berjumlah 3.604, jumlah ini naik di
tahun berikutnya menjadi 4192 Jiwa, demikian juga di tahun 2001
naik menjadi 4.411 Jiwa dan di tahun 2002 naik menjadi 4125 jiwa.

42
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Romangpolong adalah sebuah kelurahan dengan luas 3,71


KM persegi dengan jumlah penduduk 4.246 jiwa dengan kepadatan
1.144 jiwa perkilometer pada tahun 2003. Di tahun yang sama
jumlah keluarga miskin sebesar 1.113 jiwa. Pada tahun 2011
jumlah penduduknya naik menjadi 6.611 dengan kepadatan
penduduk 2.414 perkilometer. Dan jumlah keluarga pra sejahtera
naik menjadi 1.739 Jiwa. Atau sekitar 30% dari jumlah penduduk
kelurahan.

Menurut sensus ekonomi tahun 2006 jumlah usaha di


kelurahan romang polong dengan kategori lokasi usaha tidak
permanen adalah: usaha perdagangan besar dan eceran 194 usaha,
akomodasi dan makan-makan 20 usaha, transportasi, pergudangan
dan komunikasi 47. Sedangkan jumlah usaha dengan lokasi usaha
permanen adalah: industri pengolahan 32, konstruksi 7,
perdagangan besar dan eceran 132, akomodasi dan makan minum
7, transportasi pergudangan dan komunikasi 16 usaha.

Luas tanah sawah tadah hujan pada tahun 2002 di kelurahan


Romangpolong 95,96 hektare, pekarangan 1,55 Hektare dan
tegalan seluas 144,16 Hektar. Tanah-tanah di romang polong
banyak yang berperkarakarena merupakan polemik peninggalan
reforma agraria era 60-an yang diprakarsasi presiden soekarno.
Salah satunya ada di wilayah ini yang menjadi objek redistribusi
lahan seluas 184 Ha. Lahan kelebihan (absentee) milik keluarga
kerajaan (bangsawa) didistribusikan kepada petani penggarap.
Tetapi pada saat saman berbalik di tahun 1965, issu reforma agraria
menjadi terstigma sebagai program terlarang karena didorong oleh
PKI, partai terlarang waktu itu. Akhirnya tanah yang diredistribusi
kepada petani penggarap kemudian ditinggalkan oleh
penggarapnya karena takut dituduh komunis. Akhirnya polemik
inilah yang meninggalkan bengkalai persoalan tanah di romang
polong.

43
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

C. Perubahan-Perubahan Mecolok

Ada tiga hal yang mencolok pada tahun-tahun terakhir di


tiga kelurahan ini. Di antaranya, pertama perubahan akses jalan
menuju kota. Berikut ilustrasinya: Secara geografis, tiga kelurahan
ini letaknya berbatasan langsung dengan kota Makassar. Hanya
karena tak ada jalan dan jembatan yang menyambungkan antara
daerah Minasa upa, Makassar dengan wilayah di seberang kanal
banjir. Pada tahun 2000-an awal jalan mulai dirintis untuk
membelah rawa dan persawahan di daerah Tombolo, Paccinongan
dan Romang Polong. Jalan ini kemudian diberi nama jalan aroepala
dan jalan tun abdul razak. Jalan ini kemudian menjadi jalan tembus
antara kota makassar dengan jalus lingkar luar mamminasata, yakni
jalan lama dari arah sungguminasa menuju jalan Perintis
Kemerdekaan melintasi daerah Pacinongan, Romang Polong,
Samata Dan Antang makassar. Singkat kata, jalan tembus ini
menjadi pemecah dan pembuka ruang bagi terhubungnya akses
dengan cepat dari kota Makassar ke daerah Gowa, yakni
Pacinongan, Samata dan Romangpolong. Perubahan ini dirasakan
terjadi dengan cepat, hanya kurang lebih satu dekade. Persawahan
dan rawa dilintasi jalan. Pada awalnya 5 meter dan kemudian saat
ini menjadi 32 meter dengan 2 ruas jalan.

Kedua, pertumbuhan jumlah perumahan dan hadirnya


komunitas-komunitas berpagar yang dengan cepat mengubah
bentang alam sawah dan rawa. Dalam catatan kami tak kurang dari
46 kompleks perumahan baru dengan varian luas yang berbeda-
beda mulai dari 0,15 henktare sampai 71 hektare.

Ketiga, dan mungkin yang tidak begitu dirasakan adalah


berubahnya sebagian besar aktivitas masyarakat yang dilalui oleh
jalan menjadi penjual barang-barang bermacam-macam. Mulai dari
usaha kelontong sampai jualan makanan jadi. Hal ini mungkin

44
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

untuk menangkap peluang semakin banyaknya kos-kosan


mahasiswa di tiga kelurahan ini.

Keempat, perubahan yang juga mencolok namun kadang


tidak diperhatikan lebihdetil adalah hadirnya sejumlah enclave-
enclave buruh terutama di sekitar proyek-proyek perumahan
mewah semacam Royal Spring, Bumi Aroepala, Puri Diva Istanbul
dan Citra Land. Kehadiran bangsal-bangsal buruh ini seakan-akan
membantah kondisi kemakmuran yang diperlihatkan oleh
perumahan-perumahan mewah berharga mahal ini. Mungkin ini
tanda bahwa kemakmuran ini adalah kemakmuran semu yang
berdiri di atas penghisapan sejumlah besar buruh.

Kelima, jumlah penduduk tiga kelurahan ini atas jumlah


penduduk kecamatan somba opu terus bertambah dengan pesat. Di
tahun 1999 jumlah penduduk kelurahan Samata, Paccinongan dan
Romangpolong kurang dari 20% jumlah penduduk kecamatan
Somba Opu yakni hanya 13.392 Jiwa dari 71.621 Jiwa jumlah
penduduk kecamatan. Lebih satu dekade kemudian, di tahun 2012
tiga kelurahan ini memiliki 25,74 persen jumlah penduduk terhadap
jumlah penduduk kecamatan yakni 33.776 jiwa dari 131.598 jiwa
jumlah penduduk kecamatan. pada tahun 1999 jumlah penduduk
Samata, Romang Polong dan Pacinongan berjumlah 13.392 Jiwa,
jauh di bawah jumlah penduduk kelurahan Pandang-pandang,
Sungguminasa, Bontoramba, Mawang, dan Kalegowa yang
berkisar pada angka 20.739 Jiwa. Jumlah-jumlah itu berbalik satu
dekade lebih berikutnya Di tahun 2012 jumlah penduduk tiga
kelurahan ini berjumlah 33.776 Jiwa, jauh melebihi jumlah
penduduk kelurahan Pandang-Pandang, Sungguminasa,
Bontoramba, Mawang Dan Kalegowa yang hanya berjumlah
24.637 Jiwa.

45
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

46
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Bagian Keempat

Dari Pertanian Ke Industri Properti:

Perubahan Tata Guna Lahan Di Tiga Kelurahan

A. Pembangunan Jalan dan Konversi Lahan Pertanian

Sejak Bergulirnya wacana pengembangan kota metropolitan


mamminasata, sebenarnya sudah terjadi desas-desus akan
pemekaran ko ta ke arah sekitar Makassar yang berkonsekwensi
pada peningkatan dan pembangunan jalan baru, perluasan
pemukiman dan peningkatan harga tanah. Tetapi desas-desus itu
berubah menjadi kebijakan nyata di masyarakat, terutama di tiga
kelurahan, ketika struktur ruang mamminasata disahkan menjadi
rencana tata ruang tahun 1997. Makin intensif di tahun 2003 ketika
struktur detil tata ruang sudah masuk menjadi perda Provinsi. Kini,
mamminasata kian nyaring dibicarakan terutama setelah
Mamminasata menjadi pembahasan dalam rencana struktur ruang
nasional dalam sebuah skema Kawasan Strategis Nasional.
Mamminasata adalah satu di antara hanya empat kawasan strategis
nasional yang telah dikeluarkan Perpres yang menjadi payung
hukumnya.

47
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Bersamaan dengan bergulirnya wacana tersebut, penetapan


struktur ruang perkotaan mamminasata dan bergulirnya sejumlah
proyek, pada tahun 2002 mulai dirintis jalan lintas Hertasning-Tun
Abdul Rzak. Perintisan ini melibatkan tokoh-tokoh masyarakat
kelurahan Samata dan unsur pemerintahan. Setelah perintisan
dilakukan, jalan ini terus diperbaiki dan diperlebar hingga akhirnya
di tahun 2007 mulai jadi struktur jalan utuh yang kondisinya baik
dengan lebar sekitar 30 meter. Kabar baik mengenai terbukanya
jalan tembus Hertasning-Tun Abdul Rzak ini ternyata adalah kabar
buruk bagi sawah-sawah yang dilintasinya. Jalan ini dibangun di
atas tanah sawah produktif seluas 26 Hektar dan dimiliki oleh 30
keluarga produsen pertanian mandiri. Berikut data luas dan
keluarga yang menjual tanahnya untuk pembangunan jalan
Hertasning baru-Tun Abdul Razak:

Tabel.3. Nama Pemilik dan Luas Tanah Yang Dikonversi


Menjadi Jalan

No Nama Luas Tanah (m2) Jenis


Pemilik Inventarisasi Realisasi
1 AR 182 182 Lahan Sawah
2 ABA 1008 1008 Lahan Sawah
3 HML dan 1293 1293 Lahan Sawah
HI
4 SB 2875 3513 Lahan Sawah
5 MAT 102 112 Lahan Sawah
6 SDR 1358 1358 Lahan Sawah
7 SR 98 98 Lahan Sawah
8 SBT 34 12 Lahan Sawah
9 MR 663 62 Lahan Sawah
10 Na 285 285 Lahan Sawah
11 MGN 488 807 Lahan Sawah
12 NR 1532 196 Lahan Sawah

48
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

13 Lc 626 626 Lahan sawah


14 DBD 528 528 Lahan Sawah
15 KBM 167 167 Lahan Sawah
16 RDK 62 17 Lahan Sawah
17 Ahf 440 440 Lahan Sawah
18 BBY 838 527 Lahan Sawah
19 RDT 97 97 Lahan Sawah
20 HDN 1543 1543 Lahan Sawah
21 HL 277 277 Lahan Sawah
22 HA 2209 2209 Lahan Sawah
23 BDR 1136 1136 Lahan Sawah
24 ND 1351 1351 Lahan Sawah
25 BBM 1136 1136 Lahan Sawah
26 SHM 730 730 Lahan Sawah
27 MAB 3236 1676 Lahan Sawah
28 NBB 1050 1050 Lahan Sawah
29 Sr * * Rumah Gubuk
30 DS * * Rumah Non-
Plesteran
31 DSr * * Rumah
Panggung dan
Pekarangan
32 DM * * Pekarangan
TOTAL 2758 26.477
Keterangan: *=Tidak Disebut

Pembagunan jalan Hertasning-Tun Abdul Razak yang


mengkonversi lahan sawah petani menjadi jalan hanyalah sebagian
kecil dari dampak sebuah proses besar konversi lahan sawah dan
pertanian lainnya di daerah Gowa, Maros dan Takalar akibat
aglomerasi kota Makassar menjadi kota metropolitan
Mamminasata. Proyek pembangunan infrastruktur ini diamati
49
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

diamati oleh penelitian ini karena di banyak tempat, proyek


pembangunan infrastruktur selain merugikan petani (pemilik lahan)
juga telah menyebabkan perubahan tata ruang (lanskap) dan
hubungan sosial di atasnya. Sebagai misal pembangunan
bendungan Bili-bili di sebelah timur ‘tiga kelurahan ini’
mengkonversi perumahan, sawah dan kebun di tiga kecamatan
menjadi daerah penampungan air bendungan dan mengubah orang-
orang (pemilik lahan) menjadi sopir truk, buruh bangunan, dan
buruh serabutan lainnya24. Dalam kasus lain juga bisa disebutkan
misalnya konversi lahan sawah dan penyingkiran petani lebih ke
pedalaman di Pacitan akibat pembangunan jalur lintas selatan (JLS)
Jawa yang menghubungkan Jawa Bagian Timur, DIY dan Jawa
Tengah25.

Penelitian ini sebenarnya menemukan hal senada dengan


dua penelitian di atas meskipun instrumen dan konteksnya berbeda,
kalau di Bili-bili instrumennya adalah pembangunan Bendungan
Bili-bili sedangkan di Pacitan dan ketiga kelurahan lokasi riset ini
adalah pembangunan infrastruktur jalan. Sejak dibukanya jalan
Hertasning_Tun Abdul Razak, di tiga kelurahan ini telah beroperasi
sejumlah besar developer dan penguasaha properti dalam
penguasaan ruang di tiga kelurahan yang telah ditetapkan oleh RTR
Mamminasata sebagai ruang untuk budidaya yang menjadi lokasi
untuk pemukiman penduduk dan mengkonversi sejumlah besar
lahan pertanian dan melemparkan petaninya ke dalam hubungan
produksi kapitalistik yang jauh lebih merugikan petani (pemilik
lahan). Dengan penjelasan semacam ini maka pengurangan lahan
pertanian dan berpindahnya petani dari aktivitas pertanian ke
aktifitas non pertanian (off-farm) adalah sesuatu yang pasti di tiga
kelurahan ini. Gejala ini sebenarnya beriiringan data sensus

24
Lihat Sohra Andi Baso, Ambo Masse dkk Sasat dari Halaman
Belakang Makassar dalam Belajar Menggugat Negara (Jakarta; Prakarsa,2011)
25
Dian Yanuardi dan Muhammad Ridha Larasita dan Administrasi
Pertanahan di Pacitan (2010) laporan Riset STPN dan sayogyo Institute
50
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

pertanian yang mencatat penurunan jumlah keluarga petani di


kabupaten Gowa sebanyak 11.022 RTP sejak 2003hingga 2013
atau turun sebesar 12,28%. Dari angka 89.730 RTP pada tahun
2003menjadi 78.708 RTP di tahun 2013. Dan penurunan jumlah
rumah tangga petani di kecamatan somba Opu, lokasi tiga
kelurahan riset ini, adalah kecamatan yang terparah pengurangan
jumlah keluarga petaninya, yakni berkurang 61,91% atau 3.746
RTP di tahun 2003 menjadi 1.427 RTP di tahun 201326. Karena itu,
pengurangan/konversi lahan di awal bab ini yang menimpa 32
keluarga petani adalah bagian dari konversi besar perubahan ruang
di kabupaten Gowa dari pertanian keluar dari pertanian.

Berikut ini data yang lebih detil mengenai perubahan


struktur ruang di tiga kelurahan lokasi riset:

B. Pembangunan Perumahan dan Konversi Lahan


Pertanian: Data-Data Yang Tumpang Tindih

Dalam penelitian ini, penulis menemukan fakta


pengurangan jumlah lahan. Tetapi ada persoalan lain yang cukup
penting untuk melihat ketiga kelurahan ini, yakni rujukan yang
akan digunakan sebagai pegangan akurat tidaklah mudah
ditemukan. Sebagai contoh, menurut data dalam kecamatan Somba
Opu dalam Angka BPS tahun 2003 menunjukkan jumlah total luas
lahan pertanian kelurahan Romang Polong adalah 371,16 Ha,
kelurahan Paccinongan sebesar 232 Ha dan kelurahan Samata
244,15 Ha. Berikut rinciannya:

26
Badan Pusat Statistik(BPS) Kabupaten Gowa Angka Sementara Hasil
Sensus Pertanian 2013 (Gowa,2013) Hal. 10
51
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Tabel.4.Penggunaan Lahan di Tiga Kelurahan

Keluraha Pekaran Tegal/ke Saw Lainn Total Luas


n gan bun ah ya Lahan/Kelur
ahan
Romang 1,55 144,16 95,9 129,4 371,16
Polong 6 9
Pacci’non 1,60 78,53 151, - 232
gang 87
Samata 39,14 95,94 108, - 244,15
92
Total 42,29 318,63 356, 129,4 847,23
75 9
Persentase 30,1%
atas
jumlah
lahan
kecamatan

Tetapi angka lain yang didapatkan dari rencana kerja


penyuluh pertanian tahun 2014 menunjukkan total luas lahan
pertanian di Kelurahan Romang Polong adalah 290,97 Ha,
kelurahan Paccinongang 183,53 Ha dan Samata sebesar 336,23 Ha
lahan pertanian. Bahkan ketika merujuk pada rencana penyuluh
pertanian tahun 2013 untuk kelurahan Samata jumlah keseluruhan
luas lahan pertanian kelurahan Samata adalah 460,63 Ha.
Mungkinkah jumlah luas lahan malah makin bertambah padahal
gelombang konversi lahan akibat berbagai macam lahan terus
terjadi bertahun-tahun? Mungkinkah dalam rentang sepuluh tahun
di kelurahan Paccinongang, yang wilayahnya sebagian besar
terkonversi menjadi kompleks perumahan bertambah dari 244,15
Ha di tahun 2003 menjadi 460,63 Ha di tahun 2013? Menurut
catatan kompas di Sulsel setiap tahun ada 1%lahan dari 526.000 Ha
52
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

lahan terkonversi dari lahan pertanian27. Jika demikian manakah


yang lebih akurat dan bisa dijadikan acuan bagi peneliti? Belum
lagi jika melihat data konversi lahan akibat pembangunan 59
proyek perumahan yang telah dibangun sejak tahun 1997 hingga
kini yang luas totalnya mencapai angka 228,45 Ha lahan. Terkait
dengan kelurahan paccinongang yang disebutkan di atas
mengalami peningkatan luas hingga lebih dari 100 Ha selama
sepuluh tahun dikonversi menjadi perumahan seluas 135,7 Ha sejak
tahun 1999. Data jumlah konversi lahan yang terakhir ini tentu jauh
lebih akurat dan dapat dipercaya karena dilakukan dengan
observasi langsung ke lapangan dan meminta langsung ke
perusahaan mengenai luas konsesi perumahannya. Berikut ini data
jumlah perumahan dan luas lahannya di tiga kelurahan:

Tabel. 5. Nama Perumahan, Luas Lahan dan Tahun Mulai


Pembangunan di kelurahan Samata

No Nama Perumahan Luas (ha) Tahun


1 Metro Hertasning 2,5 2004
2 Royal Spring 21 2012
3 Mega Park 0,9 2010
4 Bumi Samata Permai 4 2007
5 Bakung Regensi 2 2012
6 BTN sarinda permai 3 2009
7 Baruga Samata 1 2011
8 Balda Zakina 0,8 2007
9 Yuda Mas 0,7 2010
10 Panorama Indah 0,6 1999
11 Perumahan Ashabul 2 2013
12 Gria Tafalindo 1 2013
13 Harnini Samata Residens 1,7 2011
14 Griya Antang Harapan 1 2007

27
Kompas edisi rabu 17 September 2014
53
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

15 Samata Residence 4 2012


16 Celebes Land 1 2013
17 Kompleks Arinda 1 2013
TOTAL 48,2 Ha

Tabel.6. Nama Perumahan, Luas dan Tahun Pembangunan


Perumahan di Kelurahan Romangpolong

No Nama Perumahan Luas (Ha) Tahun


1 Samata Indah 4 1994
2 Romang Garden 0,6 2007
3 Nirwana Lestari 0,8 2013
4 Villa Mandiri 3 2008
5 Safira Lestari 1,5 2009
6 Maleo 1 2009
7 Gria Cipta Hertasning 3 2010
8 Griya Lestari 0,5 2012
9 D'bunga 0,5 2012
10 Villa Samata Sejahtera 3 2009
11 Bukit Garaganti 1,5 2009
12 Mutiara Indah Village 11 2008
13 Patri Abdullah 9 2006
14 D'orchit 0,15 2011
15 Tamangapa Raya 1,5 1997
16 Citra Mala'lang 1 2009
17 Kompleks Mega Rezki 2 2008
18 Mutiara Sanrego 0.5 2008
TOTAL 44,55

Tabel.7. Nama Perumahan, Luas dan Tahun Pembangunan


Perumahan di Kelurahan Pacci’nongang

54
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

No Nama Perumahan Luas (ha) Tahun


1 BTN Pao-Pao Permai 30 1994
2 Kompleks Pao-Pao Indah 1 2010
3 Puri Diva Istambul 22 2012
4 Bumi Aroepala 20 2010
5 Hertasning Madani 0,5 2010
6 Gowa Sarana Indah 4 1998
7 Perumahan Andi Tonro 3 1997
8 Kompleks Yusuf Bauty 1,2 2010
9 Mutiara Permai 0,9 1996
10 Citra Garden 27 2013
11 Graha Annisa 0,2 2011
12 Kompleks Polri 0,3 1994
13 Graha Sunandar 9 2007
14 Paccinongan Harapan 4 1993
15 Anugrah Reski 0,2 1997
16 Balla Tomanurung 0,5 2012
17 Gria Samata Permai 0,5 1997
18 Gria Persada Manggarupi 1 2010
19 Modern Estate 20 2013
20 Aroepala Residence 0,3 2010
21 Arta Raga Muda 0,15 2013
22 Pondok Ezra 1,3 2012
23 Padi Residence 4,2 2013
24 Tamarunang Indah II 4 2007
25 Kompleks IDI 1,5 2009
TOTAL 156,75

Apa yang bisa ditafsirkan dari pertumbuhan massif


sejumlah besar perumahan di tiga kelurahan ini? Salah satu
diantaranya adalah dominannya industri perumahan dalam proses
perubahan tata ruang, tata guna dan tata sosial di ketiga kelurahan
55
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

ini selama bergulirnya wacana pembangunan metropolitan


mamminasata. Terhitung sejak 1990-an maupun nasionalyang
berukuran kecil sebesar 0,5 Ha hingga seluas 30 Ha.dan itu berarti
sudah mengkonversi lahan pertanian menjadi perumahan sekaligus
juga mengkonversi produsen pertanian mandiri yang sebelumnya
mengolah tanah-tanah pertanian yang terkonversi itu menjadi tidak
menjadi tidak lagi memiliki sarana produksi lagi berupa lahan.
Karena itu konsekwensinya makin banyak buruh perkotaan,
pedagang sayur, buruh bangunan, penjual ikan keliling dan buruh
serabutan lainnyayang amat tergantung dengan kehidupan
perkotaan yang amat sulit mereka kendalikan. Ketika harga beras
naik, mereka harus menanggung akibat langsung dari kebijakan
semacam itu karena keterlibatan dengan ekonomi uang di
perkotaan sudah sedemikian intens sementara di sisi yang lain
mereka sudah tidak punya sumberdaya pertanian yang bisa
dijadikan tumpuan saat krisis. Dalam bahasa sejumlah ilmuwan
sosial fenomena ini disebut proletarisasi (misalnya: Marx, Wiradi,
Sayogyo). Yakni proses separasi atau pemisahan orang dari sarana
penghidupannya seperti lahan pertanian, tambah, hutan dan
sebagainya yang akan menyebabkan individu tersebut terlempar ke
dalam relasi kerja kapitalis dengan terpaksa menjadi buruh upahan.

C. Perubahan Lanskap: Kisah Borong Taipa

Borong Taipa adalah sebuah nama kampung. Dalam bahasa


indonesia nama kampung ini berarti kerumunan pohon mangga.
Seperti banyak nama kampung di tempat lain, mungkin, nama ini
disematkan karna ciri-ciri menonjol yang ditemukan orang disini
yakni ada banyak pohon mangga. Kampung misalnya borong tala’,
bontoa, balang-balang, dst adalah contoh nama kampung yang
melihat aspek menunjol pada kampung tersebut dan kemudian
nama pun disematkan. Entah kapan hulu ceritanya.

56
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Tapi tulisan ini tidak hendak menceritakan sejarah nama


kampung ini. Tulisan ini ingin memperlihatkan sepotong
ambivalensi: nama kampungnya sudah tak mencerminkan ciri yang
disebutkan lagi. Bahkan kini jejak pohon mangga hanya ditemukan
di depan rumah warga yang berupa mangga okulasi/cangkokan
yang memperlihatkan jejak pohon mangga tersebut sebagai
tanaman yang baru. Tidak ada kerumunan pohon mangga. Hanya
sejumlah ruko yang menutupi hampir seluruh lanskap tepi jalan dan
beberapa perumahan di belakangnya.

C.1. Sejarah Jalan

Menurut sejumlah tokoh kampung, jalan yang melintasi


kampung ini ada sejak kolonial. Namun jalan ini relatif baik karna
diperbaiki pada tahun 1975-an menjadi jalan pengerasan. Sejak
perbaikan jalan tersebut, tanah mulai sedikit lebih berarti dari
sebelum adanya jalan.

Namun perkembangan dan perluasan kota makassar dan


sungguminasa yang semakin menyerap daerah sekitarnya, termasuk
kampung ini, maka harga tanah mulai naik. Tanah pada tahap ini
mulai menjadi komoditas yang penting, terutama bagi kebutuhan
bertempat tinggal penduduk kota yang makin kehabisan ruang di
perkotaan. Pada tahun 2000-an, ketika jalan diperluas dan diaspal
lebih baik, makin banyak orang menjualbelikan tanahnya. Harga
tanah tiba-tiba melambung tinggi dua dekade terakhir. Untuk tanah
ditepi jalan, saat ini harganya sekitar 1-4jutaan permeternya. Hal
ini terutama karna kampung ini dilewati oleh jalan raya besar yang
masuk dalam rencana pengembangan kota makassar, maros,
sungguminasa takalar atau biasa disebut metropolitan
mamminasata yang memicu sejumlah orang untuk berspekulasi
membeli tanah-tanah atau membangun huniah dari industri
perumahan.

C.2. Pembangunan Perumahan dan Ruko


57
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Belum ada data mengenai luas kampung ini, tapi kalau jarak
yang dilewati oleh jalan besar, kata warga batasnya dari samping
sekolah dasar unggulan Paccinongan sampai jembatan yang
membatasi kelurahan Paccinongan dengan kelurahan Romang
Polong. Menurut estimasi kasar saya saja panjang jalan yang
melalui kampung ini hanya kurang dari 500 meter. Cukup pendek
untuk wilayah sebuah kampung di pedesaan. Tapi wilayah yang
cukup pendek ini berubah amat menonjol dari sisi lanskap dalam
lima sampai sepuluh tahun terakhir: saat ini ada 65 buah Ruko
(rumah Toko) yang sudah selesai dibangun dan sedang dalam
proses pembangunan. Hal ini amat menonjol terutama bila
dibandingkan dengan wilayah lain kelurahan Pacinongan yang
tidak sesubur ini pertumbuhan rukonya.

Tapi, bukan hanya pertumbuhan ruko yang hampir


menutupi seluruh lanskap tepi jalan di Borong Taipa saja yang
mengubah tatanan keruangan kampung ini. Lebih awal dari
pembangunan sejumlah ruko, ada sejumlah perumahan di belakang
ruko dan rumah warga yang berada di tepi jalan.

Pembangunan perumahan di kampung ini dimulai sejak


tahun 1997, ketika perumahan griya samata permai selesai
dibangun dan mulai dihuni. Pada awalnya kampung ini amat
menyeramkan dan tidak begitu ramah untuk dihuni. Di tahun-tahun
ketika griya samata permai dibangun, secara bersamaan di tempat
lain juga mulai dibangun perumahan-perumahan pertama di
kelurahan paccinongan seperti BTN Pao-Pao Permai dan
Pacinongan Harapan. Perumahan griya samata permai ini tergolong
perumahan yang tidak besar. Di atasnya hanya ada 19 unit rumah.

Pada tahun 2007, perumahan yang cukup luas dibangun


dengan nama kompleks graha surandar I dan II. Perumahan ini
hingga kini telah membangun 300-an unit rumah di atas lahan
seluas kurang-lebih 9 hektar. Bahkan, menurut sales marketingnya,

58
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

perumahan ini terus membeli tanah-tanah warga disekitarnya untuk


memperluas areal pembangunan unit perumahannya. Ini mungkin
karakter umum dari perusahaan yang bergerak pada industri
perumahan. Ketika datang kesebuah wilayah membeli tanah
dengan harga murah kemudian membangun perumahan di atasnya.
Ketika perumahan mulai terbeli dan terlihat prospek penjualan
yang meningkat maka tanah akan makin diperluas. Kadang-kadang
dengan cara mengisolasi tanah warga yang tidak mau menjual
tanahnya kepada perusahaan. Cara ini bisa dilihat pada contoh
kasus sundar II dan kasus Royal Spring di kelurahan Samata.

Yang terakhir, ada perumahan Pondok Ezra yang dibangun


sekitar tahun 2011. perumahan adalah tipe perumahan yang
tergolong menengah. Harga perunit rumahnya dibandrol
Rp.650.juta-an. Ada 65 unit rumah di atas tanah seluas 1,3 Hektar.
Di sebelah timur perumahan ini, bangunan yang cukup menonjol
setinggi empat lantai mungkin merupakan rumah termewah di
kampung bahkan di kelurahan ini. Rumah ini milik mantan rektor
UIN Alauddin Makassar. Rumah ini terlihat menonjol karena besar
dan tinggi. Tampak sangat mewah.

Berikut tabel perumahan dan luas perumahan di Borong


Taipa:

Tabel.8. Jumlah Perumahan di Kampung Borong Taipa


Nama Perumahan Luas Unit Tahun
Pembangunan
Griya Samata Permai ±1H 19 1997
Graha surandar I dan ±9 H 300-an 2007
II
Pondok Ezra 1,3H 65 2011

59
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

C.3. Lalu tanah yang mana lagi yang masih tersisa?

Di kampung ini tanah yang masih tersisa dan milik warga


hampir tidak ada lagi kecuali petak rumah yang ditinggalinya.
Bahkan sebaian dari warga asli sudah mengontrak rumah di atas
perumahan yang dibangun di atas tanahnya. Contoh ini bisa dilihat
pada Nuntung yang mengontrak sepetak rumah di perumahan Griya
Samata Permai. Menurut penuturan kepala lingkungan
Paccinongan, di belakang perumahan Griya Samata Permai dan
Pondok Ezra telah dibeli oleh pengembang lokal ternama: idrus
mangga barani. Tanah sawah seluas 7 hektar akan dibangun tahun
2014 ini. Maka jika demikian, tahun ini adalah tahun-tahun terakhir
petak-petak sawah di belakang peruamahan lama ini akan segera
hilang dan diganti lanskap sebuah perumahan baru. Maka inilah
akhir dari riwayat aktivitas pertanian Dg. Ali dan beberapa buruh
tani di Borong taipa yang masih menggarap lahan persawahan
milik orang lain di kampung ini.

Jadi, apa yang tersisa? Tak ada tanah, tak ada sawah. Tak
ada lagi Borong Taipa. Tapi kerumunan ruko dan petak rumah dari
industri perumahan yang kini makin subur di atas tanah-tanah
pertanian. Bukan Borong Taipa...

60
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Bagian Kelima

Land Deal, Tumbuhnya Industri Property dan


Proletarisasi

Land Deal adalah proses jual beli tanah. Di tiga kelurahan


ini, jual beli tanah dan industri property tumbuh beriiringan. Bab
ini akan membahas bagaimana perubahan ruang, pembangunan
jalan dan pelaksanaan rencana pembangunan mamminasata di tiga
kelurahan telah memicu proses jual beli lahan dengan sangat
intensif. Bab ini terutama fokus membahas proses dan dinamika
penjualan lahan dan sejarah pertumbuhan industri perumahan di
tiga kelurahan.

A. Gelombang Pertama Pembangunan Perumahan dan


Awal Mula Jual Beli Tanah

Pelepasan lahan untuk jalan Tun Abdul Razak mulai


dilakukan pada tahun 2002. Kompensasi untuk lahan yang
dikonversi menjadi jalan bervariasi harganya tergantung tahun
pelepasannya. Tanah yang dilepas pada tahun 2002-an dihargai
30.000-an permeter. Sedangkan tanah yang dilepas tahun setlahnya
bisa 50.000 permeter hingga tahun 2010 ada yang mendapat
kompensasi 1.000.000 permeter.

Proses pelepasan lahan untuk pembangunan jalan tembus


ini didahuli oleh pembangunan perumahan-perumahan pertama di
61
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

tiga kelurahan ini. Pengembang tentu berspekulasi jika saja jalan


tembus telah jadi, maka harga properti mereka akan ikut
merangkak naik. Masyarakat juga berbondong-bondong membeli
perumahan-perumahan awal yang dibangun. Salah satu perumahan
awal yang membangun di tiga kelurahan ini adalah perumahan
Pao-Pao Permai yang dibangun pada tahun 1994 oleh CV. Haji
Banca. Tak kurang dari seribu rumah kini terbangun di atasnya.

Di tahun yang bersamaan PT Arta juga membangun di


kelurahan Paccinongan perumahan Paccinongan Harapan.
Perumahan yang direncanakan seluas 9 Hektar ini baru
membangun sekitar 100 rumah di atas lahan yang dibebaskan
seluas 4 Ha. Tetapi dalam perjalannya, pemilik PT. Arta meninggal
dunia sehingga usaha ini mandeg. Tidak ada lagi perluasan lahan
setelah peiliknya meninggal. Setelah dua perumahan ini dibangun,
ada sejumlah perumahan dengan rentang pembangunan sejak tahun
1996-1999 dibangun di tiga kelurahan ini. Perumahan tersebut
adalah perumahan Saumata Indah seluas 4 Ha di kelurahan romang
polong, perumahan Tamangapa raya seluas 1,5 Hektar di kelurahan
romang polong, Gowa sarana indah pada tahun 1998 di kelurahan
paccinongan seluas 4 Ha, perumahan andi tonro di tahun 1997
seluas 3 Ha, kompleks mutiara permai di tahun 1996 seluas 0,9 Ha
dan anugrah reski seluas 0,20 Ha dan Griya samata permai seluas
0,5 Ha di tahun 1997.

Keseluruhan perumahan di atas inilah yang menjadi cikal


bakan lahirnya komunitas-komunitas berpagar (gate communityes)
di tiga kelurahan ini. Pertumbuhan industri perumahan ini
setidaknya telah menyebabkan tiga hal penting: pertama,
kedatangan perumahan ini diikuti oleh komunitas-komunitas baru
penduduk dari kota bertempat tinggal di kelurahan ini. Kedua,
agen-agen pembeli lahan untuk perumahan telah ikut
mempengaruhi tingginya minat pemilik lahan untuk menjual
belikan lahannya. Terutama karena proses untuk membujuk
62
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

pemilik lahan menjual lahannya kepada perumahan dilakukan oleh


orang-orang kuat lokal seperti ketua RT/RW, kepala lingkungan
dan tokoh masyarakat setempat. Ketiga, telah mengubah makna
tanah di masyarkat. Kalau dulu tanah betul-betul sebagi sarana
produksi, karena sebagian besar lahan sawah produktif, sekarang
telah menjadi komoditas yang dengan mudah dijual-belikan di
pasar tanah yang makin ramai karena indutri properti dan
pembangunan infrastruktur di sekitarnya.

Sejak tahun-tahun akhir 1990-an tersebut, beriring dengan


pembangunan infrastruktur, pembangunan perumahan-perumahan
baru tanah bertransformasi menjadi komoditas yang ramai diperjual
belikan di pasar dan harganya pun terus meningkat dari tahun ke
tahun. Catatan lain dari era awal pembangunan perumahan dan
proses jual beli lahan d tiga kelurahan ini adalah bahwa
perumahan-perumahan yang dibangun, pada umumnya adalah
perumahan yang tidak terkait dengan industri keuangan langsung
seperti layaknya industri properti saat ini.

Pada saat itu, misalnya, PT Arta, untuk membangun


perumahan paccinongan harapan itu menggunakan sepenuhnya
uang tabungan pemilik perusahaan ini yang merupakan seorang
pedagang di kota makassar. Uang itu digunakan untuk melepaskan
lahan, membeli bahan dan membangun lalu kemudian dipasarkan.
Begitu juga dengan perumahan-perumahan lainnya yang
kebanyakan menggunakan modal berlebih dari pemilik
perusahaannya, bukan menggunakan kredit property seperti
kebyanyakan developer pada tahun-tahun seletah 2000-an hingga
saat ini.

B. Tanah Sebagai Komoditas: Rezim Property dan


Perubahan Makna Tanah

Ketika jalan lintas hertasning-tun abdul razak selesai


sepenuhnya menjadi jalan lintas seluas 30 meter di tahun 2007,
63
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

banjir bandang proyek perumahan terjadi di tiga kelurahan ini. Ada


44 proyek perumahan yang dibangun di atas tahun 2006 atau
seiring dengan selesainya jalan tembus hertasning ini. Tanpa
mensimplifikasi penyebab proses tumbuhnya industri perumahan di
tiga kelurahan ini, jalan atau infrastruktur vital pendukung industri
perumahan, adalah salah satu pendorong paling kuat pertumbuhan
sejumlah besar perumahan di tiga kelurahan ini28. Termasuk
didalamnya juga serbuan ‘pemodal besar’ yang menginvestasikan
modalnya untuk pembangunan perumahan di tiga kelurahan ini.

Ciputra Rp. 400 milyar tahun 2009 untuk membangun


Citraland celebes, tepat di samping perumahan pao-pao permai.
Tidak hanya itu, IMB group menginvestasikan tidak kalah aktif.
Mereka menginvestasikan 1,2 Trilyun untuk proyek di tahun 2014.
Tak kurang dari separuhnya, Rp. 600 Milyar, dikhususkan untuk
membangun perumahan kelas menengah, Modern Estate29. Selain
itu tak kurang dari 20-an konsesi perumahan yang sekarang ini
sedang giat memasarkan produknya di tiga kelurahan ini.

Sejak seluruh perubahan ini terjadi begitu cepat, persoalan


penataan ruang, perubahan lanskap, harga lahan dan peruntukannya
telah amat ditentukan oleh rezim property. Tanah-tanah petani
menjadi semakin terserap masuk ke dalam isapan korporasi
properti. Sebagi misal, saat ini Royal spring telah membeli lahan di
sekitar perumahan yang dibangun di atas lahan 21 hektar sekarang
ini. Tak tanggung-tanggung jumlahnya lebih duakali lipat dari
jumlah lahan awal yakni 50 Ha. Bumi Aroepala juga terus membeli
lahan di sekitar perumahannya agar perumahannya tak kekurangan
lahan untuk dibangun produk property lagi. BTN Graha Surandar
yang pada awalnya hanya surandar I diperluas lagi dengan membeli
lahan-lahan yang dulu belum terbeli di sekitar perumahannya.
Akhir dari cerita tumbuh berkembangnya industri property dan
28
Rinciannya bisa dilihat pada sub-bab sebelumnya.
29
IMB Investasi Rp. 600 Milyar Bangun Modern Estate
64
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

makin berkuasanya rezim perusahaan property di tiga kelurahan ini


adalah kenaikan harga terus menerus. Dan ini tentu hanya akan
menguntungkan mereka yang kaya dan memiliki bisnis perumahan,
sebab harga tanah yang naik juga diikuti dengan kenaikan harga
properti yang juga makin mahal. Saat ini harga property di
makassar (termasuk wilayah gowa) adalah yang termahal setelah
Jakarta30. Menurut survey tahunan BI harga rumah di Makassar
termahal setelah Surabaya31. Di kawasan jalan lintas Tun
Abdulrazak bahkan taksiran harganya sudah mencapai Rp. 1,5 Jt-
15Jt.32 Untuk melihat kenaikan yang direkam oleh masyarakat
langsung berikut kutipan wawancara dengan H Ibrahim Dg.
Gassing mengenai kenaikan harga lahan yang terus tumbuh tiga
kelurahan ini:

“Harga tanah pada tahun 1990-an Rp. 3.000-Rp.5000


permeter. Baru setelah adanya jalan Tun Abdul Razak harga
naik menjadi Rp. 30.000. Harga naik berkali lipat -untuk
tanah yang tidak berada ditepi jalan langsung dihargai Rp.
300.000-an permeter dan menjadi Rp. 1.000.000-an
permeter untuk lahan yang letaknya persis di tepi jalan Tun
Abdul Razak- setelah pelebaran jalan menjadi 30 Meter”33

Siapa yang diuntungkan dari proses kenaikan lahan untuk


properti ini? Berita ini mungkin bsa meberikan gambara: PT.
Ciputra Develompent mendapatkan laba yang terus meningkat.
Tahun 2011 mendapat laba 1,3 Trilyun naik di tahun 2012 menjadi

30
Tribuntimur Harga Jual Tanah Property Di Makassar Tertinggi
Setelah Jakarta. Lihat tribuntimur edisi hari jumat/24/1
31
Tribuntimur edisi 23/12/2013. Lihat juga KPR Masih Menjadi
Pilihan Utama (Realestat Edisi 6 2012) hal. 19
32
Ibid
33
Wawancara H Ibrahim Dg Gassing juli 2014
65
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

2,5 Trilyun dan tahun 2013 naik lagi menjadi 3,05 Trilyun. 34 Disisi
yang lain, karena harga lahan makin mahal, property residensial
bahkan yang subsidi makin tak terjangkau oleh masyarakat
berpenghasilan rendah35. Apalagi property komersial non subsidi
yang harganya bisa beberapa kali lipat. Berikut beberapa harga
produk perumahan di tiga kelurahan:

Tabel.9. Daftar Sampel Harga Terendah Dan Tertinggi Produk


Property Residensial Di Tiga Kelurahan
Nama Harga Ukura Harga Ukura
Perumaha Terendah n Tertinggi n
n
Modern 600.000.000,- 7x15 1.450.000.000, 8x18
Estate -
Multi 1.100.000.000, 8x15 1.200.000.000, 9x18
Niaga - -
Bumi 360.000.000,- 6x15 908.000.000,- 8x18
Aroepala
Citra 355.740.000,- 6x12 683.340.000,- 7x15
garden
Puri diva 460.000.000,- 6x12 3.200.150.000, 12x25
Istanbul -
Samata 265.000.000,- 6x12 607.000.000,- 5x21
residence
Kompleks 280.000.000,- 6x14 900.000.000,- 5x20
Graha
Surandar
Pondok 650.000.000,- 7x15 750.000.000,- 8x18
Ezra

34
Rumah.com. diunduh 6 Agustus 2014
35
Rumah Murah Kian Mahal Property edisi Desember 2013
66
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Jika melihat daftar harga di atas maka bisa disimpulkan


kalau iklan daftar harga di atas tidak untum mereka yang miskin.
Maka kekuasaan rezim property ini jadinya hanya akan
meminggirkan mereka yang miskin dan menjadikan tanah sebagai
komoditas yang makin sangat laku di pasaran. Lalu bagaimana
sebenarnya proses jual beli berlangsung dan mekanismenya hingga
perusahaan property menjadi amat leluasa mendapatkan sejumlah
besar lahan. Sub bab berikut akan menggambarkannya:

C. Mekanisme-Mekanisme Pelepasan Lahan

Berikut ini akan diceritakan bagaimana rezim properti


mendapatkan lahan dari pemilik tanah. Ada beberapa mekanisme
yang ditemukan di lapangan terkait mekanisme perusahaan
property mendapatkan lahan dari pemilik:

C.1. Penggunaan ‘orang kuat lokal’

Terlepasnya lahan pertanian dari petani/pemilik lahan


seringkali terjadi tidak atas keinginan sendiri tetapi digoda oleh
‘aktor’ dan ‘kondisi-kondisi’ tertentu. Untuk kasus tiga kelurahan
ini bisa diperlihatkan beberapa contoh seperti penggunaan Dg.
Nuntung untu memperlancar pengumpulan lahan untuk perumahan
BTN Pacci’nongan harapan pada sekitar tahun 1997. Daeng
nuntung adalah kepala lingkungan dan juga bangsawan terhormat
di daerah paccinongan. Dia kemudian ditunjuk menjadi manajer
dalam perusahaan property awal bernama PT. Arta. Sebagai orang
lokal, dengan mudah tentu dia mengenali siapa pemilik lahan dan
potensi untuk membeli lahan tersebut.

Contoh lain bisa disebutkan juga adalah H Said, kpela


lingkungan pao-pao, Ibrahim Dg Gassing, Kepala lingkungan
samata yang ikut memberi jasa dalam pembebasan lahan untuk
jalan tun abdul razak dan memperlancar konsentrasi lahan warga
kepada perusahaan properti. Dalam kontek Ibrahim Dg. Gassing
67
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

tanah bagi royal spring yang dikembangkan oleh pengembang


nasional, BSA Land dan H Said untuk perumahan pao-pao permai
dan Modern Estate yang berada di wilayahnya. Untuk memuluskan
niat perusahaan properti untuk mendapatkan lahan bahkan hingga
menyogok Ibrahim Dg Gassing pergi jalan-jalan keliling Jakarta
dengan biaya dari makelar tanah yang mempekerjakannya bernama
Willy.

Mekanisme semacam ini dilakukan untuk menggaet pemilik


lahan lain yang berada di bawah pengaruh Ibrahim Dg. Gassing.
Sebagai tokoh masyarakat selain di abisa membantu komunikasi
dan pendekatan, dia juga bisa menjadi tauladan dan pemicu
keinginan masyarakat di wilayahnya untuk menjual tanahnya.

Hal ini sebagaimana diceritakan sendiri oleh H Ibrahim Dg


Gassing:

“Pada tahun 2001, saya menjual tanah saya seluas 2.500


Meter dengan harga Rp. 17.500 juta. Sebagai orang yang
pertama menjual tanah kemudian warga lain juga ikut
menjual tanah-tanah mereka.”

Mekanisme pelepasan lahan yang diusahakan oleh usaha


property dengan mendekati orang kuat lokal semacam ini bisa
digambarkan secara umum dalam skema berikut:

I Perusahaan Orang Kuat Lokal


Pemilik Lahan
Property (Kepala
Lingkungan, Rw,
Dll))
II

68
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Gambar.5.Skema Pelepasan Lahan Untuk perusahaan Property

Skema di atas menunjukkan dua model sekaligus. Model dasar


yang umum adalah skema nomor II yakni hubungan langsung
perusahaan property dengan pihak pemilik lahan dengan
mekanisme formal semacam sosialisasi oleh perusahaan,
pertemuan langsung dll. Sedangkan skema nomor I adalah skema
yang dijalankan ketika jalur formal seperti pada nomor II tidak
berjalan dengan mulus. Ini bisa dilihat dengan kerja Ibrahim Dg
Gassing, H Said dan Dg. Nuntung.

C.2. Penggunaan Makelar Lokal/Cina

Mekanisme pelepasan yang kedua adalah dengan


menggunakan makelar lokal untuk menyelesaikan proses
pencarian, kontrak dengan pemilik lahan dan proses jual beli
dengan perusahaan property. Penggunaan makelar lokal dan
makelar cina ini bisa ditemukan dalam dua model. Yang pertama
bisa langsung makelar amatir yang bekerja hanya mencari pemilik
tanah, menghubungkan, membuat kontrak dengan pemilik lahan
(hal ini tidak selalu terjadi)kemudian kepada perusahaan property.
Model pertama ini bisa dilihat pada kasus Willy untuk Royal
Spring dan Dg Sikki untuk perusahaan Sarindah. Willy adalah
seorang broker tanah keturunan tionghoa yang terkenal memiliki
banyak lahan disekitar samata, paccinongang dan romang polong.
Dia memiliki modal yang cukup untuk membeli tanah dulu kepada
pemilik lalu willy kemudian memberikannya kepada royal spring
untuk dibeli dengan harga yang lebih tinggi.Dg Sikki hanya
makelar lokal yang bertugas mengumpulkan, menghubungkan
pemilik lahan dengan pembeli (perusahaan property). Dari situ dg
sikki mendapat fee dalam jumlah tertentu sesuai dengan
kesepakatan.

69
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Langkah kedua bisa dilakukan dengan memberikan tugas


pada sub kontraktor (pengembang lokal) untuk melakukan
pembebasan lahan, pengurusan izin prinsip perumahan, dll
kemudian menjualnya utuh kepada developer yang lebih besar.
Kasus ini bisa dilihat pada kisah Risal Tandiawan yang membeli
dan mengurusi tanah 27 hektar untuk perusahaan ciputra untuk
pembangunan perumahan citra garden sehingga ciputra tinggal
datang membangun dan memasarkan tanpa perlu terlibat mengurusi
administrasi dan izin-izin yang bisa memakan waktu cukup lama
dan menguras energi. Hal ini terutama disebabkan oleh birokrasi
pertanahan dan pemerintah daerah yang terkenal korup dan ribet.

Mekanisme pelepasan semacam ini bisa digambarkan dalam


skema berikut:.

Makelar/Sub Kontraktor Orang Kuat Lokal


Perusahaan Pemilik
Property Lahan

Gambar.6. Skema Pelepasan Lahan Dengan Perantara


Makelar

C.3. “Pemaksaan Tak Langsung”

Pelepasan lahan (baik pertanian maupun bukan pertanian)


kepada pemilik usaha property juga bisa terjadi dengan ‘semi
pemaksaan’. Hal ini dimaksudkan bahwa perusahaan property
selain menggunakan cara-cara persuasi kepada petani/pemilik
lahan, juga seringkali menggunakan cara curang seperti model
‘pemaksaan tak langsung’. Model pemaksaan tak langsung ini
maksudnya adalah perusahaan, dengan seluruh perangkat
pendukungnya, akan memaksa dengan cara tertentu agak pemilik

70
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

lahan terpaksa menjual lahannya kepada perusahaan. Misalnya ini


bisa dilihat pada cerita pembebasan lahan Royal spring yang
membuat seorang yang dengan teguh mempertahankan lahan
pertaniannya akhirnya wafat karena kaget tiba-tiba dibawakan
sekoper besar uang yang belum pernah sekalipun dilihatnya.
Dia,menurut cerita Hamaruddin, seorang saksi mata, meregang
nyawa tak lama setelah diperlihatkan sejumlah besar uang akibat
kaget dan terkena serangan jantung36. Atau bisa juga dengan model
yang lain seperti yang dilakukan kepada keluarga Dg Muli di
belakang perumahan citraland celebes. Keluarga dg muli tidak mau
menjual tanahnya kepada pengembang citraland. Keluarga ini
kukuh mempertahankan sebidang tanah yang diatasnya mereka
tinggal, dia, suaminya dan dua orang anaknya. Keluarga ini tidak
ingin lagi kehilangan tanah setelah sebelumnya nekat menjual
tanah di Sinjai lalu merantau kekota. Tapi di kota, suaminya hanya
bisa menjadi pekerja serabutan. Meskipun begitu, keluarga ini ingin
terus mempertahankan tanahnya. Tetapi kekukuhan yang
dipertahankan sekian tahun ternyata tak kuat menahan kondisi
rumah yang sepanjang tahun terendam air limbah saluran
perumahan citraland yang mengarah kerumahnya. Air ini
tertampung di bawah rumah panggung dan sekitar rumah yang ia
tinggali. Akibatnya, dg muli hanya betah keluar rumah sekali
seminggu untuk membeli kebutuhan sehari-hari keluarganya karena
setiap keluar rumah harus melalui jalur berlumpur yang kotor sisa
pembuangan warga dalam kompelks perumahan. Tapi kondisi ini
hanya bisa menahan Dg. Muli selama lima tahun. Setelah tahun
2013, Dg muli dikabarkan telah meninggalkan rumahnya untuk
pindah ke daerah Sungguminasa. Cara ini adalah cara perusahaan
citraland untuk membuat warga sekitar perumahannya untuk
menjual tanah kepada mereka karena perumahannya terus makin
meluas akibat pertumbuhan pasar property di makassar.

36
Wawancara dengan Hamaruddin
71
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Cara yang hampir serupa bisa ditemukan dalam cerita


pelepasan lahan Dg. Ngaga dan seorang pemilik lahan di
perumahan Royal Spring. Kedua orang pemilik lahan ini awalnya
tidak ingin menjual tanahnya kepada pengembang. Hal ini
disebabkan pada keinginan untuk menjadikan usaha pertanian di
atas lahan tersebut terus bertahan untuk menopang kehidupan
keluarga mereka. Tetapi karena terus bertahan untuk tidak menjual
lahan tetapi, lahan-lahan disekeliling lahan kedua orang ini sudah
berhasil dibeli oleh pengembang, dalam hal ini BSA Land dan
Bumi Saumata Indah, maka tanah-tanah disekitar lahan sawah
kedua keluarga ini ditimbun untuk segera dibangun perumahan.
Akibatnya, tanah kedua keluarga ini terjepit tanpa akses dan
tergenang banjir karena tak ada saluran pembuangan dan akibatnya
tidak bisa lagi ditanami. Dalam kondisi seperti ini, petani seperti
dibuatkan kondisi agar terpaksa menjual tanahnya. Dalam kondisi
semacam ini pengembanglah yang menentukan berapa harga yang
diinginkan.

D. Pembangunan atau Proletarisasi?

Di tengah proses pelepasan dan pembelian lahan yang kian


massif di tiga kelurahan ini, ada fakta lain yang ikut bersama
fenomena ini yakni semakin tingginya jumlah petani yang
kehilangan tanah pertaniannya dan karena itu juga kehilangan
tumpuan mata pencahariannya. Dalam khasanah ilmu sosial, gejala
ini disebut proletarisasi. Pada kutub yang lain ada fenomena
konsentrasi sejumlah besar lahan pada sebagian kecil keluarga. Dua
lapis fakta inilah yang ditemukan di lapangan:

D.1. Konsentrasi dan Akumulasi Tanah

Akumulasi tanah adalah gejala penumpukan sejumlah besar


lahan pada sejumlah kecil keluarga. Dalam kontek tiga kelurahan
lokasi penelitian ini, akumulasi lahan dilakukan oleh sejumlah
pengembang perumahan yang nantinya akan dibangun menjadi
72
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

perumahan komersial. Sekarang ini ada ±65 lokasi konsesi


perumahan yang sudah terbangun dan sedang dibangun oleh
perusahaan property yang memakan lahan seluas 228,45 Ha
(seperti diuraikan dalam bab sebelumnya).

Sejak tahun 1994, sejak perumahan BTN Pao-pao Permai


dibangun seluas 30 Ha, sekarang ini sepuluh perusahaan memiliki
luas lahan konsesi perumahan terluas. Luasan lahan sepuluh
perusahaan ini mulai dari 4,3 Ha hingga yang terluas 30 Ha.
Berikut ini data sepuluh perusahaan dengan luas konsesi untuk
usaha perumahannya yang terluas di tiga kelurahan ini:

Nama Perumahan Jumla Pengemban Pemilik Luas Tahun


h g
(unit)
BTN Pao-Pao ±1000 CV Haji Haji Banca 30 Ha 1994
Permai Banca
Patri Abdullah ±300 CV Patri 9 Ha 2006
Graha Surandar I, II ±300 PT. Surandar H. Burhanuddin 9 Ha 2007
Abu
Mutiara Indah ±300 BSA Land 11 Ha 2011
Village
Bumi Aroepala ±400 PT. TBS Arif Mone 20 Ha 2010
Royal Spring ±900 BSA Land 21 Ha 2012
Puri Diva Istanbul ±1000 PT. Diva Hj. Andi 22 Ha 2012
Yamasey Fatmawati
Padi Residence ±190 Galesong Risal 4,3 Ha 2012
Tandiawan
Citra Garden ±1300 Ciputra Ciputra 27 Ha 2013
Land
Modern Land 611 IMB Idris Mangga 20 Ha 2013
Property Barani
Jumlah 152,3 Ha
Tabel.10. Perumahan Dengan Jumlah Luas Lahan Tertinggi

Data di atas menunjukkan bahwa sepuluh


keluarga/perusahaan menguasai lahan seluas 152,3 Ha. Luas lahan
73
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

ini dimiliki oleh sejumlah keluarga yang sudah malang-melintang


di bisnis property baik lokal, regional maupun nasional. Kontraktor
nasional yang berhasil ditelusuri oleh peneliti adalah H
Burhanuddin Abu, pemilik perusahaan developer PT. Surandar,
Haji Banca yang membangun perumahan pertama di Pao-pao, BTN
Pao-pao permai, Hj Andi fatmawati, pemilik bendera PT Diva
Yamasey dan Risal Tandiawan pemilik Galesong, pemain baru
yang terkenal sebagai sub kontraktor yang memberikan lahan untuk
ciputra di proyek citra garden. Kontraktor yang memiliki prestasi
pembangunan regional adalah IMB dan PT Tunas Baru Sulawesi
yang dimiliki oleh ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sul-Sel.
Sementara pemain bisnis property nasional yang menanamkan
pengaruhnya di tiga kelurahan ini adalah Group BSA Land dan
Group Ciputra, milik keluarga Ciputra.

Apakah dampak proses akumulasi lahan bagi sejumlah kecil


keluarga ini? Berikut salah satu yang nyata, yang ditemukan di
lapangan:

D.2. Proletarisasi: Kisah Gapoktan yang Makin Kekurangan


Petani

Data yang digunakan dalam uraian sub bab ini lebih banyak
data yang diambil dari Gapoktan kelurahan Romang Polong yang
dipimpin oleh seorang petani pemilik lahan yang juga sekaligus
bekerja sebagai tenaga Security di Kampus UIN yang berada di
kelurahan Romangpolong. Penggunaan data dari satu kelurahan ini
lebih dominan dikarenakan sulitnya data didapatkan dari kelurahan
lainnya. Dua kelurahan yang tidak memberikan data lengkap ini
mengeluhkan berkurangnya lahan pertanian akibat pembangunan
perumahan dan karena itu anggota kelompok tani mereka semakin
menyusut.

Ketua gapoktan kelurahan Paccinongan, Dg. Nuntung,


Misalnya mengemukakan bahwa ‘gapoktannya sekarang tidak diisi
74
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

oleh petani yang menggarap sawah, tetapi petani yang hanya


bertani di lahan pekaranga rumahnya. Bahkan sebagian besarnya
tidak lagi bertani. Gapoktannya sendiri saat ini tidak lagi menjadi
kelompok tani dalam arti mengorganisasi para petani, tetapi
merupakan sebuah koperasi simpan pinjam untuk para anggota
kelompok taninya yang sudah tidak memiliki lahan pertanian’.37

Secara formal Gapoktan kelurahan Paccinongan memang


memilik 11 kelompok tani binaan. Sebelas kelompok tani ini
masing-masing memiliki 25 orang anggota. Jika dikalikan, anggota
tani Gapoktan Kelurahan Paccinongan adalah 280 Orang. Tetapi ini
hanya data formal. Data di atas kertas. Menurut pengakuan Dg.
Nuntung “Sudah tidak ada petani. Mereka semua mengelola dana
bantuan dinas pertanian untuk koperasi petani. Jadi mereka
bergerak di sektor lain dengan bantuan dana dari koperasi petani
tersebut”38. Mungkin sedikit berlebihan, sebab di belakang
perumahan griya samata permai masih ada sawah. Di sekitar
perumahan Surandar juga masih ada petak sawah dan ladang. Tapi
memang jumlahnya makin sedikit. Bahkan tahun-tahun terakhir ini
terus ditimbun untuk pembangunan perumahan.

Dari kelurahan samata, cerita tragis serupa juga didapatkan.


Kelompok tani yang ada datanya di Gapoktan hanya satu kelompok
tani dengan anggota 25 orang petani yang mengelola lahan 14,5
Hektar. Menurut sumber lain, gapoktan samata sedang carut marut
oleh masalah internal dan makin sedikitnya jumlah lahan.

Dalam catatan kelurahan samata jumlah petani penggarap


sudah sangat tinggi persentasenya dibandingkan petani yang
memiliki sendiri lahannya. Tercatat ada 108,53 Ha lahan saja yang
digarap oleh pemilik penggarap, tetapi ada 201,90 Ha lahan yang
digarap oleh petani penggarap. Berikut data rinciannya:

37
Wawancara dg. nuntung
38
Ibid
75
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

No Jenis Kepemilikan Luas (Ha) Persentase (%)


1 Pemilik-Penggarap 108,53 34,96
2 Penggarap 201,90 65,04
Total 310,43 100
Tabel.11. Status Kepemilikan Lahan Kelurahan Samata

Kita kembali ke data kelurahan romang polong. Di romang


polong, menurut catatan Gapoktan Kelurahan romang polong, ada
292 orang petani yang tergabung dalam 10 kelompok tani. Dari 292
petani anggota kelompok tani romang polong, hanya 129 petani
yang lahannya di romang polong. Dari 129 petani yang lahannya di
romang polong, ada 59 orang petani penggarap tuna kisma, atau
45% dari total jumlah petani yang bertani di romang polong. Dari
keseluruhan jumlah petani anggota gapoktan romang polong, 58
orang diantaranya, dalam tahun 2013 saja, kehilangan lahan
pertanian antara 10-60% atau berkurang 23,24 Ha lahan39. Bahkan
menurut catatan pemerintah kelurahan romang polong, 45% lahan
digarap oleh petani penggarap atau tunakisma. Untuk lebih jelas
berikut kami sajikan tabel petani pemilik penggarap dan petani
penggarap yang menggarap di wilayah kelurahan romang polong:

Tabel.12. Persentase Petani Pemilik penggarap Lahan Dan Petani


Penggarap Tidak Memiliki Lahan
Petani yang Menggarap Lahan di Kelurahan Romang
Polong
Pemilik Penggarap Petani Penggarap
(tunakisma)
70 Ha 59 Ha
55% 45%

39
Data olahan dari rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi tahun 2013
untuk kelurahan romang polong dan Wawancara Dg Naba
76
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Menurut catatan pemerintah kelurahan romang polong, dari


seluruh lahan yang ada diromang polong 13,61% digarap oleh para
petani yang statusnya bukan pemilik lahan, berarti mereka adalah
petani-penggarap atau buruh tani40.

Moral dari seluruh badan dan alur cerita dan penyajian


angka-angka statistik di atas di antaranya adalah proses
pembangunan tidak hanya menghasilkan capaian hebat seperti
kemegahan bangunan, residensial, infrastruktur dan seluruh
pendukungnya, tetapi juga di sisi yang lain, menghasilkan
gelombang besar proletarisasi dan proses keluarnya petani dari
sarana pertaniannya karena terpaksa.

40
Laporan penyuluhan dinas pertanian kecamatan somba opu kelurahan
romang polong
77
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

78
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Bagian Keenam

Lonjakan Harga Lahan, Gate Comunities dan


Ketegangan Sosial di Pedesaan

Tahun-tahun ketika mulai tersebar rencana pembangunan


jalan tembus hertasning-tun abdul razak di bawah skema
pengembangan infrastruktur kota metro politan mamminasata pada
tahun 2003, seperti dikemukakan di sub.bab sebelumnya telah
terjadi peningkatan nilai relatif tanah di tiga kelurahan ini. Tanah
yang dulu tidak berarti menjadi amat berarti ketika infrastruktur
seperti jalan telah melintasinya, sejumlah perumahan dan kampus
besar berdiri. Di kelurahan Romangpolong dibangun kampus 2
UIN Alauddin seluas 32 Ha sejak pertengahan tahun 1990-an. Di
kelurahan Paccinongang dibangun kampus STIE Patria Arta yang
sedang tahap finalisasi. Kampus besar dengan jumlah mahasiswa
aktif tidak kurang dari 25 ribu orang ini sontag mengundang rantai
perekonomian dan kebutuhan lainnya: mahasiswa ini
membutuhkan kontrakan yang dekat dengan kampusnya, dosen-
dosen dan staf karyawan membutuhkan rumah yang bisa
mengakses tempat kerjanya dengan cepat, mahasiswa yang
jumlahnya besar ini juga butuh pemenuh kebutuhan lainnya seperti
warung makan, toko kelontong, tempat foto-copy, dll. Karena itu
ekonomi bertumbuh. Perumahan dibangun di hampir setiap sudut
kampus ini, kontrakan dan kost-kost-an juga menjamur, tak
ketinggalan rumah toko dan sejumlah usaha lainnya. Kampung di
79
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

atas bukit yang tadinya sepi, berubah riuh oleh pembangunan.


Seakan bergegas untuk lebih maju, ‘lebih kota’. Tapi di tengah
seluruh proses itu, juga ada proses lain yang tumbuh subur bersama
dengan semua fenomena ini. Ada pertumbuhan komunitas eksklusif
berpagar (gate communities) yang diiringi dengan ketegangan
sosial antara pemukim di perumahan berpagar dengan warga lokal;
dan ada pertumbuhan nilai tanah yang menyebabkan pasar tanah
dan menyebabkan tanah menjadi rentan dipersengketakan.

A. Komunitas Berpagar dan Ketegangan Sosial

H Mansur duduk di atas kasur membaca al Qur’an. Pintunya


digedor oleh balok panjang, ukuran 5x7CM. Kaca jendelanya
dilurmuri lumpur. Orang yang menggedor adalah serombongan
perampok bermobil pada dini hari yang dingin dan beku. Istri, dua
anaknya yang semuanya perempuan hanya berharap cemas dan
takut berkecamuk dalam dirinya. Pintu tidak bisa terbuka meskipun
satu dari beberapa gerandelnya sudah terlempar oleh hantaman
balok 5x7 dari para perampok. Akhirnya, entah karena apa,
gerombolan perampok mengalihkan targetnya ke rumah atas di
sebelah kompleks tempat rumah H Mansur berada. Keesokan
harinya baru tersiar cerita kalau beberapa rumah disambangi
perampok. H Mansur ingat betul kejadian itu tahun 1998 kurang
sehari H Mansur tepat setahun meninggali rumahnya di BTN Griya
Samata Permai. Hari itu menjadi hari yang amat menakutkan bagi
Istri dan anak-anaknya. Suatu ketika trauma itu diceritakan oleh
istrinya dalam sebuah bincang-bincang pagi hari di depan
rumahnya: “Seandainya kami punya pilihan, saya tidak mau lagi
tinggal di rumah ini. Setiap malam ketakutan selalu menghantui.
Baru ketika Dg. Bali (seorang tokohkampung) diangkat menjadi
satpam di perumahan ini, perasaan saya menjadi lebih tenang.
Sebab Dg. Bali adalah tokoh yang disegani oleh para perampok
atau pencuri di daerah Paccinongan dan sekitarnya”. Betapa

80
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

horornya daerah ini bagi pendatang, di kali yang lain, Istri H


Mansur (biasa saya panggil nenek) menceritakan kehebatan Dg.
Bali. Di Pos satpam yang dibangun Dg Bali duduk. Beberapa menit
lepas jam 12 ada empat orang lewat dan bertanya ‘adakah yang
bisa dibawa?’. Dg. Bali menjawab, ’tidak ada. Cari saja di tempat
lain’. Belum lama berselang beberapa orang itu sudah muncul dari
sawah di belakang kompleks perumahan dengan membawa televisi
dan beberapa barang-barang curian. Demikian kisah Istri H
Mansur.

Potongan cerita keluarga H. Mansyur di atas adalah kisah


tentang ketegangan sosial ketika pertama-tama komunitas berpagar
bermukim di tiga kelurahan ini. Pemukiman Haji mansyur berada
di kampung Borong Taipa, lingkungan Paccinongang kelurahan
paccinongan. Kompleks perumahan yang hanya berisi 19 petak
rumah tipe 40 ini dibangun di tahun 1997. Dan di awal
pembangunannya, banyak kisah tentang penduduk pendatang yang
disambangi pencuri atau bahkan perampok. Satu di antaranya
keluarga H Mansyur seperti dalam cerita di atas.

Cerita terbaru mengenai ketegangan di dalam komunitas


berpagar diceritakan oleh salah satu penghuni kompleks Griya
Samata Permai yang baru saja kecurian sebuah laptop di rumahnya.
Begini kisahnya:

“laptop di rumah itu baru saja dicuri. Siang hari jam 12-an.
Persis ketika rumah sedang kosong. Tak berselang lama dari
kejadian itu, usahanya foto copy dan ATK, di tepi jalan
Mustafa Dg Bunga di datangi tiga orang. Remaja-remaja
laki-laki ada yang bertanya harga, ada yang membeli barang
lain sambil ada juga yang mengambil handpone penjaga

81
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

tokonya. Kejadia berlangsung cepat dan ketiga orang itu


langsung pergi entah ke arah mana”.

Menurut analisa singkat mengenai fenomena yang terjadi di


Perumahannya beliau berujar:

“Dulu perumahan ini pernah aman. Ketika itu dijaga oleh


orang asli kampung borong taipa, Daeng Bali. Namun
Daeng Bali sudah meninggal dan tidak ada yang
menggantikan. Sepeninggal Dg Bali, ketegangan antara
orang-orang dibelakan perumahan kian sering terjadi. Satu
ketika, di musim penghujan, perumahan digenangi banjir.
Setelah dilihat, ternyata, saluran air yang mengarah ke
persawahan di dekat perkampungan ditutup dengan cor
beton oleh warga pribumi. Mereka beralasan karena akses
jalan masuk ke perumahan juga ditutup jadi saluran air yang
mengarah ke kampung juga ditutup. Akhirnya, saluran air
itu kembali dibuka dengan negosiasi yang cukup
mengangkan. Dan juga pintu yang menutup akses jalan
warga kampung di belakang perumahan juga dibuka. Tapi
sejak saat itu, sejak orang kampung mulai dengan bebas
berlalu lalang, warga kompleks banyak yang kecurian”

Apakah fenomena ini adalah kriminal pencurian biasa atau ada


kaitannya dengan ketegangan sosial akibat adanya perumahan
eksklusif yang tiba-tiba berada di tengah perkampungan orang-
orang pribumi yang kebanyakan petani atau buruh tani dan buruh
bangunan miskin? Mungkin dibutuhkan penelitian lebih mendalam,
tetapi sejauh yang diamati mengenai kecurigaan-kecurigaan warga
perumahan mengenai pencuri dan perampok yang merupakan
orang kampung adalah tanda bahwa ada ekspresi persaingan dan
ketegangan sosial antara komunitas di luar perumahan berpagar dan
masyarakat lokal di luar pagar.

82
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Ekspresi ketegangan dan persaingan sosial semacam ini mungkin


baru bentuk awal dari konflik terbuka yang manifes. Bentuk
konflik ini merupakan konflik laten yang menjadi cikal-bakal
konflik yang akan meletus pada saat kondisi-kondisi tertentu
memungkinkannya lebih kentara di permukaan. Kejadian konflik
yang lebih kelihatan misalnya bisa dilihat pada kejadian
penyerangan warga Perumahan Pao-Pao Permai oleh warga
kampung Sero yang merupakan warga lokal akibat salah seorang
anak muda lokal di Sero diledek sebagai anak pembantu41.
Memang seiring adanya perumahan-perumahan baru yang kian
banyak di tiga kelurahan ini menjadi peluang untuk mendapatkan
pekerjaan bagi warga lokal. Mulai dari pekerjaan pembangunan
atau perbaikan rumah untuk para warga laki-laki ataupun menjadi
pembantu rumah tangga, babysister dan tukang cuci di kompleks-
kompleks perumahan berpagar.

B. Sengketa lahan

Pada pertengahan 2014 terjadi kehebohan: daeng Nginga


bersikeras menahan proses pengukuran yang dilakukan oleh Badan
Pertanahan Nasional. Daeng Nginga siang itu menahan proses
pengukuran yang dilakukan oleh BPN Kabupaten Gowa dengan
kawalan sejumlah aparat kepolisian. Pengukuran ini dimohonkan
oleh Daeng Lurang. Karena kesal dan amat marah, daeng Nginga42
mengecam:

"Seharusnya lahan yang diklaim milik Daeng Lurang itu


mengacu ke objek persil 28 yang berada di belakang

41
Wawancara bersama kepala lingkungan Romang Polong, kelurahan
Romang Polong pada tanggal 14 februari 2014. Konflik ini tidak sempat
membesar karena diredam oleh kepala ligkungan dan tokoh-tokoh masyarakat
Pao-pao.
42
Tribuntimur.online. Pengukuran Lahan diwarnai adu Mulut. Diunduh
27 September 2014
83
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

kampus UIN Samata. Sedangkan lokasi disini itu mengacu


ke persil 32. Tentu jauh dari objek pengukuran lahan. Tapi
BPN bersikeras disinilah lokasinya,"

Selain sengketa di atas, pada tahun 2004, tercatat sengketa


antara Batato Dg Serang melawan PALAK DJALIN, dengan luas
tanah yang dipersengketakan 15011 M2. Tanah obyek sengketa
dimaksud pada mulanya tanah redistribusi yaitu tanah kelebihan
Raja Bone Arung Pone (Datua) yang diberikan kepada Penggugat
berdasarkan keputusan Panitia Landreform Dati II Kabupaten
Gowa tanggal 30 Agustus 1971, No. 7/XVII/170/1971, dengan
nomor urut 280 SK No. 166/XII/170/8/1965, tanggal 26 September
1965. Sengketa ini telah diputus dengan surat keputusan No. 2311
K/Pdt/200443.
Pada 2011 juga ada putusan sengketa antara ANDI BAU
ZALDI BIN ANDI BAU APPO BIN MAPPANYUKKI, M E L A
W A N KEPALA KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN
GOWA dan WALI KOTA MAKASSAR atas tanah seluas 62.678
m2 (enam puluh dua ribu enam ratus tujuh puluh delapan meter
persegi) yang terletak di kampung Mala’lang, Kelurahan Romang
Polong. Sengketa ini telah diputus oleh Mahkamah Agung dengan
surat putusan Nomor : 37/G.TUN/2011/P.TUN.Mks44.
Ketiga gambaran sengketa yang terjadi di atas menunjukkan
tahun-tahun terakhir masih terus bergulir konflik lahan, baik antara
warga dengan warga lainnya, warga dengan pemerintah dan warga
dengan kampus UIN Alauddin. Dalam catatan Badan Pertanahan
Nasional (BPN) Kabupaten Gowa dari 32 sengketa dan konflik
lahan di Kecamatan Somba Opu, 20 di antaranya terjadi di tiga
kelurahan ini. Kelurahan romang polong berada diperingkat

43
Direktori putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia P U T U S A
N No. 2311 K/Pdt/2004.
44
Direktori putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia P U T U S A
N Nomor : 37/G.TUN/2011/P.TUN.Mks
84
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

pertama dalam jumlah sengketa lahan yang terjadi di kecamatan


Somba Opu kemudian disusul yang kedua samata yakni 5 kasus.
Berikut rincian sebaran sengketa lahan di tiga kelurahan:

Tabel.13. Jumlah dan sebaran Sengketa Pemilikan Lahan di


Tiga Kelurahan
No Kelurahan Jumlah Kasus
1 Paccinongan 3
2 Samata 5
3 Romang Polong 12
Total 20
Sumber: Kasi Konflik BPN Kabupaten Gowa setelah diolah

Tingginya angka sengketa lahan dan tensi ketegangan sosial


sebagaimana diuraikan pada bagian ini memperlihatkan relasi
antara, di satu sisi rencana pembangunan mamminasata yang
membangun jalan dan infrastruktur lainnya, dan disisi yang lain
adalah konflik yang semakin subur seiring dengan pembangunan
infrastruktur dan dampak ikutannya seperti melonjaknya harga
lahan, tumbuhnya industri properti dan lahirnya komunitas-
komunitas berpagar (gate comunities) di pedesaan.

Hal ini menunjukkan, bukan hanya kemajuan, pertumbuhan


ekonomi dan penataan ruang yang berhasil diciptakan oleh satu
proses perencanaan ruang dan pembangunan kota metropolitan
mamminasata, tetapi juga kesemrawutan penataan perumahan kota
(urban sprawl) yang ditandai dengan tumbuhnya secara sporadis
perumahan-perumahan berpagar di tiga kelurahan ini, kenaikan
harga lahan, penyingkiran petani ke wilayah pedalaman dan konflik
agraria yang terus meningkat.

85
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

86
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Bagian Ketujuh

Pelajaran Dari Perluasan Kota: Semacam


Kesimpulan

Dari pengumpulan data dan pembahasan yang telah


dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perubahan yang
signifikan di tiga kelurahan lokasi riset. Perubahan tersebut
diantaranya: pertama, perubahan tata guna dan tatau ruang di tiga
kelurahan akibat rencana pembangunan mamminasata yang diikuti
oleh pembangunan jalan dan tumbuhnya industri properti di tiga
kelurahan. Lahan yang semula merupakan sawah, ladang dan
pekarangan warga berubah fungsi menjadi jalan dan kompleks
perumahan-perumahan berpagar. Kedua, dinamika pasar tanah
semakin meningkat akibat kenaikan nilai tanah dan tingginya
proses jual beli lahan akibat semakin banyaknya investor properti
yang datang menanamkan modalnya untuk usaha perumahan di tiga
kelurahan ini. Industri properti yang didorong oleh pembangunan
infrastruktur dari rencana pembangunan kota metropolitan
mamminasata telah mendominasi dan memberikan makna bari bagi
tanah di tiga kelurahan. Kalau dulu tanah menjadi tumpuan
kehidupan keluarga dengan mengolahnya, kini tanah dengan
mudah dijual-belikan di pasar tanah. Ini terutama dilakukan oleh
makelar-makelar tanah dan orang-orang suruhan perusahaan
properti. Ketiga, bukan hanya perubahan ruang dan peningkatan

87
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

jumlah jual beli lahan di tiga kelurahan, tetapi juga semakin


suburnya konflik akibat rencana pembangunan mamminasata yang
telah memicu perubahan makna tanah di tiga kelurahan.

Penelitian ini terutama bertumpu pada sikap kritis terhadap


rencana-rencana pembangunan skala besar seperti mamminasata.
Bahwa banyak rencana pembangunan yang begitu baik di atas
kertas tetapi dalam kenyataannya seringkali menyimpang dan
keliru. Bisa jadi karena nalar program pembangunan tersebut yang
memang keliru atau proses di dalamnya yang menyimpang.
Penelitian ini telah memulai pengamatan sederhana atas rencana
pembangunan mamminasata yang prestisius itu dan menemukan
sejumlah masalah yang diakibatkannya. Untuk penelitian lebih
lanjut saya menyarankan agar ikut memeriksa secara kritis
program-program pembangunan lainnya dengan sikap kritis,
terutama program pembangunan yang melibatkan penghidupan
rakyat banyak. Hal ini berguna terutama untu mendorong diskursus
dan karya-karya riset ilmiah yang kontekstual, empiris dan kritis
demi mendorong pembangunan yang partisipatif, memberdayakan
dan menguatkan (empowering) kemampuan dan daya hidup rakyat.

88
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Kepustakaan

Andi Agustang Filosofi Research dalam Upaya Pengembangan


Ilmu (Makassar;2007;CV Indobis Publiser Anggota
Ikapi)

Rimarti Anggun Widiatri Pembangunan Mamminasata dan Proses


Eksklusi sistem Nafkah Masyarakat. Studi Kasus
Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa (Skripsi)
(Makassar; Jurusan Ilmu Pertanian UNHAS, 2012)

___________________ Pembangunan Megapolitan dan


Pengaruhnya Terhadap Sosial, Ekonomi dan Ekologi
pada Masyarakat Lokal (Bogor; Program Magister
Jurusan Sosiologi Pedesaan IPB, 2014)

Bernard Dorleans Meluasnya Spekulasi Tanah di Jabotabek


Majalah kajian Sosial Ekonomi Prisma Nomor 2
Februari 1994

David Harvey Imperialisme Baru (Yogyakarta: Resistbook, 2009)

Djoko Suyanto Bias Kota Raksasa Serupa Jakarta Prisma Nomor 5


tahun XXI Tahun 1992

George Ritzer dan Douglas J Goodman Teori Sosiologi dari Teori


Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Teori
Postmodern (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004)
89
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

______________________ Teori Marxist dan Berbagai Ragam


Teori Neo-Marxian (yogyakarta: Kreasi Wacana,2011)

Gunawan Wiradi Seluk Beluk Masalah Agraria Reforma Agraria


dan Penelitian Agraria (Yogyakarta dan Bogor: STPN
dan Sayogyo Institute, 2009)

Buku Panduan Manajemen Penyelenggaraan Pembangunan di


kawasan perkotaan Mamminasata yang disusun
bekerjasama antara BKSPMM, dinas Tarkim Prov. Sul-
sel melalui dukungan teknis dari dirjen penataan ruang
kementerian pekerjaan umum dan JICA.

Alimuddin Rianse Laporan Hasil Analisis Rencana tata ruang


wilayah Metropolitan Mamminasata (Makassar, Maros,
Sungguminasa, Takalar)(Makassar, Balitbangda Provinsi
Sulawesi Selatan: 2004)

Hadi Sabari Yunus Problematika Kehidupan Kota dan Strategi


menuju Suistainable city (Yogyakarta: Jurnal Bairung
UGM, 2009)

Hani Raihana Negara di Simpang Jalan Kampusku (Yogyakarta:


Kanisius, 2007)

Ramlan Surbakti Ekonomi Politik Pertumbuhan Kota Majalah


Sosial Ekonomi Prisma Nomor 1-1995

Sugiyono Memahami Penelitian Kualitatif (bandung:


Alfabeta,2007)

Sohra Andi Baso, Ambo Masse, Dkk Siasat dari Halaman


Belakang Makassar dalam Belajar Menggugat Negara
(Jakarta: Prakarsa,2011)

90
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Chris Barker Kultural Studies Teori Dan Praktik (Yogyakarta;


Bentang; 2005)

Dian Yanuardi dan Muhammad Ridha Larasita dan Administrasi


Pertanahan di Pacitan (2010) laporan Riset STPN dan
sayogyo Institute

Malajah dan Koran

Realestat indonesia edisi 6 2012

Realestat indonesia edisi 8 2012

Realestat indonesia edisi 11 2013

Tribuntimur.online.com

Kompas edisi rabu 17 September 2014

Majalah Property edisi Desember 2013

Dokumen

Laporan penyuluhan dinas pertanian kecamatan somba opu


kelurahan Romang Polong tahun 2013

Laporan penyuluhan dinas pertanian kecamatan somba opu


kelurahan Romang Polong tahun 2014

Laporan penyuluhan dinas pertanian kecamatan somba opu


kelurahan Pacci’nongang tahun 2013

Laporan penyuluhan dinas pertanian kecamatan somba opu


kelurahan Samata tahun 2013

91
Drs. H. Ibrahim, M.Pd & Muhammad Ridha, S.Hi, MA

Rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi tahun 2013 untuk kelurahan


Romang Polong

Badan Pusat Statistik(BPS) Kabupaten Gowa Angka Sementara


Hasil Sensus Pertanian 2013 (Gowa,2013)

BPS dalam Gowa in Figure tahun 2012

92
Mamminasata dan Perubahan Sosial di Pedesaan

Tentang Penulis

Drs. H. Ibrahim, M.Pd adalah dosen tetap di Fakultas


Ushuluddin, Filsafat dan Politik Universitas Islam Negeri (UIN)
Alauddin Makassar. Selain sebagai pengajar di kampus UIN,
penulis juga aktif mengelola yayasan sekolah Islam di Malino,
Kabupaten Gowa. Penulis juga menulis dan melakukan penelitian.
Beberapa buku telah dihasilkan, termasuk yang terakhir berjudul
Filsafat Islam Klasik (2015: UIN Alauddin Press). Penulis adalah
Pembantu Dekan fakultas ushuluddin, Filsafat dan Politik bidang
administrasi dan keuangan pada periode tahun 2012-2015.

Muhammad Ridha, S.Hi, MA adalah pengajar tetap


bidang Sosiologi pada fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik
Universitas Islam negeri (UIN) Alauddin Makassar. Selain
mengajar, penulis juga menulis. Penulis telah menulis beberapa
buku. Di antaranya: Sejarah Pembungkaman: dari Kolonialisme
hingga Neoliberalisme (Makassar: carabaca,2010), Sosiologi
Waktu Senggang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mal
(Yogyakarta: Resistbook,2011) serta menjadi penulis epilog pada
buku berjudul Menilik Demokrasi (Yogyakarta:Tanah air
Beta,2014) bersama Prof. Dr. Revrison Baswir, MA dan Dr.
Gunawan Wiradi, M.Si

93