Anda di halaman 1dari 13

Reaksi parallel

Reaksi paralel atau reaksi samping (competitive reaction) yaitu dari reaktan yang
sama dihasilkan produk yang berbeda melalui jalur reaksiyang berbeda pula.
Contoh :

Contoh reaksi paralel yang cukup terkenal pada skala industri adalah reaksi
oksidasi terhadap etilen akan dihasilkan produk yang diinginkan adalah etilen
oksid sementara selama terjadi reaksi oksidasi sebagian
etilen terbakar sempurna dan dihasilkan produk yang tidak diinginkan adalah uap
air dan karbon dioksida.

Memaksimumkan jumlah produk yang diinginkan pada reaksi paralel

Ada beberapa cara untuk meminimalkan jumlah produk yang tidak diinginkan, U
antara lain dengan cara jenis reaktor yang digunakanatau kondisi operasi
(penetapan temperatur reaksi dan tekanan di dalamreaktor).Contoh :Reaksi
paralel :
KD
A D
KU
A U

Maka laju reaksi paralel tersebut adalah :

Dan laju pengurangan mol zat A sama dengan laju pertambahan pembentukan
zat D dan zat U :

Nilai α1 dan α2 positif, dan diinginkan laju pembentukan zat D, r D jauh lebih
besar dari laju pembentukan zat U, rU. Dan perbandingan laju pembentukan zat
D terhadap laju pembentukan zat U disebut parameter laju selektivitas zat D,
harus sebesar mungkin.
𝑟 𝑘 𝐶 𝛼1 𝐾 (𝑎1−𝛼2)
𝑆𝐷𝑈 = 𝑟𝐷 = 𝑘𝐷 𝐶𝐴𝛼2 = 𝐾𝐷 𝐶𝐴 (6.1)
𝑈 𝑈 𝐴 𝑈

Memaksimumkan parameter laju selektivitas, S untuk satu buah reaktan

Ada beberapa cara untuk memaksimumkan parameter laju selektivitas, S untuk


kasus orde reaksi yang berbeda dari masing-masing reaksi untuk pembentukan
zat D maupun zat U.

Kasus I untuk α1> α2

Untuk orde reaksi pembentukan zat D, lebih besar dari orde reaksi pembentukan
zat U maka nilai α1– α2 = a adalah positif.

α1– α2 = a
𝑟 𝐾
𝑆𝐷𝑈 = 𝑟𝐷 = 𝐾𝐷 𝐶𝐴𝑎 (6.2)
𝑈 𝑈

Dari persamaan (6.2) apabila diinginkan nilai SDU yang


maksimum, bisa dicapai apabila nilai konsentrasi reaktan zat A, CA selama
reaksi berlangsung sebesar mungkin. Apabila reaksi dalam fasa gas, untuk
mempertahankan supaya konsentrasi zat A, CA sebesar mungkin maka reaksi
harus dilangsungkan tanpa ada zat Inert dan tekanan operasi harus tinggi. Dan
apabila reaksi fasa cair, maka harus dihindarkan penggunaan reaktan yang encer
seminimum mungkin. Untuk kasus ini sebaiknya dipilih reaktor Batch atau Plug
Flow Reactor (PFR) karna pada kedua reaktor tersebut untuk penggunaan
konsentrasi reaktan yang tinggi akan berkurang secara bertahap selamareaksi
berlangsung. Berbeda dengan reaktor jenis CSTR, konsentrasi
reaktan akan turun secara drastis begitu reaktan masuk ke dalam reaktor. Oleh
karena itu untuk kasus ini reaktor jenis CSTR tidak dipilih.

Kasus II untuk α2> α1

Untuk kasus orde reaksi pembentukan zat U lebih besar dari ordereaksi
pembentukan zat D :
KD
A D
KU
A U

Dan

α 2- α 1= a
𝑟 𝑘 𝐶 𝛼1 𝐾𝐷
𝑆𝐷𝑈 = 𝑟𝐷 = 𝑘𝐷 𝐶𝐴𝛼2 = 𝐾 𝑎 (6.7)
𝑈 𝑈 𝐴 𝑈 𝐶𝐴
Dari persamaan (6.7) apabila diinginkan nilai SDU yang maksimum maka nilai
konsentrasi A, CA setelah reaksi sekecil mungkin. Nilaikonsentrasi A, CA setelah
reaksi kecil bisa dicapai apabila digunakan umpan/reaktan yang encer yaitu bisa
dicapai dengan cara ditambahkan zat Inert pada umpan dan reaksi sebaiknya
dilangsungkan di dalamreaktor jenis CSTR karena proses yang terjadi pada CSTR
konsentrasi
reaktan akan cepat sekali mengecil. Disamping itu, aliran produk keluar dari CSTR
yang memang konsentrasinya sudah encer dapat di
daur ulang (recycle) masuk bersama sama umpan segar sehingga konsentrasi
reaktan yang kecil tetap dapat dipertahankan.
Karena nilai energi aktivasi (E) dari kedua reaksi tersebut tidak diketahui maka
tidak dapat ditetapkan apakah reaksi tersebut sebaiknya
dioperasikan pada temperatur rendah atau tinggi. Sensitivitas dari parameter
laju selektivitas suatu produk terhadap temperatur dapat ditentukan dari nilai
rasio konstanta laju kedua reaksi tersebut.

𝑘𝐷 𝐴𝐷 𝑒 𝐸𝑑 /𝑅𝑡 𝐾𝐷 −(𝐸𝐷 −𝐸𝑈 )


= = 𝑒 𝑅𝑇 𝑅𝑇
𝑘𝑈 𝐴𝐷 𝑒 𝐸𝑑 /𝑅𝑡 𝐾𝑈

A = faktor frekuensi tergantung berat dan struktur molekul, frekuensidan posisi


tumbukan antar molekul
E = energi aktivasi reaksi yaitu energi minimum yang diperlukansehingga reaksi
dapat berlangsung.

Kasus III untuk ED > EU

Supaya rD besar, maka kD harus besar dan nilai KD akan berubah menjadi besar
dapat dicapai apabila temperatur semakin tinggi, dansebaliknya nilai kU
semakin mengecil dengan bertambahnya nilai temperatur reaksi. Maka supaya
nilai SDU maksimum sebaiknya temperatur reaksi dioperasikan sebesar mungkin.

Kasus IV untuk EU> ED

Untuk kasus ini sebaiknya reaksi dilangsungkan pada temperatur sekecil mungkin
untuk supaya nilai SDU maksimum, tetapi
sekalipun begitu temperatur reaksi tidak boleh terlalu rendah karena apabila
temperatur reaksi terlalu kecil bisa saja reaksi untuk pembentukan produk yang
diinginkan malah tidak berlangsung.
Contoh Soal

Meminimumkan produk yang tidak diinginkan dari reaktan tunggal

Reaksi fasa gas dengan reaktan tunggal, A terdekomposisi menjadi 3 buah


produk. Satu buah produk yang diinginkan, yaitu zat D dan dua buah produk yang
tidak diinginkan yaitu zat Q dan zat U.

Reaksi untuk produk yang diinginkan :

A kD D

Diketahui laju reaksi :

   1 1  
rD  0.0002 exp 36000 -   C A (E6-1.1)
   300 T  
Reaksi untuk produk yang tidak diinginkan :

A kU U

Diketahui laju reaksi :

   1 1   (E6-1.2)
rU  0.0018 e 25000 -   C3/2
A
   300 T  

Reaksi untuk produk yang tidak diinginkan :

A kQ Q

Diketahui laju reaksi :

   1 1   (E 6-1.3)
rQ  0.00452 exp 5000 -   C1/2
A
   300 T  

Bagaimana cara yang harus dilakukan (yaitu pemilihan jenis reaktor, tekanan dan
temperatur reaksi) supaya konsentrasi dari produk yang tidak diinginkan (yaitu
zat U dan zat Q) nilainya kecil.
Dari ketiga persamaan laju reaksi tersebut, hanya satu faktor dari pangkat
eksponensial yang terbedakan dengan jelas yaitu nilai energi aktivasi, E. Nilai
energi aktivasi untuk reaksi pertama dan kedua (yaitu 36000 dan 25000) jauh
lebih besar dibandingkan dengan nilai energi aktivasi reaksi ketiga (yaitu 5000),
apabila reaksi dilangsungkan pada temperatur tinggi maka reaksi ketiga dari
reaksi pembentukan zat Q yang tidak diinginkan dapat diabaikan.

Parameter laju selektivitas zat D terhadap zat Q :

rD (E 6-1.4)
SDQ   sangat besar
rQ

Sehingga yang dibahas adalah parameter laju selektivitas produk zat D terhadap
zat U :

  1 1 
0,11exp 11000  - 
rD   300 T   (E 6-1.5)
SDU   1/2
rU CA

Dari persamaan (E 6-1.5) jumlah produk yang tidak diinginkan zat U dapat
diminimukan apabila reaksi dilangsungkan pada konsentrasi reaktan zat A, CA
yang kecil. Jadi untuk memaksimumkan konversi zat A menjadi produk zat D
sebaiknya reaktor dioperasikan pada temperatur tinggi untuk meminimumkan
laju pembentukan produk zat Q dan digunakan konsentrasi reaktan zat A yang
encer ditujukan untuk meminimumkan laju pembentukan zat U.

Jadi kesimpulannya adalah :


1. Dioperasikan pada temperatur tinggi
2. Konsentrasi reaktan zat A yang encer, yaitu dapat dengan cara :
a. Ditambahkan zat Inert
b. Jika reaksi fasa gas, dioperasikan pada tekanan rendah
c. Dipilih reaktor jenis CSTR atau direcycle (di daur ulang)

Memaksimumkan Parameter Laju Selektivitas, S untuk dua reaktan

Dua macam reaktan menghasilkan dua produk yang berbeda melalui jalur reaksi
yang berbeda pula :

A + B k1 D

A + B k2 U
Diketahui laju reaksi :

rD  k1 CA1 C B
1 (6.9)

rU  k 2 CA2 C B
2 (6.10)

Parameter laju selektivitas zat D terhadap zat U :

rD k
SDU   1 CA1 -  2 C B
 1 - 2 (6.11)
rU k2

Dari persamaan (6.11) nilai SDU dapat dimaksimumkan, dengan cara berbagai
konfigurasi dan jenis reaktor yang digunakan seperti ditampilkan pada Gambar
6.3.
Zat A
Zat B

(a) CSTR
Zat A

Zat B

(b) Reaktor Pipa


kQ

( c ) Reaktor Batch
Zat B

Mula-mula Zat A dimasukkan

(d) Reaktor Semibatch

Zat A

Mula-mula Zat B dimasukkan

(e) Reaktor Semibatch

Zat A

Zat B

(f) Reaktor Pipa dengan


aliran umpan dari samping

Zat A

Zat B

(g) Reaktor Pipa dengan


aliran umpan dari samping
Zat A

Zat B
(h) Reaktor pipa dengan
Recycle (daur ulang)

Zat A

Zat B

(i) Reaktor CSTR yang dipasang


seri
Memaksimalkan Produk yang diinginkan dalam Reaksi Seri

Telah diketahui bahwa produk yang tidak diinginkan bisa diminimalkan dengan
cara kondisi reaksi diatur seperti nilai konsentrasi reaktan yang digunakan dan
atau dengan cara pemilihan tipe/jenis reaktor yang sesuai. Untuk reqaksi
seri/konsekutif variabel waktu merupakan faktor yang paling penting, seperti
space time (waktu ruang) untuk reaktor alir dan waktu reaksi untuk reaksi satu
Batch.
Contoh :

A k1 B k2 C

Zat B adalah produk yang diinginkan.

Apabila laju reaksi pertama lambat sementara laju reaksi kedua cepat, maka
akan sangat sulit terbentuknya zat B. Apabila laju reaksi pertama cepat dan laju
reaksi kedua lambat, maka kemungkinan akan terbentuk produk zat B pada
jumlah yang besar. Sekalipun reaksi dilangsungkan lebih lama di dalam reaktor
Batch atau reaksi dilangsungkan di dalam reaktor pipa yang sangat panjang,
tetap saja produk zat B akan terkonversi menjadi zat C. Dalam perhitungan
waktu yang diperlukan suatu reaksi tidak ada satupun reaksi yang nilainya
tepat/pasti, apabila dibandingkan dengan reaksi seri.

Contoh
Memaksimalkan Yield dari produk antara

Reaksi oksidasi terhadap etanol untuk menghasikan asetaldehid, dilangsungkan


dengan menggunakan katalis dengan komposisi 4%-b Cu, 2%-b Cr dalam Al2O3.
Sayangnya dengan katalis tersebut asetaldehid juga teroksidasi menjadi karbon
dioksida. Reaksi oksidasi tersebut dilangsungkan dengan oksigen yang berlebih
yang terdapat dalam campuran yang sangat encer (yaitu : 0,1% etanol, 1%
oksigen dan 98% nitrogen). Sehingga perubahan volume fuida selama reaksi
dapat diabaikan.
Tentukan konsentrasi asetaldihid sebagai fungsi space time.

CH3CH2OH (g) + ½ O2 CH3CHO + 5/2 O2 2 CO2


- H2O - 2 H2 O
Reaksi seri tersebut reaksi searah dan masing-masing reaksi adalah orde satu.

Penyelesaian :

A k1 B k2 C

dFA '
1. Neraca Mol zat A :  rA
dW
'
a). Hukum laju : - rA  k1 C1A

b). Stokiometri reaksi : FA  CA v  CA v 0

dFA
c). Kombinasi :  - k1 C A
dW

d(v 0 C A )
 - k1 C A
dW

d CA
v0  - k1 C A
dW

W  V
'   b  b 
v0 v0
 b  densitas ruah (bulk density)

d). Diintegralkan dengan nilai batas untuk W = 0 , CA = CA0

d CA
v0  - k1 C A
dW

d CA k
 - 1 dW
CA v0

k1
ln C A - ln C A0  - W
v0

CA k
ln  - 1 W
C A0 v0
k
- 1W
CA
 e v0
C A0

k
- 1W
v0
C A  C A0 e

dFB '
2. Neraca mol zat B :  rB net
dW
' ' '
a). Hukum laju (netto) : rB net
 rB rx -1
 rB rx -2

'
rB net
 k1 C A  k 2 C B

b). Stokiometri reaksi : FB  v C B  v 0 C A

dFB
c). Kombinasi :  k1 C A - k 2 C B
dW

dC B
v0  k1 C A - k 2 C B
dW

k
- 1W
v0
C A  C A0 e

k
- 1W
dC B
v0  k1 C A0 e v0 - k 2 CB
dW

k
- 1W
dC B
v0  k 2 C B  k1 C A0 e v0
dW

k
- 1 v0  '
dC B v0
v0  k 2 C B  k1 C A0 e
v 0 d '

'
 k 2 C B  k1 C A0 e - k1 
dC B
d '

dy
d). Bentuk Umum :  Py  Q
dx

Dengan : y  CB

P  k2
'
Q  k1 CA0 e- k1 

Penyelesaian umum :
y e   Q e  dx  konstanta
P dx P dx

Jadi penyelesaian :

'
 k 2 CB  k1 CA0 e- k1 
dCB
d '

k d ' ' k d '


CB e  2   k1 CA0 e- k1  e  2 d '  K

' ' '


CB e k 2    k1 CA0 e- k1  ek 2  d '  K

' '
CB ek 2    k1 CA0 e(k 2 - k1)  d '  K

' '
CB ek 2   k1 CA0  e(k 2 - k1)  d '  K

' '
CB ek 2   k1 CA0  e(k 2 - k1)  d (k 2 - k1)  '  K
1
(k 2 - k1)

' (k 2 - k1)  '


CB e k 2  
k1 CA0
 d e  K
(k 2  k1)

' k1 CA0 (k 2 - k1)  '


CB e k 2   e  K
(k 2  k1)

Pada awal reaksi yaitu saat τ’ = 0, nilai CB = 0 maka :

k 1 C A0
0   K
(k 2  k 1 )

k 1 C A0
K  -
(k 2  k 1 )
' k1 CA0 (k 2 - k1)  '
CB e k 2  
k C
e - 1 A0
(k 2  k1) (k 2  k1)

 ' 
k1 CA0  e(k 2 - k1)  - k2  ' 
CB  - e
(k 2  k1)  k2  '


 e 

 - k1  ' ' 
 e e- k 2  
CB  k1 CA0  - 
 (k 2  k1) (k 2  k1) 
 

 - k1  ' ' 
e - e- k 2  
CB  k1 CA0  
 k 2  k1 
 

Ci

B
A
τ1
’ ’ ’ ’
τ1 τ2 τ3 τ4
Gambar 6.3 : Jenis dan konfigurasi Reaktor yang berbeda untuk
Meminimumkan jumlah produk yang tidak diinginkan